Materi Kuliah Peternakan

PRAKATA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan mengucap syukur Alhamdulillah, maka sampai saat ini saya : Ir. Rohmad, MMA telah menulis beberapa Artikel dan Diktat Kuliah untuk Kalangan Sendiri di Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian UNISKA Kediri – Jawa Timur.

Adapun Diktat yang pernah ditulis dan diterbitkan di Blog http:rohmatfapertanian.wordpress.com. yaitu :
1. Diktat Pengantar Ilmu Peternakan (PIP)
2. Diktat Ilmu Ekonomi Umum (IEU) Seri 1 sampai 4.
3. Diktat Kewirausahaan Seri 1 sampai 4
4. Diktat Dasar-Dasar Manajemen (Dasman) Seri 1 sampai 2
5. Diktat Genetika Ternak Seri 1 sampai 12
6. Diktat Dasar Aneka Ternak Bab 1 sampai Bab 21

Adapun Artikel yang terkait dengan Mata Kuliah dan dan diterbitkan di Blog http:rohmatfapertanian.wordpress.com. yaitu :
1. Manajemen Pemasaran Internasional
2.Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Ayam Buras
3. Pembangunan Peternakan Berwawasan Agribisnis dan Berkelanjutan
4. Pengembangan Wirausahawan Baru
5. Contoh TOT Pelatihan kepemimpinan dan Kewirausahaan Agribisnis
6. Contoh Kuisioner Usaha Mandiri dan Umpan Balik Pelatihan

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

DIKTAT PENGANTAR ILMU PETERNAKAN (PIP)

Untuk Kalangan Sendiri
Oleh : Ir. Rohmad, MMA

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ISLAM KADIRI
KEDIRI

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas terselesaikannya Diktat Kuliah Pengantar Ilmu Peternakan (PIP). Diktat kuliah ini disusun berdasarkan konsep dan pustaka yang penulis pandang relevan untuk mengenalkan jenis-jenis ternak secara umum dan poetnsi produksi jenis ternak untuk budidaya, yang nantinya merupakan suatu keahlian dari sarjana peternakan.
Tentu saja isi diktat ini sangat singkat, oleh karena itu membaca pustaka asli sangat dianjurkan bagi mahasiswa sehingga cakrawala berpikir dunia peternakan lebih luas dan mendalam. Secara tekhnis, materi kuliah tercakup dalam 6 pokok bahasan yang direncaanakan selesai dalam 15 kali kuliah tatap muka di kelas, 6 kali tugas terstruktur, 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester.
Evaluasi akhir merupakan nilai kumulatif dari nilai tugas tersruktur (20%), nilai ujian tengah semester (40%), dan nilai ujian akhir semester (40%).
Penulis mengharapkan diktat ini dapat dipandang sebagai upaya agar mahasiswa lebih mudah untuk menjadi tahu, mau, dan akhirnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam lingkup ilmu ekonomi produksi bidang peternakan.

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I. Pendahuluan
Pengertian  Ilmu
Ilmu Sebagai Obyek Empiris
Cabang-cabang Ilmu
Kegunaan Ternak
Karakteristik Peternakan
Umpan Balik
BAB II. TERNAK  UNGGAS
Ternak Ayam
Ternak Itik
Ternak Angsa
Ternak Entog
Ternak Tiktok
Umpan Balik
BAB III. TERNAK  POTONG  BESAR
Pendahuluan
Sapi
Kerbau
Kuda
Umpan Balik
BAB IV. TERNAK  POTONG  KECIL
Kambing
Domba
Umpan Balik
BAB V. TERNAK  PERAH
Pendahuluan
Sapi Perah
Kerbau Perah
Kambing Perah
Umpan Balik
BAB VI. ANEKA  TERNAK
Pendahuluan
Burung Puyuh
Lebah
Kelinci
Umpan Balik
BAB VII. PENUTUP

BAB I. PENDAHULUAN
Pengertian Ilmu

Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara obyektif, sistematis, metodis dan berlaku umum serta memiliki ciri-ciri tertentu atau pengetahuan yang bersifat ilmiah. Ciri Keilmuan mempunyai sifat ontologis yaitu memiliki landasan yang didasarkan pada :

  1. Jawaban dari beberapa pertanyaan : Apakah, Bagamaina, Bagaimanakah hubungan yang terprogram dalam metode ilmiah.
  2. Obyek dapat diuji dengan Panca Indra (Empiris).
  3. Melalui penerapan logika yaitu berpikir teratur melalui lintasan deduktif dan induktif.

Mengenai kriteria kebenaran dalam ilmu terdapat beberapa Teori yaitu :

  1. Teori koheren, yaitu suatu pernyataan atau kesimpulan tersebut koheren atau konsisten dengan pernyataan atau kesimpulan terdahulu yang dianggap benar.
  2. Teori Korespondensi, yaitu suatu pernyataan dianggap benar apabila materi pernyataan/pengetahuan yang dikandung berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut.

              Berdasarkan axiologi ilmu (nilai ilmu),maka selalu berhubungan dengan penggunaan ilmu, kaitan antara penggunaan ilmu dengan kaidah moral, kaitan antara penentuan obyek yang ditelaah dengan pilihan-pilihan moral dan berhubungan dengan teknik prosedural (metode ilmiah) dengan nilai-nilai moral. Pada tahap permulaan suatu ilmu itu bersifat merdeka dan bebas dari nilai, namun dalam penerapan kegiatan praktis pada umumnya ilmu akan memihak serta mensinergikan dengan nilai-nilai moral. Jadi Ilmu harus berfungsi untuk memberikan penjelasan atas dugaan permasalahan yang dihadapi manusia sehingga bisa sebagai dasar dalam pengambilan keputusan berdasarkan penafsiran ilmiah.

Ilmu Sebagai Obyek Empiris
Di dalam metode keilmuan selalu menerapkan dasar logika, hipotesis dan verifikasi suatu permasalahan/obyek yang akan diamati. Dengan demikian obyek ilmu harus bersifat EMPIRIS (terjangkau oleh fitrah manusia dan menggunakan panca indera). Asumsi-asumsi ilmu terhadap obyek empiris meliputi :

  1. Obyek satu dengan yang lainnya mempunyai keserupaan (bentuk, struktur, sifat) sehingga ilmu tidak mempelajari obyek per individu karena tidak praktis dan kurang berguna.
  2. Benda sebagai obyek dalam jangka waktu tertentu tidak mengalami perubahan karena ilmu mempelajari tingkah laku obyek dalam keadaan tertentu.
  3. Tiap benda atau obyek yang diamati bukan suatu kebetulan tetapi memiliki pola  tetap.

Namun dalam menyusun ilmu sebagai obyek empiris menimbulkan keterbatasan, yaitu :

  1. Kumpulan pengetahuan yang dikumpulkan cenderung merupakan kumpulan fakta yang mungkin satu sama lain tidak cocok.
  2. Terdapat perbedaan alam mengartikan hakekat pengalaman dalam menangkap gejala fisik yang ada dengan panca indera. Apakah pengalaman bisa merupakan stimulus panca indera, persepsi atau sensasi.

Cabang-cabang Utama Ilmu
Cabang-cabang suatu keilmuan yang berkembang dewasa ini pada dasarnya berkembang dari 2 cabang utama, yang secara lengkap tersaji dalam bagan di bawah ini :

Ilmu Alam (PhisicalScience) mempelajari Zat-zat (benda mati) yang membentuk alam semesta
Terbagi : Fisika (Massa dan Energi), Kimia (Subtansi Zat), Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA) mempelajari Benda Langit (Astronomi) dan Bumi (Geologi)
Ilmu Hayat (Biological Science) mempelajari Makhluk Hidup di alam semesta.
Terbagi  : Biologi (struktur dan Sifat Makhluk hidup), Zoologi (Struktur dan Sifat Hewan) dan Plantologi (struktur dan Sifat Tumbuhan)
Ethology = Ilmu tingkah laku hewan, Etiology = Ilmu tentang sebab musabab suatu penyakit.
Ilmu Sosial mempelajari Interaksi antara manusia dengan manusia lainnya.
Terbagi : Anthropologi mempelajari manusia dalam perspektif waktu dan tempat.
Phisikologi mempelajari proses mental dan kelakuan manusia.
Ekonomi mempelajari manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya
Sosiologi mempelajari struktur organ sosial manusia.
Politik mempelajari sistem dan proses dalam kehidupan manusia berpemerintahan dan bernegara (koloni)
Dalam perkembangan jaman, maka tiap cabang ilmu mempunyai cabang yang lebih kecil (ranting) dan bersifat spesifik, sehingga dapat dikatakan kelompok-kelompok cabang ilmu diatas merupakan ilmu murni. Pengembangan cabang pada umumnya merupakan ilmu-ilmu terapan. Contoh Ilmu Murni Biologi berkembang dalam terapan Ilmu Ternak, Genetika dll. Ilmu Murni Ekonomi berkembang dalam terapan Ilmu Manajemen, Akuntansi, Pajak dll.

Pada Undang-Undang Pokok kehewanan, Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967, tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan, pada Bab I Pasal 1, dikemukakan beberapa Istilah diantaranya :

  1. Ternak adalah Hewan piara yang kehidupannya yakni mengenai tempat, perkembang biakan serta manfaatnya diatur dan diawasi oleh manusia dan dipelihara khusus sebagai penghasil bahan-bahan dan jasa-jasa yang berguna bagi kepentingan hidup manusia.
  2. Peternak adalah orang atau badan hukum dan atau buruh peternakan yang mata pencaharian nya sebagian atau seluruhnya bersumber kepada peternakan.
  3. Peternakan adalah pengusahaan/pembudidayaan/pemeliharaan ternak dengan segala fasilitas penunjang bagi kehidupan ternak.
  4. Peternakan murni adalah cara peternakan dimana perkembangbiakan ternak-ternaknya dilakukan dengan jalan pemacekan antara ternak/hewan yang termasuk dalam satu rumpun.
  5. Perusahaan peternakan adalah usaha peternakan yang dilakukan pada tempat tertentu serta perkembang biakannya dan manfaatnya diatur dan diawasi oleh peternak-peternak.
  6. Kelas Ternak adalah sekumpulan atau sekelompok bangsa-bangsa ternak yang dibentuk dan dikembangkan mula-mula disuatu daerah tertentu.
  7. Bangsa Ternak (Breed) adalah Suatu kelompok dari ternak yang memiliki persamaan dalam bentuk morphologis, sifat-sifat fisiologis ddan bentuk anatomis yang karakteristik untuk tiap-tiap bangsa dan sifat-sifat persamaan ini dapat diturunkan pada generasi selanjutnya.

 Arti dari istilah tersebut dikemukakan terlebih dahulu untuk menghindarkan salah pengertian sekaligus untuk membedakan pengertian “TERNAK” dengan “HEWAN” yang sering salah dalam penggunaan sehari-hari. Tidak semua hewan tergolong ternak dan dengan sendirinya tidak semua hewan dapat diusahakan sebagai ternak. Hewan adalah semua binatang yang hidup di darat baik yang dipelihara maupun yang hidup secara liar. Jadi bisa dikatakan bahwa hewan adalah ternak dalam arti luas.

Ada Istilah Animal Husbandry dan Animal Breeding. Dalam Bahasa Indonesia keduanya memiliki arti yang sama yaitu “ BETERNAK”, namun sebenarnya ada perbedaan makna diantara keduanya :

  1. Animal Husbandry adalah Beternak dalam arti luas meliputi komponen memelihara, merawat, mengatur kehidupan, mengatur perkawinan, mengatur kelahiran, penjagaan kesehatan serta mengambil manfaatnya.
  2. Animal Breeding adalah Beternak dalam arti sempit yang hanya menitikberatkan pada usaha mengatur perkembangbiakan seperti mengatur perkawinan, pemilihan bibit, menjaga kemandulan dan kebuntingan serta kelahiran.
  3. Cross Breeding adalah Perkawinan antara hewan/ternak yang berbeda bangsanya (Breed) dimana masing-masing adalah bangsa murni.
  4. Grading Up adalah suatu sistem breeding dimana pejantan murni (biasanya didatangkan dari tempat lain) dikawinkan dengan betina lokal. Sesudah itu keturunannya yang betina dikawinkan pula dengan pejantan murni itu. Hasil-hasil anakan yang jantan terus disingkirkan sampai pada titik tingkat genetik tertentu, sehingga hasil akhir akan diperoleh betina dan pejantan Unggul. Nama yang umum dimasyarakat kalau masih dalam taraf grading up adalah Peranakan.
  5. Close Breeding / Inbreeding adalah Sistem perkawinan antar individu yang masih erat hubungan kekeluargaannya.
  6. Line Breeding adalah In Breeding yang diarahkan pada suatu sifat Individu yang disukai.
  7. Line-crossing adalah persilangan antara lines baik dalam bangsa yang sama ataupun antar bangsa yang berbeda.

Kegunaan Ternak
Ternak-ternak yang ada sekarang bermula dari hewan-hewan yang liar. Karena adanya kepentingan manusia terhadap hewan-hewan liar tersebut, maka manusia melakukan penjinakan (domestikasi) agar menjadi hewan piara (ternak) yang berguna dan bermanfaat bagi manusia. Adapun manfaat atau kegunaan dari usaha ternak yaitu :

Sebagai Sumber Gizi.
Produksi ternak seperti telur, daging dan susu merupakan bahan makanan yang bergizi tinggi karena banyak mengandung protein, mudah dicerna dan lezat. Bahkan air susu merupakan komponen penyempurna dari pemenuhan 4 sehat 5 sempurna.
Sebagai Sumber Tenaga
Keberadaan ternak besar dan kecil dimanfaatkan untuk sumber tenaga menarik alat-alat pertanian dan alat transportasi. Keberadaan sumber tenaga ternak sebagai pembajak sawah masih dipertahankan karena topografi tanah pertanian yang berbukit-bukit sehingga sangat sulit penerapan mekanisasi pertanian modern.
Sebagai Sumber Pupuk
Hasil samping kotoran ternak dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kandang bagi tanaman
Sebagai Sumber Penghasilan.
Dengan memelihara ternak maka dapat merupakan sumber untuk memperoleh uang.
Sebagai Sumber Bahan Industri.
Hasil utama dan samping dari ternak dapat digunakan untuk bahan baku industri. Telur, daging dan susu dapat digunakan dalam berbagai industri makanan. Kulit, Bulu, tulang dan  lainnya dapat digunakan untuk industri kerajinan.
Sebagai Sumber Lapangan Kerja.
Dengan semakin berkembangnya usaha peternakan maka akan membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak. Industri peternakan adalah industri biologis sehingga campur tangan manusia mutlak diperlukan.
Sebagai Sumber Penelitian Ilmu.
Bagi perkembangan ilmu pengetahuan, maka ternak merupakan sarana penelitian yang efektif bagi pemenuhan kebutuhan manusia.
Sebagai Sumber Pariwisata
Dari segi sosial, maka ternak merupakan daya tarik wisata tersendiri, khususnya terkait dengan hobi atau kesenangan (Funcy).
Sebagai Sumber Status Sosial.
Kepemilikan Ternak dapat meningkatkan status sosial bagi seseorang atau sekelompok orang khususnya kepemilikan ternak-ternak pilihan.
Sebagai Sumber Sosial Budaya.
Di Indonesia masih sangat banyak dibutuhkan ternak-ternak sebagai kelengkapan dalam sesaji, kepercayaan yang berkaitan dengan tatacara atau adat daerah.

Karakteristik Peternakan

  1. Karakteristik Ternak adalah Usaha / Industri yang dikendalikan oleh manusia dimana mencakup 4 komponen yaitu : Manusia sebagai subyek, Ternak sebagai obyek, lahan/tanah sebagai basis ekologi dan teknologi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
  2. Karakteristik Usaha dinamis, dimana usaha peternakan harus dikaji dengan analisis dinamis dengan referensi waktu dan penuh dengan ketidakpastian.
  3. Karakteristik Produk peternakan adalah karakteristik hasil utama maupun sampingan usaha peternakan. Yaitu Fragile (mudah pecah secara fisik), Perishable (mudah rusak secara kimiawi dan biologi), Quality variation ( Tingkat Variasi yang tinggi dalam kualitas produk) serta Bulky ( Nilai ekonomis hasil samping berlawanan dengan hasil utama).
  4. Karakteristik Produksi Peternakan adalah faktor-faktor produksi usaha peternakan yang jumlahnya relatif banyak serta dominansi pengaruh lingkungan yang besar.
  5. Karakateristik sistim Usaha Peternakan terdiri dari Sistem Intensif (Modal dan teknologi tinggi/banyak dengan tenaga kerja rendah/sedikit) serta sistem Ektensif (Modal dan teknologi rendah/sedikit dengan tenaga kerja tinggi/banyak). Jadi yang Intensif respon supply rendah sedangkan ektensif respon suplly tinggi.
  6. Karakteristik tipe ternak berdasarkan penggunaan pakan yaitu Ternak Non Ruminansia (Berperut tunggal) dan Ternak Ruminansia (Berperut ganda).

Karakteristik Peternakan di Indonesia terdiri dari :
Peternakan Tradisional dengan ciri-ciri Jumlah ternak sedikit, Input teknologi rendah, Tenaga kerja Keluarga dan profit rendah (sebagai tabungan).
Peternakan Backyard dengan ciri-ciri Jumlah ternak sedikit, Input teknologi mulai tinggi, Tenaga kerja Keluarga dan profit sedang. Diwakili peternak ayam ras dan sapi perah
Peternakan Modern dengan ciri-ciri Jumlah ternak banyak, Input teknologi tinggi, Tenaga kerja spesifik bidang peternakan dan profit tinggi.

Dengan demikian ternak-ternak yang dibudidayakan oleh manusia dapat dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu :
Ternak Unggas (Class Aves biasanya Meat type dan Egg type) antara lain Ayam (Gallus  domesticus), Itik (Anas planthyrynchos), Entog (Cairina moschata), Angsa (Anser anser) dan Kalkun (Melegris galopavo) dan Tiktok.

Gambar Ternak Unggas

Ternak Potong (Class Mamalia biasanya Meat type) antara lain Ternak Potong Besar : Sapi (Bos species), Kerbau (Buballus bubalis), Kuda (Equs caballus), Keledai (Equs asinus), Zebra (Equs hipotigris) dan Unta (Camell dromedarius). Ternak Potong Kecil : Kambing (Capra species), Domba (Ovis species), Babi (sus species).
Gambar Ternak Potong

Ternak Perah (Class Mamalia biasanya Milk type) antara lain Sapi Perah, Kerbau Perah, Kuda Perah, Kambing Perah dan Unta Perah.
Gambar Ternak Perah

Aneka Ternak adalah ternak-ternak yang tidak dalam satu class antara lain : Kelinci (Lepus cuniculus), Lebah (Apis species), Puyuh (Coturnix coturnix), Bekicot, Walet, Kodok dll.
Gambar Aneka Ternak

Berdasarkan Uraian diatas maka Pengantar Ilmu Peternakan (PIP) adalah suatu ilmu yang mengantarkan dalam proses mempelajari pengusahaan ternak khususnya sebagai penghasil bahan-bahan dan jasa-jasa yang berguna bagi kepentingan manusia.

Umpan Balik

  1. Apa yang saudara ketahui tentang Konklusi (kesimpulan), Teori dan Hukum
  2. Jelaskan pengertian pengetahuan dan ilmu serta apa persamaan dan perbedaannya.
  3. Jelaskan syarat-syarat sebuah Ilmu.
  4. Apa kelebihan pemupukan dengan pupuk kandang.
  5. Mengapa air susu disebut sebagai penyempurna dalam asupan gizi makanan.
  6. Mengapa tenaga ternak masih dipertahankan bagi pengolahan tanah pertanian.
  7. Apa yang saudara ketahui tentang sistem usaha peternakan yang bersifat sub sistem.
  8. Jelaskan sistim usaha Backyard serta komponen apa saja yang sudah menggunakan input teknologi tinggi.
  9. Jelaskan cross breeding dan in breeding serta apa manfaatnya.
  10. Jelaskan pengertian Final Stock.

TERNAK UNGGAS
TERNAK AYAM (Gallus domesticus)

Dalam sistematika binatang (sistematika zoology) ternak ayam dapat disusun sbb.
Kingdom    : Animal  (Binatang)
Phylum      : Chordata (Binatang bertulang belakang)
Class         : Aves (Burung).
Order         : Galliformes (Burung dengan bulu pengait)
Family       : Phasianidae (Burung berparuh dan berjalan ditanah)
Genus       : Gallus (Ayam Hutan).
Species     : Gallus domesticus (Ayam hutan yang dijinakkan).

Kalau ditilik dari asal usul ayam-ayam yang ada sekarang diduga berasal dari ayam-ayam liar (Wild-fowl) atau ayam hutan dari Gallus species. Adapun  gallus species yang memungkinkan adanya ternak ayam sekarang ini ada 4, yaitu :

Gallus gallus
Dikenal dengan Gallus bankiva, gallus ferrugenius, Red Jungle Fowl.
Tempat hidup disekitar hutan india, Burma, Siam (Muangthai), Chocin China (Indo China), Filipina, Malaysia dan Sumatra Barat.
Ciri-ciri : Bulu Utama pada ekor 14 helai, Jengger satu, pial dua, Badan relatif kecil dibanding dengan ayam sekarang, Jantan Bulu pada bagian leher, sayap dan punggung berwarna merah, sedangkan bagian dada dan badan bawah berwarna hitam. Pada Betina bulu berwarna coklat bergaris hitam, Telur kecil berkulit merah kekuningan.

Gallus lafayetti
Dikenal dengan Ceylonese Jungle Fowl.
Tempat hidup disekitar Pulau Ceylon (Srilangka)
Ciri-ciri : Mirip Gallus gallus, hanya Bulu Jantan Bulu pada bagian leher, sayap dan punggung berwarna merah, sedangkan bagian dada dan badan bawah berwarna Oranye. Pada bagian tengah jengger warna kuning dikelilingi merah, Kulit telur berbintik-bintik.

Gallus sonneratti
Dikenal dengan Grey Jungle Fowl.
Tempat hidup disekitar hutan india bagian barat daya dari Bombay sampai Madras.
Ciri-ciri : Mirip Gallus gallus, hanya pada bulu ada aspek warna abu-abu. Kulit telur kadang-kadang berbintik-bintik.

Gallus varius
Dikenal dengan Green Jungle Fowl / Japan Jungle Fowl
Tempat hidup disekitar hutan Jawa Timur, Bali, Lombok,Nusa Tenggara sampai flores.
Ciri-ciri : Bulu Utama pada ekor 16 helai, Jengger satu licin, pial satu terletak antara rahang, Badan relatif kecil dibanding dengan ayam sekarang, Jantan Bulu pada bagian leher pendek dan bulat, berwarna hitam dilapisi warna kehijauan pada permukaan atas.

Menurut Teori asal usul terbentuknya bangsa-bangsa ayam sekarang dikenal 2 teori yaitu :

Teori Monopyletic
Dikemukakan oleh Charles Darwin (1868), dimana dikemukakan bahwa yang menurunkan bangsa-bangsa ayam sekarang adalah jenis (species) gallus gallus. Alasan :

  1. Gallus gallus mudah dikawinkan secara bebas dengan bangsa ayam yang ada sekarang, sedangkan ketiga jenis yang lain sulit dilakukan.
  2. Filia Pertama (F-1) antara Gallus gallus dengan bangsa ayam yang ada sekarang biasanya bersifat subur, sedangkan ketiga jenis yang lain bersifat mandul.
  3. Pada ayam-ayam seperti Brown Leghorn dan Black Breasted, Red Games dalam beberapa hal terutama warna bulu mirip dengan gallus gallus.
  4. Dari beberapa percobaan perkawinan pada ayam-ayam jinak sewaktu-waktu terdapat keturunan seperti Gallus gallus (Reversion)

Teori Polypyletic
Teori ini mengemukakan adanya 2 kemingkinan mengenai terbentuknya bangsa-bangsa ayam sekarang.
Pertama : Kemungkinan dibentuk oleh lebih dari satu jenis yang ada dan
Kedua    : Kemungkinan dibentuk oleh jenis yang ada sekarang dengan jenis lain.
Alasan : – Bangsa – bangsa yang terbentuk di kelas Mediteranean mungkin diturunkan oleh sekurang-kurangnya 2 jenis dari 4 jenis yang ada, sedang bangsa yang ada di kelas Asia kemungkinan diturunkan dari nenek moyang jenis ayam yang telah punah.

Bangsa dan Kelas Ayam
Bangsa ayam adalah suatu kelompok ayam yang memiliki persamaan dalam bentuk morphologis, sifat physiologis dan bentuk anatomis yang karakteristik untuk tiap-tiap bangsa dan sifat-sifat persamaan ini dapat diturunkan pada generasi berikutnya.
Kelas ayam adalah sekumpulan atau sekelompok bangsa ayam yang dibentuk dan dikembangkan mula-mula didaerah tertentu yang karakteristik tiap-tiap bangsa dan sifat-sifatnya dapat diturunkan pada generasi berikutnya. Sifat-sifat khas yang terdapat dalam bangsa ayam dan kelas ayam telah disahkan oleh The Standart American of Perfection. Ada 4 kelas yang memiliki arti ekonomi yaitu :

1.    Kelas Amerika (American Class)

Bangsa bangsa ayam kelas Amerika biasanya berbadan besar dengan sifat-sifat umum seperti : warna kulit kuning, Cakar (Shank) tidak berbulu, daun telinga berwarna merah, Umumnya warna kulit telur coklat (kecuali Lamonas berwarna putih kulit telurnya)

Contoh Bangsa-bangsa Kelas Amerika :
Plymouth Rock
Badan agak besar panjang dan tipe dwiguna, Jengger tunggal bergerigi dan pial 2 helai, warna jengger, pial dan muka merah, Paruh putih kehitaman dan kaki keputihan, kulit telur putih kotor, telur umumnya kecil serta sulit menetas.
Terdapat beberapa varietas : – Barret Plymouth Rock, White Plymouth Rock, Colombian Plymouth Rock, Blue Plymouth Rock, Silver penciled Plymouth Rock dan Partridge Plymouth Rock,
Rhode Island
Tubuh hampir sama dengan Plymouth Rock, terdapat beberapa varietas antara lain Rhode Island Red dan Rhode Island White.
Wyandottes
Tubuh bulat dan cepat tumbuh bulu, punggung pendek dan melekuk agak dalam, terdapat beberapa vaietas seperti : White Wyandottes, Buff Wyandottes, Black Wyandottes, Colombian Wyandottes, Partridge Wyandottes, Silver Penciled Wyandottes, Silver Laced Wyandottes (sangat menarik)
New Hampshire
Jengger tunggal seperti Rhode Island, pada jantan warna brillian deep chest nut, pada betina warna medium chest nut.
Lamonas, Yersey White Giants, Yavas, Chantecler dan lain-lain

2.    Kelas Mediteranean (Mediteranean Class)

Bangsa dari Kelas Mediteranean umumnya memiliki  badan yang relatif kecil, umumnya kulit berwarna putih (kecuali leghorn dan anconas berkulit kuning), daun telinga warna putih/perak, cakar tidak berbulu, jengger dan pial relatif besar (jantan/betina), temperamen nervous, jarang mengeram serta umumnya petelur yang baik.

Contoh Bangsa-bangsa dari Kelas Mediteranean :
Leghorn
Paruh, kulit, cakar dan jari berwarna kuning, terdapat varietas jengger tunggal (single comb) dan jengger Rose (Rose Comb), terdapat varietas warna : Buff, Black, Red, White, Silvers, colombian, Black Tailed Red, White Dark Brown, Light.

Red Leghorn

Anconas
Menyerupai Leghorn dan mempunyai bulu hitam dan beberapa bulu bercak-bercak putih.
Minorca
Berbulu panjang, berjengger lebar dan pial lebar, Merupakan terbesar dikelas Mediteranean, terdapat varietas : Black, White, Jengger tunggal dan Rose.
Blue Andalusian
Seperti Plymouth Rock, tidak baik untuk petelur, Warna bulu Hitam:biru:putih dengan perbandingan 1:2:1.
White faces black spanish
Buttercup dan lain-lain.

3.    Kelas Inggris (English class)

Mempunyai sifat-sifat umum : warna kulit umumnya putih (kecuali Cornish berwarna kuning), daun telinga merah, cakar tidak berbulu, kulit telur coklat (kecuali Dorking & Redcap berwarna putih).

Contoh Bangsa-bangsa dari kelas Inggris :
Orpington
Tubuh besar panjang dalam dan bulat, bulu penuh pada dada dan punggung, terdapat varietas : Buff, Blue, Black, White.
Dorking
Tubuh panjang dalam lebar dan agak rendah, terdapat varietas : White, colored, silver-grey.
Australops
Berasal dari Black Orpington, bulu hitam, paruh dan shank kehitaman-kuning, muka jengger pial merah cerah.
Sussex
Tubuh panjang lebar dalam dan bahu lebar dari depan kebagian belakang. Terdapat varietas : light, red, spekled.
Redcap
Besar badan sedang dan jengger rose.
Cornish
Tipe pedaging dengan bulu kompak, breas (daerah dada) sangat dalam dan lebar, terdapat varietas : dark, white, white laced red.

4.    Kelas Asia (Asiatic class)

Bangsa-bangsa dari kelas asia memiliki tubuh yang besar dengan ditutupi bulu yang tebal sampai kekaki (shank).

  1. Brahma. Terdapat beberapa varietas : Buff dan Light.
  2. Cochin. Terdapat varietas : Buff, Black, White dan Partidge.
  3. Langshan. Terdapat varietas : Black dan White.

 Strain.
Strain adalah merek dagang atau hasil seleksi dalam breeding untuk tujuan tertentu. Tujuannya pada umumnya cenderung untuk komersial atau nilai ekonomi tinggi (high producers).
Pada peredaran sekarang telah jarang ditemui bangsa-bangsa ayam seperti leghorn, australops, rhode island red dan sebagainya. Yang umum dipelihara atau diternakkan adalah strain-strain ayam yang merupakan bibit unggul hasil breeding farm baik pada ayam ras maupun ayam negeri dalam bentuk Final Stock (FS).
Contoh beberapa Strain Ayam yang pernah beredar di Indonesia :

  1. Kimber chick asal Kimber farm di Fremont California USA. Jenis Kimber Chick K 137 Petelur putih (FS), Kimber K 163 (Putih kotor Final Stock), Kimbrown (Coklat merah FS Betina, Putih kotor FS Jantan), Kimcross K 44 ayam pedaging (broiler) putih.
  2. Babcock Asal USA. Babcock B 300 dan B 300 F petelur putih (FS). Babcock B 380, coklat merah (FS betina), putih kotor (FS Jantan).
  3. Hy-line. Hy-line W 36 petelur putih (FS), Hy-line 717, coklat merah (FS), Hy-line brown, coklat (FS Betina), putih coklat (FS Jantan).
  4. Super Harco Hitam merah (FS betina) Lurik (FS Jantan).
  5. Jagerveld chick asal negeri Belanda. Jagersveld white leghorn (putih), Rosella coklat merah (FS Betina), putih coklat (FS Jantan), Jagersveld Broiler putih kotor.
  6. Dekalb. Asal massasuhhet USA. Dekalb warren sex link, coklat merah (FS Betina), putih coklat (FS Jantan).Dekalb amber link putih coklat (FS Betina), Dekalb XL Link putih (FS).
  7. Indian River ayam pedaging (broiler) putih.
  8. Cobb. Asal Massasushet USA. Cobb 100 pedaging putih kotor.
  9. Hubbard. Hubbard Leghorn putih (FS), Hubbard golden comet, coklat merah (FS Betina), Hubbard broiler putih kotor.
  10. Lohman, Multibreeder, Bromo, CP (charoend phokphand).,Platinum. dan masih banyak lagi yang belum tertulis.

Klasifikasi Ayam
Pada ayam dikenal adanya 2 cara dalam klasifikasi yaitu :
Klasifikasi Standart
Klasifikasi yang didasarkan pada tempat / kedudukan ayam. Istilah yang lazim dipakai adalah pembagian berdasarkan Kelas, Bangsa, Varietas dan Strain.
Klasifikasi Ekonomi
Klasifikasi yang didasarkan penggunaan atau tujuan pemeliharaan ayam dan menurut sifat produksi utamanya. Istilah yang lazim dipakai adalah Tipe Ayam. Pada saat ini tipe ayam dapat digolongkan menjadi 4 macam yaitu :

Tipe Petelur (Egg type)

Tipe ini sangat efisien merubah pakan menjadi telur. Misal Leghorn, Hy-Line, Minorca, Babcock W 300, Platinum dll)
Tipe Pedaging (Meat type)

Tipe ini sangat efisien merubah pakan menjadi daging. Misal Brahma, cochin, Indian River, CP, MF, Hubbard dll)
Tipe Dwiguna / Dual Purpose
Tipe ini sangat efisien merubah pakan menjadi daging dan telur. Misal Plymouth rock, Rhode Island, Australops, Lohman dll.
Tipe  Kesenangan (Fancy type)
Ayam-ayam untuk kesenangan/perhiasan karena dipelihara bukan untuk penghasil telur atau daging. Misal. Bantam, Yokohama, Kapas, Kate, Cemani, Bekisar dll.

Kandang Ayam
Kandang adalah Bangunan yang dibuat untuk tempat ternak ayam berlindung dari pengaruh luar dan tempat tinggal dalam memberikan produksi, tumbuh dan berkembang biak dan aktivitas lainnya. Kandang bagi ayam Ras / Negeri/ Unggul memiliki arti yang sangat penting dalam rangka mencapai tujuan pemeliharaan yang optimal.
Sistem Kandang.
Ditinjau dari bangunan kandang dan cara pemeliharaan, maka dikenal 4 sistem kandang yaitu :
Sistem Alas (Litter system)
Suatu kandang yang lantai menempel pada tanah, dimana alas kandang diberi Litter seperti sekam padi, Jerami padi yang dicacah, Serbuk gergaji, Tongkol jagung yang dicacah, postal dll. Kandang ini biasanya untuk pemeliharaan Intensif.
Sistem Sangkar / Kurungan (Cage system)
Suatu kandang yang lantai tidak menempel pada tanah tetapi berbentuk sangkar atau kurungan. Modifikasi dari jenis ini adalah Kandang Battery. Kandang ini digunakan untuk pemeliharaan intensif bahkan kandang sering dibuat bertingkat.
Sistem Umbaran (Raenge system)
Suatu kandang yang memiliki tempat halaman / umbaran. Pemeliharaan sistem ini biasanya semi intensif, dimana kadang-kadang dikandangkan dan kadang-kadang diumbar.
Sistem Kombinasi (Combination System)
Suatu kandang hasil penggabungan dari sistem kandang yang ada. Bisa dari 2 atau 3 sistem, bahkan bisa memformulasikan ke dalam bentuk modifikasi. Prinsip dasar penggunaan sistem kombinasi adalah untuk mengurangi kelemahan-kelemahan dari sistem yang lain.

Membangun Kandang
Untuk membangun sebuah kandang harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Mengetahui syaratnya yaitu Lokasi, Sistem serta Bentuk dan Konstruksinya.
  2. Mengetahui bentuk dan konstruksi bagian bawah, tengah dan atas.
  3. Bagian Bawah bisa litter, batery, panggung. Bagian tengah : Ventilasi, cahaya, angin. Sedangkan bagian atas adalah atap.
  4. Tipe Atap ada beberapa macam yaitu Monitor, semi monitor, gable, shade, zig-zaq dll.
  5. Kelembaban 50 – 60 %  suhu ideal dalam kandang 21-26 oC serta cahaya 14 – 17 jam/hari.
  6. Tidak perlu secara mutlak memperhatikan arah kandang dengan arah datangnya sinar matahari, akan tetapi jangan menentang datangnya angin. Ventilasi dibuat sebanyak mungkin.
  7. Kepadatan kandang disesuaikan dengan umur ternak ayam dimana secara prinsip ayam bisa bergerak bebas tetapi tidak terlalu leluasa untuk berlari. Kepadatan kandang disesuaikan dengan karakteristik dan tipe ayam. Patokan awal 40 ekor/m2 dan akhir 5 – 7 ekorm2 baik untuk pedaging maupun petelur.
  8.  Perlengkapan kandang harus terpenuhi untuk kegiatan manejemen pemeliharaan ayam seperti Brooder, Drinking through, Feeding through, dropping pit (kotoran), alat tangkap, alat suntuk dll.

Makanan
Ternak ayam tergolong Non Ruminansia, dimana lambungnya adalah lambung tunggal dengan alat pencernaan pendek/sederhana sehingga makanan harus sedikit serat kasar. Fungsi makanan adalah : Maintenance (Hidup Pokok), Produksi dan Reproduksi.

Bentuk Ransum
Ransum adalah sejumlah makanan yang siap diberikan kepada ayam untuk kebutuhan 24 jam. Ransum tersusun dari Bahan-bahan pakan. Ransum bisa berbentuk halus, kasar dan modifikasi dari 2 bentuk menjadi bentuk pellet dan crumble.

Jenis Makanan.
Jenis makanan pada dasarnya merupakan bahan-bahan penyusun ransum dan ransum jadi. Jenisnya antara lain Konsentrat (30 – 40 % Protein), Makanan fase Starter (20-22% Protein), Grower (18-20% Protein) , Layer/Finisher (16-18 % Protein).

Syarat Menyusun Ransum

  1. Memenuhi semua zat makanan yang dibutuhkan.
  2. Mengandung protein sesuai dengan umur.
  3. Kandungan lemak < 8 %, SK < 6 %, Metabolesme energi 2800 Kg Cal/Kg pakan).
  4. Mengandung mineral dan vitamin yang cukup.

Kesimpulan
Ada Segitiga sama sisi dengan komponen Bibit (Breeding), Pakan (Feeding) dan Manajemen yang memiliki kontribusi dalam usaha peternakan ayam. Manajemen terbagi menjadi Manajemen Rutinitas, Manajemen Non Rutin (Manajemen kandang dan penyakit) serta manajemen pasca panen.

Beberapa Istilah yang terkait dengan ternak ayam :

  1. DOC (Day Old Chick), anak ayam umur 1 hari.
  2. Chick = Anak ayam umur 7- 30 hari.
  3. Pullet = Ayam Petelur Umur 1 – 5/6 Bulan.
  4. Yearling = Ayam petelur umur kurang dari 1 tahun.
  5. Laying Hen = Ayam Petelur umur lebih dari 1 tahun.
  6. Cockerel = Ayam pejantan dewasa kelamin sampai umur 1 tahun.
  7. Cock = Ayam Pejantan umur lebih dari 1 tahun.
  8. Henny = Ayam jantan yang bulunya menyerupai ayam betina.
  9. Hen specs = Kacamata untuk ayam.
  10. Hatchery = Usaha khusus untuk penetasan.
  11. Hatcher = Mesin Tetas.
  12. Rearing = Kegiatan Pembesaran ayam jantan atau betina.
  13. Broiler = Ayam yang dibudidayakan untuk produksi daging umur sampai 8 minggu.
  14. Roaster = Ayam pedaging yang dipelihara lebih dari 2 bulan.
  15. Capon = Ayam jantan yang testesnya diambil.
  16. Barred = Warna bulu blirik.
  17. Brailling = Suatu teknik untuk mencegah ayam tidak terbang.
  18. Brooding = Memberi pemanasan atau mengerami.
  19. Broody/broodines = sifat mengerami telur.
  20. Cage = sangkar/kandang baterei, sedangkan cake = Bungkil.
  21. Cage layer fatigue = kelumpuhan akibat kurang gerakdalam sangkar/kandang baterei.
  22. Debeaking = Kegiatan potong paruh untuk mengurangi kanibalisme.
  23. Dewattling  = Pemotongan pial (wattle) pada unggas muda.
  24. Dubbing = Pemotongan jengger (comb) agar tidak mengganggu waktu makan.
  25. Giblet = Viscera unggas yang masih dapat dimakan (hati, Jantung dan Gizzard).

Umpan Balik

  1. Bagaimana caranya untuk mengetahui asal usul ayam.
  2. Kalau anda melihat ayam, maka apa yang akan anda amati dan bagaimana membuat kesimpulan hasil pengamatan anda.
  3. Mengapa strain ayam yang dipelihara oleh peternak dan dihasilkan oleh pabrik selalu silih berganti. Bagaimana pula bila selalu tetap strainnya.
  4. Apa yang saudara ketahui sistem pemeliharaan All in All Out.
  5. Jelaskan apakah yang dimaksud dengan kandang ideal bagi ternak ayam.
  6. Mengapa telur ayam kampung lebih enak dibandingkan dengan telur ayam ras.
  7. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari 4 sistem kandang ayam.
  8. Apakah persamaan dan perbedaan antara ransum dengan pakan.
  9. Apakah yang saudara ketahui dengan Ransum, Ransum seimbang, Ransum sempurna.
  10. Mengapa pemeliharaan awal ayam masih dibutuhkan pemanas (brooder) serta bagaimana akibat kalau pemanasannya kurang atau lebih.

TERNAK ITIK (Anas plathyryncos)
Itik (Anas plathyryncos) yang juga dikenal dengan nama Duck atau Bebek adalah tergolong Unggas Air dengan sistimatika Zoology sebagai berikut :

Kingdom       :  Animal
Phylum         :  Chordata
Class            :  Aves
Order            :  Anseriformes
Family          :  Anatidae
Genus          :  Anas
Species        :  Anas plathyryncos

Unggas air yang sefamily dengan itik adalah Genus Cairina dengan species Cairina muschata (Entog). Penjelasan tentang asal usul itik terpisah dengan entog karena keduanya tidak sama. Ternak itik yang banyak dikenal sekarang (itik domestik) merupakan itik-itik hasil budidaya (jinak) atau Anas domesticus. Itik ini merupakan keturunan dari Itik-itik liar species Anas plathyryncos yang dikenal dengan nama Wild Mallard. Itik-itik liar tersebut di Indonesia sering disebut dengan nama Belibis atau Wliwis.
Pada keadaan liar itik-itik tersebut mengalami penyebaran yang luas diantaranya dapat ditemui di Amerika Utara, Kanada dan Benua Eropa. Pada saat pergantian musim, maka itik-itik melakukan migrasi dari Eropa Utara ke Eropa Selatan sampai ke Afrika Utara. Selanjutnya itik-itik ini terdapat didaratan Amerika Selatan, Inggris, Malaysia, Tiongkok, Filipina dan Indonesia.

Itik-itik liar (Mallard) hidup berpasangan (monogamous) dan secara naluri masih mununjukkan sifat-sifat mengeram untuk menetaskan telur-telurnya. Pada itik jantan liar (Mallard drake) memiliki bulu warna yang indah dibanding dengan itik betina liar (Mallard female). Interaksi keduanya akan berkumpul pada saat musim kawin.
Alasan yang menguatkan bahwa itik-itik sekarang merupakan keturunan dari Mallard /Wild Mallard yaitu :

  1. Itik-itk domestik memiliki tanda-tanda karakteristik pada yang jantan yakni berupa bulu ekor yang mencuat ke atas (Sex Feather) seperti yang dimiliki oleh Mallard drake.
  2.  Dibanding dengan itik-itik liar yang lain, maka Mallard lebih mudah dijinakkan.

Dengan adanya proses domestikasi (penjinakkan) terhadap itik-itik liar dan adanya perubahan alamiah yang secara bertahap, maka terjadilah ternak itik sekarang dengan perubahan bentuk badan, hilangnya sifat mengeram dan perubahan monogamous menjadi Poligamous (Satu jantan untuk banyak betina).

Tanda-Tanda Itik.
–    Kepala  
Kepala tampak kecil dibandingkan dengan besar badan.
Di Kepala terdapat Paruh (Beak) besar lurus dan pipih, mendatar, ujungnya terdapat bagian keras (tip).
Pada rongga paruh (beak cavity) terdapat lembaran-lembaran bertanduk (herny lamella) yang berguna menyaring makanan.
–    Bulu 
Bulu bermacam-macam, menempel erat, keadaanya selalu berminyak yang berasal dari kelenjar minyak (pree gland) yang terletak pada pangkal ekor.
–    Kaki
 Kaki secara keseluruhan pendek. Pergelangan kaki (shank) tidak berbulu, sisik tidak jelas, berjari 4 yang dilengkapi dengan selaput (foot web) berfungsi membantu pergerakan di air
–    Lapisan Lemak  
Lapisan lemak sub cutan di bawah kulit untuk isolator dari kedinginan
–    Daging
Daging itik tergolong daging gelap (dark meat) dengan persentase karkas yang lebih rendah dibandingkan dengan persentase karkas ayam
–    Tulang Dada   Bentuk tulang dada lurus seperti sampan
–    Suara  Suara tidak keras dan satu irama, kecuali pada yang itik jantan kadang-kadang bersuara keras dan kaku.

Type dan Bangsa Ternak itik.
Pada ternak itik dikenal 3 tipe yang pengelompokkannya berdasarkan tujuan utama pemeliharaan yaitu :
Tipe Petelur (Egg type)
Ternak itik yang termasuk tipe petelur, pada umumnya sangat produktif dalam menghasilkan telur. Tubuhnya kecil dibanding dengan tipe pedaging, secara keseluruhan bentuk tubuhnya seperti botol, dimana bagian kepala kecil dan bagian tulang ekor besar.
Tipe Pedaging (Meat type)
Bangsa ini sangat efisien menghasilkan daging, pertumbuhannya cepat dan struktur daging baik.
Tipe Ornamental (ornament type).
Itik tipe ini dipelihara bukan karena produksi telur atau produksi daging yang tinggi, akan tetapi karena adanya daya tarik tersendiri yang menyebabkan orang senang atau menyukai sebagai hiasan

Contoh Tipe Petelur :
Indian Runner (Indische loopeend)
Banyak penulis yang menyatakan bahwa itik itik berasal dari Asia Tenggara atau India. Bangsa ini penyebarannya luas, misalnya Malaysia, Filipina, Indochina dan Indonesia. Itik ini tahan berjalan jauh untuk digembalakan (loop = berjalan, eend = itik)
Tanda-tanda :
–    Badan : Tegak berdiri, BB jantan 4-4,5 lbs dan Betina 3,5 – 4 Lbs.
–    Kepala : Ramping, mata bersinar, paruh panjang hitam.
–    Leher : Panjang, halus, lurus dan silender.
–    Sayap : Erat melekat dengan posisi agak tinggi.
–    Bulu : Kebanyakan berwarna merah tua/coklat, namun ada yang totol-totol.
–    Kaki : Shank pendek dengan posisi agak kebelakang.
–    Telur : Hijau kebiruan (250 – 300 butir per tahun).

Campbell
Campbell merupakan tipe petelur dan juga tipe pedaging. Itik ini diciptakan oleh Mrs Adale Campbell di Inggris dengan melakukan persilangan antara itik liar (Mallard) dengan Indian Runner. Namun diperkirakan juga ada darah Rouen. Ada beberapa varietas yakni Khaki Campbell, Dark Campbell dan White Campbell.  Tanda-tanda :
–    Badan : agak bulat, kompak, postur tubuh tidak setegak Indian Runner, BB jantan 5,5 Lbs dan Betina 5 Lbs.
–    Kepala : Ramping dan mata bersinar. Warna paruh sesuai dengan varietasnya. Pada Khaki campbell paruh hijau gelap dan ujung hitam. Dark Campbell jantan paruh hijau gelap ujung hitam sedangkan yang betina paruh kecoklatan ujung hitam. White Campbell paruh oranye ujunung keputihan.
–    Leher : Ramping, meruncing arah kepala dan sedikit lengkung.
–    Sayap : Berkembang dengan baik, posisi agak tinggi.
–    Bulu : Kompak, melekat erat pada tubuh.
Khaki Campbell = badan dan sayap warna drill polisi, leher, kepala dan dada kehijauan.
Dark Campbell = Badan coklat muda dan bagian bawah ekor hitam, kepala, leher hijau tua pada yang  jantan sedangkan yang betina warna agak muda.
–    Kaki : Umumnya berwarna jingga sampai kuning.
–    Telur : Hijau kebiruan (280 – 300 butir per tahun).

Bangsa Buff (Buff Orpington)
Merupakan salah satu varietas dari bangsa orpington, berasal dari Inggris, merupakan tipe petelur dan pedaging. Diduga keturunan dari persilangan itik Aylesbury, Indian Runner, Cayuga dan Rouen.
Tanda-tanda :
–    Badan : Cukup besar, BB Jantan 7 – 8 Lbs, Betina 6 – 7 Lbs.
–    Bulu : jantan atau betina hampir sama berwarna deep red atau buff seperti warna kerbau.
–    Paruh : jantan kuning dan betina oranye.

Contoh Tipe Pedaging (Meat Type)

 Aylesbury
Pertama kali dikembangkan di Aylesbury Inggris. Merupakan tipe pedaging dengan daging berwarna putih (White Meat). Adapun tanda-tandanya :
Badan  :  Besar dan padat, Bagian badan bawah hampir menyentuh tanah, posisi badan mendatar. BB jantan 8 – 9 Lbs  (4,5 Kg) dan Betina 7 – 8 Lbs (4 Kg).
Kepala : Agak besar dibandingkan dengan itik lain, sehingga seperti angsa berkaki pendek. Paruh seperti warna daging.
Bulu : Jantan dan Betina sama putih mengkilat (Pearly white)  Kaki : warna oranye.

Cayuga
Asal itik ini tidak diketahui secara pasti, namun banyak dipelihara di Cayuga New York USA. Termasuk tipe pedaging dengan produksi telur 150 – 200 butir / tahun. Adapun tanda-tandanya :
Badan : Posisi tubuh tegak, BB jantan 7 – 8 Lbs dan BB Betina 6-7 Lbs.
Bulu : Jantan dan betina berwarna hitam, kadang-kadang kehijau-hijauan. Warna bulu ini memberi kesan pada warna karkas sehingga kurang cerah.
Paruh : Warna Hitam.

Peking
Berasal dari Tiongkok (Tient Sien) yang dibesarkan di Inggris dan Amerika pada Tahun 1873. Merupakan ternak potong yang sangat populer dan digemari. Adapun tanda-tandanya :
Kepala : Agak besar dengan mahkota (Crown) pipi cembung
Badan : Kompak, bulat, busung, BB Jantan 8-9 Lbs dan BB Betina 7-8 Lbs.
Bulu     : Jantan dan betina warna putih, kadang-kadang berjambul.
Kaki     : kekuning-kuningan sampai oranye
Telur    : Warna putih kotor, produksi 110 – 130 butir/tahun.

Rouen
Mula-mula diternak di Rouen – Inggris pada Tahun 1800 dan masuk ke Amerika pada tahun 1850. Sebagai tipe pedaging yang sangat disukai karena jinak. Adapun tanda-tandanya :
Kepala : Bersih, tampan, paruh panjang, warna kuning kehijauan.
Badan  : Besar, kompak, massive, dalam, gerak lamban, posisi badan hampir datar dan bagian bawah seperti bergelambir. BB Jantan 8-9 Lbs dan BB Betina 7-8 Lbs.
Bulu     : Jantan hijau kebiru-biruan dan ada pula yang abu-abu dengan cincin putih dileher sedangkan warna betina coklat tua.
Kaki     : berwarna merah bata (tera cota)
Telur    : kulit hijau kebiruan dan kadang-kadang ada yang putih, Produksi 80-100 butir/tahun.

Contoh Tipe Ornamental  (Ornament Type)

  1. Crested
  2. Blue Swedish
  3. Calls
  4. Mandarin
  5. East Indian

Itik – itik ini tidak banyak diuraikan karena untuk kepentingan ekonomi tidak menonjol.
Itik Indonesia
Itik-itik Indonesia yang dikenal sekarang dapat digolongkan sebagai anggota Bangsa Itik Indian Runner yang berasal dari Asia Tenggara atau India. Kalau dipelajari benar-benar, maka itik-itik Indonesia kiranya dapat dianggap sebagai varietas dari Itik Indian Runner. Hal ini karena perbedaan dengan itik Indian Runner hanya terbatas pada warna bulu, warna paruh dan kaki. Jadi Itik-itik  Indonesia merupakan itik tipe petelur.

               Sebagai contoh itik-itik Indonesia yang telah banyak berkembang antara lain :

  1. Itik Alabio (Anas plathyryncos borneo)
  2. Itik Tegal (Anas javanica)
  3. Itik Mojosari (Anas spc)
  4. Itik Bali (Anas spc).

Itik Alabio (Anas plthyryncos borneo)
Itik Alabio telah lama dikembangkan di Amuntai Kalimantan Selatan dan sebagai pusat pengembangan berada di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Itik-itik ini mempunyai perbedaan dengan itik-itik Indonesia lainnya terutama pada warna bulu, warna paruh, kaki dan kemampuan produksi.
Keadaan itik alabio pertama kali dilaporkan oleh Drh. Selamet (1927) dan selanjutnya pada tahun 1970 oleh Drh. Saleh Puspo diberi nama Alabio, yang disesuaikan dengan nama salah satu kota di daerah Hulu Sungai Utara. Tanda – tanda :
Tubuh  : Seperti Indian Runner, langsing, leher panjang kecil dan bulat. Secara keseluruhan seperti botol. Posisi tegak membentuk sudut 45 derajat.
BB       : Jantan mencapai 1,75 Kg dan Betina mencapai 1,6 Kg
Warna : Betina banyak warna kuning keabu-abuan dengan totol coklat, ujung sayap, ekor, dada dan leher serta kepala agak hitam. Pada jantan warna bulu abu-abu kehitaman dengan garis leher putih didepan dada. Pada ekor terdapat bulu yang mencuat (Sex feather).
Paruh  : Jantan dan betina warna kuning – jingga dengan totol warna gelap.
Telur    : Bertelur mulai umur kurang lebih 5,5 – 6 bulan, produksi 200 – 220 butir / tahun. Warna Kulit telur hijau muda.

 Itik Tegal (Anas javanica)
Itik ini berasal dari daerah Tegal, pesisir pantai utara Jawa Tengah. Secara umum karakteristiknya seperti itik Indian Runner. Dengan tanda-tanda sbb.
Tubuh  : Seperti Indian Runner, langsing, leher panjang kecil dan bulat. Secara keseluruhan seperti botol. Posisi tegak membentuk sudut 45 derajat.
BB       : Jantan mencapai 1,5 Kg dan Betina mencapai 1,4 Kg
Paruh  : Jantan dan betina warna jingga dengan totol warna gelap.
Telur    : Bertelur mulai umur kurang lebih 5,5 – 6 bulan, produksi 200 – 240 butir / tahun. Warna Kulit telur hijau muda.
Warna : Warna bulu ada bermacam-macam. Sesuai dengan nama setempat, maka dikenal nama lemahan, branjangan, jarakan, blorong, putihan, jalen dan jambul.
Lemahan : Warna seperti tanah, coklat muda sampai abu-abu, kadang-kadang coklat dengan batasan tidak jelas.
Branjangan : Warna kecoklatan atau totol coklat dengan batas yang jelas.
Jarakan : Warna bulu belang, totol hitam atau coklat jelas.
Blorong : warna bulu coklat tua atau coklat hitam atau coklat jelas.
Putihan : Warna bulu putih bersih, dengan paruh dan kaki kuning-jingga.
Jalen : Warna bulu putih bersih dengan warna kaki dan paruh hitam kehijauan.
Jambul : Warna bulu seperti branjangan namun pada kepala terdapat bulu yang mebentuk jambul.
Dari beberapa variasi warna tersebut, maka warna-warna yang banyak ditemui adalah warna Branjangan

Itik Mojosari (Anas spc)
Itik ini banyak ditemui di Mojosari Kabupaten Mojokerto Jawa Timur. Secara umum memiliki ciri-ciri seperti pada Indian Runner. Namun tanda-tanda secara khusus dapat dijelaskan sbb.
Tubuh  : Seperti Indian Runner, langsing, tinggi, leher panjang kecil dan bulat. Secara keseluruhan seperti botol. Posisi tegak membentuk sudut 45 derajat.
BB       : BB mencapai 1,4 – 1,5 Kg
Paruh  : Jantan dan betina warna jingga dengan totol warna gelap.
Telur    : Bertelur mulai umur kurang lebih 5,5 – 6 bulan, produksi 200 – 250 butir / tahun. Warna Kulit telur kehijauan.
Warna : Warna bulu coklat merah dihiasi dengan warna hitam. Warna jantan umumnya lebih gelap dari betina.

Itik Bali (Anas spc)
Itik Bali belum jelas asal-usulnya dan diperkirakan semula berasal dari Pulau Lombok hingga sering disebut juga Itik Lombok. Keadaan tubuh mirip dengan itik tegal hanya pada leher tampak lebih pendek. Warna bulu sangat bervariasi, ada yang berwarna putih bersih, coklat merah dengan campuran hitam dengan bintik-bintik putih dan ada pula yang berjambul. Khusus untuk itik bali warna kulit telur putih dan BB dapat mencapai 1,5 Kg.

Pemeliharaan
Pada ternak itik terdapat fase-fase pemeliharaan, yaitu :
1.Tipe Petelur

  • Starter (fase 1)         :  Umur  0 –  3   Minggu
  • Grower I (fase 2)     :  Umur  3 – 10 Minggu
  • Grower II                  :  Umur 10 – 20 Minggu
  • Layer (fase Produksi)          :  Umur > 20 Minggu.

2.Tipe Pedaging

  • Starter (fase 1)                        :  Umur  0 –  2  Minggu
  • Grower I (fase 2)        :  Umur  2 – 4  Minggu
  • Finisher (fase Akhir)   :  Umur  5 – 7  Minggu.

Pemeliharaan itik pedaging umumnya hanya sampai 7-8 minggu.
Di Indonesia dikenal sistem pemeliharaan itik sbb.

  1. Sistem Tradisional : pemeliharaan berdasarkan turun temurun yang biasa dilaksanakan disuatu daerah tertentu yang biasanya dilakukan dengan penggembalaan ternak.
  2.  Sistem Semi Intensif : Disamping itik digembalakan, maka juga dikandangkan. Dengan demikian pakan selain diperoleh dari penggembalaan juga diberikan pakan pada saat di kandang.
  3. Sistem Intensif : Itik dikandangkan secara terus menerus.

 Kandang
Pada pemeliharaan itik, kandang ditentukan oleh sistem pemeliharaan yang dipakai. Pada sistem tradisional kandang tidak diutamakan, bahkan kandang permanen tidak tersedia. Untuk menampung itik-itik yang telah selesai digembalakan, maka cukup dengan cara membatasi bambu yang dapat digulung dan dipasang kembali ditempat lain tergantung lokasi penggembalaan. Pada pemeliharaan dengan Lanting, kandang berada diatas kapal kecil/perahu merupakan sistem tradisional yang banyak terdapat di Hulu sungai utara Kalimantan selatan untuk itik alabio.
Pada sistem Semi Intensif, kandang permanen yang dibuat hanya digunakan untuk berteduh pada saat tidak digembalakan. Pada pemeliharaan secara Intensif terdapat  3 sistem, yaitu :
1).   Sistem Litter, pada dasar kandang terdapat litter (sekam, jerami, serbuk gergaji dll).
2).   Sistem Sangkar / kurungan, dengan dasar dari kawat (wire floor).
3).   Sistem Umbaran, dimana selain kandang juga ada tempat umbaran/halaman.

              Pada pemeliharaan itik baik pedaging atau petelur dapat dilakukan dengan Pola All In All Out (Sekali masuk dan sampai diafkir/panen/dikeluarkan) serta dengan Pola berpindah, yaitu pada periode awal (starter) dengan kandang sistem sangkar atau sistem litter, dan selanjutnya dengan sistem umbaran. Menurut Wiharto, 2004 bahwa untuk umur pemeliharaan 4 minggu ke atas sebaiknya dengan sistem litter. Adapun kebutuhan luas kandang harus didasarkan pada umur ternak, sbb.

  • Umur 0 – 4 minggu                       : Luas Lantai  4 m2/100 ekor.
  • Umur 4 – 8 minggu                       : Luas Lantai  9 m2/100 ekor
  • Umur 8 – 16 minggu         : Luas Lantai  12 m2/100 ekor

Penyediaan kolam sangat penting artinya khususnya pada itik yang dipelihara untuk tujuan penghasil telur tetas, dikarenakan untuk memperlancar proses perkawinan.
Perlengkapan Kandang
Tempat Pakan.
Tempat Pakan dibuat lebar agar mudah makan sesuai dengan tingkah laku diwaktu makan.
Tempat Minum.
Tempat minum harus selalu tersedia karena itik setiap makan selalu diselingi dengan minum.

Makanan
Bentuk makanan itik ada 3 macam yaitu mash (halus), crumble (kasar) dan pellet (cetakan). Pemberian makanan pada sistem pemeliharaan intensif bisa dilakukan secara kering (dry mash feeding) atau secara basah (wet mash feeding). Namun akhir-akhir telah banyak dilakukan pemberian makanan dalam bentuk pellet.  Kebutuhan Gizi protein untuk itik adalah fase starter  18%, Grower 16 % dan Layer 15-16 %. Itik merupakan ternak unggas yang konsumsi ransumnya cukup banyak yaitu 130 Gr (bulan pertama), 150 gr (bulan kedua / ketiga) dan selanjutnya rata-rata 155 – 170 gr (Data diambil dari jenis itik Tegal). Sedangkan pada itik yang digembalakan sulit untuk menentukan jumlah konsumsi pakan.

Bibit Itik
Bibit itik diperoleh dengan jalan menetaskan telur tetas (telur yang dibuahi dan fertil) hasil dari perkawinan secara alam atau IB. Bentuk pelaksanaan penetasan dapat dilakukan secara alami (dierami oleh ayam, entok atau angsa, dll) atau secara buatan (mesin tetas). Ada bentuk penetasan buatan tapi dilakukan secara tradisional yaitu dengan mengubur telur-telur itik pada gabah yang telah dipanaskan / dijemur (Bali).

Beberapa Istilah yang terkait dengan ternak Itik (Unggas)

  1. DOD (Day old Duck) = Itik yang berumur 1 hari.
  2. Duckling = Sebutan untuk Anak itik
  3. Duck = Sebutan untuk itik secara umum.
  4. Drake = Itik Jantan Dewasa
  5. Drakelet / drakeling = itik jantan muda.
  6. Anatipestifer Infection = Penyakit yang menyerang ternak itik, menyerupai Cholera. Penyebabnya adalah bakteri Pasteurella anapestifer. Penyakit ini disebut juga NDD (New Duck Disease).
  7. Gadwall = Itik liar (Anas strepera)
  8. Autosexing = Memisahkan anak unggas jantan dari yang betina dengan melihat sifat yang nampak dari luar misalnya warna bulunya.
  9. Bantam = Varietas yang kerdil dari Unggas (Kate).  Barred = Blirik.
  10. Dark meat = Daging pada kaki dan paha unggas
  11. Debeaking = potong paruh ayam untuk mencegah kanibalisme. Pada kalkun disebut  de-snooding.
  12. Decapitate = pemenggalan leher (memisahkan kepala dari badan).
  13. Deutectomy = penghilangan yolk sac (kantung kuning telur) dari anak ayam yang baru menetas
  14. Developer = Fase pemeliharaan ayam petelur yaitu mulai umur 12 minggu (3 bulan) sampai menjelang bertelur (pullet)
  15. Egg tooth = ujung paruh pada embrio unggas yang digunakan untuk memecah dinding telur pada saat menetas.
  16. Egg Yield = Jumlah telur yang dihasilkan oleh seekor ayam atau unggas lain
  17. Galliformes = Nama ordo unggas yang hidup terestial (di daratan) seperti ayam, kalkun, puyuh dll.
  18. Getaway = suatu model kandang unggas bertingkat yang memungkinkan unggas dapat berpindah dari lantai satu ke lantai yang lainnya.
  19. Gillygaloo = Burung atau bangsa kelas aves yang menurut mitos bentuk telurnya  kubus.
  20. Wet plucking = pencabutan bulu unggas yang telah disembelih dengan cara basah
  21. Nest = sarang pada unggas.
  22. Non Ruminant = Hewan yang tidak memiliki rument yang fungsional = monogastric (perut tunggal) misal kuda babi ayam anjing dan kuda.
  23. Perch = Tempat bertengger unggas dalam kandang
  24. Preen gland = kelenjar minyak yang terletak didekat ekor pada berbagai jenis unggas dan burung yang berfungsi untuk meminyaki bulu sehingga kedap air.
  25. Amino acid = Asam amino, suatu senyawa organic yang mengandung C, H, O dan N. Tiap asam amino mengandung satu atau lebih gugus amine (NH2) dan sedikitnya satu gugus karboksil (COOH). Disamping itu ada pula asam amino yang mengandung Sulphur misalnya Cystine dn Methionine. Didalam pola tertentu, asam-asam amino membentuk suatu molekul protein. Dalam bentuk asama amino inilah protein asal makanan diserap ke dalam aliran darah. Terdapat 2 golongan asam amino, yaitu yang essensial (indispensable) dan yang non-essensial (dispensable). Terdapat 10 AA essensial yaitu : Lysine, Methionine, Tryptophan, Leucine, Isoleucine, Phenilalanine, Threonine, Histidine, Valine dan Arginine. Untuk bangsa burung (termasuk unggas) masih harus ditambah 2 AA lagi yang dianggap essensial, yaitu Glycine atau Serine (karena 2 AA ini konvertable) dan Proline sehingga jumlahnya menjadi 12. Diantara yang essensial itu, maka Lysine, Methyonine dan Trypthophan adalah 3 AA yang harus diperhatikan dalam menyusun ransom unggas dan babi, sebab pada umumnya jumlah atau tersedianya terbatas pada bahan makanan. Pada ternak ruminansia beberapa AA dapat dibentuk di dalam tubuh sehingga tidak mutlak harus tersedia di dalam ransumnya.
  26. Konsentrat = Bahan makanan ternak yang memiliki “digestibility” kecernaan tinggi karena kadar serat kasarnya yang rendah yaitu dibawah 20 % dengan TDN lebih dari 60 %. Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah biji-bijian dan hasil ikutannya, serta produk asal hewan. Konsentrat protein dicampurkan dengan bahan lain sebelum disajikan.
  27. Corn (jagung) / Zea mays = Bahan yang sangat penting sebagai komponen penyusun ransom ternak. Lebih disukai jagung kuning (yellow corn) karena banyak mengandung “Carotene”. Jagung mengandung PK 8,8 %, (11 Kadar air), Energi Metabolis 3400 kkal/Kg, Lysine dan Methione masing-masing sebesar 0,24 dan 0,20 %.
  28. Fleshing = penilaian perlekatan daging pada tulang. Misalnya pada ayam penilaian di didasarkan keadaan daging dada (breast), paha (thigh) dan kaki (drumstick).

TERNAK  ANGSA ( Anser anser )
Dalam systematic Zoology angsa dapat disusun sebagai berikut
Kingdom          :  Animal
Phylum            :  Chordata
Class   :  Aves
Order   :  Anseriformes
Family :  Anatidae
Genus :  Anser
Species           :  Anser anser

Dari beberapa catatan diketahui bahwa angsa adalah species unggas yang pertama dijinakkan dan berasal dari species angsa liar yang disebut Graylag (Anser anser) dan angsa liar China (Anser cygnoides). Kedua jenis species angsa tersebut sampai sekarang lebih banyak dijumpai dan sangat luas penyebarannya. Bangsa angsa di Asia dan Afrika umumnya merupakan keturunan Anser cygnoides sedang bangsa angsa di Eropa diturunkan oleh Anser anser.

Secara alamiah angsa-angsa mengerami telur-telurnya walaupun sudah didomestikasi maka sifat mengeram (Mother ability) masih ada kecuali bangsa Touluuse. Angsa merupakan unggas yang paling cerdas dengan daya ingat yang kuat. Dalam keadaan liar monogamous dan setelah didomestikasi berangsur-angsur Polygamous.

Pemeliharaan angsa pada umumnya bertujuan untuk produksi daging dan juga sebagai “Weeder” (pembersih rumput-rumputan yang tidak berguna) diperkebunan buah atau kapas.

Bangsa-bangsa Angsa.
Berbeda dengan ayam atau itik, maka penggolongan angsa didasarkan pada ukuran badan dan tujuan pemeliharaan karena pada umumnya tujuan pemeliharaan adalah produksi daging. Di luar  negeri terdapat beberapa bangsa, sedangkan di Indonesia hanya terdapat satu bangsa yaitu Bangsa Chinese. Adapun Tipe dan Bangsa angsa adalah :

  1. Tipe Berat  – Bangsa African, Embden, Toulouse.
  2. Tipe Sedang – Bangsa American Buff, Brecon Buff, Pilgria, Pemeranian.
  3. Tipe Kecil – Bangsa Chinese, Roman.
  4. Tipe Ornament – Bangsa Canada, Egyptian dan Sebastopol.

Selanjutnya hanya beberapa saja yang terasa penting untuk dijelaskan secara lebih luas.

Bangsa Toulouse.
Merupakan bangsa angsa yang terbesar atau paling berat. Pada umur 12 bulan ternak jantan dapat mencapai 11 Kg sedangkan betina mencapai 9 Kg. Pada umur 10 – 13 minggu dipasarkan dengan Berat  5 – 6 Kg sebagai “Green geese”. Bulu jantan dan betina sama yaitu berwarna abu-abu gelap, bagian punggung (back) berangsur-angsur menjadi terang, berakhir dengan warna putih pada bagian dada dan perut. Pertumbuhan badan cepat dan produksi telur 20 – 30 butir/thn.

Bangsa Embden
Ukuran tubuh lebih kecil daripada Toulouse dimana berat jantan dewasa 9 Kg, sedangkan betina 8 Kg. Pada umur 9 – 12 minggu dipasarkan dengan berat 4 – 5 Kg. Warna bulu jantan dan betina putih sehingga sebagai ternak potong sangat disukai.

Bangsa African
Merupakan turunan dari angsa liar Anser cygnoides. Berat badan hampir sama dengan Embden, dimana jantan dewasa mencapai 8 – 9 Kg sedangkan betina dewasa 7,5 – 8 Kg. Dipasarkan pada umur 10 – 12 minggu dengan berat 4 – 4,5 Kg. Warna bulu abu-abu dengan bayangan kecoklatan, leher bergelambir. Pada pangkal paruh yang hitam terdapat tonjolan “knob” hingga tampak lebih gagah dan penampilan agak tegak.

Bangsa Chinese
Angsa ini paling kecil (ringan) dan merupakan keturunan angsa liar Anser cygnoides seperti angsa  African. Angsa Chinese masak dini, bertelur lebih cepat, pemeliharaannya mudah dan daya tetas lebih baik dari angsa yang lain. Dipasarkan sebagai “Green geese umur 10–12 minggu dengan berat 4–4,5 Kg Seperti bangsa African, bangsa Chinese juga memiliki “knob” yang berwarna oranye seperti warna paruhnya. Warna bulu putih bersih, tetapi adapula yang berwarna kecoklatan dengan paruh kehitaman. Kemampuan produksi telur cukup baik 40 – 60 butir/thn. Terdapat 2 varietas yaitu putih dan coklat.
Di Indonesia merupakan satu-satunya bangsa angsa yang ada, namun untuk produksi daging belum umum dan kebanyakan hanya sebagai binatang hiasan atau diambil bulu.

PEMELIHARAAN
Telur angsa yang baik ditetaskan dengan berat 140 – 200 gram. Penetasan dapat secara alamiah maupun buatan. Penetasan alamiah dilakukan dengan pengeraman induknya maupun induk unggas lain, sedangkan penetasan buatan dilakukan dengan campur tangan manusia berupa mesin penetasan. Masa pengeraman untuk jenis ringan berkisar 28 – 30 hari, sedangkan jenis berat  34 – 35 hari. Anak angsa yang baru menetas masih memerlukan induk buatan (Brooder) sampai 4 minggu (kandang khusus). Setelah umur lebih dari 1 bulan, maka anak angsa dilepas bebas (free range) dengan memberikan peneduh sebagai kandang (shades).

MAKANAN
Makanan angsa harus dibuat berbeda disesuaikan dengan umur dan tujuan pemeliharaan. Menurut NRC (National Research Council) 1994, bahwa kebutuhan ransum angsa adalah sbb.
Fase Starter  (awal)      =   PK 22 %, EM 2900 KKal/Kg
Fase Grower ( tumbuh) =  PK 15 %, EM 2900 KKal/Kg
Pembibitan (Breeding)  =   PK 15 %, EM 2900 KKal/Kg
Kebutuhan ransom angsa dewasa 250 – 300 gram/ekor/hari.
Pemasaran umur 14 – 18 minggu dan dapat dipercepat 10 minggu berupa Green geese.

Beberapa Istilah pada Ternak Angsa dan Kalkun

  • Anser cygnoides = Nama lain untuk angsa liar yang diduga merupakan leluhur (ancestor) dari angsa domestic yang kita kenal sekarang, khususnya bangsa angsa afrika dan china
  • Branta = Nama genus dari angsa liar. Salah satu anggotanya ialah angsa liar Canada (Branta canadaensis).
  • Brecon Buff = Salah satu bangsa angsa (goose) yang termasuk tipe medium (sedang).
  • Embden Geese = salah satu angsa tipe berat yang terkenal
  • Gaggle = Sekelompok angsa
  • Gander = Angsa jantan dewasa.
  • Gosling = Anak angsa atau angsa muda.
  • Weeder = Angsa sebagai pembersih tanaman misal rumput-rumputan.
  • Goose = Nama umum dari angsa (geese = jamak), juga istilah angsa betina.
  • Green Geese = Angsa muda dipasarkan umur 8 – 10 minggu.
  • Pate de foice gras = Hati angsa yang banyak mengandung lemak karena force feeding dg butiran.
    • Davainea meleagridis = cacing pita pada kalkun.
    • Turkey = kalkun (Meleagris galopavo)
    • Tom = istilah untuk kalkun jantan dewasa atau untuk kucing dewasa
    • Poult = anak kalkun
    • Snood = jaringan seperti daging yang menutupi sebagian dahi pada kalkun.

TERNAK  ENTOG (Cairina Muschata)
Entog dikenal dengan nama Muskovi, itik Guinea, Barbary, Cairon, Indian, Pato atau Muscuseend. Di Indonesia dikenal dengan nama entog/ mentog / itik manila. Entog bukan itik asli seperti itik-itik yang lain.
Dalam systematic Zoology tersusun sebagai berikut
Kingdom          :  Animal
Phylum            :  Chordata
Class   :  Aves
Order   :  Anseriformes
Family :  Anatidae
Genus :  Cairina
Species           :  Cairina Muschata
Diduga entog berasal dari Amerika  sebagai unggas Air yang banyak hidup secara terrestrial (di darat). Badan besar sampai 5 – 5,5  Kg untuk entog jantan dan 2,5 – 3 Kg untuk entog betina. Perbedaan berat badan ini bias dijadikan patokan untuk membedakan entog jantan dan betina. Pertumbuhan badan entog juga sangat cepat, dimana pada umur 3 bulan bisa mencapai 4 – 4,5 Kg. Entog memiliki gerak lamban dan posisi datar, suara mendesis, sayap besar dapat dipakai terbang serta tidak memiliki sex feather pada ekor jantan.
Ciri-ciri khusus antara lain : Bulu umumnya putih – biru, putih, kebiruan, totol hitam dan pada kepala terdapat Karankula warna merah hitam. Peternakan Entog masih belum banyak dilakukan karena produksi telur rendah dan daging belum banyak menarik minat konsumen. Namun ternak berguna untuk penetasan telur secara alamiah. Anak entog setelah menetas biasanya ikut induk atau dipiara pada Box dan setelah umur 1 bulan dipiara secara free range.

TERNAK TIKTOK (Mule duck)
Ternak Tiktok (mule duck) merupakan hasil persilangan antara ternak itik Alabio dengan ternak Entog dengan cara inseminasi buatan (IB). Alasan dipilih dua komoditas tersebut karena kedua jenis ternak tersebut  sudah adaptasi di Indonesia serta itik alabio merupakan jenis itik yang sangat produktif dalam menghasilkan telur dan memiliki berat yang lebih dibandingkan jenis itik yang lainnya, sedangkan entog memiliki berat badan yang cukup sifgnifikan.

Tiktok yang dikenal masyarakat perdesaan terjadi secara spontan, dimana awal mulanya terjadi proses kawin silang antara itik jantan yang dipelihara bersama-sama dengan entog betina. Ada beberapa julukan untuk menyebut tiktok yaitu Branti atau togri (Jawa Tengah dan Jawa Timur), Blengong atau longong (Cirebon), Mandalung atau pandalungan (Jawa barat), Tongki (Tangerang), Serati (Kalimantan dan Sumatera), Tokua (Kalimantan barat), Korree (Sulawesi Selatan).  Orang Inggris menyebut hasil silang entog jantan dengan itik betina dengan istilah Mule duck, sedangkan persilangan antara entog betina dengan itik jantan dengan istilah hinny.Saat ini kawin silang antara entog dan itik alabio dikembangkan oleh PT Usaha Cipta Bahari yang berlokasi di Desa Bedahan Kecamatan Sawangan Kota Depok Jawa Barat serta UPT & HMT Branggahan Ngadiluwih Kediri Jawa Timur.
Proses kawin silang ini, mula-mula didatangkan telur entog dari Taiwan sebagai pejantannya yang kemudian dikawinkan dengan itik alabio. Lama penetasan berkisar antara 31 – 32 Hari, yaitu lebih lama 3 hari dari penetasan telur itik dan lebih singkat 3 hari dari penetasan entog yang berkisar 35 Hari.
Pada saat ini tiktok masih dirintis sebagai sumber pedaging, namun warna daging msih belum putih bersih sehingga kurang disukai oleh masyarakat. Kelebihan daging tiktok adalah rendah lemak (Hasil penelitian kadar lemak daging paha tiktok 1,5 % dan paha ayam ras potong sebesar 6,8 %), rasa cukup enak, tidak amis atau anyir dan cenderung empuk. Beberapa perbandingan kandungan lemak unggas adalah sebagai berikut : Ayam Potong (Broiler) bagian dada 1,3 % dan paha 6,8 %, Ayam Kampung bagian dada 0,8 % dan paha 4,4 %, Itik bagian dada 0,7 % dan paha 4,4 %, Entog bagian dada 1,4 % dan paha 2,26 %, Tiktok bagian dada 1,0 % dan paha 1,5 %.
Secara umum manejemen pemeliharaan dan pemberantasan penyakit hampir sama dengan manajemen pada itik atau ayam.

Umpan Balik

  1. Mengapa ternak Unggas Air lebih tahan penyakit dibandingkan dengan ternak unggas yang lain.
  2. Jelaskan dengan singkat mengapa ternak itik Indian Runner begitu berarti bagi perkembangan itik di Indonesia.
  3. Berikan penjelasan singkat pada salah satu itik Indonesia yang memberikan produksi telur tinggi.
  4. Sebutkan dan Jelaskan cirri-ciri fisik khusus pada ternak itik.
  5. Jelaskan pengertian : Domestikasi, Polygamous, Mother Ability, Pellet dan Crown.
  6. Sebutkan 3 macam lemak pada ternak itik.
  7. Sebutkan dan jelaskan macam warna bulu pada itik tegal.
  8. Mengapa daging itik kurang disukai oleh masyarakat dibandingkan dengan daging ayam.
  9. Lakukan identifikasi terhadap ternak itik Peking secara eksterior dan berikan penjelasan singkat.
  10. Pada saat ini daging itik sudah diolah menjadi Roasted duck (Itik panggang), Boiled duck (itik rebus) dan Smoked duck (itik asap). Menurut anda apa kelebihan dan kekurangan dari 3 macam pengolahan tersebut.

TERNAK  POTONG BESAR

Pendahuluan
Ternak Potong adalah hewan piara yang dipelihara khusus untuk menghasilkan bahan daging. Tidak semua ternak yang dipotong termasuk ternak potong. Pada umumnya ternak potong dikelompokkan ke dalam 2 kelompok besar yaitu :

  1. Ternak Potong Besar terdiri dari Sapi, Kerbau dan Kuda
  2. Ternak Potong Kecil terdiri dari Kambing, domba dan babi.

Dalam usaha ternak potong harus dipilih bibit yang dapat dipertanggung jawabkan mutunya. Perkembangan atau pertumbuhan ternak potong sangat ditentukan oleh proses perkembangbiakan atau aktivitas reproduksi. Untuk membahas lebih lanjut tentang ternak potong, maka perlu diketahui tentang aspek-aspek breeding, yaitu :

Pubertas
Pubertas atau baliq adalah suatu keadaan dimana binatang/hewan jantan atau betina proses reproduksi mulai berfungsi.

Dewasa Kelamin.
Dewasa kelamin adalah suatu keadaan dimana binatang/hewan jantan atau betina proses reproduksinya berfungsi secara maksimal ditandai dengan angka konsepsi yang tinggi apabila dilakukan perkawinan atau dimana jumlah spermatozoa atau ovum yang normal jauh lebih banyak.Umumnya pada ternak dewasa kelamin didahului oleh pubertas, sedangkan dewasa tubuh didahului dengan dewasa kelamin. Faktor-faktor yang mempengaruhi dewasa kelamin adalah :
– Makanan
– Iklim
– Keturunan (Genetic)
– Manajemen

Birahi (Estrus)
Seekor ternak betina akan mau menerima ternak jantan hanya pada waktu tertentu saja atau pada saat birahi saja. Oleh karenanya mengetahui tanda-tanda birahi masing-masing ternak sangat diperlukan. Tanda-tanda birahi secara umum adalah :

  • Ternak lebih peka dan mudah terangsang.
  • Menunjukkan tingkah laku gelisah dan kurang tenang.
  • Sering diikuti dengan menaiki sesamanya.
  • Membiarkan dinaiki oleh temannya.
  • Berusaha mendekati atau kontak dengan pejantan.
  • Dari vulva sering keluar lendir, bengkak, merah,basah (3A = Abang, abuh anget)
  • Namun tanda tersebut sering juga tersembunyi dan ternak tampak biasa-biasa saja. Hal ini disebut dengan Birahi Diam (Silent Heat).

Siklus Birahi

Ternak

Siklus Birahi

Lama Birahi

Waktu Ovulasi

Sapi

21 hari

16 – 18 Jam

10-15 jam sesudah birahi

Kerbau

21 hari

16 – 18 Jam

10-15 jam sesudah birahi

Kuda

19 – 23 hari

4 – 7 hari

1 hari sebelum / sesudah birahi

Kambing

19 hari

39 Jam

9 – 19 jam sesudah birahi

Domba

16 hari

30 – 36 Jam

12 – 18 jam sesudah birahi

Babi

21 hari

2 – 3 hari

18 – 40 jam sesudah birahi

Kemampuan Pemacek
Faktor yang mempengaruhi kemampuan pemacek pejantan adalah :

  • Sifat Keturunan
  • Kebiasaan
  • Ketakutan
  • Banyak dipakai
  • Bekerja berat
  • Makanan
  • Terlalu besar
  • Anggota tubuh bagian belakang terganggu
  • Penis sakit
  • Gangguan pusat syaraf

Umur ternak untuk dikawinkan

Ternak

Umur Baliq

Umur Kawin

Batas Umur untuk Bibit

Sapi

8 – 10 bulan

18 – 30 bulan

12 tahun

Kerbau

10 – 12 bulan

24 – 30 bulan

13 tahun

Kuda

12 – 18 bulan

24 – 30 bulan

13 tahun

Kambing

6 – 8 bulan

10 – 12 bulan

5 tahun

Domba

6 – 8 bulan

10 – 12 bulan

5 tahun

Babi

5 – 6 bulan

7 – 8 bulan

5 tahun

Lama Kebuntingan.

Ternak

Lama Kebutingan

Pengingat

Sapi

281 hari /   9 bulan 9 hari   9 bulan, 9 hari, 9 jam

Kerbau

321 hari / 11 bulan kurang 9 hari 10 bulan, 20 hari, 30 jam

Kuda

330 hari / 11 bulan 11 bulan, 11 jam

Kambing

155 hari /   5 bulan   5 bulan, 5 hari, 5 jam

Domba

155 hari /   5 bulan   5 bulan, 5 hari, 5 jam

Babi

114 hari /   3 bulan 3 mg 3 hari   3 bulan, 3 mg, 3 hari

Sapi (Bos species)
Diantara sapi-sapi yang ada, maka sapi Gaur merupakan kumpulan yang paling primitif dilihat dari bangun tengkoraknya. Sapi gaur ditandai oleh adanya gumba yang agak tinggi dan rambut yang pendek. Sapi ini hidup dalam kawanan kecil di bukit-bukit yang berimba kecil di India Utara. Oleh orang Birma sapi Gaur dipelihara setengah liar disebut Sapi Gayal, untuk produksi daging dan susu.
Sapi yang berdekatan dengan sapi Gaur adalah sapi banteng (Bos sondaicus = Bos Banteng) yang sekarang masih dalam keadaan liar di Indo China, Siam, Burma, Malaka, Borneo dan Jawa. Warna sapi banteng jantan adalah hitam, sedangkan betina sawo matang. Jantan atau betina memiliki tanda putih (white merror dan white shocking) pada pantat dan kaki bawah.
Banteng telah dilakukan penjinakkan terdapat dalam bentuk Sapi Bali, namun kurang jelas apakah penjinakkan tersebut diawali di Bali atau ditempat lain. Sapi Bali dikembangbiakan murni di Bali, Jawa Timur, Timor dan Sulawesi.
Secara Sistematic Zoology Lembu (Bukan sapi) dapat disusun sbb.

Kingdom              : Animal  (Binatang)
Phylum                : Chordata (Binatang bertulang belakang)
Class                    : Mamalia (hewan memamah biak)
Order                   : Artiodactila
Family      : Bovidae
Genus                  : Genus
Sub Genus      :  – Bisontinae (Misal : Bison dan Yak yang terdapat di Amerika)
– Bibovinae (Banteng, Gaur dan Gayal)
-Bubalinae (Kerbau / Buffalo)
-Taurinae ( ada 2 species yaitu Bos Indicus dan Bos Typicus)
Species           : Bos

Bos Indicus (Sapi Zebu)
Bos Indicus / Sapi Zebu / Sapi Asia berasal dari India dan yang termasuk dari jenis sapi ini adalah Sapi Ongole, Mysore, Kankrey, Hissar, Red Sindhi dan Sahiwal. Secara umum tanda-tanda sapi zebu adalah : Memiliki gumba yang tinggi, telinga panjang terkulai, terdapat gelambir, kaki panjang, Lambat dewasa, tahan panas dan mudah adaptasi.

Bos Tipicus / Bos Taurus
Bos Tipicus / Bos Taurus / Sapi Eropa adalah sapi yang tidak bergumba dengan tanduk tumbuh kolateral.
Terbagi menjadi 4 sub species yaitu :

  1. Premigenius (Sapi tipe berat dan besar), misal : Holstein, Dautch Belted, Shorthorn, Galloway, Red Polled, Aberdeen Angus, Ayrshire dll.
  2. Lengifrons (Bentuk lebih kecil), misal : Jersey, Brown Swiss, Guernsey.
  3. Frontasus (Bentuk sedang), misal : Simental
  4. Branchycephalus (dengan tanduk pendek), misal : Hereford, Sussex, Britanny, Devon dll.

Sapi – sapi di Indonesia

Sapi Bali
Sapi Bali merupakan banteng yang dijinakkan dengan tubuh lebih kecil dari banteng dengan BB berkisar 300 – 400 Kg. Termasuk tipe potong dengan karkas mencapai 57 %. Dibiarkan murni di Bali, Jawa Timur, Timor dan Sulawesi. Adapun tanda-tanda sapi Bali sbb.

  1. Bentuk seperti banteng
  2. Warna sawo matang (merah bata) pada saat pedet.
  3. Terdapat White shocking (putih pada kaki) dan White merror (putih pada pantat)
  4. Tanduk ternak jantan tumbuh agak keluar kepala, sedangkan yang betina agak kedalam.
  5. Tinggi ± 130 cm.

Sapi Madura
Sapi hasil persilangan antara Bos Sondaicus dengan Bos Indicus. Pada Tahun 1910 Pemerintah RI memurnikan sapi Madura sehingga lebih seragam. Saat ini sapi Madura sebagai ternak Potong, Kerja dan Funcy. Karkas mencapai 47,9 %.  Adapun tanda-tanda sapi Madura sbb.

  1. Bentuk seperti banteng
  2. Warna coklat atau sawo matang (merah bata).
  3. Pada jantan tubuh depan lebih kuat dari tubuh bagian belakang.
  4. Bergumba kecil.
  5. Tanduk melengkung setengah bulat dan ujung menuju kedepan.
  6. BB mencapai 350 Kg dengan tinggi rata-rata 118 cm.

Sapi berdasarkan nama daerahnya.
Banyak sapi Lokal yang diberi nama sesuai dengan nama daerah dan sapi tersebut merupakan hasil silang sapi Zebu dengan Banteng. Adapun sapi tersebut antara lain :

  1. Sapi Jawa. Sapi ini sering disebut dengan PO (Peranakan Ongole). Pada betina berwarna merah muda, sedangkan jantan warna sawo matang.
  2. Sapi Sumatra. Sapi ini hampir sama dengan sapi Jawa, dimana tinggi jantan 1,15 M dan betina 1,10 M dengan ponok (gumba) besar. Warna kemerahan tua pada jantan sedangkan betina agak muda.
  3. Sapi Aceh. Sapi ini seperti Ongole, dimana tinggi jantan 1,16 M dan betina 1,10 M. Warna kemerahan dan ada yang warna hitam. BB berkisar 250 Kg serta dikepala terdapat tanda putih.
  4. Sapi Lip-Lap. Merupakan hasil silang sapi Tapanuli dengan Sapi Hissar.
  5. Sapi Batak. Warna sawo matang – hitam. Tinggi 1 – 1,12 M.
  6. Sapi Grati. Sapi ini merupakan hasil silang Sapi Jawa,Madura & FH. BB mencapai 300 – 500 Kg

Sapi Ongole
Asal dari Madras India dan masuk ke Indonesia pada abad ke – 20. Di Jawa disebut dengan Sapi Benggala. Merupakan tipe kerja yang sangat baik, tahan panas dan biasanya untuk ternak potong . Adapun tanda-tandanya :

  1. Warna putih atau kehitaman dengan warna kulit kuning.
  2. Kepala relatif pendek dan melengkung.
  3. Tanduk pendek dan kadang-kadang hanya bungkul, dimana pada jantan tanduk lebih pendek
  4. Mata besar, tenang dan terdapat celak hitam.
  5. Telinga lebar, panjang dan agak menggantung.
  6. Kaki panjang dan kuat serta ekor panjang dan ujung lurus.
  7. Tinggi Badan pada jantan 140 – 160 cm dan betina 130 – 140 cm
  8. BB Jantan 600 Kg dan Betina 450 Kg

Sapi Brama
Asal dari India dan masuk ke Indonesia pada Tahun 1974. Termasuk tipe potong yang baik. Adapun tanda-tandanya :

  1. Warna umum abu-abu (ada yang coklat, merah, putih atau belang)
  2. Gelambir lebar dan  longgar serta kaki panjang
  3. Gumba besar dan telinga menggantung

Sapi Aberden Angus
Bangsa sapi yang berasal dari Skotlandia Utara yang kemudian menjadi salah satu bangsa sapi yang terkenal sebagai sapi daging. Ukuran Badannya lebih kecil dibandingkan dengan bangsa shorthorn, bersifat masak dini. Produksi susunya cukup baik. Warna paling umum adalah hitam, sedangkan yang berwarna merah disebut “Red Angus”.
Bangsa ini dikembangkan di Australia diberi nama Angus.Keturunan Bos Taurus dan masuk ke Indonesia pada tahun 1973.. Adapun tanda-tandanya adalah :

  1. Warna hitam dan tidak bertanduk
  2. Tubuh rata, lebar, dalam, padat seperti balok.
  3. BB Jantan dewasa 2000 pound (± 900 Kg) dan betina 1600 pound (± 700 Kg)

Sapi Santa Gertrudis
Berasal dari Texas USA. Sapi ini merupakan persilangan Brahma jantan dengan Shorthorn betina (3/8 Brahma dan 5/8 Shorthorn) dan masuk ke Indonesia pada Tahun 1973. Adapun cirri-cirinya :

  1. Warna merah tua atau merah bata.
  2. Tubuh lebih padat dan rata dari sapi Brahma.
  3. Bergelambir dan bertanduk
  4. Telinga kadang-kadang rebah.
  5. BB Jantan 2000 pound dan betina 1600 pound.

Sapi Shorthorn
Berasal dari Inggris, merupakan tipe pedaging yang terbesar di Inggris. Adapun cirri-cirinya :

  1. Warna merah, putih atau kombinasi.
  2. Tubuh besar, padat dan berbentuk seperti balok.
  3. BB Jantan 2200 pound (± 1000 Kg) dan betina 1700 pound (± 750 Kg).

Sapi Hereford
Berasal dari Hereford Inggris dan merupakan tipe potong dengan cirri-ciri sbb.

  1. Warna merah dengan muka, dada sisi badan,  perut bawah, bahu dan ekor putih.
  2. Tubuh rendah, lebar dan tegap
  3. BB Jantan 1800 pound (± 850 Kg) dan betina 1450 pound (± 650 Kg).

Sapi Brangus
Merupakan hasil silang antara Brahman Betina dengan Aberdeen Angus Jantan (3/8 Brahman dan 5/8 Aberdeen Angus) dan merupakan tipe potong. Adapun cirri-cirinya adalah :

  1. Warna hitam dan tanduk kecil.
  2. Mempunyai sifat memproduksi daging seperti A. Angus tapi kurang padat
  3. Tubuh lebih rata.

Sapi Charolais
Berasal dari Perancis dan merupakan sapi Perancis yang mempunyai arti penting sebagai penghasil daging yang baik. Merupakan sapi potong terbesar di dunia. Adapun tanda-tandanya adalah :

  1. Warna crem, putih perak, kuning muda atau putih.
  2. Tubuh padat, tapi tidak sepadat sapi Inggris.
  3. Berat Badan jantan berkisar 1000 Kg dan Betina 750 Kg

Sapi Simmental
Berasal dari Switzerland dan merupakan tipe potong, kerja dan perah.  Warna bulu umumnya crem, agak coklat dan sedikit merah. Ukuran tanduk kecil. BB Jantan 1150 Kg dan Betina 800 Kg.

Sapi Limousin
Berasal dari Perancis dan merupakan tipe potong. Warna bulu coklat. Tanduk pada jantan tumbuh keluar dan agak melengkung.

Inseminasi Buatan (IB)
Inseminasi Buatan (IB) adalah terjemahan dari Artificial Insemination (AI) dalam bahasa Inggris dan Kunstmatige Inseminatie (KI) dalam bahasa Belanda. Selanjutnya di Indonesia dikenal dengan Istilah “Kawin Suntik” atau IB.
Definisi IB adalah memasukkan atau menyampaikan semen (Spermatozoa + Cairan) ke saluran kelamin ternak betina dengan menggunakan alat-alat buatan manusia, jadi bukan perkawinan secara alami / langsung dengan ternak jantan.
Dalam praktek, prosedur IB tidak hanya meliputi deposisi atau penyampaian semen ke dalam saluran kelamin ternak betina semata, akan tetapi mencakup :

  1. Seleksi dan Pemeliharaan pejantan.
  2. Penampungan semen
  3. Penilaian, pengenceran, penyimpanan straw.
  4. Pengangkutan dan distribusi straw
  5. Pelaksanaan IB
  6. Pencatatan dan penentuan hasil IB
  7. Bimbingan dan penyuluhan pada para peternak.

Sehingga lebih cocok disebut dengan Artificial Breeding.

Sejarah perkembangan IB, mula-mula dicobakan pada Anjing pada tahun 1780 oleh bangsa Italia bernama Lazaro Spallanzani. Tahun 1890 digunakan pertama kali untuk kuda Eropa oleh Drh. Perancis Repiquet untuk mengatasi kemajiran. Namun di Rusia metode IB pertama kali dipergunakan untuk memajukan peternakan, yang dipelopori oleh Prof. Elia I. Ivannof dengan melakukan IB pada Kuda dan Domba. Sedangkan di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Prof. B. Seit dari Denmark pada Tahun 1950 di FKH dan Lembaga Penelitian Peternakan Bogor. Kegiatan IB mulai dilaksanakan pada tahun 1953 oleh Balai Pembibitan Ternak di Mirit dan Sidomulyo Kec. Ungaran Kab. Semarang.

Beberapa Istilah yang terkait dengan Ternak Sapi

  1. Polled / Horness = hewan yang secara alamiah tidak memiliki tanduk dan sifat ini dapat diturunkan kepada anak-anaknya.
  2. CWT = 100 lbs = 45 Kg
  3. Dung = feaces
  4. Weaner = ternak muda yang disapih
  5. Ayrshire = salah satu bangsa sapi perah yang berasal dari skotklandia berwarna merah dan putih atau coklat dan putih. Sapi termasuk memiliki kemampuan merumput yang baik BB Jantan dewasa 650 – 900 Kg dan betina dewasa 500 – 550 Kg dengan Berat Lahir 34  Kg. Produksi susu 6000 Kg / tahun Kadar lemak 4 %.
  6. Beefalo = Suatu hasil silang (hybrid) yang mengandung darah bison (3/8 bagian) dari Charolais (3/8 bagian) dan darah herford (1/4 bagian). Hasil silang ini belum popular namun mempunyai harapan yang baik untuk dikembangkan sebagai ternak daging. Sebelumnya ada hybrid Cattalo yang persilangan serupa tapi dilakukan di Canada.
  7. Beef master = suatu bangsa sapi daging yang mengandung darah Zebu, shorthorn, Hereford. Ini merupakan hasil karya C. Lasater yang dimulai tahun 1908 di Texas AS. Warna paling umum adalah merah tua. Strain sapi tropis yang dipergunakan dalam pembentukan sapi Beef Master adalah Gir, Nelore dan Guzerat (India). Karena memiliki darah tropis, maka sapi ini memiliki daya tahan yang amat baik terhadap suhu udara yang tinggi.
  8. Braford = Jenis sapi yang dibentuk di Queensland Australia dengan menghimpun darah Brahman dan Hereford. Sapi ini kuat dengan ukuran badan yang besar, pertumbuhannya cepat, masak dini dan tahan terhadap caplak. Ada species yang bertanduk dan ada pula yang polled. Diperkirakan sapi ini akan mempunyai arti penting di masa mendatang, khususnya untuk daerah-daerah yang beriklim tropis.
  9. Brahman / Brahma = Salah satu jenis sapi yang dikembangkan dari Bos indicus (zebu), suatu species yang berasal dari India. Sapi ini ditandai dengan adanya kelasa atau punuk (hump) serta gelambir (dewlap). Warna yang paling umum adalah abu-abu (grey) memiliki toleransi yang tinggi terhadap panas dan sangat resistant terhadap caplak. Kemampuan merumputnya juga cukup bagus walau keadaan rumputnya tidak baik dan tahan berjalan jauh. Sapi Brahman memegang peran penting dalam pembentukan sapi santa gertrudis yang sangat terkenal serta banyak digunakan dalam persilangan-persilangan dengan sapi sub tropis.
  10. Brahmaental = Bangsa sapi hasil persilangan antara bangsa simental (5/8 bagian) dan Brahman (3/8 bagian) yang dikembangkan di AS sebagai daging.
  11. Brangus = Bangsa sapi yang dihasilkan dari kawin silang antara bangsa Brahman dengan Angus sebagai hasil karya De Landelles (1951) di Rockhampton, Australia. Ditujukan untuk dikembangkan di daerah tropic karena tahan terhadap kekeringan dan kualitas makanan yang kurang baik, disamping itu juga tahan terhadap caplak. Sapi ini tidak bertanduk, warnanya merah atau hitam.
  12. Calf = Anak sapi umur 6 – 9 bulan, yang jantan disebut Bull calf dan yang betina = heifer calf.
  13. Calf crop = Anak-anak sapi yang dilahirkan oleh sekelompok sapi (herd) dalam suatu musim ttt.
  14. Cattalo = hasil silang antara bison jantan dengan sapi betina. Yang jantan biasanya mati pada saat lahir sedangkan yang betina walaupun hidup seringkali infertile.
  15. Stag = sapi jantan yang dikastrasi pada umur tua.
  16. Steer / stot = sapi jantan yang dikastrasi pada umur 6 – 24 bulan.
  17. Bullock = Sapi jantan yang dikastrasi pada umur 2 tahun atau lebih.
  18. Meiden heifer = sapi betina dewasa namun belum pernah beranak.
  19. Bull = Sapi jantan yang tidak dikastrasi.
  20. Cow = Sapi betina yang telah beranak lebih dari satu kali.

Umpan Balik

  1. Jelaskan mengapa Sapi Zebu/ Sapi Asia / Bos Indicus biasanya memiliki ponok atau gumba yang besar dan bergelambir lebar dan kuat.
  2. Jelaskan bagaimana kondisi kulit dan warna kulit yang umum pada sapi-sapi Asia.
  3. Jelaskan mengapa sapi-sapi eropa pada umumya memiliki bentuk badan seperti kotak.
  4. Mengapa kalau kita mengimport sapi misalnya dari Australia dan kita pelihara maka pertumbuhannya tidak bisa sebaik di Australia.
  5. Setiap Bangsa sapi memiliki kelebihan dan kekurangan. Jelaskan kelebihan dan kekurangan Bangsa sapi Asia (Bos Indicus) dan Bangsa sapi Eropa (Bos Typicus).
  6. Mengapa menurut Orang Jawa Khususnya, Sapi disebut dengan Rojo Koyo.
  7. Apa yang saudara ketahui dengan system penggemukkan sapi secara Dry Lot fattening dan Pasture Fattening.
  8. Apabila sapi PO di IB dengan Semen sapi Limousin, maka kira-kira bagaimana keturunannya.
  9. Usaha apakah yang pernah dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kualitas dan produksi ternak sapi potong yang ada di Indonesia.
  10. Apa yang saudara ketahui tentang pengertian Bahan Pakan, Pakan, Ransum, Ransum Seimbang, Complete feed dan Anti Nutrisi.

KERBAU (Bubalus Bubalis)
Kerbau adalah hewan yang termasuk lembu disamping ternak sapi (lembu sejati). Kerbau dibedakan dengan sapi karena kerbau dianggap sebagai bentuk yang paling primitive ditinjau dari tengkoraknya.
Kerbau mempunyai sungut (moncong) yang lebar, kuping besar, tanduk subur pertumbuhannya, rambut jarang. Kaki dengan sepatu yang melebar disesuaikan untuk kehidupan di rawa-rawa/ tanah becek.
Dari fosil-fosil yang diketemukan di Asia dianggap sebagai asal dari semua kerbau. Namun sejak jaman Tertier hewan ini telah tersebar di Afrika. Kerbau-kerbau di Afrika sekarang pada galibnya terdapat sebagai Kerbau Caffer (Syncerus caffer), yang hidup disabana Afrika Tengah dan Afrika Selatan. Hewan ini besar dan BB mencapai 1000 Kg dan tinggi gumba 1,8 m, warna hitam, dengan dasar tanduk besar bertemu kiri dan kanan. Disamping itu juga ditemui ada kerbau kecil (Syncerus nanus) tinggi 1,4 m dengan warna kuning sampai merah sawo matang.
Kerbau Asia (Bubalus bubalis) sekarang masih hidup secara liar di India (dengan nama Arni) Arni liar hidup menyebar luas sampai Asia Kecil, Eropa Selatan dan Afrika Utara. Warna kehitaman, tanduk tidak bertemu, BB mencapai 1200 Kg, tinggi gumba 1,7 m. Bubalus bubalis ini hidup di Philipina dengan perubahan bentuk dengan nama Kerbau Mindoro (Bubalus mindoroensis).
Di Indonesia orang berpendapat bahwa telah tidak ada kerbau liar, sedangkan kerbau-kerbau yang dianggap liar tersebut sebenarnya berasal dari kerbau yang telah jinak, seperti Kerbau Jalang di Banten Selatan dan Bengkulu.
Di Pulau Jawa ternak kerbau banyak terdapat di Pantai Utara dan semakin ke Timur semakin berkurang. Yang banyak adalah di Banten, Sukabumi, Bogor, Cianjur, Karawang, Indramayu, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Demak, Kudus, Bojonegoro, Pasuruan, Probolinggo dan Banyuwangi. Tujuan pemeliharaan umumnya adalah tujuan daging dan ternak kerja. Di luar Pulau Jawa terdapat di Sulawesi Tenggara dan Selatan.Nusa Tenggara, Flores, Sumba dan Sumbawa.  Kerbau di Sulawesi ada yang dalam bentuk kerdil tinggi 1 m disebut dengan Anoa (Bubalus depresicornis).
Kerbau di Indonesia umumnya BB mencapai 500 – 600 Kg dengan tinggi 120 – 130 cm.

Secara systematic Zoology dapat disusun sbb.
Kingdom        : Animal
Phylum          : Chordata
Class              : Mamalia
Ordo              : Ungulata
Family            : Bovidae
Genus            : Bubalus
Species          : Bubalus species

Di Negara India merupakan gudang kerbau, dipelihara untuk tujuan daging dan susu. Nama lainkerbau adalah Water buffaloes (karena sering mandi, Swamp buffaloes (karena sering berkubang), River buffaloes (karena sering di sungai) dan Kebo (Bahasa Jawa.

Beberapa Istilah yang terkait dengan Ternak Kerbau

  • Arna = Kerbau Air (Bubalus bubalis).
  • Bubaline = Golongan kerbau yang merupakan bagian dari genus Bos
  • Buffalo = Kerbau (Bos bubalis, bos caffer atau synerus caffer.

KUDA (Equus species)
Secara systematic dapat disusun sbb.
Kingdom                : Animal
Phylum                  : Chordata
Class                     : Mamalia
Ordo                      : Perissodoctyla
Family                   : Equidae
Genus                   : Equus
Species                 : Equus hipotigris (Zebra)
Equus asinus (Keledai)
Equus hemionus (setengah Keledai)
Equus caballus (Kuda)

Pada buku ini yang dibicarakan adalah kuda saja karena dianggap sudah dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Menurut Stegman Von Pritzwald Equus caballus dibagi menjadi 5 macam berdasarkan tempat perkembangbiakkannya, yaitu :

  1. Equus caballus germanicus (Kuda Jerman)
  2. Equus caballus occidentalis (Kuda Eropa Tengah)
  3. Equus caballus gmelini        (Kuda Eropa Timur)
  4. Equus caballus orientalis     (Kuda Asia Muka)
  5. Equus caballus mongolicus (Kuda mongol = Equus prewalsky).

Kuda adalah perkataan Sanskrit, oleh karenanya diperkirakan orang-orang Hindu yang pada permulaan perhitungan tahun Masehi datang ke Indonesia dengan membawa kuda dari India. Dalam abad-abad pertama tahun Masehi orang-orang Tionghoa berulang-ulang membawa kuda ke Indonesia, demikian juga orang-orang Islam dari India datang ke Indonesia sesudah orang Hindu. Oleh karenanya perlu diperhitungkan bahwa kuda-kuda Indonesia bukan hanya berasal dari Kuda Timur Asli melainkan juga mengandung kuda Cina dan Mongol yang tergolong Tarpan (Equus gmelini).
Pemeliharaan kuda semula digunakan untuk tujuan tunggang bagi lascar atau kavillah sesudah penggunaan unta. Namun kuda sebagai ternak yang dipotong. Oleh karenanya pada Bahasan ini kuda dimasukkan ke dalam Ternak Potong Besar.
Pada beberapa tempat seperti Banyuwangi dan Malang, kuda dipotong untuk konsumsi daging. Macam-macam kuda yang ada di Indonesia, yaitu :

Kuda Sandel
Kuda sandel disebut juga Kuda Sumba karena sudah sejak lama dikenal di Pulau Sumba. Kuda sumba merupakan kuda yang terbaik di Indonesia. Tipe daging dan tarik ringan. Ciri-ciri :

  • Bagian tubuhnya bagus
  • Tubuh bagian depan lebih besar dari belakang
  • Duduk ekor tinggi.
  • Warna bermacam-macam
  • Temperamen cerah, riang dan bertingkah laku sabar.
  • Tinggi 130 cm

Kuda Sumbawa
Kuda ini terdapat di Pulau Sumbawa, terdapat 2 ras yaitu : Kuda Sumbawa dan Kuda Bima. Badan kuda bima lebih rendah daripada Kuda Sumbawa. Tinggi 1-1,25 m, temperamen sabar dan tipe kerja.

Kuda Sawu
Kuda sawu terdapat di Pulau Sawu, merupakan tipe tarik.

Kuda Timor
Kuda Timor terdapat di Pulau Timor, warna bermacam-macam, tinggi 1,36 m, tipe tarik

Kuda Flores
Di Flores terdapat 2 ras yaitu : Kuda Manggarai dan Kuda Ngada, Tipe Tarik, warna umumnya merah.
Kuda Sulawesi
Terdiri dari Kuda Bone dan Kuda Mahar
Kuda Jawa
Kuda-kuda jawa umumnya kecil dan tipe tarik.
Kuda Aceh
Kuda-kuda Aceh banyak tersebar disekitar Danau Toba, kecil, tinggi 120 cm (Kuda batak)

Sedangkan Kuda Luar Negeri yang banyak didatangkan di Indonesia, yaitu :
Kuda Arab
Berasal dari Arabia dan sekarang banyak di Syria dan Mesir. Tipe Balap/Pacu. Lari cepat, badan relative pendek, tinggi 150-160 cm dan berat 500 Kg.
Kuda Thoroughbred
Kuda ini dibentuk di Inggris dari Arab, tipe pacu, warna bermacam-macam, sifat aktif, muka dan kaki biasanya putih, tinggi 150 – 170 cm dan berat 500 Kg.
Kuda Australia
Bermula dari Kuda Thoroughbreed yang disebar ke Amerika, kemudian masuk ke Australia. Kuda yang masuk ke Australia ini disebut Kuda Australia. Namun di Australia sendiri banyak terdapat kuda-kuda Inggris seperti Suffolk (penarik berat), Kuda Inggris (Tunggang), Kuda Poney (Pacuan), Kuda Shire (penarik beban berat), Kuda Hackney (penarik ringan) dan Kuda Clydesdale (penarik berat)
Kuda Percheron, berasal dari Perancis merupakan tipe tarik
Kuda Belgia, Asal Belgia tipe penarik.

Beberapa Istilah yang terkait dengan Ternak Kuda

  • Appaloosa = Salah satu bangsa kuda yang terkenal di AS dan Inggris dan mengandung darah kuda Arab.
  • Ascheim Zondek Test = Suatu uji kebuntingan pada Kuda betina berdasarkan pada adanya PMS (Pregnant Mare Serum) dalam darah kuda itu. Uji ini sangat baik hasilnya apabila diterapkan pada kuda yang umur kebuntingannya 50 – 80 hari.
  • Bay = warna bulu kemerahan pada kuda dengan beberapa bagiannya hitam (kaki & ekor).
  • Burro = sejenis keledai kecil.
  • Charlier shoe = Sepatu khusus untuk kuda dilapangan rumput.
  • Cob = Kuda yang kakinya pendek.
  • Colt = Kuda jantan muda
  • Dark chestnut = Pola yang menggambarkan warna hitam kecoklatan atau mahgony pada kuda.
  • Filly = kuda betina muda
  • Foal = anak kuda
  • Gait = Tiap gerakan kuda yang mengarah ke depan
  • Gelding = Kuda jantan yang dikastrasi
  • Hinny = Hasil persilangan antara kuda jantan dengan keledai betina.
  • Jack atau Jackas = keledai jantan.
  • Janet / Jenny = keledai betina
  • Jaguar = Panthera onca, karnivora besar yang terdapat di Amerika selatan.
  • Mule = hasil perkawinan antara keledai jantan dengan kuda betina atau antara domba black face dengan border Leicester
  • Mare = kuda betina dewasa
  • Mustang = Kuda liar dibagian barat amerika serikat yang merupakan keturunan kuda spanyol.
  • Stallion = kuda jantan dewasa.
  • Sorrel = warna kuda
  • Sheen = Warna bulu yang mengkilat atau bercahaya
  • Polomino = warna kuda kuning keemasan.
  • Pony = jenis kuda yang kecil ukurannya
  • Prick = kegiatan memotong ekor kuda.

Umpan Balik

  1. Jelaskan Mengapa ternak kerbau banyak tersebar dipesisir utara tanah Jawa.
  2. Ternak kerbau adalah ternak yang efisien dalam pemanfaatan pakan yang berkualitas jelek serta tidak tahan panas. Mengapa demikian.
  3. Susunlah systematic Zoologi dari ternak Kerbau secara berurutan.
  4. Menurut Saudara, mengapa pengembangan ternak kerbau lebih lambat dibandingkan dengan ternak sapi maupun kambing.
  5. Kalau melihat kotoran kuda dengan kotoran kerbau, maka akan diketahui kotoran kuda lebih kasar dibandingkan dengan kotoran kerbau. Mengapa demikian dan apa kesimpulan saudara.
  6. Di Tanah Toraja Sulawesi, kerbau merupakan ternak yang sangat berharga khususnya untuk upacara adat. Jelaskan upacara adat tersebut dan mengapa memakai ternak kerbau.
  7. Apakah perbedaan antara kuda dengan keledai, serta apa perbedaan kerbau dengan anoa.
  8. Apa yang saudara ketahui tentang susu kuda liar.
  9. Mengapa ternak kuda lebih banyak sebagai Tarik/pacu  daripada tipe daging.
  10. Sebutkan dan jelaskan ciri-ciri Kuda Pacu yang baik.

TERNAK POTONG KECIL

Kambing (Capra Species)
Ternak Kambing yang ada sekarang diduga berasal dari 3 Kambing liar yakni Capra hircus dari Pakistan dan Turki, Capra falconeri dari Khasmir dan Capra prisca dari Balkan. Secara systematic zoology kambing dapat disusun sebagai berikut
Kingdom :  Animal
Phylum    :  Chordata
Class        :  Mammalia
Order       :  Ungulata
Family      :  Bovidae
Genus      :  Capra
Species    :  Capra species
Kalau diamati perkembangan sebagai ternak potong, maka kambing masih kalah dengan domba, dan biasanya disamping sebagai ternak potong juga sebagai ternak perah. Banyak kambing-kambing luar yang didatangkan ke Indonesia seperti Etawa, Angora, Khasmir, Mountgommeri dari India dan juga Saanen dan Toggenburg dari Belanda.
Peternakan Kambing di Indonesi banyak terdapat di pantai utara Jawa, Sulawesi Selatan, Aceh dan Nusa Tenggara. Pada daerah tropis umumnya bertujuan sebagai ternak potong, namun di daerah sub tropis banyak diarahkan pada produksi susu.

Bangsa Kambing
Uraian bangsa-bangsa kambing sebagai ternak potong tidak lepas dengan uraian kambing perah pada Pokok Bahasan Ternak Perah. Bangsa kambing yang ada di Indonesia antara lain :

Kambing Kacang (Kambing Jawa)
Terdapat diseluruh Indonesia, bentuk badan kecil dengan bobot badan 10-20 Kg dan tinggi badan ± 53 cm, telinga pendek tegak. Namun juga ada yang mencapai bobot badan jantan 25 Kg dan betina 20 Kg.

Kambing Benggala
Orang banyak menyebut kambing autralia, namun sebenarnya bukan dari Australia tetepi dari Mesir. Terdapat banyak di pantai utara Pulau Jawa seperti Cirebon dan Semarang. Tubuh agak besar dari kambing kacang, leher tegak pendek sehingga tampak gagah, bulu panjang dan ada yang tidak bertanduk.

Kambing Kosta
Kambing Kosta berasal dari Iran, terdapat banyak disekitar Jakarta. Badan tegak, hidung rata dan kadang melengkung, tanduk pendek, telinga agak panjang. Warna kebanyakan putih.

Kambing Jawarandu
Nama lain dari kambing jawarandu adalah Kambing PE (Lihat di Bab ternak Perah)

Kambing Anggora
Kambing ini berasal dari Turki, Jantan dan betina bertanduk, telinga rebah, bulu lebat panjang.

Kambing Boer

BOER FULLBLOOD
FB ini adalah kambing boer yang dibawa daripada Afrika Selatan berbadan tegap. Warna kambing boer tulen keseluruhan kemerah-merahan atau hampir hitam.
FERAL
Feral Kambing liar Australia. Petani di sana menangkapnya disekitar hutan dan menjualnya keseluruh dunia, termasuk Indonesia dan Malaysia.
BOER F1
Boer FB jantan yang di kawinkan dengan kambing feral betina yang berwarna putih. Menghasilkan boer F1. Berwarna putih keseluruhan dan bentuk badan masih bercirikan feral
BOER F2
Boer FB dikawinkan denga boer F1 menghasilkan boer F2. Ciri-ciri utamanya ialah kepala berwarna coklat tetapi agak kabur warnanya. Bentuk badannya juga masih kurang ciri-ciri boer yang berkualitas
BOER F3
Boer F3 adalah kawinkan antara boer FB dengan boer F2. Ciri-ciri utamanya ialah kepala berwarna coklat kemerah-merahan. Bentuk badan menyerupai kambing boer FB. Kualitasnya sangat baik dan banyak dibawa masuk ke Malaysia dan Indonesia.
BOER F4
Begitu juga boer F4. Ia juga merupakan kacukan antara boer FB dengan F3. Kepalanya berwarna coklat lebih gelap berbanding boer F3. Keseluruhan kepalanya coklat kemerah-merahan dan kehitam-hitaman. Bentuk badan menyerupai kambing boer FB juga
BOER F5 -F7 (PURE BREED)
Boer F5-F7 juga di kenali sebagai Boer Purebreed Kacukan ini memperlihatkan pengaruh gen boer yang kuat.
Secara keseluruhannya, kelihatan boer purebreed hampir sama dengan boer FB. Cuma terdapat tompok-tompok putih atau tompok-tompok coklat di badannya. Warna coklat kemerah-merahan bukan hanya terdapat di kepala tetapi turut terdapat di badan. Boer generasi ini juga sangat berkualiti untuk dijadikan baka (pejantan).
Boer Fullblood (FB) – adalah kambing boer keturunan asal dari Africa yang tidak dicampur dengan mana-mana baka kambing lain. Kambing ini mempunyai ciri Boer yang sebenar, iaitu cepat membesar dan membiak. Kat Malaysia harga untuk jenis ini paling kurang RM2,000 seekor.
Boer F1adalah anak kambing yang lahir hasil dari perkahwinan antara Boer Fullblood (FB) dengan kambing jenis lain.
Boer F2adalah anak kambing yang lahir hasil dari perkahwinan antara Boer Fullblood (FB) dengan Boer F1
Boer F3 – adalah anak kambing yang lahir hasil dari perkahwinan antara Boer Fullblood (FB) dengan Boer F2
Boer F4adalah anak kambing yang lahir hasil dari perkahwinan antara Boer Fullblood (FB) dengan Boer F3
Purebreedadalah gelaran bagi F4 (bagi betina) dan F4 keatas bagi jantan.

Beberapa Istilah yang terkait dengan Ternak Kambing

  • Alpine = Salah satu bangsa kambing perah yang terkenal berasal dari Perancis dan Swiss, dengan warna putih dan hitam serta totol-totol. Termasuk kambing perah yang berukuran besar, betina dewasa mencapai 55 Kg. Produksi susu dapat mencapai 950 Kg dengan kadar lemak 3,5 % dalam masa laktasi 8 – 10 Bulan.
  • American la mancha = Bangsa kambing perah yang terkenal di Amerika serikat.
  • Angora = Bangsa kambing yang berasal dari daerah Angora Asia Kecil. Kambing ini terkenal sebagai penghasil Mohair yaitu bulu kambing yang berkualitas bagus, disamping peranan kambing ini sebagai penghasil daging.
  • Bleat = Suara yang spesifik dari kambing atau domba.
  • Buck = Kambing jantan dewasa.
  • Buck Kid = Kambing jantan muda
  • Chevon = Daging anak kambing (kid).
  • Doe = Kambing betina dewasa.
  • Doe Kid = Kambing betina muda
  • Venison = daging rusa yang dapat dimakan.
  • Slatted floor = alas kandang yang berlubang (tidak rapat)
  • Slurry = feaces yang tercampur urine dalam perkandangan ternak.
  • Marbling = penyebaran partikel lemak di dalam daging.
  • Meatiness = derajat perdagingan atau ratio antara urat daging, lemak dan tulang.
  • Mohair = bulu kambing jenis angora.
  • Chevrotain = Tragulus javanicus (kancil / pelanduk).
  • Carbonated water = Air minum yang mengandung CO2. Pada ayam petelur, peristiwa “Panting” yang terjadi pada keadaan suhu lingkungan tinggi, dimaksudkan untuk mengurangi beban panas dari dalam tubuh. Karena terengah-engah itu, maka terlalu banyak CO2 yang dikeluarkan sehingga tubuh mengalami defisiensi CO2 dan karena cenderung terjadi “ALKALOSIS” (Respiratory Alkalosis). Salah satu akibatnya ialah tidak sempurnanya sistesa kulit telur (CaCO3), hingga kulit telur menipis dan resiko pecah sangat meningkat. Penggunaan air minum yang mengandung CO2 telah menunjukkan hasil yang dapat diharapkan mengatasi problema tsb. Di samping itu pada ternak Kambing dan babi, penggunaan carbonated drinking water juga membantu problema respiratory alkalosis.
  • Flushing = Usaha memperbaiki makanan pada ternak yang habis melahirkan anak agar supaya segera dapat kembali pada kondisi normal

Domba (Ovis Species)
Penjinakkan domba diperkirakan dari Asia Tengah. Seperti di Turkistan ditemukan tulang-tulang yang berumur kira-kira 8000 tahun sebelum Nabi Isa. Semenjak permulaan usaha peternakan domba diarahkan guna menghasilkan air susu, daging, gemuk dan wool.
Di Eropa Domba Mouflon (Ovis musimon) hidup dalam keadaan liar, warnanya sawo matang keabu-abuan sampai kemerah-merahan, tanduk sangat kuat membengkok ke belakang. (Kadang-kadang betina juga bertanduk). Sungguhpun penyebarannya sangat luas, namun sekarang hanya terdapat di Corsika dan Sardinia.
Domba Argali (Ovis ammon) terdapat banyak di Asia Utara dan Asia Tengah mulai dari Turkistan sampai Kamchatka. Domba ini ditandai dengan tanduk yang terpilin. Domba urial (Ovis vignei), sebagai domba asli Asia Tengah. Domba ini ditandai dengan surai pada leher dan tanduk yang terpilin kuat baik yang jantan maupun yang betina.
Domba-domba jinak diduga keturunan dari Domba Urial (Ovis vignei) yang merupakan awal domba di Asia Kecil, Balkan, Hongaria dan bangsa-bangsa domba dari Alpen. Demikian juga Domba Merino dianggap keturunan dari domba urial ini.Persilangan domba Mouflon dan Domba Urial berkembang di Eropa.
Di Indonesia, usaha untuk memajukan peternakan domba telah dirintis dengan mendatangkan bibit-bibit dari luar negeri seperti Merino, Kapstad, Romney, ataupun Texal dari Belanda dengan tujuan memperbaiki domba-domba local.

Secara systematic zoology, domba dapat disusun sebagai berikut :
Kingdom :  Animal
Phylum    :  Chordata
Class        :  Mammalia
Order       :  Ungulata
Family      :  Bovidae
Genus      :  Ovis
Species           :  Ovis species

Banyak orang yang kesulitan untuk menentukan domba atau kambing. Untuk itu secara umum dapat dibedakan keduanya dengan melihat :

Bagian

Kambing

Domba

Janggut
Rambut dan Wool
Ekor
Bau
Cara Makan
Nama
Berjanggut (terutama ♂
Berambut
Ekor arah ke atas
Ada Bau Khas (khususnya ♂)
Broushing (meramban)
Wedus
Tidak Berjanggut
Wool (domba Indonesia masih juga berambut)
Arah ke bawah
Tidak ada bau khas
Grazzing (merumput)
Gibas

Jenis-jenis Domba yang ada di Indonesia

Domba Jawa Asli
Terdapat di seluruh Indonesia, bentuk kecil dan daging sedikit, beranak satu (jarang beranak 2-3 ekor),  warna rambut putih, hitam, sawo matang sampai coklat.

Domba Ekor Gemuk (DEG)
Domba ini banyak terdapat di Pulau Madura, Bondowoso, Probolinggo, Besuki, Jember, Situbondo dengan asal usul yang tidak pasti. Ciri khas adalah Ekor Gemuk dan panjang dengan berat  3-10 Kg dimana ujungnya kecil.

Domba Priangan (Garut)
Terdapat di Priangan / Garut Jawa Barat. Diperkirakan merupakan hasil silang dari Domba Lokal, Domba Tanjung Harapan (Asal Afrika Selatan) dan Domba Merino (Asal Australia). Domba Garut merupakan domba Indonesia yang paling baik, dimana BB Jantan 60-80 Kg, Betina 30-40 Kg dengan Tinggi Jantan 75 cm dan betina 62 cm.
Warna rambut kebanyakan putih, tetapi ada juga yang hitam, coklat, belang hitam dan abu-abu dengan bulu yang halus, panjang dari yang asli.

Domba Merino
Asal dari Asia Kecil. Karena mutu wool baik, maka cepat berkembang dikawasan dunia seperti Australia, Eropa, Afrika dan Amerika.
Domba Rambouillet
Asal Perancis. Badan lebar dalam dan padat, gesit, kepala terangkat. Yang jantan bertanduk besar, sedangkan yang betina tidak bertanduk. Domba ini merupakan tipe daging dan wool yang sangat baik.

Domba dari Luar Negeri

  1. Domba Chevoid (Scotland)
  2. Domba Southdown (Inggris)
  3. Domba Leicester (Inggris)
  4. Domba Lincoln (Inggris)
  5. Domba Corriedale (New Zealand)
  6. Domba Karakul (Amerika Serikat)
  7. Domba Gurez, Karanah, Bhakaral dari India.

Beberapa Istilah yang terkait dengan Ternak Domba

  • Argali = Domba liar (ovis ommon) yang terdapat di Asia Pusat.
  • Berrichon du cher = Bangsa domba perah yang dikembangkan di Perancis yang mengandung darah domba merino
  • Chamois = kulit segar domba yang disamak dengan minyak.
  • Cheviot = Salah satu bangsa domba tipe pedaging
  • Corriedale = Salah satu bangsa domba yang termasuk tipe pedaging yang cukup baik.
  • Dagging / Crutching = pencukuran bulu domba biasanya pada musim gugur dan panas untuk mencegah infeksi parasit.
  • Drape = Sapi atau domba betina yang tidak dapat beranak.
  • Drysdale = suatu bangsa domba dari selandia baru yang merupakan tipe wool. Domba ini merupakan mutasi dari Romney.
  • Ewe = domba betina dewasa.
  • Fag = caplak yang menyerang domba.
  • Wether = domba jantan yang telah dikastrasi
  • Gimmer / hogget = Domba betina yang mulai saat disapih sampai saat pencukuran woolnya yang pertama kali.
  • Ile de france = Bangsa domba yang berasal dari perancis.
  • Lamb = anak domba
  • Masham = hasil persilangan domba Black Face dengan Wensleydale
  • Mutton = daging domba atau kambing pada fase pertumbuhan awal.
  • Teg = domba yang berumur sekitar 2 tahun.
  • Texel = Bangsa domba dari Belanda pertumbuhan cepat dan produksi susu banyak.
  • Tup = domba jantan
  • Southdown = Bangsa domba tipe daging
  • Shropshire = salah satu bangsa domba tipe daging.
  • Ram = Domba jantan dewasa
  • Rambouillet = Bangsa domba tipe wool
  • Shear = memotong atau mencukur bulu pada domba atau kambing

Umpan Balik

  1. Jelaskan perbedaan antara kambing dan domba secara umum.
  2. Kebutuhan apa saja yang diperlukan dalam mengusahakan ternak potong kambing.
  3. Pemeliharaan ternak kambing dan sapi yang saling berdekatan tidak dianjurkan. Mengapa demikian.
  4. Apa perbedaan antara rambut dengan bulu.
  5. Sebutkan 4 tujuan dari mendatangkan ternak dari luar negeri ke Indonesia.
  6. Mengapa ternak kambing dan domba liar, saat ini sudah tidak ada lagi di dunia.
  7. Bagaimana proses yang dilakukan untuk menciptakan breed baru (seperti pada kambing Boer).
  8. Berdasarkan cara makan antara domba dan kambing terdapat perbedaan. Apakah hal ini juga akan berpengaruh dalam manajemen usahanya. Jelaskan.
  9. Sebutkan macam-macam kambing yang berpotensial untuk dikembangkan di Indonesia.
  10. Sebutkan macam-macam domba yang berpotensial untuk dikembangkan di Indonesia.

TERNAK PERAH

Pendahuluan
Class Mammalia atau kelompok hewan yang menyusui dikenal karena terdapatnya kelenjar mammae atau kelenjar susu pada jantan atau betina. Walaupun dalam perkembangannya pada ternak jantan mengalami rudimenter (pengkerdilan), sedangkan pada ternak betina mengalami perkembangan.
Kelenjar mammae merupakan modifikasi dari kelenjar kulit, yang dilengkapi dengan puting susu dan menghasilkan susu untuk makanan anak. Tidak semua class mammalia dibudidayakan untuk penghasil air susu, karena memang tidak semua menghasilkan air susu dalam jumlah yang banyak.
Khsususnya ternak perah, maka ternak ini dibudidayakan untuk penghasil air susu, karena mereka mampu merubah makanan kasar dan hijauan makanan ternak atau limbah pertanian yang bermutu rendah menjadi air susu yang bermutu tinggi. Ternak perah secara efisien mampu merubah bahan pangan yang berkualitas rendah menjadi bahan pangan yang berkualitas tinggi khususnya sebagai sumber protein hewani.
Dalam diktat ini hanya akan dibahas untuk beberapa jenis ternak perah yangtelah umum dibudidayakan, antara lain : Sapi Perah, Kerbau Perah dan Kambing Perah.

Sapi Perah

Pada uraian Sapi sebagai ternak potong, dikemukakan bahwa pada sub Genus Taurinae terdapat 2 species yaitu Bos Indicus dan Bos Taurus. Bos Typicus atau Bos taurus merupakan sapi tidak bergumba, dimana terdapat 4 sub species yaitu : Primegenius, Longifrons, Frontasus dan Branchycephalus.
Dari sub species Premigenius dan sub species Longifrons berkembang sapi-sapi perah yang terkenal seperti : Holstein, Jersey, Guernsey, Ayrshire dan Brown Swiss.

Karakteristik Breed Sapi Perah
Holstein
Berasal dari Holland (Belanda) di propinsi Holland Utara dan Friesland Barat. Breed ini berkembang dari nenek moyang bos taurus-Premigenius. Dikenal juga dengan Friesian Holstein atau Fries Holland atau Fries Holstein. Merupakan sapi terbaik memproduksi air susu.
Tanda-tanda / Ciri-ciri

  • Warna belang hitam atau belang putih (kadang-kadang terdapat yang belang merah serta umumnya pada dahi terdapat warna putih segitiga.
  • Keempat kaki bagian bawah dan ekor berwarna putih.
  • Tanduk pendek menjurus ke depan
  • Lambat dewasa, tenang dan jinak.
  • Tak tahan panas, mudah menyesuaikan diri.
  • Produksi susu 4500-5000 liter per laktasi dengan kadar lemak 3-4,5 %.
  • BB Jantan 700 – 900 Kg dan Betina 550 – 600 Kg

Jersey,
Berasal dari Inggris Selatan. Merupakan sapi perah terkecil yang tahan panas dan cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jersey berasal dari sapi liar dengan nenek moyang Bos taurus – longifrons.
Tanda-tanda :

  • Warna bulu bermacam-macam, ada yang abu-abu muda, kuning, merah, coklat tua, dan ada yang hampir hitam dimana yang jantan warna lebih tua.
  • Tanduk ukuran sedang dan agak menjurus ke atas, lebih panjang dari FH.
  • Kurang tenang, lebih mudah terpengaruh sekitar.
  • Cepat menjadi dewasa
  • Produksi susu 3200 liter per laktasi dengan kadar lemak 5,3 %.
  • BB Jantan 500 – 650 Kg dan Betina 350 – 500 Kg.

Guernsey,
Sapi ini lebih besar dari Jersey dengan karakteristik susu seperti Jersey. Terdapat di Pulau Guernsey  Inggris, berasal dari nenek moyang Bos Taurus – Longifrons.
Tanda-tanda :

  • Warna Kuning tua dengan belang putih.
  • Warna putih sering pada bagian perut, muka dan bagian bawah ke-4 kaki.
  • Tanduk menjurus ke atas dan agak condong ke depan dengan ukuran sedang.
  • Lebih tenang daripada Jersey tetapi tidak setenang FH.
  • Lebih cepat dewasa, akan tetapi lebih lambat dari Jersey.
  • Produksi susu 2750 liter per laktasi.
  • BB Jantan 700 Kg dan Betina 475 Kg.

Ayrshire
Berasal dari Ayr Barat daya Scotland. Nenek moyang Bos taurus – primegenius dan Longifrons. Ayrshire merupakan breed yang berkembang lambat yakni sejak tahun 1750 M, dimana breed lain sudah berkembang dengan pesat.
Tanda-tanda :

  • Warna belang merah dan putih atau belang coklat dan putih.
  • Tanduk agak panjang dan menjurus ke atas, hampir tegak lurus dengan kepala.
  • Cepat dewasa seperti Guernsey
  • Produksi susu 3500 liter per laktasi
  • BB Jantan 725 Kg dan Betina 550 Kg.

Brown Swiss
Sapi ini berasal dari Awitzerland (Swiss). Nenek moyang bos taurus – Longifrons, merupakan breed yang paling tua.
Tanda-tanda :

  • Warna coklat, abu-abu muda/tua, umumnya yang ditemui berwarna coklat.
  • Sifatnya jinak
  • Produksi susu 4000 – 4500 liter per laktasi (No. 2 setelah FH)
  • BB Jantan 970 Kg dan Betina 630 Kg.

Dan masih banyak jenis sapi perah lain seperti Sahiwal, Yamaica, Red shindi, Devon, Dexters, Milking shorthorn, Red Polled.

Bangsa sapi Perah Indonesia.

Peranakan FH (PFH)
Sapi ini merupakan hasil persilangan sapi-sapi lokal dengan sapi FH, sehingga secara keseluruhan mirip dengan sapi FH akan tetapi produksi susu dan Bobot badannya lebih rendah dari FH.

Sapi Grati
Sapi ini berasal dari Grati Pasuruan Jawa Timur. Sapi ini hasil persilangan antara sapi Madura/jawa dengan sapi FH, Ayrshire dan Jersey. Namun pada sapi grati yang menonjol adalah ciri-ciri sapi FH. Produksi susu 2000 liter per laktasi dan BB jantan 550 Kg dan Betina 425 Kg.

Red denish
Sapi ini berasal dari Denmark dan didatangkan ke Indonesia untuk ditempatkan di Pulau Madura. Warna bulu merah, produksi susu 4300 liter per laktasi dengan kadar lemak 4,3 %. BB Jantan 850 Kg dan Betina 500 Kg.

Memilih Sapi Perah
Untuk dapat menghasilkan air susu sesuai dengan hasil yang diharapkan, maka perlu dilakukan seleksi ternak sapi yang dipelihara/diternak sesuai dengan ketentuan secara eksteriur, meliputi :

a.  Keadaan tubuh sapi perah betina

  • Gambaran secara umum menunjukkan kebagusan, tampak vogoris dan harmonis.
  • Menunjukkan karakteristik dari breed.
  • Menunjukkan karakteristik sapi perah seperti kulit sedang tebalnya dan elastis, bulu halus teratur dengan baik, jarak rusuk lebar dan melengkung dengan baik serta lingkar dada besar.
  • Mammary sistem menunjukkan kebaikan seperti ambing : halus besar, pertautan baik, symetris, lunak dan elastis, texture ambing : lunak dan elastis, puting : uniform, panjang dan besar, tempat dan jarak baik, mammary vein panjang dan berbelit-belit serta besar.

b.  Keadaan tubuh sapi perah jantan

  • Gambaran umum tampak bagus, menunjukkan kejantanan, harmonis dan mantap.
  • Memiliki karakteristik breed.
  • Memiliki karakteristik sapi perah jantan seperti kulit longgar dan elastis, bulu halus dan tidak kasar, testicle normal, symetris dengan scrotum yang normal dimana berada dalam kedudukan yang baik, mammary vein luas, panjang dan baik, kaki depan dan kaki belakang baik serta kuat.

Kerbau Perah

Negara India merupakan salah satu negara di dunia yang banyak melakukan penjinakkan kerbau (buffaloes). Negara lain yang memiliki ternak kerbau dalam jumlah besar adalah China, Thailand, Pakistan dan Philipina.
Uraian kerbau (Bubalus species) telah banyak dijelaskan pada Kerbau sebagai ternak potong. Sedangkan yang diuraikan pada pokok bahasan ini hanya menyangkut beberapa kerbau sebagai ternak perah.

Beberapa Breeds Ternak Kerbau sebagai Ternak Perah, yaitu :

Jaffarabadi.
Terdapat di hutan Gir-Kathiawar khususnya mengarah ke Jaffarabad India. Individu kerbau sebagai  penghasil air susu sampai 15 – 18 Kg per hari dengan lemak susu (butter fat) tinggi.
Tanda-tanda :

  1. Kepala : Besar, lebar, bertanduk tipis menggantung ke leher dengan ujung melengkung ke atas, dahinya menonjol.
  2. Leher : kuat dan berkembang dengan baik.
  3. Tubuh : massif, relatif panjang dan tidak begitu kompak, panjang kerbau jantan mencapai 176,6 cm dan betina 160 cm, BB jantan mencapai 589,6 Kg dan betina berkisar 450 Kg
  4. Kaki : lurus dan kuat
  5. Warna : hitam atau kelabu
  6. Ambing : bentuk dan ukuran baik, vena jelas, puting susu panjang dan produksi susu 15-18 Kg ( 30-40 lbs) per hari

Murrah
Kerbau Murrah berasal dari Punjab selatan, Haryana dan Union Terretory of Delhi India. Breeding yang baik dilakukan di Rohtak, Hissar, Jind, Nebha dan Patiala India. Kerbau ini tercatat sebagai penghasil susu dan daging. Secara Individuil dapat menghasilkan air susu 22 – 27 Kg per hari.
Tanda-tanda :

  1. Kepala : relatif kecil dan bersih, tanduk tumbuh yang mula-mula arah caudo-lateral terus membelok ke dorso-medial seterusnya ke arah medio-cranial dengan warna hitam.
  2. Leher : pada jantan tebal dan panjang, pada betina tipis panjang.
  3. Tubuh : padat dan pendek, punggung lebar, dada berkembang baik dan lebar, ekor kecil dengan ujung warna putih, tinggi jantan 152 cm dan betina 132 cm, BB Jantan 566,9 Kg dan betina 430,9 Kg. BB anak baru lahir mencapai 32 – 35 Kg.
  4. Kaki : lurus pendek dan berkuku besar hitam
  5. Warna : hitam atau kelabu dan putih pada ujung ekor.
  6. Ambing : bentuk dan ukuran baik, vena jelas, puting susu panjang dan produksi susu 22-27 Kg  per hari dengan butter fat 7 %.

 Selain ke-4 breeds di atas, masih banyak kerbau-kerbau lain yang baik menghasilkan susu seperti kerbau Nagpuri (Ellichpuri) dengan kemampuan 5-8 Kg susu per hari.
Di Indonesia juga terdapat kerbau yang biasa diperah yaitu di Sumatra, namun tidak banyak informasi serta belum berkembang ke luar daerah juga produksi susu masih rendah. Di Medan terdapat kerbau Murrah yang dipelihara oleh orang India untuk dijadikan Dadih (susu kerbau yang diasamkan dengan cara dicampur gula atau madu). Produksi susu kerbau Murrah ini berkisar 2-7 liter per ekor per hari dengan masa laktasi 11 bulan (Nasution, 1988).
Dalam rangka meninggikan fat (lemak), maka susu kerbau dicampur dengan susu sapi. Kadar butter fat susu kerbau sangat tinggi yaitu 9,6 % dan protein 5,26 %. Krim susu kerbau dibuat Ghee (masakan penting bagi orang India).

Kambing Perah

Sebagai hewan penghasil susu, maka ternak kambing sangat berarti bagi anak negeri yang hidup dipedalaman. Air susu kambing merupakan produk yang sangat baik guna memenuhi kebutuhan air susu bagi mereka yang tidak suka atau yang sulit memperoleh air susu sapi.
Ada perbedaan antara air susu sapi dengan air susu kambing, dimana pada air susu kambing globula lemak berukuran kecil dan susu agak lunak sehingga lebih mudah dicerna baik bagi bayi atau orang yang alergi terhadap susu sapi.
Banyak kambing yang berfungsi ganda yaitu disamping sebagai penghasil daging juga penghasil air susu. Uraian dibawah ini hanya pada ternak kambing yang menonjol dalam produksi air susu.

Macam-macam Breeds Kambing Perah.

Saanen
Breed Saanen berkembang dilembah Saanen Switzerland. Warna bulu dominan putih atau krem. Pada jantan BB mencapai 65-80 Kg atau rata-rata 50 – 60 Kg. Terdapat atau tidaknya tanduk sangat tergantung pada strain atau speciesnya. Pada umumnya mempunyai rambut pendek dan mempunyai janggut. Produksi susu mencapai 2-5 Kg per hari dan lama laktasi 8-10 bulan dengan butter fat 3-4 %.

Toggenburg
Berasal dari Switzerland dan sangat populer sebagai penghasil susu di Amerika Serikat. Warna rambut coklat muda (brown light) dihiasi warna putih di abdomen dan kaki. Warna putih atau cerah juga terdapat dikanan-kiri muka sebagai karakteristik dari kambing ini. Pada jantan BB 65-80 Kg dan betina 50-60 Kg. Umumnya bertanduk dengan rata-rata produksi susu 5-10 Kg per hari dan lama laktasi 10 bulan.

Alpine
Terdapat di kelompok-kelompok French dan Swiss Alpine yang hidup di daerah pengunungan. Butter fat mencapai 3-4 %. Pada French Alpine berwarna hitam, kehitaman, putih atau kombinasi dan biasanya bertanduk. BB rata-rata jantan 65-80 Kg dan betina 50-60 Kg. Pada swiss Alpine berwarna merah dengan tanda putih dan sedikit bertanduk.

Anglo Nubian
Berkembang di Inggris dan merupakan crossing antara Nubian jantan dari Egyt (mesir) dengan Jamnapari betina dari Inggris. Warna bervariasi dari hitam sampai putih, kehitaman, merah. Jantan dan betina bertanduk. BB Jantan 65-80 Kg dan Betina 50-60 Kg. Butter fat 4-5 %.

Jamnapari (Etawa)
Breed ini terdapat di distric Etawah daerah pegunungan Uttar Pradesh India. Kambing ini merupakan tipe dual purpose (dwi guna) dimana sebagai penghasil daging dan susu. Jamnapari lebih dikenal dengan Etawah atau Etawa merupakan kambing yang gagah, umumnya putih atau kuning kehitaman dengan coklat muda pada leher dan muka. Telinga panjang menggantung menyerupai kambing Nubian. Dengan demikian kambing Etawa kemungkinan latar belakang genetik breed Nubian. Rata-rata BB jantan 60-90 Kg dan betina 50-60 Kg. Merupakan kambing perah yang produksi susunya mencapai 5,4 Kg per hari dengan rata-rata 2-3 Kg per hari. Lama laktasi dapat mencapai 305 hari per tahun dengan produksi susu mencapai 600 Kg per tahun.

Barbari
Berasal dari Barberra di British tanah Somali Afrika Timur. Di India terdapat di Uttar Pradesh. Kambing ini mempunyai respon yang baik dengan Stall Feeding, dapat diternak dengan mudah baik dikota atau di desa. BB Jantan 40-50 Kg dan Betina 35-40 Kg. Warna putih sedikit hitam atau belang hitam. Kesuburan tinggi (2-3 anak per kelahiran). Produksi susu dapat mencapai 4 Kg per hari dengan rata-rata 1-2 Kg per hari dan Butter fat 5 %.

Gaddi
Breed ini diketahui di Kiwai, Paras, Shangraw dari lembah Kaghan, Hazana Pakistan dan juga Azad Khasmir. Merupakan breed yang kecil, kepala massive, telinga panjang, tanduk sedang, bulu panjang dan biasanya berwarna hitam, tetapi ada juga yang putih atau abu-abu. Produk utamanya adalah bulu dan susu (setahun produk bulu mencapai 0,7-1 Kg dan produksi susu 0,8 Kg per hari). Rata-rata BB jantan 30 Kg dan betina 20 Kg.

Selanjutnya terdapat pula breed kambing dari India antara lain : Amritsari, Surti, Khasmiri, Osmanbadi dan Malabari, sedangkan dari Pakistan antara lain : Chapper, Damani, Kaili/ Pahari, Kaghani dan Kail.

Beberapa kambing breed dari India telah masuk ke Indonesia seperti Kambing Jamnapari atau lebih dikenal dengan Kambing Etawa. Hasil silang antara Kambing Etawa dengan Kambing Kacang  menghasilkan Kambing PE yang juga disebut dengan Kambing Jawarandu. Kambing ini banyak terdapat di Jawa Timur seperti di Lumajang, Malang, Blitar dan Tulungagung. Tujuan utama persilangan adalah untuk meningkatkan mutu daging kambing lokal dan untuk produksi susu. BB jantan mencapai 40-45 Kg dan Betina 32 Kg. Warna bulu kebanyakan belang hitam atau merah dan putih. Hidung melengkung cembung, telinga lebar panjang sampai 25-40 cm. Produksi susu 1-1,5 liter per hari.

Surti
Hidup di Gujarat, kaira dan distrik Baroda India. Contoh-contoh yang terbaik berasal dari Anand, Nadiad, Barsad dan Petlad India. Produksi susu sangat berarti bagi Bombay, dimana rata-rata adalah 1550 – 1700 Kg per laktasi dan pada kerbau yang baik dapat mencapai 2200 – 2500 Kg per laktasi.
Tanda-tanda :

  1. Kepala : panjang, muka lebar, antara kedua tanduk konveks, muka dan moncong berlekuk-lekuk, lubang hidung lebar, telinga menggantung dengan warna bagian dalam merah muda, tanduk pipih bentuk sabit dengan lekuk yang nyata, tumbuh arah belakang bawah dan ujung seperti berkait.
  2. 2.    Leher : pada betina panjang, tipis dan ringan, sedangkan jantan tebal dan berat.
  3. Tubuh : bentuk bulat panjang, panjang badan jantan 142 cm dan betina 137 cm, BB Jantan 500 Kg dan Betina 408 Kg, dada menonjol dan lebar, kulit tebal, halus dan bulu jarang, ekor panjang kecil dan berambut putih.
  4. Kaki : lurus kuat dengan kuku lebar.
  5. Warna : bulu kelabu atau coklat dengan warna kulit hitam atau coklat.
  6. 6.    Ambing : baik, produksi susu 1550 – 1700 Kg per laktasi dan dapat mencapai 2200 – 2500 Kg dengan butter fat 7,5 %.

Nili
Hidup di Montgomery district disebelah barat Pakistan dan di Ferozepore – Punjab India. Rata-rata sekali laktasi 250 hari dengan produksi 1600 Kg.
Tanda-tanda :

  1. 1.    Kepala  : panjang dengan lekuk nyata, lubang hidung lebar, moncong halus, tanduk kecil lebar, tebal melengkung nyata, telinga runcing.
  2. 2.    Leher  : pada betina panjang tipis, pada jantan tebal panjang.
  3. 3.    Tubuh : Sedang, BB jantan 590 Kg dan Betina 455 Kg. Kulit halus lunak.
  4. 4.    Kaki  : pendek lurus bertulang kuat.
  5. 5.    Warna  : umumnya hitam, pada ambing terdapat bercak-bercak merah muda dan pada ekor sering bercak putih.
  6. 6.    Ambing : tumbuh baik, produksi susu mencapai 1600 Kg per laktasi.

Umpan Balik

  1. Sebutkan nama-nama tempat dimana kerbau banyak dijinakkan serta sebutkan 4 nama kerbau yang banyak menghasilkan air susu.
  2. Mengapa kerbau Murrah merupakan kerbau yang penting sebagai penghasil susu.
  3. Sebutkan nama 5 breeds kambing yang dapat diperah.
  4. Berikan penjelasan pada salah satu jenis breed kambing perah yang produksi susunya tinggi.
  5. Sebutkan 5 breeds sapi perah yang diturunkan dari Bos taurus-premigenius dan Longifrons.
  6. Berikan tanda-tanda sapi FH secara singkat dan jelas.
  7. Sapi Grati merupakan sapi perah asli Indonesia. Berikan penjelasan mengapa sapi tersebut sangat berarti di Indonesia.
  8. Jelaskan cara memilih sapi yang baik pada jantan dan betina.
  9. Berikan penjelasan singkat dan berurutan cara pemerahan sapi sehingga dihasilkan susu yang berkualitas.
  10. Sapi perah banyak dikembangkan didaerah pegunungan. Mengapa demikian.

ANEKA TERNAK

Pendahuluan
Ilmu peternakan Aneka ternak adalah hewan piara yang tidak termasuk dalam satu class. Dengan demikian hewan piara ini belum dapat digolongkan dalam kelompok ternak Unggas, ternak potong atau ternak perah. Sebenarnya sangat banyak jenis yang termasuk dalam Aneka ternak seperti Puyuh, Lebah, Kelinci, Bekicot, Walet, Rusa, Jangkrik, kodok, buaya, merpati dan lain-lain.
Pada bahasan ini hanya dikemukakan 3 jenis saja yaitu : Puyuh, Lebah dan Kelinci, oleh karena jenis-jenis ini sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat.

Burung Puyuh (Coturnix coturnix)
Yang umum dikenal sebagai Puyuh adalah Unggas dari Marga Turnix, Coturnix  dan Arborophilla. Arborophilla dan coturnix seperti ayam (gallus) termasuk family Phasianidae, sedang genus turnix termasuk family Turnicidae.
Puyuh yang termasuk Turnicidae memiliki ciri jari kaki ketiganya menghadap ke depan sedang yang ke belakang tidak ada.
Cotohnya :  Puyuh tegalan (Turnix succicator), yang sering ditemui ditegalan-tegalan,
Puyuh kuning (Turnix sylvatica)’
Puyuh hitam (Turnix maculosa)
Genus Coturnix yang ada dalam kehidupan liar di Indonesia adalah Coturnix chinensis (Puyuh batu) dimana dengan ciri-ciri : badan kecil sekitar 15 cm dan masih dapat ditemui di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Genus Arborophilla di Indonesia dikenal dengan Puyuh genggong (Arborophilla javanica), puyuh pohon (Arborophilla hyperythra).
Adapun species (jenis) puyuh yang umum dibudidayakan adalah Coturnix coturnix japonica dengan systematic zoology sebagai berikut :
Kingdom :  Animal
Phylum    :  Chordata
Class        :  Aves
Order       :  Galliformes
Family      :  Phasianidae
Genus      :  Coturnix
Species    :  Coturnix coturnix japonica
Asal usul puyuh (Coturnix coturnix) ini belum jelas benar dan diperkirakan dari coturnix liar yang dijinakkan. Puyuh betina mulai bertelur pada umur 50 hari walau dewasa tubuh baru umur 70 hari. BB betina dewasa mencapai 140 gram dan kemampuan produksi telur 200 – 300 butir per tahun dengan rata-rata Berat telur 10 gr.

Beda Puyuh Jantan dan Betina
Untuk membedakan jantan dengan betina akan tampak jelas benar pada umur 3 minggu. Adapun perbedaannya adalah sebagai berikut

Bagian

Jantan

Betina

Cloaca Pada dinding bagian atas ada tonjolan kecil Tidak ada Tonjolan
Suara Umur 1,5 – 2 bulan berkokok Tidak berkokok
Pantat Bulat lebih besar Lebih kecil dari jantan
Bulu Dada / leher bawah merah-coklat tanpa garis-garis Dada / leher bawah merah-coklat dengan garis atau bercak hitam
BB ± 140 gr Kurang dari 140 gr

Tujuan Pemeliharaan Burung Puyuh

  1. Menghasilkan telur Konsumsi. Telur puyuh mengandung13,6 % protein (ayam 12,7 %), lemak 8,24 % (ayam 11,3%).
  2. Menghasilkan daging
  3. Kotoran sebagai hasil samping bisa untuk pupuk.

Kandang
Kandang puyuh dapat dibuat dalam bentuk sangkar dengan dasar dari kawat atau litter (sekam). Dengan bentuk sangkar ini maka kandang dapat disusun  3-4 tingkat. Untuk ukuran kandang dengan panjang 1 m lebar 0,8 m dan tinggi 30-40 cm, maka dapat menampung 40-50 ekor burung puyuh.
Kandang sistem litter
Sistem litter mempunyai kelebihan antara lain :

  1. Hemat tenaga dan praktis karena tidak membersihkan setiap hari
  2. Merupakan sumber vitamin B12
  3. Dasar kandang tidak cepat rusak
  4. Kesehatan kaki puyuh terjamin
  5. Kehangatan merata
  6. Dapat menyerap kotoran dan air
  7. Mengurangi kanibalisme karena puyuh selalu mengkais.

Namun selain kebaikan, sistem litter juga memiliki kelemahan antara lain :

  1. Litter yang basah menyebabkan sumber penyakit
  2. Penggantian litter setiap penggantian penghuni.
  3. Karena puyuh suka mengkais maka wadah makanan sebaiknya diletakkan diluar kandang agar tidak penuh litter dan apabila terpaksa harus diletakkan dalam kandang, maka tempat pakan harus dirancang tidak mudah tercemar litter.

Makanan
Pada keadaan aslinya, makanan burung puyuh adalah biji-bijian, daun-daunan dan serangga. Pada pemeliharaan secara intensif maka makanan harus tersedia lengkap. Makanan puyuh diberikan secara ad libitum dan diperkirakan untuk jantan 20 gr/ hari.
Fase starter (0-3 minggu) kandungan PK 24-28 %,
Fase Grower (3-7 minggu) kandungan PK 20 %
Fase Layer ( setelah umur 50 hari – 8 bulan) kandungan PK ± 24 %
Sebagai potong, (setelah 8 bulan), maka PK ± 20 %.

Pedoman Teknis Budidaya
Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)

a.  Penyiapan Sarana dan Peralatan (Perkandangan)
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.
Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.
Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:

Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2

Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama

Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh

Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram

Peralatan
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan

b.  Peyiapan Bibit

Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan.
Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:

  1. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
  2. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran
  3. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik

c.  Pemeliharaan
Sanitasi dan Tindakan Preventif
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin

Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup

Pemberian Pakan
Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus

Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh

d.    Hama dan Penyakit

Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berk yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.

Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya

Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo

Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox

Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.

Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai

Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya

Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya

Lebah (Apis species)

Sejak jaman prasejarah manusia telah mengenal lebah sebagai penghasil madu. Namun perkembangan tersebut berjalan sangat lamban. Pemikiran untuk memelihara yang semula di alam terbuka, dalam gua-gua, dalam lobang-lobang, kayu-kayu besar dan tua mengilhami cara kehidupan lebah. Dengan demikian bentuk kandang yang dibuat sekarang ini menirukan rumah-rumah lebah dalam kehidupan tidak terpelihara.
Secara Zoology lebah tergolong Phylum Arthropoda, binatang bersegment dan termasuk class Insecta (serangga) yang bersayap (Pterygota).
Tujuan pemeliharaan adalah untuk penghasil madu, malam (lilin) dan royal jelly. Fungsi madu selain untuk kesehatan (obat-obatan) juga sebagai campuran cosmetic.

Jenis-jenis Lebah
Di Indonesia telah dikenal beberapa jenis lebah penghasil madu, yaitu:

Apis dorsata (Tawon gung / Odeng)
Telah lama dikenal jenis lebah ini, namun sampai sekarang belum banyak dibudidaya kan. Rumah atau kerajaan dibangun dipohon-pohon yang tinggi, menggantung dan sering berbentuk bulat. Sifat sangat galak dan akan menyerang apabila diganggu. Madu yang dihasilkan encer / cair.

Trigona (Tawon Lanceng)
Hidup dicelah-celah kayu atau lobang bambu. Madunya sedikit sehingga kurang menarik perhatian untuk dibudidayakan.

Apis indica
Apis indica telah lama dikenal di Indonesia. Namun pemeliharaan secara besar belum banyak dilakukan. Lebah ini banyak menghasilkan madu dan kegairahan untuk beternak di tempat tertentu seperti Jawa tengah karena kebutuhan akan lilin untuk membatik.

Apis mellifica lingustica
Dikenal dengan lebah jenis Italia. Sifatnya ramah dan ukuran badan lebih besar dari Apis indica (1,25 x besar apis indica). Pada tahun tujuh puluhan lebah ini di import dan telah mulai dikembangkan. Ciri-ciri yang merupakan kelebihan apis mellifica adalah :

  • Tiga pasang (segment) dari bagian belakang (abdomen) berwarna kuning
  • Sifatnya sabar
  • Produksi madu tinggi
  • Sarang dijaga tetap bersih
  • Lebih tahan terhadap bakteri
  • Dapat menghalau hama ngengat malam.

Kehidupan Sosial Lebah
Kehidupan Sosial Lebah yang dikemukakan disini khusus untuk lebah apis mellifica. Dalam kehidupan sosial lebah sering dikenal dengan Kerajaan lebah, dimana terdapat 3 kasta atau kelompok yaitu :

1.    Lebah ratu (Queen)

Dalam kelompok hanya terdapat satu ratu. Tugasnya hanya untuk bertelur. Telur dimulai dari beberapa dusin per hari sampai 1500 per hari. Seekor Ratu dapat menghasilkan 15 – 20 Ribu dalam satu musim.  Ciri-ciri Lebah Ratu :

  1. Panjang badan rata-rata 1,5 x lebah kerja
  2. Terdapat 2 mata faset dan 2 ocelli (Mata tunggal)
  3. Terdapat sengat yang hanya dipergunakan pada Ratu baru
  4. Berantena, sayap tidak menutup seluruh abdomen, kaki tak dilengkapi kantong untuk tepungsari.

2.  Lebah Jantan (Drone)

Dalam satu sarang hanya ada beberapa ratus saja. Lebah jantan dilahirkan dari telur ratu atau telur lebah karyawan/pekerja yang tidak dibuahi. Badanya lebih besar dari lebah pekerja, lebih pendek dari ratu akan tetapi lebih lebar dari ratu. Biasanya warnanya hitam atau kehitaman (gelap), Kepala seolah dipenuhi oleh mata majemuk (mata faset).  Sifat-sifat Lebah Jantan

  1. Pemalas, banyak makan dan rakus
  2. Terbang tinggi kalau akan meminang lebah ratu,Tidak pernah mengunjungi bunga
  3. Dalam kelompok hanya satu lebah jantan yang mengawini lebah ratu.
  4. Setelah kawin mati dan pada musim paceklik diusir atau dibunuh oleh lebah karyawan.

Pada Budidaya lebah, sebaiknya dalam kelompok jangan terlalu banyak atau harus dikurangi jumlahnya biar tidak menghabiskan makanan.

3.    Lebah Karyawan / pekerja (Worker)

Dalam sarang lebah apis indica yang baik dapat mencapai jumlah 30.000 lebah karyawan sedangkan pada lebah apis mellifica dapat mencapai 60.000 ekor. Tugasnya adalah bekerja sampai mati. Tugas-tugas tersebut diantaranya adalah :

  1. Sebagai perawat Lebah Ratu, lebah jantan dan larva
  2. Penerima nektar/madu bunga
  3. Propolis dari sari bunga
  4. Penjaga keamanan (soldiers)
  5. Perintis pencari tempat bunga
  6. Pembersih kandang/sarang
  7. Membuat sarang
  8. Memelihara sarang yang retak
  9. Membuat makanan untuk ratu dan larva
  10. Menyimpan madu dan tepungsari bunga maupun propolis.

Tanda-tanda Lebah Karyawan

  1. Ukuran tubuhnya paling kecil dalam kelompok
  2. Panjang badan 14 mm, tinggi 5-6 mm, BB kosong 0,1 gr, BB isi nektar 0,15 gr dan daya angkut rata-rata 0,2 gr.
  3. Fungsi badan sebagai pabrik kimia mengubah nektar bunga menjadi madu, madu menjadi Royal Jelly untuk makanan Ratu serta madu menjadi lilin.

Syarat Mendirikan Usaha Ternak Lebah

  1. Memilih bibit / ratu yang dipelihara
  2. Daerah sekitar banyak tanam-tanaman yang berbunga.
  3. Suhu Lingkungan berkisar 33-34 oC adalah suhu optimum untuk melakukan segala kegiatan
  4. Jauh dari ladang sayur yang sering disemprot dengan pestisida.

Kelinci (Lepus cuniculus)

Di Indonesia dikenal adanya Kelinci Lokal yakni kelinci jawa (Lepus negricollis) dan kelinci Sumatra yang sampai saat ini belum diternak. Diperkirakan ternak kelinci telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Menurut V. Veever Carter (1990) bahwa kelinci masuk ke jawa dan sumatra kira-kira tahun 1835 M dari India.
Secara sistematic zoology kelinci dapat disusun sebagai berikut :
Kingdom     : Animal
Phylum       : Chordata
Class           : Mammalia
Order          : Marsupialia
Family         : Lepuridae
Genus         : Lepus
Species       : Lepus species
Pada dasarnya ternak kelinci terdiri dari 2 breeds yaitu Breeds Fur dan Fancy, dimana setiap kelompok breeds masih terbagi atas varietas-varietas berdasarkan warna rambut.
Di Indonesia kelinci mulai banyak digemari. Hal ini oleh karena adanya beberapa pertimbangan yaitu :

  1. Dagingnya merupakan sumber energi, protein hewani yang bermutu, daging halus, mudah dicerna dan tidak diharamkan oleh agama.
  2. Cepat berkembang biak, dimana sekali beranak 6-8 ekor dengan 4 kali beranak dalam setahun.
  3. Kulit kelinci sebagai bahan kerajinan
  4. Kotoran sebagai pupuk kandang, pada jenis yang besar dapat mencapai 156 Kg/ thn, Tipe sedang 100 Kg/thn dan tipe kecil 35 Kg/thn untuk satu ekor kelinci.
  5. Sebagai hewan percobaan
  6. Dapat memanfaatkan lahan sempit
  7. Modal tidak terlalu besar
  8. Bahan makanan tidak banyak bersaing dengan manusia.

Bangsa Kelinci yang ada di Indonesia.

1.    Anggora

Asal usul kelinci ras Angora kurang jelas. Konon, berasal dari kelinci liar yang berkembang secara mutasi dengan spesifik berbulu panjang. Angora pertama kali di temukan dan di bawa oleh pelaut Inggris, kemudian di bawa ke Perancis tahun 1723. Tahun 1777 Angora menyebar ke Jerman . Tahun 1920 meluas ke negara-negara Eropa Timur, Jepang, Kanada, dan Amerika Serikat.

Sampai kini Prancis menjadi pusat peternakan kelinci Angora terbesar yang menhasilkan wool. Angora dewasa berbobot 2.7 kg, baik jantan maupun betina. Pertumbuhan bulunya yang sangat cepat yakni 2.5 cm per bulan, membuat kita hatus rajin mencukurnya 6-8 cm tiap tiga bulannya. Karena kalau di biarkan tumbuh, bulunya akan cenderung kusut dan menggumpal.

2.      Lyon

Sesungguhnya lyon adalah angora inggris yang tidak jadi kupingnya pendek, wajahnya di penuhi bulu-bulu panjang, mirip seperti lion (singa) tapi yang ini sih gak serem, malah cenderung lucu. Karena masih saudara dekat dengan angora, maka tiap 3 bulan sekali kita harus rajin mencukur bulunya yang cepat tumbuh.

3. American Chinchilla

Kelinci ras ini dibedakan jadi tiga tipe, yaitu standar (bobot dewasa 2.5-3 kg), besar (bobot dewasa 4.5-5 kg), giant (bobot dewasa 6-7 kg). Semua di manfaatkan untuk ternak dwiguna yaitu produksi fur dan daging. Kelinci raksasa alias Giant Chinchilla merupakan hasil persilangan antara Standard Chinchilla dan Flemish Giant.

4. Dutch

Ras dutch (Belanda) sangat terkenal di seluruh dunia sebagai hewan hias piaraan. bobot dewasa jantan dan betina antara 1.5-2,5 kg. Betina bersifat keibuan fertilitasnya tinggi. Setiap kali melahirkan, kelinci menghasilkan anak 7-8 ekor.

Warna bulunya khas, melingkar seperti pelana berwarna putih dari punggung terus ke leher sampai kaki depan bagian belakang dan kepala hitam,cokelat atau abu-abu.Moncong dan dahi putih. Kaki depan seluruhnya putih.Kaki belakang hitam atau warna lain dengan ujung kaki putih.Ada pula yang sekaligus memiliki 3 macam warna, sering di sebut Tricolored Dutch.

5.   English Spot

Ras ini berwarna putih dengan tutul-tutul hitam. Sepanjang punggung ada garis hitam, dari pangkal telinga memanjang sampai ke ujung ekor. Perut bertutul-tutul hitam seperti puting susu. Telinga hitam, mata dilingkari bulu hitam, sehingga tampak seperti memakai kaca mata. Hidung diliputi bulu hitam berbentuk kupu-kupu.

6.      Himalayan

Ras ini sekarang lagi banyak banget di cari, naik daun, harganya masih selangit sekarang. Banyak yang meyakini asalnya dari Cina sebab di sana banyak di jumpai kelinci ini. Mula-mula di bawa dari cina ke Eropa sebagai pengisi kebun binatang dan dikenal dengan nama ‘Kelinci hidung hitam dari Cina’. Warna hitam pada kaki mulai timbul pada umur 3-4 minggu, mula-mula pucat lalu menjadi hitam. Himalayan yang disilangkan dengan New Zealand White, anak-anaknya menyerupai Himalayan.

Kalau disilangkan dengan kelinci berwarna lain, keturunannya tak ada yang menyerupai Himalayan.

7.    California

Kelinci ini biasanya berwarna putih, hitam dan coklat. Berasal dari Amerika dipelihara untuk produksi daging. BB dewasa mencapai 4,5 Kg.

8.    Rex
9.    Kelinci Jawa

Terdapat dihutan-hutan yang berdekatan dengan perkebunan teh di Jawa Barat dengan ketinggian 800 – 1000 m. Warna coklat perunggu agak hitam dipunggung, tengkuk, bahu dan telinga hitam, ekor jingga dan kemudian menuju ujung menjadi hitam.

BB dewasa 2-4 Kg dan beranak 2-3 ekor per kelahiran.

10.  Kelinci Sumatra

Merupakan kelinci asli Indonesia yang hidup di ketinggian 600 – 1500 m. Warna bulu kelabu, coklat kekuningan dengan garis coklat tua pada sisinya, kaki depan dan belakang.

Pembiakan Ternak Kelinci
Kelinci tipe kecil dewasa pada umur 4-5 bulan, sedangkan tipe besar pada umur 6-7 bln.
Dalam satu tahun bisa melahirkan 2-3 kali dan perkawinan dilakukan setelah 3 bulan melahirkan.
Masa subur 12 hari, tidak subur 2-4 hari.
Imbangan jantan : betina adalah 1 : 10 – 20 ekor
Kebuntingan umumnya 30-33 hari.

Umpan balik

  1. Mengapa beberapa jenis ternak disebut dengan Aneka ternak.
  2. Bagaimana cara membedakan puyuh jantan dengan betina
  3. Mengapa membangun kandang puyuh tidak boleh terlalu tinggi.
  4. Apa kelebihan dan kekurangan kandang sistem litter.
  5. Mengapa standart pemberian pakan didasarkan pada fase pemeliharaan dan Kandungan Protein Kasar (PK)
  6. Mengapa peternakan lebah lebih banyak didaerah pegunungan.
  7. Bagaimana cara memperbanyak kelompok sarang lebah.
  8. Bagaimana membedakan lebah ratu, jantan dan karyawan
  9. Apa yang saudara ketahui tentang caprofage dan apa penyebabnya.
  10. Bagaimana cara mengawinkan kelinci.

PENUTUP

Sebagai penutup diktat kuliah ini, perlu ditegaskan bahwa :
Mata kuliah Pengantar Ilmu Peternakan (PIP) merupakan mata kuliah pengantar yang hanya menyajikan pengetahuan dasar tentang ternak.
Dalam belajar Pengantar Ilmu Peternakan, setiap bab selalu berhubungan satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Pembagian dalam bab-bab diperlukan untuk mempertajam dan membedakan tujuan dan kegunaan ternak.
Kesempatan bertanya dan berdiskusi kepada pengampu pada setiap acara perlu dimanfaatkan mahasiswa dengan sebesar-besarnya sehingga diperoleh manfaat pendalaman dan pengembangan pengetahuan Pengantar Ilmu Peternakan.
Pendalaman materi Peternakan akan dijelaskan pada Mata Kuliah Keahlian Peternakan seperti Dasar Ternak Unggas, Manajemen Ternak Unggas, Ilmu Produksi Ternak Unggas dan lain-lain.
Pada diktat ini kami tidak menyampaikan Pengantar Ilmu Peternakan Ternak Babi, hal ini semata-mata terkait dengan Visi, Misi Fakultas Pertanian dan Jurusan Peternakan yang menerapkan unsure-unsur Islami. Oleh Karena itu bagi para peminat dan pemerhati bidang peternakan ternak babi bisa mencari literature buku bacaan maupun internet.
Akhir kata, semoga Diktat Pengantar Ilmu Peternaka ini bisa menjadi pegangan dan bahan kajian bagi mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri dan para peminat dan pemerhati bidang  peternakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: