Diktat Genetika Ternak-11

31 07 2012

BAB XI. MUTASI

11.1. Pengertian Mutasi
Gen sebagai materi genetik, yang sekarang ternyata adalah DNA, harus dapat menjalankan tiga fungsi pokok berikut ini.

  1. Materi genetik harus mampu menyimpan informasi genetik dan dengan tepat dapat meneruskan informasi tersebut dari tetua kepada keturunannya, dari generasi ke generasi. Fungsi ini merupakan fungsi genotipik, yang dilaksanakan melalui replikasi. Bagian setelah ini akan membahas replikasi DNA.
  2. Materi genetik harus mengatur perkembangan fenotipe organisme. Artinya, materi genetik harus mengarahkan pertumbuhan dan diferensiasi organisme mulai dari zigot hingga individu dewasa. Fungsi ini merupakan fungsi fenotipik, yang dilaksanakan melalui ekspresi gen.
  3. Materi genetik sewaktu-waktu harus dapat mengalami perubahan sehingga organisme yang bersangkutan akan mampu beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang berubah. Tanpa perubahan semacam ini, evolusi tidak akan pernah berlangsung. Fungsi ini merupakan fungsi evolusioner, yang dilaksanakan melalui peristiwa mutasi.

Fungsi ketiga materi genetik adalah fungsi evolusi, yang agar dapat melaksanakan nya materi genetik harus mempunyai kemampuan untuk melakukan mutasi. Peristiwa mutasi atau perubahan materi genetik, di samping segregasi dan rekombinasi, akan menciptakan variasi genetik yang berguna untuk mengantisipasi perubahan kondisi lingkungan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Mutasi berasal dari kata mutatus berarti perubahan. Mutasi didefinisikan sebagai perubahan materi genetik (DNA) yang dapat diwariskan secara genetis pada keturunannya. Perubahan materi genetic yang terjadi secara sekonyong-konyong atau tiba-tiba. Agen penyebab mutasi disebut mutagen. Makhluk hidup atau organisme yang mengalami mutasi  disebut mutan.
Pada prinsipnya mutasi melibatkan tiga perubahan, yaitu perubahan struktur kromosom, perubahan jumlah kromosom setiap sel, dan perubahan pada molekul DNA dari satu genom. Mutasi dimanfaatkan untuk menghasilkan variasi genetik sehingga diperoleh organisme yang unggul. Namun demikian, mutasi juga dapat menimbulkan kerugian, diantaranya kerusakan pada informasi genetik. Kerusakan tersebut dapat diwariskan dari generasi satu ke generasi berikutnya.

11.2. Macam-Macam Mutasi
Macam-macam mutasi bisa terjadi karena beberapa factor yang mendasari terjadi nya mutasi. Faktor-Faktor tersebut antara lain :

  1. Berdasarkan tempatnya atau jenis sel yang mengalaminya, maka dibedakan menjadi Mutasi Gametik/Germinal dan Mutasi Somatic
  2. Berdasarkan arahnya, maka dibedakan menjadi Mutasi Maju dan Mutasi balik
  3. Berdasarkan Jenis obyek dan Materinya (Tingkatanya) maka ada Mutasi Gen (Gen Mutation) dan Mutasi Kromosom (Chromosome Mutation).
  4. Berdasarkan penyebab terjadinya (Sumbernya) Mutasi, maka dibedakan menjadi : Mutasi Spontan (Spontaneous Mutation) dan Mutasi Induksi (Induced Mutation).

11.2.1. Mutasi berdasarkan tempatnya atau jenis sel yang mengalaminya
Kita mengenal berbagai macam peristiwa mutasi sesuai dengan kriteria yang digunakan untuk mengelompokkannya. Berdasarkan jenis sel pada organisme multiseluler yang mengalami mutasi maka terdapat mutasi Gametic/ Germinal dan Mutasi Somatis
Mutasi germinal terjadi pada sel-sel, sedangkan mutasi somatis terjadi pada sel-sel selain sel germinal.

A.Mutasi gametik/germinal
Mutasi yang terjadi pada germinal atau sel-sel penghasil gamet. Sel gamet yang mengalami mutasi akan mewariskan sifat mutasi tersebut pada keturunannya. Mutasi gametik disebut mutasi germinal. Bila mutasi tersebut menghasilkan sifat dominan, akan terekspresi pada keturunannya. Bila resesif maka ekspresinya akan tersembunyi.

Berdasarkan jenis kromosom yang mengalami mutasi pada sel gamet:
(1) Mutasi autosomal
Mutasi sel kelamin yang terjadi pada kromosom autosom. Mutasi jenis ini menghasil kan mutasi yang dominan dan mutasi yang resesif.
(2) Mutasi tertaut kelamin
Mutasi sel kelamin yang terjadi pada kromosom seks (kromosom kelamin), berupa tertautnya beberapa gen dalam kromosom kelamin.

B.Mutasi Somatis
Mutasi somatik adalah mutasi yang terjadi pada sel tubuh (sel somatik). Mutasi yang terjadi pada sel somatik bersifat tidak diwariskan secara genetik. Mutasi somatis akan menyebabkan terbentuknya khimera, yaitu individu dengan jaringan normal dan jaringan yang terdiri atas sel-sel somatis mutan. Alel-alel hasil mutasi somatis tidak akan diwariskan kepada keturunan individu yang mengalaminya karena mutasi ini tidak mempengaruhi sel-sel germinal.
Pada tanaman tingkat tinggi mutasi somatis justru sering kali menghasilkan varietas-varietas yang diinginkan dan untuk perbanyakannya harus dilakukan secara vegetatif.
Mutasi somatik dapat dialami oleh embrio/janis maupun orang dewasa.
1. Mutasi somatik pada embrio/janin menyebabkan cacat bawaan.
2. Mutasi somatik pada orang dewasa cenderung menyebabkan kanker.

11.2.2. Mutasi berdasarkan arahnya
Berdasarkan arahnya, mutasi terbagi menjadi mutasi maju dan mutasi mundur.

A. Mutasi Maju
Kebanyakan mutasi yang telah kita bicarakan hingga saat ini adalah perubahan dari bentuk alami atau normal ke bentuk mutan, atau sering dikatakan sebagai mutasi ke depan/Maju (forward mutation). Jadi Mutasi maju atau forward mutations, yaitu mutasi dari fenotipe normal menjadi abnormal.

B. Mutasi Balik
Kejadian Mutasi dapat juga berlangsung dari bentuk mutan yaitu fenotipe tidak normal (abnormal) menjadi fenotipe normal. Mutasi semacam ini dinamakan  mutasi balik atau reversi.  Ada dua mekanisme yang berbeda pada mutasi balik, yaitu :

  1. perubahan urutan basa pada DNA mutan sehingga benar-benar pulih seperti urutan basa pada fenotipe normalnya dan
  2. terjadinya mutasi kedua di suatu tempat lainnya di dalam genom yang mengimbangi atau menekan pengaruh mutasi pertama sehingga mutasi yang kedua tersebut sering disebut sebagai mutasi penekan (suppressor mutation).

Mekanisme mutasi balik berupa mutasi penekan jauh lebih umum dijumpai daripada mekanisme yang pertama. Mutasi penekan dapat terjadi di suatu tempat di dalam gen yang sama dengan mutasi pertama yang ditekannya. Dengan perkataan lain, terjadi penekanan intragenik. Akan tetapi, mutasi penekan dapat juga terjadi di dalam gen yang lain atau bahkan di dalam kromosom yang lain sehingga peristiwanya dinamakan penekanan intergenik. Kebanyakan mutasi penekan, baik intragenik maupun intergenik, tidak dapat sepenuhnya memulihkan mutan ke fenotipe normalnya seperti yang akan diuraikan di bawah ini.

(a) Penekanan intragenik
Pada garis besarnya ada dua macam cara penekanan intragenik. Cara yang pertama telah kita jelaskan pada Bab terdahulu, yaitu perbaikan rangka baca dengan kompensasi adisi-delesi sehingga rangka baca yang bergeser sebagian besar dapat dikembalikan seperti semula. Jika bagian yang tidak dapat dipulihkan bukan merupakan urutan yang esensial, maka pembacaan rangka baca akan menghasilkan fenotipe normal.
Pada cara yang kedua tidak terjadi adisi dan delesi pada urutan basa, tetapi perubahan suatu asam amino yang mengakibatkan hilangnya aktivitas protein akan diimbangi oleh perubahan asam amino lainnya yang memulihkan aktivitas protein tersebut. Sebagai contoh dapat dikemukakan penekanan mutasi enzim triptofan sintetase pada E. coli, yang disandi oleh gen trpA pada. Salah satu di antara dua polipeptida yang menyusun enzim tersebut adalah polipeptida A yang terdiri atas 268 asam amino. Pada strain normal asam amino yang ke-210 adalah glisin. Jika asam amino glisin ini berubah menjadi asam glutamat, maka enzim triptofan sintetase menjadi tidak aktif. Perubahan glisin menjadi asam glutamat sebenarnya tidak menyebabkan inaktivasi enzim secara langsung karena glisin tidak terletak pada tapak aktif. Namun, perubahan ini mengakibatkan perubahan struktur pelipatan enzim sehingga secara tidak langsung akan mempengaruhi tapak aktifnya. Sementara itu, asam amino normal yang ke-174 adalah  tirosin, yang interaksinya dengan asam amino ke-210 menentukan aktivitas enzim. Apabila tirosin berubah menjadi sistein, maka struktur pelipatan enzim yang telah berubah karena glisin digantikan oleh asam glutamat justru akan dipulihkan oleh interaksi sistein dengan asam glutamat. Dengan demikian, aktivitas enzim pun dapat dipulihkan. Jadi, perubahan glisin menjadi asam glutamat akan ditekan pengaruhnya oleh perubahan tirosin menjadi sistein. Begitu pula sebaliknya, jika perubahan tirosin menjadi sistein terjadi terlebih dahulu, maka pengaruhnya akan ditekan oleh perubahan glisin menjadi asam glutamat.

(b) Penekanan intergenik

  1. Penekanan intergenik yang paling umum dijumpai adalah penekanan oleh suatu produk mutasi gen terhadap pengaruh mutasi yang ditimbulkan oleh sejumlah gen lainnya. Contoh yang paling dikenal dapat dilihat pada gen-gen penyandi tRNA. Pengaruh yang ditimbulkannya adalah mengubah kekhususan pengenalan kodon pada mRNA oleh antikodon pada tRNA.
  2. Mutasi semacam itu pertama kali ditemukan pada strain-strain E. coli yang dapat menekan mutan-mutan fag T4 tertentu. Mutan-mutan ini gagal untuk membentuk plak  pada strain bakteri standar tetapi dapat membentuk plak pada strain yang mengalami mutasi penekan. Strain yang mengalami mutasi penekan ini ternyata juga dapat menekan mutasi pada sejumlah gen yang terdapat pada genom bakteri sendiri.
  3. Mutasi penekan intergenik dapat memulihkan baik mutasi tanpa makna (nonsense) maupun mutasi salah makna (missense). Penekanan mutasi tanpa makna disebabkan oleh mutasi gen penyandi tRNA sehingga terjadi perubahan antikodon pada tRNA yang memungkinkannya untuk mengenali kodon stop hasil mutasi. Sebagai contoh, salah satu kodon untuk tirosin, yakni UAC dapat berubah menjadi kodon stop UAG. Mutasi ini dapat ditekan oleh molekul tRNA mutan yang membawa triptofan dengan antikodon AUC. Antikodon pada molekul tRNA normal yang membawa triptofan adalah AAC. Dengan tRNA mutan, kodon UAG yang seharusnya merupakan kodon stop berubah menjadi kodon yang menyandi triptofan. Akibatnya, terminasi dapat dibatalkan, atau dengan perkataan lain, mutasi tRNA telah memulihkan mutasi tanpa makna.
  4. Penekanan mutasi salah makna oleh mutasi penekan intergenik antara lain dapat dilihat contohnya pada pemulihan aktivitas protein yang hilang akibat perubahan valin (tidak bermuatan) menjadi asam aspartat (bermuatan negatif). Pemulihan terjadi karena asam aspartat digantikan oleh alanin (tidak bermuatan). Substitusi ini dapat terjadi dengan empat macam cara, yaitu (1) mutasi antikodon yang memungkinkan tRNA untuk mengenali kodon yang berbeda seperti halnya yang terjadi pada pemulihan mutasi tanpa makna, (2) mutasi pada tRNA yang mengubah sebuah basa di dekat antikodon sehingga tRNA dapat mengenali dua kodon yang berbeda, (3) mutasi di luar kala (loop) antikodon yang memungkinkan aminoasil sintetase mengenali tRNA sehingga terjadi asilasi yang menyebabkan tRNA ini membawa asam amino yang lain, dan (4) mutasi aminoasil sintetase yang kadang-kadang salah mengasilasi tRNA.
  5. Pada notasi konvensional, mutasi penekan diberi lambang sup diikuti dengan angka (atau kadang-kadang huruf) yang membedakan penekan yang satu dengan penekan lainnya. Sel yang tidak mempunyai penekan dilambangkan dengan sup0.

Mutasi balik sebagai cara untuk mendeteksi mutagen dan karsinogen

  • Dewasa ini terjadi peningkatan jumlah dan macam bahan kimia yang mencemari lingkungan. Beberapa di antaranya dikenal potensial sebagai mutagen. Selain itu, kebanyakan karsinogen juga merupakan mutagen. Oleh karena itu, uji mutagenesis terhadap bahan-bahan kimia semacam ini perlu dilakukan.
  • Cara yang paling sederhana untuk melihat mutagenesis suatu bahan kimia adalah uji mutasi balik menggunakan mutan nutrisional pada bakteri. Senyawa yang dicurigai potensial sebagai mutagen ditambahkan ke dalam medium padat, diikuti dengan penaburan (plating) suatu mutan bakteri dalam jumlah tertentu. Banyaknya koloni revertan (fenotipe normal hasil mutasi balik) yang muncul dihitung. Peningkatan frekuensi revertan yang tajam apabila dibandingkan dengan frekuensi yang diperoleh di dalam medium tanpa senyawa kimia yang dicurigai tersebut mengindikasikan bahwa senyawa yang diuji adalah mutagen.
  • Meskipun demikian, cara seperti tersebut di atas tidak dapat digunakan untuk memperlihatkan mutagenesis sejumlah besar karsinogen yang potensial. Hal ini karena banyak sekali senyawa kimia yang tidak langsung bersifat mutagenik / karsinogenik, tetapi harus melalui beberapa reaksi enzimatik terlebih dahulu sebelum menjadi mutagen. Reaksi-reaksi enzimatik tersebut terjadi di dalam organ hati hewan dan tidak ada kesepadanannya di dalam sel bakteri. Fungsi normal enzim-enzim itu adalah melindungi organisme dari berbagai bahan beracun dengan cara mengubahnya menjadi bahan yang tidak beracun. Akan tetapi, ketika enzim-enzim itu bertemu dengan bahan kimia tertentu, maka mereka akan mengubah bahan tersebut dari sifatnya yang semula tidak mutagenik menjadi mutagenik. Enzim-enzim tersebut terdapat di dalam komponen sel-sel hati yang dinamakan fraksi mikrosomal. Pemberian fraksi mikrosomal yang berasal dari hati tikus ke dalam medium pertumbuhan bakteri memungkinkan dilakukannya deteksi mutagenisitas. Perlakuan ini mendasari teknik pemeriksaan karsinogen menggunakan metode yang dinamakan uji Ames.
  • Di dalam uji Ames mutan-mutan bakteri Salmonella typhimurium yang memerlukan pemberian histidin eksternal atau disebut dengan mutan His- digunakan untuk menguji mutagenisitas senyawa kimia atas dasar mutasi baliknya menjadi His+. Mutan-mutan His- membawa baik mutasi tautomerik maupun mutasi rangka baca. Di samping itu, strain-strain bakteri tersebut dibuat menjadi lebih sensitif terhadap mutagenesis dengan menggabungkan beberapa alel mutan yang dapat menginaktifkan sistem perbaikan eksisi dan menjadikannya lebih permiabel terhadap molekul-molekul asing. Oleh karena beberapa mutagen hanya bekerja pada DNA yang sedang melakukan replikasi, maka medium pertumbuhan yang digunakan harus mengandung histidin dalam jumlah yang cukup untuk mendukung beberapa putaran replikasi tetapi tidak cukup untuk memungkinkan terbentuknya koloni yang dapat dilihat. Ke dalam medium tersebut kemudian ditambahkan mutagen potensial yang akan diuji. Fraksi mikrosomal dari hati tikus disebarkan ke permukaan medium, diikuti dengan penaburan bakteri. Apabila bahan kimia yang diuji adalah mutagen atau diubah menjadi mutagen, maka koloni bakteri akan terbentuk. Analisis kuantitatif terhadap frekuensi mutasi balik dapat dilakukan juga dengan membuat variasi jumlah mutagen potensial tersebut di dalam medium. Frekuensi mutasi balik ternyata bergantung kepada konsentrasi bahan kimia yang diuji, dan pada karsinogen tertentu juga nampak adanya korelasi dengan efektivitasnya pada hewan.
  • Uji Ames saat ini telah banyak digunakan pada beribu-ribu senyawa seperti pengawet makanan, pestisida, pewarna rambut, dan kosmetika. Frekuensi mutasi balik yang tinggi tidak serta-merta berarti bahwa senyawa yang diuji adalah karsinogen, tetapi setidak-tidaknya memperlihatkan adanya peluang seperti itu. Akibat dilakukannya uji Ames, banyak industri terpaksa mereformulasi produk-produknya.
  • Bukti terakhir tentang karsinogenisitas suatu bahan kimia ditentukan atas dasar hasil uji pembentukan tumor pada hewan-hewan percobaan. Jadi, uji Ames sebenarnya hanya berperan dalam mengurangi jumlah bahan kimia yang harus diuji menggunakan hewan percobaan

11.2.3. Mutasi berdasarkan jenisnya atau Tingkatannya
Berdasarkan jenisnya, mutasi terbagi menjadi mutasi kromosom dan mutasi gen.

A.Mutasi Gen
Mutasi gen adalah peristiwa perubahan susunan genetis akibat tautomeri. Tautomeri adalah perubahan struktur DNA akibat perpindahan atom-atom hidrogen dari satu posisi purin ke posisi pirimidin atau sebaliknya sehingga susunan molekul gennya berubah. Mutasi gen dapat terjadi melalui proses replikasi atau sintesis protein. Mutasi gen disebut juga mutasi titik, karena dampak perubahan tidak langsung terlihat pada fenotipnya.
Ada dua tipe mutasi gen, yaitu : (1) mutasi pergantian basa nitrogen meliputi :Transisi dan Tranversi  serta (2) penyisipan dan pengurangan basa nitrogen meliputi :Insersi dan Delesi.

(1) Mutasi pergantian (Substitusi) basa Nitrogen
Peristiwa pergantian pasangan basa nitrogen pada suatu rantai polinukleotida berakibat juga pada perubahan kodon. Peristiwa ini disebut subtitusi. Sickle cell anemia terbentuk akibat adanya proses subtitusi.

B.Mutasi kromosom (Chromosomal Aberation)
Di dalam alam ini orang sulit sekali mengusahakan keadaan yang seragam atau selalu sama. Seringkali orang menemukan adanya penyimpangan-penyimpangan dalam segala hal, termasuk juga Kromosom. Kromosom makhluk hidup jumlahnya selalu konstan, akan tetapi sering pula terjadi penyimpangan yang umumnya disebabkan karena adanya mutasi dalam Jumlah Kromosom maupun urut-urutan dari gen didalam kromosom.
Mutasi kromosom (aberasi kromosom) dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

  • Aberasi kromosom yang melibatkan Jumlah Kromosom
  • Macamnya : (1) Perubahan Set Kromosom (Euploidy) terdiri dari : Haploidy, Polyploidy; serta (2)  Perubahan Jumlah Kromosom di dalam Set Kromosom (Heteroploidy)
  • Aberasi kromosom  di dalam jumlah dan Urut-Urutan dari Gen di dalam Kromosom.
  • Macamnya : (1) Perubahan di dalam Jumlah yaitu Defisiensi dan Duplikasi, serta (2) Perubahan dalam urut-urutan gen yaitu Translokasi dan Inversi.

(1)Aberasi kromosom yang melibatkan Jumlah Kromosom
A.  Perubahan daripada Set Kromosom, dimana dasarnya adalah Susunan N Kromosom (monoploid), gejala ini dinamakan Euploidy (tidak terjadi penambahan ataupun pengurangan kromosom di dalam set kromosom).
Macamnya :

  • Haploidy, artinya tiap kromosom hadir secara sendirian/tidak berpasangan  (haploid)
  • Polyploidy, artinya tiap kromosom hadir secara lebih dari satu pasang. Macamnya adalah : Triploidy (3 N), Tetraploidy (4 N), Pentaploidy (5 N) dsb.

Jika tambahan set kromosom tersebut berasal dari diri sendiri yaitu karena duplikasi maka gejala ini disebut Auto-polyploidy, tetapi bila penambahan ini berasal dari luar karena perkawinan silang maka disebut Allo-polyploidy.

Tanaman Raphano brassica adalah tanaman baru yang merupakan Gabungan sifat dari Tanaman Kol dan tanaman Lobak dengan ukuran yang lebih besar dari tanaman asalnya. Selain itu bentuk tanamannya merupakan bentuk antara dari Kol dan Lobak.
Praktek Polyploidy dalam dunia tanaman berkembang sangat pesat sekali disbanding kan dengan dunia peternakan, hal ini disebabkan oleh Polyploidy ternak menyebabkan kemandulan atau hambatan/kegagalan perkembangan embrio.  Sedangkan pada tanaman meskipun Individu Tanaman tersebut Mandul akan tetapi masih bisa diperbanyak misalnya dengan cara Klonning (Clonning).
Bioteknologi masa kini banyak dipraktekkan pada Tanaman untuk memperoleh tanaman yang super misalnya dengan perantaraan Teknik Engineering Genetika (Genetic Engineering).

Pada Hewan pembuatan klonning baru dicoba pada Katak (Rana pipiens) dan Domba (Ovis species). Pembuatan klonning pada katak dilakukan dengan jalan memasukkan (transplantasi) inti sel somatic ke dalam sel telur yang diambil intinya.
Teknik ini masih dipelajari terus sebab banyak kesulitan yang dihadapi misalnya dala hal pemilihan sel mana maupun sel dari makhluk dewasa atau embrio. Demikian pula teknik ini sangat memerlukan keahlian dalam pembedahan mikro, tetapi sebagian besar kegagalan teknik ini disebabkan oleh kegagalan dalam memperoleh sel telur yang berkemampuan hidup tinggi. (Sucik Maylinda yang disitir dari Brackett dan Seidel, 1981).
Catatan tentang Kloning;  pengertian sederhananya adalah cangkok; yaitu penggabungan unsur-unsur hayati dua atau lebih untuk memperoleh manfaat tertentu. Kloning adalah teknik membuat keturunan derngan kode genetik yang sama dengan induknya, pada manusia kloning dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah di ambil intinya lalu disatukan dengan sel somatic dari suatu organ tubu, kemudian hasilnya ditanamkan dalam rahim seperti halnya pada bayi tabung.
Macam-macam teknik pengkloningan: kloning dapat dilakukan terhadap semua makhluk hidup tumbuhan,hewandan manusia.Pada tumbuhan kloning dapat dilakukan dengan tekhink okulasi,sedangkan pada hewan dan manusia,ada beberapa tekhnik-tekhnik yan dapat dilakukan, kloning ini dapat berupa kloning embrio dan kloning hewan atau manusia itu sendiri.
Di bidang biologi molekuler, pengertian kloning ini sering dikonotasikan dengan teknologi penggabungan fragment (potongan) DNA, sehingga pengertiannya identik dengan teknologi rekombinan DNA atau rekayasa genetik. Namun pengertian di luar itu juga masih tetap digunakan, misalnya  kloning domba dsb, yang merupakan “penggabungan” unsur inti sel dengan  sel telur tanpa inti. Dengan demikian teknologi kloning ini juga termasuk dalam wacana bioteknologi; malah bisa dikatakan sebagai hal yang mendasar untuk bioteknologi.
Teknologi kloning memang memungkinkan untuk dikembangakan ke arah rekayasa pembuatan jaringan atau organ tertentu. Namun mesti memperhatikan masalah etik (mungkin ada yang punya pandangan tertentu mengenai etika ini?

B.Perubahan Jumlah Kromosom di dalam Set Kromosom Heteroploidy, disini terjadi pengurangan atau penambahan kromosom di dalam satu set kromosom, sehingga dengan demikian disebut Aneuploidy.

A.Perubahan Jumlah Gen dalam Kromosom
(1) Delesi
Delesi atau defisiensi adalah peristiwa hilangnya sebagian (satu atau lebih) Gen didalam satu kromosom karena patah. Delesi/Defisiensi dapat menyebabkan sindrom tri-du-cat.

(2) Duplikasi
Duplikasi adalah mutasi karena kelebihan segmen kromosom. Peristiwa ini ditunjukkan oleh adanya penambahan patahan kromosom pada kromosom normal, sehingga suatu bagian kromosom berlipat ganda. Dengan kata lain terjadi penambahan satu atau lebih dari satu gen dalam satu kromosom

B.Penyimpangan Susunan (Urut-Urutan) Gen dalam Kromoson
(1) Inversi
Inversi ialah mutasi yang mengalami perubahan letak gen-gen dalam satu kromosom, karena selama meiosis kromosom terpilin (berputar/melingkar 1800)  dan terjadi kiasma serta gen dalam kromosom berpindah tempat. Inversi dapat diartikan sebagai peristiwa patahnya kromosom di dua tempat dan melekat kembali pada tempatnya semula dengan posisi yang membalik.

(2) Translokasi
Translokasi adalah Peristiwa pindahnya potongan satu kromosom ke potongan kromosom lain yang bukan homolognya. Dengan kata lain bahwa kejadian dimana terjadi perpindahan atau tukar menukar bagian kromosom diantara kromosom-kromosom yang non-homolog sehingga membentuk dua kromosom baru.

Translokasi resiprok dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.
a)  Translokasi resiprok homozigot
Translokasi homozigot ialah translokasi yang mengalami pertukaran segmen 2 kromosom homolog dengan segmen 2 kromosom non homolog.
b)  Translokasi resiprok heterozigot
Translokasi heterozigot ialah translokasi yang hanya mengalami pertukaran satu segmen kromosom ke satu segmen kromosom nonhomolognya.
c)  Translokasi Robertson
Translokasi Robertson ialah translokasi yang terjadi karena penggabungan dua kromosom akrosentrik menjadi satu kromosom metasentrik. Peristiwa semacam ini dapat disebut juga fusion (penggabungan).

Isokromosom
lsokromosom ialah mutasi kromosom yang terjadi pada waktu menduplikasikan diri, pembelahan sentromernya mengalami perubahan arah pembelahan sehingga terbentuk lah dua kromosom yang masing – masing berlengan identik (sama). Apabila dilihat dari pembelahan sentromernya maka isokromosom disebut juga fision, jadi peristiwanya berlawanan dengan translokasi Robertson (fusion) yang mengalami penggabungan.

Katenasi
Katenasi ialah mutasi kromosom yang terjadi pada dua kromosom nonhomolog yang pada waktu membelah menjadi empat kromosom, saling bertemu dan melekat ujung-ujungnya sehingga membentuk lingkaran.

11.2.4. Mutasi berdasarkan kejadian (cara terjadinya)
Berdasarkan cara terjadinya atau kejadiannya, maka mutasi dapat terjadi melalui dua cara, yaitu secara alami dan secara buatan ulah manusia atau Induksi. Mutasi secara alami disebut mutasi alami, sedangkan mutasi akibat ulah manusia disebut mutasi buatan.

A.Mutasi alami (mutasi spontan)
Mutasi alami adalah perubahan yang terjadi secara alamiah atau dengan sendirinya. Diduga faktor penyebabnya meliputi panas, radiasi sinar kosmis, batuan radioaktif, sinar ultraviolet matahari, radiasi dan ionisasi internal mikroorganisme serta kesalahan DNA dalam metabolisme.
Perubahan urutan basa nukleotida berlangsung spontan dan acak. Tidak ada satu pun cara yang dapat digunakan untuk memprediksi saat dan tempat akan terjadinya suatu mutasi. Meskipun demikian, setiap gen dapat dipastikan mengalami mutasi dengan laju tertentu sehingga memungkinkan untuk ditetapkan peluang mutasinya. Artinya, kita dapat menentukan besarnya peluang bagi suatu gen untuk bermutasi sehingga besarnya peluang untuk mendapatkan suatu alel mutan dari gen tersebut di dalam populasi juga dapat dihitung.
Terjadinya suatu peristiwa mutasi tidak dapat dikatakan sebagai hasil adaptasi sel atau organisme terhadap kondisi lingkungannya. Kebanyakan mutasi memperlihatkan pengaruh yang sangat bervariasi terhadap tingkat kemampuan adaptasi sel atau organisme, mulai dari netral (sangat adaptable) hingga letal (tidak adaptable). Oleh karena itu, tidak ada korelasi yang nyata antara mutasi dan adaptasi. Namun, pemikiran bahwa mutasi tidak ada sangkut pautnya dengan adaptasi tidak diterima oleh sebagian besar ahli biologi hingga akhir tahun 1940-an ketika Joshua dan Esther Lederberg melalui percobaannya pada bakteri membuktikan bahwa mutasi bukanlah hasil adaptasi.
Dengan teknik yang dinamakan replica plating koloni-koloni bakteri pada kultur awal (master plate) dipindahkan ke medium baru (replica plate) menggunakan velvet steril sehingga posisi setiap koloni pada medium baru akan sama dengan posisinya masing-masing pada kultur awal. Medium baru dibuat dua macam, yaitu medium nonselektif seperti pada kultur awal dan medium selektif yang mengandung lebih kurang 109 fag T1. Hanya koloni-koloni mutan yang resisten terhadap infeksi fag T1 (mutan T1-r) yang dapat tumbuh pada medium selektif ini. Dari percobaan tersebut terlihat bahwa koloni-koloni mutan T1-r yang tumbuh pada medium selektif tidak terbentuk sebagai hasil adaptasi terhadap kehadiran fag T1, tetapi sebenarnya sudah ada semenjak pada kultur awal. Dengan demikian, teknik selektif semacam itu hanya akan menyeleksi mutan-mutan yang telah ada sebelumnya di dalam suatu populasi

Teknik selektif seperti yang diuraikan di atas memberikan dasar bagi pemahaman tentang munculnya resistensi berbagai populasi hama dan penyakit terhadap senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikannya. Sebagai contoh, sejumlah populasi lalat rumah saat ini nampak sangat resisten terhadap insektisida DDT. Hal ini menunjukkan betapa seleksi telah memunculkan populasi lalat rumah dengan kombinasi mekanisme enzimatik, anatomi, dan perilaku untuk dapat resisten terhadap atau menghindari bahan kimia tersebut. Begitu pula, gejala peningkatan resistensi terhadap antibiotik yang diperlihatkan oleh berbagai macam bakteri penyebab penyakit pada manusia tidak lain merupakan akibat proses seleksi untuk memunculkan dominansi strain-strain mutan tahan antibiotik yang sebenarnya memang telah ada sebelumnya.
Laju mutasi adalah peluang terjadinya mutasi pada sebuah gen dalam satu generasi atau dalam pembentukan satu gamet. Pengukuran laju mutasi penting untuk dilakukan di dalam genetika populasi, studi evolusi, dan analisis pengaruh mutagen lingkungan.

Mutasi spontan biasanya merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi sehingga untuk memperkirakan peluang kejadiannya diperlukan populasi yang sangat besar dengan teknik tertentu. Salah satu teknik yang telah digunakan untuk mengukur laju mutasi adalah metode ClB yang ditemukan oleh Herman Muller. Metode ClB mengacu kepada suatu kromosom X lalat Drosophila melanogaster yang memiliki sifat-sifat tertentu. Teknik ini dirancang untuk mendeteksi mutasi yang terjadi pada kromosom X normal.
Kromosom X pada metode ClB mempunyai tiga ciri penting, yaitu (1) inversi yang sangat besar (C), yang menghalangi terjadinya pindah silang pada individu betina heterozigot; (2) letal resesif (l); dan (3) marker dominan Bar (B) yang menjadikan mata sempit. Dengan adanya letal resesif, individu jantan dengan kromosom tersebut dan individu betina homozigot tidak akan bertahan hidup.
Persilangan pertama dilakukan antara betina heterozigot untuk kromosom ClB dan jantan dengan kromosom X normal. Di antara keturunan yang diperoleh, dipilih individu betina yang mempunyai mata Bar untuk selanjutnya pada persilangan kedua dikawinkan dengan jantan normal. Individu betina dengan mata Bar ini jelas mempunyai genotipe heterozigot karena menerima kromosom ClB dari tetua betina dan kromosom X normal dari tetua jantannya. Hasil persilangan kedua yang diharapkan adalah dua betina berbanding dengan satu jantan. Ada tidaknya individu jantan hasil persilangan kedua ini digunakan untuk mengestimasi laju mutasi letal resesif.

Oleh karena pindah silang pada kromosom X dihalangi oleh adanya inversi (C) pada individu betina, maka semua individu jantan hasil persilangan hanya akan mempunyai genotipe +ΙΓ    .  Kromosom X pada individu jantan ini berasal dari tetua jantan awal (persilangan pertama). Sementara itu, individu jantan dengan kromosom X ClB selalu mengalami kematian. Meskipun demikian, kadang-kadang pada persilangan kedua tidak diperoleh individu jantan sama sekali. Artinya, individu jantan yang mati tidak hanya yang membawa kromosom ClB, tetapi juga individu yang membawa kromosom X dari tetua jantan awal. Jika hal ini terjadi, kita dapat menyimpulkan bahwa kromosom X pada tetua jantan awal yang semula normal berubah atau bermutasi menjadi kromosom X dengan letal resesif. Dengan menghitung frekuensi terjadinya kematian pada individu jantan yang seharusnya hidup ini, dapat dilakukan estimasi kuantitatif terhadap laju mutasi yang menyebabkan terbentuknya alel letal resesif pada kromosom X.  Ternyata, lebih kurang 0,15% kromosom X terlihat mengalami mutasi semacam itu selama spermatogenesis, yang berarti bahwa laju mutasi untuk mendapatkan letal resesif per kromosom X per gamet adalah 1,5 x 10-3.

Pada metode ClB tidak diketahui laju mutasi gen tertentu karena kita tidak dapat memastikan banyaknya gen pada kromosom X yang apabila mengalami mutasi akan berubah menjadi alel resesif yang mematikan. Namun, semenjak ditemukannya metode ClB berkembang pula sejumlah metode lain untuk mengestimasi laju mutasi pada berbagai organisme. Hasilnya menunjukkan bahwa laju mutasi sangat bervariasi antara gen yang satu dan lainnya. Sebagai contoh, laju mutasi untuk terbentuknya tubuh berwarna kuning pada Drosophila adalah 10-4 per gamet per generasi, sementara laju mutasi untuk terbentuknya resitensi terhadap streptomisin pada E. coli adalah 10-9 per sel per generasi.

Asal-mula terjadinya mutasi spontan
Ada tiga mekanisme yang paling penting pada mutasi spontan, yaitu (1) kesalahan selama replikasi, (2) perubahan basa nukleotida secara spontan, dan (3) peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan penyisipan (insersi) dan pemotongan (eksisi) unsur-unsur yang dapat berpindah (transposable elements).
Pada kejadian Replikasi DNA bahwa enzim Pol I dan Pol III adakalanya membuat kesalahan dengan menyisipkan basa yang salah ketika replikasi DNA sedang berlangsung. Namun, enzim-enzim DNA polimerase ini juga diketahui mempunyai kemampuan untuk memperbaiki kesalahan (proof reading) melalui aktivitas eksonukleasenya dengan cara memotong basa yang salah pada ujung 3’ untai DNA yang sedang dipolimerisasi.
Aktivitas penyuntingan oleh DNA polimerase boleh dikatakan sangat efisien meskipun tidak berarti sempurna benar. Kadang-kadang suatu kesalahan replikasi luput dari mekanisme penyuntingan tersebut. Akan tetapi, ada sistem lain yang berfungsi dalam perbaikan kesalahan replikasi DNA. Sistem ini dikenal sebagai sistem perbaikan salah pasangan (mismatch repair). Berbeda dengan sistem penyuntingan oleh DNA polimerase, sistem perbaikan salah pasangan tidak bekerja pada ujung 3’ untai DNA yang sedang tumbuh, tetapi mengenali kesalahan basa di dalam untai DNA. Caranya, segmen DNA yang membawa basa yang salah dibuang sehingga terdapat celah (gap) di dalam untai DNA. Selanjutnya, dengan bantuan enzim Pol I celah ini akan diisi oleh segmen baru yang membawa basa yang telah diperbaiki.
Sistem perbaikan salah pasangan, seperti halnya mekanisme penyuntingan oleh DNA polimerase, tidaklah sempurna sama sekali. Kadang-kadang ada juga kesalahan pasangan basa yang tidak dikenalinya. Jika hal ini terjadi, timbullah mutasi spontan.
Basa-basa tautomerik adakalanya dapat tergabung dengan benar ke dalam molekul DNA. Pada saat penggabungan berlangsung, basa tersebut akan membentuk ikatan hidrogen yang benar dengan basa pada untai DNA cetakan sehingga fungsi penyuntingan oleh DNA polimerase tidak dapat mengenalinya. Sistem perbaikan salah pasangan akan mengoreksi kesalahan semacam itu. Akan tetapi, jika segmen yang membawa kesalahan basa tersebut telah mengalami metilasi, maka sistem perbaikan salah pasangan tidak dapat membedakan antara untai cetakan dan untai baru. Hal ini akan menimbulkan mutasi spontan.

Sumber mutasi spontan lainnya adalah perubahan basa sitosin yang telah termetilasi menjadi timin karena hilangnya gugus amino. Sitosin yang seharusnya berpasangan dengan guanin berubah menjadi timin yang berpasangan dengan adenin sehingga terjadilah mutasi transisi (purin menjadi purin, pirimidin menjadi pirimidin). Dalam hal ini hilangnya gugus amino dari sitosin yang telah termetilasi tidak dapat dikenali oleh sistem perbaikan salah pasangan, dan basa timin yang seharusnya sitosin tersebut tidak dilihat sebagai basa yang salah.

B.Mutasi buatan (Mutasi Induksi)
Mutasi buatan adalah adalah mutasi yang disebabkan oleh usaha manusia. Laju mutasi spontan yang sangat rendah ternyata dapat ditingkatkan dengan aplikasi berbagai agen eksternal. Mutasi dengan laju yang ditingkatkan ini dinamakan mutasi induksi. Bukti pertama bahwa agen eksternal dapat meningkatkan laju mutasi diperoleh dari penelitian H. Muller pada tahun 1927 yang memperlihatkan bahwa sinar X dapat menyebabkan mutasi pada Drosophila. Agen yang dapat menyebabkan terjadinya mutasi seperti sinar X ini dinamakan mutagen.
Semenjak penemuan Muller tersebut, berbagai mutagen fisika dan kimia digunakan untuk meningkatkan laju mutasi. Dengan mutagen-mutagen ini dapat diperoleh bermacam-macam mutan pada beberapa spesies organisme.

11.3.Faktor Penyebab Mutasi
Mutasi disebabkan oleh suatu faktor yang dikenal dengan nama mutagen. Faktor tersebut antara lain dengan cara :
a. pemakaian bahan radioaktif untuk diagnosis, terapi, deteksi suatu penyakit, sterilisasi dan pengawetan makanan.
b. Penggunaan senjata nuklir
c. Penggunaan roket, televise
d. Pemakaian bahan kimia, fisika, dan biologi
Macam-macam mutagen menurut bahannya dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu mutagen fisika, mutagen kimia, dan mutagen biologi.

A. Mutagen fisika adalah mutagen yang berupa bahan fisika, antara lain :

  1. sinar kosmis, sinar ultraviolet, unsur radioaktif : thorium, uranium, radium dan isotop K.
  2. alat nuklir dapat mlepaskan energi yang besar yang dapat menimbulkan radiasi pengionisasi.
  3. Radiasi sinar X, α, β, dan γ
  4. Neutron
  5. Suhu tinggi

B. Mutagen kimia adalah mutagen yang berupa bahan kimia, antara lain :

  1. pestisida, seperti DDT, BHC
  2. agen alkilase, seperti mustard, dimetil, dimetilsulfat, eter mulan sulfat, dapat memberikan gugus alkil yang bereaksi dengan gugus fosfat dari DNA yang dapat mengganggu replikasi DNA.
  3. Hidroksil Amino (NH2OH) merupakan mutagen pada bakteriofage yang dapat menyerang sitosina DNA dan urasil pada RNA.
  4. Eosin, eritrin dan fluoresen
  5. Peroksida organic
  6. Fe dan Mg
  7. Formaldehide
  8. Asam nitrit, natrium nitrit
  9. Antibiotik
  10. H2O2
  11. Glikidol

C.  Mutasi biologi adalah mutasi yang disebabkan oleh bahan biologi atau makhluk hidup terutama mikroorganisme, yaitu : virus, bakteri dan penyisipan DNA. Virus dan bakteri diduga dapat menyebebkan terjadinya mutasi. Tidak kurang dari 20 macam virus dapat menimbulkan kerusakan kromosom. Bagian dari virus yang mampu mengadakan mutasi adalah asam nukleatnya tepatnya DNA.

D.Basa analog
Basa analog merupakan senyawa kimia yang struktur molekulnya sangat menyerupai basa nukleotida DNA sehingga dapat menjadi bagian yang menyatu di dalam molekul DNA selama berlangsungnya replikasi normal. Hal ini karena suatu basa analog dapat berpasangan dengan basa tertentu pada untai DNA cetakan. Namun, bisa juga masuknya sebuah basa analog terkoreksi melalui mekanisme penyuntingan oleh enzim DNA polimerase.
Apabila suatu basa analog dapat membentuk ikatan hidrogen dengan dua macam cara, maka basa analog ini dikatakan bersifat mutagenik. Sebagai contoh, basa 5-bromourasil (BU) yang diketahui mudah sekali bergabung dengan DNA bakteri dan virus, dapat mempunyai dua macam bentuk, yaitu keto dan enol sehingga dapat membentuk ikatan hidrogen dengan dua macam cara. Basa ini analog dengan basa timin karena hanya berbeda pada posisi gugus metil yang diganti dengan atom bromium. Jika sel yang akan dimutasi ditumbuhkan pada medium yang mengandung BU dalam bentuk keto, maka selama replikasi DNA adakalanya timin digantikan oleh BU sehingga pasangan basa AT berubah menjadi ABU. Penggantian ini belum dapat dikatakan sebagai peristiwa mutasi. Akan tetapi, jika BU berada dalam bentuk enol, maka BU akan berpasangan dengan guanin (GBU), dan pada putaran replikasi berikutnya, molekul DNA yang baru akan mempunyai pasangan basa GC pada posisi yang seharusnya ditempati oleh pasangan basa AT. Dengan demikian, telah terjadi mutasi tautomerik berupa transisi dari AT ke GC.
Percobaan-percobaan berikutnya menunjukkan bahwa mekanisme mutagenesis BU dapat terjadi dengan cara lain. Konsentrasi deoksinukleosida trifofat (dNTP) di dalam sel pada umumnya diatur oleh konsentrasi deoksitimidin trifosfat (dTTP). Artinya, konsentrasi dTTP akan menentukan konsentrasi ketiga dNTP lainnya untuk keperluan sintesis DNA. Apabila suatu saat dTTP terdapat dalam jumlah yang sangat berlebihan, maka akan terjadi hambatan dalam sintesis dCTP. Sementara itu, BU sebagai basa yang analog dengan timin juga dapat menghambat sintesis dCTP. Jika BU ditambahkan ke dalam medium pertumbuhan, maka dTTP akan disintesis dalam jumlah normal tetapi sintesis dCTP akan sangat terhambat. Akibatnya, nisbah dTTP terhadap dCTP menjadi sangat tinggi dan frekuensi salah pasangan GT, yang seharusnya GC, akan meningkat. Mekanisme penyuntingan dan perbaikan salah pasangan sebenarnya dapat membuang basa timin yang salah berpasangan dengan guanin tersebut. Akan tetapi, keberadaan BU ternyata menyebabkan laju perbaikan menjadi tertinggal oleh laju salah pasangan. Pada putaran replikasi berikutnya basa timin pada pasangan GT akan berpasangan dengan adenin sehingga posisi yang seharusnya ditempati oleh GC sekarang diganti dengan AT. Dengan perkataan lain, BU telah menginduksi mutasi tautomerik berupa transisi GC menjadi AT.

E.Proses Mutagen-Mutagen kimia
Berbeda dengan basa analog yang hanya bersifat mutagenik ketika DNA sedang melakukan replikasi, mutagen kimia dapat mengakibatkan mutasi pada DNA baik yang sedang bereplikasi maupun yang tidak sedang bereplikasi. Beberapa di antara mutagen kimia, misalnya asam nitros (HNO2), menimbulkan perubahan yang sangat khas. Namun, beberapa lainnya, misalnya agen-agen alkilasi, memberikan pengaruh dengan spektrum yang luas.
HNO2 bekerja sebagai mutagen dengan mengubah gugus amino (NH2) pada basa adenin, sitosin, dan guanin menjadi gugus keto (=O) sehingga spesifisitas pengikatan hidrogen pada basa-basa tersebut juga mengalami perubahan. Deaminasi adenin akan menghasilkan hipoksantin (H), yang berpasangan dengan sitosin. Hal ini mengakibatkan terjadinya transisi AT menjadi GC melaui HC.  Dengan mekanisme serupa, deaminasi sitosin yang menghasilkan urasil akan mengakibatkan transisi GC menjadi AT melalui AU.
Agen alkilasi etilmetan sulfonat (EMS) dan mustard nitrogen merupakan mutagen-mutagen kimia yang banyak digunakan dalam penelitian genetika. Kedua-duanya akan memberikan gugus etil (C2H5) atau sejenisnya kepada basa DNA. Jika HNO2 terbukti sangat bermanfaat pada sistem prokariot, maka agen-agen alkilasi sangat efektif untuk digunakan pada sistem eukariot.
Alkilasi pada basa G atau T akan menyebabkan terjadinya salah pasangan yang mengarah kepada transisi AT→ GC dan GC → AT.  Selain itu, EMS dapat juga bereaksi dengan A dan C

Fenomena lain yang dapat muncul akibat terjadinya alkilasi guanin adalah depurinasi, yaitu hilangnya basa purin yang telah mengalami alkilasi tersebut dari molekul DNA karena patahnya ikatan yang menghubungkannya dengan gula deoksiribosa. Depurinasi tidak selalu bersifat mutagenik karena celah yang terbentuk dengan hilangnya basa purin tadi dapat segera diperbaiki. Akan tetapi, garpu replikasi sering kali terlebih dahulu telah mencapai celah tersebut sebelum perbaikan sempat dilakukan. Jika hal ini terjadi, maka replikasi akan terhenti tepat di depan celah dan kemudian dimulai lagi dengan menyisipkan basa adenin pada posisi yang komplementer dengan celah tersebut. Akibatnya, setelah replikasi basa adenin di posisi celah tersebut akan berpasangan dengan timin atau terjadi pasangan TA. Padahal seharusnya pasangan basa pada posisi celah tersebut adalah GC (bukankah yang hilang adalah G?). Oleh karena itu pada posisi celah tersebut terjadi perubahan dari GC menjadi TA atau purin-pirimidin menjadi pirimidin-purin. Perubahan ini tidak lain merupakan mutasi tautomerik jenis transversi.

F.Interkalasi
Senyawa kimia akridin, yang salah satu contohnya adalah proflavin, memiliki struktur molekul berupa tiga cincin sehingga sangat menyerupai pasangan basa purin – pirimidin atau pirimidin – purin. Dengan struktur yang sangat menyerupai sebuah pasangan basa, akridin dapat menyisip di antara dua pasangan basa yang berdekatan pada molekul DNA. Peristiwa penyisipan semacam ini dinamakan interkalasi.
Pengaruh interkalasi terhadap molekul DNA adalah terjadinya perenggangan jarak antara dua pasangan basa yang berurutan. Besarnya perenggangan sama dengan tebal molekul akridin. Apabila DNA yang membawa akridin tadi melakukan replikasi, maka untai DNA hasil replikasi akan ada yang mengalami adisi dan ada yang mengalami delesi pada posisi terjadinya interkalasi. Dengan demikian, mutasi yang ditimbulkan bukanlah mutasi tautomerik, melainkan mutasi rangka baca.

G.Iradiasi ultraviolet
Sinar ultraviolet (UV) dapat menghasilkan pengaruh, baik letal maupun mutagenik, pada semua jenis virus dan sel. Pengaruh ini disebabkan oleh terjadinya perubahan kimia pada basa DNA akibat absorpsi energi dari sinar tersebut. Pengaruh terbesar yang ditimbulkan oleh iradiasi sinar UV adalah terbentuknya pirimidin dimer, khususnya timin dimer, yaitu saling terikatnya dua molekul timin yang berurutan pada sebuah untai DNA. Dengan adanya timin dimer, replikasi DNA akan terhalang pada posisi terjadinya timin dimer tersebut. Namun, kerusakan DNA ini pada umumnya dapat diperbaiki melalui salah satu di antara empat macam mekanisme, yaitu fotoreaktivasi, eksisi, rekombinasi, dan SOS.

H.Fotoreaktivasi
Mekanisme perbaikan ini bergantung kepada cahaya. Dengan adanya cahaya, ikatan antara timin dan timin akan terputus oleh suatu enzim tertentu. Sebenarnya enzim tersebut telah mengikat dimer, baik ketika ada cahaya maupun tidak ada cahaya. Akan tetapi, aktivasinya memerlukan spektrum biru cahaya sehingga enzim tersebut hanya bisa bekerja apabila ada cahaya.

I.Eksisi
Perbaikan dengan cara eksisi merupakan proses enzimatik bertahap yang diawali dengan pembuangan dimer dari molekul DNA, diikuti oleh resintesis segmen DNA baru, dan diakhiri oleh ligasi segmen tersebut dengan untai DNA. Ada dua mekanisme eksisi yang agak berbeda. Pada mekanisme pertama, enzim endonuklease melakukan pemotongan (eksisi) pada dua tempat yang mengapit dimer. Akibatnya, segmen yang membawa dimer akan terlepas dari untai DNA. Pembuangan segmen ini kemudian diikuti oleh sintesis segmen baru yang akan menggantikannya dengan bantuan enzim DNA polimerase I. Akhirnya, segmen yang baru tersebut diligasi dengan untai DNA sehingga untai DNA ini sekarang tidak lagi membawa dimer.
Pada mekanisme yang kedua pemotongan mula-mula hanya terjadi pada satu tempat, yakni di sekitar dimer. Pada celah yang terbentuk akibat pemotongan tersebut segera terjadi sintesis segmen baru dengan urutan basa yang benar. Pada waktu yang sama terjadi pemotongan lagi pada segmen yang membawa dimer sehingga segmen ini terlepas dari untai DNA. Seperti pada mekanisme yang pertama,  proses ini diakhiri dengan ligasi segmen yang baru tadi dengan untai DNA.

J. Rekombinasi
Berbeda dengan dua mekanisme yang telah dijelaskan sebelumnya, perbaikan kerusakan DNA dengan cara rekombinasi terjadi setelah replikasi berlangsung. Oleh karena itu, mekanisme ini sering juga dikatakan sebagai rekombinasi pascareplikasi.
Ketika DNA polimerase sampai pada suatu dimer, maka polimerisasi akan terhenti sejenak untuk kemudian dimulai lagi dari posisi setelah dimer. Akibatnya, untai DNA hasil polimerisasi akan mempunyai celah pada posisi dimer. Mekanisme rekombinasi pada prinsipnya merupakan cara untuk menutup celah tersebut menggunakan segmen yang sesuai pada untai DNA cetakan yang membawa dimer. Untuk jelasnya, skema mekanisme tersebut dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.
DNA yang membawa dimer pada kedua untainya melakukan replikasi (Gambar a) sehingga pada waktu garpu replikasi mencapai dimer akan terbentuk celah pada kedua untai DNA yang baru (Gambar b). Celah akan diisi oleh segmen yang sesuai dari masing-masing untai DNA cetakan yang membawa dimer. Akibatnya, pada untai DNA cetakan terdapat segmen yang hilang. Jadi, sekarang kedua untai DNA cetakan selain membawa dimer juga mempunyai celah, sedangkan kedua untai DNA baru tidak mempunyai celah lagi (Gambar c). Akhirnya, segmen penutup celah akan terligasi dengan sempurna pada masing-masing untai DNA baru.

K.Mekanisme SOS
Mekanisme perbaikan DNA dengan sistem SOS dapat dilihat sebagai jalan pintas yang memungkinkan replikasi tetap berlangsung meskipun harus melintasi dimer. Hasilnya berupa untai DNA yang utuh tetapi sering kali sangat defektif. Oleh karena itu, mekanisme SOS dapat dikatakan sebagai sistem perbaikan yang rentan terhadap kesalahan

Ketika sistem SOS aktif, sistem penyuntingan oleh DNA polimerase III justru menjadi tidak aktif. Hal ini dimaksudkan agar polimerisasi tetap dapat  berjalan melintasi dimer. Untai DNA yang baru akan mempunyai dua basa adenin berurutan pada posisi dimer (dalam kasus timin dimer). Dengan sendirinya, kedua adenin ini tidak dapat berpasangan dengan timin karena kedua timin berada dalam bentuk dimer. Sistem penyuntingan tidak dapat memperbaiki kesalahan ini karena tidak aktif, sedangkan sistem perbaikan salah pasangan sebenarnya dapat memperbaikinya. Namun, karena jumlah dimer di dalam setiap sel yang mengalami iradiasi UV biasanya begitu banyak, maka sistem perbaikan salah pasangan tidak dapat memperbaiki semua kesalahan yang ada. Akibatnya, mutasi tetap terjadi. Pengaruh mutagenik iradiasi UV memang hampir selalu merupakan akibat perbaikan yang rentan terhadap kesalahan

L.Radiasi pengion
Radiasi pengion mempunyai energi yang begitu besar sehingga molekul air dan senyawa kimia lainnya yang terkena olehnya akan terurai menjadi fragmen-fragmen bermuatan listrik. Semua bentuk radiasi pengion akan menyebabkan pengaruh mutagenik dan letal pada virus dan sel. Radiasi pengion meliputi sinar X beserta partikel-partikelnya dan radiasi yang dihasilkan oleh unsur-unsur radioaktif seperti partikel α, β, dan sinar γ.
Intensitas radiasi pengion dinyatakan secara kuantitatif dengan beberapa macam cara. Ukuran yang paling lazim digunakan adalah rad, yang didefinisikan sebagai besarnya radiasi yang menyebabkan absorpsi energi sebesar 100 erg pada setiap gram materi.
Frekuensi mutasi yang diinduksi oleh sinar X sebanding dengan dosis radiasi yang diberikan. Sebagai contoh, frekuensi letal resesif pada kromosom X Drosophila meningkat linier sejalan dengan meningkatnya dosis radiasi sinar X. Pemaparan sebesar 1000 rad meningkatkan frekuensi mutasi dari laju mutasi spontan sebesar 0,15% menjadi 3%. Pada Drosophila tidak terdapat ambang bawah dosis pemaparan yang yang tidak menyebabkan mutasi. Artinya, betapapun rendahnya dosis radiasi, mutasi akan tetap terinduksi.
Pengaruh mutagenik dan letal yang ditimbulkan oleh radiasi pengion terutama berkaitan dengan kerusakan DNA. Ada tiga macam kerusakan DNA yang disebabkan oleh radiasi pengion, yaitu kerusakan pada salah satu untai, kerusakan pada kedua untai, dan perubahan basa nukleotida. Pada eukariot radiasi pengion dapat menyebabkan kerusakan kromosom, yang biasanya bersifat letal. Akan tetapi, pada beberapa organisme terdapat sistem yang dapat memperbaiki kerusakan kromosom tersebut meskipun perbaikan yang dilakukan sering mengakibatkan delesi, duplikasi, inversi, dan translokasi.
Radiasi pengion banyak digunakan dalam terapi tumor. Pada prinsipnya perlakuan ini dimaksudkan untuk meningkatkan frekuensi kerusakan kromosom pada sel-sel yang sedang mengalami mitosis. Oleh karena tumor mengandung banyak sekali sel yang mengalami mitosis sementara jaringan normal tidak, maka sel tumor yang dirusak akan jauh lebih banyak daripada sel normal yang dirusak. Namun, tidak semua sel tumor mengalami mitosis pada waktu yang sama. Oleh karena itu, iradiasi biasanya dilakukan dengan selang waktu beberapa hari agar sel-sel tumor yang semula sedang beristirahat kemudian melakukan mitosis. Diharapkan setelah iradiasi diberikan selama kurun waktu tertentu, semua sel tumor akan rusak.

11.4. Mekanisme Molekuler Mutasi
Meskipun tidak selalu, perubahan urutan asam amino pada suatu protein dapat menyebabkan perubahan sifat-sifat biologi protein tersebut. Hal ini karena pelipatan rantai polipeptida sebagai penentu struktur tiga dimensi molekul protein sangat bergantung kepada interaksi di antara asam-asam amino dengan muatan yang berlawanan. Contoh yang paling sering dikemukakan adalah perubahan sifat biologi yang terjadi pada molekul hemoglobin.
Hemoglobin pada individu dewasa normal terdiri atas dua rantai polipeptida α yang identik dan dua rantai polipeptida β yang identik juga. Namun, pada penderita anemia bulan sabit (sickle cell anemia) salah satu asam amino pada polipeptida β, yakni asam glutamat, digantikan atau disubstitusi oleh valin.
Substitusi asam glutamat, yang bermuatan negatif, oleh valin, yang tidak bermuatan atau netral, mengakibatkan perubahan struktur hemoglobin dan juga eritrosit yang membawanya. Hemoglobin penderita anemia bulan sabit akan mengalami kristalisasi ketika tidak bereaksi dengan oksigen sehingga akan mengendap di pembuluh darah dan menyumbatnya. Demikian juga, eritrositnya menjadi lonjong dan mudah pecah. Seperti dikatakan di atas, perubahan urutan asam amino tidak selalu menyebabkan perubahan sifat-sifat biologi protein atau menghasilkan fenotipe mutan.

Substitusi sebuah asam amino oleh asam amino lain yang muatannya sama, misalnya substitusi histidin oleh lisin, sering kali tidak berpengaruh terhadap struktur molekul protein atau fenotipe individu. Jadi, ada tidaknya pengaruh substitusi suatu asam amino terhadap perubahan sifat protein bergantung kepada peran asam amino tersebut dalam struktur dan fungsi protein.
Setiap perubahan asam amino disebabkan oleh perubahan urutan basa nukleotida pada molekul DNA. Akan tetapi, perubahan sebuah basa pada DNA tidak selamanya disertai oleh substitusi asam amino karena sebuah asam amino dapat disandi oleh lebih dari sebuah triplet kodon. Perubahan atau mutasi basa pada DNA yang tidak menyebabkan substitusi asam amino atau tidak memberikan pengaruh fenotipik dinamakan mutasi tenang (silent mutation). Namun, substitusi asam amino yang tidak menghasilkan perubahan sifat protein atau perubahan fenotipik pun dapat dikatakan sebagai mutasi tenang.
Mutasi yang terjadi pada sebuah atau sepasang basa pada DNA disebut sebagai mutasi titik (point mutation). Mekanisme terjadinya mutasi titik ini ada dua macam, yaitu (1) substitusi basa dan (2) perubahan rangka baca akibat adanya penambahan basa (adisi) atau kehilangan basa (delesi). Mutasi titik yang disebabkan oleh substitusi basa dinamakan mutasi substitusi basa, sedangkan mutasi yang terjadi karena perubahan rangka baca dinamakan mutasi rangka baca (frameshift mutation).Apabila substitusi basa menyebabkan substitusi asam amino seperti pada kasus hemoglobin anemia bulan sabit, maka mutasinya dinamakan mutasi salah makna (missense mutation).  Sementara itu, jika substitusi basa menghasilkan kodon stop, misalnya UAU (tirosin) menjadi UAG (stop), maka mutasinya dinamakan mutasi tanpa makna (nonsense mutation) atau mutasi terminasi rantai (chain termination mutation).
Substitusi basa pada sebuah triplet kodon dapat menghasilkan sembilan kemungkinan perubahan triplet kodon karena tiap basa mempunyai tiga kemungkinan substitusi. Sebagai contoh, kodon UAU dapat mengalami substitusi basa menjadi AAU (asparagin), GAU (asam aspartat), CAU (histidin), UUU (fenilalanin), UGU (sistein), UCU (serin), UAA (stop), UAG (stop), dan UAC (tirosin). Kita bisa melihat bahwa perubahan yang terakhir, yakni UAC, tidak menghasilkan substitusi asam amino karena baik UAC maupun UAU menyandi asam amino tirosin.
Mutasi substitusi basa dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu transisi dan transversi.  Pada transisi terjadi substitusi basa purin oleh purin atau substitusi pirimidin oleh pirimidin, sedangkan pada transversi terjadi substitusi purin oleh pirimidin atau pirimidin oleh purin. Secara skema kedua macam substitusi basa tersebut dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Sementara itu, mutasi rangka baca akan mengakibatkan perubahan rangka baca semua triplet kodon di belakang tempat terjadinya mutasi tersebut. Akan tetapi, adisi atau pun delesi sebanyak kelipatan tiga basa pada umumnya tidak akan menimbulkan pengaruh fenotipik mutasi rangka baca. Demikian pula, adisi satu basa yang diimbangi oleh delesi satu basa di tempat lain, atau sebaliknya, akan memperbaiki kembali rangka baca di belakang tempat tersebut. Selain itu, apabila adisi atau delesi terjadi pada daerah yang sangat dekat dengan ujung karboksil suatu protein, maka mutasi rangka baca yang ditimbulkannya tidak akan menyebabkan sintesis protein nonfungsional. Dengan perkataan lain, mutasi tidak memberikan pengaruh fenotipik.

11.5. Mutasi pada Manusia
Manusia dapat mengalami mutasi karena terjadi mutasi pada kromosomnya. Ada beberapa mutasi pada manusia yang diakibatkan bukan dari mutasi buatan. Oleh karena itu, manusia hanya dapat berharap dan sedikit usaha agar dapat menghindarkan diri dari unsur-unsur mutagen.  Berikut ini beberapa contoh mutasi pada manusia.

(1) Sindrom Turner (XO)
Sindrom Turner ditemukan oleh H.H. Turner tahun 1938. Ciri-ciri manusia yang memiliki Sindrom Turner antara lain sebagai berikut.
1) kariotipe : 45,XO (44 autosom + 1 kromosom X) diderita oleh wanita
2) tinggi badan cenderung pendek dan bentuk kaki X
3) alat kelamin terlambat perkembangannya (infantil) sehingga ovarium tidak sempurna
4) sisi leher tumbuh tambahan daging (mempunyai gelambir leher yang melebar)
5) Payudara kecil dan kedua puting susu berjarak melebar
6) keterbelakangan mental dan mandul

(2) Sindrom Klinefelter
Sindrom Klinefelter ditemukan oleh Klinefelter tahun 1942. Ciri-ciri manusia yang memiliki Sindrom Klinefelter antara lain sebagai berikut.
1) kariotipe: 47, XXY (kelebihan kromosom seks X) diderita pria
2) bulu badan tidak tumbuh
3) testis mengecil, mandul (steril)
4) buah dada (payudara) membesar
5) Retardasi mental
6) Pinggul Besar
7) Suara Nyaring
8) Lengan dan Kaki Panjang serta tinggi badan berlebih
9) jika jumlah kromosom X lebih dari dua, mengalami keterbelakangan mental.

(3) Sindrom Down
Sindrom Down (Mongolisme) = Trisomi pada Autosom ke-21, ditemukan oleh Longdon Down tahun 1866.
Ciri-ciri manusia yang memiliki Sindrom Down antara lain sebagai berikut.
1) Kariotipe 47, XX atau 47, XY
2) mongolism, Jari-Jari pendek dan bertelapak tebal seperti telapak kera (Tapak Monyet)
3) Biasanya terdapat sidik Loop Radikal pada puncak jari
4) mata sipit miring ke samping
5) Leher pendek dan muka mongol
6) bibir tebal, lidah menjulur, liur selalu menetes
7) gigi kecil-kecil dan jarang serta tidak teratur
8) Suka Senyum
9) I. Q. rendah (± 40 ).

(4) Sindrom Edwards
Nama lain untuk sindroma ini adalah sindrom trisomi 18. Nama sindrom Edwards diambil dari nama seorang ahli genetika Inggris, John Hilton Edwards. Sindrom ini mengenai 1 dari 8000 bayi baru lahir.
Ciri-ciri manusia yang memiliki Sindrom Edwards antara lain :
1). Tambahan kromosom pada pasangan kromosom 18 (trisomi 18).
2). Berat badan lahir rendah
3). Gagal tumbuh kembang
4). Pertumbuhan rambut yang berlebihan (hipertrikosis)
5). Kelainan jantung, pembuluh darah dan ginjal
6). Kelainan tulang tengkorak dan wajah
7). Kepala yang abnormal kecil (mikrosefali)
8) Rahang yang abnormal kecil (mikrognatia)
9) Leher lebar (webbed neck) dan Telinga letak rendah
10). Bersifat letal.
11). Hanya ± 5% dari anak-anak ini yang bisa melewati ulang tahunnya yang pertama.
12) Biasanya penderita meninggal sebelum berusia 6 bulan.

(5) Sindrom Cri-du cat
Sindrom Cri-du-chat (menangis kucing) juga dikenal sebagai sindrom 5p-(5p minus), adalah kondisi kromosom yang hilang pada kromosom nomor 5. Bayi dengan kondisi ini memiliki tangisan melengking yang terdengar seperti suara kucing. Sindrom Cri-du-chat dapat terjadi pada 1 di antara 20.000 sampai 50.000 bayi yang baru lahir. Kondisi ini ditemukan pada orang-orang dari berbagai latar belakang etnis.
Ciri-ciri manusia Sindrom Cri-du cat antara lain :
1) Kelainan ini ditandai dengan cacat intelektual dan perkembangan yang tertunda
2) Ukuran kepala kecil (mikrosefali)
3) Berat lahir rendah, dan otot lemah (hypotonia) pada bayi
4) Memiliki fitur wajah khas dan Telinga rendah
6) Rahang kecil dan wajah bulat
7) Beberapa anak dengan cri-du cat syndrome dilahirkan dengan cacat jantung.

(6) Sindrom XYY atau Sindrom Jacob
Sindrom Jacob ditemukan oleh P.A. Jacobs tahun 1965. Sindrom Jacob hanya terjadi pada laki-laki saja. Kebalikan dari Klinefelter. Kondisi manusia yang memiliki Sindrom Jacob antara lain sebagai berikut. Pada sindroma XYY, seorang bayi laki-laki terlahir dengan kelebihan kromosom Y. Oleh karena itu, sindrom ini terjadi pada manusia yang berjenis kelamin laki-laki.
Laki-laki biasanya hanya memiliki 1 kromosom X dan 1 kromosom Y, digambarkan sebagai 46, XY. Pria dengan sindroma XYY memiliki 2 kromosom Y dan digambarkan kariotipenya sebagai 47, XYY. Kelainan ini ditemukan pada 1 diantara 1.000 pria.
Ciri-ciri manusia yang memiliki Sindrom XYY antara lain sebagai berikut.

  1. Pada saat lahir, bayi biasanya tampak normal, lahir dengan berat dan panjang badan yang normal, tanpa kelainan fisik dan organ seksualnya normal.
  2. Pada awal masa kanak-kanak, penderita memiliki kecepatan pertumbuhan yang pesat, rata-rata mereka memiliki tinggi badan 7 cm diatas normal.
  3. Postur tubuhnya normal, tetapi berat badannya relatif lebih rendah jika dibandingkan terhadap tinggi badannya.
  4. Pada masa kanak-kanak, mereka lebih aktif dan cenderung mengalami penundaan kematangan mental, meskipun fisiknya berkembang secara normal dan tingkat kecerdasannya berada dalam kisaran normal.
  5. Aktivitas yang tinggi dan gangguan belajar akan menimbulkan masalah di sekolah sehingga perlu diberikan pendidikan ekstra.
  6. Perkembangan seksual fisiknya normal, dimana organ seksual dan ciri seksual sekundernya berkembang secara normal. Pubertas terjadi pada waktunya.
  7. Pria XYY tidak mandul, mereka memilki testis yang berukuran normal serta memiliki potensi dan gairah seksual yang normal.
  8. Berperawakan tinggi
  9. Bersifat antisosial, agresif
  10. Suka melawan hokum
  11. Sindrom ini terjadi karena adanya penambahan pada kromosom kelamin, menjadi XYY atau laki-laki super. Penelitian mengatakan bahwa 90% dari penghuni penjara Alcatraz terkena sindrom ini. Sindrom ini membuat si penderita mempunyai muka yang menyeramkan, sifat anti sosial dan Agresif, tubuh tinggi tapi berIQ rendah.

(7) Sindrom XXX (tripel X)/Wanita Super
Sindroma XXX (Sindrom Tripel X, Trisomi X, 47,XXX) terjadi jika seorang anak perempuan memiliki 3 kromosom X. Pada sindrom XXX, di setiap sel-sel tubuh wanita terdapat 3 kromosom X (digambarkan sebagai 47,XXX). Sekitar 1 diantara 1.000 bayi perempuan yang tampaknya normal, memiliki kelainan ini.
Ciri-ciri manusia yang memiliki Sindrom XXX antara lain sebagai berikut :

  1. Pada saat bayi biasanya tenang dan tidak aktif
  2. Pengidap sindrom ini mengalami perkembangan fungsi motorik, berbicara dan pematangan yang tertunda.
  3. Anak perempuan dengan 3 kromosom X cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan dengan saudara laki-laki dan saudara perempuannya yang normal.
  4. Kadang sindrom ini menyebabkan kemandulan dan kelainan organ sex, meskipun beberapa penderita bisa melahirkan anak yang memiliki kromosom dan fisik yang normal.
  5. Beberapa penderita mengalami menopause dini atau Progeria = penuaan dini.
  6. Pada umumnya meninggal pada usia 10 – 15 tahun
  7. Kehilangan Rambut

11.6. Dampak Mutasi
Pengaruh fenotipik yang ditimbulkan oleh mutasi sangat bervariasi, mulai dari perubahan kecil yang hanya dapat dideteksi melalui analisis biokimia hingga perubahan pada proses-proses esensial yang dapat mengakibatkan kematian sel atau bahkan organisme yang mengalaminya. Jenis sel dan tahap perkembangan individu menentukan besar kecilnya pengaruh mutasi. Selain itu, pada organisme diploid pengaruh mutasi juga bergantung kepada dominansi alel. Dalam hal ini, alel mutan resesif tidak akan memunculkan pengaruh fenotipik selama berada di dalam individu heterozigot karena tertutupi oleh alel dominannya yang normal.
Mutasi dapat mengakibatkan dampak yang menguntungkan maupun merugikan. Berikut ini tiga kategori dampak mutasi.

  1. Penyebab letal, artinya mutasi dapat menyebabkan organisme yang mengalaminya mengalami kematian.
  2. Merusak, artinya organ dan sistem metabolisme organisme yang mengalami mutasi akan terganggu.
  3. Menguntungkan, artinya organisme yang mengalami mutasi memiliki sifat yang unggul dari organisme biasa.

Contoh mutasi yang menguntungkan dalam kehidupan, antara lain sebagai berikut.

  1. Meningkatkan hasil panen produksi pangan, seperti gandum, tomat, kacang tanah, kelapa poliploidi, kol poliploidi, dengan mutasi induksi.
  2. Meningkatkan hasil antibiotika, seperti mutan Penicillium
  3. Untuk pemeriksaan proses biologi melalui mutasi, misalnya transpor electron pada fotosintesis, fiksasi nitrogen pada bakteri
  4. Sebagai proses penting untuk evolusi dan variasi genetik.

11.7. Tanya Jawab.

1)  Radiasi merupakan salah satu penyebab mutasi gen. Yang saya tanyakan, Apakah setiap kita berada di dalam zona radiasi seperti di lokasi reaktor nuklir di Fukushima maka akan pasti mengakibatkan mutasi gen? adakah cara agar korban mutasi gen dapat di sembuhkan?
Jawab : Jika reaktor nuklir itu tidak mengalami kebocoran, maka kemungkinan besar kita dalam keadaan aman,tetapi para ilmuan yang berada di reaktor tersebut selalu menggunakan pakaian pelindung, agar terlindung dari radiasi tersebut, karena radiasi dapat menyebar melalui udara dalam jarak tertentu, sampai saat ini belum diketahui cara menyembuhkan korban mutasi gen.

2)  Apakah mutasi gen dapat terjadi pada setiap orang dan bagaimana cara mencegah terjadinnya resiko terkena mutasi gen ?.
Jawab : Ya, mutasi bisa saja terjadi pada semua orang bahkan semua mahluk hidup. mutasi yang terjadi secara alami tak bisa dicegah karena biasanya mutasi alami terjadi karena faktor bawaan gen. sedangkan mutasi dari luar (eksternal) bisa dicegah dengan cara menjauhi lingkungan dan faktor-faktor yang menyebabkan mutasi eksternal terjadi

3)  Mutasi gen yang diwariskan langsung kepada keturunannya jika terjadi pada gamet. tolong berikan penjelasannya !
Jawab : Mutasi gen dapat terjadi pada sel tubuh somatis dan sel kelamin gamet. mutasi gen pada sel somatis akan diturunkan ke sel anaknya melalui pembelahan mitosis. mutasi gen gamet akan diturunkan pada generasi berikutnya atau keturunannya karena melalui sifat gamet inilah sifat induk diwariskan kepada keturunan

4)  Jelaskan peranan mutasi gen dan rekombinasi gen terhadap mekanisme evolusi.?
Jawab : Mutasi dan rekombinasi gen-gen dalam keturunan baru menghasilkan Variasi genetik. Sintesis evolusioner modern mendefinisikan evolusi sebagai perubahan dari waktu ke waktu pada variasi genetika. Frekuensi alel tertentu akan berfluktuasi, menjadi lebih umum atau kurang umum relatif terhadap bentuk lain gen itu. Gaya dorong evolusioner bekerja dengan mendorong perubahan pada frekuensi alel ini ke satu arah atau lainnya. Variasi menghilang ketika sebuah alel mencapai titik fiksasi, yakni ketika ia menghilang dari suatu populasi ataupun ia telah menggantikan keseluruhan alel leluhur.

5)  Mengapa mutasi somatik cenderung ke penyakit kanker?
Jawab : Mutasi somatik biasanya ditemukan pada manusia yang telah dewasa, dan tidak menurun. kanker merupakan penyakit yang tidak menurun pada keturunannya, jadi dalam mutasi somatik cenderung timbul penyakit kanker.

6)  Ada berapa macamkah mutasi berdasarkan kejadiannya dan sebutkan bahan-bahan yang menyebabkannya?  Jawab :  Macam mutasi ada 2 macam, yaitu:
a. Mutasi Alami (Mutasi Spontan) Mutasi alami adalah mutasi yang terjadi di alam secara acak tanpa diketahui sebabnya secara pasti.
b. Mutasi Buatan (Mutasi Terinduksi) : Mutasi Buatan (Mutasi Terinduksi) merupakan mutasi yang berasal dari luar atau kejadian yang disengaja oleh manusia. sedangkan penyebab nya adalah bahan kimia, bahan fisika dan bahan biologi

7)  Apakah penyakit yang terjadi karena dampak mutasi bisa dicegah dan disembuhkan?.
Jawab : Penyakit yang terjadi karena dampak mutasi bisa dicegah dan disembuhkan. Misalnya kanker,bisa dicegah dengan tidak merokok.Dan pengobatan kanker biasanya dengan cara dibedah.

8)  Dalam artikel diatas dijelaskan manusia memiliki 46 kromosom,apa yang akan terjadi jika kromosom pada seseorang kurang atau lebih dari 46 kromosom?
Jawab : Kemungkinan dari seseorang yang mempunyai kurang atau lebih dari 46 kromosom adalah kemungkinan terjadi mutagen yang dapat memnyebabkan kelainan atau penyakit yang diderita seseorang

9)  Apakah kelebihan jumlah kromosom dapat diambil kromosom tersebut agar tidak terjadi kecacatan dalam tubuh kita?
Jawab : Tidak ada pengobatan bagi masalah kromosom.Tidak ada jalan untuk menghilang kan kromosom yang tidak normal dan memasukkan yang normal.Meskipun begitu ,orang tersebut akan mendapatkan pengobatan berupa terapi fisik misalnya pembedahan jantung, sesuai dengan kebutuhan yang spesifik dari orang tersebut.
10)   Apa perbedaan antara mutagen,mutagenesis,dan mutan? jelaskan!!





Diktat Genetika Ternak-10d (Keempat)

31 07 2012

10.10. Bioteknologi

Bioteknologi adalah pemanfaatan prinsip-prinsip dan rekayasa terhadap organisme, sistem, atau proses biologis untuk menghasilkan atau meningkatkan potensi organisme maupun mengahsilkan produk dan jasa bagi kepentingan hidup manusia. Ilmu – ilmu yang digunakan dalam bioteknologi adalah mikrobiologi, biologi sel, genetika dan biokimia.
Mikrobiologi merupakan cabang biologi yang mempelajari mikroba atau jasad renik. Mikroba berupa bakteri, misalnya bakteri dapat digolongkan sebagai psikrofil (suhu 0oC – 30oC), mesofil (suhu 25oC – 40oC), dan termofil (suhu 50oC atau lebih). Contohnya untuk pembuatan yoghurt dengan menggunakan bakteri Lactobacillus bulgaricus, pada suhu 40oC selama 2,5 jam sampai 3,5 jam.
Biologi sel merupakan cabang biologi yang mempelajari sel. Pengetahuan mengenai sifat protoplasma suatu sel yang dapat berfusi atau bergabung dengan protoplasma sel lain pada spesies yang sama, bermanfaat bagi aplikasi fusi sel di bidang pemuliaan tanaman. Contoh tanamannya, tanaman kedelai dengan jagung serta tanaman kedelai dengan kacang kapri. Bisa juga sebagai pengetahuan mengenai sifat totipotensi untuk kultur jaringan, kamampuan sel – sel tanaman muda dan hidup untuk berdiferensiasi menjadi berbagai organ tanaman yang baru.
Genetika merupakan cabang biologi yang mempelajari warisan sifat – sifat genetik makhluk hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. DNA akan membantu percepatan kemajuan bioteknologi. Penemuan tanaman tomat yang tidak mudah rusak atau busuk, insulin manusia yang sintesis dari bakteri Escherichia coli.

Biokimia merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari makhluk hidup dari aspek kimia. Biokimia menggap semua yang terjadi pada kehidupan adalah kimia.

PERKEMBANGAN BIOTEKNOLOGI
Louis Pasteur dianggap sebagai bapak bioteknologi. Karena bukti penelitian adanya mikroorganisme yang melakukan fermentasi yang didapat dari hasil penelitiannya.
Berbagai teknik yang mendorong perkembangan bioteknologi
1. Manipulasi DNA rekombinan
2. Penggabungan protoplasma
3. Pembuatan antibodi monoklonal
4. Modifikasi struktur protein
5. Imobilisasi enzim dan sel katalis
6. Penginderaan dengan bantuan biologi molekul
7. Menghubungkan komputer dengan reaktor
8. Rancang bangun reaktor biokatalis baru

A. BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL (TRADISIONAL)
Bioteknologi tradisional adalah bioteknologi yang memanfaatkan mikroba, proses biokimia, dan proses genetik ternak dan tanaman panen, pembuatan alkohol, minuman keras dan minuman anggur telah dikenal di masyarakat tradisional

Pangan
Tempe – jamur Rhizopus
Oncom – jamur Neurospora ditophila
Tapai ketan – Saccharomyces cereviceae
Kecap – jamur aspergillus

Pertanian
Hidroponik – cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai tempat menanam tanaman
Suatu tanaman jenis mustard alami yang diseleksi oleh manusia menghasilkan tanaman brokoli, kubis, kembang kol, dan lain – lain.

Peternakan
Domba ankon – domba berkaki pendek dan bengkok, hasil mutasi alami.
Sapi Jersey – diseleksi oleh manusia agar menghasilkan susu dengan kandugan krim lebih banyak

Kesehatan Dan Pengobatan
Antibiotik – digunakan untuk pengobatan, diidolasi dari bakteri dan jamur
Vaksin – mikroorganisme atau bagian mikroorganisme yang toksinnya telah dimatikan, bermanfaat untuk meningkatkan imunitas

B.BIOTEKNOLOGI MODERN
Bioteknologi modern adalah bioteknologi yang berdasarkan pada manipulasi atau rekayasa DNA, selain memanfaatkan dasar mikrobiologi dan biokimia.

Pangan
Buah tomat – hasil amipulasi genetik sehingga tahan lama, tidak cepat matang dan membusuk
Kentang – mengalami mutasi genetik sehingga kadarpati kentang meningkat 20% dari kentan biasa

Pertanian
Tanaman kedelai Tengger dan kedelai hijau Camar – berumur pendek dengan produktivitas tinggi, diperoleh dari radiasi seleksi biji – biji kedelai
Tanaman jagung dan kapas – resisten terhadap serangan penyakit gen tertentu setelah gennya di manipulasi

Peternakan
Pembelahan embrio secara fisik – menghasilkan kembar identik pada domba, sapi, babi, kuda
Ternak unggul – hasil manipulasi genetik, contoh unggul pada daging dan susunya

Kesehatan Dan Pengobatan
Hormon pertumbuhan somatotropin yang dihasilkan oleh Escherichia coli
Manipulasi produksi vaksi – menggunakan E. Coli agar lebih efisien

C. BIOTEKNOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN MIKROORGANISME
Bioteknologi umumnya menggunakan mikroorganisme seperti bakteri, khamir, dan kapang, dengan alasan:
1. Pertumbuhannya cepat
2. Sel – selnya memiliki kandungan protein yang tinggi
3. Dapat menggunakan produk – produk sisa sebagai substratnya
4. Menghasilkan produk yang tidak toksik
5. Sebagai organisme hidup

Bioteknologi yang menggunakan mikroorganisme, penemuan dan penyelesaian masalah pangan, obat – obatan, pembasmian hama tanaman, pencemaran, dan pemisahan logam dari bijih logam.

(1) Mikroorganisme Pengubah Dan Penghasil Makanan Atau Minuman
Mikroorganisme dapat mengubah nilai gizi makanan atau minuman dalam proses fermentasi, perubahan enzimatik secara anaerob dari senyawa organik yang lebih sederhana. Mikroorganisme pada fermentasi menyebabkan perubahan senyawa-senyawa kompleks pada makanan atau minuman menjadi senyawa yang lebih sederhana dan peningkatan cita rasa dan aroma makanan atau minuman.
Mikroorganisme dapat dijadikan langsung sebagai sumber makanan, karena:

  1. Massa mikroorganisme dapat tumbuh menjadi dua kali lipat dalam waktu satu jam, sedangkan massa tumbuhan atau hewan memerlukan waktu berminggu – minggu
  2. Massa mikroba minimal mengandung 40% protein serta memiliki kandungan vitamin dan mineral tinggi
(2) Mikroorganisme Penghasil Obat

Antibiotik

  1. Antibiotik = senyawa yang dihasilkan oleh suatu mikroorganisme untuk meng-hambat pertumbuhan mikroorganisme lain.
  2. Penisilin : diproduksi secara komersial dicampurkan dengan berbagai senyawa, namun komponen utama berupa penisilin
  3. Sefalosporin:dihasilkan oleh jamur Cephalosporium yang ditemukan Tahun 1948
  4. Tetrasiklin  : dihasilkan oleh bakteri Streptomycin aureofaciens
  5. Eritromisin  : memiliki kisaran yang sama dengan penisilin.
  6. Toksisitas selektif pada antiobiotik dapat membunuh atau menghambat partum-buhan bakteri, namun tidak menyebabkan kerusakan pada sel-sel inang atau sel-sel tubuh manusia.

Vaksin
Vaksin = mikroorganisme atau bagian mikroorganisme yang telah dilemahkan.

  • Mikroorganisme yang telah mati : digunakan unutk mengahsilkan vaksin batuk rejan dari bakteri penyebab batuk rejan.
  • Mikroorganisme yang telah dilemahkan : Vaksin yang dihasilkan dari mikro organisme yang sudah dilemahkan (vaksin atenuasi)
  • Suatu substansi mikroorganisme yang tidak menyebabkan penyakit – vaksin diferti dan tetanus yang dihasilkan dari susbtansi toksin (toksoid) yang sudah tidak berbahaya dari bakteri. Toksoid bertujuan untuk merangsang produksi antibodi.

(3) Mikroorganisme Pembasmi Hama Tanaman
Mikroorganisme di alam dapat dijadikan sebagai agen pengendali hayati, yaitu pengendalian terhadap hama dengan menggunakan musuh alami. Misalnya pengen-dalian hama serangga pada tanaman pertanian dengan menggunakan bakteri pantogen serangga, yaitu Bacillus thuringiensis (Bt).

Beberapa Bt yang tersedia secara komersial dengan hama targetnya:
1. Bt varietas tenebrionis-menyerang kumbang kentang colorado & larva kumbang daun
2. Bt varietas kurstaki – menyerang berbagai jenis ulat tanaman pertanian
3. Bt varietas israelensis – menyerang nyamuk dan lalat hitam
4. Bt varietas aizawai – menyerang larva ngengat dan berbagai ulat, terutama ulat ngengat diamondback

(4) Mikroorganisme Pengolah Limbah
Pemrosesan limbah secara aerob terdiri dari dua metode pengolohan, prose yang menggunakan lumpur aktif dan proses yang menggunakan saringan tetes.

  1. Pengolahan dengan lumpur aktif = pengolahan limbah cair dengan membiakkan bakteri aerobik dalam suatu tangki limbah yang diberi aerasi dengan tujuan untuk menurunkan bahan organik yang mengandung karbon atau nitrogen dalam limbah. Bakteri yang berperan adalah bakteri heterotrof.
  2. Pengolahan dengan saringan tetes = pengolahan limbah cair dengan memanfaatkan teknologi biofilm. Biofilm = lapisan mikroorganisme yang menutupi hamparan saringan atau filter pada dasar tangki limbah.
  3. Penguraian lumpur = proses penguraian bahan padat yang terakumulasi deri pemrosesan aerob atau dari endapan perlakuan fisiksebelumnya. Lumpur tersebut dibiarkan selama dua hingga tiga minggu di dalam suatu tangki yang tidak mengandung oksigen, pada suhu sekitar 30oC – 40oC.

(5) Mikroorganisme Pemisah Logam Dari Bijih Logam
Peranan mikroorganisme di dalam proses ekstrasi logam dari bijihnya akan menjadi semakin penting karena alasan – alasan berikut:

  1. Deposit – deposit mineral yang lebih kaya sudah banyak berkurang.
  2. Metode pengolahan bijih secara tradisional yaitu denganpeleburan, merupakan penyebab utama polusi udara dan kini banyak ditentang oleh kelompok pencinta lingkungan.

Mikroorganisme mampu memperbaiki kedua keadaan ini. Misalnya, beberapa bakteri aerobik autotrofik, Thiobacillus oxidans dan T. Ferroxidans bila ditumbuhkan dalam lingkungan yang mengandung bijih tembaga akan menghasilkan asam dan mengoksidasi bijih tersebut disertai pemisahan logam tembaganya. Proses ini disebut pencucian mikrobial.

D. BIOTEKNOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN KULTUR JARINGAN TUMBUHAN
Kultur jaringan merupakan salah satu teknik klona (kloning) tumbuhan. Suatu klon tumbuhan merupakan populasi tumbuhan yang diproduksi secara secara aseksual dari satu nenek moyang. Klona menghasilkan sejumlah besar tumbuhan yang identik secara genetic. Klon tersebut ditumbuhkan dengan kultur jaringan pada kondisi steril dengan menggunakan konsentrasi nutrient serta hormon. Dengan kultur jaringan, tumbuhan utuh dapat dihasilkan dari bagian akar, batang, atau daun yang disebut eksplan
Berikut merupakan proses dalam kultur jaringan tumbuhan

E. BIOTEKNOLOGI DENGAN MENGGUNAKAN REKAYASA GENETIK
Rekayasa genetik atau DNA rekombinan atau pencangkokan gen adalah suatu kumpulan teknik-teknik eksperimental yang memungkinkan peneliti untuk mengisolaso, mengidentifikasi, dan melipatgandakan suatu fragmen DNA dalam bentuk murninya. Manipulasi-manipulasi tersebut dilakukan secara in vitro dengan menggunakan material-material biologi.

1.Tahapan Dasar Rekayasa Genetik
Rekayasa genetic dimulai kira-kira 50 tahun lalu oleh Dr. Paul Berg dari Stanford University di California, USA, dan usaha sekelompok penyelidik lainnya, yaitu Dr. Stanley Cohen dan Dr. Annie Chang dari Stanford University, serta Dr. Herbert Boyer dan Dr. Robert Helling dari University of California di San Fransisco.
Mereka menemukan bahwa bahan-bahan kimia tertentu yang disebut enzim restriksi endonuklease mampu berfungsi sebagai “gunting molekuler”, yaitu dapat mengenal dan kemudian memotong secara kimiawi tempat-tempat khusus di sepanjang sebuah molekul DNA. Penemuan penting lainnya adalah bahwa suatu enzim yang disebut ligase, dapat menggabungkan potongan DNA yang digunting dari suatu gen dengan potongan DNA gen lain dari makhluk yang tidak berkaitan. Hibrid yang terbentuk dengan cara ini disebut DNA rekombinan.
Para ahli genetika kini dapat membongkar sel-sel bakteri, virus, hewan, dan tanaman guna mengambil DNA-nya dan memasukkannya ke dalam makhluk lain. Namun pekerjaan tersebut bukanlah sekedar memotong dan menempel. Sebuah gen harus diangkut oleh suatu materi genetic khusus yang disebut vector. Salah satu jenis vector yang bermanfaat adalah plasmid. Plasmid adalah molekul DNA sirkuler kecil yang terdapat di luar kromosom sel bakteri.
Sebuah plasmid berasal dari bakteri. Untaian DNA plasmid yang sirkuler dipotong dengan enzim restriksi, kemudian fragmen DNA baru disisipkan ke dalamnya, dan plasmid dikemalikan ke bakteri. Selanjutnya setiap kali bakteri tersebut membelah diri menjadi dua, plasmid rekombinan tersebut juga membelah diri. Oleh karenanya, DNA rekombinan terus membuat klon DNA dari dirinya

2.Manfaat Rekayasa Genetik
Rekayasa genetic sangat bermanfaat pada berbagai bidan kehidupan manusia. Misalnya bidang kedokteran dan farmasi, peternakan dan pertanian, serta perindustrian.

Manfaat rekayasa genetik di bidang kedokteran dan farmasi
1) Pembuatan insulin manusia oleh bakteri
Dengan teknik rekayasa genetic para peneliti berhasil memanipulasi bakteri untuk membentuk insulin yang mirip dengan insulin manusia. Melalui penelitian dapat dibuktikan pula bahwa salinan insulin manusia lebih baik daripada insulin hewani dan dapat diterima lebih baik oleh tubuh manusia. Biaya pembuatan insulin inipun menjadi jauh lebih murah.

2) Terapi gen manusia
Setiap kelainan genetic yang disebabkan alel tunggal yang rusak, secara teoritis mungkin untuk diganti dengan alel yang masih berfungsi normal menggunakan teknik DNA rekombinan. Alel baru tersebut dapat disisipkan ke dalam sel somatic jaringan yang dipengaruhi kelainan dalam diri pasien atau bahkan mungkin juga ke dalam sel germinal atau sel embrionik.Agar terapi gen sel somatic bersifat permanen, sel yang menerima alel normal harus senantiasa memperbanyak diri di sepanjang hidup si pasien, sehingga alel pencangkokan akan bereplikasi dan terus diekspresikan. Dari percobaan terapi gen yang sedang dilakukan pada manusia, terapi yang paling menjanjikan adalaj terapi yang melibatkan sel sumsum tulang.

3) Antibodi monoklonal  
Antibodi merupakan protein yang dihasilkan oleh sistem imunitas vertebrata sebagai sistem pertahanan untuk melawan infeksi. Antibodi dapat dihasilkan dengan menyuntikkan bebearpa kali suatu sampel yang berisi antigen ke dalam seekor hewan kelinci atau kambing. Kemudian serum darah hewan tersebut diambil karena banyak mengandung antibody (antiserum). Antiserum tersebut mengandung campuran antibody yang dihasilkan oleh limfosit-BSel-sel limfosit B yang memiliki rentang waktu hidup yang terbatas dapat diatasi dengan menggabungkan sel-sel tumor limfosit-B yang menghasilkan satu jenis antibody dari tikus atau mencit yang telah diimunisasi dengan sel-sel tumor limfosit-B yang ‘kekal’. Berdasarkan campuran heterogen sel-sel hybrid tersebut, dapat dihasilkan hybrid yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan antibody tertentu dan kemampuan memper banyak kultur sel tertentu dengan tak terhingga.

Manfaat rekayasa genetik di bidang peternakan dan pertanian
Organisme transgenic
Bakteri bukan satu-satunya organisme yang dapat dimodifikasi dengan teknik klona atau transfer gen. Rekayasa genetic juga dapat mentransfer gen-gen tertentu ke tumbuhan berbunga, jamur, dan mamalia yang mengakibatkan perubahan genotip organisme atau disebut organisme transgenik.

(1)  Transfer gen pada hewan
Contoh transfer gen pada hewan adalah domba Tracey. Tracey merupakan domba betina yang sehat dan normal, namun DNA-nya telah disisipi oleh gen manusia. Gen manusia tersebut mengkode produksi protein alfa-1-antitripsin (ATT). Protein ATT ini disekresi oleh oleh Tracey pada air susunya. Protein ATT sangat berharga karena berkhasiat untuk mengobati penyakit paru-paru pada manusia, misalnya fibrosis sistik dam emfisema. Gen manusia dapat masuk ke dalam tubuh Tracey dengan cara sebagai berikut. Pertama-tama gen manusia yang mengkode ATT diisolasi dan diklon. Gen ini kemudian diinjeksikan ke dalam sel telur yang telah dibuahi sperma dan diadopsi oleh satu kromosom. Sel telur yang telah dibuahi akan membelah secara mitosis menghasilkan sel-sel yang masing-masing mengandung gen ATT. Bila sudah terbentuk embrio pada tahap awal kemudian embrio ini ditanamkan ke rahim betina domba dewasa yang menjadi induk pengasuhnya. Embrio berkembang kemudian domba Tracey lahir.

(2)  Klona embrio
Tahapan teknik klona embrio pada hewan ternak misalnya sapi, adalah sebagai berikut. Pertama, sel telur yang diambil dari sapi betina dibuahi dengan sperma dari sapi jantan terbaik. Pembuahan dilakukan di dalam cawan petri. Pembuahan ini disebut sebagai fertilisasi in-vitro. Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk kumpulan sel-sel. Pada tahapan ini embrio muda tersebut dipisahkan menjadi beberapa bagian. Setiap bagian embrio merupakan klon yang secara genetic identik. Embrio-embrio tersebut kemudian ditanamkan pada rahim sapi-sapi betina dewasa lainnya. Embrio-embrio akan tumbuh menjadi anak-anak sapi yang siap dilahirkan dengan sifat yang sama seperti induknya.

(3)  Klona dengan transfer inti
Teknik klona dengan transfer inti adalah klon-klon dihasilkan dari suatu individu. Prinsip klona dengan transfer inti adalah dengan memasukkan donor DNA dari hewan yang karakternya diinginkan ke dalam sel telur hewan yang intinya (DNA-nya) telah dihilangkan. Setelah terbentuk embrio lalu embrio ditanamkan ke rahim induk hewan yang akan membesarkannya.
Contoh klona dengan transfer inti adalah domb Dolly. Dolly merupakan domba hasil klon yang dilakukan oleh ilmuwan dari SKotlandia yang dipimpin oleh Ian Wilmot. Wilmot dan timnya merusak nukelus satu sel telur, kemudian dimasuki nucleus donor yang diambil dari sel-sel kelenjar susu seekor domba dewasa. Sel telur dengan nukelus dari donor memiliki materi genetic yang sama persis dengan induk yang mendonorkan nukelusnya. Kemudian sel tersebut distimulasi agar membelah menjadi kumpulan sel-sel (blastomer) yang ditanam ke dalam rahim seekor domba betina dewasa sebagai induk pengganti.

CLONING
Berdasarkan etimologi, istilah kloning atau klonasi berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Klonus yang berarti ranting, stek atau cangkok. Pada hakekatnya kloning merupakan suatu pembiakan vegetatif atau reproduksi aseksual bertujuan untuk menghasilkan individu baru yang seragam. Individu baru hasil kloning tersebut disebut klon.
Kloning pada tumbuhan telah berlangsung sejak lama dan banyak dilakukan khususnya dibidang pertanian dengan tujuan untuk memperbanyak tanaman melalui stek atau cangkok sehingga dihasilkan sejumlah tanaman yang sama sifatnya, Sekarang perkembangan vegetatif cloning ini berkembang peast dengan teknologi tissue culture atau  teknologi Kultur Jaringan Tumbuhan (In Vitro) sehingga kloning pada tumbuhan selangkah lebih maju jika dibandingkan dengan kloning pada hewan.
Hal ini karena sifat totipotensi sel tumbuhan, baik sel somatik maupun sel embrional pada umumnya lebih mudah untuk melakukan diferensiasi membentuk organ dan individu baru (klon) daripada sel hewan.
Disamping itu dampak sosial, etika maupun moral pada kloning tumbuhan selama ini dipandang lebih ringan dibandingkan pada hewan.
Sebenarnya kloning juga seringkali terjadi di alam dan umumnya dilakukan oleh organisme dalam rangka melestarikan jenisnya. Kloning alami tersebut banyak dilakukan oleh organisme uniseluler dengan cara membelah diri (reproduksi aseksual) seperti pada Bakteri, Amoeba, Paramaecium, dan Protozoa lainnya pada kondisi lingkungan yang sesuai, sedangkan pada organisme multiseluler (hewan tingkat rendah) dapat kita lihat pada cacing Planaria sp. serta pada hewan-hewan partenogenetik lainnya seperti pada lebah dan beberapa jenis serangga.
Kloning alami pada tumbuhan dapat dengan jelas kita amati pada tanaman Cocor Bebek. Meskipun reproduksi aseksual (kloning) dapat berlangsung dengan cepat, tetapi tidak selamanya menguntungkan bagi kelestarian jenisnya. Hal ini karena individu yang sama sifatnya umumnya mempunyai kemampuan untuk menangulangi perubahan lingkungan yang sama pula, sehingga apabila terjadi perubahan lingkungan yang tidak menguntungkan (drastis), maka besar kemungkinan organisme tersebut akan mati serta musnah jenisnya dari alam. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kloning telah terjadi sejak lama di alam dan merupakan sistem alami yang telah tertata dengan rapi sehingga terjadi keseimbangan ekosistem. Pada akhirnya pengetahuan tentang kloning tesrsebut dimanfaatkan manusia untuk memperoleh jenis-jenis tanaman dan hewan unggul, serta diupayakan juga untuk melestarikan tumbuhan maupun hewan langka dari kepunahan.

Perkembangan Teknologi Kloning
Hanya terpaut beberapa bulan setelah keberhasilan koning domba Dolly disusul domba Polly yang telah disisipi materi genetik manusia, dunia ilmu pengetahuan kembali digemparkan oleh keberhasilan kloning sapi jantan yang diberi nama Gene hasil rekayasa perusahaan ABS Global Inc. yang bergerak di bidang Teknologi Reproduksi Hewan Ternak yang bermarkas di DeForest, Wisconsin, Amerika Serikat. Meskipun sapi Gene tidak dihasilkan dari sel sapi dewasa tetapi teknologi kloning tersebut memungkinkan dihasilkan sapi dari sel sapi dewasa seperti halnya pada kloning domba Dolly

Kloning pada hewan dimulai ketika para pakar Biologi Reproduksi Amerika pada tahun 1952 berhasil membuat klon katak melalui teknik TGM (Transplanting Genetic Material) dari suatu sel embrional katak ke dalam sel telur katak yang telah diambil intinya
Mintz (1967) berhasil melakukan transplantasi sel somatik embrional pada stadium blastula dan morula ke dalam rahim seekor tikus sehingga dihasilkan klon tikus
Gurdon (1973) melakukan transplantasi nukleus sel usus katak (somatik) yang telah mengalami diferensiasi ke dalam sel telur katak yang telah diambil intinya. Sel telur yang berinti sel intestinum tersebut kemudian berkembang menjadi klon katak. Tahun-tahun berikutnya ditandai oleh sejumlah keberhasilan klon beberapa jenis hewan antara lain babi, kelinci, domba, kera dan sapi yang berasal dari klon sel embrio yang umumnya lebih mudah berhasil dibandingkan mengklon dari sel hewan dewasa (somatik). Bagi kita mungkin bukan keberhasilan kloning Dolly, Polly maupun Gene yang menjadi fokus utama melainkai sebuah pertanyaan besar yang memanti dihadapan kita yaitu Apakah Perlu Kloning Pada Manusia ?

Secara teknologis pembuatan klon manusia bukan merupakan masalah yang utama lagi dan diramalkan akan tercipta dalam kurun waktu 25 tahun mendatang, meskipun dengan biaya yang cukup mahal karena kemungkinan tingkat keberhasilan teknologi tersebut masih rendah. Sebagaimana hal ini terjadi pada percobaan yang dilakukan oleh ilmuwan Ian Wilmut yaitu dari 277 percobaan yang dilakukan pada percobaan kloning tersebut, hanya 29 yang berhasil menjadi embrio domba yang dapat ditransplantasikan ke dalam rahim domba, dan hanya satu saja yang berhasil dilahirkan menjadi domba yang normal. Keberhasilan tim dokter di Rumah Sakit Van Helmont, Belgia yang dipimpin oleh Dr. Martine Nijs dalam mengklon bayi kembar 4 tahun yang lalu adalah salah satu bukti bahwa kloning pada manusia dapat dilakukan. Keberhasilan ini berawal dari ketidaksengajaan Dr. Nijs menggosok permukaan sel telur beku yang telah dibuahi dengan sebatang kaca sehingga sel telur tersebut terbelah menjadi dua dalam rahim si ibu dan kemudian berkembang menjadi janin, disusul dengan lahirnya dua anak kembar. Teknik penggosokan tersebut merupakan salah satu teknik yang sering dilakukan pada kloning hewan percobaan sejak tahun 1980-an.
Keberhasilan demi keberhasilan semakin mendekati kenyataan terciptanya klon manusia, tetapi dampak yang menghawatirkan justeru akan menimpa moralitas kemanusiaan. Tidak heran kalau gagasan untuk membuat klon manusia ini mendapat tanggapan keras dari kaum moralis serta menjadi bahan perdebatan diantara para pakar yuridis, politikus, agamawan dan dikalangan para pakar bioteknologi sendiri. Sebagian orang berpendapat bahwa kloning penting untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan dan penelitian-penelitian tentang kloning jangan sampai dihentikan. Mereka memandang bahwa teknologi kloning dapat digunakan untuk memproduksi organ-organ tubuh pengganti seperti ginjal, darah, hati , jantung serta organ lainnya yang biasa diperoleh dari donor, sehingga akan membantu setiap penderita yang sangat memerlukannya untuk ditransplantasikan pada tubuhnya. Tetapi sayangnya teknologi ini juga dapat digunakan untuk menggandakan orang-orang jahat.
Satu hal yang paling esensi untuk setiap karya cipta, apalagi menyangkut manusia adalah apapun bentuk teknologinya, maka manfaat yang diperoleh harus lebih besar dari dampak yang ditimbulkannya. Hal ini penting karena dampak yang ditimbulkan dari kloning manusia menyangkut banyak aspek dengan tingkat permasalahan yang sangat kompleks. Sebagai contoh kekerabatan menjadi semakin rumit dan bias, ikatan anak dengan ibu atau anak dengan bapak menjadi lemah. Kemungkinan akan timbul permasalahan seputar kepemilikan organ tubuh maupun anak dari hasil klon. Apakah yang mempunyai hak kepemilikan anak hasil klon itu adalah orang tua penyumbang inti sel (nukleus) ataukah orang tua penyumbang sel embrio yang telah dihilangkan nukleusnya ataukah orang yang mengandung serta melahirkanya ? Demikian juga status kepemilikan klon organ tubuh manusia menjadi semakin ruwet. Apakah pemilik klon organ tubuh tersebut adalah orang yang menyumbangkan sel organnya untuk diklon (donor sel), ataukah organ tesebut milik ilmuwan yang mengklon, atau milik klinik, laboratorium, rumah sakit tempat dia mengklonkan organ tubuhnya atau milik lembaga yang membiayai usaha klon tersebut ? Belum lagi dengan aspek yuridis yang berkaitan dengan perkawinan dan pewarisan manusia klon, serta masalah-masalah lain yang mungkin akan muncul seiring dengan dilaksanakanya teknologi kloning pada manusia.
Meskipun Bioetika mengenai bioteknologi, teknologi reproduksi dan kloning telah dibuat serta selalu diperbaharui oleh banyak fihak seperti badan dunia (UNESCO), Amerika Serikat, negara-negara Eropa, dan lembaga-lembaga ilmiah lainnya, dan kloning manusia diperkirakan baru akan terlaksana dalam kurun waktu 25 tahun mendatang, tetapi alangkah baiknya mulai sekarang kita perlu mempersiapkan aturan-aturan (undang-undang) berikut sangsi-sangsi hukumnya untuk mengantisipasi dilakukannya kloning pada manusia. Karena jika kita cermati secara seksama, maka permasalahan kloning pada manusia akan lebih banyak kesulitan yang muncul sebagai akibat dari dampak sosial, kultural, yuridis, etika dan moral daripada manfaat yang akan kita peroleh, sehingga perlu upaya untuk melarang kloning pada manusia. Menurut hemat penulis teknologi kloning sebagai bentuk perkembangan ilmu seyogyanya tetap dilanjutkan dan diarahkan pada penelitian-penelitian kedokteran untuk mengungkap dan mencari jawaban terhadap berbagai penyakit seperti kanker, penyakit keturunan, dan lain-lainnya. Teknologi kloning juga penting dalam rangka penemuan bibit-bibit unggul tumbuhan maupun hewan serta sebagai upaya untuk melestarikan tumbuhan maupun hewan langka dari ancaman kepunahan

Tanaman hasil rekasaya genetic
Gen-gen asing dapat disisipkan ke dalam sel-sel tanaman dengan cara yang cukup alami. Agrobacterium tumefaciens merupakan bakteri tanah penyebab infeksi tumor crown gall pada beberapa tanaman ini. Bakteri ini menyerang tanaman yang luka dan menyebabkan sel-sel tanaman memperbanyak diri hingga membentuk tumor.
Hal ini dapat terjadi karena Agrobacterium mampu menyisipkan plasmidnya sendiri (plasmid Ti) ke dalam kromosom tanaman. Plasmid gen bakteri ini bergabung dengan DNA tanaman dan menstimulasi pertumbuhan tumor. Ahli-ahli genetika tanaman telah berhasil menggantikan gen yang membentuk tumor pada plasmid dengan gen-gen yang berguna bagi manusia. Oleh karenanya, dalam hal ini Agrobacterium berfungsi sebagai vector.
Tanaman transgenic direkayasa dengan menggunakan Agrobacterium tumafaciens untuk memperoleh sifat sebagai berikut.

  1. Menunda pematangan buah
  2. Resistensi terhadap pestisida dan herbidida, mensintesis protein Kristal insektisidal (ICP) yang dapat membuat hama berhenti makan dan mati
  3. Resistensi terhadap kondisi lingkungan, transfer gen dapat menghasilkan tanaman yang tahan kering karena memiliki lapisan kutikula yang lebih tebal sehingga tumbuh baik di daerah kering.

F. PENANGGULANGAN DAMPAK NEGATIF BIOTEKNOLOGI
Bioteknologi telah menghasilkan produk-produk yang bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, perlu juga diperhatikan dampak negatif dari perkembangan bioteknologi tersebut. Beberapa dampak negatif yang mungkin timbul akibat dari perkembangan bioteknologi dinataranya sebagai berikut.

1) Alergi
Gen asing yang disisipkan pada organisme yang menjadi makanan manusia dapat menyebabkan alergi terhadap individu tertentu. Untuk mencegahnya, perlu dilakukan pengujian dalam jangka waktu yang lama untuk memastikan ada tidaknya efek negatif tersebut terhadap konsumen. Selain itu, produk yang mengandung organism hasil rekayasa bioteknologi harus diberi label dengan jelas guna memberi informasi kepada konsumen mengenai produk yang dikonsumsi.

2) Hilangnya plasma nutfah
Kepunahan plasma nutfah dapat diatasi dengan melakukan pemeliharaan berbagai jenis hewan dan tumbuhan di suatu situs konservasi tertentu.

3) Rusaknya ekosistem
Gangguan terhadap kondisi normal lingkungan dapat menyebabkan rusaknya ekosistem. Tanaman kapas Bt selain menyebabkan matinya hama ulat yang memakannya, juga diduga menyebabkan larva kupu-kupu lain ikut mati.

10.11. Ringkasan Materi
Cakupan Bidang Genetika adalah :
1. Cakupan material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik),
2. Cakupan bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan
3. Cakupan bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik).

  • Konsep terbaru tentang gen dianut hingga kini adalah satu gen – satu polipeptida. Dogma sentral adalah proses ekspresi gen yang mengikuti tahapan-tahapan dalam info genetik yang terdiri proses dasar replikasi DNA, transkripsi DNA menjadi RNA, dan translasi RNA menjadi protein atau polipeptida.
  • DNA Adalah asam nukleat yang mengandung informasi genetic yang terdapat dalam semua makluk hidup kecuali virus (Pembawa sifat keturunan)
  • DNA merupakan ‘blueprint’ yang berisi instruksi yang diperlukan untuk membangun komponen-komponen sel seperti protein dan molekul ARN (RibonucleicAcid=RNA)
  • Segmen DNA yang membawa informasi genetic disebut gen
  • DNA disusun oleh asam nukleat (polinukleotida) Polinukleotida adalah polimer dari nukleotida  Berarti: DNA disusun oleh nukleotida-nukleotida
  • Tiap nukleotida tersusun oleh : Gulapentosa (5 atom C) atau Gula deoksiribosa, Gugus fosfat (PO42-) dan Basa Nitrogen yang terdiri atas dua golongan, yakni pirimidin dan purin
  • Rumus Empirisnya  Gula  = (CH2O)n, dimana kalau Gula Pentosa = C5H10O5
  • Rumus Kimia Asam Fosfat = H3PO4.
  • Rumus Empirisnya Pirimidin adalah C₂H₂N, maka Rumus Molekulnya = C₄H₄N₂
  • Rumus Molekulnya Purin adalah C5H4N4
  • Basa Nitrogen
  1. Basa nitrogen terdiri dari kelompok senyawa Purin dan Pirimidin
  2. Basa nitrogen penyusun DNA dari kelompok Purin adalah Adenin (A) dan Guanin (G)
  3. Basa nitrogen penyusun DNA dari kelompok Pirimidin yaituTimin (T) dan Sitosin (C)
  4. Maka DNA tersusun dari A,T,C,G
  • Replikasi DNA adalah proses penggandaan rantai ganda DNA
  • RNA menjadi perantara antara informasi yang dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan dalam bentuk protein. Dengan demikian RNA  merupakan hasil sintesis atau transkripsi dari DNA
  • Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang tersusun dari sejumlah nukleotida.
  • Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus pentose, dan satu gugus basa nitrogen (basa N).
  • Basa nitrogen purin pada RNA terdiri atas adenin  (A) dan guanin (G), sedangkan pirimidinnya terdiri atas sitosin (S) dan urasilL (U).
  • Jadi Basa timin dari golongan pirimidin tidak terdapat dalam ARN melainkan digantikan oleh basa urasil (U)

µ    Polimer tersusun dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus pentosa dari nukleotida yang lain.

µ    Molekul RNA (Asam Ribo nukleat) berbentuk pita tunggal atau pita dobel namun tidak berpilin.

µ    Langkah Ekspresi Gen adalah adanyaPerubahan urutan basa di dalam molekul DNA menjadi urutan basa molekul RNA dinamakan transkripsi (Pembuatan Salinan RNA), sedangkan penerjemahan urutan basa RNA menjadi urutan asam amino suatu protein dinamakan translasi (Proses sintesis polipeptida yang spesifik di dalam ribosom).

µ    Jadi, proses tanskripsi dan translasi dapat dilihat sebagai tahap-tahap ekspresi urutan basa DNA. Namun, tidak semua urutan basa DNA akan diekspresikan menjadi urutan asam amino.

µ    Urutan basa DNA yang pada akhirnya menyandi urutan asam amino disebut sebagai gen.

µ    Secara kimia gen adalah urutan basa nitrogen tertentu pada molekul DNA yang dapat dieskpresikan melalui tahap-tahap transkripsi dan translasi menjadi urutan asam amino tertentu.

µ    Dengan demikian bahwa sejumlah asam amino dengan urutan (sekuens) tertentu akan menyusun sebuah molekul protein. Namun, setiap molekul protein sendiri dapat dilihat sebagai gabungan beberapa sub unit yang dinamakan polipeptida. Oleh karena itu, muncul pertanyaan tentang hakekat sebuah gen : tiap gen menyandi satu protein ataukah tiap gen menyandi satu polipeptida ?

µ    Perlu diketahui pula bahwa beberapa kesalahan yang disebut mutasi dapat terjadi pada proses ekspresi gen ini.

µ    Kode Genetik adalah Cara untuk menetapkan jumlah serta urutan nukleotida yang berperan dalam menentukan posisi yang tepat dari tiap aa dalam rantai peptida yang bertambah panjang.

µ    Dari beberapa percobaan dan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli disimpul kan bahwa kode genetic haruslah dalam bentuk kode triplet.

µ    Kode genetic umumnya berupa rangkaian informasi yang disebut Kodon yang masing-masing berpasangan dengan asam amino yang mengkode suatu protein.

µ    Sintesis protein merupakan proses penyusunan protein dari monomer peptide yang berlangsung di dalam intisel dan ribosom, dengan menggunakan bahan dasar yaitu berupa asam amino serta diatur susunannya oleh kode genetic. Sintesis protein dimulai dari anak inti sel, sitoplasma dan ribosom.

10.12. Umpan Balik

  1. Mengapa DNA dan RNA itu dikatakan sebagai materi genetik?
  2. Jika DNA atau RNA rusak apa akibatnya
  3. Apa hubungan antara Gen, DNA dan Kromosom
  4. Perbedaan Gen dan DNA
  5. Kesalahan transkripsi oleh RNAt dapat menimbulkan kesalahan pembentukan protein, Sebab Pada Proses Transkripsi Urutan Kode Genetic Dari Dna Dibawa Oleh RNAt Ke Ribosom Tempat Terjadinya Pembentukan Asam Amino Yang Termasuk Kodon Stop Adalah UAA, UAG, dan UGA, Sedangkan Kodon Start Adalah AUG. Jelaskan Pernyataan tersebut.
  6. Jelaskan 3 Cakupan Bidang Genetika.
  7. Jelaskan Konsep terbaru tentang gen yang dianut hingga kini adalah satu gen – satu polipeptida.
  8. Apa perbedaan Basa Nitrogen Timin dan Purin serta perbedaannya pada molekul DNA dengan RNA.
  9. Bagaimana Hubungan Materi Genetik dengan Rekayasa genetika.
  10. Bagaimana proses Rekayasa Genetika khususnya dalam menciptakan Vaksin.





Diktat Genetika Ternak-10c (Ketiga)

31 07 2012

10.9. Kode Genetik (Kodon)

 

 

(1) Pengertian Kode Genetik
Gen tertentu membawa informasi yang dibutuhkan untuk membuat protein dan informasi itulah yang disebut sebagai kode genetik. Dengan kata lain, kode genetik adalah cara pengkodean urutan nukleotida pada DNA atau RNA untuk menentukan urutan asam amino pada saat sintesis protein. Informasi pada kode genetik ditentukan oleh basa nitrogen pada rantai DNA yang akan menentukan susunan asam amino.

  • Dengan kata lain Kodon adalah Cara untuk menetapkan jumlah serta urutan nukleotida yang berperan dalam menentukan posisi yang tepat dari tiap aa dalam rantai peptida yang bertambah panjang

(2) Sejarah Kode Genetik

  • Dalam tahun 1968 nirenberg, khorana dan Holley menerima hadiah nobel untuk penelitian mereka yang sukses menciptakan kode-kode genetik yang hingga sekarang kita kenal. Seperti kita ketahui asam amino dikenal ada 20 macam, yaitu :

  • Yang menjadi masalah bagaimana 4 basa nitrogen ini dapat mengkode 20 macam asam amino yang diperlukan untuk mengontrol semua aktifitas sel?
  • Para peneliti melakukan penelitian pada bakteri E. Coli mula mula digunakan basa nitrogen singlet maka diperoleh 4 asam amino saja yang dapat diterjemahkan padahal ke 20 asam amino ini harus diterjemahkan semua agar protein yang dihasilkan dapat digunakan,
  • Kemudian para ilmuwan mencoba lagi dengan kodon duplet dan baru dapat untuk menterjemahlkan 16 asam amino ini pun belum cukup juga.
  • Kemudian dicoba dengan triplet dan dapat menterjemahkan 64 asam amino.
  • Hal ini tidak masalah sekalipun melebihi 20 asam amino, karena dari 64 asam amino yang diterjemahkan ada yang memiliki simbol/fungsi yang sama diantaranya (kodon asam asparat (GAU dan GAS) sama dengan asam asam tirosin (UAU,UAS) sama juga dengan triptopan (UGG) bahkan ini sangat menguntungkan pada proses pembentukkan protein karena dapat menggantikan asam amino yang kemungkinan rusak. Selain itu dari 20 asam amino diantaranya ada yang berfungsi sebagai agen pemotong gen atau tidak dapat bersambung lagi dengan double helix asam amino yang berfungsi sebagai agen pemotong gen diantaranya (UAA,UAG,UGA)
  • Beberapa sifat dari kode triplet diantaranya :
  1. Kode genetik ini mempunyai banyak sinonim sehingga hampir setiap asam amino dinyatakan oleh lebih dari sebuah kodon. Contoh semua kodon yang diawali dengan SS memperinci prolin,(SSU,SSS,SSA dan SSG) semua kodon yang diawali dengan AS memperinci treosin(ASU,ASS,ASA,ASG).
  2. Tidak tumpang tindih,artinya tiada satu basa tungggalpun yang dapat mengambil bagian dalam pembentukan lebih dari satu kodon,sehingga 64 itu berbeda-beda nukleotidanya.
  3. Kode genetik dapat mempunyai dua arti yaitu kodon yang sama dapat memperinci lebih dari satu asam amino.
  4. Kode genetik itu ternyata universal
  • Tiap triplet yang mewakili informasi bagi suatu asam amino tertentu dinyatakan sebagai kodon.Kode genetika bersifat degeneratif dikarenakan 18 dan 20 macam asam amino ditentukan oleh lebih dari satu kodon, yang disebut kodon sinonimus.Hanya metionin dan triptofan yang memiliki kodon tunggal.Kodon sinonimus tidak ditempatkan secara acak, tetapi dikelompokkan.Kodon sinnonimus memiliki perbedaan pada urutan basa ketiga.

Kesimpulan :

  1. Kesimpulannya adalah bahwa DNA merupakan bahan genetic yang member informasi genetic dari sel ke sel dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Informasi genetic tersebut bergantung dari urutan basa nitrogen yang menyusun segmen molekul DNAtersebut.
  2. Sarabai dkk. (1964) membuktikan bahwa urutan basa nitrogen dari suatu segmen molekul DNA identik dengan urutan linier dari asam-asam amino dalam molekul protein. Satu kelompok nukleotida yang memperinci suatu asam amino dinamakan.
  3. Dari beberapa percobaan dan penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli disimpul kan bahwa kode genetic haruslah dalam bentuk kode triplet.
  4. Kode genetic umumnya berupa rangkaian informasi yang disebut Kodon yang masing-masing berpasangan dengan asam amino yang mengkode suatu protein. Misalnya Kodon inisiasi AUG yang terjemahannya Metionin

10.10. Sintesis Protein
Ada banyak tahapan antara ekspresi genotip ke fenotip. Gen-gen tidak dapat langsung begitu saja menghasilkan fenotip-fenotip tertentu. Fenotip suatu individu ditentukan oleh aktivitas enzim (protein fungsional). Enzim yang berbeda akan menimbulkan fenotip yang berbeda pula. Perbedaan satu enzim dengan enzim yang lain ditentukan oleh jumlah jenis dan susunan asam amino penyusun protein enzim. Pembentukan asam amino ditentukan oleh gen atau DNA
Ekspresi gen merupakan proses dimana informasi yang dikode di dalam gen diterjemahkan menjadi urutan asam amino selama sintesis protein. Dogma sentral mengenai akspresi gen, yaitu DNA yang membawa informasi genetik yang ditranskripsi oleh RNA, dan RNA diterjemahkan menjadi polipeptida.
Ekspresi gen merupakan sintesis protein yang terdiri dari dua tahap, yaitu :

  1. Tahap pertama urutan rantai nukleotida tempale (cetakan) dari suatu DNA untai ganda disalin untuk menghasilkan satu rantai molekul RNA. Proses ini disebut transkripsi dan berlangsung di inti sel.
  2. Tahap kedua merupakan sintesis pilopeptida dengan urutan spesifik berdasarkan rantai RNA yang dibuat pada tahap pertama.Proses ini disebut translasi.

(1) Pengertian Sintesis Protein
Sintesis protein adalah proses pencetakan protein dalam sel. Sintesis protein merupakan proses penyusunan protein dari monomer peptide yang berlangsung di dalam intisel dan ribosom, dengan menggunakan bahan dasar yaitu berupa asam amino serta diatur susunannya oleh kode genetic. Sintesis protein dimulai dari anak inti sel, sitoplasma dan ribosom.
Sifat enzim (protein) sebagai pengendali dan penumbuh karakter makhluk hidup ditentukan oleh jumlah jenis, dan urutan asam amino yang menyusunnya.Jenis dan urutan asam amino ditentukan oleh ADN (Asam Dioksiribose Nukleat).

  1. Sintesa protein berlangsung dalam ribosom
  2. DNA mengandung informasi untuk mengatur dan membangun tubuh manusia yang kompleks. Akan tetapi bagaimana hasil ini dapat diselesaikan?
  3. Dengan membentuk protein
  4. Protein sangat diperlukan karena berbagai macam protein struktural dan fungsional ikut mengambil bagian di hampir semua proses dalam sel.
  5. Protein struktural terdapat dalam membran, serabut kontraktil dan filamen intrasellular.
  6. Protein fungsional seperti enzim sangat dibutuhkan untuk menjadi katalisator

Apakah protein itu?
1. Suatu seri asam amino (aa)
2. Gabungan dari 2 aa di sebut dipeptida
3. Gabungan dari banyak aa disebut polipeptida
4. Polipeptida punya berat molekul 10.000: protein

Syarat-syarat Sintesis Protein:
1. Bahan baku  : 20 jenis Asam Amino yang terdapat dalam sitoplasma
2. Arsitek : DNA
3. Pelaksana: m-RNA, r-RNA, dan t-RNA
4. Sumber Energi: ATP
5. Enzim: RNA Polimerase.

Beberapa perangkat yang dibutuhkan dalam sintesis protein yaitu :

  1. DNA (deoxyribonucleic acid = asam deoksiribonukleat)
  2. Ribosom, tersusun atas dua subunit yaitu, subunit besar dan subunit kecil. Dan terdiri atas tiga sisi yaitu, sisi A (amino acil),  sisi P(peptidil) dan sisi E (exit).
  3. RNAd (RNA duta) / mRNA (RNA massangger)
  4. RNAp (RNA pemindah) / tRNA (RNA transfer)
  5. RNAr (RNA ribosom)
  6. Selain perangkat-perangkat tadi, komponen-komponen lain yang ikut membantu dalam proses sintesis protein, yaitu enzim RNA polimerase.

(2) Tahap-Tahap Sintesis Protein
Sintesis protein meliputi dua langkah, yaitu transkripsi dan translasi.
A. Transkripsi
Tahap pertama ekspresi gen adalah transkripsi atau sintesis molekul RNA dari DNA (gen). Transkripsi adalah pembentukan mRNA (kode genetic) dari salah satu pita DNA dengan bantuan enzim RNA polimerase.
Sintesis RNA mempunyai ciri-ciri kimiawi yang serupa dengan sintesis DNA, yaitu:

  1. Adanya sumber basa nitrogen berupa nukleosida trifosfat. Bedanya dengan sumber basa untuk DNA hanyalah pada molekul gula pentosanya yang tidak berupa deoksiribosa tetapi ribosa dan tidak adanya basa timin tetapi tetapi digantikan oleh urasil. Jadi, keempat nukleosida trifosfat yang diperlukan adalah adenosin trifosfat (ATP), guanosin trifosfat (GTP), sitidin trifosfat (CTP), dan uridin trifosfat (UTP).
  2. Adanya molekul cetakan berupa untai DNA. Dalam hal ini hanya salah satu di antara kedua untai DNA yang akan berfungsi sebagai cetakan bagi sintesis molekul RNA. Untai DNA ini mempunyai urutan basa yang komplementer dengan urutan basa RNA hasil transkripsinya, dan disebut sebagai pita antisens. Sementara itu, untai DNA pasangannya, yang mempunyai urutan basa sama dengan urutan basa RNA, disebut sebagai pita sens. Meskipun demikian, sebenarnya transkripsi pada umumnya tidak terjadi pada urutan basa di sepanjang salah satu untai DNA. Jadi, bisa saja urutan basa yang ditranskripsi terdapat berselang-seling di antara kedua untai DNA.
  3. Sintesis berlangsung dengan arah 5’→ 3’ seperti halnya arah sintesis DNA.
  4. Gugus 3’- OH pada suatu nukleotida bereaksi dengan gugus 5’- trifosfat pada nukleotida berikutnya menghasilkan ikatan fosofodiester dengan membebaskan dua atom pirofosfat anorganik (PPi). Reaksi ini jelas sama dengan reaksi polimerisasi DNA. Hanya saja enzim yang bekerja bukannya DNA polimerase, melainkan RNA polimerase. Perbedaan yang sangat nyata di antara kedua enzim ini terletak pada kemampuan enzim RNA polimerase untuk melakukan inisiasi sintesis RNA tanpa adanya molekul primer.

mRNA membawa pesan DNA untuk memilih polipetida yang sesuai dalam sintesis protein. Pilinan DNA membuka sebagian salah satu rantainya (rantai sense) akan membentuk rantai penggenap (ARN duta) yang berisi kode genetik/kodon. Setelah ARN duta terbentuk, kemudian melepaskan diri dari DNA dan berpilin kembali.
Secara khusus Tahap-Tahap Transkripsi berlangsung dalam empat tahap, yaitu pengenalan promoter, inisiasi, elongasi, dan terminasi. Masing-masing akan dijelaskan sebagai berikut.

a) Pengenalan Promoter
Enzim RNA polimerase mengikat untai DNA cetakan pada suatu daerah yang mempunyai urutan basa tertentu sepanjang 20 hingga 200 basa. Daerah ini dinama kan promoter. Baik pada prokariot maupun eukariot, promoter selalu membawa suatu urutan basa yang tetap atau hampir tetap sehingga urutan ini dikatakan sebagai urutan konsensus. Pada prokariot urutan konsensusnya adalah TATAAT dan disebut kotak Pribnow, sedangkan pada eukariot urutan konsensusnya adalah TATAAAT dan disebut kotak TATA. Urutan konsensus akan menunjukkan kepada RNA polimerase tempat dimulainya sintesis. Kekuatan pengikatan RNA polimerase oleh promoter yang berbeda sangat bervariasi. Hal ini mengakibatkan perbedaan kekuatan ekspresi gen.

b) Inisiasi
Setelah mengalami pengikatan oleh promoter, RNA polimerase akan terikat pada suatu tempat di dekat daerah promoter, yang dinamakan tempat awal polimerisasi.  (RNA polimerase menempel pada promoter). Rantai DNA yang digunakan pada proses perekaman gen hanya satu buah, dinamakan  rantai sense. Sementara rantai lainnya merupakan rantai noncoding atau antisense. Nukleosida trifosfat pertama akan diletakkan di tempat ini dan sintesis RNA pun segera dimulai.
Inisiasi transkripsi tidak harus menunggu selesainya transkripsi sebelumnya. Hal ini karena begitu RNA polimerase telah melakukan pemanjangan 50 hingga 60 nukleotida, promoter dapat mengikat RNA polimerase yang lain. Pada gen-gen yang ditranskripsi dengan cepat reinisiasi transkripsi dapat terjadi berulang-ulang sehingga gen tersebut akan terselubungi oleh sejumlah molekul RNA dengan tingkat penyelesaian yang berbeda-beda.

c) Elongasi
Selama sintesis RNA berlangsung, maka RNA polimerase bergerak sepanjang molekul rantai DNA cetakan sambil menambahkan nukleotida demi nukleotida kepada untai RNA yang sedang diperpanjang sehingga dihasilkan rantai  RNA yang didalamya mengandung urutan basa nitrogen berjumlaah 30 buah, suatu senyawa kimia akan berikatan dengan ujung 5’ RNA

d) Terminasi
Proses perekaman berhenti dan molekul RNA yang baru akan terpisah dari DNA template. Dengan kata lain Molekul RNA yang baru saja selesai disintesis, dan juga enzim RNA polimerase, segera terlepas dari untai DNA cetakan begitu enzim tersebut mencapai urutan basa pengakhir (terminasi). Segera setelah molekul RNA terpisah sebanyak 100-200  molekul asam adenilat berikatan pada ujung 3’ RNA. Penambahan senyawa kimia tersebut menghasilkan urutan nukleotida adenin dalam jumlah yang banyak pada ujung 3’ RNA. Akhirnya dihasilkan produk transkripsi yang lengkap dinamakan messenger RNA(mRNA)
Terminasi dapat terjadi oleh dua macam sebab, yaitu terminasi yang hanya bergantung kepada urutan basa cetakan (disebut terminasi diri) dan terminasi yang memerlukan kehadiran suatu protein khusus (protein rho). Di antara keduanya terminasi diri lebih umum dijumpai. Terminasi diri terjadi pada urutan basa palindrom yang diikuti oleh beberapa adenin (A).
Urutan palindrom adalah urutan yang sama jika dibaca dari dua arah yang berlawanan. Oleh karena urutan palindom ini biasanya diselingi oleh beberapa basa tertentu, maka molekul RNA yang dihasilkan akan mempunyai ujung terminasi berbentuk batang dan kala (loop) seperti pada Gambar dibawah ini.

B. Translasi
Translasi merupakan proses penterjemahan kode genetik oleh RNA Transfer
Translasi meliputi tiga tahapan, yaitu :

a). Inisiasi
Inisiasi (permulaan), peletakan subunit ribosom kecil dan molekul tRNA met, diujung mRNA. Saat tRNA met (asam amino metionin) telah diletakkan diatas potongan kodon AUG pertama oleh mRNA, maka subunit ribosom besar diikat, membentuk sisi A dan sisi P. Akhirnya sintesis protein dimulai.
Jadi Inisiasi

  • Subunit keciL ribosom menempel pada kodon AUG
  • Met-tRNA terikat pada kodon AUG di sisi P

b) Elongasi
Elongasi (pemanjangan), sisi A dilingkupi oleh tRNA dengan melengkapi antikodon ke kodon mRNA. Terjadi pertumbuhan/ pemanjangan polipeptida, metionin dipindah ke asam amino yang masuk. Ribosom menggerakkan 3 nukleotida ke kanan.
Jadi Elongasi

  •  tRNA untuk kodon kedua terikat pada ribosom di sisi A
  •  Ikatan antara met-tRNA dan metionin terputus, met-tRNA meninggalkan sisi P. Ribosom bergerak ke kanan membawa tRNA yang akan menerjemahakan berikutnya di sisi A

c) Terminasi
Terminasi (penghentian), tRNA mempunyai antikodon yang merupakan pasangan  dari salah satu dari 3 kodon pemberi sinyal penghenti, misalnya kodon UGA.
Jadi Terminasi

  •  Ribosom mencapai kodon UAG. Rantai polipeptida dilepaskan
  •  Subunit ribosom terpisah kembali

Jadi, urutan singkat sintesis protein adalah sebagai berikut :

  1. DNA melalui proses replikasi, setelah DNA panjang bisa digunakan jadi cetakan untuk membentuk RNA di nukleus jenis mRNA. DNA membentuk mRNA untuk membawa kode sesuai urutan basa N-nya..
  2. mRNA mempunyai rantai tunggal keluar melalui membran nukleus masuk ke sitoplasma
  3. Didalam mRNA terdapat kodon yang terdiri dari 3 nukleotida
  4. RNA juga terdiri dari tRNA mengandung antikodon untuk membawa aa yang ditranslasi/ terjemahan dari 3 jenis kodon menjadi 1 jenis aa
  5. Dengan kata lain bahwa tRNA datang membawa asam amino yang sesuai dengan kode yang dibawa  oleh mRNA. tRNA ini bergabung dengan mRNA sesuai dengan kode pasangan basa N-nya yang seharusnya
  6. Antikodon ini akan melekat pada kodon yang terdapat di mRNA
  7. Asam-asam amino akan berjajar-jajar dalam urutan yang sesuai dengan kode sehingga terbentuklah protein yang diharapkan.
  8. rRNA tempat membentuk protein, proses pembentukan ini : translasi
  9. Proses pembentukan mRNA : translasi
  10. Protein yang dibentuk adalah gabungan aa yang dibawa tRNA
  11. Protein yang terbentuk merupakan enzim yang mengatur metabolisme sel dan reproduksi.

(3) Asam Amino

Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H), dan satu gugus sisa (R, dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya.
Atom C pusat tersebut dinamai atom Cα (“C-alfa”) sesuai dengan penamaan senyawa bergugus karboksil, yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina juga terikat pada atom Cα ini, senyawa tersebut merupakan asam α-amino.
Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar, dan hidrofobik jika nonpolar.

a. Isomerisme pada asam amino

Karena atom C pusat mengikat empat gugus yang berbeda, maka asam amino—kecuali glisina—memiliki isomer optik: l dan d. Cara sederhana untuk mengidentifikasi isomeri ini dari gambaran dua dimensi adalah dengan “mendorong” atom H ke belakang pembaca (menjauhi pembaca).
Jika searah putaran jarum jam (putaran ke kanan) terjadi urutan karboksil-residu-amina maka ini adalah tipe d. Jika urutan ini terjadi dengan arah putaran berlawanan jarum jam, maka itu adalah tipe l. (Aturan ini dikenal dalam bahasa Inggris dengan nama CLRN, dari singkatan COOH – RNH2).
Pada umumnya, asam amino alami yang dihasilkan eukariota merupakan tipe l meskipun beberapa siput laut menghasilkan tipe d. Dinding sel bakteri banyak mengandung asam amino tipe D.

b. Polimerisasi asam amino

Protein merupakan polimer yang tersusun dari asam amino sebagai monomernya. Monomer-monomer ini tersambung dengan ikatan peptida, yang mengikat gugus karboksil milik satu monomer dengan gugus amina milik monomer di sebelahnya. Reaksi penyambungan ini (disebut translasi) secara alami terjadi di sitoplasma dengan bantuan ribosom dan tRNA.
Pada polimerisasi asam amino, gugus -OH yang merupakan bagian gugus karboksil satu asam amino dan gugus -H yang merupakan bagian gugus amina asam amino lainnya akan terlepas dan membentuk air. Oleh sebab itu, reaksi ini termasuk dalam reaksi dehidrasi. Molekul asam amino yang telah melepaskan molekul air dikatakan disebut dalam bentuk residu asam amino.

c. Zwitter-ion

Karena asam amino memiliki gugus aktif amina dan karboksil sekaligus, zat ini dapat dianggap sebagai sekaligus asam dan basa (walaupun pH alaminya biasanya dipengaruhi oleh gugus-R yang dimiliki). Pada pH tertentu yang disebut titik isolistrik, gugus amina pada asam amino menjadi bermuatan positif (terprotonasi, –NH3+), sedangkan gugus karboksilnya menjadi bermuatan negatif (terdeprotonasi, –COO-).
Titik isolistrik ini spesifik bergantung pada jenis asam aminonya. Dalam keadaan demikian, asam amino tersebut dikatakan berbentuk zwitter-ion. Zwitter-ion dapat diekstrak dari larutan asam amino sebagai struktur kristal putih yang bertitik lebur tinggi karena sifat dipolarnya. Kebanyakan asam amino bebas berada dalam bentuk zwitter-ion pada pH netral maupun pH fisiologis yang dekat netral.
Protein tersusun dari berbagai asam amino yang masing-masing dihubungkan dengan ikatan peptida. Meskipun demikian, pada awal pembentukannya protein hanya tersusun dari 20 asam amino yang dikenal sebagai asam amino dasar atau asam amino baku atau asam amino penyusun protein (proteinogenik). Asam-asam amino inilah yang disandi oleh DNA/RNA sebagai kode genetik

(4) Macam Asam Amino
Berikut adalah ke-20 asam amino penyusun protein (singkatan dalam kurung menunjukkan singkatan tiga huruf dan satu huruf yang sering digunakan dalam kajian protein), dikelompokkan menurut sifat atau struktur kimiawinya:

A. Asam amino alifatik sederhana
Glisina (Gly, G)
Alanina (Ala, A)
Valina (Val, V)
Leusina (Leu, L)
Isoleusina (Ile, I)
B. Asam amino hidroksi-alifatik
Serina (Ser, S)
Treonina (Thr, T)
C. Asam amino dikarboksilat (asam)
Asam aspartat (Asp, D)
Asam glutamat (Glu, E)
D. Amida
Asparagina (Asn, N)
Glutamina (Gln, Q)
E. Asam amino basa
Lisina (Lys, K)
Arginina (Arg, R)
Histidina (His, H) (memiliki gugus siklik)
F. Asam amino dengan sulfur
Sisteina (Cys, C)
Metionina (Met, M)
G. Prolin
Prolina (Pro, P) (memiliki gugus siklik)
H. Asam amino aromatic (Kelompok ini memiliki cincin benzena dan menjadi bahan baku metabolit sekunder aromatik)
Fenilalanina (Phe, F)
Tirosina (Tyr, Y)
Triptofan (Trp, W)

(5) Fungsi biologi asam amino

  1. Penyusun protein, termasuk enzim.
  2. Kerangka dasar sejumlah senyawa penting dalam metabolisme (terutama vitamin, hormon dan asam nukleat).
  3. Pengikat ion logam penting yang diperlukan dalam dalam reaksi enzimatik (kofaktor).

(6) Asam amino esensial
Asam amino diperlukan oleh makhluk hidup sebagai penyusun protein atau sebagai kerangka molekul-molekul penting. Ia disebut esensial bagi suatu spesies organisme apabila spesies tersebut memerlukannya tetapi tidak mampu memproduksi sendiri atau selalu kekurangan asam amino yang bersangkutan. Untuk memenuhi kebutuhan ini, spesies itu harus memasoknya dari luar (lewat makanan). Istilah “asam amino esensial” berlaku hanya bagi organisme heterotrof.
Bagi manusia, ada delapan (ada yang menyebut sembilan) asam amino esensial yang harus dipenuhi dari diet sehari-hari, yaitu isoleusina, leusina, lisina, metionina, fenilalanina, treonina, triptofan, dan valina. Histidina dan arginina disebut sebagai “setengah esensial” karena tubuh manusia dewasa sehat mampu memenuhi kebutuhannya. Asam amino karnitina juga bersifat “setengah esensial” dan sering diberikan untuk kepentingan pengobatan.

Macam Asam Amino Esensial
1. ISOLEUCINE (4,13%)
Diperlukan untuk pertumbuhan yang optimal. Perkembangan kecerdasan. Mempertahankan keseimbangan nitrogen tubuh. Diperlukan untuk pembentukan asam amino non esensial lainnya. Penting untuk pembentukan haemoglobin dan menstabilkan kadar gula darah (kekurangan dapat memicu gejala hypoglycemia).
2. LEUCINE (5,80%)
Pemacu fungsi otak. Menambah tingkat energi otot. Membantu menurunkan kadar gula darah yang berlebihan. Membantu penyembuhan tulang, jaringan otot dan kulit (terutama untuk mempercepat penyembuhan luka post – operative).
3. LYCINE (4,00%)
Bahan dasar antibodi darah. Memperkuat sistem sirkulasi. Mempertahankan pertumbuhan sel-sel normal. Bersama proline dan Vitamin C akan membentuk jaringan kolagen. Menurunkan kadar triglyserida darah yang berlebih. Kekurangan menyebabkan mudah lelah, sulit konsentrasi, rambut rontok, anemia, pertumbuhan terhambat dan kelainan reproduksi.
4. METHIONINE (2,17%)
Penting untuk metabolisme lemak. Menjaga kesehatan hati, menenangkan syaraf yang tegang. Mencegah penumpukan lemak di hati dan pembuluh darah arteri terutama yang mensuplai darah ke otak, jantung dan ginjal. Penting untuk mencegah alergi, osteoporosis, demam rematik dan toxemia pada kehamilan serta detoxifikasi zat-zat berbahaya pada saluran cerna.
5. PHENYLALANINE (3,95%)
Diperlukan oleh kelenjar tiroid untuk menghasilkan tiroksin yang akan mencegah penyakit gondok. Dipakai untuk mengatasi depresi juga untuk mengurangi rasa sakit akibat migrain, menstruasi dan arthritis. Menghasilkan norepinephrine otak yang membantu daya ingat dan daya hafal. Mengurangi obesitas.
6. THREONINE (4,17%)
Meningkatkan kemampuan usus dan proses pencernaan. Mempertahankan keseimbangan protein. Penting dalam pembentukan kolagen dan elastin. Membantu hati, jantung, sistem syaraf pusat, otot-otot rangka dengan fungsi lipotropic. Mencegah serangan epilepsi.
7. TRYPTOPHANE (1,13%)
Meningkatkan penggunaan dari vitamin B kompleks. Meningkatkan kesehatan syaraf. Menstabilkan emosi. Meningkatkan rasa ketenangan dan mencegah insomnia (membantu anak yang hiperaktif). Meningkatkan pelepasan hormon pertumbuhan yang penting dalam membakar lemak untuk mencegah obesitas dan baik untuk jantung.
8. VALINE (6,00%)
Memacu kemampuan mental. Memacu koordinasi otot. Membantu perbaikan jaringan yang rusak. Menjaga keseimbangan nitrogen.

Macam Asam Amino Non Esensial
1. ALANINE (5,82%)
Memperkuat membran sel. Membantu metabolisme glukosa menjadi energi tubuh.
2. ARGININE (5,98%)
Penting untuk kesehatan reproduksi pria karena 80% cairan semen terdiri dari arginine. Membantu detoxifikasi hati pada sirosis hati dan fatty liver. Membantu meningkatkan sistem imun. Menghambat pertumbuhan sel tumor dan kanker. Membantu pelepasan hormon pertumbuhan.
3. ASPARTIC ACID (6,34%)
Membantu perubahan karbohidrat menjadi energi sel. Melindungi hati dengan membantu mengeluarkan amonia berlebih dari tubuh. Membantu fungsi sel dan pembentukan RNA/DNA.
4. CYSTINE (0,67%)
Membantu kesehatan pankreas. Menstabilkan gula darah dan metabolisme karbohidrat. Mengurangi gejala alergi makanan dan intoleransi. Penting untuk pembentukan kulit, terutama penyembuhan luka bakar dan luka operasi. Membantu penyembuhan kelainan pernafasan seperti bronchitis. Meningkatkan aktifitas sel darah putih melawan penyakit.
5. GLUTAMIC ACID (8,94%)
Merupakan bahan bakar utama sel-sel otak bersama glukosa. Mengurangi ketergantungan alkohol dan menstabilkan kesehatan mental.
6. GLYCINE (3,50%)
Meningkatkan energi dan penggunaan oksigen di dalam sel. Penting untuk kesehatan sistem syaraf pusat. Penting untuk menjaga kesehatan kelenjar prostat. Mencegah serangan epilepsi dan pernah dipakai untuk mengobati depresi. Diperlukan sistem imun untuk mensintesa asam amino non esensial.
7. HISTIDINE (1,08%)
Memperkuat hubungan antar syaraf khususnya syaraf organ pendengaran. Telah dipakai untuk memulihkan beberapa kasus ketulian. Perlu untuk perbaikan jaringan. Perlu dalam pengobatan alergi, rheumatoid arthritis, anemia. Perlu untuk pembentu-kan sel darah merah dan sel darah putih.
8. PROLINE (2,97%)
Sebagai bahan dasar glutamic acid. Bersama lycine dan vitamin C akan membentuk jaringan kolagen yang penting untuk menjaga kecantikan kulit. Memperkuat persendian, tendon, tulang rawan dan otot jantung.
9. SERINE (4,00%)
Membantu pembentukan lemak pelindung serabut syaraf (myelinsheaths). Penting dalam metabolisme lemak dan asam lemak, pertumbuhan otot dan kesehatan sistem imun. Membantu produksi antibodi dan immunoglobulin.
10. TYROSINE (4,60%)
Memperlambat penuaan sel. Menekan pusat lapar di hipotalamus. Membantu produksi melanin. Penting untuk fungsi kelenjar adrenal, tiroid dan pituitary. Penting untuk pengobatan depresi, alergi dan sakit kepala. Kekurangan menyebabkan hypothyroidism dengan gejala lemah, lelah, kulit kasar, pembengkakan pada tangan, kaki, dan muka, tidak tahan dingin, suara kasar, daya ingat dan pendengaran menurun serta kejang otot.
11. GAMMA – AMINOBUTYRIC ACID (GABA) (**)
Menghambat sel dari ketegangan. Mencegah ansietas dan depresi bersama niacin dan inositol.
12. ORNITHINE (**)
Membantu pelepasan hormon pertumbuhan yang memetabolisir lemak tubuh yang berlebihan jika digabung dengan arginine dan carnitine. Penting untuk fungsi sistem imun dan fungsi hati yang sehat. Penting untuk detoxifikasi amonia dan membantu proses penyembuhan.
13. TAURINE (**)
Menjaga kesehatan otot jantung, sel darah putih, otot rangka dan sistem syaraf pusat. Komponen penting dari cairan empedu yang penting untuk pencernaan lemak, absorbsi vitamin larut dalam lemak (A, D, E, K). Menjaga kadar kolesterol darah. Kekurangan menyebabkan ansietas, epilepsi, hiperaktif dan fungsi otak yang buruk. Disintesa dari asam amino cysteine.
14. CYSTEINE (**)
Dibentuk dari asam amino methionine dengan bantuan vitamin B6. Merupakan bahan dasar glutathione yaitu salah satu antioksidan terbaik yang bekerja optimum bila bersama vitamin E dan selenium. Melindungi sel dari zat-zat berbahaya, efek radiasi. Melindungi hati dan otak dari alkohol dan rokok. Penting dalam pengobatan bronchitis, emphysema, TBC, dan rheumatoid arthritis. Mudah berubah menjadi cystine.
15. CITRULLINE (**)
Menghasilkan energi. Meningkatkan sistem imunitas. Dimetabolisir menjadi arginine. Penting dalam detoxifikasi amonia yang merusak sel-sel sehat.

(Berlanjut ke Bab 10-d)





Diktat Genetika Ternak-10b (Kedua)

31 07 2012

10.7. RNA (Ribosa Nucleic Acid)
(1) Pengertian RNA
Asam Ribonukleat (Bahasa Inggris: ribonucleic acid, RNA) senyawa yang merupakan bahan genetik dan memainkan peran utama dalam ekspresi genetik. Dalam dogma pokok (central dogma) genetika molekular, RNA menjadi perantara antara informasi yang dibawa DNA dan ekspresi fenotipik yang diwujudkan dalam bentuk protein. Dengan demikian RNA  merupakan hasil sintesis atau transkripsi dari DNA

(2) Struktur RNA

  • Struktur dasar RNA mirip dengan DNA. RNA merupakan polimer yang tersusun dari sejumlah nukleotida.
  • Setiap nukleotida memiliki satu gugus fosfat, satu gugus pentose, dan satu gugus basa nitrogen (basa N).
  • Basa nitrogen purin pada RNA terdiri atas adenin  (A) dan guanin (G), sedangkan pirimidinnya terdiri atas sitosin (S) dan urasilL (U).
  • Jadi Basa timin dari golongan pirimidin tidak terdapat dalam ARN melainkan digantikan oleh basa urasil (U)
  • Polimer tersusun dari ikatan berselang-seling antara gugus fosfat dari satu nukleotida dengan gugus pentosa dari nukleotida yang lain.
  • Molekul RNA (Asam Ribo nukleat) berbentuk pita tunggal atau pita dobel namun tidak berpilin.

(3) Perbedaan DNA dengan RNA
Perbedaan RNA dengan DNA antara lain :

  • Ukuran dan bentuk : Pada umumnya molekul RNA lebih pendek dari molekul DNA. DNA berbentuk double helix, sedangkan RNA berbentuk pita tunggal. Meskipun demikian pada beberapa virus tanaman, RNA merupakan pita double namun tidak terpilih sebagai spiral.
  • Susunan kimia Molekul RNA juga merupakan polimer nukleotida, perbedaannya dengan DNA yaitu: a. Gula yang menyusunnya bukan dioksiribosa, melainkan ribosa. b. Basa pirimidin yang menyusunnya bukan timin seperti DNA, tetapi urasil
  • Lokasi : DNA pada umumnya terdapat di kromosom, sedangkan RNA tergantung dari macamnya, yaitu: a. RNA d(RNA duta), terdapat dalam nukleus, RNA d dicetak oleh salah satu pita DNA yang berlangsung didalam nukleus. b. RNA p(RNA pemindah) atau RNA t(RNA transfer), terdapat di sitoplasma. c. RNA r(RNA ribosom), terdapat didalam ribosom.
  • Fungsinya : DNA berfungsi memberikan informasi atau keterangan genetik, sedang kan fungsi RNA tergantung dari macamnya, yaitu: a. RNA d, menerima informasi genetik dari DNA, prosesnya dinamakan transkripsi, berlangsung didalam inti sel. b. RNA t, mengikat asam amino yang ada di sitoplasma. c. RNA t, mensintesa protein dengan menggunakan bahan asam amino, proses ini berlangsung di ribosom dan hasil akhir berupa polipeptida.
  • Lebih Jelasnya Lihat Tabel berikut :

(4) RNA Genetik dan RNA Non Genetik

  • RNA Genetik dimiliki oleh beberapa virus seperti virus mozaik tembakau, virus influensa, virus kaki dan mulut, dll ,juga dimiliki oleh bakteriofag. Virus-virus tersebut tidak memiliki DNA sehingga RNA merupakan molekul yang membawa informasi genetic seperti DNA ,sehingga RNA-nya disebut sebagai RNA Genetik
  • Pada makhluk hidup dimana keterangan genetic terdapat dalam DNA maka RNA-nya disebut sebagai RNA Non Genetik. RNA non genetic berdasarkan tempat terdapat nya serta fungsinya disebut Tipe  RNA.

(5) Fungsi RNA

  • Pada sekelompok virus (misalnya bakteriofag), RNA merupakan bahan genetik. Ia berfungsi sebagai penyimpan informasi genetik, sebagaimana DNA pada organisme hidup lain. Ketika virus ini menyerang sel hidup, RNA yang dibawanya masuk ke sitoplasma sel korban, yang kemudian ditranslasi oleh sel inang untuk menghasilkan virus-virus baru.
  • Namun demikian, peran penting RNA terletak pada fungsinya sebagai perantara antara DNA dan protein dalam proses ekspresi genetik karena ini berlaku untuk semua organisme hidup. Dalam peran ini, RNA diproduksi sebagai salinan kode urutan basa nitrogen DNA dalam proses transkripsi. Kode urutan basa ini tersusun dalam bentuk ‘triplet’, tiga urutan basa N, yang dikenal dengan nama kodon. Setiap kodon berelasi dengan satu asam amino (atau kode untuk berhenti), monomer yang menyusun protein.
  • Penelitian mutakhir atas fungsi RNA menunjukkan bukti yang mendukung atas teori dunia RNA, yang menyatakan bahwa pada awal proses evolusi, RNA merupakan bahan genetik universal sebelum organisme hidup memakai DNA.

(6) Tipe RNA
Transkripsi DNA menghasilkan molekul RNA (RNA Non Genetic) yang kemudian akan mengalami diferensiasi struktur sesuai dengan fungsinya masing-masing. RNA hadir di alam dalam berbagai macam/tipe. Sebagai bahan genetik, RNA berwujud sepasang pita (Inggris double-stranded RNA, dsRNA).
Genetika molekular klasik mengajarkan, pada eukariota terdapat tiga tipe RNA yang terlibat dalam proses sintesis protein, yaitu

1.   mRNA (RNA messenger/Kurir) RNA-kurir (bahasa Inggris: messenger-RNA, mRNA), yang disintesis dengan RNA polimerase I.
mRNA bertugas menerima informasi/keterangan genetik dari DNA. Proses ini dinamakan transkripsi dan berlangsung dalam nukleus. Berfungsi sebagai perantara antara DNA krom dan asam amino sitoplasma. Berperan penting dalam pembuatan protein

2.   rRNA (RNA ribosom) RNA-ribosom (bahasa Inggris: ribosomal-RNA, rRNA), yang disintesis dengan RNA polimerase II
rRNA bertugas mensintesa protein dengan menggunakan asam amino. Proses ini berlangsung dalam ribosom dan hasil akhirnya adalah polipeptida

3.   tRNA (RNA transfer) RNA-transfer (bahasa Inggris: transfer-RNA, tRNA), yang disintesis dengan RNA polimerase III.
tRNA bertugas mengikat asam amino yang terdapat dalam sitoplasma. Sebelum dapat diikat oleh tRNA, asam animo berekasi terlebih dahulu dengan ATP supaya berenergi dan aktif. tRNA membawa asam amino yang diikat itu ke ribosom. Disinilah berlansung perubahan informasi genetik yang dinyatakan oleh urutan basa dari mRNA ke urutan asam amino dalam protein yang dibentuk. Proses perubahan ini disebut Translasi

Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 diketahui bahwa RNA hadir dalam berbagai macam bentuk dan terlibat dalam proses pascatranslasi. Dalam pengaturan ekspresi genetik orang sekarang mengenal RNA-mikro (miRNA) yang terlibat dalam “peredaman gen” atau gene silencing dan small-interfering RNA (siRNA) yang terlibat dalam proses pertahanan terhadap serangan virus

A. mRNA (RNA messenger)

  1. mRNA dibentuk didalam nucleus dan ukurannya sangat bervariasi. RNA duta atau messenger RNA (mRNA), yang mempunyai struktur linier kecuali bagian ujung terminasinya yang berbentuk batang dan kala.
  2. Molekul mRNA membawa urutan basa yang sebagian di antaranya akan ditranslasi menjadi urutan asam amino. Kode genetik mRNA bergantung pada kode genetik DNA yang harus dibawa. mRNA berperan membawa kode genetik DNA dari inti sel menuju ribosom.
  3. Urutan basa yang dinamakan urutan penyandi (coding sequences) ini dibaca tiga demi tiga. Artinya, tiap tiga basa akan menyandi pembentukan satu asam amino sehingga tiap tiga basa ini dinamakan triplet kodon. Pada prokariot bagian mRNA yang tidak ditranslasi terletak di depan urutan penyandi (disebut pengarah atau leader) dan di antara dua urutan penyandi (disebut spacer sequences atau noncoding sequences).
  4. Sementara itu, pada eukariot di samping kedua bagian tadi ada juga bagian di dalam urutan penyandi yang tidak ditranslasi. Bagian inilah yang dinamakan intron seperti telah dijelaskan di atas. Molekul mRNA pada prokariot sering kali membawa sejumlah urutan penyandi bagi beberapa polipeptida yang berbeda. Molekul mRNA seperti ini dinamakan mRNA polisistronik. Dengan adanya mRNA polisistronik, sintesis beberapa protein yang masih terkait satu sama lain dapat diatur dengan lebih efisien karena hanya dibutuhkan satu sinyal. Pada eukariot hampir tidak pernah dijumpai mRNA polisistronik.

B.tRNA (RNA transfer)

  • RNA pemindah atau transfer RNA (tRNA), yang strukturnya mengalami modifikasi hingga berbentuk seperti daun semanggi. Seperti halnya struktur ujung terminasi mRNA, struktur seperti daun semanggi ini terjadi karena adanya urutan palindrom yang diselingi oleh beberapa basa.
  • tRNA berperan dalam mengangkut asam amino ke tempat sintesis protein, yaitu ribosom melalui translasi dari mRNA
  • Pada salah satu kalanya, tRNA membawa tiga buah basa yang komplemeter dengan triplet kodon pada mRNA. Ketiga basa ini dinamakan antikodon

Sementara itu, pada ujung 3’-nya terdapat tempat pengikatan asam amino tertentu. Pengikatan yang membentuk molekul aminoasil-tRNA ini terjadi dengan bantuan enzim aminoasil-tRNA sintetase. Dalam hal ini gugus hidroksil (OH) pada ujung 3’ tRNA terikat sangat kuat dengan gugus karboksil (COOH) asam amino. Macam asam amino yang dibawa ditentukan oleh urutan basa pada antikodon. Jadi, ada beberapa macam aminoasil-tRNA sesuai dengan antikodon dan macam asam amino yang dibawanya.

C.  rRNA (RNA ribosom)

  • rRNA ribosom dapat mencapai sekitar 80% dari jumlah RNA dalam sel dan banyak ditemukan dalam ribosom dan yang lainnya berupa protein. Molekul RNA ribosom berupa rantai tunggal tidak bercabang dan fleksibel.
  • Molekul rRNA, dan juga tRNA, dapat dikatakan sebagai RNA struktural dan tidak ditranslasi menjadi asam amino/protein
  • Peran rRNA adalah sebagai pengatur sintesis protein dan sebagai penyusun ribosom.
  • Jadi  rRNA adalah bagian mesin sel yang menyintesis protein

RNA merupakan sintesis produk awal ekspresi genom, tetapi tidak semua RNA merupakan transkriptom/coding RNA dan kebanyakan RNA merupakan non-coding RNA. Perbedaan kedua macam RNA tersebut adalah:

1. Coding RNA
Cara membedakan kandungan RNA melalui fungsi dalam sel. Pembagian utama adalah coding RNA dan non-coding RNA. Coding RNA terdiri atas transkriptom dan satu kelas molekul messager RNA (mRNAs) fungsinya untuk mengkode protein. mRNAs masa hidupnya pendek.
2. Non-coding RNA
Baik prokariot maupun eukariot dibagi menjadi dua tipe:

  • Ribosomal RNA (rRNA) merupakan tipe RNA yang paling banyak yang berfungsi untuk sintesis protein.
  • Transfer RNA (tRNA) adalah molekul yang terlibat dalam sintesis protein. Eukariot memiliki non-coding RNA pendek seperti:
  1. Small nuclear RNA (snRNA) atau URNA. Molekul ini kaya nukleotida uridin.
  2. Small nucleolar RNA (snoRNA) penting dalam pemrosesan molekul rRNA.
  3. Small cytoplasmic RNA (scRNA) belum diketahui fungsinya.

(7) Pembuktian RNA sebagai Materi Genetik pada Virus Tertentu
Beberapa virus tertentu diketahui tidak mempunyai DNA, tetapi hanya tersusun dari RNA dan protein. Untuk memastikan di antara kedua makromolekul tersebut yang berperan sebagai materi genetik, antara lain telah dilakukan percobaan rekonstitusi yang dilaporkan oleh H. Fraenkel-Conrat dan B. Singer pada tahun 1957.
Mereka melakukan penelitian pada virus mozaik tembakau atau tobacco mozaic virus (TMV), yaitu virus yang menyebabkan timbulnya penyakit mozaik pada daun tembakau. Virus ini mengandung molekul RNA yang terbungkus di dalam selubung protein. Dengan perlakuan kimia tertentu molekul RNA dapat dipisahkan dari selubung proteinnya untuk kemudian digabungkan (direkonstitusi) dengan selubung protein dari strain TMV yang lain

RNA dari strain A direkonstitusi dengan protein strain B. Sebaliknya, RNA dari strain B direkonstitusi dengan protein dari strain A. Kedua TMV hasil rekonstitusi ini kemudian diinfeksikan ke inangnya (daun tembakau) agar mengalami penggandaan. TMV hasil penggandaan ternyata merupakan strain A jika RNAnya berasal dari strain A dan merupakan strain B jika RNAnya berasal dari strain B. Jadi, faktor yang menentukan strain hasil penggandaan adalah RNA, bukan protein. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa materi genetik pada virus-virus yang tidak mempunyai DNA, seperti halnya TMV, adalah RNA.

10.8. Ekspresi Gen
A. Pengertian Ekspresi Gen

  • Ekspresi gen merupakan rangkaian proses penerjemahan informasi genetik dalam bentuk urutan basa pada DNA atau RNA (Kode Genetik) menjadi protein, dan lebih jauh lagi: fenotipe. Informasi yang dibawa bahan genetik tidak bermakna apa pun bagi suatu organisme apabila tidak diekspresikan menjadi fenotipe.
  • Langkah Ekspresi Gen adalah adanyaPerubahan urutan basa di dalam molekul DNA menjadi urutan basa molekul RNA dinamakan transkripsi (Pembuatan Salinan RNA), sedangkan penerjemahan urutan basa RNA menjadi urutan asam amino suatu protein dinamakan translasi (Proses sintesis polipeptida yang spesifik di dalam ribosom).
  • Jadi, proses tanskripsi dan translasi dapat dilihat sebagai tahap-tahap ekspresi urutan basa DNA.
  • Namun, tidak semua urutan basa DNA akan diekspresikan menjadi urutan asam amino.
  • Urutan basa DNA yang pada akhirnya menyandi urutan asam amino disebut sebagai gen.
  • Secara kimia gen adalah urutan basa nitrogen tertentu pada molekul DNA yang dapat dieskpresikan melalui tahap-tahap transkripsi dan translasi menjadi urutan asam amino tertentu.
  • Dengan demikian bahwa sejumlah asam amino dengan urutan (sekuens) tertentu akan menyusun sebuah molekul protein. Namun, setiap molekul protein sendiri dapat dilihat sebagai gabungan beberapa sub unit yang dinamakan polipeptida. Oleh karena itu, muncul pertanyaan tentang hakekat sebuah gen : tiap gen menyandi satu protein ataukah tiap gen menyandi satu polipeptida ?
  • Perlu diketahui pula bahwa beberapa kesalahan yang disebut mutasi dapat terjadi pada proses ekspresi gen ini.

B. Peta Konsep Ekspresi Gen

C.Prokariot dan Eukariot
Istilah prokariot diturunkan dari bahasa Yunani yang berarti kacang, biji, atau inti. Prokariot berarti “pra inti,” Pada prokariot, senyawa genetik ditempatkan di dalam suatu badan inti atau badan serupa inti yang agak acak dan tidak dikelilingi oleh membran. Sekarang, kita akan menelaah sel prokariot dan eukariot secara lebih terinci
Prokariot terdiri dari kira-kira 3000 spesies bakteri, termasuk organisme yang umumnya disebut ganggang hijau biru (blue-green algae). Ganggang hijau-biru merupakan suatu keluarga khusus dari bakteri; nama modern yang lebih disukai adalah cyanobacter (cyano = biru). Golongan sianobakteri berbeda dengan golongan lain, dan sering terpisah sendiri, karena golongan ini melangsungkan sistem fotosintesis yang dapat menghasilkan oksigen, menyerupai sistem pada tumbuhan hijau tingkat tinggi.
Sel prokariot juga sangat penting dalam mempelajari biokimia dan biologi molekuler karena strukturnya yang sederhana, kecepatan dan kemudahan pertumbuhan sel, dan mekanisme yang relatif sederhana di dalam reproduksi dan transmisi informasi genetik. Pada kondisi optimum, bakteri E, colf akan membelah diri setiap 20 sampai 30 menit pada suhu 37°C di dalam medium glukosa sederhana, garam-garam amonium, dan mineral. Ciri penting lain dari prokariot adalah bahwa golongan ini bereproduksi dengan cara aseksual yang amat sederhana.Organisme ini tumbuh hingga ukurannya berlipat ganda, lalu membelah diri menjadi sel anak yang identik. Tiap sel menerima seperangkat (satu “copy”) materi genetik (DNA) dari sel induk. Sel prokariot hanya mempunyai satu kromosom, terdiri dari molekul DNA sulur ganda.
Sel semua hewan dan tumbuhan tingkat yang lebih tinggi dan sel jamur merupakan sel-sel eukariot. Terdapat juga berbagai eukariot bersel tunggal, termasuk berbagai spesies protozoa, diatome, eugenoid, ragi, dan lapang berlendir. Karena golongan ini mempunyai jumlah bahan genetik yang jauh lebih banyak, dan karena organisme ini sering melangsungkan konyugasi seksual yang memungkinkan pertukaran gen, bentuk kehidupan eukariot mampu melakukan diferensiasi dan spesialisasi secara lebih luas dibandingkan dengan prokariot. Jadi, organisme eukariot mempunyai jutaan spesies yang berbeda, dibandingkan dengan spesies prokariot yang hanya beberapa ribu.. Secara taksonomi eukariot dikelompokkan menjadi empat kingdom, masing-masing hewan (animalia), tumbuhan (plantae), jamur (fungi), dan protista, yang terdiri atas alga dan protozoa.
Salah satu ciri sel eukariot adalah adanya organel-organel subseluler dengan fungsi-fungsi metabolisme yang telah terspesialisasi. Tiap organel ini terbungkus dalam suatu membran. Sel eukariot pada umumnya lebih besar daripada sel prokariot. Diameternya berkisar dari 10 hingga 100 µm. Seperti halnya sel prokariot, sel eukariot diselimuti oleh membran plasma. Pada tumbuhan dan kebanyakan fungi serta protista terdapat juga dinding sel yang kuat di sebelah luar membran plasma. Di dalam sitoplasma sel eukariot selain terdapat organel dan ribosom, juga dijumpai adanya serabut-serabut protein yang disebut sitoskeleton. Serabut-serabut yang terutama berfungsi untuk mengatur bentuk dan pergerakan sel ini terdiri atas mikrotubul (tersusun dari tubulin) dan mikrofilamen (tersusun dari aktin).
Sebagian besar organisme eukariot bersifat multiseluler dengan kelompok-kelompok sel yang mengalami diferensiasi selama perkembangan individu. Peristiwa ini terjadi karena pembelahan mitosis akan menghasilkan sejumlah sel dengan perubahan pola ekspresi gen sehingga mempunyai fungsi yang berbeda dengan sel asalnya. Dengan demikian, kandungan DNA pada sel-sel yang mengalami diferensiasi sebenar nya hampir selalu sama, tetapi gen-gen yang diekspresikan berbeda antara satu dan lainnya.
Diferensiasi diatur oleh gen-gen pengatur perkembangan. Mutasi yang terjadi pada gen-gen ini dapat mengakibatkan abnormalitas fenotipe individu, misalnya tumbuh nya kaki di tempat yang seharusnya digunakan untuk antena pada lalat Drosophila. Namun, justru dengan mempelajari mutasi pada gen-gen pengatur perkembangan, kita dapat memahami berlangsungnya proses perkembangan embrionik.
Pada organisme multiseluler koordinasi aktivitas sel di antara berbagai jaringan dan organ diatur oleh adanya komunikasi di antara sel-sel tersebut. Hal ini melibatkan molekul-molekul sinyal seperti neurotransmiter, hormon, dan faktor pertumbuhan yang disekresikan oleh suatu jaringan dan diteruskan kepada jaringan lainnya melalui reseptor yang terdapat pada permukaan sel.
Perbedaan menyolok lainnya di antara eukariot dan prokariot adalah bahwa selain inti sel yang terbentuk baik, eukariot mengandung sejumlah organel yang di-kelilingi membran, seperti dan masing-masing mempunyai peranan spesifik di dalam metabolisme dan aktivitas sehari-hari sel. Sel eukariot mempunyai pembagian kerja yang lebih rumit di antara berbagai struktur internal, masing-masing struktur memegang peranan khusus di dalarn aktivitas sel.

D.Mekanisme Pengaturan Ekspresi Gen pada Prokariot (Berdinding Sel)
(1) Pengaturan Ekspresi Gen
Produk-produk gen tertentu seperti protein ribosomal, rRNA, tRNA, RNA polimerase, dan enzim-enzim yang mengatalisis berbagai reaksi metabolisme yang berkaitan dengan fungsi pemeliharaan sel merupakan komponen esensial bagi semua sel. Gen-gen yang menyandi pembentukan produk semacam itu perlu diekspresikan terus-menerus sepanjang umur individu di hampir semua jenis sel tanpa bergantung kepada kondisi lingkungan di sekitarnya. Sementara itu, banyak pula gen lainnya yang ekspresinya sangat ditentukan oleh kondisi lingkungan sehingga mereka hanya akan  diekspresikan pada waktu dan di dalam jenis sel tertentu. Untuk gen-gen semacam ini harus ada mekanisme pengaturan ekspresinya. Pengaturan ekspresi gen dapat terjadi pada berbagai tahap, misalnya transkripsi, prosesing mRNA, atau translasi. Namun, sejumlah data hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaturan ekspresi gen, khususnya pada prokariot, paling banyak terjadi pada tahap transkripsi.
Mekanisme pengaturan transkripsi, baik pada prokariot maupun pada eukariot, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kategori utama, yaitu (1) mekanisme yang melibatkan penyalapadaman (turn on and turn off) ekspresi gen sebagai respon terhadap perubahan kondisi lingkungan dan (2) sirkit ekspresi gen yang telah terprogram (preprogramed circuits). Mekanisme penyalapadaman sangat penting bagi mikroorganisme untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan yang seringkali terjadi secara tiba-tiba. Sebaliknya, bagi eukariot mekanisme ini nampaknya tidak terlalu penting karena pada organisme ini sel justru cenderung merespon sinyal-sinyal yang datang dari dalam tubuh, dan di sisi lain, sistem sirkulasi akan menjadi penyangga bagi sel terhadap perubahan kondisi lingkungan yang mendadak tersebut. Pada mekanisme sirkit, produk suatu gen akan menekan transkripsi gen itu sendiri dan sekaligus memacu transkripsi gen kedua, produk gen kedua akan menekan transkripsi gen kedua dan memacu transkripsi gen ketiga, demikian seterusnya. Ekspresi gen yang berurutan ini telah terprogram secara genetik sehingga gen-gen tersebut tidak akan dapat diekspresikan di luar urutan. Oleh karena urutan ekspresinya berupa sirkit, maka mekanisme tersebut dinamakan sirkit ekspresi gen.

(2) Induksi dan represi pada prokariot
Escherichia coli merupakan bakteri yang sering dijadikan model untuk mempelajari berbagai mekanisme genetika molekuler. Bakteri ini secara alami hidup di dalam usus besar manusia dengan memanfaatkan sumber karbon yang umumnya berupa glukosa. Apabila suatu ketika E. coli ditumbuhkan pada medium yang sumber karbonnya bukan glukosa melainkan laktosa, maka enzim pemecah laktosa akan disintesis, sesuatu yang tidak biasa dilakukannya.  Untuk itu, gen-gen penyandi berbagai enzim yang terlibat dalam pemanfaatan laktosa akan diekspresikan (turned on).  Sebaliknya, dalam keadaan normal, yaitu ketika tersedia glukosa sebagai sumber karbon, maka gen-gen tersebut tidak diekspresikan (turned off). Proses yang terjadi ketika ekspresi gen merupakan respon terhadap keberadaan suatu zat di lingkungannya dikenal sebagai induksi, sedangkan zat atau molekul yang menyebabkan terjadinya induksi disebut sebagai induser. Jadi, dalam contoh ini laktosa merupakan induser.Induksi secara molekuler terjadi pada tingkat transkripsi. Peristiwa ini berkenaan dengan laju sintesis enzim, bukan dengan aktivitas enzim. Pada pengaktifan enzim suatu molekul kecil akan terikat pada enzim sehingga akan terjadi peningkatan aktivitas enzim tersebut, bukan peningkatan laju sintesisnya.
Selain mempunyai kemampuan untuk memecah suatu molekul (katabolisme), bakteri juga dapat menyintesis (anabolisme) berbagai molekul organik yang diperlukan bagi pertumbuhannya.  Sebagai contoh, Salmonella typhimurium mempunyai sejumlah gen yang menyandi enzim-enzim untuk biosintesis triptofan. Dalam medium pertumbuhan yang tidak mengandung triptofan, S. typhimurium akan mengekspresi kan (turned on) gen-gen tersebut. Akan tetapi, jika suatu saat ke dalam medium pertumbuhannya ditambahkan triptofan, maka gen-gen tersebut tidak perlu diekspresikan (turned off). Proses pemadaman (turn off) ekspresi gen sebagai respon terhadap keberadaan suatu zat di lingkungannya dinamakan represi, sedangkan zat yang menyebabkan terjadinya represi disebut sebagai korepresor. Jadi, dalam contoh ini triptofan merupakan korepresor.
Seperti halnya induksi, represi juga terjadi pada tahap transkripsi. Represi sering dikacaukan dengan inhibisi umpan balik (feedback inhibition), yaitu penghambatan aktivitas enzim akibat pengikatan produk akhir reaksi yang dikatalisis oleh enzim itu sendiri. Represi tidak menghambat aktivitas enzim, tetapi menekan laju sintesisnya.

(3) Model operon
Mekanisme molekuler induksi dan represi telah dapat dijelaskan menurut model yang diajukan oleh F. Jacob dan J. Monod pada tahun 1961. Menurut model yang dikenal sebagai operon ini ada dua unsur yang mengatur transkripsi gen struktural penyandi enzim, yaitu gen regulator (gen represor) dan operator yang letaknya berdekatan dengan gen-gen struktural yang diaturnya. Gen regulator menyandi pembentukan suatu protein yang dinamakan represor.
Pada kondisi tertentu represor akan berikatan dengan operator, menyebabkan terhalangnya transkripsi gen-gen struktural. Hal ini terjadi karena enzim RNA polimerase tidak dapat memasuki promoter yang letaknya berdekatan, atau bahkan tumpang tindih, dengan operator. Secara keseluruhan setiap operon terdiri atas promoter operon atau promoter bagi gen-gen struktural (PO), operator (O), dan gen-gen struktural (GS). Di luar operon terdapat gen regulator (R) beserta promoternya (PR), molekul protein represor yang dihasilkan oleh gen regulator, dan molekul efektor. Molekul efektor pada induksi adalah induser, sedangkan pada represi adalah korepresor.

Pada Gambar di atas, terlihat bahwa terikatnya represor pada operator terjadi dalam keadaan yang berkebalikan antara induksi dan represi. Pada induksi represor secara normal akan berikatan dengan operator sehingga RNA polimerase tidak dapat memasuki promoter operon. Akibatnya, transkripsi gen-gen struktural tidak dapat berlangsung. Namun, dengan terikatnya represor oleh induser, promoter operon menjadi terbuka bagi RNA polimerase sehingga gen-gen struktural dapat ditranskripsi dan selanjutnya ditranslasi. Dengan demikian, gen-gen struktural akan diekspresikan apabila terdapat molekul induser yang mengikat represor.
Operon yang terdiri atas gen-gen yang ekspresinya terinduksi dinamakan operon induksi. Salah satu contohnya adalah operon lac, yang terdiri atas gen-gen penyandi enzim pemecah laktosa seperti telah disebutkan di atas.
Sebaliknya, pada represi secara normal represor tidak berikatan dengan operator sehingga RNA polimerase dapat memasuki promoter operon dan transkripsi gen-gen struktural dapat terjadi. Akan tetapi, dengan adanya korepresor, akan terbentuk kompleks represor-korepresor yang kemudian berikatan dengan operator. Dengan pengikatan ini, RNA polimerase tidak dapat memasuki promoter operon sehingga transkripsi gen-gen struktural menjadi terhalang. Jadi, ekspresi gen-gen struktural akan terepresi apabila terdapat molekul korepresor yang berikatan dengan represor.
Gen-gen yang ekspresinya dapat terepresi merupakan komponen operon yang dinamakan operon represi. Operon trp, yang terdiri atas gen-gen penyandi enzim untuk biosintesis triptofan merupakan contoh operon represi

E.Mekanisme Pengaturan Ekspresi Gen pada Eukariot (Bermembran Sel)
(1) Pengaturan Ekspresi Gen
Hingga sekarang kita baru sedikit sekali mengetahui mekanisme pengaturan ekspresi gen pada eukariot. Namun, kita telah mengetahui bahwa pada eukariot tingkat tinggi gen-gen yang berbeda akan ditranskripsi pada jenis sel yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme pengaturan pada tahap transkripsi, dan juga prosesing mRNA, memegang peran yang sangat penting dalam proses diferensiasi sel.
Operon, kalau pun ada, nampaknya tidak begitu penting pada eukariot. Hanya pada eukariot tingkat rendah seperti jamur dapat ditemukan satuan-satuan operon atau mirip operon. Semua mRNA pada eukariot tingkat tinggi adalah monosistronik, yaitu hanya membawa urutan sebuah gen struktural. Transkrip primer yang adakala-nya menyerupai polisistronik pun akan diproses menjadi mRNA yang monosistronik.
Selain itu, terindikasi juga bahwa diferensiasi sel sedikit banyak melibatkan ekspresi seperangkat gen yang telah terprogram (preprogramed). Berbagai macam sinyal seperti molekul-molekul sitoplasmik, hormon, dan rangsangan dari lingkungan memicu dimulainya pembacaan program-program dengan urutan tertentu pada waktu dan tempat yang tepat selama perkembangan individu. Bukti paling nyata mengenai adanya keharusan urutan pembacaan program pada waktu dan tempat tertentu dapat dilihat pada kasus mutasi yang terjadi pada lalat Drosophila, misalnya munculnya sayap di kepala di tempat yang seharusnya untuk mata. Dengan mempelajari mutasi-mutasi semacam ini diharapkan akan diperoleh pengetahuan tentang mekanisme pengaturan ekspresi gen selama perkembangan normal individu.
Pada eukariot tingkat tinggi kurang dari 10 persen gen yang terdapat di dalam seluruh genom akan terepresentasikan urutan basanya di antara populasi mRNA yang telah mengalami prosesing. Sebagai contoh, hanya ada dua hingga lima persen urutan DNA mencit yang akan terepresentasikan pada mRNA di dalam sel-sel hatinya. Demikian pula, mRNA di dalam sel-sel otak katak Xenopus hanya merepresentasikan delapan persen urutan DNAnya. Jadi, sebagian besar urutan basa DNA di dalam genom eukariot tingkat tinggi tidak terepresentasikan di antara populasi mRNA yang ada di dalam sel atau jaringan tertentu. Dengan perkataan lain, molekul mRNA yang dihasilkan dari perangkat gen yang berbeda akan dijumpai di dalam sel atau jaringan yang berbeda pula.

(2) Dosis gen dan amplifikasi gen
Kebutuhan akan produk-produk gen pada eukariot dapat sangat bervariasi. Beberapa produk gen dibutuhkan dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada produk gen lainnya sehingga terdapat nisbah kebutuhan di antara produk-produk gen yang berbeda. Untuk memenuhi nisbah kebutuhan ini antara lain dapat ditempuh melalui dosis gen. Katakanlah, ada gen A dan gen B yang ditranskripsi dan ditranslasi dengan efisiensi yang sama. Produk gen A dapat 20 kali lebih banyak daripada produk gen B apabila terdapat 20 salinan (kopi) gen A untuk setiap salinan gen B. Contoh yang nyata dapat dilihat pada gen-gen penyandi histon. Untuk menyintesis histon dalam jumlah besar yang dibutuhkan dalam pembentukan kromatin, kebanyakan sel mempunyai beratus-ratus kali salinan gen histon daripada jumlah salinan gen yang diperlukan untuk replikasi DNA.
Salah satu pengaruh dosis gen adalah amplifikasi gen, yaitu peningkatan jumlah gen sebagai respon terhadap sinyal tertentu. Sebagai contoh, amplifikasi gen terjadi selama perkembangan oosit katak Xenopus laevis. Pembentukan oosit dari prekursornya (oogonium) merupakan proses kompleks yang membutuhkan sejumlah besar sintesis protein. Untuk itu dibutuhkan sejumlah besar ribosom. Kita mengetahui bahwa ribosom antara lain terdiri atas molekul-molekul rRNA. Padahal, sel-sel prekursor tidak mempunyai gen penyandi rRNA dalam jumlah yang mencukupi untuk sintesis molekul tersebut dalam waktu yang relatif singkat. Namun, sejalan dengan perkembangan oosit terjadi peningkatan jumlah gen rRNA hingga 4000 kali sehingga dari sebanyak 600 gen yang ada pada prekursor akan diperoleh sekitar dua juta gen setelah amplifikasi. Jika sebelum amplifikasi ke-600 gen rRNA berada di dalam satu segmen DNA linier, maka selama dan setelah amplifikasi gen tersebut akan berada di dalam gulungan-gulungan kecil yang mengalami replikasi. Molekul rRNA tidak diperlukan lagi ketika oosit telah matang hingga saat terjadinya fertilisasi. Oleh karena itu, gen rRNA yang telah begitu banyak disalin kemudian didegradasi kembali oleh berbagai enzim intrasel.
Jika waktu yang tersedia untuk melakukan sintesis sejumlah besar protein cukup banyak, amplifikasi gen sebenarnya tidak perlu dilakukan. Cara lain untuk mengatasi kebutuhan protein tersebut adalah dengan meningkatkan masa hidup mRNA (lihat bagian pengaturan translasi).

(3) Pengaturan transkripsi
Berdasarkan atas banyaknya salinan di dalam tiap sel, molekul mRNA dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu (1) mRNA salinan tunggal (single copy), (2) mRNA semiprevalen dengan jumlah salinan lebih dari satu hingga beberapa ratus per sel, dan (3) mRNA superprevalen dengan jumlah salinan beberapa ratus hingga beberapa ribu per sel. Molekul mRNA salinan tunggal dan semiprevalen masing-masing menyandi enzim dan protein struktural. Sementara itu, mRNA superprevalen biasanya dihasilkan sejalan dengan terjadinya perubahan di dalam suatu tahap perkembangan organisme eukariot. Sebagai contoh, sel-sel eritroblas di dalam sumsum tulang belakang mempunyai sejumlah besar mRNA yang dapat ditranslasi menjadi globin matang. Di sisi lain, hanya sedikit sekali atau bahkan tidak ada globin yang dihasilkan oleh sel-sel prekursor yang belum berkembang menjadi eritroblas. Dengan demikian, kita dapat memastikan adanya suatu mekanisme pengaturan ekspresi gen penyandi mRNA superprevalen pada tahap transkripsi eukariot meskipun hingga kini belum terlalu banyak rincian prosesnya yang dapat diungkapkan.
Salah satu regulator yang diketahui berperan dalam transkripsi eukariot adalah hormon, molekul protein kecil yang dibawa dari sel tertentu menuju ke sel target. Mekanisme kerja hormon dalam mengatur transkripsi eukariot lebih kurang dapat disetarakan dengan induksi pada prokariot. Namun, penetrasi hormon ke dalam sel target dan pengangkutannya ke dalam nukleus merupakan proses yang jauh lebih rumit bila dibandingkan dengan induksi oleh laktosa pada E. coli.
Secara garis besar pengaturan transkripsi oleh hormon dimulai dengan masuknya hormon ke dalam sel target melewati membran sel, yang kemudian ditangkap oleh reseptor khusus yang terdapat di dalam sitoplasma sehingga terbentuk kompleks hormon-reseptor. Setelah kompleks ini terbentuk biasanya reseptor akan mengalami modifikasi struktur kimia. Kompleks hormon-reseptor yang termodifikasi kemudian menembus dinding nukleus untuk memasuki nukleus. Proses selanjutnya belum banyak diketahui, tetapi rupanya di dalam nukleus kompleks tersebut, atau mungkin hormonnya saja, akan mengalami salah satu di antara beberapa peristiwa, yaitu (1) pengikatan langsung pada DNA, (2) pengikatan pada suatu protein efektor, (3) aktivasi protein yang terikat DNA, (4) inaktivasi represor, dan (5) perubahan struktur kromatin agar DNA terbuka bagi enzim RNA polimerase.
Contoh induksi transkripsi oleh hormon antara lain dapat dilihat pada stimulasi sintesis ovalbumin pada saluran telur (oviduktus) ayam oleh hormon kelamin estrogen. Jika ayam disuntik dengan estrogen, jaringan-jaringan oviduktus akan memberikan respon berupa sintesis mRNA untuk ovalbumin. Sintesis ini akan terus berlanjut selama estrogen diberikan, dan hanya sel-sel oviduktus yang akan menyintesis mRNA tersebut. Hal ini karena sel-sel atau jaringan lainnya tidak mempunyai reseptor hormon estrogen di dalam sitoplasmanya.

(4) Pengaturan pada tahap prosesing mRNA
Dua jenis sel yang berbeda dapat membuat protein yang sama tetapi dalam jumlah yang berbeda meskipun transkripsi di dalam kedua sel tersebut terjadi pada gen yang sama. Fenomena ini seringkali berkaitan dengan adanya molekul-molekul mRNA yang berbeda, yang akan ditranslasi dengan efisiensi berbeda pula.
Pada tikus, misalnya, ditemukan bahwa perbedaan sintesis enzim α-amilase oleh berbagai mRNA yang berasal dari gen yang sama dapat terjadi karena adanya perbedaan pola pembuangan intron. Kelenjar ludah menghasilkan α-amilase lebih banyak daripada yang dihasilkan oleh jaringan hati meskipun gen yang ditranskripsi sama. Jadi, dalam hal ini transkrip primernya sebenarnya sama, tetapi kemudian ada perbedaan mekanisme prosesing, khususnya pada penyatuan (splicing) mRNA.

(5) Pengaturan translasi
Berbeda dengan translasi mRNA pada prokariot yang terjadi dalam jumlah yang lebih kurang sama, pada eukariot ada mekanisme pengaturan translasi. Macam-macam pengaturan tersebut adalah (1) kondisi bahwa mRNA tidak akan ditranslasi sama sekali sebelum datangnya suatu sinyal, (2) pengaturan umur (lifetime) molekul mRNA, dan (3) pengaturan laju seluruh sintesis protein.
Telur yang tidak dibuahi secara biologi bersifat statis. Akan tetapi, begitu fertilisasi terjadi, sejumlah protein akan disintesis. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam sel telur yang belum dibuahi akan dijumpai sejumlah mRNA yang menantikan datangnya sinyal  untuk translasi. Sinyal tersebut tidak lain adalah fertilisasi oleh spermatozoon, sedangkan molekul mRNA yang belum ditranslasi itu dinamakan mRNA tersembunyi (masked mRNA).
Pengaturan umur mRNA juga dijumpai pada telur yang belum dibuahi. Sel telur ini akan mempertahankan diri untuk tidak mengalami pertumbuhan/perkembangan. Dengan demikian, laju sintesis protein menjadi sangat rendah. Namun, hal ini bukan akibat kurangnya pasokan mRNA, melainkan karena terbatasnya ketersediaan suatu unsur yang dinamakan faktor rekrutmen. Hingga kini belum diketahui hakekat unsur tersebut, tetapi rupanya berperan dalam pembentukan kompleks ribosom-mRNA.
Sintesis beberapa protein tertentu diatur oleh aktivitas protein itu sendiri terhadap mRNA. Sebagai contoh, konsentrasi suatu jenis molekul antibodi dipertahan kan konstan oleh mekanisme inhibisi atau penghambatan diri dalam proses translasi. Jadi, molekul antibodi tersebut berikatan secara khusus dengan molekul mRNA yang menyandinya sehingga inisiasi translasi akan terhambat.

(6) Sintesis beberapa protein dari satu segmen DNA
Pada prokariot terdapat mRNA polisistronik yang menyandi semua produk gen. Sebaliknya, pada eukariot tidak pernah dijumpai mRNA polisistronik, tetapi ada kondisi yang dapat disetarakan dengannya, yakni sintesis poliprotein. Poliprotein adalah polipeptida berukuran besar yang setelah berakhirnya translasi akan terpotong-potong untuk menghasilkan sejumlah molekul protein yang utuh. Tiap protein ini dapat dilihat sebagai produk satu gen tunggal.
Dalam sistem semacam itu urutan penyandi pada masing-masing gen tidak saling dipisahkan oleh kodon stop dan kodon awal, tetapi dipisahkan oleh urutan asam amino tertentu yang dikenal sebagai tempat pemotongan (cleavage sites) oleh enzim protease tertentu. Tempat-tempat pemotongan ini tidak akan berfungsi serempak, tetapi bergantian mengikuti suatu urutan.

(Lanjut ke Diktat Genetika Ternak-10c)





Diktat Genetika Ternak-10a (Pertama)

28 07 2012

BAB X. MATERI GENETIK (Bagian Pertama)

10.1.  Bidang Kajian Genetika

Bidang kajian genetika dimulai dari wilayah subselular (molekular) hingga populasi. Secara lebih rinci, genetika berusaha menjelaskan:

  1. material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik),
  2. bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan
  3. bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu yang lain (pewarisan genetik).

Bahan / Materi genetik (Inggris: genetic material) adalah material atau substansi yang menyimpan informasi genetik dari suatu organisme hidup. Bahan ini diwariskan secara generatif dari satu individu ke individu lain. Dalam transmisi ini, bahan genetik harus kekal (tidak berubah). Hampir semua organisme hidup di bumi menyimpan informasi genetik dalam bentuk DNA. Sejumlah virus dan organisme subvirus menyimpan bahan genetik dalam bentuk RNA

Ekspresi gen merupakan rangkaian proses penerjemahan informasi genetik (dalam bentuk urutan basa pada DNA atau RNA) menjadi protein, dan lebih jauh lagi: fenotipe. Informasi yang dibawa bahan genetik tidak bermakna apa pun bagi suatu organisme apabila tidak diekspresikan menjadi fenotipe. Ekspresi genetik beserta dinamika yang mempengaruhinya dipelajari dalam genetika molekular beserta cabang-cabangnya seperti genomika, transkriptomika, proteomika, serta metabolomika

Pewarisan genetik (Inggris genetic inheritance) adalah aspek pertama yang dipelajari orang dalam genetika karena berkaitan langsung dengan fenotipe. Sebagai contoh, Gregor Johann Mendel mempelajari pewarisan tujuh sifat pada tanaman kapri, atau Karl Pearson (salah satu pelopor genetika kuantitatif) mempelajari pewarisan ukuran tubuh orang tua dan anaknya. Kajian genetika yang mempelajari aspek ini dijuluki genetika transmisional, karena membahas bagaimana bahan genetik dialihkan dari satu generasi ke generasi lainnya beserta implikasi yang menyertainya

10.2. Cabang-Cabang Genetika
Dalam usaha untuk menelaah keilmuan Genetika sebagai bagian dari Ilmu Biologi, maka berkembang cabang-cabang genetika, yaitu :

(1) Genetika Sel (Sitogenetika)
Sitogenetika adalah ilmu yang mempelajari tentang genetika sel. Ilmu sito genetika berhubungan dengan ilmu dasar seperti biologi molekuler. Pada sitogenetika, terutama dipelajari mengenai kromosom dan perubahan yang terjadi pada kromosom serta senyawa kimia yang terkandung didalamnya yaitu DNA, dimana senyawa ini dapat dimanipulasi dan direkayasa sehingga nantinya akan memperbaiki sifat /karakter serta produktivitas suatu makhluk hidup dalam, mendapatkan suatu varietas unggul dan menentukan perkembangan genetika modern.
Dengan mempelajari sitogenetika diharapkan agar dapat mengetahui dan mengerti mengenai peranan sel yang mengatur hereditas dari suatu individu,terutama pada makhluk hidup dalam menentukan  berbagai karakter sifat yang diturunkan pada keturunannya dan hubungan dibidangnya.

(2) Genetika Molekuler
Genetika molekular merupakan cabang genetika yang mengkaji bahan genetik dan ekspresi genetik di tingkat subselular (di dalam sel). Subjek kajiannya mencakup struktur, fungsi, dan dinamika dari bahan-bahan genetika serta hasil ekspresinya.
Seringkali genetika molekular disamakan dengan biologi molekular. Hal ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan, karena biologi molekular lahir dari kajian genetika dan  keduanya memakai teknik-teknik analisis yang sama. Sampai sekarang pun genetika molekular masih merupakan kajian biologi molekular yang terpenting. Namun sekarang dapat dilihat bahwa biologi molekular telah merambah bidang biologi lain, khususnya fisiologi dan ekologi, dalam arti teknik-teknik biologi molekular dipakai untuk menjelaskan gejala-gejala fisiologi dan ekologi.
Genetika molekular berkembang di tahun 1930-an ketika teknik kristalografi sinar-X dikembangkan untuk mendeskripsi biomolekul. Namun umumnya orang menyebut kelahiran ilmu ini sejak publikasi model struktur DNA oleh James D. Watson dan Francis Crick (1953) di majalah Nature, berdasarkan foto-foto difraksi sinar-X dari kristal DNA yang dibuat Rosalind Franklin.
Genetika molekular menggunakan teknik-teknik analisis dengan ukuran volume bahan yang sangat kecil dan banyak sehingga memerlukan bantuan mesin automatik untuk mengerjakannya. Dari sisi ini, genetika molekular mendorong berkembangnya robotika. Volume data yang sangat besar juga mendorong berkembangnya bio-informatika, ilmu yang mempelajari penerapan analisis data molekular dan pengolahan-nya dengan bantuan komputer
Karena perkembangannya yang pesat dan subjek kajiannya yang “berat” untuk diamati, sejak tahun 1990-an orang memilah-milah genetika molekular berdasarkan subjek kajiannya (sering disebut sebagai omics science karena semuanya berakhiran demikian dalam bahasa Inggris): Genomika, Transkriptomika, Proteomika, Metabolomika dan biologi sistem.

(3) Genetika Populasi
Pengertian Genetika populasi adalah cabang genetika yang membahas transmisi bahan genetik pada ranah populasi. Dari objek bahasannya, genetika populasi dapat dikelompok kan sebagai cabang genetika yang berfokus pada pewarisan genetik.
Ilmu ini membicarakan implikasi hukum pewarisan Mendel apabila diterapkan pada sekumpulan individu sejenis di suatu tempat. Berbeda dengan genetika Mendel, yang mengkaji pewarisan sifat untuk perkawinan antara dua individu (atau dua kelompok individu yang memiliki genotipe yang sama), genetika populasi berusaha menjelaskan implikasi yang terjadi terhadap bahan genetik akibat saling kawin yang terjadi di dalam satu atau lebih populasi.
Genetika Populasi didasarkan pada Hukum Hardy-Weinberg, yang diperkenalkan pertama kali oleh Wilhelm Weinberg (1908) dan, hampir bersamaan tetapi secara independen, Godfrey Hardy (1908).

(4) Genetika Kuantitatif
Ilmu Genetika kuantitatif adalah Cabang genetika yang membahas pewarisan sifat-sifat terukur (kuantitatif atau metrik), yang tidak bisa dijelaskan secara langsung melalui hukum pewarisan Mendel. Sifat-sifat yang tergolong sifat kuantitatif misalnya tinggi atau berat badan, hasil panen, atau produksi susu.
Genetika kuantitatif menerapkan hukum pewarisan Mendel untuk gen dengan pengaruh yang kecil/lemah (minor gene). Selain itu, diasumsikan pula bahwa tidak hanya sedikit gen yang mengendalikan suatu sifat melainkan banyak gen. Karena itu, sifat kuantitatif sering dasamakan dengan sifat poligenik.
Ilmu ini banyak menggunakan matematika dan statistika dalam menjelaskan prinsip-prinsip yang dipakai maupun dalam metodologinya. Namun demikian, penerapan ilmu ini dalam ilmu pemuliaan sangat bermanfaat dalam bidang pertanian

(5) Genetika Terapan

  • genetika kedokteran
  • ilmu pemuliaan
  • rekayasa genetika atau rekayasa gen

Rekayasa genetika (Ing. genetic engineering) dalam arti paling luas adalah penerapan genetika untuk kepentingan manusia. Dengan pengertian ini kegiatan pemuliaan hewan atau tanaman melalui seleksi dalam populasi dapat dimasukkan. Demikian pula penerapan mutasi buatan tanpa target dapat pula dimasukkan. Walaupun demikian, masyarakat ilmiah sekarang lebih bersepakat dengan batasan yang lebih sempit, yaitu penerapan teknik-teknik biologi molekular untuk mengubah susunan genetik dalam kromosom atau mengubah sistem ekspresi genetik yang diarahkan pada kemanfaatan tertentu.
Obyek rekayasa genetika mencakup hampir semua golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat rendah, hewan tingkat tinggi, hingga tumbuh-tumbuhan. Bidang kedokteran dan farmasi paling banyak berinvestasi di bidang yang relatif baru ini. Sementara itu bidang lain, seperti ilmu pangan, kedokteran hewan, pertanian (termasuk peternakan dan perikanan), serta teknik lingkungan juga telah melibatkan ilmu ini untuk mengembangkan bidang masing-masing.
Ilmu terapan ini dapat dianggap sebagai cabang biologi maupun sebagai ilmu-ilmu rekayasa (keteknikan). Dapat dianggap, awal mulanya adalah dari usaha-usaha yang dilakukan untuk menyingkap material yang diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain. Ketika orang mengetahui bahwa kromosom adalah material yang membawa bahan terwariskan itu (disebut gen) maka itulah awal mula ilmu ini. Tentu saja, penemuan struktur DNA menjadi titik yang paling pokok karena dari sinilah orang kemudian dapat menentukan bagaimana sifat dapat diubah dengan mengubah komposisi DNA, yang adalah suatu polimer bervariasi.
Tahap-tahap penting berikutnya adalah serangkaian penemuan enzim restriksi (pemotong) DNA, regulasi (pengaturan ekspresi) DNA (diawali dari penemuan operon laktosa pada prokariota), perakitan teknik PCR, transformasi genetik, teknik peredaman gen (termasuk interferensi RNA), dan teknik mutasi terarah (seperti Tilling). Sejalan dengan penemuan-penemuan penting itu, perkembangan di bidang biostatistika, bioinformatika dan robotika/automasi memainkan peranan penting dalam kemajuan dan efisiensi kerja bidang ini.

  • Bioteknologi merupakan ilmu terapan yang tidak secara langsung merupakan cabang genetika tetapi sangat terkait dengan perkembangan di bidang genetika.
  • Genetika arah-balik (reverse genetics)

Kajian genetika klasik dimulai dari gejala fenotipe (yang tampak oleh pengamatan manusia) lalu dicarikan penjelasan genotipiknya hingga ke aras gen. Berkembangnya teknik-teknik dalam genetika molekular secara cepat dan efisien memunculkan filosofi baru dalam metodologi genetika, dengan membalik arah kajian. Karena banyak gen yang sudah diidentifikasi sekuensnya, orang memasukkan atau mengubah suatu gen dalam kromosom lalu melihat implikasi fenotipik yang terjadi. Teknik-teknik analisis yang menggunakan filosofi ini dikelompokkan dalam kajian genetika arah-balik atau reverse genetics, sementara teknik kajian genetika klasik dijuluki genetika arah-maju atau forward genetics.

10.3. Perkembangan Konsep tentang Genetika

Perkembangan konsep tentang genetika dapat diikuti semenjak awal abad ke-20 ketika seorang dokter sekaligus ahli biokimia dari Inggris, Sir Archibald E. Garrod, mengajukan konsep satu gen mutan – satu hambatan metabolisme. Garrod mempelajari sejumlah penyakit metabolik bawaan pada manusia dan menyimpulkan bahwa setiap gangguan metabolisme bawaan yang menimbulkan penyakit tertentu, misalnya alkaptonuria,  disebabkan oleh satu gen mutan resesif.
Sekitar 50 tahun kemudian dua orang peneliti, G. W. Beadle dan E.L. Tatum, mempelajari mutasi gen pada jamur Neurospora crassa dengan menumbuhkan berbagai strain mutan hasil iradiasi menggunakan sinar X atau sinar ultraviolet pada medium lengkap dan medium minimal. Medium minimal adalah medium untuk pertumbuhan mikroorganisme yang hanya mengandung garam-garam anorganik, sebuah gula sederhana, dan satu macam vitamin. Mutan yang digunakan adalah mutan dengan hanya satu kelainan, yang untuk mendapatkannya dilakukan silang balik dengan strain tipe liar. Mutan hasil silang balik dengan nisbah keturunan tipe liar : mutan = 1 : 1 dipastikan sebagai mutan dengan hanya satu kelainan (mutasi).
Strain tipe liar, sebagai kontrol, mampu tumbuh baik pada medium lengkap maupun pada medium minimal, sedangkan strain mutan hanya mampu tumbuh pada medium lengkap. Strain-strain mutan ini kemudian dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui macam faktor pertumbuhan yang diperlukannya dengan cara melakukan variasi penambahannya ke dalam medium minimal. Sebagai contoh, mutan yang hanya tumbuh pada medium minimal yang ditambah dengan tiamin adalah mutan yang mengalami mutasi pada gen untuk biosintesis tiamin. Dengan cara seperti ini Beadle dan Tatum memperlihatkan bahwa tiap mutasi menyebabkan kebutuhan akan pemberian satu macam faktor pertumbuhan. Selanjutnya, dengan mengorelasikan hasil analisis genetik dengan hasil analisis biokimia terhadap strain-strain mutan Neurospora tersebut dapat diketahui bahwa tiap mutasi menyebabkan hilangnya satu aktivitas enzim. Maka, konsep satu gen mutan – satu hambatan metabolisme bergeser menjadi satu gen – satu enzim.
Dalam perkembangan berikutnya, setelah diketahui bahwa sebagian besar enzim tersusun dari beberapa polipetida, dan masing-masing polipeptida merupakan produk gen yang berbeda, maka konsep terbaru tentang gen yang dianut hingga kini adalah satu gen – satu polipeptida. Sebagai contoh, enzim triptofan sintetase pada Escherichia coli  terdiri atas dua buah polipeptida, yaitu polipeptida α dan polipeptida β. Polipeptida α merupakan produk gen trpA, sedangkan polipeptida β merupakan produk gen trpB.

10.4. Hubungan antara Kromosom, Gen dan DNA
Ciri yang paling menonjol dari mahluk hidup adalah kemampuannya untuk memproduksi jenisnya. Hanya manusia yang melahirkan manusia, dan hanya kucing yang mampu memproduksi anak kucing. Selain itu, seorang anak akan lebih mirip dengan kedua orang- tuanya dari pada dengan individu lain yang sejenis.
Amatilah diri Anda secara saksama di depan cermin! Perhatikan bentuk bibir, mata, warna kulit, dan bentuk tubuh Anda. Apa yang membuat diri Anda memiliki semua ciri-ciri yang Anda lihat? Pernahkah Anda mengatakan kepada seseorang bahwa ia memiliki rambut lurus seperti ibunya tetapi berkulit gelap seperti ayahnya? Kemiripan anak dengan orang-tuanya pada dasarnya terjadi karena replikasi yang persis dari DNA dan transmisi DNA ini dari satu generasi ke generasi berkutnya.
Bagian utama sebuah sel adalah nukleus, di dalam nukleus terdapat benang-benang halus yang disebut kromatin. Pada saat sel akan mulai membelah diri, benang-benang halus tersebut menebal, memendek dan mudah menyerab warna membentuk kromosom. Kromosom adalah struktur padat yang terdiri dari dua komponen molekul, yaitu DNA dan protein.
Secara struktural perubahan DNA dan protein menjadi kromosom di awali pada saat profase. Molekul DNA akan berikatan dengan protein histon dan nonhiston membentuk sejumlah nukleosom. Unit-unit nukleosom bergabung memadat membentuk benang yang lebih padat dan terpilin menjadi lipatan-lipatan solenoid. Lipatan solenoid tersusun padat menjadi benang-benang kromatin. Benang-benang kromatin akan tersusun memadat membentuk lengan kromatin. Selanjutnya kromatin akan mengganda membentuk kromosom
Dalam pokok bahasan ini tentang Struktur Kimia Materi Genetik, kita akan mempelajari mekanisme sederhana bahwa DNA merupakan molekul hereditas yang dengan bantuan RNA bertugas mengendalikan proses “Sintesa Protein” untuk menunjang semua proses kehidupan suatu individu. Mekanisme Proses Materi Genetik yang di Ekspresikan ini dikenal dengan Istilah Dogma Sentral atau Dogma Inti.

10.5.Dogma Sentral Dalam Genetika
Proses Ekspresi genetik mengikuti tahapan yang sama untuk semua bentuk kehidupan, dan disebut dogma inti (central dogma) dalam genetika. Dengan demikian Dogma sentral adalah proses ekspresi gen yang mengikuti tahapan-tahapan dalam info genetik yang terdiri proses dasar replikasi DNA, transkripsi DNA menjadi RNA, dan translasi RNA menjadi protein atau polipeptida.
Dalam sentral dogma, bahwa semua sel memiliki DNA yang merupakan kode genetik yang dapat dipergunakan untuk memproduksi protein dengan cara memproduksi mRNA. Perlunya mRNA dalam produksi protein karena DNA merupakan kode genetik yang sangat berharga sehingga perlu dibuat salinannya, yaitu dengan proses transkripsi. Setelah diperoleh salinan, maka salinan tersebut ditranslasi (diterjemahkan) menjadi urutan AA (asam amino).

10.6.DNA (Deoxyribo Nucleic Acid)
A. Sejarah DNA

Pada tahun 1868 seorang mahasiswa kedokteran di Swedia, J.F. Miescher, menemukan suatu zat kimia bersifat asam yang banyak mengandung nitrogen dan fosfor. Zat ini diisolasi dari nukleus sel nanah manusia dan kemudian dikenal dengan nama nuklein atau asam nukleat. Meskipun ternyata asam nukleat selalu dapat diisolasi dari nukleus berbagai macam sel, waktu itu fungsinya sama sekali belum diketahui
Dari hasil analisis kimia yang dilakukan sekitar empat puluh tahun kemudian ditemukan bahwa asam nukleat ada dua macam, yaitu asam deoksiribo nukleat atau deoxyribo nucleic acid (DNA) yang bahasa indonesianya, asam deoksiribosa dan asam ribonukleat atau ribonucleic acid (RNA).  Pada tahun 1924 studi mikroskopis menunjukkan bahwa DNA terdapat di dalam kromosom, yang waktu itu telah diketahui sebagai organel pembawa gen (materi genetik). Akan tetapi, selain DNA di dalam kromosom juga terdapat protein sehingga muncul perbedaan pendapat mengenai hakekat materi genetik, DNA atau protein.

B. Pengertian DNA
DNA ( deoxyribonucleic acid ) merupakan tempat penyimpanan informasi genetik yang dikodekan dalam bahasa kimiawi dan diproduksi di dalam semua sel tubuh Anda. Program DNA inilah yang mengendalikan perkembangan sifat anatomi, fisiologi, biokimia.

  1. Deoksiribose Nucleic Acid (DNA) atau  Asam Deoksiribosa Nukleat (ADN)
  2. DNA ditemukan pada tahun 1869 (Friedrich Miescher) Rahasia kehidupan dapat diungkapkan melalui penelitian kimia pada sel-sel’
  3. DNA Adalah asam nukleat yang mengandung informasi genetic yang terdapat dalam semua makluk hidup kecuali virus (Pembawa sifat keturunan)
  4. DNA merupakan ‘blueprint’ yang berisi instruksi yang diperlukan untuk membangun komponen-komponen sel seperti protein dan molekul ARN (RibonucleicAcid=RNA)
  5. Segmen DNA yang membawa informasi genetic disebut gen
  6. Wujud sebagai untaian yang sangat halus
  7. Disusun oleh asam nukleat (polinukleotida) Polinukleotida adalah polimer dari nukleotida  Berarti: DNA disusun oleh nukleotida-nukleotida

C. Fungsi DNA
DNA memiliki beberapa fungsi yaitu :
a)  Sebagai pembawa informasi genetik dari satu generasi  ke generasi lainnya
b)  Mengontrol aktifitas dalam sel, baik secara langsung maupun tidak langsung
c)  Menentukan proses pembentukan protein (sintesis protein)
d)  Membentuk RNA

D. Struktur DNA

  • Terdapat dalam kromosom (inti sel). Inti sel dapat membelah diri, berarti DNA juga.
  • Proses berlipatgandanya DNA disebut Replikasi.
  • Berbentuk double heliks (dua rantai berpilin) sehingga saling berpasangan (komplimen) : A=T dan C=G.
  • Kedua rantai bisa menjadi template/ cetakan untuk membentuk molekul DNA baru
  • Arah polimerisasi : dari 5’ ke 3’ (Atom C ke 5 dari gula pada satu nukleotida berikatan dengan atom C ke 3 dari gula nukleotida yang lain). Arah cetakan adalah dari 3’ ke 5′

Pada organisme eukariotik (hewan, tumbuhan jamur,dan protista) DNA tersimpan dalam intisel dan sebagian DNA juga disimpan dalam organela sel seperti mitokondria atau kloroplas Pada organisme prokariotik (bakteri) DNA tersimpan di sitoplasma.
DNA pada sel eukariotik berbentuk seperti benang dan tidak bercabang, tetapi  DNA pada sel prokariotik, mitokondria, dan plastida berbentuk sirkuler. Struktur DNA terdiri atas 2 rantai polinukleotida yang antara basa nitrogennya dihubungkan oleh ikatan hidrogen. Dua rantai polinukleotida tersebut tersusun secara  double helix

E. Susunan DNA

Di dalam sel, DNA tersusun dalam suatu struktur panjang berikatan dengan protein seperti histon membentuk kromosom (Kromosom itu adalah struktur mirip benang yang berada di inti sel). Molekul DNA merupakan sebuah polimer panjang dari nukleotida, yang dinamakan polinukleotida. Rangkaian Poli nukleotida berupa Gugus fosfat yang terikat pada atomC No.5 dari gula berhubungan dengan atom C No.3 dari gula milik nukleotida berikutnya., Begitu seterusnya sehingga terdapat seri panjang rangkaian 5’–3’ sepanjang polimer. Nukleotida tanpa gugus fosfat disebut Nukleosida
Dengan demikian, maka DNA merupakan polimer yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu gugus fosfat, gula deoksiribosa, dan basa nitrogen. Rantai DNA memiliki lebar 22-24, sementara panjang satu unit nukleotida 3,3. Walaupun unit monomer ini sangatlah kecil, DNA dapat memiliki jutaan nukleotida yang terangkai seperti rantai. Misalnya, kromosom terbesar pada manusia terdiri atas 220 juta nukleotida.
Hasil analisis kimia asam nukleat menunjukkan bahwa makromolekul ini tersusun dari subunit-subunit berulang (monomer) yang disebut nukleotida sehingga asam nukleat dapat juga dikatakan sebagai polinukleotida. Nukleotida yang satu dengan nukleotida berikutnya dihubungkan oleh ikatan fosfodiester yang sangat kuat. Tiap nukleotida terdiri atas tiga komponen, yaitu gugus fosfat, gula pentosa (gula dengan lima atom karbon), dan basa nukleotida atau basa nitrogen (basa siklik yang mengandung nitrogen). Pada DNA basa nitrogen berikatan secara kimia dengan gula pentosa membentuk molekul yang disebut nukleosida sehingga setiap nukleotida pada DNA dapat disebut juga sebagai nukleosida monofosfat.
Gula pentosa pada DNA adalah 2-deoksiribosa, sedangkan pada RNA adalah ribosa. Menurut kebiasaan, penomoran atom C pada gula pentosa dilakukan menggunakan tanda aksen (’) untuk membedakannya dengan penomoran atom C pada basa nitrogen. Atom C pada gula pentosa yang berikatan dengan basa nitrogen ditentukan sebagai atom C pertama (1’).  Atom C nomor 2’ pada DNA tidak mengikat gugus OH seperti halnya pada RNA, tetapi mengikat gugus H sehingga gula pentosanya dinamakan deoksiribosa.
Sementara tu, basa nitrogen ada dua macam, yakni basa dengan cincin rangkap atau disebut purin dan basa dengan cincin tunggal atau disebut pirimidin. Basa purin, baik pada DNA maupun RNA, dapat berupa adenin (A) atau guanin (G), sedangkan basa pirimidin pada DNA dapat berupa sitosin (C) atau timin (T). Pada RNA tidak terdapat basa timin, tetapi diganti dengan urasil (U).
Biasanya DNA mempunyai struktur sebagai molekul polinukleotida untai ganda, sedangkan RNA adalah polinukleotida untai tunggal. Ini merupakan perbedaan lain di antara kedua macam asam nukleat tersebut.

F.Pembuktian DNA sebagai Materi Genetik
Ada dua bukti percobaan yang menunjukkan bahwa DNA adalah materi genetik. Masing-masing akan diuraikan berikut ini.
(1) Percobaan transformasi
F. Griffith pada tahun 1928 melakukan percobaan infeksi bakteri pneumokokus (Streptococcus pneumonia) pada mencit. Bakteri penyebab penyakit pneumonia ini dapat menyintesis kapsul polisakarida yang akan melindunginya dari mekanisme pertahanan tubuh hewan yang terinfeksi sehingga bersifat virulen (menimbulkan penyakit). Jika ditumbuhkan pada medium padat, bakteri pneumokokus akan membentuk koloni dengan kenampakan halus mengkilap.
Sementara itu, ada pula strain mutan pneumokokus yang kehilangan kemampuan untuk menyintesis kapsul polisakarida sehingga menjadi tidak tahan terhadap sistem kekebalan tubuh hewan inangnya, dan akibatnya tidak bersifat virulen. Strain mutan ini akan membentuk koloni dengan kenampakan kasar apabila ditumbuhkan pada medium padat. Pneumokokus yang virulen sering dilambangkan dengan S, sedangkan strain mutannya yang tidak virulen dilambangkan dengan R.
Mencit yang diinfeksi dengan pneumokokus S akan mengalami kematian, dan dari organ paru-parunya dapat diisolasi strain S tersebut. Sebaliknya, mencit yang diinfeksi dengan strain R dapat bertahan hidup. Demikian juga, mencit yang diinfeksi dengan strain S yang sebelumnya telah dipanaskan terlebih dahulu akan dapat bertahan hidup. Hasil yang mengundang pertanyaan adalah ketika mencit diinfeksi dengan campuran antara strain S yang telah dipanaskan dan strain R yang masih hidup. Ternyata dengan perlakuan ini mencit mengalami kematian, dan dari organ paru-parunya dapat diisolasi strain S yang masih hidup.
Dengan hasil tersebut Griffith menyimpulkan bahwa telah terjadi perubahan (transformasi) sifat strain R menjadi S.  Transformasi terjadi karena ada sesuatu yang dipindahkan dari sel-sel strain S yang telah mati (dipanaskan) ke strain R yang masih hidup sehingga strain R yang semula tidak dapat membentuk kapsul berubah menjadi strain S yang dapat membentuk kapsul dan bersifat virulen. Percobaan Griffith sedikit pun tidak memberikan bukti tentang materi genetik. Namun, pada tahun 1944 tiga orang peneliti, yakni O. Avery, C. MacLeod, dan M. McCarty melakukan percobaan untuk mengetahui hakekat materi yang dipindahkan dari strain S ke strain R.Mereka melakukan percobaan transformasi secara in vitro, yaitu dengan menambahkan ekstrak DNA dari strain S yang telah mati kepada strain R yang ditumbuh kan di medium padat. Di dalam ekstrak DNA ini terdapat juga sejumlah protein kontaminan, dan penambahan tersebut ternyata menyebabkan strain R berubah menjadi S seperti pada percobaan Griffith.  Jika pada percobaan Avery dan kawan-kawannya itu ditambahkan enzim RNase (pemecah RNA) atau enzim protease (pemecah protein), transformasi tetap berjalan atau strain R berubah juga menjadi S.  Akan tetapi, jika enzim yang diberikan adalah DNase (pemecah DNA), maka transformasi tidak terjadi. Artinya, strain R tidak berubah menjadi strain S.
Hal ini jelas membuktikan bahwa materi yang bertanggung jawab atas terjadinya transformasi pada bakteri pneumonia, dan ternyata juga pada hampir semua organisme, adalah DNA, bukan RNA atau protein

(2) Percobaan infeksi bakteriofag
Percobaan lain yang membuktikan bahwa DNA adalah materi genetik dilaporkan pada tahun 1952 oleh A. Hershey dan M. Chase. Percobaan dilakukan dengan mengamati reproduksi bakteriofag (virus yang menyerang bakteri) T2 di dalam sel bakteri inangnya, yaitu Escherichia coli.  Sebelumnya, cara berlangsungnya infeksi T2 pada E. coli telah diketahui. Mula-mula partikel T2 melekatkan ujung ekornya pada dinding sel E. coli, diikuti oleh masuknya materi genetik T2 ke dalam sel E. coli sehingga memungkinkan terjadinya penggandaan partikel T2 di dalam sel inangnya itu. Ketika hasil penggandaan partikel T2 telah mencapai jumlah yang sangat besar, sel E. coli akan mengalami lisis. Akhirnya, partikel-partikel T2 yang keluar akan mencari sel inang yang baru, dan siklus reproduksi tadi akan terulang kembali.
Bakteriofag T2 diketahui mempunyai kandungan protein dan DNA dalam jumlah yang lebih kurang sama. Untuk memastikan sifat kimia materi genetik yang dimasukkan ke dalam sel inang dilakukan pelabelan terhadap molekul protein dan DNAnya.  Protein, yang umumnya banyak mengandung sulfur tetapi tidak mengandung fosfor dilabeli dengan radioisotop 35S.  Sebaliknya, DNA yang sangat banyak mengandung fosfor tetapi tidak mengandung sulfur dilabeli dengan radioisotop 32P

Bakteriofag T2 dengan protein yang telah dilabeli diinfeksikan pada E. coli.  Dengan sentrifugasi, sel-sel E. coli ini kemudian dipisahkan dari partikel-partikel T2 yang sudah tidak melekat lagi pada dinding selnya. Ternyata di dalam sel-sel E. coli sangatsedikitditemukan radioisotop 35S, sedangkan pada partikel-partikel T2 masih banyak didapatkan radioisotop tersebut. Apabila dengan cara yang sama digunakan bakteriofag T2 yang dilabeli DNAnya, maka di dalam sel-sel E. coli ditemukan banyak sekali radiosiotop 32P, sedangkan pada partikel-partikel T2 hanya ada sedikit sekali radioisotop tersebut. Hasil percobaan ini jelas menunjukkan bahwa materi genetik yang dimasukkan oleh bakteriofag T2 ke dalam sel E. coli adalah materi yang dilabeli dengan 32P atau DNA, bukannya protein.

G.Replikasi DNA
(1) Pengertian Replikasi DNA
DNA mempunyai kemampuan yang ajaib untuk membuat tiruannya sendiri dengan ketepatan yang ajaib, prosesnya disebut replikasi DNA. Jadi Replikasi DNA adalah proses penggandaan rantai ganda DNA. Pada Sel Prokariota terus-menerus melakukan replikasi DNA, Namun Pada Sel eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA sangatlah diatur, yaitu pada fase S siklus sel, sebelum mitosis atau meiosis.
Replikasi DNA terjadi pada Interfase dalam setiap siklus sel. Dengan demikian setiap sel melakukan mitosis akan dihasilkan dua sel anak yang memiliki DNA lengkap persis seperti DNA pada sel induknya.

(2) Macam Replikasi DNA
Mengenai replikasi DNA ini, terdapat tiga hipotesis yaitu :

  1. Hipotesis konservatif yang menyatakan bahwa heliks ganda tetap dalam keadaan utuh dan sebuah salinan kedua yang sama sekali baru telah dibuat. Dengan kata lain bahwa Pada replikasi konservatif seluruh tangga berpilin DNA awal tetap dipertahankan dan akan mengarahkan pembentukan tangga berpilin baru.
  2. Hipotesis semikonservatif menyatakan bahwa kedua rantai molekul induk berpisah, dan setiap untai berfungsi sebagai cetakan untuk mensintesis untai komplementer yang baru. Dengan kata lain bahwa Pada replikasi semikonservatif tangga berpilin mengalami pembukaan terlebih dahulu sehingga kedua untai polinukleotida akan saling terpisah. Namun, masing-masing untai ini tetap dipertahankan dan akan bertindak sebagai cetakan (template) bagi pembentukan untai polinukleotida baru.
  3. Hipotesis dispersif menyatakan setiap untai dari kedua molekul anak terdiri dari campuran antara untai lama dan untai yang baru disintesis. Dengan kata lain bahwa pada replikasi dispersif kedua untai polinukleotida mengalami fragmentasi di sejumlah tempat. Kemudian, fragmen-fragmen polinukleotida yang terbentuk akan menjadi cetakan bagi fragmen nukleotida baru sehingga fragmen lama dan baru akan dijumpai berselang-seling di dalam tangga berpilin yang baru.

Di antara ketiga cara replikasi DNA yang diusulkan tersebut, hanya cara semi konservatif yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui percobaan yang dikenal dengan nama sentrifugasi seimbang dalam tingkat kerapatan atau equilibrium density-gradient centrifugation. Percobaan ini dilaporkan hasilnya pada tahun 1958 oleh M.S. Meselson dan F.W. Stahl. Meselson dan Stahl membiakkan E. coli untuk beberapa generasi di dalam medium yang mengandung isotop berat nitrogen N15. Bakteri akan memasukkan nitrogen berat tersebut ke dalam nukleotidanya dan kemudian ke dalam DNA-nya.
Kemudian biakan bakteri tersebut dipindahkan ke medium yang mengandung N14 yang mengandung isotop yang lebih ringan. Jadi DNA baru yang dibuat akan lebih ringan dibandingkan dengan DNA lama yang dibuat dalam medium N15. Dengan cara mensentrifugasi ekstrak DNA bakteri tersebut dihasilkan pita DNA hibrid yang mengandung ( N15 – N14 ). Hasil percobaan itu mematahkan hipotesis konservatif dan dispersif dan mendukung hipotesis semikonservatif.

(3) Replikasi Θ dan Replikasi Lingkaran Menggulung
Pada percobaan Meselson dan Stahl ekstrak DNA yang diperoleh dari sel-sel E. coli berada dalam keadaan terfragmentasi sehingga replikasi molekul DNA dalam bentuknya yang utuh sebenarnya belum diketahui. Replikasi DNA kromosom dalam keadaan utuh _ yang pada prokariot ternyata berbentuk melingkar atau sirkular _ baru dapat diamati menggunakan teknik autoradiografi dan mikroskopi elektron. Dengan kedua teknik ini terlihat bahwa DNA berbagai virus, khloroplas, dan mitokhondria melakukan replikasi yang dikenal sebagai replikasi θ (theta) karena auto radiogramnya menghasilkan gambaran seperti huruf Yunani tersebut.
Selain replikasi θ, pada sejumlah bakteri dan organisme eukariot dikenal pula replikasi yang dinamakan replikasi lingkaran menggulung (rolling circle replication). Replikasi ini diawali dengan pemotongan ikatan fosfodiester pada daerah tertentu yang menghasilkan ujung 3’ dan ujung 5’. Pembentukan (sintesis) untai DNA baru terjadi dengan penambahan deoksinukleotida pada ujung 3’ yang diikuti oleh pelepasan ujung 5’ dari lingkaran molekul DNA.
Sejalan dengan berlangsungnya replikasi di seputar lingkaran DNA, ujung 5’ akan makin terlepas dari lingkaran tersebut sehingga membentuk ’ekor’ yang makin memanjang.

Dimulainya (inisiasi) replikasi DNA terjadi di suatu tempat tertentu di dalam lingkaran molekul DNA yang dinamakan titik awal replikasi atau origin of replication (ori). Proses inisiasi ini ditandai oleh saling memisahnya kedua untai DNA, yang masing-masing akan berperan sebagai cetakan bagi pembentukan untai DNA baru sehingga akan diperoleh suatu gambaran yang disebut sebagai garpu replikasi. Biasanya, inisiasi replikasi DNA, baik pada prokariot maupun eukariot, terjadi dua arah (bidireksional). Dalam hal ini dua garpu replikasi akan bergerak melebar dari ori menuju dua arah yang berlawanan. Pada eukariot, selain terjadi replikasi dua arah, ori dapat ditemukan di beberapa tempat.

(4) Konsep Dasar Replikasi DNA
Diagram di samping menggambarkan sebuah segmen pendek DNA. Ibu tangganya terbuat dari gula-fosfat dari kedua untai DNA, sedangkan anak tangganya adalah pasangan basa nitrogen yang dilambangkan dengan empat macam bentuk sederhana. Warna biru menunjukkan untai DNA asli yang ada di sel induk sedangkan DNA yang baru disintesis diberi warna ungu. Sebelum melakukan replikasi molekul induk mempunyai dua untai DNA komplementer. Setiap basa nitrogen dihubungkan oleh ikatan hidrogen dengan pasangan tetap A dengan T dan G dengan C. Langkah pertama dalam replikasi adalah pemisahan kedua untai DNA. Setiap untai yang lama akan menjadi cetakan yang menentukan urutan nukleotida di sepanjang untai komplementer yang baru sehingga dihasilkan dua molekul DNA. Setiap molekul DNA sekarang terdiri dari satu untai “lama” dan satu untai “baru”

(5) Mekanisme Replikasi DNA
Langkah-Langkah Replikasi DNA adalah sebagai berikut :

  1. Dua (2) rantai DNA yang saling berpilin dipisahkan (terbuka) melalui reaksi hidrolisis oleh enzim helikase (enzim ini memutus ikatan Hidrogen yang menyatu kan kedua untaian DNA) sehingga terbentuk 2 rantai tunggal mono-nukleotida
  2. Setiap rantai tersebut menjadi acuan (template) pembentukan 2 rantai DNA yang baru dengan bantuan enzim DNA Polimerase
  3. DNA Polimerase akan bergerak di sepanjang rantai DNA template.
  4. Satu rantai DNA yang baru terbentuk akan tersintesis secara kontinu, sedangkan satu rantai lagi terbentuk secara tidak kontinu (berupa potingan – potongan)
  5. DNA Polimerase akan bergerak di sepanjang rantai DNA template dengan arah 5’ → 3’ sehingga arah pembentukan rantai DNA baru adalah 3’→ 5’
  6. Fragmen – fragmen (potongan) DNA tersebut dibentuk menjadi rantai DNA baru yang utuh dengan bentuan enzim DNA ligase berdasarkan urutan Nukleotida komplementernya.

Secara Rinci Tahapan Replikasi DNA adalah sebagai berikut :
A. Permulaan.
Replikasi molekul DNA dimulai pada tempat- tempat khusus yang disebut pangkal replikasi (origin of replication).

  1. Bakteri yang mempunyai kromosom melingkar memiliki satu pangkal, yaitu satu bagian DNA yang mempunyai urutan nukleotida yang spesifik. Replikasi DNA kemudian berjalan dua arah sampai seluruh molekul tersalin.
  2. Berbeda dengan kromosom bakteri, setiap kromosom eukariotik mempunyai ratusan bahkan ribuan pangkal replikasi. Replikasi dimulai pada tempat-tempat spesofik di mana kedua untai DNA induk terpisah membentuk “gelembung” replikasi. gelembung replikasi terentang secara lateral. Replikasi berjalan dua arah dari setiap pangkal. Disetiap ujung gelembung terdapat cabang replikasi (replikatio fork). Replikasi dimulai pada tempat-tempat spesofik di mana kedua untai DNA induk terpisah membentuk “gelembung” replikasi. Akhirnya gelembung replikasi menyatu dan sintesis untai DNA anak selesai

B. Pemanjangan untai DNA
Pemanjangan DNA baru dikatalisis oleh enzim- enzim DNA-polimerase. Saat nukleotida -nukleotida berjejer dengan basa-basa komplementer sepanjang untai pola cetakan DNA, nukleotida- nukleotida ini ditambahkan oleh DNA-polimerase satu per satu ke ujung untai DNA yang baru tumbuh. DNA polimerase mengkatalisis untai DNA baru, bekerja dalam arah 5′ 3′.
Sintesis DNA pada cabang replikasi menghasilkan leading strand yang kontinu, diskontinu dari lagging strand. Fragmen-fragmen ini kemudian disambung oleh DNA ligase. Pada manusia laju pemanjangan DNA baru dapat mencapai 50 nukleotida per detik. Sumber energi yang menggerakkan polimerase nukleotida menjadi DNA baru adalah nukleosida trifosfat. Ketika nukleosida trifosfat terjalin dengan tulang belakang gula-fosfat dari untai DNA yang sedang terbentuk, senyawa ini kehilangan dua fosfatnya dalam bentuk molekul pirofosfat

DNA polimerasi memanjangkan untai hanya dalam arah 5′ 3′. Salah satu untai baru disebut leading strand, yang dapat memanjang secara berkelanjutan dalam arah 5′ 3′. Sementara untai DNA baru lainnya yang disebut lagging strand harus tumbuh dalam arah 3′ 5′ dengan penambahan segemen-segmen pendek yang diperpanjang oleh Dna polimerase membentuk fragmen Okazaki yang tumbuh dengan arah 5′ 3′.

(6) Enzim-enzim yang berperan dalam replikasi DNA
Replikasi DNA, atau sintesis DNA, melibatkan sejumlah reaksi kimia yang diatur oleh beberapa enzim. Salah satu diantaranya adalah enzim DNA polimerase, yang mengatur pembentukan ikatan fosfodiester antara dua nukleotida yang berdekatan sehingga akan terjadi pemanjangan untai DNA (polinukleotida).
Agar DNA polimerase dapat bekerja mengatalisis reaksi sintesis DNA, diperlukan tiga komponen reaksi, yaitu:

  1. Deoksinukleosida trifosfat, yang terdiri atas deoksiadenosin trifosfat (dATP), deoksiguanosin trifosfat (dGTP), deoksisitidin trifosfat (dCTP), dan deoksitimidin trifosfat (dTTP). Keempat molekul ini berfungsi sebagai sumber basa nukleotida.
  2. Untai DNA yang akan digunakan sebagai cetakan (template).
  3. Segmen asam nukleat pendek, dapat berupa DNA atau RNA, yang mempunyai gugus 3’- OH bebas. Molekul yang dinamakan primer ini diperlukan karena tidak ada enzim DNA polimerase yang diketahui mampu melakukan inisiasi sintesis DNA.

Reaksi sintesis DNA secara skema dapat dilihat pada Gambar dibawah ini. Dalam gambar tersebut sebuah molekul dGTP ditambahkan ke molekul primer yang terdiri atas tiga nukleotida (A-C-A). Penambahan dGTP terjadi karena untai DNA cetakannya mempunyai urutan basa T-G-T-C- . . . . .  Hasil penambahan yang diperoleh adalah molekul DNA yang terdiri atas empat nukleotida (A-C-A-G).  Dua buah atom fosfat (PPi) dilepaskan dari dGTP karena sebuah atom fosfatnya diberikan ke primer dalam bentuk nukleotida dengan basa G atau deoksinukleosida monofosfat (dGMP).  Kita lihat bahwa sintesis DNA (penambahan basa demi basa) berlangsung dari ujung 5’ ke ujung 3’.

Enzim DNA polimerase yang diperlukan untuk sintesis DNA pada E. coli ada dua macam, yaitu DNA polimerase I (Pol I) dan DNA polimerase III (Pol III). Dalam sintesis DNA, Pol III merupakan enzim replikasi yang utama, sedangkan enzim Pol I memegang peran sekunder.  Sementara itu, enzim DNA polimerase untuk sintesis DNA kromosom pada eukariot disebut polimerase α.
Selain mampu melakukan pemanjangan atau polimerisasi DNA, sebagian besar enzim DNA polimerase mempunyai aktivitas nuklease, yaitu pembuangan molekul nukleotida dari untai polinukleotida. Aktivitas nuklease dapat dibedakan menjadi (1) eksonuklease atau pembuangan nukleotida dari ujung polinukleotida dan (2) endonuklease atau pemotongan ikatan fosfodiester di dalam untai polinukleotida.
Enzim Pol I dan Pol III dari E. coli mempunyai aktivitas eksonuklease yang hanya bekerja pada ujung 3’.  Artinya, pemotongan terjadi dari ujung 3’ ke arah ujung 5’. Hal ini bermanfaat untuk memperbaiki kesalahan sintesis DNA atau kesalahan penambahan basa, yang bisa saja terjadi meskipun sangat jarang (sekitar satu di antara sejuta basa !).  Kesalahan penambahan basa pada untai polinukleotida yang sedang tumbuh (dipolimerisasi) menjadikan basa-basa salah berpasangan, misalnya A dengan C. Fungsi perbaikan kesalahan yang dijalankan oleh enzim Pol I dan III tersebut dinamakan fungsi penyuntingan (proofreading). Khusus enzim Pol I ternyata juga mempunyai aktivitas eksonuklease 5’→ 3’ di samping aktivitas eksonuklease 3’→5’. Enzim lain yang berperan dalam proses sintesis DNA adalah primase. Enzim ini bekerja pada tahap inisiasi dengan cara mengatur pembentukan molekul primer di daerah ori. Setelah primer terbentuk barulah DNA polimerase melakukan elongasi atau pemanjangan untai DNA.
Tahap inisiasi sintesis DNA juga melibatkan enzim DNA girase dan protein yang mendestabilkan pilinan (helix destabilizing protein).  Kedua enzim ini berperan dalam pembukaan pilinan di antara kedua untai DNA sehingga kedua untai tersebut dapat saling memisah.
Pada bagian berikut ini akan dijelaskan bahwa sintesis DNA baru tidak hanya terjadi pada salah satu untai DNA, tetapi pada kedua-duanya. Hanya saja sintesis DNA pada salah satu untai berlangsung tidak kontinyu sehingga menghasilkan fragmen yang terputus-putus.  Untuk menyambung fragmen-fragmen ini diperlukan enzim yang disebut DNA ligase.

(7) Replikasi pada kedua untai DNA
Proses replikasi DNA yang kita bicarakan di atas sebenarnya barulah proses yang terjadi pada salah satu untai DNA. Untai DNA tersebut sering dinamakan untai pengarah (leading strand).  Sintesis DNA baru pada untai pengarah ini berlangsung secara kontinyu dari ujung 5’ ke ujung 3’ atau bergerak di sepanjang untai pengarah dari ujung 3’ ke ujung 5’.
Pada untai DNA pasangannya ternyata juga terjadi sintesis DNA baru dari ujung 5’ ke ujung 3’ atau bergerak di sepanjang untai DNA cetakannya ini dari ujung 3’ ke ujung 5’.  Namun, sintesis DNA pada untai yang satu ini tidak berjalan kontinyu sehingga menghasilkan fragmen terputus-putus, yang masing-masing mempunyai arah 5’→ 3’.  Terjadinya sintesis DNA yang tidak kontinyu sebenarnya disebabkan oleh sifat enzim DNA polimerase yang hanya dapat menyintesis DNA dari arah 5’ ke 3’ serta ketidakmampuannya untuk melakukan inisiasi sintesis DNA.
Untai DNA yang menjadi cetakan bagi sintesis DNA tidak kontinyu itu disebut untai tertinggal (lagging strand). Sementara itu, fragmen-fragmen DNA yang dihasilkan dari sintesis yang tidak kontinyu dinamakan fragmen Okazaki, sesuai dengan nama penemunya. Seperti telah dikemukakan di atas, fragmen-fragmen Okazaki akan disatukan menjadi sebuah untai DNA yang utuh dengan bantuan enzim DNA ligase.

a) DNA dalam Forensik
Ilmuwan Forensik dapat menggunakan DNA yang terletak dalam darah, sperma, kulit, liur atau rambut yang tersisa di tempat kejadian kejahatan untuk mengidentifikasi kemungkinan tersangka, sebuah proses yang disebut  finger printing genetika atau pemrofilan DNA (DNA profiling). Dalam pemrofilan DNA panjang relatif dari bagian DNA yang berulang seperti short tandem repeats dan minisatelit, dibandingkan.
Pemrofilan DNA dikembangkan pada 1984 oleh genetikawan Inggris Alec Jeffreys dari Universitas Leicester, dan pertama kali digunakan untuk mendakwa  Colin Pitchfork pada 1988 dalam kasus pembunuhan Enderby  diLeicestershireInggris. Banyak yurisdiksi membutuhkan terdakwa dari kejahatan tertentu untuk menyediakan sebuah contoh DNA untuk dimasukkan ke dalam data base computer. Hal ini telah membantu investigator menyelesaikan kasus lama di mana pelanggar tidak diketahui dan hanya contoh DNA yang diperoleh dari tempat kejadian (terutama dalam kasus perkosaan antar orang tak dikenal). Metode ini adalah salah satu teknik paling tepercaya untuk mengidentifikasi seorang pelaku kejahatan, tetapi tidak selalu sempurna, misalnya bila tidak ada DNA yang dapat diperoleh, atau bila tempat kejadian terkontaminasi oleh DNA dari banyak orang.

b) DNA dalam Komputasi
DNA memainkan peran penting dalam ilmu komputer, baik sebagai masalah riset dan sebagai sebuah cara komputasi.
Riset dalam algoritma pencarian string, yang menemukan kejadian dari urutan huruf di dalam urutan huruf yang lebih besar, dimotivasi sebagian oleh riset DNA, dimana algoritma ini digunakan untuk mencari urutan tertentu dari nukleotida dalam sebuah urutan yang besar. Dalam aplikasi lainnya seperti editor text, bahkan algoritma sederhana untuk masalah ini biasanya mencukupi, tetapi urutan DNA menyebabkan algoritma-algoritma ini untuk menunjukkan sifat kasus-mendekati-terburuk dikarenakan jumlah kecil dari karakter yang berbeda.
Teori database juga telah dipengaruhi oleh riset DNA, yang memiliki masalah khusus untuk menaruh dan memanipulasi urutan DNA. Database yang dikhususkan untuk riset DNA disebut database genomik, dam harus menangani sejumlah tantangan teknis yang unik yang dihubungkan dengan operasi pembandingan kira-kira, pembandingan urutan, mencari pola yang berulang, dan pencarian homologi.

(Berlanjut ke Bab 10  Bagian Kedua)





Diktat Genetika Ternak-9

28 07 2012

BAB IX. RANGKAI KELAMIN & PENENTUAN JENIS KELAMIN

9.1. Kromosom, Kelainan dan Autosom
Salah satu dari keempat kelompok gen berangkai atau keempat pasang kromosom pada D. melanogaster tersebut, dalam hal ini kromosom nomor 1, disebut sebagai kromosom kelamin. Pemberian nama ini karena strukturnya pada individu jantan dan individu betina memperlihatkan perbedaan sehingga dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin individu. Ternyata banyak sekali spesies organisme lainnya, terutama hewan dan juga manusia, mempunyai kromosom kelamin.

Gen-gen yang terletak pada kromosom kelamin dinamakan gen rangkai kelamin (sex-linked genes) sementara fenomena yang melibatkan pewarisan gen-gen ini disebut peristiwa rangkai kelamin (linkage). Adapun gen berangkai yang dibicarakan pada Bab ini adalah gen-gen yang terletak pada kromosom selain kromosom kelamin, yaitu kromosom yang pada individu jantan dan betina sama strukturnya sehingga tidak dapat digunakan untuk membedakan jenis kelamin. Kromosom semacam ini dinamakan autosom.

Seperti halnya gen berangkai (autosomal), gen-gen rangkai kelamin tidak mengalami segregasi dan penggabungan secara acak di dalam gamet-gamet yang terbentuk. Akibatnya, individu-individu yang dihasilkan melalui kombinasi gamet tersebut memperlihatkan nisbah fenotipe dan genotipe yang menyimpang dari hukum Mendel. Selain itu, jika pada percobaan Mendel perkawinan resiprok (genotipe tetua jantan dan betina dipertukarkan) menghasilkan keturunan yang sama, tidak demikian halnya untuk sifat-sifat yang diatur oleh gen rangkai kelamin.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa :

  1. Kromosom turut berperan dalam penentuan jenis kelamin
  2. Pasangan kromosom yang menyebabkan perbedaan   jenis kelamin disebut kromosom kelamin/kromosom sex
  3. Pasangan kromosom lain yang sama dalam kedua jenis  suatu spesies dinamakan autosom (A)

9.2. Gen Rangkai Kelamin
Gen rangkai kelamin dapat dikelompok-kelompokkan berdasarkan atas macam kromosom kelamin tempatnya berada. Oleh karena kromosom kelamin pada umumnya dapat dibedakan menjadi kromosom X dan Y, maka gen rangkai kelamin dapat menjadi gen rangkai X (X-linked genes) dan gen rangkai Y (Y-linked genes). Di samping itu, ada pula beberapa gen yang terletak pada kromosom X tetapi memiliki pasangan pada kromosom Y. Gen semacam ini dinamakan gen rangkai kelamin tak sempurna (incompletely sex-linked genes). Pada bab ini akan dijelaskan cara pewarisan macam-macam gen rangkai kelamin tersebut serta beberapa sistem penentuan jenis kelamin pada berbagai spesies organisme.

A.Pewarisan Rangkai X
Percobaan yang pertama kali mengungkapkan adanya peristiwa rangkai kelamin dilakukan oleh T.H Morgan pada tahun 1910. Dia menyilangkan lalat D. melanogaster jantan bermata putih dengan betina bermata merah. Lalat bermata merah lazim dianggap sebagai lalat normal atau tipe alami (wild type), sedang gen pengatur tipe alami, misalnya pengatur warna mata merah ini, dapat dilambangkan dengan tanda +.  Biasanya, meskipun tidak selalu, gen tipe alami bersifat dominan terhadap alel mutannya.

Hasil persilangan Morgan tersebut, khususnya pada generasi F1, ternyata berbeda jika tetua jantan yang digunakan adalah tipe alami (bermata merah) dan tetua betinanya bermata putih. Dengan perkataan lain, perkawinan resiprok menghasilkan keturunan yang berbeda. Persilangan resiprok dengan hasil yang berbeda ini memberikan petunjuk bahwa pewarisan warna mata pada Drosophila ada hubungannya dengan jenis kelamin, dan ternyata kemudian memang diketahui bahwa gen yang mengatur warna mata pada Drosophila terletak pada kromosom kelamin, dalam hal ini kromosom X. Oleh karena itu, gen pengatur warna mata ini dikatakan sebagai gen rangkai X

Jika kita perhatikan Gambar b, akan nampak bahwa lalat F1 betina mempunyai mata seperti tetua jantannya, yaitu normal/merah. Sebaliknya, lalat F1 jantan warna matanya seperti tetua betinanya, yaitu putih. Pewarisan sifat semacam ini disebut sebagai criss cross inheritance.

Pada Drosophila, dan juga beberapa spesies organisme lainnya, individu betina membawa dua buah kromosom X, yang dengan sendirinya homolog, sehingga gamet-gamet yang dihasilkannya akan mempunyai susunan gen yang sama. Oleh karena itu, individu betina ini dikatakan bersifat homogametik. Sebaliknya, individu jantan yang hanya membawa sebuah kromosom X akan menghasilkan dua macam gamet yang berbeda, yaitu gamet yang membawa kromosom X dan gamet yang membawa kromosom Y. Individu jantan ini dikatakan bersifat heterogametik.

a) Rangkai X pada kucing
Warna bulu pada kucing ditentukan oleh suatu gen rangkai X. Dalam keadaan heterozigot gen ini menyebabkan warna bulu yang dikenal dengan istilah tortoise shell. Oleh karena genotipe heterozigot untuk gen rangkai X hanya dapat dijumpai pada individu betina, maka kucing berbulu tortoise shell hanya terdapat pada jenis kelamin betina. Sementara itu, individu homozigot dominan (betina) dan hemizigot dominan (jantan) mempunyai bulu berwarna hitam. Individu homozigot resesif (betina) dan hemizigot resesif (jantan) akan berbulu kuning.
Istilah hemizigot digunakan untuk menyebutkan genotipe individu dengan sebuah kromosom X. Individu dengan gen dominan yang terdapat pada satu-satunya kromosom X dikatakan hemizigot dominan. Sebaliknya, jika gen tersebut resesif, individu yang memilikinya disebut hemizigot resesif.

b) Rangkai X pada manusia
Salah satu contoh gen rangkai X pada manusia adalah gen resesif yang menyebab kan penyakit hemofilia, yaitu gangguan dalam proses pembekuan darah. Sebenarnya, kasus hemofilia telah dijumpai sejak lama di negara-negara Arab ketika beberapa anak laki-laki meninggal akibat perdarahan hebat setelah dikhitan. Namun, waktu itu kematian akibat perdarahan ini hanya  dianggap sebagai takdir semata.
Hemofilia baru menjadi terkenal dan dipelajari pola pewarisannya setelah beberapa anggota keluarga Kerajaan Inggris mengalaminya. Awalnya, salah seorang di antara putra Ratu Victoria menderita hemofilia sementara dua di antara putrinya karier atau heterozigot. Dari kedua putri yang heterozigot ini lahir tiga cucu laki-laki yang menderita hemofilia dan empat cucu wanita yang heterozigot. Melalui dua dari keempat cucu yang heterozigot inilah penyakit hemofilia tersebar di kalangan keluarga Kerajaan Rusia dan Spanyol. Sementara itu, anggota keluarga Kerajaan Inggris saat ini yang merupakan keturunan putra/putri normal Ratu Victoria bebas dari penyakit hemofilia.

B.Rangkai Z pada ayam
Pada dasarnya pola pewarisan sifat rangkai Z sama dengan pewarisan sifat rangkai X. Hanya saja, kalau pada rangkai X individu homogametik berjenis kelamin pria/jantan sementara individu heterogametik berjenis kelamin wanita/betina, pada rangkai Z justru terjadi sebaliknya. Individu homogametik (ZZ) adalah jantan, sedang individu heterogametik (ZW) adalah betina.
Contoh gen rangkai Z yang lazim dikemukakan adalah gen resesif br yang menyebabkan pemerataan pigmentasi bulu secara normal pada ayam. Alelnya, Br, menyebabkan bulu ayam menjadi burik. Jadi, pada kasus ini alel resesif justru dianggap sebagai tipe alami atau normal (dilambangkan dengan +), sedang alel dominannya merupakan alel mutan.

C. Pewarisan Rangkai Y
Pada umumnya kromosom Y hanya sedikit sekali mengandung gen yang aktif. Jumlah yang sangat sedikit ini mungkin disebabkan oleh sulitnya menemukan alel mutan bagi gen rangkai Y yang dapat menghasilkan fenotipe abnormal. Biasanya suatu gen/alel dapat dideteksi keberadaannya apabila fenotipe yang dihasilkannya adalah abnormal. Oleh karena fenotipe abnormal yang disebabkan oleh gen rangkai Y jumlahnya sangat sedikit, maka gen rangkai Y diduga merupakan gen yang sangat stabil.
Gen rangkai Y jelas tidak mungkin diekspresikan pada individu betina/wanita sehingga gen ini disebut juga gen holandrik. Contoh gen holandrik pada manusia adalah Hg dengan alelnya hg yang menyebabkan bulu kasar dan panjang, Ht dengan alelnya ht yang menyebabkan pertumbuhan bulu panjang di sekitar telinga, dan Wt dengan alelnya wt yang menyebabkan abnormalitas kulit pada jari.

D. Pewarisan Rangkai Kelamin Tak Sempurna
Meskipun dari uraian di atas secara tersirat dapat ditafsirkan bahwa kromosom X tidak homolog dengan kromosom Y, ternyata ada bagian atau segmen tertentu pada kedua kromosom tersebut yang homolog satu sama lain. Dengan perkataan lain, ada beberapa gen pada kromosom X yang mempunyai alel pada kromosom Y. Pewarisan sifat yang diatur oleh gen semacam ini dapat dikatakan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin, dan berlangsung seperti halnya pewarisan gen autosomal. Oleh karena itu, gen-gen pada segmen kromosom X dan Y yang homolog ini disebut juga gen rangkai kelamin tak sempurna.
Pada D. melanogaster terdapat gen rangkai kelamin tak sempurna yang menyebabkan pertumbuhan bulu pendek. Pewarisan gen yang bersifat resesif ini dapat dilihat pada Gambar dibawah ini.

Dapat dilihat pada Gambar di atas bahwa perkawinan resiprok untuk gen rangkai kelamin tak sempurna akan memberikan hasil yang sama seperti halnya hasil yang diperoleh dari perkawinan resiprok untuk gen-gen autosomal. Jadi, pewarisan gen rangkai kelamin tak sempurna mempunyai pola seperti pewarisan gen autosomal.

9.3. Tipe Penentuan Jenis Kelamin Organisme
A.Sistem Penentuan Jenis Kelamin
Telah disebutkan di atas bahwa pada manusia dan mamalia, dalam hal ini kucing, individu pria/jantan adalah heterogametik (XY) sementara wanita/betina adalah homogametik (XX). Sebaliknya, pada ayam individu jantan justru homogametik (ZZ) sementara individu betinanya heterogametik (ZW). Penentuan jenis kelamin pada manusia/mamalia dikatakan mengikuti sistem XY, sedang pada ayam, dan unggas lainnya serta ikan tertentu, mengikuti sistem ZW.
Selain kedua sistem tersebut, masih banyak sistem penentuan jenis kelamin lainnya. Berikut ini akan dijelaskan beberapa di antaranya :

a) Sistem XO
Sistem XO dijumpai pada beberapa jenis serangga, misalnya belalang. Di dalam sel somatisnya, individu betina memiliki dua buah kromosom X sementara individu jantan hanya mempunyai sebuah kromosom X. Jadi, hal ini mirip dengan sistem XY. Bedanya, pada sistem XO individu jantan tidak mempunyai kromosom Y. Dengan demikian, jumlah kromosom sel somatis individu betina lebih banyak daripada jumlah pada individu jantan. Sebagai contoh, E.B. Wilson menemukan bahwa sel somatis serangga Protenor betina mempunyai 14 kromosom, sedang pada individu jantannya hanya ada 13 kromosom.

b) Sistem nisbah X/A
C.B. Bridge melakukan serangkaian penelitian mengenai  jenis kelamin pada lalat Drosophila. Dia berhasil menyimpulkan bahwa sistem penentuan jenis kelamin pada organisme tersebut berkaitan dengan nisbah banyaknya kromosom X terhadap banyaknya autosom, dan tidak ada hubungannya dengan kromosom Y. Dalam hal ini kromosom Y hanya berperan mengatur fertilitas jantan. Secara ringkas penentuan jenis kelamin dengan sistem X/A pada lalat Drosophila dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.

Jika kita perhatikan kolom pertama pada Tabel di atas akan terlihat bahwa ada beberapa individu yang jumlah kromosom X-nya lebih dari dua buah, yakni individu dengan jenis kelamin metabetina, betina triploid dan tetraploid, serta interseks. Adanya kromosom X yang didapatkan melebihi jumlah kromosom X pada individu normal (diploid) ini disebabkan oleh terjadinya peristiwa yang dinamakan gagal pisah (non disjunction), yaitu gagal berpisahnya kedua kromosom X pada waktu pembelahan meiosis.

Pada Drosophila terjadinya gagal pisah dapat menyebabkan terbentuknya beberapa individu abnormal seperti nampak pada Gambar di bawah ini

∞ Gynandromorphism
Di samping kelainan-kelainan tersebut pernah pula dilaporkan adanya lalat Drosophila yang sebagian tubuhnya memperlihatkan sifat-sifat sebagai jenis kelamin jantan sementara sebagian lainnya betina. Lalat ini dikatakan mengalami mozaik seksual atau biasa disebut dengan istilah ginandromorfi. Penyebabnya adalah ketidakteraturan distribusi kromosom X pada masa-masa awal pembelahan mitosis zigot. Dalam hal ini ada sel yang menerima dua kromosom X tetapi ada pula yang hanya menerima satu kromosom X

Intersex dan Super Sex
Pada teori penentuan jenis kelamin disebutkan bahwa satu X-Kromosom menentukan Jenis Kelamin Jantan dan Dua X-Kromosom menentukan Jenis Kelamin Betina. Tetapi berdasarkan data tabel Nisbah X/A diketahui bahwa terjadi penyimpangan Jenis Kelamin Normal yaitu Intersex dan Super Sex, dimana penentuan Jenis Kelamin tidak hanya ditentukan berdasarkan X-Kromosom tetapi juga oleh Autosom sehingga memiliki imbangan X/A yang melebihi 1 untuk Female (Betina) serta Kurang dari 0,5 untuk Jantan (Male).Individu Intersex (Banci) adalah Mandul serta bersifat diantara Jantan dan betina.  Sedangkan pada Super Female maupun Super Male steril dan viabilitas rendah (Sudah mati)

Contoh Gagal Berpisah Pada Manusia:

∞ Partenogenesis
Pada beberapa spesies Hymenoptera seperti semut, lebah, dan tawon, individu jantan berkembang dengan cara partenogenesis, yaitu melalui telur yang tidak dibuahi. Oleh karena itu, individu jantan ini hanya memiliki sebuah genom atau perangkat kromosomnya haploid.
Sementara itu, individu betina dan golongan pekerja, khususnya pada lebah, berkembang dari telur yang dibuahi sehingga perangkat kromosomnya adalah diploid. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa partenogenesis merupakan sistem penentuan jenis kelamin yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan kromosom kelamin tetapi hanya bergantung kepada jumlah genom (perangkat kromosom).

c) Sistem gen Sk-Ts
Di atas disebutkan bahwa sistem penentuan jenis kelamin pada lebah tidak berhubungan dengan kromosom kelamin. Meskipun demikian, sistem tersebut masih ada kaitannya dengan jumlah perangkat kromosom.
Pada jagung dikenal sistem penentuan jenis kelamin yang tidak bergantung, baik kepada kromosom kelamin maupun jumlah genom, tetapi didasarkan atas keberadaan gen tertentu. Jagung normal monosius (berumah satu) mempunyai gen Sk, yang mengatur pembentukan bunga betina, dan gen Ts, yang mengatur pembentukan bunga jantan.  Jagung monosius ini mempunyai fenotipe Sk_Ts_.
Sementara itu, alel-alel resesif sk dan ts masing-masing menghalangi pembentukan bunga betina dan mensterilkan bunga jantan. Oleh karena itu, jagung dengan fenotipe Sk_tsts adalah betina diosius (berumah dua), sedang jagung skskTs_ adalah jantan diosius. Jagung sksktsts berjenis kelamin betina karena ts dapat mengatasi pengaruh sk, atau dengan perkataan lain, bunga betina tetap terbentuk seakan-akan tidak ada alel sk.

B.Pengaruh lingkungan
Sistem penentuan jenis kelamin bahkan ada pula yang bersifat nongenetik. Hal ini misalnya dijumpai pada cacing laut Bonellia, yang jenis kelaminnya semata-mata ditentukan oleh faktor lingkungan.. F. Baltzer menemukan bahwa cacing Bonellia yang berasal dari sebuah telur yang diisolasi akan berkembang menjadi individu betina. Sebaliknya, cacing yang hidup di lingkungan betina dewasa akan mendekati dan memasuki saluran reproduksi cacing betina dewasa tersebut untuk kemudian berkembang menjadi individu jantan yang parasitik.

9.4. Kromatin Kelamin dan Hipotesis Lyon
A.Kromatin Kelamin
Seorang ahli genetika dari Kanada, M.L. Barr, pada tahun 1949 menemukan adanya struktur tertentu yang dapat memperlihatkan reaksi pewarnaan di dalam nukleus sel syaraf kucing betina. Struktur semacam ini ternyata tidak dijumpai pada sel-sel kucing jantan. Pada manusia dilaporkan pula bahwa sel-sel somatis pria, misalnya sel epitel selaput lendir mulut, dapat dibedakan dengan sel somatis wanita atas dasar ada tidaknya struktur tertentu yang kemudian dikenal dengan nama kromatin kelamin atau badan Barr.
Pada sel somatis wanita terdapat sebuah kromatin kelamin sementara sel somatis pria tidak memilikinya. Selanjutnya diketahui bahwa banyaknya kromatin kelamin ternyata sama dengan banyaknya kromosom X dikurangi satu. Jadi, wanita normal mempunyai sebuah kromatin kelamin karena kromosom X-nya ada dua. Demikian pula, pria normal tidak mempunyai kromatin kelamin karena kromosom X-nya hanya satu.
Dewasa ini keberadaan kromatin kelamin sering kali digunakan untuk menentukan jenis kelamin serta mendiagnosis berbagai kelainan kromosom kelamin pada janin melalui pengambilan cairan amnion embrio (amniosentesis). Pria dengan kelainan kromosom kelamin, misalnya penderita sindrom Klinefelter (XXY), mempunyai sebuah kromatin kelamin yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang pria normal. Sebaliknya, wanita penderita sindrom Turner (XO) tidak mempunyai kromatin kelamin yang seharusnya ada pada wanita normal.

B. Hipotesis Lyon
Mary F. Lyon, seorang ahli genetika dari Inggris mengajukan hipotesis bahwa kromatin kelamin merupakan kromosom X yang mengalami kondensasi atau heterokromatinisasi sehingga secara genetik menjadi inaktif. Hipotesis ini dilandasi hasil pengamatannya atas ekspresi gen rangkai X yang mengatur warna bulu pada mencit. Individu betina heterozigot memperlihatkan fenotipe mozaik yang jelas berbeda dengan ekspresi gen semidominan (warna antara yang seragam). Hal ini menunjukkan bahwa hanya ada satu kromosom X yang aktif di antara kedua kromosom X pada individu betina. Kromosom X yang aktif pada suatu sel mungkin membawa gen dominan sementara pada sel yang lain mungkin justru membawa gen resesif.
Hipotesis Lyon juga menjelaskan adanya mekanisme kompensasi dosis pada mamalia. Mekanisme kompensasi dosis diusulkan karena adanya fenomena bahwa suatu gen rangkai X akan mempunyai dosis efektif yang sama pada kedua jenis kelamin. Dengan perkataan lain, gen rangkai X pada individu homozigot akan diekspesikan sama kuat dengan gen rangkai X pada individu hemizigot.

9.5.  Pengaruh Hormon Kelainan dalam Penentuan Jenis Kelamin
A.Hormon dan Diferensiasi Kelamin
Dari penjelasan mengenai berbagai sistem penentuan jenis kelamin organisme diketahui bahwa faktor genetis memegang peranan utama dalam ekspresi sifat kelamin primer. Selanjutnya, sistem hormon akan mengatur kondisi fisiologi dalam tubuh individu sehingga mempengaruhi perkembangan sifat kelamin sekunder.
Pada hewan tingkat tinggi dan manusia hormon kelamin disintesis oleh ovarium, testes, dan kelenjar adrenalin. Ovarium dan testes masing-masing mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai penghasil sel kelamin (gamet) dan sebagai penghasil hormon kelamin. Sementara itu, kelenjar adrenalin menghasilkan steroid yang secara kimia berhubungan erat dengan gonad.

B.Gen terpengaruh kelamin
Gen terpengaruh kelamin (sex influenced genes) ialah gen yang memperlihatkan perbedaan ekspresi antara individu jantan dan betina akibat pengaruh hormon kelamin. Sebagai contoh, gen autosomal H yang mengatur pembentukan tanduk pada domba akan bersifat dominan pada individu jantan tetapi resesif pada individu betina. Sebaliknya, alelnya h, bersifat dominan pada domba betina tetapi resesif pada domba jantan. Oleh karena itu, untuk dapat bertanduk domba betina harus mempunyai dua gen H (homozigot) sementara domba jantan cukup dengan satu gen H (heterozigot).

Contoh lain gen terpengaruh kelamin adalah gen autosomal B yang mengatur kebotakan pada manusia. Gen B dominan pada pria tetapi resesif pada wanita. Sebaliknya, gen b dominan pada wanita tetapi resesif pada pria. Akibatnya, pria heterozigot akan mengalami kebotakan, sedang wanita heterozigot akan normal. Untuk dapat mengalami kebotakan seorang wanita harus mempunyai gen B dalam keadaan homozigot.

C.Gen terbatasi kelamin
Selain mempengaruhi perbedaan ekspresi gen di antara jenis kelamin, hormon kelamin juga dapat membatasi ekspresi gen pada salah satu jenis kelamin. Gen yang hanya dapat diekspresikan pada salah satu jenis kelamin dinamakan gen terbatasi kelamin (sex limited genes). Contoh gen semacam ini adalah gen yang mengatur produksi susu pada sapi perah, yang dengan sendirinya hanya dapat diekspresikan pada individu betina. Namun, individu jantan dengan genotipe tertentu sebenarnya juga mempunyai potensi untuk menghasilkan keturunan dengan produksi susu yang tinggi sehingga keberadaannya sangat diperlukan dalam upaya pemuliaan ternak tersebut.

9.6.  Umpan Balik

  1. Apa yang saudara ketahui tentang kromosom sex dan autosom !
  2. Jenis kelamin bagi sesuatu organisme dapat ditentukan melalui berbagai faktor genetik atau lingkungan. Jelaskan Pernyataan tersebut.
  3. Ada 5 jenis kelamin dimiliki manusia,hewan dan tumbuhan yaitu: Laki-laki (Seorang memiliki kemaluan dan identitasnya laki-laki), Perempuan (Seorang memiliki kemaluan dan identitasya perempuan), Waria (Male to Female atau Transwoman) yaitu Seorang memiliki kemaluan laki-laki tetapi identitasnya seperti perempuan, Riawa (Female to Male atau Transman) yaitu Seorang memiliki kemaluan perempuan tetapi identitasnya seperti laki-laki dan Hermafrodit (Seorang memiliki kemaluan ganda tetapi identitasnya belum tentu disebut laki-laki atau perempuan). Jelaskan penyataan di atas berdasarkan hubungan antara X-Kromosom dan Autosomnya.
  4. Apabila diketahui Jumlah Kromosom : (a) Manusia = 46, Lalat Buah = 8, Ayam = 78 dan Belalang = 24. Maka Bagaimana Sistem Penentuan Jenis Kelaminnya serta Bagaimana Susunan Autosom dan Kromosom Sexnya.
  5. Gen buta warna & hemofilia pada manusia juga di sebabkan oleh gen resesif : tertaut sex ( kromosom X ). Bagaimana hasil Perkawinan ibu buta warna dengan ayah yang normal.
  6. Apabila ada Pernyataan Bahwa ternyata di dunia ini Jumlah Laki-Laki (Pria) lebih banyak dibandingkan dengan jumlah perempuan (wanita). Coba Jelaskan pernyataan tersebut kalau dikaitkan dengan Proses Penentuan Jenis Kelamin.
  7. Fenomena Macho (Maskulin) dan Feminin secara social sudah menjadi informasi dimasyarakat. Coba Jelaskan Fenomena tersebut.
  8. Pada Kromosom yang terpaut Kelamin, umumnya Wanita hanya sebagai Carrier sedang kan penderita umumnya banyak pada Pria. Jelaskan proses tersebut.
  9. Mengapa fenomena Banci umumnya bisa diketahui setelah Remaja dan tidak/sulit diketahui pada masa anak-anak.
  10. Jelaskan Teori Continuity of Germ plasm yang mendasari dalam penentuan Jenis Kelamin.





Diktat Genetika Ternak-8

28 07 2012

BAB VIII. PELUANG/KEMUNGKINAN

8.1. Pengantar
Salah satu sifat ilmiah dalam suatu Ilmu bahwa segala sesuatu harus terukur. Demikian juga  dalam suatu ilmu genetika baik genetika transmisi atau genetika Mendel, khususnya dalam cabang genetika kuantitatif, maka pengukuran menggunakan parameter kuantitatif, yaitu pengukuran berkaitan dengan perbandingan fenotip dan perbandingan genotip. Pembahasan tentang perbandingan genetik pasti akan berhubungan dengan menghitung besarnya kemungkinan suatu peristiwa akan terjadi atau akan muncul. Dalam genetika kemungkinan yang dihitung adalah kemungkinan memisah dan bergabung nya gamet, atau lebih spesifik memisah atau bergabungnya alel, hal ini berarti kemungkinan munculnya suatu fenotip atau genotip pada suatu individu.

Ada tiga lingkungan dalam proses pengambilan keputusan yang telah dijadikan dalil yakni  pasti, ketidakpastian dan resiko. Resiko adalah suatu keadaan dimana nilai-nilai peluang dapat diberikan kepada setiap hasil atau peristiwa. Sampai seberapa jauh keputusan diambil dalam suatu resiko tergantung pada siapa yang akan mengambil keputusan tersebut apakah para Peternak, pebisnis, industriawan atau tingkatan menajerial dalam suatu organisasi. Akan tetapi, meskipun keputusan semacam ini boleh dibilang langka namun tetap perlu menjadi bahan pertimbangan.

Sebagai contoh industri Peternakan tetap mempercayai nilai-nilai peluang yang diambil dari data aktual. Kesalahan yang dilakukan perusahaan peternakan ini dalam menggunakan nilai-nilai peluang untuk membuat keputusan bisa berakibat fatal bagi perusahaan tersebut. Dalam kasus lain, masalah yang dihadapi oleh para manajer dalam mengambil keputusan adalah bagaimana menggunakan nilai-nilai peluang dalam situasi yang sebenarnya dan bagaimana menarik kesimpulan dari hasil yang didasarkan pada teori peluang.

Kapan tepatnya teori peluang masuk ke dalam dunia statistika belum diketahui secara pasti. Meskipun teori peluang sudah dikenal sejak abad 17 oleh para matematika wan, tetapi masih diragukan kapan teori ini berhubungan dengan statistika. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, perkawinan antara matematika peluang dengan data yang dikumpulkan oleh negara-negara di berbagai penjuru dunia akhirnya melahirkan ilmu baru yaitu statistika.

Tidak dapat dipungkiri lagi berkembangnya teori peluang diawali oleh kesenangan orang untuk mengadu untung di meja judi. Lahirnya berbagai teori peluang yang dilandasi dari kesenangan ini telah banyak mempengaruhi perkembangan ilmu statistika itu sendiri. Seseorang tidaklah mungkin untuk memahami statistika secara sempurna tanpa memahami apa arti peluang itu sendiri. Olehkarena itu dapatlah dikatakan bahwa teori peluang adalah fondasi dari statistika.

Penggunaan teori peluang dalam bidang bisnis sudah cukup lama dikenal oleh para pebisnis. Meski banyak diantara mereka tidak memiliki latar belakang matematika namun istilah peluang, disadari atau tidak, banyak berperan ketika mereka menjalankan aktivitas organisasi khususnya dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu untuk memberikan gambaran tentang peluang yang dimaksud, bab ini hanya membahas dasar-dasar teori peluang sebagai dasar pengetahuan untuk memahami analisis statistika.

8.2. Pengertian Peluang/Kemungkinan/Probability
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar perkiraan terjadinya hujan dalam bentuk peluang baik secara kualitatif seperti “kemungkinannya kecil akan terjadi hujan esok hari”, atau dalam bentuk kuantitatif seperti “kemungkinan hujan esok hari sekitar 30%”. Jelas di sini bahwa berbicara mengenai peluang kita dihadapkan dalam suatu kondisi yang tidak pasti, akan tetapi kita hanya diberikan suatu petunjuk atau gambaran seberapa besar keyakinan kita bahwa suatu peristiwa bisa terjadi.

Peluang seringkali juga disebut dengan nama lain seperti probabilitas, kebolehjadian, Kemungkinan, dan sebagainya. Peluang semata-mata adalah suatu cara untuk menyatakan kesempatan terjadinya suatu peristiwa atau suatu istilah untuk menunjukkan ketidak pastian, artinya segala sesuatu yang tidak pasti terjadi dapat disebut mungkin akan terjadi walaupun mungkin juga tidak atau belum tentu terjadi. Harapan akan terjadinya suatu peristiwa, tidak sama untuk setiap peristiwa dan setiap waktu. Oleh karena itu besarnya kemungkinan suatu peristiwa yang berbeda dapat sama dapat pula berbeda.

Dengan demikian dapat didefinisikan bahwa Peluang atau Kemungkinan atau Probability adalah Banyaknya kejadian yang akan menimbulkan peristiwa dalam suatu jumlah gugus kejadian yang mungkin terjadi. Peluang munculnya suatu kejadian dapat didefinisikan sebagai nisbah munculnya kejadian tersebut terhadap seluruh kejadian.

Jika pada suatu gugus n kejadian yang mungkin terjadi, sedangkan dari gugus kejadian tersebut terdapat m kejadian yang akan menimbulkan peristiwa tertentu, maka Nilai Peluang terjadinya peristiwa tertentu adalah P = m/n.

Secara kualitatif peluang dapat dinyatakan dalam bentuk kata sifat untuk menunjukkan kemungkinan terjadinya suatu keadaan seperti “baik”, “lemah”, “kuat”, “miskin”, “sedikit” dan lain sebagainya. Secara kuantitatif, peluang dinyatakan sebagai nilai-nilai numeris baik dalam bentuk pecahan maupun desimal antara 0 (0%) dan 1 (100%). Peluang sama dengan 0 berarti sebuah peristiwa tidak bisa terjadi atau Kejadian yang tidak pernah muncul sama sekali, sedangkan peluang sama dengan 1 berarti peristiwa tersebut pasti terjadi atau kejadian yang selalu muncul.

Semakin besar nilai peluang yang dihasilkan dari suatu perhitungan maka semakin besar keyakinan kita bahwa peristiwa itu akan terjadi. Dewasa ini, perkiraan tentang akan terjadinya suatu gejala alam bukanlah sesuatu pekerjaan sederhana akan tetapi telah melalui suatu proses perhitungan yang sangat kompleks. Gejala sebuah peristiwa tidak hanya dikaji dari satu sisi saja, misalnya pengaruh waktu, akan tetapi juga melibatkan banyak variabel yang terkait dengan peristiwa tersebut.  Oleh karena itu peluang yang didasarkan pada latar belakang ilmiah bisa memberikan tingkat keyakinan yang lebih tinggi bagi orang yang memerlukannya.

Contoh :

  1. Kemungkinan Lahirnya anak perempuan adalah 50 % atau ½. Demikian juga peluang kelahiran anak laki-laki juga ½.
  2. Seperti halnya dalam mata uang logam, maka kemungkinan timbulnya muka gambar pada satu lemparan adalah ½, demikian juga kemungkinan timbulnya muka huruf juga ½.
  3. Bagaimana dengan Peluang keluarnya angka pada Mata Dadu ?. Jumlah angka = 6, berarti Keluarnya angka pada mata dadu adalah 1/6.
  4. Percobaan-percobaan persilangan secara teori akan menghasilkan keturunan dengan nisbah tertentu. Nisbah teoretis ini pada hakekatnya merupakan peluang diperolehnya suatu hasil, baik berupa fenotipe maupun genotipe. Sebagai contoh, persilangan monohibrid antara sesama individu Aa akan memberikan nisbah fenotipe A- : aa = 3 : 1 dan nisbah genotipe AA : Aa : aa = 1 : 2 : 1 pada generasi F2.  Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa peluang diperolehnya fenotipe A- dari persilangan tersebut adalah 3/4, sedangkan peluang munculnya fenotipe aa adalah 1/4. Begitu juga, untuk genotipe, peluang munculnya AA, Aa, dan aa masing-masing adalah 1/4, 2/4 (=1/2), dan 1/4.

8.3.   Peristiwa
Istilah peristiwa yang kita kenal sehari-hari seringkali agak berbeda makna  jika kita berbicara tentang teori peluang. Biasanya orang berpikir bahwa peristiwa adalah suatu kejadian layaknya peristiwa sejarah, gejala-gejala fisik, pesta dan lain sebagainya. Dalam statistika, pengertian ini diperluas dengan memasukkan unsur-unsur kesempatan atau peluang atas terjadinya suatu peristiwa yang didasarkan pada hasil sebuah percobaan atau eksperimen yang dilakukan secara berulang-ulang.

Sebagai contoh peristiwa terambilnya kartu As dari setumpuk kartu bridge, jumlah cairan yang disaring dari mesin pengisi, jumlah kendaraan niaga yang melalui jalan protokol, jumlah barang yang cacat dalam satu lot, dan karakteristik lainnya yang secara umum tidak dapat disebutkan sebagai peristiwa.

Untuk keperluan penentuan peluang ada gunanya untuk membagi peristiwa ke dalam dua jenis peristiwa yakni peristiwa sederhana dan peristiwa majemuk. Peristiwa sederhana tidak dapat dibagi lebih lanjut lagi ke dalam komponen-komponen peristiwa, sedangkan peritiwa majemuk selalu memiliki dua atau lebih komponen peristiwa sederhana.

Peristiwa “Kartu Sekop” secara definisi adalah peristiwa sederhana karena hanya ada satu jenis kartu sekop dalam setumpuk kartu bridge. Akan tetapi peristiwa “As Sekop” dapat dianggap sebagai peristiwa majemuk karena kartunya haruslah berisikan keduanya yakni kartu As dan kartu Sekop.  Namun definisi ini tergantung dari pandangan si pelaku percobaan. Bisa saja seseorang mengatakan bahwa As Sekop sebagai suatu peristiwa sederhana jika dia mengganggap hal ini sebagai suatu kesatuan. Pembagian jenis peristiwa ini dimaksudkan untuk kemudahan dalam mempelajari teori peluang selanjutnya

8.4. Macam-Macam Peluang
Berdasarkan pada jenis terjadinya suatu peristiwa yaitu peristiwa sederhana maupun peristiwa majemuk atau ganda , maka kita dapat membedakan peluang yaitu Peluang Logis, Peluang Empiris dan Peluang Subyektif. Untuk peristiwa sederhana, peluang dapat diturunkan baik secara logis, melalui pengamatan empiris maupun secara subjektif. Ketiga bentuk peluang ini mempunyai implikasi yang penting bagi para manajer khususnya dalam proses pengambilan keputusan.

a.Peluang Logis
Semua proses yang bisa diprediksi dan didefinisikan secara lengkap memungkin kan kita secara deduktif menentukan peluang dari hasil yang terjadi. Sayangnya banyak para pebisnis yang tidak masuk dalam kategori ini. Sebenarnya penurunan peluang logis adalah sesuatu yang  berharga untuk dikaji, karena kemampuan memprediksi proses sederhana kerapkali bisa memberikan petunjuk bagi para manajer untuk memperbaiki tindakan-tindakan dalam menghadapi situasi yang kompleks atau tidak dapat diprediksi.

Peluang logis sebenarnya didasarnya pada pertimbangan logika semata, bukan berdasarkan hasil percobaan. Tetapi hasil ini bisa diuji melalui suatu percobaan. Pelemparan dua buah dadu yang merupakan salah satu upaya keras tertua dalam pengembangan teori peluang, bisa diambil sebagai contoh dari penurunan peluang logis ini.

Pada pelemparan dua buah dadu kita tahu bahwa jumlah angka dari kedua dadu yang bisa muncul adalah 2, 3, 4, 5, …, 12 atau ada 11 peristiwa yang berbeda. Berapa peluang munculnya jumlah 5? Meski peristiwa jumlah 5 ada 1 dari 11 peristiwa,  tidak berarti bahwa peluangnya adalah 1/11. Mengapa demikian, karena kita tidak mempertimbangkan bagaimana berbagai peristiwa bisa dihasilkan. Perhatikan Tabel di bawah ini yang merupakan matriks dari semua kombinasi peristiwa yang mungkin terjadi dalam pelemparan dua buah dadu. Dari sini tampak bahwa ada 36 kombinasi yang mungkin. Peristiwa “jumlah 5” adalah hasil dari kombinasi 4 peristiwa. Berarti peluang munculnya jumlah 5 pada pelemparan dua buah dadu adalah 4/36 atau sekitar 0,11.

b.Peluang Empiris
Banyak kasus dimana para manajer kurang mengikuti pola-pola peluang seperti yang dijelaskan di atas. Kemungkinan besar hal ini disebabkan tidak dipahaminya apa sebenarnya peluang itu. Untuk kasus seperti ini, yang lebih cocok untuk diacu adalah peluang yang didasarkan pada data pengamatan atau data empiris. Ambil contoh sebagai berikut.

Dalam memproduksi sebanyak 10.000 unit telur ayam ras, diperoleh 25 unit diantaranya cacat/rusak. Berdasarkan hasil ini maka dapat dikatakan bahwa peluang telur yang cacat/rusak adalah 25/10.000 = 0,0025. Nilai ini juga merupakan peluang terambilnya secara acak 1 unit telur yang cacat. Demikian pula rata-rata persentase barang cacat dalam suatu box diperkirakan sebesar 0,0025.  Jika ada pesanan sebanyak 2.000 unit telur dari perusahaan peternakan ini kita berharap 0,0025(2000) = 5 unit telur yang cacat.

Peluang empiris atau ada pula yang menyebutnya sebagai peluang objektif, hanya bisa diperoleh melalui percobaan atau eksperimen yang dilakukan secara berulang-ulang, dalam kondisi yang sama dan diharapkan dalam jumlah yang besar. Dari eksperimen ini akan dihasilkan informasi berupa frekuensi relatif yang sangat berguna khususnya untuk keperluan perbaikan sebuah sistem. Misalnya saja dalam proses pengemasan susu ingin diketahui berapa persen kemasan yang berisikan lebih dari 150 ml. Dari proses pengisian yang cukup lama, maka bisa dibuat distribusi frekuensi volume susu yang terisi kedalam kotak atau susu yang tercecer pada setiap pengisian. Dari sini maka akan akan diperoleh informasi yang sangat berguna untuk melakukan penyesuaian terhadap sistem kerja mesin pengisi susu tersebut.

Meski konsep peluang ini sama seperti peluang logis, akan tetapi peluang empiris lebih mudah dimengerti dan dipahami. Hampir sebagian besar pengguna teori peluang setuju dengan definisi peluang objektif sebagai berikut :

c.Peluang Subjektif
Masalah yang umum dihadapi oleh seorang manajer adalah ketika dia tidak mampu memprediksi proses sebuah peristiwa ditambah lagi dengan tidak tersedianya data yang memadai. Untuk memecahkan masalah seperti ini biasanya seorang manajer akan memberikan nilai peluang tertentu kepada peristiwa tersebut yang didasarkan pada faktor-faktor kualitatif, pengalaman dengan situasi yang serupa atau bahkan intuisi.

Peluang subjektif muncul ketika seorang pengambil keputusan dihadapkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab berdasarkan peluang empiris atau frekuensi empiris. Sebagai contoh “Berapa peluang penjualan barang X bulan depan akan melebihi 50.000 unit jika dilakukan perubahan kemasan?”.  Sudah barang tentu eksperimen tentang pengaruh perubahan kemasan terhadap volume penjualan dengan pengulangan yang sangat besar jarang dilakukan bahkan tidak pernah dilakukan. Meski menggunakan data penjualan bulanan bukan sesuatu yang musthail, akan tetapi tidaklah efisien jika perusahaan selalu merubah kemasan setiap bulannya hanya untuk meningkatkan volume penjualan. Olehkarena itu, biasanya seorang manajer mengguna kan intuisi atau perasaannya dalam menentukan nilai peluang ini. Jadi tidaklah heran jika seorang manajer menyatakan “peluang terjualnya barang X melebihi 50.000 unit pada bulan depan adalah 0,40”.  Apa artinya pernyataan ini? Secara peluang dapat didefinisi kan sebagai berikut.

Definisi :
Peluang subjektif adalah sebuah bilangan antara 0 dan 1 yang digunakan seseorang untuk menyatakan perasaan ketidakpastian tentang terjadinya peristiwa tertentu. Peluang 0 berarti seseorang merasa bahwa peristiwa tersebut tidak mungkin terjadi, sedangkan peluang 1 berarti bahwa seseorang yakin bahwa peristiwa tersebut pasti terjadi.

Definisi ini jelas merupakan pandangan subjektif atau pribadi tentang peluang.

Meski peluang subjektif tidak didasarkan pada suatu eksperimen ilmiah, namun penggunaannya tetap bisa dipertanggungjawabkan. Dalam menentukan nilai peluang ini, seorang pengambil keputusan tetap menggunakan prinsip-prinsip logis yang didasarkan pada pengalaman yang diperolehnya. Seorang pengambil keputusan sudah mengetahui secara nyata apa faktor-faktor yang mempengaruhi keputusannya sehingga dia bisa memprediksi apa kira-kira yang bakal terjadi dari keputusan yang diambilnya. Yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah peluang subjektif dapat digunakan untuk keperluan analisis statistika selanjutnya. Kelompok statistika objektif atau klasik menolak penggunaan peluang subjektif ini, sebaliknya kelompok Bayes menerimanya. Bukan tujuan kita untuk membahas perdebatan ini, kecuali bahwa penggunaan peluang subjektif tampak sesuai dalam pengambilan keputusan bisnis. Berbeda halnya dengan penelitian kimia, pertanian, farmasi, kedokteran  atau ilmu eksakta lainnya yang memang harus menggunakan peluang objektif sebagai dasar analisisnya. Sampai saat ini pengambilan keputusan berdasarkan peluang subjektif masih dibilang sebagai salah satu tehnik manajerial yang terbaik.

8.5.Ruang Sampel
Dalam tabel tentang Pelemparan 2 buah dadu, dapat kita lihat bahwa jumlah peristiwa yang bisa terjadi dalam pelemparan dua buah dadu paling banyak adalah 36 titik (lebih dikenal sebagai titik sampel). Jika dilakukan pelemparan 1 buah dadu, angka-angka yang mungkin muncul adalah 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 atau ada 6 titik sampel. Sebuah keluarga yang baru menikah merencanakan kelahiran 3 orang anak Anggaplah peluang lahirnya anak laki-laki (L) dan anak perempuan (P) adalah sama. Maka susunan anak (Laki-laki=L atau Perempuan=P) yang mungkin adalah LLL, LLP, LPL, LPP, PLL, PLP, PPL atau PPP, ada 8 titik sampel.

Semua hasil yang mungkin dari sebuah eksperimen, seperti yang baru dicontohkan, dalam teori peluang disebut sebagai ruang sampel atau ruang hasil. Jumlah titik yang dianggap sebagai representasi setiap peristiwa dalam ruang sampel ini dinotasikan dengan N,   sedangkan jumlah peristiwa yang sedang diamati dinotasikan dengan huruf  n. Secara formal ruang sampel ini dinyatakan dengan huruf  S. Untuk kemudahan bentuk penulisan ruang sampel ini mengunakan teori himpunan seperti contoh berikut.

Contoh :  S = { LLL, LLP, LPL, LPP, PLL, PLP, PPL, PPP} —->  N = 8
S = {1, 2, 3, 4, 5, 6} ——-> N = 6

Menetapkan ruang sampel adalah langkah awal yang perlu dilakukan sebagai dasar untuk menghitung peluang suatu peristiwa yang ada dalam ruang sampel ini. Peluang terjadinya S adalah sama dengan satu. Ini merupakan konsekuensi logis, karena jumlah titik S adalah jumlah semua peristiwa yang mungkin demikian pula dengan peluangnya. Dalam diagram Venn notasi S ditempatkan pada ujung kanan atas persegi panjang.

Definisi :    Peluang dari ruang sample S, atau P(S) = 1
Beberapa Kaidah Mencacah Ruang Sampel

8.6.Kaidah-Kaidah Peluang
Sebelum membahas berbagai konsep yang menyangkut teori peluang secara formal, ada baiknya diperkenalkan terlebih dahulu beberapa hal mendasar berikut ini. Semua nilai peluang yang dibahas dalam analisis statistika selalu dinyatakan dalam bentuk pecahan atau desimal. Sedangkan setiap peristiwa dinyatakan dalam bentuk huruf besar baik menggunakan indeks maupun tidak, seperti A, B, E, … Ai, Bi, ….

Contoh :
A = munculnya angka 1 pada pelemparan 1 buah dadu
E = jumlah barang yang cacat
K = jumlah konsumen yang menyukai kemasan plastik

8.7. Peluang Sebuah Peristiwa
Untuk mempermudah penjelasan dalam menghitung peluang ini, ambil contoh tentang sebuah keluarga yang merencanakan untuk memiliki 3 anak seperti yang dijelaskan sebelumnya. Berapakah peluang sebuah keluarga memiliki paling sedikit 2 anak laki-laki?. Untuk menjawabnya perlu diketahui jumlah peristiwa yang bisa terjadi.

Misal E = paling sedikit dua anak laki-laki
Kita tahu : S = { LLL, LLP, LPL, LPP, PLL, PLP, PPL, PPP}
Dari S ini bisa dilihat bahwa E adalah kumpulan dari titik-titik {LLL,LLP, LPL, PLL} dimana jumlah titik sampelnya = 4.

A.Peluang Peristiwa Sederhana

B.Peluang Peristiwa Majemuk
Dalam peristiwa peluang majemuk ada 2 jenis peristiwa yang dapat dijelaskan yaitu peristiwa bebas dan peristiwa tidak bebas.

1) Peristiwa Bebas
Peristiwa bebas atau Kemungkinan 2 Peristiwa yang berdiri sendiri adalah Dua kejadian independen untuk muncul bersama-sama akan memiliki peluang yang besarnya sama dengan hasil kali masing-masing peluang kejadian. Peristiwa A dikatakan bebas dari peristiwa B jika salah satu peristiwa tidak dipengaruhi oleh peristiwa lainnya.

Contoh :
a) Jika kita mengambil kartu dari setumpuk kartu bridge secara berurutan dimana setiap pengambilan kartu selalu dikembalikan lagi, maka semua hasil dari peristiwa ini dikatakan bebas antara yang satu dengan lainnya. Peluang terambilnya kartu As pada setiap pengambilan akan selalu 4/52. Jika pengambilan kartu tidak dengan pengembalian maka hasil yang diperoleh akan bersifat tidak bebas atau saling tergantung. Peluang terambilnya kartu As pada pengambilan pertama adalah 4/52, pengambilan kedua 3/51, pengambilan ketiga 2/50 dan seterusnya.

b) Kejadian I dan II yang independen masing-masing memiliki peluang = 1/2.  Peluang bagi kejadian I dan II untuk muncul bersama-sama = 1/2 x 1/2 = ¼

c) Pada pelemparan dua mata uang logam sekaligus. Jika peluang untuk mendapatkan salah satu sisi mata uang = 1/2, maka peluang untuk mendapatkan sisi mata uang tersebut pada dua mata uang logam yang dilempar sekaligus = 1/2 x 1/2 = 1/4

Dua peristiwa yang saling bebas dinyatakan dalam hubungan A dan B  Secara simbolik : P(A dan B) = atau   P (x + y) = (Px) . (Py)
INGAT !. Bila ada kata ”DAN” atau ”+”, maka merupakan Perkalian.

Contoh  Soal.

  • Berapakah kemungkinan (Peluang) dari suatu kelahiran anak yang jatuh pada hari Jum’at Legi ?
  • Seluruh Keluarga yang mempunyai anak 2 orang, maka berapakah peluangnya kedua anak tersebut adalah laki-laki semuanya ?
  • Lihat kembali tabel yang berisikan hasil pelemparan dua buah dadu. Tabel tersebut diubah dengan menggantikan angka jumlah yang muncul menjadi kombinasi angka seperti tertera pada Tabel tersebut. Berapa peluang dadu kedua memunculkan angka 6 bersyarat dadu pertama memunculkan angka 4. Apakah A bebas dari B?
  • Peluang mesin A berhenti jika terjadi kerusakan adalah 0,1 sedang peluang mesin B berhenti adalah 0,2. Jika kedua mesin saling bebas, berapa peluang kedua mesin berhenti secara bersamaan?

2). Peristiwa Tidak Bebas
Secara umum Peristiwa tidak bebas adalah Kemungkinan 2 Peristiwa yang timbal balik dan saling mempengaruhi. Peristiwa A dikatakan tidak bebas dari peristiwa B jika salah satu peristiwa dipengaruhi oleh peristiwa lainnya.

Peristiwa tidak bebas menggunakan kaidah penjumlahan untuk perhitungan peluangnya dan menggunakan istilah atau untuk menghubungkan keduanya. Untuk itu berlaku aturan bahwa peluang terjadinya dua peristiwa A atau B (secara notasi himpunan AÈB) adalah jumlah dari peluang tiap peristiwa tersebut.

Secara matematis aturan ini dituliskan sebagai berikut :
P(A atau B) = P (A υ B) = P(A) + P(B)  atau  P(x / y) =  Px  +  Py
Rumus ini juga berlaku bagi k buah peristiwa A1, A2, …, Ak dengan mengambil bentuk :

 

 

Contoh Soal  :

  1. Berapakah kemungkinan dari tertariknya Kartu As atau King pada Penarikan Kartu Bridge
  2. Atas prestasinya seorang manajer pemasaran memperoleh penghargaan untuk mengunjungi 3 negara. Dia memutuskan untuk memilih secara acak 3 dari 5 negara yang tersedia (Amerika, Belanda, China, Denmark dan  Ekuador) dengan  mengambil inisial dari nama negara tersebut. Berapa peluang Amerika dan Belanda selalu terpilih bersamaan, atau China dan Ecuador selalu terpilih, atau Belanda, China dan Denmark?

Jawab :

1. Kemungkinan tertariknya satu gambar pada Kartu Bridge adalah 1/52
P (As / King) = P (As) + P (King) = (4/52) + (4/52) = 8/52 = 2/13
Berarti : Bahwa kemungkinan tertariknya As atau King adalah 2 Kali dalam 13 Tarikan.

2. Ruang sample dari kombinasi pilihan adalah :
S = {abc, abd, abe, acd, ace, ade, bcd, bce, bde, cde}  ——>  N = 10

Karena pemilihan dilakukan secara acak, maka setiap kombinasi pilihan mempunyai nilai peluang yang sama yaitu 1/10 = 0,1. Selain itu, dari ketiga peristiwa di atas tidak ada satu pun yang memiliki titik sample yang sama, ini berarti bahwa peristiwa di atas adalah peristiwa yang saling eksklusif. Dengan menggunakan Rumus di atas diperoleh :


Penggunaan Rumus Binomium dalam Peristiwa Tidak Bebas.
Apabila ada dua kejadian, misalnya A dan B yang masing-masing memiliki peluang kemunculan sebesar p dan q, maka sebaran peluang kemunculan kedua kejadian tersebut adalah (p + q)n. Dalam hal ini n menunjukkan banyaknya ulangan yang dilakukan untuk memunculkan kejadian tersebut

Untuk langkah praktisnya dapat dilakukan melalui penerapan cara Segitiga Pascal seperti pada cara penentuan macam gamet.

Contoh Soal lain:
a)  Seorang Laki-Laki yang mempunyai suatu sifat dengan genotype Aa kawin dengan wanita dengan genotype yang sama. Aa adalah warna kulit normal dan bila dikawinkan maka hasilnya adalah 3 Normal : 1 Albino (Imbangan Genotipenya adalah = 1 AA : 2 Aa : 1 aa. Berapakah peluang untuk timbulnya anak albino ?
b)  Seperti soal point a), apabila dalam suatu keluarga mempunyai 2 orang anak, maka :
- Berapakah peluang anak pertama normal dan anak kedua albino?
- Bagaimana Peluang dari anak yang normal itu laki-laki dan albino itu perempuan?

Jawab :
a)  Jumlah Ruang sampel = 4, sehingga P (Albino) = ¼ dan P (Normal) = ¾.
Jadi Peluang timbulnya anak albino = ¼.

b)  Berdasarkan Rumum umum binomium atau segitiga Pascal, maka diperoleh sbb.
(a+b)2 = a2 + 2ab + b2
dimana :  a = peluang timbulnya anak normal dan b = peluang timbulnya anak albino.
- Maka : P (Anak I Normal; Anak II Albino) = 2 ab = 2 x ¾ x ¼ = 3/8
- P (Normal Laki2; Perempuan Albino) = P(Laki2, Perempuan) x P(Normal, Albino) = ½ x 3/8 = 3/16.

Sebenarnya dalam Peristiwa Tidak bebas dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu Peristiwa Tidak Bebas Ekslusif, Inklusif dan Bersyarat. Pembahasan tentang Peristiwa tidak bebas yang Eklusif seperti dijelaskan di atas. Sedangkan tambahan pengetahuan tentang Peristiwa tidak bebas secara Inklusif dan Bersyarat dapat disimak penjelasan di bawah ini.

Peristiwa Saling Inklusif
Jika dua peristiwa memiliki titik yang sama atau terdapat irisan antara kedua peristiwa, maka hubungan kedua peristiwa ini disebut saling inklusif. Hubungan inklusif sebenarnya adalah perluasan dari hubungan eksklusif. Dalam peristiwa ini berlaku hubungan : A atau B atau keduanya. Secara matematis hubungan ini dirumuskan sebagai berikut :

Peristiwa Bersyarat.
Dalam kehidupan sehari-hari seringkali kita berhubungan dengan peluang dari sebagian ruang sampel. Dengan lain perkataan bahwa kita jarang bekerja dalam ruang lingkup populasi. Peluang seorang konsumen yang dipilih secara acak dari populasi masyarakat berpenghasilan tinggi tidak sama dengan peluang seorang berpenghasilan tinggi yang dipilih secara acak dari populasi konsumen. Peluang seorang konsumen yang menyukai produk A yang dipilih secara acak dari suatu komunitas akan berbeda dengan peluang terpilihnya seorang pemakai produk A dari komunitas lainnya. Ini adalah beberapa contoh bagaimana kita harus memilah suatu peristiwa yang ada dalam suatu populasi ke dalam subpopulasi. Dalam teori peluang hal semacam ini penting untuk diketahui karena peluang dalam sebagian ruang sampel bisa berbeda dengan peluang pada ruang sampel secara keseluruhan. Subpopulasi didefinisikan secara khusus dalam populasi ini dan peluang-peluang yang berhubungan dengan setiap peristiwa dalam subpopulasi dikenal dengan nama peluang bersyarat.

Peluang bersyarat banyak digunakan dalam dunia bisnis dan ekonomi. Salah satu contohnya adalah penggunaan teorema Bayes yang banyak dipakai dalam teori pengambilam keputusan. Dalam bagian terakhir bab ini akan diberikan sebuah contoh aplikasi peluang bersyarat dalam pengambilan keputusan,

Untuk mempermudah pemahaman tentang peluang bersyarat ini sebaiknya kita ambil contoh berikut ini. Sebuah perusahaan membuka lowongan kerja untuk mengisi pekerjaan sekretaris perusahaan. Ada 100 orang pelamar yang terdiri atas berpengalaman lebih dari tiga tahun dan kurang dari tiga tahun serta dengan status menikah dan tidak menikah. Secara rinci jumlahnya diberikan dalam tabel berikut :

Karena tidak ada waktu untuk melakukan penyaringan, maka seluruh peserta dianggap memiliki peluang yang sama untuk terpilih sebagai sekretaris.
Misal E : peristiwa pelamar yang dipilih memiliki pengalaman lebih tiga tahun
M : peristiwa pelamar yang dipilih statusnya menikah
Dari tabel di atas bisa dihitung :
Jumlah titik dalam ruang sampel S = 100
             P(E)  = 36/100 = 0,36
             P(M) = 30/100 = 0,30
            P(E ∩M) = 12/100 = 0,12

Anggaplah karena ada sesuatu hal maka pelamar dibatasi pada pendaftar yang statusnya telah menikah. Selanjutnya perusahaan ingin mengetahui  peluang terpilihnya pelamar dengan pengalaman lebih dari tiga tahun dari pembatasan tersebut. Dalam notasi peluang bersyarat, peluang yang demikian dituliskan sebagai P(EM) atau peluang terjadinya E bersyarat M.

Dengan membatasi pelamar yang hanya menikah, ini berarti ruang sampel atau populasi telah berubah menjadi ruang sampel yang lebih kecil atau menjadi subpopulasi. Dalam hal ini subpopulasi yang dipilih adalah pelamar yang menikah atau M. Dari tabel di atas subpopulasi M ini memiliki titik sampel 30. Disini telah terjadi pengurangan jumlah titik sampel dari 100 menjadi 30. Dengan mengganggap setiap pelamar masih memiliki peluang yang sama, maka peluang terpilihnya pelamar yang memiliki pengalaman lebih dari 3 tahun dengan syarat telah menikah adalah :

P(E/M) = 12/30 = 0,40

Dari hasil ini terlihat bahwa 12 adalah titik sampel irisan antara E dan M populasi (EM), sedangkan 30 adalah titik sampel subpopulasi atau ruang sampel untuk syarat M dengan peluang P(M)  Apabila hasil ini kita tuliskan dalam notasi peluang maka diperoleh bentuk :

Peluang bersyarat juga bisa dihitung dari pendekatan subpopulasi. Perhatikan sub populasi pelamar yang telah menikah. Jumlah peluang yang ada pada subpopulasi tetap harus memenuhi aturan peluang yakni sama dengan satu, P(M) = 12/30 +  18/30 = 1.

Perhatikan bahwa P(EM) pada ruang sample awal adalah 12/100 = 0,12, akan tetapi setelah menjadi subpopulasi P(EM) menjadi 12/30 = 0,40. Sedangkan peluang terpilihnya pelamar menikah P(M) pada ruang sample awal adalah  30/100 = 0,30 , sekarang menjadi 18/30 = 0,60. Mengapa menjadi 18 bukannya 30? Karena yang 12 ada pada ruang sample irisan (EM). Dengan demikian P(E/M) berdasarkan subpopulasi adalah : P(E/M) = 0,40/1,00 = 0,40

Jadi hasil perhitungan peluang bersyarat baik dengan menggunakan ruang sample asli maupun pendekatan subpopulasi akan memberikan hasil yang sama.

Peluang bersyarat untuk kedua keadaan yang dijelaskan di atas, secara visual dapat dilihat pada Gambar di bawah ini.

Contoh

  1. Perusahaan “Highchicken” adalah perusahaan yang bergerak dalam pengolahan makanan berbahan baku daging ayam. Dari pengalaman yang telah lampau diketahui bahwa (1) peluang pesanan siap dikirim secara tepat waktu adalah 0,80 dan (2) peluang pesanan dikirim dan sampai di tujuan tepat waktu adalah 0,72. Berapakah peluang pesanan sampai di tujuan secara tepat waktu dengan catatan bahwa pesanan tersebut sudah siap untuk dikirimkan secara tepat waktu?.
  2. Survei yang dilakukan oleh “MarketPlus” terhadap 700 responden untuk mengetahui selera konsumen terhadap Susu Kemasan yang diberi rasa dan tidak berasa menghasilkan data sebagai berikut :

Yang ingin diketahui adalah berapakah peluang terpilihnya seseorang yang dipilih secara acak tidak menyukai susu berasa dengan syarat dia adalah seorang pria.

Catatan Penting
Perlu dicermati bahwa peristiwa saling bebas tidak sama dengan peristiwa eksklusif. Dalam konsep teori himpunan, peristiwa saling eksklusif tidak mempunyai ruang sample yang mengandung titik yang sama (irisan), sedangkan dalam peristiwa saling bebas dua peristiwa A dan B akan memiliki titik yang sama jika  A dan B mempunyai peluang yang tidak nol.

8.8. Uji X2 (Chi-square test)
Seringkali dalam kita mengadakan percobaan perkawinan/ persilangan menghasil kan keturunan yang tidak sesuai dengan hukum Mendel atau kenyataan nisbah teoretis yang merupakan peluang diperolehnya suatu hasil percobaan persilangan tidak selalu terpenuhi. Penyimpangan (deviasi) yang terjadi bukan sekedar modifikasi terhadap nisbah Mendel seperti yang telah diuraikan di atas, melainkan sesuatu yang adakalanya tidak dapat diterangkan secara teori

Kejadian tersebut menyebabkan kita ragu-ragu, apakah penyimpangan tsb terjadi karena kebetulan saja atau karena faktor lain? Maka kita perlu mengadakan evaluasi terhadap benar atau tidaknya hasil percobaan yang telah kita lakukan dibandingkan dengan keadaan secara teoritis.

Dalam perhitungan harus diperhatikan besarnya derajad kebebasan (degree of freedom) yang nilainya = jumlah kelas fenotip dikurangi dengan satu.
Jadi Uji X2 adalah suatu perhitungan yang digunakan untuk mnguji apakah hasil pada pengamatan (observed) itu masih sesuai dengan hasil yang diharapkan (expected).
Uji X2 ini dipergunakan sebab hasil pada pengamatan tidak selalu tepat sama seperti yang diharapkan bahkan ada yang sangat menyimpang. Dengan Uji X2 ini dapat dilihat penyimpangan tersebut masih dapat diterima/ masih sesuai atau tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Langkah-Langkah yang dilakukan dalam Uji X2 adalah sbb.

  1. Dihitung Hasil yang diharapkan dengan Rumus di atas.
  2. Ditentukan taraf signifikasi/taraf nyata (dapat diartikan sebagai peluang terjadinya kesalahan), dimana biasanya dipakai 5 % atau 1 %.
  3. Dari banyaknya Fenotipe yang diamati maka ditentukan derajat bebasnya yang diperoleh dari banyaknya macam fenotipe dikurangi satu (n-1).
  4. Berdasarkan taraf nyata (5% atau 1%) serta derajat bebas dapat dilihat besarnya X2 Tabel pada Tabel X2.

Agar lebih jelas, berikut ini akan diberikan sebuah contoh. Suatu persilangan antara sesama individu  dihibrid (AaBb) menghasilkan keturunan yang terdiri atas empat macam fenotipe, yaitu A-B-, A-bb, aaB-, dan aabb masing-masing sebanyak 315, 108, 101, dan 32.  Untuk menentukan bahwa hasil persilangan ini masih memenuhi nisbah teoretis (9 : 3 : 3 : 1) atau menyimpang dari nisbah tersebut perlu dilakukan suatu pengujian secara statistika. Uji yang lazim digunakan adalah uji X2 (Chi-square test) atau ada yang menamakannya uji kecocokan (goodness of fit).

Untuk melakukan uji X2 terhadap hasil percobaan seperti pada contoh tersebut di atas, terlebih dahulu dibuat tabel sebagai berikut.

  • Pada tabel tersebut di atas dapat dilihat bahwa hasil percobaan dimasukkan ke dalam kolom O sesuai dengan kelas fenotipenya masing-masing.
  • Untuk memperoleh nilai E (hasil yang diharapkan), dilakukan perhitungan menurut proporsi tiap kelas fenotipe.
  • Selanjutnya nilai d (deviasi) adalah selisih antara O dan E.
  • Pada kolom paling kanan nilai d dikuadratkan dan dibagi dengan nilai E masing-masing, untuk kemudian dijumlahkan hingga menghasilkan nilai X2h atau X2 hitung. Contoh di atas  X2 hitung.= 0,470
  • Nilai X2h inilah yang nantinya akan dibandingkan dengan nilai X2 yang terdapat dalam tabel X2 (disebut nilai X2tabel ) yang disingkat menjadi X2t.  Apabila X2h lebih kecil daripada X2t dengan peluang tertentu (biasanya digunakan nilai 0,05), maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji masih memenuhi nisbah Mendel. Sebaliknya, apabila X2h lebih besar daripada X2t, maka dikatakan bahwa hasil persilangan yang diuji tidak memenuhi nisbah Mendel pada nilai peluang tertentu (biasanya 0,05).

Adapun nilai X2t yang akan digunakan sebagai pembanding bagi nilai X2h dicari dengan cara sebagai berikut.

  • Kita tentukan terlebih dahulu nilai derajad bebas (db), yang merupakan banyaknya kelas fenotipe dikurangi satu. Jadi, pada contoh di atas nilai db nya adalah 4 – 1 = 3.
  • Selanjutnya, besarnya nilai DB ini akan menentukan baris yang harus dilihat pada tabel X2.
  • Setelah barisnya ditentukan, untuk mendapatkan nilai X2t pembanding dilihat kolom peluang 0,05.  Dengan demikian,  nilai X2t pada contoh tersebut adalah 7,815.
  • Jadi X2t (0,05; 3)  artinya : X2t dengan tingkat kebebasan 3 dan taraf peluang 5 % = 7,815.
  • Oleh karena nilai X2h (0,470) lebih kecil daripada nilai X2t (7,815), maka dikatakan bahwa hasil persilangan tersebut masih memenuhi nisbah Mendel.

RINGKASAN :

  • Kemungkinan atas terjadinya sesuatu yang diinginkan ialah = perbandingan antara suatu yang diinginkan itu terhadap keseluruhan.
  • Kemungkinan atas terjadinya 2 peristiwa atau lebih, yang masing-masing berdiri sendiri (bebas) ialah =  hasil perkalian dari besarnya kemungkinan untuk peristiwa-peristiwa itu
  • Kemungkinan atas terjadinya 2 peristiwa atau lebih, yang saling mempengaruhi (Tidak bebas) ialah = jumlah  dari besarnya kemungkinan untuk peristiwa-peristiwa itu.

8.9.  Umpan Balik.

  1. Berapakah kemungkinan seorang ibu melahirkan anak laki-laki?
  2. Berapa kemungkinan suatu keluarga memiliki 2 anak pertama laki-laki?
  3. Di-tos 2 uang logam bersama-sama, bagaimanakah kemungkinan mendapatkan 2 gambar atau 2 angka?
  4. Jika di tos 3 mata uang bersama-sama, berapakah kemungkinan mendapatkan 1gambar, 2 angka?
  5. Sebuah keluarga menginginkan memiliki 4 anak, berapa kemungkinan memiliki anak: a.  Semua anak laki-laki; b.  2 laki-laki, 2 perempuan; c.  1 laki-laki, 3 perempuan dan d.  Anak pertama laki-laki
  6. Sebuah percobaan pelemparan sebuah dadu dilakukan bersamaan dengan pengambilan satu huruf secara acak dari alphabet. Ada berapa titik sample dalam ruang sampelnya.
  7. Sebuah perusahaan Real estate menawarkan kepada calon pembeli 3 tipe rumah, 3 macam sistem pemanasan dan 2 bentuk garasi. Berapa rancangan rumah yang tersedia bagi calon pembeli.
  8. Peluang suami dan istri akan hidup 20 tahun lagi dari sekarang masing-masing adalah 0,8 dan 0,9. Hitunglah peluang dalam 20 tahun  : a). keduanya masih hidup; b). keduanya meninggal dan c). paling sedikit satu di antaranya masih hidup
  9. Sebuah kotak berisikan 5 kelereng berwarna Merah dan 4 kelereng berwarna Putih. Dua kelereng diambil secara berurutan tanpa pengembalian dan ternyata kelereng kedua berwarna putih. Berapakah peluang bahwa kelereng yang pertama juga berwarna putih.
  10. Dalam pelemparan dua buah dadu, hitunglah peluang munculnya angka 1 pada dadu pertama dan angka ganjil pada dadu kedua.
  11. Seseorang melakukan pelemparan sebuah mata uang dan sebuah dadu. Hitunglah peluang yang keluar adalah Ekor (pada mata uang) atau angka ganjil pada dadu.
  12. Dalam pembuatan sepatu, bagian atas, telapak dan hak sepatu dibuat secara terpisah dan kemudian dirakit secara acak untuk menjadi 1 sebuah sepatu (bukan sepasang). Dalam pembuatan bagian-bagian tersebut, 5% bagian atas, 4% bagian telapak dan 1% hak sepatu biasanya cacat, berapa persen pasang sepatu yang dibuat dalam keadaan baik dari pemasangan bagian-bagian tersebut?
  13. Statistik menunjukkan bahwa 47.773 dari 100.000 orang yang berusia 20 tahun, diantaranya hidup hingga usia 70. Berapakah peluang seseorang yang berusia 20 akan hidup hingga usia 70. Berapa pula peluang bahwa dia akan meninggal sebelum usia 70.
  14. Peluang seorang dokter mendiagnosa suatu penyakit secara benar adalah 0,7. Bila diketahui dokter dokter tersebut salah mendiagnosa, peluang pasien menuntut ke pengadilan adalah 0,9. Berapa peluang dokter tersebut salah mendiagnosa dan pasien menuntutnya.
  15. Apabila ada 6 orang yang dihalte bis, maka :
    • Berapa macam  susunan  antrian  yang  dapat  dibentuk bila 6 orang mengantri untuk naik bis
    • Bila tiga orang tertentu bersikeras untuk saling berdekatan, berapa banyak antrian yang mungkin terjadi
    • Bila dua orang tertentu tidak mau saling berdekatan, berapa banyak susunan antrian yang mungkin
  16. Tanaman berbatang tinggi (Tt) menyerbuk sendiri menghasilkan 60 biji, kemudian ditanam, hasilnya 40 tanaman batang tinggi dan 20 berbatang kerdil. Dari hasil tersebut apakah sudah sesuai dengan hukum Mendel?
  17. Tanaman dengan Genotipe AABBCCDD disilangkan dengan Genotipe aabbccdd untuk menghasilkan F1 dan kemudian F1 dibiarkan bersilang sendiri. Anggap saja masing-masing pasangan gen menentukan sifat yang berbeda. Alel dengan huruf Besar dominan penuh terhadap alel dengan huruf kecil dan masing-masing pasangan gen bebas sesamanya.
    • Berapa proporsi tanaman F2 yang akan menampilkan fenotipe resesif untuk semua sifat  dan juga Fenotipe dominan untuk semua sifat
    • Berapa proporsi dari F2 yang secara genotype akan seperti F1.
  18.  Pada “garden pea” warna kuning pada kotiledon dominan terhadap warna hijau. Berapakah peluang 5 biji hasil persilangan tetua heterozigot akan diperoleh :
    • 6 biji kuning, 1 biji hijau ?
    • 2 tanaman kuning, 4 tanaman hijau?
    • Semua kuning
    • Semua hijau.
  19. Diketahui gen p (warna merah) dominan parsial terhadap gen p (warna putih). Apabila heterozigot menghasilkan warna merah muda. Hitunglah besarnya peluang dari 10 biji tanaman hasil persilangan tetua heterozigot menampakkan :
    • 3 warna kuning, 3 putih dan 4 merah muda
    • 5 merah dan 5 putih
    • Semua merah muda
    • 2 merah, 4 putih, 4 merah muda
    • 6 merah muda, 4 putih.
  20. Perkawinan antara tikus hitam dengan tikus putih, maka F1 diperoleh tikus berwarna hitam semua, kemudian F2 diperoleh tikus hitam dan putih dengan jumlah 84 tikus hitam dan 36 tikus putih. Ujilah apakah hasil tersebut masih sesuai dengan yang diharapkan.





Diktat Genetika Ternak-7

27 07 2012

BAB VII. INTERAKSI GEN

7.1. Pengertian Interaksi Gen
Selain mengalami berbagai modifikasi nisbah fenotipe karena adanya peristiwa aksi gen tertentu, terdapat pula penyimpangan semu terhadap hukum Mendel yang tidak melibatkan modifikasi nisbah fenotipe, tetapi menimbulkan fenotipe-fenotipe yang merupakan hasil kerja sama atau interaksi dua pasang gen nonalelik. Jadi Apabila ada 2 (dua) pasang gen bekerjasama sehingga membentuk suatu fenotipe baru maka keadaan ini disebut dengan Interaksi Gen.

Peristiwa interaksi gen pertama kali dilaporkan oleh W. Bateson dan R.C. Punnet setelah mereka mengamati pola pewarisan bentuk jengger (comb) ayam. Peristiwa ini disebut dengan Interaksi beberapa pasangan alela. Dalam hal ini terdapat empat macam bentuk jengger ayam, yaitu :

  • Jengger Mawar (Rose) pada Ayam Wyandotte,
  • Jengger Kacang (Pea/Biji) pada ayam Brahma,
  • Jengger Walnut (sumpel) pada ayam silangan Malaya, dan
  • Jengger Tunggal (Single/Bilah) pada ayam Leghorn,

seperti dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

Persilangan ayam berjengger Mawar dengan ayam berjengger Kacang menghasilkan keturunan dengan bentuk jengger yang sama sekali berbeda dengan bentuk jengger kedua tetuanya. Ayam hibrid (hasil persilangan) ini memiliki jengger berbentuk Walnut. Selanjutnya, apabila ayam berjengger walnut disilangkan dengan sesamanya (Intersemating) maka diperoleh generasi F2 dengan nisbah fenotipe Walnut : Mawar : Kacang : Tunggal = 9 : 3 : 3 : 1.

Dari nisbah fenotipe tersebut, terlihat adanya satu kelas fenotipe yang sebelumnya tidak pernah dijumpai, yaitu bentuk jengger Tunggal. Munculnya fenotipe ini, dan juga fenotipe walnut, mengindikasikan adanya keterlibatan dua pasang gen nonalelik yang berinteraksi untuk menghasilkan suatu fenotipe. Kedua pasang gen tersebut masing-masing ditunjukkan oleh fenotipe mawar dan fenotipe kacang.

Apabila gen yang bertanggung jawab atas munculnya fenotipe mawar adalah R, sedangkan gen untuk fenotipe kacang adalah P, maka keempat macam fenotipe tersebut masing-masing dapat dituliskan sebagai R-pp untuk mawar, rrP- untuk kacang, R-P- untuk walnut, dan rrpp untuk tunggal. Dengan demikian, diagram persilangan untuk pewarisan jengger ayam dapat dijelaskan seperti pada Gambar  berikut ini.

Kesimpulannya  :

  1. Fenotip jengger yang baru ini disebabkan karena adanya interaksi (saling pengaruh) antara gen-gen.
  2. Adanya 16 kombinasi dalam F2 memberikan petunjuk bahwa ada 2 pasang alel yang berbeda ikut menentukan bentuk dari jengger ayam. Sepasang alel menentukan tipe jengger mawar dan sepasang alel lainnya untuk tipe jengger Kacang.
  3. Sebuah gen untuk mawar dan sebuh gen untuk kacang mengadakan interaksi menghasilkan jengger walnut, seperti terlihat pada ayam-ayam F1.
  4. Jengger mawar ditentukan oleh gen dominan R(berasal dari “rose”), jengger kacang oleh gen dominan P (berasal dari “pea”).
  5. Karena itu ayam berjengger mawar homozigot mempunyai genotip RRpp, sedangkan ayam berjengger kacang homozigot mempunyai genotip rrPP.
  6. Sedangkan ayam yang berjengger Tunggal adalah Ayam yang homozigot resesif.
  7. Perkawinan dua ekor ayam ini menghasilkan F1 yang berjengger walnut (bergenotip RrPp) dan F2 memperlihatkan perbandingan fenotip 9:3:3:1.
  8. Gen R dan gen P adalah bukan alel, tetapi masing-masing domina terhadap alelnya (R dominan terhadap r, P dominan terhadap p). sebuah atau sepasang gen yang menutupi (mengalahkan) ekspresi gen lain yang buka alelnya dinamakan gen yang epistasis. Gen yang dikalahkan ini tadi dinamakan gen yang hipostasis. Peristiwanya disebut epistasi dan hipostasi.

Dalam beberapa kasus, persilangan dengan sifat beda lebih dari satu kadang menghasilkan keturunan dengan perbandingan yang berbeda dengan hukum Mendel. Semisal, dalam suatu persilangan monohibrida (dominan resesif), secara teori, akan didapatkan perbandingan 3:1, sedangkan pada dihibrida didapatkan perbandingan, 9:3:3:1.

Contoh Lain :
Persilangan pada Mencit berbulu Kuning dengan Mencit berbulu Hitam, maka F1 semuanya Berbulu Kelabu. Apabila F1 dilakukan intersemating maka F2 memiliki perbandingan fenotipe = 9 Kelabu : 3 Kuning : 3 Hitam : 1 Krem.

7.2. Modifikasi Nisbah Mendel

Percobaan-percobaan persilangan sering kali memberikan hasil yang seakan-akan menyimpang dari hukum Mendel. Dalam hal ini tampak bahwa nisbah fenotipe yang diperoleh mengalami modifikasi dari nisbah yang seharusnya sebagai akibat terjadinya aksi gen tertentu. misal untuk monohibrida bukan 3:1 tapi 1:2:1. Dan pada dihibrida, mungkin kombinasi yang mucul adalah, 9:6:1 atau 15:1. Munculnya perbandingan yang tidak sesuai dengan hukum Mendel ini disebut “Penyimpangan Semu Hukum Mendel“, kenapa “Semu”, karena prinsip segregasi bebas tetap berlaku atau karena masih mengikuti hukum Mendel, hal ini disebabkan oleh gen-gen yang membawa sifat memiliki ciri tertentu.

Jadi Penyimpangan semu hukum Mendel adalah penyimpangan yang keluar dari aturan hukum Mendel, karena terjadi perubahan rasio F2-nya karena gen memiliki sifat berbeda-beda. Jadi, rasio fenotipe tidak akan sama seperti yang telah diuraikan pada hukum Mendel. Penyimpangan semu hukum Mendel : terjadinya suatu kerjasama berbagai sifat yang memberikan fenotip berlainan namun masih mengikuti hukum-hukum perbandingan genotip dari Mendel. Penyimpangan semu ini terjadi karena adanya 2 pasang gen atau lebih saling mempengaruhi dalam memberikan fenotip baru pada suatu individu. Dengan demikian Peristiwa pengaruh mempengaruhi antara 2 pasang gen atau lebih disebut Interaksi Gen. Dengan kata lain bahwa Interaksi Gen adalah apabila 2 pasang gen atau lebih bekerjasama sehingga membentuk suatu fenotipe baru.Gen memiliki peran tersendiri dalam menumbuhkan karakter, tetapi ada beberapa gen yang saling berinteraksi dengan gen lain dalam menumbuhkan karakter. Gen-gen tersebut terdapat pada kromosom yang sama atau pada kromosom yang berbeda.

Secara garis besar modifikasi nisbah Mendel dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu modifikasi nisbah 3 : 1 dan modifikasi nisbah 9 : 3 : 3 : 1.

7.2.1. Modifikasi Nisbah  3 : 1 (Monohybrid)
Ada tiga peristiwa yang menyebabkan terjadinya modifikasi nisbah 3 : 1, yaitu semi dominansi, kodominansi, dan gen letal.

(1)  Semi dominansi  /Intermedier/Dominansi Tidak Sempurna
Peristiwa semi dominansi terjadi apabila suatu gen dominan tidak menutupi pengaruh alel resesifnya dengan sempurna, sehingga pada individu heterozigot akan muncul sifat antara (intermedier). Dengan demikian, individu heterozigot akan memiliki fenotipe yang berbeda dengan fenotipe individu homozigot dominan. Akibatnya, pada generasi F2 tidak didapatkan nisbah fenotipe 3 : 1, tetapi menjadi 1 : 2 : 1 seperti halnya nisbah genotipe. Contoh peristiwa semi dominansi dapat dilihat pada pewarisan warna bunga pada tanaman bunga pukul empat (Mirabilis jalapa). Gen yang mengatur warna bunga pada tanaman ini adalah M, yang menyebabkan bunga berwarna merah, dan gen m, yang menyebabkan bunga berwarna putih. Gen M tidak dominan sempurna terhadap gen m, sehingga warna bunga pada individu Mm bukannya merah, melainkan merah muda. Oleh karena itu, hasil persilangan sesama genotipe Mm akan menghasilkan generasi F2 dengan nisbah fenotipe merah:merah muda:putih = 1 : 2 : 1.

(2) Kodominansi
Seperti halnya semi dominansi, peristiwa kodominansi akan menghasilkan nisbah fenotipe 1 : 2 : 1 pada generasi F2. Bedanya, kodominansi tidak memunculkan sifat antara pada individu heterozigot, tetapi menghasilkan sifat yang merupakan hasil ekspresi masing-masing alel. Dengan perkataan lain, kedua alel akan sama-sama diekspresikan dan tidak saling menutupi.

Peristiwa kodominansi dapat dilihat misalnya pada pewarisan golongan darah sistem ABO pada manusia (lihat juga bagian pada bab ini tentang beberapa contoh alel ganda).  Gen IA dan IB masing-masing menyebabkan terbentuknya antigen A dan antigen B di dalam eritrosit individu yang memilikinya. Pada individu dengan golongan darah AB (bergenotipe IAIB) akan terdapat baik antigen A maupun antigen B di dalam eritrositnya. Artinya, gen IA dan IB sama-sama diekspresikan pada individu heterozigot tersebut.

Perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masing-masing memiliki golongan darah AB dapat digambarkan seperti pada diagram berikut ini.

(3) Gen letal
Gen letal atau Gen Kematian ialah gen yang dalam keadaan homozigot dapat mengakibatkan kematian pada individu yang dimilikinya. Kematian ini dapat terjadi pada masa embrio atau beberapa saat setelah kelahiran. Akan tetapi, adakalanya pula terdapat sifat subletal, yang menyebabkan kematian pada waktu individu yang bersangkutan menjelang dewasa.

Ada dua macam gen letal, yaitu gen letal dominan dan gen letal resesif. Gen letal dominan dalam keadaan heterozigot dapat menimbulkan efek subletal atau kelainan fenotipe, sedang gen letal resesif cenderung menghasilkan fenotipe normal pada individu heterozigot.

Peristiwa letal dominan antara lain dapat dilihat pada ayam redep (creeper), yaitu ayam dengan kaki dan sayap yang pendek serta mempunyai genotipe heterozigot (Cpcp). Ayam dengan genotipe CpCp mengalami kematian pada masa embrio. Apabila sesama ayam redep dikawinkan, akan diperoleh keturunan dengan nisbah fenotipe ayam redep (Cpcp) : ayam normal (cpcp) =  2 : 1.  Hal ini karena ayam dengan genotipe CpCp tidak pernah ada.

Sementara itu, gen letal resesif misalnya adalah gen penyebab albino pada tanaman jagung. Tanaman jagung dengan genotipe gg akan mengalami kematian setelah cadangan makanan di dalam biji habis, karena tanaman ini tidak mampu melakukan fotosintesis sehubungan dengan tidak adanya khlorofil. Tanaman Gg memiliki warna hijau kekuningan, sedang tanaman GG adalah hijau normal. Persilangan antara sesama tanaman Gg akan menghasilkan keturunan dengan nisbah fenotipe normal (GG) : kekuningan (Gg) = 1 : 2.

Gen letal dominan
Beberapa contoh dapat dikemukakan disini.

  1. Pada ayam dikenal gen dominan C yang bila homozigotik akan bersifat letal dan menyebabkan kematian. Alelnya resesip c mengatur pertumbuhan tulang normal. Ayam heterozigot Cc dapat hidup, tetapi memperlihatkan cacat, yaitu memiliki kaki pendek. Ayam demikian disebut ayam redep (Creeper). Meskipun ayam ini Nampak biasa, tetapi ia sesungguhnya menderita penyakit keturunan yang disebut achondroplasia. Ayam homozigot CC tidak pernahdikenal, sebab sudah mati waktu embryo. Banyak kelainan terdapat padanya, sepeti kepala rusak, rangka tidak mengalami penulangan, mata kecil dan rusak. Perkawinan antara dua ayam redep meghasilkan keturunan dengan perbandingan 2 ayam redep:1 ayam normal. Ayam redep Cc itu sebenarnya berasal dari ayam normal (homozigot cc), tetapi salah satu gen resesip c mengalami mutasi gen (perubahan gen) dan berubah menjadi gen dominan C.
  2. Pada manusia dikenal Brakhifalangi, adalah keadaan bahwa orang yan berjari pendek dan tumbub menjadi satu. Cacat ini disebabkan oleh gen dominan B dan merupakan cacat keturunan. Penderita Brakhtifalangi adalah heterozigot Bb, sedang orang berjari normal adalah homozigot bb. Jika gen dominan gomozigotik (BB) akan memperlihatkan sifat letal. Jika ada dua orang brakhtifalaangi kawin, maka anak-anaknya kemungkinan memperlihatkan perbandingan 2 Brakhtifalangi: 1 Normal.
  3. Pada tikus dikenal gen letal dominan Y (Yellow) yang dalam keadaan heterozigotik menyebabkan kulit tikus berpigmen kuning. Tikus homozigot YY tidak dikenal,sebab letal. Tikus homozigot yy normal dan berpigmen kelabu. Perkawinan 2 tikus kuning akan menghasilkan anak dengan perbandingan 2 tikus kuning:1 tikus kelabu (normal). Dari ke tiga contoh dimuka dapat diketahui bahwa gen dminan letal baru akan nampak pengaruhnya letal apabila homozigotik. Dalam keadaan heterozigotik gen dominan letal itu tidak mengakibatkan kematian, namun biasanya menimbulkan cacat.

Gen Letal resesif
Beberapa contoh dapat dikemukakan disini:

  1. Pada jagung (Zea mays) dikenal gen dominan G yang bila homozigotik menyebabkan tanaman dapat membentuk klorofil (zat hijau daun) secara normal, sehingga daun berwarna hijau benar. Alelnya resesif g bila homozigotik (gg) akan memperlihatkan pengaruhnya letal, sebab klorofil tidak akan berbentuk sama sekali pada daun lembaga, sehingga kecambah akan segera mati. Tanaman heterozigot Gg akan mempunyai daun hijau kekuningan, tetapi dapat hidup terus sampai menghasilkan buah dan biji, jadi tergolong normal. Jika 2 tanaman yangdaunnya hijau kekuninan dikawinkan maka keturunannya akan memperlihatkan perbandingan 1 berdaun hijau normal: 2 berdaun hijau kekuningan.
  2. Pada manusia dikenal gen letal resesif I yang bila homozigotik akan memperlihatkan pengaruhnya letal, yaitu timbulnya penyakit Ichytosis congenita. Kulit menjadi kering dan betanduk. Pada permukaan tubuh terdapat bendar-bendar berdarah. Biasanya bayi telah mati dalam kandungan.
  3. Pada sapi dikenal gen resesif am, yang bila homozigotik (amam) akan memperlihatkan pengaruhnya letal. Anak sapi yang lahir, tidak mempunyai kaki sama sekali. Walaupun anak sapi ini hidup, tetapi karena cacatnya amat berat, maka kejadian ini tergolong sebagai letal. Sapi homozigot dominan AmAm dan heterozigot Amam adalah nomal. Cara menurunnya gen letal resesif ini sama seperti pada contoh dimuka. andaikan ada sapi jantan heterozigot Amam kawin dengan sapi betina homozigot dominan AmAm, maka anak-anaknya akan terdiri dari sapi homozigot AmAm dan heterozigot Amam, di kemudian hari anak-anak sapi ini dibiarkan kawin secara acakan (random).

Karena sapi F1 terdiri dari 2 macam genotif, yaitu AmAm dan Amam, maka ada 4 kemungkinan perkawinan, ialah:
a)  1 kemungkinan AmAm X AmAm, jantan betina bolak-balik
b)  1 kemungkinan betina AmAm X jantan Amam
c)  1 kemungkinan jantan AmAm X betina Amam
d)  1 kemungkinan Amam X Amam, jantan betina bolak-balik.

Oleh Karena sapi homozigot resesif amam letal, maka sapi-sapi F2 akan memperlihatkan perbandingan genotip 9 AmAm : 6 Amam. Dari berbagai keterangan di muka dapat diambil kesimpulan bahwa hadirnya gen letal menyebabkan keturunan menyimpang dai hukum mendel, sebab perkawinan monohybrid tidak menunjukan perbandingan 3:1 dalam keturunan, melainkan 2:1.

Mendeteksi dan mengeliminir gen-gen letal
Dari keterangan dimuka dapat diketahui, bahwa gen letal dominan dalam keadaan heterozigotik akan memperlihatkan sifat cacat, tetapi gen letal resesip tidak demikian halnya. Berhubung dengan itu lebih mudah kiranya untuk mendeteksi hadirnya gen letal dominan pada satu individu daripada gen letal resesif.

Gen-gen letal dapat dihilangkan (dieliminir) dengan jalan mengadakan perkawinan berulang kali pada individu yang menderita cacat akibat adanya gen letal. Tentu saja hal ini mudah dapat dilakukan pada hewan dan tumbuh-tumbuhan tetapi tidak pada manusia.

7.2.1. Modifikasi Nisbah  9 : 3 : 3 : 1 (Dihybrid)
Modifikasi nisbah 9 : 3 : 3 : 1 disebabkan oleh peristiwa interaksi gen misalnya yang dinamakan epistasis, yaitu penutupan ekspresi suatu gen nonalelik. Jadi, dalam hal ini suatu gen bersifat dominan terhadap gen lain yang bukan alelnya.

Interaksi antara gen akan menimbulkan perbandingan fenotipe keturunan yang menyimpang dari hukum Mendel. Menurut hukum Mendel pada perbandingan fenotipe (F2) pada persilangan dihibrid adalah 9 : 3 : 3 :1, apabila terjadi penyimpangan dari hukum Mendel perbandingan tersebut akan berubah menjadi 9 : 3 : 4, atau 9 : 7, atau 12 : 3 : 1 atau 15:1, dll. Bila diteliti betul-betul angka-angka perbandingan di atas, ternyata juga merupakan penggabungan angka-angka perbandingan Mendel. 9:7 = 9:(3+3+1), 12:3:1 = (9+3):3:1, 15:1 = (9+3+3):1, 9:3:4 = 9:3:(3+1).

Kejadian Interaksi gen yang menyebabkan terjadinya Modifikasi Nisbah Dihybrid/Peyimpangan Semu Hukum Mendel Dihybrid terbagi menjadi 4 macam yaitu : Kriptomer (9:3:4), Komplementer (9:7), Epistasis-Hipostasis (12:3:1)  dan Polimer (15:1)

A.Kriptomer
Kriptomeri merupakan suatu peristiwa dimana suatu faktor tidak tampak pengaruhnya bila berdiri sendiri, tetapi baru tampak pengaruhnya bila ada faktor lain yang menyertainya. Dengan kata lain bahwa kriptomer adalah peristiwa dimana suatu faktor dominan baru nampak pengaruhnya bila bertemu dengan faktor dominan lain yang bukan alelanya. Kriptomeri memiliki ciri khas: ada karakter baru muncul bila ada 2 gen dominan bukan alel berada bersama.Faktor dominan ini seolah-olah sembunyi (kriptos). Jadi Faktor yang tersebunyi tersebut adalah Faktor Kriptomer. Interaksi bentuk kriptomeri sifatnya menyembunyikan karakter yang terdapat pada leluhur (=atavisme).

Contoh karakter yang dipengaruhi oleh gen kriptomer antara lain :
a) Bentuk Jengger ayam
b) Warna bulu mencit
c) Warna bunga Linaria maroccana

Correns (1913) menyilangkan Bunga Linaria marrocana berbunga Merah dengan berbunga Putih, dimana masing-masing berasal dari keturunan murni. Warna pada bunga hanya akan muncul, jika kedua gen penghasil pigmen warna, yaitu A dan B muncul. Jika salah satu dari kegua gen tersebut tidak muncul maka bunga menjadi tidak berwarna (putih) karena enzim penghasil pigmen tidak aktif

Dimna : A   = ada pigmen warna anthosianin           B     = Enzim protoplasma basa
a   = tak ada pigmen warna anthosianin     b     = Enzim protoplasma tidak basa

Berdasarkan hasil persilangan di atas. F2 menghasilkan perbandingan fenitope Ungu : Merah : putih sebesar 9 : 3 : 4. Jika dilihat sepintas, hal tersebut tampak tidak sesuai dengan hukum Mendel. Sebenarnya, perbandingan 9 : 3 : 4 tersebut hanya merupakan modifikasi dari perbandingan 9 : 3 + (3 + 1).

Contoh lain :
Misalnya Linaria maroccana biru (AaBb) disilangkan dengan Linaria maroccana merah (Aabb), sedangkan gen A untuk antosianin dan gen B untuk sifat basa.
Jika  2 gen dominan A dan B maka berwarna biru,
1 gen dominan A maka berwarna merah
1 gen dominan B atau A dan B tidak ada maka berwarna putih

Berdasarkan hasil persilangan di atas. F2 menghasilkan perbandingan fenitope Biru : Merah : putih sebesar 6 : 6 : 4 Jika dilihat sepintas, hal tersebut tampak tidak sesuai dengan hukum Mendel. Sebenarnya, perbandingan 6 : 6 : 4 tersebut hanya merupakan modifikasi dari perbandingan (9 -3) : (3 + 3 ) : (3 + 1).

Kriptomer Pada Tikus/Mencit
Persilangan Tikus berwarna Hitam dengan Tikus berwarna Putih menghasilkan Keturunan F1 berwarna Krem, Sedangkan F2 diperoleh Nisbah Fenotip Krem:Hitam:Putih = 9 : 3 : 4.

Dari perbandingan tersebut dapat disimpulkan bahwa disini terdapat dua sifat beda.

  1. Pada Tikus, Sifat warna putih adalah Resesif dengan Simbol a, sedangkan Hitam merupakan Sifat Dominan dengan Simbol A.
  2. Timbulnya Sifat Warna Krem disini disebabkan oleh adanya factor yang tersembunyi dimana Faktor ini merupakan Faktor Dominan (hal ini dapat dilihat dari timbulnya sifat krem yang imbangannya lebih banyak).
  3. Pada Tikus yang berwarna putih juga disebabkan oleh Faktor yang tersebunyi yaitu Faktor Resesif.
  4. Ilustrasinya adalah sebagai berikut :
  • Misalnya Faktor yang tersembunyi Dominan diberi Simbol K, maka yang resesif diberi symbol k (Kebalikan dari K).
  • Bila sifat warna Hitam A bertemu dengan factor tersembunyi dominan maka hasilnya menjadi warna Krem.
  • Sebaliknya Bila sifat warna Hitam A bertemu dengan factor tersembunyi resesif maka hasilnya menjadi Warna Hitam.
  • Bila Gen aa bertemu dengan factor tersembunyi dominan maupun resesif maka hasilnya menjadi warna Putih

Dari hasil persilangan tersebut dapat dilihat bahwa timbulnya sifat/warna lain yang disebabkan oleh Faktor tersembunyi jumlahnya lebih banyak sehingga disini dapat disimpulkan bahwa Faktor tersembunyi yang menimbulkan warna Krem = dominan

B.Komplementer
Komplementer adalah peristiwa dimana 2 gen dominan saling mempengaruhi atau melengkapi dalam mengekspresikan suatu sifat. Dengan kata lain bahwa Komplementer merupakan bentuk kerjasama dua gen dominan yang saling melengkapi untuk memunculkan suatu karakter. Gen Komplementer adalah interaksi antara dua gen dominan, jika terdapat bersama-sama akan saling melengkapi sehingga muncul fenotipe alelnya. Bila salah satu gen tidak ada, maka pemunculan sifat terhalang.

Contoh karakter yang dipengaruhi oleh gen komplementer antara lain :

  • Warna bunga kacang Lathyrus odoratus
  • Warna kulit biji jagung
  • Bentuk buah labu summer squash (Cucurbita pepo)
  • Tuli (“Deaf mutism”) pada manusia

Perkawinan pria bisu tuli dengan wanita bisu tuli, ternyata keturunan F1-nya semuanya normal, bagaimanakah Hasil Keturunan F2- nya?

Melihat angka perbandingan F2 yang hampir sama, yaitu 9 : 7, maka bila  suatu perkawinan hanya menghasilkan anak sedikit (misalnya 1 atau 2) dimungkinkan semua normal atau semua bisu tuli.
Kunci pemahamam gen-gen komplementer adalah :

  • rr epistasis (menutupi) B dan b
  • bb epistasis (menutupi) A dan a

C.Epistasis – Hipostasis
Epistasis dan Hipostasis adalah peristiwa dimana 2 faktor yang bukan pasangan alelanya dapat mempengaruhi bagian yang sama dari suatu organisme. Dengan kata lain bahwa Epistasis-hipostasis merupakan suatu peristiwa dimana suatu gen dominan menutupi pengaruh gen dominan lain yang bukan alelnya. Gen yang menutupi disebut epistasis, dan yang ditutupi disebut hipostasis. Gen yang menutupi tersebut bisa Gen yang dominan maupun Gen yang resesif, dengan demikian Epistasis dapat dikelompokkan menjadi Epistasis dominan = bila faktor yang menutupi adalah gen dominan  dan Epistasis resesif  = bila faktor yang menutupi adalah gen resesif

Sebenarnya dalam Epistasis ini tidak dapat diterangkan “Bagaimana cara bekerjanya masing-masing pasangan gen”, tetapi hasil pada F2 diperoleh Individu-Individu dengan imbangan yang mirip dengan imbangan Dihybrid, sehingga dengan demikian disimpulkan bahwa yang bekerja adalah dua (2) pasang gen.

1) Epistasis resesif (9 : 3 : 4)
Peristiwa epistasis resesif terjadi apabila suatu pasang gen resesif menutupi ekspresi gen lain yang bukan alelnya.  Akibat peristiwa ini,  pada generasi Fakan diperoleh nisbah fenotipe 9 : 3 : 4.

Contoh Kejadian Epistasis Resesif
Pewarisan warna bulu mencit (Mus musculus).
Ada dua pasang gen nonalelik yang mengatur warna bulu pada mencit, yaitu gen A menyebabkan bulu berwarna kelabu, gen a menyebabkan bulu berwarna hitam, gen C menyebabkan pigmentasi normal, dan gen c menyebabkan tidak ada pigmentasi. Persilangan antara mencit berbulu kelabu (AACC) dan albino (aacc) dapat digambarkan seperti pada diagram berikut ini.

Pada Rhodentia, dilakukan perkawinan antara Hewan yang berwarna Hitam dengan Genotipe AABB dengan Hewan Albino dengan Genotipe aabb. Gen A menampakkan warna Hitam sedangkan aa menampakkan warna Kream. Gene B menampakkan timbulnya warna, sedangkan bb menutupi timbulnya warna, dalam hal ini bb menutupi gen A.

2) Incomplete Duplicate Epistasis (9 : 6 : 1)
Incomplete Duplicate Epistasis (Epistasis Gen Duplikat dengan Efek Kumulatif) yaitu bila terdapat pasangan gen yang menutupi pasangan Gen lainnya baik yang dominan ataupun yang resesif secara timbale balik tetapi pengaruhnya tidak sempurna, sehingga masih menampakkan suatu sifat.

Pada Tanaman Cucurbita pepo
Pada Cucurbita pepo dikenal tiga macam bentuk buah, yaitu cakram, bulat, dan lonjong. Gen yang mengatur pemunculan fenotipe tersebut ada dua pasang, masing-masing B dan b serta L dan l.  Apabila pada suatu individu terdapat sebuah atau dua buah gen dominan dari salah satu pasangan gen tersebut, maka fenotipe yang muncul adalah bentuk buah bulat (B-ll atau bbL-). Sementara itu, apabila sebuah atau dua buah gen dominan dari kedua pasangan gen tersebut berada pada suatu individu, maka fenotipe yang dihasilkan adalah bentuk buah cakram (B-L-). Adapun fenotipe tanpa gen dominan (bbll) akan berupa buah berbentuk lonjong. Pewarisan sifat semacam ini dinamakan epistasis gen duplikat dengan efek kumulatif

3) Duplicate Resesif Epistasis  (9 : 7)
Duplicate Resesif Epistasis atau Epistasis Resesif Ganda adalah Suatu gejala dimana kedua pasangan gen-gen yang resesif dari masing-masing sifat saling menutupi kerja pasangan gen lainnya.

Jadi ilustrasinya adalah : Apabila gen resesif dari suatu pasangan gen, katakanlah gen I, epistasis terhadap pasangan gen lain, katakanlah gen II, yang bukan alelnya, sementara gen resesif dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap pasangan gen I, maka epistasis yang terjadi dinamakan Duplicate Resesif Epistasis atau epistasis resesif ganda.  Epistasis ini menghasilkan nisbah fenotipe 9 : 7 pada generasi F2.

Contoh :
Perkawinan Ayam Silky Putih (White Silky) dengan Ayam Dorking Putih (White Dorking)
Apabila Genotipe Ayam Silky Putih = AAbb dan Ayam Dorking Putih = aaBB. Gen A menyebabkan timbulnya warna, aa menekan sifat B, sedangkan Gen B menimbulkan Warna dan bb menekan Sifat A

4) Epistasis dominan (12 : 3 : 1)
Epistasis Dominan yaitu apabila sepasang gen yang dominan menutupi bekerjanya sepasang gen yang lain. Dengan kata lain bahwa Pada peristiwa epistasis dominan terjadi penutupan ekspresi gen oleh suatu gen dominan yang bukan alelnya. Nisbah fenotipe pada generasi F2 dengan adanya epistasis dominan adalah 12 : 3 : 1.

Contoh Kejadian Epistasis Dominan
Peristiwa epistasis dominan dapat dilihat misalnya pada pewarisan warna buah waluh besar (Cucurbita pepo). Dalam hal ini terdapat gen Y yang menyebabkan buah berwarna kuning dan alelnya y yang menyebabkan buah berwarna hijau. Selain itu, ada gen W yang menghalangi pigmentasi dan w yang tidak menghalangi pigmentasi.  Persilangan antara waluh putih (WWYY) dan waluh hijau (wwyy) menghasilkan nisbah fenotipe generasi F2 sebagai berikut.

Tanaman Jagung
Tanaman Jagung berwarna Putih disilangkan dengan tanaman Jagung berwarna Merah. Tanaman Jagung berbiji Putih Genotipenya adalah = IIPP dan Jagung berbiji Merah genotipenya = iipp. P membawakan sifat warna Ungu sedangkan pp membawakan sifat warna merah, I menekan warna dan ii menyebabkan timbulnya warna.

5) Duplicate Dominan Epistasis (15 : 1)
Duplicate Dominan Epistasis atau Epistasis Dominan Ganda adalah suatu gejala dimana dari kedua pasang gen-gen yang dominan dari masing-masing sifat saling menutupi kerja pasangan gen yang lain.

Apabila gen dominan dari pasangan gen I epistatis terhadap pasangan gen II yang bukan alelnya, sementara gen dominan dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap pasangan gen I, maka epistasis yang terjadi dinamakan epistasis dominan ganda.  Epistasis ini menghasilkan nisbah fenotipe 15 : 1 pada generasi F2.

Contoh Kejadian Duplicate Dominan Epistasis
Pada Sifat Penurunan Bulu Kaki Ayam
Apabila ayam yang kakinya berbulu dikawinkan dengan ayam yang kakinya tidak berbulu, maka F1 akan didapatkan ayam yang kakinya berbulu. Kemudian pada F2 didapatkan Ratio Fenotipe antara yang Kaki Berbulu dengan Kaki Tidak Berbulu = 15:1.

Ilustrasinya adalah sebagai berikut :
Apabila ayam yang kakinya berbulu memiliki genotype AABB dan yang tidak berbulu memiliki genotype aabb, gen A akan menimbulkan bulu pada Kaki dan aa menimbulkan sifat tidak berbulu. Sedangkan Gen B menimbulkan sifat berbulu dan bb menimbulkan sifat tidak berbulu pada kaki.

6) Epistasis domian-resesif (13 : 3)
Epistasis dominan-resesif terjadi apabila gen dominan dari pasangan gen I epistatis terhadap pasangan gen II yang bukan alelnya, sementara gen resesif dari pasangan gen II ini juga epistatis terhadap pasangan gen I.  Epistasis ini menghasilkan nisbah fenotipe 13 : 3 pada generasi F2.

D.Polimer (15 : 1)
Polimer adalah Pola penurunan sifat yang berdasarkan banyak gen sehingga disebut juga Multiple Gen Heredity = Quantitatif Heredity atau Poymeri.

Polimer adalah peristiwa dimana beberapa sifat beda yang berdiri sendiri-sendiri mempengaruhi bagian yang sama dari suatu individu. Polimer adalah bentuk interaksi gen yang bersifat kumulatif (saling menambah). Perbedaan dengan komplementer adalah tanpa kehadiran salah satu gen (alel dominan) karakter yang disebabkannya tetap muncul, hanya mutu / derajatnya yang kurang dibandingkan dengan kehadirannya. Gen yang menumbuh kan karakter polimeri biasanya lebih dari 2 gen sehingga disebut “karakter gen ganda (polygenic inheritance)”.

Seperti telah dijelaskan pada Bab Monohybrid terdahulu bahwa sifat Kuantitatif ini peka terhadap pengaruh lingkungan, variasinya bertingkat-tingkat dan biasanya dipengaruhi oleh banyak gen. Penurunan sifat Kuantitatif ini banyak terdapat pada sifat-sifat penting yang mempengaruhi nilai ekonomis seekor ternak, misalnya : Produksi Susu, Produksi Telur, Pertambahan Berat Badan pada ternak, penimbunan lemak dsb. Dengan kata lain bahwa sifat Kuantitatif berkaitan erat dengan Produksi dan Produktivitas seekor ternak.

Hipotesa tentang Polimer atau Multiple Gen Heredity ini pertama kali dikemukakan oleh Nilson-Ehla, yaitu pada tahun 1908 dengan materi tanaman Gandum yaitu Gandum berbiji Merah disilangkan dengan Gandum berbiji Putih.

Dari persilangan yang dilakukan oleh Nelson Ehla pada gandum berbiji merah dengan gen berbiji putih, pada F1 didapatkan gandum berbiji Merah tetapi warna bijinya tidak merah tua seperti Parentalnya. Sedangkan pada F2 didapatkan perbandingan Gandum berbiji Merah dengan Putih yaitu 15 : 1.

Namun ia menemukan variasi warna yang bertingkat-tingkat dari hasil  keturunan nya, yaitu Merah Tua (Dark Red), Merah agak tua (Medium Dark Red), Merah Muda (Medium Red), Kemerahan (Light Red) dan Putih. Apabila dilihat dari warna biji maka orang mengira bahwa sifat tersebut ditentukan oleh sepasang gen saja, namun apabila melihat hasil perbandingan pada F2 yaitu 15 : 1, maka dapat disimpulkan bahwa sifat ini ditentukan oleh lebih dari satu pasang gen.

Peristiwa tersebut mirip dengan persilangan dihibrid tidak dominan sempurna ulang menghasilkan warna peralihan seperti merah muda. Warna yang dihasilkan ini tidak hanya dikontrol oleh satu pasangan gen saja melainkan oleh dua gen yang berbeda lokus, namun masih berpengharuh terhadap sifat yang sama, peristiwa ini disebut polimeri.  Jadi Polimeri adalah dua gen atau lebih yang menempati lokus berbeda, tetapi  memiliki sifat yang sama.

Berdasarkan hasil generasi F2 dapat diketahui, bahwa fenotipe merah akan  selalu muncul jika mendapatkan gen dominan M berapapun jumlahnya. Fenotipe putih hanya akan muncul, jika tidak terdapat gen dominan M. Semakin banyak jumlah gen dominan, maka sifat yang muncul akan semakin kuat. Jadi, satu ciri dipengaruhi oleh banyak gen dan terjadi secara akumulatif (Cumulative=Additive)

Contoh polimeri yang lain adalah :
1. Warna kulit dan warna iris pada mata manusia.
2. Sifat Ketebalan Lemak Punggung (Back Fat) pada Ternak babi.

  • Sifat ketebalan lemak punggung (back fat) pada ternak babi merupakan sifat yang penurunannya secara kuantitatif.
  • Misalnya Babi yang mempunyai ketebalan lemak punggung 0,8 inch mempunyai genotype bbff (Simbol B atau b = Back dan F atau f = Fat), berarti gen b dan f merupakan gen netral yang menentukan tidak adanya pertambahan ketebalan lemak punggung.
  • Sedangkan Gen B dan F merupakan gen aktif yang menentukan adanya pertambahan ketebalan lemak punggung sebesar 0,2 inch.
  • Bila Babi dengan Back Fat 0,8 inch dikawinkan dengan Babi Back fat 1,6 inch, maka F1 diperoleh Babi dengan Back Fat 1,2 inch dan F2 hasil intersemating diperoleh Fenotipe Babi dengan Back Fat yaitu : 1,6; 1,4; 1,2; 1,0 dan 0,8 inch.

Sifat-Sifat Produksi yang lain dalam bidang peternakan yang pola penurunannya termasuk Kuantitatif dan Frekuensinya mengikuti Kurve Distribusi Normal adalah Produksi Susu, PBB, Produksi telur dll. Jadi Individu-Individu yang mempunyai produksi Medium/rata-rata terdapat dalam jumlah yang banyak.

7.3. Umpan Balik

  1. Penyilangan ayam Walnut (RrPP) dengan Rose (Rrpp) akan memberikan peluang munculnya ayam bilah sebesar … %. Jelaskan.
  2. Perkawinan Laki-laki “bisutuli” (BBtt) dengan perempuan “bisu tuli” (bbTT), maka Berapa Persen peluang munculnya anak normal (bisa berbicara dan bisa mendengar).
  3. Jelaskan Pengertian, Persamaan dan Perbedaan dari macam-macam Epistasis.
  4. Apabila diketahui Sapi Perah dengan Produksi Susu 8 Liter/ekor/hari dikawinkan dengan Sapi Perah Jantan yang memiliki Potensi Produksi Susu 12 liter/ekor/hari maka diperoleh F1 Sapi Perah Betina rata-rata 10 liter/ekor/hari. Berapakah Klasifikasi Produksi Susu Sapi Perah jika dilakukan Intersemating dan Berlaku Kurve Distribusi Normal.
  5. Bagaimanakah hasil perkawinan (F1 dan F2 hasil Intersemating F1) serta Buatlah Klasifikasi Fenotipenya antara orang berkulit hitam (Afrika) dengan orang berkulit putih (Eropa), bila diketahui Gen Hitam K1.K2 dan K3 sedangkan Gen Putih disimbolkan k1,k2 dan k3.





Diktat Genetika Ternak-6

26 07 2012

BAB VI. GEN BERANGKAI

6.1. Gen Berangkai
Percobaan-percobaan persilangan pada kacang ercis yang dilakukan oleh Mendel, baik monohibrid maupun dihibrid, telah menghasilkan hukum Mendel, antara lain hukum segegasi dan hukum pemilihan bebas. Jika kembali kita perhatikan persilangan dihibrid menyangkut pewarisan warna biji dan bentuk biji, maka akan terlihat bahwa gamet-gamet yang terbentuk tidak hanya mengandung kombinasi gen dominan untuk warna biji (K) dengan gen dominan untuk bentuk biji (B), tetapi memungkinkan pula kombinasi gen resesif untuk warna biji (k) dengan gen resesif untuk bentuk biji (b), dan juga kombinasi gen K dengan gen b, serta gen k dengan gen B. Oleh karena peluang terjadinya kombinasi-kombinasi tersebut sama besar, maka keempat macam gamet yang dihasilkan, yaitu KB, Kb, kB, dan kb, akan mempunyai nisbah 1 : 1 : 1 : 1.

Gen-gen yang mengatur warna biji dan bentuk biji dewasa ini telah diketahui letaknya masing-masing. Gen pengatur warna biji terletak pada kromosom 1, sedang gen pengatur bentuk biji terletak pada kromosom 7. Inilah keuntungan lain yang diperoleh Mendel di samping secara kebetulan tanaman yang digunakan adalah diploid. Seandainya gen pengatur warna biji dan gen pengatur bentuk biji terletak pada kromosom yang sama, barangkali Mendel tidak akan berhasil merumuskan hukum pemilihan bebas.

Saat ini kita telah mengetahui bahwa banyaknya gen pada kacang ercis, dan juga pada setiap spesies organisme lainnya, jauh lebih banyak daripada jumlah kromosomnya. Artinya, di dalam sebuah kromosom tertentu dapat dijumpai lebih dari sebuah gen. Dengan demikian Hukum Mendel mengenai pemisahan dan pemilihan atau penggabungan bebas masih tetap berlaku sampai sekarang, meskipun hal itu tidak mutlak. Hal ini dapat diterangkan bahwa Hukum Mendel tersebut mengenai pemisahan gen sealel hanya berlaku pada gen-gen yang lepas satu sama lain (Tidak terangkai dalam rangkaian yang homolog dari kromosom). Sebab pada kenyataannya satu kromosom mengandung banyak sekali gen. Pada umumnya jumlah gen biasanya lebih banyak daripada jumlah kromosom.

Pada saat meiosis, gen yang tergabung dalam satu kromosom biasanya tetap berkumpul tetapi kadang-kadang juga terjadi pertukaran gen diantara kromosom yang homolog. Dengan demikian bahwa gen-gen yang terletak pada kromosom yang homolog/ sama tidak dapat mengadakan pemisahan secara bebas, keadaan ini dinamakan dengan gen-gen berangkai/Pautan (Linkage of Gene) (Faktor yang tergabung dari gen),sedang fenomenanya sendiri dinamakan berangkai/Pautan (linkage).

Pautan/Berangkai (linkage of gene) adalah gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama. Gen bersama alel yang terletak pada sepasang kromosom yang homplog itu 1 rangkaian (1 linkage)

Oleh karena itu sifat-sifat yang ditentukan oleh gen-gen yang terletak pada kromosom yang sama cenderung berlaku sebagai kelompok tunggal (sebab tidak dapat mengadakan pemisahan secara bebas) dan keadaan gen berlaku sebagai kelompok tunggal itu dinamakan Linkage Group. Jumlah dari Linkage Group ini sesuai dengan jumlah kromosom dari pasangan kromosom tiap-tiap jenis makhluk.

Fenomena berangkai pertama kali ditemukan pada percobaan dihibrid oleh W.Bateson dan R.C Punnet pada tahun 1906. Akan tetapi, mereka tidak dapat memberikan interpretasi terhadap hasil persilangan yang diperoleh. Baru sekitar lima tahun kemudian seorang ahli genetika dan embriologi dari Amerika Serikat, T.H. Morgan, dapat menjelaskan mekanisme pewarisan gen-gen berangkai pada lalat Drosophila melanogaster. Dari konsep mengenai berangkai ini selanjutnya berkembang pengetahuan mengenai pindah silang (crossing over) dan pemetaan kromosom, yang sebagian besar melibatkan karya Morgan dan para mahasiswanya seperti C.B. Bridges, H.J. Muller, dan A.H. Sturtevant.

6.2. Dua Gen Berangkai
Dua buah gen yang berangkai akan mengalami segregasi dan rekombinasi dengan pola yang tidak mengikuti hukum Mendel. Artinya, pola segregasi dan rekombinasinya tidak bebas sehingga tiap macam gamet yang dihasilkannya pun menjadi tidak sama jumlahnya.

Adanya perbedaan jumlah di antara macam gamet yang terbentuk tersebut disebabkan oleh kecenderungan gen-gen berangkai untuk selalu berada bersama-sama. Jadi, kalau gen-gen yang berangkai adalah sesama dominan dan sesama resesif, maka gamet yang mengandung gen-gen dominan dan gamet yang mengandung gen-gen resesif akan dijumpai lebih banyak daripada gamet dengan kombinasi gen dominan-resesif. Demikian pula, dalam keadaan gen dominan berangkai dengan gen resesif, gamet yang mengandung kombinasi gen dominan-resesif akan lebih banyak jumlahnya daripada gamet dengan kandungan gen sesama dominan dan sesama resesif.

Sebagai contoh, jika gen A dan gen B berangkai pada suatu kromosom sementara alel-alel resesifnya, a dan b, juga berangkai pada kromosom homolognya, maka gamet-gamet yang dihasilkan akan terdiri atas AB, Ab, aB, dan ab dengan nisbah n : 1 : 1 : n.  Sebaliknya, jika gen A berangkai dengan gen b, dan gen a berangkai dengan gen B,  maka nisbah gamet AB : Ab : aB : ab menjadi 1 : n : n : 1. Dalam hal ini n merupakan bilangan positif dengan nilai lebih dari satu.

Untuk lebih jelasnya pada Gambar di bawah ini secara skema dapat diperbandingkan tiga kemungkinan segregasi dan rekombinasi gen-gen pada individu dihibrid AaBb. Gambar di bawah ini memperlihatkan pola segregasi dan rekombinasi gen-gen yang terjadi secara bebas karena keduanya tidak berangkai.  Sementara itu, pada Gambar b dan c tampak bahwa segregasi dan rekombinasi kedua gen tidak terjadi secara bebas. Dua gen yang berangkai cenderung untuk selalu bersama-sama atau tidak bersegregasi di dalam gamet-gamet yang terbentuk.

a) Kedua gen tidak berangkai
b) Kedua gen berangkai dengan kedudukan sis
c) Kedua gen berangkai dengan kedudukan trans

A.Kedudukan Dua Gen Berangkai
Kalau kita perhatikan lagi Gambar di atas, akan tampak bahwa dua buah gen yang  berangkai dapat berada pada dua macam kedudukan atau konfigurasi yang berbeda. Pada Gambar b) gen dominan A berangkai dengan gen dominan B dan gen resesif a berangkai dengan gen resesif b. Kedudukan gen berangkai semacam ini dinamakan sis atau coupling phase. Sebaliknya, jika gen dominan berangkai dengan gen resesif seperti pada Gambar c), maka kedudukannya dinamakan trans ataurepulsion phase.

Kedudukan gen berangkai harus tercerminkan pada notasi individu yang bersangkutan. Individu dihibrid AaBb, misalnya, ditulis sebagai AB/ab jika kedua gen tersebut berangkai dengan kedudukan sis, dan ditulis sebagai Ab/aB jika kedudukan berangkainya adalah trans. Jadi, penulisan AaBb hanya digunakan apabila kedua gen tersebut tidak berangkai.Baik pada kedudukan sis maupun trans terdapat dua macam gamet, yang masing-masing disebut sebagai gamet tipe parental dan gamet tipe rekombinasi. Gamet tipe parental mempunyai susunan gen yang sama dengan susunan gen pada individu, sedang gamet tipe rekombinasi susunan gennya merupakan rekombinasi susunan gen pada individu. Jadi, individu dihibrid AaBb akan menghasilkan gamet tipe parental AB dan ab serta gamet tipe rekombinasi Ab dan aB jika kedua gen tersebut berangkai dengan kedudukan sis. Kebalikannya, jika kedua gen tersebut berangkai dengan kedudukan trans, maka gamet tipe parentalnya adalah Ab dan aB sementara gamet tipe rekombinasinya adalah AB dan ab.

Gamet tipe parental jumlahnya selalu lebih besar atau setidak-tidaknya sama dengan jumlah gamet tipe rekombinasi. Dengan perkataan lain, gamet tipe parental jumlahnya berkisar dari 50% hingga 100%, sedang gamet tipe rekombinasi berkisar dari 0% hingga 50%. Jika gamet tipe parental sama banyaknya dengan gamet tipe rekombinasi (masing-masing 50% atau nisbah gamet = 1:1:1:1), maka hal ini berarti kedua gen tidak berangkai. Sebaliknya, jika semua gamet yang ada merupakan gamet tipe parental, atau dengan perkataan lain sama sekali tidak terdapat gamet tipe rekombinasi, maka kedua gen dikatakan mempunyai loki (tempat gen pada kromosom) yang sangat berdekatan.

Besar kecilnya jumlah, atau persentase, gamet tipe rekombinasi oleh A.H. Sturtevant digunakan untuk menggambarkan jarak fisik antara dua gen berangkai. Setiap satuan peta ditetapkan sebagai jarak antara dua gen berangkai yang dapat menghasilkan gamet tipe rekombinasi sebanyak 1%. Makin panjang jarak antara dua gen berangkai, makin besar persentase gamet tipe rekombinasi yang dihasilkan. Sebagai contoh, jika suatu individu dihibrid dengan gen-gen yang berangkai menghasilkan gamet tipe parental sebanyak 80% atau gamet tipe rekombinasi sebanyak 20%, maka jarak antara kedua gen berangkai tersebut dikatakan sama dengan 20% atau 20 satuan peta atau 20 Morgan. Sebenarnya hubungan linier antara jarak dua gen berangkai dan persentase gamet tipe rekombinasi hanya berlaku lebih kurang hingga nilai 20%. Di atas nilai ini peningkatan jarak tidak terus-menerus diikuti oleh peningkatan persentase gamet tipe rekombinasi. Seperti telah dijelaskan, gamet tipe rekombinasi jumlahnya paling banyak hanya 50%. Di sisi lain jarak antara dua gen berangkai dapat mencapai lebih dari 100%, misalnya jarak terpanjang antara dua gen berangkai pada kromosom 1 tanaman jagung yang mencapai 161%.

B. Pengujian Linkage Group
Guna menguji adanya Linkage Group adalah dengan Test Cross. Contohnya adalah perkawinan antara lalat buah dengan Tubuh Abu-abu Sayap Pendek (Genotipe = KKpp) dengan lalat buah bertubuh Hitam Sayap Panjang (Genotipe = kkPP), maka F1 diperoleh semua Tubuh Abu-abu Sayap Panjang (KkPp). Kemudian anak F1 tersebut dikawinkan dengan Individu yang homozigot resesif (Genotipe = kkpp) atau Lalat Buah bertubuh Hitam Sayap Pendek dan hasilnya adalah sebagai berikut : Menurut Mendel

Kenyataannya : Menurut Morgan
Berdasarkan Pengujian Persilangan antara Lalat Buah Tubuh Abu-abu Sayap Panjang dengan Tubuh Hitam Sayap Pendek hanya diperoleh 2 Fenotipe saja yaitu Tubuh Abu-abu Sayap Pendek (Kkpp) dan Tubuh Hitam Sayap Panjang (kkPp) dengan imbangan 1 : 1.
Berdasarkan kenyataan ini maka disimpulkan bahwa Gen untuk sifat Abu-abu (K) dengan Gen untuk sifat Sayap Pendek (p) tidak memisah secara bebas tetapi terletak pada kromosom yang homolog/sama. Demikian pula untuk Gen Hitam (k) dan Sayap Panjang (P)

6.3. Pindah Silang (Crossing Over)
Telah disebutkan bahwa dua buah gen yang berangkai akan cenderung untuk tetap bersama-sama di dalam gamet yang terbentuk. Akan tetapi, di antara keduanya masih terdapat pula kemungkinan untuk mengalami segregasi (pemisahan) dan rekombinasi (penggabungan) sehingga akan diperoleh kombinasi gen-gen seperti yang dijumpai pada gamet tipe rekombinasi. Terjadinya segregasi dan rekombinasi dua buah gen berangkai ini tidak lain karena mereka mengalami peristiwa yang dinamakan pindah silang (crossing over), yaitu pertukaran materi genetik (gen) di antara kromosom-kromosom homolog (kromosom pasangannya).

Dari pengertian pindah silang tersebut kita dapat menyederhanakan batasan tentang gamet tipe parental dan gamet tipe rekombinasi. Di atas telah dikatakan bahwa gamet tipe parental adalah gamet dengan susunan gen yang sama dengan susunan gen pada individu, sedang gamet tipe rekombinasi adalah gamet yang susunan gennya merupakan rekombinasi susunan gen pada individu. Sekarang dengan lebih mudah dapat kita katakan bahwa gamet tipe parental adalah gamet bukan hasil pindah silang, sedang gamet tipe rekombinasi adalah gamet hasil pindah silang.
Peristiwa pindah silang, bersama-sama dengan pemilihan bebas (hukum Mendel II), merupakan mekanisme penting yang mendasari pembentukan keanekaragaman genetik karena kedua-duanya akan menghasilkan kombinasi baru di antara gen-gen yang terdapat pada individu sebelumnya. Selanjutnya, seleksi alam akan bekerja untuk mempertahankan genotipe-genotipe dengan kombinasi gen yang adaptif saja. Oleh karena itulah, banyak ilmuwan yang menganggap bahwa pindah silang dan pemilihan bebas sangat penting bagi berlangsungnya proses evolusi.

A.Pindah silang terjadi pascaduplikasi kromosom
Pada profase I meiosis kedua kromosom homolog akan mengalami duplikasi menjadi empat buah kromatid. Selanjutnya, keempat kromatid ini akan membentuk sinapsis yang dinamakan tetrad. Pada saat terbentuknya konfigurasi tetrad inilah pindah silang terjadi.
Bukti bahwa pindah silang terjadi sesudah kromosom homolog mengalami duplikasi diperoleh dari hasil analisis genetik pada percobaan menggunakan kapang Neurospora crassa. Kapang ini sangat cocok untuk keperluan analisis genetik terutama karena dalam fase reproduksi aseksualnya terdapat askosopra haploid yang akan mengalami pembelahan mitosis sehingga berkecambah dan tumbuh menjadi miselium multisel yang juga haploid. Dengan adanya miselium haploid inilah, keberadaan gen-gen resesif dapat dideteksi karena ekspresinya tidak tertutup oleh gen dominan.

B.Persentase pindah silang menggambarkan jarak antara dua gen berangkai
Peristiwa pindah silang akan menyebabkan terbentuknya gamet tipe rekombinasi, atau seperti disebutkan di atas, gamet tipe rekombinasi merupakan gamet hasil pindah silang. Sementara itu, persentase gamet tipe rekombinasi sampai dengan batas tertentu (lebih kurang 20%) memperlihatkan korelasi positif dengan jarak fisik antara dua gen berangkai. Dengan demikian, besarnya persentase pindah silang juga menggambarkan jarak fisik antara dua gen berangkai.

C.Contoh Peristiwa Crossing over
(1) Persilangan antara lalat buah bertubuh abu-abu murni (KK) sayap panjang murni (PP) dengan lalat buah tubuh hitam sayap pendek murni (kkpp), maka F1 Tubuh abu-abu sayap panjang (KkPp) heterozigot.
Kemudian F1 disilangkan dengan Individu orang tua yang homozigot resesif (kkpp), apabila tidak ada pindah silang maka hasil keturunannya adalah dua fenotipe saja yaitu Tubuh abu-abu sayap pendek (Kkpp) dan Tubuh hitam sayap panjang (kkPp) dengan perbandingan 1 : 1 (Seperti peristiwa linkage gen).
Kenyataannya : Kadang-kadang dijumpai kombinasi baru yaitu KkPp dan kkpp.

(2)Bateson dan Punnet (1906) dari Inggris mengawinkan Tanaman Kacang (Sweet pea) berbunga ungu berbiji lonjong (RRLL) dengan kacang berbunga merah berbiji bulat (rrll) pada F1 diperoleh hasil berupa tanaman kacang berbunga ungu berbiji lonjong (RrLl). Pada F2 (dengan perkawinan intersemating) diperoleh hasil Individu Bunga Ungu Biji Lonjong; Bunga Ungu Biji Bulat; Bunga Merah Biji Lonjong dan Bunga Merah Biji Bulat dengan Imbangan = 12 : 1 : 1 : 3 (Seharusnya kalau normal maka imbangannya = 9:3:3:1).

Dalam hal ini kombinasi baru memang terbentuk tetapi jumlahnya hanya sedikit dibandingkan dengan yang diharapkan. Sedang individu-individu yang berbunga ungu berbiji lonjong dan berbunga merah berbiji bulat hasilnya lebih banyak dari yang diharapkan.Hal ini menunjukkan bahwa Sifat Ungu dan Lonjong lebih erat terikat, demikian pula dengan sifat Merah dan Bulat. Sedangkan individu-individu baru yang terbentuk adalah disebabkan oleh adanya pindah silang (crossing over) dari gen-gen yang terletak pada kromosom yang Homolog dimana sifat Ungu, Lonjong dan Merah, Bulat terdapat.

Dalam mempelajari tentang kromosom dan gen maka ada suatu pengertian yang penting yaitu tentang Chromosome map atau Peta Kromosom, artinya adalah gambaran letak daripada masing-masing gen-gen di dalam kromosom. Suatu hal yang penting tentang peta kromosom ini menurut Gardner dan Snustad (1981) bahwa semua peta kromosom umumnya digambarkan secara linier (garis lurus), oleh karena itu disebut dengan Linier Order. Hal ini mempermudah sebab meskipun kenyataannya bentuk kromosom adalah melingkar-lingkar tetapi karena rangkaian pasangan dalam DNA dimana gen berada itu adalah linier, maka untuk menggambarkan peta kromosom ini bias dengan dasar garis lurus.

 (3) Cara Menghitung Persentase Pindah Silang
Menurut Tabel yang memuat tentang hasil perkawinan antara kacang yang berbunga ungu, berbiji lonjong dengan kacang yang berbunga merah berbiji coklat, maka percobaab Bannet dan Punnet diperoleh Individu sebanyak 6.952 biji kacang dengan perincian sbb.

  • Ungu Lonjong         = 4.831 biji
  • Ungu Bulat                         =    390 biji
  • Merah Lonjong       =    393 biji
  • Merah Bulat            = 1.338 Biji

Maka hasil percobaan tsb diperoleh imbangan 12 : 1 : 1 : 3

Dengan demikian :
Persentase terjadinya pindah silang (crossing over percentages) = (390+393):6.952 = 11%
Pada proses terjadinya pindah silang tersebut terdapat suatu proses yang disebut : Chiasma yaitu suatu proses dimana kromatid/kromosom yang homolog saling menyilang satu sama lain pada suatu tempat atau beberapa tempat yang mana mereka nanti akan menukar bagiannya yang berisi gen.
Melalui percobaan-percobaan yang dilakukan Morgan dapat diketahui jarak dan lokus berbagai gen pada kromosom.

6.4. Tiga Gen Berangkai
Di antara tiga buah gen berangkai, misalnya gen-gen dengan urutan A-B-C, dapat terjadi tiga kemungkinan pindah silang. Pertama, pindah silang terjadi antara A dan B atau pindah silang pada interval I.  Ke dua, pindah silang terjadi antara B dan C atau pindah silang pada interval II. Ke tiga, pindah silang terjadi antara A dan B sekaligus antara B dan C. Kemungkinan yang terakhir ini dinamakan pindah silang ganda (double crossing over).

Sesuai dengan banyaknya macam pindah silang yang terjadi, gamet tipe rekombinasi yang dihasilkan ada tiga macam, yaitu gamet tipe rekombinasi hasil pindah silang pada interval I, gamet tipe rekombinasi hasil pindah silang pada interval II, dan gamet tipe rekombinasi hasil pindah silang ganda.  Kedudukan ketiga gen gamet tipe rekombinasi yang dihasilkan adalah Abc dan aBC (hasil pindah silang I), ABc dan abC (hasil pindah silang II), serta AbC dan aBc (hasil pindah silang ganda). Selain itu, ada juga gamet tipe parental, yaitu ABC dan abc.

Dari delapan macam gamet yang dihasilkan tersebut, gamet tipe parental dengan sendirinya paling besar persentasenya, sedang gamet yang paling kecil persentasenya adalah gamet tipe rekombinasi hasil pindah silang ganda. Bagaimana dengan gamet hasil pindah silang I dan gamet hasil pindah silang II ? Mana di antara kedua kelompok gamet tipe rekombinasi tersebut yang lebih besar persentasenya ? Jawabannya tentu saja bergantung kepada besarnya jarak A-B dan jarak B-C. Jika A-B lebih panjang daripada B-C, maka gamet hasil pindah silang I lebih banyak daripada gamet hasil pindah silang II. Begitu pula sebaliknya, gamet hasil pindah silang II akan dijumpai lebih banyak daripada gamet hasil pindah silang I jika jarak B-C lebih panjang daripada jarak A-B.

A. Silang Uji Tiga Titik
Silang uji adalah persilangan suatu individu dengan individu homozigot resesif. Silang uji terhadap individu trihibrid dinamakan silang uji tiga titik (three-point test cross). Sebagai contoh, individu trihibrid AaBbCc disilang uji dengan aabbcc. Jika di antara ketiga gen tersebut tidak ada yang berangkai, maka hasil persilangannnya ada delapan macam fenotipe, yaitu A-B-C-, A-B-cc, A-bbC-, aaB-C-, A-bbcc, aaB-cc, aabbC-, dan aabbcc, dengan nisbah 1 : 1 : 1 : 1 : 1 : 1 : 1 : 1.

Namun, jika gen A berangkai dengan gen B dan gen C, maka nisbah fenotipe yang dihasilkan tidak akan sama tetapi bergantung kepada jumlah tiap macam gamet individu trihibrid tersebut. Gamet dari individu ABC/abc dapat dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok pertama adalah gamet tipe parental (ABC dan abc), kelompok ke dua gamet hasil pindah silang di daerah I (Abc dan aBC), kelompok ke tiga gamet pindah silang di daerah II (ABc dan abC), dan kelompok ke empat gamet hasil pindah silang ganda (AbC dan aBc). Sementara itu, dari individu homozigot resesif aabbcc (abc/abc) hanya akan dihasilkan satu macam gamet, yakni abc, karena baik gamet tipe parental maupun rekombinasi akan mempunyai susunan gen yang sama. Dengan demikian, fenotipe sekaligus genotipe hasil silang ujinya akan ada empat kelompok, yang masing-masing terdiri atas dua macam fenotipe, sesuai dengan nisbah gamet individu ABC/abc.

Salah satu kromosom homolog pada tiap fenotipe/genotipe hasil silang uji tersebut di atas selalu membawa gen-gen dengan susunan yang sama, yaitu abc. Oleh karena itu, biasanya notasi fenotipe/genotipe individu hasil silang uji untuk gen-gen berangkai sama dengan notasi untuk gametnya masing-masing. Jadi, individu ABC/abc, misalnya, cukup ditulis dengan ABC. Begitu juga untuk ketujuh genotipe lainnya penulisannya cukup seperti notasi gametnya saja.

B. Pemetaan Kromosom
Data hasil silang uji tiga titik dapat dimanfaatkan untuk membuat peta kromosom. Di dalam peta kromosom tiap kromosom disebut sebagai satu kelompok gen berangkai (linkage group), yang terdiri atas sederetan gen-gen dengan urutan dan jarak tertentu. Dengan demikian, pada prinsipnya pembuatan peta kromosom meliputi penentuan urutan gen pada satu kromosom dan penghitungan jarak antara gen yang satu dan lainnya.  Sebagai contoh, pada lalat Drosophila melanogaster telah ditemukan adanya empat kelompok gen berangkai.

Langkah-langkah untuk membuat peta kromosom dari data hasil silang uji dapat dijelaskan dengan contoh berikut ini.
ABC = 265             AbC = 6              Abc = 435                abC = 139
ABc = 133              aBC = 441           aBc = 4                    abc = 227

Untuk menentukan urutan gen yang benar pertama-tama kita cari individu tipe parental di antara kedelapan genotipe tersebut, yaitu dua individu yang persentase atau jumlahnya terbesar (aBC dan Abc). Keduanya dipasangkan menjadi aBC/Abc. Kemudian, kita cari individu hasil pindah silang ganda, yaitu dua individu yang jumlahnya terkecil (AbC dan aBc). Ini juga kita pasangkan menjadi AbC/aBc.

Individu parental disimulasi untuk mengalami pindah silang ganda (psg). Artinya, aBC/Abc disimulasi untuk mengalami psg menjadi abC/ABc. Setelah hasil simuasi ini dicocokkan dengan individu psg yang ada ternyata susunan gennya tidak sama (abC/ABc tidak sama dengan AbC/aBc). Oleh karena itu, individu parental harus kita ubah urutan gennya, misalnya menjadi BaC/bAc. Jika individu ini mengalami psg, maka akan diperoleh BAC/bac, yang ternyata masih belum cocok juga dengan AbC/aBc. Alternatif ke tiga (terakhir) adalah mengubah urutan gen pada individu parental menjadi aCB/Acb. Individu parental dengan urutan gen seperti ini (lokus C di tengah) jika mengalami psg akan menjadi acB/ACb, yang ternyata cocok dengan AbC/aBc. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa urutan loki gen yang benar adalah A-C-B atau B-C-A.

Mutan yang diawali dengan huruf besar = mutan dominan
Setelah urutan gen yang benar diketahui, data hasil silang uji tersebut di atas diubah urutan gennya sehingga menjadi :
ACB = 265             ACb = 6              Acb = 435                aCb = 139
AcB = 133              aCB = 441           acB = 4                    acb = 227

Selanjutnya, kita dapat menghitung jarak antara dua gen berurutan (A-C dan C-B), yang masing-masing sama dengan persentase pindah silang di antara kedua gen yang diukur jaraknya (ingat ! besarnya persentase pindah silang menggambarkan jarak fisik antara dua gen berangkai). Jadi, jarak A-C sama dengan pindah silang antara A dan C, sedang jarak C-B sama dengan pindah silang antara C dan B.

Oleh karena individu parentalnya aCB/Acb, maka individu hasil pindah silang antara A dan C terdiri atas acb, ACB, acB, dan ACb.  Dengan demikian, jarak A-C = (227 + 265 + 4 + 6) / 1650 x 100% = 30,4%. Sementara itu, individu hasil pindah silang antara C dan B masing-masing aCb, AcB, acB, dan ACb, sehingga jarak C-B = (139 + 133 + 4 + 6) / 1650 x 100% = 17,1%.

A       30,4 %        C         17,1 %       B

C. Interferensi Kromosom
Pada contoh soal tersebut di atas terlihat bahwa banyaknya individu hasil pindah silang ganda ada (4 + 6) / 1650 x 100% = 0,6%. Nilai ini merupakan persentase pindah silang ganda yang benar-benar terjadi (pasangan O). Namun, seperti telah dijelaskan sebelumnya, pindah silang ganda adalah dua peristiwa pindah silang yang terjadi bersama-sama pada dua daerah yang berurutan. Seandainya kedua pindah silang ini benar-benar independen satu sama lain, maka secara teori besarnya persentase pindah silang ganda seharusnya sama dengan hasil kali masing-masing pindah silang. Pada soal tersebut  di atas persentase pindah silang ganda yang diharapkan atau seharusnya terjadi (psg E) sama dengan 30,4% x 17,1% = 5,2%.

Biasanya pasangan O lebih kecil daripada pasanga E. Fenomena ini pertama kali ditemukan oleh H.J. Muller pada tahun 1916, dan dinamakan interferensi kromosom atau interferensi kiasma. Jadi, interferensi ini menunjukkan bahwa pindah silang di suatu tempat akan menghalangi terjadinya pindah silang di dekatnya.

Derajad interferensi secara kuantitatif diukur dengan suatu nilai yang disebut   koefisien koinsidensi (KK),  yang merupakan  nisbah psg O terhadap psg E. Nilai KK berkisar dari 0 hingga 1, dan pada contoh soal di atas nilai KK = 0,6% / 5,2% = 0,12. Nilai KK = 1 menggambarkan adanya independensi yang sempurna di antara dua peristiwa pindah silang yang berurutan sehingga psg O sama besarnya dengan psg E. Sebaliknya, nilai KK = 0 menunjukkan bahwa dua peristiwa pindah silang yang berurutan benar-benar saling menghalangi. Oleh karena itu, nilai KK berbanding terbalik dengan besarnya interferensi. Makin besar KK, kedua pindah silang makin independen sehingga makin kecil interferensinya.

Untuk menggambarkan derajad interferensi dapat pula digunakan koefisien interferensi (KI), yang nilainya sama dengan 1 – KK. Dengan demikian, nilai KI juga berkisar dari 0 hingga 1 tetapi berbanding lurus dengan besarnya interferensi. Artinya, makin besar KI, kedua pindah silang makin menghalangi satu sama lain atau makin besar interferensinya.

D. Pemetaan Kromosom pada Manusia
Pada manusia dengan sendirinya tidak dapat dilakukan pembuatan peta kromosom menggunakan data hasil silang uji. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk dapat mengetahui susunan gen pada suatu kromosom tertentu. Cara yang paling lama dikenal adalah analisis silsilah keluarga dengan mengamati pola pewarisan suatu sifat.

Pada tahun 1960-an terjadi kemajuan yang pesat dalam pembuatan peta kromosom pada manusia berkat ditemukannya suatu teknik yang dikenal sebagai hibridisasi sel somatis. Sejalan dengan penemuan ini berkembang pula teknik sitologi yang memungkinkan dilakukannya identifikasi kromosom dan segmen kromosom manusia. Bahkan dewasa ini teknik DNA rekombinan dapat digunakan untuk isolasi dan identifikasi keberadaan masing-masing gen di dalam molekul DNA kromosom.

Teknik hibridisasi sel somatis pertama kali digunakan oleh G. Barski dan koleganya pada tahun 1960 untuk menggabungkan sel somatis mencit dengan sel somatis manusia secara in vitro. Penggabungan (fusi) sel ini berlangsung dengan tingkat keberhasilan yang sangat rendah, yaitu sekitar satu di antara sejuta sel. Namun, frekuensi fusi tersebut dapat ditingkatkan dengan penambahan sejenis virus, yakni virus Sendai, yang telah diinaktifkan dengan radiasi ultraviolet. Selain dengan virus Sendai, frekuensi fusi dapat juga ditingkatkan dengan pemberian bahan kimia polietilen glikol.

Sel hibrid yang terbentuk kemudian mengalami pembelahan mitosis sehingga dihasilkan sejumlah besar sel hibrid. Di antara sel-sel hibrid hasil mitosis ini selalu terjadi pengurangan jumlah kromosom manusia sementara jumlah kromosom mencitnya tetap. Dengan adanya variasi jumlah kromosom manusia pada sel hibrid, dapat ditentukan keberadaan gen tertentu pada suatu kromosom atas dasar aktivitas enzim yang dihasilkan. Sebagai contoh, keberadaan gen yang mengatur sintesis enzim timidin  kinase dapat diketahui dari data seperti pada Tabel di bawah ini. Terlihat bahwa kromosom 17 merupakan satu-satunya kromosom yang keberadaannya berkorelasi positif dengan aktivitas timidin kinase. Dalam hal ini kromosom 17 selalu dijumpai pada setiap sel hibrid yang memperlihatkan aktivitas timidin kinase dan tidak dijumpai pada sel hibrid yang tidak memperlihatkan aktivitas enzim tersebut. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gen yang mengatur sintesis timidin kinase terletak pada kromosom nomor 17. Cara yang sama digunakan untuk menentukan bahwa pada suatu kromosom terdapat gen-gen tertentu.

6.5. Umpan Balik

  1. Apa yang saudara ketahui dengan Crossing over dan apa factor penyebabnya.
  2. Diketahui, jarak antara gen P dan gen H adalah 8%. Gen P mengatur sayap panjang dan gen H mengatur tubuh warna hitam. Adapun gen h mengatur tubuh warna abu-abu dan gen p mengatur sayap pendek. Tentukan rasio fenotip hasil test cross genotip PpHh yang mengalami pindah silang. Tentukan pula nilai pendah silangnya.
  3. Kemungkinan segregasi dan rekombinasi gen-gen pada individu dihibrid AaBb yaitu Tidak berangkai, Cis dan Trans. Jelaskan.
  4. Apa yang saudara ketahui dengan istilah : Titik chiasma, Kombinasi Parental (KP), Kombinasi Rekombinan (KR), Kromosom Homolog dan Test Cross.
  5. Jelaskan secara singkat Proses Inferensi Kromosom, pengertian koefisien koinsidensi (KK) dan koefisien Inferensi (KI) !.





Diktat Genetika Ternak-5

25 07 2012

BAB V. DIHYBRID DAN TRIHYBRID HEREDITY

5.1. Dihybrid Heredity
Dihybrid Heredity adalah hasil persilangan antara dua individu yang mempunyai dua sifat beda, sehingga dihybrid yang dihasilkan adalah heterozigot. Persilangan yang menghasilkan individu dihybrid tersebut dinamakan persilangan dihybrid.

Persilangan dua individu dengan dua sifat beda atau lebih menghasilkan keturunan dengan perbandingan fenotipe dan genotipe tertentu. Mendel dalam percobaannya menggunakan kacang ercis galur murni yang mempunyai biji bulat warna kuning dengan galur murni yang mempunyai biji keriput warna hijau. Karena bulat dan kuning dominan terhadap keriput dan hijau, maka F1 seluruhnya berupa kacang ercis berbiji bulat dan warna biji kuning. Biji-biji F1 ini kemudian ditanam kembali dan dilakukan penyerbukan sesamanya untuk memperoleh F2. Keturunan kedua F2 yang diperoleh adalah sebagai berikut. Persilangan tersebut adalah persilangan dua individu dengan dua sifat beda yaitu bentuk biji dan warna biji.B = bulat,dominan terhadap keriput b = keriput K  = kuning, dominan terhadap hijau  k   = hijau

Individu yang mengandung B memiliki biji bulat dan individu yang mengandung K memiliki biji warna kuning.Fenotipe pada F2 adalah

  1. bulat – kuning    = nomor : 1 , 2, 3, 4, 5, 7, 9, 10, 13
  2. bulat – hijau       = nomor : 6, 18, 14
  3. keripit – kuing   = nomor : 11, 12, 15
  4. keriput – hijau    = nomor : 16

5.2. Contoh Persilangan Dihybrid
a. Persilangan antara kucing buntut pendek warna putih dengan buntut panjang warna coklat, dimana buntut pendek dominan terhadap buntut panjang serta warna coklat dominan terhadap warna putih

Perbandingan antara B (warna coklat), b (warna putih), S (buntut pendek), dan s (buntut panjang) pada generasi F2

Hukum pemisahan disini dapat diterangkan dengan melihat genotype SsBb, yang mana mempunyai 4 Gamet yaitu SB, Sb, sB dan sb. Sedangkan penggabungan bebas dapat diterangkan melalui intersemating pada Individu-individu F1 sehingga didapat individu- individu pada F2. Tabel diatas menunjukkan bahwa tiap gamet akan secara bebas saling bergabung untuk membentuk genotype baru.  Jadi terlihat bahwa jumlah gamet = 4 dan jumlah macam genotype yang dihasilkan pada saat rekombinasi adalah 16 buah.

b. Pada sapi, sifat tak bertanduk berlaku dominan terhadap sifat bertanduk dan sifat warna kulit hitam dominan terhadap kulit merah. Sapi warna kulit merah tidak bertanduk dikawinkan dengan sapi jantan warna kulit hitam bertanduk. Anak yang dihasilkan pada generasi pertama adalah semuanya berwarna hitam dan tidak bertanduk. Bagaimana genotype kedua sapi tersebut dan bagaimana pula hasil keturunannya bila individu pada F1 tersebut dikawinkan dengan individu homozigot resesif (Test cross/Silang Uji)

Jawab :
Diketahui :

  • Sifat tidak bertanduk dominan terhadap sifat bertanduk
  • Sifat Warna Kulit Hitam dominan terhadap warna kulit merah
  • Apabila Sifat Warna Kulit Hitam diberi Simbol P dan Tidak bertanduk = B
  • Genotipe Sapi warna kulit merah tidak bertanduk = ppBB dan ppBb
  • Genotipe Sapi warna kulit Hitam bertanduk = PPbb dan Ppbb
  • Model persilangan = ppBB x PPbb; ppBb x PPbb, ppBB x Ppbb, ppBb x Ppbb

Kesimpulan :
Dari keempat kemungkinan tersebut, maka kemungkinan pertama (1) memenuhi syarat sebagai orang tua dimana menghasilkan sapi yang semuanya berwarna Hitam dan Tidak Bertanduk pada F1.

5.3. Trihybrid Heredity
Persilangan Trihybrid adalah Persilangan antara dua individu dengan tiga (3) sifat beda (tiga pasang gen). Pada invidu trihybrid ini akan menghasilkan 8 macam gamet dan 64 buah kombinasi baru yang terjadi antara gamet-gamet tersebut.

Keterangan :
T-K-B-   : Batang Tinggi, Biji Bulat Warna Kuning           = 27
T-K-bb   : Batang Tinggi, Biji Bulat Warna Hijau              =  9
T-kkB-   : Batang Tinggi, Biji Keriput, Warna Kuning       =  9
ttK-B-     : Batang pendek, Biji Bulat, Warna Kuning        =  9
T-kkbb   : Batang Tinggi, Biji Keriput, Warna Hijau          =  3
ttK-bb     : Batang Pendek, Biji Bulat, Warna Hijau           =  3
ttkkB-     : Batang Pendek, Biji Keriput, Warna Kuning    =  3
ttkkbb    : Batang pendek, biji keriput, warna hijau          =  1

b. Perkawinan antara Guinea-piq yang mempunyai warna HITAM, Rambut KASAR, Rambut PENDEK dengan warna PUTIH, Rambut HALUS, Rambut PANJANG. Warna Hitam dominan terhadap warna Putih, Rambut Kasar dominan terhadap Rambut Halus dan Rambut Pendek dominan terhadap Rambut Panjang.
Maka: Genotipe Warna Hitam, Rambut Kasar dan Rambut Pendek  = CCRRSS
Genotipe Warna Putih, Rambut Halus dan Rambut Panjang  = ccrrss

Kesimpulan :
Apabila dilihat dari Fenotipe F2 hasil persilangan Monohybrid = 3 : 1; Dihybrid = 9:3:3:1 dan Trihybrid = 27:9:9:9:3:3:3:1, maka dapat disimpulkan bahwa perbandingan pada Fenotipe F2 adalah mengikuti rumus (a + b)n, dimana a = 3, b = 1 dan n = berapa pasang gen yang dipakai.

Jadi

Untuk Monohybrid Ratio Fenotipe F2 = (3+1)1 = 3 : 1
Untuk Dihybrid Ratio Fenotipe F2  = (3+1)2 = (3)2 + 2(3)1(1) + (1)2 = 9:3:3:1
Untuk Trihybrid Ratio Fenotipe F2  = (3+1)3 = (3)3 + 3(3)2(1) + 3((3)1(1)+(1)
= 27 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 : 3 : 1

5.4. Cara Penentuan Macam Gamet
Untuk menentukan Gamet dalam suatu persilangan individu dengan sifat beda maka dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain

a) Cara Manual
Misal : P = AaBb

Genotip ini memiliki 2 tanda beda yang heterozigot. Jumlah Gamet adalah = 22 = 4
Macamnya :
Mula-mula kita pecah menjadi masing-masing sifat menjadi A/a dengan B/b; lalu kita gabungkan sifat-sifat itu dengan pecahannya yang berbeda. Maka hasilnya adalah sebagai berikut :

  • A gabung dengan B  menjadi AB
  • A gabung dengan b  menjadi Ab
  • a gabung dengan B  menjadi aB
  • a gabung dengan b  menjadi ab
  • Sehingga diperoleh Gamet : AB, Ab, aB dan ab = 4

Misal : P = MmPpKk
Genotip ini memiliki 3 tanda beda yang heterozigot/ Jumlah Gamet adalah = 23 = 8
Macamnya :
Mula-mula kita pecah menjadi masing-masing sifat menjadi M/m dengan P/p dengan K/k; lalu kita gabungkan sifat-sifat itu dengan pecahannya yang berbeda.
Maka hasilnya adalah sebagai berikut :

  • M dengan P dengan K  menjadi MPK      m dengan P dengan K  menjadi mPK
  • M dengan P dengan k   menjadi MPk      m dengan P dengan k  menjadi mPk
  • M dengan p dengan K  menjadi MpK      m dengan p dengan K menjadi mpK
  • M dengan p dengan k  menjadi Mpk       m dengan p dengan k menjadi mpk
  • Maka diperoleh Gamet : MPK, MPk, MpK, Mpk, mPK, mPk, mpK, mpk = 8

Catatan : Untuk menentukan jumlah macam gamet yang diperhatikan cukup yang heterozigot  

Contoh : AABbCCDd  = macam gamet ada 22 = 4
XxYyZZ        = macam gamet ada 22 = 4
PPQQRRSs = macam gamet ada 21 = 2

b) Cara Kurawal /anak garpu (Bracket system)

Makna dari penentuan gamet diatas dalam menentukan ratio fenotipe (RF) adalah sebagai berikut :
1)  Huruf besar (sifat dominan) bernilai 3
2)  Huruf kecil (sifat resesif ) bernilai 1

Berdasarkan contoh diatas, maka untuk persilangan 2 sifat beda dipeoleh hasil RF :
AB = 3 x 3 = 9                                           aB = 1 x 3 = 3
Ab = 3 x 1 = 3                                           ab = 1 x 1 = 1
RF = 9 : 3 : 3 : 1, dimana RF = ratio fenotip atau perbandingan fenotip

Berdasarkan contoh diatas, maka untuk persilangan 3 sifat beda dipeoleh hasil RF :
MPK    = 3 x 3 x 3    = 27                          mPK    = 1 x 3 x 3       = 9
MPk    = 3 x 3 x 1    = 9                            mPk    = 1 x 3 x 1       = 3
MpK    = 3 x 1 x 3    = 9                            mpK    = 1 x 1 x 3       = 3
Mpk     = 3 x 1 x 1    = 3                            mpk     = 1 x 1 x 1       = 1
RF = 27 : 9 : 9 : 3 : 9 : 3 : 3 : 1 atau = 27 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 : 3 : 1

c) Cara Segitiga Pascal

5.5. Formulasi Matematika
Individu F1 pada suatu persilangan monohibrid, misalnya Aa, akan menghasilkan dua macam gamet, yaitu A dan a. Gamet-gamet ini, baik dari individu jantan maupun betina, akan bergabung menghasilkan empat individu F2 yang dapat dikelompokkan menjadi dua macam fenotipe (A- dan aa) atau tiga macam genotipe  (AA, Aa, dan aa).Sementara itu, individu F1 pada persilangan dihibrid, misalnya AaBb, akan membentuk empat macam gamet, masing-masing AB,Ab, aB, dan ab. Selanjutnya pada generasi F2 akan diperoleh 16 individu yang terdiri atas empat macam fenotipe (A-B-, A-bb, aaB-, dan aabb) atau sembilan macam genotipe (AABB, AABb, Aabb, AaBB, AaBb, Aabb, aaBB, aaBb, dan aabb).

Dari angka-angka tersebut akan terlihat adanya hubungan matematika antara jenis persilangan (banyaknya pasangan gen), macam gamet F1, jumlah individu F2, serta macam fenotipe dan genotipe F2. Hubungan matematika akan diperoleh pula pada persilangan-persilangan yang melibatkan pasangan gen yang lebih banyak (trihibrid, tetrahibrid, dan seterusnya), sehingga secara ringkas dapat ditentukan formulasi matematika seperti pada tabel berikut ini.

Pada kolom terakhir dapat dilihat adanya formulasi untuk nisbah fenotipe F2. Kalau angka-angka pada nisbah 3 : 1 dijumlahkan lalu dikuadratkan, maka didapatkan ( 3 + 1)2 =  32 + 2.3.1 + 12 = 9 + 3 + 3 + 1, yang tidak lain merupakan angka-angka pada nisbah hasil persilangan dihibrid. Demikian pula jika dilakukan pemangkattigaan, maka akan diperoleh ( 3 + 1 )3 =  33 + 3.32.11 + 3.31.12+ 13 = 27 + 9 + 9 + 9 + 3 + 3 + 3 + 1, yang merupakan angka-angka pada nisbah hasil persilangan trihibrid.

Dengan demikian Fenotipe F2 adalah mengikuti rumus (a + b)n, dimana a = 3, b = 1 dan n = berapa pasang gen yang dipakai.
Untuk Monohybrid Ratio Fenotipe F2  = (3+1)1 = 3 : 1
Untuk Dihybrid Ratio Fenotipe F2   = (3+1)2 = (3)2 + 2(3)1(1) + (1)2 = 9:3:3:1
Untuk Trihybrid Ratio Fenotipe F2  = (3+1)3 = (3)3 + 3(3)2(1) + 3((3)1(1)+(1)3
                                                                                                            = 27 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 : 3 : 1

Bagaimana Kalau Empat (4)Sifat Beda (n = 4) dan Lima (5) Sifat Beda (n = 5) ?

5.6. Umpan Balik

1. Jelaskan pengertian Dihybrid dan Trihybrid Heredity dan apakah dasar dari penentuan jumlah gamet-gametnya.
2. Berapakah banyaknya gamet dari Individu yang genotipenya AaBBCCDdEEFFGg. Jelaskan dengan salah satu cara model penentuan Gamet di atas.
3. Apabila diketahui gen A bulu keriting dominan terhadap gen a berbulu lurus serta gen B bulu hitam dominan terhadap gen b berbulu putih, maka bagaimana genotype dan fenotipe dari contoh di bawah ini;

  • Genotipe AABb, maka Fenotipenya adalah ………………………………………………
  • Genotipe AaBB, maka Fenotipenya adalah ………………………………………………
  • Genotipe aaBB, maka Fenotipenya adalah ………………………………………………
  • Genotipe aaBb, maka Fenotipenya adalah ………………………………………………
  • Genotipe AaBb, maka Fenotipenya adalah ………………………………………………
  • Fenotipe Bulu Keriting Bulu Putih, maka Genotipenya adalah …………………………
  • Fenotipe Bulu Keriting Bulu Hitam, maka Genotipenya adalah ………………………..
  • Fenotipe Bulu Lurus, Bulu Putih, maka Genotipenya adalah …………………………..

4. Marmut Jantan yang berbulu hitam kasar disilangkan dengan betina berbulu putih halus. Keturunan yang dihasilkan menunjukkan perbandingan ¼ hitam halus, ¼ putih halus, ¼ hitam kasar serta ¼ putih kasar. Manakah yang menunjukkan kemungkinan fenotipe kedua induknya (Bulu kasar R dominan terhadap bulu halus r, serta bulu hitam B dominan terhadap bulu putih b). (Pilih salah satu dan beri penjelasan).
a. BBrr dan BbRr             b. BbRR dan BbRr      c. BBRR dan bbrr       d. BbRr dan bbrr

5. Mencit kelabu jika dikawinkan dengan albino menghasilkan F1 kelabu semua. Dari banyak keluarga dia temukan F2 terdiri dari 198 kelabu dan 72 putih. Buatlah diagram Genotipe P, F1 dan F2.

6. Seorang wanita memiliki kelopak mata ptosis, sehingga matanya tak bias dibuka sempurna. Ayahnya ptosis tapi ibunya normal. Ibu ayahnya (Nenek dari ayah) juga normal.

  • Carilah genotype wanita itu, jika symbol gennya Pp.
  • Jika wanita itu kawin dengan pria normal, berapa bagian anak mereka yang ptosis?.

7. Pada Mencit C menumbuhkan  bulu berwarna, c tak berwarna (putih), maka buatlah genotype perkawinan antara :

  • Berwarna murni x putih
  • Berwarna hasil hybrid dengan putih
  • Berwarna hasil hybrid kawin sesaudara.

8. Satu P (Parental) bergenotype ffmm dan anak-anaknya terdiri dari 4 kelas, masing-masing berjumlah 26, 21, 28 dan 25. Genotipe P (Parental) satu lagi adalah …………

9. Terangkan mengapa pada orang, jauh lebih mudah menemukan karakter dominan daripada karakter resesif dalam suatu silsilah keluarga.

10. Pada unggas apabila factor untuk Rose comb (R) bergabung bersama dengan factor untuk pea comb (P) menimbulkan walnut comb. Apabila r bersama-sama dengan P menimbulkan sifat single comb. Maka carilah hasil persilangan dibawah ini :

a. RrPp   x RrPp                         d. RrPp    x   Rrpp
b. RRPp x rrPp                          e. rrPp     x   Rrpp
c. rrPP   x RrPp                         f. Rrpp     x   Rrpp

11. Pada persilangan ayam rose comb dengan ayam walnut comb menghasilkan anak 3/8 bagian walnut, 3/8 bagian rose, 1/8 bagian pea dan 1/8 bagian single. Bagaimanakah genotype kedua ayam tersebut.

12. Seorang anak laki-laki hemofili menikah dengan seorang wanita normal. Anaknya yang perempuan kemudian dikawinkan dengan laki-laki hemofili dan menghasilkan 2 orang anak yaitu laki-laki dan perempuan yang masing-masing menderita hemofili. Carilah genotype di dalam individu-individu pada perkawinan ini ?.

13. Pada perkawinan Drossophila antara lalat betina bermata putih dengan lalat jantan yang bermata merah, kemudian anaknya dikawinkan satu sama lain. Bagaimanakah hasil persilangan tsb.

14. Seekor ayam jantan menghasilkan macam gamet CWF, cWF, CWf dalam jumlah yang sama. Bila saat pembuatan gamet terjadi proses berpasangan secara bebas, maka genotype ayam tersebut adalah ……… (Pilih salah satu)
a. CcWwFf         b. ccWWFf      c. CcWwFF     d. CcWWFf     e. CCWwFF





Diktat Genetika Ternak-4

25 07 2012

BAB IV. MONOHYBRID HEREDITY

4.1. Sifat Kuantitatif dan Sifat Kualitatif dalam Genetika
Dalam ilmu Genetika terdapat dua golongan besar sifat yang penting diketahui untuk mendasari pengetahuan kita dalam mempelajari persilangan monohybrid, didybrid, trihybrid maupun polyhybrid. Dua sifat tersebut yaitu :

a. Sifat Kualitatif.
Adalah sifat dalam bidang genetika yang memiliki ciri-ciri : tidak terdapat variasi (Variation discontinuous) misalnya panjang dan pendek, tinggi dan rendah, baik dan buruk, tidak terpengaruh atau kurang terpengaruh oleh lingkungan serta biasanya ditentukan oleh beberapa pasang gen saja (1 pasang atau 2 pasang gen saja)

b.Sifat Kuantitatif
Adalah sifat dalam genetika yang merupakan kebalikan dari sifat kualitatif, dengan ciri-ciri sebagai berikut : terdapat variasi yang bertingkat (variation continuous) misalnya Merah, Merah muda, agak merah dan putih, biasanya dipengaruhi oleh banyak gen.

Lokus sifat kuantitatif, lebih dikenal luas sebagai QTL dari singkatan bahasa Inggrisnya: Quantitative Trait Locus (jamak Loci), dalam genetika mengacu pada suatu bagian kromosom atau peta genetik yang terkait secara statistik dengan suatu variasi yang ditunjukkan oleh suatu sifat kuantitatif. Penentuan QTL ditentukan melalui suatu studi asosiasi antara variasi genotipe yang ditunjukkan oleh sejumlah penanda pada peta genetik dan variasi fenotipe yang terukur. Kajian yang melibatkan QTL banyak ditemukan dalam bidang kedokteran untuk mencari gen penyebab penyakit, dalam bidang pertanian untuk membantu pekerjaan pemuliaan, serta dalam beberapa cabang biologi, terutama evolusi dan taksonomi.

Kajian penentuan QTL mulai marak sejak 1990-an. Dasar teori dan perangkat lunak analisisnya dipublikasi oleh Lander dan Botstein pada tahun 1989, meskipun dasar-dasar pemikirannya telah diletakkan sejak 1923 oleh Karl Sax serta menggunakan formula klasik dari Sewall Wright (1936).  Kemajuan ini harus menunggu lama karena harus menunggu tersedianya penanda genetik yang melimpah (pada waktu itu adalah RFLP) dan adanya perangkat keras komputer yang sanggup membantu penghitungannya. Analisis QTL menjadi awal bagi semakin berperannya bioinformatika secara pesat dalam genetika molekular.

Sifat kuantitatif merupakan lawan dari sifat kualitatif atau sifat Mendel. Pada kenyataannya hanya sebagian kecil dari sifat yang teramati pada organisme yang bersifat kualitatif: dapat dibedakan dengan jelas ekspresinya, seperti biji berpermukaan halus vs. kasar atau warna mahkota bunga putih vs. merah, sebagaimana dalam percobaan klasik oleh Mendel. Banyak sifat yang bervariasi secara halus, seperti tinggi badan atau warna kulit. Sifat yang demikian disebut sifat kuantitatif atau dikenal pula sebagai sifat rumit (complex trait), dan dibatasi sebagai sifat pada organisme yang tidak dapat dipisahkan secara jelas variasinya. Perbedaan itu hanya bisa dilihat melalui pengukuran (karena itu disebut “kuantitatif”).

Dalam genetika kuantitatif, konsep poligen (polygenes, berarti “banyak gen“) digunakan untuk menjelaskan terbentuknya sifat kuantitatif. Ronald Fisher (1918) dapat menjelaskan bahwa sifat kuantitatif terbentuk dari banyak gen dengan pengaruh kecil, yang masing-masing bersegregasi menuruti teori Mendel Karena pengaruhnya kecil, fenotipe yang diatur oleh gen-gen ini dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Meskipun demikian, penjelasan Fisher ini tetap menempatkan “gen-gen” yang mengatur sifat kuantitatif sebagai sesuatu yang abstrak karena hanya merupakan konsep. Langkah pembuktian mengenai adanya gen-gen yang mengatur sifat kuantitatif mulai terbuka setelah tersedianya banyak penanda genetik sehingga memungkinkan orang membuat peta pautan genetik yang dapat menjangkau sebagian besar kromosom. Penanda-penanda genetik digunakan sebagai titik rambu (flanking markers) yang menunjukkan situasi alelik pada bagian kromosom tertentu. Variasi alel pada suatu penanda menjadi genotipe bagi kromosom atau kelompok pautan (apabila kromosomnya belum teridentifikasi).

Dalam genetika terdapat dua istilah yang penting yaitu Genotip dan Fenotip. Sifat keturunan yang dapat kita amati seperti warna, bentuk, ukuran dinamakan fenotip, sedangkan sifat-sifat dasar yang membawakan suatu sifat disebut genotip. Misalnya pasangan gen TT dan Tt berbeda genotipnya, tetapi mempunyai fenotip yang sama yaitu menimbulkan sifat tinggi pada tanaman.

Fenotip merupakan resultante / gabungan dari genotip dan lingkungan sehingga dapat digambarkan sebagai berikut :

Dua genotip yang sama dapat menunjukkan fenotip yang berlainan apabila kedua lingkungan bagi kedua fenotip itu berlainan. Contohnya anak kembar satu telur tentunya memiliki genotip yang sama, tetapi jika kedua anak itu dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, maka mereka masing-masing akan memiliki fenotip yang berlainan.
Beberapa contoh sifat yang penurunannya dipengaruhi oleh sepasang gen adalah :

a) Sapi

  • Sifat Tak Bertanduk (Prucul/Polled) dominan terhadap sifat bertanduk (Horned)
  • Pada Sapi Friesian Holstein (FH), warna belang hitam-putih dominan terhadap warna belang Merah – Putih.

b)  Domba : Warna bulu putih dominan terhadap warna bulu hitam.
c)  Babi

  • Telinga Tegak dominan terhadap telinga menggantung
  • Warna bulu putih dominan terhadap warna bulu hitam
  • Kaki normal dominan terhadap “Mule foot” (Mule adalah hasil perkawinan antara kuda dan keledai)

d)  Ayam : Pada ayam leghorn, warna bulu putih dominan terhadap warna bulu hitam
e)  Manusia

  • Warna mata coklat dominan terhadap warna mata biru
  • Tangan normal dominan terhadap tangan kidal.

4.2. Percobaan Mendel

Seorang biarawan dari Austria, bernama Gregor Johann Mendel, menjelang akhir abad ke-19 melakukan serangkaian percobaan persilangan pada kacang ercis (Pisum sativum). Dari percobaan yang dilakukannya selama bertahun-tahun tersebut, Mendel berhasil menemukan prinsip-prinsip pewarisan sifat, yang kemudian menjadi landasan utama bagi perkembangan genetika sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan. Berkat karyanya inilah, Mendel diakui sebagai Bapak Genetika.

Mendel memilih kacang ercis sebagai bahan percobaannya, terutama karena tanaman ini memiliki beberapa pasang sifat yang sangat mencolok perbedaannya, misalnya warna bunganya mudah sekali untuk dibedakan antara yang ungu dan yang putih. Selain itu, kacang ercis merupakan tanaman yang dapat menyerbuk sendiri, dan dengan bantuan manusia, dapat juga menyerbuk silang. Hal ini disebabkan oleh adanya bunga sempurna, yaitu bunga yang mempunyai alat kelamin jantan dan betina. Pertimbangan lainnya adalah bahwa kacang ercis memiliki daur hidup yang relatif pendek, serta mudah untuk ditumbuhkan dan dipelihara. Mendel juga beruntung, karena secara kebetulan kacang ercis yang digunakannya merupakan tanaman diploid (mempunyai dua perangkat kromosom). Seandainya ia menggunakan organisme poliploid, maka ia tidak akan memperoleh hasil persilangan yang sederhana dan mudah untuk dianalisis.

Langkah-langkah yang dilakukan Mendel dalam percobaannya adalah :

  1. Menyilangkan beberapa strain murni kacang polong dan mempelajari besarnya perbedaan tipe diantara anak-anak (keturunan) hasil persilangan tersebut.
  2. Mencatat jumlah dan perbandingan tipe diantara hasil keturunan tersebut selama beberapa generasi.
  3. Menentukan dan Menetapkan imbangan beberapa tipe tersebut pada point (2) pada suatu generasi.

Pada salah satu percobaannya Mendel menyilangkan tanaman kacang ercis yang tinggi dengan yang pendek. Tanaman yang dipilih adalah tanaman galur murni, yaitu tanaman yang kalau menyerbuk sendiri tidak akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengannya. Dalam hal ini tanaman tinggi akan tetap menghasilkan tanaman tinggi. Begitu juga tanaman pendek akan selalu menghasilkan tanaman pendek.  Dengan menyilangkan galur murni tinggi dengan galur murni pendek, Mendel mendapatkan tanaman F1 yang semuanya tinggi. Selanjutnya, tanaman tinggi hasil persilangan ini dibiarkan menyerbuk sendiri (Intersemating yaitu perkawinan antar individu-individu dalam F1). Ternyata keturunannya memperlihatkan nisbah (perbandingan) tanaman tinggi terhadap tanaman pendek sebesar 2,99 : 1 atau 3 : 1.  Secara skema, percobaan Mendel dapat dilihat pada:

Dari Hasil percobaan tersebut didapat Fenotipe Ratio = 3 : 1 dan Genotipe Ratio = 1 : 2 : 1. Dan disimpulkan Tanaman Batang tinggi dominan terhadap Batang rendah.

Individu tinggi dan pendek yang digunakan pada awal persilangan dikatakan sebagai tetua (parental), disingkat P.  Hasil persilangannya merupakan keturunan (filial) generasi pertama, disingkat F1.  Persilangan sesama individu F1 menghasilkan keturunan generasi ke dua, disingkat F2.  Tanaman tinggi pada generasi P dilambangkan dengan DD, sedang tanaman pendek dd.  Sementara itu, tanaman tinggi yang diperoleh pada generasi F1 dilambangkan dengan Dd.

Pada diagram persilangan monohibrid tersebut di atas, nampak bahwa untuk menghasilkan individu Dd pada F1, maka baik DD maupun dd pada generasi P membentuk gamet (sel kelamin). Individu DD membentuk gamet D, sedang individu dd membentuk gamet d. Dengan demikian, individu Dd pada F1 merupakan hasil penggabungan kedua gamet tersebut. Begitu pula halnya, ketika sesama individu Dd ini melakukan penyerbukan sendiri untuk menghasilkan F2, maka masing-masing akan membentuk gamet terlebih dahulu. Gamet yang dihasilkan oleh individu Dd ada dua macam, yaitu D dan d.  Selanjutnya, dari kombinasi gamet-gamet tersebut diperoleh individu-individu generasi F2 dengan nisbah DD : Dd : dd = 1 : 2 : 1.  Jika DD dan dd dikelompokkan menjadi satu (karena sama-sama melambangkan individu tinggi), maka nisbah tersebut menjadi D- : dd = 3 : 1.

Dari diagram itu pula dapat dilihat bahwa pewarisan suatu sifat ditentukan oleh pewarisan materi tertentu, yang dalam contoh tersebut dilambangkan dengan D atau d.  Mendel menyebut materi yang diwariskan ini sebagai faktor keturunan (herediter), yang pada perkembangan berikutnya hingga sekarang dinamakan gen.

Ada beberapa istilah yang perlu diketahui untuk menjelaskan prinsip-prinsip pewarisan sifat.  Seperti telah disebutkan di atas, P adalah individu tetua, F1 adalah keturunan generasi pertama, dan F2  adalah keturunan generasi ke dua. Selanjutnya, gen D dikatakan sebagai gen atau alel dominan, sedang gen d merupakan gen atau alel resesif. Alel adalah bentuk alternatif suatu gen yang terdapat pada lokus (tempat) tertentu.  Gen D dikatakan dominan terhadap gen d, karena ekpresi gen D akan menutupi ekspresi gen d jika keduanya terdapat bersama-sama dalam satu individu (Dd). Dengan demikian, gen dominan adalah gen yang ekspresinya menutupi ekspresi alelnya. Sebaliknya, gen resesif adalah gen yang ekspresinya ditutupi oleh ekspresi alelnya. Individu Dd dinamakan individu heterozigot, sedang individu DD dan dd masing-masing disebut sebagai individu homozigot dominan dan homozigot resesif. Sifat-sifat yang dapat langsung diamati pada individu-individu tersebut, yakni tinggi atau pendek, dinamakan fenotipe.  Jadi, fenotipe adalah ekspresi gen yang langsung dapat diamati sebagai suatu sifat pada suatu individu. Sementara itu, susunan genetik yang mendasari pemunculan suatu sifat dinamakan genotipe.  Pada contoh tersebut di atas, fenotipe tinggi (D-) dapat dihasilkan dari genotipe DD atau Dd, sedang fenotipe pendek (dd) hanya dihasilkan dari genotipe dd.  Nampak bahwa pada individu homozigot resesif, lambang untuk fenotipe sama dengan lambang untuk genotipe.

4.3.  Hukum Mendel
Dari hasil-hasil persilangan, maka Mendel telah membuat suatu Hukum yang dinamakan dengan Hukum Mendel. Namun Hukum Mendel yang terkenal adalah Hukum Mendel I yaitu Segregasi dan Hukum Mendel II yaitu Pemilihan bebas. secara garis besar hukum mendel berbunyi :

(a)  UNIFORMITAS
Artinya semua individu hasil keturunan F1 dari persilangan adalah seragam.
(b)  DOMINANSI
Artinya Semua individu hasil keturunan pada F1 memiliki sifat yang sama dengan salah satu orang tuanya (tetuanya).
Misalnya : Persilangan tanaman Batang Tinggi dengan Pendek, maka akan diperoleh hasil keturunan F1 semuanya berbatang Tinggi.
(c)  TIMBAL BALIK (RESIPROKS)
Artinya hasil persilangan dari dua individu dengan sifat berbeda akan selalu sama meskipun ditukar pejantan maupun betinanya.

(d)  PEMISAHAN GEN SEALELA (Segregation of allelic gene)

Sebelum melakukan suatu persilangan, setiap individu menghasilkan gamet-gamet yang kandungan gennya separuh dari kandungan gen pada individu. Sebagai contoh, individu DD akan membentuk gamet D, dan individu dd akan membentuk gamet d.  Pada individu Dd, yang menghasilkan gamet D dan gamet d, akan terlihat bahwa gen D dan gen d akan dipisahkan (disegregasi) ke dalam gamet-gamet yang terbentuk tersebut.  Prinsip inilah yang kemudian dikenal sebagai hukum segregasi atau hukum Mendel I.

Hukum Segregasi : “Pada waktu berlangsung pembentukan gamet, tiap pasang gen akan disegregasi ke dalam masing-masing gamet yang terbentuk”.

(e)  PENGGABUNGAN/PEMILIHAN BEBAS DARI GAMET (Free assortment of gene)
Persilangan yang hanya menyangkut pola pewarisan satu macam sifat seperti yang dilakukan oleh Mendel tersebut di atas dinamakan persilangan monohibrid.  Mendel melakukan persilangan monohibrid  untuk enam macam sifat lainnya, yaitu warna bunga (ungu-putih), warna kotiledon (hijau-kuning), warna biji (hijau-kuning), bentuk polong (rata-berlekuk), permukaan biji (halus-keriput), dan letak bunga (aksial-terminal).

Selain persilangan monohibrid, Mendel juga melakukan persilangan dihibrid, yaitu persilangan yang melibatkan pola perwarisan dua macam sifat seketika. Salah satu di antaranya adalah persilangan galur murni kedelai berbiji kuning-halus dengan galur murni berbiji hijau-keriput. Hasilnya berupa tanaman kedelai generasi F1 yang semuanya berbiji kuning-halus. Ketika tanaman F1 ini dibiarkan menyerbuk sendiri, maka diperoleh empat macam individu generasi F2, masing-masing berbiji kuning-halus, kuning-keriput, hijau-halus, dan hijau-keriput dengan nisbah 9 : 3 : 3 : 1.

Jika gen yang menyebabkan biji berwarna kuning dan hijau masing-masing adalah gen G dan g, sedang gen yang menyebabkan biji halus dan keriput masing-masing adalah gen W dan gen w, maka persilangan dihibrid tersebut dapat digambarkan secara skema seperti pada diagram berikut ini.

Dari diagram persilangan dihibrid tersebut di atas dapat dilihat bahwa fenotipe F2 memiliki nisbah 9 : 3 : 3 : 1 sebagai akibat terjadinya segregasi gen G dan W secara independen. Dengan demikian, gamet-gamet yang terbentuk dapat mengandung kombinasi gen dominan dengan gen dominan (GW), gen dominan dengan gen resesif (Gw dan gW), serta gen resesif dengan gen resesif (gw). Hal inilah yang kemudian dikenal sebagai hukum pemilihan bebas (the law of independent assortment) atau hukum Mendel II

Hukum Pemilihan Bebas : “Segregasi suatu pasangan gen tidak bergantung kepada segregasi pasangan gen lainnya, sehingga di dalam gamet-gamet yang terbentuk akan terjadi pemilihan kombinasi gen-gen secara bebas”

Diagram kombinasi gamet ♂ dan gamet ♀ dalam menghasilkan individu generasi F2 seperti pada Gambar 2.2 dinamakan diagram Punnett. Ada cara lain yang dapat digunakan untuk menentukan kombinasi gamet pada individu generasi F2, yaitu menggunakan diagram anak garpu (fork line). Cara ini didasarkan pada perhitungan matematika bahwa persilangan dihibrid merupakan dua kali persilangan monohibrid. Untuk contoh persilangan sesama individu GgWw, diagram anak garpunya adalah sebagai berikut :

Ternyata penentuan nisbah fenotipe F2 menggunakan diagram anak garpu dapat dilakukan dengan lebih cepat dan dengan risiko kekeliruan yang lebih kecil daripada penggunaan diagram Punnett. Kelebihan cara diagram anak garpu ini akan lebih terasa apabila persilangan yang dilakukan melibatkan lebih dari dua pasang gen (trihibrid, tetrahibrid,dan seterusnya) atau pada persilangan-persilangan di antara individu yang genotipenya tidak sama.

Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan maka sekarang ini diketahui bahwa Kesimpulan dan Hukum Mendel tidak sepenuhnya benar. Untuk kesimpulan Mendel tentang Uniformitas, Dominansi dan Timbal Balik tidak selalu benar, misalnya pada Kejadian Multiple Alele (Alela Ganda), Sex Linked gene, Sex influenced Heredity dan Sifat-sifat dominan tidak lengkap (Incomplete dominance).

Sedangkan pada Hukum Mendel I tentang Hukum Segregasi dan Hukum Mendel II tentang Free assortment of gene (pemilihan secara bebas gene) meskipun masih banyak berlaku namun pada peristiwa crossing over dan interaksi gen akan terjadi penyimpangan semu hukum Mendel tersebut. Pembahasan tentang Crossing Over dan Interaksi Gen akan diulas pada bab Dihybrid.

4.4. Contoh Soal Persilangan Monohybrid

4.5. Multiple alleles
Di muka telah disinggung bahwa alel merupakan bentuk alternatif suatu gen yang terdapat pada lokus (tempat) tertentu. Individu dengan genotipe AA dikatakan mempunyai alel A, sedang individu aa mempunyai alel a. Demikian pula individu Aa memiliki dua macam alel, yaitu A dan a.  Jadi, lokus A dapat ditempati oleh sepasang (dua buah) alel, yaitu AA, Aa atau aa, bergantung kepada genotipe individu yang bersangkutan.

Apabila suatu genotipe Mm, maka m merupakan alel daripada M, dan biasanya gen memiliki alel satu buah. Apabila gen mengalami mutasi berkali-kali maka menimbulkan alel lebih dari satu. Namun, kenyataan yang sebenarnya lebih umum dijumpai adalah bahwa pada suatu lokus tertentu dimungkinkan munculnya lebih dari hanya dua macam alel, sehingga lokus tersebut dikatakan memiliki sederetan alel. Fenomena semacam ini disebut sebagai alel ganda (multiple alleles). Sedangkan pola penurunan sifatnya disebut dengan Alelomorphism

Beberapa Contoh Alel Ganda
a. Alel ganda pada lalat Drosophila
Lokus w pada Drosophila melanogaster mempunyai sederetan alel dengan perbedaan tingkat aktivitas dalam produksi pigmen mata yang dapat diukur menggunakan spektrofotometer. Tabel dibawah ini memperlihatkan konsentrasi relatif pigmen mata yang dihasilkan oleh berbagai macam genotipe homozigot pada lokus w.

b. Alel ganda pada tanaman
Contoh umum alel ganda pada tanaman ialah alel s, yang berperan dalam mempengaruhi sterilitas.  Ada dua macam sterilitas yang dapat disebabkan oleh alel s, yaitu sterilitas sendiri (self sterility) dan sterilitas silang (cross sterility). Mekanisme terjadinya sterilitas oleh alel s pada garis besarnya berupa kegagalan pembentukan saluran serbuk sari (pollen tube) akibat adanya semacam reaksi antigen – antibodi antara saluran tersebut dan dinding pistil.

c. Alel ganda pada Bulu kelinci

  • Bila kita mengawinkan kelinci warna hitam atau coklat dengan kelinci warna putih, maka pada F1 diperoleh semua individu berwarna dan pada F2 diperoleh perbandingan individu warna : putih = 3 : 1.
  • Bila kita mengawinkan kelinci berwarna chinchilla (abu-abu) dengan kelinci putih, maka F1 semua abu-abu dan F2 intersemating (Individu sesama F1) diperoleh Individu abu-abu : putih = 3 : 1.
  • Bila kita mengawinkan kelinci Himalaya (warna putih dan warna hitam pada telinga, hidung, ekor dan kaki) dengan kelinci putih maka F1 = semua Himalaya dan F2 diperoleh Himalaya : Putih = 3 : 1

Kesimpulannya adalah bahwa sifat berwarna pada bulu kelinci dominan terhadap warna puitih. Padahal diketahui bahwa sifat berwarna bulu kelinci tidak hanya hitam atau coklat tetapi juga warna chinchilla serta Himalaya. Dengan demikian bahwa chinchilla serta Himalaya juga dominan terhadap putih. Dari keadaan tersebut maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa sifat warna bulu kelinci disebabkan oleh sebuah gen dengan alel lebih dari satu (Alela ganda)

d. Golongan darah sistem ABO pada manusia

Lokus ABO mengatur tipe glikolipid pada permukaan eritrosit dengan cara memberikan spesifikasi jenis enzim yang mengatalisis pembentukan polisakarida di dalam eritrosit tersebut. Glikolipid yang dihasilkan akan menjadi penentu karakteristika reaksi antigenik tehadap antibodi yang terdapat di dalam serum darah. Antibodi adalah zat penangkal terhadap berbagai zat asing (antigen) yang masuk ke dalam tubuh.

Dalam tubuh seseorang tidak mungkin terjadi reaksi antara antigen dan antibodi yang dimilikinya sendiri.  Namun, pada transfusi darah kemungkinan terjadinya reaksi antigen-antibodi yang mengakibatkan terjadinya aglutinasi (penggumpalan) eritrosit tersebut sangat perlu untuk diperhatikan agar dapat dihindari. Tabel dibawah ini memperlihatkan kompatibilitas golongan darah sistem ABO pada transfusi darah

Selain tipe ABO, K. Landsteiner, bersama-sama dengan P.Levine, pada tahun 1927 berhasil mengklasifikasi golongan darah manusia dengan sistem MN. Sama halnya dengan sistem ABO, pengelompokan pada sistem MN ini dilakukan berdasarkan atas reaksi antigen – antibodi seperti dapat dilhat pada tabel di bawah ini.   Namun, kontrol gen pada golongan darah sistem MN tidak berupa alel ganda, tetapi dalam hal ini hanya ada sepasang alel, yaitu IM dan IN , yang bersifat kodominan. Dengan demikian, terdapat tiga macam fenotipe yang dimunculkan oleh tiga macam genotipe, masing-masing golongan darah M (IMIM), golongan darah MN (IMIN), dan golongan darah N (ININ).

Sebenarnya masih banyak lagi sistem golongan darah pada manusia. Saat ini telah diketahui lebih dari 30 loki mengatur sistem golongan darah, dalam arti bahwa tiap lokus mempunyai alel yang menentukan jenis antigen yang ada pada permukaan eritrosit. Namun, di antara sekian banyak yang dikenal tersebut, sistem ABO dan MN merupakan dua dari tiga sistem golongan darah pada manusia yang paling penting. Satu sistem lainnya adalah sistem Rh (resus).

Sistem Rh pertama kali ditemukan oleh K. Landsteiner, bersama dengan A.S. Wiener, pada tahun 1940. Mereka menemukan antibodi dari kelinci yang diimunisasi dengan darah seekor kera (Macaca rhesus). Antibodi yang dihasilkan oleh kelinci tersebut ternyata tidak hanya menggumpalkan eritrosit kera donor, tetapi juga eritrosit sebagian besar orang kulit putih di New York. Individu yang memperlihatkan reaksi antigen-antibodi ini disebut Rh positif (Rh+), sedang yang tidak disebut Rh negatif (Rh-).

Pada mulanya kontrol genetik sistem Rh diduga sangat sederhana, yaitu R untuk Rh+ dan r untuk Rh-. Namun, dari temuan berbagai antibodi yang baru, berkembang hipotesis bahwa faktor Rh dikendalikan oleh alel ganda. Hal ini dikemukakan oleh Wiener. Sementara itu, R.R. Race dan R.A. Fiescher mengajukan hipotesis bahwa kontrol genetik untuk sistem Rh adalah poligen.

Menurut hipotesis poligen, ada tiga loki yang mengatur sistem Rh. Oleh karena masing-masing lokus mempunyai sepasang alel, maka ada enam alel yang mengatur sistem Rh, yaitu C, c D, d, E, dan e. Kecuali d, tiap alel ini menentukan adanya antigen tertentu pada eritrosit, yang diberi nama sesuai dengan alel yang mengaturnya. Jadi, ada antigen C, c, D, E, dan e. Dari lokus C dapat diperoleh tiga macam fenotipe, yaitu CC (menghasilkan antigen C), Cc (menghasilkan antigen C dan c), serta cc (menghasilkan antigen c). Begitu juga dari lokus E akan diperoleh tiga macam fenotipe, yaitu EE, Ee, dan ee. Akan tetapi, dari lokus D hanya dimungkinkan adanya dua macam fenotipe, yaitu D- (menghasilkan antigen D) dan dd (tidak menghasilkan antigen D). Fenotipe D- dan dd inilah yang masing-masing menentukan suatu individu akan dikatakan sebagai Rh+ dan Rh-. Secara keseluruhan kombinasi alel pada ketiga loki tersebut dapat memberikan 18 macam fenotipe (sembilan Rh+ dan sembilan Rh-).

Bertemunya antibodi Rh (anti D) yang dimiliki oleh seorang wanita dengan janin yang sedang dikandungnya dapat mengakibatkan suatu gangguan darah yang serius pada janin tersebut. Hal ini dimungkinkan terjadi karena antibodi Rh (anti D) pada ibu tadi dapat bergerak melintasi plasenta dan menyerang eritrosit janin. Berbeda dengan antibodi anti A atau anti B, yang biasanya sulit untuk menembus halangan plasenta, antibodi Rh mudah melakukannya karena ukuran molekulnya yang relatif kecil.

Penyakit darah karena faktor Rh terjadi apabila seorang wanita Rh- (dd) menikah dengan pria Rh+ (DD) sehingga genotipe anaknya adalah Dd. Pada masa kehamilan sering kali terjadi percampuran darah antara ibu dan anaknya, sehingga dalam perkawinan semacam itu ibu yang Rh- akan memperoleh imunisasi dari anaknya yang Rh+. Apabila wanita tersebut mengandung janin Dd secara berturut-turut, maka ia akan menghasilkan antibodi anti D. Biasanya tidak akan terjadi efek yang merugikan terhadap anak yang pertama akibat reaksi penolakan tersebut. Akan tetapi, anak yang lahir berikutnya dapat mengalami gejala penyakit yang disebut eritroblastosis fetalis.  Pada tingkatan berat penyakit ini dapat mengakibatkan kematian.

Dengan adanya peluang reaksi antigen – antibodi dalam golongan darah manusia, maka dilihat dari kompatibiltas golongan darah antara suami dan istri dapat dibedakan dua macam  perkawinan, masing-masing

  1. Perkawinan yang kompatibel, yaitu perkawinan yang tidak memungkinkan berlangsungnya reaksi antigen-antibodi di antara ibu dan anak yang dihasilkan dari perkawinan tersebut.
  2. Perkawinan yang inkompatibel, perkawinan yang memungkinkan berlangsungnya reaksi antigen-antibodi di antara ibu dan anak yang dihasilkan dari perkawinan tersebut.

Kegunaan dari pengetahuan tentang penurunan sifat golongan darah pada manusia :
1)  Berguna dalam trasfusi darah
2)  Berguna dalam memutuskan sengketa orang tua berdasarkan garis silsilah.
Sebenarnya masih banyak sifat dengan pola penurunan alela ganda misalnya pada Kucing yaitu sifat Full Colour, Silver dan Siamase

4.6. Sex Linked Gene
Sex Linked gene artinya gen-gen yang terikat pada kromosom kelamin. Setiap makhluk mempunyai jumlah kromosom yang berbeda antara satu dengan lainnya. Sepasang diantaranya adalah kromosom kelamin. Perlu diketahui bahwa kromosom kelamin tidak hanya terdapat pada sel kelamin tetapi juga terdapat pada sel tubuh.

Pada mammalia dengan pemeriksaan secara mikroskopis diketahui bahwa kromosom kelamin betina adalah homogametic (diberi symbol XX) dan kromosom kelamin jantan adalah Heterogametic (diberi symbol XY), sedangkan pada unggas memiliki kromosom kelamin kebalikan dari mammalian, dimana Betina (Heterogametic/ ZW) dan Jantan (Homogametic/ ZZ).

Sex ratio dari anak-anak hewan yang baru dilahirkan umumnya diasumsikan sama yaitu 1 : 1, hal ini berasal dari pemikiran bila kita mengawinkan individu jantan dan betina, maka skemanya adalah sebagai berikut :

Oleh karena itu dalam suatu perkawinan antara individu jantan dan betina maka peluang lahirnya anak jantan dan anak betina adalah sama yaitu ½.

Contoh sifat-sifat yang sex linked adalah :
A.  Kelainan Dan Penyakit Karena Alel Resesif Tertaut Kromosom Sex “X”
1)  Hemofilia pada Manusia
Hemofilia merupakan gangguan koagulasi herediter atau suatu keadaan dimana darah manusia sulit sekali membeku apabila penderita terluka. Hemofilia disebabkan oleh mutasi gen faktor VIII atau faktor IX sehingga dapat dikelompokkan menjadi hemofilia A dan hemofilia B. Kedua gen tersebut terletak pada kromosom X, sehingga termasuk penyakit resesif terkait –X, yang disebabkan karena tidak adanya protein tertentu yang diperlukan untuk penggumpalan darah, atau kalaupun ada kadarnya rendah sekali. Dengan demikian sifat hemofilia adalah resesif dan normal adalah dominan.

Umumnya luka pada orang normal akan menutup (darah akan membeku) dalam waktu 5 – 7 menit. Tetapi pada penderita hemofilia, darah akan membeku 50 menit sampai 2 jam, sehingga mudah menyebabkan kematian karena kehilangan terlalu banyak darah. Misalnya hemofilia diberi symbol h dan normal diberi symbol H, maka Perempuan yang homozigot resesif untuk gen ini merupakan penderita (XhXh), sedangkan perempuan yang heterozigot (XHXh) pembekuan darahnya normal namun ia hanya berperan sebagai pembawa / carier. Seorang laki – laki normal adalah XHY dan laki-laki penderita hanya mempunyai satu genotip yaitu (XhY).

Hemofilia dibedakan atas 3 macam :

  1. Hemofilia A, karena penderita tidak memiliki zat anti hemofili globulin (faktor VIII). Tipe ini terdapat ± 80 % dari penderita hemofilia. Seorang yang normal mampu membentuk anti hemofili globulin (AHG) dalam serum darahnya karena mempunyai gen dominan H, sedangkan alel yang resesif tidak dapat membentuk zat tersebut. Karena gennya terangkai X Perempuan yang homozigot resesif untuk gen ini merupakan penderita (XhXh), sedangkan perempuan yang heterozigot (XhXH) pembekuan darahnya normal namun ia hanya berperan sebagai pembawa / carier dan laki – laki penderita hanya mempunyai satu genotip yaitu (XhY).
  2. Hemofilia B (Cristmast), karena penderita tidak memiliki komponen plasma tromboplastin (KTP atau faktor IX). Diberi nama Christmas karena mengacu pada nama seorang anak laki – laki yang terluka pada waktu Inggris dibom oleh Jerman selama Perang Dunia ke II. Terdapat ± 20 % dari penderita hemofili.
  3. Hemofili C, karena penderita tidak mampu membentuk zat plasma tromboplastin anteseden (PTA).Penyakit ini tidak disebabkan oleh gen resesif yang terangkai-X, melainkan oleh gen resesif yang jarang dijumpai pada autosom. Hanya terjadi sedikit dari penderita. Tidak lebih dari 1 %

Secara keseluruhan hemofili terjadi karena tidak terbentuknya tromboplastin. Dimana tromboplastin ini pada tubuh yang normal berguna sebagai zat aktivasi protrombin saat luka, sehingga protrombin dapat diubah menjadi trombin.

Hemofilia diklasifikasikan sebagai :

  1. Berat, dengan kadar aktivitas faktor yang tersedia kurang dari 1%
  2. Sedang, dengan kadar aktivitas faktor yang ada antara 1% – 5%
  3. Kecil, dengan kadar aktivitas faktor yang tersedia kurang dari 5 %

Secara teoritis wanita hemofilia dihasilkan dari perkawinan wanita carrier (XHXh) dengan pria hemofilia (XhY). Tetapi kenyataannya jumlah wanita hemophilia meskipun pernah juga dilaporkan tetapi populasinya sangat sedikit bahkan lebih sedikit dari frekuensi yang diharapkan. Hal ini bukan berarti bahwa hemofilia selalu lethal bagi wanita, namun karena wanita kromosom kelaminnya adalah homogametic dan gen hemofilia adalah resesif maka hal itu mungkin disebabkan oleh diturunkannya gen tersebut dari pembawa hemofilia (heterozigot) kepada anak/cucunya yang mana semuanya normal. Berbeda kalau menghasilkan anak laki-laki, maka separuh bagian akan menderita hemofilia.

2) Buta Warna pada Manusia
Penderita tidak dapat membedakan warna hijau dan merah , atau semua warna. Individu yang buta terhadap warna hijau (tipe deutan) dan merah (tipe protan) dikarenakan individu tersebut tidak mempunyai reseptor yang dapat mendeteksi cahaya pada panjang gelombang hijau atau merah. Buta warna merupakan penyakit yang disebabkan oleh gen resesif c (color blind) yang terdapat pada kromosom X.

Sifat buta warna adalah resesif dan mata normal adalah dominan. Apabila mata normal diberi symbol C (Colour blind), maka Perempuan normal mempunyai genotip homozigotik dominan CXCX dan heterozigotik CXcX, sedangkan yang buta warna adalah homozigotik resesif cXcX. Laki – laki hanya mempunyai sebuah kromosom-X, sehingga hanya dapat normal CXY atau buta warna XcY. Wanita Heterozigotik (CXcX) disebut dengan buta warna carrier (pembawa) sebab wanita tersebut memiliki fenotip mata normal tetapi genotip heterozigotik yang dapat menyebabkan buta warna pada keturunannya.

3) Distrofi Otot
Kelainan tersebut ditandai dengan makin melemahnya otot – otot dan hilangnya koordinasi. Kelainan ini terjadi karena tidak adanya satu protein otot penting yang disebut distrofin, yang terletak pada lokus yang spesifik pada kromosom X

4)  Sindrom Fragile X
Nama sindrom fragile diambil dari penampakan fisik kromosom X yang tidak normal. Bagian kromosom X yang mengalami konstriksi (pelekukan) dibagian ujung lengan kromosom yang panjang. Dari semua bentuk keterbelakangan mental yang disebabkan oleh faktor genetik, bentuk yang paling umum adalah fragile.

5)  Sindrom Lesch-Nyhan
Penyakit ini timbul karena adanya pembentukan purin yang berlebihan. Sebagai hasil metabolisme purin yang abnormal ini, penderita memperlihatkan kelakuan yang abnormal, yakni kejang otak yang tidak disadari serta menggeliatkan anggota kaki dan jari – kari tangan. Selain dari itu penderita juga tuna mental, menggigit serta merusak jari – jari tangan da jaringan bibir. Semua penderita adalah laki – laki dibawah umur 10 tahun, dan belum pernah ditemukan pada perempuan. Penyakit yang jarang dijumpai ini disebabkan oleh gen resesif dalam kromosom-X.

B. Kelainan Genetik Karena Tertaut Kromosom “Y” atau “W” pada Unggas
Gen tertaut kromosom Y untuk mamalia dan W untuk Unggas merupakan gen tertaut kelamin sempurna, artinya kelainannya hanya terjadi pada laki – laki.

1)  Hypertrichosis
Hypertrichosis, tumbuh rambut pada bagian bagian tertentu ditepi dan telinga. Pada laki laki normal, akan memiliki gen dominan H. Gen resesif h menyebabkan hypertrichosis.

2)  Weebed Toes
Disebabkan oleh gen resesif wt sehingga tumbuh kulit diantara tangan atau kaki mirip dengan kaki katak atau burung air. Alel dominan Wt menentukan keadaan normal.

3)  Hystrixgravier
Gen resesif hg menyebabkan pertumbuhan rambut panjang dan kaku dipermukaan tubuh, sehingga terlihat menyerupai hewan landak yang tubuhnya berduri. Alel dominan Hg menentukan pertumbuhan rambut normal.

4)  Sifat Mata Merah pada Lalat Buah
Mata Merah dominan terhadap mata putih, mata merah diberi symbol R dan mata putih diberi symbol r. Jadi genotip untuk lalat jantan bermata merah adalah RXY dan mata putih rXY. Sedangkan lalat betina mata merah RXRX dan RXrX, untuk lalat buah betina mata putih adalah rXrX.

5)  Sifat Warna Lurik pada Bulu Ayam
Warna lurik pada bulu ayam dominan terhadap warna hitam. Lurik umumnya diberi notasi B (Barred) dan hitam adalah b. Jadi genotip ayam jantan berbulu lurik adalah BZBZ dan BZbZ dan Ayam jantan bulu hitam adalah bZbZ. Sedangka Ayam betina berbulu lurik adalah BZW dan berbulu putih adalah bZW.

Manfaat nyata dari pengetahuan terhadap sifat-sifat yang terikat pada kromosom kelamin ini diantaranya adalah untuk keperluan sexing (menentukan jenis kelamin), khususnya pada peternakan ayam dapat dilihat dari warna bulunya.

4.7. Sex Influenced Heredity
Sex Influenced Heredity adalah Sifat yang tidak terikat pada sex kromosom / kromosom kelamin melainkan pada kromosom tubuh (Autosom), akan tetapi pada penampilannya atau fenotipenya dipengaruhi oleh Jenis Kelamin. Sifat ini pada homozigot dominan dan resesif memberikan fenotipe yang sama baiknya pada hewan jantan atau betina, namun memberikan fenotipe yang berbeda jika genotipenya heterozigot. Pada hewan jantan yang genotypenya heterozigot akan menampakkan sifat yang dominan dan resesif.

Perbedaan sex influenced heredity dengan sex linkage heredity yaitu :pada sex influenced heredity genenya terikat pada kromosom tubuh sehingga sifat ini tidak dapat menentukan jenis kelamin, sedangkan pada sex linkage heredity dapat menentukan jenis kelamin (karena genenya terikat pada kromosom kelamin baik X maupun Y).

4.8. Incomplete Dominance
Incomplete dominance atau Dominan Tak lengkap, ada yang menyebut dengan Lack of Dominance atau sifat Intermedier adalah merupakan percampuran antara 2 sifat atau lebih yang membentuk sifat baru diantara kedua sifat tersebut.

Berdasarkan hasil penemuan Mendel, maka orang mengira bahwa apabila terjadi persilangan antara 2 individu yang salah satu menunjukkan sifat dominan dan yang lain adalah resesif, maka hasil persilangan (hasil keturunan) tersebut pada F1 mempunyai sifat yang sama dengan individu yang dominan, sedangkan pada F2 didapatkan perbandingan antara sifat dominan : resesif = 3 : 1. Kondisi demikian disebut dengan Dominan Lengkap atau Complete Dominant.

Namun ternyata pada beberapa kasus ditemui kondisi yang tidak menunjukkan dominan lengkap atau disebut Incomplete Dominant. Contoh Kasus persilangan antara Sapi Shorthorn berkulit Merah dengan Putih diperoleh F1 berwarna Roan (dawuk/ merah ke abu-abuan), Persilangan antara ayam Andalusian Hitam dengan Putih maka diperoleh F1 berwarna Biru (Blue Andalusian).

Melihat kenyataan yang ada sekarang ini banyak sekali kemungkinan terjadinya Incomplete dominant, misalnya : Kemungkinan terbentuknya sapi urap-urap dimana warna kulitnya yang merupakan pencampuran dari warna-warna sapi yang sudah ada.

4.9. Silang balik (back cross) dan silang uji (test cross)
Silang balik (back cross) ialah persilangan suatu individu dengan salah satu tetuanya. Sebagai contoh, individu Aa hasil persilangan antara AA dan aa dapat disilangbalikkan, baik  dengan AA maupun aa.  Silang balik antara Aa dan AA akan menghasilkan satu macam fenotipe, yaitu A-, atau dua macam genotipe, yaitu AA dan Aa dengan nisbah 1 : 1. Sementara itu, silang balik antara Aa dan aa akan menghasilkan dua macam fenotipe, yaitu A- dan aa dengan nisbah 1 : 1,   atau dua macam genotipe,  yaitu Aa dan aa  dengan nisbah 1 : 1.

Manfaat praktis silang balik adalah untuk memasukkan gen tertentu yang diinginkan ke dalam suatu individu.  Melalui silang balik yang dilakukan berulang-ulang, dapat dimungkinkan terjadinya pemisahan gen-gen tertentu yang terletak pada satu kromosom sebagai akibat berlangsungnya peristiwa pindah silang. Hal ini banyak diterapkan di bidang peternakan, misalnya untuk memisahkan gen yang mengatur daya simpan daging dan gen yang menyebabkan rasa daging kurang enak. Dengan memisahkan dua gen yang terletak pada satu kromosom ini, dapat diperoleh varietas daging sapi yang dagingnya tahan simpan dan rasanya enak.

Apabila suatu silang balik dilakukan dengan tetuanya yang homozigot resesif, maka silang balik semacam ini disebut juga silang uji (Test Cross). Akan tetapi, silang uji sebenarnya tidak harus terjadi antara suatu individu dan tetuanya yang homozigot resesif.  Pada prinsipnya semua persilangan yang melibatkan individu homozigot resesif (baik tetua maupun bukan tetua) dinamakan silang uji.

Istilah silang uji digunakan untuk menunjukkan bahwa persilangan semacam ini dapat menentukan genotipe suatu individu. Sebagai contoh, suatu ternak yang fenotipenya PBB tinggi  (D-) dapat ditentukan genotipenya (DD atau Dd) melalui silang uji dengan tanaman homozigot resesif (dd).  Kemungkinan hasilnya dapat dilihat pada diagram berikut ini.

Jadi, apabila ternak tahan penyakit yang disilang uji adalah homozigot (DD), maka hasilnya berupa satu macam fenotipe, yaitu tahan penyakit. Sebaliknya, jika ternak tahan penyakit tersebut heterozigot (Dd), maka hasilnya ada dua macam fenotipe, yaitu tahan penyakit dan tidak tahan penyakit dengan nisbah/perbandingan fenotipe 1 : 1.

Contoh Soal :

  1. Pada suatu kasus sengketa orang tua dimana perlu ditentukan siapa orang tua atau ayah yang sejati dari seorang anak.
  2. Seorang Ibu mempunyai golongan darah B sedangkan anaknya O, pria yang dicurigai ada 2 orang yang masing-masing memiliki darah tipe A dan AB.
  3. Seorang Ibu yang memiliki golongan darah B mempunyai anak yang bergolongan darah AB.  Pria yang dicurigai ada 2 orang yang masing-masing memiliki darah tipe A dan B.

Maka tentukan ayah yang sebenarnya dari masing-masing anak pada soal point a & b.

2. Seorang laki-laki normal menikah dengan wanita normal. Mereka mempunyai 2 orang anak yang semuanya laki-laki. Satu dari dua anak tersebut menderita Hemofili. Tentukan Genotipe dari kedua orang tuanya ?.
Jawab.
Diketahui :  Genotipe Laki-laki normal adalah HXY
Genotipe wanita normal adalah HXHX dan HXhX
Persilangan.
1) Laki-laki HXY dengan Wanita HXHX, maka anaknya 2 HXHX dan 2 HXY
Jadi anaknya Wanita Normal dan Laki-laki normal

2) Laki-laki HXY dengan Wanita HXhX, maka anaknya HXHX;  HXhX; HXY; hXY
Jadi anaknya 2 Wanita Normal (HXHX;  HXhX), 1 Laki-laki normal (HXY) dan 1 Laki-laki Hemofili (hXY)
Dengan demikian Genotipe kedua orangtuanya adalah Ayah HXY dan Ibu HXhX

4.10. Umpan Balik

  1. Apa perbedaan sifat kualitatif dengan sifat kuantitatif dalam ilmu genetika.
  2. Bagaimana hubungan antara Lingkungan dan Genetika dalam menciptakan sifat Fenotipe.
  3. Mengapa seorang anak kembar identik (dari 1 telur) apabila diasuh pada tempat yang berbeda akan memiliki FENOTIPE yang berbeda.
  4. Mengapa seorang anak adakalanya memiliki bentuk wajah dan Karakter seperti kedua orang tuanya, tetapi ada juga yang hanya salah satu dari kedua orang tuanya. Jelaskan.
  5. Bagaimanakah kemungkinan anak-anak yang dilahirkan dari seorang wanita normal dengan pria penderita Hemofili.
  6. Pada perkawinan dua jenis ayam (K dan L) yang masing-masing tahan penyakit, maka didapatkan 985 ayam tidak tahan penyakit dan 3128 tahan penyakit. Berdasarkan data di atas, maka menunjukkan persilangan yang bagaimana (Homozigot/Heterozigot). Jelaskan.
  7. Ada suatu garis hitam pada kucing yang mengandung gen warna bulu hitam dan putih. Jika kucing berbulu hitam dikawinkan dengan kucing berbulu putih maka semua keturunannya berbulu abu-abu. Bagaimana hasil keturunan F2 jika dilakukan perkawinan intersemating.
  8. Pada unggas Gen C akan menghasilkan creeper dalam keadaan Heterozigotik tetapi letal (mati) dalam keadaan Homozigotik. Gen untuk bulu keriting F dominan terhadap bulu yang lurus f. Pada perkawinan ayam Jantan Creeper berbulu keriting dengan betina creeper berbulu lurus menghasilkan keturunan 12 creeper berbulu keriting dan 6 normal berbulu keriting. Bagaimana genotype dari ayam-ayam yang dikawinkan tadi.
  9. Apa yang saudara ketahui tentang alela, Back cross dan Test cross, tetua dan Filial
  10. Albino atau bule disebabkan oleh gen autosomal resesif, maka bila ibu dan ayah keduanya berpigmen normal, mungkinkah memiliki anak yang albino. Jelaskan





Diktat Genetika Ternak-3

25 07 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.1. Pengantar
Kromosom (bahasa Yunani: chroma, warna; dan soma, badan) merupakan materi genetik yang berada dalam intil sel (nuckleus) dan terlihat pada waktu membelah. Kromosom merupakan struktur di dalam sel berupa deret panjang molekul yang terdiri dari satu molekul DNA dan berbagai protein terkait yang merupakan informasi genetik suatu organisme,seperti molekul kelima jenis histon dan faktor transkripsi yang terdapat pada beberapa deret, dan termasuk gen unsur regulator dan sekuens nukleotida.

Kromosom adalah kromatin yang merapat, memendek dan membesar pada waktu terjadi proses pembelahan dalam inti sel (nucleus), sehingga bagian – bagiannya dapat terlihat dengan jelas di bawah mikroskop biasa. Kromosom terdapat di dalam plasma nucleus, berupa benda – benda berbentuk lurus seperti batang atau bengkok, dan terdiri dari bahan yang mudah mengikat zat warna.

Istilah kromosom pertama kali diperkenalkan oleh W. Waldeyer pada tahun 1888, walaupun Flemming (1879) telah melihat pembelahan kromosom di dalam inti sel. Ahli yang mula – mula menduga bahwa benda – benda tersebut terlibat dalam mekanisme keturunan ialah Roux (1887) melaporkan bahwa banyaknya benda itu di dalam nucleus dari mahkluk yang berbeda adalah berlainan, dan jumlahnya tetap selama hidupnya. Morgan (1993), menemukan fungsi kromosom dalam pemindahan sifat – sifat genetik.

Kromosom dapat dilihat dengan mudah, apabila menggunakan teknik pewarnaan khusus selama nukleus membelah. Hal ini karena pada saat itu kromosom mengadakan kontraksi sehingga menjadi lebih tebal, dan dapat mengisap zat warna lebih baik.Ukuran kromosom bervariasi bagi setiap species. Panjangnya berkisar antara 0,2 – 50 mikron, diameternya antara 0,2 – 20 mikron dan pada manusia mempunyai panjang 6 mikron.

Mempunyai bentuk yang sangat bervariasi dan bergantung pada fase hidup sel. Pada interfase (fase istirahat), kromosom melilit tipis, elastis dan berkontraksi. Sedangkan pada fase metafase kromosomnya menebal dan berbentuk filamen (lembaran).

Dalam kromosom eukariota, DNA yang tidak terkondensasi berada dalam struktur order-quasi dalam nukleus, dimana ia membungkus histon (protein struktural), dan di mana material komposit ini disebut kromatin. Selama mitosis (pembelahan sel), kromosom terkondensasi dan disebut kromosom metafase. Hal ini menyebabkan masing-masing kromosom dapat diamati melalui mikroskop optik

Setiap kromosom memiliki dua lengan, yang pendek disebut lengan p (dari bahasa Perancis petit yang berarti kecil) dan lengan yang panjang lengan q (q mengikuti p dalam alfabet).Prokariota tidak memiliki histon atau nukleus. Dalam keadaan santainya, DNA dapat diakses untuk transkripsi, regulasi, dan replikasi

A.Bagian Kromosom
Suatu kromosom terdiri dari beberapa bagian yaitu kromatid, kromomer, sentromer atau kinetokor, satelit, dan telomer.

1) Kromatid
Kromatid adalah salah satu dari dua lengan hasil replikasi kromosom. Kromatid masih melekat satu sama lain pada bagian sentromer. Istilah lain untuk kromatid adalah kromonema. Kromonema merupakan filamen yang sangat tipis yang terlihat selama tahap profase (dan kadang-kadang pada tahap interfase). Kromonema sebenarnya merupakan istilah untuk tahap awal pemintalan kromatid. Jadi, kromonema dan kromatid merupakan dua istilah untuk struktur yang sama.

2) Kromomer
Kromomer adalah penebalan-penebalan pada kromonema. Kromomer ini merupakan struktur berbentuk manik-manik yang merupakan akumulasi dari materi kromatin yang terkadang terlihat saat interfase. Kromomer sangat jelas terlihat pada kromosom politen (kromosom dengan DNA yang telah direplikasi berulang kali tanpa adanya pemisahan dan terletak berdampingan sehingga bentuk kromosom seperti kawat)

3)Sentromer
Sentromer adalah daerah konstriksi (lekukan primer) di sekitar pertengahan kromosom. Pada sentromer terdapat kinetokor. Kinetokor adalah bagian kromosom yang yang merupakan tempat perlekatan benang spindel selama pembelahan inti dan merupakan tempat melekatnya kromosom.

4) Lekukan kedua
Pada beberapa kromosom terdapat lekukan kedua yang berada di sepanjang lengan dan berhubungan nucleolus. Oleh karena itu disebut dengan NOR (Nucleolar Organizing Regions).

5) Satelit
Satelit adalah bagian kromosom yang berbentuk bulatan dan terletak di ujung lengan kromatid. Satelit terbentuk karena adanya kontriksi sekunder di daerah tersebut. Tidak semua kromosom memiliki satelit.

6)Telomer
Telomer merupakan istilah yang menunjukkan daerah terujung pada kromosom. Telomer berfungsi untuk menjaga stabilitas bagian terujung kromosom agar DNA di daerah tersebut tidak terurai. Karena pentingnya telomer, sel yang telomer kromosom nya mengalami kerusakan umumnya segera mati.

B.Bagian Lengan Kromosom
Melihat pada perbedaan banyaknya mengisap zat warna teknik mikroskopik, kromatin (kromosom yang sedang tidak mengalami proses pembelahan) dibedakan oleh E. Hertz (1928) atas :

  • Heterokromatin, ialah daerah kromatin yang relatif lebih banyak dan lebih mudah mengisap zat warna dibandingkan dengan bagian lain dari lengan
  • Eukromatin, ialah daerah kromatin yang terang dan mengandung gen – gen yang sedang aktif

Pada satu kromatin, daerah hetero tersebar di antara eukromatin, paling banyak dekat sentromer. Daerah heterokromatin sewaktu waktu dapat berubah menjadi eukromatin, bilamana gen – gennya berubah menjadi aktif. Sebaliknya daerah eukromatin dapat pula berubah menjadi heterokromatin, pada saat gen – gennya tidak aktif atau beristirahat. Dengan demikian dapatlah kita ketahui, bahwa suatu gen tidak selalu giat melakukan transkripsi, bergantung pada kebutuhan sel pada waktu bermetabolisme.

Berdasarkan letak sentromer, dan melihat panjang lengannya, maka kromosom dapat dibedakan atas 4 macam yaitu  :

a)  Metasentris :

  • Sentromer : terletak median (kira – kira di tengah kromosom), sehingga kromosom terbagi menjadi dua
  • Lengan sama panjang dan mempunyai bentuk seperti huruf V

b)  Submetasentris

  • Sentromer terletak submedian (ke arah salah satu ujung kromosom), sehingga kromosom terbagi menjadi dua bagian yang tidak sama panjang
  • Lengan yang tidak sama panjang, dan mempunyai bentuk seperti huruf J

c)    Akrosentris

  • Sentromer terletak subterminal (di dekat ujung kromosom), sehingga kromosom tidak membengkok melainkan tetap lurus seperti batang.
  • Salah satu lengan kromosom sangat pendek, sedang lengan lainnya sangat panjang

d)    Telosentris

  • Sentromer terletak di ujung kromosom, sehingga kromosom hanya terdiri dari sebuah lengan saja dan berbentuk lurus seperti batang. (Kromosom manusia tidak ada yang berbentuk telosentris)

Klasifikasi struktur kromosom menjadi metasentris, submetasentris, akrosentrik dan Telosentris tadi sebenarnya agak dipaksakan. Akan tetapi, istilah-sitilah tersebut sangat berguna untuk memberikan gambaran fisik tentang kromosom. Terlebih penting lagi, evolusi kromosom sering kali cenderung mempertahankan jumlah lengan kromosom tanpa mempertahankan jumlah kromosom. Sebagai contoh, lalat Drosophila melanogaster mempunyai dua buah autosom metasentrik yang besar sementara banyak spesies Drosophila lainnya mempunyai empat autosom akrosentrik yang kecil. Autosom adalah kromosom yang bentuknya sama pada kedua jenis kelamin. Jika peta kromosom kedua kelompok Drosophila ini dibandingkan, akan nampak bahwa tiap lengan kromosom metasentrik pada D. melanogaster sesuai dengan lengan panjang kromosom akrosentrik pada Drosophila lainnya itu. Demikian juga, simpanse dan manusia sama-sama mempunyai 22 pasang autosom yang secara morfologi sangat mirip. Akan tetapi, pada simpanse terdapat dua pasang autosom akrosentrik yang tidak ada pada manusia. Sebaliknya, manusia mempunyai sepasang autosom metasentrik yang tidak dimiliki oleh simpanse. Dalam hal ini, masing-masing lengan metasentrik pada manusia homolog dengan lengan panjang akrosentrik pada simpanse.

3.3. Tipe Kromosom
Menjelang abad ke-20, banyak peneliti telah mencoba untuk mengetahui jumlah kromosom yang terdapat di dalam nucleus sel tubuh manusia, tetapi selalu menghasilkan data – data yang berbeda karena pada waktu itu teknik pemeriksaan kromosom masih terlalu sederhana. Dalam tahun 1912, Winiwater menyatakan bahwa di dalam sel tubuh manusia terdapat 47 kromosom. Tetapi kemudian pada tahun 1920 Painter menegaskan penemuannya, bahwa manusia memiliki 48 kromosom. Pendapat ini bertahan sampai 30 tahun lamanya, sampai akhirnya Tjio dan Levan dalam tahun 1956 berhasil membuktikan melalui teknik pemeriksaan kromosom yang lebih sempurna, bahwa nucleus sel tubuh manusia mengandung 46 kromosom.

Berdasarkan bentuk, jumlah dan sifatnya maka pada sel-sel Eukariotik (sel yang berdinding inti) kita mengenal 2 macam tipe kromosom yaitu :

  • Autosom adalah kromosom biasa atau kromosom yang mempunyai jumlah, bentuk dan sifat yang sama, bukan kromosom seks dan selalu terdapat dalam pasangan yang sama pada individu jantan dan betina. Autosom tidak berperan menentukan dalam mengatur jenis kelamin. Dari 46 krmosom di dalam nucleus sel tubuh manusia, maka yang 44 buah (22 pasang) merupakan autosom
  • Gonosom / Kromosom seks (kromosom kelamin = pembeda) merupakan kromosom yang mempunyai jumlah, bentuk dan sifat berbeda serta merupakan kromosom yang bertanggungjawab atas adanya perbedaan jenis kelamin. Biasanya terdapat sepasang kromosom. Melihat macamnya dapat dibedakan atas Kromosom X dan Kromosom Y

Pada beberapa individu terjadi variasi susunan kromosom seksnya.
Misal :   Pada Manusia : Jenis kelamin    laki-laki ……………….xy,
Jenis Kelamin  Perempuan ………….xx;
Pada Unggas :  Jenis kelamin Jantan …………………zz (xx)
Jenis Kelamin betina ………………….zw (xy).
Contoh :
Manusia mempunyai 46 (n=23) kromosom terdiri dari : 44 autosom dan 2 kromosom seks
Pria               mempunyai = 44 autosom + xy atau 22 pasang A + Sepasang xy
Perempuan mempunyai = 44 autosom + xx atau 22 pasang A + Sepasang xx

A. Sistem penentuan kelamin XY
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Kromosom seks Drosophila.
Sistem penentuan kelamin XY adalah sistem penentuan kelamin yang dapat ditemui pada mamalia (termasuk manusia), dan beberapa serangga (Drosophila) serta beberapa tumbuhan (Ginkgo). Pada sistem penentuan seks XY, betina memiliki dua dari kromosom seks yang sama jenisnya (XX), dan disebut kelamin homogenik sedangkan jantan memiliki dua kromosom seks berbeda (XY), dan disebut kelamin heterogenik. Sistem ini pertama kali dijelaskan oleh Nettie Stevens dan Edmund Beecher Wilson tahun 1905.
Sistem XY pada mamalia bertumpu pada satu gen dominan yang dimiliki oleh kromosom Y, yaitu SRY, yang berperan dalam pembentukan testis

A. Sistem penentuan kelamin ZW
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sistem penentuan kelamin ZW adalah sistem penentuan jenis kelamin (seks) yang berlaku pada unggas, beberapa reptil (termasuk biawak komodo), sebagian ikan, sebagian amfibia, monotremata, dan sebagian serangga (termasuk kupu-kupu dan ngengat, seperti ngengat sutera). Dalam sistem ini, sel telurlah yang menentukan jenis kelamin keturunan, berbeda dari sistem penentuan kelamin XY dan sistem penentuan kelamin X0. Huruf Z dan W digunakan untuk membedakan sistem ini dari sistem XY. Jenis jantan memiliki kelamin homogamet ZZ sedangkan betina memiliki kelamin heterogamet ZW. Kromosom Z lebih besar dan memiliki gen lebih banyak, seperti pada kromosom X dalam sistem XY.

Dasar kerja
Kromosom Z memiliki sebuah gen bernama DMRT1 yang diketahui menentukan perkembangan gonad dan testis pada embrio ayam. Knockdown terhadap gen ini pada individu ZZ mengakibatkan terhambatnya perkembangan testis menjadi seperti ovarium (kandung telur), menurunnya ekspresi gen SOX9 yang merupakan gen penanda bagi ciri jantan dan meningkatnya aromatase yang menjadi penanda ciri betina. Produk ekspresi gen DMRT1 tergantung pada dosis gen yang tersedia. Pada individu ZZ (jantan), terdapat sepasang gen DMRT1 yang berfungsi penuh, sementara pada individu ZW (betina), hanya satu gen DMRT1 yang berfungsi penuh. Akibat kekurangan dosis ekspresi gen ini, testis tidak mampu berkembang dan terbentuklah ovarium.

Gen DMRT1 diketahui juga dimiliki oleh tikus, manusia (pada kromosom 9, yang menjadi padanan kromosom Z ayam dan menyebabkan peristiwa terbentuknya individu XY berjenis kelamin wanita), sejenis kadal serta monotremata. Pada ikan Oryzias latipes, gen DMY – yang merupakan salinan (copy) dari DMRT1 – diketahui menentukan terbentuknya kromosom Y. Suatu ekuivalen gen DMRT1 pada lalat buah Drosophila melanogaster dan nematoda Caenorhabditis elegans juga diketahui memepengaruhi perilaku kawin dan organ pengindera kelamin jantan. Suatu salinan DMRT1 pada kodok Xenopus laevis yang terdapat pada kromosom W (disebut DMW) terlibat dalam perkembangan ovarium, barangkali dengan menghambat tindak DMRT1.Fakta-fakta ini membawa kepada dugaan bahwa DMRT1 yang paling berperan dalam penentuan kelamin pada sistem ZW dan bahwa sistem ZW digunakan sebagai penentuan kelamin moyang dari unggas, reptilia, dan mamalia (Amniota), sebelum kemudian sebagian besar mamalia menggantinya dengan gen SRY yang lebih berperan dalam sistem XY.

3.4. Pengertian Genom
Secara keseluruhan kumpulan gen-gen yang terdapat di dalam setiap sel individu organisme disebut sebagai genom. Dengan perkataan lain, genom suatu organisme adalah kumpulan semua gen yang dimiliki oleh organisme tersebut pada setiap selnya. Lalu bagaimanakah hubungan antara genom dan kromosom?

Organisme prokariot seperti bakteri diketahui hanya mempunyai sebuah kromosom yang tidak dikemas di dalam suatu nukleus sejati. Kromosom ini berbentuk lingkaran (sirkuler), dan semua gen tersusun di sepanjang lingkaran tersebut. Oleh karena itu, genom organisme prokariot dikatakan hanya terdiri atas sebuah kromosom tunggal.

Berbeda dengan genom prokariot, genom eukariot tersusun dari beberapa buah kromosom. Tiap kromosom membawa sederetan gen tertentu. Selain itu, kromosom eukariot mempunyai bentuk linier. Posisi di dalam kromosom, baik pada prokariot maupun pada eukariot, yang ditempati oleh suatu gen disebut sebagai lokus (jamak: loki) bagi gen tersebut.

Genom Eukariot
Di atas telah disinggung bahwa genom eukariot terdiri atas beberapa buah kromosom. Jumlah kromosom dasar di dalam genom suatu organisme eukariot (biasa dilambangkan dengan n) dikatakan sebagai jumlah kromosom haploid. Sel-sel kelamin (gamet) pada manusia merupakan contoh sel yang mempunyai seperangkat kromosom haploid, atau berarti hanya mempunyai sebuah genom. Sementara itu, sel-sel lainnya (sel somatis) hampir selalu mempunyai dua buah genom, atau dikatakan mempunyai genom diploid.

3.5. Kariotype
Kariotype berasal dari dua kata karyon = inti dan typhos = bentuk. Kariotype adalah susunan kromosom yang berurutan menurut panjang, jumlah dan bentuk dari sel somatis suatu individu. Untuk mempelajari kromosom ini telah digunakan bermacam – macam jaringan, tetapi yang paling umum digunakan adalah kulit, sumsum tulang atau darah perifer. Penemuan penting dan mutakhir adalah dengan pembuatan kultur jaringan. Bahan untuk penelitian adalah darah vena.

Cara kerja :
1. Darah vena diambil sebanyak 5 cc
2. Sel – sel darah dipisahkan dan dicampur dengan medium kultur yang mengandung zat phytohaemaglutinin (PHA):

  • Sel – sel darah merah menggumpal, dan sel – sel darah putih dapat terpisah
  • Sel – sel darah putih terpacu untuk membelah

3. Sel – sel darah putih dipelihara dalam keadaan steril pada suhu 37oC kira – kira 3 hari
4. Setelah terjadi pembelahan, dibutuhkan zat kolkhisin sedikit, sehingga pembelahan terhenti pada stadium metaphase (kromosom mengalami kontraksi maksimal serta terlihat dengan jelas)
5. Satu jam kemudian ditambah larutan hipotonik salin, sehingga sel – sel membesar dan kromosom kromosom menyebar letaknya pada satu bidang datar
6. Kromosom – kromosom dipotret dengan sebuah kamera yang dipasang pada mikroskop
7. Kromosom hasil pemotretan kemudian digunting, diatur dalam pasangan homolog, mulai dari yang paling besar sampai ke yang paling kecil
8. Terdapat 22 pasang autosom dan sepasang kromosom kelamin

Seringkali sulit membedakan kromosom satu dengan yang lain. Karenanya kromosom dikelompokkan menjadi kelompok A – G berdasarkan ukuran kromosom serta letak dari sentromer. Sedangkan untuk membedakan kromosom perempuan dan laki – laki terlihat pada kromosom X dan Y. Pada perempuan kromosom ke 23 merupakan pasangan XX dan laki –laki XY. Kromosom-X mirip dengan kromosom – kromosom pada kelompok C, dan kromosom-Y mirip dengan kromosom – kromosom dari kelompok G.

Setiap species mahkluk hidup memiliki bentuk dan jumlah kromosom sendiri – sendiri, dengan demikian kariotypenya pun tentu sendiri – sendiri pula. Peranan kariotype dalam pengamatan sifat keturunan besar sekali. Dengan kariotype dapat diketahui kelainan kromosom pada manusia.

Kesimpulan :

  1. Kromosom terdapat dalam nukleus (inti sel)
  2. Kromosom: jalinan kromatin dalam inti sel yang berupa matriks dan benang kromonema, dimana didalam benang kromonema terdapat kromomer dan didalam kromomer terdapat lokus dan didalam lokus terdapat gen.
  3. Jumlah setiap sel  sama untuk spesies tertentu
  4. Jumlah kromosom Manusia 46 (diploid)
  5. Manusia berasal dari  persatuan antara dua gamet yaitu ovum (sel telur=23) dan spermatozoa =23 (haploid).
  6. Individu baru akan mewarisi sifat-sifat orang tuanya.
  7. Pembawa unsur-unsur pewarisan yaitu gen
  8. Gen-gen itu merupakan rangkaian asam deoksiribonukleat (DNA) dengan panjang tertentu dan merupakan komponen kromosom.
  9. Fungsi Kromosom
  • Mengontrol  sifat biologis dan genetis sel dalam suatu spesies
  • Memiliki DNA yang berkaitan dengan aktifitas molekular

3.6. Jumlah Kromosom Makhluk Hidup
Jumlah kromosom dasar di dalam genom haploid pada umumnya berbeda-beda antara satu spesies dan spesies lainnya. Namun, jumlah kromosom ini tidak ada kaitannya dengan ukuran atau kompleksitas biologi suatu organisme. Kebanyakan spesies mempunyai 10 hingga 40 buah kromosom di dalam genom haploidnya. Muntjac, sejenis rusa kecil dari Asia, hanya mempunyai tiga buah kromosom, sedangkan beberapa spesies paku-pakuan diketahui mempunyai beratus-ratus kromosom di dalam genom haploidnya.

Pada organisme diploid kedua genom akan berpasangan pada setiap kromosom yang sesuai. Artinya, kromosom nomor 1 dari genom pertama akan berpasangan dengan kromosom nomor 1 pula dari genom kedua. Demikian seterusnya hingga pasangan kromosom yang ke-n. Kromosom-kromosom yang berpasangan ini dinamakan kromosom homolog.

Dengan adanya kromosom-kromosom homolog, tiap gen yang terletak pada lokus tertentu di dalam suatu kromosom dapat berpasangan dengan gen yang sesuai pada kromosom homolognya. Sebagai contoh, gen A (dominan) pada suatu kromosom dapat berpasangan dengan gen A pada kromosom homolognya sehingga terbentuk genotipe homozigot dominan untuk lokus tersebut. Jika pada kromosom yang satu terdapat gen A dan pada kromosom homolognya terdapat gen a, maka akan diperoleh genotipe heterozigot. Demikian pula, jika pada kedua kromosom homolog gen a berpasangan dengan gen a, maka akan didapatkan genotipe homozigot resesif.

Berikut ini adalah jumlah kromosom 2N dari manusia serta sebagian binatang dan tanaman di mana N adalah sebuah genom / jenis kromosom dan setiap genom memiliki dua kromosom :

No

Makhluk Hidup

∑  Kromosom

No

Makhluk Hidup

∑  Kromosom

1

Ayam (Chiken)

78

01

Bawang

16

2

Anjing

78

02

Buncis

22

3

Babi

40

03

Bunga Matahari

34

4

Bebek/ Itik

80

04

Cemara

24

5

Bintang Laut

94

05

Gandum Bir

14

6

Cacing Tanah

36

06

Gandum Roti

42

7

Cacing Gelang

24

07

Hydra

32

8

Domba

54

08

Jagung

14, 20

9

Ikan Mas

94

09

Jamur

4

10

Kalkun

82

10

Kapas

52

11

Katak

26

11

Kacang Polong

14

12

Kambing

60

12

Kapah Penicillium

2

13

Kecoa

23/24

13

Ketimun

14

14

Keledai

62

14

Kentang

48

15

Kelinci

44

15

Kubis

18

16

Kera

48

16

Lobak

18

17

Kerbau

48

17

Padi

24

18

Kucing

38

18

Pinus

24

19

Kuda

64

19

Pepaya

18

20

Lalat Rumah

12

20

Pisang

22, 44, 77, 78

21

Lalat Buah

8

21

Ragi

34

22

Lebah Madu

32

22

Tebu

86

23

Marmot

64

23

Tembakau

48

24

Merpati

80

24

Tomat

24

25

Manusia

46

26

Nyamuk

6

27

Sapi

60

28

Simpanse/Gorrila

48

29

Tikus Rumah

40

30

Tikus Sawah

42

31

Ulat Sutera

56

3.7. GEN
Gen (dari bahasa Belanda: gen) adalah unit pewarisan sifat bagi organisme hidup atau substansi hereditas yang merupakan senyawa kimia yang mengandung informasi genetik dan dapat menduplikasi diri pada waktu mitosis. Bentuk fisiknya adalah urutan DNA yang menyandi suatu protein, polipeptida, atau seuntai RNA yang memiliki fungsi bagi organisme yang memilikinya. Batasan modern gen adalah suatu lokasi tertentu pada genom yang berhubungan dengan pewarisan sifat dan dapat dihubungkan dengan fungsi sebagai regulator (pengendali), sasaran transkripsi, atau peran-peran fungsional lainnya.

Penggunaan “gen” dalam percakapan sehari-hari (misalnya “gen cerdas” atau “gen warna rambut”) sering kali dimaksudkan untuk alel: pilihan variasi yang tersedia oleh suatu gen. Meskipun ekspresi alel dapat serupa, orang lebih sering menggunakan istilah alel untuk ekspresi gen yang secara fenotipik berbeda. Gen diwariskan oleh satu individu kepada keturunannya melalui suatu proses reproduksi, bersama-sama dengan DNA yang membawanya. Dengan demikian, informasi yang menjaga keutuhan bentuk dan fungsi kehidupan suatu organisme dapat terjaga.

Gen adalah unit terkecil bahan sifat menurun. Besarnya diprkirakan 4-50 mikron. Istilah gen pertama kali diperkenalakan oleh W.Johansen (1909), sebagai pengganti istilah factor keturunan atau elemen yang dikemukakan oleh Gregor Mendel. Gregor Mendel telah berasumsi tentang adanya suatu bahan yang terkait dengan suatu sifat atau karakter yang dapat diwariskan. Ia menyebutnya ‘faktor’. Pada 1910, Thomas Hunt Morgan menunjukkan bahwa gen terletak di kromosom. Selanjutnya, terjadi ‘perlombaan’ seru untuk menemukan substansi yang merupakan gen. Banyak penghargaan Nobel yang kemudian jatuh pada peneliti yang terlibat dalam subjek ini.

Gen menumbuhkan serta mengatur berbagai jenis karakter dalam tubuh baik fisik maupun psikis. Pengaturan karakteristik ini melalui proses sintesa protein seperti; kulit dibentuk oleh keratin, otot dari aktin dan miosin, darah dari (Hb, globulin, dan fibrinogen), jaringan pengikat dari (kolagen dan elastin), tulang dari Ossein, tulang rawan dari kondrin. Gen sebagai factor keturunan tersimpan di dalam kromosom, yaitu di dalam manik – manik yang disebut kromomer atau nukleusom dari kromonema.

Morgan seorang ahli genetika dari Amerika Serikat menyebut kromomer itu dengan lokus. Lokus adalah lokasi yang diperuntukan bagi gen dalam kromosom. Jadi menurut morgan gen tersebut tersimpan di dalam setiap lokus yang khas dalam kromosom. Gen sebagai zarah kompak yang mengandung satuan informasi genetic dan mengatur sifat – sifat menurun tertentu memenuhi lokus suatu kromosom. Setiap kromosom mengandung banyak gen.

Oleh sebab itu, dalam setiap kromosom khususnya di dalam kromonema terdapat deretan lokus. Batas antar lokus yang satu dengan lokus yang lain tidak jelas seperti deretan kotak – kotak Pada saat itu DNA sudah ditemukan dan diketahui hanya berada pada kromosom (1869), tetapi orang belum menyadari bahwa DNA terkait dengan gen.

Melalui penelitian Oswald Avery terhadap bakteri Pneumococcus (1943), serta Alfred Hershey dan Martha Chase (publikasi 1953) dengan virus bakteriofag T2, barulah orang mengetahui bahwa DNA adalah bahan genetik. Gen terdiri dari DNA yang diselaputi dan diikat oleh protein. Jadi secara kimia dapat disebut bahwa bahan genetis itu adalah DNA.

Thomas Hunt Morgan adalah ahli genetika dari Amerika Serikat yang menemukan bahwa factor – factor keturunan (gen) tersimpan dalam lokus yang khas dalam kromosom. Percobaan untuk hal ini dilakukan pada lalat buah ( Drosophila melanogaster ) dengan alasan sebagai berikut :

a)  Cepat berkembang biak
b)  Mudah diperoleh dan dipelihara
c)  Cepat menjadi dewasa ( umur 10 – 14 hari sudah dewasa )
d)  Lalat betina bertelur banyak
e)  Hanya memiliki 4 pasang kromosom, sehingga mudah diteliti

Kesimpulannya adalah Gen bersifat antara lain :

  • Sebagai materi tersendiri yang terdapat dalam kromosom
  • Setiap gen mendapat tempat khusus (Lokus) dalam kromosom
  • Mengandung informasi genetika
  • Dapat menduplikasikan diri pada peristiwa pembelahan sel

3.8. Fungsi Gen
Sebagai substansi hereditas, gen mempunyai fungsi sebagai berikut :

1)  Sebagai zarah tersendiri dalam kromosom. Zarah adalah zat terkecil yang tidak dapat dibagi –bagi lagi.
2)  Menentukan perkembangan dan proses metabolisme individu, karena menentukan jenis protein yang harus dibentuk. Enzim dan Hormon merupakan protein dan jenis enzim tertentu berfungsi untuk suatu kerja tertentu pula. Berdasarkan sifat tersebut maka enzym bersifat spesifik.

  • Enzym berfungsi mempercepat reaksi kimia dan berperan dalam metabolesme yang berguna untuk pertumbuhan.
  • Hormon berfungsi mengaktifkan kembali reaksi kimia dalam tubuh dan berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan.

3)  Menyampaikan informasi genetis dari generasi ke generasi berikutnya.
Adanya gen sifat-sifat yang dimiliki induk akan diturunkan kepada anaknya. Dan penurunan sifat tersebut diatur oleh gen yang dapat menimbulkan keadaan spesifik dari suatu organisme.

3.9. Alela
Dari sudut pandang genetika klasik, alel (dari bahasa Inggris allele) merupakan bentuk alternatif dari gen dalam kaitan dengan ekspresi suatu sifat (fenotipe). Sebagai ilustrasi, suatu lokus dapat ditempati gen yang mengatur warna kelopak bunga merah (alel untuk bunga merah) dan juga alel untuk warna kelopak bunga putih (alel untuk bunga putih).

Alel berasal dari kata allelon singkatan dari allelomorf yang artinya bentuk lain. Alel merupakan sepasang gen yang terletak pada lokus yang sama pada kromosom yang homolog, yang bertugas membawa suatu sifat / karakter (alternatif sesamnya).Tidak semua gen mempunyai 2 alel ada juga yang lebih dari 2 disebut beralel banyak (alela ganda), contohnya : gen yang mengatur protein darah.

  • Homozygot : alel dengan pasangan kedua gen pada suatu individu sama (simbolnya sama / genotipenya sama)
  • Heterozygot : alel dengan pasangan kedua gen tidak sama ( simbolnya berbeda / genotipenya sama.

 

Pada individu, pasangan alel menentukan genotipe dari individu yang bersangkutan. Sejalan dengan perkembangan genetika, pengertian alel menjadi lebih luas dan umum. Dalam arti modern, alel adalah berbagai ekspresi alternatif dari gen atau seberkas DNA, tergantung tingkat ekspresi genetik yang diamati.

  • Pada tingkat fenotipe, pengertian alel adalah seperti yang dikemukakan di atas.
  • Pada tingkat enzim (dalam analisis isoenzim), alel sama dengan isoenzim.
  • Pada tingkat genom, alel merupakan variasi-variasi yang diperoleh pada panjang berkas DNA (polimorfisme DNA).
  • Pada tingkat transkriptom, alel adalah bentuk-bentuk alternatif dari RNA yang dihasilkan oleh suatu oligo.
  • Pada tingkat protein, alel merupakan variasi-variasi yang bisa dihasilkan dalam suatu keluarga gen.

 

3.10. Struktur gen
Pada eukariota, gen terdiri dari :

  • Domain regulasi inisiasi transkripsi, yang terdiri antara lain dari: deret GCCACACCC, ATGCAAAT, kotak GC, kotak CCAAT dan kotak TATA.
  • Intron
  • Ekson
  • Domain regulasi akhir transkripsi
  • (Untuk penjelasan lebih lanjut tentang Gen diulas dalam bab Materi Genetik)

3.11. Umpan Balik

  1. Jelaskan peranan dari bagian kromosom yaitu kromatid, kromomer, sentromer atau kinetokor, satelit, dan telomer.
  2. Kromosom manusia dibedakan atas 2 tipe : yaitu Autosom dan Gonosom (Sex Chromosome). Jelaskan pengertian di atas dan bagaimanakah keterkaitannya dengan penentuan jenis kelamin.
  3. Apakah jumlah kromosom suatu makhluk hidup berhubungan dengan derajat makhluk hidup itu. Misalnya : Jumlah kromosom kalkun 82 akan mempunyai derajat lebih tinggi dibandingkan dengan katak 26. Jelaskan !.
  4. Tuliskan nama latin dari beberapa nama makhluk hidup pada tabel jumlah kromosom di atas.
  5. Bagaimana keterkaitannya antara kromosom dengan gen. Jelaskan !.
  6. Sebutkan dan Jelaskan enzim-enzim dan Hormon-Hormon yang terdapat pada manusia, ternak ayam, ternak kambing dan ternak sapi baik (Laki-laki/Jantan atau Wanita/Betina)
  7. Pada Lalat buah (Drosophila melanogaster) memiliki 8 buah kromosom, yakni 6 buah autosom dan 2 buah kromosom seks (xx dan xy). Jelaskan proses gametogenesis pada lalat jantan dan lalat betina.
  8. Apa yang saudara ketahui tentang : alela ganda, polipeptida, protein, DNA dan RNA
  9. Apa yang saudara ketahui tentang : kromosom haploid, kromosom diploid, kromosom homolog, genotype homozigot dominan, genotype homozigot resesif dan genotype heterozigot.
  10. Coba jelaskan manfaat kromosom atau gen dalam dunia peternakan.

 





Diktat Genetika Ternak-2

24 07 2012

Diktat Genetika Ternak (Bagian Kedua)

BAB  II. PEMBENTUKAN SEL KELAMIN

Pembahasan Materi Pembentukan sel kelamin didahului uraian tentang sel itu sendiri, meliputi : Pengertian sel, sejarah penemuan sel, perkembangan sel, struktur sel, proses dan tahapan pembelahan sel, Pembentukan sel kelamin melalui proses Spermatogenesis dan Oogenesis.

2.1. Pengertian Sel
Sel merupakan unit organisasi terkecil yang menjadi dasar kehidupan dalam arti biologis. Semua fungsi kehidupan diatur dan berlangsung di dalam sel. Karena itulah, sel dapat berfungsi secara autonom asalkan seluruh kebutuhan hidupnya terpenuhi.

Semua organisme selular terbagi ke dalam dua golongan besar berdasarkan arsitektur basal dari selnya, yaitu organisme prokariota (berdinding sel) dan organisme eukariota (bermembran sel) .

Organisme prokariota tidak memiliki inti sel dan mempunyai organisasi internal sel yang relatif lebih sederhana. Prokariota terbagi menjadi dua kelompok yang besar: eubakteria yang meliputi hampir seluruh jenis bakteri, dan archaea, kelompok prokariota yang sangat mirip dengan bakteri dan berkembang-biak di lingkungan yang ekstrim seperti sumber air panas yang bersifat asam atau air yang mengandung kadar garam yang sangat tinggi. Genom prokariota terdiri dari kromosom tunggal yang melingkar, tanpa organisasi DNA.

Organisme eukariota memiliki organisasi intraselular yang jauh lebih kompleks, antara lain dengan membran internal, organel yang memiliki membran tersendiri seperti inti sel dan sitoskeleton yang sangat terstruktur. Sel eukariota memiliki beberapa kromosom linear di dalam nuklei, di dalamnya terdapat sederet molekul DNA yang sangat panjang yang terbagi dalam paket-paket yang dipisahkan oleh histon dan protein yang lain.

Jika panjang DNA diberi notasi C dan jumlah kromosom dalam genom diberi notasi n, maka notasi 2nC menunjukkan genom sel diploid, 1nC menunjukkan genom sel haploid, 3nC menunjukkan genom sel triploid, 4nC menunjukkan genom sel tetraploid. Pada manusia, C = 3,5 × 10-12 g, dengan n = 23, sehingga genom manusia dirumuskan menjadi 2 x 23 x 3,5 × 10-12, karena sel eukariota manusia memiliki genom diploid.

Sejenis sel diploid yaitu sel nutfah dapat terdiferensiasi menjadi sel gamet haploid. Genom sel gamet pada manusia memiliki 23 kromosom, 22 diantaranya merupakan otosom, sisanya merupakan kromosom genital. Pada oosit, kromosom genital senantiasa memiliki notasi X, sedangkan pada spermatosit, kromosom dapat berupa X maupun Y. Setelah terjadi fertilisasi antara kedua sel gamet yang berbeda kromosom genitalnya, terbentuklah sebuah zigot diploid. Notasi genom yang digunakan untuk zigot adalah 46,XX atau 46,XY.

Pada umumnya sel somatik merupakan sel diploid, namun terdapat beberapa perkecualian, antara lain: sel darah merah dan keratinosit memiliki genom nuliploid. Hepatosit bergenom tetraploid 4nC, sedang megakariosit pada sumsum tulang belakang memiliki genom poliploid hingga 8nC, 16nC atau 32nC dan dapat melakukan proliferasi hingga menghasilkan ribuan sel nuliploid. Banyaknya ploidi pada sel terjadi sebagai akibat dari replikasi DNA yang tidak disertai pembelahan sel, yang lazim disebut sebagai endomitosis

2.2. Sejarah Penemuan sel
Pada awalnya sel digambarkan pada tahun 1665 oleh seorang ilmuwan Inggris Robert Hooke yang telah meneliti irisan tipis gabus melalui mikroskop yang dirancangnya sendiri. Kata sel berasal dari kata bahasa Latin cellula yang berarti rongga/ruangan. Pada tahun 1835, sebelum teori sel menjadi lengkap, Jan Evangelista Purkyně melakukan pengamatan terhadap granula pada tanaman melalui mikroskop.

Teori sel kemudian dikembangkan pada tahun 1839 oleh Matthias Jakob Schleiden dan Theodor Schwann yang mengatakan bahwa semua makhluk hidup atau organisme tersusun dari satu sel tunggal, yang disebut uniselular, atau lebih, yang disebut multiselular. Semua sel berasal dari sel yang telah ada sebelumnya, di dalam sel terjadi fungsi-fungsi vital demi kelangsungan hidup organisme dan terdapat informasi mengenai regulasi fungsi tersebut yang dapat diteruskan pada generasi sel berikutnya.Struktur sel dan fungsi-fungsinya secara menakjubkan hampir serupa untuk semua organisme, namun jalur evolusi yang ditempuh oleh masing-masing golongan besar organisme (Regnum) juga memiliki kekhususan sendiri-sendiri. Sel-sel prokariota beradaptasi dengan kehidupan uniselular sedangkan sel-sel eukariota beradaptasi untuk hidup saling bekerja sama dalam organisasi yang sangat rapi.. Contoh Gambar Sel seperti terlihat dibawah ini :

2.3. Perkembangan sel
Di dalam tubuh manusia, telah dikenali sekitar 210 jenis sel. Sebagaimana organisme multiselular lainnya, kehidupan manusia juga dimulai dari sebuah sel embrio diploid hasil dari fusi haploid oosit dan spermatosit yang kemudian mengalami serangkaian mitosis. Pada tahap awal, sel-sel embrio bersifat totipoten, setiap sel memiliki kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi salah satu dari seluruh jenis sel tubuh. Selang berjalannya tahap perkembangan, kapasitas diferensiasi menjadi menurun menjadi pluripoten, hingga menjadi sel progenitor yang hanya memiliki kapasitas untuk terdiferensiasi menjadi satu jenis sel saja, dengan kapasitas unipoten.
Pada level molekular, perkembangan sel dikendalikan melalui suatu proses pembelahan sel, diferensiasi sel, morfogenesis dan apoptosis. Tiap proses, pada awalnya, diaktivasi secara genetik, sebelum sel tersebut dapat menerima sinyal mitogenik dari lingkungan di luar sel.

2.4.  Struktur sel

a. Sel Eukariota
Secara umum setiap sel eukariota memiliki :

Sitoplasma dan inti sel bersama-sama disebut sebagai protoplasma. Sitoplasma berwujud cairan kental (sitosol) yang di dalamnya terdapat berbagai organel yang memiliki fungsi yang terorganisasi untuk mendukung kehidupan sel. Organel memiliki struktur terpisah dari sitosol dan merupakan “kompartementasi” di dalam sel, sehingga memungkinkan terjadinya reaksi yang tidak mungkin berlangsung di sitosol. Sitoplasma juga didukung oleh jaringan kerangka yang mendukung bentuk sitoplasma sehingga tidak mudah berubah bentuk.

Organel-organel yang ditemukan pada sitoplasma adalah

b. Sel prokariota
Sel tumbuhan dan sel bakteri memiliki lapisan di luar membran yang dikenal sebagai dinding sel. Dinding sel bersifat tidak elastis dan membatasi perubahan ukuran sel. Keberadaan dinding sel juga menyebabkan terbentuknya ruang antarsel, yang pada tumbuhan menjadi bagian penting dari transportasi hara dan mineral di dalam tubuh tumbuhan.
Sel tumbuhan, sel hewan, dan sel bakteri mempunyai beberapa perbedaan sbb :

c. Sel-sel khusus

  1. Sel Tidak Berinti, contohnya trombosit dan eritrosit (Sel darah merah). Di dalam sel darah merah, terdapat hemoglobin sebagai pengganti nukleus (inti sel).
  2. Sel Berinti Banyak, contohnya Paramecium sp dan sel otot
  3. Sel hewan berklorofil, contohnya euglena sp. Euglena sp adalah hewan uniseluler berklorofil.
  4. Sel pendukung, contohnya adalah sel xilem. Sel xilem akan mati dan meninggalkan dinding sel sebagai “tulang” dan saluran air. Kedua ini sangatlah membantu dalam proses transpirasi pada tumbuhan.

2.5. Proses dan Tahapan Pembelahan sel
Sebelum membahas tentang proses dan tahap pembelahan sel, maka dijelaskan beberapa istilah yang terkait dengan hal tersebut, antara lain :

a.Diferensiasi sel
Regenerasi sel adalah proses pertumbuhan dan perkembangan sel yang bertujuan untuk mengisi ruang tertentu pada jaringan atau memperbaiki bagian yang rusak.
Diferensiasi sel adalah proses pematangan suatu sel menjadi sel yang spesifik dan fungsional, terletak pada posisi tertentu di dalam jaringan, dan mendukung fisiologis hewan. Misalnya, sebuah stem cell mampu berdiferensiasi menjadi sel kulit.
Saat sebuah sel tunggal, yaitu sel yang telah dibuahi, mengalami pembelahan berulang kali dan menghasilkan pola akhir dengan keakuratan dan kompleksitas yang spektakuler, sel itu telah mengalami regenerasi dan diferensiasi.
Regenerasi dan diferensiasi sel hewan ditentukan oleh genom. Genom yang identik terdapat pada setiap sel, namun mengekspresikan set gen yang berbeda, bergantung pada jumlah gen yang diekspresikan. Misalnya, pada sel retina mata, tentu gen penyandi karakteristik penangkap cahaya terdapat dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada ekspresi gen indera lainnya.

b. Morfogenesis
Pengekspresian gen itu sendiri mempengaruhi jumlah sel, jenis sel, interaksi sel, bahkan lokasi sel. Oleh karena itu, sel hewan memiliki 4 proses esensial pengkonstruksian embrio yang diatur oleh ekspresi gen, sebagai berikut:
Proliferasi sel menghasilkan banyak sel dari satu sel
Spesialisasi sel menciptakan sel dengan karakteristik berbeda pada posisi yang berbeda
Interaksi sel mengkoordinasi perilaku sebuah sel dengan sel tetangganya
Pergerakan sel menyusun sel untuk membentuk struktur jaringan dan organ
Pada embrio yang berkembang, keempat proses ini berlangsung bersamaan. Tidak ada badan pengatur khusus untuk proses ini. Setiap sel dari jutaan sel embrio harus membuat keputusannya masing-masing, menurut jumlah kopi instruksi genetik dan kondisi khusus masing-masing sel.
Sel tubuh, seperti otot, saraf, dsb. tetap mempertahankan karakteristik karena masih mengingat sinyal yang diberikan oleh nenek moyangnya saat awal perkembangan embrio.

c. Apoptosis
Apoptosis merupakan bagian dari perkembangan sel, sel tidak dapat mati begitu saja tanpa suatu mekanisme yang tertanam di dalam sel, yang dapat diaktivasi oleh sinyal internal maupun eksternal.

Proses Pembelahan sel biasanya didahului dengan siklus sel dan dilanjutkan dengan pembelahan sel.

a. Siklus sel adalah proses duplikasi secara akurat untuk menghasilkan jumlah DNA kromosom yang cukup banyak dan mendukung segregasi untuk menghasilkan dua sel anakan yang identik secara genetik. Proses ini berlangsung terus-menerus dan berulang (siklik)
Pertumbuhan dan perkembangan sel tidak lepas dari siklus kehidupan yang dialami sel untuk tetap bertahan hidup. Siklus ini mengatur pertumbuhan sel dengan meregulasi waktu pembelahan dan mengatur perkembangan sel dengan mengatur jumlah ekspresi atau translasi gen pada masing-masing sel yang menentukan diferensiasinya.

b. Fase pada siklus sel
Pada sel – sel organisme multiseluler, proses pembelahan sel memiliki tahap – tahap tertentu yang disebut siklus sel. Sel – sel tubuh yang aktif melakukan pembelahan memiliki siklus sel yang lengkap. Siklus sel tersebut dibedakan menjadi dua fase (tahap ) utama, yaitu interfase dan mitosis.
Interfase terdiri atas 3 fase yaitu fase G, ( growth atau gap), fase S (synthesis), fase G2 (growth atau Gap2).

Rincian Fase siklus sel adalah :

  1. Fasa S (sintesis): Tahap terjadinya replikasi DNA
  2. Fasa M (mitosis): Tahap terjadinya pembelahan sel (baik pembelahan biner atau pembentukan tunas)
  3. Fasa G (gap): Tahap pertumbuhan bagi sel.
  • Fasa G0, sel yang baru saja mengalami pembelahan berada dalam keadaan diam atau sel tidak melakukan pertumbuhan maupun perkembangan. Kondisi ini sangat bergantung pada sinyal atau rangsangan baik dari luar atau dalam sel. Umum terjadi dan beberapa tidak melanjutkan pertumbuhan (dorman) dan mati.
  • Fasa G1, sel eukariot mendapatkan sinyal untuk tumbuh, antara sitokinesis dan sintesis.
  • Fasa G2, pertumbuhan sel eukariot antara sintesis dan mitosis.

Fasa tersebut berlangsung dengan urutan S > G2 > M > G0 > G1 > kembali ke S. Dalam konteks Mitosis, fase G dan S disebut sebagai Interfase.

c. Pembelahan sel
Sel merupakan unit terkecil dari mahluk hidup yang dapat melakukan reproduksi yang biasa disebut dengan pembelahan.  Setiap hari tubuh kita kehilangan sel dalam jumlah ribuan bahkan jutaan. Ada juga sel – sel yang mengalami kematian karena sesuatu hal, misalnya ketika kulit kalian tergores hingga terkelupas dan berdarah akan menyebabkan ribuan diganti oleh sel yang baru agar pulih seperti sedia kala. Bagaimanakah cara tubuh kita menggantikan sel – sel tubuhnya yang hilang atau rusak?

Sel – sel tersebut juga memiliki kemampuan yang berbeda – beda dalam melakukan pembelahannya, ada sel – sel yang mampu melakukan pembelahan secara cepat, ada yang lambat dan ada juga yang tidak mengalami pembelahan sama sekalisetelah melewati masa pertumbuhan tertentu, misalnya sel – sel germinatikum kulit mampu melakukan pembelahan yang sangat cepat untuk menggantikan sel – sel kulit yang rusak atau mati. Akan tetapi sel – sel yang ada pada organ hati melakukan pembelahan dalam waktu tahunan, atau sel – sel saraf pada jaringan saraf yang sama sekali tidak tidak mampu melakukan pembelahan setelah usia tertentu. Sementara itu beberapa jenis bakteri mampu melakukan pembelahan hanya dalam hitungan jam, sehingga haya dalam waktu beberapa jam saja dapat dihasilkan ribuan, bahkan jutaan sel bakteri. Sama dnegan bakteri, protozoa bersel tunggal mampu melakukan pembelahan hanya dalam waktu singkat, misalkan amoeba, paramecium, didinium, dan euglena.

Sel dalam tubuh mahluk hidup multiseluler pada umumnya dibedakan menjadi dua macam sel, yaitu sel tubuh (sel somatis) dan sel kelamin (sel gonad).

Pembelahan / reproduksi pada sel dapat dibagi menjadi 3, yaitu :

  1. Amitosis (biner), adalah reproduksi sel di mana sel membelah diri secara langsung tanpa melalui tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan cara ini banyak dijumpai pada sel-sel yang bersifat prokariotik, misalnya pada bakteri, ganggang biru.
  2. Mitosis, adalah cara reproduksi sel dimana sel membelah melalui tahap-tahap yang teratur, yaitu Profase Metafase-Anafase-Telofase. Antara tahap telofase ke tahap profase berikutnya terdapat masa istirahat sel yang dinamakan Interfase (tahap ini tidak termasuk tahap pembelahan sel). Pada tahap interfase inti sel melakukan sintesis bahan-bahan inti.
  3. Meiosis (Pembelahan Reduksi)adalah reproduksi sel melalui tahap-tahap pembelahan seperti pada mitosis, tetapi dalam prosesnya terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom.

d. Tahapan Pembelahan Sel secara Mitosis
Pembelahan mitosis dibedakan atas dua fase, yaitu kariokinesis dan sitokinesis, kariokinesis adalah proses pembagian materi inti yang terdiri dari beberapa fase, yaitu Profase, Metafase, dan Telofase. Sedangkan sitokinesis adalah proses pembagian sitoplasma kepada dua sel anak hasil pembelahan.

1. Kariokinesis
Kariokinesis selama mitosis menunjukkan cirri yang berbeda – beda pada tiap fasenya. Beberapa aspek yang dapat dipelajari selama proses pembagian materi inti berlangsung adalah berubah – ubah pada struktur kromosom,membran inti, mikro tubulus dan sentriol. Ciri dari tiap fase pada kariokinesis adalah:

a)  Profase

  • Benang – benang kromatin berubah menjadi kromosom. Kemudian setiap kromosom membelah menjadi kromatid dengan satu sentromer.
  • Dinding inti (nucleus) dan anak inti (nucleolus) menghilang.
  • Pasangan sentriol yang terdapat dalam sentrosom berpisah dan bergerak menuju kutub yang berlawanan.
  • Serat – serat gelendong atau benang – benang spindle terbentuk diantara kedua kutub pembelahan.
  • Kesimpulan pada tahap ini yang terpenting adalah benang-benang kromatin menebal menjadi kromosom dan kromosom mulai berduplikasi menjadi kromatid.

b) Metafase
Setiap kromosom yang terdiri dari sepasang kromatida menuju ketengah sel dan berkumpul pada bidang pembelahan (bidang ekuator), dan menggantung pada serat gelendong melalui sentromer atau kinetokor.
Kesimpulan pada tahap ini kromosom/kromatid berjejer teratur dibidang pembelahan (bidang equator) sehingga pada tahap inilah kromosom /kromatid mudah diamati dan dipelajari.

c) Anaphase
Sentromer dari setiap kromosom membelah menjadi dua dengan masing – masing satu kromatida. Kemudian setiap kromatida berpisah dengan pasangannya dan menuju ke kutub yang berlawanan. Pada akhir anafase, semua kromatida sampai pada kutub masing – masing. Kesimpulan pada Tahap ini kromatid akan tertarik oleh benang gelendong menuju ke kutub-kutub pembelahan sel.

d) Telofase
Pada telofase terjadi peristiwa berikut:

  1. Kromatida yang berada pada kutub berubah menjadi benang-benang kromatin kembali.
  2. Terbentuk kembali dinding inti dan nucleolus membentuk dua inti baru.
  3. Serat – serat gelendong menghilang.
  4. Terjadi pembelahan sitoplasma (sitokenesis) menjadi dua bagian, dan terbentuk membrane sel pemisah ditengah bidang pembelahan. Akhirnya, terbentuk dua sel anak yang mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan kromosom induknya.
  5. Kesimpulan pada tahap ini terjadi peristiwa Kariokinesis (pembagian inti
    menjadi dua bagian) dan Sitokinesis (pembagian sitoplasma menjadi dua bagian).

2. Sitokinesis
Selama sitokinesis berlangsung, sitoplasma sel hewan dibagi menjadi dua melalui terbentuknya cincin kontraktil yang terbentuk oleh aktin dan miosin pada bagian tengah sel. Cincin kontraktil ini menyebabkan terbentuknya alur pembelahan yang akhirnya akan menghasilkan dua sel anak. Masing – masing sel anak yang terbentuk ini mengandung inti sel, beserta organel – organel selnya. Pada tumbuhan, sitokinesis ditandai dengan terbentuknya dinding pemisah ditengah – tengah sel. Tahap sitokinesis ini biasanya dimasukkan dalam tahap telofase

Hasil mitosis:

  1. Satu Sel induk yang diploid (2n) menjadi 2 sel anakan yang masing – masing diploid.
  2. Jumlah kromosom sel anak sama dengan jumlah kromosom sel induknya
  3. pembelahan mitosis terjadi pada sel somatic (sel penyusun tubuh).

e. Tahapan Pembelahan sel secara Meiosis
Meiosis (Pembelahan Reduksi) adalah reproduksi sel melalui tahap-tahap pembelahan seperti pada mitosis, tetapi dalam prosesnya terjadi pengurangan (reduksi) jumlah kromosom.
Meiosis terbagi menjadi due tahap besar yaitu Meiosis I dan Meiosis II. Baik meiosis I maupun meiosis II terbagi lagi menjadi tahap-tahap seperti pada mitosis. Secara lengkap pembagian tahap pada pembelahan reduksi adalah sebagai berikut :

Berbeda dengan pembelahan mitosis, pada pembelahan meiosis antara telofase I dengan profase II tidak terdapat fase istirahat (interface). Setelah selesai telofase II dan akan dilanjutkan ke profase I barulah terdapat fase istirahat atau interface.

PERBEDAAN ANTARA MITOSIS DENGAN MEIOSIS

2.6. Pembelahan sel Kelamin
Kelangsungan hidup dan keberadaan Makhluk hidup di dunia ini sangat tergantung pada proses reproduksi (perkembangbiakan) makhluk tersebut. Proses reproduksi makhluk hidup ada 2 macam yaitu :

a)  Aseksual yaitu proses reproduksi tanpa adanya perkawinan atau pertemuan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan betina (sel telur), misalnya secara membelah diri. Contoh pada Protozoa dan Amoeba serta pada proses clonning.

b)  Seksual yaitu proses reproduksi dengan adanya perkawinan atau pertemuan sel kelamin jantan (spermatozoa) dan betina (sel telur), Contohnya pada hewan-hewan tingkat tinggi, dimana melalui proses fertilisasi (pembuahan) ovum /(sel telur/ sel kelamin betina) oleh spermatozoa (sel kelamin jantan).

Oleh karena didalam perkembangbiakan seksual terjadi fertilisasi, maka peranan gamet jantan dan betina tersebut sangat penting didalam proses pewarisan sifat, yang pada akhirnya untuk menjamin kelangsungan populasi makhluk hidup atau species tertentu. Pokok Pikiran inilah yang terkandung dalam teori Weismann tentang ” Continuity of germ plasm”.

Sel telur didalamnya terkandung separuh bahan genetik dari induk, sedangkan di dalam spermatozoa terkandung separuh bahan genetik dari bapaknya, sehingga zigot (sebuah sel hasil pertemuan antara sel telur dan spermatozoa dengan susunan kromosom 2 N) mengandung bahan genetik gabungan dari separuh bahan genetik induk dan separuh bahan genetik bapak. Oleh karena Zigot adalah sel tubuh maka proses perbanyakkannya melalui pembelahan mitosis, sedangkan sel telur dan spermatozoa terbentuk melalui proses pembelahan reduksi / meiosis.

1)  Gametosis
Proses pembentukan gamet atau sel kelamin disebut gametogenesis, ada dua jenis proses pembelahan sel yaitu mitosis dan meiosis. Bila ada sel tubuh kita yang rusak maka akan terjadi proses penggantian dengan sel baru melalui proses pembelahan mitosis, sedangkan sel kelamin atau gamet sebagai agen utama dalam proses reproduksi manusia menggunakan proses pembelahan meiosis.
Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa mitosis menghasilkan sel baru yang jumlah kromosomnya sama persis dengan sel induk yang bersifat diploid (2n) yaitu 23 pasang/ 46 kromosom, sedangkan pada meiosis jumlah kromosom pada sel baru hanya bersifat haploid (n) yaitu 23 kromosom.

Gametogenesis ada dua yaitu spermatogenesis dan oogenesis,
a. Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses gametogenesis pada pria dengan cara pembelahan meiosis dan mitosis. Spermatogenesis berasal dari kata sperma dan genesis (pembelahan). Spermatogenesis pada sperma biasa terjadi di epididimis. Sedangkan tempat menyimpan sperma sementara, terletak di vas deferens.

Pada spermatogenesis terjadi pembelahan secara mitosis dan meiosis. Spermatogenesis merupakan tahap atau fase-fase pendewasaan sperma di epididimis. Setiap satu spermatogonium akan menghasilkan empat sperma matang.
Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai 14 tahun, sel kelamin jantan primitif yang belum terspesialisasi dan disebut dengan spermatogonium menjadi diaktifkan oleh sekresi hormon testosterone
Secara simultan proses ini memproduksi sperma matang di dalam tubulus seminiferus lewat langkah-langkah berikut ini:

Tahap Spermatogonium.     
Spermatogonium merupakan tahap pertama pada spermatogenesis yang dihasilkan oleh testis. Spermatogoium terbentuk dari 46 kromosom dan 2N kromatid.
Spermatosit primer.
Spermatosit primer merupakan mitosis dari spermatogonium. Pada tahap ini tidak terjadi pembelahan. Spermatosit primer terbentuk dari 46 kromosom dan 4N kromatid.
Spermatosit sekunder.
Spermatosit sekunder merupakan meiosis dari spermatosit primer

Pada tahap ini terjadi pembelahan secara meiosis. Spermatosit sekunder terbentuk dari 23 kromosom dan 2N kromatid.
Spermatid.
Spermatid merupakan meiosis dari spermatosit sekunder. Pada tahap ini terjadi pembelahan secara meiosis yang kedua. Spermatid terbentuk dari 23 kromosom dan 1N kromatid.
Spermatozoa.
Sperma merupakan diferensiasi atau pematangan dari spermatid. Pada tahap ini terjadi diferensiasi. Sperma terbentuk dari 23 kromosom dan 1N kromatid dan merupakan tahap sperma yang telah matang dan siap dikeluarkan
Proses dari Spermatogonium sampai dengan spermatid disebut dengan Spermato cytogenesis, Sedangkan dari spermatid menjadi spermatozoa disebut dengan Spermiogenesis karena terjadi perubahan bentuk.

Spermatozoid atau sel sperma atau spermatozoa (berasal dari bahasa Yunani kuno: σπέρμα yang berarti benih, dan ζῷον yang berarti makhluk hidup) adalah sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk membentuk zigot. Zigot adalah sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio

Sel sperma manusia adalah sel sistem reproduksi utama dari laki-laki. Sel sperma memiliki jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Sel sperma manusia terdiri atas kepala yang berukuran 5 µm x 3 µm dan ekor sepanjang 50 µm. Sel sperma pertama kali diteliti oleh seorang murid dari Antonie van Leeuwenhoek tahun 1677

b. Oogenesis
Oogenesis merupakan proses pematangan ovum di dalam ovarium. Tidak seperti spermatogenesis yang dapat menghasilkan jutaan spermatozoa dalam waktu yang bersamaan, oogenesis hanya mampu menghasilkan satu ovum matang sekali waktu. Mari kita simak prosesnya lebih lanjut:

  1. Oogonium yang merupakan prekursor dari ovum tertutup dalam folikel di ovarium.
  2. Oogonium berubah menjadi oosit primer, yang memiliki 46 kromosom. Oosit primer melakukan meiosis , yang menghasilkan dua sel anak yang ukurannya tidak sama.
  3. Sel anak yang lebih besar adalah oosit sekunder yang bersifat haploid. Ukurannya dapat mencapai ribuan kali lebih besar dari yang lain karena berisi lebih banyak sitoplasma dari oosit primer.
  4. Sel anak yang lebih kecil disebut badan polar pertama yang kemudian membelah lagi.
  5. Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba Fallopi. Apabila oosit sekunder difertilisasi, maka akan mengalami pembelahan meiosis yang kedua . begitu pula dengan badan polar pertama membelah menjadi dua badan polar kedua yang akhirnya mengalami degenerasi. Namun apabila tidak terjadi fertilisasi, menstruasi dengan cepat akan terjadi dan siklus oogenesis diulang kembali.
  6. Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit sekunder menjadi bersifat haploid dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut dengan ootid. Ketika inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi satu, saat itu juga ootid kemudian mencapai perkembangan finalnya menjadi ovum yang matang.
  7. Kedua sel haploid (sperma dan ovum) bersatu membentuk sel zygot yang bersifat dipoid (2n).

Pada setiap proses Oogenesis hanya menghasilkan 1 buah sel telur karena pada hasil pembelahan yang lain menghasilkan sel anak yang lebih kecil disebut dengan Badan Polar (Polar body) biasanya tidak memiliki kuning telur sehingga menjadi infertil.

2.7.  Umpan Balik
1)    Jelaskan perbedaan sel tumbuhan denga sel hewan !.
2)    Jelaskan siklus pembelahan sel serta apa persamaan dan perbedaan pembelahan secara mitosis dan meiosis
3)    Gambarkan secara sekematis proses Oogenesis dan mengapa setiap proses Oogenesis hanya menghasilkan 1 sel telur saja !.
4)    Apa yang saudara ketahui tentang : Gametosis, Spermatocytogenesis, Spermiogenesis, Haploid dan Diploid serta mitokondria.
5)    Gambarkan dan jelaskan Struktur Sel Telur Ayam.





Diktat Kewirausahaan-4

24 07 2012

BAB. VIII. PERENCANAAN BISNIS

8.1. Kaidah Perencanaan Bisnis
Perencanaan Bisnis merupakan instrumen penting yang digunakan untuk memulai sebuah kegiatan wirausaha. Berbagai kaidah dalam penyusunan perencanaan bisnis penting untuk diperhatikan. Hal ini berkaitan dengan meminimalisasi kemungkinan kegagala dan menekan resiko. Karena salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan dan menyebabkan kegagalan wirausaha adalah perencanaan.

Kaidah Prencanaan bisnis memuat berbagai syarat yang harus dimiliki oleh perencanaan bisnis dalam menjamin keberhasilan wirausaha. Sebuah perencanaan bisnis yang baik memenuhi syarat;

  1. Sebagai fungsi alat pemasaran ide dan perencanaan, secara fundamental sebuah perencanaan bisnis merupakan uraian yang bermuara pada harapan adanya dukungan dan sokongan dari investor dan partner potensial, yang juga menjadi sarana perencanaan kegiatan yang baik. Fungsi ini juga menuntut sebuah perencanaan menunjukkan bahwa kegiatan wirausaha menuntut dedikasi dan cita-cita yang tidak terbatas.
  2. Sebagai sebuah satu paket kesatuan, yang memuat narasi mengenai latarbelakang, tujuan wirausaha, berbagai pernyataan finansial yang dijelaskan secara terinci, presentasi mengenai mekanisme kerja wirausaha, berbagai material pendukung yangmemungkinkan wirausaha dapat berjalan dengan baik serta berbagai jawaban penting mengantisipasi pertanyaan pertanyaan potensial tentang kegiatan.
  3. Sebagai sebuah media penjelasan bagi audiens, rencana bisnis adalah sebuah pernyataan yang ditujukan bagi penyandang dana dan para eksekutif. Membuat apa yang penting bagi audens, apa yang mungkin menarik mereka untuk terlibat dan menyokong ide wirausaha serta apa porsi dari rencana yang dipersiapkan untuk audiens
  4. Sebagai sebuah pernyataan tujuan, rencana bisnis harus menyajika secara jelas penjelasa apa yang akan diperoleh dengan melakukan wirausaha, tahapan apa saja yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan dan apa yang diperlukan untuk setiap fase,
  5. Fleksibel, yang dinyatakan dengan penyesuaian setiap aspek rencana berdasarkan keguinaannya, sederhana sehingga membuat setiap pernyataan menjadi penting. • Kemampuan menginformasikan, dengan menjelaskan semua detail penting, menyusun struktur yang baik dari perencanaan, menggunakan alat analisa yang baku, menggunakan ilustrasi yang baik dan menunjukka tekad serta keyakinan atas pencapaian tujuan wirausaha

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebagai penentu baik tidaknya perencanaan bisnis adalah sebagai berikut ;  

1.Hakekat Perencanaan
Perancanaan Bisnis – adalah langkah perencanaan formal dalam memulai sebuah kegiatan usaha baru yang dipusatkan pada keseluruhan usaha dan menjelaskan semua elemen yang terlibat dalam pelaksanaan. Perencanaan bisnis juga harus mengarah pada strategi pemasaran dan arah pengembangan masa depan

2. Detail, sebuah perencanaan bisnis harus disampaikan secara detail dan komprehensif / menyeluruh. Menjelaskan mengapa usaha ini akan dapat mengahsilkan keuntungan.
3. For investor, catat bahwa perencanaan iiniditujukan pada incvestor dan pemodal sebagai kebutuhan utama memulai usaha.
4. Market idea, perencanaan merupakan bentuk lain dari memasarkan ide yang diharapkan aka ndapat memberikan keuntungan
5. Management skills, resources, and strategies, perencanaan bisnisn yang baik memuat dengan baik keterampilan, sumberdaya yang dimiliki dan strategi yang disiapkan dalam mengantisipasi setiap kemungkinan kesalahan / kegagalan dan meningkatkan peluang sukses usaha

Beberapa Kunci penting dalam perencanaan bisnis adalah sebagai berikut ;

  1. Orang – harus memiliki motif dan energi yang tinggi, memiliki skill yang relevan
  2. Peluang – memuat keungguilan kompetitif yang dimiliki usaha yangdapat dipertahankann
  3. Kompetisi – mengidentifikasi kelemahan pesaing, respon kompetisi yang akan terjadi dan bagaimana menciptakanm kolaborasi yang sehat degnan kompetitor, bila mungkin.  Konteks- konteks ekonomi, lingkungan dan perundang-undangan haruslah kondusif
  4. Resiko – yang telah dikenali dan mudah diatasi
  5. Menjual perencanan- penting untuk mengenal klepada siapa rencana ini akan ditujukan karena investor memiliki type baik pasive maupun aktif.
  6. Sumber daya nonfinansial – penting bagi perencanaan memuat secara detail sumberdaya non finansial yang akan menyokong keberhasilan wirausaha, yaitu ; networks,  Tim dalam top management,  Dewan penasehat / advisory boards Rekanan kerja / partners

8.2. Komponen dan Kerangka dalam Perencanaan Bisnis
Perencanaan bisnis yang baik memiliki beberapa komponen penting yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi alat dan pedoman pelaksanaan wirausaha yang baik. Untuk itu beberapa pertanyaan penting tentang wira usaha harus dapat dijawab oleh sebuah perencanaan wirausaha.

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan komponen utama yang akan membentuk struktur perencanaan wirausaha, yaitu ;

  1. Apa yang akan dilakukan dalam kegiatan wirausaha
  2. Apa peluang yang ingin diraih
  3. Seberapa besar peluang yang dapat diraih
  4. Bagaimana keuntungan akan diperoleh
  5. Bagaimana Situasi kompetisi yang mungkin terjadi
  6. Apa yang menjadi kunci keberhasilan wirausaha dan bagaimana mengantisipasi kemungkinan kegagalan
  7. Apakah rencana dapat dilaksanakan
  8. Bagaimana penggunaan investasi dan pendayagunaan modal
  9. Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam wirausaha untuk mencapai tujuan kegiatan

Dari semua komponen diatas, tanpa mengurangi nilai penting komponen yang lain, terdapat satu komponen penting yang menjadi tulang punggun perencanaan wirausaha, yaitu Analisis Peluang. Analisis peluang merupakan sebuah model analitis rasional yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan tentang peluang yang akan diraih, besaran peluang, dan konsekwensi yandibutuhkan untuk mengejar peluang tersebut.

Pada dasarnya karakteristik Perencanaan Bisnis dapat dijelaskan sebagai berikut;

  1. Menunjukkan visi yang jelas
  2. Memahami target dan saran pemasaran
  3. Informasi yang detail mengenai kompetitor dan industri yang akan dimasuki
  4. Menyajikan bukti atas tim wirausaha yang berkompeten
  5. Singkat namuin jelas.
  6. Menandai resiko kritis
  7. Merinci sumberdaya dan penggunaannya
  8. Proyeksi fiansial yang teratur dan rasional
  9. Kesimpulan yang baik untuk menarik pembacanya

Kerangka dasar penyusunan rencana wirausaha umumnya adalah sebagai berikut :

  1. Executive summary / ringkasan Eksekutif, memuat secara ringkas latar belakang, tujuan dan rencana kerja wirausaha
  2. Industry analysis / Analisis Peluang, memuat uraian mengenai keadaan obyektif yang melatar belakangi industri dimana kegiatan wirausaha tersebut akan berkerja. Dalam bagian ini disajikan berbagai data dan analisa obyerktif
  3. Company description / Deskripsi Wirausaha, memuat tentang deskripsi kegiatan yang akan dilakukan oleh wirausaha
  4. Product and services description / Deskripsi Produk dan Jasa, memuat tentang uraian mengenai produk dan jasa yang akan dipasarkan melalaui kegiatan wirausaha
  5. Market description / Deskripsi Pasar, memuat uraian mengenai keadaan permintaan dan penawaran dalam pasar produk barang dan jasa, serta pangsa pasar yang tersedia untuk operasionalisasi wirausaha
  6. Marketing strategy / Strategi Pemasaran, memuat uraian mengenagi bagaimana rencana strategis pemasaran produk barang dan jasa mentikapi keadaan pasarnya.
  7. Operations description / Deskripsi operasi, memuat usaian operasionalisasi sumberdaya untuk melaksanakan kegiatan
  8. Staffing description / Deskripsi personalia, memuat penempatan personalia dalam kegiatan, yang memungkinan usaha akan dapat berjalan dengan baik berdasarkan spesifikasi profesional dan kompetensi personalia
  9. Financial projection / Proyeksi Finansial, merupakan uraian proyeksi penggunaan sumberdaya keuangan untuk pelaksanaan kegiatan
  10. Capital needs / Kebutuhan Dana, memuat perhitungan rencana finansial yang diramu dengan rencana penerimaan, untuk menunjukkan kebutuhan dana untuk memulai usaha
  11. Milestones / Tahapan, memuat tata kala tahapan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan.

8.3. Analisis Peluang (Opprotunity Analysis)
Analisis peluang, merupakan komponen UTAMA dalam perencanaan bisnis yang memuat deskripsi detail dari produk maupun jasa yang akan menjadi kegiatan utama wirausaha. Penilaian atas peluang dan sudut pandang wirausahawan atas peluang tersebut, merupakan kunci pertama yang harus dipenuhi dalam analisis. Kunci kedua yang diperlukan adalah spesifikasi dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan perencanaan dalam upaya meraih peluang. Ketiga, adalah sumber kapital yang diharapkan.

Dengan mengasumsikan bahwa peluang merupakan kebutuhan pasar yang belum tereksploitasi secara optimal, maka analisis peluang secar prinsip harus memuat beberapa hal yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut :

  1. Apa kebutuhan pasar yang dapat dipenuhi, yang berkaitan dengan ide wirausaha ?.
  2. Apa pandangan personal yang telah dialami entrpreneur, yang berkaitan dengan kebutuhan pasar tersebut ?.
  3. Kondisi sosial apa yang melatar belakangi kebutuhan pasar tersebut ?.
  4. Data apa saja yang mendukung pandangan tentang kebutuhan pasar tersebut ?
  5. Paten dan HAKI apa yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut ?
  6. Kompetisi apa yang dapat muncul sebagai akibat upaya memnuhi kebutuhan pasar tersebut ?
  7. Bagaimana bentuk dan typologi pasar global atas pemenuhan kebutuhan tersebut ?
  8. Bagaimana persaingan global yang dihadapi atas pemenuhan kebutuhan tersebut?.
  9. Dimana Uang dihasilkan dalam kegiatan ini?
  10. Bagaimana penggunaan investasi dan pendayagunaan modal

8.4. Perencanaan dan Sumber Pembiayaan
Di Amerika Serikat, secara umum sepertiga wirausaha dimulai dengan dana kurang dari 10.000 US$. Sepertiga lagi dengan dana 10.000 – 50.000 US$, sedang sepertiga sisanya sebesar lebih dari 50.000 US$. Untuk itu kebanyakan usaha membutuhkan dukungan dari luar usaha untuyk memperoleh dan memenuhi kebutuhan finansialnya. Perencanaan pembiayaan sangat bergantung pada sumber pembiayaan yang diproyeksikan akan dapat memenuhi kebutuhan memulai kegiatan; Sumber pembiayaan wirausaha sangat beragam, terbagi atas berbagai latar belakang dan model pembiayaan yaitu;

  1. Pembiayaan Pinjaman / Debt Pembiyaan pinjaman merupakan bentuk pembiayaan yang mensyaratkan pengembalian pada periode tertentu. Bank memberikan 25% kontribusi dalam pembiayaan wirausaha melalui type pinjaman ini.
  2. Pembiayaan Bagi Hasil / Equity Merupakan bentuk pembiayaan dimana pemilik modal memberikan jumlah tertentu dana untuk pelaksanaan kegiatan wirausaha. Jumlah dana yang di serahkan pada usaha akan di bayarkan alam bentuk kepemilikan usaha / ownership, selanjutnya pemodal akan memperoleh bagian dari keuntungan usaha berdasarkan proporsi kepemilikan. Alternatif pembiayaan bagi hasil antara lain :
  3. Modal Ventura
  4. Penawaran saham publik / rekanan kerja
  5. Investor

Pembiayaan Wirausaha dengan Sumber Pembiayaan Modal Ventura
Modal ventura merupakan bentuk pembiyaan yang tidak terlalu populer di Indonesia. Namun bila mempertimbangkan betuk beberapa model pembiayaan yang umum ada serta kemungkinan untuk memperoleh dana dari sumber pembiyaan yang lazim, modal ventura memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Kendala dari pengembangan modal ventura adalah perturan perundangan yang belum mengatur, kesiapan usaha kecil untuk mempertanggungjawabkan model modal ventura, lembaga permodalan ventura yang belum banyak.

Peluang berbagai sumber dana baik berupa perusahaan besar yang berkeinginan menginvestasikan dananya dalam sektor produktif merupakan potensi yang memungkinkan pengembangan modal ventura di masa datang. Langkah penting bagi wirausaha untuk memperoleh dana dari sumber pembiyaan modal ventura harus dilakukan sebagai berikut ;

  1. Menentukan besaran dana yang dibutuhkan, yang berhubungan dengan apa yang akan dan ingin dilakukan wirausaha untuk menunjang pertumbuhan usaha, serta peluang profit yang ditawarkan bagi sumber pembiayaan.
  2. Menetukan apa yang dapat dilakukan pada keadaan sekarang, berkaitan dengan evaluasi obyektif atas wirausaha yang menunjukkan kesenjangan finansial yang harus dipenuhi untuk dapat menjangkau keadaan sebagimana diuraikan pada poin sebelumnya.
  3. Menjabarkan indikator pertumbuhan yang dapat di harapkan dengan pemenuhan kebutuhan sebagai selisih antara yang ingin ilakukan dan yang dapat dilakukan.

Ketiga langkah diatas akan membentuk kebutuhan finansial yang menjadi dasar bagi wirausaha untuk mulai mengajukan penawaran investasi bagi modal ventura. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebutuhan; Kebutuhan merupakan sebuah hal yang mudah untuk di uraikan, diestimasi dari kebutuhan berbagai sumber daya faktor produksi dan volume serta nilai faktor produksi.

Tetapi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam kebutuhan yaitu ; Biasanya diperlukan dana yang lebih besar dari dugaan kebutuhan, berkaitan dengan berbagai hal biaya tidak terduga dan keterlambatan penerimaan. Untuk itu perlu dipertimbangkan adanya ”financial reserve” sebagai bentuk jaminan yang askan dapat menutupi hal yang tidak terduga.

Adalah sebuah tindakan yang tidak bijak bila dalam pembiayaan pengusaha berusaha memperoleh dana sebesar yang bisa diperoleh, atau memperoleh dana sebesar besarnya keinginan dan kebutuhan yang diperhitungkan, karena sumber pembiayaan selalu menginginkan pengembalian dana dalam tempo yang lebih singkat. Jadi baik kiranya memperhitungkan berbagai preferensi kapital dalam usaha sebelum menentukan besaran dana yang akan diambil atau dimanfaatkan dari modal ventura.

Preferensi ini mencakup;

  1. Modal sendiri, termasuk berbagai subsidi yang diperoleh,
  2. Pinjaman langsung yang berjalan,
  3. Pinjaman lunak dan
  4. Kecukupan modal dalam kegiatan usaha.

Memandang uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa kecukupan sumber modal merupakan salah satu kunci keberhasilan penting. Walaupun uang bukan merupakan faktor terpenting, tetapi ” It is easier to make money if you have money” namun tidaklah bijak memperoleh pinjaman melebihi kemampuan mengelola jumlah keuangan tersebut. Beberapa referensi menyatakan untuk wirausaha, faktor kecukupan yang paling ideal adalah bahwa jumlah pinjaman adalah sebesar 20-30% dari total modal sendiri. Dengan besaran demikian 70-80% modal sendiri dan 20-30% pinjaman akan menyusun struktur kapital baru wirausaha. Jumlah dan patokan diatas bukan merupakan patokan baku, beberapa kasus di negara eropa terutama Finlandia banyak usaha kecil mempertahanakan komposisi modal sendiri tetap dibawah 60% dari total modal. Hal ini menunjukkan bahwa besaran ideal dan komposisi ideal struktur kapital wirausaha tergantung pada berbagai faktor. Pertumbuhan ekonomi (GDP) merupakan faktor salah satu faktor yang menentukan komposisi struktur kapital. Pertumbuhan ekonomi sangat menentukan potensi pertumbuhan wirausaha, terbatasnya pertumbuhan ekonomi akan membatasi pula pertumbuyhan wirausaha. Potensi pertumbuhan wirausaha yang terbatas akan diikuti konsekwensi struktur pinjaman yang memiliki komposisi makin kecil. Sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang besar akan memberikan keleluasan meningkatkan komposisi pinjaman dalam struktur kapital wirausaha. Sayangnya karena belum jelasnya informasi, popularitas sistem modal ventura dalam pelaksanaan wirausaha banyak negara cenderung lemah. Padahal sistem ini memiliki peluang yang baik dengan tingkat fairness yang tinggi dibandingkan babarapa sistem permodalan lain.

Bank masih merupakan sumber pembiayaan utama, walaupun dalam struktur pinjaman kebanyakan wirausaha dimulai dengan memanfaatkan pinjaman komersial. Konsumsi dan bukan pinjaman usaha. Sehingga cenderung lebih kaku dalam penyediaan. Sedikit bank memberikan pembiayaan berdasarkan asset produksi wirausaha dan studi kelayakan finansial usaha. Kebanyakan mendasarkan pembiayaannya pada agunan non produktif yang dimiliki pengusaha. Hal ini menyebabkan pertanggungjawaban pribadi pengusaha lebih besar menjadi dasar pembiyaan. Berbeda dengan sumber perbankan, Modal Ventura mengemukakan penilaian yang berbeda atas wirausaha. Lembaga Modal Ventura akan memandang aspek kecukupan modal, dan struktur modal yang ditanamakan. Hal ini menempatkan posisi lembaga modal ventura sekaligus menjadi salah satu pemilik usaha. Biasanya modal ventura mengharapkan pengembalian investasinya 35-40% per tahun.

Lembaga Modal Ventura kebanyakan tidak menyediakan pembiayaan unutk memulai usaha, dan cenderung memilih usaha yang memiliki pertumbuhan yang tinggi. Selain itu, lembaga modal ventura mengharapkan keuntungan tambahan dengan pengalihan kepemilikan berdasarkan investasi pada lembaga lain. Hal ini dilakukan dengan mekanisme seperti penjualan saham pada perusahaan terbuka. Sebuah contoh wirausaha yang tumbuh dengan pesat di Amerika Serikat, SEXTON & SEALE (1997), merupakan usaha yang bergerak pada bidang pembiayaan. Memberikan pinjaman bergulir dengan jangka waktu 2,5 tahun untuk setiap periode. 51% dari perusahaan yang telah dibiayai dalam waktu 2,5 tahun berubah struktur kapitalnya, dimana SEXTON & SEALE kebanyakan menguasai 50-75% struktur kapital. Hal ini membuat SEXTON & SEALE dapat dikatakan turut memiliki 51% dari wirausaha yang dibiayainya. Dengan performa tersebut SEXTON & SEALE, memperoleh tingkat pengembalian investasi hingga 80% per tahun bagi usaha lama dan hingga 30% untuk usaha baru. Pegawai SEXTON & SEALE sendiri turut memiliki 42% dari asset perusahaan.

Berbeda dengan pembiayaan bank dan modal ventura, pembiayaan perusahaan keluarga sangat berbeda. 90% wirausaha dimulai dengan kepemilikan keluarga. Dan seluruhnya menguasai sekurang-kurangnya 50% dari struktur modal. Biasanya dalam 2 periode pengembalian modal, struktur ini berubah dimana pinjaman bank akan menguasai hingga 52% struktur / kapital, sebaliknya modal keluarga cenderung menyusut hingga 23%.

Bagaimanapun uraian diatas, penting kiranya memperlajari modal ventura, berkaitan dengan potensinya sebagai salah satu sumber pembiayaan. Siapakah lembaga pembiayaan modal ventura yang dikenal ?. Indonesia belum banyak mengenal lembaga semacam ini. Tetapi keadaan dan struktur ekonomi saat ini memungkinkan munculnya perseorangan maupun perusahaan yang berpotensi memeberikan modal ventura.

Beberapa type perusahaan Modal Ventura :

  1. Business Angels, disebut demikian karena sering memainkan peran sebagai penolong saat wirausaha membutuhakan modal. Biasanya merupakan orang-orang yang sebelumnya melakukan wirausaha pula, kadangkala pula merupakan pemain yang lebih lama berkecimpung dalam pasar industri tertentu dan telah lama memperhatikan perkembangan usaha yang akan dibiayai.
  2. Venture capital firms / funds, merupakan usaha yang memang mengkhususkan diri pada pembiayaan, memiliki anggota dalam jumlah tertentu yang dibiayai serta mempunyai segmen khusus dalam pembiayan berdasarkan tahapan perkembangan wirausaha. Misal, segmen memulai usaha, mengembangkan usaha, go publik dan lain lain. Biasa dikelompokkan pula dalam skala usaha pembiayaan kecil, sedang dan besar.

Lembaga Modal Ventura akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengambil keputusan membiayai sebuah usaha, yaitu ;

  1. Pertumbuhan Potensial Usaha Kadang, lembaga modal ventura lebih memfokuskan pada seberapa cepat pertumbuhan usaha dan seberapa cepat usaha dapat tumbuh. Hal ini berkaitan dengan bagaimana manajemen dapat menjamin performa pertumbuhan usaha.
  2. Tim Kerja Wirausaha, Penilaian mengenai komitmen setiap orang yang mengelola usaha dan Seberapa kemampuan / Skill personal yang dimiliki untuk menjamin pengelolaan usaha yang lebih baik
  3. Produk dan Potensi Penjualan Produk Penilaian mengenai jenis produk / jasa yang dihasilkan wirausaha dan siapa yang mengkonsumsi produk / jasa, alasan konsumen mengkonsumsi produk dan jasa tersebut, bagaimana penjualan akan meningkatkan keuntungan usaha, dan bagaimana wirausaha mendistribusikan produk tersebut pada konsumen.
  4. Segmen Pasar
  5. Situasi Finansial Wirausaha, dan
  6. Faktor lain seperti Periode Pinjaman Selanjutnya Lembaga Modal Ventura akan menilai sebuah usaha berdasarkan beberapa indikator, yaitu ; PROFIT / Keuntungan Usaha, namun secara prinsip lembaga modal ventura memiliki formula tersendiri untuk menentukan besarnya minat lembaga untuk membiayai satu usaha. Formula ini serin disebut sebagai “Venture capitalists formula” (VCF). Merupakan sebuah pendugaan yang penting yang berlaku baik bagi usaha terbuka maupun usaha yang belum go public. Sangat kompleks dan bergantung pada berbagai faktor / isu. Faktor terpenting adalah skala usaha dan total penjualan, namun juga tidak melupakan standar NPV.

BAB IX. STUDI KELAYAKAN USAHA

9.1.    Pentingnya Studi Kelayakan Usaha
Berniat membuka usaha sendiri, tapi bingung harus mulai darimana? Memang tak mudah untuk memulai usaha, tapi jika Anda bisa menjawab pertanyaan berikut, berarti Anda siap memulainya (“12 Langkah Memulai Usaha“):

  1. Apakah bidang usaha yang akan digeluti itu cukup potensial? Bagaimana prospeknya?
  2. Seberapa ketat persaingannya? Siapa kira-kira yang akan menjadi pesaing usaha tersebut? Bagaimana cara menghadapinya?
  3. Apa target usaha tersebut? Bagaimana mencapainya?
  4. Dari segi hukum, apa yang perlu disiapkan? Apa saja penghalangnya?
  5. Apa nama usaha (perusahaan) itu?
  6. Berapa dana yang dibutuhkan? Bagaimana memenuhinya?
  7. Dimana usaha tersebut akan dijalankan? Apakah sudah mempersiapkan kantornya?
  8. Sarana atau peralatan apa yang dibutuhkan? Bagaimana mendapatkannya?
  9. Apa tersedia asuransi yang memadai?
  10. Apakah Anda sudah memiliki supplier atau pemasok bahan baku?
  11. Sistem manajemen seperti apa yang akan diterapkan? Siapa yang akan menjalankan operasional usaha sehari-hari? Berapa karyawaan yang dibutuhkan?
  12. Bagaimana sistem pemasaran dan distribusi produk atau jasa yang akan dihasilkan? Bagaimana agar masyarakat mengenal produk atau jasa yang akan dipasarkan?

Bila tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu, maka sebaiknya Anda mengkaji ulang niat membuka usaha sendiri, sampai benar-benar siap. (*) Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, maka seorang wirausaha dapat melakukan suatu Studi Kelayakan Usaha.

9.2.  Pengertian Studi Kelayakan Usaha
Usaha yang akan dijalankan diharapkan dapat memberikan penghasilan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Pencapaian tujuan usaha harus memenuhi beberapa kriteria kelayakan usaha. Artinya, jika diihat dari segi bisnis, suatu usaha sebelum dijalankan harus dinilai pantas atau tidak untuk dijalankan. Pantas artinya layak atau akan memberikan keuntungan dan manfaat yang maksimal.

Agar tujuan perusahaan dapat tercapai sesuai keinginan, apapun tujuan perusahaan (baik profit, sosial, maupun gabungan dari keduanya), apabila ingin melakukan investasi, terlebih dahulu hendaknya dilakukan sebuah studi. Tujuannya adalah untuk menilai apakah investasi yang akan ditanamkan layak atau tidak untuk dijalankan (dalam arti sesuai dengan tujuan perusahaan) atau dengan kata lain, jika usaha tersebut dijalankan, akan memberikan manfaat atau tidak.

Untuk itu suatu usaha perlu melakukan suatu studi kelayakan usaha, yaitu suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan, usaha atau bisnis yang akan dijalankan dalam rangka menentukan layak atau tidak suatu usaha tersebut dijalankan.

Dari pengertian tersebut, maka studi kelayakan usaha merupakan kegiatan untuk mempelajarisecara mendalam, artinya meneliti secara sungguh-sungguh data dan informasi yang ada, yang kemudian mengukur, menghitung dan menganalisis hasil penelitian tersebut dengan menggunakan metode-metode tertentu. Dan penelitian yang dilakukan terhadap usaha yang akan dijalankan menggunakan ukuran tertentu, sehingga diperoleh hasil yang maksimal.

Istilah kelayakan mengandung arti, bahwa penelitian yang dilakukan secara mendalam dengan tujuan untuk menentukan apakah usaha yang dijalankan akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan. Dengan kata lain, kelayakan dapat berarti bahwa usaha yang dijalankan akan memberikan keuntungan finansial dan nonfinansial sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Lebih lanjut, istilah layak juga berarti bahwa suatu usaha juga dapat memberikan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan yang menjalankan, tetapi juga bagi investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat luas. Dengan demikian dalam suatu studi kelayakan usaha akan menyangkut tiga aspek, yaitu:

  1. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi usaha itu sendiri (sering disebut sebagai manfaat finansial). Yang berarti apakah usaha tersebut dipandang cukup  menguntungkan apabila dibandingkan dengan risiko usaha tersebut.
  2. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi Negara tempat usaha itu dilaksanakan (sering disebut sebagai manfaat ekonomi nasional). Yang menunjukkan manfaat usaha  tersebut bagi ekonomi makro suatu negara.
  3. Manfaat sosial usaha tersebut bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha.

9.3. Tujuan Studi Kelayakan Usaha
Ada lima tujuan, pentingnya melakukan studi kelayakan usaha, yaitu:

1. Menghindari risiko kerugian
Studi kelayakan bertujuan untuk menghindari risiko kerugian keuangan di masa datang yang penuh ketidakpastian. Kondisi ini ada yang dapat diramalkan akan terjadi atau terjadi tanpa dapat diramalkan. Dalam hal ini fungsi studi kelayakan adalah untuk meminimalkan risiko yang tidak diinginkan, baik risiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.

2. Memudahkan perencanaan
Ramalan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, dapat mempermudah dalam melakukan perencanaan. Perencanaan tersebut, meliputi:

  • Berapa jumlah dana yang diperlukan
  • Kapan usaha akan dijalankan
  • Di mana lokasi usaha akan dibangun
  • Siapa yang akan melaksanakan
  • Bagaimana cara melaksanakannya
  • Berapa besar keuntungan yang akan diperoleh
  • Bagaimana cara mengawasinya jika terjadi penyimpangan
  • Dengan adanya perencanaan yang baik, maka suatu usaha akan mempunyai jadwal pelaksanaan usaha, mulai dari usaha dijalankan sampai pada waktu tertentu.

3. Memudahkan pelaksanaan pekerjaan
Berbagai rencana yang sudah disusun akan memudahkan dalam pelaksanaan usaha.
Rencana yang sudah disusun akan dijadikan acuan dalam mengerjakan setiap tahap usaha, sehingga suatu pekerjaan dapat dilakukan secara sistematis dan dapat tepat sasaran serta sesuai rencana.

4. Memudahkan pengawasan
Pelaksanaan usaha yang sesuai rencana akan memudahkan untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya uasaha. Pengawasan ini perlu dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan dari rencana yang telah disusun. Di samping itu, pelaksanaan usaha dapat dilakukan secara sungguh-sungguh, karena ada yang mengawasi.

5. Memudahkan pengendalian
Adanya pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan dapat terdeteksi terjadinya suatu penyimpangan, sehingga dapat dilakukan pengendalian atas penyimpangan tersebut

Tujuan dari pengendalian ini adalah untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan yang melenceng, sehingga tujuan perusahaan akan tercapai. Pihak-pihak yang berkepentingan Perusahaan yang melakukan studi kelayakan usaha akan mempertanggungjawabkan hasilnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu:

a. Investor
Jika hasil studi kelayakan yang telah dibuat ternyata layak untuk direalisasikan, pendanaan dapat mulai dicari dengan mencari investor atau pemilik modal yang mau menanamkan modalnya. Bagi investor, hasil studi kelayakan memiliki arti tersendiri, karena investor akan mempelajari laporan tersebut untuk memastikan keuntungan yang akan diperoleh serta jaminan keselamatan atas modal yang akan ditanamkannya.

b. Lembaga keuangan
Jika modal perusahaan berasal dari dana pinjaman bank atau lembaga keuangan lainnya, maka lembaga-lembaga tersebut akan berkepentingan terhadap hasil studi kelayakan. Bank dan lembaga keuangan lainnya tidak mau memberi kredit atau pinjaman, bila suatu usaha tersebut di kemudian hari mempunyai masalah (kredit macet). Oleh karena itu, untuk usaha-usaha tertentu pihak perbankan akan melakukan studi kelayakan terlebih dahulu secara mendalam sebelum pinjaman dikucurkan kepada pihak peminjam.

c. Pemerintah
Bagi pemerintah pentingnya studi kelayakan adalah untuk meyakinkan apakah usaha yang dijalankan akan memberikan manfaat, baik bagi perekonomian secara umum maupun gaji masyarakat luas, seperti penyediaan lapangan pekerjaan. Pemerintah juga berharap usaha yang akan dijalankan tidak merusak lingkungan sekitarnya, baik terhadap manusia dan lingkungan hidup lainnya

d. Masyarakat luas
Bagi masyarakat luas, adanya bisnis akan memberikan manfaat seperti tersedia lapangan kerja, baik bagi pekerja di sekitar likasi proyek maupun bagi masyarakat lainnya. Manfaat lain adalah terbukanya wailayah tersebut dari ketertutupan. Dengan adanya usaha akan memancing munculnya sarana dan prasarana bagi masyarakat.

9.4. Proses dan Tahap Studi Kelayakan Usaha
Langkah-langkahnya:

1. Tahap Penemuan Ide atau Perumusan Gagasan
Dalam tahap ini wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya. Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi dalam bentuk pemikiran dan kemungkinan-kemungkinan bisnis apa saja yang paling memberikan pluang untuk dilakukan dan menguntungkan dalam jangka waktu yang panjang.

2. Tahap Memformulasikan Tujuan
Dalam tahap ini dalah tahap perumusan visi dan misi

3. Tahap Analisis
Tahap ini merupakan tahap penelitian, yaitu proses sistematis yang dilakukan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Adapun aspek-aspek yang diamati dan dicermati adalah: Aspek hokum, Aspek Pasar dan Pemasaran, Aspek Keuangan, Aspek Ekonomi Sosial serta Aspek Lingkungan

4. Tahap Keputusan
Merupakan tahap akhir yang merupakan pembuatan keputusan untuk melaksanakan atau tidak suatu bisnis.

9.5. Aspek-aspek dalam Penilaian
Tahap-tahap dalam pembuatan dan penilaian studi kelayakan hendaknya dilakukan secara benar dan lengkap. Setiap tahapan memiliki berbagai aspek yang harus diteliti, diukur dan dinilai sesuai dengan ketentuan.
Secara umum prioritas aspek-aspek yang perlu dilakukan dalam studi kelayakan adalah:

1. Aspek hukum
Dalam aspek ini yang akan dibahas adalah masalah kelengkapan dan keabsahan dokumen perusahaan, mulai dari bentuk badan usaha sampai ijin-ijin yang dimiliki. Kelengkapan dokumen sangat penting karena hal ini merupakan dasar hukum yang harus dipegang, apabila di kemudian hari timbul masalah. Keabsahan dan kesempurnaan dokumen dapat diperoleh dari pihak-pihak yang menerbitkan atau mengeluarkan dokumen tersebut.
Dokumen yang diperlukan meliputi:

  • Akte Pendirian Perusahaan dari Notaris
  • Bentuk badan usaha, serta keabsahannya dan bentuk badan usaha tertentu, seperti PT dan Yayasan harus disahkan oleh Departemen Kehakiman
  • Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
  • Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

Di samping dokumen di atas, perusahaan juga perlu memiliki ijin-ijin tertentu, yaitu

  • Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), diperoleh melalui Departemen Perdagangan
  • Surat Ijin Usaha Industri (SIUI), diperoleh melalui Departemen Perindustrian
  • Ijin domisili, diperoleh melalui kelurahan setempat
  • Ijin mendirikan bangunan (IMB), diperoleh melalui pemerintah daerah setempat
  • Ijin gangguan, diperoleh melalui kelurahan setempat

Selain itu juga dibutuhkan beberapa dokumen penting lainnya, antara lain:
a. Bukti diri (KTP/SIM) b. Sertifikat tanah c. BPKB

2. Aspek Pasar dan Pemasaran
Setiap usaha yang akan dijalankan harus memiliki pasar yang jelas. Dalam aspek pasar dan pemasaran, hal-hal yang perlu dijabarkan adalah;

  • Ada-tidaknya pasar (konsumen)
  • Seberapa besar pasar yang ada
  • Peta kondisi pesaing, terutama untuk produk yang sejenis
  • Perilaku konsumen
  • Strategi yang dijalankan untuk memenangkan persaingan & merebut pasar yang ada.

Untuk mengetahui ada-tidaknya pasar dan seberapa besarnya pasar, serta perilaku konsumen, maka perlu dilakukan riset pasar, dengan cara:

  • Melakukan survey dengan terjun langsung ke pasar untuk melihat kondisi pasar yang ada. Dalam hal ini untuk mengetahui jumlah pembeli dan pesaing.
  • Melakukan wawancara dengan berbagai pihak yang dianggap memegang peranan. Dalam hal ini melakukan wawancara kepada pesaing secara diamdiam.
  • Menyebarkan kuesioner ke berbagai calon konsumen untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen saat ini. Dalam hal ini untuk mengetahui jumlah konsumen, daya beli dan selera.
  • Menawarkan produk dengan pemasangan iklan, seolah-olah produknya sudah ada. Dalam hal ini untuk melihat respon konsumen, waluapun produknya harus pesan terlebih dahulu.

Perlu diketahui bahwa, di dalam pasar, sebesanrnya dapat dibagi menjadi 2 kelompok pasar, yaitu:

  • Pasar nyata: sekumpulan konsumen yang mempunyai minat, pendapatan dan akses pada suatu produk tertentu
  • Pasar potensial: sekumpulan konsumen yang memiliki minat terhadap suatu produk, tetapi belum didukung oleh akses dan pendapatan. Namun suatu saat, apabila telah memiliki pendapatan dan akses, mereka akan membeli.

Setelah diketahui pasar dan potensinya, maka langkah selanjutnya adalah menyusun strategi pemasaran, yang meliputi:

  1. Strategi produk
  2. Strategi harga
  3. Strategi lokasi dan distribusi
  4. Strategi promosi

3. Aspek Keuangan
Dalam aspek keuangan, hal-hal yang perlu digambarkan adalah jumlah investasi, biaya-biaya dan pendapatan yang akan diperoleh. Besarnya investasi berarti jumlah dana yang dibutuhkan, baik untuk modal investasi pembelian aktiva tetap maupun modal kerja, selain itu juga biaya-biaya yang diperlukan selama umur investasi dan pendapatan.

Untuk dapat melakukan penilaian investasi, maka sebuah perusahaan harus memubuat laporan keuangan. Adapun fungsi laporan keuangan, secara umum adalah:

  1. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah aktiva dan jenis-jenis aktiva
  2. Memberikan informasi tentang jumlah kewajiban, jenis-jenis kewajiban dan jumlah modal
  3. Memberikan informasi tentang hasil usaha yang tercermin dari jumlah pendapat yang diperoleh dan sumber-sumber pendapatan
  4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya yang dikeluarkan berikt jenis-jenis biaya dalam periode tertentu
  5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi di dalam aktiva , kewajiban dan modal di dalam suatu perusahaan
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode dari hasil-hasil laporan keuangan yang disajikan.

2. Aspek Teknik/Operasi
Dalam aspek teknis atau operasi, hal-hal yang perlu digambarkan adalah:

1) Lokasi usaha
Lokasi merupakan tempat melayani konsumen. Dengan demikian, maka perlu dicari lokasi yang tepat sebagai tempat usaha, karena akan memberikan keuntungan sebagai berikut:

  1. Pelayanan yang diberikan kepada konsumen dapat lebih memuaskan
  2. Kemudahan dalam memperoleh tenaga kerja yang diinginkan, baik jumlah dan kualitasnya
  3. Kemudahan dalam memperoleh bahan baku atau bahan penolong dalam jumlah yang diinginkan secara terus-menerus
  4. Kemudahan untuk memperluas lokasi usaha karena biasanya sudah diperhitungkan untuk usaha perluasan lokasi sewaktu-waktu
  5. Memiliki nilai atau harga ekonomi yang lebih tinggi di masa yang akan datang
  6. Meminimalkan terjadinya konflik, terutama dengan masyarakat dan pemerintah setempat

2) Penentuan layout/tata letak
Penentuan layout perlu dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan faktor keamanan, kenyamanan, keindahan, efisiensi, biaya, fleksibilitas. Dengan pertimbangan di atas, maka akan diperoleh keuntungan sebagai berikut:

  1. Ruang gerak untuk beraktivitas dan pemeliharaan memadai. Artinya suatu ruangan didesain sedemikian rupa, sehingga tidak terkesan sumpek. Kemudian layout juga harus memudahkan untuk melakukan pemeliharaan ruangan atau gedung.
  2. Pemakaian ruangan menjadi efisien. Artinya pemakaian ruangan harus dilakukan secara optimal, jangan sampai ada ruangan yang menganggur atau tidak terpakai karena hal ini akan menimbulkan biaya bagi perusahaan.
  3. Aliran material menjadi lancar. Artinya jika layout dibuat secara benar, maka produksi menjadi tepat waktu dan tepat sasaran.
  4. Layout yang tepat memberikan keindahan, kenyamanan, kesehatan dan keselamatan kerja yang lebih baik, sehingga memberikan motivasi yang tinggi kepada karyawan. Di samping itu, pelanggan pun betah untuk bertransaksi atau berurusan dengan perusahaan.
  5. Teknologi yang digunakan. Teknologi yang digunakan harus sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dan yang akan datang, serta harus disesuaikan dengan luas produksi, supaya tidak terjadi kelebihan kapasitas.
  6. Volume produksi. Volume produksi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan kapasitas. Volume operasi yang berlebihan akan menimbulkan masalah dalam penyimpanan, sedangkan volume produksi yang kurang akan menyebabkan hilangnya pelanggan.
  7. Bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dan bahan penolong serta sumber daya yang diperlukan harus cukup tersedia. Persediaan tersebut harus sesuai dengan volume produksi.
  8. Tenaga kerja.  Meliputi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dan kualifikasi yang sesuai dengan pekerjaan yang ada agar penyelesaian pekerjaan bisa lebih cepat, tepat dan hemat.

5. Aspek Ekonomi Sosial
Gambaran dalam aspek ekonomi adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan jika proyek tersebut dijalankan. Pengaruh tersebut terutama terhadap ekonomi secara luas serta dampak sosialnya terhadap masyarakat secara keseluruhan. Dampak ekonomi meliputi:

  • Jumlah tenaga kerja yang tertampung, baik yang bekerja di pabrik maupun masyarakat yang di luar pabrik
  • Peningkatan pendapatan masyarakat

Demikian pula, perusahaan perlu mencamtumkan dampak sosial yang ada dalam hasil penelitian. Dampak sosial yang muncul akibat adanya usaha berupa tersedianya sarana dan prasarana, antara lain:

  • Pembangunan jalan
  • Penerangan
  • Sarana telepon
  • Sarana air minum

6. Aspek Dampak Lingkungan
Aspek dampak lingkungan merupakan analisis yang paling dibutuhkan pada saat ini, karena setiap proyek yang dijalankan akan memiliki dampak yang sangat besar terhadap lingkungan di sekitarnya, antara lain:

  1. Dampak terhadap air
  2. Dampak terhadap tanah
  3. Dampak terhadap udara
  4. Dampak terhadap kesehatan manusia
  5. Pada akhirnya pendirian usaha akan berdampak terhadap kehidupan fisik, flora dan fauna yang ada di sekitar usaha secara keseluruhan

9.6. Kriteria Investasi
a.  Keuntungan & Kelemahan Kriteria Npv Dalam Pengurutan Peluang Investasi
Asumsi  pokok yang mendasari penggunaan kriteria NPV adalah bahwa ada kemungkinan untuk menanamkan sejumlah modal dengan selisih investasi (antara dua buah proyek) yang dapat memberikan NPV positif. Dengan kata lain, proyek marjinal calon penampung dana yang terjadi karena tidak dilaksanakannnya salah satu proyek memberikan rate of return yang sama dengan discount rate social atau opportunity cost modal yang dipergunakan dalam menghitung NPV.

Namun jika jumlah investasi yang dimiliki terbatas, maka keterbatasan itu akan mengubah sasaran utama perencana/penilai proyek untuk mencari proyek yang penggunaannya paling menguntungkan daripada mencari proyek yang memberikan NPV paling tinggi.

Meskipun berpegang pada discount rate sosial dan adanya proyek marjinal yang mengembalikan tingkat rendemen, selalu ada kemungkinan adanya proyek baru dengan rate of return yang lebih tinggi. Pelaksanaannya tergantung pada penghematan sumber-sumber sehubungan dengan alokasi dana kepada proyek lain, yang rentabilitasnya belum diketahui secara pasti saat alokasi itu dibuat.

Jadi, disamping NPV yang peka terhadap skala proyek, kita biasanya terus mencari ukuran tentang efisiensinya, yaitu semacam indeks yang mengaitkan keuntungan proyek dengan biaya investasi. Keempat kriteria investasi lainnya (IRR, Net B/C, Gross B/C dan PV’/’K) dikembangkan dalam rangka pencarian tersebut.

Selain itu perlu diperhitungkan kemungkinan adanya kaitanantara skala masing masing alternative investasi dengan discount rate yang sebaiknya digunakan dalam menghitung NPV. Dalam membandingkan suatu alternatif yang merupakan mutually exclusive alternative, diasumsikan hanya satu discount rate yang digunakan untuk menghitung NPV. Di lain pihak, jelas bahwa pengalokasian sejumlah dana untuk salah satu alternatif (dengan biaya yang lebih tinggi) akan meniadakan serangkaian proyek pada batas pelaksanaan yang lebih banyak daripada proyek yang dikorbankan bila proyek tersebut memilih alternatif biaya yang lebih sedikit. Dengan kata lain, identitas proyek marjinal dapat berubah pula. Khususnya discount rate relevan dapat lebih tinggi dalam hal alternative yang lebih tinggi.

Jelasnya, bahwa penggunaan discount rate yang semakin tinggi menurut skala proyek akan lebih memajukan alternatif yang relatif murah. Prosedur ini merupakan pendekatan dalam rangka mencari indeks efisiensi penggunaan modal sambil tetap berpegang pada NPV sebagai kriteria investasi. Selain itu, diubahnya discount rate  sesuai dengan besarnya biaya netto masing-masing alternative kurang praktis dalam usaha evaluasi proyek,apalagi jika adanya unsure ketidakpastian sehubaungan dengan perkiraan tingkat rendemen semua proyek,termasu proyek marjinal.

b. Perbandingan Net B/C dengan NPV sebagai kriteria investasi
Kriteria investasi Net B/C merupakan indeks efisiensi yang perhitungannya mempergunakan data yang sama seperti NPV. Jika a melambangkan present value jumlah sisa (Bt- Ct) yang positif, dan b adalah present value jumlah sisa yang negatif, maka NPV yang merupakan a – b dan Net B/C adalah a/b. Perhitungan present value sehubungan dengan kriteria tersebut menggunakan dicount rate yang sama, sedangkan indeks efisiensi dalam penggunaan modal, Net B/C tidak terpengaruh oleh skala proyek, misalnya proyek yang biaya serta benefitnya dua kali lebih besar daripada proyek lain, menghasilkan NPV dua kali lebih besar juga, sedangkan nilai Net B/C tidak berubah ( jika a – b = c, maka 2a – 2b = 2c, sedangkan a/b = d, maka 2a/2b = a/b yang artinya tetap sama dengan d ).

Kemungkinan terjadinya pertentangan antara kedua kriteria dalam rangka mengurutkan alternatif dalam investasi dapat dijelaskan dengan perbandingan ketiga bentuk proyek Y yang disajikan dalam tabel di bawah ini

Bila dilihat dari cara atau alternatif yang paling menguntungkan pada kondisi rendemen di atas discount rate sosial dalam penggunaan-penggunaan di luar proyek Y, maka alternatif yang harus dipilih supaya menguntungkan ialah ketiga bentuk tersebut didasarkan pada kriteria Net B/C yaitu bentuk c. Sedangkan bila dianggap discount rate sosial betul-betul mencerminkan tingkat rendemen yang dapat diperoleh dengan penggunaan alternatif penghematan sumber dari proyek Y, maka yang harus dipilih alternatif dengan nilai NPV tertinggi tanpa peduli skala biaya yaitu bentuk b.

Persamaan tersebut dipecah sehingga menghasilkan IRR= nilai i yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Jadi bisa dikatakan bahwa IRR merupakan suatu dicount rate khusus yaitu discount rate yang membuat NPV sama dengan nol, dalam konteks tersebut tidak ada hubungannya dengan discount rate yang dihitung berdasarkan data di luar proyek sebagai social oppurtunity cost faktor produksi modal yang berlaku dalam masyarakat. Mengingat perhitungan IRR tidak tergantung pada discount rate sosial, maka kriteria IRR dapat dipergunakan sebagai indeks pengurutan dua atau lebih proyek. Di lain sisi, jika IRR digunakan untuk pengambilan keputusan go / no-go, maka nilainya perlu dibandingkan dengan tingkat discount rate sosialnya, dalam hal ini penghitungan IRR tidak menambah keterangan yang disediakan dari penghitungan NPV.

Namun demikian, bila mengacu kembali kepada pembahasan tentang kriteria NPV dan Net B/C, apabila kita menentukan efisiensi dalam penggunaan modal, maka kriteria IRR yang paling luas penerapannya. Misalnya, IRR merupakan kriteria utama yang dipergunakan oleh bank dunia dalam mengevaluasi permintaan pinjaman. Jelas bahwa adanya suatu indeks yang dapat dibandingkan dengan angka-angka seperti tingkat suku bunga, reabilitas investasi swasta serta oppurtunity cost faktor produksi modal sangat menarik dari sudut pandang lembaga kredit.

Ternyata proyek A mempunyai IRR sebesar 50%, sedangkan proyek B hanya mempunyai IRR sebesar 30,38%. Pada tingkat discount rate 13,33%, NPV kedua proyek betul-betul sama (324 juta). Pada semua discount rate yang terletak di bawah tingkat itu, NPV proyek B lebih tinggi daripada NPV proyek A, dan sebaliknya

Dari gambar dapat dilihat bahwa cross over discount rate terjadi apabila salah satu dari kedua proyek mempunyai :

  1. Benefit netto nominal – yaitu NPV pada discount rate sebesar nol – yang lebih besar, yang berarti bahwa titik potong pada sumbu vertikalnya lebih tinggi (misal, nilai 700 relatif terhadap nilai 500 dalam gambar)
  2. Internal Rate of Return (IRR) – yaitu tingkat discount rate yang menjadikan NPV = 0 yang lebih rendah (misalnya, nilai 30,38% dibandingkan dengan 50% dalam gambar)

Tidak sulit dilihat adanya cross over discount rate dalam contoh sederhana ini karena benefit netto nominal yang lebih besar dalam proyek B baru terwujud satu tahun sesudah terwujudnya benefit proyek A. Maka semakin tinggi discount rate yang dipergunakan, semakin menurun secara proporsional present value suatu nilai yang terwujud dalam tahun t, dibandingakan dengan PV nilai dari tahun – tahun yang lebih awal. Jadi, tiap kenaikan discount rate mengurangi angka perbandingan NPV proyek yang benefit netto nominalnya lebih besar tetapi lebih lambat terwujudnya, terhadap NPV proyek laennya.

Benefit netto yang lebih besar dapat mengimbangi penundaan terjadinya benefit, sehingga proyek itu mempunyai IRR yang lebih tinggi. Misalnya, jika benefit proyek B dalam tahun ke 2 adalah sebesar 2,56 milyar (lebih besar daripada 1,7 milyar), maka IRR proyek B akan menjadi sebesar 60% (sebab 1,60² = 2,56, dan karenanya melebihi IRR proyek A yang besarnya 50%.

Secara umum dapat dikatakan, bahwa apabila dua proyek memenuhi syarat 1 dan 2 di atas (urutan nilai benefit nominal netto berlwanan dengan urutan IRR), maka arus benefit netto proyek dengan IRR yang tertinggi (dalam hal ini proyek A) dapat disesuaikan atas dasar social opportunity cost factor produksi modal – yaitu dengan menganggap bahwa sebagian dari benefitnya ditanamkan kembali, atau untuk tahun – tahun tertentu diasumsikan bahwa penyelenggara proyek meminjam dan menanmkan uang sejumlah benefit tersebut pada tingkat rendemen yang sama – demi mencerminkan pola arus benefit proyek lainnya.

Kesimpulannya dapat dikemukakan bahwa kedua criteria IRR dan Net B/C dapat memberikan urutan atau pilihan yang berbeda apabila terdapat cross over discount rate, dimana social opportunity cost yang dipergunakan sebagai discount rate social lebih rendah daripada cross over discount rate tersebut. Sebaliknya, bila tidak terdapat cross over discount rate ataupun discount rate social yang lebih tinggi dari angka tersebut, kriteria IRR dan Net B/C akan memberikan urutan / pilihan yang sama.

Kesimpulan.
Andaikata benar bahwa tidak mungkin mendapatkan rendemen diatas discount rate saicial melalui investasi sumber – sumber yang dihemat berdasarkan dipilihnya alternative yang relative murah diantara berbagai mutually exclusives alternatives, maka maksimalisasi net present value (NPV) merupakan pendekatan optimal dalam pemilihan proyek. Di laen pihak dalam prakteknya, kita selalu sadar akan adanya keterbatasan dana maupun kemungkinan mendapatan rendemen diatas discount rate yang sedan dipergunakan, apabila kita menghemat dana pada suatu proyek demi mengarahkannya pada proyek lain.

Oleh karena itu, sering kali dicari criteria investasi tambahan berupa indeks yang menghubungkan jumlah keuntungan yang diharapkan dari proyek dan skala investasi yang dibutuhkannya. Kriteria Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) telah dikembangkan dalam rangka pencarian tersebut.

Kriteria Net B/C mempergunakan discount rate social yang sama seperti NPV, dan merupakan susunan kembali data yang masuk dalam perhitungan NPV. Di lain pihak, perhitungan IRR tidak dipengaruhi oleh tingkat discount rate social, walaupun keputusan “go / no go” untuksuatu proyek tidak mungkin dilakukan tanpa perkiraan tingkat discount rate social tersebut.

Apabila pola pembagian benefit dari berbagai alternative proyek berbeda dari waktu ke waktu maka dapat terjadi cross over discount rate, artinya, pada social opportunity cost factor produksi modal atau discount rate social di bawah tingkat tertentu, NPV atau Net B/C dan IRR memberikan pilihan yang berbeda antara berbagai alternative pelaksanaan suatu proyek atau dalam pengurutan berbagai jenis proyek. Keputusan yang menentukan tentang pilihan proyek tidak dapat dilakukan tanpa asumsi, eksplisit maupun implicit, mengenai tingkat social opportunity cost factor produksi modal yang berlaku sebagai discount rate social.

BAB X. PERKOPERASIAN DI INDONESIA

10.1.  Perkoperasian Indonesia sebagai basis ekonomi kerakyatan
Pada Era Orde Baru, Ekonomi kerakyatan tidak banyak dipergunakan oleh masyarakat. Karena apa? Pemerintah pada saat itu telah memelintirkan Ekonomi Kerakyatan sebagai Paham Komunisme yang patut diwaspadai. Dan masyarakat sendiri hanya bisa menurut dengan kebijakan pemerintah pada saat. Tetapi setelah Reformasi bergulir, pada tahun 1998, maka Masyarakat mulai sadar, bahwasannya Pola Ekonomi yang digulirkan oleh Pemerintahan Orde Baru sangat tidak berpihak kepada kepentingan Rakyat, tetapi hanya berpihak kepada Para Pemodal Besar yang memiliki dasar Ekonomi Kapitalis.

Reformasi 1998 menyadarkan negeri ini bahwa pola ekonomi Orde Baru salah karena tidak berbasis untuk kepentingan rakyat dan berpihak pada kepentingan pemilik modal yang berselingkuh dengan pemerintah. Oleh karena itu, lahirlah gerakan ekonomi kerakyatan yang lahir dari sub Ekonomi Pancasila menekankan pada sila ke-4 yang kenyataannya dilanggar.

Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Nasional Indonesia yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguh pada ekonomi rakyat. Pemihakan dan perlindungan ditujukan pada ekonomi rakyat yang sejak zaman penjajahan sampai hari ini langganan terpinggirkan.

Syarat mutlak berjalannya sistem ekonomi yang adil secara sosial adalah memiliki kedaulatan politik, mampu berdiri sendiri di bidang ekonomi, dan memilki kepribadian secara budaya.

Pembangunan Ekonomi yang didasari prinsip keadilan sosial mencakup: peningkatan partisipasi rakyat dengan otonomi daerah yang penuh dan bertanggung jawab, semangat nasionalisme melakukan perlawanan terhadap bentuk ketidak adilan ekonomi, melakukan pembangunan yang disiplin dan mengedepankan multikultur., menghindari terjadinya disintegrasi, penegakan hak asasi manusia (HAM), reformasi pendidikan dan pengajaran ilmu ekonomi dan sosial baik di sekolah – sekolah dan perguruan tinggi. Prinsip keadilan, merupakan nilai yang mesti menemani berjalannya bangsa ini menuju Indonesia yang sejahtera.

Konsep negara yang demokratis harus terus dipertahankan. Strategi pembangunan ekonomi rakyat adalah strategi menjalankan demokrasi ekonomi yang dijalankan oleh anggota masyarakat. Kesejahteraan rakyat paling diprioritaskan dari pada kesejahteraan Individu. Tidak ada lagi alasan terjadinya kemiskinan di negeri ini seharusnya setiap kebijakan dan program pembangunan memberikan manfaat pada masyarakat yang paling miskin dan paling kurang sejahtera. Jadilah pembangunan generasi masa depan bersama menghasilkan garansi sosial bagi masyarakat yang sangat miskin dan tertinggal.

Salah satunya adalah pembangunan Koperasi yang diolah sendiri oleh masyarakat. Merencanakan dan membangun dengan prinsip membangun tanpa menggusur dan mengembangkan industri kecil. Pada tahun 1908, koperasi digunakan sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat yang seiring dengan berdirinya Budi Utomo. Perjalanan panjang dunia perkoperasian di Indonesia sejak tanggal 12 Juli 1947 merupakan tonggak sejarah dalam membangun dunia perekonomian yang berbasiskan ekonomi kerakyatan. Dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat 1 yang berbunyi perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi yang kegiatannya berdasarkan prinsip – prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Pemerintah Indonesia harus memiliki tekad yang kuat dalam mempertahankan dunia perkoperasian sebagai soko guru perekonomian. Karena koperasi mampu memajukan masyarakat ke depannya. Jika pemerintah kalang kabut dalam menghandle efek – efek dari koperasi, maka dunia perekonomian yang berbasiskan pada ekonomi kerakyatan akan segera hancur.

Koperasi memiliki peran yang strategis dalam membangun perekonomian bangsa. Oleh karena itu, sudah selayaknya dunia perkoperasian harus segera diberikan penyegaran. Globalisasi adalah nafsu serakah dari sebuah sistem Ekonomi kapitalisme – liberal yang tidak boleh dibiarkan dan wajib untuk dilawan dengan kekuatan ekonomi kerakyatan. Masa depan rakyat harus terus diperjuangkan. Perubahan nasib harus dengan usaha. Seluruh elemen negeri harus menyatukan diri dalam satu barisan agar terwujudnya rasa sadar secara menyeluruh untuk terwujudnya keadilan sosial dan kedaulatan rakyat yang sesungguhnya di bidang ekonomi dan politik

10.2.  Koperasi, BUMN, DAN BUMS
a. Pengantar
Kerjasama sangat penting sekali terutama bagi semua sektor usaha, seperti yang diungkapkan oleh Jochen Ropke yaitu, “Setiap pelaku ekonomi manapun dapat mengisi fungsi atau kegiatan koperasi, baik bagi dirinya sendiri (alone) maupun (not alone), yaitu suatu kegiatan khusus yang dikerjakan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi pelaku lainnya”.

Di era globalisasi saat ini juga sangat penting menumbuhkan kerjasama antara Koperasi, BUMN, dan BUMS. Ketiga badan usaha tersebut merupakan sektor utama dalam usaha meningkatkan pembangunan di Indonesia. Selain itu kerjasama tersebut juga digunakan untuk memperkuat peranan masing – masing badan usaha agar tetap eksis dalam kancah perekonomian. Koperasi, BUMN, dan BUMS tidak dapat berkembang sendiri tanpa adanya kerjasama antara berbagai pihak. Kerjasama tersebut bisa pada bidang produksi, distribusi maupun permodalan.

Di era globalisasi ini banyak BUMS yang mendapat modal dari koperasi khususnya Koperasi Perkreditan, contohnya, orang yang ingin membuka sebuah toko maka membutukan modal, modal itu dapat dipinjam melalui Koperasi. Selain itu Koperasi dan BUMS tidak dapat beroperasi secara lancar tanpa adanya BUMN walaupun hal tersebut tidak secara langsung berpengaruh terhadap kinerja Koperasi dan BUMS, misalnya saja dalam hal penyedian listrik. Maka dari itu perlu dikembangkan kerjasama antara koperasi, BUMN, dan BUMS demi kemajuan perekonomian dalam menghadapi era globalisasi.

Kerjasama tersebut selain menguntungkan di pihak negara, badan usaha yang melakukan kerjasama juga dapat mendapat keuntungan dari kerjasama tersebut. Dalam kerjasama antara badan usaha tersebut yang sangat penting adalah menyatukan perbedaan – perbedaan yang ada pada badan usaha tersebut dan hal tersebut merupakan hal yang sangat sulit dikarenakan perbedaan bentuk badan usahanya

b. Aspek Perbedaan dalam Badan Usaha
Di antara badan usaha tersebut terdapat perbedaan dalam banyak aspek. Di bawah ini merupakan delapan dimensi perbedaan dalam tiap badan usaha :

Perbedaan – perbedaan di atas harus disatukan demi terjadinya kerjasama yang harmonis dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Perbedaan tersebut juga dapat digunakan sebagai dasar pembuatan surat perjanjian kerjasama sebagai dasar dalam usaha menjalankan usaha bersama. ( Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002 : 107 )

c. Kerjasama Antara Koperasi, BUMN dan BUMS
Koperasi dapat menjalankan kerjasama dengan pihak diluar koperasi. Tentu saja hal ini harus berdasarkan prinsip usaha yang saling menguntungkan. Kerjasama tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut :

1.  Membentuk wadah baru yang berbadan hukum
Adalah usaha kerjasama kerjasama koperasi bersama BUMN yang berbentuk badan hukum baru yang mempunyai izin usaha. Kerjasama ini banyak dilakukan oleh koperasi – koperasi sekunder misalnya, Koperasi Susu dan Koperasi Pupuk di Gresik, khususnya yaitu, tingkat induk seperti IKPN dan beberapa induk koperasi lain yang dengan mitra usahanya masing-masing membentuk bank dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada anggota-anggotanya khususnya dalam pemberian kredit maupun membantu menunjang kebutuhan hidup para anggotanya.

2.  Tanpa membentuk wadah baru yang berbadan hukum
Biasanya kerjasama ini berbentuk kemitraan usaha. Kemitraan antara koperasi dengan perusahaan-perusahaan besar lebih merupakan tanggung jawab sosial dalam rangka membantu dan membina koperasi. (Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002)Selain itu kerjasama di bidang usaha dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut :

a) Dengan membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.
Kerjasama ini banyak dilakukan oleh koperasi tingkat sekunder seperti yang dilakukan dalam pendirian Bukopin, KAI, KPI, dan lainnya.
b) Dalam bentuk proyek atau kemitraan usaha tanpa membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.
Cara kerjasama seperti itu sudah dilakukan oleh beberapa koperasi tingkat koperasi sekuder. Dalam hal ini biasanya salah satu pihak bertindak sebagai pelaksana sedangkan yang lain bertindak sebagai pengawas. Kerjasama tersebut biasanya dituangkan dalam surat perjanjian kerjasama yang saling mengikat kedua belah pihak dan atas dasar saling menguntungkan (win-win solution). (Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002 : 94-95 )

Pola kerjasama antara pengusaha dan koperasi yang baik sebenarnya harus mengacu kepada pemberian keuntungan kepada kedua belah pihak. Kemitraan strategis seperti itulah yang berpotensi untuk membuat kemitraan yang lebih adil dan stabil.

Selain itu kerjasama tersebut bisa berupa pembagian pangsa pasar demi meningkatkan penguasaan pasar bagi koperasi dan perluasan hasil produksi bagi perusahaan non koperasi, hal ini diwujudkan dengan :

  1. Pemberian akses yang adil bagi koperasi untuk menjadi rekanan pemerintah daerah dalam pemanfaatan APBD.
  2. Pengembangan pemanfaatan fasilitas trading house dan forum pemasaran bersama melalui program kemitraan.
  3. Pemberian kepastian tempat berusaha bagi koperasi.
  4. Pemberian peranan yang lebih luas dalam kegiatan distribusi, grosir dan eceran dalam rangka pemenuhan bahan pokok.
  5. Pengembangan dan penyebaran informasi bisnis dan harga berbagai komoditas.
  6. Pengembangan jaringan pemasaran.
  7. Peningkatan promosi bisnis dan fokus usaha pada komoditas unggulan.

Hal itu merupakan bentuk-bentuk kerjasama antara Koperasi, BUMN, dan BUMS. ( Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto :2002)

d. Keuntungan – Keuntungan dalam Melakukan Kerjasama
Melakukan kerjasama pada dasarnya adalah untuk mencari keuntungan dan untuk memperluas distribusi hasil produksi. Keuntungan-keuntungan tersebut diantaranya :

  1. Meningkatkan kemampuan tawar (Bargaining Power) terhadap pihak ketiga.
  2. Menjamin kontinuitas pemasukan bahan baku.
  3. Biaya dapat ditekan jauh lebih rendah karena dapat berproduksi secara besar-besaran (Economic Of Scale).
  4. 4.    Bila kerjasama dilakukan oleh koperasi tingkat atasnya dan bidang usahanya mengadakan integrasi vertikal maka akan dapat menurunkan biaya transaksi (Transaction Cost).
  5. Bila kerjasama dilakukan secara horizontal maka akan meningkatkan kemampuan bersaing terhadap pihak ketiga. (Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002 )

Selain itu kerjasama juga dapat memberikan pelatihan kewirausahan kepada koperasi sehingga mampu menghadapi tantangan dalam dunia perekonomian di era globalisasi sehingga tujuan utama koperasi sbagai soko guru perekonomian indonesia akan terwujud.

Kerjasama tersebut akan lebih efektif bila semua pihak yang berkepentingan saling mendukung dan saling mengisi satu sama lain dengan kata lain dalam kerjasama tidak akan berbicara banyak dalam dunia usaha di era globalisasi saat ini.

Beberapa jenis koperasi di Amerika Serikat yang telah melebarkan sayapnya untuk dapat melaksanakan kegiatan – kegiatan kerjasama  dengan negara berkembang antara lain :

  1. NRERA ( National Rular Electric Coopertive Assosiation ) atau perhimpunan koperasi listrik pedesaan nasional membangun koperasi listrik pedesaan di beberapa negara berkembang di Amerika Latin dan Asia.
  2. CLUSA ( Cooperative Leages of United States of America ) atau liga koperasi Amerika Serikat yang telah membantu di bidang manajemen untuk kegiatan-kegiatan pertanian di Amerika Latin, Afrika dan Asia.
  3. FCH ( Federation of Cooperatives Housing ) yang telah memberikan bantuan untuk mendirikan perumahan di seluruh dunia. ( Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto :2002)

Nampak bahwa organisasi koperasi di Amerika Serikat ikut serta mengembangkan koperasi di negara berkembang dengan perantara pemerintah dalam hal ini BUMN maupun dengan BUMS.

Koperasi Indonesia juga tidak ikut ketinggalan, banyak koperasi – koperasi di desa – desa mendapat input dari hasil kerja masyarakat sekitar, contohnya adalah, Koperasi susu mendapat input berupa susu segar dari produsen susu di sekitarnya dan nantinya akan diambil perusahaan susu (NESTLE).

e. Hubungan Kerjasama Antara Koperasi, BUMN, dan BUMS
Untuk mengadakan pemisahan tugas dan wewenang antara Koperasi, BUMN, dan BUMS dalam melakukan kerjasama maka harus berpedoman kepada :

  1. Surat perjanjian kerjasama.
  2. Tugas dan wewenang masing-masing badan usaha.
  3. Prinsip kerjasama yang saling menguntungkan.
  4. Peraturan yang dibuat pemerintah.
  5. Asas dan landasan yang telah disepakati.

Hubungan kerjasama tersebut merupakan murni hubungan kerjasama sehingga badan usaha tidak boleh memeriksa badan usaha yang lain di luar hubungan kerja yang telah disepakati dan tanpa persetujuan dari perusahaan yang bersangkutan. Hal ini agar tidak terjadi saling curiga antara badan usaha yang melakukan kerjasama.

f. Kerjasama Antar Koperasi
Dalam bukunya, Arifin Sitio dan Halomoan Tamba mengungkapkan bahwa koperasi – koperasi ada yang mempunyai bidang usaha yang berbeda serta tingkatan yang berbeda. Kerjasama antar koperasi dimaksudkan untuk saling memanfaatkan kelebihan dan menghilangkan kelemahan masing – masing, sehingga hasil akhir dapat dicapai secara optimal. Kerjasama tersebut diharapkan akan saling menunjang pendayagunaan sumberdaya sehingga diperoleh hasil yang lebih optimal.

Kerjasama antar koperasi dapat dilakukan di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Prinsip ini sebenarnya lebih bersifat strategi dalam bisnis. Dalam teori bisnis ada yang dikenal “Synergy Strategy” yang salah satu aplikasinya adalah kerjasama antar dua organisasi atau perusahaan.

g. Kesimpulan
Dalam melakukan kerjasama terdapat  delapan dimensi perbedaan yang harus di satukan demi tercapai kerjasama yang di inginkan, dimensi tersebut adalah :

  1. Pengguna jasa.
  2. Pemilik usaha.
  3. Pemilik hak suara.
  4. Pelaksana voting.
  5. Balas jasa terhadap modal.
  6. Penentuan kebijaksanaan.
  7. Penerima laba.
  8. Yang bertanggung jawab atas kerugian.

Kerjasama tersebut dapat dilakukan dalam bentuk :

  1. Membentuk wadah baru yang berbadan hukum.
  2. Tanpa membentuk wadah baru yang berbadan hukum.
  3. Dengan membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.
  4. Dalam bentuk proyek atau kemitraan usaha tanpa membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.

Keuntungan yang diperoleh dengan kerjasama :

  1. Peningkatan kemampuan tawar.
  2. Menjamin kontinuitas pemasokan bahan baku.
  3. Biaya dapat ditekan jauh lebih rendah.
  4. Dapat menurunkan biaya transaksi.
  5. Meningkatkan kemampuan bersaing.

Hubungan Kerjasama berpedoman pada :

  1. Surat perjanjian Kerjasama.
  2. Tugas dan wewenang masing-masing badan usaha.
  3. Prinsip Kerjasama yang saling menguntungkan.
  4. Peraturan yang dibuat pemerintah.
  5. Asas dan landasan yang telah di sepakati.

BAB XI. PENUTUP
Sebagai penutup diktat kuliah ini, perlu ditegaskan bahwa :

  1. Mata kuliah Kewirausahaan merupakan mata kuliah yang memadukan antara Konsep Hard Skill (Kemampuan Akademis) dan Soft Skill (Kemampuan pengembangan diri), sehingga kedua karakter tersebut harus seiring sejalan untuk menuju kesuksesan wirausaha.
  2. Dalam belajar Kewirausahaan, setiap bab selalu berhubungan satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Pembagian dalam bab-bab diperlukan untuk mempertajam suatu analisis.
  3. Kesempatan bertanya dan berdiskusi kepada pengampu pada setiap acara perlu dimanfaatkan mahasiswa dengan sebesar-besarnya sehingga diperoleh manfaat pendalaman dan pengembangan pengetahuan Kewirausahaan.
  4. Praktek Kewirausahaan perlu dilakukan untuk belajar kemandirian usaha.

Akhir kata, semoga Diktat Kewirausahaan ini bisa menjadi pegangan dan bahan kajian bagi mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri dan para peminat dan pemerhati Kewirausahaan khususnya dibidang pertanian dan peternakan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arifin Sitio, Halomoan Tamba. 2001. Koperasi : Teori dan Praktik. Jakarta : Erlangga
  2. Buchari Alma. (2000). Kewirausahaan. Alfabeta, Bandung.
  3. C.S.T. Kansil, 1984, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, PN Balai Pustaka.
  4. Firdaus, Muhammad,S.P., M.M, Agus Edhi Susanto, S.E. 2002. PERKOPERASIAN: Sejarah, Teori, & Praktek. Jakarta : Ghalia Indonesia.
  5. http://westaction.org/definitions/def_entrepreneurship_1.html yang diakses pada tanggal 13 Januari 2006
  6. H.S.M. Serad, Pola Kemitraan PT. Djarum dengan Petani Tembakau, tanggal 13 September 1997, Makalah yang disampaikan pada Lokakarya Alternatif Kemitraan Usaha Yang Berkesinambungan, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.
  7. John L. Mariotti dalam Muhammad Jafar Hafsah, 1999, Kemitraan Usaha, Pustaka Sinar Harapan Jakarta.
  8. Julius Bobo, 2003, Transformasi Ekonomi Rakyat, PT. Pustaka Cidesindo, Jakarta.
  9. Kasmir, 2007, Kewirausahaan, PT RajaGrafindo Perkasa, Jakarta
  10. Keint L Fletcher, 1987, The Law of Partnership, The Law Book Company Limited, Syidney.
  11. Lihat Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil
  12. Masykur Wiratmo, 1994, Kewirausahaan: Seri diktat kuliah, Gunadarma, Jakarta.
  13. Mas’ud & Mahmud Machfoedz, 2004, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
  14. Muhammad Jafar Hafsah, 1999, Kemitraan Usaha, Pustaka Sinar Harapan , Jakarta.
  15. Munir Fuady, 1997, Pembiayaan Perusahaan Masa Kini (Tinjauan Hukum Bisnis), PT. Citra Aditya Bakti.
  16. Mubyarto, 1997, Ekonomi Rakyat Program IDT dan Demokrasi Ekonomi Indonesia, Aditya Media, Jogyakarta.
  17. Martin Carnoy dan Derek Shearer, 1980, Economic Democracy, Sharpe Inc.
  18. Mar’at. (1997). Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Ghalia Indonesia.
  19. Margono Slamet. (2003). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. IPB PRESS. Bogor.
  20. Prof. Dr. Jochen Röpke diterjemahkan oleh Hj. Sri Djatnika S. Ariffin, S.E., M.Si. 2000. EKONOMI KOPERASI : Teori dan Manajemen. Jakarta : Salemba Empat.
  21. Ronny Hanitijo Soemitro, 1988, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimerti, Ghalia, Jakarta.
  22. Soeparman Soemahamidjaja. (1997). Membina Sikap Mental Wirausaha. Gunung Jati. Jakarta
  23. Sedarmayanti, Prof.  Dr. MPd, APU (2007) Good Governance dan Good Coorparate Governace, Mandar Maju Bandung
  24. Soesarsono, 2002, Pengantar Kewirausahaan, Buku I, Jurusan Teknologi Industri IPB, Bogor
  25. Soewito, Pengembangan Industri Kecil, Suara Merdeka 12 Desember 1992
  26. Suryana, 2001, Kewirausahaan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
  27. Soetandyo dalam Bambang Sunggono, 2002, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
  28. Triton PB., 2007, Entrepreneurship : Kiat Sukses Menjadi Pengusaha, Tugu Publisher, Yogyakarta.
  29. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1991, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
  30. Utrecht dalam Kansil, 1983, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta.
  31. Winardi, 2003, Entrepreneur & Entrepreneurship, Kencana, Jakarta
  32. Yose Rizal Sidi Marajo. (1981). Sikap dan Mental Wiraswasta. Indah Surabaya
  33. Bahan lain dari Internet.

Tambahan : Tentang Hubungan Kewirausahaan dengan Lingkungan dan adanya Wirausahawan Baru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





Diktat Kewirausahaan-3

23 07 2012

BAB V.  FUNGSI  DAN  MODEL  PERAN WIRAUSAHA

5.1. Model Peran Wirausaha
Roopke, 1995, mengelompokkan kewirausahaan berdasarkan perannya, yaitu :

1. Kewirausahaan rutin
Wirausaha yang dalam melakukan kegiatan sehari-harinya cenderung menekankan pada pemecahan masalah dan perbaikan standar prestasi tradisional. Menghasilkan barang, pasar, dan teknologi. Dibayar dalam bentuk gaji
2. Kewirausahaan arbitrase
Wirausaha yang selalu mencari peluang melalui kegiatan penemuan (pengetahuan) dan pemanfaatan (pembukaan). Kegiatan ini tidak perlu melibatkan pembuatan barang dan tidak perlu menyerap dana pribadi
3. Wirausaha inovatif
Wirausaha yang menghasilkan ide-ide dan kreasi baru yang berbeda

Pengelompokkan kewirausahaan berdasarkan intensitas pekerjaan dan status (Zimerer, 1996):
1. Part time Entreprenuer
Wirausaha yang melakukan usahanya hanya sebagian waktu saja dan mengerjakannya sebagai hobi
2. Home-base New Ventures
Usaha yang dirintis dari rumah/tempat tinggalnya
3. Family Own Business
Usaha yang dilakukan/dimiliki oleh beberapa anggota keluarga secara turun-temurun
4. Copreneurs
Usaha yang dijalankan oleh dua orang wirausaha yang bekerja sama sebagai pemilik dan menjalankan usahanya bersama-sama

5.2. Fungsi Makro dan Mikro Usaha
a. Fungsi Makro
Wirausaha berperan sebagai penggerak, pengendali, dan pemacu perekonomian suatu bangsa.

Hasil-hasil dari penemuan ilmiah, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kreasi-kreasi baru dalam produk barang dan jasa-jasa yang berskala global, hal ini merupakan proses dinamis wirausaha yang kreatif. Bahkan wirausahalah yang berhasil menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

J.B Say berpendapat bahwa wirausahawan adalah orang yang menggeser sumber-sumber ekonomi dari produktivitas terendah menjadi produktivitas tertinggi, menurutnya wirausahawanlah yang menghasilkan perubahan. Perubahan itu tidak dilakukan dengan mengerjakan sesuatu yang lebih baik tetapi dengan melakukan sesuatu yang berbeda

Secara kualitatif fungsi makro ini diperankan oleh usaha kecil. Berikut adalah peranannya dalam perekonomian nasional:

  1. Usaha kecil memperkokoh perekonomian nasional yang berperan sebagai fungsi pemasok, fungsi produksi, fungsi penyalur, dan pemasar bagi hasil produk-produk industri besar
  2. Usaha kecil dapat meningkatkan efisiensi ekonomi khususnya dalam menyerap sumber daya yang ada
  3. Usaha kecil yang dipandang sebagai sarana pendistribusian pendapatan nasional, alat pemerataan dalam berusaha dan pemerataan dalam pendapatan

b. Fungsi Mikro
Peran wirausaha adalah penanggung resiko dan ketidakpastian, mengkombinasikan sumber-sumber ke dalam cara yang baru dan berbeda untuk menciptakan nilai tambah dan usaha-usaha baru.

Menurut Marzuki Usman (1997), secara umum wirausaha adalah menciptakan nilai barang dan jasa dipasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru yang berbeda untuk dapat bersaing. Nilai tambah tersebut diciptakan melalui:

  • Pengembangan teknologi baru
  • Penemuan pengetahuan baru
  • Perbaikan produk dan jasa yang ada
  • Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah yang lebih banyak dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit

Selain entreprenuer, istilah lain yang juga dikenal adalah konsep intraprenuer dan benchmarking:

  • Intraprenuer, ialah wirausaha yang menggunakan temuan orang lain pada unit usahanya. Fungsinya adalah imitating technology dan duplicating product
  • Benchmarking adalah meniru dan mengembangkan produk baru melalui perkembangan teknologi

Selama ini orang lebih sering membicarakan dan mengadakan pelatihan seputar Entrepreneur. Pelatihan entrepreneur juga lebih berorientasi personal, mendorong seseorang untuk mulai berani mengambil resiko usaha mandiri, karena memang secara terminologi entrepreneur bermakna demikian :a person who sets up a business or businesses, taking on greater than normal financial risks in order to do so. Ada satu hal yang sebenarnya jauh lebih kuat dan efektif jika dipupuk terus-menerus dalam sebuah organisasi, entah itu organisasi laba maupun nirlaba, yakni Budaya Intrapreneurial.

Hermawan Kartajaya menjelaskan tentang Intrapreneurial Culture ini sebagai berikut : Organisasi yang dibangun harus bisa menciptakan iklim yang memungkinkan tumbuh suburnya internal entrepreneur (intrapreneur). Di dalam organisasi semacam ini, manajemen harus mendorong dan mengembangkan inisiatif individu, intuitive thinking, take risk mentality, dan ide-ide orisinil yang kontroversial. Orang-orang di dalam organisasi harus juga selalu berpikir untuk merealisasikan setiap ide yang muncul mencapai tahap komersialisasi. Jadi perbedaan mendasar Entrepreneur dan Intrapreneur adalah dari sisi “kelompok” (team).

Karena pengertian organisasi sangatlah luas, maka intrapreneur sesungguhnya bisa dikembangkan secara fleksibel di berbagai tingkatan, mulai dari keluarga, RT, hingga perusahaan besar. Walaupun dilakukan ”berkelompok”, bukan berarti intrapreneur lebih mudah daripada ”wirausaha mandiri”. Perpaduan antara kepemimpinan (leadership) dan manajemen akan menentukan keberhasilan organisasi dalam mewujudkan hal ini.

Untuk menuju sebuah organisasi intrapreneur yang mapan, harus ada pula budaya pembelajaran di organisasi yang dikembangkan bersama-sama pemimpin dan pasukannya. Sehingga langkah pertama membangun sebuah organisasi intrapreneur dapat disimpulkan kemudian adalah membentuk terlebih dahulu sebuah “learning organization”.Dalam sebuah learning organization, amanah terbesar di setiap personalnya adalah mengembangkan kemampuan masing-masing di bidang yang telah diberikan dalam bentuk job description di struktur organisasi. Pemilihan orang yang tepat di posisi yang tepat pada saat awal pembentukan organisasi juga diperlukan, tidak asal menempatkan orang sesukanya di posisi-posisi strategis. Tidak hanya orang yang tepat, tapi juga orang yang memiliki semangat pengembangan diri (self development). Jika alur ini dari awal diperhatikan dengan baik, maka budaya intrapreneur akan terbentuk dengan sendirinya di organisasi tersebut.

Wirausaha adalah perintis dan pengembang perusahaan yang berani mengambil resiko dalam menghadapi ketidakpastian dengan cara mengelola sumber daya manusia, material, dan keuangan untuk mencapai tingkat keberhasilan tertentu yang diinginkan. Salah satu kunci keberhasilan adalah memiliki tujuan dan visi untuk mencapainya (Steinhoff dan Burges, 1993).

5.3. Tantangan Kewirausahaan dalam Konteks Global
Negara-negara yang unggul dalam sumber dayanya akan memenangkan persaingan, sebaliknya negara-negara yang tidak memiliki keunggulan bersaing dalam sumber daya akan kalah dalam persaingan. Negara-negara yang memiliki keunggulan bersaing adalah negara-negara yang mampu memberdayakan sumber daya manusianya secara nyata.

Demikian juga pertumbuhan penduduk dunia yang semakin cepat disertai persaingan yang tinggi akan menimbulkan berbagai angkatan kerja yang kompetitif dan akan menimbulkan pengangguran bagi sumber daya manusia yang tidak memiliki keunggulan daya saing yang kuat

BAB VI.  MERINTIS USAHA BARU DAN MODEL PENGEMBANGANNYA
6.1.  Cara memasuki dunia Usaha
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha:
1. Merintis usaha baru (starting)

  • Perusahaan milik sendiri (sole proprietorship), bentuk usaha yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh seseorang.
  • Persekutuan (partnership), suatu kerjasama (aosiasi) dua orang atau lebih yang secara bersama-sama menjalankan usaha bersama.
  • Perusahaan berbadan hukum (corporation), perusahaan yang didirikan atas dasar badan hukum dengan modal saham-saham.

2. Dengan membeli perusahaan orang lain (buying)
3. Kerjasama manajemen (franchising)

A.   Merintis Usaha Baru
Wirausaha adalah seseorang yang mengorganisir, mengelola, dan memiliki keberanian menghadapi resiko. Sebagai pengelola dan pemilik usaha (business owner manager) atau pelaksana usaha kecil (small business operator), ia harus memiliki:

  • Kecakapan untuk bekerja
  • Kemampuan mengorganisir
  • Kreatif
  • Lebih menyukai tantangan

Menurut hasil survei Peggy Lambing: Sekitar 43% responden (wirausaha) mendapatkan ide bisnis dari pengalaman yang diperoleh ketika bekerja di beberapa perusahaan atau tempat-tempat profesional lainnya, Sebanyak 15% responden telah mencoba dan mereka merasa mampu mengerjakannya dengan lebih baik dan Sebanyak 11% dari wirausaha yang disurvei memulai usaha untuk memenuhi peluang pasar, sedangkan 46% lagi karena hobi.

Menurut Lambing ada dua pendekatan utama yang digunakan wirausaha untuk mencari peluang dengan mendirikan usaha baru:

  1. Pendekatan ”in-side out” atau ”idea generation” yaitu pendekatan berdasarkan gagasan sebagai kunci yang menentukan keberhasilan usaha.
  2. Pendekatan ”the out-side in” atau “opportunity recognition” yaitu pendekatan yang menekankan pada basis ide merespon kebutuhan pasar sebagai kunci keberhasilan.

Berdasarkan pendekatan ”in-side out”, untuk memulai usaha, seseorang calon wirausaha harus memiliki kompetensi usaha. Menurut Norman Scarborough, kompetensi usaha yang diperlukan meliputi:

a. Kemampuan teknik                         c.  Kemampuan finansial
b. Kemampuan pemasaran               d.  Kemampuan hubungan

Dalam merintis usaha baru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Bidang dan jenis usaha yang dimasuki.
Beberapa bidang usaha yang bisa dimasuki, diantaranya:

  • Bidang usaha pertanian (pertanian, kehutanan, perikanan, dan perkebunan).
  • Bidang usaha pertambangan (galian pasir, galian tanah, batu, dan bata).
  • Bidang usaha pabrikasi (industri perakitan, sintesis).
  • Bidang usaha konstruksi (konstruksi bangunan, jembatan, pengairan, jalan raya).
  • Bidang usaha perdangan (retailer, grosir, agen, dan ekspor-impor).
  • Bidang jasa keuangan (perbankan, asuransi, dan koperasi).
  • Bidang jasa perseorangan (potong rambut, salon, laundry, dan catering).
  • Bidang usaha jasa-2 umum (pengangkutan, pergudangan, wartel, dan distribusi).
  • Bidang usaha jasa wisata (usaha jasa parawisata, pengusahaan objek dan daya tarik wisata dan usaha sarana wisata).

2. Bentuk usaha dan kepemilikan yang akan dipilih
Ada beberapa kepemilikan usaha yang dapat dipilih, diantaranya perusahaan perseorangan, persekutuan (dua macam anggota sekutu umum dan sekutu terbatas), perseroan, dan firma.

3. Tempat usaha yang akan dipilih
Dalam menentukan tempat usaha ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, diantaranya:

  • Apakah tempat usaha tersebut mudah dijangkau oleh konsumen atau pelanggan maupun pasar?
  • Apakah tempat usaha dekat dengan sumber tenaga kerja?
  • Apakah dekat ke akses bahan baku dan bahan penolong lainnya seperti alat pengangkut dan jalan raya

4. Organisasi usaha yang akan digunakan.
Kompleksitas organisasi usaha tergantung pada lingkup atau cakupan usaha dan skala usaha. Fungsi kewirausahaan dasarnya adalah kreativitas dan inovasi, sedangkan manajerial dasarnya adalah fungsi-fungsi manajemen. Semakin kecil perusahaan maka semakin besar fungsi kewirausahaan, tetapi semakin kecil fungsi manajerial yang dimilikinya.

5. Lingkungan usaha
Lingkungan usaha dapat menjadi pendorong maupun penghambat jalannya perusahaan. Lingkungan yang dapat mempengaruhi jalannya usaha/perusahaan adalah lingkungan mikro dan lingkungan makro.

Lingkungan mikro adalah lingkungan yang ada kaitan langsung dengan operasional perusahaan, seperti pemasok, karyawan, pemegang saham, majikan, manajer, direksi, distributor, pelanggan/konsumen, dan lainnya.

Lingkungan makro adalah lingkungan diluar perusahaan yang dapat mempengaruhi daya hidup perusahaan secara keseluruhan, meliputi lingkungan ekonomi, lingkungan teknologi, lingkungan sosial, lingkungan sosiopolitik, lingkungan demografi dan gaya hidup.

B. Membeli Perusahaan yang sudah didirikan
Banyak alasan mengapa seseorang memilih membeli perusahaan yang sudah ada daripada mendirikan atau merintis usaha baru, antara lain:

  • Resiko lebih rendah
  • Lebih mudah
  • Memiliki peluang untuk membeli dengan harga yang dapat ditawar

Membeli perusahaan yang sudah ada juga mengandung permasalahan, yaitu:

  1. Masalah eksternal, yaitu lingkungan misalnya banyaknya pesaing dan ukuran peluang pasar
  2. Masalah internal, yaitu masalah-masalah yang ada dalam perusahaan, misalnya image atau reputasi perusahaan.

C. Franchising (Kerjasama Manajemen/Waralaba)
Franchising adalah kerjasama manajemen untuk menjalankan perusahaan cabang/penyalur. Inti dari Franchising adalah memberi hak monopoli untuk menyelenggarakan usaha dari perusahaan induk. Franchisor adalah (perusahaan induk) adalah perusahaan yang memberi lisensi, sedangkan franchise adalah perusahaan pemberi lisensi (penyalur atau dealer).

6.2.  Profil Usaha Kecil Dan Model Pengembangannya
Sampai saat ini batasan usaha kecil masih berbeda-beda tergantung pada fokus permasalahan masing-masing.

1. Menurut UU no.9/1995 Pasal 5 tentang usaha kecil, menyebutkan :

  • Menurut BPS (1988) usaha kecil memiliki tenaga kerja 5 s/d 19 orang yang termasuk pekerja kasar, pekerja pemilik dan pekerja keluarga. Perusahaan yang memiliki tenaga kerja kurang dari 5 orang diklasifikasikan sebagai industri rumah tangga.
  • Menurut Stanley dan Morse industri yang menyerap tenaga kerja 1-9 orang termasuk industri kerajinan rumah tangga, Industri kecil menyerap tenaga kerja 10-49 orang, industri sedang menyerap 50–99 orang dan industri besar menyerap tenaga kerja 100 orang atau lebih

2. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- tidak termasuk tanah dan tempat usaha, atau
3. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.1.000.000.000,-

Sedangkan menurut Komisi Perkembangan Ekonomi mengemukakan kriteria usaha kecil sebagai berikut :

  1. Manajemen berdiri sendiri, manajer adalah pemilik
  2. Modal disediakan oleh pemilik
  3. Daerah operasi bersifat lokal
  4. Ukuran dalam keseluruhan relatif kecil.

Selain memiliki ciri-ciri diatas usaha kecil memiliki kekuatan dan kelemahan.

a. Kekuatan usaha kecil adalah :

  • memiliki kebebasan untuk bertindak
  • Fleksibel
  • Tidak mudah goncang

b. Kelemahan Usaha Kecil

  • aspek kelemahan struktural adalah kelemahan usaha kecil dalam manajemen, organisasi, teknologi, sumber daya dan pasar.
  • Kelemahan kultural adalah kelemahan dalam budaya perusahaan yang kurang menceminkan perusahaan sebagai Corporate culture. Kelemahan kultural mengakibatkan kelemahan struktural.Kelemahan kultural mengakibatkan kurangnya akses informasi dan lemahnya berbagai persyaratan lain guna memperoleh akses permodalan, pemasaran dan bahan baku.

6.3.  Pengelolaan Usaha dan Strategi Kewirausahaan
Perencanaan Usaha adalah suatu cetak biru tertulis (blue print) yang berisikan tentang misi usaha, usulan usaha, operasional usaha, rincian financial, strategi usaha, peluang pasar yang mungkin diperoleh, dab kemampuan serta keterampilan pengelolaannya. Perencanaan usaha mempunyai dua fungsi penting, yaitu :

  1. Sebagai pedoman untuk mencapai keberhasilan manajemen usaha, dan
  2. Sebagai alat untuk mengajukan kebutuhan permodalan yang bersumber dari luar.

Dalam Perencanaan bisnis umumnya memuat sejumlah topic, yang meliputi : Ringkasan eksekutif, Pernyataan misi, Lingkungan Usaha, Perencanaan pemasaran, Tim Manajemen, Data financial, Aspek-aspek legal, Jaminan Asuransi, Orang-orang penting, Pemasok dan Risiko.

Pada Pengelolaan Usaha, umumnya menyangkut beberapa pengelolaan, yaitu :

A. PENGELOLAAN KEUANGAN
Tiga aspek yang harus diperhatikan dalam pengelolaan keuangan :

  1. Aspek sumber dana
  2. Aspek rencana & penggunaan dana
  3. Aspek pengawasan atau pengendalian keuangan.

Sumber-sumber keuangan perusahaan :

  1. Dana yang berasal dari perusahaan (pembelanjaan internal)
  2. Penggunaan dana perusahaan
  3. Penggunaan cadangan
  4. Penggunaan laba yang tidak dibagi
  5. Dana yang berasal dari luar perusahaan (pembelanjaan eksternal)
  6. Dana dari pemilik atau penyertaan.
  7. Dana yang berasal dari pinjaman, baik jangka panjang atau jangka pendek.
  8. Dana bantuan program pemerintah dari pusat dan daerah.
  9. Dana dari teman atau keluarga yang menanamkan modalnya.
  10. Dana ventura (investasi dana dari perusahaan besar)

Perencanaan Keuangan & Penggunaan dana, hal-hal yang harus diperhatikan :
1. Biaya awal, adalah biaya yang diperlukan ketika perusahaan akan berdiri.
2. Proyeksi atau rancangan keuangan meliputi :

  • Neraca harian
  • Laporan laba rugi
  • Laporan arus kas
  • Analisa pulang pokok

B. TEKNIK & STRATEGI PEMASARAN
Pemasaran yaitu kegiatan meneliti kebutuhan & keinginan konsumen (probe/search), menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen(product), menentukan tingkat harga (price), mempromosikannya agar produk dikenal konsumen (promotion), dan mendistribusikan produk ke tempat konsumen (place). Tujuan pemasaran adalah bagaimana barang & jasa yang dihasilkan disukai, dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen.

Perencanaan Pemasaran meliputi beberapa langkah, yaitu ;
1. Menentukan kebutuhan & keinginan pelanggan ( dengan melakukan riset pasar).
2. Memilih pasar sasaran khusus. Ada 3 jenis pasar sasaran khusus :

  • Pasar individual
  • Pasar khusus

Segmentasi pasarMenempatkan strategi pemasaran dalam persaingan.
Ada enam strategi pemenuhan permintaan dari lingkungan (juga masuk dlm strategi dari bauran pemasaran):

  1. Berorientasi pada pelanggan.
  2. Kualitas
  3. Kenyamanan
  4. Inovasi
  5. Kecepatan ( penempatan produk & respon keinginan consumer)
  6. Pelayanan & kepuasan pelanggan

C. PRODUK
Produk memiliki siklus hidup yang terdiri dari tahap pengembangan, pengenalan, pertumbuhan, penjualan, kematangan, kejenuhan dan penurunan.

D. HARGA
Factor-faktor yang harus dipertimbangkan antara lain ;

  1. Biaya barang dan jasa
  2. Permintaan & penawaran pasar
  3. Antisipasi volume pasar
  4. Harga pesaing
  5. Kondisi keuangan
  6. Lokasi usaha
  7. Fluktuasi musiman
  8. Faktor psikologis pelanggan
  9. Bunga kredit dan bentuk kredit
  10. Sensitivitas harga pelanggan (elastisitas permintaan)

E. STRATEGI PEMASARAN (BAGI USAHA BARU)

  1. Penetrasi pasar, dengan memperbesar volume penjualan dan periklanan
  2. Pengembangan pasar, peningkatan penjualan dengan pengenalan produk pada pasar baru.
  3. Pengembangan produk, modifikasi produk yang sudah ada untuk meningkatkan penjualan.
  4. Segmentasi pasar, pemasaran produk berdasarkan segmennya.

F. TEKNIK PENENTUAN HARGA

1. Produk baru, bertujuan untuk :

  1. Menghasilkan produk yang dapat diterima oleh konsumen potensial, tidak peduli berapa banyaknya.
  2. Memelihara pangsa pasar sebagai akibat tumbuhnya persaingan.
  3. Memperoleh laba.

2. Untuk barang konsumsi :

  1. Harga dibawah pasar untuk produk yang sama
  2. Harga di atas harga pasar
  3. Harga sama dengan harga pasar.

3. Untuk barang industri:

  1. Strategi Cost-Plus Pricing. Dengan menambahkan margin laba terhadap biaya-biaya langsung.
  2. Biaya langsung & formulasi harga. Tidak termasuk biaya overhead pabrik
  3. Penentuan Harga jual model pulang pokok. Dengan menghitung besar persentasi tertentu dari total penjualan yang digunakan untuk biaya variable.

4. Untuk jasa
Menentukan harga berdasarkan material yang digunakan untuk menyediakan jasa, tenaga kerja dan untuk memperoleh laba.

G. PROMOSI
Promosi bertujuan :

  1. Menginformasikan barang/jasa yang dihasilkan pada konsumen
  2. Membujuk konsumen agar mau membeli barang/ jasa yang dihasilkan.
  3. Mempengaruhi konsumen agar tertarik terhadap barang/ jasa yang kita hasilkan.

Beberapa jenis promosi ;

  1. Iklan (media cetak & elektronik)
  2. Promosi penjualan (pameran)
  3. Wiraniaga (dengan produk sampel ke konsumen)
  4. Pemasaran langsung (langsung menghubungi konsumen)
  5. Humas ( mempublikasikan barang melalui pamflet dsb)

H.  KIAT PEMASARAN USAHA BARU

  1. Peluang Pasar
  2. Barang dan jasa apa yang paling dibutuhkan konsumen?
  3. Berapa banyak yang mereka butuhkan?
  4. Kualitas mana yang paling tepat?
  5. Berapa banyaknya?
  6. Tempat yang tepat
  7. Banyak barang yang dibutuhkan
  8. Target yang hendak dicapai

I. TEKNIK PENGEMBANGAN USAHA
1. Pengembangan skala ekonomis
Dengan menambah skala produksi, tenaga kerja, teknologi, system distribusi, dan tempat usaha.
2. Perluasan Cakupan Usaha
Dengan menambah jenis usaha baru, produk dan jasa baru yang sekarang diproduksi (diversifikasi), serta teknologi yang berbeda.

6.4. Manajemen Dan Strategi Kewirausahaan
Manajemen kewirausahaan semua kekuatan perusahaan yang menjamin bahwa usahanya betul-betul eksis.
Strategi kewirausahaan Kesesuaian kemampuan internal dan aktivitas perusahaan dengan lingkungan eksternal.
Strategi kewirausahaan, meliputi beberapa keputusan strategis, yaitu :

  1. Perubahan produk barang dan jasa.
  2. Strategi menyangkut penetrasi pasar, ekspansi pasar, diversifikasi produk dan jasa, integrasi regional, atau ekspansi usaha.
  3. Kemampuan untuk memperoleh modal investasi .
  4. Analisa sumber daya manusia.
  5. Analisa pesaing untuk memantapkan strategi bersaing.
  6. Kemampuan menopang keunggulan strategi perusahaan dan modifikasi strategi.
  7. Penentuan harga barang atau jasa, untuk jangka pendek dan jangka panjang.
  8. Interaksi perusahaan dengan masyarakat luas.
  9. Pengaruh pertumbuhan perusahaan yang cepat terhadap aliran kas.

Wirausaha yang berfungsi sebagai manajer perusahaan, harus memiliki kompetensi yaitu :

  1. Berfokus pada pasar bukan pada teknologi.
  2. Meramal pendanaan untuk menghindari tidak terdanainya perusahaan.
  3. Mambangun tim manajemen.
  4. Memberikan peran khusus bagi penemu.

6.5.    Strategi Bersaing dalam Kewirausahaan
A. Pendahuluan
Tidak dapat disangkal lagi bahwa kesinambungan hidup perusahaan sangat bergantung pada ketahanan wirausaha dalam meraih keunggulan dalam bersaing melalui strategi yang dimilikinya. Strategi perusahaan adalah cara-cara perusahaan menciptakan nilai melalui konfigurasi dan koordinasi aktivitas multipemasaran. Teori ekonomi mikro dari mazhab Austria, dikemukakan bahwa perusahaan bisa memperoleh keuntungan apabila memiliki keunggulan yang unik untuk menghindari persaingan sempurna.

Dalam mata kuliah kewirausahaan, mahasiwa dituntut untuk mengerti dan memahami perkembangan stategi kewirausahaan dalam konteks persaingan. Mahasiswa juga dituntut untuk bisa menjelaskan strategi generik dan keunggulan bersaing dalam kewirausahaan dan juga bisa menjelaskan konsep 7’-S” dalam memasuki persaingan. Semua ini dimaksudkan apabila mahasiswa telah mempunyai suatu bidang usaha, mereka mampu mengembangkan dan mempertahankan usaha mereka tersebut.

B. Kompetensi Inti Kewirausahaan
Dalam manajemen perusahaan modern seperti sekarang ini telah terjadi pergeseran strategi, yaitu dari strategi memaksimalkan keuntungan pemegang saham (mencari laba perusahaan) menjadi memaksimalkan keuntungan bagi semua yang berkepentingan dalam perusahaan (stakeholder), yaitu individu atau kelompok yang memiliki kepentingan dalam kegiatan perusahaan, tidak hanya pemegang saham, namun juga karyawan, manajemen, pembeli, masyarakat, pemasok, distributor, dan pemerintah. Akan tetapi, konsep laba tidak bisa dikesampingkan dan merupakan alat yang penting bagi perusahaan untuk menciptakan manfaat bagi para pemilik kepentingan.

Menurut teori strategi dinamis dari Porter (1991), perusahaan dapat mencapai keberhasilan bila tiga kondisi dipenuhi, yaitu:

  1. Pertama, tujuan perusahaan dan kebijakan fungsi-fungsi manajemen (seperti produksi dan pemasaran) harus secara kolektif memperlihatkan posisi terkuat dipasar.
  2. Kedua, tujuan dan kebijakan tersebut ditumbuhkan berdasarkan kekuatan perusahaan serta diperbarui terus (dinamis) sesuai dengan perubahan peluang dan ancaman lingkungan eksternal.
  3. Ketiga, perusahaan harus memiliki dan menggali kompetensi khusus sebagai pendorong untuk menjalankan perusahaan.

Dalam menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan krisis eksternal, perusahaan kecil dapat menerapkan teori “strategi berbasis sumber daya” (resources-based strategy). Teori ini dinilai potensial untuk memelihara keberhasilan perusahaan ketika berada dalam situasi eksternal yang bergejolak. Menurut teori ini, perusahaan dapat meraih keuntungan melalui penggunaan sumber daya yang lebih baik, yaitu dengan:

  1. Pola organisasi dan administrasi yang baik.
  2. Perpaduan asset fisik berwujud seperti sumber daya manusia dan alam, serta asset tidak berwujud seperti kebiasaan berfikir kreatif dan keterampilan manajerial.
  3. Budidaya perusahaan.
  4. Proses kerja dan penyesuaian yang cepat atas tuntutan baru.

C. Strategi Bersaing dalam Kewirausahaan
Dalam konsep strategi pemasaran terdapat istilah bauran pemasaran (marketing mix) yang dikenal dengan 4P. Dalam kewirausahaan, 4P tersebut ditambahkan satu P, yaitu probe (penelitian dan pengembangan) sehingga menjadi 5P. Probe selalu ditambahkan diawal sehingga urutan bauran pemasaran menjadi:

  1. Probe (penelitian dan pengembangan)
  2. Product (barang dan jasa)
  3. Price (harga)
  4. Place (tempat)
  5. Promotion (promosi)

Dalam manajemen strategis yang baru, Mintzberg mengemukakan 5P yang sama artinya dengan strategi, yaitu perencanaan (plan), pola (patern), posisi (position), perspektif (perspective), dan permainan atau taktik (plan).

D. Teori StrategiGenerik dan Keunggulan Bersaing
Dalam karyanya yang paling terkenal Competitive Strategy, Michael P. Porter (1997 dan 1998 mengungkapkan beberapa strategi yang dapat digunakan perusahaan untuk dapat bersaing. Beberapa aspek inti dari teori Porter tersebut adalah:

1. Persaingan merupakan inti keberhasilan dan kegagalan.
2. Keunggulan bersaing berkembang dari nilai yang mampu diciptakan oleh perusahaan bagi langganan atau pembeli.
3. Ada dua jenis dasar keunggulan bersaing, yaitu biaya rendah dan diferensiasi.
4. Kedua jenis dasar keunggulan bersaing diatas menghasilkan tiga strategi generic (Porter,1997)

a. Biaya Rendah.
Strategi ini mengandalkan keunggulan biaya yang relative rendah daam menghasilkan barang dan jasa. Keunggulan biaya berasal dari:

  • Pengerjaan berskala ekonomi
  • Teknologi milik sendiri
  • Akses prefensi ke bahan baku

b. Diferensiasi.
Strategi ini berasal dari kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa yang unik dalam industrinya dan dalam semua dimensi umum yang dihargai oleh konsumen. Diferensiasi dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, antara lain:

  • Diferensiasi produk
  • Diferensiasi system penyerahan / penyampaian produk
  • Diferensiasi dalam pendekatan pemasaran
  • Diferensiasi dalam peralatan dan konstruksi
  • Diferensiasi dalam citra produk

c. Focus.
Strategi focus berusaha mencari keunggulan dalam segmen sasarab pasar tertentu meskipun tidak memiliki keunggulan bersaing secara keseluruhan.
Terdapat dua focus, yaitu:

  • Focus biaya, dilakukan dengan mengusahakan keunggulan biaya dalam segmen sasarannya
  • Focus diferensiasi, dilakukan dengan mengusahakan diferensiasi dalam segmen sasarannya, yaitu pembeli dengan pelayanan yang baik dan berbeda dengan yang lain

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa strategi generic pada dasarnya merupakan pendekatan yang berbeda untuk menciptakan keunggulan. Melalui keunggulan bersaing, perusahaan dapat memiliki kinerja diatas rata-rata perusahaan lain. Keunggulan bersaing merupakan kinerja perusahaan yang dapat tampil diatas rata-rata.

E. Strategi The New 7-S’s (D’Aveni)
Konsep “The New 7-S’s” atau 7 kunci keberhasilan perusahaan dalam lingkungan persaingan yang sangat dinamis ini meliputi pokok-pokok dasar sebagai berikut:

  1. Superior stakeholder satisfaction. Strategi yang pertama dari The New 7-S’s ini bertujuan memberikan kepuasan jauh di atas rata-rata kepada orang-orang yang berkepentingan terhadap perusahaan, tidak hanya pemegang saham, namun juga pemasok, karyawan, manajer, konsumen, pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.
  2. Soothsaying. Strategi yang kedua ini berfokus kepada sasaran, artinya perusahaan harus mencari posisi yang tepat bagi produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan.
  3. Positioning for speed. Strategi ketiga adalah strategi dalam memosisikan perusahaan secara cepat di pasar.
  4. Positioning for surprise. Strategi keempat adalah membuat posisi yang mencengangkan melalui barang dan jasa baru yang lebih unik dan berbeda serta memberikan nilai tambah baru sehingga konsumen lebih menyukai barang dan jasa yang diciptakan perusahaan.
  5. Shifting the role of the game. Strategi kelima adalah mengubah pola-pola persaingan perusahaan yang dimainkan sehingga pesaing terganggu dengan pola-pola baru yang berbeda.
  6. Signalling strategic intent. Strategi keenam adalah mengutamakan perasaan. Kedekatan dengan karyawan, relasi, dan konsumen merupakan strategi yang ampuh untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
  7. Simultaneous and sequential strategic thrusts. Strategi ketujuh adalah menegmbangkan factor-faktor pendorong atau penggerak strategi secara simultan san berurutan memlalui penciptaan barang dan jasa yang selalu memberi kepuasaan kepada konsumen.

6.6. Kemitraan Usaha
Dalam menghadapi persaingan di abad ke-21, UKM dituntut untuk melakukan restrukturisasi dan reorganisasi dengan tujuan untuk memenuhi permintaan konsumen yang makin spesifik, berubah dengan cepat, produk berkualitas tinggi, dan harga yang murah . Salah satu upaya yang dapat dilakukan UKM adalah melalui hubungan kerjasama dengan Usaha Besar (UB). Kesadaran akan kerjasama ini telah melahirkan konsep supply chain management (SCM) pada tahun 1990-an. Supply chain pada dasarnya merupakan jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Pentingnya persahabatan, kesetiaan, dan rasa saling percaya antara industri yang satu dengan lainnya untuk menciptakan ruang pasar tanpa pesaing, yang kemudian memunculkan konsep blue ocean strategy.

Kerjasama antara perusahaan di Indonesia, dalam hal ini antara UKM dan UB, dikenal dengan istilah kemitraan (Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan). Kemitraan tersebut harus disertai pembinaan UB terhadap UKM yang memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Kemitraan merupakan suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Kemitraan merupakan suatu rangkaian proses yang dimulai dengan mengenal calon mitranya, mengetahui posisi keunggulan dan kelemahan usahanya, memulai membangun strategi, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi sampai target tercapai. Pola kemitraan antara UKM dan UB di Indonesia yang telah dibakukan, menurut UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil dan PP No. 44 Tahun 1997 tentang kemitraan, terdiri atas 5 (lima) pola, yaitu :

a. Inti Plasma,
Pola pertama, yaitu inti plasma merupakan hubungan kemitraan antara UKM dan UB sebagai inti membina dan mengembangkan UKM yang menjadi plasmanya dalam menyediakan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi, perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha. Dalam hal ini, UB mempunyai tanggung jawab sosial (corporate social responsibility) untuk membina dan mengembangkan UKM sebagai mitra usaha untuk jangka panjang

b. Subkontrak,
Pola kedua, yaitu subkontrak merupakan hubungan kemitraan UKM dan UB, yang didalamnya UKM memproduksi komponen yang diperlukan oleh UB sebagai bagian dari produksinya. Subkontrak sebagai suatu sistem yang menggambarkan hubungan antara UB dan UKM, di mana UB sebagai perusahaan induk (parent firma) meminta kepada UKM selaku subkontraktor untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan (komponen) dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk. Selain itu, dalam pola ini UB memberikan bantuan berupa kesempatan perolehan bahan baku, bimbingan dan kemampuan teknis produksi, penguasaan teknologi, dan pembiayaan.

c. Dagang Umum,
Pola ketiga, yaitu dagang umum merupakan hubungan kemitraan UKM dan UB, yang di dalamnya UB memasarkan hasil produksi UKM atau UKM memasok kebutuhan yang diperlukan oleh UB sebagai mitranya. Dalam pola ini UB memasarkan produk atau menerima pasokan dari UKM untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh UB.

d. Keagenan, dan
Pola keempat, yaitu keagenan merupakan hubungan kemitraan antara UKM dan UB, yang di dalamnya UKM diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa UB sebagai mitranya. Pola keagenan merupakan hubungan kemitraan, di mana pihak prinsipal memproduksi atau memiliki sesuatu, sedangkan pihak lain (agen) bertindak sebagai pihak yang menjalankan bisnis tersebut dan menghubungkan produk yang bersangkutan langsung dengan pihak ketiga.

e. Waralaba.
Pola kelima, yaitu waralaba merupakan hubungan kemitraan, yang di dalamnya pemberi waralaba memberikan hak penggunaan lisensi, merek dagang, dan saluran distribusi perusahaannya kepada penerima waralaba dengan disertai bantuan bimbingan manajemen. Dalam pola ini UB yang bertindak sebagai pemberi waralaba menyediakan penjaminan yang diajukan oleh UKM sebagai penerima waralaba kepada pihak ketiga.

Kemitraan dengan UB begitu penting buat pengembangan UKM. Kunci keberhasilan UKM dalam persaingan baik di pasar domestik maupun pasar global adalah membangun kemitraan dengan perusahaan-perusahaan yang besar. Pengembangan UKM memang dianggap sulit dilakukan tanpa melibatkan partisipasi usaha-usaha besar. Dengan kemitraan UKM dapat melakukan ekspor melalui perusahaan besar yang sudah menjadi eksportir, baru setelah merasa kuat dapat melakukan ekspor sendiri. Disamping itu, kemitraan merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara UKM dan UB. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tumbuh kembangnya UKM di Indonesia tidak terlepas dari fungsinya sebagai mitra dari UB yang terikat dalam suatu pola kemitraan usaha.

Manfaat yang dapat diperoleh bagi UKM dan UB yang melakukan kemitraan diantaranya adalah (1).meningkatkatnya produktivitas, (2).efisiensi, (3).jaminan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, (4).menurunkan resiko kerugian, (5).memberikan social benefit yang cukup tinggi, dan (6).meningkatkan ketahanan ekonomi secara nasional. Kemanfaatan kemitraan dapat ditinjau dari 3 (tiga) sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang ekonomi, kemitraan usaha menuntut efisiensi, produktivitas, peningkatan kualitas produk, menekan biaya produksi, mencegah fluktuasi suplai, menekan biaya penelitian dan pengembangan, dan meningkatkan daya saing. Kedua, dari sudut moral, kemitraan usaha menunjukkan upaya kebersamaan dam kesetaraan. Ketiga, dari sudut pandang soial-politik, kemitraan usaha dapat mencegah kesenjangan sosial, kecemburuan sosial, dan gejolah sosial-politik. Kemanfaatan ini dapat dicapai sepanjang kemitraan yang dilakukan didasarkan pada prinsip saling memperkuat, memerlukan, dan menguntungkan.

Keberhasilan kemitraan usaha sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan di antara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnisnya. Pelaku-pelaku yang terlibat langsung dalam kemitraan harus memiliki dasar-dasar etikan bisnis yang dipahami dan dianut bersama sebagai titik tolak dalam menjalankan kemitraan. Menurut Keraf (1995) etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok. Dengan demikian, keberhasilan kemitraan usaha tergantung pada adanya kesamaan nilai, norma, sikap, dan perilaku dari para pelaku yang menjalankan kemitraan tersebut.

Disamping itu, ada banyak prasyarat dalam melakukan kemitraan usaha antara UKM dan UB, diantaranya adalah harus adanya komitmen yang kuat diantara pihak-pihak yang bermitra. Kemitraan usaha memerlukan adanya kesiapan yang akan bermitra, terutama pada pihak UKM yang umumnya tingkat manajemen usaha dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang rendah, agar mampu berperan seabagai mitra yang handal. Pembenahan manajemen, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemantapan organisasi usaha mutlak harus diserasikan dan diselaraskan, sehingga kemitraan usaha dapat dijalankan memenuhi kaidah-kaidah yang semestinya.

Kegagalan kemitraan pada umumnya disebabkan oleh fondasi dari kemitraan yang kurang kuat dan hanya didasari oleh belas kasihan semata atau atas dasar paksaan pihak lain, bukan atas kebutuhan untuk maju dan berkembang bersama dari pihak-pihak yang bermitra. Kalau kemitraan tidak didasari oleh etika bisnis (nilai, moral, sikap, dan perilaku) yang baik, maka dapat menyebabkan kemitraan tersebut tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berjalan tidaknya kemitraan usaha, dalam hal ini antara UKM dan UB, tergantung pada kesetaraan nilai-nilai, moral, sikap, dan perilaku dari para pelaku kemitraan. Atau dengan perkataan lain, keberhasilan kemitraan usaha tergantung pada adanya kesetaran budaya organisasi.

6.7. Kemitraan usaha pertanian
Permasalahan yang dihadapi pengusaha agribisnis skala kecil dan menengah

  1. mutu produk, modal, dan Pemasaran
  2. bargaining position
  3. sebagai price taker

Sedangkan yang perlu dilakukan oleh pengusaha agribisnis skala kecil dan menengah :

  • mencari permodalan (uang/ barang
  • Modal)
  • melakukan kerjasama dengan pihak lain

Kemitraan Agribisnis
Bentuk kerjasama antara usaha kecil dan menengah atau usaha besar disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah/usaha besar dengan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

Tujuan Kemitraan

  1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat
  2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan
  3. Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil
  4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan nasional.
  5. Memperluas kesempatan kerja
  6. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional

Dasar Kemitraan

  1. Adanya kebutuhan yang dirasakan oleh pihak yang akan bermitra
  2. Adanya persoalan interen dan eksteren yang dihadapi dalam mengembangkan Agribisnis
  3. Kegiatan yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata yang bersifat mutual benefit bagi pihak-pihak yang bermitra.

Prinsip Kemitraan

  • Saling membutuhkan
  • Saling mendukung dan menguatkan
  • Saling menguntungkan

Proses Pengembangan Kemitraan

  1. Mulai membangun hubungan dgn calon mitra
  2. Mengerti kondisi bisnis pihak yang bermitra
  3. Mengembangkan strategi dan menilai detil bisnis
  4. Mengembangkan program
  5. Memulai pelaksanaan
  6. Memonitor dan mengevaluasi perkembangan

Manfaat Kemitraan Untuk Usaha Kecil

  1. Usaha-usaha agribisnis skala kecil dapat dirancang dalam skala ekonomis, berorientasi pasar, terpadu usaha komersial
  2. Kendala-kendala usaha kecil dapat diatasi
  3. Termanfaatkannya kepedulian dari perusahaan besar swasta/BUMN terhadap pengusaha kecil melalui program Corporate Social Responsibility (CSR)

Pola Kemitraan

  • Pola kemitraan tidak langsung
  • Pola kemitraan langsung

Bentuk Kemitraan

  1. Kemitraan Vertikal : Strategi perusahaan(SP) dengan membagi ke unit di bawahnya dalam mata rantai produksi perdagangan.
  2. Kemitraan Horisontal : Upaya-upaya pihak-pihak yang bermitra dengan membagi beban tertentu yang merendahkan daya saing, untuk menghadapi bersama para pesaing.

Kemitraan Vertikal

  • Pola Inti Plasma : PIR, Pola penghela, dan Pola pengelola.
  • Pola Subkontrak
  • Pola Dagang Umum
  • Pola Waralaba

Kemitraan Horisontal
• Ikatan tindakan meningkatkan nilai tambah
• Ikatan konsultasi / bantuan teknis
• Ikatan competitor

Kemitraan agribsinis dengan bentuk ikatan

  1. Merek dagang bersama
  2. Memasang iklan bersama
  3. Melakukan promosi bersama
  4. Saling dukung produksi
  5. Jual grosir
  6. Kantor pemasaran bersama
  7. Penyaluran bersama
  8. Jaringan servis bersama
  9. Kantor dan angkutan penjualan bersama

Kemitraan produksi dengan bentuk ikatan

  • Sistem logistik bersama
  • Memakai komponen produksi bersama
  • Penggunaan fasilitas transportasi bersama
  • Kontrol kualitas bersama

6.8.  Jejaring Usaha
Jaringan bisnis yang mempunyai cirri adanya hubungan bisnis jangka panjang yang didasarkan pada asas tolong menolong dan adanya saling percaya. Kendala-kendala yang dihadapi dalam membentuk jaringan bisnis

  1. Nilai, semangat, asas yang dapat dipakai sebagai perekat antar pelaku usaha kecil dan menengah sehingga hubungan bisnis jangka panjang tetap berlangsung.
  2. Pemula dalam jaringan bisnis akan bersaing dengan jaringan bisnis yang mapan.
  3. Belum adanya gambaran yang jelas tentang jaringan bisnis bagi pengusaha kecil dan menengah.
  4. Minimnya sumberdaya yang memadai dalam membentuk suatu jaringan.

Pengertian Negosiasi

  • Negosiasi merupakan pertemuan antara dua orang atau kubu yang masing-masing berada di posisi yang sesuai dengan kepentingan masing-masing dan berakhir untuk mendapatkan kepuasan yang diharapkan.
  • Negosiasi merupakan suatu metode untuk mencapai perjanjian dengan unsur kooperatif maupun kompetitif.
  • Intisari dari negosiasi adalah kompromi.

Tiga perkiraan kondisi yang menentukan apakah negosiasi dibutuhkan atau tidak

  • Adanya konflik interest antar pihak-pihak yang berkepentingan.
  • Adanya dualisme kemungkinan pemecahan yang terbaik.
  • Ada peluang kompromis yang dapat dirumuskan kedua belah piak yang berkepentingan.

Kondisi yang membutuhkan Negosiasi

  • Adanya konflik kepentingan
  • Masih adanya berbagai cara pemuasan kepentingan kedua belah pihak
  • Adanya peluang untuk kompromi

Prasyarat melakukan negosiasi

  • Ada isu yang jelas dari pihak-pihak berkepentingan dan yang perlu dinegosiasikan.
  • Ada kemauan untuk mengambil dan memberi.
  • Ada kepercayaan satu sama lain.
  • Setiap pelaku negosiasi mempunyai wewenang yang cukup untuk mengikat.

Prinsip melakukan negosiasi

  1. Pisahkan kehendak pribadi dengan isu pembicaraan.
  2. Fokus pada kepentingan bukan pada kedudukan.
  3. Kembangkan pilihan-pilihan yang menguntungkan kedua belah pihak.
  4. Tetap pada kriteria objektif.

Pendekatan umum negosiasi

  • Perang Tawar-menawar , usaha menggunakan kekuatan dalam memperjuangkan kepentingan yang bertentangan.
  • Pemecahan Masalah Bersama, usaha menggunakan kepercayaan menyelesaikan kepentingan bersama.

Prinsip-prinsip dasar dalam melakukan negosiasi

  1. Datanglah sebagai pemecah masalah bukan menimbulkan masalah
  2. Tujuan harus dicapai dengen efisien dan tepat waktu
  3. Keras dalam menghadapi masalah, tapi lembut dalam menghadapi orang
  4. Majulah dengan semangat percaya pada setiap orang
  5. Carilah perhatian dan keinginan setiap orang
  6. Jangan memberi kata mati
  7. Kembangkan semua alternatif yang dapat dipilih
  8. Cobalah mencapai hasil berdasarkan ketentuan-ketentuan yang tidak memihak
  9. Hasil merupakan prinsip bukan pada memojokkan orang lain

Pada tahap akhir negosiasi disusun draft kontrak terdiri dari

  1. Legalitas yang menandatangani
  2. Definisi-definisi
  3. Lingkup kerjasama
  4. Syarat-syarat
  5. Ketentuan mengikat secara hokum
  6. Tanda tangan kedua belah pihak

Ragam kemungkinan Negosiasi pengusaha kecil dengan pihak lain Negosiasi

  • Pengusaha kecil – Bank
  • Pengusaha kecil – Pemasok
  • Pengusaha kecil-Pembeli/pelanggan
  • Pengusaha kecil-Pemerintah
  • Pengusaha kecil-Karyawan

Sasaran Negosiasi

  • Kredit bunga + angsuran
  • Syarat penyerahan, discount
  • Harga layanan purna jual
  • Keringanan pajak, proteksi, bantuan pembinaan
  • Gaji tunjangan jam kerja

Empat tahap negosiasi

  • Persiapan (preparation)
  • Bersoal jawab (argue)
  • Mengusulkan (propose)
  • Tawar menawar (bargain)

Persiapan

  • Penentuan sasaran : Prioritas
  • Informasi : Permasalahan (issue)
  • Konsesi  dan strategi
  • Kelompok perundingan

Berjawab soal
A. Yang sebaiknya dihindarkan

  • Memotong/mengganggu pembicaraan (interupting)
  • Menyerang pembicaraan orang lain
  • Menyalahkan orang lain
  • Menunjukkan diri pandai atau menggurui
  • Terlalu banyak bicara
  • Berbicara dengan ucapan-ucapan kasar
  • Memaki lawan nego/perundingan

B. Yang sebaiknya dilakukan

  • Dengarkan baik-baik setiap pembicaraan
  • Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk kejelasan
  • Buatlah ringkasan permasalahan dan pembicaraan sewajarnya
  • Ajukan pertanyaan kepada lawan nego/perundingan tentangpermasalahan dan penilaian di pihaknya dan alasannya
  • Tidak/jangan mengikatkan diri dengan usul-usul dan penjelasan yangdiajukan oleh lawan perunding
  • Kajilah kesediaan pengikat diri lawan perundingan cari dan dapatkanpetunjuk-petunjuk perihal prioritas mereka
  • Galilah informasi lebih jauh dan lebih mendalam tentang keinginansasaran dan hal-hal lain dari lawan nego/runding anda

C. Mengusulkan

  • Ajukan suatu usulan atau rencana usulan guna mengatasi argumentasi
  • Usulan yang tidak realistis akan memperpanjang waktu berargumentasi
  • Usulan harus ditujukan kepada kebutuhan dan pemecahan masalah pihakpihak yang akan berunding
  • Usulan dapat digunakan sebagai sarana untuk memancing tanggapan pihak lawan bernego/berunding
  • Rumuskan kondisi anda terlebih dahulu dan usahakan sangat spesifik
  • Ikuti usulan anda dan usahakan “tentative”
  • Konsesi pembuka sebaiknya kecil atau sedikit terlebih dahulu
  • Kondisi pembuka/awal harus cukup luas

D. Tawar – menawar

  • Perhatikan selalu SASARAN ANDA
  • Tentukan apa yang anda inginkan dengan memberikan sesuatu sebagai imbalan yang anda inginkan
  • Buatlah daftar dan tempatkan tawaran dan yang anda tawarkan didepan anda
  • Berikan tanda mana-mana yang memungkinkan bilamana dan hanya jika pihak lawan berunding anda setuju denga persyaratan yang anda ajukan.
  • Perhatikan dan ingatlah selalu hal-hal yang disebutkan di atas dan kaitkan selalu setiap permasalahan dalam setiap perundingan untuk mencapai sasaran yang diinginkan.

E. Penilaian calon negosiator

  • Suaranya
  • Keterampilan non verbal
  • Ketenangan dan kalem
  • Terampil dalam menggunakan alat peraga
  • Berwawasan luas dalam hubungan bisnis
  • Menguasai masalah mengenai isu yang akan dinegosiasikan
  • Penampilan yang baik
  • Pandai mengelaborasi pembicaraan
  • Pandai melihat informasi yang kurang Fleksibel, tidak kaku
  • Pandai mengemukakan pikiran dengan jelas bagi pendengar
  • Dapat menjadi pendengar yang baik
  • Mempunyai tekad yang baik terhadap keinginan
  • Terlatih dalam cara berfikir analitis
  • Mempunyai daya tahan terhadap frustasi tinggi
  • Kalem dan tidak suka membuka rahasia
  • Percaya diri yang tinggi
  • Menyukai pekerjaan negosiasi

BAB VII. ETIKA BISNIS DALAM BERWIRAUSAHA

7.1.    Pengertian Etika Bisnis
Salah satu aspek yang sangat popular dan perlu mendapat perhatian dalam dunia bisnis ini adalah norma dan etika bisnis. Etika bisnis selain dapat menjamin kepercayaan dan loyalitas dari semua unsure yang berpengaruh pada perusahaan juga sangat menentukan maju atau mundurnya perusahaan. Menurut zimmer (1996:20) , etika bisnis adalah suatu kode etik perilak pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan. Etika, pada dasarnya adalah suatu komitmen untuk melakukan apa yang benar dan menghindari apa yang tidak benar. Oleh karena itu, perilaku etika berperan melakukan “apa yang benar” untuk menentang apa yang salah dan buruk. Menurut Ronald J Ebert dan icky M Griffin (200:80), etika bisnis adalah istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan perilaku etika dari seorang manajer atau karyawan suatu organisasi.

Etika bisnis sangat penting untuk mempertahankan loalitas pemilik kepentingan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan perusahaan. Mengapa demikian? Karena semua keputusan perusahaan sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pemilik kepentingan. Pemilik kepentingan adalah semua individu atau kelompok yang berkepentingan dan berpengaruh terhadap keputusan perusahaan. Ada dua jenis pemilik kepentingan yang berpengaruh pada perusahaan yaitu pemilik kepentingan internal dan eksternal. Investor, karyawan, manajemen dan pimpinan perusahaan merupakan pemilik perusahaan merupakan pemilik kepentingan internal. Sedangkan pelanggan, asosiasi dagang, kreditor, pemasok, pemerintah, masyarakat umum adalah pemilik kepentingan eksternal.

Menurut pengertiannya, etika dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

  1. Etika sebagai praktis: nilai-nilai dan norma-norma moral (apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral.
  2. Etika sebagai refleksi: pemikiran moral. Berpikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. (dalam hal ini adalah menyoroti dan menilai baik-buruknya perilaku seseorang)

Sedangkan Pengertian Etika Bisnis dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

  1. Secara makro: etika bisnis mempelajari aspek-aspek moral dari sistem ekonomi secara keseluruhan.
  2. Secara meso: etika bisnis mempelajari masalah-masalah etis di bidang organisasi
  3. Secara mikro: etika bisnis difokuskan pada hubungan individu dengan ekonomi dan bisnis.

Kesimpulannya Bahwa Etika bisnis adalah studi tentang aspek-aspek moral dari kegiatan ekonomi dan bisnis. (etika dalam berbisnis). Menurut Zimmerer, etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi.

7.2.    Pentingnya Etika Bisnis
Etika bisnis sangat penting untuk mempertahankan loyalitas stakeholder dalam membuat keputusan-keputusan perusahaan dan dalam memecahkan persoalan perusahaan. Hal ini disebabkan semua keputusan perusahaan sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh stakeholder. Stakeholder adalah semua individu atau kelompok yang berkepentingan dan berpengaruh pada keputusan-keputusan perusahaan.

Siapa saja stakeholder perusahaan:

1. Para pengusaha dan mitra usaha
Para pengusaha, selain berfungsi sebagai pesaing, mereka juga berperan sebagai mitra.
Dalam hal ini para pengusaha merupakan relasi usaha yang dapat bekerja sama dalam menyediakan informasi atau sumber peluang. Loyalitas mitra usaha akan sangat tergantung pada kepuasan yang diterima dari perusahaan

2. Petani dan perusahaan pemasok bahan baku
Petani dan perusahaan berperan sebagai penyedia bahan baku. Pasokan bahan baku yang kurang bermutu dan pasokan yang lambat dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.
Oleh sebab itu, keputusan untuk menentukan kualitas barang dan jasa sangat tergantung pada pemasok bahan baku. Loyalitas petani penghasil bahan baku sangat tergantung pada tingkat kepuasan yang diterima dari perusahaan dalam menentukan keputusan harga jual bahan baku maupun dalam bentuk insentif.

3. Organisasi pekerja yang mewakili pekerja
Organisasi pekerja dapat mempengaruhi keputusan melalui proses tawar-menawar secara kolektif. Perusahaan yang tidak melibatkan karyawan/organisasi pekerja dalam mengambil keputusan sering menimbulkan protes-protes yang menggangu jalannya perusahaan.

4. Pemerintah yang mengatur kelancaran aktivitas usaha
Pemerintah dapat mengatur kelancaran aktivitas usaha melalui serangkaian kebijakaan yang dibuatnya, karena kebijakan yang dibuat pemerintah akan sangat berpengaruh terhadap iklim usaha.

5. Bank penyandang dana perusahaan
Bank selain sebagai jantungnya perekonomian dalam skala makro, juga sebagai lembaga yang dapat menyediakan dana perusahaan.

6. Investor penanam modal
Investor penyandang dana dapat mempengaruhi perusahaan melalui serangkaian persyaratan yang diajukannya. Persyaratan tersebut akan mengikat dan sangat besar pengaruhnya dalam mengambilan keputusan. Loyalitas investor sangat tergantung pada tingkat kepuasan investor atas hasil penanaman modalnya.

7. Masyarakat umum yang dilayani
Masyarakat akan selalu menanggapi dan memberikan informasi tentang bisnis yang kita jalankan. Dalam hal ini masyarakat juga merupakan konsumen yang akan menentukan keputusan-keputusan perusahaan dalam menentukan produk barang dan jasa yang dihasilkan dan juga teknik yang digunakan.

8. Pelanggan yang membeli produk
Barang dan jasa yang akan dihasilkan, teknologi yang digunakan akan sangat dipengaruhi oleh pelanggan dan mempengaruhi keputusan-keputusan bisnis.

Dengan demikian etika bisnis merupakan landasan penting dan harus diperhatikan, terutama dalam menciptakan dan melindungi reputasi perusahaan. Oleh sebab itu, etika bisnis merupakan masalah yang sangat sensitif dan kompleks, karena membangun etika untuk mempertahankan reputasi lebih sukar daripada menghancurkannya.

7.3.  Prinsip-prinsip Etika Perilaku Bisnis
Prinsip-prinsip etika dan perilaku bisnis

  1. Kejujuran, yaitu penuh kepercayaan, bersifat jujur, sungguh-sungguh, terus terang, tidak curang, tidak mencuri, tidak menggelapkan, tidak berbohong
  2. Integritas, yaitu memegang prinsip, melakukan kegiatan dengan hormat, tulus hati, berani dan penug pendirian/keyakinan, tidak bermuka dua, tidak berbuat jahat dan saling percaya.
  3. Memelihara janji, yaitu selalu menaati janji, patut dipercaya, penuh komitmen, jangan mengintepretasikan persetujuan dalam bentuk teknikal atau legalistik dengan dalih ketidakrelaan.
  4. Kesetiaan, yaitu hormat dan loyal kepada keluarga, teman, karyawan dan Negara, jangan menggunakan atau memperlihatkan informasi yang diperoleh dalam kerahasiaan, begitu juga dalam konteks professional, jaga/melindungi kemampuan untuk membuat keputusan professional yang bebas dan teliti, hndari hal yang tidak pantas dan konflik kepentingan
  5. Kewajaran/keadilan, yaituberlaku adil dan berbudi luhur, bersedia untuk mengakui kesalahan, dan perlihatkan komitmen keadilan, persamaan perlakuan individual dan toleran terhadap perbedaan, jangan bertindak melampaui batas atau mengambil keuntungan yang tidak pantas dari kesalahan atau kemalangan orang lain.
  6. Suka membantu orang lain, yaitu saling membantu, berbaik hati, belas kasihan, tolong menolong, kebersamaan, dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan orang lain.
  7. Hormat kepada orang lain, yaitu menghormati martabat manusia, menghormati kebebasan dan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi semua orang, bersopan santun, jangan merendahkan orang lain, jangan mempermalukan orang lain.
  8. Warga Negara yang bertanggung jawab, yaitu selalu menaati hukum/aturan, penuh kesadaran sosial, menghormati proses demokrasi dalam mengambil keputusan.
  9. Mengejar keunggulan, yaitu mengejar keunggulan dalam segala hal, baik dalam pertemuan personal maupun pertanggungjawaban professional, tekun, dapat dipercaya/diandalkan, rajin penuh komitmen, melakukan semua tugas dengan kemampuan terbaik, mengembangkan dan mempertahankan tingkat kompetensi yang tinggi.
  10. Dapat dipertanggungjawabkan, yaitu memiliki tanggung jawab, menerima tanggung jawab atas keputusan dan konsekuensinya, dan selalu memberi contoh.

7.4.  Cara-cara mempertahankan Etika
Cara mempertahankan standar etika

1. Menciptakan kepercayaan perusahaan
Hal ini akan menetapkan nilai-nilai perusahaan yang mendasari tanggung jawab etika bagi stakeholder
2. Mengembangkan kode etik
Kode etik merupakan suatu catatan tentang standar tingkah laku dan prinsip-prinsip etika yang diharapkan perusahaan dari karyawan
3. Menjalankan kode etik secara adil dan konsisten
4. Melindungi hak perorangan
5. Mengadakan pelatihan etika
6. Melakukan audit etika secara periodic
7. Mempertahankan standar yang tinggi tentang tingkah laku, jangan hanya aturan
8. Menghindari contoh etika yang tercela setiap saat dan diawali dari atasan
9. Menciptakan budaya yang menekankan komunikasi dua arah
10. Komunikasi dua arah sangat penting untuk menginformasikan barang dan jasa yang dihasilkan dan untuk menerima aspirasi untuk perbaikan perusahaan
11. Melibatkan karyawan dalam mempertahankan standar etika
Para karyawan diberi kesempatan untuk memberikan umpan balik tentang bagaimana standar etika yang harus dipertahankan

7.5.  Tanggungjawab Perusahaan
Etika akan sangat berpengaruh pada tingkah laku individual, dalam hal ini tanggung jawab sosial mencoba untuk menjembatani komitmen individu dan kelompok dalam suatu lingkungan sosial.
Tanggung jawab perusahaan, meliputi:

1. Tanggung jawab terhadap lingkungan
Perusahaan harus ramah lingkungan, artinya perusahaan harus memperhatikan, melestarikan dan menjaga lingkungan.

2. Tanggung jawab terhadap karyawan
Semua aktivitas sumber daya manusia diarahkan pada tanggung jawab kepada karyawan, dengan cara:

  • Mendengarkan dan menghormati pendapat karyawan
  • Memberikan umpan balik, baik yang positif maupun negative
  • Menceritakan kepada karyawan tentang kepercayaan
  • Membiarkan karyawan mengetahui keadaan perusahaan yang sebenarnya
  • Memberikan imbalan kepada karyawan dengan baik
  • Memberikan kepercayaan kepada karyawan

3. Tanggung jawab terhadap pelanggan
Tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan, meliputi dua kategori, yaitu:

  • Menyediakan barang dan jasa yang berkualitas
  • Memberikan harga produk yang wajar dan adil

Selain itu, perusahaan juga harus melindungi hak-hak pelanggan, yaitu:

  • Hak untuk mendapatkan produk yang aman
  • Hak untuk mendapatkan informasi tentang segala aspek
  • Hak untuk didengar dan Hak untuk memilih apa yang akan dibeli

4. Tanggung jawab terhadap investor
Tanggung jawab berupa menyediakan pengembalian investasi yang menarik dengan memaksimumkan laba dan melaporkan kinerja keuangan seakurat dan setepat mungkin.

5. Tanggung jawab terhadap masyarakat
Tanggung jawab berupa menyediakan dan menciptakan kesehatan dan menyediakan berbagai kontribusi terhadap masyarakat yang berada di sekitar lokasi perusahaan.

7.6. Etos kerja dan soft skill
“ Beberapa Pengertian Etos Kerja ”

  1. Keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok orang atau sebuah institusi.
  2. Etos Kerja merupakan perilaku khas suatu komunitas atau organisasi, mencangkup motivasi yang menggerakkan, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku,sikap-sikap, aspirasiaspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, standar-standar.
  3. Sehimpunan perilaku positif yang lahir sebagai buah keyakinan fundamental dan komitmen total pada sehimpunan paradigma kerja yang integral.

“ Delapan Etos Kerja Menurut Jansen H Sinamo ”

  1. Kerja adalah Rahmat bekerja tulus penuh syukur.
  2. Kerja adalah Amanah bekerja benar penuh tanggung jawab
  3. Kerja adalah Panggilan bekerja tuntas penuh integritas.
  4. Kerja adalah Aktualisasi bekerja keras penuh semangat.
  5. Kerja adalah Ibadah bekerja serius penuh kecintaan.
  6. Kerja adalah Seni bekerja cerdas penuh kreativitas.
  7. Kerja adalah Kehormatan bekerja tekun penuh keunggulan.
  8. Kerja adalah Pelayanan bekerja paripurna penuh kerendahan hati.

Sifat-sifat yang mencerminkan etos kerja yang baik yaitu : Aktif, Ceria, Dinamis. Disiplin. Efektif. Efisien. Energik. Fokus. Gesit. Ikhlas. Interaktif. Jeli. Jujur. Kerja Keras. Kerja Tim. Konsisten. Kreatif. Lapang Dada. Membagi. Menghargai. Menghibur. Optimis. Peka. Rajin. Ramah. Sabar. Semangat. Tanggung Jawab. Tekun. Teliti. Tepat Waktu. Teratur. Terkendali. Toleran. Total. Ulet.

Berbicara Etos kerja, maka tidak akan terlepas dari antara Hard Skill dan Soft Skill. Mengapa ?

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya.

Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi pendidik.

Apa soft skill itu?
Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal.

Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)

Pada proses rekrutasi karyawan, kompetensi teknis dan akademis (hard skill) lebih mudah diseleksi. Kompetensi ini dapat langsung dilihat pada daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, indeks prestasi dan ketrampilan yang dikuasai. Sedangkan untuk soft skill biasanya dievaluasi oleh psikolog melalui psikotes dan wawancara mendalam. Interpretasi hasil psikotes, meskipun tidak dijamin 100% benar namun sangat membantu perusahaan dalam menempatkan ‘the right person in the right place’.

Hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Di kalangan para praktisi SDM, pendekatan ala hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill oke, tetapi soft skillnya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirementnya. Saat rekrutasi karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skillnya lebih rendah. Alasannya sederhana : memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi rekrutasi „ Recruit for Attitude, Train for Skill“.

Hal tersebut menunjukkan bahwa : hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skillnya yang baik.Psikolog kawakan, David McClelland bahkan berani berkata bahwa faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan soft skill.

Bagaimana ?
Para ahli manajemen percaya bahwa bila ada dua orang dengan bekal hard skill yang sama, maka yang akan menang dan sukses di masa depan adalah dia yang memiliki soft skill lebih baik. Mereka adalah benar-benar sumber daya manusia unggul, yang tidak hanya semata memiliki hard skill baik tetapi juga didukung oleh soft skill yang tangguh.

Pada posisi bawah, seorang karyawan tidak banyak menghadapai masalah yang berkaitan dengan soft skill. Masalah soft skill biasanya menjadi lebih kompleks ketika seseorang berada di posisi manajerial atau ketika dia harus berinteraksi dengan banyak orang. Semakin tinggi posisi manajerial seseorang di dalam piramida organisasi, maka soft skill menjadi semakin penting baginya. Pada posisi ini dia akan dituntut untuk berinteraksi dan mengelola berbagai orang dengan berbagai karakter kepribadian. Saat itulah kecerdasan emosionalnya diuji.

Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain

Etika bisnis yang sesuai syariah berlandaskan iman kepada Allah dan Rasul-Nya atau menjalankan segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian perilaku dalam bisnis hendaknya sesuai dengan yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, mengindari yang dilarang Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi produk yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.  Strategi bisnis yang sesuai syariah adalah berupaya dengan sungguh-sungguh di jalan Allah dengan mengelola sumberdaya secara optimal untuk mencapai tujuan yang terbaik di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan tujuan bisnis yang sesuai syariah adalah mendapat keuntungan yang besar baik di dunia maupun di akhirat. Etika bisnis Nabi Muhammad s.a.w. meliputi perilaku bisnis yang diperbolehkan Allah dan Rasul-Nya, perilaku bisnis yang dilarang Allah, Rasul-Nya dan produk yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.

1. Menggunakan Niat Yang Tulus
Niat yang tulus dalam bisnis adalah ibadah kepada Allah. Dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 56 : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Allah juga merupakan Sang Pemberi Rezki. Dalam surat Al Ankabuut ayat 17 : Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezki itu dari sisi Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu kembali.
Dari Umar bin Khaththab r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya amal itu dinilai bila disertai dengan niat. Dan sesungguhnya masing-masing orang mendapatkan balasan dari perbuatannya sesuai dengan niatnya (Bukhari dan Muslim).

2.   Al Qur’an dan Hadist Sebagai Pedoman
Al Qur’an sebagai pedoman untuk manusia, termasuk dalam malakukan bisnis. Dalam surat Al Jaatsiyah ayat 20 : Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
Dari ‘Aisyah r.a. katanya : “Rasulullah s.a.w. masuk ke rumahku lalu aku bercerita kepadanya. Kemudian beliau bersabda : “Beli dan merdekakanlah. Sesungguhnya wala’ (kewalian) bagi siapa yang memerdekakan.” Petang hari beliau berdiri, lalu beliau memuji Allah menurut mestinya, kemudian beliau bersabda : “Bagaimanakah pikiran orang banyak, mereka mengadakan syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitabullah. Barangsiapa mengadakan syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah, syarat itu batal. Walaupun ia mengadakan seratus syarat, syarat yang dibuat Allah lebih hak (benar) dan lebih kuat.” (Bukhari).

3. Meneladani Akhlak Rasulullah s.a.w.
Allah SWT memberikan pujian tentang budi pekerti kepada Rasulullah s.a.w.. Dalam surat Al Qalam ayat 4 : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Nabi Muhammad s.a.w. merupakan orang yang berperilaku lemah lembut, pemaaf, memohonkan ampun untuk orang lain, bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah, seperti yang disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 159 :  Maka disebabkan dari rahmat Allah-lah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabat-sahabatnya dalam Taurat dan Injil dimuat dalam surat Al Fath ayat 29 : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Budi pekerti yang luhur merupakan salah satu senjata tidak hanya dalam bisnis, tetapi dalam segala kehidupan.Rasulullah s.a.w. bersabda : Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan budi pekerti (Ahmad, Hakim dan Baihaqi). Demikian pula dari ‘Atha’ bin Yasar r.a, katanya dia bertemu dengan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, lalu katanya : “Ceritakanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah saw. Seperti yang tersebut dalam Kitab Taurat”.Jawab Abdullah, “Baiklah ! Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. Telah disebut di dalam Kitab Taurat dengan sebagian sifat beliau yang tersebut didalam Al Qur’an : “Wahai, Nabi ! Sesungguhnya  Aku mengutus engkau untuk menjadi saksi, memberi kabar gembira, memberi peringatan dan memelihara orang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan pesuruh-Ku. Aku namakan engkau orang yang tawakkal (berserah diri), tidak jahat budi, tidak kesat hati, tidak pula orang yang suka berteriak di pasar-pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi pemaaf dan memberi ampun. Dan Allah belum akan mencabut nyawanya sehingga dia menegakkan agama selurus-lurusnya, yaitu supaya mereka mengucapkan : “Laa illaaha illallaah” sehingga dengan ucapan itu Allah membukakan mata yang buta dan telinga yang tuli serta hati yang tertutup.” (Bukhari).

Demikian pula Rasulullah s.aw. bersabda : ”Kamu semua tidak mungkin dapat mempergauli orang lain dengan hartamu saja, tetapi hendaklah seseorang dari kamu semua mempergauli mereka dengan muka berseri-seri dan budi pekerti yang baik.”(Thabrani dan Baihaqi).

4. Melakukan Jual-Beli Yang Halal
Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Dalam surat Al Baqarah ayat 275 : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Rasulullah s.a.w. menganjurkan jual beli yang halal dan sedapat mungkin menghindari yang syubhat, apalagi yang haram. Pernah suatu ketika Rasulullah s.a.w. di tanya : ”Ya Rasulallah, pekerjaan apakah yang terbaik?” Beliau menjawab :”Pekerjaan yang terbaik ialah usahanya seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual-beli yang dianggap baik (Ahmad dan Baihaqi). Dari Nu’man bin Basyir r.a, katanya Nabi saw. bersabda : “Yang halal sudah nyata, yang haram sudah nyata dan antara keduanya beberapa perkara yang diragukan. Barangsiapa meninggalkan apa yang diragukan tentang dosanya, biasanya orang itu meninggalkan pula apa yang sudah nyata berdosa. Dan siapa yang berani melakukan apa yang masih diragukan tentang dosanya, dikhawatirkan ia jatuh pada perkara yang nyata dosanya. Segala macam ma’siat  adalah larangan Allah. Barangsiapa bermain-main sekitar larangan Allah, dikhawatirkan ia akan jatuh ke dalamnya” (Bukhari dan Muslim).

5. Melaksanakan Keadilan
Allah menganjurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis dan kegiatan lainnya. Dalam surat Ar Rahmaan ayat 9 : Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dalam surat Al An’aam ayat 152 : Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Dalam surat Huud ayat 85 : Dan Syuaib berkata : ”Hai kaumku cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil.” Dalam surat Al Israa’ ayat 35 : Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Dalam surat Al A’raaf ayat 29 : Katakanlah :”Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”.Dan (katakanlah):”Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya. Terdapat pula dalam surat Al A’raaf ayat 85 : Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. Demikian pula dalam surat Al Hadiid ayat 25 : Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.

6. Melaksanakan Kejujuran
Allah menganjurkan untuk melaksanakan kejujuran. Dalam surat Al Anfaal ayat 58 : Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. Demikian pula dalam surat Al Baqarah ayat 282 : Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.
Dari  Abu Sa’id Al Khudri r.a.,Rasulullah s.a.w. bersabda : Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya termasuk golongan para nabi, orang yang benar-benar tulus dan para syuhada (Tirmidzi, Darimi dan Daraqutni). Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, “Rasulullah s.a.w. pernah ditanya mengenai usaha apakah yang paling baik ?” Beliau menjawab, “Usaha seseorang dengan tangannya sendiri, dan perdagangan yang jujur.” (Thabrani dalam Al Ausath dan para perawinya terpercaya). Dari Anas r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya pedagang yang jujur dan benar akan berada di bawah naungan Arsy Allah pada hari kiamat (Ashbhani).

7. Menepati Janji
Allah menganjurkan untuk menepati janji dalam jual-beli dan ktivitas lainnya. Disebutkan dalam Al Maidah ayat 1 : Hai orang-orang yang beriman penuhilah aqad-aqad itu. Disebutkan juga dalam surat Al Israa’ ayat 34 : Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu diminta pertanggungjawabannya.  Demikian pula dalam surat Al Baqarah ayat 177 : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Abdullah Ibn Abdul Hamzah mengatakan :“Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian dan karena masih ada urusan dengannya, maka aku menjajikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, akupun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana.” Nabi berkata :”Engkau telah membuatku resah, aku berada di sini menunggumu” (Abu Dawud).

8. Menunaikan Hak
Hak yang harus ditunaikan oleh seorang pengusaha kepada Allah adalah zakat atas harta mereka, diikuti shodaqoh dan infak. Dalam surat At Taubah ayat 103 : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dalam surat Al Baqarah ayat 110 : Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.  Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. Keperuntukan zakat itu sudah diatur oleh Allah yang disebutkan dalam surat At Taubah ayat 60 : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9. Menuliskan Muamalah Yang Tidak Tunai
Allah menganjurkan untuk menuliskan apabila bermuamalah (berjual beli, berutang piutang, sewa menyewa dan sebagainya) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. Dalam surat Al Baqarah ayat 282 : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamujalankan di antara kamu maka tak tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

10. Menggunakan Barang Tanggungan
Allah dan Rasul-Nya membolehkan menggunakan barang tanggungan, jika tidak memperoleh penulis. Dalam surat Al Baqarah ayat 283 : Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanahnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian pula Rasulullah s.a.w. pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi. Dari Anas r.a., bahwasanya dia pergi kepada Nabi saw. membawa roti gandum dan keju yang banyak. Kata Anas, “Nabi saw. telah menggadaikan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, dan beliau mengambil gandum dari Yahudi itu untuk keluarga beliau.” Kata Qatadah, aku mendengar Anas berkata. “Petang ini keluarga Muhammad s.a.w. tidak punya gandum segantang pun dan tidak pula biji-bijian (makanan). Padahal beliau mempunyai sembilan orang isteri (yang menjadi tanggungan beliau)”(Bukhari).

11. Menggunakan Persetujuan Kedua Belah Pihak
Allah memerintahkan untuk berbisnis dengan suka-sama suka. Dalam surat Al Nisaa’ ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Rasulullah s.a.w. menganjur untuk memiliki hak khiyar, yang merupakan hak penjual dan pembeli untuk menentukan pilihan antara tetap meneruskan jual beli atau membatalkannya. Dari Ibnu Umar r.a., dari Rasulullah s.a.w., bahwasanya beliau bersabda : “Apabila dua orang telah melakukan jual beli, maka tiap-tiap orang dari keduanya boleh khiyar selama mereka belum berpisah, dan keduanya masih berkumpul, atau salah satu dari keduanya telah memberi khiyar kepada yang lain, dan keduanya telah melakukan jual beli atas dasar khiyar itu, maka sesungguhnya jual beli itu haruslah dilakukan atas yang demikian. Jika keduanya telah berpisah sesudah melakukan jual beli, sedang yang satu lagi belum meninggalkan (tempat) jual beli. Maka jual beli itu harus berlaku demikian.” (Bukhari dan Muslim). Dari Hakim bin Hizam r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : “Dua orang yang berjual beli boleh khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah, atau sehingga keduanya berpisah. Jika keduanya berlaku benar, baik dalam tindakan dan ucapan atau keterangan, maka jual beli keduanya diberkati (Allah). Dan jika kedua bersikap menyembunyikan dan dusta, keberkatan jual beli keduanya dihapus (sirna)” (Bukhari dan Muslim).

12. Bertawakal Kepada Allah
Tawakal merupakan tingkatan orang yang dekat dengan Allah. Dalam surat Ath thalaq ayat 3 : Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi keperluannya. Juga disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 159-160 : Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertwakkal kepadaNya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

13. Melipatgandakan Harta
Allah akan melipatgandakan harta, bila harta tersebut dinafkahkan di jalan-Nya. Dalam surat Al Baqarah ayat 245 : Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Sedangkan dalam surat Al Baqarah ayat 265 : Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. Demikian pula dalam  Al-Baqarah ayat 261 : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuni-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam surat Al Hadiid ayat 11 : “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan akan memperoleh pahala yang banyak.”. Sedangkan dalamAl Hadiid ayat 18 : “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah, pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak.”

Dalam surat Al Lail ayat 17-18 : Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. (yaitu) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.

14. Mengingat Allah 
Dengan mengingat Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat akan ditambah oleh Allah karunia dan rezkinya tanpa batas, seperti disebutkan dalam surat An Nuur ayat 37-38 : Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula (oleh) jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan itu) supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. Demikian pula dengan mengingat Allah akan menjadikan kita lebih baik.Dalam surat Al Jumu’ah ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Demikian itu lebih baik bagimu jika mengetahui.

Sebaliknya dengan lupa mengingat Allah, kita akan termasuk orang yang rugi. Allah berfirman dalam surat Al Munaafiquun ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

15. Bersyukur kepada Allah 
Allah akan menambah nikmat kita, bila bersyukur.  Dalam surat Ibrahiim ayat 7 : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bersyukur sesungguhnya untuk kebaikan diri kita sendiri : Dalam surat An Naml ayat 40 : Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa ingkar, sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.

Allah memerintahkan untuk makan dari rezki yang baik dan mensyukurinya. Dalam surat Al Baqarah ayat 172 : Hai orang-orang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.

Allah juga memerintahkan untuk meminta rezki, menyembah dan bersyukur kepada-Nya. Dalam surat Al Ankabuut ayat 17 : Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.

16. Saling Menolong Dalam Bisnis
Allah menganjurkan untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawakallah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Rasulullah s.a.w. mempersaudara kaum Muhajirin dan Anshar untuk saling menolong, termasuk dalam bidang bisnis. Dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a. katanya : “Ketika kami tiba di Madianah, Rasulullah saw, mempersaudarakan saya dengan Sa’ad bin Rabi’. Kata Sa’d bin Rabi’, “Saya orang Anshar yang paling kaya. Aku bagi dua hartaku denganmu. Dan tengoklah mana diantara isteriku yang engkau senangi. Akan saya secarikan dia. Setelah ia halal, engkau boleh mengawininya. Jawab Abdurrahman, “Saya tidak memerlukan demikian. Di manakah pasar di sini ?” Jawab Sa’d, “Pasar Qainuqa’,” Pagi-pagi Abdurrahman pergi ke pasar itu membawa keju dan samin. Dan sesudah itu ia terus menerus pergi ke sana. Tidak lama kemudian, Abdurrahma datang (kepada Nabi saw) dengan kesan pucat (dimukanya). Rasulullah saw. bertanya, “Kawinkah engkau ?”Jawab Abdurrahman, “Benar, ya Rasulullah !” Tanya Nabi, “Dengan siapa?”. Jawabnya : ”Dengan seorang wanita Anshar,!” Sabda Nabi, “Berapa engkau beri maharnya ?” Jawabnya, “Emas seberat atau sebesar biji kurna,” Sabda Nabi saw, “Adakanlah pesta, sekalipun dengan seekor domba” (Bukhari).

17. Bekerja Dengan Baik                                                                                
Allah menganjurkan untuk bekerja mencari karunia Allah dimukabumi ini. Al Qur’an surat At Taubah ayat 105 : Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.  Dalam surat An Naba’ ayat 11 : Dan kami jadikan siang untuk mencari kehidupan. Dalam surat Al A’raaf ayat 10 : Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Demikian pula dalam surat Al Jumu’ah ayat 10 : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Rasulullah s.a.w. menganjurkan untuk bekerja sebaik-baiknya. Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya apabila seseorang di antara kamu semua itu mengambil talinya kemudian mencari kayu bakar dan diletakkan di punggungnya, hal itu lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang telah dikaruniai Allah dari keutamaan-Nya, kemudian meminta kepada kawannya itu, adakalanya diberi adakalanya ditolak (Bukhari dan Muslim). Rasulullah s.a.w. juga bersabda : Sebaik-baik pekerjaan adalah ialah usahanya seseorang pekerja apabila berbuat sebaik-baiknya (Ahmad).

7.1.    Prilaku Bisnis yang dilarang Allah dan  Rasul-Nya.
1.  Riba
Allah mengancam pelaku riba, baik di dunia dan akhirat. Dalam surat Al Baqarah ayat 275 – 276 : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. Juga dalam surat Al Baqarah ayat 278-279 :Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Dalam surat Ali ‘Imran ayat 130 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Surat An Nisaa’ ayat 161 : Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. Demikian pula dalam surat Ar Ruum ayat 39 : Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

Rasulullah s.a.w. juga melarang untuk bertransaksi yang melibatkan riba. Dari Jabir r.a., dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, penulisnya, dua saksinya dan Rasulullah s.a.w. bersabda : Mereka itu sama saja (Muslim). Dari Umar bin Khaththab r.a. ia menceritakan dari Rasulullah saw. Sabdanya : ”Emas dengan emas, riba, melainkan dengan timbang terima. Kurma dengan kurma, riba, melainkan dengan timbang terima, dan sya’ir (anjelai) dengan sya’ir riba, melainkan dengan timbang terima.” (Bukhari). Dari Abu bakar r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : Janganlah menjual emas dengan emas melainkan sama banyak : dan perak dengan perak melainkan sama banyak. Dan boleh kamu jual emas dengan perak dan perak dengan emas berapa kamu kehendaki.” (Bukhari).

Dari Abi Sa’id Al Khudri r.a., katanya Rasulullah saw bersabda : ”Jangan kamu jual emas dengan emas melainkan sama banyak, dan jangan kamu lebihkan yang satu atas yang lain. Jangan kamu jual perak dengan perak melainkan sama banyak, dan jangan kamu lebihkan yang satu atas yang lian. Dan jangan kamu jual beli emas dan perak tanpa timbang terima (Bukhari).

Dari Abu Sa’id Al Khudri, dari Abu Hurairah r.a. katanya : ”Rasulullah saw. memperkerjakan seorang laki-laki di Khaibar. Kemudian orang itu datang kepada beliau membawa kurma yang bagus, Rasulullah saw, bertanya kepadanya, ”Apakah semua kurma Khaibar sebagus ini ?” Jawabnya, ”Tidak ! Demi Allah, ya Rasulallah ! Sesungguhnya kami menukar satu gantang kurma ini dengan dua gantang (kurma lain), atau dua gantang (kurma ini) dengan tiga gantang (kurma lain).” Sabda Rasulullah saw., ”Jangan kamu lakukan lagi seperti itu. Juallah (kurma) campuran dengan (uang) dirham, kemudian belilah (kurma) yang lebih baik dengan dirham (Bukhari).

Demikian pula dari Barra’ bin ’Azib dan Zaid bin Arqam r.a., keduanya ditanya orang tentang pertukaran. Masing-masing mengatakan. ”Orang ini lebih (tahu) dengan baik daripada saya.” Keduanya berkata, ”Rasulullah s.a.w. melarang menjual emas dengan perak secara berutang.” (Bukhari).

Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a., katanya : “Bilal datang kepada Nabi saw, membawa akurma Barni. Nabi saw, bertanya : “Dari mana ini ?” Jawab Bilal, “Aku mempunyai kurma yang kurang bagus. Lalu kujual dua gantang denga segantang untuk dimakan Rasulullah saw.” Sabda Nabi saw, “Wah, Wah ! Itulah riba ! Itulah riba! Janganlah engkau lakukan lagi. Tetapi apabila engkau hendak membeli kurma yang bagus, juallah kurma yang kurang bagus secara jual beli, kemudian belilah kurma Barni.” (Bukhari).

2. Melakukan Penipuan
Allah melarang menggunakan sumpahsebagai alat penipu. Dalam surat An Nahl ayat 92 : Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan lain.

Rasulullah s.a.w. juga melarang melakukan penipuan dalam jual-beli. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : ”Seorang laki-laki bercerita kepada Rasulullah s.a.w. bahwa dia ditipu orang dalam hal jual beli. Maka sabda beliau : ”Apabila engkau berjual beli, maka katakanlah jangan menipu” (Bukhari dan Muslim). Demikian pula diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang jual beli dengan cara pelemparan batu kerikil dan cara yang mengandung penipuan (Muslim).

3. Mengambil Secara Batil
Allah melarang mengambil harta secara batil, seperti dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 188 : Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamudapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Juga disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nisaa’ ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Demikian pula dalam surat An Nisaa’ ayat 161 : Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa  yang pedih. 

Allah memberikan siksa yang pedih bagi yang memakan harta dengan jalan batil dan menghalang-halangi jalan Allah, seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 34 : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada  mereka,(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.

Rasulullah s.a.w. melarang untuk mengambil harta orang muslim tanpa hak. Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. bersabda : Barangsiapa mengambil harta benda seorang Muslim tanpa hak, maka dia akan menemui Allah dalam keadaan murka kepadanya.” (Ahmad).

4. Berlaku Curang dan Merugikan
Allah melarang berlaku curang dan merugikan orang lain. Firman Allah dalam surat Al Muthaffifiin ayat 1-3 : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.

Allah juga melarang merugikan orang lain dan berbuat kejahatan.Dalam surat Huud ayat 85 : Dan Syuaib berkata : ”Hai kaumku cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Rasulullah s.a.w. melarang untuk menipu, berbuat curang dan berbuat kejahatan. Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata : Tidaklah perbuatan menipu itu muncul dalam suatu kaum, melainkan Allah akan menimpakan perasaan takut dalam hati mereka dan tidaklah perbuatan zina itu menyebar dalam suatu kaum, melainkan akan banyak kematian di antara mereka. Dan tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, melainkan Allah akan memutuskan rezki dari mereka dan tidaklah suatu kaum berhukum dengan benar, melainkan akan menyebar di antara mereka pertumpahan darah. Dan tidaklah suatu kaum mengkhianati perjanjian, melainkan Allah akan kuasakan musuh atas mereka (Malik dan Thabrani).

Dari Ibnu Umar r.a. katanya : “Pada masa Rasulullah s.a.w., saya melihat orang-orang yang memperjual belikan makanan dengan kira-kira (tanpa ditimbang atau digantang), mereka dipukul, karena menjualnya hingga mereka pindahkan ke tempat mereka.”

5. Melakukan Penimbunan           
Penimbunan atas dagangannya dan menantikan mahalnya harga dan pada saat itu menjual dengan harga setinggi-tingginya tidak dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah juga melarang untuk menimbun harta. Dalam surat  Al Humazah 1-3 : “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”.

Demikian pula Rasulullah s.a.w. melarang menimbun barang dagangan pada saat harga akan naik. Diriwayatkan dari Ma’mar bin Abdullah r.a.,ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : Barangsiapa menimbun barang dagangannya (harganya naik), maka ia berdosa (Muslim).

6. Memonopoli
Allah melarang harta itu beredar pada orang kaya saja atau harta itu dimonopoli oleh orang kaya saja. Dalam surat Al Hasyr ayat 7 : “Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.

Rasulullah s.a.w. melarang untuk memonopoli dagangan. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah saw, bersabda : “Janganlah kamu mencegat pedagang sebelum sampai di pasar (untuk dimonopoli). Barangsiapa menghadang pedagang lalu membeli barang dagangannya, maka sesampainya di pasar berhak menentukan pilihan antara tetap menjualnya atau membatalkan penjualan” (Muslim). Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w.melarang penghadangan barang-barang perdagangan (untuk dimonopoli) sebelum tiba di pasar, juga melarang orang kota memonopoli perdagangan terhadap orang desa. Kata Thawus : Aku menanyakan kepada Ibnu Abbas, Apa maksud sabda Rasulullah s.a.w., Orang kota terhadap orang desa? Ibnu Abbas menjawab : ”Maksudnya dilarang menjadi tengkulak yang memonopoli” (Bikhari dan Muslim).

7. Berkhianat Terhadap Rekan Bisnis
Allah melarang berkhianat terhadap orang lain. Dalam surat Al Anfaal ayat 27 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu khawatir mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat  yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Demikian juga dalam surat Al Anfaal ayat 58 : Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.

Rasulullah s.a.w. juga menganjurkan untuk tidak berkhianat, karena Allah akan keluar dari perserikatan tersebut. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. bersabda : Allah azza wa jalla berfirman : Aku adalah ketiga dari dua orang yang berserikat, selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati sahabatnya. Apabila ia telah mengkhianatinya, maka Aku keluar dari keduanya (Abu Daud dan Al Hakim).

8. Menggunakan Sumpah Palsu
Allah melarang bersumpah palsu untuk melakukan penipuan. Dalam surat An Nahl ayat 94-95 : Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan bagimu azab yang besar. Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Rasulullah s.a.w. juga melarang menjual barang dengan sumpah palsu. Dari Abu Dzar r.a., Nabi s.a.w. bersabda : ”Tiga golongan manusia, Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat kelak, tidak menyucikan mereka dan mereka mendapat siksa yang pedih.”  Ia berkata :”Rasulullah mengucapkan sebanyak tiga kali”, kemudian aku katakan :”Mereka celaka dan sangat merugiwahai Rasulullah?” Beliau menjawab :”Orang yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya (pemberiannya) dan yang menjual barangnya dengan sumpah palsu (Bukhari dan Muslim).     

9. Menyerahkan Bisnis Pada Orang Yang Belum Mampu
Allah melarang untuk berbisnis langsung dengan orang yang lemah akalnya. Dalam surat Al Baqarah ayat 282 : Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.

Allah juga melarang untuk berbisnis langsung dengan orang yang belum sempurna akalnya. Dalam surat An Nisaa’ ayat 5-6 : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk nikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka tealah cerdas (pandai memelihara harta),maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian).

10. Mengobral Sumpah
Allah melarang bersumpah untuk keburukan. Dalam surat Al Baqarah ayat 224-225 : Jangan jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwadan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Rasulullah s.a.w. melarang mengobral sumpah dalam jual beli. Dari Abu Qatadah Al Anshari r.a., bahwasannya dia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : Hindarilah banyak bersumpah di dalam jual beli, karena demikian itu bisa membuat laku tetapi menghancurkan dagangan (Muslim).  Dari Abu Hurarirah r.a., katanya dia mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sumpah itu melariskan dagangan, tetapi menghapus keberkahan.” (Bukhari).

11.  Menggunakan Combe
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli dengan menggunakan combe. Combe merupakan kawan dari penjual agar pura-pura melakukan penawaran dengan harga tinggi, sehingga orang lain tertarik untuk menawarnya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., bahwasannya Rasulullah s.a.w. melarang penjualan dengan cara mengadakan penawaran combe (Bukhari dan Muslim).

12. Menyaingi Penjualan dan Penawaran Saudaranya
Rasulullah s.a.w. melarang menjual dengan cara menyaingi penjualan saudaranya dan menawar menyaingi penawaran saudaranya. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya Rasulullah s.a.w., bersabda ”Janganlah kamu menjual penjualan saudaramu” (Bukhari).

Dari Abu Hurairah r.a. katanya : “Rasulullah s.a.w. melarang orang kota menjualkan barang (dagangan) orang desa dan janganlah kamu membohongkan harga barang dan janganlah seseorang menjual menyaingi harga jual saudaranya; janganlah menawar sesuatu yang sedang dalam penawaran saudaranya dan jangan seorang wanita minta supaya diceraikan saudaranya (madunya) untuk menunggangkan isi bejananya”(Bukhari). Riwayat lain dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w., bersabda “Janganlah kamu menyongsong rombongan orang-orang berkendaraan (kafilah); janganlah kamu menjual dengan harga menyaingi harga jual orang lian, janganlah kamu membohongkan harga barang, janganlah orang kota menjualkan kepunyaan orang desa dan jangan menahan air susu kambing, dan barangsiapa membelinya, ia boleh memilih antara dua sesudah diperahnya, jika ia suka boleh diteruskannya, dan jika tidak, boleh dikembalikannya dan ditambah dengan segantang kurma” (Bukhari).

13.  Spekulasi (Gharar)
Secara bahasa, gharar mempunyai arti hal yang tidak diketahui atau bahaya tertentu. Sedangkan menurut terminologi fiqih, gharar merupakan hal yang tidak diketahui terhadap akibat satu perkara / transaksi atau ketidakjelasan antara baik dan buruknya.

Dalam surat Al  Maaidah ayat 90 : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminumkhamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala,mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Jual beli gharar atau spekulasi antara lain habalul habalah, mulamasah, munabazah, muhaqalah, muzabanah, mukhabarah, mu’awamah,  tsun-ya dan jual beli buah-buahan yang belum nyata hasilnya.

a. Habalul Habalah
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli habalil habalah, yaitu waktu batas pembayarannya menunggu buntingnya anak onta yang masih di dalam kandungan. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : “Rasulullah s.a.w. melarang jual beli habaul habalah seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. Biasanya seorang laki-laki membeli seekor unta hingga unta itu beranak, kemudian anaknya itu beranak pula” (Bukhari dan Muslim).

b. Mulamasah dan Munabazah
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli kain yang hanya dilempar saja, tidak dilihat secara seksama dan tanpa persetujuan lebih dahulu. Rasulullah s.a.w. juga melarang berjual beli yang hanya menyentuh saja harus dibeli, tanpa melihat secara seksama. Dalam jual beli barangnya harus dilihat secara seksama dan saling suka sama suka serta tidak adanya penipuan.
Dari Abu Sa’id r.a, ia menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang Munabazah. Yakni, melemparkan kainnya kepada yang lain dalam jual beli, maka telah terjadi transaksi antara keduanya sebelum dibalik-balik atau dilihatnya kain secara seksama dan tanpa persetujuan lebih dahulu. Dan beliau melarang Mulamasah, yakni menyentuh kain penjual yang tidak dilihat secara seksama.” (Bukhari dan Muslim).

c. Jual Beli Buah Yang Belum Nyata Hasilnya
Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan yang belum nyata hasilnya. Dari Jabir r.a. katanya : ”Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan, kecuali setelah menjadi (tampak) baik” (Bukhari dan Muslim). Juga dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya : ”Nabi saw, melarang menjual buah-buah sebelum masak.Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ”Bagaimanakah buah yang masak ?”Jawab Nabi saw., ”Kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan dapat dimakan seketika” (Bukhari). Demikian pula dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : ”Rasulullah s.a.w.  bersabda : ”Janganlah kamu jual buah-buahan hingga nyata hasilnya, dan jangan kamu jual kurma basah dengan kurma kering” (Bukhari).
Dari Zaid bin Tsabit r.a. katanya ”Biasanya pada masa Rasulullah s.a.w. orang banyak berjual beli buah-buahan, setelah tiba waktu memetik dan bayar membayar, si pembeli mengatakan : buah ini busuk, kena penyakit, layu dan macam-macam kerusakan yang mereka jadikan alasan. Ketika mereka bertengkar sudah demikian rupa, Nabi s.a.w. Bersabda : ”Jika begitu, janganlah Tuan-tuan berjual beli sehingga telah nyata benar buah itu baik.” Selaku orang yang suka bermusyawarah (demokratis), beliau memimpinkan hal itu karena banyaknya terjadi pertikaian antara sesama mereka” (Bukhari).
Dari Anas bin Malik r.a, katanya : ”Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan sebelum masak. Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ”Bagaimanakah yang masak itu ?” Sabda Nabi s.a.w., ”Sehingga merah,” Kemudian beliau melanjutkan, ”Bagaimanakah jadinya kamu, apabila Allah telah melarang (menjual) buah-buahan (yang masih muda), dengan jalan mana seseorang kamu (seolah-olah) mengambil harta saudaranya.”

d. Muhaqalah, Muzabanah dan Mukharabah
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli muhaqalah, muzabanah dan mukhabarah. Diriwayatkan dari Zaid bin Abu Unaisah, ia berkata :” Kami pernah diberitahu oleh Walid Al Makkiy ketika dia sedang duduk di sisi Atha’ bin Abu Rabbah, dari Jabir bin Abdullah r.a., bahwasannya Rasulullah s.a.w. melarang penjualan hasil panen dengan cara muhaqalah, muzabanah dan mukhabarah, serta melarang penjualan buah kurma kecuali setelah isyqah. Isyqah adalah buah kurma yang telah memerah atau menguning atau sudah bisa dimakan sebagiannya. Muhaqalah adalah menyewakan kebun dengan pembayaran makanan (bahan makanan) dalam takaran yang ditentukan. Muzabanah adalah menyewakan kebun kurma dengan pembayaran beberapa ausuq  kurma kering. Mukhabarah adalah menyewakan kebun atau ladang dengan pembayaran 1/3 atau 1/4 hasil panennya atau seberapa”. Kata Zaid : ”Aku tanyakan kepada Atha’ bin Rabbah, Apakah kau pernah mendengar Jabir bin Abdullah menuturkan hadis ini dari Rasulullah s.a.w.?” Dia menjawab : ”Ya pernah” (Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. katanya : ”Sesungguhnya Rasulullah saw. Melarang Muzabanah dan Mahaqalah. Muzabanah, yakni membeli buah kurma basah dengan kurma kering yang masih di atas pohon.” (Bukhari). Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : ”Bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang muzabanah. Muzabanah, yakni membeli kurma basah dengan kurma kering cara takaran, dan menjual anggur basah dengan anggur kering dengan cara takaran”(Bukhari). Riwayat lain dari Ibnu Umar r.a., katanya : ”Rasulullah s.a.w, melarang jual beli muzabanah. Yakni, menjual buah-buahan dalam kebun. Jikalau dalam kebun itu ada pohon kurma, ia menjualnya dengan kurma kering gantangan; jikalau dalam kebun itu ada anggur, maka dijualnya anggur kering gantangan, atau pun tanam-tanaman (lain), dijualnya dengan gantangan. Beliau melarang kesemuanya itu” (Bukhari).

e. Mu’awamah dan Tsun-ya
Rasulullah s.a.w. melarang untuk jual beli dengan sistem mu’awamah dan tsun-ya. Sistem tersebut pada saat itu bisa merugikan salah satu pihak. Diriwayatkan dari Abu Zubair dan Sa’in bin Mina’, dari Jabir bin Abdullah r.a., ia berkata : Rasulullah s.a.w. melarang jual beli sistem  muhaqalah, muzabanah, mu’awamah dan tsun-ya, namun beliau meperbolehkan sistem’araya. Mu’awamah menyewakan kebun buah selama beberapa tahun untuk dipungut buahnya.  Tsun-ya adalah menyewakan ladang dengan pengecualian yang tidak tegas (Muslim).
Rasulullah s.a.w. juga melarang menyewakan kebun beberapa tahun, karena apabila pohonnya tidak berbuah sama sekali atau hanya berbuah sedikit, maka pihak penyewa rugi. Sebaliknya, jika buahnya melimpah, pihak yang menyewakan menyesal. Diriwayatkan dari Jabir r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang penyewaan kebun buah selama beberapa tahun”.Menurut riwayat Ibnu Syaibah : ”Rasulullah s.a.w. melarang penyewaan kebun untuk dipungut buahnya beberapa tahun” (Muslim).

7.9.    Bisnis yang dilarang Allah dan RasulNya.
1.  Minuman Yang Memabukkan dan Perjudian
Allah dan Rasul-Nya melarang perjudian dan khamar (minuman yang memabukkan). Firman Allah dalam Al Baqarah ayat 219 : Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah : ”Pada keduanya itu terdapat dosa besar daripada manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah :”Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada supaya kamu berpikir. Dalam surat Al Maa’idah ayat 90 – 91 : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan.

Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (minum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya Allah SWT. Telah mengharamkan minuman yang memabukkan (khamar). Maka barangsiapa telah sampai kepadanya ayat tersebut dan dia masih minyimpan khamar, janganlah dia meminum dan menjualnya (Muslim).

Demikian puladari Ibnu Abba, dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang khamar dan judi” (Abu Daud). Bahkan Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk memukul orang yang minum minuman keras. Dari ‘Uqbah bin Harits r.a. katanya : “Nu’aiman atau anak Nu’aiman di bawa orang ke hadapan Rasulullah saw, karena ia mabuk meminum minuman keras. Lalu Rasulullah s.a.w.,  memerintahkan kepada semua orang yang ada dalam rumah supaya memukulnya. Kata ‘Uqbah, “Saya termasuk orang yang turut memukulnya. Kami pukul dia dengan terompah dan pelepah kurma.” (Bukhari).

2.Penjualan Darah, Babi, Bangkai dan Berhala.
Allah melarang berjualan darah, bangkai, daging babi dan berhala. Dalam surat Al Baqarah ayat 173 : Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka  tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam surat Al Maaidah ayat 3 : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih selain atas nama Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binanatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak paha itu) adalah kefasikan.

Demikian pula Rasulullah s.a.w. juga melarang menjual bangkai, babi dan berhala. Diriwayatkan Jabir bin Abdullah r.a., bahwasanya dia pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda ketika beliau berada di Mekah pada tahun penaklukan : ”Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan khamar, bangkai, babi dan berhala”. Lalu ditanyakan : Ya Rasulallah! Bagaimana dengan lemak bangkai yang bisa dipakai untuk mengecat kapal, untuk meminyaki kulit dan orang-orang mempergunakan untuk lampu? Rasulullah s.a.w. menjawab : ”Jangan! Itu haram.” Pada saat itu Rasulullah juga bersabda : Semoga Allah mengutuk orang Yahudi. Sesungguhnya ketika Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan lemak bangkai kepada orang-orang Yahudi, mereka mengolah lemak tersebut lalu menjualnya, kemudian mereka makan hasil penjualannya” (Bukhari dan Muslim).

3. Harga Anjing, kucing, upah pelacuran dan upah tukang tenung.
Allah dan Rasul-Nya melarang berbisnis pelacuran. Dalam surat An Nuur ayat 33 : Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari, katanya : ”Rasulullah s.a.w., melarang tentang harga (jual beli) anjing, membayar upah pelacur dan membayar tukang tenung” (Bukhari dan Muslim). Dari Jabir r.a., dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. mengambil uang hasil penjualan anjing dan kucing, kecuali anjing untuk berburu.” (Nasa’i).

Demikian pula Rasulullah s.a.w. bersabda :  ”Barangsiapa memiliki anjing, maka pahalanya berkurang dua qirath setiap hari, kecuali anjing untuk menjaga kebun dan binatang ternak.”(Bukhari).

4. Penjualan Obat Bius
Rasulullah s.a.w.  melarang penjualan obat bius, yang meliputi kokain, narkotika, ganja, mariyuana dan sebagainya. Dari Ummu Salamah r.a., dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang setiap hal yang memabukkan dan mencandukan.” (Abu Daud).





Diktat Kewirausahaan-2

23 07 2012

BAB III. SIKAP DAN KEPRIBADIAN KEWIRAUSAHAAN

Dalam Bab ini akan membahas tentang Sikap dan Kepribadian Kewirausahaan sebagai kelanjutan dari Konsep Dasar Kewirausahaan. Sikap dan Kepribadian Kewirausahaan sebagian besar akan menyoroti perwatakan pribadi seorang wirausahawan yang dapat dipakai sebagai cermin serta dapat dikembangkan dalam jangka waktu tertentu bagi sebuah perusahaan atau organisasi untuk memperoleh profit yang maksimal dengan pemanfaatan sumber daya yang efektif dan Efisien.

Pembahasan dimulai dari Karakteristik Kewirausahaan, Makna Wirausaha sebagai pribadi, Bentuk dan Sikap Mental Wirausaha, Kepribadian Wirausaha, Kiat-kiat membangun Kepribadian Wirausaha serta diakhiri dengan Motif berprestasi dalam Kewirausahaan.

3.1. Karakteristik Kewirausahaan
Kegiatan wirausaha tidak dapat dilepaskan dari unsur individu wirausahawan itu sendiri.Maju mundurnya usaha wirausahawan akan sangat ditentukan oleh inisiatif, gagsan dan inovasi, karya dan kreatifitas serta berfikir positif. Keberhasilan wirausaha dicapai apabila wirausahawan menggunakan gagasan terhadapproduk, proses, dan jasa-jasa inovasi sebagai alat untuk mengendalikan perubahan.Inovasi ala Schumpeter terdiri dari dua sisi pengertian yaitu, technical world andbusiness world. Dari sisi teknis, perubahan teknologi disebut invensi, namun manakala bisnisterlibat didalamnya maka upaya itu disebut inovasi.

Kadjatmiko & Gana (2001) berpandangan bahwa inovasisesungguhnya bersumber pada suatu yang eksis di perusahaan dan diluar perusahaan.Inovasi yang efektiv adalahsederhana, focus, menerima apa yang dikatakan orang, spesifik, jelas, dimulai dari yang kecil dandesign aplikasi yang hati-hati.

Garis besar Karakteristik dari Kewirausahaan pada umumnya meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Berjiwa Wirausaha/Wirausaha/Entrepreneurship
Wirausahawan adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam mengejar tujuannya. Tanda-tanda berikut memberikan sebuah profil dari seorang wirausahawan, yaitu : Percaya pada diri sendiri, berorientasi kepada tindakan, pengambilan resiko, berorientasi ke masa depan, keorisinilan dll.

Jiwa dan sikap kewirausahaan akan selalu dimiliki oleh orang-orang percaya diri (yakin, optimis dan penuh komitmen), berinisiatif (energik dan percaya diri), motif berprestasi (berorientasi hasil dan berwawasan ke depan), jiwa kepemimpinan (berani tampil beda), dimana mereka yangselalu mencari perubahan , berusaha mengikuti dan menyesuaikan pada perubahan itu, sertamemanfaatkannya sebagai peluang serta mampu memilih dan mengambil keputusan alternativeyang paling tinggi produktivitasnya.

Terdapat Sembilan ciri pokok keberhasilan, dan bukan ciri-ciripribadi (personal traits)

  • dorongan prestasi yang tinggi,
  • bekerja keras, tidak tinggal diam,
  • memperhatikan kualitas produknya, baik barang maupun jasa,
  • bertanggung jawab penuh,
  • berorientasi pada imbalan yang wajar,
  • optimis,
  • berorientasi pada hasil karya yang baik (excellence oriented),
  • mampu mengorganisasikan, dan
  • berorientasi pada uang

Dasar ini meliputi watak-watak yang seharusnya dimiliki oleh Wirausahawan untuk dikembangkan. Mungkin tidak keseluruhan sifat-sifat tersebut di atas dapat dimiliki oleh seorang wirausahawan, namun semakin banyak maka semakin besar peluang menjadi wirausahawan yang sukses. Perlu diketahui disini bahwa perwatakan tersebut saling berkaitan atau berhubungan. Misalnya, orang-orang yang yakin akan dirinya mungkin menerima tanggung jawab atas perbuatannya bersedia mengambil resiko dan menjadi pemimpin.

b. Kepemimpinan
Para wirausahawan berdasarkan pekerjaannya pada hakekatnya adalah pemimpin, karena harus mencari peluang-peluang, memulai proyek, mengumpulkan sumber-sumber daya manusia dan financial yang diperlukan untuk melaksanakan proyek, menentukan tujuan untuk mereka sendiri dan orang lain serta bertindak untuk memimpin dan membimbing orang lain untuk mencapai tujuan. Kesimpulannya seorang wirausahawan yang berhasil adalah pemimpin yang berhasil pula.

Kadarsan (2001), menyatakan bahwa kepemimpinan (leadership) adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggta kelompok sehingga memiliki empat aplikasi tentang kepemimpinan. Bedasarkan unsur-unsurnya kepemimpinan terbagi ke dalam lima yaitu, leader, pengikut, organisasi, objective dan lingkungan.

Seorang pemimpin dalam melakukan kepemimpinannya dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan yang dirasakan (perceived power), seperti Memaksa (Coercive), Imbalan (Reward), Sah (Legitimate), Ahli (Expert), Dan Referensi (Referent). Begitu pula dalam melakukan kegiatan seorang pemimpin dipengaruhi oleh lingkungan baik internal maupun eksternal perusahaan.

Wirausahawan yang juga merupakan seorang pemimpin perusahaan harus menyadari tujuan perusahaan akan dapat di capai dengan baik jika terbentuk jalinan kerja sama yang baik antara lingkungan internal dan eksternal.

Menurut Marshall (1996), kepemimpinan yang tepat pada saat ini adalah kepemimpinan kolaborasi, dimana seorang pemimpin memiliki fungsi uama sebagai sponsor, sebagai fasilisator, sebagai pelatih, sebagai papan gema, sebagai agen katalis, sebagai dokter, sebagai anggota, serta sebagai manajer administrator. Menurut Reddin (1970), dengan teori tiga dimensi kepemimpinan dilihat dari aktifitasnya, tipe kepemimpinan dibagi menjadi 8 tipe, yaitu Deserter, Bureaucrat, Missionary, Develop, Autocrat, Benevolent, Autocrat Compromise, dan Excecutif.

Batasan Administrasi : Manajemen : Kepemimpinan adalah sebagai berikut :
Administrasi : upaya mengarahkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh pihak ketiga dengan menggunakan cara-cara yang ditentukan oleh pihak ketiga tsb.
Manajemen : upaya mengarahkan orang lain dalam rangka mencapai tujuan dengan menggunakan cara-cara tertentu, yang ditetapkan oleh manajer.
Kepemimpinan : upaya memandu, mendorong, dan memfasilitasi orang lain dalam rangka mencapai tujuan dengan menggunakan cara-cara tertentu, yang mana cara dan tujuan tersebut ditentukan atau disepakati oleh orang tersebut.

c. Mengambil Resiko
Wirausahawan menyukai resiko karena mereka ingin berhasil. Mereka mendapat kepuasan besar dalam melakukan tugas-tugas yang sulit dengan menerapkan ketrampilan-ketrampilannya. Pada umumnya orang takut menghadapi resiko karena ia ingin aman.Padahal kita tahu bahwa setiap aktivitas pekerjaan pasti mengandung resiko yang merupakan hakiki daripada seorang wirausahawan. Setiap resiko pasti mengandung potensi kegagalan dan kesuksesan. Keputusan yang diambil seorang wirausahawan dilakukan dengan cara memilih alternative-alternatif.

Faktor yang mempengaruhi setiap alternative antara lain :

  • Daya tarik setiap alternative
  • Sejauh mana bersedia untuk dijalankan.
  • Ratio kemungkinan sukses atau gagal
  • Seberapa jauh dapat meningkatkan kemungkinan sukses dan mengurangi gagal.

Meskipun imbalan dalam berwirausaha menggiurkan, tapi ada juga biaya yang berhubungan dengan kepemilikan bisnis tersebut. Memulai dan mengoperasikan bisnis sendiri membutuhkan kerja keras, menyita banyak waktu dan membutuhkan kekuatan emosi. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi wirausaha, tidak ada jaminan kesuksesan. Wirausaha harus menerima berbagai resiko berhubungan dengan kegagalan bisnis. Tantangan berupa kerja keras, tekanan emosional, dan risiko meminta tingkat komitmen dan pengorbanan jika kita mengharapkan mendapatkan imbalan.

d.  Mengambil Keputusan
Masa depan organisasi atau perusahaan/usaha ditentukan oleh hasil keputusan. Data kuantitatif biasanya tersedia untuk mengambil keputusan rutin, tetapi fakta dan angka kerapkali tidak mempunyai arti bagi keputusan tingkat puncak yang mempengaruhi masa depan organisasi. Dalam setiap Problem solving akan selalu diikuti untuk mengambil keputusan dalam rangka memecahkan masalah tersebut. Namun setiap langkah keputusan itu biasanya akan terangkai munculnya masalah baru. Oleh karena itu pengambilan keputusan adalah bersifat dinamis bukan statis.

Orientasi sikap pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh factor internal individu seorang wirausawan serta factor eksternal dari lingkungan mikro dan makro perusahaan.

e. Perencanaan
Dalam sebuah usaha atau bisnis terdapat dua macam perencanaan, yaitu perencanaan rutin dan perencanaan tidak rutin (incidental) berdasarkan perkembangan situasi dan kondisi. Pada sebuah perencanaan bisnis terdapat dua cara yaitu perencanaan jangka pendek dan perencanaan jangka panjang.

Wirausahawan yang berhasil juga merupakan pemimpin yang berhasil. Dikatakan sebagai pemimpin karena mereka harus mencari peluang-peluang, melalui proyek-proyek, mengumpulkan sumber daya (bahan, teknologi, manusia dan modal) yang diperlukan untuk melaksanakan proyek, menentukan tujuan, baik untuk mereka sendirimaupun untuk orang lain, dan memimpin serta membimbing orang lain untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin yang efektif akan selalu mancari cara-cara yang lebih baik. Pemimpin yang berhasil adalah jika dalam kegiatan percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efesien yang meningkat, dan keberhasilan yang berkesinambungan dari bisnis perusahaannya

f. Menggunakan Waktu yang Efektif
Melalui time schedule maka akan dicapai hasil-hasil yang lebih baik. Ingat Time is Money. Dengan demikian bagi para wirausahawan waktu adalah salah satu harta perusahaan yang penting.

Sikap dan Perilaku sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar wirausahawan tersebut dapat maju/sukses.

Pendapat M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993) mengemukakan delapan karakteristik yang meliputi :

  1. Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
  2. Lebih memilih risiko yang moderat.
  3. Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil
  4. Selalu menghendaki umpan balik yang segera
  5. Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan
  6. Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik .
  7. Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
  8. Selalu menilai prestasi dengan uang.

Wirausaha selalu komitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil. Ia tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Ia berani mengambil resiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan artinya risiko yang di ambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung oleh komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai ada hasil. Hasil-hasil ini harus nyata/jelas dan objektif dan merupakan umpan balik bagi kelancaran kegiatannya. Dengan semangat optimis yang tingggi karena ada hasil yang diperoleh, maka uang selalu dikelolah secara proaktif dan dipandang sebagai sumber daya.

3.2.    Wirausaha Sebagai Pribadi
Setiap orang/individu adalah unik, tidak ada duanya (mempunyai pengalaman masa lampau yang berbeda, hidup dalam situasi kehidupan yang berlainan, mempunyai ikatan dan tanggungjawab yang berlainan dan mempunyai tujuan hidup yang berlainan).

Pekerjaan, keadaan keluarga, dan keuangan serta faktor–faktor lain akan ikut menentukan sikap terhadap kewirausahaan. Wirausahawan mempunyai berbagai kewajiban dan ikatan terhadap diri sendiri dan orang lain termasuk istri anda, keluarga, atasan atau karyawan. Dalam merencanakan masa depan, bersifatlah realistik dalam menentukan hal–hal mengenai diri anda; yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah. Pengalaman masa lampau seharusnya dapat membantu dalam memahami lebih baik situasi sekarang.

Kebanyakan wirausaha mempunyai tujuan dan pengharapan tertentu. Semakin jelas tujuan, semakin besar kemungkinan mencapai tujuan.

Imbalan Dalam Wirausaha
Tiap orang tertarik kepada kewirausahaan kerena berbagai imbalan yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar : Laba, Kebebasan, dan kepuasan dalam menjalani hidup.

a. Imbalan Laba
Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya mengganti kerugian waktu dan uang yang diinvestasikan tetapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Dengan demikian imbalan berupa laba merupakan motivasi yang kuat bagi wirausaha tertentu. Laba adalah salah satu cara dalam mempertahankan nilai perusahaan. Beberapa wirausaha mungkin mengambil laba bagi dirinya sendiri atau membagikan laba tersebut, tetapi kebanyakan wirausaha puas dengan laba yang pantas.

b. Imbalan Kebebasan
Kebebasan untuk menjalankan perusahaannya merupakan imbalan lain bagi seorang wirausaha. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991 menunjukkan bahwa 38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaan nya di perusahaan lain karena mereka ingin menjadi bos atas perusahaan sendiri. Beberapa wirasuaha menggunakan kebebasannya untuk menyusun kehidupan dan perilaku kerja pribadinya secara fleksibel. Kenyataannya banyak wirausaha tidak mengutamakan fleksibiltas disatu sisi saja. Akan tetapi wirausaha menghargai kebebasan dalam karir kewirausahaan, seperti mengerjakan urusan mereka dengan cara sendiri, memungut laba sendiri dan mengatur jadwal sendiri.

c. Imbalan Berupa Kepuasan Dalam Menjalani Hidup
Wirausaha sering menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Pekerjaan yang mereka lakukan memberikan kenikmatan yang berasal dari kebebasan dan kenikmatan ini merefleksikan pemenuhan kerja pribadi pemilik pada barang dan jasa perusahaan. Banyak perusahaan yang dikelolah oleh wirausaha tumbuh menjadai besar akan tetapi ada juga yang relative tetap berskala kecil.

Anda harus bersedia belajar dari pengalaman dan berubah dari waktu ke waktu.
Anda haruslah selalu sadar akan cara-cara baru untuk meningkatkan produktivitas anda sendiri.
Salah satu kunci utama bagi keberhasilan anda
adalah keterlibatan anda dalam pertumbuhan pribadi secara terus menerus

3.3. Bentuk Sikap Mental Wirausaha
Kebanyakan orang membiarkan keadaan luar mengendalikan sikap mereka, sedangkan para wirausaha menggunakan sikap mereka untuk mengendalikan keadaan. Sikap mental positif memudahkan untuk memfokuskan pada kegiatan dan kejadian atas hasil yang ingin dicapai. Malahan pengalaman negatif mempunyai segi yang positif. Wirausahawan harus bersikap mental secara positif terhadap semua peristiwa dan mencari hikmah dari setiap pengalaman

Para wirausaha memiliki pandangan hidup yang sehat. Mereka merupakan individu yang matang yang telah mengembangkan cara menilai pengalaman secara sehat. Beberapa bentuk sikap mental wirausaha yang ingin maju yaitu :

  1. Bersikap mental positif.
  2. Mempunyai tekad yang kuat
  3. Tekun, bekerja keras dan bertanggung jawab
  4. Selalu melakukan perbaikan diri dengan menggunakan pengetahuan, prestasi masa lampau, dan pandangan ke depan untuk menciptakan tujuan baru
  5. Selalu berusaha meningkatkan kualitas diri dengan melakukan perubahan untuk memotivasi diri mencapai sasaran yang lebih tinggi
  6. Percaya diri akan kemampuan dan kemauan
  7. Meningkatkan konsep diri dan kesan yang diperoleh orang lain dari diri sendiri dengan diawali penampilan menarik

Beberapa saran dan faktor yang berguna bagi wirausaha dalam mengembangkan sikap mental yang positif sebagai berikut :

  1. Pusatkan perhatian anda sedemikian rupa dan gunakanlah pikiran anda secara produktif.
  2. Pilihlah sasaran–sasaran positif dalam pekerjaan
  3. Bergaullah dengan orang–orang yang berpikir dan bertindak secara wirausaha. Cara berpikir, cara–cara dan ciri–ciri dari orang–orang di sekitar mungkin berimbas pada individu
  4. Jauhilah pikiran dan ide–ide yang negatif
  5. Sadarlah bahwa andalah yang mengendalikan pikiran anda, dan gunakanlah pikiran tersebut secara produktif
  6. Haruslah selalu awas terhadap peluang–peluang yang meningkatkan situasi, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan kerja maupun dalam kehidupan masyarakat
  7. Jangan takut meninggalkan suatu ide, jika tidak menghasilkan hasil yang benar. Lebih baik mengubah arah daripada mengejar suatu ide yang tidak akan berhasil secara memuaskan
  8. Lingkungan akan mempengaruhi prestasi. Jika lingkungan tidak memenuhi kebutuhan anda, ubahlah lingkungan itu, atau pindah ke lingkungan lain yang lebih positif dan memungkinkan tercapainya sasaran yang patut diinginkan
  9. Percayalah pada diri dan bakat. Sukses akan datang kepada mereka yang percaya pada kemampuan mereka dan menggunakan kemampuan itu sepenuhnya.
  10. Hilangkan beban mental dengan mengambil tindakan. Pusatkan pikiran pada suatu problem tertentu. Sekali mengambil keputusan, ambillah tindakan untuk memecahkan persoalan itu. Usahakan agar konflik mental diselesaikan secepat mungkin.
  11. Para wirausaha adalah orang yang mengetahui bagaimana menemukan kepuasan dalam pekerjaan dan prestasinya. Tunjukkan sikap mental yang positif terhadap pekerjaan anda, karena sikap inilah yang akan ikut menentukan keberhasilan.
  12. Otak merupakan alat yang berdaya luar biasa. Menyediakan waktu beberapa saat setiap hari untuk merenungkan pikiran yang akan memungkinkan anda terarah pada kegiatan yang berarti.
  13. Kebanyakan orang membatasi pikirannya pada masalah dan kegiatan sehari-hari. Gunakanlah imajinasi untuk meluaskan pikiran anda dan cobalah berpikir yang “besar”. Orang  yang dapat melihat “gambaran besar” merupakan orang yang bersifat wirausaha dan merupakan calon-calon pemimpin bisnis maupun masyarakat.
  14. Rasa humor ikut mengembangkan sikap mental yang sehat. Terlalu serius dapat merugikan pekerjaan dan tidak sehat. Menunjukkan rasa humor berpengaruh pada orang lain dengan jalan menyebarkan optimisme dan suasana yang santai.
  15. Pikiran haruslah terorganisasi dengan baik dan mampu memfokuskan pada berbagai masalah. Haruslah mampu memindahkan perhatian dari satu masalah ke masalah lain dengan upaya yang minim.

Dengan memperhatikan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh wirausaha, kita mungkin mengerti sikap mental mereka. Sikap mental positif memberikan sumbangan yang besar dalam mencapai prestasi yang berhasil.
Cara bertindak wirausaha mencerminkan bagaimana pendapat mereka tentang dirinya dan lingkungannya

Sikap mental yang tepat terhadap pekerjaan sangatlah penting. Para wirausaha yang berhasil menikmati pekerjaan mereka dan berdedikasi total terhadap apa yang mereka lakukan.
Sikap mental positif mereka mengubah pekerjaan mereka menjadi pekerjaan yang menggairahkan, menarik dan
memberikan kepuasan

3.4. Kepribadian Wirausaha
Alex Inkeles dan David H. Smith (1974), adalah salah satu diantara ahli yang mengemukakan tentang kualitas dan sikap orang modern tercermin pada orang yang berpartisipasi dalam produksi modern yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai dan tingkah laku dalam kehidupan sosial. Ciri–cirinya meliputi keterbukaan terhadap pengalaman baru, selalu membaca perubahan sosial, lebih realitis terhadap fakta dan pendapat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang bukan pada masa lalu, berencana, percaya diri, memiliki aspirasi, berpendidikan dan keahlian, respect, hati–hati dan memahami produksi.

Ciri–ciri orang modern yang dikemukakan oleh Siagian, 1972, yaitu :

  1. Kesiapan diri dan keterbukaan terhadap inovasi
  2. Kebebasan yang besar dari tokoh–tokoh tradisional
  3. Mempunyai jangkauan dan pandangan yang luas terhadap berbagai masalah.
  4. Berorientasi pada masa sekarang dan masa yang akan datang
  5. Selalu berencana dalam segala kegiatan
  6. Mempunyai keyakinan pada kegunaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  7. Percaya bahwa kehidupan tidak dikuasai oleh nasib dan orang tertentu
  8. Memiliki keyakinan dan menggunakan keadilan sesuai dengan prinsip masing– masing.
  9. Sadar dan menghormati orang lain

Menurut Suryana (2003) yang dikutif dari Harsojo, modernisasi sebagai sikap yang menggambarkan :

  1. Sikap terbuka bagi pembaruan dan perubahan
  2. Kesanggupan membentuk pendapat secara demokratis
  3. Berorientasi pada masa kini dan masa depan
  4. Meyakini kemampuan sendiri
  5. Meyakini kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi
  6. Menganggap bahwa ganjaran itu hasil dari prestasi

Orang yang terbuka terhadap pengalaman–pengalaman baru akan lebih siap untuk merespon segala peluang dan tanggap terhadap tantangan dan perubahan sosial. Misalnya, dalam mengubah standar hidupnya. Orang yang terbuka terhadap ide–ide baru inilah merupakan wirausaha yang inovatif dan kreatif yang ditemukan dalam jiwa kewirausahaan. Pandangan yang luas dinamik dan kesediaan untuk pembaharuan, bisa lebih cepat berkembang dalam lapangan industri tidak lepas dari suatu latar belakang pendidikan dan pengalaman perjalanan yang banyak..

Menurut Kathleen dkk (1986), pola tingkah laku kewirausahaan diatas tergambar pula dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut :

  1. Kepribadian, aspek ini bisa diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, kepercayaan diri, keberanian menghadapi resiko, memilki dorongan, dan kemauan kuat.
  2. Hubungan, dapat dilihat dari indikator komunikasi dan hubungan antar personal, kepemimpinan dan manajemen.
  3. Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan harga, periklanan dan promosi.
  4. Keahlian dalam mengatur, diwujudkan dalam bentuk penentuan tujuan, perencanaan, dan penjadwalan serta pengaturan pribadi.
  5. Keuangan, indikatornya adalah sikap terhadap uang dan cara mengatur uang.

Banyak para ahli menyebutkan bahwa kepribadian Wirausaha sama dengan Profil Wirausaha. Wirausaha selalu berkomitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil. Ia tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Karena itu, ia selalu tekun, ulet, pantang menyerah sebelum pekerjaannya berhasil dan tindakannya tidak didasari oleh spekulasi melainkan perhitungan yang matang. Ada beberapa ciri-ciri kewirausahaan yang dikemukakan oleh para ahli antara lain  oleh Vernon A dkk, (1989). Bentuk ciri-ciri seorang wirausaha sebagai berikut :

  1. Keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri
  2. Kemauan untuk mengambil resiko
  3. Kemampuan untuk belaja

Mustahil anda menemui seorang wirausaha yang mendapat angka tinggi untuk semua sifat itu ; namun besar kemungkinan bahwa para wirausaha yang anda temui akan mendapat angka tinggi untuk kebanyakan sifat itu, terutama kepercayaan pada diri sendiri, kemampuan mengambil resiko, fleksibilitas, keinginan untuk mencapai sesuatu dan keinginan untuk tidak tergantung pada orang lain.

Daftar ini meliputi watak yang seyogyanya dimiliki dan dikembangkan jika ingin menjadi wirausaha. Mungkin anda tidak membutuhkan seluruh sifat ini, tetapi semakin banyak yang dimiliki, semakin besar kemungkinan anda menjadi wirausaha

P E R U B A H A A N
Bila anda mengubah pemikiran,  Anda mengubah keyakinan
Bila anda mengubah keyakinan, Anda mengubah harapan
Bila anda mengubah harapan, Anda mengubah sikap
Bila anda mengubah sikap, Anda mengubah perilaku
Bila anda mengubah perilaku, Anda mengubah kinerja
Bila anda mengubah kinerja, Anda mengubah hidup
Digubah Dari : DR. Walter Doyle Staples

3.5. Kiat-Kiat mengembangkan Kepribadian Wirausaha
Menurut Sudarmayanti (2007), pengembangan adalah setiap usaha memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang atau yang akan datang dengan memberikan informasi mempengaruhi sikap atau menambah kecakapan. Dengan kata lain pengembangan adalah setiap kegiatan untuk merubah perilaku yang terdiri dari pengetahuan, kecakapan, dan sikap.

Pengembangan diri merupakan suatu usaha yang perlu dilaksanakan dalam rangka tercapainya peningkatan mutu. Seseorang perlu mengembangkan pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta kepribadiannya sesuai dengan bidang tugas dan kedudukannya, agar siap menghadapi beban kerja yang secara kuantitatif akan selalu perkembangan. Dengan adanya pengembangan tersebut, maka diharapkan seseorang mempunyai kemampuan kerja yang serbaguna, berhasilguna dan dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan serta tuntutan organisasi dimana ia bekerja. Pengembangan diri, dalam realisasinya dapat dilakukan baik oleh dirinya sendiri maupun atas prakarsa organisasi, yang salah satunya yaitu dengan cara mengikuti pendidikan dan latihan. Tujuan pengembangan adalah : menambah pengetahuan, menambah keterampilan dan merubah sikap.

Pengembangan merupakan proses perubahan ke arah yang lebih baik, maju atau lebih dewasa secara fisik dan umur. Setiap individu hakekatnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan, baik secara individu maupun kelompok melalui pelatihan. Potensi tersebut merupakan salah satu pembeda antara individu yang satu dengan individu yang lain, dengan ciri antara lain :

  1. Kemampuan dasar : seperti tingkat intelegensia, kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap.
  2. Sikap kerja : ketekunan, ketelitian, tempo kerja dan daya tahan terhadap stres.
  3. Kepribadian : pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik jasmaniah, mental, rohani, emosional maupun sosial, yang semuanya ditata dalam cara khas dibawa pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam bentuk tingkah laku dalam usahanya menjadi manusia yang dikehendaki.

Upaya Meningkatkan Potensi Diri
Untuk menjadi individu selalu berupaya meningkatkan potensi diri, perlu melakukan antara lain :

  1. Mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan.
  2. Mengembankan dan berbagi serta menerima tanggung jawab.
  3. Mengembangkan jaringan informasi dan jaringan efetif.
  4. Membantu pihak lain mendapat keterampilan yang dibutuhkan yang lebih efektif.
  5. Mengembangkan kreativitas personal dan tim
  6. Mencari cara menciptakan perubahan.
  7. Siap menantang cara berpikir yang sudah lama diterima.
  8. Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
  9. Mengerjakan pekerjaan yang dapat menikmati.
  10. Terus belajar.

Hal-hal yang perlu dimiliki seseorang untuk menjadi wirausaha yang sukses adalah :

  1. Mencari Kesempatan dengan memiliki ide dan visi bisnis yang jelas.
  2. Kegigihan
  3. Tanggung Jawab Pada Pekerjaan
  4. Kualitas Kerja
  5. Menanggung Resiko baik waktu dan uang
  6. Penetapan Tujuan
  7. Mencari Informasi
  8. Rencana Yang Sistematis
  9. Pengorganisasian dan operasional usaha yang profesional
  10. Kerjasama dan Persuasi
  11. Bekerja keras sesuai dengan urgensi/kepentingan  usahanya.
  12. Menjalin kemitraan.
  13. Percaya Diri

Untuk mengetahui pribadi wirausaha yang kita miliki, dapat dianalisis dengan menggunakan instrumen Analisis Pribadi Wirausaha.

Motto sebagai Kiat Kepribadian Wirausaha

  • Keberhasilan Dimulai Dari Kebersamaan Dan Kerjasama Serta Didukung Oleh Prakarsa Perseorangan.
  • Keterbukaan Menumbuhkan Kreativitas Dan Inovasi
  • Komitmen Terhadap Mutu Menjiwai Setiap Perilaku.
  • Keunggulan “Excellence” Menjadi Dasar Rasa Percaya Diri Dan Kebanggaan Pada Perusahaan
  • Janganlah Kita Bekerja Demi Uang, Tetapi Uang Harus Bekerja Demi Kita.
  • Hidup Hari Esok Harus Lebih Baik Dari Hari Ini,
  • Memulai Dengan Yang Kecil Berakhir Yang Besar

Kesimpulan
Kewirausahaan adalah suatu kemampuan kreatif dan inovatif dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda yang dijadikan dasar, kiat dalam usaha atau perbaikan hidup. Hakikat dasar kewirausahaan adalah kreativitas dan inovasi. Kreativitas berfikir sesuatu yang baru (thinking new things) sedangkan inovasi adalah berbuat sesuatu yang baru (doing new things).
Objek kewirausahaan meliputi kemampuan merumuskan tujuan dan memotivasi diri, berinisiatif, kemampuan membentuk modal dan mengatur waktu, mental yang kuat dan kemampuan untuk mengambil hikmah dari pengalaman.

Watak, sifat, jiwa, dan nilai kewirausahaan muncul dalam bentuk prilaku kewirausahaan dengan ciri-ciri :
(1). Percaya diri
(2). Berorientasi pada tugas dan hasil
(3). Berani menghadapi resiko
(4). Berjiwa Pemimpin
(5). Keorisinilan
(6). Berorientasi pada masa depan.

Jiwa kewirausahaan tidak hanya dimiliki oleh pengusaha dan berlaku dalam bidang bisnis semata, tetapi juga dimiliki oleh setiap orang yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif, baik secara individu maupun kelompok.
Keberhasilan berwirausaha sangat tergantung pada beberapa faktor yaitu Kemauan, Kemampuan, Peluang dan Kesempatan

Harta terbesar untuk mempertahankan kemampuan wirausaha adalah sikap positif. Di samping itu, tekad, pengalaman, ketekunan dan bekerja keras adalah prasyarat pokok  untuk menjadi seorang wirausaha yang berhasil

Contoh Soal :

BAB IV. PROSES KEWIRAUSAHAAN

4.1.    Proses dan Tahapan Kewirausahaan
Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha  adalah :

  1. Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.
  2. Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap “jalan“, tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
  3. Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
  4. Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

Proses berkembangnya kewirausahaan
Kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi,didukung oleh kejadian pemicu (stimulant), diimplementasikan,kemudian akhirnya tumbuh dan berkembang

Menurut Bygrave (1996), proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembang menjadi wirausaha yang besar.

Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembang menjadi kewirausahaan melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi dan keluarga (Suryana, 2001)

Faktor-faktor pemicu Proses Kewirausahaan ditentukan oleh Property right,competency incentives, and environment“.Sedangkan dalam implementasinya perlu memperhatikan aspek-aspek melakukan wirausaha, antara lain :

  1. mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan
  2. pembiayaan : pendanaan – jumlah dan sumber-sumber dana
  3. SDM : tenaga kerja yang dipergunakan
  4. kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha
  5. organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki
  6. kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC)
  7. Pemasaran : lokasi dan tempat usaha

Tahap-tahap pertumbuhan kewirausahaan ditandai dengan Ciri ciri proses pertumbuhan kewirausahaan meliputi :
a. Tahap imitasi dan duplikasi,
Pada tahap awal pertumbuhan seorang wirausahawan cenderung melakukan imitasi yaitu meniru inovasi yang berhasil dari para Innovative entrepreneur kemudian baru dikembangkan dengan cara duplikasi (penggandaan). Dengan demikian tahap ini disebut dengan Immiative entrepreneurship, dimana produk yang dihasilkan baik berupa barang atau jasa cenderung sama tapi dengan merk yang berbeda.
b. Tahap duplikasi dan pengembangan, dan
Pada tahap ini sering disebut dengan Fabian entrepreneurship, sikap yang teramat hati-hati dan skeptical tetapi segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi hal yang nyata. Hal ini dilakukan untuk menghindari kehilangan posisi relative pada industry yang bersangkutan. Namun dalam prakteknya, pada tahap ini diikuti dengan inovasi-inovasi yang relative kecil atau sederhana sesuai permintaan pasar. Dengan demikian pada tahap duplikasi dan pengembangan ini akan menciptakan produk (barang atau jasa) yang sama dengan kualitas serta merk berbeda.
c. Tahap menciptakan sesuatu yang baru dan beda
Pada tahap ini disebut dengan Innovative Entrepreneurship dengan cara beresksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan disertai transpormasi yang atraktif. Produk yang dihasilkan berupa produk baru.

4.2. Faktor Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan Wirausaha
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal. Menurut Sujuti Jahja (2007), faktor internal yang berpengaruh adalah kemauan, kemampuan dan kelemahan. Sedangkan faktor yang berasal dari eksternal diri adalah kesempatan atau peluang.

Kedua faktor tersebut dipengaruhi oleh nilai–nilai kepribadian wirausaha, yaitu nilai keberanian menghadapi resiko, sikap positif dan optimis, keberanian mandiri dan memimpin serta kemauan belajar dari pengalaman.

Beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya yaitu :

  1. Tidak kompeten dalam manejerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat usahanya kurang berhasil.
  2. Kurang berpengalaman. Baik dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengorganisasikan, keterampilan mengelola sumberdaya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi usaha.
  3. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar usaha berhasil dengan baik faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional usaha dan mengakibatkan usaha tidak lancar.
  4. Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan,sekali gagal dalam melakukan perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
  5. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan usaha sukar beroperasi karena kurang efisien.
  6. Kurangnya pengawasan. Pengawasan erat hubungannya dengan efisiensi dan efektifitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan tidak efisien dan tidak efektif.
  7. Sikap kurang sungguh-sungguh dalam melaksanakan wirausaha. Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
  8. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahan. Wirausaha yang kurang siap dalam menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap saat.

Faktor penyebab lain sehingga terjadi kegagalan dalam berwirausaha yaitu :

  1. Pendapatan tidak menentu. Baik dalam tahap awal maupun  tahap pertumbuhan, dalam bisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan. Dalam kewirausahaan, sewaktu- waktu bisa rugi dan untung. Kondisi yag tidak menentu dapat membuat seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha.
  2. Kerugian akibat hilangnya modal investasi. Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah tinggi. Menurut Wirasasmita (1998), tingkat mortalitas/kegagalan usaha kecil di indonesia mencapai 78%. Kegagalan investasi mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan wirausaha. Bagi seorang wirausaha, kegagalan sebaiknya dipandang sebagai pelajaran berharga.
  3. Perlu kerja keras dan waktu yang lama. Wirausaha biasanya bekerja sendiri mulai dari pembelian, pengolahan, penjualan dan pembukuan. Waktu yang lama dan keharusan bekerja keras dalam berwirausaha mengakibatkan orang yang ingin menjadi wirausaha menjadi mundur. Ia kurang terbiasa dalam menghadapi tantangan. Wirausaha yang berhasil pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan ditekuni.
  4. Kualitas kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya mantap. Kualitas yang tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha, misalnya pedagang yang kualitas kehidupannya tidak meningkat, maka akan mundur dari usaha dagangnya dan masuk keusaha lain.

Keberhasilan berwirausaha sangat tergantung pada beberapa faktor yaitu Kemauan, Kemampuan, Peluang dan Kesempatan

Sedangkan factor penyebab keberhasilan dipengaruhi oleh perilaku para wirausahawan. Ada beberapa kategori perilaku, antara lain
1. Innovating Entrepreneurship
Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan, transformasi atraktif
2. Imitative Entrepreneurship
Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur
3. Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan.
4. Drone Entrepreneurship
Drone = malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersebut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain
5. Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente).

Perilaku tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda, antara lain :  Perilaku Ahli, Perilaku Trampil, Perilaku Biasa, Perilaku Malas

4.3. Ide dan Peluang dalam Kewirausahaan
Fokus utama dalam mengembangkan kewirausahaan ini harusnya ditekankan pada penciptaan nilai tambah untuk meraih keunggulan daya saing (competitive advantage) melalui pengembangan kemampuan khusus (kewirausahaan) sehingga perusahaan kecil tidak lagi mengendalikan strategi kekuatan pasar melalui monopoli dan fasilitas pemerintah.

Seorang wirausahawan dapat menambahkan nilai suatu barang dan jasa melalui inovasi. Keberhasilan wirausahawan dicapai apabila wirausahawan menggunakan produk, proses, dan jasa-jasa inovasi sebagai alat untuk menggali perubahan. Oleh sebab itu, inovasi merupakan instrument penting untuk memberdayakan sumber-sumber yang ada agar menghasilkan suatu yang baru dan menciptakan nilai. Wirausahawan dapat menciptakan nilai dengan cara mengubah semua tantangan menjadi peluang melalui ide-idenya dan pada akhirnya menjadi pengendali usaha (busines driven) dan pengendali pasar ( market driven)

Inti dari proses kewirausahaan adalah mengidentifikasi peluang, karena kekuatan yang mendorong kesuksesan perusahaan start-up terdiri dari tiga macam, yaitu : peluang, tim, dan sumber daya. Proses kewirausahaan diawali bukan dari ketersediaan uang, strategi, network, tim ataupun rencana bisnis, melainkan dari adanya peluang. Peluang yang berpotensi tinggi terkadang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada ketersediaan sumber daya atau tim pada saat itu.

Kreativitas sering kali muncul dalam bentuk ide-ide untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa baru. Ide dapat digerakkan secara internal melalui perubahan cara-cara/metode yang lebih baik untuk melayani dan memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya (produk dan jasa baru). Banyak wirausahawan yang berhasil bukan berdasarkan ide sendiri tetapi berdasarkan hasil pengamatan dan penerapan ide-ide lain. Agar ide-ide yang potensial menjadi peluang bisnis riil, maka wirausahawan harus mencari dan mengindentifikasi sumber-sumber potensial peluang bisnis tersebut . kegiatan mengindentifikasi merupakan upaya awal dari wirausahawan untuk dapat masuk ke pasar. Dengan kegiatan indentifikasi ini, wirausahawan akan dapat mengetahui tinggkat persaingan, strategi industri, tujuan pesaing, menilai kekuatan dan kelemahan pesaing , dan mengestimasi pola persaingan.

Untuk dapat menganalisis peluang usaha, wirausahawan harus mengetahui beberapa alat analisis seperti SWOT, Matrik Profil Kompetitif, dan Matrik BCG.

4.4. Keuntungan dan Kerugian Berwirausaha
Sebelum kita membahas keuntungan dan kerugian berwirausaha, maka kita mencoba menelaah tentang apa yang menjadi manfaat dari Kewirausahaan.

Adapun manfaat Kewirausahaan antara lain :

  1. Menambah daya tampung tenaga kerja.
  2. Sebagai generator pembangunan lingkungan, pribadi, distribusi, pemeliharaan lingkungan dan kesejahteraan.
  3. Memberi contoh bagaimana bekerja keras, tekun dan memiliki pribadi yang unggul dan patut diteladani.
  4. Mendidik karyawan menjadi orang yang mandiri, tekun, ulet serta jujur dalam menghadapi pekerjaan.
  5. Mendidik masyarakat hidup efisien dan efektif serta sederhana.

Berbicara keuntungan dan kerugian berwirausaha, pada dasarnya identik dengan membahas keuntungan dan kerugian pada usaha kecil milik sendiri. Adapun Keuntungan Berwirausaha, antara lain :

  1. Otonomi Pengelolaan. Dengan wirausaha, maka terbuka lebar menjadi BOS dalam perusahaan.
  2. Terbuka peluang untuk memperlihatkan potensi wirausaha secara penuh.
  3. Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal.
  4. Terbuka peluang untuk mencapai tujuan usaha yang dikehendaki.
  5. Terbuka peluang untuk membantu masyarakat dalam usaha.
  6. Terbuka lebar control financial, bebas mengelola keuangan dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri.
  7. Tantangan awal dan Perasaan Motif berprestasi.

Sedangkan kerugian dalam berwirausaha antara lain :

1. Pengorbanan Personal.
Pada awalnya wirausaha harus bekerja keras dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit sekali waktu untuk kepentingan lain seperti waktu untuk keluarga, waktu untuk rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis.
2. Beban Tanggung Jawab yang besar.
Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik perencanaan, pengorganisasi an personil dan sumberdaya, keuangan, produksi dan pemasaran serta pengembangan usaha.
3. Kecilnya margin keuntungan dan kemungkinan gagal.
Karena Wirausaha umumnya dimulai dari usaha dan keuangan yang kecil, maka margin keuntungan yang akan diperoleh juga kecil. Demikian pula dengan usaha yang kecil, maka daya saing umumnya menjadi rendah sehingga kemungkinan gagal lebih besar.

4.5.   Serba serbi dunia wirausaha (Tanya Jawab)
Laporan oleh Hayat Mansur tentang Inspirasi dari Entrepreneur Empat (4) Modal Menjadi Entrepreneur (Ternyata Bukan Uang)

Walau banyak kasus korupsi dan persoalan lainnya, ekonomi negara kita bisa tetap berjalan. Ini tentu saja berkat ada penggerak-penggerak di masyarakat yang tidak tergantung pada peraturan dan pemerintah. Mereka yang jarang diketahui orang ini disebut entrepreneur. Ini beberapa dari mereka dan upaya yang telah dilakukan untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita.

Wimar’s World Rabu menghadirkan tiga orang entrepreneur yaitu Bob Sadino (pemilik supermarket Kem Chicks), Hadrijanto Satyanegara (PR Manager Patrakom), dan Fred Hehuwat (salah satu pendiri Yayasan ASHOKA Indonesia). Mereka adalah orang-orang yang tidak putus asa bahkan bersemangat dan memberi contoh kepada kita. Berikut potongan percakapan mereka dengan Wimar Witoelar.

Anda merasa diri entrepreneur sukses? Bagi tips dong. Tulis di bawah.
Definisi Entrepreneur menurut para ahli
Setiap hari dalam kegiatan bisnis kita melakukan usaha/ melakukan kegiatan entrepreneurship untuk mendapatkan keuntungan tentunya. Tapi sebelumnya tentu kita ingin tahu apa sih artinya entrepreneurship kan ?!
Apa sih definisi Entrepreneurship ? Silahkan baca definisinya menurut berbagai ahli.

Kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu nilai yang berbeda dengan mencurahkan waktu dan upaya yang diperlukan, memikul risiko-risiko finansial, psikis dan sosial yang menyertai, serta menerima penghargaan /imbalan moneter dan kepuasanpribadi.

Menurut Para Ahli :
1. Peter F Drucker
Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) .
2. Thomas W Zimmerer
Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari.
3. Andrew J Dubrin
Seseorang yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif (Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business).
4. Robbin & Coulter
Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled.





Diktat Kewirausahaan-1

23 07 2012

PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas terselesaikannya Diktat Kuliah Kewiraswastaan atau Kewirausahaan. Diktat kuliah ini disusun berdasarkan konsep dan pustaka yang penulis pandang relevan untuk menjelaskan Pengertian dan Sejarah Kewirausahaan secara umum dan prinsip serta perilaku jiwa wirausaha khususnya pada bidang peternakan yang nantinya merupakan suatu bekal pengembangan ilmu dari sarjana peternakan.
Setelah mengikuti Perkuliahan Mata kuliah kewiraswastaan /kewirausahaan/ entrepreneurship, mahasiswa akan dapat memahami dan mengembangkan pengetahuan serta ketrampilan tentang kewirausahaan, sehingga pada akhirnya akan menjadi seorang entrepreunership yang tangguh, mandiri dan modern.
Deskripsi dari Mata kuliah kewiraswastaan / kewirausahaan / entrepreneurship  diselenggarakan dengan metoda tatap muka  selama satu semester dengan beban 2 sks. Dalam tatap muka dibahas tentang prinsip – prinsip kewirausahaan di bidang Kewirausahaan umum, pertanian dan peternakan.
Penilaian mata kuliah Kewirausahaan / kewiraswastaan / entrepreneurship dilakukan dengan cara  evaluasi dengan melaksanakan kuis sebanyak 2 kali, ujian tengah semester 1 kali, ujian akhir 1 kali dan membuat makalah perencanaan bisnis. Evaluasi akhir merupakan nilai kumulatif dari nilai Kuis (10%), tugas tersruktur (20%), nilai ujian tengah semester (30%), dan nilai ujian akhir semester (40%).
Tentu saja isi diktat ini sangat singkat, oleh karena itu membaca pustaka asli sangat dianjurkan bagi mahasiswa sehingga cakrawala berpikir ekonomi produksi lebih luas dan mendalam. Secara tekhnis, materi kuliah tercakup dalam 10 pokok bahasan yang direncaanakan selesai dalam 14 kali kuliah tatap muka di kelas, 10 kali kuis, 1 kali tugas terstruktur tentang Perencanaan Bisnis Usaha Peternakan, 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester.
Penulis mengharapkan diktat ini dapat dipandang sebagai upaya agar mahasiswa lebih mudah untuk menjadi tahu, mau, dan akhirnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam lingkup ilmu ekonomi produksi bidang peternakan.

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.  Pengantar
Sebelum kina mengenal lebih jauh tentang kewirausahaan/ kewiraswastaan / Entrepreneurship, maka sebaiknya kita menelaah dan merenung sejenak tentang Kerja dan kewirausahaan. Ada beberapa renungan mengapa kita harus bekerja dan mengapa kita harus berwirausaha antara lain :

  1. Apakah sesungguhnya bekerja itu ?
  2. Apakah hakekat kerja itu ?
  3. Buat apa kita bekerja ?
  4. Bagaimana kita dapat bekerja lebih baik lagi ?
  5. Haruskah kita bekerja ?
  6. Bukankah kerja itu melelahkan ?
  7. Bukankah pergi bekerja menjadi sebuah keterpaksaan ?
  8. Bagaimana proses kewirausahaan (Entrepreneurship) itu terjadi
  9. Kedua, apakah yang menjadi karakter para Wirausaha (entrepreneur)
  10. Masalah apa yang biasanya dialami para entrepreneur dan bagaimana cara mengatasinya

Jawabnya Saya Perlu Mencari Nafkah, sebanyak apakah nafkah yang mesti dicari dan bagaimana caranya ?
Agar bisa Sukses dalam bekerja atau berwirausaha maka kita minimal harus tahu perilaku kerja secara individual maupun secara organisasi. Kunci sukses secara individual antara lain :

  1. Keinginan besar untuk berhasil
  2. Keyakinan kuat bahwa sukses milikku
  3. Sikap mental posistif
  4. Pengetahuan khusus yang mendalam
  5. Daya imajinasi yang kuat
  6. Perencanaan yang teliti dan matang
  7. Kemampuan membuat keputusan yang jitu
  8. Ketekunan dan ketabahan menghadapi kegagalan
  9. Daya pikir yang tajam
  10. Kemampuan mengubah energi seksual menjadi energi kerja
  11. Emosi positif
  12. Kekuatan doa
  13. Indera ke enam yang berfungsi tajam
  14. Kemampuan mengelola 6 rasa takut utama ( takut miskin, kritik, sakit, dibenci, takut tua, dan takut mati)

Sedangkan Kunci Sukses Berorganisasi, antara lain :

  1. Membangun dan menjalanan strategi bisnis yang jitu
  2. Menampilkan sajian nilai pelanggan yang bermutu tinggi
  3. Mengejar sumber informasi dan pengetahuan
  4. Sistem manajemen yang berpusat pada jaringan dan proses
  5. Menemukan pusat pasar yang paling menguntungkan
  6. Mengelola organisasi dann bukan mengelola angka-angka
  7. Menyeimbangkan kontrol dan pemberdayaan
  8. Mengelola aset intelektual
  9. Meningkatkan produktivitas berdasarkan nilai tambah
  10. Menjalankan proses penyesuaian dan mengadopsinya.

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Bloom membagi kemampuan kognitip manusia ke dalam 6 tingkatan, yaitu :

  1. Tingkat Pengetahuan (Knowledge Level)  Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas (quality management), orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb.
  2. Tingkat Pemahaman (Comprehension Level) Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
  3. Tingkat Aplikasi (Application Level) Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.
  4. Tingkat Analisis (Analythical Level) Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yang ditimbulkan.
  5. Tingkat Sintesa (Synthesis Level) Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
  6. Tingkat Evaluasi (Evaluation Level) Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dan sebagainya.

Berpikir adalah suatu keadaan yang merupakan bukti eksistensi kehidupan. Sehari-hari kita biasa dengan pola yang kita anggap benar yaitu Rational. Pola tersebut merupakan suatu cara berpikir yang mendasarkan keputusan-keputusannya dengan konsep Cognitive ( pola kesadaran jaga sehari-hari).

Pola kesadaran jaga ini adalah suatu keadaan dimana kita mendasarkan keputusan – keputusan kita pada apa yang ditangkap oleh pancaindera lumrah. Misalnya, kita memutuskan apa yang terlihat sebagaimana yang terlihat secara kasat mata. Apa yang terdengar sebagaimana yang terdengar pada ambang batas pendengaran normal dan seterusnya. Demikianlah pola berpikir kita terbentuk berdasarkan pada segala sesuatu yang ditangkap secara lumrah oleh pencaindera dan kemudian membentuk kesadaran kita.  Kontrol pola di atas terletak pada Otak. Dalam Fakta Otak ternyata Otak terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Otak sebelah kanan, tengah dan kiri. Namun dalam pola kognitif, maka 2 bagian yang banyak berperanan dalam kesuksesan bekerja.

Dua Pembagian Otak : BagianOtak Besar Sebelah Kanan (Right Cerebral Hemisphere)

  • Special * Musical * Acoustic (“Berbakat musik* Akustik”)
  • Holistic * Multiple (“Berbagai”)
  • Artistic * Symbolic * Imaginative (” [yang] Artistik* Simbolis* Imajinatif)
  • Simultaneous * Continuous (” Bersama* Berlanjut”)
  • Emotional * Sensuous (” Emosional* Perasa)
  • Intuitive * Creative (Intuitif* Kreatif)
  • Minor * Quiet * Timeless (Pelajaran) pelengkap* Ketenangan* Terus-Menerus)
  • Spiritual * Divergence (Rohani* Penyimpangan)
  • Metaphoric * Free (Secara penumpamaan* Cuma-Cuma)
  • Qualitative * Subjective( Kwalitatif* Hubungan)
  • Receptive * Horizontal (Mau menerima* Horisontal)
  • Synthetic * Gestalt * Concrete (Buatan* Gestalt* Beton)
  • Facial * Recognition (Masase muka* Pengenalan)
  • Comprehension * Impulsive (Pengertian* [yang] Menuruti kata hati)
  • Perception  of Abstract Patterns (Persepsi Pola teladan Abstrak)
  • Recognition of Complex Figures (Pengenalan [dari;ttg] Figur Kompleks)
  • Existensial * Eastern Thought (Existensial* Pemikiran Ketimuran)

Bagian Kiri Otak Besar

  • ” Suara* Lisan* Linier* Logis
  • ” Mathematical* Yang terperinci* Berurutan* Percontohan* Diferensial
  • ” Yang dikendalikan* Dewductive* Intelektual* Sasaran
  • ” Dominan* Vertikal* Duniawi* Yang diarahkan
  • ” Pemusatan* Terpisah* Kwantitatif
  • ” Aktip* Realistis* Analitik* Abstrak
  • ” Pembacaan* Penulisan* Penamaan
  • ” Percontohan* Pemesanan
  • ” Persepsi [dari;ttg] Order;Pesanan Penting
  • ” Urutan Motor kompleks
  • ” Historis* Tegas/Eksplisit* Film koboi/ buku koboi Pemikiran

Berdasarkan pernyataan di atas, maka sesungguhnya manusia memiliki 4 (empat) Dimensi, yaitu:

1.1.  Deskripsi Mata Kuliah Kewirausahaan/Kewiraswastaan/Entrepreneurship
Diktat ini berisikan unit-unit kompetensi yang berkaitan dengan kewirausahaan yang harus dimiliki oleh Sarjana Pertanian dan Peternakan dalam melaksanakan pengembangan keilmuan yang meliputi; Pengertian dan Ruang Lingkup Kewirausahaan, Konsep Dasar Kewirausahaan, Sikap Dan Kepribadian Kewirausahaan,  Proses Kewirausahaan, Fungsi dan Model Peran Wirausaha, Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya, Etika Bisnis dalam Wirausaha, Analisa Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha dan Kewirausahaan di Indonesia.

a. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Membekali peserta dalam memahami tentang lingkup kewirausahaan untuk pengembangan kemandirian usaha khususnya usaha bidang Peternakan.
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah selesai mempelajari modul ini peserta mampu :

  1. Menjelaskan tentang Konsep Dasar Kewirausahaan
  2. Menjelaskan sikap dan kepribadian Kewirausahaan serta kewirausahaan di Indonesia
  3. Menjelaskan dan merumuskan pengembangan Proses Kewirausahaan, Fungsi dan Model Peran Wirausaha, Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya, Etika Bisnis dalam Wirausaha, Analisa Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha.

b. Pokok Bahasan

  1. Konsep Dasar Kewirausahaan,
  2. Sikap Dan Kepribadian Kewirausahaan,
  3. Proses Kewirausahaan,
  4. Fungsi dan Model Peran Wirausaha,
  5. Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya,
  6. Etika Bisnis dalam Wirausaha,
  7. Analisa Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha,
  8. Kewirausahaan di Indonesia.

c. Metode Pembelajaran

  1. Ceramah                                               4.  Simulasi
  2. Curah pendapat                                 5.  Ungkapan pengalaman
  3. Diskusi                                                   6.  Tanya Jawab

d. Sarana Pembelajaran

  1. LCD dan Diktat serta Masalah-masalah di masyarakat yang menyangkut kewirausahaan
  2. Buku Diktat Kewirausahaan.
  3. Web: http: rohmatfapertanian.wordpress.com.Diktat Kewirausahaan.

1.2.  Pendekatan Pemecahan Masalah Kewirausahaan
Masalah utama dalam Kewirausahaan didekati dengan memberikan Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk satu semester agar mahasiswa mampu berpikir taraf 6 (evaluasi). Dalam SAP, secara rinci disebutkan mengenai Pokok Bahasan, Tinjauan Instruksional Umum (TIU), Tinjauan Instruksional Khusus (TIK), Kegiatan Pengampu dan Mahasiswa, serta peralatan yang digunakan termasuk diktat teori. Kemantapan pengetahuan mahasiswa tentang Kewirausahaan dievaluasi dengan Kuis dan tugas terstruktur tentang perencanaan bisnis dalam bentuk studi kelayakan usaha, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester dengan pedoman “Pedoman Acuan Normal” : PAN.

Keterkaitan setiap pokok bahasan mata kuliah Kewirausahaan untuk landasan pengambilan keputusan dibuat bagan seperti Gambar 1

BAB II. KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN

2.1. Pengertian wirausaha
Wirausaha secara histories sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Diluar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad XVI, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20. Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenal dengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an dibeberapa Negara seperti di Eropa, Amerika, dan Canada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan entrepreneurship atau small business management. Pada tahun 1980-an,hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, maka pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan kewirausahaan di segala lapisan masyarakat menjadi berkembang.

Dalam bidang pemerintahan seperti dikemukakan oleh Osborne dan Gaebler (1992), pemerintahan saat ini dituntut untuk memberi corak kewirausahaan (entrepreunerial government). Dengan memiliki jiwa/corak kewirausahaan, maka birokrasi  akan memiliki motivasi, optimisme, dan berlomba untuk menciptakan cara-cara baru yang lebil efisien, efektif, fleksible sdan adaptif.

Gambar 2. Konsep Dasar Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan sudah lama menjadi wacana di Indonesia baik pada tingkat formal di perguruan tinggi dan pemerintahan ataupun pada tingkat non formal pada kehidupan ekonomi di masyarakat. Dilihat dari terminologi, dulu dikenal adanya istilah wiraswasta dan kewiraswastaan. Sekarang tampaknya sudah ada semacam konvensi sehingga istilah tersebut menjadi wirausaha (entrepreneur) dan kewirausahaan (entrepreneurship). Wirausaha berarti “Wira” = Pelopor dan Usaha = berusaha, atau Wiraswasta berarti “Wira” = Pelopor dan Swasta = berusaha di sector non Pemerintah. Arti ini terjemahan dari kata Entrepreneur. Kata entrepreneur berasal dari kata Prancis, entreprendre, yang berarti berusaha. Dalam konteks bisnis, maksudnya adalah memulai sebuah bisnis. Pada Kamus Merriam-Webster menggambarkan definisi entrepreneur sebagai seseorang yang mengorganisir, memanejemen, dan menanggung risiko sebuah bisnis atau usaha.

Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta. Persepsi tentang wirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur. Perbedaannya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak digunakan orang terutama karena memang penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.

Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha.

Oleh Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek financial maupun personal, sosial, dan profesional (Soedarsono, 2002 : 48)

Konsep entrepreneurship (kewirausahaan) memiliki arti yang luas. Salah satunya, entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kecakapan tinggi dalam melakukan perubahan, memiliki karakteristik yang hanya ditemukan sangat sedikit dalam sebuah populasi. Definisi lainnya adalah seseorang yang ingin bekerja untuk dirinya.

Definisi entrepreneurship dari Ekonom Austria Joseph Schumpeter menekankan pada inovasi, seperti: produk baru, metode produksi baru, pasar baru dan bentuk baru dari organisasi. Kemakmuran tercipta ketika inovasi-inovasi tersebut menghasilkan permintaan baru. Dari sudut pandang ini, dapat didefinisikan fungsi entrepreneur sebagai mengkombinasikan berbagai faktor input dengan cara inovatif untuk menghasilkan nilai bagi konsumen dengan harapan nilai tersebut melebihi biaya dari faktor-faktor input, sehingga menghasilkan pemasukan lebih tinggi dan berakibat terciptanya kemakmuran/kekayaan.

Dengan pengertian tersebut di atas, nampaknya tidak semua orang yang berusaha atau berwiraswasta dapat dikategorikan dalam kelompok Wirausaha atau Wiraswasta. Orang yang hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya tanpa diikuti dengan perubahan untuk maju. Banyak orang menggunakan istilah entrepreneur dan pemilik usaha kecil bersamaan. Meskipun mungkin memiliki banyak kesamaan, ada perbedaan signifikan antara keduanya, dalam hal :

1. Jumlah kekayaan yang tercipta
Usaha entrepreneurship menciptakan kekayaan secara substansial, bukan sekedar arus pendapatan yang menggantikan upah tradisional.
2. Kecepatan mendapatkan kekayaan
Sementara bisnis kecil yang sukses dapat menciptakan keuntungan dalam jangka waktu yang panjang, entrepreneur menciptakan kekayaan dalam waktu lebih singkat, misalnya 5 tahun.
3. Resiko.
Resiko usaha entrepreneur tinggi; dengan insentif keuntungan pasti, banyak entrepreneur akan mengejar ide dan kesempatan yang akan mudah lepas.
4. Inovasi
Entrepreneurship melibatkan inovasi substansial melebihi usaha kecil. Inovasi ini menciptakan keunggulan kompetitif yang menghasilkan kemakmuran. Inovasi bisa dari produk atau jasa itu sendiri, atau dalam proses bisnis yang digunakan untuk menciptakan produk atau jasa.

Dahulu orang beranggapan bahwa kewirausahaan adalah bakat bawaan sejak lahir (entrepreneurship are born nat made) dan hanya diperoleh dari hasil praktek ditingkat lapangan dan tidak dapat dipelajari dan diajari, tetapi sekarang kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu yang dapat dipelajari dan diajarkan.

Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya (Suryana, 2001). Jadi kewirausahaan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena berisi Body of knowledge yang utuh dan nyata ada obyek, konsep dan metodenya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses tidak hanya memiliki bakat saja tetapi juga harus memiliki pengetahuan mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Sedangkan dalam konteks bisnis, menurut Zimmerer (1996) dalam Suryana (2001), kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin,proses sistematis penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.

Wirausaha adalah kepribadian unggul yang mencerminkan budi yang luhur dan suatu sifat yang patut diteladani, karena atas dasar kemampuannya sendiri dapat melahirkan suatu sumbangsih dan karya untuk kemajuan kemanusiaan yang berlandaskan kebenaran dan kebaikan (Yuyun Wirasasmita, 1982). Wirausaha menurut Heijrachman Ranupandoyo (1982) adalah seorang inovator atau individu yang mempunyai kemampuan naluriah untuk melihat benda benda materi sedemikian rupa yang kemudian terbukti benar, mempunyai semangat dan kemampuan serta pikiran untuk menaklukan cara berpikir yang tidak berubah dan mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap posisi sosial.

Wirausaha mempunyai peranan untuk mencari kombinasi–kombinasi baru yang merupakan gabungan dari proses inovasi (menemukan pasar baru, pengenalan barang baru, metode produksi baru, sumber penyediaan bahan mentah baru dan organisasi industri baru). Wirausaha menurut Ibnu Soedjono (1993) adalah seorang entrepreneurial action yaitu seseorang yang inisiator, innovator, creator dan organisator yang penting dalam suatu kegiatan usaha, yang dicirikan : (a) selalu mengamankan investasi terhadap resiko, (b) mandiri, (c) berkreasi menciptakan nilai tambah, (d) selalu mencari peluang, (d) berorientasi ke masa depan.

Gambar 3. Perbedaan Kewirausahaan dengan Bukan Wirausaha
Tedapat banyak definisi kewirausahaan yang pada intinya relative sama. Prinsipnya bahwa Seorang dikatakan sebagai wirausahawan apabila memiliki segenap ciri-ciri wirausaha tangguh , dan wirausahawan unggul. Sedangkan dilihat dari jenisnya terbagi kedalam tiga (3) kelompok yaitu Administrative Entrepreuner, Innovative Entrepreuner, dan Catalist.

Beberapa definisi tentang kewirausahaan yang dikemukakan para ahli tersebut diantaranya adalah :
1. Richard Cantillon (1775)
Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian
2. Jean Baptista Say (1816)
Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.
3. Frank Knight (1921)
Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan
4. Joseph Schumpeter (1934)
Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
5. Penrose (1963)
Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam system ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
6. Harvey Leibenstein (1968, 1979)
Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
7. Israel Kirzner (1979)
Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar.
8. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio
Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
9. Peter F. Drucker
Kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengertian ini mengandung maksud bahwa seorang wirausahan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.
10. Zimmerer
Kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluangpeluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif.
11. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
12. Wirausahawan adalah orang–orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan darinya dan mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan kesuksesan. Berwirausaha adalah suatu gaya hidup dan prinsip–prinsip tertentu akan mempengaruhi strategi karir pribadi.

Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.

2.2. Falsafah Wirausaha
Setiap orang harus belajar banyak tentang dirinya sendiri, jika bermaksud untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang paling diinginkan dalam hidup ini. Kekuatan anda datang dari tindakan diri sendiri dan bukan dari tindakan orang lain. Meskipun resiko kegagalan selalu ada, para wirausaha mengambil resiko dengan jalan menerima tanggungjawab atas tindakan mereka sendiri. Kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belajar. Belajar dari pengalaman lampau akan membantu anda menyalurkan kegiatan anda untuk mencapai hasil yang lebih positif dan keberhasilan merupakan buah dari usaha yang tidak mengenal lelah.
Kewirausahaan bukan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir (enterpreneurship are born not made) serta tidak hanya dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan saja.  Seseorang yang memilki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Mereka yang menjadi enterpreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi (traits) dan belajar mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisir usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses, memilki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memilki pengetahuan mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuni.

2.3. Hakekat Kewirausahaan
Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak serta jiwa seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Dari pandangan para ahli dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. Kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru, inovatif adalah bertindak melakukan sesuatu yang baru.

Ciri-ciri dan watak kewirausahaan, menurut Meredith, et.a., dalam Suryana, 2001 : 8,  antara lain :

  1. Percaya diri Keyakinan, ketidaktergantungan, individualistis,dan optimism
  2. Berorientasi pada tugas dan hasil. Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif
  3. Pengambilan resiko Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan
  4. Kepemimpinan Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik
  5. Keorisinilan Inovatif dan kreatif serta fleksibel
  6. Berorientasi ke masa depan Pandanga ke depan, perspektif

Dalam konteks bisnis, seorang entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang menyebabkan munculnya produk baru atau ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa. Adapun Karakteristik tipikal entrepreneur (Schermerhorn Jr, 1999) :

  1. Lokus pengendalian internal
  2. Tingkat energi tinggi
  3. Kebutuhan tinggi akan prestasi
  4. Toleransi terhadap ambiguitas
  5. Kepercayaan diri
  6. Berorientasi pada action

Unsur-unsur Kewirausahaan meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat dan kemampuan memanfaatkan peluang. Yang dapat dijadikan peluang adalah : pengembangan teknologi baru, penemuan pengetahuan ilmiah baru, perbaikan produk barang dan jasa yang ada serta penemuan cara-cara baru yang menghasilkan barang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih efisien.

Fungsi wirausaha adalah memperkenalkan barang baru, melaksanakan metode produksi baru, membuka bahan dan sumber-sumber baru serta pelaksanaan organisasi baru.Sedangkan Keuntungan kewirausahaan, antara lain :

  1. Otonomi, pengelolaan yang ‘merdeka’ membuatwirausaha menjadi seorang ‘boss’ yang penuhkepuasan
  2. Tantangan Awal & Motif Berprestasi,merupakan pendorong yang baik dan berpeluanguntuk mengembangkan konsep usaha yangmenghasilkan keuntungan
  3. Kontrol Finansial, bebas dalam mengelolakeuangan dan merasa sebagai kekayaan milik sendiriyang dapat diaturnya

Jenis Kewirausahaan (Williamson, 1961) adalah sebagai berikut :
1. Innovating Entrepreneurship
Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan transformasi-transformasi atraktif
2. Imitative Entrepreneurship
Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur
3. Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan.
4. Drone Entrepreneurship
Drone = malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersebut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain. Di banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang lain yang disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente). (Winardi, 1977).

2.4. Mitos Kewirausahaan
Sejak dikenalnya istilah kewirausahaan atau entrepreneurship pada abad 18 hingga sekarang, banyak mitos yang bermunculan. Untunglah seiring banyaknya penelitian yang dilakukan, sekarang kita dapat mengetahui bahwa beberapa mitos tersebut adalah salah.

Mitos yang banyak berkembang antara lain :

1. Entrepreneur adalah eksekutor, bukan konseptor
Meskipun benar bahwa entrepreneur selalu berorientasi pada tindakan bukan No Action Talk Only, namun entrepreneur sejati adalah mereka yang secara sistematis merencanakan segala langkahnya, salah satunya dengan penyusunan rencana bisnis yang baik. Konseptor adalah sama pentingnya dengan eksekutor.

2. Entrepreneur adalah dilahirkan, bukan diciptakan
Ide bahwa sifat entrepreneur tidak bisa diajarkan, bahwa sifat entrepreneur hanya bisa didapat dari bawaan DNA, adalah salah. Seperti disiplin ilmu lainnya, entrepreneurship memiliki model, proses, dan studi kasus yang dapat dipelajari oleh siapapun.

3. Entrepreneur sama dengan penemu atau inventor
Ide bahwa seseorang harus selalu menjadi penemu untuk menjadi pengusaha tidak sepenuhnya benar. Meski banyak penemu yang menjadi pengusaha, pada kenyataannya kebanyakan pengusaha adalah mereka yang berinovasi, bukan yang menjadi penemu. Kita ambil contoh Ray Kroc, yaitu sang pendiri Mc Donald. Ia tidak menemukan ide franchise restoran fast food. Namun berkat inovasiya ia mampu membuat Mc Donald dapat menjangkau setiap penjuru dunia.

4. Entrepreneur adalah orang-orang yang “aneh” secara akademis dan sosial.
Mitos yang berkembang adalah entrepreneur biasanya berasal dari kalangan orang-orang yang gagal di dunia akademis, misalnya para mahasiswa yang DO, atau orang-orang yang gagal di dunia pekerjaan, misalnya dipecat. Profesi entrepreneur pada waktu dulu dianggap sebagai pilihan yang posisinya jauh di bawah profesi eksekutif. Namun sekarang, entrepreneur adalah sosok pahlawan masyarakat dan profesinya telah sejajar dengan profesi manapun.

5. Entrepreneur memiliki standar profil yang baku.
Banyak buku dan artikel yang telah memaparkan daftar sifat yang dimiliki para pengusaha sukses. Namun fitrah manusia adalah memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Oleh karena itu, adalah hal yang sangat sulit untuk seseorang bisa memiliki semua sifat ideal entrepreneur. Faktor lingkungan, sifat perusahaan, dan pengusaha itu sendiri yang saling berinteraksi menyebabkan berbagai macamnya profil pengusaha.

6.  Uang adalah segalanya.
Benar bahwa perusahaan membutuhkan modal kapital untuk bisa bertahan dan berkembang. Meski begitu, modal bukanlah satu-satunya penyebab kegagalan perusahaan. Masalah keuangan seringkali dari masalah lain, seperti manajemen yang tidak kompeten, tidak memahami cara mengelola keuangan, perencanaan yang tidak matang, dan sebagainya. Banyak pengusaha sukses yang dapat mengatasi masalah kekurangan uang sambil ia mengelola usahanya.

7.  Entrepreneur memerlukan keberuntungan.
Berada di tempat yang benar pada waktu yang tepat adalah keberuntungan. Namun keberuntungan terjadi ketika peluang bertemu dengan perencanaan yang matang. Pengusaha sukses adalah mereka yang siap mengantisipasi situasi di masa depan dan mengubah peluang menjadi bisnis berprofit tinggi. Oleh karena itu, harus kita definisikan kembali apa keberuntungan sebenarnya, yaitu persiapan, motivasi, wawasan, dan sifat inovatif.

8. Rencana dan evaluasi sama dengan petaka.
Mitos ini sudah tidak berlaku lagi di dunia sekarang yang pasarnya sudah sangat kompetitif. Sebaliknya, kunci bagi kesuksesan perusahaan adalah mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan, menyusun jadwal yang jelas, mempersiapkan plan B jika ada masalah, dan penyusunan strategi.

9. Entrepreneur memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.
Adalah benar bahwa entrepreneur gagal berkali-kali sebelum mencapai kesuksesan. Mereka mengikuti motto utama : Jika Anda belum berhasil pertama kali, coba dan cobalah lagi. Kegagalan bisa memberikan banyak pelajaran berharga bagi mereka yang mau belajar. Namun statistik menunjukkan bahwa ”tingkat kegagalan tinggi” ini adalah salah kaprah.

10.  Entrepreneur sebagai pengambil risiko ekstrem.
Meskipun tampaknya entrepreneur berspekulasi dalam mengambil peluang bisnis, fakta yang ada adalah mereka sebagai pengambil risiko moderat, atau resiko yang telah diperhitungkan. Pengusaha sukses menyusun rencana dan mempersiapkan segalanya sebaik mungkin untuk bisa mengurangi risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha mereka.

Dengan mengetahui mitos-mitos ini, diharapkan kita sekarang tidak salah mengerti lagi mengenai dunia kewairausahaan dan karenanya semakin termotivasi untuk menjadikan pengusaha sebagai pilihan hidup.





Contoh TOT Pelatihan Kepemimpinan Dan Kewirausahaan Agribisnis

22 07 2012

Pelatihan Kepemimpinan Dan Kewirausahaan Agribisnis Bagi Petani – Nelayan Andalan (Ktna)
Oleh : Ir. Rohmad, MMA

Pendahuluan
Kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi perilaku oarang lain agar mau bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Perilaku yang ditimbulkan oleh kepemimpinan itu berupa kesediaan orang-orang bekerjasama mencapai tujuan organisasi yang telah disepakati bersama. Kepemimpinan pada petani-nelayan terbentuk melalui jalur kelompok tani. Mereka memilih ketuanya yang disebut kontak tani. Seterusnya setiap level administrasi pemerintahan terpilih Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Sehingga ada kelompok KTNA tingkat Nasional, tingkat Propinsi, tingkat Kabupaten / Kota, tingkat kecamatan/Desa.

Negara kita adalah negara agraris, sehingga sektor agribisnis itulah yang perlu dikembangkan. Agibisnis tersebut meliputi Pertanian Tanaman Pangan, Hortikultura, Tanaman Perkebunan, Peternakan, Perikanan, Kelautan, Kehutanan dan Agro Wisata. Pelopor pengusaha agribisnis dari Alumni Magang Jepang, yang tergabung dalam IKAMAJA (Ikatan Keluarga Alumni magang Jepang). Mereka berpotensi besar dari pengalaman magang di Jepang. Dengan sentuhan sedikit mereka dapat maju menjadi wirausaha agribisnis modern dan tangguh.

Aspek akhlak merupakan titik awal upaya perubahan masyarakat. Akhlak bagaikan tongkat yang dapat memindahkan arah kereta api dari satu jalan ke jalan lain atau dari satu arah ke arah yang lain. Pembinaan kepemimpinan KTNA diharapkan dapat mempercepat terbentuk dan tumbuhnya kelompok tani yang sehat, produktif dan tangguh. Pemberdayaan pemuda tani, utamanya anggota IKAMAJA diharapkan mempercepat terbentuknya wirausahawan agribisnis yang tangguh dan berwawasan global. Penanaman nilai-nilai mulia melalui pembinaan akhlak-akhlak moral dan etika akan mencetak pemimpin  dan wirausahawan yang bermoral, tangguh dan berkarakter mulia.

Selanjutnya untuk mendukung peningkatan pembangunan pertanian tersebut diperlukan figur seorang wirausahawan yang berkarakter, berwibawa, jujur, tekun, kreatif dan mempunyai jiwa kepemimpinan.  Sehubungan dengan hal tersebut , telah diselenggarakan TOT Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis di ……………. pada tanggal …………………. dan sebagai tindak lanjut dan pelatihan tersebut akan dilaksanakan Pelatihan Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis  bagi Petani yang nantinya diharapkan dapat mewujudkan dan meningkatkan sumber daya manusia pertanian yang profesional di bidang agribisnis.

TUJUAN
Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap positip petani (Ketua Gapoktan) pelaksana PUAP sehingga lebih berkarakter dan profesional dalam mengaplikasikan dan mengembangkan sikap kepemimpinan dan kewirausahaan agribisnis di tingkat petani.

SASARAN
Terciptanya figur seorang wirausahawan yang berkarakter, berwibawa, jujur, tekun, kreatif dan mempunyai jiwa kepemimpinan bagi petani pelaksana PUAP di Kabupaten.

IN PUT

  1. Jumlah peserta sebanyak ….orang yang berasal dari …………………………..
  2. Adanya biaya yang bersumberkan dari ……………………………………..

OUT PUT
Terselenggaranya kegiatan Pelatihan Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis bagi Petani di …………………………..

OUT COME
Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap bagi petani ( Ketua Gapoktan pelaksana PUAP) sehingga menciptakan figur seorang wirausahawan yang berkarakter, berwibawa, jujur, tekun, kreatif dan mempunyai jiwa kepemimpinan.

DASAR HUKUM

WAKTU DAN TEMPAT
1. Waktu Pelaksanaan :
2. Tempat :

ORGANISASI PENYELENGGARA

Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan pelatihan dibentuk dan disusun organisasi penyelenggara sebagai berikut :

Pengarah :
Penanggung jawab :
Ketua Pelaksana :
Sekretaris :
Sie Materi :
Kepesertaan :
Keuangan / PMDK :

URAIAN TUGAS PANITIA PENYELENGGARA
a. Pengarah.
Mengarahkan pelaksanaan kegiatan pelatihan sesuai dengan rencana kegiatan yang telah ditetapkan/dijadwalkan.
b. Penanggung Jawab.
Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan pelatihan
c. Ketua Pelaksana.
-   Mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan yang telah ditetapkan/dijadwalkan
-   Membentuk Tim kerja
-   Bersama Unit Kerja yang lain melakukan konsultasi dalam rangka persiapan dan pelaksanaan kegiatan
d. Sekretaris.
-   Bertanggung jawab atas administrasi penyelenggaraan kegiatan TOT Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis.
-    Melakukan pengawasan, bimbingan dan koordinasi terhadap petugas kesekretariatan
-   Membantu Ketua Pelaksana dalam menyusun Program TOT Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis.
-   Mewakili Ketua Pelaksana apabila ketua berhalangan hadir
e. Sie Materi.
Menyiapkan materi pelatihan yang akan diperuntukkan bagi peserta pelatihan
f. Kepesertaan
Menyiapkan semua keperluan peserta pelatihan selama kegiatan pelatihan berlangsung.
g. Keuangan / PMDK.
Membayarkan dan mempertanggung jawabkan semua pengeluaran keuangan dalam rangka kegiatan pelatihan.

I.  PESERTA
Persyaratan  Peserta

  1. Ketua Gapoktan pelaksana PUAP
  2. Belum pernah mengikuti pelatihan sejenis.
  3. Bersedia dan mampu menindak lanjuti hasil diklat
  4. Sehat jasmani dan rohani
  5. Bersedia mengikuti seluruh kegiatan diklat sampai selesai
  6. Membawa photo ukuran 4 x 6 sebanyak 2 lembar

Jumlah dan Asal Peserta
Peserta berjumlah ……………………….

 II.  PELATIH / WIDYAISWARA

a. Persyaratan Pelatih/ Widyaiswara

  1. Telah mengikuti TOT Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis.
  2. Menguasai materi yang dilatihkan
  3. Menguasai metode berlatih bagi orang dewasa.
  4. Mampu menyusun Paket Pembelajaran utamanya  materi latihan dari kelompok inti.
  5. Mempunyai kemampuan dan pengalaman mengajar
  6. Menguasi metode berlatih melatih orang dewasa
  7. Mampu mengevaluasi hasil kegiatan berlatih melatih.

b.   Asal Pelatih/ Widyaiswara :
Sebagai pelatih adalah peserta TOT Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis yang  berasal dari :…………

III.  MATERI  PELATIHAN

NO.

MATERI PELATIHAN

JUMLAH JAM

@ 45 Menit

I

KELOMPOK DASAR

 

 

1. Kebijakan Pembangunan Pertanian

2

 

2. Pengembangan potensi diri

2

II

KELOMPOK INTI

 

 

1. Kepemimpinan

6

 

2. Moral Etika

4

 

3. Kewirausahaan Agribisnis

8

 

4. Penyusunan Rencana Usaha bersama (RUB)

6

 

5. Analisa Usaha

4

 

6. Pengolahan Limbah Pertanian

5

III

KELOMPOK PENUNJANG

 

 

1. Dinamika Kelompok

2

 

2. Rencana Tindak Lanjut ( RTL )

1

JUMLAH

40

IV.   METODE PELATIHAN
Metode yang digunakan adalah kombinasi metode berlatih-melatih orang dewasa  (andragogy) yaitu Ceramah dan penjelasan singkat, Curah pendapat, tanya jawab, diskusi kelompok, diskusi pleno, studi kasus, Simulasi dan  talkshow.

V.  EVALUASI
Evaluasi dilakukan dalam ruang lingkup :

  • Pengetahuan dan Kemampuan peserta ( Pre-Test dan Post Test )
  • Pelaksanaan pelatihan.

VI.   PEMBIAYAAN
Penyelenggaraan Pelatihan Kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis bagi Petani dibiayai dari …………………………………

VII. STTPP
Para peserta pelatihan setelah selesai mengikuti kegiatan akan memperoleh STTPP ( Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan ) dari pihak penyelenggara.

VIII.PENUTUP

  • Penyelenggara Kegiatan PelatihanKepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis bagi Petani agar menyelesaikan laporan pertanggungjawaban kegiatan paling lambat 7 hari setelah kegiatan selesai.
  • Hal-hal yang belum tertuang di dalam petunjuk Pelaksanaan ini akan diatur dan disesuaikan sebagaimana mestinya.

Demikian Contoh TOT ini dibuat untuk dipergunakan bagi para petani-peternak yang membutuhkan. Thank.

 





Pengembangan Wirausahawan Baru

22 07 2012

PENGEMBANGAN WIRAUSAHAWAN  BARU
oleh : K.H. IMAM YAHYA MALIK
Ponpes Al-Makruf Kedong Lo Bandar Lor – Kota Kediri – Jawa Timur

Disalin Oleh : Ir. Rohmad, MMA

Assalamualaikum Wr.Wb.

Kewirausahaan merupakan faktor produksi yang paling strategis dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi suatu bangsa.  Kewirausahaan merupakan motor inovasi dan pertumbuhan ekonomi nasional, serta stimulator peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kewirausahaan merupakan fondasi yang kokoh bagi pembangunan ekonomi, sosial dan politik yang lebih demokratis, karena kewirausahaan membangun kemandirian masyarakat.   Hal ini sesuai dengan hasil kajian yang dilakukan oleh Pasific Economic Cooperation Council yang menunjukkan anggota ekonomi APEC yang maju umumnya memiliki rasio unit usaha terhadap jumlah penduduk yang lebih besar dibandingkan dengan anggota APEC yang sedang berkembang.

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi APEC diperlukan satu unit UKM untuk setiap 20 orang penduduk, sehingga diperlukan tambahan 70 juta UKM di kawasan anggota APEC sampai dengan tahun 2020.   Untuk kasus Indonesia, diperlukan tambahan 20 juta unit UKM di luar sektor pertanian sampai dengan tahun 2020, mengingat sebagian besar UKM berada dalam skala industri rumah tangga.

Kebutuhan pengembangan wirausahawan baru di Indonesia menjadi keniscayaan untuk meningkat kan daya saing dan daya dukung perekonomian nasional, mengingat jumlah wirausaha  di sektor industri pengolahan dan sektor usaha yang berbasis knowledge relatif masih sangat kurang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia.   Padahal sektor ini akan menjadi tumpuan untuk meningkatkan produktivitas, daya saing dan pertumbuhan ekonomi nasional dalam era Knowledge bases economy pada masa mendatang.

Pada sisi lain, perdagangan bebas telah menjadi kenyataan yang harus dihadapi pelaku usaha indonesia di tengah keterpurukan daya saing perekonominan nasional.  Untuk itu, upaya mengembangkan dua puluh juta  wirausaha baru yang berwawasan pengetahuan dan teknologi sampai dengan tahun 2020 merupakan kebutuhan yang mendesak untuk segera diwujudkan dalam rangka meningkatkan daya saing dan daya dukung perekonomian nasional pada masa mendatang.

Dalam rangka mengembangkan wirausaha baru yang berbasis pengetahuan dan teknologi, maka perlu dilakukan berbagai upaya pengembangan kewirausahaan di Indonesia terutama pada sektor-sektor ekonomi yang prospektif, serta perekayasaan budaya masyarakat yang mendukung pengembangan kewirausahaan, penciptaan lingkungan usaha yang kondusif dan dukungan perkuatan bagi lahirnya wirausaha baru yang berbasis pengetahuan dan teknologi.

PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN

Pengertian mengenai kewirausahaan telah cukup lama menjadi kontroversi, khususnya di kalangan peneliti.  Beberapa pakar memandang wirausaha sebagai individu yang menciptakan usaha. Seperti pendapat John Kao (1990) yang menyatakan bahwa:

Entrepreneurship is the attempt to create value through: (1) recognition of business opportunity, (2) the management of risk taking appropriate to the opportunity, (3) communicative and management skill to mobilize human, financial and material resources necessary to bring a project to fruition”.

Menurut John Kao, kewirausahaan adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan bisnis, dan wirausahawan adalah seorang pengusaha yang jeli, ulet, hati-hati dan terampil dalam menjalankan serta mengembangkan usahanya.

Sedangkan Timmons (1995) memandang kewirausahaan sebagai tindakan kreatif atau suatu kemampuan melihat dan memanfaatkan peluang, bahkan pada saat semua orang tidak melihat adanya peluang. Kewirausahaan adalah kesatuan terpadu dari semangat, nilai-nilai dan prinsip serta sikap, kiat, seni dan tindakan nyata yang sangat perlu, tepat dan unggul dalam menangani dan mengembangkan perusahaan atau kegiatan lain yang mengarah pada pelayanan terbaik kepada pelanggan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan termasuk masyarakat, bangsa dan negara.

JB Say, seorang ahli ekonomi Perancis, mengartikan kewirausahaan sebagai pergeseran sumber-sumber ekonomi dari daerah yang berproduksi lebih rendah ke daerah yang berproduksi lebih tinggi. Untuk menggeser sumber-sumber ekonomi diperlukan daya pikir, daya cipta dan segala daya yang dimiliki oleh seseorang agar tercipta suatu kondisi ekonomi yang lebih baik.

Stevenson (1999) memahami kewirausahaan sebagai suatu pola tingkah laku manajerial yang terpadu dalam upaya pemanfaatan peluang-peluang yang tersedia tanpa mengabaikan sumber daya yang dimilikinya.

Disebutkan oleh Drucker (1999) bahwa di AS seorang wirausaha sering diartikan sebagai seorang yang memulai bisnis baru, kecil dan milik sendiri. Seorang wirausaha dapat diartikan sebagai seorang yang berkemauan keras dalam melakukan tindakan yang bermanfaat dan patut menjadi teladan hidup.

McClelland (1961) dalam mendefinisikan kewirausahaan lebih menekankan pada individu yang menciptakan usaha, peneliti lain lebih menekankan pada karakteristik wirausahawan.

Dalam hal ini kewirausahaan dapat dipandang sebagai suatu tindakan kreatif dalam memanfaatkan kesempatan untuk mengawali dan menjalankan suatu kegiatan tertentu dengan tujuan memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan pihak-pihak lain. Menjadi wirausaha berarti memiliki kemampuan menemukan dan mengevaluasi peluang-peluang, mengumpulkan sumberdaya yang diperlukan dan bertindak untuk mendapatkan keuntungan dari peluang tersebut. Kewirausahaan merupakan kombinasi dari karakter wirausaha, kesempatan, dukungan sumber daya, dan tindakan.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa definisi kerja wirausaha yang akan dipakai dalam studi ini adalah seseorang yang:
(1) Memiliki daya kreativitas dan daya inovasi yang kuat.
(2) Mempunyai kemampuan manajerial yang tinggi.
(3) Menguasai pengetahuan tentang dunia bisnis secara mendalam.
(4) Berperilaku dengan tujuan membentuk suatu organisasi usaha.

Dalam studi ini, setiap wirausaha baru dianggap menciptakan unit usaha baru, sehingga jumlah wirausaha diproxy dengan menggunakan jumlah unit usaha. Struktur data yang tersedia di Indonesia adalah data jumlah unit usaha, dan bukan jumlah wirausahawan

PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN

Banyak hal dilapangan menunjukkan bahwa kondisi lingkungan berperan dalam pengembangan kewirausahaan, namun hal tersebut masih bersifat parsial dan deskriptif serta sebagian besar hanya berpusat pada aspek-aspek tertentu dari lingkungan. Keterbatasan literatur dan konsep pemahaman mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan kewirausahaan mempersulit pembuat kebijakan (pemerintah) dalam mengembangkan kewirausahaan di daerahnya.

Hubungan antara pengembangan kewirausahaan dengan keadaan lingkungannya. Hal ini pada umumnya dilakukan dalam porsi kecil-kecil, tersebar di mana-mana, dan banyak bersifat deskriptif. Akibat dari terbatasnya literatur dan konsep-konsep yang mantap tentang hubungan antara kewirausahaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangannya, timbul kesulitan di banyak negara tentang cara pemerintah mengembangkan kewirausahaan. Pemahaman hubungan kewirausahaan dan lingkungannya akan dapat digunakan dalam menyusun strategi pengembangan kewirausahaan di Indonesia.

Hubungan antara berbagai faktor terkait dengan kewirausahaan. Faktor-faktor tersebut yaitu: opportunity, ability to enterprise, propensity to enterprise, likelihood to enterprise, dan new venture creation, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kewirausahaan dikaitkan dengan suatu usaha yang dilakukan oleh wirausahawan. Termasuk di dalamnya peranan pemerintah dalam upaya mengembangkan usaha-usaha ekonomi baru melalui para wirausaha, fasilitas yang diperlukan, serta faktor-faktor sosial-ekonomi yang berpengaruh pada proses timbul dan berkembangnya kewirausahaan.

Identifikasi lima faktor lingkungan yang berpengaruh dalam pengembangan kewirausahaan, yaitu:

  1. Prosedur dan kebijakan pemerintah
  2. Kondisi sosial ekonomi
  3. Ketrampilan kewirausahaan dan kemampuan bisnis
  4. Dukungan keuangan
  5. Dukungan non keuangan

Kombinasi yang tepat dari kelima faktor lingkungan tersebut ditambah kehadiran calon wirausaha akan melahirkan sebuah kegiatan bisnis baru.

Identifikasi empat unsur pembentuk wirausaha, yaitu:
(1) Peluang bisnis yang menguntungkan.
(2) Pengetahuan teknis kewirausahaan.
(3) Ketrampilan bisnis.
(4) Inisiatif wirausaha.

Pengetahuan teknis dan ketrampilan bisnis ini didefinisikan sebagai ability to enterprise, sedang inisiatif didefinisikan sebagai propensity to enterprise. Jadi tiga elemen pokok yang mempengaruhi pembentukan kewirausahaan adalah peluang (opportunity), kemauan berwirausaha (propensity to enterprise), dan kemampuan berwirausaha (ability to enterprise).

Peluang Berwirausaha
Peluang diartikan sebagai tingkat kemungkinan lahirnya usaha baru dan luasnya kesempatan yang tersedia bagi wirausaha untuk memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya dalam mencapai keberhasilan. Peluang wirausaha semakin tinggi jika kerangka institusional dan kerangka hukum mendukung terciptanya pasar yang efisien. Di samping itu, semakin rendah kendala