Diktat Aneka Ternak-Mencit

6 08 2012

BAB XXI. TIKUS PUTIH/MENCIT(Mus musculus)
21.1. Sejarah Singkat
Pada abad ke-18 di Eropa, Brown tikus (Tikus coklat) liar merajalela di sekitar pemukiman penduduk. Kondisi ini memicu sebuah kegiatan untuk industri penangkapan tikus. Mengapa ditangkap, karena tikus coklat dianggap menyebarkan penyakit.
Akhirnya Industri Penangkap tikus tidak hanya menghasilkan uang dengan menjebak tikus, tetapi juga dengan berkeliling dan menjual mereka untuk makanan, atau lebih penting, untuk memancing tikus.
Memancing-Tikus adalah olahraga yang populer dengan cara mengisi gelanggang dengan tikus dan menghitung waktu berapa lama yang dibutuhkan seekor anjing terrier untuk membunuh mereka semua.
Seiring waktu, Tikus liar yang digunakan dalam memancing tikus pada awalnya , maka akhirnya dilakukan pemuliabiakkan dan menghasilkan albino tikus putih dikenal saat ini dan beberapa varietas.
Pertama kali salah satu mutan albino ini dibawa ke sebuah laboratorium untuk penelitian pada tahun 1828, dalam percobaan puasa. Selama 30 tahun kemudian tikus digunakan untuk beberapa eksperimen dan akhirnya laboratorium tikus menjadi binatang pertama yang dipelihara untuk alasan-alasan ilmiah murni.
Tikus laboratorium yang albino dengan mata merah dan bulu putih merupakan organisme model ikonik untuk penelitian ilmiah di berbagai bidang.

21.2. Manfaat
Selama bertahun-tahun, tikus telah digunakan dalam banyak penelitian eksperimen, yang telah menambah pemahaman kita tentang genetika, penyakit, pengaruh obat-obatan, dan topik lain dalam kesehatan dan kedokteran.
Laboratorium tikus juga terbukti berharga dalam studi psikologis belajar dan proses mental lainnya. Pentingnya sejarah spesies ini untuk riset ilmiah tercermin dengan jumlah literatur tentang itu, sekitar 50% lebih dari itu merupakan hasil dari media percobaan pada tikus.
Dalam perkembangan sekarang ini tikus juga dimanfaatkan untuk pakan reptil serperti ular dan untuk media/sarana percobaan/penelitian (Banyak mahasiswa STIKES atau mahasiswa Kedokteran dan Farmasi yang memanfaatkan tikus putih sebagai objek penelitian, serta Industri Obat) serta digunakan sebagai binatang kesayangan/ kesenangan/ hoby khususnya untuk varians hias.

21.3. Jenis/Varians/Galur
Tikus peliharaan berbeda dari tikus-tikus liar dalam banyak cara. Mereka lebih tenang dan cenderung tidak menggigit, mereka dapat mentolerir untuk berkumpul dalam jumlah yang lebih besar, mereka berkembang biak lebih awal dan memproduksi lebih banyak keturunan, dan otak mereka, hati, ginjal, kelenjar adrenal, dan hati yang lebih kecil.
Jenis tikus yang biasa untuk penelitian selain mencit (Mus musculus) adalah tikus putih besar (Rat) dari spesies Rattus norvegicus. Tetapi sekali lagi bukan sembarang Rattus norvegicus yang diminta untuk penelitian. Galur/strain Rattus norvegicus yang biasa diminta untuk penelitian dari galur Wistar dan Sprague Dawley (SD). Tikus laboratorium telah digunakan sebagai model hewan yang penting untuk penelitian di bidang psikologi, kedokteran, dan bidang lainnya.
Umunnya penelitian mahasiswa di Indonesia menggunakan galur Wistar. Tikus putih ini adalah tikus Rattus norvegicus Albino (putih) yang matanya merah.Warna asli Rattus norvegicus adalah coklat, atau sering juga disebut dengan tikus coklat (Brown Rat).Rattus norvegicus galur Wistar dikembangkan oleh Wistar Institute. Harga Rat yang tidak memiliki surat keterangan galur/sertifikat bisa mencapai Rp. 30.000-40.000/ekor.
Tikus mencit emas yang sangat unik dan langka. Warna bulunya kuning keemasan dan yang lebih istimewa lagi adalah warna matanya yang merah menyaladan warna bulunya yang mengkilat . Tikus ini adalah lambang kejayaan, kekayaan, dan keberuntungan.

Para ilmuwan telah memunculkan banyak strain atau “galur” tikus khusus untuk eksperimen. Sebagian besar berasal dari tikus Wistar albino, yang masih digunakan secara luas. Galur umum lainnya adalah strain Sprague Dawley, Fischer 344, Holtzman albino strain, Long-Evans, dan Lister bertudung hitam tikus. Inbred strain juga tersedia tetapi tidak seperti yang biasanya digunakan sebagai bawaan tikus.
Tikus strain umumnya tidak transgenik, atau rekayasa genetika, karena teknik knockout gen dan sel induk embrio yang berhasil dilakukan untuk mencit (Mus musculus) relatif sulit pada tikus. Hal ini telah merugikan banyak peneliti, yang menganggap banyak aspek perilaku dan fisiologi pada tikus lebih relevan dengan manusia dan lebih mudah untuk mengamati daripada pada mencit dan yang ingin melacak pengamatan mereka berdasar gen. Akibatnya, banyak yang telah memaksakan untuk mempelajari pertanyaan ilmiah pada mencit yang mungkin sebenarnya lebih baik diteliti dengan tikus.
Pada Oktober 2003, para peneliti berhasil mengkloning dua laboratorium tikus melalui transfer nuklir. Jadi tikus mungkin mulai terlihat lebih banyak digunakan sebagai subjek penelitian genetik. Sebagian besar genome Rattus norvegicus telah diurutkan.

Galur/Varians/Strain
Sebuah galur atau strain, mengacu pada tikus, adalah sebuah kelompok di mana semua anggota secara genetik identik. Pada tikus, ini dicapai melalui perkawinan sedarah. Dengan memiliki populasi jenis ini, adalah mungkin untuk melakukan percobaan pada peran gen, atau melakukan percobaan yang mengecualikan variasi dalam genetika sebagai faktor. Sebaliknya, outbred strain, digunakan ketika identik genotipe tidak diperlukan atau populasi acak diperlukan, dan lebih didefinisikan sebagai leluhur pembanding strain.

(1)Wistar rat
Adalah tikus Wistar strain outbred tikus albino milik spesies Rattus norvegicus. Jenis galur ini dikembangkan di Institut Wistar pada tahun 1906 untuk digunakan dalam biologi dan penelitian medis, dan adalah terutama galur tikus pertama dikembangkan sebagai model organisme pada saat laboratorium terutama menggunakan Mus musculus (mencit), atau mencit rumah. Lebih dari separuh dari semua strain tikus laboratorium adalah keturunan dari koloni asli yang dikembangkan oleh Henry fisiologi Donaldson, J. Milton administrator ilmiah Greenman, dan peneliti genetik / embriologi Helen Dean King.
Tikus Wistar saat ini menjadi salah satu yang strain tikus paling populer yang digunakan untuk penelitian laboratorium. Hal ini ditandai oleh kepala lebar, panjang telinga, dan memiliki ekor panjang yang selalu kurang dari panjang tubuhnya. Galur tikus Sprague Dawley dan Long-Evans dikembangkan dari tikus galus Wistar. Tikus Wistar lebih aktif daripada jenis lain seperti tikus Sprague dawley.

(2) Tikus Sprague Dawley
Tikus Sprague Dawley yang merupakan jenis outbred tikus albino serbaguna digunakan secara ekstensif dalam riset medis. Keuntungan utamanya adalah ketenangan dan kemudahan penanganannya. Tikus jenis ini pertama kali diproduksi oleh peternakan Sprague Dawley (kemudian menjadi Perusahaan Animal Sprague Dawley) di Madison, Wisconsin. Fasilitas penangkaran dibeli pertama kali oleh Gibco dan kemudian oleh Harlan (sekarang Harlan Sprague Dawley) pada bulan Januari 1980.
Rata-rata ukuran berat tubuh tikus Sprague Dawley adalah 10.5. Berat badan dewasa adalah 250-300g bagi betina, dan 450-520g untuk jantan. Hidup yang khas adalah 2,5-3,5 tahun. Tikus ini biasanya memiliki ekor untuk meningkatkan rasio panjang tubuh dibandingkan dengan tikus Wistar.

(3)Biobreeding tikus
Tikus Biobreeding Diabetes Prone (atau Tikus BBDP ) adalah tikus galur inbred yang berkembang secara spontan autoimun Type 1 Diabetes. Seperti NOD tikus, tikus BB digunakan sebagai hewan model untuk tipe 1 diabetes. Galur ini telah banyak me-rekapitulasi-ulang beberapa fitur diabetes tipe 1, dan telah memberikan kontribusi yang besar kepada penelitian patogenesis T1D.

(4) Long-Evans tikus
Long-Evans tikus adalah tikus strain outbred milik spesies Rattus norvegicus. Jenis galur ini dikembangkan oleh Drs. Long dan Evans pada tahun 1915 dengan menyilangkan beberapa Wistar betina dengan abu-abu liar laki-laki. Long Evans tikus putih dengan tudung hitam, atau kadang-kadang putih dengan kerudung cokelat. Mereka dimanfaatkan sebagai model serbaguna organisme, sering dalam perilaku dan penelitian obesitas.

(5) Zucker tikus
Zucker tikus dibiakkan menjadi model untuk penelitian genetik pada obesitas dan hipertensi. Mereka dinamai setelah Lois M. Zucker dan Theodore F. Zucker, peneliti pelopor dalam studi genetika obesitas. Ada dua jenis tikus Zucker: tikus Zucker ramping, dilambangkan sebagai sifat dominan (Fa / Fa) atau (Fa / fa), dan obesitas khas (atau lemak) Zucker tikus, yang notabene adalah sifat resesif (fa / fa) dari reseptor leptin, yang mampu menimbang sampai dengan 1 kg (2.2 lb)-lebih dari dua kali berat badan rata-rata.
Tikus Zucker obese memiliki level lemak dan kolesterol tingkat tinggi dalam darah mereka, yang tahan terhadap insulin tanpa hyperglycemic, dan berat badan dari mendapatkan berat tubuh dari ukuran dan jumlah sel-sel lemak. Obesitas pada tikus Zucker terutama terkait dengan alam hyperphagic mereka, rasa lapar yang berlebihan, namun asupan makanan tidak sepenuhnya menjelaskan hiperlipidemia atau komposisi tubuh secara keseluruhan.

(6) Tikus gundul
Diperkirakan bahwa ada lebih dari dua puluh lima gen resesif yang menyebabkan hairlessness di laboratorium tikus. Yang lebih umum yang dilambangkan sebagai rnu (Rowett telanjang), fz (fuzzy), dan shn (dicukur).

  • Rowett telanjang, pertama kali diidentifikasi pada tahun 1953 di Skotlandia, tidak memiliki timus.
  • Kurangnya organ ini sangat kompromi sistem kekebalan tubuh mereka, infeksi saluran pernapasan dan meningkatkan mata yang paling dramatis.
  • Fuzzy tikus yang diidentifikasi pada 1976 di sebuah Pennsylvanian laboratorium. Penyebab utama kematian di antara fz / fz tikus pada akhirnya gagal ginjal progresif yang dimulai sekitar usia satu.
  • Lain-tikus dibiakkan dari tikus Sprague Dawley di Connecticut pada tahun 1998. Mereka juga menderita masalah ginjal parah.

(7) RCS tikus
Tikus Royal College of Surgeons (RCS) adalah hewan pertama yang diketahui dengan degenerasi retina Warisan. Meskipun cacat genetik tidak diketahui selama bertahun-tahun, itu pertama kali diidentifikasi pada tahun 2000 untuk menjadi mutasi pada gen Mertk. Hasil mutasi ini cacat epitel pigmen retina fagositosis dari luar photoreceptor segmen.

(8) Tikus Getar Kawasaki (Shaking Rat Kawasaki)
Tikus Getar Kawasaki yang tidak memiliki RELN fungsional gen yang mengkodekan reelin, protein penting untuk korteks tepat laminasi dan perkembangan otak kecil. Fenotipe yang mirip dengan tikus reeler diteliti secara luas.
Sekarang ini juga tikus hias jepang sudah banyak yang dikembangkan dan dipasarkan di Indonesia. Pada umumnya tikus hias jepang memiliki varians warna bulu/rambut.

(Disadur dan diterjemahkan secara bebas dari berbagai sumber:
terutama http:// wapedia.mobi  & http://en.wikipedia.org/wiki/Laboratory_rat.)

(9) Varian Tikus Hias Jepang

21.4. Pedoman Teknis Budidaya
Sekarang ini memelihara tikus sudah bukan rahasia lagi. Harga tikus cukup mahal perekornya berkisar Rp 10.000 – 25.000 ada juga yang ratusan ribu tergantung keunikan warnanya. Anakan berwarna abu -abu atau belang hitam belang coklat umur 20 hari oleh pedagang perekor di hargai Rp 6.000 per ekor. Ternyata dari yang tadinya menggelikan sekarang justru menghasilkan uang.
Satu ekor tikus muda sekali melahirkan bisa 4 ekor anak (cindil) dan betina dewasa sanggup melahirkan sekitar 10 ekor dan dalam tempo 20 hari sudah siap di jual lagi. Ternyata beternak tikus lebih mudah ketimbang berternak kelinci makananya juga sembarang makanan di lahap, karena tikus adalah pemakan semua.

Persyaratan Teknis Budidaya Tikus, yaitu :

  1. Kandang harus kering
  2. Gunakan litter (alas) bisa dari sekam atau serbuk gergaji
  3. Gunakan kotak plastik ukuran sekitar 60 cm x 50 cm atau lebih besar dengan tutup yang terbuat dari kawat
  4. Air minum buat seperti botol dot, harus selalu ada (ad libitum)
  5. Biasanya tikus yang baru disatukan untuk dikawinkan butuh masa adaptasi sebelum kawin sekitar satu minggu
  6. Satu jantan efektif bisa mengawini 6-8 ekor betina
  7. Baiknya kawinkan 2 jantan dengan 8 betina dalam satu kandang besar
  8. Tikus bisa bunting-beranak selama 3-5 minggu tergantung pakan, sama tingkat kesuburan.
  9. Ganti litter selama 1 minggu sekali.
  10. Kalau sudah beranak jangan pisahkan dengan induk, jangan dipegang-pegang, pisahkan dengan jantan, biarkan terjadi seleksi alam, pakan tidak boleh kekurangan, minum harus cukup.
  11. Bila anak sudah 4 minggu bisa dipisahkan dari induk dan dipelihara secara berkelompok dengan tikus lain.
  12. Anak sudah cukup dewasa umur 4 minggu tapi masih belum matang untuk bunting dan melahirkan

21.5. Langkah-Langkah Beternak Tikus Putih
Sebetulnya membudidayakan tikus sangat mudah dan secara sederhana. Adapun langkahnya adalah sebagai berikut :

  1. pertama harus tahu jenis kelaminnya dulu/ bisa membedakan jenis kelamin untuk membedakannya lihat gambar di bawah ini :
  2. Setelah itu harus menyiapkan kandang terlebih dahulu tapi di sarankan jangan terbuat dari kayu karena tikus adalah binatang pengerat. Kita bisa menggunakan bahan dari kawat, besi lubang atau bak plastik lihat di bawah ini adalah terbuat dari bak plastik ditutup kawat kasa ukuran kecil. Untuk tutup berilah kawat untuk pengait lihat gambar di bawah ini jadi gampang untuk buka tutup.
  3. Kemudian sediakan rakrakan yang bisa kita buat dari besi lubang,bambu atau kayu fungsinya untuk menghemat tempat. (Gb A)
  4. Model yang selanjutnya adalah dengan umbaran. buatlah kotak persegi panjang dengan besi lubang dan kawat kasa lihat gambar di bawah ini untuk ukuran bisa di sesuaikan (jangan terlalu tinggi karena fungsinya kurang tingginya kira kira 25 cm sudah cukup) lihat gambar di bawah ini kandang sap tiga. (Gb. B)
  5. Setelah itu berilah rumah rumahan dari paralon , kayu atau apa saja yang fungsinya untuk tempat beranak (Gb. C)
  6. Sebelum memulai berternak usahakan cari bibitan saja jangan langsung indukan karena lebih bisa beradaptasi dengan kandang baru.
  7. Untuk kandang dari bak plastik isilah dengan serbuk gergaji, sekam atau zeolit (tapi mahal harganya) setelah itu masukkan 3 tikus betina dan 1 jantan jangan lupa tambahkan potongan kertas untuk sarang tikus
  8. Untuk Kandang Umbaran isikan serbuk gergaji, sekam dan potongan kertas masukan kira kira 13 ekor betina dan 2 jantan sebagai catatan usahakan cari yang bibitan saja sebab resiko bertengkar sangat kecil.
  9. Bila lancar maka bibitan tadi kira kira 1-1,5 bulan akan mulai bunting. Setelah proses kebuntingan ±  21 hari tikus akan melahirkan untuk pertama kali dengan jumlah anak ± 6 ekor untuk kelahiran awal (pertama), sedangkan kelahiran kedua bisa mencapai 10 ekor per kelahiran.
  10. Setelah umur 20 hari maka sudah bisa di pisahkan dari induknya
  11. Untuk pakan berilah pakan apa saja karena tikus merupakan pemakan segala.
  12. Pakan utamanya sebaiknya berupa campuran Nasi dan dedak dalam kondisi campuran basah.
  13. Untuk pakan hijauan sebaiknya pemberiannya dikombinasikan dengan beberapa jenis hijauan. Jenis hijauan yang biasa diberikan antara lain : wortel, sawi, jagung muda, ketela dan lain lain dalam kondisi segar. Kondisi segar ini sebagai pengganti air minum karena tikus seperti pada semua binatang pengerat lainnya tidak suka minum secara langsung pada air minum.
  14. Frekuensi pemberian pakan sebaiknya minimal 3 kali sehari.
  15. Pemberian pakan dalam jumlah yang lebih banyak sebaiknya pada malam hari karena aktivitas tikus lebih banyak pada malam hari.
  16. Untuk Pemasaran pada umumnya di toko-toko atau pasar-pasar hewan.
  17. Tikus dimanfaatkan untuk hewan percobaan / penelitian, pakan reptil seperti ular.
  18. Pada umumnya harga untuk penelitian lebih mahal dibandingkan untuk pakan reptil, Karena tikus-tikus untuk penelitian biasanya memerlukan persyaratan khusus. Misalnya: keseragaman galur, umur, dan bobot tubuh.

21.6. Analisis Usaha Beternak Tikus Putih
Untuk mulai usaha penangkaran tikus putih / mencit (Mus mosculus) bisa menggunakan 100 indukan yang terdiri 75 ekor betina dan 25 ekor jantan. Jadi perbandingannya setiap 3 betina dipasangkan dengan 1 ekor jantan. Jika dipelihara dengan intensif dalam waktu tiga bulan mampu menghasilkan anakan sebanyak 8 – 12 ekor per induk. Induk yang berbobot 20-25 gram harus diafkir setiap dua kali beranak.

Berikut ini analisa usaha tikus putih setiap 100 (seratus) indukan : (Harga diperhitungkan pada tahun 2009)
Spesifikasi :
a. Jumlah indukan 100 ekor
b. Lama pengusahaan selama 6 bulan ( 2 kali beranak )
c. Luas ruangan yang dibutuhkan seluas 6 m2
d. Produksi anakan umur 3 bulan

Investasi
a. Rumah ternak (umur 5 tahun) Rp .3.000.000
b. Rak besi sepanjang 2 meter (5 tahun) Rp. 2.000.000
c. Kandang plastik 200 bh @Rp.8.000 Rp. 1.600.000
d. Perlengkapan kandang 200bh @Rp.2000 Rp. 400.000
Total Investasi Rp. 7.000.000

Biaya Produksi
a. Indukan 100 ekor @Rp.4000 Rp. 400.000
b. Penyusutan rumah ternak Rp. 300.000
c. Penyusutan rak Rp. 160.000
d. Penyusutan perlengkapan kandang Rp. 100.000
e. Tenaga Kerja Rp. 1.200.000
f. Pakan 300kg @ 4.000 Rp. 1.200.000
g. Obat-obatan Rp. 200.000
h. Listrik Rp. 200.000
Total biaya produksi Rp. 3.760.000

Pendapatan
a. 1.500 ekor x Rp 3.500/ekor Rp. 5.250.000
Keuntungan
a. Rp. 5.250.000 – Rp. 3.760.000 : Rp. 1.490.000

Pertimbangan Usaha
BEP (Break Even Point)
BEP untuk harga produksi
BEP = Rp. 3.760.000 : 1.500 ekor = Rp. 2.507/ekor
Dengan produksi sebanyak 1.500 ekor titik balik modal tercapai jika harga mencit umur 3 bulan Rp. 2.507/ekor

BEP untuk volume produksi
BEP = Rp. 3.760.000 : Rp. 3.500/ekor = 1.074 ekor
Dengan harga jual Rp. 3.500/ekor, titik balik modal tercapai jika jumlah anakan yang dihasilkan sebanyak 1.074 ekor

B/C (Perbandingan Penerimaan dan Biaya)
B/C = Rp. 5.250.000 : Rp. 3.760.000 = 1,4
Setiap penambahan biaya Rp. 1 untuk beternak mencit akan diperoleh penerimaan Rp. 1,4

NPV (Net Present Value)
NPV = Rp. 5.250.000 x 1/(1+0,0083)6 = Rp. 5.000.000
Dengan asumsi bunga bank 10% per tahun, penerimaan yang diperoleh 6 bulan kemudian senilai Rp. 5.000.000

Selamat Mencoba

Sebagai penutup diktat kuliah ini, perlu ditegaskan bahwa :

  1. Mata kuliah Dasar Aneka Ternak merupakan mata kuliah Dasar yang hanya menyajikan pengetahuan dasar tentang berbagai jenis ternak.
  2. Dalam belajar Dasar Aneka Ternak, setiap bagian selalu berhubungan satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Pembagian dalam bagian-bagian diperlukan untuk mempertajam dan membedakan serta keterkaitan antara Bibit, Pakan dan Manajemen Aneka ternak.
  3. Kesempatan bertanya dan berdiskusi kepada pengampu maupun kepada mahasiswa yang lain pada setiap acara perlu dimanfaatkan mahasiswa dengan sebesar-besarnya sehingga diperoleh manfaat pendalaman dan pengembangan pengetahuan Dasar Aneka Ternak yang lebih konkrit.
  4. Pada Diktat Bagian Pertama hanya memuat ternak Puyuh, Kelinci, Lebah, Jangkrik, Bekicot dan Cacing Tanah, sedangkan materi lain seperti Walet, Merpati, Belut, Tokek, Katak, Ulat Hongkong, Ulat Sutera dan lain-lain jenis ternak akan dimuat dalam Dikat Dasar Aneka Ternak Bagian Kedua.
  5. Perkembangan jenis ternak yang dibudidayakan manusia saat ini sangat beraneka ragam seiring dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan manusia. Oleh karena itu menggali potensi dan ilmu perlu senantiasa dilakukan secara terus menerus tanpa henti.

Akhir kata, semoga Dasar Aneka Ternak ini bisa menjadi pegangan dan bahan kajian bagi mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri dan para peminat dan pemerhati bidang peternakan.





Diktat Aneka Ternak-Semut RangRang

6 08 2012

BAB XIV. SEMUT RANGRANG
20.1. Pengantar
Hampir semua orang pencinta burung berkicau, atau hoby memancing pasti mengenal Semut rangrang penghasil kroto. Semut ini memiliki banyak sebutan diantaranya semut rangrang, semut merah, kranggan, semut kroto dan sebagainya, akan tetapi yang lebih umum dikenal adalah krotonya daripada nama semutnya.
Semut Rangrang bukan sembarang semut. Mereka unik dan berbeda dari jenis semut lainnya. Manusia telah menggunakan jasa mereka dalam perkebunan berabad-abad yang lalu. Tercatat, sekitar tahun 300 Masehi di Canton (China), semut ini digunakan untuk mengusir hama pada tanaman jeruk.
Orang mengambil sarang-sarang semut ini dari hutan, memperjualbelikannya, lalu meletakkannya di pohon-pohon jeruk jenis unggul. Teknik yang sama tetap dilakukan sampai abad ke-12, dan masih diterapkan di selatan China sampai saat ini. Di perkebunan kopi di Lampung, kita dapat menemukan koloni semut ini bersarang di daun-daun kopi. Ternyata, pada tanaman kopi yang ditempati sarang ini lebih baik keadaannya daripada tanaman yang tidak ditempati semut Rangrang. Produksi kopi pun jadi lebih meningkat.
Para pakar serangga di Ghana telah menggunakan jenis semut Rangrang Afrika (Oecophylla longinoda) untuk mengendalikan hama tanaman cokelat. Kehadiran semut ini ternyata mampu mengurangi dua macam penyakit serius yang disebabkan oleh virus dan jamur, yaitu dengan jalan menyerang dan membunuh kutu daun yang menjadi penyebar penyakit ini. Kutu daun sangat merugikan, karena menghisap cairan tanaman sekaligus memakan jaringannya. Cara pengendalian hama seperti ini kita kenal sebagai “biological control” dan ini merupakan contoh tertua dalam sejarah pertanian.

20.2. Mendulang emas Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina)
Selama ini pasokan kroto ke pasar burung atau toko yang menjual pakan burung hanya menggantungkan dari pengumpul kroto hasil tangkapan alam. Kita tahu alam tidak setiap saat menyediakan kroto apalagi saat musim penghujan. Hal lain yang mendorong kegiatan budidaya adalah usaha ini tidak banyak membutuhkan modal dan juga tingkat teknologi yang tinggi. Semua orang bisa mengusahakan kegiatan budidaya ini baik untuk tujuan komersial atau hanya untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri apabila memelihara burung ocehan atau berkicau. Kami yakin, kalau kegiatan ini dikelola dengan manajemen yang baik tidak mustahil akan menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan.
Kehidupan semut rangrang memang identik dengan kehidupan masyarakat perdesaan. Bagi sebagian orang, kroto dari semut rangrang merupakan sumber penghasilan baru dan dianggap sebagai salah satu cara bagi masyarakat miskin untuk memperoleh penghasilan tambahan. Sebuah penghasilan yang bisa diperoleh secara cuma-cuma dan tanpa mengganggu waktu dan kegiatan bertani mereka. Dengan cara yang praktis dan mudah saja mereka bisa mendapatkan kroto semut rangrang tersebut.
Kroto adalah telur yang dihasilkan oleh semut rangrang. Kroto merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik dan bagus untuk pakan burung terutama burung ocean atau berkicau. Dengan semakin banyaknya pencinta burung ocean maka semakin besar pula pemintaan produk kroto ini.
Kata emas pada judul di atas mungkin sepadan dengan bentuk warna tubuh dari hewan ini. Semut rangrang memang tergolong semut api (fire ants) dengan genus Oecophylla, Famili Formicidae dan ordo Hymenoptera. Tapi jangan salah, semut ini ternyata memiliki kelebihan tersendiri. Selain sebagai penghasil kroto, bagi para petani semut rangrang cukup berguna sebagai pembasmi dan pengendali hama tanaman. Semut rangrang dapat membunuh hama tanaman yang menyebabkan tanaman para petani itu tidak tumbuh dengan baik.

14.3. Karakteristik Semut Rangrang
A. Ratu dilindungi
Mengenal kehidupan serangga semut rangrang yang berjasa ini memang cukup mengesankan. Serangga sosial ini membuat sarang di kanopi hutan-hutan tropis sampai kebun-kebun kopi maupun cokelat. Mereka membentuk koloni yang anggotanya bisa mencapai 500.000 ekor, terdiri atas ratu yang sangat besar, anak-anak, dan para pekerja merangkap prajurit. Semuanya betina, kecuali beberapa semut jantan yang berperan kecil dalam kehidupan koloni. Semut-semut jantan itu segera pergi jika telah dewasa untuk melangsungkan wedding fight yaitu terbang untuk mengawini sang ratu, lalu mereka tidak kembali lagi ke sarangnya.
Di antara anggota koloni, yang paling giat adalah kelompok pekerja. Mereka rajin mencari makan, membangun sarang, dan gigih melindungi wilayah mereka siang dan malam hari. Sekitar setiap satu menit, salah satu pekerja memuntahkan makanan cair ke dalam mulut ratu. Mereka menyuapi ratu dengan makanan yang telah dilunakkan sehingga memungkinkan sang ratu menghasilkan ratusan telur per hari. Jika ratu telah bertelur, para pekerja akan memindahkan telur-telur itu ke tempat yang terlindung, membersihkannya, dan memberi makan larva-larva halus jika telah menetas.
Semut Rangrang dikenal pula sebagai senyum penganyam, karena cara mereka membuat sarang seperti orang membuat anyaman. Sarang mereka terbuat dari beberapa helai daun yang dilekukkan dan dikaitkan bersama-sama membentuk ruang-ruang yang rumit dan menyerupai kemah. Dedaunan itu mereka tarik ke suatu arah, lalu dihubungkan dengan benang-benang halus yang diambil dari larva mereka sendiri. Para pekerja bergerak bolak-balik dari satu daun ke daun lainnya membentuk anyaman.
Makhluk asing yang mencoba menyusup ke daerah sarang, akan mereka halau dengan sengatan asam format yang keluar dari kelenjar racun mereka. Kalau semut jenis lain sengaja membiarkan bahkan memelihara kutu daun hidup dalam wilayah kekuasaan mereka, maka semut Rangrang justru sebaliknya. Mereka berusaha mati-matian menyingkirkan serangga lain yang hidup pada pohon tempat sarang mereka berada. Oleh karena itu, jika kita membedah sarang mereka seringkali kita menemukan bangkai kumbang atau serangga lain yang lebih besar dari semut ini.
Itulah keistimewaan yang dimiliki semut Rangrang sehingga membuat mereka memegang arti penting dalam pengendalian hama secara alami. Cukup sederhana, namun tidak berisiko terhadap lingkungan seperti halnya jika kita menggunakan insektisida kimia.

B.Pesan Kimiawi
Semut ternyata mempunyai semacam kelenjar yang menghasilkan cairan khusus yang digunakan untuk menandai wilayah mereka. Kelenjar itu disebut kelenjar dubur. Cairan khusus yang dihasilkannya (disebut pheromone) mereka sapukan ke tanah dan hanya para anggota sarang saja yang dapat mengenali baunya. Jadi semut penganyam ini menggunakan pesan kimiawi untuk menuntut rekan satu sarang menuju daerah baru mereka.
Tentu saja jejak bau itu tidak hanya mereka tinggalkan ketika mencari daerah baru dan ketika mempertahankannya, tetapi juga digunakan saat mereka mencari makan. Jika seekor semut menemukan seonggok makanan, dia akan mengerahkan teman-temannya untuk mengangkuti makanan itu ke sarang. Kelenjar duburnya akan meninggalkan jejak bau di sepanjang jalan antara sarang dan lokasi temuan itu. Ketika berpapasan dengan temannya, semut ini memberi rangsangan dengan memukulkan antenanya seraya memuntahkan sedikit makanan yang ditemukan tadi ke mulut rekannya itu.

C.Lokasi atau habitat
Karkateristik jenis semut rangrang adalah semut yang menyukai udara yang bersih dan sangat anti dengan udara berpolusi. Makanya keberadaan semut rangrang jarang dijumpai di daerah perkotaan karena kita ketahui bersama bagaimana keadaan udara di daerah perkotaan.
Habitat yang cocok untuk membudidayakan semut ini antara lain daerah perdesaan yang banyak memiliki pepohonan tahunan seperti perkebunan atau perhutani. Semut-semut ini bisa menyerbu hampir semua jenis pohon, tetapi lebih menyukai pohon buah-buahan dan mempunyai ukuran daun yang agak lebar seperti nangka, mahoni atau mangga. Pohon lain yang banyak disukai adalah randu, mente (jambu monyet), jambu air, duwet atau juwet, dan lainnya.
Alam Indonesia sebenarnya masih sangat potensial untuk dimanfaatkan budidaya semut rangrang. Daerah perdesaan dengan beranekaragam tanamannya, areal perkebunanan, kawasan perhutani adalah lokasi yang sangat potensial untuk budidaya semut rangrang. Tidak perlu membeli perkebunan, cukup dengan menyewa lahan tersebut. Tapi memang ada satu kelemahan yaitu lambat laun orang yang menyewakan lahan tersebut karena mengetahui peluang bisnis budidaya semut rangrang ini atau bahkan akan mengambil alih kegiatan ini. Jika demikian yang ditakutkan maka memiliki pohon sendiri adalah lebih baik untuk usaha jangka panjang.

20.4.Manfaat Membudidayakan Semut Rangrang
Banyak manfaat yang akan kita peroleh apabila kita memelihara semut rangrang, diantaranya :

  1. Sebagai pengendali hama tanaman tertentu, sehingga anda tidak perlu membeli insektisida untuk membasmi kutu daun. Ada ciri khusus dari sebuah pohon tanaman, bahwa apabila di pohon tanaman terdapat semut rangrang maka diyakini pohon tersebut tidak terdapat ulat/uler.
  2. Digunakan sebagian para pemancing dan nelayan sebagai umpan ikan
  3. Sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau
  4. Membantu penyerbukan jenis tanaman tertentu
  5. Dapat membantu menjaga kebun.
  6. Dapat digunakan sebagai Biokoktrol dan Bioindikator.

Penggunaan semut Rangrang sebagai biokontrol ternyata sudah dilakukan pula oleh sebagian penduduk Indonesia, meskipun tidak besar-besaran. Misalnya jika pohon jambu atau pohon mangga di pekarangan terserang hama, mereka akan memindahkan semut-semut Rangrang ke pohon tersebut. Sebenarnya bukan itu saja manfaat yang diberikan semut Rangrang kepada manusia. Dengan sifatnya yang sangat peka terhadap perubahan udara, manusia dapat menggunakan semut ini sebagai indikator keadaan udara di suatu lingkungan.

20.5.Pemasaran
Pemasaran kroto tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Daerah dimana banyak masyarakat yang memelihara burung ocehan atau berkicau, maka daerah tersebut sangat potensial untuk pemasaran kroto.
Oleh karena sampai saat ini jumlah permintaan produk kroto ini masih tinggi dan keberadaannya belum bisa digantikan oleh produk lain, maka pemasaran kroto bukan menjadi permasalahan yang utama.
Menjual kroto yang larvanya masih hidup lebih mudah dan dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan menjual kroto yang larvanya sudah mati atau kroto kering. Burung ocehan atau berkicau menyukai pakan dari larva kroto yang masih hidup. Larva kroto memiliki daya hidup yang pendek yaitu selama ± dua-tiga hari sehingga kroto jenis ini memiliki harga yang lebih mahal.
Kroto kering ini bisa disimpan selama enam bulan, tetapi harga jualnya hanya setengah harga larva hidup. Jalur pemasaran kroto biasanya dari para pengumpul kroto dikirim ke pedagang/toko pakan burung, kemudain dari pedagang/toko pakan burung  akan dijual lagi ke pengecer kecil. Dengan demikian jika menginginkan keuntungan yang lebih besar kita harus memperpendek jalur pemasaran atau yang lebih bagus lagi apabila kita memproduksi sendiri dan menjual secara langsung ke konsumen akhir yaitu para peternak/pemelihara burung ocehan. Sumber  : www.sentralternak.com

 





Diktat Aneka Ternak-Lintah

6 08 2012

BAB XIX. LINTAH(Herudo medicinalis)
19.1.Sejarah Singkat
Sejak 4000 tahun yang lalu terapi lintah sudah akrab dengan dunia pengobatan. Manfaatnya sudah diakui oleh kedokteran Yunani dan Romawi. Pada abad ke-19 lintah menikmati zaman keemasan. Jutaan lintah dibudidayakan untuk penggunaan medis dalam terapi sedot lintah.
Terapi ini kembali digunakan pada awal 1990, dimana dalam sebuah riset media dengan terapi lintah berhasil membuktikan bahwa terapi ini dapat menyembuhkan tumor tanpa kemoterapi dan pembedahan.
Riset yang dilakukan di Eropa juga membuktikan bahwa terapi lintah yang dilakukan dengan pengobatan medis (obat-obatan) atau herbal dapat meningkatkan efektifitas obat. Hingga saat ini tidak ditemukan adanya efek samping sebagai akibat terapi hirudo medicinalis.

19.2. Karakteristik Lintah
Lintah adalah hewan dari kelompok filum Annelida, subclass Hirudinea. Terdapat jenis lintah yang dapat hidup didaratan, air tawar dan laut. Seperti halnya kerabatnya Oligochaeta, mereka memiliki clitelum. Seperti cacing tanah, lintah juga merupakan hermaprodit. Jenis kelamin lintah  tidak membedakan lintah jantan atau betina (hermaprodit = berganti-ganti kelamin, kadang jantan kadang betina = berkelamin ganda)
Jenis Lintah banyak sekali. Pada umumnya orang menyebut Lintah dengan sebutan atas dasar yang  sering dihisap darahnya, misal Lintah Kerbau karena yang sering ditemukan dihisap adalah kerbau. Ada yang menyebut berdasar atas tempat hidupnya misalnya Lintah rawa, lintah sawah, lintah muara, lintah sungai. Ada juga yang menyebut atas dasar warna badannya;: Lintah coklat, Lintah hijau, lintah batik/Lorena, lintah hitam.
Lintah pada dasarnya binatang yang  makanannya sari darah mahluk hidup (tidak hanya kerbau yang penting berdarah termasuk ikan, belut, manusia juga di hisap) tapi tidak ada yang menyebut Lintah manusia.  Lintah yang menghisap darah dan sekali hisap langsung kenyang kemudian istirahat 3 – 6 bulan, bertelur dan beranak.
Rawa-rawa yang sudah terkena pestisida atau bahan pupuk sudah tentu lintah tidak kita temukan (kabur), begitu juga rawa-rawa yang terkena air sabun lintah akan pergi (hilang). Oleh karena itu keberadaan Lintah di rawa dapat dijadikan indikasi bahwa rawa tersebut masih (alami / bersih).
Semua species lintah adalah karnivora. Beberapa merupakan predator, mendapat makanan dari berbagai jenis invertebrata seperti cacing, siput, larva serangga dll.
Lintah jenis Hirudo meicanalis yang berasal dari Eropa telah sejak lama dimanfaatkan untuk pengeluaran darah (plebotomi) secara medis.
Pacet dan Lintah merupakan jenis yang berbeda. Lintah (Hirunine medicinalis),Lintah hidup di Air  atau dalam air sedangkan pacet hidup di tempat dengan kelembaban Tinggi di hutan basah (di dedaunan atau di humus dasar hutan basah/pacet tanah). Dari bentuknya Pacet relatif lebih ramping dengan besaran sama dari ujung mulut sampai ke ekor, tapi lintah berbentuk meruncing ke ujung mulut dan ekor, melebar di badannya.

19.3.Manfaat dan Keistimewaan Lintah
Secara umum Hasil yang didapat dari Budidaya Lintah antara lain :

  • Jual Lintah hidup langsung baik untuk bibit maupun pembesaran lintah.
  • Jual Lintah indukan.
  • Jual Lintah untuk bahan minyak lintah
  • Jual Lintah Kering
  • Jual Liur Lintah
  • Yang sekarang lagi trend yaitu jual Lintah untuk terapi pengobatan.

Untuk Lintah istimewanya selain maunya hidup di tempat yang bersih alami, ternyata dia peka terhadap sumber makanannya yaitu darah (darah apa saja), indra penciumannya tajam terhadap bau darah boleh di test dalam jarak tertentu ada darah dia akan menghampiri segera, meskipun tidak ada matanya.
Keistimewaan yang lain, Dia hermaprodite (berganti-ganti kelamin = mudah diternakkan), Dan yang bermanfaat dan diketahui saat ini Lintah mengeluarkan Zat hirudine yang tidak membuat beku darah. Sifat lintah juga disinggung pertama kali tersirat dalam Al Quran surat Al Alaq (surat Iqro’) SQ: 96: ayat 2. (segumpal darah*) Awal pembentukan manusia menggantung pada rahim ibunya memancangkan akar dan menghisap darah ibunya seperti Lintah.

19.4.Terapi/Pengobatan dengan Lintah
Terapi alternatif dengan lintah (Hirudo medicinalis) telah digunakan sejak abad ke-18, namun sejak berkembangnya dunia medis kedokteran di abad 19, perlahan terapi lintah mulai dilupakan orang. Kini pengobatan modern mulai melirik terapi pengobatan dengan mempergunakan lintah.
Lintah telah diakui sebagai penolong manusia. Di kerongkongan tempat isapannya terdapat tiga rahang berbentuk setengah gergaji, dihiasi sampai 100 gigi kecil. Dalam waktu 30 menit, lintah bisa menyedot darah sebanyak 15 ml s/d kuota yang cukup untuk hidupnya selama setengah tahun.
“Lintah mengeluarkan semacam liur, zat hirudin yang bercampur dengan darah dan membawanya ke seluruh tubuh. Kemudian, sirkulasi darah jadi lancar sehingga tubuh terasa bugar”. Air liur lintah ternyata mengandung zat aktif yang sekurang – kurangnya berisi 15 unsur. Antara lain yaitu zat putih telur hirudin yang bermanfaat untuk mengencerkan darah dan mengandung penisilin, anti radang dan anestesi/bius.
Dan  zat-zat utama yaitu zat antikoagulan (anti pembekuan darah / anti pengentalan darah) yang menyembuhkan ketika dia mengambil darah mangsanya, selain mengandung juga zat-zat seperti yang terdapat dalam putih telur dan vitamin-vitamin, yang bermanfaat mengencerkan darah yang pada akhirnya dapat membuka saluran-saluran pembuluh yang tersumbat dan menyempit, sehingga bagian badan yang sedikit teraliri darah menjadi normal kembali dan syaraf di sekitarnya akan aktif lagi. Penyakit akibat gangguan darah dan penyakit saluran darah sangat bermacam-macam dari mulai Jantung sampai kulit dan kelamin, kanker. Dan jika darah lancar maka penyembuhan dapat .didapatkan. Lintah juga dimanfaatkan untuk terapi kecantikan, keharmonisan suami istri.
Logika Ilmiahnya: saluran darah yang tidak tersumbat dengan darah yang tidak beku/mengental maka seluruh sari makanan dan vitamin menyebar merata ke seluruh bagian tubuh dan setiap bagian tubuh akan berfungsi normal.Jika kondisi ini terganggu maka (saluran macet) maka ada bagian tubuh yang tidak teraliri darah dengan sempurna bisa berakibat stroke, bagian tubuh kanan dan kiri tidak simetris dll, terjadi sel-sel liar yang tumbuh karena tidak ada antibodi (dalam darah) yang mengaliri, berakibat penyakit kulit, kanker, tumor dll.
Metode penyembuhan dengan lintah merupakan cara yang tersisa dari abad pertengahan yang lampau. Pada masa itu pasien yang mengalami masalah pada sendi lutut akan merasa lebih baik setelah menempelkan lintah pada lukanya selama beberapa minggu. Hasil studi yang dilakukan para peneliti di Jerman menunjukkan bahwa lintah diakui bisa mengobati rasa sakit dan juga radang. Bahkan pasien yang menderita Osteatritis pun bisa menggunakan lintah untuk mengobatinya. Penelitian yang dipimpin Dr Gustav Dobos di klinik Essen-Mitte, Jerman melakukan percobaan terhadap 10 pasien dengan rata-rata usia 68 tahun. Kebanyakan pasiennya menderita sakit lutut selama enam tahun terus menerus. Para dokter meletakkan empat ekor lintah di daerah lutut yang sakit dan dibiarkan selama 1 jam 20 menit. Rasa sakit diukur tiga hari sebelum perawatan dilakukan dan 28 hari setelah selesainya perawatan. Pengaruh dari perawatan ini bisa diketahui setelah 24 jam kemudian, tetapi bisa dipastikan hasilnya setelah empat minggu. Dalam laporannya, para pasien mengaku rasa sakit mereka berkurang akibat dari gigitan lintah tersebut. Dan hebatnya, tidak ada efek samping yang ditimbulkannya, misalnya infeksi atau apa pun. Sementara pasien lain yang diberi perawatan secara konvensional (medis) tidak merasakan adanya perbedaan, merasa tidak berkurang rasa sakitnya. Menulis di jurnal Annals of the Rheumatic Diseases, Dobos menyatakan: “Kami nyatakan bahwa hasil dari penelitian ini sangat luar biasa. Perawatan dengan lintah menghilangkan rasa sakit secara signifikan setelah tiga hari dan meningkat empat minggu kemudian”.
Lintah pun digunakan sebagai salah satu penyembuh serba guna. Hewan ini bisa dimanfaatkan oleh penderita skizofrenia maupun depresi, juga untuk merangsang mata, mengempiskan lidah bengkak, dan meringankan sakit usus buntu serta pendarahan.
Di berbagai rumah sakit dan tempat praktik dokter di Jerman banyak ditemukan terapi lintah untuk penyembuhan. Bahkan setiap tahun di sana sekitar 250.000 ekor lintah digunakan untuk mengatasi pendarahan. Selain itu lintah juga dimanfaatkan dalam operasi plastik.
Terapi lintah dapat menstabilkan kadar hormon serotonin / melancarkan peredaran darah dan oksigen pada jaringan saraf halus di kepala. Termasuk menormalkan penyempitan atau pelebaran pembuluh darah di otak. Sudah banyak orang sembuh setelah memanfaatkan sedot lintah (Hirudo medicinalis). Sehingga terapi ini menjadi ‘trend’ serta naik daun.
Dalam ilmu pengobatan Islam, pengobatan mengeluarkan darah kotor termasuk metode yang sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. Lintah merupakan salah satu media untuk mengeluarkan darah kotor secara alami. Efeknya, akan meringankan tubuh. Sebab, kandungan darah kotor yang menumpuk di bawah permukaan kulit yang menjadi sumber penyakit, akan disedot lintah tersebut. Dengan prinsip pengobatan memperlancar saluran dan pengenceran darah maka saluran-saluran darah yang sekecil-kecilnya akan teraliri darah dan menyembuhkan (menormalkan fungsi bagian tubuh)
Dalam praktek pengobatan saat ini banyak yang menggunakan lintah rawa saja atau menggunakan Lintah dengan gabungan herbal, bekam, totok syaraf dll. Jumlah yang ditempelkan, tergantung tingkat parah atau tidaknya pasien yang akan diobati. Setelah kenyang mengisap darah kotor, lintah akan jatuh sendiri. Dan hanya dipakai untuk sekali pengobatan, lalu dibuang. Bekas gigitannya, ditutup menggunakan plester obat.
Bagi pasien penderita diabetes, lintah diletakkan di kaki dan punggung belakang. Untuk penderita migren, darah tinggi, mimisan, lintah diletakkan di bagian punggung belakang. Berkisar satu jam, lintah mulai bekerja melakukan sedotan. Awalnya, lintah gajah ini terlihat berukuran kecil. Tapi, setelah menyedot darah kotor yang ada dalam tubuh pasien, ukurannya akan berubah menjadi sangat besar.
“Untuk terapi kecantikan, banyak juga ibu rumah tangga dan gadis remaja menggunakan sedot lintah. Terutama untuk menyembuhkan jerawat, flek hitam, kerut wajah. Juga, agar kulit wajah tetap kencang”
Kami berharap ada peneliti lintah Indonesia yang mendukung secara Ilmiah. (di USA, Eropa sudah banyak dimanfaatkan untuk medis: pembersihan darah beku bekas operasi, pengobatan kanker payudara, eksim, jerawat, bisul, migrand, perawatan kulit dll)
Kesimpulannya bahwa lintah ternyata sangat istimewa dalam proses pengobatan dan penyembuhan penyakit melalui cara Terapi Sedot Lintah.

A.Terapi Sedot Lintah Dapat Mengobati :
Dalam rangka Terapi sedot Lintah maka yang menjadi dasar pemikiran adalah : “Darah merupakan sumber energi manusia untuk hidup, bilamana darah rusak, maka berkuranglah energi serta daya tahan tubuhnya”

Terapi Sedot Lintah antara lain dapat mengobati :

  • Diabetes mellitus kering / basah.
  • Kelenjar getah bening.
  • Tyroid.
  • Segala jenis Kanker dan Tumor.
  • Darah tinggi.
  • Migraine.
  • Sering pusing.
  • Kolesterol.
  • Asam urat.
  • Rematik.
  • Pengapuran.
  • Stroke.
  • Gangguan seksual.
  • Sakit pinggang.
  • Narkoba.
  • Gatal – gatal.
  • Alergi makanan.
  • Cedera otot / Saraf terjepit.
  • Jantung Koroner.
  • Penyempitan pembuluh darah.
  • Penyumbatan darah di otak dan jantung.
  • Melancarkan / menghilangkan sumbatan dan gumpalan darah yang lama terkoagulasi membentuk plak di saluran arteri.
  • Mencairkan pembekuan darah di kepala / otak, saraf halus, saraf sensorik, saraf motorik, saraf telinga, dan retina mata.
  • Terapi ini bisa memperbaiki / menghidupkan pembuluh / jaringan saraf halus yang cedera / rusak / mati akibat penyakit / kecelakaan.
  • Melancarkan suplai oksigen dan nutrisi dalam darah. Akibat dari tidak lancarnya aliran darah dan oxsigen maka rasa sakit yang sering di rasa yaitu kesemutan, kaku, baal, panas, dingin, sampai mati rasa.

B.Diabetes Mellitus
Setiap tahun lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia meninggal sebagai akibat dari komplikasi Diabetes Mellitus atau dengan kata lain terjadi satu kematian setiap tiga detik. Diet serta olahraga yang teratur dapat mengurangi secara drastis kemungkinan seseorang dengan toleransi glukosa terganggu karena diabetes. Terapi efektif bisa dilakukan dengan lintah.
Untuk mengobati Diabetes Mellitus (kering) lintah-lintah tersebut ditempelkan pada bagian yang ba’al, mati rasa, kesemutan, kaku, sakit disekitar kaki maupun tangan. Gangguan seperti sering buang air kecil pada malam hari, tidak bisa buang air besar setiap hari, perut kembung dan gangguan disfungsi ereksi bisa disembuhkan dengan Terapi sedot lintah dan herbal yang teratur.
Diabetes Mellitus (basah) seperti : gangrene, radang, bengkak, luka yang tidak bisa sembuh, busuk, sudah mati rasa disekitar lubang luka, saraf / jaringan yang mati akan hidup kembali hanya dengan terapi lintah dan ramuan herbal tanpa perlu diamputasi. Diabetes Mellitus (basah) bisa disembuhkan.

C.Kanker / Tumor / Kelenjar Getah Bening / tyroid
Pada umumnya bila terasa ada benjolan dileher maupun di bagian tubuh lainnya, sebelum terasa sakit atau nyeri biasanya di diamkan saja. Hasil pengobatan pada kanker dini jauh berbeda dengan kanker yang sudah lanjut. Pada kanker dini umumnya pengobatan lebih sederhana, lebih murah dan yang lebih penting lagi adalah hasil pengobatan yang jauh lebih baik.
Perlu diketahui bahwa kelenjar tyroid / getah bening dan sel kanker berkembang setiap saat, ada yang sangat cepat dan ada yang lambat. Apapun namanya tetaplah sel-sel yang abnormal harus benar-benar diwaspadai. Dengan terapi yang kami lakukan biasanya, benjolannya akan terus mengecil seiring masa pengobatan yang dijalani juga rasa sakit akan berkurang dan hilang. Semua dilakukan tanpa operasi, kemoterapi, hormonterapi ataupun radiasi.

D.Saraf Terjepit / Cedera Otot
Kesemutan adalah gejala yang muncul akibat gangguan pada sistem saraf sensorik. Gangguan itu timbul karena rangsang listrik pada sistem itu tidak tersalur secara penuh. Berikut ini kelompok penyebab kesemutan akibat trauma (saraf terjepit otot, tertimbun cairan tertentu dalam tubuh, atau terjepit benda lain di luar tubuh yang mempengaruhi otot dan saraf). Juga akibat aktivitas anggota tubuh, entah tangan, kaki atau bagian tubuh lain tanpa henti. Dimulai dari rangsangan berupa sentuhan, tekanan, rasa sakit, suhu panas atau dingin, rangsangan ini diterima reseptor saraf pada kulit, lalu dikirim ke saraf tepi, masuk dalam susunan saraf pusat di sumsum tulang belakang. Gangguan saraf tepi yang biasanya mewujud pada gejala kesemutan bisa muncul akibat saraf terjepit otot atau jaringan lain. Di dalam tulang punggung berjajar sumsum tulang yang bisa menekan saraf di sekitarnya atau menekan saraf yang keluar dari setiap tulang punggung. Di setiap tulang punggung terdapat lubang tempat keluar akar saraf yang berasal dari sumsum tulang. Tempat keluar ini bisa dipersempit oleh inti tadi, sehingga saraf tertekan. Inilah yang biasa disebut sebagai saraf terjepit oleh kebanyakan orang.
Terapi lintah untuk keluhan sakit karena saraf terjepit sangat efektif dan cepat menghilangkan nyeri, kaku, sulit bergerak, panas yang disertai dengan kejang – kejang. Karena dalam air liur lintah (hirudin) banyak terkandung antikogulan (anti pembekuan darah) biasanya dalam kasus saraf terjepit terjadi pembekuan darah dan juga cairan. Dengan terapi lintah dan herbal, pasien terhindar dari kerusakan saraf secara permanent. Seiring masa terapi keluhan sakit karena saraf terjepit akan hilang dan sembuh seperti semula.

E.Migraine
Kata migraine sendiri berasal dari perkataan Yunani yaitu : “hemikrania” yang berarti “separo kepala”. Penyebab migrain bisa bermacam-macam. Mulai dari peredaran darah yang tidak lancar dalam otak karena kelelahan dan kurang beristirahat, pola makan yang buruk, radang tonsil sampai pencernaan yang kurang bagus daya kerjanya. Nyeri pada migrain disebabkan karena pelebaran pembuluh darah di otak. Hal ini antara lain berkaitan dengan kadar hormon serotonin dalam darah. Jika kadarnya tinggi, pembuluh darah akan menyempit, sebaliknya jika kadarnya rendah maka pembuluh darah akan melebar. Gejala yang dialami jika migrain muncul adalah nyeri kepala yang sangat hebat, biasanya di satu sisi namun dapat pula di kedua sisi kepala. Penderita “sakit kepala sebelah” akan membaik setelah menjalani terapi lintah dan herbal. Pasien akan merasakan sakit yang berkurang, kepala terasa enteng, tidur pulas dan bangun tanpa rasa sakit. Penyembuhan penyakit migrain secara alami tanpa obat kimia, sehingga pasien terhindar dari penderitaan berkepanjangan. Tidak masalah berapa tahun penyakit migraine telah diderita.

F.Penyakit Jantung
Terapi lintah yang kami padukan dengan ramuan khusus herbal sangat baik untuk menetralisir racun,  melenturkan / menguatkan saraf dan otot, mengencerkan  darah / membersihkan plak / kolesterol / melancarkan aliran darah / sirkulasi darah dan oksigen juga melancarkan pemyumbatan pembuluh darah. Jantung yang sehat perlu bekalan darah yang encer dan oksigen yang cukup.Umumnya pasien merasa lebih baik dari setiap kali terapi keterapi lainnya.
Keluhan seperti sesak nafas, sulit bernafas, nyeri / sakit didada, mudah lelah, jantung berdebar – debar, panas disekitar jantung, keringat dingin, tidak bertenaga akan berkurang dan hilang seiring terapi yang dijalani. Metode terapi alternatif ini steril, aman, tanpa efek samping, juga merangsang saraf yang ada disekitar jantung untuk bisa meregenerasi diri sendiri. Berbagai penyakit jantung yang bisa disembuhkan dengan terapi lintah dan herbal yang berkaitan dengan kordiovaskuler antara lain : Hyper koagulasi / Darah kental, Pemyempitan / Pemyumbatan pembuluh darah. Penderita gangguan jantung, Jantung koroner, Jantung bengkak, dan Jantung bocor. Tanpa perlu dioperasi dan tidak tergantung pada obat–obatan kimia.

19.5. Teknis Budidaya Lintah
Dalam memelihara lintah yang penting adalah kesesuaian dengan kondisi habitat alamnya hanya kita modifikasi dengan kolam dan pengaturan air yang selalu jernih dan suhu air nya yang stabil. Suhu yang dibutuhkan untuk habitat Lintah sekitar 18 – 20 ° C, dan kondisi air harus jernih dan bersih, meskipun membutuhkan lumpur halus yg sudah mengendap/pasir. Untuk penanganan suhu udara umumnya dengan pohon-pohon besar di atas kolam (peteduh).
Kendala yang dihadapi dalam budidaya lintah antara lain menghapus image bahwa Lintah itu menakutkan, menjijikkan.

A.Pembibitan.
Dalam melakukan pembibitan lintah, pada umumnya dengan cara melakukan pengambilan benih-benih asli di rawa-rawa Indonesia yang masih bersih untuk dijadikan bibit Lintah sehingga di Indonesia ini diketahui ada berapa Jenis Lintah (di dunia dikenal 300 jenis). Namun saat ini untuk mendapatkan benih lintah, bisa dilakukan dengan cara membeli lintah biasa kepada petani lintah, misalkan 50 ekor lintah bisa menghasilkan kira-kira 20.000 bibit ekor lintah.

B.Makanan
Makanan utama lintah antara lain : Ikan lele dewasa, gabus, belut dewasa dll. Dalam rangka Budidaya untuk tujuan pembesaran lintah maka Makanan lintah yang terbaik adalah belut dewasa. 1 kg belut dewasa untuk 20.000 ekor lintah dalam masa 1 minggu. sampai 1 bulan

(Sumber : http://www.oval-film.com/ekelhaltgesund/engl/blutegel/studien.htm)

Selamat Mencoba

 





Diktat Aneka Ternak-Rusa

6 08 2012

BAB XVIII. RUSA (Cervus spp)
18.1. Pendahuluan
Rusa merupakan salah satu alternatif sebagai hewan yang mempunyai potensi untuk ditingkatkan statusnya mengingat ketersediaannya yang meluas hampir di setiap pulau di Indonesia dan rendahnya kandungan lemak dalam venison (dagingnya) serta keunggulan lain berupa hasil ikutan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Peternakan rusa telah dikenal dan berkembang semenjak lama di luar negeri, terutama di daerah-daerah sub-tropis seperti Australia, New Zealand, Cina, Amerika dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan di New Zealand menunjukkan bahwa, peternakan rusa di negara tersebut menjadi penyumbang devisa terbesar dibandingkan dengan peternakan sapi potong, sapi perah dan domba (Subekti, 1995 dan Aliambar 2000).
Sebenarnya pengembangan rusa di Indonesia sampai saat ini masih menimbul kan perdebatan. Kelompok pertama menganggap rusa termasuk golongan satwa langka yang harus dilindungi, sehingga apabila dilakukan pengembangan secara komersial akan menyebabkan kepunahan. Kelompok kedua, justru menganggap rusa merupakan hewan dengan nilai ekonomi yang tinggi, sehingga perlu dikembangkan secara komersial untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kelompok ini berdalih, pengembangan secara komersial justru dapat menjaga rusa dari kepunahan.
Untuk memperoleh solusi optimal dalam pengembangan budidaya rusa perlu dipertimbangkan daya dukung dan tetap memperhatikan pengembangan untuk tujuan konservasi. Pengembangan komoditas baru tentu harus disesuaikan faktor-faktor fisiologi, biofisik dan sosial ekonomi yang merupakan sumber keunggulan wilayah (Simatupang et al. 2004).
Sebelum keluarnya PP No.7/1999 rusa tidak termasuk jenis yang dilindungi, melainkan sebagai satwa bekeru, penangkapannya diatur melalui undang-undang perburuan dan bebas sebagai satwa piaraan. Budidaya rusa juga dimungkinkan dengan adanya aturan dari pemerintah melalui SK Mentan No. 362/Kpts/TN.12/5/1990, sudah mengakomodir investasi di bidang peternakan satwa tersebut.
Pada umumnya kegiatan budidaya rusa sebagai satwa langka yang tergolong appendix I harus memiliki ijin budidaya dan penangkaran oleh Kantor Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA). “Aturan untuk budidaya dan penangkaran itu diperbolehkan, dengan syarat 15 persen dari ternak yang dibudidayakan harus dilepas kehabitatnya,”.

Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Ternak Rusa secara  komersial dilakukan dengan langkah-langkah antara lain :
(a) perluasan areal;
(b) sosialisasi pada masyarakat untuk pengembangan rusa dengan tujuan ganda;
(c) penetapan peraturan pemerintah mengenai budidaya rusa;
(d) publikasi mengenai tempat wisata, dan sebagainya.

Disarankan, infrastruktur hukum sebagai kendala utama harus segera mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah, untuk mengubah opini masyarakat tentang usaha budidaya rusa di Indonesia. Sebagai aset komoditi peternakan yang dapat beredar secara terbuka, diperlukan juga penataan pasar dalam mengembangkan usaha budidaya rusa timor secara komersial.
Banyak tempat pemeliharaan Ternak Rusa, namun jenis Rusa yang ada di Indonesia, antara lain :

  1. Rusa lokal Timor (Nervus Timorensis),
  2. Rusa sambar (Cerfus unicalor),
  3. Rusa Ujung Kulon dan
  4. Rusa dari Nepal (Axis-axis).

Pada umumnya pemeliharaan ternak Rusa dilakukan di lokasi-lokasi wisata, kebun binatang, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam serta di rumah Dinas serta Istana Negara.
Selama belum ada usaha-usaha budidaya selama ini pula kelangsungan hidup rusa semata-mata hanya tergantung pada kebaikan alam (on forest potensials). Tidak mustahil akan menjadi fauna yang langka seiring dengan eksploitasi hutan yang tidak terkendali, apalagi pada tahun 2002 sekitar 7000 ekor rusa atau setara 524.5 ton, diburu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dikonsumsi dagingnya secara tidak terkendali.
Untuk mengatasi kondisi tersebut dan memenuhi permintaan masyarakat akan daging rusa yang terus meningkat, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan populasi rusa dengan menerapkan metode-metode pembudidayaan yang baru. Pada tahun 90-an Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Peternakan seperti terlihat di Desa Apiapi, Pasir yang sebelumnya hanya beberapa ekor kini jumlahnya lebih dari 100 ekor, hal itu cukup menggembirakan mengingat populasinya terus terancam akibat aksi pemburu serta kian menyusutnya habitat satwa langka ini. Penangkaran rusa bersifat melestarikan jenis rusa dari kepunahan, menyelamatkan plasma nuftah specific rusa sambar sekaligus sebagai awal domestikasi untuk dapat membudidayakan dan dimanfaatkan seperti ternak lainnya.
Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu di Manna Bengkulu Selatan serta di kota Bengkulu berhasil melakukan penangkaran dengan populasinya mencapai hampir 50 ekor. Rusa yang dibudidayakan merupakan rusa lokal (Nervus Timorensis) dan rusa tutul dari Nepal (Axis-axis).
Di Jawa Timur ada empat tempat penangkaran rusa timor yaitu yaitu di Taman Wisata Jatilangger di wilayah Blitar, Kebun Binatang Surabaya, Taman Safari II Prigen Pasuruan, dan Taman Wisata Coban Rondo di wilayah Batu Malang.

18.2. Potensi Pengembangan Ternak Rusa.
Dalam rangka diversifikasi pangan “untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani, semua pihak termasuk pemerintah berusaha menciptakan dan mengembangkan berbagai alternatif. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah budidaya rusa (Cervus spp).
Jenis Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Rusa Sambar (Cervus unicalor) adalah dua spesies rusa yang mungkin dikembangkan ke arah budidaya peternakan. Hal ini didukung oleh populasi dan penyebarannya yang luas serta daya adaptasi dan reproduksinya yang cukup tinggi.

Beberapa faktor yang menguntungkan untuk pengembangan (Budidaya) Ternak Rusa, antara lain :

  1. Ternak Rusa memiliki beberapa keunggulan sebagai hewan ternak, antara lain memiliki adaptasi yang tinggi, dan tingkat pengembangbiakan yang baik.
  2. Kegiatan pengembangan (Budidaya) ternak Rusa merupakan salah satu bentuk diversifikasi pangan, dimana peternakan juga sangat menentukan dalam mewujudkan ketahanan pangan tersebut, sehingga ketahanan pangan tidak lagi diartikan sebagai ketersediaan dan kecukupan pangan, tetapi kecukupan protein hewani dan pangan lainnya sesuai dengan Pola Pangan Harapan (PPH).
  3. Kegiatan pengembangan budidaya rusa untuk menghindari kepunahan di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan tujuan ganda, yaitu gabungan usaha konservasi (mendukung pelestarian plasma nutfah Indonesia) dan mempunyai nilai komersil (Semiadi, 1998; Saragih,2000).
  4. Pengembangan Rusa khususnya Rusa Timor dalam bentuk usaha komersial di tempat-tempat wisata mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dari hasil penjualan produk secara langsung (Daging, Tanduk/seranggah/rangga muda (velwet), rangga tua (antler), kulit, penjualan hewan hidup)maupun penjualan tiket rekreasi, serta mampu menurunkan biaya untuk membayar tenaga kerja dan biaya untuk perawatan rusa
  5. Pada ternak rusa, yang memiliki nilai jual tidak saja dagingnya tapi juga seluruh bagian yang melekat pada tubuh rusa itu, seperti tanduk/ceranggah, kulit tulang, darah, penis, tulang kaki belakang hingga ekornya yang kesemuanya bernilai ekonomi tinggi.
  6. Produk daging rusa juga sangat enak karena seratnya lembut dan halus, kandungan lemak dan kandungan kolesterol yang lebih rendah daripada daging sapi sehingga harga dagingnya lebih mahal. Harga mahal tidak akan mengurangi minat orang mengkonsumsinya.

18.3. Karakateristik Ternak Rusa.
Rusa suka hidup berkelompok, mudah beradaptasi dalam segala lingkungan / iklim dan cepat berkembang biak serta efisien dalam penggunaan pakan untuk diubah sebagai daging; lebih efisien daripada ternak sapi.
Rusa termasuk golongan ruminansia mempunyai ketajaman pendengaran, penciuman, kecepatan melompat dan berlari yang cukup tinggi serta tidak punya kantong empedu. Pada umur dewasa berbadan besar, tungkai panjang, hidung gelap, dan suara melengking nyaring. Umumnya berwarna hitam kecoklatan dan cenderung coklat ke abu-abuan atau kemerahan, warna gelap sepanjang bagian atas. Bobot rusa dewasa (10-12 bulan), betina 40-50 kg dan jantan 50-60 kg, panjang badan berkisar 1,5 m dan tinggi badan 1,4-1,6 m, bobot lahir 3-4 kg dan disapih umur 6 bulan.
Dewasa kelamin umur 1-1,5 tahun. Perkawinan alami secara umum berkisar antara bulan Juli sampai September. Lama bunting 6-7 bulan dan calving interval 10-12 bulan).
Pada saat akan melahirkan rusa selalu mencari tempat yang aman seperti semak-semak. Anak akan bersembunyi selama 1-2 minggu kemudian bergabung dengan kelompok. Anak yang lahir dengan mendapat perlakuan yang baik akan menunjukkan sifat yang lebih jinak. Sementara itu, pertumbuhan tanduk hanya pada rusa jantan, tumbuh pada umur 14 bulan. Tanduk pertama hanya berbentuk lurus dan akan bercabang pada tumbuh tanduk berikutnya.
Tanduk akan lepas pada umur 10-12 bulan setelah tumbuh selanjutnya akan tumbuh kembali. Rusa betina yang sedang bunting tua kadang-kadang bersifat agresif dan bisa membahayakan demikian juga rusa jantan bersifat agresif pada saat tanduk mulai mengeras dan musim kawin.

18.4.Beberapa Penyakit Utama Dalam Usaha Budidaya Rusa (Cervus Spp)
Teknis budidaya ternak rusa sebenarnya hampir sama dengan Teknis Budidaya ternak Ruminansia Kecil lainnya seperti Kambing dan Domba. Namun dalam prakteknya, oleh karena sifat liar masih mendominasi maka kita harus mengenal karakteristiknya terlebih dahulu sehingga akan diperoleh hasil budidaya yang sesuai dengan tujuan pemeliharaannya.

Beberapa Penyakit Utama Dalam Usaha Budidaya Rusa (Cervus Spp) menurut (Semiadi, 1998 ; Saragih, 2000 ; Thohari, 2000) antara lain :

  1. Kasus Capture Myophathy sering terjadi di berbagai tempat penangkaran rusa baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini disebabkan karena hewan tersebut mudah mengalami stres, dan penanganan yang dilakukan tidak hati-hati. Sindrom yang kelihatan adalah, kematian mendadak dan tiba-tiba, tanpa diketahui gejalanya IJl terIebih dulu. Kasus ini terjadi setelah penangkapan dan pembiusan untuk memindahkan hewan-hewan tersebut ke lokasi baru dari habitatnya. Untuk mencegah masalah ini perIu penanganan yang baik dan hati-hati, karena sampai sekarang belum ditemukan prosedur yang efektif untuk pengobatan jika telah timbul kasus (Spraker, 1993 ; Aliambar, 2000).
  2. Rusa seperti ruminansia lainnya, bisa terinfeksi berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, ektoparasit dan endoparasit. Penyakit virus yang sering dilaporkan adalah Malignant Catarrhal Fever, Blue Tongue, Epizootic Hemorrhagic Disease dan Chronic Wasting Disease. Kejadian penyakit virus bisa ditularkan dari ternak domestik seperti sapi dan domba, serta pakan tambahan yang tercemar virus tersebut (Reenen, 1982 ; Tapscott, 1998).
  3. Penyakit bakteri yang sering dilaporkan adalah : Penyakit Anthrax, Bruselosis, ParatuberkulosisUon;s Disease, Yersiniosis dan Salmonelosis. Penyakit -penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut bersifat zoonosis (Reenen, 1982 ;
  4. Menurut Direktorat Bina Kesehatan Hewan, 1993 ; Akoso, 1996 ; Tapscott, 1998). Ektoparasit yang cukup berbahaya bagi rusa maupun hewan lainnya, termasuk manusia adalah Tick Paralysis yang disebabkan oleh gigitan caplak Dermacentor variabilis. Gigitan caplak tersebut bisa menimbulkan kematian mendadak pada induk semang. Infeksi cacing secara umum menyebabkan penurunan kondisi hewan yang bersangkutan (Reenen, 1982; Fowler, 1993).

Adanya informasi tentang penyakit yang bisa menginfeksi rusa ini, diharapkan akan membantu para peternak rusa di Indonesia. Sehingga persiapan dan antisipasi bisa dilakukan sedini mungkin untuk menghindari resiko penyakit, dalam upaya mencapai nilai ekonomis yang tinggi pada suatu usaha peternakan.

Selamat Mencoba Mengembangkan.

 





Diktat Aneka Ternak-Burung Parkit

6 08 2012

BAB XVII. BURUNG PARKIT (Melopsittacus undulates)
17.1. Sejarah Singkat
Pada tahun 1831 salah satu museum di London, Linne Society memamerkan pajangan burung parkit yang mati, tetapi tampak seperti masih hidup di dalam salah satu ruangannya. Inilah yang akhirnya mengundang berbagai kalangan, terutama para ahli di bidang perburungan.
Di antaranya adalah John Gould. Berawal dari sinilah sejarah parkit dibawa ke negeri Inggris.
Shaw, seorang penulis buku Zoologi of New Holland memberi nama burung mungil ini dengan sebutan Melopsittacus undulates. Melopsittacus berasal dari bahasa yunani, melos yang artinya nyanyian dan psittacua yang merupakan sebutan bagi kerabat burung betet. Sedangkan undulus dari bahasa latin yang berarti bercorak. Corak bergelombang inilah yang mungkin berkaitan dengan warna bulu burung parkit yang bermacam-macam.
Pada tahun 1850 perkembangan burung berparuh bengkok ini mulai sukses dibiakkan dikebun binatang Antwerpens, Belgia. Karena kecantikan warna bulu burung ini beberapa negara Eropa lainnya mulai ikutan mengimpor burung ini dalam jumlah yang besar. Akhirnya burung parkit sudah mulai dikembangbiakkan di mana-mana.
Burung parkit memiliki banyak varian warna dan kejelasan warna (bright and full color). Warna yang beragam ini hasil dari persilangan beberapa generasi sehingga menghasilkan warna baru. Warna kuning pada bulu burung parkit dihasilkan di Belgia pada tahun 1872 dan di Jerman pada tahun 1875 dengan warna yang sama. Berikutnya warna biru yang muncul pada tahun 1878. Dan tahun 1917 warna putih menyusul hingga tahun 1940 puncak keragaman warna bulu burung parkit ini. Burung warna putih polos sempat menduduki peringkat pertama soal harga karena jumlahnya yang sedikit.
Penyebaran yang luas menyebabkan burung ini mendapat banyak sebutan. Orang Belanda menyebutnya Undulated grass parkeet. Kalau orang Perancis memanggil dengan sebutan Perche Ondule. Sedangkan bangsa Jerman menggunakan nama Wellensittich.

17.2. Karakteristik Burung Parkit
Burung Parkit menyukai hidup berkoloni dan Mudah beradaptasi serta sangat mudah menyesuaikan di dalam kandang penangkaran. Burung parkit termasuk burung yang bisa jinak.
Biasa di alam bebas parkit berkembang biak pada bulan Oktober – Desember. Bila musim kawin sang jantan biasanya menyanyi dengan nada rayuan untuk memikat betinanya. Hingga pada saat saling ada kecocokan maka perkawinan akan segera berlangsung.
Burung inipun dikenal sangat setia dengan pasangannya. Bila si betina sedang aktif bertelur maka si jantan akan menunggu di luar sambil bersiul menghibur sekaligus akan mengusir apabila ada pengganggu mendekati sarangnya.
Manfaat yang bisa diambil dari Burung Parkit adalah keindahan warna bulu dan Suara, sehingga tujuan pemeliharaannya adalah untuk hoby atau kesenangan.

17.3. Anatomi Burung Parkit
Ciri-ciri Burung Parkit jantan dan betina. Parkit jantan berwarna biru yang kuat atau keunguan lembayung pada bagian hidung sedangkan betina berwarna putih atau biru tipis. Kepala jantan berbentuk bulat kompak dan lebih besar dibandingkan betina. Dengan demikian cara membedakan antara parkit jantan dengan betina, adalah tinggal melihat  hidungnya saja, dimana parkit  jantan warna hidungnya agak kebiru-biruan dan posturnya agak sedikit lebih besar, sedangkan yang betina sebaliknya.

11.4. Reproduksi dan Perkembangbiakkan.
Anak burung parkit yang baru keluar dari cangkang telurnya berbobot rata-rata 2,35 gram dengan kondisi mata masih terpejam. Setelah umur sembilan hari barulah matanya terbuka.
Setelah umur 30 hari barulah anak burung parkit mulai siap meninggalkan sarangnya untuk belajar terbang. Namun meski sudah mulai terbang, sang induk biasanya masih menyuapinya hingga umur 40 hari. Setelah umur 40 hari tersebut biasanya persiapan induk untuk perkawinan generasi yang baru akan dilakukan.
Anak parkit mulai matang kelaminnya untuk melakukan perkawinan setelah berumur 90 hari. Si jantan yang cukup umur akan segera memikat betinanya dengan siulan mautnya untuk menjadi pasangan yang akan mengembangbiakan keturunannya.
Proses penjodohan dilakukan sebelum pasangan ditempatkan di kandangnya masing-masing. Proses penjodohan hampir sama dengan lovebird. Burung parkit yang berjodoh ditandai dengan perilaku mereka yang saling berdekatan dan saling menyuap. Parkit jantan akan lebih banyak mengeluarkan suara berisik jika sudah menemukan pasangan. Kalau pasangan tidak menjodoh biasanya saling menjauh, maka secepatnya diganti pasangannya.
Setelah terlihat menjodoh, setiap pasangan dipisahkan untuk dimasukkan ke kandang produksi untuk melakukan aktivitas bertelur. Berat telur parkit berkisar 2,5 gram/butir dengan jumlah telur rata-rata 6 butir/pasangan parkit. Di dalam kandang harus sudah tersedia box sebagai tempat betina bersarang. Sebaiknya box atau kotak sarang harus seimbang dengan jumlah pasangan burung parkit.
Lama pengeraman dalam waktu kurang lebih 19 hari. Waktu menetas umumnya tidak bersamaan sehingga banyak anakan yang lahir terakhir menjadi cacat kakinya terinjak oleh anak burung yang lahir lebih dahulu.

11.5. Teknis Pemeliharaan burung parkit
Perawatan burung jenis ini relatif mudah. Adapun teknis pemeliharaannya adalah sebagai berikut :

1). Bibit

  1. Pilih burung parkit yang sehat. Perhatikan perilaku burung yang hendak anda beli. Parkit yang sehat dicirikan dengan rajin bergerak, menggelantung di sekitar sarang dan makan dengan lahapnya. Perhatikan pula pupil mata yang harus terbuka dengan lebar. Paruh juga harus berbentuk bengkok utuh tidak patah atau keropos.
  2. Pilihlah indukan burung parkit yang masih muda, dengan ciri warna hidung di atas paruhnya masih berwarna merah muda dan belum banyak bersisik putih, juga kaki yang masih belum banyak warna sisik putihnya.
  3. Usahakan memilih induk yang berbeda warna.
  4. Pilih yang kelihatan sudah cocok dengan pasangannya karena akan lebih mudah untuk penangkarannya.

2). Kandang

  1. Rumah pribadi’ atau kandang yang umumnya terbuat dari kayu randu berbentuk kotak menjadi syarat bagi setiap pasangan parkit. Kandang yang paling baik adalah kandang besi karena kandang besi atau strimin sangat direkomendasikan untuk mengantisipasi kuatnya paruh parkit. Untuk sepasang parkit minimum ukuran kandang. Persiapkan pula kandang cadangan untuk hasil perkembangbiakan apabila pasangan burung sudah mulai produksi.
  2. Sesuaikan besarnya kandang dengan jumlah pasangan agar tidak terlalu padat sehingga berakibat kurang baik bagi kesehatan burung termasuk merusak dari segi menikmatinya.
  3. Kandang yang diperlukan tidak begitu besar meskipun untuk pengembangbiakan sekalipun. Ukuran 40 x 40 x 60 cm atau 60 x 60 x 50 cm sudah cukup untuk memulai penangkaran. Sedangkan untuk pajangan keindahan ukuran sangkar umum sudah memadahi.
  4. Ukuran kandang standart kurang lebih 1,5 m x 1,5 m dan tinggi minimal 1,5 m dan usahakan ada jarak dari tanah sekitar 20 cm. Alas juga sebaiknya terbuat kawat ram. Tanah di bawahnya sebaiknya diberi kapur untuk mengurangi kadar asam dari kotoran burung sehingga burung lebih sehat. Sebaiknya pintu kandang di buat 2, satu berukuran kecil yang terletak di tengah, dan satunya berukuran besar untuk kita bisa masuk ke kandang tersebut. Tentunya di bawah bagian alas ada media yang kuat untuk tempat kita berpijak.
  5. Buatlah juga sangkar untuk bertelur berbentuk kubus dengan ukuran 15 cm x 15 cm dari kayu yang agak lunak, dan lubangi depan sangkar serta berilah alas berpijak di bawah lubang tersebut. Diameter lubang kira-kira 2.5 cm, jarak lubang masuk burung dari alas bawah kubus kira-kira 5 cm dan berilah serbuk atau serpihan kayu di dalam sangkar tersebut. Sebaiknya buatlah sangkar dengan jumlah yang banyak, kira-kira 5 – 10 sangkar yang dipasang disisi belakang sangkar dengan tinggi 1 m lebih dari alas kandang.
  6. Berilah cabang-cabang ranting untuk tempat bertengger. Usahakan bagian belakang sangkar ditutup dengan media yang gelap agar burung tenang saat bersarang/bertelur dan terhindar dari hewan pengganggu lainnya.
  7. Perhatikan kebersihan kandang.

3). Pakan dan Minum

  1. Jaga ketersedian pakan dan minum. Untuk minum sebaiknya perlu diberi vitamin yang bisa didapatkan di Poultry shop atau Pasar Burung.
  2. Usahakan tempat minum dalam kondisi bersih. Cucilah 4 hari sekali agar tidak lembab dan berlumut.
  3. Tempat minum atau Tempat Pakan bisa menggunakan media tempat minum ayam potong sehingga bahan makanan / minuman bisa otomatis turun saat termakan.
  4. Buang makanan yang mulai busuk karena kelebihan dalam pemberian pakan terutama sayuran seperti tauge, jagung atau yang lainnya
  5. Sediakan pasir sebagai bahan pembantu pencernaan burung.
  6. Makanan utama burung ini adalah millet (catatan agroburung.com, di Solo, rata-rata diberi pakan utama jewawut) juga yang mudah didapatkan di kios-kios penjual makanan burung. Selain Millet, jenis makanan Burung Parkit antara lain Jagung muda atau Gabah padi.

Selamat Mencoba





Diktat Aneka Ternak-Keong Mas

6 08 2012

BAB XVI. KEONG MAS(Pomacea canaliculata)
16.1. PELUANG USAHA UNIK BUDIDAYA KEONG(Pomacea canaliculata)
Sekarang ini makin banyak orang mencari peluang usaha yang masih langka. Bahkan peluang usaha yang bisa dikatakan tanpa perlu modal uang yang banyak. Salah satunya adalah pembudidayaan hama tanaman. Tapi yang ini bukan sembarang hama.
Hampir semua orang khususnya wong ndeso pasti tahu yang namanya siput air atau biasa disebut Keong. Keong yang berwarna kekuning-kuningan disebut dengan Keong Mas. Makhuk yang sering diremehkan karena lamban dan pemalu serta dianggap sebagai perusak tanaman.
Keong mas (Pomacea canaliculata) mungkin selama ini lebih dikenal sebagai perusak tanaman (hama), tapi tahukah anda manfaat dari daging keong mas tersebut? Ternyata daging Keong mas mengandung asam omega 3, 6 dan 9. Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga 50 persen.
Keong mas juga laris manis di pasaran ekspor seperti Eropa dan Jepang, di pasaran lokal keong mas sudah mulai di jual sebagai sate maupun dimasak pedas di warung angkringan
Keong atau siput air banyak ditemukan di perairan tenang dan dangkal seperti sungai kecil, danau, dan persawahan. Makanan alaminya berupa rerumputan, lumut dan tanaman-tanaman air yang gampang didapat di tempat mereka hidup.
Perkembangbiakan Keong Mas sangat cepat, khususnya didaerah yang memilki sumber makanan melimpah seperti tanaman enceng gondok, padi dan tanaman sayuran didaerah lembab dan berair seperti kangkung. Dalam kondisi ini Keong Mas dianggap musuh petani padi.
Selain sebagai kuliner ternyata Keong Mas selama ini sudah dimanfaatkan para peternak itik atau entog sebagai pakan ternak serta sebagai makanan tambahan pada pembesaran ikan lele.

16.2. Budidaya keong mas
Langkah-langkah budidaya Keong Mas adalah sebagai berikut :

  1. Buatlah kolam (tanah /tembok/terpal dll) ditempat yang tidak rawan banjir.
  2. Berikan air pada kolam tersebut, jangan terlalu tinggi, sekitar 10 – 15 cm
  3. Masukan tanaman air (sebagai makanan) dan juga ranting kayu (untuk tempat telur)
  4. Masukkan keong mas dewasa sesuai ukuran kolam
  5. Dalam kurun waktu 2 atau 3 minggu maka keong mas sudah dapat panen dan dimanfaatkan ( atau sesuai ukuran). Jangan semua dipanen, hendaknya disisakan supaya bisa berkembang biak sehingga usaha ini terus berkelanjutan.
  6. Didalam budidaya Keong Mas yang baik harus memperhatikan aspek Breeding, Feeding dan Manajemen khususnya media/kolam yang memiliki air yang tidak tercemar sehingga tidak merugikan konsumen (manusia).





Diktat Aneka Ternak-Cacing Sutra

6 08 2012

BAB XV. CACING SUTRA
15.1. Pengantar
Cacing sutra atau cacing rambut memang telah sejak lama dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan ikan. Harga jual yang relatif tinggi, membuat bisnis cacing sutra cukup banyak dilirik orang.
Bentuk tubuh cacing ini menyerupai rambut dengan panjang badan antara 1-3 cm dengan tubuh berwarna merah kecoklatan dengan ruas-ruas. Cacing ini hidup dengan membentuk koloni di perairan jernih yang kaya bahan organik. Cacing ini meiliki 57% protein dan 13% lemak dalam tubuhnya.
Cacing sutra merupakan hewan hermaprodit yang berkembang biak lewat telur secara eksternal. Telur yang dibuahi oleh jantan akan membelah menjadi dua sebelum menetas. Bahan organik yang baik untuk digunakan oleh cacing sutra adalah campuran antara kotoran ayam, dedak (bekatul) dan lumpur.

15.2. Teknik budidaya cacing sutra:
1) Persiapan Bibit
Bibit bisa dibeli dari toko ikan hias atau diambil dari alam. Sebaiknya bibit cacing di karantina dahulu karena ditakutkan membawa bakteri patogen.
2) Persiapan Media
Media perkembangan dibuat sebagai kubangan lumpur dengan ukuran 1 x 2 meter yang dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran air. Tiap tiap kubangan dibuat petakan petakan kecil ukuran 20 x 20 cm dengan tinggi bedengan atau tanggul 10 cm, antar bedengan diberi lubang dengan diameter 1 cm.
3) Pemupukan
Lahan di pupuk dengan dedak halus atau ampas tahu sebanyak 200 – 250 gr/M2 atau dengan pupuk kandang sebanyak 300 gr/ M2
4) Fermentasi
Lahan direndam dengan air setinggi 5 cm selama 3-4 hari.
5) Penebaran Bibit
Selama Proses Budidaya lahan dialiri air dengan debit 2-5 Liter / detik

15.3. Tahapan Kerja Budidaya Cacing Sutra
Berikut tahapan kerja yang harus dilakukan dalam pembudidayaan cacing sutra.

  1. Lahan uji coba berupa kolam tanah berukuran 8 x 1,5 m dengan kedalaman 30 cm. Dasar kolam uji coba ini hanya diisi dengan sedikit lumpur.
  2. Apabila matahari cukup terik, jemur kolam minimum sehari. Bersamaan dengan itu, kolam dibersihkan dari rumput atau hewan lain yang berpotensi menjadi hama bagi cacing sutra, seperti keong mas atau kijing.
  3. Pipa air keluar atau pipa pengeluaran dicek kekuatannya dan pastikan berfungsi dengan baik. Pipa pengeluaran ini sebaiknya terbuat dari bahan paralon berdiameter 2 inci dengan panjang sekitar 15 cm.
  4. Usai pengeringan dan penjemuran, usahakan kondisi dasar kolam bebas dari bebatuan dan benda-benda keras lainnya.
  5. Hendaknya konstruksi tanah dasar kolam relatif datar atau tidak bergelombang.
  6. Dasar kolam diisi dengan lumpur halus yang berasal dari saluran atau kolam yang dianggap banyak mengandung bahan organik hingga ketebalan dasar lumpur mencapai 10 cm.
  7. Tanah dasar yang sudah ditambahi lumpur diratakan, sehingga benar-benar terlihat rata dan tidak terdapat lumpur yang keras.
  8. Untuk memastikannya, gunakan aliran air sebagai pengukur kedataran permukaan lumpur tersebut. Jika kondisinya benar-benar rata, berarti kedalaman air akan terlihat sama di semua bagian.
  9. Masukkan kotoran ayam kering sebanyak tiga karung ukuran kemasan pakan ikan, kemudian sebar secara merata dan selanjutnya bisa diaduk-aduk dengan kaki.
  10. Setelah dianggap datar, genangi kolam tersebut hingga kedalaman air maksimum 5 cm, sesuai panjang pipa pembuangan.
  11. Pasang atap peneduh untuk mencegah tumbuhnya lumut di kolam.
  12. Kolam yang sudah tergenang air tersebut dibiarkan selama satu minggu agar gas yang dihasilkan dari kotoran ayam hilang. Ciri, media sudah tidak beraroma busuk lagi.
  13. Tebarkan 0,5 liter gumpalan cacing sutra dengan cara menyiramnya terlebih dahulu di dalam baskom agar gumpalannya buyar.
  14. Cacing sutra yang sudah terurai ini kemudian ditebarkan di kolam budidaya ke seluruh permukaan kolam secara merata.
  15. Seterusnya atur aliran air dengan pipa paralon berukuran 2/3 inci.
  16. Panen. Cacing Bisa dipanen setelah 8-10 hari

(Sumber : Bambang Sunarno, IN AzNA Books, 2010).








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.