Diktat Aneka Ternak-Ulat Hongkong-Ulat Kandang

5 08 2012

BAB XIII. ULAT HONGKONG(Meal worm)
13.1. Pendahuluan
Mendengar nama ulat sebagian kita terutama kaum wanita akan merasa takut,jijik dan asosiasi yang negatif lainnya. Tetapi ternyata membudidayakan ulat hongkong bisa mendatangkan penghasilan tambahan yang lumayan besar.
Ulat hongkong atau dalam bahasa lain dikenal dengan Meal Worm atau Yellow Meal Wormdapat ditemukan pada toko-toko pakan burung, reptil dan ikan, karena memang ulat hongkong biasa dipergunakan sebagai suplemen pakan hewan-hewan tersebut. Ulat hongkong bisa dipergunakan sebagai bahan makanan hewan dalam bentuk pelet.
Bisnis budidaya ulat hongkong sebenarnya cukup mudah dan tidak memerlukan tenaga dan modal yang besar, selain itu budidaya ulat hongkong bisa dilakukansebagai usaha sampingan. Usaha budidaya ulat Hongkong ini telah ditekuni oleh beberapa warga didaerah kota Besar di Pulau Jawa. Dengan memanfaatkan sebagian ruangan dalam rumah, mereka menekuni usaha sampingan budidaya ulat hongkong.
Hasil usaha sampingan budidaya ulat hongkong ini cukup lumayan, saat ini hampir tiap hari mereka memanen dan memasok ulat hongkong ke pedagang burung di Pasar-pasar Burung.
Harga ulat hongkong cukup lumayan antara 20 ribu sampai 30 ribu per kilogram. Harga ulat hongkong sempat anjlok beberapa tahun yang lalu seharga 12 ribu per kilogram, hal itu disebabkan over produksi karena banyaknya peternak ulat hongkong. Namun beberapa tahun terakhir harga stabil di kisaran 20-30 ribu per kilogram.

13.2.Langkah-langkah Budidaya Ulat Hongkong:
Jika ingin menekuni usaha sampingan budidaya ulat hongkong langkahnya cukup mudah yang diperlukan hanyalah ketelatenan dan bisa dilakukan di rumah

  1. Siapkan kandang pemeliharaan berupa papan triplek, atau bisa dengan nampan plastik. Ukuran sesuaikan dengan kebutuhan. Jika memakai triplek atau papan sudut-sudut diberi lakban agar ulat tidak kabur.
  2. Siapkan media pemeliharaan berupa campuran dedak halus(Polard) dan ampas tahu kering, bisa dibeli di toko pakan ternak.
  3. Telur ulat hongkong yang dibeli dari peternak, atau bisa membeli ulat hongkong kemudian dibudidayakan hingga menjadi serangga dan kemudian bertelur.
  4. Makanan ulat hongkong bisa diberikan limbah sayuran, timun, pepaya,jipang dan bahan makanan lainnya yang mengandung banyak air.
  5. Kunci budidaya ulat hongkong ini adalah ketelatenan dalam melakukan pemeliharaan. Jika tidak teliti terkadang ada hama sejenis ulat hongkong yang berukuran lebih kecil numpang hidup pada media, namun ulat kecil ini bersifat kanibal dan memakan ulat-ulat hongkong yang lain sehingga produksi menurun. Biasanya ulat jenis ini datang dari media dedak halus dan dari lingkungan sekitar.

13.3. Tempat Peternakan
Usahakan untuk tempat/bangunan peternakan ini, terbuat secara permanen atau terbuat dari tembok sekelilingnya. Tujuannya, agar terhindar dari tikus atau hama semut. Atap terbuat dari enternit serta 95% bangunan tertutup. Lantai terbuat dari tembok atau ubin. Suhu sangat mempengaruhi pertumbuhan ulat. Usahakan suhu dalam ruangan, tetap antara 29 – 30 0C dan selalu lembab, artinya tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Suhu tersebut, merupakan suhu terbaik untuk ternak ini.

13.4. Pemilihan Induk
Adapun langkah dalam pemilihan induk  adalah sebagai berikut :

  1. Serangga Tenebrio Molitor,Induk Ulat Hongkong
  2. Ulat hongkong sebenarnya adalah fase larva dari serangga bernama latin Tenebrio Molitor. Serangga berwarna hitam ini merupakan serangga pemakan biji-bijian. Dalam Fase hidupnya serangga Tenebrio Molitor ini terdiri dari 4 siklus hidup , yaitu telur –> larva(ulat Hongkong) –> kepompong –> ulat dewasa/Serangga. Siklus seperti ini bisa berlangsung dalam waktu 3 sampai 4 bulan. Larva atau ulat hongkong ini akan mengalami pergantian kulit sebanyak 15 kali sebelum akhirnya berubah menjadi kepompong. Pada saat berganti kulit inilah saat yang tepat untuk diberikan kepada ikan hias, karena zat kitin yang terkandung pada kulit ulat hongkong tidak bisa dicerna oleh ikan.
  3. Untuk pemilihan induk, usahakan tidak lebih dari 2 kg, agar ulat yang jadi kepompong ukurannya bisa besar-besar (rata-rata panjang 15 mm dan lebar 4 mm . Sedangkan ulat dewasa dengan ukuran panjang rata-rata 15 mm, dan diameter rata-rata 3 mm akan mulai menjadi kepompong sekitar 7 sampai 10 hari lagi secara bergantian.
  4. Pengambilan kepompong, harus dilakukan selama 3 (tiga) hari sekali, supaya kepompong yang sudah dipisah dan ditempatkan di dalam kotak tersendiri berubah menjadi kumbang secara serentak.
  5. Pemilihan kepompong, dilakukan tiga hari sekali, serta kepompong yang dipilih haruslah yang sudah berwarna putih kecoklatan. Dan cara pengambilannya pun, harus hati-hati jangan sampai lecet/cacat. Apabila terjadi, maka kepompong akan mati busuk. Kepompong yang sudah dipilih, kita taruh di dalam kotak pemeliharan yang sudah diberi alas koran.Kemudian, disebar sedemikian rupa. Jangan sampai bertumpuk, lalu ditutup kembali memakai kertas koran hingga rapat.
  6. Kepompong akan menjadi kumbang, dalam usia mulai 10 hari. Dan apabila sayap kumbang masih berwarna kecoklatan, jangan diambil dulu. Biarkan sampai berwarna hitam mengkilat, dan kumbang siap ditelurkan. Satu kotak/peti, kita tebari kumbang sekitar 250 gr, dan berikan kapas sebagai alas untuk bertelur yang sudah dibeberkan.
  7. Pembibitan ini dibiarkan sampai 7 hari, dan diturunkan bila waktu tersebut tiba. Kumbang yang sudah terpisah dari kapas, diberi kapas baru lagi dan begitu seterusnya. Tingkat kematian pada kumbang ini, bisa mencapai 2 s/d 4 persen sekali turun.
  8. Kapas yang ada telurnya, kita simpan dalam peti terpisah, telur akan mulai menetas setelah 10 hari. Setelah usia ulat mencapai 30 hari baru kita pisahkan dari kapasnya.

13.5. Pemberian Pakan
A.Pemberian Pakan untuk ulat bibit.

  • Untuk satu kotak beri makanan sekitar 500 gr, dengan interval waktu 4 hari sekali. Atau apabila makanan sudah benar-benar bersih, dengan cara dikepal-kepal menjadi 3 bagian. Gunanya supaya kepompong yang ada, tidak tertimbun makanan karena apabila hal ini terjadi kepompong akan busuk.
  • Selain ampas tahu dan dedak, makanan sebaiknya dicampur dengan tepung tulang atau pur, tujuannya agar kepompong besar-besar.
  • Pemberian pakan untuk kumbang, jangan terlalu banyak dan caranya disebar merata sekitar 100 gr sekali makan per 3 hari sekali.

B.Pemberian makan untuk ulat kecil.

  1. Apabila ulat masih ada dalam kapas, sebaiknya pemberian pakan dengan sayuran sosin, capcay atau selada, cabut maksimal 4 lembar sampai habis, dan sayuran tersebut dijemur dulu sampai setengah kering.
  2. Apabila makanan biasa, ukurannya 100 gr dan disebar tunggu sampai makanan itu habis, baru diberi lagi.
  3. Apabila ulat sudah terpisah dari kapas, pemberian pakan sekitar 1 kg, dengan cara dikepal dan sebagian disebar merata. Sedangkan untuk ulat kecil, satu kotak sekitar 2 kg dengan ukuran ulat panjang 6 mm dan diameternya 1,5 mm (umur 30 – 60 hari).
  4. Untuk ulat dewasa (umur 60 – 90 hari), pemberian pakan 1,5 kg sampai dengan 2 kg per kotak, dengan cara dikepal dan disebar sedikit

13.6. Penyakit
Ciri-ciri ulat yang terkena penyakit dan penanggulangannya:

  1. Kulit ulat kuning kehitam-hitaman.Jangan terlalu banyak diberi makan dari daun-daunan, dan jangan terlalu banyak diberi dedak.
  2. Ulat mati berwarna merah. Apabila hal ini terjadi, maka pencegahannya adalah pemberian pakan tidak terlalu basah. Hal ini harus segera diatasi karena penyakit ini selain menular menyerang dengan cepat.
  3. Ulat mati berwarna hitam Hal ini terjadi apabila pemberian makanan disebar, biasanya terjadi pada ulat dewasa usia 1 sampai 3 bulan, maka alangkah baik pemberian makanannya dilakukan secara dikepal-kepal.

13.7. Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi dengan induk (ulat dewasa 1 kg)

  1. Dari pembibitan 1000 gr ulat dewasa usia 90 hari, maka keseluruhan kepompong yang akan dihasilkan adalah 900 gr secara bertahap dalam 10 kali pengambilan kepompong.
  2. Dari 900 gr kepompong, maka akan dihasilkan 700 gr kumbang sehat dan siap bertelur, dengan tingkat kematian dari kepompong menjadi kumbang sekitar 2% setiap pengambilan kumbang.
  3. Dari 1 kg ulat bibit, maka akan dihasilkan 33,1 kg ulat siap jual dengan rincian sebagai berikut: Target hasil tersebut, dapat dicapai apabila tingkat kematian kumbang hanya 1 % dan makanan terjamin, serta perkembangannya bagus.
  4. Makanan untuk 1 kg induk sampai habis terjual: a. Ampas tahu 50 kg kering    b. Dedak 5 kg
  5. Penyusutan. Ampas tahu yang basah setelah diperas akan menyusut; dari 25 kg basah menjadi 15 kg kering, dengan kadar air l5%.

13.8. NPS (Nematoda Patogen Serangga)
Manfaat Ulat Hongkong selain sebagai pakan burung adalah untuk Pengembangbiakan NPS (Nematoda Patogen Serangga). NPS ini digunakan untuk mengatasi serangan hama pengerek batang padi. NPS adalah nematode, hewan golongan cacing yang sangat-sangat kecil. Karena begitu kecilnya tidak bisa kita melihatnya dengan mata telanjang. Nematoda ini adalah parasit bagi ulat serangga. Ulat yang diserang oleh nematode ini akan ‘sakit,klenger’, dan akhirnya mati mengenaskan. Oleh karena kemampuannya itu, kita bisa minta bantuan pada para pasukan NSP ini untuk membasmi hama-hama ulat pengerek batang padi yang sangat mengganggu tanaman padi.

Adapun Alat yang diperlukan:
a. Bak plastik yang tutupnya diberi jendela dan ditutup kain kassa. Fungsi jendela ini untuk aerasi.
b. Kertas merang atau kertas saring atau kertas tissue. Manfaatnya untuk menyerap air dan menjaga kelembaban.
c. Alat gelas kecil
d. Kain kecil yang bersih
e. Pinset jika ada
f. Botol untuk menampung NPS

Sedangkan Bahan-bahan yang diperlukan antara lain:
a. Bibit/kultur NPS
b. Ulat hongkong, biasa tersedia di toko penjual makanan burung
c. Pelet untuk pakan ulat hongkong.
d. Air bersih, bisa pakai air mineral

Cara kerja:

  1. Siapkan Bibit NPS. Bibit NPS diperoleh dari balai/puslit/universitas yang memiliki kultur stok ini. Bibit ini sekali saja membelinya, setelah itu bisa dipelihara sendiri dan dipakai terus menerus.
  2. Kemudian Siapkan bak plastik kecil yang ditutupnya telah diberi jendela.
  3. Letakkan lembaran kertas merang/tissue ke dalam bak plastik.
  4. Tuangkan air kultur NPS ke di atas kertas hingga basah. Sisa air dimasukkan kembali ke dalam botol.
  5. Kertas dibasahi dengan kultur NPS hingga seluruh kertas basah oleh air  dan kemudian Ulat hongkong diletakkan di atas kertas.
  6. Ulat hongkong diletakkan ke dalam bak yang sudah ada NPS-nya.
  7. Dengan cara ini maka nematode akan menginfeksi ulat hongkong. Nematoda akan berkembang biak di dalam inang itu sehingga akhirnya ulat mati. Jangan lupa diberi sedikit pellet untuk makanan ulat hongkong.
  8. Bak plastik ditutup dan diinkubasi selama 2 hari.
  9. Dalam waktu 2 hari, ulat yang terinfeksi akan mati. Ulat yang mati karena terinfeksi nematode berwarna coklat cerah. Ulat mati yang berwarna hitam atau coklat tua bukan mati karena infeksi nematoda.
  10. Siapkan bak lain untuk tempat panen nematoda. Dalam bak itu diletakkan tempat alas gelas kecil yang diletakkan dalam posisi terbalik. Tambahkan air di dalam bak tersebut. Kemudian tutup alas gelas dengan kain putih bersih. Basahi juga kain tersebut.
  11. Ulat yang mati karena nematode dipilih dan dipisahkan dari ulat-ulat yang lain. Ulat-ulat tersebut diletakkan di atas kain yang telah disiapkan sebelumnya.
  12. Ulat mati terinfeksi nematoda di atas kain basah.
  13. Kemudian ulat ini dibiarkan hingga 21 hari. Nematoda akan berkembang biak di dalam tubuh inang. Ketika cairan tubuh inang mulai habis, nematode akan keluar dari tubuh inang dan akan mengikuti air ke bawah nampan. Pada hari ke-16 nematoda akan mulai keluar. Hal ini ditunjukkan dengan air yang mulai keruh. Pindahkan air yang telah keruh ini ke dalam botol penyimpanan. Tambahkan lagi air ke dalam bak plastik. Ulat akan keluar lagi pada hari ke-18 dan 21. Setelah 21 hari ulat sudah kering dan nematode sudah tidak lagi ada di dalam ulat.
  14. Hasil Nematoda di simpan di dalam botol sebelum dipakai.
  15. Satu botol NPS dilarutkan untuk 2 tangki penyemprot. NPS ini siap disemprotkan ke padi di lahan pertanian.

Selamat Mencoba.

14.1. Pengantar
Penggunaan ulat kandang atau di Solo sering juga disebut uler balap (karena larinya yang cepet) sebagai tambahan pakan untuk burung (extra food atau EF) pengganti kroto ternyata menunjukkan hasil yang positif. Hal ini dibuktikan oleh seorang teman penghobi burung Solo untuk burung tledekan atau sulingan. Dia menggunakan ulat kandang sebagai EF burungnya sudah berjalan selama berbulan-bulan.
Burung sulingan atau tledekan yang dia beri ulat kandang sebagai pakan tambahan menunjukkan penampilan yang tidak ada bedanya dengan ketika burung itu diberi EF kroto atau jangkrik. Burung tidak mudah gembos, burung tidak menjadi galak, juga burung tidak menjadi gemuk.

14.2. Apa itu ulat kandang?
Kalau Anda pergi ke kandang ayam, seringkali dalam kotoran yang telah terfermentasi muncul ulat dalam jumlah yang cukup banyak. Itulah ulat kandang. Ulat kandang ini juga bisa dibudidayakan. Media pembiakannya menggunakan kotoran ayam yang sudah terfermentasi (sudah tidak bau) ditambah sisa makanan/sayur.
Ulat kandang ini dapat juga diberikan sebagai pakan tambahan untuk ayam yang dapat memberikan tambahan protein yang cukup tinggi sehingga dapat mengurangi prosentase pakan konsentrat yang mahal, sehingga dapat menurunkan biaya pakan. Memang sampai saat ini belum menemukan hasil penelitian mengenai kandungan gizi yang terdapat dalam ulat kandang. Namun berdasar pengalaman penggunaan ulat kandang oleh penghobi burung itu, maka bisa disimpulkan penggunaan ulat kandang adalah bagus untuk burung, khususnya untuk mengatasi kesulitan mendapatkan kroto pada musim-musim tertentu.
Kelebihan ulat kandang dibanding Extra Food lain adalah harga yang relatif murah, bisa disimpan dalam waktu lama, tidak membuat burung menjadi cepat gemuk (seperti halnya pemberian ulat hongkong), tidak terlalu njelimet untuk memisahkan kotoran seperti kalau kita membersihkan kroto, dan tidak perlu memotong kaki atau kepalanya seperti penggunaan jangkrik.
Harga ulat kandang atau uler balap ini bergerak turun naik namun relatif stabil tidak seperti harga kroto atau jangkrik yang naik turun berdasar musim-musim tertentu.

14.3. Porsi pemberian ulat kandang
Untuk porsi pemberian ulat kandang kepada burung, berdasar pengalaman teman, tidak terlalu dia ukur terlalu detil. “Ya pokoknya saya ambil sejumput tiga jumput, saya masukkan ke wadah pakan burung saya. Untuk sulingan atau tledekan, saya berikan sekitar satu sendok makan,” kata dia.
Memang untuk kali pertama pemberian, mungkin ada satu dua burung yang tidak suka karena belum pernah mengonsumsinya. Untuk itu perlu dilatih dengan pemberian sedikit-sedikit dulu berbarengan pemberian kroto atau jangkrik dengan porsi kroto atau jangkrik yang semakin hari semakin dikurangi.
Perlu saya tekankan, pengenalan atau pemberian pakan apapun kepada burung, perlu dilakukan secara bertahap sambil kita pantau pengaruhnya pada burung. Jika Anda sudah merasa aman melakukan pemberian pakan baru itu selama dua pekan, maka itu bisa dipastikan aman. Selamat mencoba.





Diktat Aneka Ternak-Belut

5 08 2012

12.1. Sejarah Singkat
Budidaya belut di indonesia bergaung mulai tahun 1997 ketika krisis moneter melanda negeri ini, masyarakat kita mulai banyak yang tertarik dengan budidaya belut karena beranggapan bahwa bisnis budidaya belut ini sangat menguntungkan, pada perkembangannya, maka bermunculan peternak belut yang lahir dari seminar dan pelatihan yang diadakan.Tetapi kebanyakan para peternak belut banyak sekali yang gagal. Dari masalah media, pakan, benih dan bahkan informasi cara-cara budidaya yang didapatnya itu menjadi factor utama kegagalan tersebut.
Hingga saat ini pemain belut yang sukses masih bisa dihitung dengan jari mereka yang masih tetap eksis bertahan adalah sebagai petani pemijahan belut, supplier belut, pengepul dan pengrajin belut olahan.Untuk petani pembesaran jarang sekali mereka yang bisa bertahan lama, biasanya karena disebabkan factor kegagalan hingga menyerah tidak mau melangkah lagi dalam bisnis budidaya belut.
Budidaya belut memang fenomenal seiring perkembangan informasi dan teknologi masyarakat sudah mulai kritis dan dewasa menyikapi penomena ini. Banyak peternak belut yang merugi biasanya mereka memulai budidaya belut dengan pembesaran, padahal secara analisa usaha pembesaran kurang menguntungkan dari segi bisnis. Kecuali pembesaran yang bisa berhasil dengan peningkatan angka minimal diatas 2 x lipat selama jenjang waktu 4 bulan. Ini terjadi karena kost pakan terlalu besar nilainya sehingga tidak bisa menutupi penjualan hasil panen.
Untuk menutupinya maka diwajibkan untuk ternak pakan belut. Ternak pakan yang paling mudah adalah cacing ini menjadi salah satu pilihan budidaya belut yang disarankan, dengan system integrasi ini mempunyai keuntungan ganda Selain menutupi kost pengeluran pakan buat budidaya belut yang terlalu mahal dapat menjadi sumber penghasilan sampingan juga dengan menjual pakannya itu.
Belut merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh bulat memanjang yang hanya memiliki sirip punggung dan tubuhnya licin. Belut suka memakan anak-anak ikan yang masih kecil. Biasanya hidup di sawah-sawah, di rawa-rawa/lumpur dan di kali-kali kecil. Di Indonesia sejak tahun 1979, belut mulai dikenal dan digemari, hingga saat ini belut banyak dibudidayakan dan menjadi salah satu komoditas ekspor.

12.2. Sentra Peternakan
Sentra Peternakan belut Internasional terpusat di Taiwan, Jepang, Hongkong, Perancis dan Malaysia. Sedangkan sentra perikanan belut di Indonesia berada di daerah Yogyakarta dan di daerah Jawa Barat. Di daerah lainnya baru merupakan tempat penampungan belut-belut tangkapan dari alam atau sebagai pos penampungan.

12.3. J e n i s
Klasifikasi belut adalah sebagai berikut :

Jadi jenis belut ada 3 (tiga) macam yaitu belut rawa, belut sawah dan belut kali/laut. Namun demikian jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah.

12.4. Manfaat
Manfaat dari budidaya belut adalah:
1) Sebagai penyediaan sumber protein hewani.
2) Sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
3) Sebagai obat penambah darah

12.5. Persyaratan lokasi

  1. Secara klimatologis ikan belut tidak membutuhkan kondisi iklim dan geografis yang spesifik. Ketinggian tempat budidaya ikan belut dapat berada di dataran rendah sampai dataran tinggi. Begitu pula dengan kelembaban dan curah hujan tidak ada batasan yang spesifik.
  2. Kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kondisi tanah dasar kolam tidak beracun. Air yang kurang layak/tidak bagus untuk budidaya belut di air bersih air PDAM karena banyak mengandung zat-zat kimia (kaporit), air yang langsung diambil dari sumur bur karena sangat minim kandungan oksigennya dan air limbah
  3. Suhu udara/temperatur optimal untuk pertumbuhan belut yaitu berkisar  25-31 0C.
  4. Pada prinsipnya kondisi perairan adalah air yang harus bersih dan kaya akan oksigen terutama untuk bibit/benih yang masih kecil yaitu ukuran 1-2 cm. Sedangkan untuk perkembangan selanjutnya belut dewasa tidak memilih kualitas air dan dapat hidup di air yang keruh.
  5. Kolam budidaya harus ada sirkulasi air walau dengan debit yang sangat kecil (ada yang masuk dan ada yang keluar). Dengan adanya aliran air kedalam kolam budidaya maka akan menambah kandungan oksigen didalamnya sehingga sangat berpengaruh dalam untuk perkembangan serta pertumbuhan belut serta tidak terlalu repot untuk penggatian air. Jika kolam budidaya belut tidak ada sirkulasi air dan pembuangan, air akan cepat kotor/keruh kecoklatan, maka kita harus sering mengganti air paling tidak selama 2 atau 3 hari sekali.

12.6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Penyiapan Sarana dan Peralatan

  1. Perlu diketahui bahwa jenis kolam budidaya ikan belut harus dibedakan antara lain: kolam induk/kolam pemijahan, kolam pendederan (untuk benih belut berukuran 1-2 cm), kolam belut remaja (untuk belut ukuran 3-5 cm) dan kolam pemeliharaan belut konsumsi (terbagi menjadi 2 tahapan yang masing-masing dibutuhkan waktu 2 bulan) yaitu untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm sampai menjadi ukuran 15-20 cm dan untuk pemeliharan belut dengan ukuran 15-20 cm sampai menjadi ukuran 30-40 cm.
  2. Bangunan jenis-jenis kolam belut secara umum relatif sama hanya dibedakan oleh ukuran, kapasitas dan daya tampung belut itu sendiri.
  3. Kolam belut bisa berupa terpal, Seng, drum yang tidak digunakan atau kolam permanen dan lain-lain.
  4. Pembuatan kolam belut dengan bahan bak dinding tembok/disemen dan dasar bak tidak perlu diplester.
  5. Ukuran kolam induk kapasitasnya 6 ekor/m2. Untuk kolam pendederan (ukuran belut 1-2 cm) daya tampungnya 500 ekor/m2. Untuk kolam belut remaja (ukuran 2-5 cm) daya tampungnya 250 ekor/m2. Dan untuk kolam belut konsumsi tahap pertama (ukuran 5-8 cm) daya tampungnya 100 ekor/m2. Serta kolam belut konsumsi tahap kedua (ukuran 15-20cm) daya tampungnya 50 ekor/m2, hingga panjang belut pemanenan kelak berukuran 30-50 cm.
  6. Peralatan lainnya berupa media dasar kolam, sumber air yang selalu ada, alat penangkapan yang diperlukan, ember plastik dan peralatan-peralatan lainnya.
  7. Media dasar kolam terdiri dari bahan-bahan organik seperti pupuk kandang, sekam padi, gedebok pisak dan jerami padi. Caranya kolam yang masih kosong untuk lapisan pertama diberi gedobok pisang dan sekam padi setebal 10 cm, diatasnya ditimbun dengan pupuk kandang setebal 10 cm, lalu diatasnya lagi ditimbun dengan ikatan-ikatan merang atau jerami kering. Setelah tumpukan-tumpukan bahan organik selesai dibuat (tebal seluruhnya sekitar 30 cm), berulah air dialirkan kedalam kolam secara perlahan-lahan sampai setinggi 50 cm (bahan organik+ air). Dengan demikian media dasar kolam sudah selesai, tinggal media tersebut dibiarkan beberapa saat agar sampai menjadi lumpur sawah. Setelah itu belut-belut diluncurkan ke dalam kolam. Setelah satu bulan di taruh di kolam mediasi itu kemudian bulan keduanya Lumpur dikurangi tiap hari sampai habis, belut tidak kaget serta jadi terbiasa hidup diair jernih.

B. Penyiapan Bibit
1) Ciri-ciri bibit

  1. Pilih bibit belut yang berukuran “fiberling” yaitu seukuran batang rokok/pena, seragam waktu pengiriman jangan terlalu lama maksimal 1 jam mengurangi stressing.
  2. Pilih belut yang berwarna cokelat kekuningan (oranye) berdada kuning, atau kecoklatan bening dan bertutul hitam. Apabila dipegang/ diangkat tidak melengkung lemas.
  3. Ditempat penampungan kepala tidak mendongok ke atas dan tenang tetapi bergerak aktif posisi tetap dibawah dan dalam air. Kalau mau mengambil nafas mereka menjulurkan hidungnya keluar air langsung kembali ke dalam air dengan cepat. Warna disekitar insang cerah. Posisi perutnya masih dibawah jangan memilih belut yang sudah terlentang dipastikan tidak lama akan mati. Tidak luka atau cacat karena terkena penjepit/ pancing atau alat waktu menangkap.
  4. Pilihlah bibit belut yang dapat besar yakni berwarna kekuning-kuningan, coklat cerah bening, ada toto-totol hitam samar-samar, coklat agak kehijauan disekujur tubuhnya, kepala jendol dan dipunggug bagian ekor bergaris berwarna kuning cerah ada batikan/ motif terlihat jelas dibagian ekor. Bagian kepala ada corat coret berwarna kuning terlihat jelas, bibit yang punggungnya berwarna coklat kehitaman tetapi berdada kuning.

2) Menyiapkan Bibit

  1. Anak belut yang sudah siap dipelihara secara intensif adalah yang berukuran 5-8 cm. Di pelihara selama 4 bulan dalam 2 tahapan dengan masing-masing tahapannya selama 2 bulan.
  2. Bibit bisa diperoleh dari bak/kolam pembibitan atau bisa juga bibit diperoleh dari sarang-sarang bibit yang ada di alam.
  3. Pemilihan bibit bisa diperoleh dari kolam peternakan atau pemijahan. Biasanya belut yang dipijahkan adalah belut betina berukuran ± 30 cm dan belut jantan berukuran ± 40 cm.
  4. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan dengan kapasitas satu ekor pejantan dengan dua ekor betina untuk kolam seluas 1 m2. Waktu pemijahan kira-kira berlangsung 10 hari baru telur-telur ikan belut menetas. Dan setelah menetas umur 5-8 hari dengan ukuran anak belut berkisar 1,5–2,5 cm. Dalam ukuran ini belut segera diambil untuk ditempatkan di kolam pendederan calon benih/calon bibit. Anak belut dengan ukuran sedemikian tersebut diatas segera ditempatkan di kolam pendederan calon bibit selama ± 1 (satu) bulan sampai anak belut tersebut berukuran 5-8 cm. Dengan ukuran ini anak belut sudah bisa diperlihara dalam kolam belut untuk konsumsi selama dua bulan atau empat bulan.

3)Perlakuan dan Perawatan Bibit
Dari hasil pemijahan anak belut ditampung di kolam pendederan calon benih selama 1 bulan. Dalam hal ini benih diperlakukan dengan secermat mungkin agar tidak banyak yang hilang. Dengan perairan yang bersih dan lebih baik lagi apabila di air yang mengalir.

C.Pemeliharaan Pembesaran
1) Pemupukan
Jerami atau gedebok pisang yang sudah lapuk diperlukan untuk membentuk pelumpuran yang subur dan pupuk kandang juga diperlukan sebagai salah satu bahan organik utama.

2) Pemberian Pakan
Pemberian pakan pokok yang disarankan dalam jumlah minimal perhari adalah :

  • Bulan pertama cacing merah dengan yuyu,
  • Bulan kedua dipakani cacing merah, cacahan keong, cacahan anak katak, cacahan ikan, ulat besar(belatung) yang diberikan setiap 10 hari sekali.
  • Bulan ke tiga diberi pakan keong separo dan anak katak,
  • Pada bulan ke empat sampai panen keong utuh dan anak katak utuh. Penggantian air rutin pada saat pemberian pakan yuyu, selama pemberian pakan keong pergantian air dilakukan seminggu sekali kita tetap menjaga air tetap jernih jangan sampai keruh karena pembusukan pakan.

3) Pemberian Vaksinasi
4) Pemeliharaan Kolam dan Tambak
Yang perlu diperhatikan pada pemeliharaan belut adalah menjaga kolam agar tidak ada gangguan dari luar dan dalam kolam tidak beracun.

D. HAMA DAN PENYAKIT
1. Hama

  • Hama pada belut adalah binatang tingkat tinggi yang langsung mengganggu kehidupan belut.
  • Di alam bebas dan di kolam terbuka, hama yang sering menyerang belut antara lain: berang-berang, ular, katak, burung, serangga, musang air dan ikan gabus.
  • Di pekarangan, terutama yang ada di perkotaan, hama yang sering menyerang hanya katak dan kucing. Pemeliharaan belut secara intensif tidak banyak diserang hama.

2. Penyakit
Penyakit yang umum menyerang adalah penyakit yang disebabkan oleh organisme tingkat rendah seperti virus, bakteri, jamur, dan protozoa yang berukuran kecil.

E. PANEN
Pemanenan belut berupa 2 jenis yaitu :

  • Berupa benih/bibit yang dijual untuk diternak/dibudidayakan.
  • Berupa hasil akhir pemeliharaan belut yang siap dijual untuk konsumsi (besarnya/ panjangnya sesuai dengan permintaan pasar/konsumen).
  • Cara Penangkapan belut sama seperti menangkap ikan lainnya dengan peralatan antara lain : bubu/posong, jaring/jala bermata lembut, dengan pancing atau kail dan pengeringan air kolam sehingga belut tinggal diambil saja.

F.PASCAPANEN
Pada pemeliharaan belut secara komersial dan dalam jumlah yang besar, penanganan pasca panen perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini agar belut dapat diterima oleh konsumen dalam kualitas yang baik, sehingga mempunyai jaringan pemasaran yang luas.

G.ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
Perkiraan analisis budidaya belut selama 3 bulan di daerah Jawa Barat pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:
1) Biaya Produksi
a. Pembuatan kolam tanah 2 x 3 x 1, 4 HOK @ Rp.7.000,-Rp. 28.000,
b. Bibit 3.000 ekor x @ Rp. 750,-Rp. 225.000,
c. Makanan tambahan (daging kelinci 3 ekor) @ Rp.15.000,-Rp. 45.000,
d. Lain-lain Rp. 30.000,-
Jumlah Biaya Produksi Rp. 328.000,
2) Pendapatan: 3000 ekor = 300 kg x @ Rp. 2.500,-Rp. 750.000,
3) Keuntungan Rp. 422.000,
4) Parameter Kelayakan Usaha 2,28

H.Gambaran Peluang Agribisnis
Budidaya belut, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan belut semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen.
Dari bibit satu kintal bisa menghasilkan 1 ton belut panen. Modal 25juta dalam empat bulan dapat menghasilkan uang 60jutaan keuntungan bersih setelah dikurangi beban bisa mencapai 20juta, jumlah angka yang menggiurkan.

Bibit belut ukuran 10-20cm
Rp 35.000/kg isi 90-100 ekor; Rp 40.000/kg isi 100-125 ekor dan Rp 45.000/kg isi 125-200 ekor
Sumber http://infopekalongan.com/content/view/62/1/
Sumbangan artikel dari :Harmono Penggiat Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) Ngudi Ajining Tani Banjarmangu
Peternakan Belut Desa Kincang Kec Jiwan Kab Madiun 081803362605

12.7. URUTAN PERSIAPAN BUDIDAYA BELUT
A. PERSIAPAN PAKAN BELUT
Dalam budidaya belut pakan mempunyai urutan pertama dalam persiapan, karena untuk mendapatkan pakan belut tak semudah seperti layaknya budidaya ikan mas atau lele karena pakannya dapat dibeli di toko-toko. Untuk itu persiapan pakan belut menjadi kewajiban utama Sebelum persiapan yang lainnya.

1) Persiapan pakan belut
Sebelum mengawali ternak belut kita harus mempersiapkan pakan belutnya terlebih dahulu, karena kebutuhan pakan dalam budidaya belut cukup besar. Biasanya kebutuhan pakan belut berbanding lurus dengan hasil panen yang akan dihasilkan.
Perbandingannyaadalah 1 kg bibit belut ukuran100 ekor pakan yang dibutuhkan selama jenjang waktu 4 bulan adalah 6 kg , itu artinyasetiap bulan kebutuhan pakan belut adalah 1,5 kg atau setiap hari nya kebutuhan pakan sebanyak 0,05 kg  setiap hari untuk 1kg belut.

Pakan belut bisa didapatkan dengan mencari di tempat sekitar atau dengan cara ternak sendiri. Apabila mencari di tempat sekitar maka carilah yang termudah dan termurah biasanya disetiap daerah akan sangat berbeda.
Tetapi jalan terbaik adalah dengan memilih cara membudidayakan pula pakannya, sehingga diharapkan pasokan pakan akan selalu cukup dan aman. Disini penulis sengaja tidak akan membahas bagaimana cara-cara untuk mebudidayakan pakan seperti cacing, kodok, bekicot ataupun belatung dikarenakan keterbatasan ruang.
Pembaca bisa mencari referensi dan informasi yang lengkap dibuku-buku agrobisnis ataupun diinternet.

2. Macam-macam pakan belut
Dibawah ini adalah nama-nama pakan belut diantaranya adalah, cacing, kodok, yuyu, bekicot, ikan-ikan kecil, belalang, belatung dan lain-lain. Bangkai juga bisa menjadi pakan belut dengan syarat tidak dijadikan pakan utama setiap hari, karena selain menimbulkan bau yang kurang enak dapat menggangu juga perkembangan belut itu sendiri,  Bangkai akan dimakan oleh belut setelah lama tersimpan didalam Lumpur biasanya minimal setelah 1 minggu makanya jangan heran kalo pakan utamanya bangkai maka perkembangan belut akan lamban. Kalaupun bangkai yang menjadi pilihan variasi pakan buat belut gunakan bangkai ayam yang sudah di kubur sebelumnya selama 3 hari, kemudian masukan kedalam Lumpur media belut. usahakan dibersihkan dahulu bulu-bulunya.

Contoh salah satu cara Pemberian pakan
Apabila pakan yang akan diberikan adalah Cacing maka brikan lah pada kolam yang tepat pada gundukan media yang dibuat sebelumnya ini untuk memungkinkan cacing berkembang biak.
Kemudian apabila pemberian pakan dengan keong mas / bekicot bisa dilakukan proses sebagai berikut :

  1. Sebelumnya rebus dulu keong mas agar matang, ini berfungsi untuk memudahkan mengeluarkan daging dari cangkangnya.
  2. Kemudian cincang kecil-keci untuk memudahkan dimakan oleh benih belut yang masih kecil.
  3. Buat jamu penambah nafsu makan untuk belut, bisa menggunakan parutan temu lawak dan kunyit, bila perlu berikan 3 hari sekali atau seminggu sekali.
  4. Campurkan parutan temulawak dan kunyit pada pakan keong mas atau bekicot yang sudah di cincang kecil-kecil

B. PERSIAPAN KOLAM
Setelah persiapan pakan baru kemudian kita mempersiapakan kolam untuk budidaya belut. Sebelumnya tentukan dahulu lokasi untuk pembuatan kolam, pilihlah lokasi kolam yang teduh tidak terik terkena sinar matahari langsung. Dan usahakan mudah dalam sistem pengairan.

1. Macam-macam kolam belut
Secara struktur kolam belut dapat dibedakan menjadi dua macam:

a. Kolam permanen
Kolam permanen biasanya terbuat dari semen atau tembok, anda bisa memanfaatkan kolam bekas budidaya ikan yang tidak produktif. Kolam ini mempunyai keuntungan tahan lama dan kuat serta suhu air biasanya stabil menggunakan kolam ini. Sebelum anda investasi awal di kolam permanen ada baiknya menghitung dahulu untung ruginya serta harus benar-benar mempersiapkan keilmuan Sumber Daya Manusianya secara matang agar pilihan budidaya belut ini berhasil dengan baik. Apa lagi apabila berniat terjun besar-besaran secara total di bisnis ini.

b.Kolam semi permanen
Apabila anda berencana untuk mencoba – coba dulu untuk budidaya belut ini, kolam semi permanen bisa menjadi pilihan, biasanya kolam semi permanen ini dapat  menggunakan kolam plastik, kolam terpal, kolam jaring, kolam drum / kolam tong, kolam fiber dan lain-lain.
Kolam ini selain murah juga cukup efisien digunakan di halaman yang tidak terlalu luas walaupun mempunyai resiko sangat rentan dengan kebocoran tetapi dengan perlakuan hati-hati kolam ini bisa awet dan tahan lama.

2. Jenis-jenis kolam belut
Menurut jenisnya kolam budidaya belut terbagi atas 3 (tiga) bagian diantaranya adalah :

Kolam untuk pemijahan/pendederan
Ukuran kolam pemijahan bisa disesuaikan menurut pilihan.
Apabila anda memilih untuk memijahkan belut sepasang, bisa  dengan jumlah  belut indukan 3 (tiga) ekor, yaitu 1(satu) ekor pejantan dan 2(dua) ekor betina menggunakan kolam ukuran.(P)1 m x (T) 0,8 m x (L) 1 m.
Tetapi apabila pilihannya pemijahan secara masal bisa menggunakan kolam sesuai ukuran belut indukan yang akan ditebar, idealnya kolam pemijahan 1 : 1 sama dengan kolam untuk pembesaran, yaitu 1 (satu) m luas kolam bisa diisi dengan belut indukan 1 (satu) pasang. Dalam kolam pemijahan masal, 1 (satu) pasang belut indukan bisa ditambahkan belut betinanya menjadi 3-4 ekor. Ini dilakukan agar dapat mempercepat proses perkawinan dan supaya bisa memperbanyak telur yang akan dihasilkan nantinya.

Kolam untuk pembesaran
Kolam pembesaran terbagi menjadi 2 (dua) tahapan,

  • pada tahap pertama kolam pembesaran dimaksudkan untuk pemeliharaan belut ukuran 5-8 cm, lama pemeliharaan 3 bulan hingga menghasilkan belut ukuran 15 – 20 cm.
  • tahap berikutnya kolam pembesaran untuk belut ukuran 15 – 20 cm pemeliharaan selama 3 bulan untuk menghasilkan belut ukuran 30 – 40 cm.
  • Untuk 1 (satu) tahap sekaligus pemeliharaan bisa dilakukan langsung dari belut ukuran 5-8 cm sampai menghasilkan belut ukuran 30 – 40 cm selama jenjang waktu 6 (enam) bulan, yang masa panennya di lakukan 2 bulan sekali untuk mensortir ukuran belut yang kecil dan besar hal ini dilakukan untuk mengurangi kanibalisme..
  • Bagi pemula yang ingin mencoba dalam pembesaran belut dapat memulai pemeliharaan dari belut ukuran 15-20 cm sampai menghasilkan belut ukuran 40-60 cm dalam jenjang waktu 4 bulan (disarankan panen dilakukan 2 kali selama 2 bulan).

Kolam untuk penampungan dan karantina
Kolam penampungan berfungsi sebagai sarana untuk menyimpan belut hasil panen dan dapat digunakan pula sebagai tempat karantina belut sebelum ditebar kekolam. Karantina belut mempunyai manfaat yang penting selain untuk menghindari penularan bibit penyakit juga untuk mengurangi kematian di kolam pemeliharaan, sehingga diharapkan belut yang ditanam di kolam pembesaran adalah belut yang benar-benar sehat dan lincah setelah diadakan seleksi di kolam karantina.
Karantina cukup dilakukan maksimal selama sehari semalam dengan menggunakan air bersih yang mengalir dan sirkulasi, walaupun pada dasarnya belut dapat bertahan lama di air bersih.
Selama karantina belut tetap harus di berikan pakan, ini agar belut yang lincah tidak menjadi lemes dan yang lemas tidak menjadi mati.
Kapasitas daya tampung kolam yang ideal adalah 1:1 yaitu 1 (satu) m kolam belut  diisi dengan 1 (satu) kg belut, atau dengan rincian sebagai berikut:

  • Untuk belut ukuran 1 – 5cm mempunyai daya tampung 500 ekor/m
  • Untuk belut ukuran 5-10cm mempunyai daya tampung 250 ekor/m
  • Untuk ukuran belut 15-20cm mempunyai daya tampung 50 ekor/m
  • dari jumlah belut per ekor diatas diasumsikan mempunyai berat 1 kg sesuai ukuran panjangnya masing-masing.

C.PERSIAPAN MEDIA BELUT
Di habitat aslinya media hanya berfungsi sebagai tempat tidur saja, tetapi memiliki peranan yang sangat penting untuk kelangsungkan hidup belut selanjutnya. Jadi usahakan media harus benar-benar nyaman dan di buat sealami mungkin. Hindari penggunaan bahan-bahan kimia berbahaya untuk media belut, seperti penggunaan pestisida.

1. Bahan-bahan media belut untuk pembesaran
Bahan-bahan yang diperlukan antara lain :
a. Tanah sawah / Lumpur. Sebagai media utama yang harus disiapkan, berfungsi sebagai penahan suhu agar belut tidak terkena panas akibat terik sinar matahari langsung. Ketebalan media Lumpur sebaiknya tidak kurang dari 20 cm setelah dilakukan permentasi atau sekitar 50% dari tinggi kolam. Karena biasanya media awal yang kita masukan pasti akan mengalami susut hampir setengahnya dari ketinggian awal setelah dilakukan permentasi.
b. Jerami, harus dipermentasikan (pembusukan) dahulu diluar kolam sebelum dimasukan sebagai media tanam
c. Gedebong pisang / kompos, harus dipermentasikan (pembusukan) dahulu diluar kolam sebelum djadikan sebagai media tanam

Pembusukan atau permentasi dapat menggunakan bantuan EM4 atau SO Kontan LQ untuk mempercepat prosesnya.caranya adalah sebagai berikut :

  • masukan bahan media jerami dan gedebong pisang tadi kedalam kantong plastik,
  • kemudian berikan larutan bahan EM4 atau SO Kontan LQ secukupnya sesuai dosis dan petunjuk pemakainnya,
  • selanjutnya tutup rapat kantong plastik tersebut dan diamkan selama 7 (tujuh) hari, hingga bahan media tadi menjadi busuk dan terurai.

Setelah bahan jerami dan gedebong pisang busuk kemudian masukan kedalam kolam yang sudah diisi dengan Lumpur atau tanah sawah, kemudian alirkan air secara merata dan penuh sehingga semua media terendam semuanya. Diamkan selama 7 hari baru setelah 7 (tujuh) hari kemudian air dibuang seluruhnya kemudian setelah itu isi kembali air hingga merata dengan permukaan media.
Untuk kelebihan air usahakan tidak lebih dari 3 cm kalo bisa dipertahankan tidak lebih dari 3 cm. Selanjutnya media bisa ditanami eceng gondok secukupnya, usahakan jangan terlalu penuh apalagi menutupi permukaan media seluruhnya, hal ini untuk menjaga air tidak cepat kering.
Cara ini selain efektif berhasil ternyata sebagai solusi bagi yang tidak memiliki air untuk sirkulasi. Hingga nantinya sirkulasi air dapat dilakukan selama 3 hari sekali.

2. Tahapan dalam membuat media belut untuk pemijahan

  1. Siapkan media tanah atau Lumpur setebal 80% dari tinggi kolam.
  2. Masukan media kompos sebanyak 20% dari tinggi media yang telah dibuat sebelumnya kedalam kolam, campur dengan Lumpur dan aduk hingga merata.
  3. Masukan air secara perlahan dan buat media menjadi becek kemudian diamkan selama 7 (tujuh) hari.
  4. Setelah media cukup matang dan sudah terlihat jentik-jentik , jasad renik, plankton dan kutu air tumbuh tambahkan air kedalam kolam pertahankan ketinggian air usahakan tidak lebih dari 3 cm dari permukaan media.
  5. Selanjutnya media sudah siap di tebar belut untuk pemijahan.
  6. Penebaran belut dilakukan pada pagi hari atau sore hari ketika matahari tidak terlalu terik dan panas untuk menjaga belut agar tidak stress.

D. PEMILIHAN BELUT UNTUK BUDIDAYA
Salah satu factor keberhasilan budidaya belut juga adalah dalam pemilihan bibit belut yang berkualitas dan unggul. Umumnya bibit belut didapat dari hasil tangkapan alam dan hasil budidaya. Apabila akan menggunakan bibit belut dari hasil tangkapan usahakan dari hasil yang di budidaya jangan hasil setruman. Lebih baik lagi dari hasil budidaya karena selain ukurannya yang rata, hasil dari budidaya sudah bisa beradaptasi dengan media buatan sehingga tidak sulit lagi untuk dibudidayakan.

1. Cara-cara pemilihan bibit belut untuk kolam pembesaran

  • Usahakan bibit belut ukurannya rata, agar tidak terlalu tinggi resiko kanibalismenya. Sortir terlebih dahulu sesuai ukuran yang ada.
  • Perhatikan fisik belut, pilih yang mulus, sehat, lincah dan agresif.
  • Apabila sudah mengalami perjalanan yang jauh sebaiknya bibit belut dikarantina dahulu.
  • Masukan bibit belut secara perlahan dan hati-hati agar belut tidak luka dan stress.
  • Tidak disarankan membolak balik kan dan mengaduk-aduk media tanam setelah belut ditebar kekolam, ini akan mengakibatkan belut stress dan harus adaptasi kembali dengan media karena lubang yang sudah dibuat menjadi rusak.

2. Cara – cara pemilihan belut untuk kolam pemijahan

  • Usahakan belut indukan didapat dari hasil budidaya atau dari tangkapan yang bukan hasil setruman.
  • Fisik belut mulus, sehat, lincah dan agresif.
  • Pastikan belut indukan sepasang (ada jantan dan betina)

3. Cara mebedakan belut jantan dan betina

E. MEMILIH PEMIJAHAN DALAM BUDIDAYA BELUT
Banyak peternak belut yang merugi akibat kegagalan, biasanya mereka memulai budidaya belut dengan pembesaran, padahal secara analisa usaha pembesaran kurang menguntungkan dari segi bisnis. Kecuali pembesaran yang bisa berhasil dengan peningkatan angka minimal diatas 2 x lipat selama jenjang waktu 4 bulan. Ini terjadi karena kost pakan terlalu besar nilainya sehingga tidak bisa menutupi penjualan hasil panen. Untuk menutupinya maka diwajibkan untuk ternak pakan.
Belajar dari pengalaman dan kegagalan ini, penulis merekomendasikan untuk memulai bisnis budidaya belut ini dari tahap pemijahan dalam skala kecil dulu. Memulai usaha pemijahan belut memiliki tantangan tersendiri, karena dituntut untuk memahami sifat dan karakter belut.
Dalam pemijahan bibit belut cukup sekali didapat hanya untuk indukan saja, selanjutnya jika berhasil anda tinggal mengembangkannya.
Keuntungan lain, kebutuhan pakan tidak terlalu besar karena jumlah belut tidak sebanyak untuk pembesaran dan tidak memakan tempat yang luas seperti halnya untuk pembesaran.

F. PEMIJAHAN DAN PENDEDERAN
Proses pemijahan belut pada umumnya berlangsung pada malam hari ketika waktu kawin tiba biasanya belut jantan membuat lubang perkawinan berbentuk hurup U. Didalam lubang tersebut belut jantan akan mengeluarkan gelembung-gelembung udara berbentuk busa untuk menarik perhatian belut betina. Setelah masa perkawinan belut betina mengeluarkan telur-telurnya disekitar lubang yang mangapung dipinggiran kolam diatas permukaan air.
Telur yang sudah dibuahi lalu dimasukan ke mulut belut jantan untuk diamankan kedalam lubang dan dierami. Setelah mengeluarkan telur biasanya belut betina diusir dari lubang sebaiknya belut betina diambil. Setelah 2-3 minggu telur akan menetas dan akan dijaga terus oleh pejantan didalam mulutnya hingga anak belut usia sampai 10 hari. Setelah usia 10 hari anak belut sudah harus dipisahkan ke kolam pendederan. Anak belut ini sudah bisa mencari pakannya sendiri dengan memakan jasad renik, plankton dan kutu air yang berada di kolam, usahakan pada kolam pendederan ini kandungan probiotiknya harus cukup tinggi agar pakan belut buat anakannya dapat tercukupi.
Selama 2 (dua) bulan anak belut itu harus sudah diberi pakan yaitu cacing, ikan-ikan kecil dan anak-anak kodok agar perkembangannya bisa maksimal.

1. Tekhnik Pemisahan Anak belut dengan indukan
Pada prinsipnya teknik pemijahan itu terletak pada teknik memisahkan anak dan indukannya, karena pada proses perkawinan belut kita tidak mengatahuinya secara pasti, biarkan secara alami saja.
Pemisahan anak belut dilakukan setelah 10 hari masa perkawinannya atau ketika terlihat ada anakan didalam lubang belut indukannya, biasanya akan terlihat apabila media tanam tidak menggunakan eceng gondok. Untuk itu pada media pemijahan eceng gondok, jerami dan gedebong pisang tidak wajib digunakan.
Media yang mudah bisa menggunakan tanah Lumpur sawah 100%  atau tanah Lumpur 80% dan kompos 20%
Ada berbagai tekhnik dan cara memisahkan anakan belut didalam kolam pemijahan :

  1. Dengan cara dipancing pada malam hari ketika belut sedang mencari pakan, yaitu dengan menggunakan pipa atau bambu yang dimasukan kedalam media tanam belut, berdekatan dengan lubang belut pejantannya sebelum pipa dimasukan sebaiknya terlebih dahulu sudah diberikan pakan berupa cacing sebagai pancingan. ujung sebelah pipa harus ditutup menggunakan kain atau plastik. teknik ini dapat digunakan pada kolam pemijahan  yang ditanam hanya dengan sepasang x 1mdengan kolam ukuran 1m indukan saja. Keuntungan menggunakan cara ini anakan belut dapat terangkat semuanya, tetapi harus sabar menunggu dan terus mencobanya, karena cara ini tidak akan langsung dapat berhasil terlebih lagi apabila tidak mengatahui sama sekali lubang-lubang belut indukannya, usahakan memsang pipa dengan beberapa buah untuk mempercepat keberhasilannya.
  2. Dengan memasang jaring ketika awal pembuatan media pemijahan, sebelum media tanam dimasukan jaring terlebih dahulu dipasang. Tekhnik memisahkan indukan dan anakannya dengan cara mengangkat jaring tersebut ketika setelah 10 hari masa perkawinan selesai dilakukan atau ketika belut anakan sudah terlihat di lubang-lubang belut indukan, pengangkatan jaring ini dilakukan malam hari ketika belut indukan sedang mencari pakan. Keuntungan cara ini lebih praktis karena mengangkat belut indukannya saja sedangkan belut anakannya tetap tersimpan pada media pemijahan, tetapi apabila belut anakan masih diamankan pada mulut belut pejantannya, maka anakannya akan terbawa.Teknik ini bisa digunakan pada kolam belut ukuran 1 (satu) pasang.
  3. Mendesain kolam dengan membuat saringan kecil diatas pipa kelebihan air, pipa ini harus ditutup ketika akan digunakan untuk memisahkan anakannya, caranya ketika belut anakan akan dipisahlan kolam di isi air secara penuh hingga air luber dan mengalir pada saringan yang dibuat itu, aliran air yang tumpah pada kolam pemijahan ini di tampung pada kolam atau wadah yang lain agar anakan belut yang keluar tidak kabur. Cara ini ideal dilakukan pada kolam pemijahan secara masal. Dengan cara di dipanen secara berkala, setiap 2 (Dua) bulan sekali. teknik ini digunakan pada kolam pemijahan masal yang indukannya lebih dari 1 (satu) pasang.

Cara – cara diatas dapat terus di kembangkan dengan penemuan-penemuan yang inovatif lagi agar dapat lebih mudah dan lebih efektif.
Demikian uraian mengenai tekhnik budidaya belut pembesaran dan pemijahan, ini disampaikan. semoga para pembaca yang ingin memulai ternak belut dapat memahami secara dalam dan dapat memulainya dengan budidaya pemijahan dalam bisnis ini.

Sekian Terimakasih dan Selamat mencoba.





Diktat Aneka Ternak-Tokek

5 08 2012

BAB XI.  TOKEK


11.1. Pendahuluan
Binatang Tokek sekarang sudah mejadi fenomena. Nilai jualnya yang sangat tinggi membuat banyak orang yang beralih profesi menjadi peternak tokek.Tokek adalah hewan sejenis cicak yang besar dan mempunyai permukaan kulit yang tidak rata, tidak menyerupai reptil lainnya yang satu spesies.
Karena bentuknya yang aneh dan cenderung menakutkan, maka banyak orang berusaha mengasingkan dan membunuhnya, walaupun di beberapa daerah ada yang menangkap dan dikonsumsi sebagai makanan ataupun obat penambah gairah sex.
Dahulu harga tokek seekor di banderol sekitar ± 1000 / ekor, namun di karenakan adanya isu tentang manfaat tokek untuk pengobatan AIDS harga tokek membengkak sampai angka jutaan / ons. Dilihat dari sisi kedokteran memang belum ada yang mengadakan penelitian khusus tentang khasiat tokek, namun bila di yakini bisa mengobati atau setidaknya mencegah penyakit AIDS tentu akan menjadi kemajuan besar dalam pengobatan tradisional.
Kepercayaan merupakan hal yang sangat penting dalam pengobatan, namun medis memang diperlukan untuk menguji khasiat dan kandungan yang ada dalam tokek itu sendiri. Semua berbalik kepada pribadi tiap orang mau mempercayai ataupun tidak yang jelas semuanya ada di tangan Tuhan YME.
Beternak tokek merupakan hal yang gampang-gampang susah dilakukan. Beternak tokek umumnya dilakukan bukan untuk budidaya, namun hanya pembesaran. Kurangnya informasi yang tersedia mengenai cara beternak tokek membuat masyarakat masih kurang berminat untuk beternak tokek. masyarakat lebih memilih menangkapnya dari alam liar.

11.2. Khasiat dan Manfaat Tokek
Kabar bahwa tokek dengan berat tertentu dihargai ratusan juta bahkan milyaran rupiah sudah bukan menjadi rahasia lagi. Tetapi juga banyak orang meragukan kelangsungan bisnis ini, meskipun begitu perburuan tokek masih terus berlangsung demi keuntungan besar. Lalu, mengapa tokek bisa dihargai yang mahal? serta apa khasiat / manfaat tokek?
Tokek selain digunakan untuk pengobatan, dapat juga digunakan sebagai hewan peliharaan atau binatang hias yang cukup jinak terutama untuk jenis Leopard.
Menurut beberapa informasi yang saya dapat dari berbagai sumber, tokek memang bermanfaat bagi kesehatan manusia diantaranya untuk mengobati penyakit kulit diantaranya jerawat dan gatal-gatal. Kenapa tokek begitu mahal harganya? Menurut informasi terbaru yang beredar, pada organ tertentu tokek mengandung enzim tertentu yang bisa mengobati AIDS (Aquired Immuno Deficiency Syndrome) dan anti tumor. Meskipun belum ada sumber ilmiah yang membuktikannya, banyak pendapat umum yang meyakini kebenarannya. Tetapi enzim tersebut hanya ada pada tokek dengan berat minimal 3,1 ons. Jadi jangan heran perbedaan harga yang sangat jauh antara tokek dengan berat lebih dari 3 ons dan kurang dari 3 ons.
Informasi yang saya anggap cukup menjawab khasiat tokek adalah penelitian yang dilakukan oleh ahli pengobatan dan dokter di negara China, salah satunya adalah Prof. Wang, seorang pakar keilmuan dari Universitas Henan, Cina. Penelitian tersebut menemukan bahwa zat aktif pada tokek mampu menginduksi sel-sel tumor apoptosis, yang membuat sel-sel tumor menghancurkan dirinya sendiri dan menekan senyawa yang mendukung perkembangan kanker dalam tubuh yaitu protein bFGF dan VEGF.
Tokek juga diyakini berguna untuk menjaga kekebalan tubuh dan menghilangkan tumor ganas secara alami. Apakah tokek benar-benar mampu mengobati penyakit AIDS? sampai saat ini, belum menemukan sumber informasi yang cukup dan bukti kuat secara ilmiah. Tokek juga diyakini mampu mengobati impotensi dan lemah syahwat. Kemampuan regenerasi bagian pangkal ekor tokek dipercaya mampu mengembalikan vitalitas pria.
Kalau di Indonesia, tokek memang banyak diakui bisa untuk mengobati penyakit kulit dan asma. Di daerah Jawa Timur, bisa dijumpai aneka olahan makanan tokek maupun tokek kering yang dijual. Bahkan ada juga rumah makan yang menyajikan dendeng dari tokek. Di Surabaya Jawa Timur, banyak penjual tokek hidup di pasar-pasar hewan meskipun berat hanya 1-1,5 ons untuk kemudian di besarkan atau di budidayakan untuk mencapai berat lebih dari 3 ons untuk meraih keuntungan hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Menurut Vani, binatang itu bisa menjadi media pengobatan tradisional. Menyembuhkan asma misalnya. Dan beredar pula di masyarakat, hati dari tokek mampu menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV. Anti Retro Viral (ARV) adalah salah satu obat untuk memperlambat penyebaran virus ini.Sayangnya, hingga saat ini belum ada memastikan kebenarannya.

11.3. Sifat Tokek
Beberapa karakteristik dan sifat Tokek antara lain :

  1. Tokek termasuk binatang yang tahan lapar serta tahan cuaca. Jadi kalau tokek tidak diberi makan selama 1 atau 2 minggu, itu tidak masalah. Demikian juga dicuaca panas atau dingin itu juga tidak masalah. Hal inilah yang menyebabkan Binatang Tokek menyebar disegala wilayah serta disegala kondisi sebagai habitatnya.
  2. Tokek bersifat agak kanibal. Dengan demikian apabila berada dalam satu kandang, dan merasa lapar, maka sifat kanibalnya akan muncul. Tokek mempunyai pedoman siapa yang kuat dia yang menang (hukum rimba). Oleh karena itu dalam pemeliharaan sebaiknya dilakukan secara individu.
  3. Tokek adalah binatang yang mudah stres. Oleh karena itu dalam pemeliharaan sebaiknya tidak sering dipindah-pindah (All in All out). Tokek yang stress akan menurunkan konsumsi pakan sehingga secara langsung tingkat stres menyebabkan meningkatnya angka kematian.
  4. Tempat pemeliharaan didalam kandang sebaiknya berada pada lokasi yang mirip habitatnya di alam. Jadi sebaiknya diluar rumah serta didekat/dibawah pohon.
  5. Daya adaptasi tokek yang ditangkap dari alam dan dipelihara dalam kandang membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu kurang lebih selama 2 minggu. Akibat dari daya adaptasi yang jelek menyebabkan tidak mau makan. Namun ternyata pada pemeliharaan yang menggunakan kandang dari papan atau kayu akan mampu mempercepat daya adaptasi.

11.4. Trik Menyelamatkan Diri Tokek
Tokek merupakan satwa yang terampil dalam berakrobat. Kemampuannya yang paling ternama, mungkin, mampu berjalan di permukaan dinding atau dedaunan, bahkan yang tegak lurus atau terbalik terhadap permukaan tanah sekalipun. Selama ini, para ilmuwan menyimpulkan bahwa rahasia dari kemampuan ini adalah rambut-rambut super-kecil yang terdapat di permukaan kaki tokek.
Ketika sebuah kaki tokek dipijakkan ke sebuah permukaan, rambut-rambut yang berukuran sepersejuta meter itu dapat diaktifkan untuk menambah gesekan antara kaki dan permukaan. Tapi ternyata, tokek masih menyimpan trik lain yang bisa dipelajari, yaitu gerakan ekornya, atau kaki Kelima.
Dari analisa ilmuwan Amerika, kecepatan gerakan tokek melahirkan beberapa kejutan. Antara lain, untuk mencegahnya dari jatuh, tokek menekankan ekornya ke permukaan dinding. Dengan begitu keempat kakinya memiliki cukup waktu untuk bergeser dan merapat kembali ke dinding, menggunakan ekornya sebagai kaki kelima, setidaknya sebagai penunjang keempat kaki aslinya.
Lalu, ekor tokek berfungsi untuk memutar tubuh ketika berada di udara, sebelum menyentuh tanah. Dan untuk menghindari pendaratan di tempat yang keras, tokek menggunakan ekornya untuk memilih landasan. Dengan ekornya pula tokek mampu meluncur sambil berbelok ke tempat yang diinginkannya.
Dengan demikian binatang tokek merupakan binatang yang pandai dan alamiah (menyatu dengan alam). Coba dengarkan bila orang marah pada seseorang karena bodoh sekali, pasti akan berkata dasar kamu kayak kebo (maksudnya bahwa binatang kerbau ini sangat bodoh). Lain halnya bila ada orang yang kesal karena diakalain orang orang lain maka dia pasti berkata wah aku dikadalin oleh si A. Kadal dan tokek merupakan binatang pandai. Ini membuktikan bahwa tidak mudah untuk memelihara reptil ini sehingga bisa menjadi gemuk.

11.5. Kandang
Bahan kandang sebaiknya dari kayu  dengan  ukuran kandang bebas disesuaikan dengan tahap pemeliharaannya. Ruangan dalam kandang harus gelap, dalam arti semua tertutup rapat kecuali pintu mengunakan kawat streamin.
Kandang tokek dapat menggunakan aquarium yang agak luas dengan ukuran 20-30 gallon. Pada bagian atas kandang dapat ditutup menggunakan jala dengan ukuran mesh yang kecil. Tokek tidak bisa meloncat dan tidak mempunyai toe pads untuk memanjat kaca kandang. Selain dari akuarium, maka kandang tokek bisa dari lemari kayu/tripleks atau papan lunak.
Tokek betina dapat dikandangkan secara bersama (asalkan ukuran relatif sama), tetapi untuk jantan dewasa sebaiknya dikandangkan terpisah (individu) karena dapat saling berkompetisi dan saling membunuh (kanibal) khususnya dalam kondisi lapar. Untuk tokek yang dikandangkan bersama maka ukuran tokek harus selalu diperhatikan karena kemungkinan satu tokek mempunyai ukuran yang lebih besar/pertumbuhan badan lebih cepat daripada tokek yang lain. Tokek betina yang masih memiliki ukuran kecil tidak dianjurkan untuk dikawinkan, karena akan berdampak buruk pada kesehatan tokek tersebut. Pada umumnya seekor tokek jantan yang dikandangkan bersama dengan beberapa (2-3 ekor) tokek betina setelah memiliki berat kurang lebih 45 gram.

11.6. Media/Substrat
Media yang baik untuk digunakan dalam kandang tokek adalah menggunakan pasir, terutama untuk tokek dengan ukuran panjang 5-6 inch dan tokek yang sudah dewasa. Pasir yang digunakan harus pasir yang sudah bersih dan dengan ukuran yang cukup halus (0,5mm). Tetapi untuk tokek yang masih kecil (belum mempunyai panjang 5-6 inch) sebaiknya jangan menggunakan media pasir karena pasir bisa tertelan dan membahayakan kesehatan tokek. Jadi untuk tokek yang masih ukuran kecil dapat menggunakan alas handuk/kertas koran walaupun mempunyai kekurangan yaitu kandang harus lebih sering dibersihkan.

11.7. Suhu Kandang
Suhu kandang harus selalu dipantau dengan menggunakan termometer, batas maksimum suhu kandang adalah 90 derajat farenheit. Hindari pemasangan lampu pijar atau lampu uv dalam kandang. Kandang sebaiknya dalam kondisi gelap, mata tokek yang terkenal sinar dapat menyebabkan tokek menjadi stress sehingga menyebabkan tokek tidak mau makan dan mati. Untuk pencahayaan dapat menggunakan lampur merah karena tokek mempunyai sifat tidak bisa melihat warna merah. Sebaiknya hindari meletakkan batu dalam kandang karena dapat menyebabkan panas yang berlebih dalam kandang.

11.8. Tempat Berlindung
Kandang sebaiknya dilengkapi dengan pelindung karena tokek merupakan hewan noktural (hewan yang lebih senang dalam kondisi gelap). Tokek mempunyai sifat hidup bersembunyi di bawah batu atau reruntuhan jadi sebaiknya kandang dilengkapi dengan pelindung dengan lubang yang cukup besar. Kandang tokek dapat dilengkapi dengan beberapa pelindung(shelter) yang bisa terbuat dari kardus, kotak kecil atau kertas.

11.9. Pergantian Kulit
Seperti binatang reptil lainnya tokek juga mengalami siklus pergantian kulit. Frekuensi pergantian kulit tergantung pada umur dan pertumbuhan tokek. Untuk ukuran kecil lebih sering ganti kulit dibandingkan yang ukuran besar. Pergantian kulit ditandai dengan warna kulit yang semakin pudar dan keputih-putihan. Hal yang perlu diperhatikan ketika terjadi pergantian kulit yaitu kelembapan kandang dan kulit harus lepas dari badan tokek sampai sempurna. Kelembapan kandang harus lebih tinggi saat terjadi pergantian kulit. Pada saat pergantian kulit dapat menggunakan media kotak stereoform.

11.10. Minuman
Walaupun tokek berasal dari lingkungan yang kering, kandang harus dilengkapi dengan fasilitas minum yang tersedia 2-3x perminggu.

11.11. Makanan
Salah satu cara menanggapi tokek mahal atau tokek raksasa 64 kg adalah dengan cara budidaya penggemukkan tokek dari bibit 1,5 ons dipastikan dalam waktu 6 bulan sudah bisa mencaoai 4,2 ons. Kenapa harus 4,2 ons karena pada berat itulah tokek sangat diburu dan dihargai mahal.
Dalam rangka budidaya tokek, maka makanan yang disarankan untuk tokek adalah serangga (makanan favorit tokek) jangkrik, ulat, cacing dan anak tikus yang masih berumur beberapa hari. Untuk mengetahui Variasi sumber makanan tokek maka kita harus perlu mengkaji dan meneliti aspek tingkah laku tokek di alam.

11.12. Penyakit Tokek dan Cara mengatasi
Bagi anda yang beternak atau menangkarkan tokek, berikut ini beberapa penyakit yang sering ditemui diantaranya infeksi mulut, infeksi pernapasan dan kanibal (memakan sesama). Memelihara tokek menuntut perhatian ekstra, karena bila terjadi penyakit dan stress akan mengakibatkan bobot tokek menurun drastis karena tidak mau makan, dan ini sangatlah merugikan karena harga tokek bisa melambung jika bobot tokek semakin bertambah.

1. Infeksi Mulut
Penyakit ini umum ditemui para peternak tokek, tandanya bisa dilihat dengan adanya bengkak pada sekitar mulut. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh kebersihan kandang yang kurang terjaga atau juga akibat berkelahi dengan tokek lain apabila menggunakan kandang yang berisi beberapa ekor tokek. Kalau saya lebih suka menggunakan kandang tunggal ( satu kandang isi satu tokek ).
Cara mengatasinya saya memberikan antibiotik Teramicyn yang dicampurkan dengan pakan tokek sesuai dosis dalam kemasan. Untuk menjaga kebersihan dan kandang tetap aman dari penyakit sebaiknya dilakukan penyemprotan desinfektan 1-2 minggu sekali.

2. Infeksi Pernapasan
Penyakit ini sebenarnya sering ditemukan pada hewan peliharaan lain, penyakit ini disebabkan virus berbagai jenis, diantaranya herpes dan virus calici. Virus ini berkembang biasanya di kandang yang terlalu dingin dan lembab. Sebaiknya kandang berada di tempat yang ternaungi dari hujan dan jauh dari tempat yang banyak mengandung air. Pada malam hari sebaiknya kandang ditutup dengan kain atau plastik untuk mencegah hawa dingin menyerang tokek. Penyakit infeksi pernapasan tandanya lendir dan gelembung disekitar lubang hidung dan terlihat tokek tidak bisa bernapas dengan baik.

3. Kanibal (Memakan Sesama)
Kanibal pada tokek juga sering terjadi pada kandang yang berisi banyak tokek. Tokek akan berusaha menyerang dan memakan temannya sendiri,hal ini biasanya populasi / jumlah tokek yang tidak seimbang dengan besar kandang. Sifat ini disebabkan karena ruang gerak yang sempit, tempat persembunyian yang direbutkan, pakan yang diberikan tidak merata sehingga memancing tokek untuk menyerang sesamanya. Cara mengatasinya adalah memisahkan tokek yang kanibal didalam kandang tunggal dan diberi makanan secara teratur dan memadai. Kandang sebaiknya ditutup dengan kain agar tokek merasa tenang dan tidak melihat tokek lain. Jika sudah tenang (tampak jinak dan tidak takut didekati orang) tokek bisa dipindah dikandang sebelumnya.

Cara untuk mencegah tokek bersifat kanibal :

  1. Sebaiknya ukuran tokek dalam kandang tidak berbeda jauh, apabila jauh lebih kecil membuat tokek yang lebih besar menyerang dan memangsanya.
  2. Berikan makanan secara teratur dan merata ( semua kenyang ) dan hindari dari suara bising dan kegaduhan
  3. Perbandingan tokek jantan dan betina sebaiknya 1:4 atau 1:5 (1 jantan 4-5 betina).

Sumber: www.tokektokek.blogspot.com.





Diktat Aneka Ternak-Merpati

5 08 2012

BAB X.  MERPATI (Columba livia )

10.1. Pendahuluan
Burung Merpati atau burung dara (jawa=doro) sejak dulu telah dimanfaatkan untuk menghasilkan daging, sport, lomba, pertunjukan dan bahkan untuk keperluan komunikasi (merpati pos). Untuk keperluan produksi daging wujud yang paling disukai adalah daging merpati yang masih muda (squab) atau yang lebih dikenal dengan sebutan piyek. Daging merpati berwarna gelap, empuk, lembab dan menempati kelas yang sama dengan daging kepiting, daging sapi muda (veal), atau kambing muda.
Squab (piyek) adalah sebutan untuk anak merpati yang masih berumur antara 25-30 hari, kelezatan dan keempukan dagingnya akan menurun setelah umurnya lebih dari 30 hari.
Burung merpati adalah termasuk jenis burung yang akrab dengan manusia. Merpati tak hanya dipelihara sebagai satwa kesayangan, yaitu sebagai ternak hias dan balap. Ternak yang dijadikan lambang kesetiaan (sifat monogamous = satu pasangan) dan perdamaian ini juga termasuk salah satu penghasil daging yang cukup baik. Bagaimana tidak, dengan siklus yang relatif pendek yaitu 35 hari sepasang merpati sudah mampu menghasilkan keturunan. Ini berarti dalam kurun waktu satu tahun sepasang merpati mampu menghasil kan keturunan 10 kali dengan jumlah litter size 2 ekor. Diantara kelebihan merpati dibandingkan dengan binatang lain adalah kemampuan mengenali medan, tidak banyak menuntut persyaratan khusus untuk kelangsungan hidupnya, makanan dan perawatannya cukup mudah, gampang dikembangbiakkan, termasuk ternak yang mudah untuk dijinakkan, dan juga keragaman jenisnya.
Bagi yang sudah familiar dengan penghoby kuliner, tentu akan ingat lesehan-lesehan atau warung makan di pinggir jalan yang menyajikan menu sari laut atau lainnya. Salah satu menu yang ditawarkan adalah merpati goreng. Kalau yang dipotong piyek (squab) tentu tak jadi masalah, akan tetapi kalau yang dipotong merpati tua dan afkir tentu menjadi masalah.
Permintaan yang terus mengalir adalah sebuah peluang yang belum banyak di baca orang. Sungguh sangat sayang kalau peluang ini terlewatkan begitu saja hanya karena pasokan yang belum mencukupi. Merpati potong tetap menjanjikan peluang dan keuntungan walaupun penjualannya masih di tempat-tempat tertentu karena harganya yang masih tinggi. Tapi perlu diingat, peluang baru dengan sedikit ‘pemain’ yang menekuni, kemungkinan peluang berhasil sangat tinggi.

10.2.Jenis Merpati
Pada umumnya jenis burung merpati yang berada dan dipelihara oleh masyarakat sangat beragam. Namun sebenarnya Burung Merpati dapat dibedakan atas beberapa jenis berdasarkan :Tujuan pemeliharaan, Ukuran Badan, Bentuk Badan dan Warna Bulu.
a.Jenis Burung Merpati Berdasarkan Tujuan
Adapun Burung Merpati berdasarkan tujuan pemeliharaan diantaranya adalah :

(1) Merpati pacuan (Carrier Pigeon)
Banyak diminati orang karena daya terbangnya kuat. Ciri-cirinya antara lain : sosok tubuh yang gagah tetapi terlihat ramping, bulu tipis dan kaku, kulit pada tonjolan hidungnya tebal dan besar. Merpati pacuan memiliki kemampuan terbang sejauh 200 km, tetapi kemampuan merpati jelajah modern bias mencapai 1.500 km. Merpati yang termasuk jenis ini antara lain : Belgian homer, tumbler, flying tipper, flight, merpati pos dan yang popular di Indonesia adalah merpati local yang dilatih untuk dijadikan merpati pacuan.

(2) Merpati Hias
Lahir karena nilai rekreatif dan kesenangan. Merpati hanya dipandang dari sudut keindahan warna bulu dan bentuk tubuh. Merpati yang termasuk jenis ini antara lain : Jacobin (lebih terkenal dengan sebutan merpati jambul), Satinette (paruh pendek), English Pouter (jangkung), Frillback, dan Florentine. Merpati hias yang popular di Indonesia adalah merpati kipas (Fantail).

MERPATI KIPAS / PERSI
Salah satu merpati hias yang mempunyai bentuk ekor yang unik yaitu ekornya seperti kipas adalah merpati kipas / persi. Bagi penggemar burung hias belum komplit rasanya kalau anda belum memiliki koleksi merpati kipas.
Akhir-akhir ini merpati kipas memiliki harga jual yang tinggi, sehingga membuka peluang bisnis bagi mereka yang mempunyai hoby menangkar burung hias.

(3) Merpati Konsumsi
Dikenal juga dengan sebutan merpati potong atau pedaging. Sebenarnya semua jenis merpati bias dijadikan merpati potong. Merpati yang termasuk jenis ini adalah Carneau dan Mondaine. Jenis merpati potong yang popular di Indonesia adalah Hummer King. Anakan Hummer King umur satu bulan bisa mencapai bobot 6-7 ons dan siap jual.

a.Jenis Burung Merpati Berdasarkan Ukuran Badan
Jenis Burung Merpati Berdasarkan ukuran badan
(1) Carrier: sering disebut English Carrier, berasal dari Bazora Persia. Awalnya adalah burung pembawa berita, tetapi kemudian kalah tenanr dibandingkan Racing Homer. English Carrier punya ciri bulu keras dan rapat ke badan, pial paruh berwarna putih, bisa membesar sebesar biji kemiri, dan baru berhenti setelah usia 3 tahun. Kelopak mata dikelilingi pial dalam bentuk lingkaran yang besar. Tinggi 45-48 cm, berat 500-650 gram. Warna hitam, merah, kuning, putih, dan ada yang berpita biru.
(2) Carneau: Burung konsumsi dari Belgia Selatan atau Perancis Utara, berat 750 gram dan bisa mencapi 1 kg.
(3)Strasser: Dikembankan di Austria sebagai burung konsumsi tetapi kalah popular disbanding Carneau. Strasser hamper menyerupai merpati Gazzi Modena. Kepala, leher, sayap dan ekor dapat memiliki berbagai warna dengan badan berwarna putih.
(4)Mondaine: Keturunan merpati Perancis dan Italia sebagai burung konsumsi. Berpenampilan menarik tetapi untuk burung konsumsi kalah populer disbanding burung lain.

b. Jenis Burung Merpati Berdasarkan Bentuk Badan
Jenis Burung Merpati Berdasarkan  bentuk badan:
(1) Kipas (Fantail): Berasal dari India dan Cina. Tanda mencolok ekornya menyerupai kipas. Tetapi karena ekor panjang, kita harus sering memotongnya agar bisa kawin. Kelemahan burung ini, harus dicarikan indukan lain untuk mengasuh anak.
(2) Jacobin: Diberi nama seperti itu karena bulu-bulu yang mengitari kepalanya menggambarkan topi yang dipakai pendeta-pendeta Jacobin. Burung diternakkan dengan warna putih, jitam, biru, perak, merah dan kuning.
(3) Frillback: Burung yang istimewa tetapi kurang popular. Merpati ini berbulu ikal di bandan dan sayap, sehingga ditemukan adanya bulatan-bulatan kecil bagaikan bulu. Ada yang jambul ada yang tidak. Burung yang baik harus punya ikal yang kokoh. Warna ada yang hitam, putih, kebiruan, kemerahan, kekuningan. Yang kemerahan dan kekuningan dianggap sebagai bentuk yang baik.
(4) Cropper: Bersanak dekat dengan pouter. Keduanya menjadi keluarga besar, dengan cirri-ciri hampir sama. Salah satu cropper yang terkenal adalah English Cropper. Tembolok besar, berdirinya tegak, badan dan pnggang langsing dengan kaki panjang. Termasuk merpati yang tinggi karena bisa setinggi 50 cm dari kepala sampai kaki. Pada tembolok merpati ini ada gambar bulan sabit dengan kedua ujung bertemu di dekat kedua matanya. Ujung sayap, bagaina bawah badan, kaki dan bulu-bulu putih di sayap menggambarkan bintik-bintik seperti bulu.
(5) Jenis lain dari Cropper adalah Pouter yang mudah dijinakkan dan menyenangkan. Jenis lainnya adalah Holle Cropper yang berbentuk seperti merpati kipas, tetapi tidak berekor kipas. Jenis lain Cropper adalah Valencia Cropper yang bertembolok menggantung, mengembang seakan dibusungkan.

c.Jenis Burung Merpati Berdasarkan Warna Bulu
Adapun Burung Merpati berdasarkan warna bulu
(1) Modena: Diambil dari nama kota tempat dia berasal. Terkenal sebagai merpati ternak yang baik. Yang terkenal dari jenis ini adalah Gazzi Modena dengan badan putih serta kepala, sayap dan ekor berwarna-warni. Termasuk merpati kecil dengan ukuran panjang 25 cm, tetapi padat gemuk (buntek) dan bergaya anggun.
(2) Florentine: Berasal dari Florence, Italia. Berbentuk seperti ayam betina. Terkenal di Eropa sebagai burung pameran, tetapi bisa masuk sebagai burung konsumsi karena bisa mencapai berat 500-800 gram). Kepala, sayap dan ekor berwarna-warni dengan badan putih.
(3) Lahore: Di Pakistan dan sekitarnya dikenal dengan nama Shiraz (kota tempat burung berasal). Leher, perut, dada dan ekor berwarna putih. Kepala, pinggang dan sayap bisa berwarna lain. Kaki bisa berbulu semua tetapi ada yang polos. Bisa dimasukkan sebagai merpati konsumsi karena badannya besar. Diternakkan dengan bulu beraneka warna.
(4) Oriental Frill: Sangat menawan hati, berasal dari Turki, dengan jenis banyak sekali tetapi yang paling populer adalah Satinette yang mempunyai badan berwarna putih dengan garis-garis pada bahu, sayap, dan ekor warna hitam, biru dan abu-abu cokelat. Bagian sayap untuk terbang berwarna putih. merpati ini punya bulu balik di daerah dada. Karena pandai membesarkan anak, jenis ini sering digunakan untuk “orang tua asuh”. Ada pula merpati dengan sebutan terkenal Owl yang dikenal di Indonesia dengan nama Meeuw. Kekhususannya adalah berparuh pendek, pial dan kepala membentuk bulatan. Ada berbagai jenis dari merpati ini. Berbeda dengan Oriental Frill, kepala Owl biasa saja tanpa jambul. merpati ini tidak pandai membesarkan anak.

Menurut Ari Soeseno (2004) Adapun mengenai jenis-jenis merpati, utamanya yang populer dewasa ini, antara lain :

(1) Homer:
Berasal dari burung liar yang dikenal dengan nama Columbian livia. Setelah dijinakkan burung tersebut dikenal sebagai Racing Homer – dapat kita sebut sebagai “merpati pos” aduan. Dari jenis Racing Homer ini kemudian muncul beberapa jenis merpati, antara lain: Homer pameran (Exhibition Homer) yang dikembangkan sejak 1990 sebagai burung pameran.
(a) German Beauty Homer yang dikembangkan di Jerman sejak 1907 sebagai burung pameran. Burung ini mirip dengan Racing Homer tetapi lebih ramping.
(b) Giant Homer yang dikembangkan di Amerika Serikat untuk mendapatkan burung yang berbadan besar dan memiliki kemampuan memproduksi anak yang banyak. Burung ini ditujukan untuk keperluan konsumsi.
(c) Racing Homer dikembangkan dewasa ini di Belgia dan Inggris. Sejak lama barung ini digunakan sebagai pengirim berita dan kini dikembangkan dengan penyilangan terhadap burung-burung yang kecepatannya tinggi karena sasaran utamanya adalah kecepatan. Dengan demikian, warna, bentuk dan besarnya menjadi nomer dua.

(2) Tumbler
Oleh orang Belanda burung ini dikenal sebagai Tuimelaar. Burung ini punya keistimewaan terbang dari ketinggian tertentu akan turun ke ketinggian tertentu dengan melakukan serangkaian salto atau jungkir balik di udara. Semula burung ini merupakan burung olahraga tetapi kemudian menjadi burung untuk pameran.
Merpati-merpati jenis tumbler:
(a) English shortfaced tumble: merupakan burung yang kecil, padat, dengan leher jenjang mungil tetapi dengan dada yang kokoh. Dalam keadaan berdiri biasa, ujung sayapnya akan menggantung lebih rendah dari kedudukan ekor – ini merupakan ciri yang menonjol. Selain itu bagian muka dari kepalanya menonjol agak jauh ke depan daripada paruhnya yang pendek. Dengan dipelihara untuk keperluan pameran, maka kemampuannya untuk terbang tinggi dan jungkir balik pun hilang. Burung diternakkan dengan berbagai variasi warna.
(b) Birmingham Roller: dikembangkan di Birmingham (Inggris) sebagai burung yang memiliki keistimewaan terbang. Kemampuannya untuk jungkir balik dan berputar-putar di udara menjadi sasaran utama pemeliharanya. Burung ini mampu untuk jungkir balik (trumble), termasuk salto ke belakang dan berputar-putar (spin) dengan kecepatan tinggi sekali. Dan itu dilakukan mulai ketinggian yang cukup tinggi (burung mampu terbang tinggi) dan berakhir setealh berada pada ketinggian yang rendah. Kemampuan ini telahg menjadi acara pertandingan yang menarik bagi para penggemarnya. Tetapi Birmingham Roller juga menjadi burung yang dipamerkan bahkan cara-cara penilaiannya pun telah dibakukan.
(c) Flying Tipller: merupakan burung yang diekambangkan dari Flying Tumbler. Burung ini dipelihara karena kemampuannya terbang yang lama. Jenis yang baik akan mampu terbang terus-menerus selama 20 jam.
(d) Parlour Tumbler: juga disebut Ground Tumbler atau House Tumbler. Burung ini diternakkan karena kemampuannya lombat ke udara, melakukan salto sekali atau dua kali ke belakang, dan kedua kakinya hinggap kembali ke tempat semula.

(3) Cumulet:
Burung ini merupakan jenis tumbler dari Perancis yang mampu terbang tinggi dan juga merupakan salah satu nenek moyang dari jenis Racing Homer. Burung ini berbadan sedang tetapi serasi, dengan dada bidang, sayapanya panjang dan kokoh, kaki agak pendek. Umumnya warna bulu putih, dan ada yang memiliki bintik-bintik merah di kepala atau leher.

(4) Flight:
Burung ini dikembangkan di Amerika dan merupakan ras tersendiri. Dari kelompok ini ditemukan burung yang dikenal dengan nama Domestic Flight. Burung ini mampu terbang tinggi, dengan ukuran badan sedang, paruh tampak memannjang dan kepala ramping berjambul, tetapi ada pula yang tidak. Matanya putih dengan lingkaran tengah dari mata (selaput mata) bagus. Dan inilah letak rahasia kemampuannya melihat jauh saat merpati terbang tinggi. Selain itu ada juga burung yang diberi nama Show Flight. Burung ini mempunyai badan yang lebih gemuk dan kepala lebih besar daripada jenis Domestic Flight. Burung ini diternakkan karena kemampuannya terbang tinggi dan memiliki keindahan yang dapat dijadikan sarana untuk dipamerkan. Kedua macam burung ini diternakkan dengan warna hitam, kuning, merah dan abu-abu cokelat.

 10.3. Gambar Macam-macam Merpati

10.4. Memilih Burung Merpati
Pengetahuan bangsa-bangsa merpati sangat penting sebelum program budidaya dilakukan sehingga tujuan pemeliharaan harus disesuaikan dengan jenis atau bangsa Burung merpati.
Berdasarkan tujuan pemeliharaan, maka burung Merpati dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu untuk tujuan pameran, produksi daging dan penampilan.

Merpati untuk pameran dipilih berdasarkan pola warnanya.
Merpati untuk tujuan produksi daging (squab) dipilih berdasar jumlah anak yang besar-besar dan sehat sebanyak mungkin dalam jangka waktu yang cukup lama
Merpati untuk penampilan (tumbler) dipilih berdasar ketegaran dan penampilan yang terkontrol di udara.
Sebagai contoh, merpati untuk pameran mempunyai ukuran badan yang besar, cantik dan tubuhnya seimbang akan tetapi mempunyai kelemahan yaitu perkembang biakannya lambat. Oleh karenanya tidak cocok untuk pemeliaraan yang bersifat komersial, ataupun untuk usaha produksi sambilan.

Sifat merpati yang baik untuk tujuan daging
Karena tujuan produksi daging (squab) dipilih berdasar jumlah anak yang banyak, besar-besar dan sehat sebanyak mungkin dalam jangka waktu yang cukup lama maka perlu memperhatikan sifat berikut :

  1. Secara umum bibit harus sehat, tegar dan tahan penyakit
  2. Sebenarnya semua jenis/ras merpati bisa dijadikan merpati potong. Yang menjadi persoalan adalah kualitas rasa, tekstur daging, dan laju pertumbuhan bobot badan.
  3. Idealnya memilih merpati dari ras pedaging, seperti king, carneau, mondaine, giant homer, dan homer king. Jenis yang disebut terakhir inilah yang terpopuler di Indonesia.
  4. Merpati king dewasa memiliki bobot standar sekitar 742-857 gram (gr), sedangkan merpati remaja (muda) sekitar 686-780 gr. Namun berat potong ideal sekitar 500-700 gram, dengan lama pemeliharaan sekitar 45-60 hari.
  5. Otot dada besar, tebal, dan rasanya sangat lezat. Itu sebabnya, merpati king sangat digemari konsumen di luar negeri
  6. Ada beberapa varietas warna bulu, misalnya biru, merah, dan kuning. Hampir semua varietas memiliki ukuran tubuh yang sama.
  7. Meski namanya giant homer, postur tubuhnya justru lebih kecil daripada ras-ras merpati pedaging lainnya. Tetapi justru karena itulah masyarakat menggemarinya.
  8. Apalagi rasa dagingnya juga lezat. Belakangan, merpati king dan giant homer disilangkan, sehingga menghasilkan ras baru bernama homer king. Ras inilah yang banyak dipelihara di Indonesia.
  9. Induk yang dipakai adalah induk yang lincah, punya sifat keibuan (mothering) yang tinggi
  10. Sex libido pejantan tinggi yang ditunjukkan sesaat sebelum betina mulai bertelur dan terus berlangsung selama periode bertelur.
  11. Siklus reproduksinya yang singkat, yakni 35 hari, membuat usaha beternak merpati bisa berkembang biak dengan cepat dimana jumlah anak rata-rata 2 ekor.
  12. Seekor induk seharusnya dapat menghasilkan anak 14-15 ekor setiap tahun dan dapat bertahan selama 4-5 tahun
  13. Ukuran induk tidak terlalu besar karena  ukuran tubuh yang terlalu besar sering tanpa sengaja dapat memecahkan telurya sendiri dan kurang produktif
  14. Catatan umur induk, umur 2-3 tahun jumlah anak setidak-tidaknya 14-18 ekor, umur 4-5 tahun setidaknya 10-12 ekor anakan.

10.5. Pemeliharaan.
Berbeda dengan burung lainnya, burung merpati termasuk jenis burung yang mudah dirawat. dan untuk mencari merpatipun bukan hal yang sulit, karena merpati banyak dijual di pasar burung di Indonesia.
Pemeliharaan merpati (Columba livia) di Indonesia terbagi dalam dua kelompok. Pertama, mereka yang memeliharanya sebagai unggas kesayangan, baik sebagai merpati balap, merpati tinggian, maupun merpati pos. Kedua, mereka yang sengaja memeliharanya untuk tujuan komersial, dalam hal ini para peternak yang mebudidayakan dan menjual secara komersial, antara lain peternak merpati balap, merpati hias, merpati pos dan merpati pedaging.
Kalau di sejumlah restoran, warung makan, maupun warung tenda di pinggir jalan menyajikan menu dara goreng, sebagian besar bahan bakunya berasal dari merpati afkiran. Merpati afkiran adalah merpati yang sudah tua. Di AS, merpati muda (25-30 hari) atau dikenal sebagai squab menjadi salah satu menu favorit. Dagingnya lunak dan enak. Daging merpati mengandung zat-zat gizi yang lengkap dan tinggi. Apabila sudah populer, diharapkan dapat menjadi substitusi dalam pemenuhan kebutuhan daging di Indonesia, khususnya daging ayam, sapi, dan kambing.

Ada beberapa hal saat memilih burung merpati, khususnya sebagai usaha yang bersifat komersial, antara lain :

  1. Burung Merpati itu harus sehat. Ciri-ciri burung merpati yang sehat adalah memiliki bulu yang bagus. bagian ujung sayapnya tidak melor alias turun. bila di tangkap dengan tangan tenaga reaksi/ perlawanan besar.
  2. Jangan membeli burung merpati yang sudah tua, ini tidak bagus bagi yang sekedar membeli untuk disembelih maupun untuk diternak. Ciri-ciri burung merpati yang telah berusia tua adalah sebagai berikut, daging di sekitar paruh yang kelihatan tebal. bagian lubang hidungnya juga terlihat ada kerutan daging tebal, bila di cermati paruhnya sudah ngak kilat.
  3. Bila ingin memilih diantara banyak burung yang ada dalam satu sangkar, jangan terlalu dekat dengan sangkarnya dulu, posisikan diri anda beberapa langkah ke belakang dan cermati perilaku si burung merpati dari kejauhan. Kemudian perhatikan semua burung tersebut dan pilihlah salah satu burung yang menjadi raja didalam sangkar, atau yang memiliki sifat paling domininan
  4. Pelajari ciri-ciri antara induk pejantan dan induk betina, induk pejantan biasanya memiliki paruh yang lebih tebal, lehar lebih besar, kepala yang lebih panjang dan besar. bulu disekitar lebih yang mengkilap. bila didekati oleh burung lain pejantan/betina lain dia akan bekur (berkutut)

10.6. Sistim Pemeliharaan
Pada dasarnya sistem pemeliharaan burung Merpati tergantung dari tujuan atau kondisi para peternak. Namun setiap sistem memiliki kelebihan maupun kelemahan masing-masing.

Ada 3 metode sistem pemeliharaan yaitu:
(1) Sistem Umbaran.
Pada Sistem Umbaran atau Lepas Kandang, beberapa pasang merpati di biarkan ( diumbar) berkeliaran di pekarangan sekitar rumah. Untuk tempat tidur sekaligus untuk bertelur merpati di buatkan rumah kandang yang disebut pagupon. Kelebihan dari sistem ini, tidak ada biaya pembuatan kandang, merpati lebih sehat karena bebas terbang ke mana saja, lebih mudah dalam pemeliharaannya dan pemberian makanan lebih sedikit karena disamping makan makanan yang disediakan oleh peternak, merpati juga mencari makanan sendiri yang berada di lingkungan sekitar. Kelemahan sistem ini terletak dalam hal keamanan dan produktifitas kurang baik karena merpati lebih banyak bermain, kalau ada burung yang sakit akan mudah menular.
Khususnya bagi burung merpati yang baru dibeli tidak boleh langsung dilepas/diumbar akan tetapi harus dikurung terlebih dahulu selama beberapa hari. Apabila ingin dilepas dalam umbaran sebaiknya sayap burung diikat dengan salasi/di lakban. Ikatan atau salasi/lakban tidak boleh merusak bulu sayapnya. Ikatan akan dilepas setelah burung merpati secara berulang-ulang bisa pulang sendiri ke pagupon
Kondisi yang paling aman untuk melepas ikatan adalah saat burung sudah bertelur dan mengerami. Tanda-tanda burung merpati bila akan bertelur antara lain bahwa indukan pejantan akan bersifat agresif dan membuntuti si burung betina kemana pun ia terbang dengan kata lain selalu mengekor dibelakang si burung betina.
Sekedar pengetahuan bahwa masa dimana pejantan agresif membuntuti betina adalah masa – masa yang baik untuk dibalapkan. Langkah-langkahnya adalah: tangkaplah burung indukan ketika memasuki kandang kemudian pisahkan dan jangan sampai terlihat oleh burung pejantan selama beberapa menit. Pada saat burung jantan sudah terlihat sibuk/bingung mencari burung betina dan memanggil-manggil dengan suara khas (khuuu khuuu) maka keluarkan burung betina. Dengan demikian maka apabila diadu balapan burung jantan akan terbang dengan kecepatan tinggi untuk menuju burung betina.

(2) Sistim Kurung
Pada Sistem ini, dimana burung merpati itu tidak pernah dilepas atau keluar dari sangkar/rumahnya. Metode ini tidak begitu maksimal bila dipilih dalam Beternak burung merpati, karena burung merpati adalah burung yang suka bersosialisasi melalui terbang dan mondar-mandir. Namun apa bila hal ini merupakan cara yang terakhir dipilih untuk sistem beternaknya, maka usahakan sangkarnya di buat lebih besar.
Sedangkan berdasarkan jumlah populasi dalam kandang, maka dibedakan menjadi 2 yaitu :

a) Sistem kandang koloni, beberapa pasang merpati di masukkan dalam kandang besar. Untuk kapasitas kandang jangan terlalu sesak karena akan mengganggu kesehatan burung. Kelebihan dari sistem ini keamanannya lebih terjamin dari pada sistem umbaran. Kelemahan sistem ini, memerlukan biaya untuk pembuatan kandang dan makanan yang dibutuhkan lebih banyak, kalau ada burung yang sakit akan mudah menular.
b) Sistem Battery, di mana satu pasang merpati di masukkan dalam satu kandang battery. Ukuran kandang yang ideal adalah 75cmx50cmx50cm. Sistem ini sangat baik digunakan untuk ternak dalam skala besar. Kelebihan dari sistem ini, kesehatan burung lebih terjamin karena penyakit tidak mudah menular, produktifitas lebih baik, keamanan lebih terjamin. Sedang kelemahannya adalah membutuhkan biaya pembuatan kandang yang banyak, perawatan lebih sulit.
c) Sistem Campuran
Pada Sistem campuran ini merupakan gabungan dari sistem kurung dan umbaran, dimana burung merpati pada suatu saat tertentu dipelihara dalam sangkar/ pagupon, namun juga dilepas sehingga bisa bebas terbang.

10.7.  Reproduksi
A. Siklus reproduksi.
Untuk pembelian awal hendaknya membeli pasangan merpati yang mempunyai catatan produksi (recording). Walaupun harga agak mahal tetapi jaminan kualitas indukkan lebih baik dibandingkan dengan yang tidak memiliki catatan/recording.
Perkawinan pertama hendaknya dilakukan pada umur 5-8 bulan dengan Puncak Produksi telur  terjadi antara umur 12-18 bulan dan terus berlangsung sampai 2-3 tahun. Tingkah laku kawin burung merpati berbeda dengan burung yang lainnya, dimana sex libidonya sangat tinggi diikuti sang jantan ikut dalam pembuatan sarang, mengerami telur sampai dengan membesarkan anak-anaknya.
Sifat berpasangan pada burung merpati sangat kuat dan selalu  tetap sepanjang hidupnya, kecuali jika salah satu pasangannya mati atau dipisahkan secara terpaksa oleh peternak. Namun jika pasangan yang terpisah dan akhirnya kembali lagi, maka sifat berpasangan pada pasangan yang lama akan terwujud kembali. Umur produktif yang masih dianggap menguntungkan yaitu tidak lebih dari 5-6 tahun.

B. Perilaku kawin
Pejantan mulai dengan suatu kegiatan persiapan untuk kawin yaitu dengan menggembungkan temboloknya, bulu-bulu dimekarkan, sayap direbahkan serta memperlihatkan penampilan yang tenang. Bila seekor betina menerima pejantan itu maka pasangan itu mulailah bersatu untuk meneruskannya. Segera setelah kawin, pejantan akan mencari bahan-bahan untuk membuat sarang di dalam petak kandangnya. Oleh karena itu peternak harus menyediakan kayu-kayuan kecil seperti batang lidi, jerami, tali bekas yang kecil, atau apa saja yang sifatnya bisa di rangkai oleh burung merpati menjadi sarang.

C. Masa bertelur
Setelah sarangnya selesai dipersiapkan atau mendekati akhir penyelesaian, maka merpati betina akan bertelur yang pertama. Telur yang kedua biasanya dikeluarkan dalam 24 jam berikutnya. Tiap kali masa bertelur, dapat diharapkan 2 butir telur atau dua ekor anak bisa dihasilkan. Pengeraman akan segera dimulai dan dilakukan oleh pasangan itu, baik induk jantan atau betina. Namun induk betina lebih banyak melakukan kegiatan pengeraman, dan pejantan menggantikannya dalam waktu singkat yaitu dari pagi sampai siang. Lama masa pengeraman berkisar 18-22 hari. Telur yang pertama akan menetas dalam 17-18 hari, diikuti oleh telur yang ke dua 48 jam berikutnya.
Sesaat setelah telur menetas maka anak diberi makan be-er atau jagung yang halus ke burung indukan, karena induk akan disuapi keanak-anaknya. Jenis pakan yang paling baik untuk burung merpati adalah jagung dan kacang hijau.

10.8.Pakan
Masalah gizi untuk merpati hampir sama saja dengan jenis-jenis unggas lainnya. Satu perkecualian adalah merpati membutuhkan grit untuk membantu menggiling dan mencerna biji-bijian yang di makan. Sebenarnya cukup sederhana saja kalau kita perhatikan, kebanyakan dari kita cukup memberikan biji-bijian seperti jagung yang kering. Pemberian biji-bijian yang masih basah atau segar (baru dipanen) dapat menimbulkan diare atau bahkan kematian pada anak maupun merpati dewasa.
Pakan merpati terdiri atas unsur-unsur ransum campuran antara biji-bijian, mineral, grit dan air minum atau dalam bentuk pellet. Formula grit yang baik untuk merpati terdiri atas 40% kulit kerang, yang digiling kasar, 35% kapur atau grit granit, 10% arang kayu keras, 5% tulang yang digiling, 5% kapur dan 4% garam yodium. Komposisi pakan yang terdiri atas biji-bijian disarankan adalah 35% jagung, 22,7% kacang kapri, 19,8% gandum dan 18% milo dengan kadar protein minimum 14%. Pemberian pakan pada merpati cukup mudah karena merpati menyukai jagung, kedelai, kacang tanah dan gandum. Komposisi pakan yang baik untuk merpati ini terdiri atas protein kasar 14%, karbohidrat 65,0%, serat kasar 3,5% dan lemak 3,0%. Selain itu, merpati juga membutuhkan mineral dan vitamin. Menurut Drevjany (2001) dalam Suprapti (2003), pada musim panas merpati membutuhkan jagung 25% dan pellet 75%, sedangkan musim dingin jagung dapat diberikan sebanyak 50% dan pellet 50%. Pakan merpati sebaiknya mengandung protein kasar 16% dari total rasio pakan. Merpati mengonsumsi biji-bijian sekitar 100-150g ekor/pasang, dengan rataan konsumsi sebesar 130,25 g/hari/ pasang. Untuk jenis merpati Hing, sementara jenis Homer rataan konsumsi pakannya sekitar 111,64/g/hari/pasang
Konsumsi biji-bijian merpati antara 100-150 gram/ekor/hari. Pemberian pakan sebaiknya dengan frekuensi 2 kali dalam sehari pada jam yang hampir sama yaitu antara matahari terbit sampai jam 9 pagi serta antara jam 4 sore sampai matahari terbenam. Konsumsi hijauan tiap harinya adalah sekitar 100-150 gram untuk setiap pasang merpati.

4.9. Kandang dan Peralatan
A. Kandang
Pada burung merpati yang hidupnya liar akan mencari tempat-tempat yang tinggi, terlindung dari angin, hujan serta hewan-hewan pemangsa (predator). Manusia telah membuat modifikasi namun tetap memperhatikan prinsip-prinsip tersebut dalam membuat kandang untuk merpati.
Sistem Kandang merpati secara dikurung pada dasarnya ada dua macam : yaitu kandang pasangan tunggal (single pair) dan kandang pasangan ganda (multiple pair). Sedangkan Kandang berdasarkan tahap pemeliharaan dibedakan menjadi tiga, yaitu kandang jodoh (khusus penjodohan hingga mengasuh anak), kandang pembesaran, dan kandang karantina (untuk merpati sakit).
Kandang pembesaran digunakan saat merpati lepas masa sapih dari induknya.
Fase ini bisa dimulai dari umur 15 hari hingga masa panen (45-60 hari). Kandang bersifat koloni, artinya untuk memelihara beberapa ekor sekaligus. Konstruksi kandangnya sama dengan kandang puyuh, tetapi dibuat lebih tinggi (75 cm).  Karena merpati sudah bisa terbang, usahakan bagian atapnya dibuat dari bahan yang lentur, misalnya kassa dari nilon. Kandang berukuran 100 x 100 cm2 dapat menampung 20-25 ekor merpati hingga masa panen.  Untuk menghemat lahan, kandang disusun bertingkat, berjajar, dan saling memunggungi, seperti pada kandang ayam petelur. Kandang terbawah diberi kaki setinggi 50 cm, agar terbebas dari genangan air. Semua kandang ini berada di bawah naungan kandang induk, yang memiliki atap, pelindung dari angin dan air hujan.
Kandang seharusnya menghadap ke arah sinar matahari, akan tetapi untuk Indonesia (tropis) tidak masalah karena cahaya matahari tersedia dalam jumlah yang melimpah. Kalau kita memperhatikan di perdesaan atau lingkungan kota, kandang merpati (pagupon) ditempatkan di depan rumah atau di atas rumah akan tetapi tetap mengikuti prinsip-prinsip di atas

B. Peralatan yang dibutuhkan
Peralatan yang diperlukan untuk beternak merpati antara lain tempat pakan, minum, tempat untuk grit, nesting bowl, dan tenggeran. Tempat pakan, minum dan grit bisa kita beli di pasar-pasar burung atau kalau ingin berhemat kita buat dari bambu pun jadi, sedangkan untuk sarang kalau bisa berbentuk cekung. Bentuk yang cekung akan dapat membuat nyaman merpati untuk mengerami telurnya dan mencegah anaknya yang masih kecil terjatuh.

10.10. Tata Laksana Pemeliharaan
Burung Merpati dapat dikelompokkan sesuai dengan berat badan, yaitu tipe berat (merpati american swiss modane, white king giant honer) dan tipe ringan (merpati Hungarian dan spuabbling homer). Sedangkan yang modern bisa mencapai 1.500 gram. Merpati yang termasuk jenis ini antara lain : Belgian homer. Jenis merpati potong yang popular di Indonesia adalah Hummer King.
Burung Merpati sama seperti burung lainnya yaitu mudah terkejut, oleh karena itu jangan membuat kaget terutama pada malam hari terhadap induk yang sedang mengeram. Kejutan dapat mengakibatkan induk kabur (kawus) sampai pagi hari sehingga telur-telur yang dierami akan kehilangan panas sepanjang malam itu sehingga mengakibatkan kematian embrio. Kalau ada telur yang retak, ukurannya terlalu kecil atau tidak normal sebaiknya disingkirkan saja, dengan demikian pasangan induk betinanya akan segera bertelur lagi. Sekitar 17-18 hari setelah pengeraman, pastikan bahwa telur itu sudah menetas dan anak yang menetas normal yang pada umumnya badan belum berbulu dan mata masih terpejam. Apabila yang menetas hanya satu ekor saja, maka tunggulah sampai 2-3 hari lagi. Kalau memang ternyata anakan yang menetas hanya satu ekor maka pemeliharaannya bisa tetap pada induk tersebut atau dititipkan pada induk yang lain yang mempunyai anak hanya 1 ekor juga. Dengan demikian pasangan yang anaknya di titipkan pada pasangan lain akan mulai berproduksi lagi.
Bagian tersulit dalam pemeliharaan burung merpati adalah menangani piyik-piyik. Tiga hari pertama setelah menetas, piyik hanya mendapat asupan susu tembolok dari induk jantan dan betina. Setelah itu, kedua induk bergiliran memberi makan anaknya dengan meloloh.  Secara alami, masa meloloh ini akan berlangsung 6-7 minggu, akan tetapi kita bisa mempercepatnya mulai umur 15 hari sampai 1 bulan agar induk cepat bertelur lagi. Jika jumlah piyik sedikit, maka kita bisa meloloh dengan mendekatkan pakan yang lembut ke mulut piyik. Tetapi jika jumlah piyeknya banyak, maka pekerjaan ini tentu merepotkan.  Solusinya adalah dengan menggunakan spuit dan selang berisi pakan yang dilembutkan, lalu dimasukkan ke mulut piyik hingga temboloknya penuh.
Setelah umur 10 hari, anak merpati perlu di amati lagi. Mata anak merpati akan mulai terbuka dan bulu mulai tumbuh. Pada tahap ini anak merpati mulai memanfaatkan biji-bijian bersamaan dengan susu merpati (pakan loloh dari tembolok) dari induknya. Pada umur 25 hari anak-anak (piyek) dipilih untuk bisa segera dipotong atau dijual. Penjualan biasanya pada umur 26-30 hari. Standar untuk menetapkan kapan anak sudah bisa dijual atau belum apaila anak telah tumbuh bulu-bulu jarum di bawah sayap dan di badannya. Apabila bulu jarum itu belum lengkap maka penjualan bisa ditunda 2-3 hari ke depan.
Frekuensi pemberian pakan sekitar 2-4 kali/hari. Pada umur 1 bulan sampai masa panen (2 bulan), merpati sudah bisa makan sendiri. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari. Usahakan pakan habis dalam waktu 30-60 menit, agar tak menimbulkan bau busuk yang bisa mengundang kuman penyakit (bakteri, virus, jamur, dll). Yang terpenting adalah susunan ransum dan porsi pemberian pakan. Pakan merpati piyek bisa dibuat dari bahan jagung kuning (50 %), gandum (34 %), je-wawut (9 %), kacang tanah (5 %) dan beras (2 %). Bahan-bahan itu diramu dalam bentuk butiran pecah.  Khusus untuk piyik, bahan pakan mesti dilembutkan dengan air matang, sehingga menjadi bubur. Dengan pemeliharaan yang benar, bobot badan homer king yang berumur 45-60 hari dapat mencapai 600-700 gram, serta sudah bisa dijual. Dengan umur yang masih muda, tentu dagingnya lebih empuk dan gurih. (Dudung AM-32)

10.11. Penyakit burung merpati dan penanganannya
Burung merpati termasuk burung yang memiliki daya tahan tinggi terhadap penyakit. Namun hal itu jangan membuat kita terlena. Sebab, kita tidak perlu lagi khawatir jika kita memang sudah:

  1. Menyediakan tempat teduh untuk merpati (pagupon/gupon-Jawa) yang kering, terang, ventilasi baik dan burung dapat pergi menghindari hembusan angin dari satu arah (graught).
  2. Menyediakan tempat tinggal/berteduh yang tetap bersih.
  3. Memberi makanan yang bermutu, bersih, bergisi seimbang.
  4. Memberikan grit yang cukup dan seimbang mutunya.
  5. Memberi air bersih yang terpisah dari air yang biasa untuk memandikan.

Penyakit umum merpati biasanya disebabkan oleh binatang kecil pengganggu yang menyebabkan burung terkena infeksi, atau juga virus atau bakteri atau infeksi yang disebabkannya.

A. Binatang pengganggu merpati umumnya adalah:
(1) Kutu.
Kutu merpati cukup besar untuk dilihat dengan mata telanjang. Berbeda dengan kutu burung kicauan, kutu pada merpati tidak menghisap darah tetapi hidup dengan memakan bulu dan sisik kulit merpati. Kehadirannya akan mengganggu jika cukup banyak (dan biasanya tidak kita sadari). Pada suhu udara panas, perkembangannya sangat cepat.
Untuk menjaga merpati bebas kutu seperti ini, gunakan saja FreshAves, obat anti parasit yang tidak berbahaya untuk merpati (tidak membuat keracunan). Selain bisa digunakan untuk menyemprot burung, FreshAves juga perlu untuk membasmi semua parasit di lingkungan tempat tinggal merpati.
(2) Tungau Merah:
Tungau ini sama dengan tungau ayam. Berbeda dengan kutu, tungau ini sulit ditangani bila jumlahnya sudah banyak di badan burung. Burung ini hidup di celaj-celah kandang atau kotak sarang, dan keluar di malam hari hanya untuk mencari makan. Untuk mengatasinya, perlu dilakukan penyemrpotan kandang dan lingkungan merpati dengan FreshAves, baik secara disemprotkan maupun dengan ditabur di dasar sarang.
(3) Lalat merpati:
Lalat yang pernah ditemukan di AS bagian selatan ini lebih kecil ketimbang lalat yang biasa berkeliaran di rumah-rumah. Bukan hanya pengganggu, lalat ini juga membawa bibit penyakit. Dia suka bersembunyi di di antara bulu-bulu burung. Telur dan larva lalat ini ditempatkan di tepi sarang dan umumnya dipilih sarang yang masih ada anakannya. Penanganan atas lalat ini bisa kita gunakan pula FreshAves untuk disemprotkan di lingkungan merpati dan ditaburkan di dasar sarang.

B.Penyakit :
(1) Kanker:
Penyakit ini disebabkan protozoa dan umum ditemukan di merpati. Kebanyakan menjangkiti anak burung yang masih dalam sarang, meski juga banyak menyerang merpati dewasa.
Gejalanya, terdapat luka di mulut atau leher yang diliputi cairan kental putih kekuningan. Luka akan membesar dan akan menyebabkan kematian merpati. Ada beberapa cara penyembuhan yang tergolong efektif sperti disampaikan Arie Soeseno dalam Memelihara dan Beternak Burung Merpati, yakni dengan menyapu luka dengan larutan yang terdiri dari 3 bagian glycerin dan 1 bagian jodium/iodine. Meski penyakit ini dapat diobati, tetapi jika tidak begitu berharga maka sebaiknya burung yang terjangkit dimatikan saja agar isi kandang tidak terjangkit semua. Ada pihak yang menyebutkan penyakit ini tidake menjalan, namu kita tetap harus berhati-hati. Pembersihan kandang dengan FreshAves sangat dianjurkan.

(2) Kurus (merpati menjadi kurus):
Burung kurus dan terlihat sakit. Umumnya disertai mencret. Kurus memang bukan penyakit tetapi menunjukkan adanya gejala penyakit. Bantuan bisa diberikan dengan mengosongkan tembolok kemudian diberi cairan susu hangat dan roti selama perawatan.

(3) Mencret/Diare:
Biasanya disebabkan makanan yang tidak baik/rusak. Penyakit akan hilang jika penyebabnya sudah diketahui dan dihilangkan. Cara penyembuhan terbaik dengan memberikan jagung dan butir biji-bijian kecil (jewawut, millet, dsb) sampai burung sembuh. Dapat juga burung diberi minyak kastroli atau garam epson sebagai sarana pencahan (urus-urus) untuk membersihkan sistem pencernaan.

(4) Pilek:
Penyebabnya sama dengan penyebab pilek pada manusia. Intinya, perlu menjaga burung agar berdaya tahan tinggi terhadap serangan penyakit. Salah satu cara yang disarankan adalah pemberian BirdVit pada minumannya. BirdVit yang mengandung multivitamin dan mineral ini bisa diberikan secara rutin setiap hari.
Jika burung pilek, jaga kehangatan tubuhnya. Minyak kastroli sebagai pencahar juga bisa diberikan untuk membersihkan pencernaan. Anda juga bisa menggunakan obat-obatan yang mengandung sulfa atau antibiotika yang ada di pasaran khusus untuk burung/unggas. Umumnya pilek akan hilang dengan sendirinya kalau burung diberi penghangat dan dihindarkan dari hembusan angin.

(5) Pnemonia:
kalau leher burung menjadi bengkak dan burung mengalami kesukaran bernafas, serta tampak demam dan sakit maka ada kemungkinan terserang penemonia. Usahakan burung agar hangat dan jauhkan dari angin. Pengobatan bisa dilakukan dengan pemberian sulfa atau antibiotik.

(6) Parathypus:
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan merupakan penyakit paling serius bagi merpati. Serangan bisa menyebabkan kematian dari 80% burung di kandang.
Gejalanya bisa berbeda-beda antar burung. Persendian (umumnya di sayap) dan kaki merupakan tempat-tempat yang mudah bengkak dan akan terisi oleh cairan. Merpati yang pincang atau lumpuh merupakan tanda adanya parathypus. Pada serangan hebat, kematian akan datang tanpa tanda pembengkaan. Boleh jadi pembengkaan pada sayap karena penggumpalan darah akibat cedera, tetapi jika pembengkaan terjadi pada beberapa burung sekaligus, pantas diduga mereka terkena serangan parathypus.
Pengobatan memang bisa dilakukan namun pengalaman menunjukkan bahwa membunuh burung-burung yangt sakit merupakan cara terbaik agar penyakit tidak berjangkit lagi atau terjadi penularan.
Penyakit ini menyebar dengan berbagai cara dan yang tercepat adalah melalui kotoran dan air minum. Lalat, burung-burung liar dan tikus merupakan binatang yang dapat menyebarkan penyakit ini. Jika terjadi serangan, selain saran terbaik untuk merpati dimusnahkan, maka bisa dilakukan pengobatan massal dengan antibiotik, sulfa (sulfamerazine, sulfamethazine).

(7) Coccidiosis:
Penyebab protozoa dan menyebabkan peradangan pada intestin (usus). Protozoa ini sebenarnya sudah tinggal di dalam tubuh burung, namun akan menyerang jika daya tahan tubuh burung melemah.
Burung yang terkena coccidiosis mengalami mencret hebat, cepat menjadi kurus, dan tampak pucat kekurangan darah. Sering ada gumpalan kotoran di pantat burung. Penularan penyakit ini adalah melalui burung lain yang makan protozoa coccidia yang tercampur pakan. Lakukan pencegahan dengan selalu menjaga kebersihan kandang dan lakukan penyemprotan dengan BirdFresh secara periodik merupakan langkah terbaik. Untuk pengobatan, Anda bisa mendapatkan obat untuk ini di pasaran.

(8) Cacar:
Cacar ini disebabkan oleh virus dan bisa membuat merpati cacat atau menemui kematian. Gejalanya tampak sebagai kulit yang mengembang dan muncul pada daerah yang tidak ditumbuhi bulu. Ada dua macam cacar yakni cacar leher dan cacar kulit. Cacar leher atau diphteria ditemukan hanya dileher dan memiliki angka kematian yang besar. Pada cacar kulit, kita akan melihat ada semacam petumbuhan kutil yang dapat begitu besar sehingga daerah mata atau kaki dipenuhi seluruhnya. cacar kulit jarang mematikan untuk burung dengan daya tahan tubuh kuat.
Virus cacar ini antara lain dibawa oleh nyamuk dan hanya dapat masuk ke dalam tubuh melalui luka. Tidak ada pengobatan yang efektif untuk cacar ini, tetapi bisa dilakukan vaksinasi cacar deengan vaksin cacar manusia (penggunan perlu petunjuk dokter hewan).

Demikian uraian mengenai penyakit burung merpati. Dan kalau kita amati secara keseluruhan, maka penyakit burung merpati sangat ditentukan oleh kebersihan lingkungan dan daya tahan tubuh burung merpati itu sendiri. Sekali lagi sekadar menyarankan, gunakan FreshAves untuk pembasmian parasit dan BirdVit sebagai penyuplai makanan bervitamin dan bermineral tinggi.

10.12.Mengenal Sistem Organ pada Aves (Burung)
1) Sejarah Aves (Burung)
Meskipun burung berdarah panas, ia berkerabat dekat dengan reptil. Bersama kerabatnya terdekat, suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria.
Diperkirakan burung berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan tumbuh bulu-bulu yang khusus di badannya. Pada awalnya, sayap primitif yang merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk sungguh-sungguh terbang, dan hanya membantunya untuk bisa melayang dari suatu ketinggian ke tempat yang lebih rendah.
Burung masa kini telah berkembang sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian pada beberapa jenis yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh semakin lebar, ringan, kuat dan bersusun rapat. Bulu-bulu ini juga bersusun demikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat tanduk.
Kesemuanya itu menjadikan burung menjadi lebih mudah dan lebih pandai terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka bumi. Ratusan jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka menghuni hutan-hutan ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak pegunungan. Burung juga ditemukan di rawa-rawa, padang rumput, pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perkotaan, dan wilayah kutub. Masing-masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup dan makanan utamanya.
Maka dikenal berbagai jenis burung yang berbeda-beda warna dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar. Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya.
Burung berkembang biak dengan bertelur. Telur burung mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur. Beberapa jenis burung seperti burung maleo dan burung gosong, menimbun telurnya di tanah pasir yang bercampur serasah, tanah pasir pantai yang panas, atau di dekat sumber air panas. Alih-alih mengerami, burung-burung ini membiarkan panas alami dari daun-daun membusuk, panas matahari, atau panas bumi menetaskan telur-telur itu; persis seperti yang dilakukan kebanyakan reptil.
Akan tetapi kebanyakan burung membuat sarang, dan menetaskan telurnya dengan mengeraminya di sarangnya itu. Sarang bisa dibuat secara sederhana dari tumpukan rumput, ranting, atau batu; atau sekedar kaisan di tanah berpasir agar sedikit melekuk, sehingga telur yang diletakkan tidak mudah terguling. Namun ada pula jenis-jenis burung yang membuat sarangnya secara rumit dan indah, atau unik, seperti jenis-jenis manyar alias tempua, rangkong, walet, dan namdur.
Anak-anak burung yang baru menetas umumnya masih lemah, sehingga harus dihangatkan dan disuapi makanan oleh induknya. Kecuali pada jenis-jenis burung gosong, di mana anak-anak burung itu hidup mandiri dalam mencari makanan dan perlindungan. Anak burung gosong bisa segera berlari beberapa waktu setelah menetas, bahkan ada pula yang sudah mampu terbang.
Jenis-jenis burung umumnya memiliki ritual berpasangan masing-masing. Ritual ini adalah proses untuk mencari dan memikat pasangan, biasanya dilakukan oleh burung jantan. Beberapa jenis tertentu, seperti burung merak dan cenderawasih, jantannya melakukan semacam tarian untuk memikat si betina. Sementara burung manyar jantan memikat pasangannya dengan memamerkan sarang setengah jadi yang dibuatnya. Bila si betina berkenan, sarang itu akan dilanjutkan pembuatannya oleh burung jantan hingga sempurna; akan tetapi bila betinanya tidak berkenan, sarang itu akan dibuang atau ditinggalkannya.
Burung telah memberikan manfaat luar biasa dalam kehidupan manusia. Beberapa jenis burung, seperti ayam, kalkun, angsa dan bebek telah didomestikasi sejak lama dan merupakan sumber protein yang penting; daging maupun telurnya.
Di samping itu, orang juga memelihara burung untuk kesenangan dan perlombaan. Contohnya adalah burung-burung merpati, perkutut, murai batu dan lain-lain. Burung-burung elang kerap dipelihara pula untuk gengsi, gagah-gagahan, dan untuk olahraga berburu. Banyak jenis burung telah semakin langka di alam, karena diburu manusia untuk kepentingan perdagangan tersebut.
Selain itu populasi burung juga terus menyusut karena rusaknya habitat burung akibat kegiatan manusia. Oleh sebab itu beberapa banyak jenis burung kini telah dilindungi, baik oleh peraturan internasional maupun oleh peraturan Indonesia. Beberapa suaka alam dan taman nasional juga dibangun untuk melindungi burung-burung tersebut di Indonesia.
Yang menyenangkan, beberapa tahun belakangan ini telah tumbuh kegiatan pengamatan burung (birdwatching) di kalangan pemuda dan pelajar. Kegiatan yang menumbuhkan kekaguman dan kecintaan pada jenis-jenis burung yang terbang bebas di alam ini, sekaligus merintis kecakapan meneliti alam terutama kehidupan burung di kalangan generasi muda tersebut.

2) Sistem Organ pada Aves (Burung)
A. Sistem Pernafasan (Respirasi) Pada Aves
Sistem pernapasan pada hewan menyusui dan burung bekerja dengan cara yang sepenuhnya berbeda, terutama karena burung membutuhkan oksigen dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan yang dibutuhkan hewan menyusui. Sebagai contoh, burung tertentu bisa memerlukan dua puluh kali jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh manusia. Karenanya, paru-paru hewan menyusui tidak dapat menyediakan oksigen dalam jumlah yang dibutuhkan burung. Itulah mengapa paru-paru burung diciptakan dengan rancangan yang jauh berbeda.
Pada hewan menyusui, aliran udara adalah dua arah: udara melalui jaringan saluran-saluran, dan berhenti di kantung-kantung udara yang kecil. Pertukaran oksigen-karbon dioksida terjadi di sini. Udara yang sudah digunakan mengalir dalam arah berlawanan meninggalkan paru-paru dan dilepaskan melalui tenggorokan.
Sebaliknya, pada burung, aliran udara cuma satu arah. Udara baru datang pada ujung yang satu, dan udara yang telah digunakan keluar melalui lubang lainnya. Hal ini memberikan persediaan oksigen yang terus-menerus bagi burung, yang memenuhi kebutuhannya akan tingkat energi yang tinggi.
Michael Denton, seorang ahli biokimia Australia serta kritikus Darwinisme yang terkenal menjelaskan paru-paru unggas sebagai berikut:  Dalam hal burung, bronkhus (cabang batang tenggorokan yang menuju paru-paru) utama terbelah menjadi tabung-tabung yang sangat kecil yang tersebar pada jaringan paru-paru. Bagian yang disebut parabronkhus ini akhirnya bergabung kembali, membentuk sebuah sistem peredaran sesungguhnya sehingga udara mengalir dalam satu arah melalui paru-paru. Meskipun kantung-kantung udara juga terbentuk pada kelompok reptil tertentu, bentuk paru-paru burung dan keseluruhan fungsi sistem pernapasannya sangat berbeda. Tidak ada paru-paru pada jenis hewan bertulang belakang lain yang dikenal, yang mendekati sistem pada unggas dalam hal apa pun. Bahkan, sistem ini mirip hingga seluk-beluk khususnya pada semua burung.
Aves bernafas dengan paru-paru yang berhubungan dengan kantong udara (sakus pneumatikus) yang menyebar sampai ke leher, perut dan sayap.

Kantong udara terdapat pada :

  • Pangkal leher (servikal)
  • Ruang dada bagian depan (toraks anterior)
  • Antar tulang selangka (korakoid)
  • Ruang dada bagian belakang (toraks posterior)
  • Rongga perut (saccus abdominalis)
  • Ketiak (saccus axillaris)

Fungsi kantong udara :

  • Membantu pernafasan terutama saat terbang
  • Menyimpan cadangan udara (oksigen)
  • Memperbesar atau memperkecil berat jenis pada saat burung berenang
  • Mencegah hilangnya panas tubuh yang terlalu banyak

Paru-paru khusus pada burung.
Burung mempunyai bentuk tubuh yang jauh berbeda dengan binatang yang dianggap sebagai nenek moyangnya, reptil. Paru-paru burung bekerja dengan cara yang sama sekali berbeda dengan hewan menyusui. Hewan menyusui menghirup dan membuang udara melalui batang tenggorokan yang sama. Namun pada burung, udara masuk dan keluar melalui ujung yang berlawanan. “Rancangan” khusus semacam ini diciptakan untuk memberikan volume udara yang diperlukan saat terbang. Evolusi bentuk seperti ini dari reptil tidaklah mungkin.
Inspirasi : udara kaya oksigen masuk ke paru-paru. Otot antara tulang rusuk (interkosta) berkontraksi sehingga tulang rusuk bergerak ke luar dan tulang dada membesar. Akibatnya teklanan udara dada menjadi kecil sehingga udara luar yang kaya oksigen akan masuk. Udara yang masuk sebagian kecil menuju ke paru-paru dan sebagian besar menuju ke kantong udara sebagai cadangan udara.
Ekspirasi : otot interkosta relaksasi sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi semula. Akibatnya rongga dada mengecil dan tekanannya menjadi lebih besar dari pada tekanan udara luar. Ini menyebabkan udara dari paru-paru yang kaya karbondioksida ke luar.
Aliran udara searah dalam paru-paru burung didukung oleh suatu sistem kantung udara. Kantung-kantung ini mengumpulkan udara dan memompanya secara teratur ke dalam paru-paru. Dengan cara ini, selalu ada udara segar dalam paru-paru. Sistem pernafasan yang rumit seperti ini telah diciptakan untuk memenuhi kebutuhan burung akan jumlah oksigen yang tinggi.
Pernafasan burung saat terbang : Saat terbang pergerakan aktif dari rongga dada tidak dapat dilakukan karena tulang dada dan tulang rusuk merupakan pangkal perlekatan otot yang berfungsi untuk terbang. Saat mengepakan sayap (sayap diangkat ke atas), kantong udara di antara tulang korakoid terjepit sehingga udara kaya oksigen pada bagian itu masuk ke paru-paru.

B.Sistem Pencernaan Pada Aves
Organ pencernaan pada burung terbagi atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Makanan burung bervariasi berupa biji-bijian, hewan kecil, dan buah-buahan.

Saluran pencernaan pada burung terdiri atas:

  1. Paruh: merupakan modifikasi dari gigi,
  2. Rongga mulut: terdiri atas rahang atas yang merupakan penghubung antara rongga mulut dan tanduk,
  3. Faring: berupa saluran pendek, esofagus: pada burung terdapat pelebaran pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan makanan yang dapat diisi dengan cepat,
  4. Lambung terdiri atas:
  • Proventrikulus (lambung kelenjar): banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding ototnya tipis.
  • Ventrikulus (lambung pengunyah/empedal): ototnya berdinding tebal. Pada burung pemakan biji-bijian terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama makanan vang berguna untuk membantu pencernaan dan disebut sebagai ” hen’s teeth”,

5. Intestinum:
Intestinum terdiri atas usus halus dan usus tebal yang bermuara pada kloaka.
Usus halus pada burung terdiri dari duodenum, jejunum dan ileum. Kelenjar pencernaan burung meliputi: hati, kantung empedu, dan pankreas. Pada burung merpati tidak terdapat kantung empedu.

Terbang merupakan memerlukan sejumlah besar kekuatan. Karena itulah burung memiliki perbandingan jaringan otot terhadap massa tubuh yang terbesar daripada semua makhluk. Metabolisme tubuhnya juga sesuai dengan kekuatan otot yang tinggi. Rata-rata, metabolisme tubuh suatu makhluk berlipat dua kali sewaktu suhu tubuh meningkat sebesar 50°F (10°C). Suhu tubuh burung gereja yang sebesar 108°F (42°C) serta suhu tubuh burung murai (Turdus pilaris) setinggi 109,4°F (43,5°C) menunjukkan betapa cepat kerja metabolisme tubuh mereka. Suhu tubuh yang tinggi seperti itu, yang dapat membunuh makhluk darat, justru sangat penting bagi burung untuk bertahan hidup dengan meningkatkan penggunaan energi, dan, karena itu pula, kekuatannya.
Karena kebutuhan mereka akan banyak energi, burung juga mempunyai tubuh yang mencerna makanan yang mereka makan dalam cara yang optimal. Sistem pencernaan burung memungkinkan mereka memanfaatkan dengan cara terbaik makanan yang mereka makan. Misalnya, seekor bayi bangau menggunakan 2,2 lbs (1 kg) dari massa tubuhnya untuk setiap 6,6 lbs (3 kg) makanan. Pada hewan menyusui dengan pilihan makanan yang serupa, perbandingan ini adalah sekitar 2,2 lbs (1 kg) hingga 22 lbs (10 kg). Sistem peredaran burung juga telah diciptakan selaras dengan kebutuhan energi tinggi mereka. Jika jantung manusia berdetak 78 kali per menit, jumlah detakan adalah 460 untuk burung gereja dan 615 untuk burung murai. Begitu pula, peredaran darah pada burung pun sangat cepat. Oksigen yang memasok seluruh sistem yang bekerja cepat ini disediakan oleh paru-paru unggas khusus.
Burung juga menggunakan energinya dengan sangat efisien. Mereka memperlihatkan efisiensi yang tinggi secara meyakinkan dalam pemanfaatan energi dibandingkan hewan menyusui. Contohnya, burung layang-layang yang berpindah tempat membakar 4 kilokalori per mil (2,5 kilokalori per kilometer), sedangkan hewan menyusui kecil akan membakar 41 kilokalori. Burung lebih senang bepergian dalam kelompok untuk perjalanan jauh. Bentuk barisan “V” dari kelompok ini memungkinkan setiap burung menghemat tenaga sekitar 23%.

C. Sistem Reproduksi Pada Aves
Kelompok burung merupakan hewan ovipar. Walaupun kelompok burung tidak memiliki alat kelamin luar, fertilisasi tetap terjadi di dalam tubuh. Hal ini dilakukan dengan cara saling menempelkan kloaka.

1. Sistem Genitalia Jantan.
E Testis berjumlah sepasang, berbentuk oval atau bulat, bagian permukannya licin, terletak di sebelah ventral lobus penis bagian paling kranial. Pada musim kawin ukurannya membesar. Di sinilah dibuat dan disimpan spermatozoa.
E Saluran reproduksi. Tubulus mesonefrus membentuk duktus aferen dan epididimis. Duktus wolf bergelung dan membentuk duktus deferen. Pada burung-burung kecil, duktus deferen bagian distal yang sangat panjang membentuk sebuah gelendong yang disebut glomere. Dekat glomere bagian posterior dari duktus aferen berdilatasi membentuk duktus ampula yang bermuara di kloaka sebagai duktus ejakulatori.duktus eferen berhubungan dengan epididimis yang kecil kemudian menuju duktud deferen. Duktus deferen tidak ada hubungannya dengan ureter ketika masuk kloaka.

2. Sistem Genitalia Betina.

  • Ovarium. Selain pada burung elang, ovarium aves yang berkembang hanya yang kiri, dan terletak di bagian dorsal rongga abdomen.
  • Saluran reproduksi, oviduk yang berkembang hanya yang sebelah kiri, bentuknya panjang, bergulung, dilekatkan pada dinding tubuh oleh mesosilfing dan dibagi menjadi beberapa bagian; bagian anterior adalah infundibulumyang punya bagian terbuka yang mengarah ke rongga selom sebagai ostium yang dikelilingi oleh fimbre-fimbre. Di posteriornya adalah magnum yang akan mensekresikan albumin, selanjutnya istmus yang mensekresikan membrane sel telur dalam dan luar. Uterus atau shell gland untuk menghasilkan cangkang kapur.

3. Proses Festilisasi
Pada burung betina hanya ada satu ovarium, yaitu ovarium kiri. Ovarium kanan tidak tumbuh sempurna dan tetap kecil yang disebut rudimenter. Ovarium dilekati oleh suatu corong penerima ovum yang dilanjutkan oleh oviduk. Ujung oviduk membesar menjadi uterus yang bermuara pada kloaka. Pada burung jantan terdapat sepasang testis yang berhimpit dengan ureter dan bermuara di kloaka.
Fertilisasi akan berlangsung di daerah ujung oviduk pada saat sperma masuk ke dalam oviduk. Ovum yang telah dibuahi akan bergerak mendekati kloaka. Saat perjalanan menuju kloaka di daerah oviduk, ovum yang telah dibuahi sperma akan dikelilingi oleh materi cangkang berupa zat kapur.
Telur dapat menetas apabila dierami oleh induknya. Suhu tubuh induk akan membantu pertumbuhan embrio menjadi anak burung. Anak burung menetas dengan memecah kulit telur dengan menggunakan paruhnya. Anak burung yang baru menetas masih tertutup matanya dan belum dapat mencari makan sendiri, serta perlu dibesarkan dalam sarang.
Proses Terbentuknya Telur Ayam. Diperlukan sekitar 15 hingga 16 jam untuk terbentuknya telur ayam setelah pembuahan.

4. Fungsi bagian-bagian telur aves :

  • Titik embrio –> bagian yang akan berkembang menjandi embrio
  • Kuning telur –> cadangan makanan embrio
  • Kalaza –> menjaga goncangan embrio
  • Putih telur –> menjaga embrio dari goncangan
  • Rongga udara –> cadangan oksigen bagi embrio

Jantung burung gereja berdetak 460 kali dalam semenit. Suhu tubuhnya adalah 108°F (42°C). Suhu tubuh setinggi ini, yang bisa berakibat kematian pada binatang darat, sangat penting bagi kelangsungan hidup sang burung. Tingkat energi yang tinggi yang diperlukan oleh burung untuk terbang dihasilkan oleh metabolisme tubuh yang cepat ini.

D. Sistem Peredaran Darah Pada Aves
Alat-alat transportasi pada burung merpati terdiri atas jantung dan pembuluh darah. Jantung terdiri atas empat ruang yaitu serambi kiri, serambi kanan, bilik kiri dan bilik kanan. Darah yang banyak mengandung oksigen yang berasal dari paru-paru tidak bercampur dengan darah yang banyak mengandung karbondioksida yang berasal dari seluruh tubuh. Peredaran darah burung merupakan peredaran darah ganda yang terdiri atas peredaran darah kecil dan peredaran darah besar.

E. Pengaturan Suhu Tubuh Pada Aves
Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi adalah elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun, ahli-ahli Biologi lebih suka menggunakan istilah ektoterm dan endoterm yang berhubungan dengan sumber panas utama tubuh hewan. Ektoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia.
Dalam pengaturan suhu tubuh, hewan harus mengatur panas yang diterima atau yang hilang ke lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Konduksi adalah perubahan panas tubuh hewan karena kontak dengan suatu benda. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi adalah emisi dari energi elektromagnet. Radiasi dapat mentransfer panas antar obyek yang tidak kontak langsung. Sebagai contoh, radiasi sinar matahari. Evaporasi proses kehilangan panas dari permukaan cairan yang ditranformasikan dalam bentuk gas.
Hewan mempunyai kemampuan adaptasi terhadap perubahan suhu lingkungan. Sebagai contoh, pada suhu dingin, mamalia dan burung akan meningkatkan laju metabolisme dengan perubahan hormon-hormon yang terlibat di dalamnya, sehingga meningkatkan produksi panas. Pada ektoterm (misal pada lebah madu), adaptasi terhadap suhu dingin dengan cara berkelompok dalam sarangnya. Hasil metabolisme lebah secara kelompok mampu menghasilkan panas di dalam sarangnya.

F. Kebiasaan Yang Bisa Terjadi Pada Aves
Burung berkembang biak dengan bertelur. Telur burung mirip telur reptil, hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur. Beberapa jenis burung seperti burung maleo dan burung gosong, menimbun telurnya di tanah pasir yang bercampur serasah, tanah pasir pantai yang panas, atau di dekat sumber air panas. Alih-alih mengerami, burung-burung ini membiarkan panas alami dari daun-daun membusuk, panas matahari, atau panas bumi menetaskan telur-telur itu; persis seperti yang dilakukan kebanyakan reptil.
Akan tetapi kebanyakan burung membuat sarang, dan menetaskan telurnya dengan mengeraminya di sarangnya itu. Sarang bisa dibuat secara sederhana dari tumpukan rumput, ranting, atau batu; atau sekedar kaisan di tanah berpasir agar sedikit melekuk, sehingga telur yang diletakkan tidak mudah terguling. Namun ada pula jenis-jenis burung yang membuat sarangnya secara rumit dan indah, atau unik, seperti jenis-jenis manyar alias tempua, rangkong, walet, dan namdur.
Anak-anak burung yang baru menetas umumnya masih lemah, sehingga harus dihangatkan dan disuapi makanan oleh induknya. Kecuali pada jenis-jenis burung gosong, di mana anak-anak burung itu hidup mandiri dalam mencari makanan dan perlindungan. Anak burung gosong bisa segera berlari beberapa waktu setelah menetas, bahkan ada pula yang sudah mampu terbang.
Jenis-jenis burung umumnya memiliki ritual berpasangan masing-masing. Ritual ini adalah proses untuk mencari dan memikat pasangan, biasanya dilakukan oleh burung jantan. Beberapa jenis tertentu, seperti burung merak dan cenderawasih, jantannya melakukan semacam tarian untuk memikat si betina. Sementara burung manyar jantan memikat pasangannya dengan memamerkan sarang setengah jadi yang dibuatnya. Bila si betina berkenan, sarang itu akan dilanjutkan pembuatannya oleh burung jantan hingga sempurna; akan tetapi bila betinanya tidak berkenan, sarang itu akan dibuang atau ditinggalkannya.

10.13. DAFTAR PUSTAKA
Ari Soeseno, 2008. Memelihara dan Beternak Burung Merpati. Yasaguna Jakarta.
Dudung AM, 2010. Cara Beternak Merpati Daging. Penebar Swadaya. Jakarta.
http://www.sentralternak.com





Diktat Aneka Ternak-Ulat Sutra

4 08 2012

BAB IX. Ulat Sutera (Bombyx mori L)
9.1. Pendahuluan
Di Tiongkok kuna, terdapat legenda bahwa sutra yang didapati dari ulat sutra dilihat oleh Ratu Xi Ling-Shi (Hanzi, pinyin: Léi Zǔ). Ia sedang bertamasya ketika ia melihat kepompong ulat sutra. Lalu digunakanlah jarinya untuk menyentuhnya, dan menakjubkan, selembar benang terkeluar ! Apabila semakin banyak keluar dan membaluti disekeliling jarinya, dia perlahan-lahan merasa panas. Apabila sutera itu habis, dia melihat kepompong kecil. Dengan serta merta, sang ratu menyadari bahawa kepompong itu merupakan sumber sutra.
Dia lalu bercerita kepada semua orang dan hal ini menjadi dikenal secara luas. Selain legenda ini, terdapat banyak legenda lain mengenai ulat sutra
Persuteraan Alam sudah cukup lama dikenal dan dibudidayakan oleh penduduk Indonesia. Mengingat sifat dan menfaatnya, maka Pemerintah melalui Departemen Kehutanan berupaya membina dan mengembangkan kegiatan persuteraan alam tersebut.
Budidaya ulat sutera dimaksudkan untuk menghasilkan benang sutera sebagai bahan baku pertekstilan. Untuk melaksanakan pemeliharaan ulat sutera, terlebih dahulu dilakukan penanaman murbei, yang merupakan satu-satunya makanan (pakan) ulat sutera  (Bombyx mori L).

3.2. Sutra

Sutra bertekstur mulus, lembut, namun tidak licin. Rupa berkilauan yang menjadi daya tarik sutra berasal dari struktur seperti prisma segitiga dalam serat tersebut yang membolehkan kain sutra membiaskan cahaya pada pelbagai sudut.
“Sutra liar” dihasilkan oleh ulat selain ulat sutra murbei dan dapat pula diolah. Pelbagai sutra liar dikenali dan digunakan di Cina, Asia Selatan, dan Eropa sejak zaman silam, namun skala produksinya selalu jauh lebih kecil daripada sutra ternakan. Sutra liar berbeda dari sutra ternakan dari segi warna dan tekstur, dan kepompong liar yang dikumpulkan biasanya sudah dirusak oleh ngengat yang keluar sebelum kepompong tersebut diambil, sehingga benang sutra yang membentuk kepompong itu sudah terputus menjadi pendek. Ulat sutra ternakan dibunuh dengan dicelup ke dalam air mendidih sebelum keluarnya ngengat dewasa, atau dicucuk dengan jarum, sehingga seluruh kepompong dapat diurai menjadi sehelai benang yang tak terputus. Ini membolehkan sutra ditenun menjadi kain yang lebih kuat. Sutra liar biasanya juga lebih sukar dicelup warna daripada sutra ternakan.
Sutra juga dihasilkan oleh beberapa jenis serangga lain, namun hanya jenis sutra dari ulat sutra yang digunakan untuk pembuatan tekstil. Pernah juga dijalankan kajian terhadap sutra-sutra lain yang menampakkan perbedaan dari aspek molekul. Sutra dihasilkan terutama oleh larva serangga yang bermetamorfosis lengkap, tetapi juga dihasilkan oleh beberapa serangga dewasa seperti Embioptera. Produksi sutra juga kerap dijumpai khususnya pada serangga ordo hymenoptera (lebah, tabuhan, dan semut), dan kadang kala digunakan untuk membuat sarang. Jenis-jenis arthropoda yang lain juga menghasilkan sutra, terutama arachnida seperti laba-laba.

9.3. Manfaat
Manfaat kegiatan persuteraan alam sebagai berikut :
a. Mudah dilaksanakan dan memberikan hasil dalam waktu yang relatif singkat;
b. Memberikan tambahan pendapatan kepada masyarakat khusunya di pedesaan;
c. Memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya;
d. Mendukung kegiatan reboisasi dan penghijauan.
e. Manfaat medis
Ulat sutra yang digunakan untuk pengobatan tradisional China adalah “Bombyx batryticatus” atau “ulat sutra kaku” (Hanzi sederhana, tradisional: pinyin: āngcán). Ia adalah larva kering 4–5th yang mati akibat penyakit muskadin putih disebabkan oleh jamur Beauveria bassiana, dimanfaatkan untuk mengobati masuk angin, mencairkan dahak dan meringankan kejang-kejang
f. Manfaat untuk Makanan
Ulat sutra dikonsumsi di sejumlah kebudayaan. Di Korea, ulat sutra yang direbus sertadibumbui merupakan makanan ringan yang populer dan dikenal sebagai beondegi. Di China, sejumlah pedagang jalanan menjual ulat sutra yang dipanggang.

9.4. Klasifikasi Ilmiah
Karena sejarahnya yang panjang dan nilai ekonominya yang tinggi, genom ulat sutra menjadi salah satu objek penelitian ilmiah

9.5. Siklus Hidup
a. Ngengat Ulat Sutra
Ngengat sutera atau sutra (Bombyx mori: “ulat murbei“) adalah ngengat yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai penghasil serat/benang sutra. Makanan ulat sutra hanyalah daun murbei (Morus alba).Telur ngengat sutra membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas. Ulatnya membentuk kepompong sutera mentah, yang setelah dipintal bisa menghasilkan benang sutra sepanjang 300 hingga 900 meter per kepompong. Seratnya berdiameter sekitar 10 mikrometer.
Sebagaimana umumnya larva/ulat, ulat sutra sangat rakus; makan sepanjang siang dan malam sehingga tumbuh dengan cepat. Apabila warna kepalanya sudah menjadi semakin gelap, ulat sutra akan segera berganti kulit/cangkang. Dalam hidupnya, ulat sutra mengalami empat kali ganti kulit, hingga berwarna kekuningan dan lebih ketat, yang menjadi tanda akan segera membungkus diri dengan kepompong.
Sebelum ulat sutra menjadi matang dan keluar dari kepompongnya (kepompong digigiti hingga rusak dan tidak bernilai ekonomi), kepompong tersebut kemudian direbus untuk membunuh ulat sutra dan memudahkan penguraian seratnya. Adapun kupu-kupu dewasa yang dipelihara untuk bibit ulat sutra tidak bisa terbang.

b. Siklus Hidup

9.6. Persiapan Pemeliharaan Ulat Sutera
Sebelum kegiatan pemeliharaan ulat sutera dimulai, beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti : tersedianya daun murbei sebagai pakan ulat sutera, ruang dan peralatan pemeliharaan serta pemesanan bibit/telur ulat sutera.
a.Penyediaan Daun Murbei :

  1. Daun murbei untuk ulat kecil berumur pangkas $ 1 bulan dan untuk ulat besar berumur pangkas 2-3 bulan;
  2. Tanaman murbei yang baru ditanam, dapat dipanen setelah berumur 9 bulan;
  3. Untuk pemeliharaan 1 boks ulat sutera, dibutuhkan 400-500 kg daun murbei tanpa cabang atau 1.000 – 1.200 kg daun murbei dengan cabang;
  4. Daun murbei jenis unggul yang baik untuk ulat sutera adalah : Morus alba, M. multicaulis, M. cathayana dan BNK-3 serta beberapa jenis lain yang sedang dalam pengujian oleh Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan.
  5. (Secara terperinci tentang Budidaya Tanaman Murbei tertera pada Bagian Terakhir dari Materi ini).

b.Ruangan Peralatan.

  1. Tempat pemeliharaan ulat kecil sebaiknya dipisahkan dari tempat pemeliharaan ulat besar;
  2. Pemeliharaan ulat kecil dilaksanakan pada tempat khusus atau pada Unit Pemeliharaan Ulat Kecil (UPUK);
  3. Ruang pemeliharaan harus mempunyai ventilasai dan jendela yang cukup:
  4. Bahan-bahan dan peralatan yang perlu disiapkan adalah : Kapur tembok, kaporit/papsol, kotak/rak pemeliharaan, tempat daun, gunting stek, pisau, ember/baskom, jaring ulat, ayakan, kain penutup daun, hulu ayam, kerta alas, kerta minyak/parafin, lap tangan dan lain-lain;
  5. Desinfeksi ruangan dan peralatan, dilakukan 2-3 hari sebelum pemeliharaan ulat sutera dimulai, menggunakan larutan kaporit 0,5% atau formalin (2-3%), disemprotkan secara merata;
  6. Apabila tempat pemeliharaan ulat kecil berupa UPUK yang berlantai semen, maka setelah didesinfeksi dilakukan pencucian.

c.Pesanan Bibit.

  1. Pesanan bibit disesuaikan dengan jumlah daun yang tersedia dan kapasitas ruangan serta peralatan pemeliharaan;
  2. Bibit dipesan selambat-lambatnya 10 hari sebelum pemeliharaan ulat dimulai melalui petugas / penyuluh atau langsung kepada produsen telur;
  3. Apabila bibit/telur telah diterima, lakukan penanganan telur (inkubasi) secara baik agar penetasannya seragam.

Caranya adalah sebagai berikut :

  1. Sebarkan telur pada kotak penetasan dan tutup dengan kertas putih yang tipis;
  2. Simpan pada tempat sejuk dan terhindari dari penyinaran matahari langsung, pada suhu ruangan 25° -28° C dengan kelembaban 75-85%;
  3. Setelah terlihat bintik biru pada telur, bungkus dengan kain hitam selama ± 2 hari

9.5. PELAKSANAAN PEMELIHARAAN ULAT SUTERA
Rangkaian Kegiatan pemeliharaan ulat sutera meliputi pemeliharaan ulat kecil, pemeliharaan ulat besar serta mengokonkan ulat.
1) Pemeliharaan Ulat Kecil
Pemeliharaan ulat kecil didahului dengan kegiatan “Hakitate” yaitu pekerjaan penanganan ulat yang baru menetas disertai dengan pemberian makan pertama.

  1. Ulat yang baru menetas didesinfeksi dengan bubuk campuran kapur dan kaporit (95:5), lalu diberi daun murbei yang muda dan segar yang dipotong kecil-kecil;
  2. Pindahkan ulat ke sasag kemudian ditutup dengan kertas minyak atau parafin;
  3. Pemberian makanan dilakukan 3 kali sehari yakni pada pagi, siang, dan sore hari;
  4. Pada setiap instar ulat akan mengalami masa istirahat (tidur) dan pergantian kulit. Apabila sebagian besar ulat tidur ($ 90%), pemberian makan dihentikan dan ditaburi kapur. Pada saat ulat tidur, jendela/ventilasi dibuka agar udara mengalir;
  5. Pada setiap akhir instar dilakukan penjarangan dan daya tampung tempat disesuaikan dengan perkembangan ulat;
  6. Pembersihan tempat ulat dan pencegahan hama dan penyakit harus dilakukan secara teratur.

Pelaksanaanya sebagai berikut :

  1. Pada instar I dan II, pembersihan dilakukan masing-masing 1 kali. Selama instar III dilakukan 1-2 kali yaitu setelah pemberian makan kedua dan menjelang tidur;
  2. Penempatan rak/sasag agar tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng berisi air, untuk mencegah gangguan semut;
  3. Apabila lantai tidak ditembok, taburi kapur secara merata agar tidak lembab;
  4. Desinfeksi tubuh ulat dilaksanakan setelah ulat bangun tidur, sebelum pemberian makan pertama.

Penyalur ulat kecil dari UPUK ke tempat pemeliharaan petani / kolong rumah atau Unit Pemeliharaan Ular Besar (UPUB), dilakukan ketika sedang tidur pada instar III. Perlakuan pada saat penyaluran ulat sebagai berikut :

  1. Ulat dibungkus dengan menggulung kertas alas;
  2. Kedua sisi kertas diikat dan diletakkan pada posisi berdiri agar ulat tidak tertekan;
  3. penyaluran ulat sebaiknya dilaksanakan pada pagi atau sore hari.

Hakitat Jadwal Pemeliharaan Ulat Kecil

b. Pemeliharaan Ulat Besar.
Kondisi dan perlakuan terhadap ulat besar berbeda dengan ulat kecil. Ulat besar memerlukan kondisi ruangan yang sejuk. Suhu ruangan yang baik yaitu 24-26° C dengan kelembapan 70-75%.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ulat besar adalah sebagai berikut :

  1. Ulat besar memerlukan ruangan/tempat pemeliharaan yang lebih luas dibandingkan dengan ulat kecil;
  2. Daun yang dipersiapkan untuk ulat besar, disimpan pada tempat yang bersih dan sejuk serta ditutup dengan kain basah;
  3. Daun murbei yang diberikan pada ulat besar tidak lagi dipotong-potong melainkan secara utuh (bersama cabangnya).
  4. Penempatan pakan diselang-selingi secara teratur antara bagian ujung dan pangkalnya;
  5. Pemberian makanan pada ulat besar (instar IV dan V) dilakukan 3-4 kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari;
  6. Menjelang ulat tidur, pemberian makan dikurangi atau dihentikan. Pada saat ulat tidur ditaburi kapur secara merata;
  7. Desinfeksi tubuh ulat dilakukan setiap pagi sebelum pemberian makan dengan menggunakan campuran kapur dan kaporit (90:10) ditaburi secara merata;
  8. Pada instar IV, pembersihan tempat pemeliharaan dilakukan minimal 3 kali, yaitu pada hari ke-2 dan ke-3 serta menjelang ulat tidur;
  9. Pada instar V, pembersihan tempat dilakukan setiap hari;
  10. Seperti pada ulat kecil, rak/sasag ditempatkan tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang berisi air.

c. Mengokonkan Ulat.
Pada instar V hari ke-6 atau ke-7 ulat biasanya akan mulai mengokon. Pada suhu rendah ulat akan lebih lambat mengokon. Tanda-tanda ulat yang akan mengokon adalah sebagai berikut :

  • Nafsu makan berkurang atau berhenti makan sama sekali;
  • tubuh ulat menjadi bening kekuning-kuningan (transparan);
  • Ulat cenderung berjalan ke pinggir;
  • Dari mulut ulat keluar serat sutera.

Apabila tanda-tanda tersebut sudah terlihat, maka perlu di ambil tindakan sebagai berikut :

  • Kumpulkan ulat dan masukkan ke dalam alat pengokonan yang telah disiapkan dengan cara menaburkan secara merata.
  • Alat pengokonan yang baik digunakan adalah : rotari. Seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami yang dipuntir membentuk sikat tabung)

9.8. Panen dan Penanganan Kokon.
Panen dilakukan pada hari ke-5 atau ke-6 sejak ulat mulai membuat kokon. Sebelum panen, ulat yang tidak mengokon atau yang mati diambil lalu dibuang atau dibakar.
Selanjutnya dilakukan penanganan kokon yang meliputi kegiatan sebagai berikut :

  • Pembersihan kokon, yaitu menghilangkan kotoran dan serat-serat pada lapisan luar kokon;
  • Seleksi kokon, yaitu pemisahan kokon yang baik dan kokon yang cacat/jelek;
  • Pengeringan kokon, yaitu penanganan terhadap kokon untuk mematikan pupa serta mengurangi kadar air dan agar dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu;
  • Penyimpanan kokon, dilakukan apabila kokon tidak langsung dipintal/dijual atau menunggu proses pemintalan.

Cara penyimpanan kokon adalah sebagai berikut :

  • Dimasukkan ke dalam kotak karton, kantong kain/kerta;
  • Ditempatkan pada ruangan yang kering atau tidak lembab;
  • Selama penyimpanan, sekali-sekali dijemur ulang di sinar matahari;
  • Lama penyimpanan kokon tergantung pada cara pengeringan, tingkat kekeringan dan tempat penyimpanan

9.9. Pemintalan Benang sutra

9.10. Analisis Usaha Tani

9.11. BUDIDAYA MURBEI
A. Biologi dan Kimia Murbei
Pohon murbei merupakan tumbuhan asli Pegunungan Himalaya. Sekarang, pohon murbei menyebar baik di daerah tropik maupun daerah sub tropik mulai dari ketinggian 0 – 4000 m dpl. Pohon murbei termasuk ke dalam genus Morus.

B. Klasifikasi
Murbei termasuk ke dalam genus Morus, family Moraceae.Ordo Klas Dicotyledonae. Pohon murbei memiliki lebih dari 35 species dan sub species (Ryu, 1998). Berdasarkan long style bunga jantan species murbei dikelompokkan ke dalam Dolychostyle dan Macromorus .

C. Species dan Varietas
Tidak kurang dari 100 species murbei yang telah dikenal. Akan tetapi yang sering dibudidayakan untuk kepentingan budidaya ulat sutera adalah Morus Alba, Morus Cathayana dan Morus Multicaulis.

D. PENANAMAN
1. Pemilihan Varietas
Murbei varietas lokal adalah varietas yang mampu beradaptasi dengan lingkungan setempat secara baik. Karenanya pemelihan jenis lokal yang mempunyai produksi tinggi adalah cara yang terbaik. Akan tetapi, produksi daun jenis lokal umumnya rendah, sehingga secara ekonomis kurang menguntungkan. Apabila ingin mengintroduksi varietas murbei asing (didatangkan dari luar) maka harus dipilih varietas yang betul-betul bisa beradaptasi dengan kondisi lingkungan baru.
Di bawah ini disajikan beberapa varietas murbei unggul dan dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan Indonesia.

2. Persiapan Lahan
Persiapan lahan meliputi kegiatan pembersihan lapangan, pengolahan tanah dan pembuatan bangunan konservasi tanah. Tujuan kegiatan persiapan lahan adalah untuk menyediakan media tumbuh yang baik guna pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

a. Pembersihan lapangan
(1) Lahan bervegatasi alang-alang
Cara manual
Setelah alang-alang dan semak belukar dibabat kemudian disimpan di suatu tempat. Dikenal dua cara pemusnahan hasil babatan, yaitu dengan cara dibuat kompos dan cara pembakaran terkendali. Sebelum dilakukan pembakaran, buat ilaran api, yaitu dengan cara membersihkan lahan di sekitar batas lahan selebar 2-3 m. Untuk area yang luas, lahan dibagi kedalam beberapa petak. Luas masing-masing petak tidak lebih dari 0,5 Ha. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembakaran adalah : 1) dilakukan tidak pada saat kecepatan angin tinggi, 2) berlawanan dengan arah angin, dan dikerjakan pada malam hari. Setelah dilakukan pembakaran, lanjutkan dengan kegiatan pem karan tunggul dan akar tanaman.

Cara Kimia
Cara ini dikerjakan apabila kondisi alang-alang masih relatif pendek dan populasi perdu masih jarang. Herbisida yang dapat diaplikasikan adalah round up dengan dosis 10 lt/ Ha. Setelah vegetasi mengering dapat dilanjutkan dengan kegiatan pengolahan tanah.

(2) Lahan bekas hutan skunder
Cara Manual ; Pepohonan ditebang, kemudian tunggulnya di kar. Tidak menebang pohon didekat sumber air merupakan kegiatan yang sangat bijaksana. Lanjutkan kegiatan dengan pembakaran terkendali.
Cara mekanis; Pepohonan yang berdiameter <> 30 cm di kar dengan traktor yang dilengkapi pisau (blade) dan pendorong pohon. Cara mekanis hanya bisa dikerjakan pada lahan kemiringan <>
Cara Kimia : Cara ini dikerjakan apabila kedua cara diatas tidak memperlihatkan hasil yang memuaskan. Bahan kimia yang digunakan adalah round-up atau trioxon yang dicampur dengan solar. Untuk mengaplikasikan cara ini, lukai kulit pohon dan kemudian oleskan 5 % trioxon pada. Gunakan kuas untuk pelaksanaan pengolesan.

(3) Lahan bekas kebun murbei
Alang-alang atau rumput lainnya dibabat atau disemprot dengan herbisida. Pohon murbei di tebang dan golnya di kar. Upayakan pemotongan sampai ke daerah perakaran. Apabila dengan cara ini pohon murbei masih mengeluarkan cabang, gunakan cara kimia yaitu dengan mencampur roubd-up dan olie bekas kedalam solar. Dengan menggunakan kuas, oleskan cairan tersebut pada bagian yang dipotong. Pekerjaan ini, sebaiknya diaplikasikan pada musim kemarau. Untuk mencegah penyakit akar (yang ditinggalkan oleh tanaman lama), semprot tanah dengan bacterisida.

b. Penentuan Arah Barisan
Pada lahan miring, arah barisan tanaman sejajar garis kontur. Hal ini dimaksudkan utnuk meminimalkan tingkat erosi yang terjadi. Untuk tempat yang datar, arah barisan sebaiknya mengikuti arah barisan pada tempat yang miring.

3. Lubang Tanam
Sebelum murbei mencapai umur 6 bulan, akar masih muda dan mudah patah. Karenanya, supaya tanah dapat ditembus oleh akar, diperlukan kondisi tanah yang gembur dan memiliki kandungan hara mineral yang cukup. Untuk kepentingan ini, maka perlu dubuat lubang tanam yang dilengkapi dengan hara mineral yang cukup. Disamping itu, lubang tanam yang yang dibuat harus dalam, karena setelah dewasa akar murbei dapat mencapai kedalaman lebih dari 1 m dan akar menyebar paling banyak pada kedalaman 40 – 80 cm (gambar ). Untuk itu, maka kedalaman lubang tanamn minimal 40 cm.
Dikenal 2 jenis lubang tanam, yaitu lubang dalam bentuk bujur sangkar (parsial) dan lubang dalam bentuk parit (memanjang). Lubang dalam bentuk bujur sangkar, diaplikasikan apabila jarak dalam barisan agak lebar, sedang sistem parit diterapkan apabila jarak dalam barisan cukup rapat dan ukuran lubang tanam cukup lebar.

Langkah kerja untuk membuat lubang tanam adalah sebagai berikut :
- Lubang Bujursangkar
Setelah ditentukan arah barisan tanaman, buat lubang ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm atau 40 cm x 40 cm x 40 cm. Dalam proses pembuatan, pisahkan antara lapisan top soil dan lapisan sub soil. Untuk memudahkan pekerjaan di lapangan, (sebelum pembuatan lubang) tugaskan para pekerja menghadap kearah timur. Tanah digali kemudian top soil diletakkan sebelah utara lubang sedangkan, sub soil diletakkan disebelah Selatan. Dua minggu kemudian, masukkan kompos / pupuk kandang matang kedalam lubang dan diaduk dengan lapisan top soil yang diletakkan di sebelah utara. Pada saat ini, bila tanah masam dapat diaplikasikan kapur pertanian secukupnya. Setelah pengadukan selesai, lubang diurug dengan lapisan sub soil dan beri tanda dengan ajir untuk menandai lubang. Dua minggu kemudian, lakukan penanaman.

- Lubang bentuk parit.
Di Lahan Datar
Seteleh ditentukan arah barisan, lakukan penggalian tanah disepanjang letak barisan tanaman. Lebar 40 cm , dan dalam 40 – 45 cm. Simpan top soil di sebelah Utara dan sub soil di sebelah Selatan (posisi tenaga kerja menghadap ke Timur). Dua minggu kemudian, tebarkan 1 karung (40 Kg) kompos / pupuk kandang yang matang di setiap 160 meter parit, kemudian ratakan dan aduk dengan lapisan top soil yang disimpan di sebelah utara parit. Tutup parit dengan tanah sub soil (yang disimpan di sebelah Selatan) Dua minggu kemudian, lakukan kegiatan penanaman.

Dilahan Miring
Tentukan arah dan letak barisan tanaman. Penentuan letak barisan tanaman dilakukan dengan cara menancapkan ajir pada tempat yang memiliki ketinggian yang sama (garis kontur). Gali tanah di sepanjang rencana barisan tanaman. Tanah hasil penggalian di tempatkan di sebelah bawah lubang hasil penggalian, yang selanjutnya diratakan. Masukkan top soil sebelah atas lubang ke dalam lubang yang dibuat, kemudian aduk dengan pupuk organik. Bila tanah masam beri kapur secukupnya. Lakukan penanaman murbei. Untuk menimbun dan menutupi lubang tanam, tanah di ambil dari rencana parit. Tanah disepanjang barisan tanaman agak ditinggikan. Untuk membuang air yang ditampung parit (pada musim hujan), buat saluran Pembuangan Air (SPA) dengan arah memotong parit / barisan tanaman. Interval SPA yang satu dengan yang lainnya + 100 m.

E. Pangkas
1. Pangkas
Dalam serikulture, budidaya murbei bertujuan untuk menyediakan pakan bagi ulat sutera dalam jumlah cukup, berkualitas baik, sinambung dan mudah dipanen. Pohon murbei yang tidak dilakukan pemotongan batang atau cabang, tumbuhnya seperti pohon lainnya, yaitu dapat mencapai ketinggiaan di atas 10 m. Keadaan ini akan menyulitkan dalam panen daun disamping rendahnya kualitas dan kuantitas daun yang dihasilkan.
Kegiatan pemangkasan batang / cabang dapat merangsang pertumbuhan cabang baru, karena setelah dipotong, energi yang dimiliki pohon murbei di arahkan ke tunas dan tidak lama kemudian (+ 10 hari ) tunas baru akan merekah. Namun demikian kegiatan pemangkasan akan berpengaruh kurang baik terhadap kesehatan pohon murbei, yaitu dapat menguras zat cair (getah) dalam tubuh murbei. Dan hal ini (bila teralu banyak getah yang keluar) akan mengakibatkan kematian. Untuk meminimalkan kerugian akibat pangkas, maka kegiatan pemangkasan perlu diatur dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan.

a.Pangkas bentuk
Pangkas ini bertujuan untuk membentuk pohon murbei seperti perdu. Berdasarkan tinggi batang pokok, dibedakan ke dalam : perdu rendah, perdu sedang dan perdu tinggi. Pangkas bentuk merupakan pangkas yang pertama setelah murbei di tanam di lapangan dan biasanya dilakukan setelah 6 bulan sejak tanam.

Tabel Klassifikasi pohon murbei berbadarkan tinggi batang pokok

Perdu rendah mempunyai kelebihan bila dibanding dengan perdu sedang dan tinggi, yaitu 1) produksi tinggi, 2) ukuran cabang dan daun seragam, 3) mudah dalam pengendalian hama dan penyakit dan 4) kandungan air tinggi. Namun demikian perdu rendah tidak layak dikembangkan di daerah rawan banjir atau rawa.
Pelaksanaan pangkas bentuk dilakukan pada tanaman umur 6 – 9 bulan sejak tanam. Akan tetapi, apabila terjadi kasus seperti tanaman telah berumur 6 bulan, tetapi kondisi lingkungan kering (menghadapi musim kemarau atau tidak ada irigasi), pangkas bentuk dapat ditangguhkan sampai kondisi tanah cukup air. Pemangkasan pada saat kering bisa mematikan tanaman. Sedang untuk memanfaatkan daun yang tumbuh, dapat dilakukan dengan cara panen rempel.
Pada setiap bentuk perdu dikenal dua macam bentuk bongol, yaitu bentuk bongol jari tangan (finger form atau non-fistform) dan bentuk bongol kepalan tangan (Fist form).

Bentuk bonggol jari tangan (finger form / non-fist form)
Bentuk ini merupakan model lama dari bentuk bongol murbei. Cabang yang tumbuh berasal dari mata tunas yang berumur kurang satu tahun. Untuk membuat bentuk bongol jari tangan ikuti langkah berikut :

  • Pada tanaman yang telah berumur 6 bulan sejak tanam, lakukan pangkas bentuk atau pemotongan batang pokok setinggi 20 cm di atas permukaan tanah
    Cabang yang muncul dari batang pokok (cabang primer) dipelihara sebanyak 2 cabang. Setelah cabang primer layak panen, lakukan pemangkasan pada ketinggian 20 cm dari dasar cabang primer.
  • Dari setiap cabang primer, selanjutnya dipelihara 2 cabang baru (cabang skunder), sehingga total cabang skunder sebanyak 4 cabang. Selanjutnya setelah layak panen, cabang dipangkas pada ketinggian 10 cm dari dasar cabang sekunder
  • Dari setiap cabang skunder masing-masing dipelihara 2 cabang baru (cabang tersier) sehingga total cabang tersier sebanyak 8 cabang. Setelah layak panen dipangkas pada ketinggian 10 cm dari dasar cabang tersier.
  • Dari setiap cabang tersier masing-masing dipelihara 2 cabang baru (cabang kuarter) sehingga total cabang kuarter sebanyak 16 cabang. Setelah layak panen, dipangkas pada ketinggian 10 cm dari dasar cabang tersier.
  • Untuk membentuk kepala bongol seperti tangan mengepal, pelaksanaannya hampir sama dengan bentuk sebelumnya. Adapun yang membedakannya adalah, terletak pada pemangkasan cabang primer, skunder, tersier dan kuarter dilakukan pada ketinggian 2-3 cm dari dasar cabang. Sedangkan pemangkasan cabang produksi berikutnya, dilakukan pada ketinggian 1 cm diatas dasar cabang.

Bentuk bonggol Kepalan Tangan (fist form)
Untuk membentuk kepala bongol seperti Kepalan tangan, pelaksanaannya adalah :

  • Enam bulan hst, dipotong pada ketinggian 15 cm dari permukaan tanah
  • Tiga bulan berikutnya, cabang yang muncul dipotong pada ketinggian 2-3 cm dari pangkal cabang sebelumnya. Kegiatan ini dilakukan hingga  berumur 2 tahun.
  • Setelah murbei mencapai diatas 2 tahun, pemangkasan dilakukan pada ketinggian 1 cm diatas cabang sebelumnya

F. Pemangkasan Cabang
1. Pangkas Bawah (base cutting)
Cabang murbei dipotong pada ketinggian 1 cm diatas cabang sebelumnya. Metoda ini 1) cocok untuk penyediaan pakan bagi ulat besar, 2 ) cocok untuk pengadaan stek, 3 ) mudah dikerjakan, baik menggunakan gunting maupun grass cutter dan 4) hemat tenaga dibanding metoda rempel. Kelemahannya yaitu : 1) bulu-bulu akar banyak yang rontok, 2) cabang yang muncul pasca pangkas, peka terhadap penyakit, 3) diperlukan pupuk yang lebih banyak.

2. Pangkas sedang
Cabang murbei dipotong ditengah-tengah cabang. Kelebihannya, 1) layak untuk penyediaan pakan ulat besar, 2) menghemat tenaga kerja, terutama dalam pengangkutan, serta 3) dapat meminimalkan serangan penyakit. Kelemahannya, grass cutter sulit diaplikasikan.

3. Pangkas Tinggi
Cabang murbei dipotong pada ketinggian sepertiga panjang cabang kearah pucuk. Kelebihan cara ini yaitu : 1) mampu meminimalkan serangan penyakit, 2) layak untuk tahapan pengadaan stek. Kelemahannya : Boros tenaga, yaitu panen daun yang terletak dua pertiga kearah pangkal harus dipanen secara rempel.

4. Jenis Pangkas cabang
Pemotongan cabang tidak dilakukan pada semua cabang yang tumbuh, tetapi hanya sepertiga atau setengah jumlah cabang. Untuk pemanenan cabang yang belum dipotong dilakukan pada periode berikutnya. Kelebihan cara panen semacam ini, yaitu:

  • dapat meminimalkan kerusakan fisiologis (JOCV, 1975) dan
  • mencegah tumbuhnya tunas air. Kelemahannya boros tenaga dan grass cutter tidak bisa dioperasionalkan.

Pemotongan dengan meninggalkan satu cabang
Pemotongan cabang tidak dilakukan pada seluruh cabang, tetapi ditinggalkan satu cabang. Hal ini dimaksudkan supaya tanaman tidak mengalami strees yang berat.

G. Panen
1. Metoda Rempel
Dari cabang murbei daun dipetik satu persatu bersama petiol. Sedangkan cabang murbei tetap tumbuh dalam pohon. Panen semacam ini biasanya dilakukan untuk pengadaan pakan ulat kecil atau pengendalian hama penyakit. Pada penyediaan pakan bagi ulat besarpun dapat diterapkan, apabila cabnagnya diarahkan untuk pengadaan bibit (stek). Kelebihan panen secara rempel adalahdaun yang dipanen umumnya sehat, karena pada saat panen hanya daun yang baik yang dipetik. Kelemahannya boros tenaga kerja.
Panen daun secara rempel a) panen seluruh daun kecuali pucuk, b) panen seluruh daun (kecuali pucuk ) yang dilanjutkan dengan kegiatan pangkas tinggi.

2. Pengaturan jenis panen

Pangkas bawah merupakan pengambilan organ tanman yang paling besar. Bila setiap panen dilakukan dengan cara ini, maka panjang hidup tanaman akan diperpendek, karena sering terganggunya aktivitas fisiologis. Untuk menekan kerugian semacam ini, maka perlu dilakukan pengaturan panen, yaitu dengan cara mengkombinasikan beberapa metoda panen.

H. Hama dan Penyakit Murbei


Sekian terimakasih dan semoga sesuatu yang alami tetap terjaga kelestariannya.





Diktat Aneka Ternak-Katak

4 08 2012

8.1. Sejarah singkat
Sejarah kodok tidak diketahui asalnya, karena hampir ditemukan di manamana, karena kemampuannya untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Kodok yang banyak dibudidayakan di Indonesia (Rana catesbeiana ) berasal dari Taiwan, kendati kodok itu semula berasal dari Amerika Selatan.
Budidaya kodok telah dilakukan di beberapa negara, baik negara beriklim panas maupun beriklim 4 musim. Tercatat negara-negara Eropa yang telah membudidayakan kodok antara lain : Prancis, Belanda, Belgia, Albania, Rumania, Jerman Barat, Inggris, Denmark dan Yunani, Amerika Serikat dan Meksiko. Sedangkan di Asia, Cina, Bangladesh, Indonesia, Turki, India dan Hongkong yang telah membudidayakan kodok.

8.2. Sentra Peternakan
Mulanya uji coba budidaya kodok dilakukan di Klaten (Balai bibit ikan), yang kemudian meluas ke Jawa tengah. Di Jawa Barat pembudidayaan kodok banyak ditemui di daerah pesisir Utara, disamping membudidayakan kodok masyarakat pesisir Utara juga menangkap dari alam. Kemudian di Sumatera Barat dan Bali juga merupakan sentra pembudidayaan kodok.

8.3. Jenis
Kodok tergolong dalam ordo Anura, yaitu golongan amfibi tanpa ekor. Pada ordo Anura terdapat lebih dari 250 genus yang terdiri dari 2600 spesies.

Terdapat 4 jenis kodok asli Indonesia yang di konsumsi oleh masyarakat kita yaitu:
a) Rana Macrodon (kodok hijau)
Sesuai namanya tubuhnya berwarna hijau dan dihiasi totol-totol coklat kehijauan. Badan bagian depan lebih tinggi dibandingkan badan bagian belakang. Di alam bebas kodok hijau  dapat  tumbuh mencapai ukuran 15 cm panjang badannya. Pahanya panjang, sedangkan dagingnya berwarna kekuningan. Selain itu hidup disungai-sungai, jenis kodok juga hidup di sawah-sawah.

b) Rana Cancrivora (kodok sawah)
Nama kodok ini sesuai dengan tempat hidupnya yaitu di sawah-sawah. Salah satu cirinya adalah terdapat bercak-bercak coklat tua pada punggung dari depan sampai belakang. Badannya lebih rata. Bila dewasa ukuran tubuhnya dapat mencapai 10 cm. Warna daging putih.

c) Rana Limnocharis (kodok rawa atau kodok totol)
Kodok rawa banyak terdapat di rawa-rawa. Daging jenis kodok ini  mempunyai  rasa yang paling enak daripada kedua jenis kodok di atas. Namun demikian ukuran tubuhnya lebih kecil yaitu hanya 8 cm saja. Ciri lain dari kodok rawa adalah warna kulit coklat dengan totol-totol coklat gelap. Oleh karenanya kodok ini disebut juga kodok totol.

d) Rana Musholini (kodok batu/raksasa).
Kodok ini dijuluki kodok raksasa karena ukuran tubuhnya tergolong besar. Berat badan nya dapat mencapai 1,5 Kg dan panjang tubuhnya mencapai 22 cm. Kodok betina biasanya lebih besar daripada kodok jantan.
Ciri khas kodok raksasa adalah kepala berbentuk pipih dan moncong halus berbentuk segitiga (triangular), ujung moncong ada yang runcing dan ada pula yang tumpul. Gendang telinganya terlihat jelas. Pada kelopak matanya terdapat bintil-bintil. Pada bagian kepala dan punggung warna kulitnya coklat kelabu muda atau kelabu hitam sampai hitam dengan bercak-bercak hitam dan coklat. Pada bagian perut warna kulitnya putih bersih. Secara umum keseluruhan permukaan kulitnya, baik punggung maupun perut bila diraba terasa lebih halus.
Pada mula jenis kodok ini hanya ditemukan didaerah Sumatra Barat, terutama di sekitar Payakumbuh yang berketinggian 500 meter di atas permukaan laut. Habitat alaminya berupa bebatuan. Oleh karena itu jenis kodok ini dinamakan juga kodok batu. Konon, karena ukurannya yang besar, kodok ini dapat melompat hingga 8 meter jauhnya.

Selain keempat jenis kodok asli Indonesia, masih ada 3 jenis kodok lain yang dapat dikonsumsi. Karena ukuran tubuhnya besar, maka ketiga jenis kodok ini merupakan kodok unggul. Masing-masing jenis tersebut adalah :

a.Kodok Lembu atau kodok banteng Amerika (Rana catesbiana)
Kodok yang berukuran besar ini berasal dari Amerika selatan. Ukuran tubuhnya dapat mencapai 20 cm. Ukuran pahanya lumayan besar dan rasanya lebih lezat dibanding kan semua jenis kodok konsumsi. Seperti umumnya jenis kodok, maka kodok lembu betina cenderung berukuran lebih besar daripada kodok jantan.
Badannya tegak dan kuat dengan warna kulit coklat kehijauan yang dilengkapi dengan benjolan-benjolan kecil. Kodok lembu senang mendiami tempat-tempat berair tenang dan dangkal. Di Amerika Selatan, kodok ini muncul dari tidur musim dinginnya pada bulan Mei dan kemudian berkembang biak pada Bulan Juli. Kodok Lembu ini lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Oleh karenanya, kodok lembu cepat berkembang  di berbagai Negara termasuk di Indonesia.
Selain itu di Amerika ada jenis lain yaitu Rana clamitans, Rana glylo, Rana Pipiens, Rana sphemocephala dan Rana palustris. Sedangkan species yang mirip Rana catesbiana dan berkembang di Eropa adalah Rana escuelenta, di Kepulauan Solomon Rana guppy.

b.Kodok Banteng Afrika (Pyxicephalus adspersus)
Kodok Banteng Afrika tumbuh hingga mencapai panjang 22,5 cm. Sedikit lebih besar dari ukuran kodok lembu. Berbeda dengan jenis kodok lainnya, dimana kodok banteng afrika ini justru yang jantan berukuran tubuh lebih besar dibandingkan dengan betina.
Badannya gemuk pendek dan berwarna hijau kekuningan, dengan lipatan memanjang pada kulitnya. Bentuk mulutnya sangat lebar, memanjang sampai ke bahu. Rahang bawahnya dilengkapi dengan 3 buah tonjolan yang menyerupai gigi. Di alam aslinya mereka hidup di genangan air yang dangkal. Berkembang biak pada musim penghujan dan akan tidur selama musim kemarau. Species lain dari Afrika adalah species asli Kamerun yaitu Rana goliath.

c. Kodok Banteng India atau Kodok batu (Rana Trigina)
Kodok Banteng India atau Kodok Batu juga mampu tumbuh besar yaitu mencapai panjang 15 cm. Tubuhnya berwarna hijau kekuningan. Kodok jenis ini terkenal sangat pemalu dan hidup menyendiri di selokan serta rawa-rawa. Perkembangbiakannya terjadi pada awal musim hujan.
Kodok batu ini merupakan salah satu jenis kodok yang memegang peranan cukup besar dalam meningkatkan produksi kodok tangkapan.

Selain itu di India masih ada species lain yang bisa dimakan tetapi kurang populer, yaitu : Rana crassa, Rana daudin dan Rana hexadactyla.

8.4. Manfaat
Nilai ekonomis kodok terdapat pada pahanya. Paha kodok ini dapat diolah menjadi berbagai macam makanan “kelas atas” yang cukup mahal harganya. Tidak mengherankan jika permintaan akan paha kodok mengalami peningkatan secara tajam.
Daging kodok adalah sumber protein hewani yang tinggi kandungan gizinya. Limbah kodok yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam. Kulit kodok yang telah terlepas dari badannya bisa diproses menjadi kerupuk kulit kodok. Kepala kodok yang sudah terpisah dapat diambil kelenjar hipofisanya dan dimanfaatkan untuk merangsang kodok dalam pembuahan buatan. Daging kodok dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit.
Pada mulanya kodok yang dilucuti pahanya itu adalah kodok yang ditangkap secara langsung dari alam. Namun karena begitu cepatnya laju eksploitasi tersebut, menyebabkan populasi kodok alam menurun secara drastis. Bahkan dinyatakan hampir punah. Melihat kenyataan tersebut, maka berkembanglah usaha budidaya kodok secara komersial.

8.5. Pedoman teknis budidaya
A. Persyaratan lokasi

  1. Ketinggian lokasi yang ideal untuk budidaya kodok adalah 1600 dpl.
  2. Tanah tidak terlalu miring namun dan tidak terlalu datar, kemiringan ideal 1- 5%, artinya dalam jarak 100 m jarak kemiringan antara ujung-ujungnya 1-5 m.
  3. Air yang jernih atau sedikit tercampur lumpur tersedia sepanjang masa. Air yang jernih akan memperlancar proses penetasan telur.
  4. Kodok bisa hidup di air yang bersuhu 2–35 drajat C. Suhu saat penetasan telur ialah anata 24–27 derajat C, dengan kelembaban 60–65%.
  5. Air mengandung oksigen sekitar 5-6 ppm, atau minimum 3 ppm. Karbondioksida terlarut tidak lebih dari 25 ppm.
  6. Dekat dengan sumber air dan diusahakan air bisa masuk dan keluar dengan lancar dan bebas dari kekeringan dan kebanjiran.

B. Penyiapan Sarana dan Peralatan
Dalam proses pembuatan kolam, tidak boleh hanya menggali atau menimbun saja melainkan harus menggabungkan keduanya sehingga akan mendapatkan bentuk dan konstruksi kolam yang ideal.
Untuk memasukkan air ke dalam kolam diperlukan saluran yang konstruksinya dibuat dari pasangan bata merah atau batako yang diperkuat dengan semen dan pasir. Bentuk dari saluran ini biasanya trapesium terbalik dan pada beberapa tempat pemasukan air ke kolam dibuat kobakan kecil untuk menjebak air agar mudah masuk kedalam kolam-kolam.
Kolam yang diperlukan antara lain: kolam perawatan kodok, kolam penampungan induk sebelum dikawinkan, kolam pemijahan, kolam penetasan, kolam perawatan kecebong, kolam pembesaran percil dan kolam pembesaran kodok remaja. Kebutuhan kolam ini masih ditambah dengan kolam pemeliharaan calon induk.

Kolam Perawatan Kodok
Luasnya 15 meter persegi dengan ukuran 3 x 5 m, yang terdiri dari dinding tembok 0,40 m dan dinding kawat plastik setinggi 1 m, lantainya terbuat dari semen dan bata yang terdiri dari 2/3 bagian kolam terisi air setinggi 10-15 cm dan 1/3 bagian kering.
Kolam Pemijahan.
Kolam dibuat dari semen dan diatasnya dinding kawat plastik. Kedalaman air di kolam ini sekitar 0,30–0,40 m dan ditengahnya dibuatkan daratan. Padat pemeliharaan 15 ekor setiap meter perseginya, dengan perbandingan tiga betina dan satu jantan. Supaya lebih nyaman, sebaiknya lantai daratan tengah tidak berlumpur, dan kolam ditanami enceng gondok. Sediakan makanan berupa ikan kecil, ketam dan bekicot Masa kawin ditandai dengan suara merdu. Tak lama kemudian, telur mereka mengambang di air kolam dan segera dipindahkan ke kolam penetasan.
Kolam Penetasan
Kolam penetasan dibuat beberapa buah, dari tembok dengan air sedalam 30 cm dan air mengalir atau diberi aerasi yang luas. Luas kolam seluruhnya 10 m2.
Kolam Kecebong
Terdiri dari beberapa kolam yang masing-masing luasnya berkisar anta 5–6 m2, dengan dasar lantai terbuat dari semen.
Kolam Kodok Muda
Di kolam ini kodok yang dipelihara berumur kurang dari 2 bulan. Dibuat beberapa buah dengan masing-masing luasnya 15 m2, dengan dinding tembok dan kawat. Lantai miring dengan daerah air 1/3 bagian dengan kedalaman 15–35 cm.
Kolam Kodok Dewasa.
Pada kolam ini kodok sudah berusia antara 2–6 bulan. Kolam yang diperlukan terdiri dari 2, dengan masing masing luas kira–kira 20 m2 , dengan konstruksi dasar dan dinding tembok dan kawat. Kedalaman air yang diperlukan antara 30–40 cm.

C. Pembibitan
Untuk pembudidayaan kodok yang banyak dicari adalah dari jenis kodok banteng Amerika (Bull frog), diamping rasanya enak juga beratnya bisa sampai 1,5 kg. Bisa juga jenis kodok batu dari Sumatera Barat yang sampai saat ini belum dibudidayakan secara optimal, karena masyarakat masih mengambilnya dari alam.
Adapun syarat ternak yang baik adalah bibit dipilih yang sehat dan matang kelamin. Sehat, tidak cacat, kaki tidak bengkok dan normal kedudukannya, serta gaya berenang seimbang. Pastikan kakikodok tidak mengidap penyakit kaki merah ( red legs).

1) Pemilihan Bibit Calon Induk
Pilihlah kodok yang sehat dan berukuran besar. Disamping itu perhatikan juga tanda-tanda kelamin sekundernya. Pisahkan induk berdasarkan jenis kelaminnya. Pemisahan dilakukan sekitar 1–2 hari dimaksudkan untuk lebih merangsang nafsu diantara mereka apabila saatnya mereka dipertemukan.
Untuk induk-induk yang hendak dikawinkan sebaiknya diberikan makanan cincangan daging bekicot yang masih segar dan makanan buatan lainnya.

2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Induk jantan dan betina berumur 4 bulan disuntik perangsang pertumbuhan Gonadotropin intramuskular dengan dosis 200-250 IU/ekor/bulan.

3) Sistem Pemijahan
Secara Alami
Induk jantan dan betina yang telah dipisah selama 1-2 hari disatukan di kolam pemijahan. Ikan liar dapat mengganggu hasil pemijahan. Perhatikan agar telur kodok tidak ikut terbuang air pembuangan. Di sore atau pagi hari pada saat suhu mulai menurun, barulah kita perlu membantu kelancaran proses pemijahan, yaitu dengan membuat hujan buatan.
Sistem Hipofisasi
Cara mutakhir untuk memijahkan kodok adalah dengan cara sistem kawin suntik menggunakan ekstrak kelenjar hipofisa untuk merangsang kodok agar kawin sesuai waktu yang kita inginkan. Dengan sistem ini kita bisa mengintensifkan pembenihan, mengurangi kematian, merawat telur-telur kodok yang telah dibuahi dalam tempat tersendiri, memberi jaminan bahwa telur-telur akan terbuahi oleh sperma seluruhnya dan tidak memerlukan hujan buatan. Penyuntikan pada tubuh betina lazimnya pada punggung, rongga perut dan bagian kepala. cara penyuntikan pada rongga perut banyak dipilih.

D. Reproduksi dan Perkawinan
Kodok yang hendak disuntik ditampung pada akuarium yang diberi sedikit air dan ditutup dengan kawat kasa untuk memudahkan penangkapan. kodokkodok tersebut telah cukup umur dan dalam keadaan matang telur. Saat penyuntikan kodok dibalut dengan kain hapa agar tidak meronta.
Kodok yang telah disuntik kemudian dilepas dalam akuarium lain dan dipantau setiap jam. Setelah 12 jam, kodok tadi disuntik kembali agar mereka mampu bertelur seluruhnya. Setelah yang betina 2 kali disuntik dan menunjukkan akan bertelur, maka kita mempersiapkan testis dari induk jantan. Sperma dikeluarkan dari testis dengan cara memotongnya dengan jarum kecil yang tajam dan dimasukkan ke cawan petri yang sudah diisi dengan air kolam yang bersih. Setelah air dalam cawan menjadi keruh dan testis sudah kosong, maka cairan testis dibiarkan selama 10 menit.

8.6. Pemeliharaan
Pemeliharaan dilakukan pada setiap tahap pertumbuhan kodok, Pertumbuhan dan kesehatan kodok terrgantung pada makanan dan kecocokan tempat tinggalnya. Kodok diberi makan 1 kali sehari, air di kolam diganti dan dibersihkan seminggu sekali.

1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Telur yang sudah dibuahi, dipindahkan pada kolam penetasan. Kolam dibersihkan dari hama dan kotoran sebelum digunakan. Telur harus dipisahkan dari induknya sehingga telur tidak terganggu proses penetasannya dan tidak dimakan oleh induknya. Memindahkan telur jangan sampai pecah sarangnya atau lendirnya. Telur-telur akan menetas setelah 48–72 jam pada suhu air 24–27 oC. Bila sudah menetas dipelihara pada kolam yang sama selama 10 hari.

2)Perawatan Ternak
Kodok muda yang telah mengalami metamorphose ditempatkan pada kolam permanen. Pemasukan dan pengeluaran air harus diberi penyaring untuk menghindari hama dan mencegah kodok lepas ke peraiaran umum. Padat penebaran 50-100 ekor/m2. Bila kita memelihara jenis kodok banteng yang tidak suka makanan yang tidak bergerak, makanan harus diletakkan dibawah aliran air/pancuran. Setelah berumur 3 bulan, kodok diseleksi berdasarkan kaki belakang, kulit dan ukuran badannya. Jumlah yang di seleksi 20% dari total dan dipindahkan ke kolam calon induk, sedangkan sisanya tetap dipelihara sampai masa panen pada umur 4-5 bulan.
Kodok dewasa (matang gonada) untuk bibit unggul, baik jantan maupun betina di suntik dengan kelenjar hiphopisa kodok sebanyak 1 dosis. Penyuntikan dilakukan 1 bulan sekali (bila memakai sistem hiphopisa) dan padat tanam sebanyak 20-25 ekor/m2

3) Pemberian Pakan
Untuk mendapatkan pertumbuhan yang optimum, kodok membutuhkan makanan yang baik. Pada umumnya kodok akan memangsa makanan yang diberikan bila dalam keadaan bergerak. Namun demikian pada kodok unggul jenis Rana catesbiana dapat diajari untuk memakan makanan yang mati (tidak bergerak).
Di alam bebas kodok akan memangsa kecebong kadal, kecebong bangkong, macam-macam ulat, nyamuk, kecoak dan serangga yang lain.
Terdapat berbagai macam makanan yang dapat diberikan untuk kodok di kolam pembesaran persil maupun di kolam pembesaran kodok remaja. Makanan percil sampai kodok dewasa berupa cincangan daging bekicot,cincangan daging ikan, ulat, belatung, serangga, mie, bakso dan berbagai benih ikan serta ketam-ketaman kecil dan lainnya.
Dapat juga diberikan makanan buatan, dengan meramu makanan buatan kita bisa menyusun sesuai dengan tingkat umur kodok, yang terkadang sulit dilakukan apabila kita memberinya makanan yang langsung didapat dari alam. Dengan demikian maka problem yang sering dialami seperti ukuran makanan lebih besar dari lebar bukaan mulut kodok tidak perlu terjadi lagi.
Di pasaran, pellet khsusus untuk pakan kodok telah dibagi menurut peruntukkannya. Yakni pellet untuk kecebong, grower dan untuk induk (breeder). Kebutuhan pakan pelet untuk kodok yaitu umur (minggu) dengan jumlah kebutuhan (g/ekor/hari) : 0-3  (kecebong) = 0,03 g/ekor/hari, 14 = 0,15; 16 = 0,42; 18 = 0,58; 20 = 0,72; 22 = 0,92 dan 24 minggu = 1,32 g/ekor/hari.
Setelah kodok berumur lebih dari 24 minggu, pemberian pakan selanjutnya disesuai kan dengan bobotnya. Rata-rata jumlah pakannya adalah 0,3-0,5 % dari bobotnya.
Pakan diberikan 2 kali sehari dalam setiap takaran. Dengan cara ini diharapkan pakan dapat dihabiskan kodok dan tidak tersisa sama sekali. Oleh karenanya, pembersihan kolam setiap hari mutlak dilakukan agar jika ada sisa pakan tidak membusuk di dalam kolam.

8.7. Hama dan penyakit
Banyak parasit dan penyakit yang mengancam keselamatan kodok budidaya, baik dalam stadia kecebong, percil, kodok remaja maupun kodok dewasa. Penyebabnya dapat berupa bakteri, virus, jamur, protozoa, cacing dan insekta. Dari berbagai penyakit dan parasit yang menyerang kodok, beberapa diantaranya yang perlu mendapat perhatian adalah sebagai berikut :

a)  Penyakit Ekor Busuk
Gejala. Penyakit Ekor busuk hanya menyerang stadia kecebong. Bila salah satu kecebong terkena, dengan mudah penyakit ini akan menular pada kecebong lainnya. Gejala serangan berupa rusaknya bagian ekor. Biasanya ditandai dengan munculnya warna putih pada bagian yang rusak tersebut. Kemudian gerakan kecebong menjadi tidak seimbang dan akhirnya mengalami kematian. Penularan penyakit ini akan dipercepat bila padat penebaran terlalu tinggi. Penyebab : Bakteri atau Jamur.
Pengendalian. Langkah penanggulangan adalah dengan memisahkan kecebong yang sakit dengan kecebong yang sehat. Kecebong yang masih sehat segera dipindahkan ke tempat lain yang lebih steril. Di tempat pemeliharaan yang baru, kecebong yang sehat tersebut diobati dengan Oktaklor dengan dosis 4 g/4,5 liter air atau dengan Natrium klorida (NaCl) 0,15 g/4,5 liter air. Pengobatan dilakukan dengan merendam kecebong dalam larutan tersebut selama setengah jam diulang sampai 4 kali. Sementara itu kolam yang tadinya ada kecebong sakit dibersihkan dengan desinfektan seperti larutan PK (Kalium permanganat).

b) Penyakit Kembung (Bloating)
Gejala. Penyakit kembung (bloating) lebih banyak menyerang kodok remaja dan dewasa dengan ditandai perut yang membuncit.
Penyebab. Disebabkan oleh kesalahan dalam memberikan makanan yang banyak mengandung protein. Akibatnya, kodok mengkonsumsi makanan yang terlalu banyak mengandung protein. Oleh karena itu penyakit ini juga disebut penyakit overprotein.
Pengendalian. Satu-satunya cara menyelematkan kodok yang menderita bloating adalah dengan menghentikan pemberian makan, Agr tidak mengganggu kodok yang lainnya, maka kodok yang sakit dipindahkan dari kodok yang sehat. Dengan demikian kodok yang tidak sakit kembung tetap dapat makan seperti biasanya.

c) Ambein (dubur keluar)
Gejala. Kodok yang terkena ambein menunjukkan gejala keluarnya semacam daging sepanjang kurang lebih 2 cm dari bagian anusnya. Penyakit ambein dialami oleh kodok muda.
Penyebab. Penyakit ambein disebabkan oleh melemahnya sistem otot belakang. Berdasarkan pengamatan peternak, dubur keluar ini kemungkinan besar bersumber pada kecerobohan kodok menelan makanannya. Mungkin makanan yang ditelan terlalu keras atau terlalu besar.
Pengendalian. Untuk penyembuhan, kodok yang sakit diisolasi selama 3 hari dan tidak diberi makan. Baru pada hari ke-4 kodok diberi makan, tetapi berupa makanan yang lunak dan sesuai dengan ukurannya. Untuk mengatasinya penyakit ambein, maka populasi tidak boleh terlalu padat dan kolam harus bersih dan pemberian kadar kalori dalam makanan tidak boleh melebihi dosis 3400 cl/kg makanan. Lama kelamaan ambein akan hilang dengan sendirinya.

d) Kaki Merah
Gejala. Penyakit kaki merah ini merupakan penyakit yang sangat merugikan. Karena yang diserang adalah yang sangat ekonomis pada kodok yaitu kaki dan paha. Gejala klinis dapat dikenali dengan adanya warna kemerahan di bagian belakang dan dibagian depan kaki. Warna merah tersebut disebabkan oleh rusaknya jaringan otot kaki. Paha kaki berwarna merah, luka dan kulit melepuh adalah penyakit yang menyerang kodok yang berumur 1-2 bulan, menular dan menyerang sistem saraf, sehingga akan mati dalam beberapa jam
Penyebab. Penyakit kodok ini disebabkan oleh serangan bakteri, yaitu Aeromonas hydrophilla atau Hydrophlilus.
Pengendalian. Untuk pencegahan penyakit ini, diusahakan agar penebaran tidak terlalu padat. Selain itu lingkungan pemeliharaan harus dijaga kebersihannya. Kodok yang sakit diobati dengan antibiotika, suntikan teramisin 25 mg/kg, atau streptomycin/ tetrasiklin 20 mg/kg berat kodok atau Oxolini acide dengan cara perendaman sebanyak 1,56 mcg/ml. Pengobatan kaki merah dan bisul pada kodok, dengan memandikan kodok dalam larutan Nifurene 50–100 gram/m2 air.

e) Kebutaan
Gejala. Terjadi iritasi mata dan peradangan kelopak mata yang berakhir dengan kebutaan.
Penyebab. Kebutaan pada kodok dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : infeksi larva cacing Trematoda pada mata, gangguan metabolesme, defisiensi Vitamin A dan polusi air.
Pengendalian. Pengobatan penyakit mata yang disebabkan oleh cacing dapat digunakan piperazin sitrat yang ditambahkan dalam pakan sesuai anjuran petunjuk pemakaian. Sementara gangguan mata karena matabolisme, defisiensi vitamin A atau polusi air dapat diberikan larutan perak nitrat 1% sebagai obat tetes mata.

Selain penyakit-penyakit di atas, masih ada faktor lain yang dapat mengakibatkan kematian kodok, diantaranya adalah perubahan habitat dari lingkungan air ke lingkungan darat (terjadi pada saat kecebong berubah bentuk menjadi kodok), kekurangan sinar ultra violet pada stadium starter dan grower, suhu yang tinggi (di atas 28 oC, pH air yang terlalu rendah (di bawah 3) atau pH yang terlalu tinggi (di atas 9), pencemaran air oleh pestisida, kadar oksigen terlalu rendah, kepadatan populasi dan ketidakseragaman ukuran kodok dalam satu area.
Untuk itu, hal-hal di atas harus mendapat perhatian yang serius agar pemeliharaan kodok dapat dilakukan lebih baik.

8.8. Panen
1) Hasil Utama
Hasil utama yang dihasilkan adalah dagingnya
2) Hasil Tambahan
Sedangkan hasil tambahan yang dapat diperoleh adalah dengan mengolah limbah hasil pemotongan untuk dijadikan silase; dengan penambahan propionat dan asam formiat dengan jalan digiling bersama sama maka makanan untuk ternak ini tahan hingga 2 bulan pada suhu sedang. Hasil sampingan lainnya adalah dengan dijadikan tepung, dimana kandungan mineral dan proteinnya masih cukup tinggi untuk dijadikan bahan tambahan pakan ternak. Kodok yang tidak dijual/afkir dapat diambil hiphofisanya untuk proses pemijahan berikutnya
3) Penangkapan
Sebelum disiangi, biasanya kodok-kodok tersebut ditempatkan pada penampungan. Tempat penampungan kodok bisa berupa kotak kayu atau bak semen yang drainasenya lancar

8.9. Pasca panen
Proses penanganan pasca panen juga sangatlah mudah. Untuk menjaga agar kodok tetap hidup dan segar, maka kita bisa menggunakan karung goni atau tas kain yang dibasahi. Pengangkutan paling aman dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Apabila pengangkutan dilakukan untuk jarak jauh maka perlu dibuatkan kotak kayu yang didesain secara khusus, dan kapasitasnya disesuaikan dengan besarnya kotak kayu tersebut.

8.10. Analisis ekonomi budidaya
Gambaran analisis ekonomi usaha budidaya kodok lembu (rana catesbeiana), untuk memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh dan untuk menghindari pos-pos yang tidak penting.

Adapun usaha pembenihan kodok skala kecil 200 M2 dengan asumsi sbb.
a)  Luas Tanah : 200 m2
b)  Luas Kolam : 125 m2

  • kolam penyimpanan induk: 9 m2
  • kolam induk jantan: 3m2
  • kolam induk betina: 3 m2
  • kolam pemijahan/perkawinan: 9 m2
  • kolam penetasan: 8 m2
  • kolam kecebong: 21 m2
  • kolam percil: 20 m2
  • kolam kodok dewasa: 30 m2
  • saluran air dan lainnya: 22 m2

c)  Jumlah Induk.

  • induk betina: 6 ekor, jantan: 4 ekor
  • induk yang dikawinkan: 3 betina 2 jantan
  • telur yang dihasilkan sebanyak + 30,000 butir/pemijahan

d)  Lama pemeliharaan: 5 bulan
e)  Frekuensi pemijahan: 3 kali / setahun
f)   Jenis makanan yang diberikan : cacing, belatung, anak ikan, cincangan bekicot, tepung dengan kadar protein + 35 %.

8.11. Gambaran Peluang Agribisnis
Kodok merupakan komoditi ekspor nonmigas yang cukup potensial. Sejak tahun 1969 Indonesia telah mengeskpor paha kodok ke berbagai negar. Bahkan Indonesia sebagai negara pengekspor paha kodok terbesar ketiga setelah India dan Bangladesh. Kini semakin langkanya kodok di alam akibat pemburuan besar-besaran sehingga semakin berkurangnya persediaan akan daging kodok. Hal ini menuntut diadakannya budidaya kodok secara intensif untuk menghasilkan daging kodok yang masih menjadi budidaya ekspor yang dapat memberikan keuntungan

8.12. DAFTAR PUSTAKA
1) Agrobis, 8 Nopember 1993. Tepung Kodok Pakan Ternak Berprotein Tinggi
2) B.Suharno dan Nazaruddin, 1998. Ternak Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta
3) Dinas Perikanan Propinsi DT I Jawa Barat,1990. Budidaya Kodok Lembu
4) Sinar Tani, 23 Juni 1993. Membudidayakan Katak Hijau di Pekarangan
5) Susanto, Heru, 1998. Budidaya Kodok Unggul, Penebar Swadaya, Jakarta.
6) Surabaya Post, 6 Juli 1993. Limbah Kodok Alternatif Tepung Ikan
7) Tumbuh, Oktober 1992. Pengganggu Kodok Lembu.
8) Triwibowo,R,drh, Trubus, 10 oktober 1993. Teknik Pemijahan Ternak Kodok.
9) Trubus, Oktober 1989. Budidaya Kodok Unggul.





Diktat Aneka Ternak-Walet

4 08 2012

7.1. Sejarah Singkat
Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.

7.2. Sentra Peternakan
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

7.3. JENIS
Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera : Collacalia
Species : Collacalia fuciphaga

7.4. Manfaat
Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya (saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan paru-paru, panas dalam, melancarkan peredaran darah dan penambah tenaga.

7.5.  PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
A. Persyaratan Lokasi
Persyaratan lingkungan lokasi kandang adalah:
§ Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
§ Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan masyarakat.
§ Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
§ Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.

B. Penyiapan Sarana dan Peralatan
1. Suhu, Kelembaban dan Penerangan
Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:

  1. Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
  2. Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung.
  3.  Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm.
  4. Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai.
  5. Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.

2. Bentuk dan Konstruksi Gedung
Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10 x 15 m2 sampai 10 x 20 m2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen.
Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari.
Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20 atau 20×35 cm2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam

C. Pembibitan
Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet.

1) Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.

2) Perawatan Bibit dan Calon Induk
Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskan nya di dalam sarang sriti.

3) Memilih Telur Walet
Telur yang dipanen terdiri dari 3 macam warna, yaitu :

  • Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari.
  • Putih kemerahan, berumur 6–10 hari.
  • Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari.

Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.

4) Membawa Telur Walet
Telur yang didapat dari tempat yang jaraknya dekat dapat berupa telur yang masih muda atau setengah tua. Sedangkan telur dari jarak jauh, sebaiknya berupa telur yang sudah mendekati menetas. Telur disusun dalam spon yang berlubang dengan diameter 1 cm. Spon dimasukkan ke dalam keranjang plastik berlubang kemudian ditutup. Guncangan kendaraan dan AC yang terlalu dingin dapat mengakibatkan telur mati. Telur muda memiliki angka kematian hampir 80% sedangkan telur tua lebih rendah.

5) Penetasan Telur Walet
a. Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti.
Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.

b. Menetaskan telur walet pada mesin penetas
Suhu mesin penetas sekitar 40 °C dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15 hari telur akan menetas.

D. Pemeliharaan
1) Perawatan Ternak
Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.

2) Sumber Pakan
Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau. Beberapa cara untuk mengasilkan serangga adalah:

  • menanam tanaman dengan tumpang sari.
  • budidaya serangga yaitu kutu gaplek dan nyamuk.
  • membuat kolam dipekarangan rumah walet.
  • menumpuk buah-buah busuk di pekarangan rumah.

3) Pemeliharaan Kandang
Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam karung dan disimpan di gedung.

E. HAMA DAN PENYAKIT
1.Tikus
Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatang kan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman. Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
2. Semut
Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur. Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
3. Kecoa
Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna. Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian.
4. Cicak dan Tokek
Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet.  Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup

F. PANEN

Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan.

Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:
1) Panen rampasan
Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.

2) Panen Buang Telur
Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya.

3) Panen Penetasan
Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat.

Adapun waktu panen adalah:
§ Panen 4 kali setahun
Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
§ Panen 3 kali setahun
Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
§ Panen 2 kali setahun
Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet

G. PASCAPANEN
Setelah hasil panen walet dikumpulkan lalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.

H. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
Komponen analisis budidaya burung walet

Modal
a. Modal tetap
1. Gedung
2. Renovasi gedung
3. Perlengkapan
Jumlah modal tetap
Biaya penyusutan/bulan : …………..:60 bln ( 5 th)

b. Modal Kerja
1. Biaya Pengadaan
– Telur Walet 500 butir @ Rp. …………
– Transportasi
– Makan
2. Biaya Kerja
– Pelihara kandang/bln@ Rp. ……. x 3 bln
– Panen
– Jumlah biaya 1x produksi
3.Jumlah modal yang dibutuhkan pada awal Produksi
– Modal tetap
– Modal kerja 1x Produksi
– Jumlah modal
4.Kapasitas produksi untuk 5 tahun 1 kali produksi :
– sarang burung walet menghasilkan 1 kg
– sarang burung sriti menghasilkan 15 kg
untuk 1 tahun, 4 kali produksi, menghasilkan :
– sarang burung walet 4 kg
– sarang burung sriti 60 kg
untuk 5 tahun, 20 kali produksi, menghasilkan :
– sarang burung walet 20 kg
– sarang burung sriti 300 kg

c. Biaya produksi
1. Biaya tetap per bulan : Rp. ……………….. :60 bulan
2. Biaya tidak tetap
Total Biaya Produksi per bulan
Jumlah produksi Rp. ……………….  :16 kg (walet dan sriti)

d. Penjualan
1. sarang burung walet 1 kg
2. sarang burung sriti 15 kg
Untuk 1 kali produksi

e. Untuk 5 tahun
1. sarang burung walet 20 kg
2. sarang burung sriti 300 kg
Jumlah penjualan

f. Break Even Point
1. Pendapatan selama 5 Tahun
2. Biaya produksi selama 5 th ………………………. x 60 bln
3. Keuntungan selama 5 tahun
4. Keuntungan bersih per produksi ………………. : 60 bln
5. BEP
6. Tingkat Pengembalian Modal 3 bulan (1 x produksi)

7.6. Gambaran Peluang Agribisnis
Sarang burung walet merupakan komoditi ekspor yang bernilai tinggi. Kebutuhan akan sarang burung walet di pasar internasional sangat besar dan masih kekurangan persediaan. Hal ini disebabkan oleh masih kurang banyaknya budidaya burung walet. Selain itu juga produksi sarang walet yang telah ada merupakan produksi dari sarang-sarang alami. Budidaya sarang burung walet sangat menjanjikan bila dikelola dengan baik dan intensif.

7.7.  DAFTAR PUSTAKA

  1. Chantler, P. & G. Driessens. Swift : A guide to the Swift an Treeswift of the World. Pica Press, the Banks. East Sussex, 1995.
  2. Mackinnon, John. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-Burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1994.
  3. Nazaruddin & A. Widodo. Sukses Merumahkan Walet. Cet. 2. Jakarta: Penebar Swadaya, 1998.
  4. Tim Penulis PS. Budidaya dan Bisnis Sarang Walet. Cet. 4. Jakarta: Penebar Swadaya, 1994.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.