Efek Rumah Kaca,Perubahan Iklim & Pemanasan Global

17 07 2012

 

 

 

 

 

Bumi telah menjadi lebih hangat sekitar 1ºF (0.5ºC) dari 100 tahun yang lalu. Tapi mengapa? Dan bagaimana? Sebenarnya para pakar ilmu pengetahuan juga tidak tahu pasti. Bumi bisa saja menjadi hangat secara alami, tetapi banyak ahli iklim dunia yang percaya bahwa tindakan manusia telah membantu membuat Bumi menjadi lebih hangat.

Efek Rumah Kaca, Perubahan Iklim, Pemanasan Global

Efek Rumah Kaca

Para ahli sudah setuju bahwa efek rumah kaca disebabkan oleh bertambahnya jumlah gas-gas rumah kaca (GRK) di atmosfir yang menyebabkan energi panas yang seharusnya dilepas ke luar atmosfir bumi dipantulkan kembali ke permukaan dan menyebab kan temperatur permukaan bumi menjadi lebih panas.

Gas Rumah Kaca

Ada beberapa gas diatmosfir yang berfungsi sebagai \’penangkap\’ energi panas matahari. Tanpa gas-gas ini, panas akan hilang ke angkasa dan temperatur rata-rata Bumi dapat menjadi 60ºF (33ºC) lebih dingin. Karena fungsinya sebagai penjaga hangatnya Bumi, gas-gas ini kemudian disebut sebagai Gas Rumah Kaca (GRK). Yang termasuk diantaranya adalah : Karbon Dioksida (CO2), Nitro-Oksida (NO2), dan Metana (CH4).

Rumah Kaca:

Pernahkah kamu melihat sebuah rumah kaca? Rumah kaca umumnya berbentuk sebuah rumah kecil yang seluruhnya terdiri dari kaca dan dibangun untuk menumbuhkan berbagai jenis tanaman, terutama diwaktu musim dingin. Bagaimana rumah kaca bekerja? Panel-panel kacanya membiarkan sinar matahari masuk tetapi menjaga energi panas yang disebabkannya hilang ke udara. Untuk mudahnya, bayangkan kalau kamu masuk ke dalam mobil yang diparkir dibawah sinar matahari, joknya terasa panas bukan? Nah, begitu juga tanaman yang ada didalam rumah kaca, panas yang ditahan menyebabkan tanaman dapat bertahan di musim dingin.

GRK dan Atmosfir:
Atmosfir ada disekitar kita, ia adalah udara yang kita hirup. GRK diatmosfir berfungsi serupa dengan panel-panel gelas di rumah kaca. Sinar matahari memasuki atmosfir Bumi, melalui lapisan gas-gas rumah kaca. Setelah mencapai seluruh permukaan bumi, tanah, air, dan ekosistem lainnya menyerap energi dari sinar tersebut. Setelah terserap, energi ini akan dipancarkan kembali ke atmosfir. Sebagian energi dikembalikan ke angkasa, tetapi sebagian besar ditangkap oleh gas-gas rumah kaca di atmosfir sehingga menyebabkan Bumi menjadi lebih panas.
Efek Rumah Kaca memegang peran penting dalam kelangsungan hidup manusia di Bumi. Tanpa adanya efek tersebut, Bumi akan terlalu dingin untuk ditempati. Namun sebaliknya, apabila efek tersebut terlalu kuat, Bumi akan menjadi lebih hangat dari semestinya dan akan timbul masalah baru bagi kehidupan manusia, tumbuhan, dan binatang.

Perubahan Iklim (Climate Change)
Iklim adalah rata-rata peristiwa cuaca di suatu daerah tertentu dalam jangka waktu yang panjang. Sebagai contoh, ada kemungkinan dalam suatu hari di musim dingin di New York, Amerika Serikat, terjadi suatu hari yang cerah dan hangat, tetapi rata-rata cuaca – iklim- memberitahu kita bahwa musim dingin di New York umumnya akan dingin dan penuh salju dan hujan. Perubahan iklim menunjukkan suatu perubahan dalam cuaca secara jangka panjang, bisa lebih hangat atau lebih dingin. Curah hujan atau salju rata-rata pertahun dapat bertambah atau berkurang.

Cuaca
Cuaca mengambarkan apapun yang terjadi di alam pada suatu waktu tertentu di suatu tempat tertentu. Cuaca adalah sesuatu gejala alam yang terhadi dari menit ke menit. Cuaca dapat berubah drastis dalam waktu yang singkat. Contohnya, bisa saja terjadi hujan satu jam lamanya dan mendadak langit cerah dan terang. Cuaca adalah yang kita dengar di berita televisi setiap malam. Yang termasuk cuaca adalah perubahan harian dalam kelembaban, tekanan barometrik, temperatur, dan kondisi angin di suatu lokasi tertentu. Sekarang, katakan, bagaimana cuaca di tempat mu hari ini?

Iklim

Iklim menggambarkan total cuaca yang terjadi selama satu periode tertentu dalam setahun di suatu tempat tertentu, Yang termasuk didalamnya adalah kondisi cuaca rata-rata, musim (dingin, panas, semi, gugur, hujan, dan kemarau), dan gejala alam khusus (seperti tornado dan banjir). Iklim memberitahu kita bagaimana tinggal di daerah tertentu. Surabaya hujan, Nganjuk panas, dan Kediri sejuk. Jadi, bagaimana iklim di tempat tinggalmu?

Pemanasan Global (Global Warming)

Pemanasan Global adalah suatu istilah yang menunjukan adalahnya kenaikan rata-rata temperatur Bumi, yang kemudian menyebabkan perubahan dalam iklim. Bumi yang lebih hangat dapat menyebabkan perubahan siklus hujan, kenaikkan permukaan air laut, dan beragam dampak pada tanaman, kehidupan liar, dan manusia. Ketika para ahli ilmu pengetahuan berbicara mengenai permasalahan perubahan iklim, yang menjadi pusat perhatian adalah pemanasan global yang disebabkan ulah manusia.

Mungkin sulit untuk dibayangkan bagaimana manusia dapat menyebabkan perubahan pada iklim di Bumi. Namun, para ahli sepakat bahwa ulah manusialah yang memacu besarnya jumlah gas rumah kaca dilepaskan ke atmosfir dan menyebabkan Buni menjadi lebih panas.

Dahulu, semua perubahan iklim berjalan secara alami. Tetapi dengan adanya Revolusi Industri, manusia mulai mengubah iklim dan lingkungan tempatnya hidup melalui tindakan-tindakan agrikultural dan industri. Revolusi Industri adalah saat dimana manusia mulai menggunakan mesin untuk mempermudah hidupnya. Revolusi ini dimulai sekitar 200 tahun lalu dan mengubah gaya hidup manusia. Sebelumnya, manusia hanya melepas sedikit gas ke atmosfir, namun saat ini dengan \’bantuan\’ pertumbuhan penduduk, pembakaran bahan bakar fosil dan penebangan hutan, manusia mempengaruhi perubahan komposisi gas di atmosfir.

Semenjak Revolusi Industri, kebutuhan energi untuk menjalankan mesin terus meningkat. Beberapa jenis energi, seperti energi yang kamu butuhkan untuk membuat pe-ermu, datang dari makanan yang kamu makan. Tetapi energi lainnya, seperti energi yang digunakan untuk menjalankan mobil dan sebagian besar emergi untuk penerangan dan pemanasan rumah, datang dari bahan bakar seperti batubara dan minyak bumi – atau lebih dikemal sebagai bahan bakar fosil karena terjadi dari pembusukan fosil makhluk hidup. Pembakaran bahan bakar fosil ini akan melepaskan gas rumah kaca ke atmosfir.

Kapan kita melepas Gas Rumah Kaca ke Udara?
Kapan saja kamu ….
Nonton TV
Memasang AC
Menyalakan Lampu
Menggunakan Pengering Rambut
Mengendarai Mobil
Bermain Video Game
Menyalakan Radio
Mencuci atau Mengeringkan Pakaian dengan Mesin
Menggunakan Microwave / Oven

Kamu telah membantu melepaskan Gas Rumah Kaca ke udara. Mengapa? Karena setiap kali kamu melakukan hal-hal tersebut, kamu membutuhkan tenaga listrik dan listrik dihasilkan melalui pembangkit listrik – power plant – yang sevagian besar menggunakan batubara dan minyak bumi. Sekali lagi, membakar batubara dan minyak bumi menghasilkan gas rumah kaca.

Hal-hal lain yang menyebabkan kita membantu melepaskan GRK ke udara :

  • Membuang sampah ke tempat penimbunan sampah menghasilkan metana. Metana juga dihasilkan dari limbah binatang yang dipelihara untuk menyuplai kebutuhan susu dan daging (seperti sapi) dan juga dari pertambangan Batubara;
  • Mengendarai mobil;
  • Menggunakan / membeli barang-barang produksi pabrik karena proses produksinya melepas GRK ke udara.

Apakah Kita dapat membantu pencegahan pemanasan global?

Tentu saja. Apabila kita mau mencoba, setiap orang dapat melaksanakan bagiannya dalam membantu mencegah terjadinya pemanasan global. Tidak ada yang mengatakan bahwa mengendarai mobil atau menggunakan listrik adalah kegiatan yang salah. Kita hanya harus lebih pintar dalam melaksanakannya. Beberapa orang mengurangi penggunaan energi dengan melakukan carpooling atau pemakaian mobil bersama. Contohnya, empat orang dapat berada dalam satu mobil yang sama daripada mengendarai empat mobil berbeda untuk pergi ke tempat yang sama.

Berikut ini adalah hal-hal yang mudah tetapi dapat membuat kamu ikut serta dalam menjaga Bumi menjadi tempat hidup yang lebih baik!

Membaca
Belajar mengenai lingkungan adalah hal yang penting. Ada banyak buku yang bisa kamu baca. Sebagai permulaan, minta tolong guru atau pegawai perpustakaan untuk memberikan judul buku yang bisa dibaca. Atau dengan semaraknya dunia internet, ada baiknya kamu menjelajahi alam maya untuk mencari situs-situs yang memberikan informasi mengenai lingkungan dan perubahan iklim.
Hemat Penggunaan Listrik
Matikan lampu, televisi, dan komputer ketika kamu selasai menggunakannya. Naik Sepeda, Bis, dan Jalan Kaki
Dengan sekali-sekali naik bis, mengendarai sepeda, atau berjalan kaki, kamu sudah menghemat penggunaan energi fossil.
Berbicara kepada Keluarga dan Teman
Berbicara kepada keluarga dan temanmu mengenai pemanasan global. Biarkan mereka mengetahui apa yang telah kau pelajari.
Penanaman Pohon
Menanam pohon di rumah dan sekolah adalah kegiatan yang menyenangkan dan salah satu cara yang bail untuk mereduksi gas rumah kaca. Pohon mengabsorbsi CO2 dari udara. (this is against WWF\’s campaign – anti-carbon sink – so it may be excluded in our campaign to school children – red.)
Daur Ulang
Mendaur ulang kaleng, botol, kantong plastik, dan koran. Ketika kamu melakukan daur ulang, kamu mnguerangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah dan kamu membantu penyelamatan sumber daya alam, seperti pohon, minyak bumi, dan bahan metal seperti alumunium.
Ketika belanja, belilah barang yang ramah lingkungan Salah satu cara untuk mengurangi pelepasan GRK ke atmosfir adalah membeli produk yang hemat energi, seperti mobil, barang elektronik dan lampu
Beberapa hal yang patut diperhatikan
Tahukah kamu bahwa kamu membantu menjaga lingkungan bila kami membeli produk yang bisa didaur-ulang? Carilah produk yang memiliki tanda daur ulang – tiga anah panah membentuk suatu siklus (nanti ada gambar – red). Prokus yang dapat di daur ulang umumnya dibuat dari benda yang telah digunakan. Umumnya untuk membuat produk daur ulang lebih sedikit energi yang digunakan daripada produk baru. Lebih sedikit energi digunakan, lebih baik

Energi dari Sinar Matahari
Bayangkan hari ini adalah hari yang sangat panas. Kamu letakkan satu sendok es krim di pinggir jalan dan esnya langsung meleleh. Kenapa? Kamu mungkin tahu sinar matahari menyebabkan es itu leleh, tetapi kamu mungkin tidak tahu bahwa sinar matahari memproduksi energi. Energi yang dikenal sebagai solar energy – cara popular untuk mengatakan \’ energi yang datang dari matahari – dapat digunakan untuk pemanasan ruimah, bangunan, air, dan untuk menghasilkan listrik. Di Indonesia memang belum banyak, namun ini adalah opsi yang menarik karena dapat dilakukan diseluruh pelosok Indonesia.

Mobil
Mobil adalah kebutuhan utama, terutama dikota-kota besar. Kamu dapat membantu menghemat energi dengan menggunakan mobil yang lebih sedikit menggunakan bahan bakar.
ENERGY STARS
Bebearapa benda, seperti komputer, TV, Stereo, dan VCR mencantumkan label bertuliskan \”Energy\” dengan gambar sebuah bintang. Produk dengan label ENERGY STAR® dibuat untuk menghemat energi. Membeli produk ini akan membantu pelestarian lingkungan.
Terjemahan bebas dari : Climate for Kids, US-EPA.





Pengembangan Usaha Hortikultura Petani Kecil

17 07 2012

Oleh : Ir. Rohmad, MMA

PENDAHULUAN

Menurut beberapa pakar ekonomi pertanian dan agribisnis, pembangunan pertanian yang berwawasan agribisnis yang ingin diwujudkan, menuntut adanya keterkaitan erat antara sektor pertanian dengan sektor-sektor bukan  pertanian dalam sebuah sistem agribisnis. Artinya, jika ingin mengembangkan atau memajukan subsistem produksi, harus disertai pula dengan pengembangan atau dukungan subsistem lainnya, seperti subsistem pemasaran, subsistem pengolahan (agroindustri hulu dan hilir) dan subsistem lembaga penunjang seperti lembaga keuangan, prasarana pasar berupa tempat atau gedung (place), lembaga penelitian, peraturan pemerintah yang kondusif dan lain-lain (lihat Davis dan Golberg, 1957; Downey dan Erickson, 1992; Saragih, 1998; Dahl and Hammond, 1977; Tomek and Robinson, 1990).

Menggunakan analogi ini, jika ingin berhasil mengembangkan komoditi hortikultura, maka menuntut digunakannya pendekatan sistem agribisnis, yang mengintegrasikan subsistem produksi dengan subsistem agroindustri hulu dan hilir, subsistem pemasaran dan subsistem lembaga penunjang.     Krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997/1998 yang   masih terasa sampai tahun 2004 ini, dimana kurs dollar terhadap rupiah berkisar Rp 9.000-Rp 9.500 per dollar  (Akhir Juli 2004), menyebabkan harga produk hortikultura impor menjadi relatif mahal, sehingga semakin menempatkan bidang hortikultura dalam negeri sebagai ladang bisnis yang menjanjikan keuntungan. Hal ini terefleksi berupa meningkatnya permintaan produk-produk hortikultura, baik oleh pasar domestik maupun pasar internasional. Namun demikian, untuk memberikan kesempatan berkembangnya produk-produk hortikultura dan aneka tanaman dalam negeri, pemerintah harus membatasi jumlah impor yang disesuaikan dengan produksi dalam negeri dan permintaan masyarakat. Sedangkan untuk meningkatkan ekspor produk-produk hortikultura, Indonesia masih memiliki persediaan areal pertanian dan lahan potensial yang belum dimanfaatkan secara optimal, sedang di beberapa negara pesaing areal pertanian semakin terbatas.

Peningkatan produksi hortikultura untuk memenuhi ekspor masih menghadapi beberapa kendala teknis, seperti produksi bibit/benih buah-buahan lokal dari segi kualitas relatif rendah dan segi kuantitas relatif terbatas. Ini disebabkan oleh proses produksi banyak dilakukan oleh penangkar benih yang tidak profesional. Untuk itu, perlu dilakukan pembinaan secara berkesinambungan agar para penangkar benih tanaman buah dapat meningkatkan kualitas produksinya. Benih-benih hortikultura  impor seperti kentang, kacang panjang, bawang merah, cabai, mentimun, jagung manis,  dll, semestinya dapat diproduksi di dalam negeri. Untuk itu Indonesia harus membangun komponen agribisnis benih yang dapat menciptakan lapangan kerja, sehingga benih impor dapat ditekan. Sedangkan untuk menunjang ekspor produk hortikultura, teknologi biologi, budidaya dan teknologi pengolahan telah tersedia, yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas usaha dan mutu produk agar produk hortikultura Indonesia secara perlahan mampu meraih keunggulan kompetitif.

Di samping itu, teknologi produksi  off-season, teknologi pasca panen belum berkembang, sumberdaya manusia yang belum memadai, sarana dan prasarana ekspor yang belum memadai seperti lokasi yang strategis, ketersediaan  cargo, teknologi  packing, ketepatan  delivery, skala usaha yang tidak komersial, belum membudayanya penerapan sanitary and phytosanitary measure yang berkaitan dengan mutu komoditas ekspor yang dihasilkan dan akses informasi pasar yang masih sangat rendah merupakan kendala-kendala pengembangan dan peningkatan produksi hortikultura Indonesia.

Lahan pertanian di kediri disamping subur juga khas, sehingga rasa dan aroma produk hortikultura buah-buahan yang dihasilkan juga khas dan istimewa.   Menurut Sinta (20-26 Desember 2000), buah-buahan yang disebutkan di atas ditambah melon, alpukat, pepaya dan kesemak adalah produk hortikultura yang memiliki keunggulan komparatif dan tidak mampu diproduksi oleh negara lain. Namun potensi produksi hortikultura di kediri belum dikembangkan secara maksimal, sehingga masih ada peluang untuk mengembangkannya.

Para investor atau petani bermodal dapat berperan dalam pengembangan,persaingan mutu terhadap merek-merek anggur Eropa pada kontes anggur di Portugal Eropa.  Kemenangan ini konon katanya berkat kerjasama sejak lama secara diam-diam antara seorang pengusaha lokal dengan ahli anggur Perancis. Namun demikian, dalam mengembangkan hortikultura, baik dalam strategi maupun setiap programnya agar selalu menerapkan  prinsip-prinisp konservasi, sehingga dapat dihindari terjadinnya degradasi sumberdaya alam. Misalnya, pengelolaan lahan kering di daerah miring agar dibuat terassering sehingga dapat dihindari terjadinya erosi, pemanfaatan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia yang cenderung merusak tanah, mengurangi penggembalaan ternak secara liar dan sebagainya. Jadi prinsip-prinsip konservasi sumberdaya alam harus diterapkan agar sumberdaya lahan dan air sebagai faktor produksi dalam proses produksi hortikultura  dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.

 POTENSI USAHA HORTIKULTURA DI KEDIRI

Potensi Sumberdaya Hortikultura di Kediri i memang memiliki wilayah fisik terbatas, sehingga peningkatan produksi melalui usaha intensifikasi secara besar-besaran tidak mungkin dilakukan. Namun demikian, pengembangan hortikultura di Kediri masih memiliki potensi besar melalui usaha intensifikasi, yaitu peningkatan produksi per kesatuan luas dengan meningkatkan penggunaan teknologi kimia-biologi seperti penggunaan varietas  unggul, pupuk organik/anorganik, teknologi mekanik dan teknologi budidaya. Potensi ini didukung oleh kondisi objektif yaitu:

  1. Di Kediri sejak tahun 2001 tersedia potensi lahan kering seluas 126.487 ha yang dapat digunakan untuk pengembangan hortikultura (buah-buahan dan sayura-sayuran) dan potensi lahan sawah seluas 87.765 Ha. Jika usahatani padi tidak lagi menguntungkan dan tidak menjanjikan masa depan bagi petani atau  pengusaha, kenapa tidak memanfaatkannya untuk pengembangan hortikultura, baik untuk sayur-sayuran maupun untuk buah-buahan. Ketika musim kemarau,  lahan sawah banyak dimanfaatkan untuk tanaman semangka atau melon sebagai pengganti padi. Jadi, jika lebih menguntungkan mengusahakan hortikultura di lahan sawah, kenapa harus menanam padi. Dalam Undang-Undang Budidaya Tanaman, petani tidak wajib menanam padi atau petani diberi kebebasan menanam komoditi yang dianggap paling menguntungkan. Di samping itu,  Kediri memiliki kesuburan tanah yang tinggi dan spesifik, agroekologi yang sangat cocok untuk pengembangan berbagai jenis tanaman hortikultura
  2. Kediri memiliki potensi sumberdaya  manusia  atau tenagakerja  berlimpah.   Namun sementara ini tenagakerja pedesaan lebih banyak melakukan urbanisasi, karena sempitnya kesempatan kerja di perdesaan dan kalaupun ada usahatani padi sawah dan atau usahatani kebun dianggapnya tidak menjanjikan masa depan.
  3. Kediri mempunyai modal sosial (Social Capital) tinggi dalam  mengembangkan agribisnis hortikultura. Pengalaman Indonesia dalam  membangun  pertanian  hingga  mampu  mencapai swasembada beras dalam  PJP I yang  lalu,  merupakan  pengalaman  dan  modal  tersendiri  untuk  membangun agribisnis hortikultura yang berdaya saing tinggi. Di samping itu, sifat orang Kediri yang suka berkelompok akan sangat membantu mempercepat diffusi inovasi teknologi hortkultura.
  4. Indonesia umumnya dan Kediri khususnya memiliki empat kelebihan alam yang  tidak dimiliki oleh sebagian besar negara-negara maju yaitu, panjang dan intensitas penyinaran, suhu, bebas taifun, dan curah  hujan.  Jumlah radiasi matahari dalam setahun yang  melebihi  negara  maju,  sehingga  dengan  iklim tropis, dimungkinkan di Kediri dilakukan penanaman secara rotatif  tiga  sampai empat kali dalam setahun, sementara di  sebagian  negara maju pada musim dingin praktis tidak dapat bertanam karena pertumbuhan tanaman terhenti.

Dari 19 jenis buah-buahan yang didata produksinya oleh instansi berwenang dalam kurun waktu 2008-2011, ke-19 jenis buah-buahan tersebut produksinya cenderung  berfluktuasi yang dipengaruhi oleh perubahan  iklim global dan serangan hama dan penyakit tanaman serta bencana alam. Jenis buah-buahan yang produksinya menonjol di kediritahun 2002 adalah mangga (36.00 ton), rambutan (30.366 ton), jeruk (45.529 ton), nangka (33.713 ton), durian (14.098 ton), pisang (124.254 ton), salak (32.667 ton) dan anggur (21.899 ton). Sedangkan jenis sayuran yang produksinya menonjol adalah kubis (50.468 ton), petsai/sawi (30.602 ton), cabe (25.266 ton) dan tomat (45.216 ton)

Neraca Perdagangan Hortikultura Indonesia yang Defisit Produk hortikultura buah-buahan Indonesia yang dominan diekspor yaitu, alpukat, mangga, manggis, pepaya, durian, langsat, pisang segar, dan rambutan, yang volume ekspornya relatif berfluktuasi selama  enam tahun terakhir (1993-1998). Sedangkan Indonesia juga mengimpor beberapa jenis produk hortikultura buah-buahan yaitu, kurma kering, jeruk segar, anggur segar, anggur kering, apel segar, pir dan mandarin segar.

Namun neraca perdagangan (ekspor-impor) produk hortikultura buah-buahan Indonesia setiap tahun defisit, yang ditandai oleh nilai impor selalu lebih besar dari pada nilai ekspor. Apel, misalnya, selama tahun 2011, volume impor sebanyak 81,899 juta kilogram atau senilai 47,009 juta dollar AS. Anggur (segar) 10,580 juta kilogram atau senilai 10,031 juta dollar AS, anggur (kering) sebanyak 797.089 kilogram dengan nilai impor 463.336 dollar AS. Sementara itu, buah jeruk segar (bukan mandarin) yang diimpor mencapai 12.380 juta kilogram atau 6,584 juta dollar AS. Lalu, buah jeruk mandarin segar yang diimpor 60,922 juta kilogram dengan nilai 32,245 juta dollar AS. Durian 3.779.662 kilogram senilai 4.055 juta dollar AS (lihat Lampiran 6). Impor buah ini cenderung meningkat setiap tahun seiring dengan pertambahan penduduk. Karena pada tahun 2000, impor Indonesia atas apel sebanyak 72.426 ton dengan nilai 42,42 juta dollar AS, jeruk 19.438 ton senilai 10,8 juta dollar AS, jeruk mandarin 58.423 ton senilai 30,04 juta dollar AS (Lampiran 6). Tingkat konsumsi buah  yang masih rendah dari yang ditetapkan FAO saja volume impor  buah sudah sebanyak itu, apalagi kalau konsumsi buah ditingkatkan mencapai jumlah seperti dianjurkan FAO, maka impor buah segar pasti meningkat  tajam. Menurut ketentuan FAO (Food and Agricultural Organization), konsumsi jeruk di negara berkembang rata-rata masih 8,9 kilogram per kapita per tahun, sedangkan tingkat konsumsi jeruk di negara-negara maju mencapai 32,6 kg per kapita per tahun.

Dalam jangka panjang kondisi ini tidak menguntungkan, karena akan menguras devisa yang semakin terbatas (prioritas untuk mencicil utang) dan juga berarti menelantarkan keunggulan komparatif yang dimiliki yakni sumberdaya alam dan iklim. Apakah tidak kebangetan sebagai sebuah negara yang memiliki potensi pengembangan produk-produk agribisnis primer dan olahan harus mengimpor terus, yang dapat menguras devisa negara. Selama ini Indonesia selalu membanggakan diri sebagai negara agraris terbesar di dunia. Namun realitanya sangat bertolak belakang. Indonesia bukannya menjadi pengekspor, tetapi pengimpor bahan pangan dan buah-buahan terbesar. Itu berarti, ketahanan pangan benar-benar rapuh serta nasib petani selalu tertindas tanpa masa depan.   Jeruk  misalnya, sampai saat ini produksi dalam negeri hanya mampu menyuplai kebutuhan nasional sebesar lima persen dari total konsumsi 1,5 juta ton per  tahun.  Kegagalan utama pembangunan sektor pertanian selama ini karena pengetahuan dan keterampilan petani hanya difokuskan pada bercocok tanam, sedangkan pemasaran terabaikan. Peliknya masalah pemasaran membuat petani jera mengembangkan usaha hortikulturanya menjadi lebih besar lagi. Berdasarkan pengamatan lapangan, para pengusaha hortikultura sering terjebak oleh kondisi pasar  yang sulit diprediksi, sehingga peningkatan kesejahteraan hanya  impian belaka. Karenanya, pengembangan hortikultura haruslah secara profesional, artinya adanya pembangunan yang seimbang antara aspek pertanian, bisnis dan jasa penunjang. Penanganan produksi tanpa didukung dengan pemasaran yang baik tidak akan memberi manfaat dan keuntungan bagi petani.

Pengalaman di masa lalu membuktikan  pembangunan pertanian yang tak disertai sarana pendukung yang memadai serta kurang sikronnya antara industri  hulu dan hilir, kurang memberikan hasil yang menggembirakan. Sumberdaya yang ada, tidak termanfaatkan secara optimal. keunggulan komparatif belum terberdayakan maksimal, sehingga selalu kalah bersaing. Dengan demikian, pemerintah sebagai fasilitator harus duduk sejajar dengan para pelaku-pelaku agribisnis hortikultura, merumuskan suatu  grand strategy untuk menggali potensi agribsinis hortikultura, sehingga mampu menghasilkan devisa, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan pendapatan para pelaku-pelaku agribisnis hortikultura dan memberikan kontribusi terhadap pendapatan regional dan nasional.

Kendala Pengembangan Usaha Hortikultura di Kediri

Walau Kediri memiliki potensi besar di satu pihak, tetapi di pihak lain Kediri  juga menghadapi kendala dalam pengembangan usaha hortikultura, yang dapat digolongkan menjadi kendala substansi dan kendala organisasi/kelembagaan. Kendala substansi terdiri dari: (1) relatif sempitnya pemilikan atau penguasaan lahan untuk usaha hortikultura; (2) terbatasnya diversifikasi produk-produk agribisnis dan agroindustri hortikultura, sehingga kurang mampu memenuhi pasar domestik dan pasar ekspor; (3) kualitas beberapa produk hortikultura masih belum mampu menyesuaikan dengan tuntutan pasar domestik dan internasional; (4) kelangkaan kualitas sumberdaya manusia  yang  mempunyai  kemampuan memadai  dalam  menajamen  agribisnis,  teknologi pengolahan serta pengetahuan manajemen mutu; (5) belum maksimalnya  dukungan pihak perbankan terhadap pengembangan agribisnis hortikultura, baik dari aspek permodalan maupun suku bunga; (6) kurangnya kegiatan dan pengetahuan untuk menyiasati pasar (market intelligence); (7) kurangnya  upaya  promosi pasar di luar negeri; (8) kurangnya dukungan pemerintah untuk merangsang dan mempermudah akses pasar.

Kendala organisasi atau kelembagaan meliputi: (1) belum  berkembangnya lembaga pemasaran domestik maupun ekspor;  (2)  informasi  pasar kepada petani  secara  asimetri  akibat  belum berfungsinya lembaga-lembaga  pemasaran;  (3) upaya  koordinasi intensif dalam membangun sistem  informasi  terpadu  belum banyak dilakukan; (4) iklim

KISAH SUKSES PENGEMBANGAN AGRIBISNIS HORTIKULTURA THAILAND:
SUATU PELAJARAN BAGI KEDIRI DAN INDONESIA

Agribisnis Hortikultura Thailand, Thailand  dikenal dunia sebagai negeri Gajah Putih. Namun di sejumlah negara termasuk di Indonesia, Thailand dikenal pula sebagai negara penghasil hortikultura dan diakui bahwa Thailand telah berhasil pengembangkan agribisnis buah-buahan dan sayur-sayuran. Terobosan Thailand dalam dunia agribisnis bukan hanya berhasil meningkatkan kemapanan   12 sektor agribisnis dalam ekonomi nasional Thailand, tetapi juga berhasil meningkatkan citra positif Thailand sebagai pelopor pengembangan agribisnis di kawasan ASEAN.

Sistem agribisnis Thailand, khususnya dalam pengembangan komoditi hortikultura (buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman hias) mendapat pengakuan internasional dalam satu dasa warsa terakhir di abad ke 20 ini. Komoditi buah-buahan dan sayur-sayuran telah menjadi komoditi potensial ekspor Thailand, di samping produk-produk agribisnis lainnya seperti daging dan ternak unggas. Dari laporan ekspor yang dikeluarkan oleh Departmen of Business and Economics Thailand (1995), disebutkan bahwa dalam kurun waktu 1990-1994, empat komoditi agribisnis yang berhasil menduduki peringkat 10 besar komoditas ekspor Thailand, yaitu udang (peringkat 5), padi/beras (7), karet (8) dan produk perikanan kalengan (10).

Perkembangan sektor agribisnis tersebut merupakan hasil kerja keras dengan perencanaan yang matang dan terpadu, serta melibatkan semua unsur yang terkait dengan memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada. Perkembangan tersebut didukung oleh komitmen tinggi dari semua pihak yang berkompeten untuk mewujudkan sisten agribisnis Thailand yang tangguh dan kompetitif, baik di pasar domestik, regional maupun internasional. Misal, dukungan dari  Menteri Pertanian dan Koperasi dan Universitas Kasetsart sebagai institusi pendidikan tinggi pertanian yang terkenal, terutama dalam melakukan terobosan riset rekayasa pertanian dan bioteknologi. Demikian pula dukungan dari lembaga keuangan dan pembiayaan seperti  Bank of Agriculture and Agricultural Cooperation (BAAC), melalui pembiayaan dengan kredit berbunga rendah. Hal ini dimaksudkan untuk menurunkan biaya produksi, akhirnya harga produksi menjadi lebih rendah (low cost) sehingga lebih kompetitif di pasar domestik dan  di pasar internasional.

Keunggulan Pengembangan Agribisnis Hortikultura Thailand Berikut ini dipaparkan beberapa keunggulan sistem pengembangan agribisnis Thailand, mungkin berguna sebagai informasi bagi pengembangan agribisnis di Indonesia ada umumnya dan di Kediri pada khususnya,  sebagai berikut:

  1. Thailand memiliki keunggulan di bidang  penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan bibit unggul melalui rekayasa bioteknologi,  bioproses dan kultur jaringan.
  2. Keunggulan dalam  memfungsikan Badan Penyuluhan Pertanian Daerah (BPPD), selain berfungsi sebagai sarana bimbingan pertanian, juga  sebagai sarana penyedia informasi pasar bagi petani dalam kaitannya dengan perencanaan jenis dan kuantitas produksi.
  3. Keunggulan dalam  mengidentifikasi komoditi yang memiliki prospek bisnis  dan pertumbuhan pasar yang tinggi, sehingga pengembangannya diarahkan untuk komoditi-komoditi potensial tersebut. Dengan kata lain, Thailand lebih memfokuskan  pengembangan pada beberapa komoditi yang memiliki prospek bisnis tinggi, terutama untuk menembus pasar luar negeri.
  4. Keunggulan dalam memainkan  strategi pemasaran yang andal dan efektif untuk penetrasi pasar, terutama pasar ekspor.  Untuk tujuan penetrasi tersebut, maka semua perwakilan Thailand  di luar negeri ditugaskan melakukan   market intelejent   untuk mengumpulkan  informasi pemasaran, dan selanjutnya informasi tersebut disebarkan melalui media massa dan lembaga-lembaga terkait seperti BPPD.
  5. Kemampuan yang tinggi untuk mempendek rantai pemasaran  komoditas, sehingga marjin pemasaran relatif rendah. Dengan kata  lain perbedaan  antara harga yang dibayar konsumen dan harga yang diterima petani (harga produsen) relatif kecil, sehingga integrasi vertikal sistem komoditas beroperasi dengan efisien. Di samping itu, intervensi pemerintah dalam pengaturan pasar relatif kecil, yang memungkinkan mekanisme pasar dapat berjalan dan efisiensi sistem pemasaran dapat tercipta. Pemerintah  Thailand lebih banyak berperan sebagai  fasilitator dan controller dari pada sebagai  regulator  sistem pemasaran.
  6. Kredit pertanian yang berbunga rendah dan tanpa agunan, terutama yang disediakan oleh BAAC. Dalam hal penyaluran kredit perbankan, intervensi pemerintah Thailand relatif kecil, kecuali dalam hal penyaluran kredit pertanian yang tetap diintervensi dengan berbagai kebijakan, walaupun pihak perbankan memiliki komitmen yang tinggi untuk menjalankan kebijakan tersebut.
  7. Sistem pengembangan agribisnis diarahkan  ke  integrasi dengan agroindustri hilir,dengan tujuan untuk menciptakan kegunaan (utility), terutama kegunaan waktu (timeutility) dan kegunaan bentuk (form utility) melalui upaya  pengolahan, pengalengan dan pengemasan. Dengan penciptaan kegunaan waktu dan bentuk, memungkinkan produk-produk pertanian dan hasil olahannya dapat bertahan lebih lama dan menjangkau pasar lebih jauh.

Keunggulan-keunggulan tersebut secara terpadu menciptakan kekuatan sinergik untuk mencapai integritas sistem komoditas agribisnis yang tinggi. Dengan demikian, tidaklah berlebihan jika pengembangan sisten agribisnis di Thailand patut dicontoh oleh negara-negara lain termasuk Indonesia.

Kiat-Kiat Pemasaran Produk Agribisnis Hortikultura Thailand

Sukses ekspor hortikultura Thailand menggambarkan bahwa banyak elemen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan agribisnis. Dalam usaha merambah pasar luar negeri, Thailand memiliki kiat-kiat khusus di bidang pemasaran produk-produk agribisnis, antara lain:

  1. 1.Perwakilan Thailand  di luar negeri ditugaskan untuk melakukan  market intelejent untuk mengumpulkan informasi pemasaran, dan menelaah peluang-peluang pasar yang potensial di negeri masing-masing tempat mereka bertugas.
  2. Frekuensi keikutsertaan  pengusaha agribisnis dalam  trade fair di luar negeri semakin ditingkatkan dengan tujuan promosi dan perkenalan produk, perkenalan personal bisnis, serta mempelajari peluang-peluang kerjasama.
  3. Upaya memperkenalkan produk agribisnis dan makanan khas Thailand dilakukan dengan cara: (1) masyarakat  Thailand di luar negeri mengundang rekan-rekannya  untuk acara seremonial sambil menikmati makanan khas Thailand; (2) mendirikan restoran-restoran khas Thailand di luar negeri yang dilengkapi dengan acara kesenian Thailand, dimana promosinya dibantu oleh masyarakat Thailand di sekitar restoran tersebut; (3) menghidangkan berbagai produk makanan, buah-buahan serta penampilan hiasan bunga pada semua acara kenegaraan; (4) pasar swalayan di luar negeri dipasok  dengan air cargo delivery dan sistem konsinyasi, baik dengan atau tanpa membukan L/C.
  4. Promosi di dalam negeri Thailand dilakukan melalui: (1) agrowisata, terutama orchid farm yang menampilkan teknik budidaya, demonstrasi bunga hias dan penawaran pasar; (2) kerjasama antara restoran dengan perusahaan biro perjalan untuk memasukkan acara makan malam dalam rangkaian  acara  yang dijadwalkan; (3) kerjasama antara media masa dengan pengusaha agribisnis untuk mempromosikan produk-produk agribisnis Thailand  dengan biaya yang rendah, melalui penampilan gambar-gambar dan profil komoditi yang indah; (4) brosur dan  leaflet yang indah dan lengkap menggambarkan profil komoditi yang mudah diperoleh di mana-mana; (5) upaya untuk mempromosikan daerah produsen baru bagi masyarakat dari daerah lain terus digalakkan melalui pameran produk, dengan harapan memperkenalkan potensi pengembangan daerah produsen baru tersebut kepada masyarakat di daerah lain; (6) kerjasama terpadu antara pengusaha, masyarakat dan pemerintah sangat langgeng dan berkesimbangungan, di mana ide-ide dan motivasi pengusaha berkembang dengan mendapat dukungan dari pemerintah untuk merealisasikannya.
  5. Penampilan dan mutu produk mendapat perhatian serius dalam upaya menembus persaingan di pasar global. Dengan demikian pengawasan mutu produk menjadi suatu strategi penting untuk meraih pangsa pasar yang besar, di samping upaya-upaya yang mengefisienkan operasi sistem komoditi.  Penampilan produk meliputi penyempurnaan tingkat keseragaman bentuk dan warna, keberhasilan, dan teknik pengemasan, selain menjaga mutu yang tinggi.
  6. Koordinasi antara instansi pemerintah dengan asoiasi-asosiasi sangat baik, terutama dengan  board of trade (BOT),  Federation of Thai-industry Assoiation  (FTA), dan Thailand Banking Assosiation (TBA). Berbagai masukan yang berharga dari asosiasi-asosiasi tersebut menjadi pertimbangan dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan upaya meningkatkan pangsa pasar produk agribisnis dan agroindustri serta dukungan pendanaan  yang cukup, di samping kebijakan-kebijakan yang langsung berpengaruh terhadap perdagangan dan ekspor komoditi.
  7. Kebijakan kargo udara. Salah satu elemen penting dari keseluruhan strategi adalah keterlibatan Thai Airways secara aktif untuk meningkatkan usaha-usaha itu. Perusahaan penerbangan itu menyediakan ruang istimewa yang dialokasikan untuk barang-barang yang tak tahan lama, ongkos ditetapkan pada tingkat yang kompetitif, dan fasilitas cold storage diatur untuk pengiriman.

Hal ini menunjukkan bahwa sukses ekspor produk agribisnis Thailand merupakan hasil kerja keras bertahun-tahun yang melibatkan banyak pihak, yakni dari raja/ratu sampai pekerja agribisnis, dari dosen/peneliti sampai masyarakat umum, dan dari pemerintah/lembaga keuangan sampai pengusaha. Segala upaya yang terus-menerus itu selalu berorientasi pada pasar. Kebijakan pemerintah secara realistik dikaitkan dengan kemampuan dan kebutuhan industri. Bagi Indonesia umumnya dan Kediri khususnya, berbagai kiat positif tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi, pelajaran dan pertimbangan dalam perencanaan dan pelaksanaan pengembangan agribisnis hortikultura yang berorientasi pada  pasar global, sehingga kinerja usaha hortikultura dalam hal pemasaran produk hortikultura  dapat ditingkatkan. Peningkatan kinerja pemasaran tersebut diharapkan akan mendorong peningkatan produktivitas agribisnis hortikultura di Indonesia dan Kediri, yang selanjutnya akan berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani kecil hortikultura.

KESIMPULAN

  1. Kediri masih memiliki potensi besar dalam pengembangan hortikultura buah-buahan melalui usaha intensifikasi. Hal ini didukung oleh: (i) tersedianya lahan kering seluas 126.487 ha yang dapat diusahakan secara intensif, tersedianya lahan sawah seluas 87.765 ha yang dapat diusahakan untuk hortikultura sebagai tanaman penggilir, kesuburan tanah yang tinggi dan spesifik, agroekologi yang sangat cocok untuk pengembangan berbagai jenis tanaman hortikultura, (ii) Kediri memiliki potensi sumberdaya  manusia  atau tenagakerja  berlimpah, (iii) Kediri  memiliki modal sosial berupa pengalaman petani dalam bertani dan sistem kemasyarakatan orang-orang Kediri yang gampang berkelompok sebagai media difusi inovasi dan teknologi, dan  (iv) Indonesia umumnya dan Kediri khususnya memiliki empat kelebihan alam yang  tidak dimiliki oleh sebagian besar negara-negara maju yaitu, panjang dan intensitas penyinaran, suhu, bebas taifun, dan curah hujan yang cukup.
  2. Dalam mengembangkan usaha hortikultura petani kecil, maka strategi yang dapat dilaksaksanakan sebaiknya melalui 3 tahapan yaitu: (i) redistribusi harta produksi utama, yaitu lahan pertanian, dapat berupa pengalihan pemilikan atau berupa berupa pengaturan institusional yang memberikan peluang kepada petani tak bertanah; (ii) meningkatkan produktivitas lahan pertanian, melalui perubahan teknologi dan inovasi, kebijakan ekonomi dan perbaikan sistem kelembagaan, dan (iii) investasi dalam sumberdaya manusia melalui pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani hortikultura dan petugas pembina petani hortikultura.
  3. Meraih daya saing tinggi atau keunggulan kompetitif produk-produk hortikultura Kediri khususnya dan Indonesia umumnya adalah dengan menerapkan konsep sistem agribisnis, yaitu mengintegrasikan subsistem produksi dengan subsistem agroindustri hulur-hilir, subsistem pemasaran/perdagangan dan subsistem lembaga penunjang. Di samping itu, menyingkirkan kendala-kendala substansi dan organisasi yang dihadapi oleh petani kecil serta meningkatkan peran pemerintah dan lembaga terkait lainnya dalam memfasilitasi serta mengawasi (bukan mengatur) pengembangan usaha hortikultura.
  4. Meraih sukses pengembangan usaha hortikultura di Kediri khususnya dan di Indonesia umumnya, belajarlah dari kisah sukses pengembangan agribisnis Thailand (yang baik pantas dicontoh). Kesuksesan ekspor produk-produk agribisnis hortikultura Thailand merupakan hasil kerja keras bertahun-tahun yang melibatkan banyak pihak, dari raja/ratu sampai pekerja agribisnis, dari dosen/peneliti sampai masyarakat umum, dan dari pemerintah/lembaga keuangan sampai pengusaha. Kisah sukses Thailand diharapkan dapat menjadi inspirasi, pelajaran dan pertimbangan bagi Indonesia dalam perencanaan dan pelaksanaan pengembangan agribisnis hortikultura yang berorientasi pada  pasar global, yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan petani kecil hortikultura pada khususnya.




Manajemen Pemasaran Internasional

16 07 2012

(Bahan Materi Kuliah Pasca Sarjana UNISKA Kediri)
(Untuk Kalangan Sendiri)

Daftar Isi
Bab 1 . Aspek-Aspek  Pemasaran Internasional
Bab 2. Teori, Kebijakan,dan Hambatan Perdagangan Internasional  Serta Pembangunan Ekonomi.
Bab 3. Lingkungan Ekonomi Internasional
Bab 4. Lingkungan Kultural Internasional
Bab 5. Lingkungan Politis Internasional
Bab 6. Strategi Pemasaran Global

BAB I . ASPEK-ASPEK PEMASARAN INTERNASIONAL
Pemasaran internasional menarik karena mengkombinasi sains dan seni bisnis dengan banyak disiplin ilmu lainya. Ilmu ekonomi, antropologi, kajian-kahian cultural, sejarah, bahasa, jurisprudensi, statistic, demografi, dan banyak bidang ilmu lainnya berpadu dalam rangka membantu manajemen mengeksplorasi pasar global.
Pemasaran internasional penting karena dunia kian mengglobal. Pemasaran internasional berlangsung diseluruh dunia setiap hari, mempunyai dampak besar atas kehidupan manusia dankrusial untuk kelangsungan hidup dan keberhasilan perusahaan. Pemasaran internasional diperlukan karena, dari sudut pandang nasional, keterkungkungan enomi berangsur-angsur menjadi mustahil. Kegagalan untuk berpartisipasi di pasar global memastikan kemerosotan pengaruh ekonomi sebuah Negara dan degradasi standar kehidupa masyarakatnya.
Pemasaran internasional (international marketing) paling baik dijelaskan dengan terlebih dahulu meninjau secara ringkas pemasaran dalam konteks domestic. Pemasaran (marketing) adalah proses manajerial dan social di mana individu-individu dan kelompok-kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk-produk yang bernilai dengan orang dan / atau kelompok lain. Pemasaran terdiri atas kumpulan aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan untuk berhubungan secara menguntungkan dengan pasarnya. Sukses akhir perusahan terutama tergantung pada seberapa baik perusahaan tersebut berkiprah di pasar.

Hal ini membutuhkan beberapa pengetahuan pemasaran yaitu :

  1. Mempelajari calon pelanggannya. Siapakah mereka? Dimanakah mereka ? Faktor-faktor apakah yang mempunyai pengaruh penting dalam pembelian mereka terhadap produk-produk perusahaan ?
  2. Membuat produk atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan pelanggan.
  3. Menentukan harga dan syarat produk yang masuk akal bagi para pembeli seraya menangguk keuntungan yang wajar.
  4. Mendistribusikan produknya sehinggaproduk tersebut gampang tersedia bagi pembeli
  5. Menginformasikan kepada pasar tentang produknya; perusahaan bolah saja menggunakan persuasif untuk memikat pembeli.

Dimensi Internasional Pemasaran
Pemasaran internasional  (international marketing) adalah pelaksanaan aktivitas-aktivitas bisnis yang mengarahkan arus barang dan jasa kepada konsumen atau pemakai pada lebih dari satu Negara demi suatu keuntungan.
Istilah pemasaran internasional juga dipakai dalam pengertian yang sangat umum untuk mengacu kepada segala jenis keterlibatan di luar pasar domestic perusahaan. Salah satu cara untuk memahami konsep pemasaran internasional adalah dengan mencermati bagaimana pemasaran internasional berbeda dari konsep pemasaran domestic, pemasaran luar negeri, pemasaran komparatif, perdagangan internasional, danpemasaran multinasional.
Pemasaran domestic (domestic marketing) merujuk kepada praktik-praktik pemasaran pada sebuah egara asal pemasar. Satu-satunya perbedaan antara pemasaran domestic dan ep masaran internasional adalah bahwa aktivitas-aktivitas pemasarannya berlangsung di lebih dari satu Negara. Pe rbedaan yang tampaknya kecil ini menyebabkan kompleksitas dan diversitas yang dijumpai dalam operasi pemasaran internasional.
Konsep, proses dan prinsip pemasaran berlaku secara universal, dan tugas pemasaran tetaplah sama, baik dia memutar  roda bisnis di Indonesia, Amerika, Sinagpura, atau Negara-negara asing lainnya.
Pemasaran internasional hendaknya dibedakan dengan perdagangan internasional.
Perdagangan internasional (international trade) mengacu kepada arus barang dan modal yang melewati batas-batas nasional.
Fokus analisisnya adalah pada kondisi komersial dan moneter yang mempengaruhi neraca pembayaran dan transfer sumber daya. Ancangan ilmu ekonomi ini memberikan suatu wawasan pasar makro pada tataran nasional, tanpa memberikan perhatian khusus pada intervensi pemasaran perusahaan. Penelitian pemasaran internasional, di lain pihak, lebih erat berhubungan dengan tataran pasar mikro dan menggunakan perusahaan sebagai satu unit analisisnya. Fokusnya adalah pada bagaimana dan mengapa sebuah produk berhasil atau terpuruk di luar negeri dan bagaiaman upaya pemasaran mempengaruhi hasil.
Beberapa otoritas pemasaran membedakan pemasaran internasional dari pemasaran multinasional (multinational marketing) karena pemasaran internasional dalam arti harfiahnya menandakan pemasaran di antara negara-negara (inter berarti “antara”). Dengan demikian, kata internasional menyiratkan bahwa sebuah perusahaan adalah warga negara korporat dunia, tetapi lebih pada beroperasi dari sebuah negara asal. Bagi otoritas tersebut, pemasaran multinasional (atau global ataupun dunia) merupakah istilah yang lebih disukai karena tidak ada yang asing maupun domestik apabila telah menyangkut pasar dunia dan peluang-peluang global.

 

APLIKASI PEMASARAN
Satu pertanyaan menarik yang sering mengemuka adalah perihal apakah pemasaran dibutuhkan juga di negara-negara sosialis/komunis dan negara-negara berkembang.
Yang tersirat dalam pertanyaan ini adalah bahwa kebutuhan pokok konsumen di negara-negara tersebut diketahui, ettapi tidak terpenuhi; sehingga stimulasi permintaan (yang biasanya merupakan tugas pokok pemasan tidaklah perlu  Wawasan seperti itu merupakan interprestasi yang sangat sempit dari proses pemasaran dan tidak memaparkan gambaran secara lengkap.
Negara-negara komunis seperti Cina dan Hongaria mengizinkan beberapa jenis usaha swasta dan langkah bisnis independen. Rusia telah pula bergerak ke arah yang sama.
Tujuan pemasaran biasanya adalah memaksimalkan laba dan tidaklah harus berupa penjualan atau permintaan. Oleh sebab itu, pemasaran dapat digunakan dalam rangka mengekang permintaan seraya mempertahankan tingkat laba yang sama pada saat startegiseperti itu dikehendaki.
Pemasaran dapat meredakan permasalahan suplai dengan memanipulasi komponen-komponen bauran pemasaran. Bauran pemasaran bisa disesuaikan (misalnya, sedikit periklanan, distribusi yang lebih selektif, harga yang lebih mahal) sehingga menyebabkan permintaan  merosot sampai pada taraf yang sesuai dengan suplai yang ada. Akhirnya proses pemasaran merangsang inovasi yang lebih efisien dan efektif. Konsekuensinya, pemasaran merupakan aktivitas yang sangat diperlukan, bahkan di dalam perekonomian yang berbeda dengan perekonomian di negara maju seperti di Amerika dan Jepang.

KOMPETENSI PEMASARAN INTERNASIONAL
Kompleksitas pemasaran internasional sebagian besar diakibatkan oleh dua faktor:
1. Kompetisi global
2. Lingkungan global
Manajemen pemasaran internasional (international marketing management) bertanggung jawab atas pembuatan, penerapan, pemeliharaan, dan pengendalian segala aktivitas yang dibutuhkan perusahaan untuk
1. Melewati batas-batas nasional,
2. Mendukung aktivitas-aktivitas pemasaran asing
3. Mengevaluasi kinerja pemasatan asing
Manajemen pemasaran berhadapan dengan TIGA KEPUTUSAN DASAR, diantaranya sebagai berikut :

  1. Apakah perusahaan bakal turut serta dalam aktivitas-aktivtas pemasaran internasional.
  2. Seandainya perusahaan memutuskan ingin menggelar lapangan usaha di kancah internasional, maka harus diambil keputusan menyangkut pasar spesifik yang hendak dilayani
  3. Perusahaan memutuskan bagaimana melayani pasar tersebut; yakni metode atau sistem apa yang akan digunakan untuk menyampaikan produk-produk atau jasa ke tangan para konsumen di negara-negara asing.

Manajer pemasaran internasional mengemban tanggung jawab ganda: PEMASARAN ASING (pemasaran di dalam negara asing) dan PEMASARAN  GLOBAL (Koordinasi pemasaran di dalam bermacam-macam pasar di hadapan kompetisi global).

TIGA JENIS KOMPETENSI PEMASARAN INTERNASIONAL yaitu

  1. Kemampuan untuk menangan rintangan dan hambatan yang dihamparkan oleh pemerintah-pemerintah yang menghalang-halangi arus bebas barang dan jasa yang melewati perbatasan mereka.
  2. Kemampuan untuk mengatasi perbedaan-perbedaan yang selalu ada pada saat mengekspor atau berkiprah di dalam satu atau lebih negara.
  3. Kemampuan untuk menyokong dan mengevaluasi ekspor atau upaya pemasaran asing.

KAPASITAS UNTUK MELEWATI BATAS-BATAS NASIONAL
Kendatipun dibutuhkan banyak kapabilitas supaya secara efektif dan efisien menyeberangi batas-batas nasional, umumnya kapabilitas itu dapat dibatasi pada beberapa hal yaitu :
a). PENANGANAN REGULASI PEMERINTAH
Untuk melintasi batas-batas nasional dituntut kepatuhan terhadap banyak sekali regulasi yang diberlakukan oleh pemerintah dan berbagai ketentuan yang menyumbat arus bebas barang dan jasa, orang, dan faktor produksi. Hambatan ini meliputi tarif dan kuota, dan menuntut kepatuhan terhadap berbagai hambatan nontarif seperti standar kesehatan dan keselamatan kerja, standar produk, setoran di muka, dan pengawasan valuta asing.
b).PENANGGULANGAN RESTRIKSI PASAR KHUSUS
Kadangkala beberapa negara memaksakan berbagai larangan terhadap arus modal dan impor guna mengurangi, misalnya, defisit perdagangan dan penghamburan cadangan valuta asing yang langka. Sebagai contoh, pada tahun 1984 pemerintah Colombia memberlakukan larangan total terhadap impor. Larangan ini berpengaruh buruk terhadap berbagai upaya pemasaran lokal dari sejumlah perusahaan Amerika, termasuk Colgate-Palmolive, Quaker Oats, dan Unisys.

KONSEP PEMASARAN INTERNASIONAL
Berbedaan dalam orientasi dan ancangan internasional untuk pasar internasional yang mengarahkan aktivitas bisnis internasional perusahaan dapat digambarkan oleh salah satu dari Tiga Orientasi bagi Manajemen Pemasaran Internasional :
1. Konsep perluasan pasar domestik
KONSEP EKSTENSI PASAR DOMESTIK.
Orientasi inipadapemasaran internasional digambarkan oleh perusahaan domestik yang mencari ekstensi penjualan dari produk dmestiknya ke dalam pasar asing.
2. Kosep pasar multidomestik
Begitu sebuah perusahaan mengakui pentingnya perbedaan-perbedaan pada pasar luar negeri dan pentingnya lapangan usaha asing bagi organisasi mereka, orientasinya terhadap dunia usaha internasional dapat  bergeser ke strategi pasar multidomestik (multidomestic market strategy).
3. Konsep pemasaran global
Perusahaan yang dipandu oleh orientasu atau filosofi ini biasanya disebut sebagai perusahaan global. Aktivitas pemasarannya adalah pemasaran global (global marketing), dan cakupan pasarnya adalah dunia. Perusahaan yang menganut strategi pemasaran global berjuang untuk efisiensi skala dengan membuat produk yang terstandardisasi, kualitas yang dapat dikedepankan, untuk dijual pada harga yag  masuk akal kepada sebuah pasar global.

TUJUAN PEMASARAN INTERNASIONAL
Istilah pemasaran internasional berkenan dengan pertukaran di luar batas-batas nasional untuk pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia. Singkatnya, pemasaran internasional merujuk kepada perencanaan dan pelaksanaan transaksi-transaksi yang melewati batas-batas nasional untuk memuaskan tujuan dari individu-individu dan organisasi. Dalam banyak bentuknya, pemasaran internasional mencakup mulai dari perdagangan ekspor-impor sampai ke pemberian lisensi, usaha patungan, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, turnkey operations, dan kontrak-kontrak manajemen.
 
Tabel ESENSI PEMASARAN INTERNASIONAL
Mencari dan memuaskan kebutuhan oelanggan global secara lebih baik dibandingkan yang dilakukan oleh kompetisi, baik domestik maupun internasional, dan mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas pemasaran di dalam kendala-kendala lingkungan global.

Langkah-langkah Pencapaian Tujuan Pemasaran Internasional:
 
1. MENGIDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELANGGAN GLOBAL
Kebutuhan pelanggan dapat diidentifikasi dengan mengadakan riset pemasaran internasional. Riset seperti itu membantu perusahaan memahami kebutuhan pelanggan dalam pasar-pasar yang berbeda dan apakah pelanggan tersebut berbeda dari pelanggan yang saat ini dilayani oleh perusahaan.

2. MEMUASKAN PELANGGAN GLOBAL
Bila kebutuhan pelanggan ternyata berbeda untuk semua negara dan wilayah, perusahaan mesti memikirkan bagaimana mengadaptasikan produk dan berbagai elemen bauran pemasarannya untuk secara paling memuaskan pelanggan-pelanggan di seluruh dunia dengan cara yang terbaik.

3. LEBIH BAIK DIBANDINGKAN KOMPETISI
Perusahaan mesti menghadapi kompetitor-kompetitor domestik dan global. Kompetitor global dapat meliputi perusahaan-perusahaan multinasional raksasa dan badan-badan usaha milik negara (BUMN) yang bisa saja tidak bisa saja beorientasi laba dan juga perusahaan-perusahaan lokal kecil.

4. MENGKOORDINASIKAN AKTIVITAS-AKTIVITAS PEMASARAN
Pemasaran internasional internasional menciptanakan taraf kompleksitras yang baru karena perusahaan-perusahaan harus mengkoordinasikan aktvitas pemasaran mereka di semua negara. Hal ini dapat melibatkan penyusunan staf dan pengalokasian tanggung jawab atas semua unit pemasaran di negara-negara yan berbeda, dan memutuskan keputusan-keputusan mana yang akan didesentralisasi atau dikendalikan dari kantor pusat, apakah akan menyusun kampanye dan rencana periklanan, dan seberapa besar daya tanggap lokal yang tepat.

5. MENGENALI KENDALA LINGKUNGAN GLOBAL
Karena beraneka macam perusahaan berusaha untuk memasarkan di arena internasional, mereka mesti mengatasi perbedaan-perbedaan kultural dan ekonomi yang terdapat dalam infrastruktur pemasaran seperti struktura sofitikasi sistem distribusi, kendapa finansial yang ditimbulkan oleh fluktuasi kurs valuta dan beragam laju inflasi, dan dampak kebijakan pemerintah, khususnya proteksionis dan kebijakanlainnya yang dapat secara tidak adil menguntungkan pesaing dan menimbulkan kerumitan dalam jalur masuk pasar.
 
Dengan demikian pemasaran internasional dapat meliputi aktivitas-aktivitas seperti :

  1. Ekspor
  2. Pabrikasi di luar negeri
  3. Usaha patungan
  4. Pemberian lisensi dan waralaba di luar negeri
  5. Impor
  6. Imbal dagang

 
PARTISIPASI UTAMA DALAM PEMASARAN INTERNASIONAL
Berbagai jenis perusahaan adalah pemain utama dalam pemasaran internasional. Pemain-pemain utama itu adalah perusahaan multinasional, eksportir, dan perusahaan jasa. Perusahaan-perusahaan tersebut bisa terlibat dalam pabrikasi barang-barang konsumsi maupun industri, dalam perdagangan, atau pelaksanaan rentang penuh jasa. Kesamaan dari semua partisipasi tersebut adalah kebutuhan untuk mengatasi kompleksitas pasar internasional.

PERUSAHAAN MULTINASIONAL
PERUSAHAAN MULTINASIONAL (MULTINATIONAL CORPORATIONS) adalah perusahaan yang memproduksi dan memasarkan barangatau jasa di beberapa negera. Perusahaan jenis ini biasanya menjalankan sejumlah pabrik di luar negeri dan memasarkan produknya melalui jaringan besar anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya.

PERUSAHAAN GLOBAL
Perusahaan global (global companies) berbeda dari perusahaah multinasional dalam hal  bahwa mereka mengikuti strategi yang terintegrasi atas skala dunia daripada strategi yang terpisah atas dasar dari negera ke negara. Perusahaan global cenderung melihat dunia secara keseluruhan sebagai sebuah pasar dan menggerakkan produk, pabrikasi, modal, atau bahkan personalianya ke mana saja mereka dapat meraih keuntungan. Perusahaan-perusahaan global juga cenderung mempunyai basis yang kokoh di wilayah-wilayah ekonomi seperti Amerika Utara, Eropa dan negara-negara cekungan Asia Pasifik.
 
PERUSAHAAN JASA
Pada awalnya, perusahaan-perusahaan multinasional sebagian besar terdiri atas produsen perlengkapan industrial dan produk konsumsi. Banyak dari perusahaan multinasional yang paling  akhir adalahperusahaan-perusahaan jasa. Bank komersial, bankir investasi, dan pialang telah mengubah dirinya menjadi jarinagn jasa global; maskapai penerbangan dan hotel telah mencapai status global. Demikian pula halnya dengan kantor akuntan publik, perusahaan konsultan, biro periklanan, dan lain-lain
 
EKSPORTIR
Ekspor adalah Aspek penting dari pemasaran internasional. Di Amerika eksportir-eksportir terkemukanya adalah Boeing (pesawat terbang $17.8 milyar), General Motors (mobil, $11,2 milyar) dan  generala Electric (mesin peswat, plastik, turbin dan perlengkapan medis, $8,6 milyar).
 
IMPORTIR
Pengimporan merupakan keputusan pemasaran internasional juga seperti halnya pengekporan perusahaan yang tidak mengekspor masih dapat berpartisipasi dalam pemasaran internasional melalui operasi impornya. Banyak jaringan eceeran terbesar Amerika yang mempertahankan departemen impor yang mempunyai kontak bisnis dengan kalangan pemasok di banyak negara asing. Importir-importir utama lainnya adalah perusahaan-perusahaan multinasional yang memperoleh produk dan pabrik-pabriknya sendiri di luar negeri atau dari klien-kliennya.
 
Pemasaran internasional dan peningkatan signifikansinya.
Derajat keterlibatan di luar negeri merupakan fungsi dari komitmennya untuk memburu  pasar asing. Keterlibatan luar negeri perusahaan dapat masuk ke dalam salah satu dari beberapa kategori ini :

  1. Domestik : Beroperasi secara eksklusif di dalam sebuah negara
  2. Eksportir regional: beropasi di dalam wilayah yang ditentukan secara geografis yang melewati batas-batas nasional. Pasar yang dilayani secara ekonomis dan kultural adalah homogen. Seandainya aktivitas terjadi di luar wilayah negara asal, itu hanya kebetulan saja.
  3. Eksportir. Menjalankan kegiatan usahanya dari sebuah kantor pusat di dalam wilayah negara asal, mengekspor barangjadi ke mancanegara.
  4. Internasional:  operasi regionalnya agark otonom, tetapi keputusan-keputusan kunci dibuat/ dikoordinasikan dari kantor pusat di negara asal. Pabrikasi dan perakitan, pemasaran, dan penjualan, terdesentraliasi di luar wilayah negara asal. Baik barang jadi maupun produk antara diekspor keluar wilayah asal.
  5. Internasional ke global,  menjalankan anak perusahaan yang mandiri di dalam suatu lingkup negara.
  6. Global  Organisasi yang sangat terdesentralisasi, beroperasi di luar suatu lingkup yang luas dari negara. Tidak ada wilayah geogafis (termasuk wilayah asal) yang dianggap apriori terhadap basis primer untuk setiap bidang fungsional, dan setial fungsi, termasuk juga litbang, penentuan sumber pengadaan, pabrikasi dan pemasaran/penjualan, dilakukan pada lokasi seantero dunia yang paling sesuai untuk fungsi tersebut.

PEMASARAN DOMESTIK VERSUS PEMASARAN INTERNASIONAL
Sifat pokok pemasaran tidaklah berubah dari pemasaran domestik ke pemasaran internasional, namun pemasaran di luar batas-batas nasional memanglah merupakan masalah khusus dan tersendiri. Pemasaran internasional, tidak seperti halnya pemasaran domestik, membutuhkan operasi secara simultan di dalam lebih dari sejenis lingkungan, mengkoordinasikan operasi-operasi tersebut, dan menggunakan pengalaman yang ditimbanya pada sebuah negara untuk mengambil keputusan di negara-negara lainnya.

Agar sukses bersaing secara global, alih-alih hanya beroperasi secara domestik, perusahaan patutlah menekankan :

  1. Kofigurasi global aktivitas-aktivitas  pemasaran (yakni, dimana aktivitas-aktivitas seperti pengembanganproduk baru, periklanan, promosi penjuala, pemilihan saluran riset pemasaran, dan fungsi-fungsi lainnya akan dilaksanakan)
  2. Koordinasi  global aktivitas-aktivitas pemasaran (yaitu bagaimana aktivitas-aktivitas global pemasaran yang dilaksanakan di negara-negara yang berbeda akan dikoordinasikan)
  3. Kaitan  antar aktivitas-aktivitas pemasaran (yakni bagaimana aktivitas pemasaran akan dikaitkan dengan aktivitas lainnya dari perusahaan).

Aktivitas Pemasaran yang tersebar di berbagai negara harus dikoordinasikan secara tepat dalam rangka meraih keuntungan kompetitif. Koordinasi seperti itu dapat dicapai lewat cara-cara berikut :

  • Melakukan aktivitas pemasaran dengan menggunakan metode yang sama untuk semua negara
  • Mengalihkan pengetahuan dan keahlian pemasaran dari negara ke negara lainnya.
  • Mengurutkan program pemasaran untuk semua negara.
  • Memadukan berbagai upaya dari berbagai kelompok pemasaran di negara-negara yang berbeda.

KEPUTUSAN DAN LINGKUNGAN PEMASARAN INTERNASIONAL

BAB II. Teori, Kebijakan,dan Hambatan Perdagangan Internasional  Serta Pembangunan Ekonomi.

  1. Perdagangan internasional merupakan cabang ilmu ekonomi yang berkenaan dengan pertukaran barang dan jasa dengan negara-negara asing. Dua bidang khusus yang perlu dikaji adalah teori perdagangan internasional dan hambatan perdagangan. Teori perdagangan internasional mencoba untuk memberikan eksplanasi dari motif perdagangan,  pola perdagangan yang mendasarinya, dan manfaat akhir perdagangan tersebut.
    Perdagangan (trade) adalah pertukaran sukarela barang, jasa, atau uang antara satu orang atau sebuah organisasi dengan orang atau organfeasi lain. Karena sukarela, kedua belah pihak dalam trahsaksi haruslah yakin bahwa mereka akan membukukan keuntungan dari pertukaian tersebut.
  2. Perdagangan internasional (international trade) adalah perdagangan di antara penduduk dari dua negara. Penduduk dapat berupa individu, pcrusahaan. organisasi nirlaba, alau bentuk asosiasi lainnya. Mengapa negara berdagang? Sebuah negara berdagang karena mengharapkan untuk raendapatkan sesuatu dari mitra dagangnya. Agar perdagangan berlangsung, kedua negara harus memperhitungkan keuntungan yang akan didapatkan dari perdagangan tersebut.
  3. Selama abad ke 17 dan 18, sekelompok orang (bankir, pedagang, pejabat pemerintah, dan bahkan filsuf) menulis esai dan pamflet mengenai perdagangan internasional yang mencuatkan filosofi ekonomi yang disebut sebagai merkantilisme (merchantilism).
  4. Prinsip merkantilisme yang menonjol adalah bahwa emas dan perak merupakan arus deras kesejahteraan nasional dan esensial untuk perdagangan yang giat. Merkantilisme bertumpu pada gagasan bahwa pemerintah (bukan individu-individu, yang dianggap tidak dapat dipercaya) haruslah terlibat dalam transfer barang-barang di antara negara-negara guna meningkatkan kekayaan negara masing-masing.
  5. KEKAYAAN didefinisikan, sebagai suatu akumulasi berbagai logam berharga, terutama emas.

 
KONSEP MERKANTILISME mengandung DUA KELEMAHAN.

Pertama. keyakinan yang keliru bahwa emas dan logam berharga lainnya mempunyai nilai intrinsik, pada saat sebenarnya logam-logam tersebut tidak dapat dipakai untuk produksi maupun konsumsi. Dengan demikian, Negara-negara yang menganut paham merkantilisme menukarkan produk pabrik alau pertanian mereka untuk kekayaan yang tidak produklif tersebut.
Kedua, teori merkantilisme tidak menggubris konsep efisiensi produksi melalui spesialisasi. Alih-alih memusatkan pada produksi barang-barang yang efektif-biaya, merkanfilisme malahan menekankan volume ekspot dan impor belaka, dan menyamakan penumpukan kekayaan dengan akuisisi kekuasaan.
Contoh merkantilisme dalam era modern, disebut Nasionalisme Ekonomi (economic nationaltern) oleh beberapa kalangan, adalah kebijakan indusiri baru yang didasarkan pada inlervensi negara yang mendalam yang dilakukan oleh para sosialis di Perancis. Perancis menasionalisasi industri-industri kunci dan bank-bank dengan menggunakan kekuasaan negara sebagai (1) pemegang saham dan pemberi dana, dan (2) sebagai pelanggan dan pemasar untuk merevitalisasi basis industri negara.
 
Smith menyusun Teori Keunggulan Absolut (theory of absolute advantage) yang menyatakan bahwa  negara-negara yang berbeda dapat memproduksi beberapa jenis barang secara lebih efisien daripada  negara-negara lainnya; dengan demikian, efisiensi global dapat diringkatkan melalui perdagangan  bebas (free trade). Berpijak pada teori ini. Smith memperlanyakan mengapa masyarakat dari negara manapun harus membeli barang yang diproduksi secara domestik jika memang barang tersebut dapat dibeli secara lebih murah dari luar negeri Negara lain.

Smith menyodorkan alasan bahwa jika perdagangan tidak dibatasi naja setiap negara akan mengkhususkan diri dalam produk yang memberikan keunggulan kompetitif baginya. Setiap sumber daya negara bakal dialihkan ke industri yang efisien karena negara tidak akan dapat bertarung dalam industri yang tidak efisien. Melalui spesialisasi, negara dapat memperbaiki efisiensi mereka berkat tiga sebab:

  1. Tenaga kerja akan menjadi lebih cakap dengan mengulang-ulang tugas-tugas yang sama.
  2. Tenaga kerja tidak akan kehilangan waktu untuk berpindah dari produksi satu jenis produk ke jenis produk lainnya.
  3. Produksi dalam jangka panjang bakal memberikan insentif untuk pembuatan metode kerja yang lebih efektif.

DavidRicardo mendasarkan hukum keunggulan komparatifnya pada sejumlah asumsi yang sederhanakan:

  1. hanya dua negara dan dua komoditas,
  2. perdagangan bebas,
  3. mobilitas sempurna tenaga kerja di dalam setiap negara, tetapi tidak mobil di antara dua negara,
  4. biaya produksi yang konstan,
  5. tidak ada biaya transportasi,
  6. tidak ada perubahan teknis, dan
  7. teori nilai tenaga kerja. Kendatipun asumsi satu sampai enam masih bisa diterima, namun asumsi ketujuh tidak salah dan sebaiknya tidak dipakai untuk menjelaskan keunggulan komparatif.

Keunggulan Komparatif dan Teori Nilai Tenaga Kerja
Menurut teori nilai tenaga kerja (labor theory of value), nilai atau harga komoditas secara eksklusif tergantung pada jumlah tenaga kerja yang masuk ke dalam produksi komoditas tersebut. Hal ini menyiratkan

  1. bahwa baik tenaga kerja sebagai faktor produksi ataupun tenaga kerja digunakan dalam proporsi tetap dalam produksi semua komoditas, dan
  2. bahwa tenaga kerja adalah homogen umpamanya, hanya satu jenis). Karena kedua asumsi tersebut tidak ada yang benar, eksplanasi keunggulan komparatif tidak dapat diuraikan melalui teori nilai tenaga_kerja.

Teori Biaya Kesempatan
Haberler adalah pakar yang pertama menjelaskan teori keunggulan komparatif atas dasar teori biaya kesempatan. Dalam bentuk ini, hukum keunggulan komparatif kadang-kadang disebut sebagai hukum biaya komparatif (law of’comparative cost).
Menurut teori biaya kesempatan (opportunity cost theory), biaya dari sebuah komoditi adalah jumlah komoditi kedua yang harus dikorbankan untuk memperoleh sumber daya guna menghasilkan tambahan unit komoditi yang pertama. Di sini tidak berlaku asumsi bahwa biaya atau harga komoditi tergantung pada/atau dapat ditarik secara eksklusif dari kandungan tenaga kerjanya. Konsekuensinya, negara dengan biaya kesempatan yang lebih rendah dalam produksi sebuah komoditi mempunyai keunggulan komparatif dalam komoditi tersebut (dan kelemahan komparatif dalam komoditi yang kedua).
Rasionalitas untuk Mencari Keunggulan Komparatif
Setiap negara berjuang untuk meningkatkan materi standar kehidupan masyarakatnya; standart kehidupan meningkat sebagai suatu fungsi produktivitas. Dengan produktivitas yang lebih besar, jumlah tenaga kerja yang sama bakal menghasilkan lebih banyak barang dan jasa. Karena produkfivitas melonjak, kesejahteraan materi yang lebih besar dituai.
Negara-negara yang lain akan menikmati keuntungan produktivitas dengan cara-cara yang berbeda. Swedia membuat pilihan dengan hari libur yang lebih banyak; Amerika lebih menggandrungi kepemilikan materi yang meningkat. Apapun pilihan akhirnya, produktivitas yang melejit memung­kinkan rentang pilihan yang lebih luas.
Unsur produktivitas yang lainnya adalah spesialisasi produksi, di mana negara tidak mencoba menghasiikan semua barang yang dibutuhkan. Spesialisasi lebih efisien dan, sebenarnya, mengatrol standar kehidupan dengan menyediakan barang-barang tertentu melalui impor seraya menyediakan produk dan jasa tertentu secara nasional.
 
Teori faktor komposisi produksi
Prinsip keunggulan absolut dan relatif memberikan suatu basis primer agar perdagangan berlangsung, tetapi kegunaan prinsip-prinsip ini dibatasi oleh asumsinya. Salah satu asumsi dasarnya adalah bahwa keunggulan baik itu absolut maupun komparatif, semata-mata ditentukan oleh tenaga kerja dalam kaitannya dengan waktu dan biaya.
Faktor-faktor produksi lainnya dianggap

  1. tidak signifikan,
  2. masukan-masukan tenaga kerja sedemikian tersebar secara tidak merata sehingga faktor-faktor  tersebut senantiasa berjalan dalam suatu proporsi yang tetap dengan tenaga kerja, atau
  3. hanya mewakili suatu kumpulan tenaga kerja. Maka dari itu, tenaga kerja menentukan biaya produksi dan selanjutnya harga produk untuk komoditas yang sama.

Evalusi kritis terhadap teori perdagangan
Salah satu Keterbatasan Teori Perdagangan Klasik adalah bahwa faktor produksi dianggap tetap konstan untuk setiap negara berkat anggapan mobilitas sumber daya seperti itu di antara negara-negara. Asumsi ini biasanya berlaku bila menyangkut tanah lantaran transfer fisik dan kepemilikan tanah hanya dapat diselesaikan melalui peperangan atau pembelian (misalnya, Amerika merampas Kaifornia dari Meksiko dan Amerika membeli Alaska dari Uni Soviet). Sungguhpun demikian dewasa ini hal seperti itu sangat jarang terjadi. Sesungguhnya banyak  negara yang memiliki undang-undang yang mencegah orang asig memiliki real estate.

Bagi hasil produksi
Akhir 1970-an Peter Drucker memperkenalkan suatu konsep baru perdagangan dan dunia usaha internasional.  Drucker menamakan konsep ini BAGI-HASIL PRODUKSI {production sharing). Konsep bagi hasil produksi menggambarkan suatu realitas ekonomi yang terdapat di negara-negara maju dimana taraf pendidikan yang lebih tinggi menciptakan tingkat pengharapan pribadi yang lebih tinggi. Seterusnya diikuti dengan lenyapnya secara bertahap tenaga kerja semi ahli dan tenaga kerja kasar yang diperlukan untuk pabrikasi yang intensif tenaga kerja. Bagi-hasil produksi menganjurkan negara maju supaya berpaling ke negara-negara berkembang di mana ketersediaan tenaga kerja merupakan aset utama mereka.
 
Bagi-hasil produksi memungkinkan perusahaan-perusahaan di negara-negara maju, yang memiliki kepiawaian manajemen canggih dan feknologi tinggi, berhasil menghalau impor asing yang mengancam laba mereka. Sebagai contoh, sebuah perusahaan Amerika dapat memanfaatkan tenaga-tenaga kerja ahli dan teknologinya untuk mengolah sebuah produk sebagian dan belakangan menghendaki tahap pabrikasi yang menyerap lebih banyak tenaga kerja yang dilaksanakan di tempat lainnya, katakanlah di Meksiko, Republik Dominika, atau Costa Rica. Hal ini memampukan sebuah perusahaan tetap kompetitif guna menghadang impornya.
 
Teori internalisasi mengansumsikan bahwa perusahaan mempunyai horizon globaldan mengakui bahwa perusahaan membutuhkan suatu keunggulan kompetitif atau aset unik untuk ekspansi.Bagaimanapun juga,tesis yang mendasari internalisasi adalah keinginan perusahaanmemperluas operasi-operasi langsungnya dibandingkan dengan menggunakan pasar eksternal.Ancangan internalisasi berpijak pada dua aksioma umum yakni :
(1) Perusahaan memilih lokasi yang paling murah untuk setiap aktifitas yang mereka geluti; dan
(2) Perusahaan bertumbuh dengan menginternalisasi pasar sampai pada titik dimana keuntungan dari internalisasi lebih jauh akan dibebani oleh biaya.
 
Teori internalisasi (internalization theory) memberikan suatu rasionalitas ekonomi untuk keberadaan perusahaan-perusahaan multinasional.keputusan penentuan sumber pengadaan berlandaskan pada biaya dan manfaat bagi perusahaan, memperhitungkan :

  • faktor-faktor spesifik industri (misalnya, bentuk produk)
  • faktor-faktor spesifik-wilayah (misalnya,lokasi geografis),
  • faktor-faktor spesifik-negara (misalnya, iklim politis), dan
  • faktor-faktor spesifik perusahaan (misalnya, kemampuan manjerial untuk internalisasi).

Teori siklus hidup produk internasional (international product life cycle, PLC) mengedepankan eksplanasi yang berbeda untuk motivasi mendasar pada perdagangan diantara negara-negara.Teori ini terutama tergantung pada :
1.     teori pemasaran tradisional perihal pembangunan
2.     kemajuan
3.     rentang hidup produk dipasar
 
Raymond Vernon adalah orang yang pertama kali mengajukan teori siklus hidup produk dalam pertengahan kurun 1960-an. Teori Vernon ini didasarkan pada observasi bahwa untuk sebagian besar dari Abad 20, proporsi yang sangat besar dari produk-produk baru dunia dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dan dijual pertama-tama di pasar Amerika (misalnya, mobil, televisi, kamera, komputer pribadi, dan chip semikonduktor).
 
Teori IPLC mempunyai dua prinsip penting:
(1) teknologi merupakan faktor kritis dalam menciptakan dan membuat produk baru; dan
(2) ukuran dan struktur pasar adalah  penting dalam menentukan poloa perdagangan.

Tahap I Pengenalan
Selama proses siklus hidup suatu produk, negara inovator dari sebuah produk baru pada mulanya merupakan eksportir, yang lambat laun kehilangan keunggulan kompetitifnya vis-a-vis pola-pola perdaganganya, dan pada akhirnya menjadi importir produk tersebut selang beberapa waktu kemudian.
Tahap ini bermula pada saat perusahaan inovator melakukan terobosan teknologi.

Lokasi inovasi  Adalah bermanfaat untuk mengetahui dimana produk-produk baru dikembangkan. Indikasinya adalah bahwa hampir semua teknologi dunia berasal dari negara-negara industri
Ekspor dan tenaga kerja  Pada tahap pengenalan dari siklus hidup produk, sebagian kecil dari produk dapat dijual kepada pelanggan di pasar asing yang telah mendengar adanya produk baru dan secara aktif mencarinya

Tahap II Pertumbuhan
Pada saat penjualan produk baru tumbuh, kalangan pesaingpun memasuki pasar. Sejalan dengan itu, permintaan mungkin juga bertambuh secara substansial di pasar-pasar asing, khususnya di negara-negara industri lainnya. Dan para produksi asing akan mengurangi ekspor dari perusahaan yang menemukan.

Tahap III  Kedewasaan   
Dalam tahap 3, permintaan dunia mulai mendatar, meskipun permintaan itu mungkin saja masih bertumbuh  disejumlah negara dan anjlok di negara lainnya.

Tahap IV:  Penurunan
Dalam tahap IV, produsen asing kini telah memiliki pengalaman produksi dan sekala ekonomi yang memadai yang memungkinkan  mereka mengekspor balik ke negara perusahan inovator. Produk dapat menjadi sedemikian terstandardisasi pada Tahap IV ini sehingga produk tersebut hampir menjadi suatu komoditas.

Verifikasi dan Limitasiteori  Siklus Hidup Produk Internasional
Penelitian menunjukkan perilaku yang konsisten dengan prediksi dari model siklus hidup produk untuk barang konsumsi tahan lama tertentu, bahan sintetis , dan bahan elektronik.

Adanya banyak jenis produk lainnya dimana terhadapnya perpindahan produksi tidak berlangsung:

  1. Produk, berkat INOVASI yang sangat cepat, mempunyai daur hidup yang sangat singkat, yang membuatnya mustahil untuk mendapat berbagai pengurangan biaya dengan memindahkan produksi dari negara satu ke negara lain.
  2. Barang-barang mewah dimana biayanya mendapat sedikit perhatian konsumen.
  3. Produk-produk yang terhadap BIAYA PENGANGKUTAN INTERNASIONAL sedemikian tingginya sehingga sedikit peluang untuk melakukan penjualan ekspor, terlepas dari tahap daur hidup produk.
  4. Produk-produk yang terhadap perusahaan dapat menggunakan strategi diferensi yang berbeda, seperti PERIKLANAN, untuk mempertahankan permintaan konsumen tanpa bersaing atas dasar harga.
  5. Produk-produk yang mencuat pada saat KETRAMPILAN TEKNIS adalah penting untuk mengaitkan keluaran saat ini dengan pelatihan tteknis tenaga kerja dan pengembangan generasi teknologi berikutnya.

Gambar.  Determinan-determinan Keunggulan Kompetitif Nasional : Berlian Porter

Anugerah faktor
Porter mengenali hirarki diantara faktor-faktor produksi, membedakan antara
FAKTOR-FAKTOR DASAR (basic factors) misalnya sumber daya alam, iklim, lokasi, dan demografi
FAKTOR-FAKTOR LANJUTAN (advanced factors).Contohnya prasarana komunikasi, tenaga yang canggih dan terlatih, fasilitas riset, dan ketrampilan teknis teknologis.
 
Kondisi Permintaan
Porter menekankan peran pemintaan dalam negeri dalam memberikan dorongan untuk mendongkrak keunggulan kompetitif. Perusahaan biasanya paling peka terhadap kebutuhan pelanggannya yang paling akrab.
Dengan demikian, karakteristik permintaan dalam negeri terutama penting dalam membentuk atribut-atribut produk yang dibuat secara domestik  dan dalam menciptakan tekanan untuk inovasi dan kualitas
 
Industri Yang Berkaitan dan Mendukung
ATRIBUT KETIGA dari keunggulan nasional dalam suatu industri adalah kehadiran didalam  sebuah negara pemasok atau industri-industri yang berkaitan yang kompetitif secara internasional.
Manfaat investasi dalam faktor produksi lanjutan menurut industri-industri yang berkaitan dan menunjang dapat merembes kedalam suatu industri, yang dengan demikian membantunya mencapai posisi kompetitif yang tangguh secara internasional.

STRUKTUR, STRATEGI, DAN PERSAINGAN PERUSAHAAN
ATRIBUT KEEMPAT dari keunggulan nasional adalah struktur, strategi, dan persaingan perusahaan didalam sebuah negara.

Porter menunjukkan Dua Poin penting disini.

  1. PERTAMA adalah bahwa negara-negara yang berbeda ditandai oleh ideologi manajemen yang berlainan, yang bisa membantu maupun mengganjal mereka untuk membangun keunggulan nasional. Porter mencatat dominasi insinyur pada tim manajemen puncak di prusahaa-perusahaan Jerman dan Amerika
  2. KEDUA adalah bahwa terdapat hubungan yang erat antara perasaingan domestik yang seru dengan penciptaan dan ketekunan keunggulan kompetitif didalam suatu industri. Persaingan domestik yang alot menyebabkan perusahaan mencari berbagai cara untuk meningkatkan efisiensinya, yang pada gilirannya menjadikan mereka sebagai petarung tangguh di kancah internasional. Persaingan domestik menciptakan tekanan untuk melakukan inovasi, meningkatkan kualitas, memangkas biaya, dan menanamkan investasi dalam pemutakhiran faktor-faktor lanjutan.

Berbagai implikasi teori perdagangan terhadap dunia usaha dapat dikelompokkan atas tiga kategori:

  1. Implikasi lokasi,
  2. Implikasi first-mover, dan
  3. Implikasi kebijakan

IMPLIKASI LOKASI
Terdapat kaitan antara teori-teori perdagangan internasional dengan keputusan perusahaan di mana menempatkan bermacam-macanm aktivitas produktifnya. Yang melandasi sebagian besar teori perdagangan adalah gagasan bahwa negara-negara yang berbeda mempunyai keunggulan tertentu dalam aktivitas-aktivitas produktif yang berbeda.
Dengan demikian, dari perspektif keuntungan, adalah masuk akal bagi sebuah perusahaan untuk menyebarkan aktivitas produktifnya ke negara-negara di mana, menurut teori perdagangan internasional, mereka dapat menggeluti dunia bisnis secara paling efisien.

IMPLIKASI PEMAIN PERTAMA
Teori perdagangan baru menguraikan arti penting pembangunan dan pengeksploitasian berbagai keunggulan pemain pertama bagi perusahaan. Perusahaan yang membentuk suatu keunggulan pemain pertama (first mover advantage) berkenaan dengan produksi produk baru tertentu selanjutnya boleh jadi akan menguasai perdagangan global produk tersebut.
Hal ini biasanya berlaku dalam industri-industri dimana pasar global hanya menguntungkan beberapa perusahaan saja (seperti pasar industri dirgantara).

IMPLIKASI KEBIJAKAN
Teori perdagangan internasional juga penting bagi pemasar internasional karena perusahaan merupakan pemain utama pada panggung perdagangan internasional. Perusahaan melancarkan ekspor dan impor dari negara-negara lainnya.
Berkat perannya  yang sangat penting dalam perdagangan internasional, perusahaan dapat dan mempunyai pengaruh kuat atas kebijakan perdagangan pemerintah.
Dengan melobi pejabat pemerintah, perusahaan dapat membantu mempromosikan perdagangan bebas, atau mereka dapat mendesakkan retriksi-retriksi perdagangan.

NERACA PEMBAYARAN
Dalam mempelajari perdagangan internasional, sumber informasi prinsipil adalah laporan neraca pembayaran (balance of payments) negara-negara yang berdagang. Neraca ini merupakan laporan ringkas dari segala transaksi ekonomi antara satu negara dengan semua negara lainnya selama periode waktu tertentu, biasanya satu tahun

KEPUTUSAN PEMASARAN
Neraca pembayaran merupakan suatu indikator kesehatan ekonomi sebuah negara. Data tersebut membantu penyusun kebijakan pemerintah untuk merencanakan kebijakan moneter, fiskal, faluta asing, dan perdagangan. Disamping memenuhi kebutuhan pemerintah, data seperti itu memiliki berbagai aplikasi terhadap pemasaran. Data tersebut dapat memberikan informasi untuk keputusan-keputusan dalam pemasaran internasional. Dua keputusan penting bagi sebuah perusahaan adalah pilihan lokasi pemasok untuk pasar asing dan pemilihan pasar untuk menjual.

PERTIMBANGAN FINANSIAL
Di samping neraca transaksi berjalan dalam neraca pembayaran, transaksi modal juga perlu disimak. Solvensi internasional sebuah negara dapat dievaluasi dengan mencek capital account-nya selama beberapa tahun. Seandainya sebuah negara terus-menerus kehilangan cadangan emas dan valuta asingnya, terdapat kemungkinan kuat akan terjadi suatu devaluasi mata uang atau sejenis pengawasan valuta, yang berarti bahwa pemerintah tersebut membatasi jumlah uang yang dikirim keluar dari negara tersebut dan juga penggunaannya.
Dengan adanya pengawasan devisa, perusahaan dapat mengalami kesulitan untuk memperoleh valuta asing guna mengirimkan laba mereka  ke negara asal, atau bahkan untuk sekadar mengimpor produk-produk yang dianggap tidak perlu bagi pembangunan negara tersebut, valuta asing yang langka akan ditukar untuk mengganti barang-barang yang menduduki prioritas tinggi bagi negara tersebut.

PERBEDAAN antara kebijakan perdagangan di negara-negara maju dan negara-negara berkembang adalah bahwa di negara-negara maju kebijakannya disibukkan secara lebih konsisten oleh dorongan pabrikasi dibandingkan sektor-sektor ekonomi lainnya. Kesibukan ini, sampai pada tataran tertentu, adalah akibat arti penting simbolik pabrikasi sebagai tanda pembangunan nasional.
Sebagian besar negara maju adalah eksportir produk-produk primer seperti hasil pertanian dan bahan tambang.

ARGUMEN INDUSTRIALISASI
Pada tahun-tahun terakhir ini, banyak negara telah mungupayakan proteksi dalam rangka eningkatkan taraf industrialisasi mereka karena sejumlah alasan:

  1. PENEKANAN ATAS INDUSTRIALISASI akan lebih meningkatkan keluaran dibandingkan dengan penekanan atas pertanian.
  2. ARUS MASUK INVESTASI ASING dalam bidang industri bakal menaikkan pertumbuhan.
  3. DIVERSIFIKASI PRODUK pertanian tradisional atau bahan mentah adalah perlu untuk menstabilkan fluktuasi perdagangan.
  4. HARGA barang pabrikan cenderung melesat lebih kencang dibandingkan harga barang-barang kebutuhan pokok/primer.

Banyak langkah pemerintah terhadap perdagangan tidak dilandasi alasan ekonomi, tetapi lebih pada kepentingan poitis seperti berikut ini:
a)     Penguasaan industri-industri esensial (khususnya Pertahanan).
b)    Pencegahan pengiriman ke negara-negara musuh.
c)     Pemeliharaan atau perluasan lingkaran dan lingkungan pengaruh.
d)    Konservasi aktivitas yang membantu mempertahankan identitas nasional.

Terdapat banyak jenis rintangan yang menghalangi arus bebas barang-barang dan jasa internasional.
Terdapat ENAM jenis hambatan yang lazim digunakan.

Hambatan Atas Dasar Harga  Barang dan jasa yang diimpor sekali waktu memiliki suatu tarif yang ditanmbahkan kepada harganya. Tarif ini kerap didasarkan pada nilai barang-barang tersebut.
Sebagai contoh, beberapa produk pelumas yang masuk ke Indonesia dikenakan tarif advaloreem sebesar 100 persen. Tarif ini meningkatkan pendapatan pemerintah, menghambat impor, dan membuat produk lokal menjadi lebih menarik.

Batasan Kuantitas   Batasan kuantitas sering disebut dengan kuota (quota), membatasi jumlah unit yang dapat diimpor atau pangsa pasar yang diperkenankan.

Penetapan Harga Internasional  Dalam beberapa kejadian, induk perusahaan internasional akan menetapkan harga atau kuantitas yang dijual dalam upaya mengendalikan harga. Hal ini disebut dengan KARTEL (cartel).
Contoh yang mengesankan adalah OPEC (Organization Of Petrolium Exporting Countries). Dengan mengatur suplai minyak yang dipasoknya, kartel berusaha untuk mengendalikan harga dan keuntungan.

Hambatan Nontarif  Hambatan nontarif (nontarif barriers) adalah peraturan, regulasi, dan birokrasi birokratik yang menunda atau menghambat pembelian barang-barang asing.

CONTOHNYA meliputi

  1. pemrosesan yang lambat surat izin impor;
  2. pembakuan standar kualitas yang menyingkirkan produsen asing; dan
  3. kebijakan pembelian lokaol. Hambatan-hambatan ini membatasi impor dan melindungi penjualan domestik.

Batasan Finansial  Terdapat sejumlah batasan finansial yang berbeda. Salah satu yang paling lazim adalah pengawasan devisa (exchange control), yang membatasi arus mata uang. Sebagai contoh, banyak negara Amerika Latin yang memperkenankan eksportir untuk menukar dollar mereka dengan mata uang lokal, tetapi mereka melakukan restriksi atas akses kepada dollar untuk pembelian impor. Contoh lainnya adalah Penggunaan kurs pertukaran tetap yang sangat menguntungkan negara tsb.

Pengawasan Investasi Asing  

  1. Pengawasan investasi asing (foreign investment controls) adalah batasan-batasan atas investasi asing langsung atau transfer atau remitansi dana.
  2. Pengawasan ini dapat mengambil sejumlah BENTUK, termasuk diantaranya :
  • mewajibkan pemodal asing untuk mengambil posisi kepemilikan minoritas;
  • membatasi remitansi keuntungan; dan
  • mencegah pembayaran royalti kepada induk perusahaan

TARIF
Tarif (tarif) adalah pajak atas pengimporan barang atau jasa ke dalam sebuah negara, dipungut oleh petugas pabean di tempat masuk barang tersebut.

HAMBATAN NONTARIF UNTUK PERDAGANGAN
Hambatan nontarif (nontariff barriers,NTBs) jauh lebih halus daripada tarif. Dibandingkan dengan tarif atau bahkan subsidi, yang kelihatan dan paling tidak memaksa produk untuk bersaing bagi penerimaan pasar pada berbagai dimensi selain harga, hambatan nontarif jauh lebih sukar dideteksi, dibuktikan, dan dihitung. Dampak ekonomi dari hambatan nontarif untuk perdagangan secara kasar serupa dengan tarif. Rintangan ini merupakan distorsi inefisien yang MENGGEROGOTI potensi keuntungan dari perdagangan.

KUOTA
Kuota (quotas) merupakan hambatan nontarif yang paling penting. Retriksi kuantitatif, atau kuota, merupakan untuk impor. Kuota menetapkan batas absolut terhadap kuantitas barang yang dapat memasuki sebuah negara. Kuota impor dapat menjadi retriksi yang lebih serius dibanding tarif karena perusahaan memiliki lebih sedikit keluwesan dalam meresponnya. Berbagai modivikasi produk atau harga tidak akan dapat mengurangi dampak kuota seperti halnya pada tarif. Tujuan pemerintah menetapkan kuota bukanlah untuk mendulang pendapatan.

TUJUAN pemerintah lebih tertuju pada KONSERVASI VALUTA ASING yang langka dan/atau PROTEKSI PRODUKSI LOKAL dalam lini produk yang terpengaruh. Satu-satunya respon yang dapat diberikan perusahaan terhadap kuota adalah dengan memastikan dirinya sendiri sebagai bagian kuota atau mendirikan produksi lokal bila ukuran pasar menjaminnya.

PENILAIAN BEA MASUK
Aparat pabean biasanya memiliki keleluasaan yang sangat luas dalam menentukana nilai barang yang diimpor dengan menambahkan cukai ad valorem. Kebebasan ini diizinkan untuk mencegah kalangan eksportir dan importir membertahukan secara serampangan memberi harga rendah pada faktur produk untuk menghindari pembayaran cukai atau tarif yang tinggi. Dalam praktiknya, keleluasaan ini sekali waktu digunakan sebagai alat untuk mencegah impor produk asing dengan menilainya sangat tinggi.

SUBSIDI
Meskipun negara sesekali melakukan pembayaran langsung kepada produsen untuk mengkompensasi mereka atas kerugian yang meraka derita karena penjualan keluar negeri, pemerintah sering memberikan berbagai jenis bantuan lain untuk membuat produk dari produsen tersebut lebih murah atau menguntungkan untuk dijual ke negara lain. SUBSIDI (subsidy) adalah pembayaran pemerintah kepada produsen domestik. Subsidi dapat mengambil banyak bentuk, meliputi bantuan kredit, pinjaman berbunga rendah, keringanan pajak, dan partisipasi kekayaan pemerintah dalam perusahaaan-perusahaan domestik.

PENGAWASAN DEVISA
Instrumen paling lengkap untuk regulasi perdagangan asing adalah pengawasan devisa (exchange control), suatu monopoli pemerintah terhadap semua dealings valuta asing. Perusahaan nasional yang memperoleh valuta asing dari ekspornya harus menjual valuta asing tersebut ke agen pengawas, biasanya bank sentral. Perusahaan yang ingin membeli barang dari luar negeri harus membeli valuta asing dari badan pengontrol. Dengan pengawasan devisa dipraktikkan khususnya oleh negara-negara berkembang yang tidak memiliki kekayaan alam yang berupa minyak bumi.

PERAN GATT
Aktivitas liberalisasi perdagangan yang paling penting pasca periode Perang Dunia II adalah GENERAL AGREEMENT on TARIFIS and TRADE (GATT), yang dimulai pada 1947 dengan 23 negara anggota, yang pada tahun 1993 telah memiliki 117 anggota. GATT telah memberikan seperangkat aturan baku kepada dunia yang di bawahnya berbagai negoisasi perdagangan berlangsung dan suatu mekanisme untuk memastikan bahwa aturan-aturan tersebut dipatuhi. Negoisasi yang paling baru, PUTARAN URUGUAI (Uruguay Round), bermula pada tahun 1986 dan mencapai perjanjian dalam tahun 1993. Seandainya diratifikasi, berbagai ketentuan perjanjian ini akan berlaku mulai 1juli 1995. Sungguhpun demikian, dalam banyak kejadian, negara-negara penandatangan mempunyai tenggang waktu yang lebih lama untuk mematuhinya.
MOST-FAVORED-NATIONS CLAUSE
Semua negara anggota GATT diharapkan terikat oleh prinsip nondiskriminasi dalam mengenakan berbagai tarif, yang dikenal sebagai prinsip perlakuan negara yang diutamakan tanpa syarat (uncon-ditional Most Favored Nations (MFN) Principle), yakni, bahwa tingkat tarif yang dikenakan terhadap sebuah komoditi oleh sebuah negara X harus sama untuk semua negara yang memasoknya, dan konsesi tarif yang dipertukarkan diantara dua negara harus diperluas ke seluruh negara anggota GATT. Klausul ini mensyaratkan bahwa jika sebah negara, misalnya Indonesia, memberikan pengurangan tarif kepada sebuah negara, katakanlah Jepang, maka Indoneia harus memberikan konsesi yang sama kepada semua negara lainnya. Klausul MFN juga berlaku untuk kuota dan lisensi meskipun klausul ini pada mulanya dimaksudkan tanpa syarat, namun dalam praktiknya banyak negara melakukan perkecualian. Perkecualian-perkecualian yang paling penting adalah:
Produk pabrikan dari negara-negara berkembang daberi perlakuan preferensial diatas negara-negara industri. Sebgai contoh, sebagian negara industri memberikan preferensi tarif kepada negara-negara berkembang dibawah Sistem Preferensi Umum (Generalized System of Preferences,GSP).
Konsesi diberikan kepada negara-negara anggota dalam aliansi perdagangan Uni Eropa (Euro-pean Union) atau North American Free Trade Association (NAFTA), dan tidak diperluas ke negara-negara diluar aliansi tersebut.
Negara-negara yang secara asal-asalan mendiskriminasi produk dari negara-negara tertentu tidak harus diberikan perlakuan MFN oleh negara-negara yang produknya didiskriminasi. Sebagai contoh, Amerika tidak harus memberikan perlakuan MFN kepada sejumlah negara yang dulunya blok komunis.
Negara-negara yang dulunya tidak menandatangani perjanjian tadak selalu diperlakukan sama seperti yang memberikan konsesi.
Negara-negara sekali waktu menentukan perkecualian dengan berpegang pada undang-undang mereka yang sudah berlaku pada saat penandatanganan perjanjian GATT.

Putaran-putaran Yang disponsori oleh GATT

Aktivitas GATT yang paling penting adalah mensponsori putaran-putaran (rounds) atau sesi-sesi, yang dinamakan sesuai dengan tempat penyelenggaraannya. Putaran-putaran ini telah menghasilkan sejumlah pengurangan dalam hambatan tarif dan nontarif untuk anggotanya.

Putaran Tokyo
Putaran Tokyo, ditandatangani tahun 1979, menghasilkan suatu pemotongan menyeluruh dalam tarif, termasuk pemangkasan sebesar 35 persen antara Amerika dan Masyarakat Eropa dan pengurangan sebesar 40 persen oleh jepang atas impor Amerika ke negara tersebut. Terlepas dari pengurangan-pengurangan ini,dorongan utama dari negoisasi-negoisasi tersebut adalah semakin penting; dan kompleksnya berbagai hambatan nontarif, teristimewa dalam LIMA bidang khusus:

  • Standar Industrial,
  • Pengadaan Pemerintah,
  • Subsidi dan Kewajiban Imbal Beli,
  • Pemberian Lisensi, dan
  • Penilaian Pabean.

Putaran Uruguay
Negoisasi-negoisasi yang bermula pada tahun 1986 ini telah berjalan selama 7 tahun dan hasilnya kurang dari apa yang pada mulanya diimpikan. Pengalaman menunjukkan bahwa semakin sulit untuk mengurangi retriksi perdagangan melalui perjanjian dagang yang berorientasi global. Persoalan utama adalah bahwa konsesi-konsesi yang kurang sensitif telah dibuat dan perhatian telah dialihkan ke beragam jasa daripada produk. Disamping itu, dalam banyak perdagangan jasa, seperti konstruksi dan profesi, melibatkan perpindahan potensi orang-orang secara internasional. Isu yang langsung dihadapi oleh negara adalah berkaitan dengan imigrasi, syarat-syarat pemberian izin yang sangat sulit, dan pendapat yang saling bertentangan tentang berbagai kualifikasi. Masalah-masalah lainnya meliputi:

  • Kenyataan bahwa pembicaraan menjadi semakin tidak praktis karena semakin banyaknya negara yang menjadi anggota GATT.
  • Ekspektasi dari sebagian negara industri bahwa negara-negara berkembang juga harus memberikan konsesi perdagangan.
  • Tuntutan dari negara-negara berkembang bahwa negara-negara industri harus mengimpor berbagai produk yang mempengaruhi tenaga kerja marjinal di negara negara berkembang.

PEMBANGUNAN EKONOMI
Pada saat kalangan wirausaha bergerak dari bisnis domestik kebisnis internasional, mereka menjumpai pasar-pasar dengan perbedaan yang jauh lebih besar dalam babakan pembangunan ekonominya daripada tempat di mana mereka dahulu berkiprah. Taraf pembangunan ekonomi mempengaruhi segala aspek dunia usaha- pemasaran, produksi, dan keuangan. Kendatipun negara-negara sangat bervariasi dalam taraf pembangunan ekonominya, secara umum negara-negara dapat dibagi atas lima kategori: negara maju, negara industri baru, negara berkembang, negara terbelakang, dan negara sangat terbelakang.

Kategori Berdasarkan Tingkat Pembangunan Ekonomi
Negara-negara maju (developed countries) adalah julukan yang diberikan kepada negara-negara Eropa Barat, Jepang, Australia, Selandia Baru, Kanada, Amerika Serikat, dan lain-lain. Negara-negara industri baru (newly industrializing countries) meliputi Brazil, Meksiko, dan empat macan Asia- Korea Selatan, Hang Kong, Taiwan, dan Singapura.

Negara-negara ini mempunyai TIGA hal yakni

  1. Perekonomian dengan tingkat pendapatan menengah,
  2. memiliki konsentrasi besar pada investasi asing, dan
  3. mengekspor dalam jumlah besar barang-barang pabrikan, termasuk produk teknologi

Negara-negara berkembang (developing countries), negara-negara terbelakang (less developed countries), dan negara-negara sangat terbelakang (least developed countries) adalah julukan yang diberikan untuk mengkategorikan negara-negara sisanya selain negara-negara komunis, yang biasanya ditempatkan dalam klasifikasi perekonomian nonpasar (nonmarket economy) yang terpisah. Badan-badan antar pemerintah seperti PBB dan Bank Dunia cenderung memakai istilah pendapatan rendah, menengah, dan tinggi daripada istilah maju dan terbelakang.

TAHAP PEMASARAN DAN TINGKAT PEMBANGUNAN EKONOMI
Peran pemasaran internasional dalam pembangunan sebuah negara dapat dilihat dalam tahap-tahap model pemasaran yang sederhana. Dengan mengaitkan ancangan-ancangan yang berbeda kepada pemasaran dan tahap-tahap pembangunan ekonomi yang dialami, hasil pemasaran internasional yang berbeda akan dapat mengemukakan, lihat Gambar 2-6.

Gambar 2.6.: Pemasaran dan Pembangunan nasional

Karakteristik Negara Berkembang

  1. GNP/kapita kurang dari $2,000.
  2. Distribusi pendapatan yang taidak merata, dengan kelas menengah yang sangat sedikit.
  3. Dualisme teknologis- campuran perusahaan-perusahaan yang menerapkan teknologi canggih dan perusahaan-perusahaan yang memakai metode yang masih sangat primitif.
  4. Dualisme regional- produktivitas dan pendapatan yang tinggi di beberapa wilayah dan sedikit pembangunan ekonomi bi kawasan lainnya.
  5. Jumlah yang lebih besar (80 sampai 85 persen) populasi yang mencari nafkah dari sektor-sektor pertanian yang kurang produktif.
  6. Tingginya angka pengangguran tersembunyi- dua orang melakukan pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan oleh satu orang.
  7. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi (2 sampai 5 persen per tahun).
  8. Tingkat buta aksara sangat tinggi dan fasilitas pendidikan yang tidak memadai.
  9. Malnutrisi yang meluas dan banyaknya masalah kesehatan umum.
  10. Ketidakstabilan politik.
  11. Ketergantungan yang sangat tinggi pada ekspor tertentu, umumnya hasil pertanian dan bahan tambang.
  12. Tingkat tabungan yang rendah dan fasilitas perbankan yang tidak memadai.

POSISI KHUSUS NEGARA-NEGARA BERKEMBANG
Banyak jenis perdagangan dan kebijakan ekonomi makro yang dapat menjadi faktor yang merugikan bagi pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang, yang jika tidak disingkirkan dapat mempersukar oramg-orang yang tinggal di sana: kebijakan-kebijakan perdagangan yang memberikan proteksi yang untuk impor pabrikasi yang bersaing; valuasi berlebihan kurs pertukaran yang menurunkan imbalan bagi ekspor hasil pertanian; dan menyebabkan bahan makanan impor lebih murah daripada bahan makanan pengganti domestik.
Pendekatan institusional untuk sistem pemasaran bagi negara-negara berkembang berarti beranjak dari solusi yang murni ekonomi berdasarkan transformasi sistem produksi yang ada. Hal ini juga berarti bahwa tidaklah mungkin bergantung semata-mata pada sektor modern, tetapi pada perubahan lengkap fokus pengembangan produk-produk bernilai tambah di dalam komunitas dan perubahan kebijakan supaya menggairahkan pembangunan seperti itu.
Komunitas di negara-negara berkembang biasanya membutuhkan:

  1. Akses khusus ke sumber daya dan pasar.
  2. Akses khusus ke layanan kredit dan bisnis
  3. Akses khusus ke pasar ekspor.
  4. Akses khusus bagi wanita di negara-negara berkembang, teristimewa untuk sumber daya dan pasar dan keleluasaan untuk membuat keputusan.

BAB III. LINGKUNGAN EKONOMI INTERNASIONAL

Pemasaran
adalah suatu aktivitas ekonomi yang dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi yang ada didalamnya aktivitas tersebut dijalankan. Keberadaan perekonomian internasional adalah kritis bagi bisnis perusahaan. Karena negara-negara berhubungan satu sama lain secara ekonomis, maka kegiatan bisnis internasional mungkin dilakukan.
Dewasa ini, sesungguhnya, pemasar internasional merupakan partisipan dalam hubungan ekonomi intenasional. Penilaian lingkungan ekonomi asing seyogyanya bermula dari evaluasi variabel-variabel ekonomi yang berkaitan dangan besar dan bentuk pasar.

Sistem Perekonomian
Dikotomi fundamental dapat dibuat antara perekonomian pasar dan perekonomian yang di rencanakan secara terpusat (centrally planned economies).

Perekonomian Pasar
Dalam suatu perekonomian pasar (market economy), dua unit sosial memainkan peran penting: INDIVIDU dan PERUSAHAAN. Individu memiliki sumber-sumber daya dan produk konsumsi; perusahaan menggunakan sumber-sumber daya itu dan menghasiolkan produk.

PEREKONOMIAN TERPUSAT
Dalam suatu perekonomian terpusat, dampak kekuatan pasar adalah TERBATAS. Bagaimana sumber daya digunakan dan produk didistribusikan ditetapkan oleh birokrat pemerintah pusat

PEREKONOMIAN CAMPURAN
Dalam kenyataannya, tidak ada perekonomian yang murni ditentukan oleh pasar atau seluruhnya direncanakan secara terpusat. Meskipun kini tidak ada lagi contoh yang sempurna dari kedua sistem perekonomian diatas, beberapa perekonomian campuran merupakan salah satu contoh dari sistem tersebut.
Di Hong Kong, sebagai CONTOH, keberadaan banyak perusahaan kecil yang bersaing dan kebijakan intervensi pemerintah yang minimal berakibat dalam sistem dangan banyak karakteristik perekonomian pasar murni.

STRUKTUR EKONOMI
Pola klasifikasi lazim membedakan tiga sektor dalam sebuah perekonomian. TIGA SEKTOR  adalah
(1)   sektor industrial, terdiri atas pertambangan, pabrikasi, konstruksi, kelistrikan, air dan gas;
(2)   Sektor agrikultural, terdiri atas pertanian, kehutanan, perburuan, dan penangkapan ikan;
(3)   sektor jasa, terdiri atas segala bentuk aktivitas akonomi lainnya.

Suatu taksonomi alternatif membedakannya menjadi empat sektor: sektor primer (segala aktifitas yang mengandalkan sumber daya alam), sektor pabrikasi, sektor utilitas (listrik dan air), dan sektor jasa.
 
Pembangunan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang pesat diukur dari keseluruhan Gross National Product (GNP) dan pendapatan per kapita merupakan tujuan pokok hampir semua negara. Tujuannya jelas Pertumbuhan tingkat pendapatan biasanya diiringi oleh perbaikan kesehatan, edukasi, nutrisi, dan ketersediaan yang lebih luas atas produk konsumsi.
Sejalan dengan itu, laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi menimbulkan berbagai perubahan dalam struktur ekonomi dan sosial, perubahan yang tidak selalu dikehendaki. Hal ini biasa terjadi pada negara-negara berkembang yang bertumbuh dengan pesat di mana struktur sosial tradisional mungkin digusur oleh pola-pola yang tidak begitu disukai (seperti urbanisasi besar-besaran) yang melahirkan berbagai masalah sosial yang pelik.

LUASNYA PASAR
Kepentingan perusahaan ketika mengamat-amati pasar dunia adalah potensi yang mereka tawarkan untuk produk-produknya. Pemasar internasional harus menentukan luasnya pasar, tidak hanya untuk pasar sekarang ini, tetapi juga untuk pasar-pasar potensial.
Indikator-indikator yang berkenaan dengan hal tersebut meliputi:
populasi- tingkat dan distribusi pertumbuhan, dan
pendapatan- distribusi, pendapatan perkapita, dan produk domestik bruto.

Populasi
Untuk membentuk pasar dibutuhkan orang-orang; dan makin besar populasi di sebuah negara, makin memikat pasar tersebut. Tentu saja jumlah populasi belaka bukan merupakan pedoman yang memadai untuk ukuran pasar. Meskipun demikian, konsumsi dari banyak produk berkorelasi dengan jumlah populasi
 
PENDAPATAN
Pasar tidak hanya membutuhkan orang-orang dengan uang-orang-orang yang daya beli. Oleh karena itu perlu dikaji berbagai ukuran pendapatan di dalam sebuah negara dan disertai dengan analisis populasi, penggunaan jumlah pendapatan perkapita, dan produk domestik bruto.

Disejumlah pasar, distribusi pendapatan menghasilkan kepincangan yang lebar di antara kelompok-kelompok populasi.
Pemasar internasional dapat menggunakan klasifikasi berikut ini sebagai pedoman prencanaan:

  1. KELUARGA BERPENDAPATAN SANGAT RENDAH. Perekonomian subsistem cenderung diwarnai oleh berbagai populasi perdesaan di mana konsumsi bergantung kepada keluaran pribadi atau barter. Beberapa pusat kota dapat menyediakan pasar, contohnya adalah Kamerun.
  2. SEBAGIAN BESAR KELUARGA BERPENDAPATAN RENDAH. Perekonomian industri yang mendekati aliran marxist mengorbankan pendapatan pribadi untuk memungkinkan pemupukan modal industri sebanyak mungkin. Sebagian besar barang di hasilkan secara domestik oleh perusahaan-perusahaan yang di miliki negara, atau terjun ke pasar sebagai akibat perjanjian perdagangan bilateral; contohnya adalah Cina.
  3. KELUARGA BERPENDAPATAN SANGAT RENDAH, sangat tinggi. Beberapa negara menunjukkan distribusi pendapatan bimodal yang kuat. Mayoritas populasi bisa hidup sedikit diatas tataran subsistem, tetapi terdapat pasar-pasar yang juat untuk item-item impor (mewah). Yang kaya benar-benar kaya, dan akan mengkonsumsi sesuai dengan kekayaannya; contohnya adalah India dan Meksiko.
  4. KELUARGA BERPENDAPATAN RENDAH, menengah, dan tinggi. Industrialisasi menghasilkan suatu kelas menengah yang baru tampil dengan membesarnya pendapatan bersih (disposable income). Kelas-kelas berpendapatan sangat rendah dan sangat tinggi cenderung untuk tetap seperti sediakala karena alasan-alasan tradisional hambatan kelas sosial; contahnya adalah Portugal.
  5. SEBAGIAN BESAR KELUARGA BERPENDAPATAN MENENGAH. Negara-negara industri maju cenderung mengembangkan institusi dan kebijakan yang mengurangi perbedaan menyolok dalam distribusi pendapatan, yang mengakibatkan kelas menengah yang besar dan lumayan mampu untuk membeli produk dan jasa-jasa domestik maupun impor; contahnya adalah Denmark.

PRODUK DOMESTIK BRUTO
Cara lain yang berfaedah untuk mengevaluasi pasar asing adalah dengan membandingkan produk domestik bruto (gross domestic product, GDP). Produk nasional bruto (gross national product, GNP) mengukur keseluruhan nilai tambah domestik dan asing yang diklaim oleh penduduknya. Produk domestik bruto adalah produk nasional bruto dikurangi faktor pendapatan bersih dari luar negeri.
Untuk barang-barang tertentu, total produk domestik bruto merupakan indikator potensi pasar yang lebih baik dibandingkan pendapatan perkapita.

ISU-ISU KUNCI EKONOMI
Isu-isu apa yang harus dihadapi oleh perusahaan dan yang juga harus ditangani oleh perusahaan manakala mereka merumuskan sebuah strategi kompetitif?
JELAS, bermacam-macam ragam faktor kebudayaan, legal, politis, dan ekonomi mempengaruhi pengelolaan perusahaan-perusahaan global.

LIMA faktor ekonomi yang mempengaruhi keputusan manajemen:

  • Pertumbuhan ekonomi,
  • Privatisasi,
  • Inflasi dan dampaknya pada stabilitas mata uang,
  • Ketidakseimbangan neraca pembayaran
  • Utang luar negeri

 
ENAM sebab yang lazim bagi negara-negara untuk mengendalikan aset-aset bisnisnya, suatu proses yang disebut nasionalisasi (nationalitation).
Sebab-sebab nasionalisasi meliputi:

  1. Mempromosikan pembangunan ekonomi; sebagai contoh, dengan mengkoordinasikan aset-aset dari banyak bisnis ke dalam satu rencana induk.
  2. Menangguk keuntungan untuk perbehandaraan nasional
  3. Mencegah perusahaan perusahaan bangkrut dan menutup pintu-pintu mereka.
  4. Memperkaya program-program yang kepentingan nasional
  5. Memperkokoh kendali ekonomi atau politis
  6. Memastikan barang dan jasa untuk semua warga, terlepas dari status ekonomi mereka.

Alasan pokok untuk privatisasi meliputi:

  1. Lebih efisien memiliki barang dan jasa yang disediakan oleh perusahaan-perusahaan swasta daripada perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh pemerintah.
  2. Suatu perubahan dalam kultur politis membawa suatu keinginan untuk menjual aset-aset tersebut.
  3. Perusahaan tersebut telah menghasilkan banyak uang dan pemerintah merasa sudah saatnya untuk menjualnya daripada terus mempertahankannya.
  4. Harga pembelian dapat digunakan untuk mengurangi himpitan utang nasional.
  5. Perusahaan tersebut membutuhkan dana penelitian dan pengembangan agar dapat mempertahankan kedudukan kompetitifnya, dan pemerintah tidak bersedia membiayai investasi tersebut.

INTEGRASI EKONOMI
INTEGRASI EKONOMI (economic integration) adalah pembuatan peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi transnasional yang memperkaya kerjasama  dan perdagangan ekonomi di antara negara-negara.
Di satu pihak, integrasi ekonomi akan menyebabkan terjadinya suatu pasar perdagangan bebas dunia yang di dalamnya semua negara mempunyai satu mata uang dan dapat mengekspor apapun yang mereka inginkan ke negara lain manapun. Di sisi lain, sama sekali tidak ada integrasi ekonomi, di mana di dalamnya negara-negara mencukupi dirinya sendiri dan tidak perlu berdagang dengan negara lain.

TINGKAT INTEGRASI EKONOMI
LIMA tataran integrasi ekonomi meliputi:

  1. Kawasan perdagangan bebas
  2. penyatuan pabean
  3. pasar bersama
  4. penyatuan ekonomi
  5. penyatuan politis

Kawasan Perdagangan Bebas 
Kawasan perdagangan bebas (free trade area) ialah suatu perjanjian integrasi ekonomi yang di dalamnya hambatan-hambatan untuk berdagang (seperti TARIF dan KUOTA) di antara negara-negara anggotanya dihapuskan

SALAH SATU PERJANJIAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS adalah Perkumpulan Perdagangan Bebas Eropa (European Free Trade Association, EFTA), suatu kawasan perdagangan bebas yang kini hanya terdiri atas Australia, Finlandia, Islandia, Lichtenstein, Swedia, dan Swiss.
Contoh lainnya adalah yang di bentuk oleh Amerika Serikat dan Kanada pada tahun 1989, Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Serikat-Kanada (United States-Canadian Free Trade Agreements,CFTA).

Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (North American Free Trade Agreements,NAFTA) adalah kawasan perdagangan bebas yang berlaku efektif sejak1994. NAFTA diharapkan bisa memarakkan perdagangan Meksiko, Kanada, dan Amerika Serikat serta mempertangguh posisi Amerika Utara pada saat berunding dengan Uni Eropa.

PERSEKUTUAN PABEAN
Persekutuan pabean (customs union) adalah suatu bentuk integrasi ekonomi yang di dalamnya semua tarif di antara negara-negara anggota dihilangkan dan kemudian di susun sebuah kebijakan perdagangan bersama terhadap negara bukan anggota. Kebijakan ini sering menghasilkan suatu struktur tarif eksternal yang seragam.

PASAR BERSAMA
Pasar bersama (common market) merupakan suatu bentuk integrasi ekonomi yang ditandai oleh:

  1. Tidak adanya hambatan di antara negara-negara anggota;
  2. Suatu kebijakan bersama perdagangan eksternal;
  3. Mobilitas faktor-faktor produksi di antara negara-negara anggota. Pasar bersama memungkinkan realokasi sumber-sumber produksi seperti modal, tenaga kerja, dan teknologi, dengan berlandaskan teori keunggulan komparatif.

PENYATUAN EKONOMI  Uni ekonomi atau penyatuan ekonomi (economic union), yang lebih dalam daripada integrasi ekonomi, ditandai oleh perpindahan bebas barang, jasa, dan faktor-faktor produksi di antara negara-negara anggota dan adanya integrasi penuh kebijakan ekonomi.
Uni Ekonomi

  1. Menggabungkan kebijakan fiskal dan moneter di antara negara-negara anggota;
  2. Memiliki mata uang bersama (atau kurs mata uang tetap secara permanen);
  3. Menerapkan tarif dan struktur pajak yang sama untuk semua negara anggota.

PENYATUAN POLITIS
Uni politis atau penyatuan politis (political union) melewati integrasi ekonomi penuh; di dalamnya semua kebijakan ekonomi digabungkan dan memiliki pemerintahan tunggal. Uni politis menggambarkan integrasi ekonomi total dan hanya mungkin terjadi jika negara-negara menyerahkan kekuasaan nasional mereka kepada kepemimpinan di bawah satu pemerintahan tunggal.

MASYARAKAT EROPA 
Masyarakat Eropa (European Community, EC) dibentuk pada tahun 1957 oleh Traktat Roma (Treaty of Rome). Enam negara ECSC (European Coal and Steel Community) merupakan pendiri EC, dan pada tahun 1991 enam negara lainnya bergabung (Inggris, Denmark, Yunani, Irlandia, Portugal, dan Spanyol).
Ketentuan-ketentuan pokok dari pendirian pakta tersebut adalah:

  1. Pembentukan suatu kawasan perdgangan bebas di antara negara-negara anggota akan dihasilkan oleh penghapusan tarif, kuota, dan hambatan perdagangan lainnya secara perlahan-lahan.
  2. Hambatan untuk perpindahan tenaga kerja, modal, perusahaan-perusahaan bisnis pada akhirnya akan dihapuskan
  3. Kebijakan pertanian bersama akan dianut.
  4. Akan dibentuk suatu dana investasi untuk menyalurkan modal dari wilayah yang lebih maju kepada wilayah yang terbelakang.
  5. Akan diadakan suatu persekutuan pabean yang ditandai oleh suatu jadwal penentuan tarif yang seragam yang diberlakukan terhadap impor dari negara-negara lainnya.

NAFTA
Pada bulan Agustus 1992 Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menandatangani suatu PERJANJIAN PERDAGANGAN BEBAS (free trade agreement) untuk membentuk suatu pasar terbuka di seluruh benua Amerika Utara
Isu-isu kunci dalam Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (North American Free Trade Agreement, NAFTA) ini adalah:

  1. Memperluas penghapusan hambatan-hambatan pabea selama 15 tahun.
  2. Memasukkan hak milik intelektual dan jasa. Ikatan kultural historis antara Amerika-Meksiko.
  3. Perbedaan gaji dapat menungkatkan daya asing di mana dimungkinkan produktivitas.
  4. Kelemahan infrastruktur, terutama pengangkutan dan komunikasi .
  5. Tidak seperti Uni Eropa yang mempertimbangkan penyatuan politis.
  6. Kemungkinan kaitan dengan berbagai inisiatif perdagangan bebas Amerika Latin dan Tengah.
  7. Perjanjian sampingan yang membatasi kompetisi upah murah.

PEREKONOMIAN DUNIA BARU

  1. Mengapa orang-orang kini gelisah dengan pekerjaannya?
  2. Mengapa tingkat perputaran pejabat eksekutif kepala dan eksekutif senior semakin melonjak?
  3. Mengapa sedemikian banyaknya korporasi (termasuk perusahaan yang laku di pasar modal) merampingkan (downsizing) organisasi mereka ?
  4. Aktivitas-aktivitas dramatik dan penuh petaka ini terjadi karena terjadinya perubahan evolusioner yang melanda perekonomian global.

Mengapa Kompetisi Global Meningkat Secara Cepat?
Dekade 1990-an menyaksikan suatu pergeseran ke sebuah pasar yang ditandai oleh kian ketatnya kompetisi global. Korporasi-korporasi- kecil, menengah, dan besar semuanya terpengaruh. Kompetisi global secara signifikan akan memberikan imbas atas sebagian besar organisasi dan industri selama era ini. Korporasi harus belajar bagaimana bertahan hidup dan sejahtera di dalam suatu lingkungan global yang diwarnai oleh dinamika dan gejolak yang sangat tinggi.

KEKUATAN LINGKUNGAN PROAKTIF

  1.   Penentuan sumber pengadaan global.
  2.   Pasar-pasar bam dan sedang berkembang.
  3.   Skala ekonomis.
  4.   Trend menuju permintaan homogen untuk produk dan jasa.
  5.   Biaya transportasi global yang semakln murah.
  6.   Interaksi pemerintah: tarif, hambatan nontarif, pabean, dan pajak.
  7.   Menlngkatnya telekomunikasi dengan biaya yang sangat rendah.
  8.   Trend menuju standar teknis yang homogen.

KEKUATAN. LINGKUNGAN REAKTIF

  1. Meningkatnya kompetisi dari pesaing nondomestik.
  2. Meningkatnya risiko yang disebabkan kelabilan kurs valuta asing.
  3. Trend pelanggan yang berkembang dari strategi yang hanya domestik ke global.
  4. Meningkatnya langkah perubahan teknis global.

PARADIGMA  YANG BERUBAH UNTUK ERA EKONOMI BARU : PASAR

BAB IV . LINGKUNGAN KULTURAL INTERNASIONAL

KULTUR [culture] mengacu kepada pengetahuan yang diperoleh dan digunakan oleh orang-orang untuk menafsirkan pengalaman dan untuk menghasilkan perilaku sosial. Kultur dimiliki bersama oleh setiap anggota sebuah kelompok, organisasi, atau masyarakat. Melalui kultur dibentuk nilai-nilai dan sikap yang membentuk perilaku individu dan kelompok.

Kultur dipelajari melalui pendidikan dan pengalaman. Kultur juga diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pada saat yang sama, kultur secara konstan mengalami perubahan karena orang-orang mengadaptasi lingkungan baru.

Pengetahuan menyangkut kultur ada 2 yaitu :

PENGETAHUAN FAKTUAL
Pengetahuan faktual sering mempunyai makna sebagai suatu. akta langsung tentang sebuah kultur, namun mengandung signifikansi tambahan manakala ditafsirkan di dalam konteks kultur. Umpamanya, mayoritas umat di Indonesia beragama Islam.
PENGETAHUAN INTERPRETATIF
Pengetahuan interpretatif membutuhkan suatu kadar wawasan yang sering disebut sebagai PERASAAN (feeling).
Pemasar harus bisa memproyeksikan dirinya sendiri ke dalam situasi. Pengetahuan ini sangat tergantung kepada pengalaman masa lalu untuk penafsirannya, dan sering rentan misinterpretasi jika menggunakan kerangka acuan budaya asalnya sendiri. Idealnya, pemasar internasional hendaknya memiliki kedua macam pengetahuan faktual dan pengetahuan interpretatif).

Kultur dan karakteristiknya, meliputi:

  1. Kultur itu Preskriptif Kultur menggariskanjenisperilaku yang dianggap diterima di dalam sebuah masyarakat. Karakteristik preskriptif kultur menyederhanakan suatu proses pengambilan keputusan konsumen dengan membatasi pilihan produk pada yang berterima secara sosial
  2. Kultur Dimiliki secara Sosial    Kultur harus didasarkan pada interaksi dan kreasi sosial. Kultur tidak mungkin ada dengan sendirinya. Kultur dimiliki bersama oleh semua anggota -suatu masyarakat sehingga bertindak mengukuhkan sifat preskriptif kultur itu sendiri.
  3. Kultur Mempermudah Komunikasi Salah satu fungsi yang berguna yang diberikan oleh kultur adalah mempermudah komunikasi. Kultur biasanya menekankan kebiasaan-kebiasaan berpikir dan perasaan yang sama di antara orang-orang
  4. Kultur itu Dipelajari  Kultur tidak diwarisi secara genetis—kultur harus dipelajari dan  \ diperoleh. Sosialisasi (socialization) atau enkulturasi (enculturation) terjadi pada saat seseorang menyerap atau mempelajari kultur di mana dia dibesarkan
  5. Kultur itu Subyektif Orang-orang di dalam kultur yang berbeda sering memiliki gagasan yang beragam tentang obyek yang sama. Apa yang dapat diterima di dalam sebuah kultur belum tentu demikian pada kultur lainnya. Dalam hal ini kultur itu unik dan arbitrari. Akibatnya, fenomena yang sama yang hadir di dalam kultur-kultur yang berbeda dapat ditafsirkan dengan cara yang sangat beragam
  6. Kultur itu Abadi Karena kultur dimiliki bersama dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kultur relatif mantap dan sangat permanen. Kebiasaan-kebiasaan lama sukar untuk dihilangkan, dan orang-orang. cenderung mempertahankan warisannya sendiri meskipun dunia terus berubah
  7. Kultur itu Kumulatif kultur didasarkan pada ratusan atau bahkan ribuan tahun akumulasi situasi. Setiap generasi menambahkan bagiannya kepada kultur sebelum meneruskan warisan tersebut kepada generasi berikutnya.
  8. Kultur itu Dinamis Kultur diteruskan dari satu generasi ke generasi, tetapi kulturtidak boleh dianggap statis dan imun terhadap perubahan. Kultur secara konstan berubah kultur mengadaptasi dirinya sendiri terhadap berbagai situasi baru dan sumber-sumber pengetahuan baru. Aspek dinamis kultur mengakibatkan beberapa produk menjadi usang dan dapat, menghadirkan kebiasaan-kebiasaan baru dalam membeli.

ELEMEN-ELEMEN KULTUR
Kultur adalah subyek multidimensional yang kompleks.
Untuk memperoleh pemahaman kultur adalah dengan mempelajari elemen-elemen kultur (cultural elements) berikut ini:  Kultur Materi, Bahasa, Nilai-nilai dan Sikap, Estetika, Kelakuan-2 dan Kebiasaan, Edukasi, Agama dan Pranata-pranata Sosial.

KULTUR MATERI
Kultur materi (material culture) meliputi alat-alat dan artifak-artifak—benda-benda fisik dan , materi hasil kecerdasan manusia di dalam sebuah masyarakat, di luar benda-benda fisik yang ditemukan di alam, kecuali benda-benda tersebut mengalami sejumlah prosedur teknologis

TEKNOLOGI DAN KULTUR MATERI
Teknologi menunjuk kepada berbagai teknik atau metode untuk membuat dan menggunakan benda-benda tersebut. Teknologi dan kultur materi terkait dengan cara suatu masyarakat mengorganisasikan aktivitas-aktivitas ekonominya.

Hal ini dimanifestasikan dalam ketersediaan dan kecukupan infrastruktur dasar ekonomi, sosial, finansial, dan pemasaran
ASPEK-ASPEK KULTURAL TEKNOLOGI
Teknologi tidak hanya meliputi aplikasi ilmu atas produksi/tetapi juga kemahiran dalam pemasaran, keuangan, dan manajemen.
Aspek-aspek kultural dari teknologi menjadi perhatian pemerintah karena warganya barangkali tidak siap untuk menerima perubahan-perubahan teknologis yang dibawa oleh teknologi baru

GNP TINGGI-TINGKAT TEKNOLOGI TINGGI
Perbedaan dalam tingkat teknologi di antara negara-negara digunakan sebagai landasan untuk menilai apakah sebuah negara adalah maju ataukah berkembang. Biasanya sebuah negara dengan GNP/kapita tinggi menggunakan tingkat teknologi yang lebih canggih dibandingkan dengan negara dengan GNP/kapitanya lebih rendah

DUALISME TEKNOLOGI 
Dualisme teknologis (technological dualism) merupakan karakteristik menonjol yang mewarnai banyak negara terbelakang. Di negara yang sama, sebuah sektor ekonomi bisa saja secara teknologis sudah maju dan berproduktivitas tinggi, sedangkan teknik-teknik produksi di sektor-sektor lainnya mungkin kuno dan padat tenaga kerja.
 
TEKNOLOGI YANG TEPAT GUNA
Daripada harus memilih antara proses yang intensif modal atau padat tenaga kerja, banyak pakar pembangunan ekonomi yang menganjurkan teknologi tepat guna (appropriate technology), yang bisa berbentuk padat modal, menengah, atau padat tenaga kerja. Gagasannya adalah memilih teknologi yang paling sesuai dengan masyarakat yang menggunakannya.

EFEK BUMERANG
Di samping keamanan nasional, alasan lainnya mengapa takut menjual \ teknologinya ke negara lain adalah EFEK BUMERANG (boomerang effect)
 
KULTUR MATERI SEBAGAI SUATU KENDALA
Para pemasar perlu memperhatikan bagaimana kultur materi di pasar asing mempengaruhi operasi-operasi mereka di sana.
Dalam pabrikasi, produksi asing oleh suatu perusahaan dapat mewakili suatu upaya untuk memperkenalkan suatu kultur materi baru ke dalam sebuah negara tuan rumah.
Hal ini biasanya terjadi saat perusahaan membangun sebuah pabrik di negara berkembang. Perusahaan umum mencek secara hati-hati prasyarat ekonomi, sebagai contoh, pasokan bahan baku, tenaga listrik, transportasi, dan pendanaan

KULTUR MATERI DAN PEMASARAN
Yang sama pentingnya bagi para pemasar adalah memahami kultur materi di pasar asing.
Sebagai contoh, pemasar industrial menjumpai bahwa akan berfaedah untuk memperoleh tabel masukan-keluaran untuk pasar industrial. Dengan membaca tabel tersebut, perusahaan dapat memiliki buah pikiran yang lebih baik bagaimana \ produknya berkaitan dengan kultur materi dan struktur industri sebuah negara

IMPERIALISME
Barangkali peran yang paling tampak dari pemasaran internasional adalah sebagai agen perubahan kultural (agent of cultural change). Pada saat perusahaan memperkenalkan produk-produk baru ke dalam sebuah pasar, sesungguhnya perusahaan tersebut sedang berusaha untuk mengubah kultur materi negara bersangkutan.
Perubahannya mungkin sederhana sebuah produk makanan baru atau mungkin lebih dramatis sebuah mesin yang merevolusikan teknologi industrial dan pertanian di negara tuan rumah. Produk dari perusahaan internasional adalah makhluk asing, dalam artian bah wa produk tersebut tidak berasal dari negara tuan rumah. Perusahaan harus menyimakjeli atas legitimasi perannya sebagai agen perubahan. Perusahaan harus memastikan bahwa perubahan yang dibawanya sesuai dengan kepentingan negara tuan rumah.

BAHASA
Bahasa Bahasa (language) merupakan perbedaan yang paling nyata di antara beraneka kultur. Tidak mungkin terlepas dari semua aspek lainnya dari sebuah kultur, bahasa merefleksikan sifat dan nilai kultur yang bersangkutan. Sebagai contoh, bahasa Inggris memiliki perbendaharaan kata yang kaya untuk perdagangan dan aktivitas industrial, yang mencerminkan sifat masyarakat Inggris dan Amerika. Banyak masyarakat industri lainnya yang hanya memiliki perbendaharaan kata yang terbatas untuk aktivitas-aktivitas tersebut, akan tetapi memiliki perbendaharaan kata yang lebih kaya untuk hal-hal lain yang penting bagi kultur mereka

BAHASA SEBAGAI CERMIN KULTURAL
Bahasa sebuah negara merupakan kunci kepada  kulturnya. Maka dari itu, andaikata pemasar ingin bekerja secara ekstensif dengan kultur siapa pun, penting sekali mempelajari bahasanya.
Mempelajari bahasa dengan baik berarti mempelajari kultur dari mana bahasa tersebut berasal.
Agar perwakilan perusahaan dapat berkomunikasi dengan baik dengan para pemimpin politis, karyawan, para pemasok, dan para pelanggan, mereka harus mengasimilasikan aspek yang satu ini lebih dari yang lainnya.

BAHASA SEBAGAI SEBUAH MASALAH
Dalam periklanan, pemberian merek, pengemasan. penjualan pribadi, dan riset pemasaran, pemasaran sangatlah tergantung pada komunikasi. Seandainya manajemen tidak berbicara dalam bahasa yang sama dengan berbagai pemirsany. (audiences), ia tidak akan banyak keberhasilan. Di dalam setiap pasar asingnya, perusahaan harus berkomunikasi dengan beberapa pemirsa: karyawan, manajer, pelanggan, pemasok, danpemerintah

Beberapa Edukasi dan pemasaran internasinal

  1. Jika konsumen sebagian besar buta aksara, program periklanan dan label  kemasan perlu disesuaikan.
  2. Apabila para gadis dan wanita sebagian besar tersingkir dari pendidikan formal, program pemasaran harus dibuat berbeda dari negara-negara yang situasinya tidak seperti itu.
  3. Untuk mengadakan riset pemasaran dapat menjadi sukar, baik dalam penyampaian kepada pelanggan maupun dalam menghimpun periset yang berbobot.
  4. Produk-produk yang rumit dan/atau membutuhkan instruksi-instruksi tertulis mungkin perlu dimodifikasi guna memenuhi tingkat edukasional pasar.
  5. Kerja sama dari saluran distribusi sebagian tergantung pada pencapaian edukasional anggota dalamsaluran.
  6. Kualitas jasa pendukung pemasaran, contohnya biro periklanan, tergantung pada seberapa baik sistem edukasional mempersiapkan orang-orang untuk jabatan seperti itu

AGAMA DAN PEREKONOMIAN
Agama mempunyai sejumlah implikasielohomi. Agama memiliki implikasi luas terhadap sikap atas bermacam-macam masalah ekonomi.

Di samping sikap-sikap, agama juga dapat mempengaruhi perekonomian secara langsung, yaitu seperti berikut:

  1. Hari-hari besar agama sangat bervariasi di antara negara-negara, tidak hanya antara Kristen dan Islam, tetapi bahkan juga antara negara Kristen yang s’atu dengan yang lain. Pada umumnya hari Minggu merupakan hari besar agama pada semua negara di mana Kekristenan merupakan agama penting. Di dunia Muslim, semua hari dalam bulan Ramadhan merupakan hari besar agama untuk segala tujuan praktis. Perusahaan internasional harus mengingat bahwa berbagai jadwal pekerjaan lokal dan program pemasaran berkaitan dengan hari-hari besar lokal, tidak beda dengan perusahaan-perusahaan Amerika yang merencanakan pemasaran besar-besaran pada hari Natal.
  2. Pola-pola konsumsi dapat dipengaruhi oleh berbagai ketentuan atau tabu agama. Makan daging pada hari Jumat  suci adalah tabu bagi umat Katolik. Orang Islam dilarang makan daging babi, seperti halnya orang Hindu tabu mengkonsumsi daging sapi.
  3. Peran ekonomi wanita bervariasi dari satu kultur ke kultur lainnya, dan keyakinan agama merupakan penyebab penting. Para wanita mungkin saja dibatasi dalam kapasitas mereka sebagai konsumen, sebagai karyawan, atau sebagai responden dalam suatu riset pemasaran. Perbedaan ini dapat menyebabkan berbagai penyesuaian besar dalam ancangan manajemen yang terkondisi dalam suasana masyarakat yang lebih bebas.
  4. Sistem kasta membatasi partisipasi dalam perekonomian. Perusahaan merasakan akibat tidak hanya dalam. praktik penyusunan staf (khususnya wiraniaga), tetapi juga dalam berbagai program distribusi dan promosional karena perusahaan harus berhubungan dengan segmen-segmen pasar yang diakibatkan oleh sistem kasta.
  5. Keluarga gabungan (joint family) Hindu mempunyai berbagai efek ekonomi. Nepotisme merupakan karakteristik bisnis keluarga. Penyusunan staf lebih didasarkan pada pertimbangan peringkat keluarga daripada kriteria lainnya. Berikutnya, pengambilan keputusan konsumen dan konsumsi di dalam keluarga gabungan yang mungkin berbeda dibandingkan keluarga-keluarga lazimnya, membutuhkan strategi pemasaran yang sudah teradaptasi.
  6. Pranata keagamaan itu sendiri dapat berperan dalam masalah ekonomi. Gereja, atau kelompok keagamaan terorganisasi lainnya, kerapkali dapat mengganjal pengenalan berbagai produk atau teknik baru apabila mereka melihat bahwa inovasi tersebut merupakan suatu ancaman. Di lain pihak, produk atau teknik yang sama dapat secara lebih efektif diperkenalkan jika organisasi keagamaan melihatnya bermanfaat bagi mereka.
  7. Perbedaan agama di dalam sebuah negara dapat menimbulkan masalah bagi manajemen. Perusahaan mungkin menjumpai bahwa mereka berhubungan dengan pasar yang berbeda. Di Irlandia Utara terdapat permusuhan kuat antara Katolik dengan Protestan. Di India terjadi perselisihan yang belum terselesaikan antara Hindu dan Islam. Perbedaan-perbedaan agama

KULTUR DAN KEUNGGULAN KOMPETITIF
Terdapat hubungan antara kultur dan keunggulan kompetitif nasional. Secara sederhana, sistem nilai dan norma-norma dari sebuah negara akan mempengaruhi biaya untuk menjalankan usaha di negara tersebut.
Biaya menjalankan bisnis ini mempengaruhi kemampuan perusahaan-perusahaan yang berdiam di sana untuk membentuk suatu keunggulan kompetitif (competitive advantage) di pasar global. Sebagai contoh, sikap-sikap terhadap kerja sama antara manajemen dan karyawan, terhadap pekerjaan, dan terhadap pembayaran bunga dipengaruhi oleh struktur sosial dan agama.
Dalam rangka memahami perilaku pembeli luar negeri, pemasar international perlu melakukan empat tugas pokok yang sama dengan yang dibutuhkan oleh pemasar domestik, tetapi di dalam dan di luar pasar-pasar asing:

  1. mengidentifikasi similaritas dan perbedaan di dalam pasar yang sedang ditinjau;
  2. memilih model, konsep, dan teknik perilaku pembeli yang sahih untuk pasar yang sedang ditelaah;
  3. memodifikasi penerapannya untuk memenuhi karakteristik pasar; dan
  4. menafsirkan hasinya dalam konteks pasar tersebut.

Untuk menafsirkan secara benar perilaku pembeli dengan menggunakan model dan konsep yang berkembang dalam kultur lainnya, pemasar internasional perlu memiliki pemahaman yang jernih atas gaya hidup normatif kultur yang sedang ditinjau. Sesungguhnya, gaya hidup normatif suatu masyarakat, kultur, atau subkultur merupakan kumpulan dari ENAM DAMPAK perilaku pembeli adalah sebagai berikut:

  1. Pengaruh kultur terhadap perkembangan fisik dan gerak individu-individu (ketangkasan dan kecekatan).
  2. Pengaruh kultur terhadap berbagai mekanisme pemrosesan-informasi (kognisi, persepsi, dan pemikiran logis).
  3. Bentuk pemikiran dan ekspresi simbolis (mitos, kepercayaan, dan praktik-praktik ritual).
  4. Pengaruh kultur terhadap pengharapan peran dan sosialisasi individu-individu (peran suami, peran orang tua, peran kerja).
  5. Pengaruh kultur terhadap perubahan sosial dan inovasi yang berhubungan dengan kepribadian (risiko sosial yang melekat pada pemakaian suatu inovasi)
  6. Pengaruh kultur terhadap konformitas, deviansi, dan kesehatan mental

KERANGKA ACUAN UNTUK ANALISIS LINTAS KULTURAL PERILAKU PEMBELI
1.     MENENTUKAN MOTIVASI YANG RELEVAN DI DALAM KULTUR:

  • Kebutuhan apa  yang dipenuhi  oleh produk ini di benak para anggota kultur?
  • Bagaimana kebutuhan tersebut saat ini dipenuhi?
  • Apakah  anggota-anggota kultur dapat dengan cepat  mengenali kebutuhan tersebut?

2.MENENTUKAN KARAKTERISTIK POLA PERILAKU:

  • Pola-pola apa yang menandai perilaku pembelian?
  • Apa bentuk-bentuk pembagian tenaga kerja yang ada di dalam struktur keluarga?
  • Seberapa sering pembelian produk jenis ini?
  • Berapa ukuran kemasan yang biasannya dibeli?
  • Apakah ada dari karakteristik perilaku yang bertentangan dengan perilaku lainnya yang diharapkan untuk produk tersebut?
  • Seberapa kuat pola perilaku yang bertentangan dengan pola-pola yang dibutuhkan untuk distribusi produk tersebut?

3.     MENENTUKAN NILAI-NILAI KULTURAL LUAR NEGERI YANG RELEVAN DENGAN PRODUK Tsb

  • Nilai-nilai yang melekat kuat yang menyangkut pekerjaan,moralitas,agama,hubungan keluarga, dst., yang berkaitan dengan produk tersebut?
  • Apakah produk tersebut mengandung atribut-atribut yang bertentangan dengan nilai-nilai kultural?
  • Dapatkah konflik dengan nilai-nilai dihindari dengan mengubah produk?
  • Apakah nilai-nilai positif dalam kultur yang ada pada  produk dapat diidentifikasi?

4.     MENENTUKAN KARAKTERISTIK BENTUK PENGAMBILAN KEPUTUSAN:

  • Apakah anggota-anggota kultur memperlihatkan suatu pendekatan yang teliti atau pendekatan impulsif untuk keputusan-keputusan mengenai inovasi.
  • Apa bentuk proses pengambilan keputusan?
  • Anggota-anggota kultur bergantung pada sumber-sumber informasi apa?
  • Apakah anggota-anggota kultur cenderung kaku atau luwes dalam menerima ide-ide baru?
  • Kriteria apa yang digunakan untuk mengevaluasi berbagai alternatif?

5.     MENGEVALUASI METODE PROMOSI YANG TEPAT UNTUK KULTUR TERSEBUT:

  • Peran apa yang diduduki oleh periklanan di dalam kultur tersebut?
  • Tema,kata,atau ilustrasi apa yang dianggap tahu?
  • Masalah-masalah kebahasaan apa yang terdapat di pasar sekarang yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam kultur ini?
  • Jenis-jenis tenaga wiraniaga seperti apa yang dapat diterima di dalam kultur tersebut?
  • Apakah tenaga wiraniaga seperti itu tersedia?

IDEOLOGI NASIONAL DAN SIKAP TERHADAP ORANG ASING
Ideologi nasional :

  •  Sikap
  •  Filosofi ekonomi
  •  Panjangnya identitas kultural

Sikap-sikap terhadap orang asing

  •  Produk-produk asing dapat dilihat sebagai berbeda dan /atau inferior, atau menarik dan/atau bermutu tinggi.

Pengaruh atas Disfusi berbagai inovasi

Tingkat adopsi dipengaruhi oleh:

  • Resistensi untuk berubah
  • Superioritas produk yang dirasakan
  • Kemungklnan produk dapat dicoba atau dijelaskan
  • Biaya produk
  • Keselarasan produk dengan nilai atau tradisi kultural

TABEL SISTEM PESAN UTAMA HALL

EMPAT langkah ancangan lintas kultural untuk mengidentifikasi dan mengoreksi kriteria referensi-sendiri:

  1. Menentukan permasalahan atau tujuan bisnis sehubungan dengan sifat-sifat, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma kultural sendiri.
  2. Menentukan permasalahan bisnis atau tujuan dalam hubungannya dengan sifat-sifat, kebiasaan-kebiasaan, atau norma-norma kultural asing. Jangan memberikan pertimbangan nilai.
  3. Menyingkirkan pengaruh kriteria referensi-sendiri untuk mengatasi permasalahan, dan meneliti secara hati-hati untuk melihat bagaimana pengaruh tersebut memperumit permasalahan.
  4. Menentukan kembali permasalahan tanpa pengaruh kriteria referensi-sendiri, dan memecahkannya untuk situasi tujuan bisnis yang optimal.

Kemampuan untuk menggunakan kerangka acuan ini tergantung pada suatu pengetahuan yang mendalam menyangkut kultur yang lain dan juga kulturnya sendiri. Pada intinya, ANALISIS LINTAS KULTURAL PASAR membutuhkan:

  1. Empati kultural atau suatu kemampuan untuk memahami logika bagian dalam dan koherensi cara hidup lainnya.
  2. Kemampuan untuk tidak memberikan pertimbangan-pertimbangan mengenai nilai-nilai yang menopang perilaku pembeli dalam kultur lainnya

ETNOSENTRISME
Etnosentrisme (ethnocentrism) adalah keyakinan bahwa kelompoknya sendiri lebih unggul dibandingkan yang lain. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan sebuah perusahaan atau individu yang sedemikian terobsesi oleh keyakinan bahwa apa yang berjalan dengan baik di negara asal bakal berjalan baik pula di luar negeri sehingga perbedaan-perbedaan yang bersifat lingkungan tidak mereka gubris.

Etnosentrisme dapat dikategorikan ke dalam TIGA jenis yaitu:

  • Faktor-faktor penting diabaikan karena manajemen telah sedemikian terbiasa dengan hubungan sebab-akibat tertentu di negara asal sehingga perbedaan-perbedaan di luar negeri diabaikan. Dalam upaya memerangi jenis etnosentrisme seperti ini, manajer-manajer dapat merujuk kepada daftar variabel-variabel manusia guna memastikan diri mereka sendiri bahwa faktor-faktor utama paling tidak telah diperhitungkan.
  • Manajemen mengakui bermacam-macam perbedaan yang bersifat lingkungan dan berbagai masalah yang berkaitan dengan perubahan, tetapi mereka lebih menyibukkan diri pada pencapaian tujuan-tujuan negara asal daripada tujuan-tujuan asing atau dunia. Akibatnya mungkin pada merosotnya kelangsungan hidup kompetitif jangka panjang karena perusahaan tidak berjalan sebaik para pesaingnya dan karena bertentangan dengan praktik-praktik yang berkembang di luar negeri.
  • Manajemen mengakui adanya berbagai perbedaan tetapi menganggap bahwa pengenalan perubahan memang perlu namun dapat dicapai dengan mudah

BAB V. LINGKUNGAN POLITIS INTERNASIONAL

Lingkungan politis dari setiap negara adalah unik. Pasar asing yang terkesan menggiurkan mungkin tidak memberikan jalan masuk jika lingkungan politisnya diwarnai oleh ketidakstabilan dan ketidakpastian. Ringkasnya, suatu telaah yang cermat atas lingkungan politis haruslah mendahului komitmen kepada suatu pasar baru di dalam sebuah negara

Negara-negara tuan rumah tidak bergantung seluruhnya pada jasa baik perusahaan asing untuk membantu mereka mencapai tujuan nasional mereka. Mencoba untuk memastikan perilaku yang diinginkan dari perusahaan-perusahaan asing dan untuk mencegah tindak-tanduk yang tidak diinginkan pemerintah-pemerintah memakai beraneka macam instrumen untuk mengendalikan perusahaan-perusahaan asing di negara mereka. Beberapa di antara kontrol-kontrol tersebut adalah:

a)     Restriksi-restriksi memasuki pasar. Seandainya diizinkan memasuki negara, perusahaan asing mungkin dibatasi pada industri yang dapat dimasukinya. Perusahaan tersebut mungkin dicegah dari “MEMAKAN” perusahaan nasional. Perusahaan mungkin pula dicegah untuk menguasai kepemilikan 100 persen, tetapi bisa saja diminta memasuki suatu usaha patungan (joint venture) dengan sebuah perusahaan nasional. Perusahaan mungkin DIBATASI pada produk yang dapat dijualnya. Sebagai contoh, pemerintah India memutuskan bahwa sabun dan korek api dapat dibuat oleh industri rumah tangga. Tentu saja hal ini mempengaruhi operasi perusahaan-perusahaan seperti Unilever dan Swedish Match di India.

b)    Kontrol harga. Begitu terjun di dalam negeri, perusahaan asing dapat terbentur restriksi operasi. Salah satu yang paling lazim adalah KONTROL HARGA, yang dalam perekonomian inflasioner dapat secara hebat membatasi kemampulabaan. Perusahaan Gerber meninggalkan Venezuela karena di satu dekade ada kendali harga yang mencegah operasi yang menguntungkan. Berbagai regulasi pemerintah lainnya dapat mempengaruhi periklanan dan praktik-praktik pemasaran lainnya dari perusahaan.

c)     Kuota dan tarif. Kuota dan tarif negara dapat membatasi kemampuan perusahaan untuk mengimpor perlengkapan, komponen, dan produk sehingga memaksa tingkat pengadaan lokal yang lebih tinggi dari yang dikehendaki.

d)    Kontrol mata uang. Banyak negara yang mengalami defisit kronis dalam neraca pembayaran mereka dan kekurangan valuta asing. Mereka menjatah penggunaan valuta asing menurut prioritasnya. Perusahaan-perusahaan asing mungkin rendah dalam daftar prioritas tersebut dan mengalami kesukaran untuk memperoleh valuta asing yang diperlukan untuk impor atau pengiriman keuntungan (profit repatriation) ke negara asalnya.

e)     Eksproriasi. Pengambilalihan atau eksproriasi (expropriation) yang didefinisikan sebagai perampasan resmi terhadap hak milik pihak asing, merupakan instrumen akhir pemerintah untuk mengendalikan perusahaan asing. Hal ini merupakan tindakan paling drastis terhadap perusahaan-perusahaan asing, yang akhir-akhir ini sudah sangat jarang terjadi karena negara- negara berkembang mulai melihat bahwa investasi langsung asing itu menguntungkan

INDIKATOR-INDIKATOR RISIKO POLITIS
Ekonomi

  •  Tingkat produk domestik bruto (GDP)
  •  Inflasi
  •  Pelarian modal
  •  Utang luar negeri
  •  Keluaran bahan makanan
  •  Ketergantungan komoditas

Politik    Hubungan dengan tetangga

  •  Kadar otoritarianisme
  •  Legitimasi pemerintah
  •  Kontrol politis atau militer
  •  Keterlibatan dalam berbagai konflik asing atau perang

Masyarakat   Urbanisasi

  •  Kehadiran golongan fundamentalisme
  •  Karakteristisasi korup atau nonkorup
  •  Kehadiran ketegangan etnik

Dalam penelitian terhadap risiko politis, perusahaan dapat memasukkan suatu analisis pendahuluan dari kerentanan politis negara tuan rumah tertentu. Beberapa elemen yang dipertimbangkan dalam analisis seperti itu meliputi faktor-faktor eksternal dan perusahaan. Faktor-faktor eksternal mencakup:

  • NEGARA ASAL PERUSAHAAN.Perusahaan akan diterima dengan lebih baik di negara yang memiliki hubungan baik dan mesra dengan negara asal perusahaan tersebut.
  • PRODUK ATAU INDUSTRI.Sensitivitas industri merupakan suatu pertimbangan penting. Umumnya bahan baku, utilitas publik, komunikasi, farmasi, dan produk yang berkaitan dengan pertahanan adalah yang paling sensitif.
  • UKURAN DAN LOKASI OPERASI-OPERASI.Semakin besar perusahaan asing, akan lebih kelihatan ancamannya. Hal ini terutama terjadi bila perusahaan tersebut mempunyai fasilitas besar dan berlokasi di daerah-daerah kota yang menonjol, seperti ibukota.
  • VISIBILITAS PERUSAHAAN.Semakin menyolok visibilitas (visibility) perusahaan asing, berangsur-angsur besar kerentanannya. Visibilitas adalah fungsi dari beberapa hal. Dua di antaranya adalah ukuran dan lokasi operasi perusahaan di dalam negara. Yang lainnya adalah sifat produk-produknya. Barang-barang konsumsi lebih kelihatan wujudnya dibanding barang-barang industrial. Barang-barang jadi lebih kelihatan dibandingkan komponen atau masukan-masukan yang tersembunyi dalam produk akhir. Merek-merek internasional lebih provokatif dibandingkan merek-merek lokal.

SITUASI POLITIS NEGARA TUAN RUMAH. Situasi politis dapat mempengaruhi perusahaan. Risiko politis negara tuan rumah sepatutnyalah dievaluasi. Faktor-faktor perusahaan meliputi:

  • Perilaku perusahaan. Beberapa perusahaan lebih peka dan responsif terhadap situasi di dalam negara tuan rumah. Goodwill dalam bidang ini merupakan aset yang bernilai
  • Kontribusi perusahaan terhadap negara tuan rumah. Beberapa dari kontribusi tersebut sangat objektif dan dapat dikuantifikasi. Berapa banyak lapangan kerja yang telah dibuka? Berapa besar pajak telah dibayar? Berapa besar ekspor telah dihasilkan oleh perusahaan? Berapa banyak sumber daya dan keahlian baru telah dibawa masuk oleh perusahaan?
  • Lokalisasi operasi. Pada umumnya, semakin terlokalisasi operasi perusahaan, semakin lebih berterima perusahaan tersebut bagi negara tuan rumah. Terdapat beberapa dimensi lokalisasi, termasuk memiliki ekuitas lokal, mengangkat manajer-manajer lokal dan staf teknis, menggunakan kandungan lokal dalam produk, termasuk pemasok lokal untuk barang dan jasa, dan membuat produk lokal dan nama merek lokal.
  • Ketergantungan anak perusahaan. Faktor ini agak bertentangan dengan poin sebelumnya. Semakin operasi-operasi lokal bergantung pada induk perusahaan, semakin kurang rentan perusahaan tersebut. Bila perusahaan tidak dapat berfungsi sebagai unit terpisah yang bertahan sendiri melainkan tergantung pada induk perusahaan untuk sumber daya kritis dan/atau untuk pasarnya, perusahaan tersebut akan dilihat sebagai sasaran pengambilalihan (takeover) yang kurang menguntungkan.

MENGELOLA HUBUNGAN NEGARA TUAN RUMAH
Perencanaan sebelum masuk pasar:

  •  Menghindari tindakan mengancam negara-negara.
  •  Melakukan negosiasi dengan pemerintah tuan rumah.
  •  Membeli asuransi atas jaminan investasi.
  •  Menyesuaikan metode untuk memasuki pasar.

Perencanaan setelah operasi masuk pasar:

  •  Memiliki suatu sistem pemantauan.
  •  Mengembangkan program komunikasi korporat.
  •  Mengembangkan pemegang saham lokal ( karyawan, pemasok,pelanggan).
  •  Mempunyai eksekutif-eksekutif nasional dan dewan pertimbangan.
  •  Mengubah operasi sepanjang waktu sejalan dengan perubahan rasio manfaat-biaya negara tuan rumah. Contohnya: produk dan proses baru, lebih banyak manajemen dan modal lokal, ekspor baru, dan litbang lokal.
  •  Mempunyai rencana kontingensi.

SISTEM POLITIS DEMOKRATIS KONTEMPORER memiliki ciri-ciri berikut:

  •  Kebebasan pendapat, ekspresi, dan pers, serta kebebasan berorganisasi.
  •  Pemilihan umum yang melaluinya pemilik suara memutuskan siapa yang akan mewakili mereka.
  •  Syarat-syarat terbatas untuk orang-orang yang terpilih.
  •  Sistem peradilan yang bebas dan adil dengan penghargaan yang tinggi terhadap hak individu dan hak milik.
  •  Birokrasi nonpolitis yang relatif dan infrastruktur pertahanan.
  •  Aksesibilitas yang relatif kepada proses pengambilan keputusan.

ELEMEN KUNCI DEMOKRASI adalah kebebasan dalam bidang-bidang hak politis dan kemerdekaan sipil.

Indikator penting untuk hak politis adalah:

  • Kadar terhadapnya pemilihan umum yang kompetitif dan adil berlangsung.
  • Kemampuan pemilik suara untuk memperlengkapi wakil mereka dengan kekuatan yang sesungguhnya.
  • Kemampuan orang-orang mengorganisasikan diri ke dalam partai-partai politis atau ke dalam kelompok-kelompok politis kompetitif dari pilihan mereka
  • Keberadaan berbagai pengaman atas hak-hak minoritas.

INDIKATOR-INDIKATOR UTAMA KEMERDEKAAN SIPIL adalah:

  1. Keberadaan kemerdekaan pers.
  2. Persamaan di bawah undang-undang untuk semua individu.
  3. Tingkat kebebasan sosial pribadi.
  4. Kadar kebebasan dari ketidakpekaan dan korupsi pemerintahan yang berlebihan

Para pemasar internasional harus berhubungan dengan beraneka macam kadar intervensi pemerintahan dan aneka ragam kadar sfabilifas politis.
Dalam rangka melakukan hal itu mereka harus memahami fungsi-fungsi kritis yang dilaksanakan oleh suatu pemerintah demokratis di dalam perekonomian, sebagai misal:

  1. MELINDUNGI kebebasan warga negaranya.
  2. MEMPROMOSIKAN kesejahteraan warganya.
  3. MENYEDIAKAN barang-barang kebutuhan masyarakat seperti transportasi dan sistem komunikasi.
  4. MENGATASI berbagai kelemahan pasar seperti hambatan masuk dan pengetahuan serta kekuatan konsumen yang tidak memadai.
  5. MENANGANI spillover effectsdan externalities

SIFAT RISIKO POLITIS (political risk) adalah probabilitas bahwa kekuatan-kekuatan politis akan menyebabkan perubahan-perubahan drastik di dalam lingkungan sebuah negara yang mempengaruhi keuntungan dan tujuan-tujuan lainnya dari sebuah perusahaan bisnis tertentu.

Risiko politis mempunyai EMPAT elemen penting:

  1. Diskontinuitas-diskontinuitas perubahan-perubahan drastis di dalam suatu lingkungan bisnis.
  2. Ketidakpastian perubahan-perubahan yang sulit diantisipasi.
  3. Kekuatan-kekuatan politis hubungan -hubungan kekuatan dan otoritas dalam konteks suatu masyarakat secara luas.
  4. Dampak bisnis potensi untuk mempengaruhi secara signifikan atas keuntungan dan tujuan-tujuan lainnya dari suatu perusahaan bisnis tertentu

Klasifikasi intervensi pemerintah dalam operasi-operasi dari perusahaan-perusahaan asing

Perusahaan-perusahaan multinasional terus berkecimpung di negara Luar rumah, sedangkan pemerintah sanggup mempertahankan kontrolnya terhadap perusahaan asing melalui pemaksaan kontrol yang berbeda.
Domestikasi memerlukan beberapa tindakan, yang meliputi:

  • Transfer kepemilikan secara bertahap kepada orang-orang lokal.
  • Promosi sejumlah besar karyawan lokal ke jajaran manajemen yang lebih tinggi.
  • Kekuatan yang lebih besar dalam pengambilan keputusan untuk orang-orang lokal.
  • Lebih banyak produk yang diproduksi secara lokal daripada yang diimpor untuk dirakit.
  • Regulasi-regulasi ekspor spesifik dirancang untuk memaksa partisipasi di pasar dunia.

Dari sudut pandang negara tuan rumah, domestikasi lebih disukai daripada ekspropriasi karena berbagai alasan:

  1. Rasa malu terhadap pandangan internasional yang kerapkali disebabkan oleh ekspropriasi dapat dihindari.
  2. Berbeda halnya dengan akibat yang timbil dari ekspropriasi, domestikasi tidak ada efeknya terhadap rating kredit negara yang diberikan oleh lembaga-lembaga keuangan internasional.
  3. Dalam domestikasi, pemerintah tuan rumah tidak harus mengelola sendiri bisnis tersebut.
  4. Dalam bisnis di mana proses teknis dan pengetahuan manajerial dibutuhkan untuk operasi yang berhasil, berhubungan dengan perusahaan multinasional kerapkali lebih menyenangkan.
  5. Negara tuan rumah tidak dipandang sebagai berisiko buruk oleh para akademisi, konsultan, dan investor sekarang dan potensial. Dengan kata lain, domestikasi, berlawanan dengan ekspropriasi, membantu untuk mempertahankan aura iklim politis yang menguntungkan di dalam negeri.
  6. Domestikasi memberikan kepada negara tuan rumah kendali untuk secara hati-hati meneliti dan mengatur aktivitas perusahaan asing. Dengan cara ini setiap dampak sangat negatif operasi-operasi perusahaan-perusahaan multinasional di negara tuan rumah dapat ditemukan dan negara dapat mengambil tindakan koreksi yang tepat, baik melalui negosiasi atau melalui legislasi dan keputusan untuk kontrol lebih jauh.

ANALISIS RISIKO POLITIS

Meskipun kaum ilmuwan, ekonom, pelaku bisnis, dan sarjana bisnis memiliki beberapa ide mengenai apakah sebenarnya risiko politis, mereka terkesan me-ngalami kesulitan untuk menyepakati definisinya dan metode untuk memprediksi bahaya risiko politis. Barangkali karena tidak adanya kesepakatan ini, banyak metode yang berbeda digunakan untuk mengukur, menganalisis, dan memprediksi risiko-risiko politis. Penilaian risiko politis berguna karena tiga sebab:

  1. Untuk mengidentifikasi negara-negara yang berubah menjadi Iran-Iran di masa depan (penilaian ini akan membunyikan sinyal peringatan dari memuncaknya risiko politis sehingga sebuah perusahaan dapat memproteksi dirinya sendiri dengan meminimalkan eksposurnya).
  2. Untuk mengidentifikasi negara-negara yang secara politis tidak sehat, sebagai contoh, Anggola dan Zimbabwe, dan mengidentifikasi negara-negara di mana kondisi politis telah berubah menjadi lebih kondusif, contohnya Mesir.
  3. Memberikan kerangka acuan untuk mengidentifikasi negara-‘negara yang secara politis riskan, tetapi tidak sedemikian berisikonya sehingga secara otomatis dikesampingkan (sebagian besar negara bei’kembang masuk ke dalam kategori ini)

Dalam penstrukturan investasi (structuringinvestment), tujuannya adalah meminimalkan ancaman potensial dengan menyesuaikan kebijakan finansial dan operasi perusahaan. Manakala suatu investasi telah dilakukan, terdapat beberapa kebijakan operasi yang dapat menghadapi ketidakpastian. Kebijakan seperti itu terentang mulai dari memiliki pihak berkepentingan lokal (local stakeholder) dan penciutan bisnis terencana, sampai ke maksimalisasi keuntungan jangka pendek dan suatu perubahan dalam rasio keuntungan/biaya. Teknik-teknik finansial meliputi:

  • Menjaga agar perusahaan afiliasi atau anak perusahaan bergantung kepada induk perusahaan untuk pasar-pasar atau pasokannya, atau kedua-duanya.
  • Mengkonsentrasikan penelitian dan pengembangan perusahaan afiliasi dan teknologi swamilik di negara asal.
  • Membuat merek dagang tunggal global sehingga negara tuan rumah paling tidak hanya mampu merampas fasilitas fisiknya saja, bukannya aset’tanwujud (intangible asset) produk.
  • Mengendalikan transportasi.
  • Penentuan sumber pengadaan produksi dari bermacam-macam pabrik.
  • Mengembangkan stakeholders keuangan eksternal.

Untuk mengatasi ketidakpastian dapat digunakan strategi dengan menggunakan kontrol dan fleksibilitas. Patut dicatat bahwa beberapa dari strategi di bawah ini ilegal di sejumlah negara. Strategi-strategi untuk menggunakan kontrol dipakai untuk menjaga lingkungan dari berubah secara buruk. Strateginya meliputi:

  1. Menggunakan integrasi mundur (backward integration) untuk mengendalikan sumber suplai dan integrasi maju (forward integration) untuk mengontrol pasar, teristimewa bila beberapa atau sebagian besar sumber pasokan dan pasar berada di luar negara tuan rumah. Melobi pemerintah untuk legislasi yang menguntungkan. Melakukan pembayaran yang diragukan.
  2. Menggunakan promosi untuk mempengaruhi kalangan pelanggan.
  3. Melakukan kontrak dengan para pemasok untuk masukan dan dengan para pembeli untuk keluaran.
  4. Membentuk kartel dengan sesama kompetitor.
  5. Meningkatkan fleksibilitas adalah meningkatkan adaptabilitas perusahaan terhadap suatu perubahan lingkungan. Strateginya meliputi:
  6. Menggunakan perlengkapan multiguna untuk menghasilkan berbagai jenis produk sehingga mengurangi ketergantungan pada sejenis produk saja.
  7. Menjual setiap produk di sejumlah pasar.
  8. Melakukan lebih banyak ekspor, pemberian lisensi, sewa guna usaha, franchise, dan subkontrak guna mengurangi pengeluaranxsumber daya ke dalam aset tetap dan tahan lama di luar negeri.
  9. Desentralisasi pengambilaiv keputusan sehingga keputusan-keputusan tersebut dapat dilakukan dengan segera.
  10. Menghindari/komitmen jangka panjang dengan memiliki berbagai klausul terminasi maklumat jangka pendek.
  11. Mempertahankan bantalan finansial (aset likuid, pinjaman siaga, dan kekuatan menjual saham) untuk tanggapan cepat terhadap perubahan-perubahan lingkungan.Membentuk sebuah sistem intelijen untuk menilai perkembangan-perkembangan lingkungan.

MEMBERIKAN RESPON
Respon strategis yang dibuat oleh perusahaan untuk intervensi pemerintah akan tergantung rada kekuatan tawar menawar dari kedua belah pihak. Berbagai strategi berikut dapat digunakan untukmengurangi rintangan dalam penanaman modal internasional:

  • Mengupayakan usaha patungan dengan pihak swasta lokal.
  • Mengkonsentrasikan riset, pengembangan produk, dan teknologi proses swamilik di negara asal perusahaan.
  • Memastikan bahwa setiap investasi baru secara ekonomis tergantung pada induk perusahaan di negara asal (sebagai contoh, membuat induk perusahaan sebagai pemasok tunggal bahan-bahan baku esensial).
  • Menghindari pemberian merek lokal atau menciptakan suatu merek dagang global tunggal.
  • Memakai strategi multipabrik yang low-profile dengan sejumlah investasi di negara-negara yang berbeda

BAB VI . STRATEGI PEMASARAN GLOBAL

Perusahaan-perusahaari yang  berhasil,  melihat ke  depan  melampaui  aktivitas-aktivitasnya sekarang dan secara implisit atau eksplisit menyusun rencana untuk mencapai tujuan dan sasaran yang akan datang. Rencana tersebut dirancang untuk menyediakan kemampuan, kecakapan, sumber-sumber daya, dan struktur organisasional untuk menghadapi tantangan-tantangan kompetitif dan mengambil  manfaat dari peluang-peluang masa mendatang bagi perusahaan

APAKAH STRATEGI ITU?
STRATEGI adalah pola fundamental dari tujuan-tujuan sekarang dan yang terencana, penyebaran sumber daya, dan interaksi dari sebuah organisasi dengan pasar, pesaing, dan faktor-faktor lingkungan lainnya.

STRATEGI HARUSLAH MENENTUKAN

  1. apa yang akan dicapai,
  2. di mana (pada industri apa dan pasar produk apa yang akan menjadi fokus perusahaan), dan
  3. bagaimana (sumber daya dan aktivitas apa yang akan dialokasikan untuk setiap pasar produk guna memenuhi peluang lingkungan dan ancaman untuk meraih suatu keunggulan kompetitif).

Secara spesifik, terdapat Lima Komponen Di Dalam Sebuah Strategi yang tersusun dengan baik:

  • LINGKUP. Lingkup dari sebuah organisasi mengacu kepada luas domain strategiknya
    jumlah dan jenis industri, lini produk, dan segmen pasar di mana perusahaan itu bertarung atau berencana masuk. Keputusan tentang lingkup strategik sebuah organisasi haruslah merefleksikan pandangan manajemen akan tujuan atau misi perusahaan. Benang merah di antara berbagai aktivitas dan pasar produk ini menentukan bentuk esensial dari apa bisnis tersebut dan bagaimana seharusnya.
  • TUJUAN DAN SASARAN. Strategi harus juga merinci tingkat pencapaian atas satu atau lebih dimensi kinerja—seperti pertumbuhan volume, kontribusi keuntungan, atau imbalan inyestasi—selama jangka waktu tertentu untuk setiap bisnis dan pasar produk dan bagi organisasi secara keseluruhan.
  • PENYEBARAN SUMBER DAYA. Setiap organisasi mempunyai sumber daya manusia dan keuangan yang terbatas. Penyusunan sebuah strategi juga melibatkan pengambilan keputusan bagaimana sumber daya tersebut diperoleh dan dialokasikan, untuk semua lapangan usaha, pasar produk, departemen fungsional, dan aktivitas fungsional di dalam setiap lapangan usaha atau pasar produk.
  • IDENTIFIKASI KEUNGGULAN KOMPETITIF YANG DAPAT DIPERTAHANKAN. Salah satu bagian penting dari setiap strategi adalah spesifikasi bagaimana organisasi akan berlaga di dalam setiap bisnis dan pasar produk di dalam bidangnya. Bagaimana organisasi dapat memposisikan dirinya sendiri untuk mengembangkan dan mempertahankan suatu keunggulan diferensial dari para pesaing kini dan potensialnya? Dalam upaya menjawab pertanyaan seperti itu, manajer hendaknya membaca peluang pasar di setiap bisnis dan pasar produk dan kompetensi atau kekuatan khusus perusahaan atas para pesaingnya.
  • SINERGI.Sinergi ada pada saat bisnis perusahaan, pasar produk, penyebaran sumber daya, dan kompetensi melengkapi dan memperkukuh satu sama lain. Sinergi memungkinkan segenap kinerja dari bisnis-bisnis yang berkaitan untuk menjadi lebih besar daripada gabungan dari bagian-bagiannya

STRATEGI BISNIS
Strategi bisnis {business strategy)adalah pernyataan rinci definisi, misi, tujuan unit bisnis, dan ancangan-ancangan yang akan digunakan untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan. Strategi bisnis bersangkut-paut dengan tiga pertanyaan berikut:

  1. Bagaimana perusahaan harus berlaga dalam berbagai lapangan usahanya?
  2. Posisi kompetitif apa yang harus dipikul oleh setiap unit bisnis untuk mencapai tujuan yang ditentukan oleh korporatnya?
  3. Bagaimana perusahaan harus mengalokasikan sumber dayanya untuk mencapai posisi kompetitif yang diinginkan.

PROSES PERENCANAAN STRATEGIK MANAJEMEN PEMASARAN

MANAJEMEN PEMASARAN

1. INFORMASI DAN REKOMENDASI UNTUK :

  • Strategi perusahaan
  • Strategi korporasi
  • Strategi bisnis

2. TANGGUNG JAWAB PASAR :

  • Pengkoordinasian dengan bidang fungsional lainnya
  • Penentuan sasaran
  • Pemilihan pasar target
  • Pengembangan program pemasaran
  • Pemantauan aktivitas pemasaran

Staf-staf pemasaran menyediakan berbagai informasi dan rekomendasi yang digunakan dalam menggambarkan arah mendatang perusahaan bagi perencana korporat Pemasaran mengisi peran ini dgn:

  1. Mengidentifikasi dan memberikan rekomendasi seputar trend masa depan dan peluang dalam pasar di mana perusahaan telah berkecimpung.
  2. Mengidentifikasi dan menawarkan rekomendasi tentang peluang pasar baru.
  3. Memberikan estimasi sumber daya pemasaran (anggaran dan staf) yang dibutuhkan untuk menggali peluang tersebut

Informasi pemasaran yang dipasok digunakan dalam formulasi strategi-strategi korporat dan bisnis. Akibatnya, pemasaran memainkan peran kunci dan berpengaruh dalam memutuskan konfigurasi final strategi tersebut.
Di samping itu, staf pemasaran bertanggung jawab atas penyusunan dan penerapan strategi-strategi pemasaran yang secara bersamaan memenuhi empat kondisi berikut:

  1. Strategi sepantasnya dirancang untuk mencapai tujuan dan sasaran yang dinyatakan oleh perusahaan dan setiap unit bisnis.
  2. Strategi hendaknya disinkronkan dengan tujuan dan sasaran dari setiap unit bisnis strategi fungsional lainnya (produksi, finansial, dan sumber daya manusia).
  3. Strategi harus berada dalam sumber daya yang dianggarkan.
  4. Strategi sepatutnya mendapat respon yang telah ditentukan dari pasar.

DIMENSI-DIMENSI GLOBAL/TUASAN STRATEGI GLOBAL






Diktat Dasman-1

16 07 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas terselesaikannya Diktat Kuliah Dasar-Dasar Manajemen. Diktat kuliah ini disusun berdasarkan konsep dan pustaka yang penulis pandang relevan untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar Manajemen yang nantinya merupakan suatu keahlian dari sarjana peternakan untuk diaplikasikan pada Manajemen Usaha Peternakan baik ternak Unggas, Perah, Potong/Kerja serta Aneka Ternak Skala Usaha Modern.
Tentu saja isi diktat ini sangat singkat, oleh karena itu membaca pustaka asli sangat dianjurkan bagi mahasiswa sehingga cakrawala berpikir tentang prinsip manajemen menjadi lebih luas dan mendalam. Secara tekhnis, materi kuliah tercakup dalam 7 pokok bahasan yang direncanakan selesai dalam 15 kali kuliah tatap muka di kelas, 6 kali tugas terstruktur, 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester. Evaluasi akhir merupakan nilai kumulatif dari nilai tugas tersruktur (20%), nilai ujian tengah semester (40%), dan nilai ujian akhir semester (40%).
Penulis mengharapkan diktat ini dapat dipandang sebagai upaya agar mahasiswa lebih mudah untuk menjadi tahu, mau, dan akhirnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam lingkup manajemen bidang peternakan.

DAFTAR ISI
KATA  PENGANTAR
DAFTAR  IS
DAFTAR  GAMBAR
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.    Prinsip Dasar Manajemen
1.2.    Sejarah Manajemen
1.3.    Perspektif Sistem dalam Manajemen
1.4.    Berbagai Isu kontemporer perkembangan ilmu manajemen
1.5.    Modern Manajemen Guru (Leader)
1.6.  Evolosi Teori Manajemen
BAB II. PENGERTIAN  MANAJEMEN
2.1.   Pengertian Manajemen
2.2.   Prinsip Dasar Manajemen
2.3.   Unsur-Unsur Manajemen
2.4.   Manajemen sebagai sebuah Profesi
2.5.   Tanggungjawab Manajemen
BAB III. FUNGSI  MANAJEMEN
3.1.   Fungsi Dasar Manajemen
3.2.   Fungsi Manajer dalam Cakupan Fungsi Manajemen
3.3.   Alur Kegiatan,SD Organisasi,Tujuan Perbedaan Pandangan
3.4.   Fungsi Operasional dalam Manajemen
BAB IV. PENDEKATAN DALAM SISTEM MANAJEMEN
4.1.   Proses Manajemen
4.2.   Proses Analisis dan Sintesis
4.3.   Manajemen dan Kepemimpinan
4.4.   Ciri-ciri Manajer Profesional
4.5.   Pendekatan Sistem Manajemen
4.6.   Pendekatan-pendekatan Manajemen
4.7.   Kriteria Keunggulan Manajemen Pendidikan jaman sekarang
4.8.   Kerangka implementasi strategi manajemen yang utuh
BAB V. PERENCANAAN
5.1.   Unsur-Unsur Perencanaan
5.2.   Langkah-Langkah Perencanaan
5.3.   Pendekatan Perencanaan
5.4.   Proses Perencanaan
5.5.   Bentuk Perencanaan
5.6.   Jenis Rencana
5.7.   Proyeksi Masa depan
5.8.   Perencanaan Produksi
5.9.   Perencanaan dan  Pengendalian Produksi
BAB VI. ORGANISASI
6.1.    Pendahuluan
6.2.    Pengertian Organisasi
6.3.    Sumber Daya Organisasi
6.4.    Jenis-Jenis dan Fungsi Organisasi
6.5.    Organisasi sebagai Sistem
6.6.    Jenis-Jenis sistem
6.7.    Pengertian Manajemen Organisasi
6.8.    Bidang-bidang Manajemen Operasional
6.9.    Macam-macam Organisasi
6.10. Struktur Organisasi
6.11. Macam Struktur Organisasi
6.12. Macam-macam Hubungan Struktur Organisasi
6.13. Jenis-jenis manajer
6.14. Peran Manajerial
6.15. Manajer – Leader di Sekolah
BAB VII. MANAJEMEN  SDM
7.1.   Pengertian Manajemen SDM
7.2.   Pendekatan Masalah Personalia/SDM
7.3.   Tantangan yang dihadapi Manajemen SDM
7.4.   Perencanaan SDM
7.5.   Penarikan/Rekruitment SDM
7.6.   Pengertian Balas Jasa dan Penghargaan
7.7.   Perencanaan dan Pengembangan Karier
7.8.   Pemutusan Hubungan Karyawan
BAB VIII. MANAJEMEN KONFLIK
8.1.   Batasan-batasan
8.2.   Jenis-jenis Konflik
8.3.   Pendorong Konflik
BAB IX. MANAJEMEN  PEMASARAN
9.1.   Pengertian Marketing/ Pemasaran
9.2.   Manajemen Pemasaran
9.3.   Penelitian Pasar
BAB X. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MANAJEMEN
10.1.  Pengertian Pengawasan
10.2.  Konsep Pengendalian Manajemen
10.3.  Pengendalian Manajemen
10.4.  Proses Pengendalian Manajemen
10.5.  Tujuan dari Fungsi Pengawasan
BAB XI. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.Prinsip Dasar Manajemen
Manajemen sering didefinisikan sebagai “pencapaian tujuan melalui orang lain”. Kedengarannya memang terlalu sederhana, akan tetapi memberi kita gambaran tentang beberapa hal mendasar.

  1. Yang pertama berkaitan dengan “pencapaian tujuan”. Manajemen selalu berkaitan dengan sebuah usaha untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan semata-mata sebuah posisi atau jabatan di dalam perusahaan. Banyak orang memiliki jabatan “manajer”, akan tetapi dalam kenyataannya mereka hanya menjalankan kedudukan dan bukan mengarahkan sesuatu ke arah pencapaian tujuan yang tertentu
  2. Pokok yang kedua adalah berkaitan dengan aspek “melalui orang lain”. Sebagai sebuah aktivitas, manajemen selalu menyangkut orang-orang lain, yakni bawahan -bawahan; dan pada usaha untuk mengarahkan atau mengkoordinasi kerja dari orang-orang tersebut. Meskipun setiap manajer memang memiliki tugas-tugas khusus yang hanya bisa dilakukan olehnya, peran seorang manajer lebih didasarkan pada kenyataan bagaimana dia mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas bawahannya. Dalam arti ini, seorang manajer seharusnya lebih mementingkan pencapaian hasil dari para bawahannya daripada prestasinya sendiri. Sebab pencapaian hasil bersama itulah yang menentukan keberhasilan dari organisasi secara keseluruhan

1.2. Sejarah Manajemen
Berbagai macam peninggalan fisik sebagai ciri adanya implementasi ilmu manajemen; seperti Piramida di Mesir, Bangunan Ka’bah di Makkah, Tembok Cina, dan lain sebagainya. Peninggalan fisik tersebut menggambarkan adanya aktifitas yang teratur dan bertahap di masa lalu yang saat ini dinamakan manajemen.

Pada mula Awal Teori Manajemen, banyak dikemukakan oleh para tokoh seperti :
a. Adam Smith (1776)
Merupakan Bapak Ilmu Ekonomi
Teorinya dikemukakan dalam sebuah buku yg berjudul “ The Wealth of Nation” (Kemakmuran Suatu Bangsa)
Prinsip utama dalam teorinya adalah agar masyarakat suatu negara dapat menjadi makmur yaitu dengan melakukan : Spesialisasi  dan Perdagangan internasional
b. Robert Owen (1771 – 1858)
Membuat konsep tentang arti pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM) pada pengelolaan produksi yang bertujuan meningkatkan/memberikan kesejahteraan pada karyawan serta dapat meningkatkan produktivitas kerja dan laba perusahaan.
c. Charles Babbage (1792–1871) membuat konsep arti pentingnya Efisiensi dalam kegiatan Produksi, khususnya dalam penggunaan fasilitas dan material produksi serta Spesialisasi tugas (Job discription) bagi karyawan

d. Max Weber & Teory Birokrasi  dengan konsep Ciri Pokok Birokrasi :

  1. Pembagian tugas dan spesialisasi
  2. Hubungan yg bersifat kedinasan (impersonal), bukan bersifat perorangan (hub. Pribadi/ personal)
  3. Adanya hierarki kewenangan, dimana setiap bagian yg lebih rendah selalu berada di bawah kewenangan dan supervisi dari bagian di atasnya
  4. Manajemen selalu didasarkan atas pelaksanaan dg dokumen yg tertulis
  5. Orientasi pembinaan pegawai adalah pengembangan karier
  6. Agar dapat mencapai efisiensi yg maksimal, maka setiap tindakan yg diambil dalam organisasi harus selalu dikaitkan dg besar kecilnya sumbangan thd pencapaian tujuan organisasi

Dalam hal ini Weber membagi organisasi menjadi 3 macam, ditinjau dari segi Birokrasi dan kepemimpinannya:

  1. Organisasi Birokratik
  2. Organisasi Kharismatik
  3. Organisasi Tradisional

Dalam perkembangannya, maka muncul Tiga Kelompok Pemikiran Terdahulu dalam Ilmu Manajemen, yaitu dengan pengelompokkan sebagai berikut :

1. Perspektif Manajemen Klasik, terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
a) Kelompok Manajemen Ilmiah atau Saintifik : Perusahaan manufaktur, Bank Umum, Perusahaan Asuransi, Perusahaan Ritel, dll. Adapun para tokoh dan hasil pemikirannya antara lain :

Frederich W Taylor (1856-1915)

  • Time and Motion Studies, Piecework pay system, Empat Prinsip dasar Manajemen Ilmiah
  • Merupakan Bapak.Manajemen Ilmiah (Scientific Management)
  • Melakukan analisa kerja untuk peningkatan kecepatan kerja, efisiensi dan produktivitas pabrik, dengan menggunakan “Time and Motion Study” dengan stop watch
  • Hasil analisanya didapat Standar kerja, standar gerak, dan waktu
  • Prinsip2 Dasar yg dikemukakan Taylor ada 3,yaitu: Time and Emotion Study, Prinsip Upah Satuan (Piece Wage Rate Principle) dan Prinsip pemisahan antara perencanaan dan penampilan (Separation of Planning and Performance Prinsiple)

Frank Gilberth (1868-1924) dan Lilian Gilberth (1878-1972) Efisiensi dalam Produksi, Psikologi Industri, dan Manajemen SDM
Henry  L  Gant  ( 1861-1919 )  menyampaikan  Empat  Gagasan  Peningkatan Manajemen.
Empat (4) Gagasan Gantt dalam Manajemen, yaitu :

  1. Kerjasama yang saling menguntungkan antara tenaga kerja dan pimpinan
  2. Seleksi ilmiah tenaga kerja atau karyawan
  3. Sistem insentif  untuk merangsang produktifitas karyawan dan organisasi
  4. Penggunaan instruksi-instruksi kerja yang terperinci.

Harrington Emerson (1853-1931) menyampaikan 12 Prinsip Efisiensi
Dua Belas (12) Prinsip Efisiensi Emerson, yaitu :

  1. Tujuan-tujuan dirumuskan dengan jelas
  2. Kegiatan yang dilakukan harus masuk akal dan realistis
  3. Adanya staff yang memiliki kualifikasi yang tepat
  4. Adanya kedisiplinan
  5. Diberlakukannya pemberian kompensasi yang adil
  6. Perlu adanya laporan dari setiap kegiatan secara tepat, akurat, dan terpercaya, sehingga diperlukan semacam sistem informasi atau akuntansi.
  7. Adanya kejelasan dalam pemberian perintah, perencanaan dan pembagian kerja.
  8. Adanya penetapan standar dari setiap pekerjaan, baik dari segi kualitas kerja maupun waktu pengerjaan.
  9. Kondisi pekerjaan perlu distandardisasi.
  10. Kegiatan operasional harus juga distandardisasikan.
  11. Instruksi-instruksi praktis tertulis harus dibuat secara standar.
  12. Sebagai kompensasi atas efisiensi, perlu dibuat rencana pemberian insentif.

b). Kelompok Manajemen Administrasi
Henry Fayol (1841-1925) menyampaikan 14 Prinsip Fayol dalam Manajemen

  • Merupakan Bapak. Manajemen Operasional
  • Mengemukakan bahwa kegiatan yg dilaksankan dalam perusahaan industri dpt dibagi dalam beberapa kelompok tugas,sebagai berikut :  1. Technical , 2. Commercial, 3. Financial, 4. Manajerial , 5. Security , 6. Accounting
  • Fayol  memandang  bahwa manajemen merupakan suatu proses yang memiliki beberapa elemen, yaitu:

a.  Perencanaan (Planning)
b.  Pengorganisasian (Organizing)
c.  Pengarahan (Actuating/ Commanding)
d. Pengkoordinasian (Coordinating)
e. Pengawasan (Controling)

Keterangan:
+ : Bungkus, saluran distribusi, pesaing, harga, loyalitas pemakai, dsb.
–  : Pembukuan, neraca, laporan rugi-laba, pajak, presensi, dsb.
*  : Permodalan, investasi, inventarisasi, pelatihan karyawan, penggajian,dsb.
# : Bahan baku, bahan penolong, bahan jadi, pemasok bahan, pergudangan, dsb.

Empat Belas (14) Prinsip Fayol dalam Manajemen, yaitu :

  1. Pembagian kerja (Division of labour) yaitu adanya spesialisasi akan meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja
  2. Wewenang / otoritas (Authority) yaitu adanya hak untuk memberi perintah dan dipatuhi.
  3. Displin (Discipline), harus ada respek dan ketaatan pada peranan-peranan dan tujuan organisasi.
  4. Kesatuan perintah (Unity of Common), bahwa setiap pekerja hanya menerima instruksi tentang kegiatan tertentu dari hanya seorang atasan
  5. Kesatuan arah (Unity of Direction), kegiatan operasional dalam organisasi yang memiliki tujuan yang sama harus diarahkan oleh seorang manajer dengan penggunaan satu rencana.
  6. Mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, dimana  kepentingan perseorangan harus diupayakan agar senantiasa dibawah kepentingan organisasi. Dengan demikian prioritas harus didahulukan untuk kepentingan  bersama daripada kepentingan pribadi
  7. Pemberian upah (Remuneration), kompensasi untuk pekerjaan yang dilaksanakan harus adil baik bagi karyawan maupun pemilik
  8. Pemusatan (Sentralisation), adanya keseimbangan antara pendekatan sentraliasi dengan desentralisasi
  9. Semangat  korps (Esprit de corps), Prinsip ini menekankan bahwa pada dasarnya kesatuan adalah sebuah kekuatan. Pelaksanaan operasional organisasi perlu memiliki kebanggaan, kesetiaan, dan rasa memiliki dari para anggota yang tercermin pada semangat korps/kebersamaan
  10. Inisiatif (Initiative), setiap pekerja harus diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya dan diberi kebebasan untuk merencanakan dan menjalankan tugasnya secara kreatif walaupun memungkinkan terjadi kesalahan.
  11. Kestabilan staf (Stability of staff), perlu adanya kestabilan dalam menjalankan organisasi, tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat.
  12. Kesamaan (Equality), Perlakuan dalam organisasi harus sama dan tanpa ada diskriminasi
  13. Tata tertib (Order), sumber daya organisasi termasuk sumber daya manusianya, harus ada pada waktu dan tempat yang tepat. Penempatan orang-orang harus sesuai dengan pekerjaan yang akan dikerjakan.
  14. Jenjang jabatan (The Hierarchy) disertai dengan Garis wewenang (scalar system) – adanya garis wewenang dan perintah yang jelas.
  • Manajemen dg Orientasi Tugas
  • Manajemen dg Orientasi Hub. Kemanusiaan (Human Relation)
  • Manajemen dg Orientasi Tingkah Laku (Behavioral)

Lyndall Urwick (1891-1983) : Panduan Manajemen (Managerial Guidelines)
Max Weber (1864-1920) : Birokrasi dalam Organisasi

Kesimpulan mengenai Perspektif Manajemen Klasik

a. Kontribusi Manajemen Klasik

  1. Spesialisasi pekerjaan
  2. Studi mengenai masa dan beban kerja
  3. Metode ilmiah dalam manajemen
  4. Dikenalnya fungsi-fungsi manajemen.
  5. Prosedur dan Birokrasi

b. Keterbatasan Manajemen Klasik

  1. Kurang memperhatikan aspek kemanusiaan dari pekerja, seperti motif, tujuan, perilaku, dan lain sebagainya

2. Perspektif Manajemen Perilaku
Hugo Munstberg (1863-1916) Pentingnya pemahaman psikologis khususnya motivasi para pekerja.
a. Studi Howthorne
Studi Howthorne (Elton Mayo)
– Teori Perhatian (Attention Theory) Pekerja akan lebih produktif jika merasa diperhatikan
– Teori Penerimaan Sosial (Social Acceptance Theory) Pekerja akan menunjuk kan produktifitas berdasarkan faktor penerimaan sosial
b. Teori Relasi Manusia

  • Hirarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
  • Teori X dan Y dari Douglas Mc Gregor

c. Teori Perilaku Kontemporer

  • Perhatian pada perilaku pekerja yang disebabkan oleh faktor psikologis, sosiologis, antropologis, dan lain sebagainya
  • Melahirkan konsentrasi ilmu Perilaku Organisasi

Teori Manajemen Kontemporer

  1. Perspektif Sistem dalam Manajemen  : Open System, Sub-Sistem, Sinergi dan Entropi
  2. Perspektif Kontingensi dalam Manajemen  : There is no such things as one best and general way on management

3. Perspektif Manajemen Kuantitatif

  1. Kelompok Manajemen Sains : Pengenalan penggunaan model matematis dalam kegiatan bisnis dan industri, seperti penentuan jumlah Teller dalam sebuah Bank (kasus Bank of England), peramalan atas volume penjualan, dan lain sebagainya
  2. Kelompok Manajemen Operasi merupakan :
  • Lanjutan dari kelompok Manajemen Sains
  • Adanya fokus pada pendekatan kuantitatif untuk peningkatan efisiensi
  • Dikenalnya pendekatan Analisa Break Even, Queuing Theory, dll

1.3. Perspektif Sistem dalam Manajemen

Perspektif Sistem dalam Manajemen

  1. Sistem terbuka adalah sistem yang melakukan interaksi dengan lingkungan dimana kebalikannya, sistem tertutup tidak melakukan interaksi dengan lingkungan.
  2. Sub-sistem merupakan elemen-elemen dalam sistem organisasi atau manajemen yang satu sama lainnya saling berkaitan
  3. Sinergi adalah konsep yang menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan secara bersama-sama akan memberikan hasil yang lebih baik daripada jika hanya dikerjakan oleh seorang saja.
  4. Entropi adalah kondisi dimana organisasi mengalami penurunan produktifitas dan kualitasnya disebabkan ketidakmampuan dalam membaca dan beradaptasi dengan lingkungan.

1.4. Berbagai Isu kontemporer dalam  Perkembangan Ilmu Manajemen

  1. Downsizing
  2. Diversity management
  3. Information Technology
  4. Globalization
  5. Ethics and Social Responsibility
  6. Managing for Quality
  7. Service Economy

1.5. Modern Management Guru (Leader)

  1. John Aldair  : efektif leadership dan centered leadership
  2. Igor Ansoff  : strategic management, Ansoff Matrix
  3. Chris Argyris : learning organization, single loop & double loop learning
  4. Chester Barnard : organizational behavior and executive behavior
  5. Percy Barnevik : Multinational corporate management system
  6. Christopher Bartlett : Entrepreneurial organization
  7. Warren Bennis : Adhocracy on Leadership and management
  8. Robert Blake : Managerial grid
  9. Edward de Bono : lateral thinking, valued monopolies

1.6. Evolusi Teori Manajemen

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner). Manajemen merupakan ilmu dan seni. Ada 4 fungsi utama dalam manajemen: Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Actuating/ Directing), dan Pengawasan (Controlling)
Pengertian lain Manajenen adalah Seni dalam menyelesaikan sesuatu melalui orang lain (Follet,1997)
Demikian Juga Manajemen dapat diartikan sebagai Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya (Nickels, McHugh and McHugh ,1997)
Seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan. (Ernie&Kurniawan, 2005).

a. Faktor-faktor dalam Pencapaian Tujuan
Adanya penggunaan sumber daya organisasi, baik sumber daya manusia, maupun faktor-faktor produksi lainnya. Sumber daya tersebut meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya keuangan, serta informasi (Griffin,2002) Adanya proses yang bertahap dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengimplementasian, hingga pengendalian dan pengawasan. Adanya seni dalam menyelesaikan pekerjaan.

b.Sumber Daya Organisasi

  • Sumber Daya Manusia
  • Sumber Daya Informasi
  • Sumber Daya Fisik
  • Sumber Daya Keuangan
  • Sumber Daya Alam
  • dll

c. Pengertian Efektif dan Efisien (Drucker)
Efektif :  mengerjakan pekerjaan yang benar  atau tepat
Efisien : mengerjakan pekerjaan dengan benar atau tepat

BAB II. PENGERTIAN MANAJEMEN
2.1. Pengertian Manajemen
Berbagai perpustakaan online maupun off line dikunjungi, berbagai literature dalam dan luar negeri dibaca, akhirnya terkumpul sudah 315 pengertian manajemen. Tiga ratus lima belas pengertian manajemen tersebut, dianalisis titik temu kesamaan sekaligus perbedannya berbasis latar belakang pendidikan penulis sendiri adalah bidang manajemen. Sehingga ketemu sudah terdapat Delapan  kelompok arti manajemen, yaitu :

1). Manajemen juga sebagai proses. Proses pencapaian hasil yang diinginkan via penggunaan sumber daya secara efisien.
Menurut pengertian manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.

  • Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
  • Selanjutnya,Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
  • Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbinganatau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.

2).Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science) Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenaiinipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.

3). Manajemen sebagai alat atau cara. Ini mempunyai arti penggunaan manusia, uang, bahan-bahan, perlengkapan dan metode secara efektif demi mencapaitujuan.
4). Manajemen sebagai kekuatan. Artinya, sebuah kekuatan yang memimpin, memberi panduan, dan mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5). Manajemen sebagai sistem. Sistem perilaku kerjasama manusia yang diarahkan dalam mencapai tujuan lewat aktifitas-aktifitas rasional berkesinambungan.
6). Manajemen sebagai fungsi. Ini berarti, fungsi dari dewan manajer atau sering disebut manajemen untuk menetapkan kebijakan, kebijaksanaan-kebijaksanaan serta bertanggung jawab dalam membentuk struktur organisasi untuk melaksanakan kebijakan yang ditetapkannya.
7). Manajemen sebagai tugas. Tugas daripada perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian dan pengawasan mencapai satu atau lebih tujuan.
8). Manajemen sebagai aktifitas. Sebagai aktifitas kata manajemen merujuk pada arti pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui usaha-usaha yang dilakukan orang lain. Sebagai alat, sebagai kekuatan, sebagai sistem, sebagai proses, sebagai fungsi, sebagai tugas, dan sebagai aktifitas adalah tujuh kelompok arti manajemen. Manajemen memunculkan dirinya sebagai aktifitas yang dilakukan sekelompok orang dalam suatu sistem relationship dengan pertolongan sumber daya bersama seluruh fasilitas mencapai tujuan yang hendak diperoleh secara efektif dan efisien. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.

Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Dari gambar 4 di atas menunjukkan bahwa manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi.
Dalam Pengertian lain bahwa “Manajemen merupakan ilmu tentang upaya manusia untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan secara efektif & efisien”

2.2. Prinsip Dasar Manajemen
Manajemen sering didefinisikan sebagai “pencapaian tujuan melalui orang lain”. Kedengarannya memang terlalu sederhana, akan tetapi memberi kita gambaran tentang beberapa hal mendasar.

  1. Yang pertama berkaitan dengan “pencapaian tujuan”. Manajemen selalu berkaitan dengan sebuah usaha untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan semata-mata sebuah posisi atau jabatan di dalam perusahaan. Banyak orang memiliki jabatan “manajer”, akan tetapi dalam kenyataannya mereka hanya menjalankan kedudukan dan bukan mengarahkan sesuatu ke arah pencapaian tujuan yang tertentu.
  2. Pokok yang kedua adalah berkaitan dengan aspek “melalui orang lain”. Sebagai sebuah aktivitas, manajemen selalu menyangkut orang-orang lain, yakni bawahan-bawahan; dan pada usaha untuk mengarahkan atau mengkoordinasi kerja dari orang-orang tersebut. Meskipun setiap manajer memang memiliki tugas-tugas khusus yang hanya bisa dilakukan olehnya, peran seorang manajer lebih didasarkan pada kenyataan bagaimana dia mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas bawahannya. Dalam arti ini, seorang manajer seharusnya lebih mementingkan pencapaian hasil dari para bawahannya daripada prestasinya sendiri. Sebab pencapaian hasil bersama itulah yang menentukan keberhasilan dari organisasi secara keseluruhan.

2.3. Unsur-unsur Manajemen
Unsur – unsur Manajemen Terdiri dari 6 M:

  1. Man (Manusia), misal: Tenaga kerja (karyawan, buruh)
  2. Material (Barang), misal: Bahan baku, bahan pelengkap, spare part
  3. Machine (Mesin)
  4. Money (uang/ modal)
  5. Method (Metode)
  6. Market (pasar)

2.4. Manajemen sebagai sebuah profesi
Sebagai sebuah profesi, manajemen memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

  1. Merupakan sebuah spesialisasi yang memiliki prinsip-prinsip, ketrampilan dan teknik-teknik analisis tertentu,
  2. Memiliki aturan main dan kode etik tertentu.
  3. Bersifat universal. Manajer-manajer yang sudah terlatih baik bisa dengan mudah dipindahkan dari industri yang satu ke industri yang lain. Meskipun untuk ini ada catatan, yakni: Untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan teknis tertentu yang semula tidak dimiliki oleh seorang manajer, sebuah proses transfer belum bisa dijamin berhasil sebelum ketrampilan teknis tersebut bisa dipelajari lebih dahulu. Misalnya, seorang bekas jendral angkatan darat sudah pensiun dan diserahi posisi sebagai presiden direktur sebuah pabrik. Sebelum dia mengambil posisi tersebut dia berkeliling selama setahun ke fasilitas-fasilitas pabrik itu dan belajar tentang proses-proses teknis bisnis pabrik tersebut. Setelah itu barulah pengalaman dan ketrampilan manajerial yang dimilikinya di angkatan darat bisa lebih efektiv.

2.5. Tanggung jawab manajemen:

  1. Manajemen di dunia usaha, baik for profit maupun sosial, setidak-tidaknya bertanggung jawab pada empat kelompok: para pemegang saham atau Yayasan pendiri, karyawan / pekerja, pelanggan, dan masyarakat umum.
    Kepada para pemegang saham, manajemen bertanggung jawab untuk melindungi modal yang ditanamkan dan mengusahakan hasil yang lebih dari penanaman modal tersebut. Manajemen tidak hanya bertanggung jawab untuk hasil jangka pendek tetapi juga hasil jangka panjang.
    Kepada karyawan atau pekerja manajemen memiliki berbagai jenis tanggung jawab. Manajemen harus berusaha untuk menyediakan pekerjaan yang tetap dengan upah yang memadai; menjaga kondisi dan keselamatan kerja yang baik; dan rasa aman secara ekonomis setelah masa pensiun.
  2. Kepada pelanggan manajemen harus menyediakan produk berkualitas dengan harga yang bersaing dan menyediakan pelayanan perbaikan atau perawatan yang memadai.
  3. Kepada masyarakat umum, manajemen bertanggung jawab untuk selalu menjadi anggota masyarakat yang baik. Ini berarti ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, menjaga lingkungan dari pencemaran, dsb.

BAB III. FUNGSI MANAJEMEN
3.1. Fungsi Dasar Manajemen
Sampai saat ini, masih belum ada consensus baik di antara praktisi maupun di antara teoritis mengenaiapa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen, sering pula disebut unsur-unsur manajemen. Berbagai pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen akan tampak jelas dengan dikemukakannya pendapat beberapa penulis sebagai berikut:

  1. Louis A. Allen : Leading, Planning, Organizing, Controlling.
  2. Prajudi Atmosudirdjo : Planning, Organizing, Directing, atau Actuating and Controlling.
  3. John Robert B., Ph.D : Planning, Organizing, Command -ing, and Controlling.
  4. Henry Fayol : Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
  5. Luther Gullich : Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgeting.

Luther Gullick mengemukakan bahwa tugas manager dalam pelaksanaan manajemen meliputi fungsi-fungsi yang dapat dirumuskan dengan memory deviceI POSDCORB, yaitu planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting dan budgeting

  1. Koontz dan O’Donnel : Organizing, Staffing, Directing, Planning, Controlling.
  2. William H. Newman : Planning,Organizing,Assembling,Resources,Directing,Controlling.
  3. Dr. S.P. Siagian., M.P.A : Planning, Organizing, motivating and Controlling.
  4. William Spriegel : Planning, organizing, Controlling
  5. Lyndak F.Urwick :Forecasting, Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
  6. Winardi: Planning, Organizing, Coordinating, Actuating, Leading, Communication, Controlling
  7. The Liang Gie : Planning, Decision making, Directing, Coordinating, Controlling, Improving.
  8. James A.F.Stoner : Planning, Organizing, Leading, and Controlling.
  9. George R. Terry : dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” Planning, Organizing, , Actuating and Controlling.

Menurut Terry keempat fungsi dasar manajemen tersebut sangat fundamental dalam setiap proses manajemen, hingga dia mengemukakan pula semacam alat untuk mengingat-ingat ( Memory Device ), yaitu apa yang disebut oleh Terry dengan istilah POAC.
Dari uraian di atas ternyata bahwa dalam berbagai teori yang nampak beraneka ragam itu terdapat banyak kesamaan yang fundamental, hingga dapat ditarik kesimpulan bahwa berbagai fungsi dasar manajemen yang dikemukakan oleh para pakar tersebut memang merupakan fungsi-fungsi yang terdapat dalam proses manajemen, namun sudut pandang dan pengelompokkannya yang berbeda.
Namun demikian di dalam prakteknya pendapat George R. Terry lebih banyak dijadikan sebagai acuan. Hal ini disebabkan karena disamping lebih sederhana, disebabkan pula karena fungsi-fungsi dasar manajemen yang dikemukakan oleh para pakar yang lain sudah tercakup di dalam keempat fungsi dasar manajemen yang dikemukakan oleh George R. Terry.
Fungsi Coordinating misalnya, menurut Terry fungsi ini juga terdapat dalam proses manajemen, namun sudah tercakup di dalam keempat fungsi dasar yang dikemukakannya. Demikian pula halnya dengan Leading, menurut Terry fungsi tersebut di dalam proses manajemen memang ada, namun sudah tercakup di dalam fungsi Actuating.
Kemudian Forecasting, sebagai tahap pertama dalam proses manajemen. Para ahli lainpun sepakat bahwa kegiatan Forecasting tersebut terdapat dalam proses manajemen, namun sudah tercakup atau merupakan bagian dari fungsi dasar Planning.
Sedangkan Directing menurut Terry fungsi tersebut bagian anak unsur daripada fungsi dasar Actuating. Atau dengan kata lain bahwa di dalam fungsi dasar Actuating sudah tercakup pula fungsi Directing.

Secara umum fungsi-fungsi Utama yang dijalankan manajemen adalah merencanakan, (planning) mengorganisasi (organizing), Aktualisasi (Actuating) dan mengontrol (controlling).

1). Perencanaan (Planning):
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :

  1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
  2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?
  3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
  4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
  5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
  6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu ?

Menurut Stoner : Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi.
Perencanaan adalah menentukan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Ini berarti menyangkut pengambilan keputusan berhadapan dengan pilihan-pilihan. Seorang manajer harus memahami dan bisa menangkap peluang-peluang yang datang, dan memiliki pula kemampuan untuk menciptakan peluang-peluang. Dia harus mampu membuat analisa atas peluang-peluang tersebut dan mengambil keputusan untuk memilih yang terbaik sesuai dengan kondisi dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Keputusan-keputusan misalnya harus diambil untuk menentukan rantai produk mana yang akan ditawarkan dengan diskon, harga-harga mana harus dirubah, metode produksi yang digunakan, gaji atau upah yang harus dibayar atau riset dan penelitian yang harus diadakan, dsb.
Ada dua jenis perencanaan: jangka panjang dan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang tentu saja harus bertitik tolak dari tujuan jangka panjang dari perusahaan yang bersangkutan dan langkah-langkah yang harus diambil. Misalnya, untuk mendapatkan posisi di pasar tertentu barangkali perlu memperkenalkan satu produk tertentu tahun ini, dan produk yang lain tahun depan, dan membangun pabrik baru di tahun ketiga, dst. Dalam perencanaan jangka pendek, manajer itu harus menterjemahkan secara tepat langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengembangkan dan memperkenalkan produk baru tersebut. Untuk perencaaan jangka lebih pendek lagi, dia harus mulai memesan material tertentu dan mempersiapkan pekerja. Semakin pendek jangka perencanaan, semakin harus spesifik perencanaan tersebut.
Adapun salah satu fungsi manajemen yang tercakup dalam fungsi Planning, yaitu :

  • Forecasting Forecasting adalah meramalkan, memproyeksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai  kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan. Misalnya suatu akademi meramalkan jumlah mahasiswa yang akan melamar belajar ke akademi tersebut. Ramalan tersebut dengan menggunakan beberapa indikator, misalnya jumal lulusan SLTA. Suatu perusahaan industri harus mengadakan forescasting tentang penjualan hasil produksi dengan memperhatikan jumlah penduduk pada daerah penjualan, income perkapita anggota masyarakat, kebiasaan membeli dsb.
  • Budgeting  Fungsi planning termasuk budgeting yang dimaksudkan fungsi manajemen dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi menetapkan peraturan dan pedoman pelaksanaan yang harus dituruti dan menetapkan ikhtiar biaya yang diperlukan dan pemasukan uang yang diharapkan akan diperoleh dari rangkaian tindakan yang akan dilakukan. Oleh karenanya lebih tepat bila perencanaan atau planning dirumuskan sebagai penetapan tujuan, police,prosedure, budget dan pogram dari suatu organisasi.

Kesimpulan Fungsi Perencanaan

  • proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat  untuk mewujud kan target dan tujuan organisasi.

Kegiatan dalam Fungsi Perencanaan

  • Menetapkan tujuan dan target bisnis
  • Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut
  • Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan
  • Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis

2). Mengorganisasi (Organizing)
Fungsi ini berkaitan dengan usaha untuk menetapkan jenis-jenis kegiatan yang dituntut untuk mencapai suatu tujuan tertentu, mengelompokkan kegiatan-kegiatan tersebut berdasarkan jenisnya supaya lebih mudah ditangani oleh bawahan. Fungsi ini mengandai kan bahwa seorang manajer bisa mendelegasikan otoritasnya kepada bawahannya dan bawahannya bisa memahami tanggung jawabnya masing-masing.
Struktur organisasi bisa bermacam-macam dan tidak boleh dilihat sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Struktur organisasi barulah efektiv kalau bisa mempermudah perusahaan mencapai tujuan utamanya, bukan hanya karena terlihat “teratur” dan “manis”.
Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur  untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.

Adapun cakupan Fungsi Organizing antara lain :

Penempatan Orang (Staffing)
Istilah staffing diberikan oleh Luther Gulick,Harold Koonz dan Cyril O’Donnel sedangkan assembling resources dekemukan oleh William Herbar Newman : istilah itu cenderungmengandung pengertian yang sama.
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia
pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga petugas memberikan daya guna maksimal kepada organisasi
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi
Fungsi ini menyangkut usaha untuk mengembangkan dan menempatkan orang-orang yang tepat di dalam berbagai jenis pekerjaan yang sudah didisain lebih awal dalam organisasi. Lebih jauh lagi fungsi ini meliputi hal-hal seperti pengembangan sumber daya manusia, proses penilaian dan promosi, pelatihan. Salah satu aspek penting dari fungsi ini adalah mengidentifikasi orang-orang di dalam organisasi yang berpotensial untuk dikembangkan sebagai manajer. Good managers develop managers.

Kesimpulan Fungsi Pengorganisasian

  • proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi

Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian

  • Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan
  • Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab
  • Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja
  • Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat

4). Aktualisasi (actuating)
Actuating atau aktualisasi / pelaksanaan adalah salah satu fungsi manajemen untuk melaksanakan kegiatan manajemen berdasarkan Planning, Organizing yang telah digariskan serta menggunakan pengendalian atau controlling tertentu. Adapun cakupan Actuating antara lain :

a.Memimpin (Leading)
Pekerjaan leading meliputi lima kegiatan yaitu :

  • Mengambil keputusan
  • Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan.
  • Memeberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
  • Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya, serta memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.

b. Directing (mengarahkan)/Commanding
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
Dengan kata lain Directing biasa juga disebut supervisi. Ini menyangkut pembinaan motivasi dan pemberian bimbingan kepada bawahan untuk mencapai tujuan utama. Secara umum bisa dikatakan bahwa pekerja-pekerja akan berprestasi lebih baik pada pekerjaan di mana mereka persis tahu apa yang diharapkan dari mereka. Lebih jauh lagi, para pekerja tersebut akan lebih menghargai pekerjaannya kalau mereka bisa melihat bagaimana kaitan perkerjaan mereka dengan gambar keseluruhan dari organisasi. Mengerjakan sesuatu hanya karena atasan menyuruh demikian biasanya tidak bisa menghasilkan secara maksimal.

c. Motivating
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.

d. Coordinating
Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukanberbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarahdalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Salah satu aspek penting dari fungsi ini adalah fungsi koordinasi, yang berarti penciptaan suatu harmoni dari individu-individu yang berkerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan komunikasi menjadi kunci keberhasilan fungsi ini.

Kesimpulan Fungsi Pengarahan dan Implementasi

  • proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.

Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi

  • Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
  • Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
  • Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan

e. Mengontrol (Controlling)
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula
Fungsi ini dijalankan untuk menjamin bahwa perencaan bisa diwujudkan secara pasti. Ada banyak alat-alat analisa untuk suatu proses kontrol yang efektiv. Proses kontrol pada dasarnya selalu memuat unsur: perencanaan yang diterapkan, analisa atas deviasi atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, dan menentukan langkah-langkah yang perlu untuk mengoreksi.
Fungsi lain dalam cakupan fungsi controlling, antara lain :.
Reporting Adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.

Kesimpulan Fungsi Pengawasan dan Pengendalian

  • proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian

  • Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
  • Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan
  • Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis

3.2. Fungsi Manajer dalam Cakupan Fungsi Manajemen
Fungsi-fungsi lain dari seorang  manajer dalam Actuating
Apa yg telah dibicarakan di atas adalah fungsi-fungsi manajer ke dalam perusahaan, sering disebut internal function of manager. Jadi fungsi-fungsi manajer ke dalam perusahaan dapat di lihat dari dua sudut yaitu:

  1. Dari sudut proses yakni perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan.
  2. Dari sudut subjek atau bidang yaitu keuangan, personalia, pemasaran, pembelian, produk

Dalam bidang pemasaran, para manajer harus mengusahakan agar hasil-hasil  produksinya dapat disalurkan dari saluran-saluran distribusi yang tepat sehingga harga penjualannya dapat dijangkau oleh tenaga pembeli kaum konsumen
Selain fungsi manajer ke dalam perusahaan, ada pula  fungsi-fungsi manajer keluar perusahaan, yang kita sebut external function of a manager. Fungsi manajer ke luar perusahaan ini ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut:

  1. mewakili perusahaan di bidang pengadilan
  2. mengambil kegiatan sebagai warga Negara biasa
  3. mengadakan hubungan dengan unsur masyarakat (stakeholder)

Setiap perusahaan tidak berdiri sendiri, ia memerlukan hubungan dengan unsure masyarakat. Baik tidaknya hubungan perusahaan dengan unsure masyarakat memegang peranan penting dalam berhasil tidaknya seorang manajer untuk merealisasikan tujuannya. Untuk menghadapi masyarakat luar, manajer perusahaan harus melaksanakan kegiatan, antara lain sebagai berikut:

  1. mengadakan pengumuman, komunike-komunike, dan artikel-artikel
  2. menyelenggarakan konferensi pers dan pertemuan
  3. menyelenggarakan pameran
  4. mengatur siaran melalui radio/media
  5. mengadakan kontak dengan unsur pemerintah dan masyarakat
  6. membuat analisa dari pendapat umum
  7. menerima kunjungan pihak luar ke dalam perusahaan

3.3. Alur Kegiatan, Sumber daya organisasi, Tujuan dan Perbedaan Pandangan Fungsi Manajemen.
Alur Kegiatan dalam Fungsi-fungsi Manajemen

Sumber Daya Organisasi, Tujuan, dan Fungsi-fungsi Manajemen

Perbedaan pandangan dalam  Fungsi-fungsi Manajemen

3.4. Fungsi Operasional dalam Manajemen
Adapun Fungsi Operasional dalam manajemen, yaitu :

a. Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah
b. Manajemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada    intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan
c. Manajemen Operasi/Produksi
Manajemen Produksi adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi
d. Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan
e. Manajemen Informasi
Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat

BAB IV. PENDEKATAN DALAM PROSES MANAJEMEN
4.1.Proses Manajemen

4.2. Proses Analisis Dan Sintesis
Proses Analisis yaitu proses yang berusaha untuk mengurai/ memisah-misahkan sesuatu yang sedang kita amati

4.3. Manajemen dan Kepemimpinan
Perbedaan Manajemen dan Kepemimpinan 
Tahap-tahap yg diperlukan dalam mengubah sikap/ tingkah laku organisasi:

  1. Tahap permulaan (pengetahuan)
  2. Tahap pencerminan sikap & motivasi
  3. Tahap tingkah laku kelompok
  4. Tahap Perilaku  organisasi

Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Pergaulan Manusia dengan masyarakat & alam disekitarnya akan membentuk kebiasaan – kebiasaan tertentu. Kebiasaan yg selalu berulang-ulang akan menjadi “BUDAYA”

Tiga Tingkatan manajemen (Manajemen Level) dalam Organisasi
1) Manajemen Puncak (Top Management)
Manajer Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.
2) Manajemen Tingkat Menengah (Middle Management)
Manajer menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya kadang-kadang juga karyawan operasional
3) Manajemen Tingkat Bawah (Low Management)
Manajer lini garis-pertama (first line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain.

Ketrampilan manejemen yang dibutuhkan :

  1. Ketrampilan Konsepsional (conseptual skill)
  2. Ketrampilan Kemanusiaan atau komunikasi (human skill)
  3. Ketrampilan Teknis (Teknik skill)

4.4. Ciri-ciri Manajer Profesional

  1. Manajer profesional adalah manajer yang mampu menciptakan atau membuat kedua belah pihak menjadi senang, bahagia, serta bangga (SBB)
  2. Manajer tidak profesional adalah manajer yang akan menciptakan suasana dikedua belah pihak, baik pihak yang dilayani maupun pihak yang melayani merasakan suasana yg mengecewakan, menyedihkan/ menderita, dan memalukan.

Profesionalisme yang dirasakan oleh konsumen
Profesionalisme yang dirasakan oleh manajer dan karyawan

Profesionalisme yang dirasakan konsumen

  1. Konsumen merasa senang karena memperoleh barang/jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau
  2. Konsumen merasa bahagia karena dapat menikmati kehidupan yang lebih nyaman, karena menikmati produk yang dibutuhkan dan diharapkan.
  3. Konsumen dibuat bangga dengan produk yang dimilikinya
  4. Kebanggaan konsumen pada umumnya memiliki 2 keunggulan : a) Hi Tech (High Technology) dan b) Hi Touch (High Touch)

4.5. Pendekatan Sistem Manajemen
Definisi Sistem : Suatu agregasi (kumpulan) elemen  yang dinamis, yg berhubungan satu sama lain dan saling tergantung, serta berjalan sesuai dengan hukum2 yg berlaku. Sistem ada 2 yaitu:

  1. Sistem Tertutup (Closed System)
  2. Sistem Terbuka (Opened System), cirinya: adanya prinsip “Cybernetic”, yaitu prinsip umpan-balik (feedback)

Pendekatan Dalam Mempelajari Manajemen
Ada 3 yaitu:

  1. Pendekatan Tradisional
  2. Pendekatan Kuantitatif
  3. Pendekatan Tingkah Laku

Pendekatan terhadap Analisis Manajemen:

  1. Pendekatan Empiris atau kasus
  2. Pendekatan perilaku antarpribadi
  3. Pendekatan perilaku kelompok
  4. Pendekatan sistem sosial kooperatif
  5. Pendekatan sistem sosioteknis
  6. Pendekatan teori keputusan
  7. Pendekatan sistem
  8. Pendekatan matematis atau ilmu manajemen
  9. Pendekatan kontingensi atau situasional
  10. Pendekatan peran manajemen
  11. Pendekatan operasional

4.6. Pendekatan-Pendekatan Manajemen
Pemikiran tentang manajemen telah dipengaruhi oleh banyak disiplin ilmu pengetahuan yang telah mapan, seperti Ilmu Ekonomi, Teknik, Hukum, Administrasi Negara, Psikologi, Sosiologi dan lain-lain.
Pengaruh dari disiplin-disiplin ilmu tersebut menyebabkan berbagai pikiran tentang manajemen berbeda, dan antara yang satu dengan yang lain pun berbeda pula. Peristiwa ini menimbulkan berbagai macam aliran manajemen, teori manajemen, ajaran manajemen maupun berbagai pendekatan dalam Ilmu Manajemen.
Berbagai buku teks telah membahas adanya bermacam-macam pendekatan manajemen dan jika buku-buku teks tersebut kita gabung, maka akan kita jumpai sedikitnya terdapat 12 pendekatan manajemen yang masing-masing mempunyai identitas yang jelas.

(1) Pendekatan yang pertama adalah pendekatan empirikal atau kasus.Di dalam pendekatan ini dipelajari pengalaman-pengalaman, peristiwa-peristiwa atau kasus-kasus daripada manajemen. Atas dasar pengalaman, peristiwa dan kasus dapat dipelajari bagaimana sukses diraih atau bagaimana kegagalan seseorang terjadi.
Kelemahan utama di dalam pendekatan empirikal ini adalah bahwa pengalaman saja belumlah cukup untuk merumuskan pedoman tindakan di masa depan, sebab kondisi yang ada di masa yang akan datang hampir tidak pernah sama dengan kondisi di masa lalu.
Untuk itu agar pendekatan empirikal ini dapat dilakukan secara lebih efektif diperlukan cara berfikir kreatif untuk meramalkan kondisi-kondisi masa depan melalui gejala-gejala yang ada pada masa kini.

(2) Pendekatan yang kedua adalah pendekatan inter-personal. Cara mempelajari manajemen melalui pendekatan inter-personal ini adalah dengan mempelajari hubungan antar-pribadi yang terjadi dalam organisasi.
Dasar pemikiran pendekatan inter-personal ini adalah bahwa usaha untuk mencapai tujuan tidaklah mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri atau melalui pribadi-pribadi, melainkan para pribadi ini harus bekerjasama dengan pribadi-pribadi lain. Dalam bentuk kerjasama tersebut terjadilah kontak hubungan pribadi dan dalam hubungan pribadi ini terjadi peristiwa manajemen yang menjadi obyek penelitian.

(3) Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan perilaku kelompok. Dengan menggunakan pendekatan ini dapat diperoleh rumusan tentang berbagai faktor yang mempengaruhi tindakan manusia dalam mencapai tujuannya atau yang lebih dikenal sebagai faktor lingkungan manajemen dan organisasi.
Dengan bantuan Ilmu Sosiologi, di dalam pendekatan perilaku kelompok ini dapat dipelajari hubungan antar kelompok. Dalam hubungan antar kelompok dapat ditemukan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam kegiatan manajemen dan organisasi.
Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah sikap, kebiasaan, tekanan, konflik, perbedaan budaya, organisasi informal, kondisi sosial, insentif dan lain sebagainya.

(4) Pendekatan yang keempat adalah pendekatan sistem sosial kerjasama.Pendekatan ini mempelajari manajemen dengan mempelajari hubungan manusia di dalam sistem sosial kerjasama.
Dalam sistem sosial kerjasama ternyata faktor distribusi akan hasil kerjasama sangat mempengaruhi kerjasama itu sendiri. Dengan demikian pendekatan ini memperkenalkan kaidah keadilan bagi suksesnya suatu kerjasama antar manusia dalam kelompok kerjasama antar mereka.

(5) Pendekatan yang ke lima adalah pendekatan sistem sosial teknikal. Akibat kemajuan di bidang teknologi yang dirintis sejak zaman revolusi industri, penggunaan alat-alat kerja dan mesin-mesin yang semakin canggih telah memberikan pengaruh yang besar dalam keseimbangan kerjasama antar manusia.
Oleh sebab itu kaidah keadilan saja tidaklah cukup untuk menjamin kelangsungan kerjasama antar manusia, tetapi sistem keteknikan juga harus dipertimbangkan dan dibuat keseimbangan antara sistem social dengan sistem keteknikan tersebut, guna menjamin kelancaran kerjasama.

(6) Pendekatan yang keenam adalah pendekatan teori keputusan. Pendekatan ini mempunyai pandangan bahwa sukses dan tidaknya usaha mencapai tujuan tergantung pada pemilihan alternatif kegiatan mencapai tujuan itu sendiri.
Hal tersebut dapat dimaklumi karena untuk kegiatan mencapai tujuan memang memiliki banyak alternatif, banyak jalan dan cara. Dengan alat bantu analisis berupa model-model dan matematika ( operation research ), maka pilihan alternatif keputusan akan bertambah baik.

(7) Pendekatan yang ketujuh adalah pendekatan sistem. Pendekatan ini di dalam mempelajari manajemen menggunakan teknik sistem manajemen secara total, kemudian dipelajari sub-sub sistemnya, seperti perencanaan, pengorganisasian, dan sebagainya.
Sumbangan pendekatan sistem ini pada Ilmu Manajemen adalah dapat diketahuinya hubungan yang teratur antara sub-sub sustem manajemen, sehingga berdasarkan pengetahuan ini orang dapat menciptakan mesin-mesin untuk kepentingan manajemen.

(8) Pendekatan yang kedelapan adalah pendekatan operasional. Pendekatan ini mempelajari manajemen dengan mempelajari praktek- praktek para manager. Hasilnya para manager di dalam menjalankan tugasnya ternyata menggabungkan berbagai ilimu pengetahuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Dengan demikian di dalam pendekatan operasional ini tugas manager adalah memilih berbagai ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mengetahui masalah dalam praktek manajemen.

(9) Pendekatan yang kesembilan adalah pendekatan peran tim manajemen. Pendekatan ini mempelajari manajemen dari sisi “bagaimana” para manager bekerja.
Dari hasil pengamatan para pendukung pendekatan peran tim manajemen ini disimpulkan bahwa para manager tidak pernah bekerja sendirian, melainkan mereka bekerja secara tim.
Kesimpulan pendekatan ini adalah pembedaan peran manager yang dapat dibedakan ke dalam 4 (empat) peran, yaitu :

  1. Sebagai Produser;
  2. Sebagai Administrator;
  3. Sebagai Enterpreneur;
  4. Sebagai integrator

(10) Pendekatan yang kesepuluh adalah pendekatan kontingensi atau situasional. Pendekatan ini didasarkan kepada kelemahan-kelemahan pada pendekatan empirikal atau kasual, yaitu bahwa kasus yang sama tidak pernah terulang lagi karena situasi dan kondisi yang terus berubah
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka para penganut pendekatan kontingensi atau situasional ini menganjurkan agar setiap keputusan manajemen menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat keputusan itu diambil.
Pendapat utama para penganut pendekatan kontingensi atau situasional ini adalah bahwa tidak ada resep terbaik untuk mengatasi masalah tertentu selain menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang berbeda.
Pendekatan kontingensi atau situasional ini memaksa para manager untuk terus memantau perubahan situasi dan kondisi yang terjadi. Dengan demikian peran riset dan pengembangan menjadi bagian penting dalam aktivitas manajemen.

(11) Pendekatan yang kesebelas adalah pendekatan matematikal. Para pakar menemukan bahwa setiap hubungan dapat dibuatkan model matematikalnya. Misalnya hubungan pemakaian bahan baku dengan jumlah yang dapat diproduksi dengan bahan baku yang tersedia.
Sebagai contoh, bahan baku yang tersedia ada 2.000 unit. Produk A setiap unit memerlukan bahan baku sebanyak 4 unit dan produk B unitnya memerlukan bahan baku sebanyak 5 unit. Model matematika dari hubungan ini adalah : 4A + 5B = 2.000.
Didasari oleh penemuan tersebut, maka manajemen pun dapat dipelajari dengan model matematika tersebut

(12) Pendekatan yang terakhir atau pendekatan yang keduabelas adalah pendekatan peran manajerial.
Pendekatan ini mempelajari manajemen dari“apa ” yang dilakukan para manajer sehari-hari.

Para penganut pendekatan peran manajerial ini menemukan bahwa apa yang dikerjakan oleh para manager tidak sama seperti digambarkan sebelumnya, yakni melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan, tetapi melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :

  1. Kepala dalam organisasi;
  2. Pemimpin dalam organisasi;
  3. Wakil organisasi dalam bertindak keluar;
  4. Penerima informasi;
  5. Penterjemah informasi;
  6. Juru bicara/humas organisasi;
  7. Wirausaha;
  8. Penangkal gangguan organisasi;
  9. Pembagi sumber daya dalam organisasi;
  10. Negosiator bagi organisasi.

4.7. Kriteria Keunggulan Manajemen Pendidikan Jaman Sekarang:

  • Kepemimpinan yang visioner
  • Learning-centered Organisation
  • Semangat Belajar Tinggi baik organisasi maupun anggotanya
  • Menghargai dosen/pengajar, staf, dan rekanan
  • Gesit
  • Fokus ke Masa Depan
  • Mengarahkan organisasi pada innovasi
  • Manajemen berbasis data / fakta
  • Punya Tanggung Jawab Sosial
  • Fokus pada hasil yang menciptakan nilai
  • Punya Kerangka strategi yang utuh

4.8. KERANGKA IMPLEMENTASI STRATEGI MANAJEMEN YANG UTUH:

Leadership:
Kemampuan pemimpin untuk merumuskan visi, membangun merumuskan ekspektasi jangka pendek dan jangka panjang, dan menciptakan suasana kondusif untuk inovasi dan keberanian berubah
 
Perencanaan Strategis:
Menyangkut kemampuan organisasi untuk membuat perencanaan formal maupun informal untuk mengantisipasi masa depan. Pengembangan perencanaan strategis bisa menggunakan alat-alat bantu seperti proyeksi, skenario perubahan, prakiraan keuangan, dsb. yang bisa membantu proses pengambilan keputusan untuk bertindak di masa depan dan penggunaan sumber daya yang ada.

Strategi ini bisa dipahami secara luas untuk menyangkut hal-hal seperti: penutupan atau penghapusan jasa atau program tertentu, pengalihan sumber daya, modifikasi kurikulum, penggunaan teknologi, perubahan standard, prioritas penelitian, kerjasama dengan rekanan baru dsb.
(1)  Fokus pada siswa dan pemangku kepentingan:
Kepuasan siswa dan para pemangku kepentingan harus menjadi ukuran dari seluruh jasa dan program yang ditawarkan.
(2) Pengukuran, Analisa dan Penataan Informasi:
Kategori ini menunjukkan kemampuan organisasi untuk memilih, mengumpulkan, menganalisa, mengatur dan memperbaiki aset data dan informasi yang dimiliki.
(3) Fokus pada Tenaga Pengajar, Staf dan Karyawan:
Kategori ini menunjukkan kemampuan organisasi untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi sumber daya manusianya untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tujuan dan sasaran strategis organisasi.
(4)  Manajemen Proses:
Kategori ini melihat proses-proses kunci dalam organisasi yang akan menentukan mutu akhir dari kegiatan organisasi. Dalam hal organisasi pendidikan ini berarti pelaksanaan proses belajar-mengajar. Apakah proses itu sungguh-sungguh mampu menciptakan lingkungan ”learning-centered” yang memberi motivasi siswa untuk belajar.
(5) Hasil Akhir Kinerja:
Kategori ini secara menyeluruh melihat kemampuan organisasi mencapai hasil akhir yang diharapkan. Di dalamnya termasuk: kepuasan para pemangku kepentingan, keuangan, pertumbuhan sumber daya, daya saing di pasar, dsb

BAB V. PERENCANAAN
5.1. Unsur-unsur Perencanaan
Unsur-Unsur Perencanaan:  What, Why,Where, When, Who, & How.  Setiap perencanaan harus didasarkan pada jawaban atas 5 W 1 H.
5.2. Langkah-langkah Perencanaan:

  • Penentuan tujuan yg akan dicapai
  • Pendefinisian unsur-unsur gabungan situasi (SDM, SDA, dan Sumber Daya Modal) secara baik
  • Pendefinisian faktor-faktor yg membantu dan menghambat tujuan. Faktor2 tsb berasal dari faktor internal dan eksternal lingkungan
  • Merumuskan kegiatan yg harus dilaksanakan

5.3. Pendekatan Perencanaan:
Dalam menyusun rencana tahunan manajemen dapat menggunakan salah satu dari tiga (3) pendekatan, sebagai berikut:

  1. Top Down Planning
  2. Bottom Up Planning
  3. Goals Down-Plans Up Planning

5.4. Proses Perencanaan:
Dapat dilakukan dengan 3 macam cara/pendekatan:

  1. Pendekatan Perkembangan yg menguntungkan (Profitable Growth Approach)
  2. Pendekatan SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunites, Treaths)
  3. Pendekatan Portofolio dan Kesenjangan Perencanaan

Pendekatan Perkembangan yg menguntungkan (Profitable Growth Approach)

5.5. Bentuk Perencanaan :

1. Ramalan (Forecasting)
2. Sasaran (Target)
3. Kebijakan (Policy)
4. Program
5. Daftar Waktu (Time Schedule)
6. Prosedure Kerja (Prosedure)
7. Anggaran Keuangan (Budget)

5.6. Jenis Rencana :
a.    Rencana Strategis
Ciri perencanaan strategis antara lain :

  • Meliputi masalah dasar
  • Memberikan pedoman untuk perencanaan yang lebih terperinci dan penentuan keputusan manjerial sehari-hari
  • Meliputi masa yang lebih panjang dibanding dengan perencanaan yang lain
  • Merupakan kegiatan tingkat puncak

Mengapa diperlukan perencanaan strategis

  1. Berubahnya tingkat teknologi
  2. Makin sulitnya tugas manajerial
  3. Makin sulitnya lingkungan luar
  4. Makin panjangnya waktu putusan diambil dengan dampaknya dimasa depan

Langkah Pokok dalam Perencanaan strategis:

  1. Menentukan tujuan
  2. Menentukan situasi saat ini
  3. Identifikasi pendukung dan penghambat
  4. Pengembangan rencana dan perangkat tindakan untuk mencapai tujuan

b. Rencana Operasional (Operational Plan)
Terdapat 2 jenis utama dari rencana operasional :
1. Rencana sekali-pakai
2. Rencana Tetap
Pedoman/ Prinsip penyusunan anggaran operasional:
1. Terpusat
2. Terpadu (Integrated)
3. Berkesinambungan (Continue)
4. Menggunakan Pendekatan Multi Instansional

5.7. Proyeksi Masa Depan (forecasting)
Masa depan dapat diramalkan dengan tiga (3) cara, yaitu:

  1. Dengan dasar pertumbuhan tetap , yaitu dengan menggunakan proyeksi sederhana (Lineair Regression ) dari masa lampau dan masa datang.
  2. Dengan memperhatikan adanya perubahan yang dilaksanakan oleh generasi sekarang dan masa yang akan datang sebagai usaha mereka untuk menjawab tantangan.
  3. Dengan memperhatikan kejadian2 yang mungkin terjadi, seperti : Bencana alam, epidemis, keadaan politik dsb.

Dalam hal ini terdapat 3 macam keadaan, yaitu:

  • Ketidakpastian (Uncertainty)
  • Resiko (Risk)
  • Kepastian (Certainty)

Selain itu juga ada beberapa hal yg harus diperhatikan :

  • Arah pertumbuhan atau Arah perkembangan
  • Pengaruh Musiman (Seasonal effect)
  • Pengaruh konjungtur atau siklis (Cyclical effect)

Perbandingan Perencanaan Strategis dan Operasional (Menurut B.Taylor)

Bidang

Perencanaan Strategis

Perencanaan Operasional

Fokus Kelangsungan hidup, jangka panjang, pengembangan Masalah Operasional
Tujuan Laba sekarang dan Masa depan Laba Sekarang
Kendala Lingkungan sumber daya masa depan Lingkungan sumber daya Sekarang
Manfaat Pengembangan potensi Efisien, Stabilitas
Informasi Kesempatan Masa depan Usaha sekarang
Organisasi Kewirausahaan, Luwes Birokratis, Stabil
Kepemimpinan Perubahan Radikal Konservartif
Pemecahan Berantisipasi, mencari cara baru, resiko lebih besar Bereaksi, berdasar pengalaman masa lalu, Resiko kecil

5.8. Perencanaan Produksi
Perencanaan adalah fungsi manajemen yang paling pokok dan sangat luas meliputi perkiraan dan perhitungan mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu yang akan datang mengikuti suatu urutan tertentu. Perencanaan merupakan salah satu sarana manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan karena itu setiap tingkat manajemen dalam organisasi sangat membutuhkan aktivitas perencanaan
Tujuan perencanaan harus tegas, jelas dan mudah dimengerti. Seringkali perencanaan harus mengalami perubahan, oleh karena itu perencanaan harus besifat luwes dan terbuka untuk dapat dirubah bila diperlukan.  Sifat luwes ini mengakibatkan pelaksanaan kegiatannya harus dimonitor dan dikendalikan terus menerus yang disesuaikan dengan kondisi yang ada namun perencanaan harus tetap pada tujuan yang ditetapkan.
Perencanaan juga merupakan fungsi memilih sasaran perusahaan secara kebijaksanaan, program dan pemilihan langkah-langkah apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan dan kapan aktivitasnya dilaksanakan.
Dalam perencanaan produksi kita selalu menginginkan agar diperoleh perencanaan produksi yang baik namun merencanakan proses produksi bukanlah hal yang mudah karena banyaknya faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor internal relative mudah dapat dikuasai oleh PPC manager, namun faktor external tidak demikian. Karena itu perencanaan harus dibuat ketat namun tidak kaku, artinya dapat dirubah bila diperlukan dan kemungkinan perubahan ini juga harus diperhitungkan agar tidak menimbulkan kesulitan. Perencanaan  yang baik hanya akan diperoleh dengan didasarkan kepada informasi yang baik dan pengukuran keberhasilan didasarkan kepada standard  yang ditetapkan.

a. Unsur-unsur Perencanaan Produksi
Perencanaan adalah suatu hasil pemikiran yang rasional dimana di dalamnya terdapat dugaan/perkiraan, perhitungan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Syarat mutlak suatu perencanaan harus mempunyai  tujuan yang jelas dan mudah dimengerti. Perencanaan harus terukur  dan mempunyai standard tertentu.  Perencanaan digolongkan sebagai fakta yang Objective  kebenarannya bahwa pemikiran yang rasional itu tidak atas hayalan belaka tetapi  suatu perhitungan berdasarkan data yang objective.  Walau perecanaan mengandung unsur dugaan/pemikiran namun harus didasarkan pada suatu  standard  yang terukur. Perencanaan adalah sebagai tahap persiapan / tindakan pendahuluan untuk melaksanakan kegiatan dengan memperhatikan penyimpangan yang mungkin terjadi

b. Fungsi  Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi (Production Planning) adalah salah satu dari berbagai macam bentuk perencanaan yaitu suatu kegiatan pendahuluan atas proses produksi yang akan dilaksanakan dalam usaha me capai tujuan yang diinginkan perusahaan.
Perencanaan produksi sangat erat kaitannya dengan pengendalian persediaan sehingga sebagian besar perusahaan manufacture menempatkan fungsi perencanaan dan pengendalian persediaan dalam satu kesatuan.
Ditinjau dari bentuk industri, perencanaan produksi suatu perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya terdapat perbedaan. Banyak hal yang menyebabkan perbedaan tersebut, bahkan pada perusahaan yang sejenis. Tujuan produksi bagi perusahaan adalah barang dengan spesifikasi tertentu memenuhi permintaan pelanggan. Tujuan tersebut dituangkan dalam Order Confirmation yang dibuat oleh bagian penjualan.
Dengan demikian dapat disimpulkan tujuan produksi sepenuhnya  dirumuskan oleh sales department, berdasarkan order yang telah diterima. Karena tujuan produksi dirumuskan berdasarkan order yang telah diterima maka dalam fungsi perencanan produksi pengaruh forecasting pada sistem perencanaan produksi dapat dikatakan tidak signifikan.
Untuk mencapai tujuan, khususnya dalam perencanaan produksi dan pengendalian persediaan peruhaan perlu menyediakan fasilitas komunikasi  dan sistem informasi yang mendukung sistem pengolahan data terdistribusi. Program aplikasi database management system yang terintegrasi dengan sistem lainnya di lingkungan perusahaan sehinngga bagian perencanaan produksi dan pengendalian persediaan memiliki sarana yang cukup handal yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dalam waktu yang relatif singkat. Bagian perencanaan dengan  mudah dapat mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam menyusun perencanaan produksi.
Agar masing-masing fungsi yang terdapat dalam Sistem perencanaan dan bagian terkait dengan sistem perencanaan produksi dapat menjalankan kerja dan tanggungjawabnya sesuai  dengan sistem, maka setiap  personal  disyaratkan mengenal sistem akuntansi komputer dan procedure yang diterapkan.
Dengan demikian efektifitas kerja dapat ditingkatkan. Dalam usaha mencapai tujuan perencanaan produksi terdapat berbagai macam permasalahan sesuai dengan proses yang akan dilaksanakan, kemudian dirumuskan bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan secara efektif dan efisien serta bagaimana cara pengendaliannya.  Keberhasilan dalam membuat perencanaan produksi dan pencapaiannya tidak hanya tergantung pada organisasi  bagian perencanaan itu sendiri, melainkan sangat tergantung pada struktur organisasi secara keseluruhan dan sistem  yang diterapkan. Kegagalan dapat terjadi akibat kesalahan dalam penggunaan sistem informasi tidak efektif, bahkan sering terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan akibat tidak memahami informasi yang ditampilkan  oleh sistem informasi yang tersedia. Manajer bagian prencanaan mutlak harus memahami sistem informasi yang digunakan, karena sistem informasi yang digunakan adalah berbasis komputer maka manajer bagian perencanaan produksi dan pengendalian persediaan serta bagian yang terkait langsung dengan bagian tersebut harus memahami dan mengerti sistem komputer yang digunakan. Jika tidak maka terbuka peluang untuk mengambil keputusan-keputusan yang keliru. Kelancaran proses produksi ditentukan oleh tingkat kematangan penjadwalan produksi. Dalam menyusun perencanaan harus memperhatikan berbagai element dari berbagai bagian sehingga sangat memerlukan sistem yang terintegrasi dan harus didukung dengan fasilitas yang memadai. Perencanaan produksi dituntut harus lebih besifat (sales oriented) namun di sisi lain tanpa mengabaikan efisiensi dan kelancaran proses produksi
Kemampuan sumber daya manusia sangat tergantung pada sistem yang diterapkan.  Tidak jarang orang yang mampu tidak dapat berbuat karena terikat oleh sistem dan fasilitas yang tersedia. Pembagian tugas dan tanggung jawab harus jelas dan dilakukan pengukuran efektifitas kerja. (Standard operational process) dan (Standard Instruction Process) harus dipahami oleh bagian operasional dan juga bagian perencanaan.
Perencanaan produksi sangat tergantung pada kapasitas, jenis perusahaan, sumberdaya  dan jenis produksi yang dikerjakan. Berdasarkan hal tersebut perusahaan yang mengerjakan order yang terputus-pustus berdasarkan permintaan pelanggan yang pemenuhannya pada waktu yang akan datang,  tingkat kesulitan dalam menyusun perencanaan jauh lebih sulit  dibanding perusahaan yang mengerjakan produksi continue. Pengukuran keberhasilan perencanaan tidak tepat untuk dibandingkan dengan perusahaan lain karena perbedaan kelengkapan, kapasitas dan sumberdaya  apalagi dibanding dengan perusahaan lain yang tidak sejenis.
Faktor penting dalam melakukan pengukuran adalah standar produksi meliputi waktu, mutu, jumlah yang dapat dihasilkan berdasarkan penelitian yang dilakukan pada jangka waktu tertentu di perusahaan ini.  Pengukuran perlu dilakukan secara terus-menerus sehingga keputusan yang diambil untuk pengembangan jangka panjang mempunyai dasar yang objectif.

c. Fungsi pengendalian persediaan
Persediaan adalah barang milik perusahaan  dengan maksud untuk dijual (barang jadi) atau barang dalam process produksi atau barang yang menunggu penggunaannya dalam process produksi (bahan baku).  Fungsi dasar pengendalian persediaan baik bahan baku, barang dalam proses  maupun barang jadi banyak sekali. Fungsi tersebut meliputi proses berurutan  mulai dari timbulnya kebutuhan, pembelian, pengolahan, delivery.
Permasalahan utama  persediaan  yang timbul yaitu bagaimana fungsi tersebut  dapat mengatur persediaan sehingga setiap permintaan dapat dilayani akan tetapi  biaya persediaan harus minimum. Bila persediaan cukup banyak, permintaan dapat segera dilayani akan tetapi menyebabkan biaya penyimpanan barang tersebut akan menjadi sangat mahal. Dengan memperhatikan hal tersebut diambil keputusan untuk menentukan nilai persediaan.
Menentukan nilai persediaan sangat tergantung kepada jenis perusahaan, modal kerja dan omzet perusahaan serta lead time untuk mendapatkan barang tersebut. Karena PT. Samudra Montaz sebagai perusahaan converting yang bersifat memenuhi permintaan pelanggan pada periode yang akan datang maka, besarnya kebutuhan akan barang tersebut tidak dapat ditentukan sebelum disepakati sales contract. Sebagian besar bahan baku sudah dialokasikan untuk produk tertentu karena pembelian dilakukan setelah bagian perencanaan menerima GR Order Confirmation yang sudah disetujui oleh pimpinan perusahaan.  Fungsi pengendalian persediaan adalah bagian dari fungsi perencanaan produksi yang bertanggung jawab atas tersedianya material produksi dan material pembantu agar  proses produksi dapat berjalan sesuai rencana yang ditetapkan
Fungsi perencanaan produksi yang bertanggung jawab atas tersedianya material produksi dan material pembantu agar  proses produksi dapat berjalan sesuai rencana yang ditetapkan. Keperluan meminimumkan persediaan berhubungan dengan besarnya biaya yang diperlukan  oleh persediaan yaitu :

d.Biaya pembelian.
Yang dimaksud biaya pembelian dalam hal ini adalah biaya pembelian bahan baku untuk produksi. Pembelian skala besar dapat mengurangi biaya pembelian dengan adanya potongan harga (quantity discount) yang diberikan Supplier dengan konsekwensi biaya transportasi yang ditanggung Supplier relative lebih murah karena pengangkutan barang dilakukan tidak terlalu sering, namun perlu diperhitungkan apakah potongan harga tersebut lebih kecil dari biaya  penyimpanan. Disamping itu jumlah persediaan yang cukup dapat mempercepat delivery sehingga tidak menimbulkan kekecewaan pelanggan. Karena jenis perusahaan memproduksi suatu barang sesuai permintaan pelanggan dimana permintaan tersebut akan dipenuhi pada waktu yang akan datang, cara pembelian tersebut tidak menguntungkan karena penyimpanan barang tersebut membutuhkan  ruang yang luas dan waktu penyimpanan yang relative lama

e. Biaya penyimpanan
Biaya  penyimpanan meliputi biaya penyediaan ruang  yang diperlukan untuk menampung barang tersebut, biaya perawatan atas resiko kerusakan,  serta biaya tenaga kerja yang diperlukan untuk merawat dan mengamankan barang tersebut dari segala macam bentuk gangguan. Selain itu biaya penyimpanan juga berkaitan dengan biaya bunga  dimana semakin besar dana yang dialokasikan pada persediaan akan mengakibatkan  alokasi  akan investasi yang lain akan terhambat  atau  dilakukan dengan suntikan dana dari kreditur dalam hal ini adalah Bank.
Sesuai dengan sifat perusahaan yang memenuhi permintaan  pelanggan pada waktu yang akan datang  maka  persediaan bahan baku dasar, tinta spesial yang tidak diperuntukan untuk order produksi tertentu (bebas) adalah nol.

PERENCANAAN PRODUKSI

  • Setelah permintaan akan datang diketahui, kemudian dibuat rencana produksi untuk jangka waktu tertentu.
  • Jangka waktu tersebut meliputi suatu periode beberapa minggu sampai setahun.
  • RENCANA PRODUKSI mencakup jumlah produk yang diinginkan pada waktu yang tepat dengan biaya minimum & berkualitas.
  • RENCANA PRODUKSI menjadi dasar pembuatan anggaran operasi, keperluan SDM dan jam kerja biasa atau lembur. Kemudian untuk menetapkan peralatan dan tingkat persediaan.

3 (tiga) sumber yg dapat digunakan jika ada permintaan:

  1. Produksi yang ada atau yang sedang dilakukan.
  2. Persediaan yang ada atau yang masih ada di gudang.
  3. Produksi dan persediaan yang masih ada.

Satu faktor yang sering menjadi pertimbangan dalam perencanaan produksi adalah KESTABILAN KEMAMPUAN KERJA.
Jika permintaan adalah secara siklus, seorang pekerja harus memilih salah satu dari variasi ukuran kekuatan kerja atau mengunakan persediaan untuk memenuhi permintaan tsb.

  • Jika menggunakan persediaan & tingkat kekuatan kerja untuk memenuhi permintaan secara siklus, mempunyai keuntungan keuangan yang langsung terdapat penanaman modal yang lebih rendah dalam pabrik dan peralatan.
  • Jika permintaan meningkat, perlu perluasan ukuran dari kekuatan kerja, menambah efisiensi atau mengurangi jumlah jumlah jam per unit atau menambah jam kerja yang ada.
  • Jika permintaan menurun, perlu pengurangan ukuran kekuatan kerja jika efisiensi tetap dipertahankan
  • Jadi Perencanaan Produksi harus disesuaikan dengan permintaan, kebijaksanaan perusahaan & produksi yang ekonomis

Pada saat Rencana Produksi selesai dibuat, ada 2 alasan penyesuaiannya:

  1. Permintaan nyata (sebenarnya) dapat berbeda dari ramalan permintaan yang telah digunakan untuk membuat rencana produksi tersebut.
  2. Produksi nyata yang mungkin tidak sama dengan produksi yang direncanakan.

Metode untuk menyesuaikan rencana produksi:

  1. Metode rata-rata ditimbang.
  2. Metode penyamarataan (leveling)

5.9. Perencanaan dan Pengendalian  Produksi
Perencanaan dan Pengendalian produksi yaitu merencanakan kegiatan-kegiatan produksi, agar apa yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.
Perencanaan Produksi adalah aktivitas untuk menetapkan produk yang diproduksi, jumlah yang dibutuhkan, kapan produk tersebut harus selesai dan sumber-sumber yang dibutuhkan.
Pengendalian Produksi adalah aktivitas yang menetapkan kemampuan sumber-sumber yang digunakan dalam memenuhi rencana, kemampuan produksi berjalan sesuai rencana, melakukan perbaikan rencana.

a. Tujuan Utama

  1. Memaksimumkan pelayanan bagi konsumen
  2. Meminimumkan investasi pada persediaan
  3. Perencanaan kapasitas
  4. Pengesahan produksi dan pengendalian produksi
  5. Persediaan dan kapasitas
  6. Penyimpanan dan pergerakan material
  7. Peralatan, routing dan proses planning, dll.

b. Tujuan dan Fungsi Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Tujuan Perencanaan dan Pengendalian Produksi

  1. Mengusahakan agar perusahaan dapat berproduksi secara efisien dan efektif
  2. Mengusahakan agar perusahaan dapat menggunakan modal seoptimal mungkin
  3. Mengusahakan agar perusahaan dapat menguasai pasar yang luas
  4. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang cukup bagi perusahaan.

Fungsi Perencanaan dan Pengendalian Produksi

  1. Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktu
  2. Memonitor permintaan yang actual, membandingkannya dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi atas ramalan tersebut jika terjadi penyimpangan.
  3. Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli.
  4. Menetapkan system persediaan yang ekonomis.
  5. Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
  6. Memonitor tingkat persediaan dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukan.
  7. Membuat jadwal produksi, penugasan serta pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci.

c.  Tingkatan Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Perencanaan Jangka Panjang
Kegiatan peramalan usaha, perencanaan jumlah produk dan penjualan, perencanaan  produksi, perencanaan kebutuhan bahan dan perencanaan financial.
Perencanaan Jangka Menengah
Perencanaan kebutuhan kapasitas, perencanaan kebutuhan material, jadwal induk produksi dan perencanaan kebutuhan distribusi.
Perencanaan Jangka Pendek
Kegiatan penjadwalan perakitan produk akhir, perencanaan dan pengendalian input-output, pengendalian kegiatan produksi, perencanaan dan pengendalian purchase dan manajemen proyek.

d. Kegiatan Perencanaan dan Pengendalian Produksi

  1. Peramalan kuantitas permintaan
  2. Perencanaan pembelian / pengadaan : jenis, jumlah dan waktu
  3. Perencanaan persediaan : jenis, jumlah dan waktu
  4. Perencanaan kapasitas : tenaga kerja, mesin dan fasilitas.
  5. Penjadwalan produksi dan tenaga kerja
  6. Penjaminan kualitas
  7. Monitoring aktivitas produksi
  8. Pengendalian produksi
  9. Pelaporan dan pendataan.

e. Pengertian system Manufaktur
Manufaktur adalah kumpulan operasi dan aktivitas yang saling berhubungan untuk membuat suatu produk meliputi : perancangan produk, pemilihan material, perencanaan proses, perencanaan produksi, produksi, inspeksi, manajemen dan pemasaran. Produksi adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk membuat produk. Proses Produksi manufaktur adalah aktivitas system manufaktur terkecil yang dilakukan untuk membuat produk, yaitu : proses permesinan maupun proses pembentukan lainnya.
Rekayasa Manufaktur adalah kegiatan perancangan, operasi dan pengendalian proses manufaktur. Sistem manufaktur adalah suatu organisasi yang melaksanakan berbagai kegiatan manufaktur yang saling berhubungan, dengan tujuan menjembatani fungsi produksi, agar dicapai performansi produktivitas total system yang optimal, seperti waktu produksi, ongkos dan utilitas mesin.

f. Klasifikasi system Manufaktur
a. Tipe produksi

  1. Make to stock (MTS)
  2. Asseble to order (ATO)
  3. Make to Order (MTO)
  4. Engineering to Order (ETO)

b. Volume Produksi
Produksi massa
Produksi Massa memiliki cirri-ciri sebagai berikut : Laju serta tingkat produksi pada produksi massa umumnya tinggi, Permintaan terhadap produk yang dihasilkan tinggi, Peralatan umumnya mempunyai fungsi khusus, Keahlian tenaga kerja tidak terlalu tinggi sebagai akibat dari fungsi peralatan yang khsusus
Produksi batch
Produksi Batch memiliki cirri-ciri sebagai berikut :Ukuran lot produksi adalah mediumTujuan : untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap produk-produk yang diperlukan secara kontinu, Peralatan umumnya mempunyai fungsi umum tetapi dirancang untuk tingkat produksi yang tinggi.
Produksi job shop
Produksi Job Shop dengan cirri-ciri : Tingkat produksi rendah, Peralatan mempunyai fungsi umum, Keahlian yang diperlukan tenaga kerja cukup tinggi., Biasanya membuat berdasar kan pesanan.

c. Aliran Produksi

  1. Fixed site (Project)
  2. Job shop (Jumbled Flow)
  3. Flow Shop

Small Batch Line Flow, mempunyai semua karakter flow shop tetapi tidak semua memproses produk yang sama secara terus menerus. Memproses beberapa produk dengan ukuran batch kecil, dengan kebutuhan set up per batch. Digunakan ketika biaya proses bisa dipertimbangkan, permintaan part rendah dan non-diskrit. Contohnya adalah farmasi
Large batch (Repetitive) Line Flow adalah memproduksi produk diskrit dalam volume besar tetapi tidak kontinu.
Continues Line Flow adalah Merefer pada proses kontinu dari fluida bedak, logam dll. Biasa digunakan pada industry gula, minyak dan logam lainnya.

d.Tata Letak

  1. Fixed position Lay out
  2. Process lay out
  3. Product flow lay out

Kesimpulan

  1. Setiap jenis system produksi memerlukan proses perencanaan dan pengendalian yang berbeda.
  2. Setiap jenis system manufaktur memiliki kelebihan dan kekurangan
  3. Perencanaan dan pengendalian produksi bertujuan agar aktivitas produksi berjalan seefektif dan seefisien mungkin.
  4. Sistem manufaktur memiliki pengertian yang lebih luas daripada system produksi.




Aneka Ragam Pangan Non Beras

4 07 2012

Keaneka Ragaman Bahan Pangan Non Beras dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan

Oleh : Ir.Rohmad, MMA
(Dekan FP-UNISKA Kediri, Tim Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Kota Kediri)

PENDAHULUAN

Tradisi Makan. Dalam masyarakat kita, jawaban atas pertanyaan ”sudah makan atau belum” ternyata menunjukkan pengaruh yang tidak kecil terhadap konsumsi beras per kapita. Pengertian makan di sebagian besar masyarakat masih sangat identik dengan nasi yang terbuat dari beras. Di luar itu akan menyatakan belum makan walaupun sudah makan roti atau bahkan nasi goreng sekalipun. Padahal, dilihat dari nilai gizinya, roti apalagi campur keju dan mentega dengan minum susu, atau nasi goreng dengan dadar telur jauh lebih bergizi dibandingkan dengan sekadar makan nasi putih dengan lauk ikan asin.

Ketergantungan pemenuhan konsumsi pangan berupa beras tersebut makin besar karena kita mengabaikan tradisi yang sudah menjadi milik masyarakatnya. Dalam buku-buku lama pelajaran di sekolah, kita bisa mengetahui bahwa makanan pokok masyarakat Madura adalah jagung. Makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua adalah sagu. Sebagai tradisi yang sudah turun-temurun, mereka tentunya akan menyatakan belum makan apabila belum menyantap nasi jagung atau sagu.

Akan tetapi, selama Orde Baru, tradisi itu secara tidak disadari telah dihapus. Lewat Revolusi Hijau, pemerintah melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman pangan, terutama padi sehingga pada tahun 1984 Indonesia mampu mencapai swasembada beras. Keberhasilan ini harus dibayar mahal karena mengakibatkan terjadi penyeragaman dalam pemenuhan kebutuhan pangan.

Tradisi makan masyarakat  NONBERAS yang secara budaya memperlihatkan kebinekaan bangsa kita, secara berangsur-angsur berubah. Kebutuhan bahan makanan pokok masyarakat nonberas tersebut ahirnya beralih dari jagung dan sagu ke beras sehingga terjadi keseragaman bahan makanan pokok. Di mana-mana orang membutuhkan beras sehingga sejalan dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan beras dari tahun ke tahun terus meningkat.

Meja Makan. Seberapa besar tingkat konsumsi beras tersebut, tiap masyarakat berbeda-beda. Secara sederhana, hal ini bisa diketahui lewat meja makan yang merupakan salah satu indikasi tradisi pola makan masyarakatnya. Baik meja makan yang terdapat di rumah maupun di rumah makan atau restoran.

Meja rumah makan padang lebih banyak dipenuhi oleh berbagai masakan sebagai lauk, tetapi porsi nasi yang disediakan hanya sekadarnya. Ini berbeda dengan apa yang terdapat di rumah makan sunda yang menyuguhkan lauk sekadarnya saja. Nasi yang menjadi menu utama ditempatkan di boboko dalam porsi yang lebih besar. Boboko adalah sejenis tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu.

Kenyataan ini memperlihatkan bahwa ketergantungan masyarakat Sunda pada beras lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Minang. Bahkan, sedemikian kuatnya ketergantungan pada bahan makanan pokok berupa beras, di beberapa daerah, seperti Cirebon, masyarakatnya yang tidak mampu membeli beras lebih memilih nasi aking daripada umbi-umbian atau sumber karbohidrat lainnya. Padahal, nasi aking merupakan nasi sisa yang berasal dari rumah-rumah makan atau restoran sehingga lebih cocok untuk makanan bebek. Selain nilai gizinya sangat rendah, nasi aking yang sudah berjamur bisa menjadi sumber timbulnya berbagai penyakit.

MENGAPA NASI (KARBOHIDRAT) TIDAK BOLEH DITINGGALKAN DALAM MAKAN

Bagaimanapun juga, karbohidrat merupakan zat gizi makro yang berfungsi memberikan energi bagi kita. Memang, apa yang dikatakan para ahli bahwa karbohidrat menyebabkan gemuk, itu benar adanya. Tetapi, itu terjadi bila Anda mengonsumsi jenis yang tidak disarankan, dan dalam jumlah berlebihan. Jika Anda makan berlebihan, tanpa nasi pun, berat badan Anda tetap akan naik. Maka, kuncinya adalah moderasi. Agar Anda para pecinta nasi berlega hati, menurut Brierley Wright, MS, RD, pakar Komunikasi Nutrisi dari Friedman School of Nutrition Science and Policy di Tufts University, ada enam alasan mengapa Anda harus tetap mengonsumsi karbohidrat.

  1. Karbohidrat membantu mendongkrak mood. Karbo mendukung produksi serotonin, senyawa kimia dalam otak yang menimbulkan perasaan senang. Studi dari Archives of Internal Medicine menunjukkan, orang yang menjalani diet rendah karbo yang berat selama setahun (hanya mengonsumsi sekitar 1/2 cangkir nasi atau selembar roti), cenderung mengalami depresi, kegelisahan, dan mudah marah. Kadarnya jauh melebihi orang yang mengonsumsi diet rendah lemak-tinggi karbohidrat, yang hanya makan produk olahan susu rendah lemak, gandum utuh, buah-buahan, dan kacang-kacangan.
  2. Karbohidrat membantu mencegah berat badan naik. Bahkan, membantu menurunkan berat badan. Bagaimana mungkin? Yang pasti, peneliti dari Brigham Young University di Utah, AS, mendapati bahwa mereka yang meningkatkan asupan seratnya secara umum akan kehilangan berat badan. Hal ini terjadi pada perempuan paruh baya yang dimonitor pola makannya selama dua tahun. Sebaliknya, perempuan yang mengurangi asupan serat dari makanannya justru berat badannya naik.
  3. Karbohidrat baik untuk jantung. Dengan meningkatkan asupan serat yang mudah larut (yang bisa ditemukan dalam makanan tinggi karbohidrat seperti oatmeal dan kacang polong) sebanyak 5-10 gr sehari, Anda akan menurunkan kadar kolesterol jahat hingga 5 persen. Mereka yang mengonsumsi gandum utuh (seperti beras merah) juga cenderung memiliki kadar kolesterol jahat yang lebih rendah, dan kolesterol baik yang lebih tinggi.
  4. Karbohidrat membantu merampingkan lingkar pinggang. Mengonsumsi gandum utuh membantu mengurangi lemak tubuh dan lemak perut, demikian menurut penelitian baru yang dimuat di Journal of Nutrition. Dalam studi tersebut dikatakan bahwa orang dewasa yang makan sekitar tiga porsi gandum utuh sehari, memiliki lemak tubuh 2,4 persen lebih sedikit, dan lemak perut 3,6 persen lebih sedikit, daripada mereka yang makan kurang dari seperempat porsi.
  5. Karbohidrat membantu menajamkan memori. Perempuan overweight yang menjalani diet rendah karbo selama seminggu (benar-benar tidak mengonsumsi karbohidrat) ternyata mendapatkan nilai yang lebih buruk dalam tes memori (seperti: mengapa tadi saya masuk ke ruangan ini?). Nilai mereka juga berkurang dalam visuospatial memory (tes mengingat lokasi dalam peta) daripada mereka yang mengikuti diet rendah kalori. Inilah merupakan petunjuk American Dietetic Association, yang terungkap dalam sebuah studi dari Tufts University.
  6. Karbohidrat membantu memecah lemak. Sarapan dengan karbohidrat yang sifatnya tidak menaikkan gula darah dengan cepat, seperti oatmeal atau sereal bekatul, 3 jam sebelum latihan, akan membantu Anda membakar lemak lebih banyak, demikian menurut sebuah studi dari Journal of Nutrition. Kedua jenis makanan tersebut, seperti juga kentang dengan kulitnya, roti gandum, pasta dari gandum, atau kacang polong,  tidak menyebabkan gula darah melonjak secepat bila Anda mengonsumsi roti tawar putih atau nasi putih. Sebaliknya, tingkat insulin tidak meningkat cepat, dan karena insulin berperan memberi tanda bahwa tubuh menyimpan lemak, memastikan tingkat insulin yang lebih rendah akan membantu Anda membakar lemak.

 PILIH NASI BERAS ATAU KENTANG SEBAGAI SUMBER KARBOHIDRAT ?

Banyak orang yang memanfaatkan kentang sebagai makanan pokok  dalam program diet mereka ketimbang nasi putih. Sehatkah pilihan tersebut?

Kentang memang kaya akan kandungan vitamin A dan B, karbohidrat, serat, sodium, potasium, fosfor, dan zat besi. Kandungan phytonutrient dalam kentang juga merupakan zat gizi yang berfungsi sebagai antioksidan atau penangkal radikal bebas. Selain itu, padatnya karbohidrat tapi dengan nilai kalori yang lebih kecil dalam kentang ketimbang nasi, membuat makanan yang berasal dari tumbuhan menjalar ini menjadi primadona dalam menu program diet kita. Bayangkan saja, satu kentang berukuran sedang mengandung kurang lebih 150 kalori saja. Sedangkan dalam satu piring nasi bisa terkandung sampai 240 kalori.

Kalau begitu, berarti benar kentang lebih baik dari nasi? Jangan terlalu terburu-buru menarik kesimpulan, karena dr Diani Adrina, SpGK, dokter ahli gizi dari RS Mitra Kemayoran, menyatakan ternyata kentang memiliki indeks glikemik lebih tinggi daripada nasi. Karena dalam 2 gram kentang rebus terdapat indeks glikemik sebesar 84, sedangkan pada nasi hanya 64. Makanan-makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat menyebabkan beberapa gangguan bagi kesehatan kita, seperti meningkatnya kadar gula, menekan kolesterol baik, serta meningkatkan risiko terjadi serangan jantung dan diabetes. Oleh sebab itu, langkah yang tepat untuk menikmati kentang adalah dengan membatasi jumlah asupan kentang yang kita konsumsi. Jika ingin menyantap kentang, hindari kentang yang digoreng dan lebih baik pilihlah kentang yang direbus atau dipanggang bersama dengan kulitnya. Jangan lupa untuk selalu mendampingi kentang dengan brokoli atau sayuran lainnya. Khusus bagi para penderita diabetes atau yang berisiko tinggi terkena diabetes, lebih bijak jika kita bisa menghilangkan kentang dalam daftar menu makanan harian kita. Alternatif aman dari kelas umbi-umbian yang memiliki indeks glikemik lebih rendah adalah ubi, daripada kentang.

KETAHANAN PANGAN

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang merupakan hak setiap manusia dan merupakan salah satu faktor penentu kualitas sumberdaya manusia. Faktor penentu mutu pangan adalah keanekaragaman (diversifikasi) jenis pangan, keseimbangan gizi dan keamanan pangan. Disadari bahwa ketidakseimbangan gizi akibat konsumsi pangan yang kurang beraneka ragam akan berdampak pada timbulnya masalah gizi, baik gizi kurang maupun gizi lebih.

Sebelum kita membahas tentang Ketahanan Pangan lebih lanjut, coba kita cermati beberapa pertanyaan berikut ini :

  • Menurut anda, apakah yang menjadi daya pikat beras ?
  • Apakah anda yakin bahwa kebiasaan makan nasi bisa diubah ?
  • One Day No Rice, Program Diversifikasi Pangan Setengah Hati ?
  • Apakah anda bersikap Malu makan Pangan Lokal ?
  • Apakah P2KPG (Program Percepatan Komsumsi Pangan dan Gizi) sudah berjalan ?
  • Perlukah Gerakan Lumbung Kota dan Segelas Beras sehari ?
  • Apakah anda Tahu bahwa sekolah dikepung makanan Tidak Sehat ?
  • Perlukah sejak dini anak diajari sopan santun makan termasuk makanan non beras ?

Terkait dengan Pangan sebenarnya berbagai kebijakan dan program telah ditempuh pemerintah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan.

Beberapa kebijakan pemerintah sebagai berikut:

  1. Inpres No 14 Th 1974 yang kemudian disempurnakan dengan Inpres No 20 Th 1979 tentang “Perbaikan Menu Makanan Rakyat.
  2. GBHN 1988, tentang “peningkatan produksi pangan baik beras maupun bukan beras untuk memantapkan swasembada pangan. Di samping itu juga ditujukan untuk memperbaiki mutu gizi, antara lain melalui penganekaragaman jenis serta peningkatan penyediaan protein nabati dan hewani dengan tetap memperhatikan pola konsumsi pangan masyarakat setempat.”
  3. UU NO. 7 TH 1996, tentang pangan yang mendefinisikan ketahanan pangan sebagai suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau
  4. PP 68/ 2002 tentang Ketahanan Pangan Pasal 9 yang menyatakan tentang “ Penganeka-ragaman pangan dilakukan antara lain dengan “meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi anekaragam pangan dengan prinsip gizi seimbang”.
  5. Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang kebijakan percepatan penganeka-ragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal

Beberapa kebijakan di atas ternyata belum memberikan hasil optimal dalam rangka penganekaragaman konsumsi pangan. Sampai saat ini Indonesia masih menghadapi masalah kualitas konsumsi pangan yang ditunjukkan oleh skor pola pangan harapan (PPH) dan rapuhnya ketahanan pangan. Berdasarkan data susenas tahun 2005 skor PPH baru mencapai 78,2 yang mana skor idealnya adalah 100.

Sedangkan indikator lemahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga diindikasikan oleh (a). Jumlah penduduk rawan pangan (konsumsinya < 90% dari AKG) yang masih cukup besar yaitu 52,33 juta jiwa pada tahun 2002. Dari jumlah tersebut 15,48 juta jiwa diantaranya merupakan penduduk sangat rawan (konsumsinya <70% AKG); (b). Balita kurang gizi masih cukup besar yaitu 5,02 juta pada tahun 2002 dan 5,12 juta pada tahun 2003 (Dewan Ketahanan Pangan, 2006). Permasalahan dan kondisi tersebut apabila dibiarkan akan berdampak pada penurunan kualitas sumberdaya manusia. Berbagai data menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada anak-anak sebagai akibat rendahnya konsumsi pangan akan berdampak terhadap pertumbuhan fisik, mental dan intelektual. Sebagai ilustrasi kekurangan energi protein yang diakibatkan kekurangan makanan bergizi dan infeksi berdampak pada kehilangan 5-10 IQ poin (UNICEFF, 1997). Diperkirakan Indonesia kehilangan 330 juta IQ point akibat kekurangan gizi. Dampak lain dari gizi kurang adalah menurunkan produktivitas, yang diperkirakan antara 20-30% (Depkes RI., 2005). Kondisi di atas juga berdampak pada rendahnya pencapaian indeks pembangunan manusia (human development index = HDI) di Indonesia dibandingkan negara-negara lain di dunia. Hasil penelitian UNDP (2004) menempatkan HDI Indonesia pada urutan ke 111 dari 174 negara yang dinilai. Fakta di atas mengindikasikan bahwa keanekaragaman konsumsi pangan penduduk sebagai upaya meningkatkan status gizi harus terus diupayakan. Oleh karena itu pendekatan pemecahan masalah harus didasarkan pada faktor-faktor yang dapat mempengauhi pola konsumsi makan.

Menurut Sidik dan Purnomo (1989), keberhasilan swasembada beras dan meningkatnya pendapatan penduduk di waktu lampau juga telah berdampak pada pergeseran pola pangan pokok ke arah pola pangan pokok beras. Tingginya ketergantungan pada serealia, terutama beras telah menyebabkan ketergantungan sumber energi dan protein dari beras.

Forum kerja penganekaragaman (2003) dan Monek (2007) mengatakan hambatan dalam penganekaragaman pangan diantaranya dikarenakan (a) Tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia terutama kelas menengah ke bawah relatif rendah, (b) Budaya makan adalah kebiasaan yang sulit untuk diubah, (c) Beras diposisikan sebagai makanan unggulan dan (d) Inovasi dalam bidang aneka pangan relative terlambat.

Selain faktor produksi, ketersediaan, dan budaya, pola konsumsi pangan juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, pendidikan, gaya hidup, pengetahuan, aksessibilitas dan sebagainya. Faktor prestise dari pangan kadang kala menjadi sangat menonjol sebagai faktor penentu daya terima pangan (Martianto dan Ariani, 2004).

DIVERSIFIKASI BAHAN PANGAN DAN KONSUMSI PANGAN

Pada prinsipnya diversifikasi bahan pangan mencakup dua aspek yaitu diversifikasi ketersediaan, diversifikasi produksi dan diversifikasi konsumsi (Suhardjo, 1998). Dilihat dari sisi produksi atau penawaran, diversifikasi pangan berarti menghasilkan komoditas pangan yang lebih beragam dengan sumberdaya tertentu yang digunakan secara optimal. Sedangkan dari sisi permintaan atau konsumen, diversifikasi pangan berarti penganekaragaman pemenuhan kebutuhan terhadap komoditas pertanian (Bunasor, 1989)

Mengacu pada pemikiran di atas, diversifikasi pangan dapat dibedakan ke dalam 3 golongan yaitu (a) diversifikasi horisontal, (b) diversifikasi vertikal dan (c) diversifikasi regional.

a)   Diversifikasi horisontal merupakan upaya penganekaragaman produk yang dihasilkan (dari sisi penawaran) dan produk yang dikonsumsi (dari sisi permintaan) pada tingkat individu, rumah tangga maupun perusahaan. Secara prinsip diversifikasi horisontal adalah penganekaragaman antar komoditas.

b)   Diversifikasi vertikal merupakan upaya pengembangan produk pokok menjadi produk baru untuk keperluan pada tingkat konsumsi. Secara prinsip diversifikasi vertikal adalah merupakan upaya pengembangan produk setelah panen di dalamnya termasuk kegiatan pengolahan hasil dan limbah pertanian. Diversifikasi vertikal dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas pangan agar lebih berdaya guna bagi kebutuhan manusia.

c)   Diversifikasi regional yaitu merupakan diversifikasi antara wilayah dan sosial budaya.

Uraian di atas mengindikasikan, bahwa diversifikasi pangan seharusnya tidak hanya terbatas pada pangan pokok semata, namun pangan pelengkap lainnya sehingga mutu makanan yang dikonsumsi memberikan nilai gizi yang lebih baik (Sulaeman, 1995).

Menurut pandangan ahli gizi, diversifikasi konsumsi pangan merupakan salah satu dari diversifikasi pangan yang pada prinsipnya merupakan landasan bagi terciptanya ketahanan pangan. Pangan yang beragam akan dapat memenuhi kebutuhan gizi manusia, di samping itu diversifikasi konsumsi pangan juga memiliki dimensi lain bagi ketahanan pangan. Bagi produsen, diversifikasi konsumsi pangan akan memberi insentif pada produksi yang lebih beragam, termasuk produk pangan dengan nilai ekonomi tinggi dan pangan berbasis sumberdaya lokal. Sedangkan jika ditinjau dari sisi konsumen, pangan yang dikonsumsi menjadi lebih beragam, bergizi, bermutu dan aman.

Di samping itu, dilihat dari kepentingan kemandirian pangan, diversifikasi konsumsi pangan juga dapat mengurangi ketergantungan konsumen pada satu jenis bahan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan dimaksudkan sebagai konsumsi berbagai jenis pangan yang dapat memenuhi kecukupan gizi. Konsumsi pangan dikatakan beragam bila di dalamnya terdapat bahan pangan sumber tenaga, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur secara seimbang.

TUJUAN PERCEPATAN DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN

Mengacu pada rencana induk percepatan diversifikasi konsumsi pangan, secara umum tujuan percepatan diversifikasi konsumsi pangan adalah untuk memfasilitasi dan mendorong lebih cepat terwujudnya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman melalui upaya peningkatan permintaan aneka pangan yang berjalan seiring dengan peningkatan ketersediaan aneka pangan berbasis sumberdaya lokal.

Adapun tujuan khusus percepatan diversifikasi konsumsi pangan adalah untuk mendorong tercapainya:

a)   Peningkatan permintaan masyarakat terhadap aneka pangan baik pangan segar, olahan maupun siap saji. Tujuan ini dicapai melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi seimbang sejak usia dini, pengembangan kegiatan pemberdayaan ekonomi rumah tangga, serta promosi dan gerakan/pemasaran sosial tentang diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumberdaya dan kelembagaan lokal kepada aparat dan seluruh komponen masyarakat.

b)   Peningkatan ketersediaan aneka ragam pangan segar dan olahan berbasis sumberdaya lokal. Tujuan ini dicapai melalui pengembangan bisnis dan industri pengolahan aneka pangan, baik sumber karbohidrat non beras maupun aneka pangan sumber protein, vitamin dan mineral nabati dan hewani berbasis sumberdaya lokal yang aman, terjangkau, dapat diterima secara sosial, ekonomi dan budaya. serta mampu menggerakkan sosial ekonomi petani dan UMKM.

c)   Penguatan dan peningkatan partisipasi pemerintah daerah dan seluruh potensi daerah dalam fasilitasi dan pengembangan progam dan kegiatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya dan kelembagaan lokal.

SASARAN DIVERSIFIKASI PANGAN

Di dalam pedoman umum gerakan percepatan diversifikasi konsumsi pangan 2007 – 2015, sasaran percepatan diversifikasi konsumsi pangan yang hendak dicapai adalah pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman yang dicerminkan oleh tercapainya skor Pola Pangan Harapan (PPH) sekurang-kurangnya 85 pada tahun 2011 dan mendekati ideal 100 pada tahun 2015.

Sedangkan sasaran tahunan dimulai tahun 2008 sebagai berikut : konsumsi umbi-umbian naik 1 – 2 persen per tahun, Konsumsi sayuran naik 4,5 persen per tahun, Konsumsi buah-buahan naik 5 persen per tahun, konsumsi pangan hewani naik 2 persen per tahun. Seluruh komoditas yang dikonsumsi diprioritaskan produksi yang berbasis sumberdaya lokal. Indikasi yang menunjukkan hal tersebut adalah peningkatan jumlah industri olahan aneka pangan lokal serta peningkatan pasokan pangan olahan lokal non beras, aneka pangan sumber protein hewani dan nabati, sayuran dan buah.

PERKEMBANGAN DIVERSIFIKASI PANGAN

Dilihat dari perjalanan program diversifikasi selama ini, belum optimalnya pencapaian diversifikasi konsumsi pangan diduga karena (a) minimnya implementasi di lapangan dalam memasarkan dan mempromosikan pentingnya diversifikasi konsumsi pangan. Hal ini tidak seperti pemasaran sosial tentang KB yang bisa merubah pola pikir masyarakat yaitu keluarga sejahtera cukup dengan dua anak, dan (b) Penerimaan konsumen atas produk yang relatif rendah. Kondisi ini menyangkut tentang citra, nilai sosial ekonomi, dan mutu gizi pangan sumber karbohidrat non beras yang selama ini dianggap inferior.

Memperhatikan uraian di atas maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kajian tentang perilaku konsumsi pangan yang dicerminkan oleh perubahan kuantitas dan keanekaragaman konsumsi pangan di masyarakat akibat faktor sosial ekonomi yang berbeda. Keberhasilan dalam kajian tersebut diharapkan dapat memberikan masukan dan mempercepat pengembangan penganekaragaman di berbagai daerah dengan tetap memperhatikan kekhasan di masing-masing daerah, karena biasanya didaerah memiliki sumber keragaman pangan yang cukup tinggi.

Beberapa komoditas penting pendukung system ketahanan pangan banyak berkembang di sini, misal untuk tanaman sumber karbohidrat : padi, jagung, ketela pohon, umbi rambat. Untuk tanaman sumber protein adalah: kedele, kacang tanah, kacang hijau. Ternak dan ikan sumber protein hewani yang banyak berkembang diantaranya adalah: ayam ras dan buras, sapi kambing, ikan: gurami, tawes, nila,mujahir, lele.

Saat ini masyarakat diharapkan dapat mengurangi ketergantungannya pada bahan pangan beras dan tepung. Apalagi sebagian besar masyarakat masih berganggapan bahwa belum dikatakan makan jika belum makan nasi. Kita punya banyak sekali sumber karbohidrat pendamping beras. (Saya lebih suka menggunakan istilah pendamping, agar memberikan semangat bahwa bahan pangan lokal ini serasi bila dicampur dengan beras. Kata yang berkonotasi negatif seperti non-beras rasanya membuat orang langsung berpikir bahwa beras adalah lebih positif daripada yang non-beras). Misalnya ubi-ubian (umbi-umbian): ubi jalar, singkong, keladi, dan lain-lainnya, lantas sagu, jangung, sukun, labu kuning. Semuanya adalah sumber karbohidrat yang kaya, dan indeks glikemiknya lebih rendah daripada beras. Artinya bahan pangan lokal pendamping beras ini baik untuk mencegah diabetes.

Benar bahwa nasi dari beras lebih enak, lebih kaya nutrisi, dan status sosialnya tinggi. namun bahan pangan lokal pendamping beras bisa diperkaya (difortifikasi) dengan nutrisi dan vitamin. Tantangan sosialisasi bahan pangan ini agaknya lebih pada status sosialnya. Kita perlu melakukan upaya besar agar status sosial bahan pangan lokal pendamping beras ini naik setara beras bila ingin kita tidak hanya tergantung pada beras.

Kita harus secara terus meneurus mempromosikan bahan pangan lokal pendamping beras. Karena mau tak mau kita harus mulai mengkonsumsinya sebagai pengganti nasi. Mi dan roti, yang selama ini menjadi bahan pangan kedua dan ketiga bangsa Indonesia, saya kira mengandung dua dosa: Tidak nasionalis karena bahan dasarnya impor yang oleh karena itu tidak memihak pada petani sendiri, dan dua adalah dosa carbon foot-print karena terigu diangkut dengan kapal laut menyeberangi lautan yang jauh yang membutuhkan bahan bakar yang mengotori bumi.

Mengkonsumi bahan pangan lokal pendamping beras sebagai pangan utama, misalnya dengan mencampurnya dengan nasi seperti orang bali makan nasi sela (nasi campur ubi jalar), akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi rakyat desa, menurunkan ketergantungan pada padi sehingga tak perlu impor, dan bila hal ini tercapai maka akan memberikan kedaulatan pangan pada negeri tercinta kaya-raya yang tidak sadar akan kekayaannya ini. Bayangkanlah apabila seminggu dua kali keluarga-keluarga di Indonesia mencampur nasinya dengan bahan pangan lokal seperti sagu, jagung, pisang, sukun, labu kuning, ubi-ubian. yang mana bahan-bahan tersebut tak perlu diimpor, namun diperoleh secara lokal (agar carbon foot print-nya rendah). Dan anak-anak mulai mengkonsumsi pangan tersebut sebagai nasi. Alangkah sehat kita semua….

Tantangan bagi teknologi pangan, selain membuat bahan pangan tersebut lebih mudah diolah dan dikonsumsi misalnya dalam bentuk granula atau dalam bentuk dried cubes sehingga bisa langsung dimasak bersama beras di dalam rice cooker, ada tantangan besar yang menghadang untuk ide indah ini. Yaitu sosialisasi ke seluruh jajaran agar bahan pangan pangan tersebut meningkat nilai/status sosialnya.

KEANEKARAGAMAN PANGAN NON BERAS SEBAGAI PERWUJUDAN KETAHANAN PANGAN

Tidak Konsisten. Sejak lama disadari bahwa tingkat konsumsi beras yang masih cukup tinggi akan mengakibatkan lemahnya ketahanan pangan nasional. Padahal, beras sebagai bahan makanan pokok memiliki nilai strategis. Beras menjadi ukuran untuk tingkat pendapatan. Kenaikan harga beras yang tidak terkendali akan mengakibatkan gejolak politik, bahkan bisa mengakibatkan jatuhnya rezim. Karena itu, usaha yang dilakukan bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi beras.

Kegagalan masa lalu menunjukkan bahwa meningkatkan produksi beras semata tanpa disertai upaya menekan tingkat konsumsinya tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kedua hal itu harus dilakukan dengan sejalan. Jika tidak, ketergantungan beras dari luar tetap dibutuhkan manakala produksi di dalam negeri tidak mencukupi.

Untuk menekan tingkat konsumsi beras per kapita tidak cukup hanya dengan kampanye ”One Day No Rice” karena hal itu sudah sering dialami penduduk miskin yang tidak mampu membeli beras. Kunci utamanya terletak pada upaya penganekaragaman bahan makanan pokok sesuai dengan tradisi dan budaya masyarakatnya. Gerakan ini sebenarnya bukan barang baru. Ketika meresmikan peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Presiden Soekarno pada tanggal 27 April 1952 mencanangkan jagung sebagai pengganti beras.

Selain jagung, Indonesia memiliki cukup banyak tumbuhan dan umbi-umbian yang menjadi sumber karbohidrat dan dapat dijadikan bahan makanan pokok pengganti beras. (Gandum, Buah Sukun, Umbi Kentang, Umbi Labu, Umbi Singkong, Umbi Ketela Rambat, Uwi dan Umbi Talas bisa sebagai pengganti beras. Tepung garut dapat dijadikan pengganti tepung terigu). Didukung iklim dan kondisi tanahnya yang terkenal subur, ganyong, gembili, hanjeli, sorgum, dan masih banyak lagi tanaman lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan. Dengan teknologi pengolahan dan pengemasan yang modern, maka berbagai jenis makanan yang bersumber dari bahan nonberas dan nonterigu itu tidak bisa lagi disebut ”kampungan”.

Sayang, ketersediaan potensi itu terabaikan. Selama ini, kita tidak pernah bersungguh-sungguh melakukan upaya penganekaragaman bahan makanan pokok secara konsisten dan terus-menerus sehingga akibatnya tingkat konsumsi beras per kapita tetap tinggi.

BAGAIMANA SUPAYA KONSISTEN DAN KETAHANAN PANGAN BISA TERWUJUD?

Mengingat tingkat keanekaragaman konsumsi pangan dipengaruhi oleh faktor yang bersifat kompleks, maka diperlukan penanganan secara sinergis antara satu faktor dengan faktor yang lain. Dua faktor kunci yang berpengaruh adalah pendidikan dan pendapatan, disertai ketersediaan pangan yang cukup. Oleh karena itu bila pemerintah ingin melakukan percepatan keanekaragaman konsumsi pangan diperlukan juga upaya-upaya perbaikan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan dan pendidikan. Upaya perbaikan pendapatan dapat dilakukan dengan menggalakan aktivitas agribisnis untuk meningkatkan kesempatan kerja dan memberikan peluang tambahan penghasilan

Perlu adanya insentif dan stimulan dari pemerintah guna menumbuhkan industri pangan lokal di tingkat rumah tangga untuk meningkatkan keterserdiaan pangan di wilayah tersebut.

Perlu program Percepatan Diversifikasi Pangan melalui Gerakan Makan Beragam Bergizi Seimbang dan Aman yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat , baik masyarakat berpengahasilan rendah sampai dengan masyakat berpenghasilan sedang hingga tinggi.

BAGAIMANA MEWUJUDKAN DIVERSIFIKASI BAHAN PANGAN DI KOTA KEDIRI ?

Pemanfaatan bahan pangan bersumber daya lokal perlu lebih digalakkan guna terciptanya peningkatan konsumsi pangan masyarakat yang beragam, bergizi seimbang dan aman dengan berbasis sumber daya pangan lokal. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. “Kegiatan ini dalam rangka mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan sebagai dasar pemantapan ketahanan pangan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelestarian sumber daya alam.

Salah satu Makanan Khas Kota kediri adalah Nasi Tumpang Pecel. Dalam rangka mendukung upaya ketahanan pangan dan keanekaraman pangan non beras, maka bagaimana kalau Nasi Beras diubah menjadi Nasi Jagung – Jagung Beras – Thiwul – Thiwul Jagung – Thiwul Beras dan Sayurnya dari Labu Siam (Gondes).

Lalu minumnya ?

Coba kita cari tahu bahwa  Siswa SMA 2 Kediri pernah menemukan Susu dari ketela (susu sari ketela dan Beras ketela). Apakah hal ini perlu ditindaklanjuti sehingga makanan khas Kota Kediri menjadi bertambah dengan menu “Thiwul Pecel + Susu Ketela atau Rasgung Pecel + Susu ketela “ ?.

Disini kami tidak menguraikan sama sekali tentang jenis-jenis makanan yang berbahan baku Non Beras, karena ibu-ibu pada umumnya sudah tahu dan hanya tinggal niat serta mulai Action untuk mewujudkannya. Tentunya dalam rangka mewujudkan itu perlu dikaji tentang kelayakan secara bisnis yang menguntungkan dan dukungan pemerintah Kota Kediri untuk membantu tentang Ketersediaan Bahan Pangan Lokal yang Kontinyu, Murah dan berkualitas. Pemerintah kota bersama masyarakat tinggal mendorong melalui : Sosialisasi – Percontohan dan Gerakan Masyarakat.

Terimakasih semoga bermanfaat.





Sistem Pertanian Berkelanjutan

1 07 2012

BAB I.PENDAHULUAN

Pada awal masa Orde Baru diketahui bahwa pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan peetumbuhan ekonomi, demikian pula pada peningkatan kebutuhan pangan tidak sebanding dengan peningkatan produksi pangan. Oleh karena itu Pemerintah berupaya keras untuk meningkatkan produksi pangan melalui program BIMAS / INMAS, dengan tumbuhnya kelompok-kelompok Tani, penyediaan Tenaga Penyuluh Pertanian (PPL), penyediaan Fasilitas Kredit yang mudah di Pedesaan (BIMAS BRI UNIT DESA) serta kemudahan memperoleh sarana produksi pertanian (Pupuk, Benih, Obat-obatan pertanian) melalui BUUD / KUD, ternyata hasilnya membuat Negara Indonesia yang tadinya sebagai Negara Pengimpor Beras terbesar di Dunia, maka pada Tahun 1984 menjadi Negara yang mampu swasembada pangan terutama Beras.

Keberhasilan Swasembada pangan saat itu, terutama didukung oleh Teknologi dengan penggunaan bahan kimia baik untuk pupuk dan pestisida. Bahkan sampai saat ini para petani dalam usaha taninya masih sangat tergantung pada pupuk dan pestisida kimia (An – Organik). Kondisi demikian menyebabkan pemakaian pupuk dan pestisida kimia semakin meningkat karena tanpa diimbangi dengan kenaikkan pupuk dan pestisida kimia, maka produktifitas per satuan lahan tidak  dapat  dicapai, bahkan mempertahankan produktifitas saja dirasa berat. Hal ini menunjukkan bahwa pemakaian pupuk dan pesetisida kimia pada tanaman akan berakibat sangat buruk terhadap lingkungan hidup, tanah mengalami kelelahan, hama tanaman semakin semarak dan beraneka ragam karena musuh alami yang ada ikut terbunuh oleh bahan kimia melalui pupuk dan pestisida itu sendiri serta kualitas produk semakin tidak sesuai dengan harapan konsumen karena kandungan residu zat kimia semakin tinggi.

Dalam rangka menghadapi persaingan pasar yang semakin terbuka secara Nasional dan Internasional di Era saat ini, dimana konsumen mengharapkan adanya produk pertanian yang  kandungan residu bahan kimianya rendah bahkan nol, maka petani dituntut untuk merubah pola pertaniannya.

Latar Belakang

"Pertanian Organik Menuju Pertanian Berkelanjutan"

"Starter MoMiXa Fakultas Pertanian UNISKA Kediri"

Dalam rangka mengantisipasi kerawanan pangan dan mencukupi ketersediaan pangan bagi masyarakat serta mengingat kondisi lahan pertanian saat ini yang kandungan bahan organiknya sudah dibawah 2 % (Kajian    B P T P Karangploso Malang Tahun 2007). Kandungan bahan organik lahan pertanian yang ideal adalah minimal 5 %. Kondisi C Oranik 5 % yang demikian membutuhkan pupuk kandang sebanyak 20 Ton per Ha setiap musim tanam selama 4 – 5 tahun.

Lahan pertanian saat  ini secara umum sudah pada tingkat yang   sangat serius, sehingga upaya pemulihan tingkat kesuburan tanah dengan pemakaian bahan organik adalah mutlak harus dilaksanakan secara serentak dalam bentuk Gerakan Massal. Pada prinsipnya teknologi pembuatan pupuk organik tidak sulit, bahan baku sangat banyak di pedesaan. Kotoran ternak sapi, kambing, ayam, limbah pabrik tebu, jerami, daun jagung, daun tebu, limbah tapioka,sampah organik,  dan lain-lain yang selama ini menjadi polemik masyarakat  karena mencemari lingkungan adalah merupakan bahan baku pupuk yang sangat bagus, namun tetap harus di olah.

Proses pembuatan pupuk organik ( Bokashi / kompos )  secara alami memerlukan waktu lama (4-6 bulan) dan belum tentu menghasilkan mutu yang diharapkan. Temuan teknologi fermentasi sangat membantu proses pembuatan pupuk organik yang siap pakai dengan waktu yang relatif singkat yaitu 1 – 2 minggu.

Pada saat ketersediaan pupuk  kimia  semakin sulit didapat dan lahan pertanian saat ini sudah sangat rendah C-Organiknya sehingga pemulihan tingkat kesuburan tanah dengan pupuk organik sangat mutlak serta dalam rangka   mempercepat proses agar petani mau, mampu dan mandiri melalui perubahan perilaku baik secara individu maupun kelompoknya, maka perlu diadakan Kajian tentang Sistem Pertanian Berkelanjutan. Adapun yang menjadi masalah dalam kajian ini adalah Bagaimana pengertian pertanian alami dan pertanian organic serta bagaimana pertanian di Indonesia ditinjau dari aspek keberlanjutannya.

Tujuan Penelitian

Adapun Tujuan Umum diadakan Pelatihan adalah

  • Membangun Pertanian yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
  • Mempertahankan tingkat kesuburan tanah.
  • Meningkatkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas produk pertanian
  • Mempercepat  sosialisasi  tentang  pengenalan  masyarakat pertanian terhadap permasalahan kondisi lahan pertanian yang sudah mulai kritis.
  • Mengenalkan cara-cara pembuatan pupuk organik  dengan cara mudah dan cepat sekaligus aplikasinya.
  • Mengurangi ketergantungan dan kebutuhan pupuk an organik / kimia pabrikan yang sering terjadi kelangkaan di pasaran.
  • Membangun Citra Petani dan Kelompok Tani menjadi Petani Pelopor, Andalan dan Bertanggungjawab kepada Masa depan Generasi Bangsa.

Kegunaan Penelitian

Kegiatan Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan berdampak, yaitu :

  1. Membuat masyarakat menjadi cinta Pertanian karena lingkungan hidup menjadi bersih dan sehat.
  2. Menumbuhkan  Industrialisasi  di Pedesaan  berbasis Kerakyatan yang mendukung Pembangunan Pertanian.
  3. Meningkatkan taraf hidup dan kesempatan kerja di pedesaan
  4. Membantu Pemerintah dalam Program  GKD dan Sektor  Pariwisata  Produk-produk Unggulan serta Produk Organik.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Istilah Pertanian

Menurut Sanganatan (1989) bahwa Istilah umum “pertanian” berarti kegiatan menanami tanah dengan tanaman yang nantinya menghasilkan suatu yang dapat dipanen, dan kegiatan pertanian merupakan campur tangan manusia terhadap tetumbuhan asli dan daur hidupnya. Dalam pertanian modern campur tangan ini semakin jauh dalam bentuk masukan bahan kimia pertanian, termasuk: pupuk kimia, pestisida dan bahan pembenah tanah lainnya. Bahan-bahan tersebut mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produksi tanaman. Akan tetapi dua istilah “pertanian alami” dan “pertanian organik” kita kaji lebih mendalam, maka pengertiannya akan berbeda.

Istilah yang pertama “pertanian alami” mengisyaratkan kukuatan alam mampu mengatur pertumbuhan tanaman, sedang campur tangan manusia tidak diperlukan sama sekali. Istilah yang kedua “pertanian organik” campur tangan manusia lebih insentif untuk memanfaatkan lahan dan berusaha meningkatkan hasil berdasarkan prinsip daur-ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat (Sutanto, 1997a).

Untuk melaksanakan kegiatan pertanian manusia berusaha memanfaatkan sumber daya secara berlebihan sehingga merusak kondisi lingkungan dan biologi, akibatnya terjadi percepatan kerusakan sumber daya alam, tanah dan air. Keberlanjutan sumber daya tanah terpengaruh secara nyata, yang ditunjukkan dengan meningkatkan jumlah masukan dari luar usaha tani yang harus diberikan dari tahun ke tahun untuk memperoleh target hasil yang sama. Dengan demikian adalah kurang tepat apabila kedua istilah ini dipadankan, yang satu tidak menunjukkan campur tangan manusia dan lebih menggantungkan pada kondisi alam, sedang yang lain menitikberatkan pada campur tangan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam tanpa menimbulkan efek negatif dalam jangka panjang.

Pemahaman Pertanian Alami dan Pertanian Organik

Seringkali terdapat pemahaman yang keliru tentang “pertanian alami” dan “pertanian organik”.  Kedua istilah tesebut praktek sering dianggap sama. Akan tetapi beberapa pendapat di bawah ini membuat lebih jelas. Fukuoka (1985) mengemukakan empat langkah menuju pertanian alami, dan menjelaskan prinsip pertanian alami:

  • Tanpa olah tanah. Tanah tanpa diolah atau dibalik. Pada prinsipnya tanah mengolah sendiri, baik mengangkut memasuknya perakaran tanaman maupun kegiatan mi­krobia tanah, mikro fauna dan cacing tanah.
  • Tidak digunakan sama sekali pupuk kimia maupun kompos. Tanah dibiarkan begitu saja, dan tanah dengan sendirinya akan memelihara kesuburannya. Hal ini mengacu pada proses daur-ulang tanaman dan hewan yang terjadi di bawah tegakan hutan.
  • Tidak dilakukan pemberantasan gulma baik melalui pengolahan tanah maupun penggunaan herbisida. Pemakaian mulsa jerami, tamanan penutup tanah maupun penggenangan sewaktu-waktu akan membatasi dan menekan pertumbuhan gulma.
  • Sama sekali tidak tergantung pada bahan kimia. Sinar matahari, hujan dan tanah merupakan kekuatan alam yang secara langsung akan mengatur keseimbangan kehidupan alami.

Menurut MOA Internasional yang diprakarsai oleh Mokichi Okada (1881-1955) pada bulan Januari 1935, kemudian berkembang di 23 negara dengan anggota lebih dari 1 juta orang. Organisasi ini bertujuan memberikan pendidikan/pelatihan keada petani dalam menghasilkan makanan organik melalui pertanian alami. Pemasarannya dilaksanakan melalui toko khusus makanan organik MOA. Dengan demikian pertanian alami mempunyai tanggung jawab yang tinggi terhadap bumi yang kita tempati. Pertanian alami terbebas dari penggunaan pupuk kimia atau bahan agrokimia yang lain. Sistem ini berkembang dengan mengandalkan kekuatan alam yang terdiri atas sumber daya matahari, air, bahan tanaman untuk kompos—pertanian alami bersifat harmonis dengan kondisi ekologi.

Istilah pertanian organik menghimpun seluruh imajinasi petani dan konsumen yang secara serius dan bertanggung jawab menghindarkan bahan kimia dan pupuk yang bersifat meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga berusaha untuk menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumber daya alami seperti mendaur-ulang limbah pertanian. Dengan demikian pertanian organik merupakan gerakan “kembali ke alam”.

Pertanian berkelanjutan dengan masukan teknologi rendah (LISA) adalah membatasi ketergantungan pada pupuk anorganik dan bahan kimia pertanian lainnya. Gulma, penyakit dan hama tanaman dikelola melalui pergiliran tanaman, pertanian campuran, bioherbisida, insektisida organik yang dikombinasikan dengan pengelolaan tanaman yang baik. Kesalahan persepsi yang sekarang berkembang bahwa apabila kita tidak melaksanakan pertanian modern, maka kita dianggap kembali pada pertanian tradisional dan tanaman yang kita produksi akan turun drastis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila pertanian organik dilaksanakan dengan baik dengan cepat memulihkan tanah yang sakit akibat penggunaan bahan kimia pertanian. Hal ini terjadi apabila fauna tanah dan mikroorganisme yang bermanfaat dipulihkan kehidupannya, dan kualitas tanah ditingkatkan dengan pemberian bahan organik karena akan terjadi perubahan sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Tahap pertama produksi dan konservasi biomassa adalah memobilisasi bahan organik.

Melalui proses pengomposan aerob, menggunakan bahan dasar biomassa, sisa petanaman, dan kotoran ternak, maka kualitas dan kuantitas kompos dapat ditingkatkan. Metode pengomposan yang sesuai dan waktu pemanfaat bahan organik perlu diperhatikan, demikian juga inokulan mikrobia yang sesuai. Inokulan komposit untuk proses pengomposan dan inokulan rhizobium dan bakteri pelarut fosfat digunakan sehingga pertumbuhan tanaman legum lebih efektif.

Dalam melaksanakan pertanian organik perlu menyertakan tanaman legum dalam pergiliran tanaman, meningkatkan kemampuan tanaman legum dalam menambat nitrogen, dan penggunaan pupuk hijau: rumput, gulma untuk bahan kompos sejauh limbah pertanaman dan limbah ternak selalu dimonitor.

Gatra kedua dihindarkan penggunaan bahan kimia dalam pertanian organik adalah untuk mencari metode alternatif mengendalikan gulma, penyakit dan hama. Selain mengendalikan secara mekanis dengan mencabut gulma dan mengembalikannya diantara barisan tanaman, pergiliran dan pengendalian secara biologis perlu diadaptasikan. Kurang lebih terdapat 70 jenis tanaman yang ada di USA untuk mengendalikan gulma.

Patogen dapat dikendalikan tanpa menggunakan bahan kimia. Di antara metode yang tersedia, baik persilangan multigenetik dan varietas spesifik, cara pertanaman termasuk rotasi, mengubah pH, sanitasi, penyesuaikan waktu tanam dan pemanenan, pemberoan tanah dan pengendalian hayati telah dicoba untuk dilaksanakan. Bahkan nematoda dapat dikendalikan melalui metode yang disebutkan di atas.

Hama tanaman dapat dikendalikan dengan menggunakan beberapa metode selain penggunaan bahan kimia pertanian. Keragaman ekosistem dapat dikembangkan melalui pergiliran tanaman. Pengolahan tanah dan cara-cara budi daya yang lain dan penggunaan spesies yang eksoktik dapat digunakan untuk mengendalikan hama. Pemanfaatan insekta steril dan insekta feromon untuk mengendalikan hama makin populer. Semua metode ini berdasarkan pada strategi ekologis dalam mengendalikan hama, dengan demikian memperhatikan faktor mortalitas, musuh alam, iklim, dan pengelolaan tanaman.

Pertanian organik cenderung melindungi tanah dari kerusakan akibat erosi. Berkenaan dengan hal ini, sedikit saja tanah yang rusak akibat pengolahan yang dalam. Kelengasan tanah dipertahankan dengan menggunakan mulsa dan tanaman penutup tanah. Semua ini hanya mungkin dilakukan di kebun atau pekarangan, tetapi kurang berfungsi di sawah atau ladang. Penambangan hara dari bagian tanah di bawah permukaan dapat terjadi dengan cara melaksanakan pertanaman campuran hutan-padang rumput (silvo-pature), hutantani dan agrihortikultur. Seresah dedaunan yang berasal dari tanaman yang lebih tinggi menyebabkan terjadinya keseimbangan hara apabila digunakan sebagai mulsa atau dicampur langsung dengan tanah lapisan olah.

Ternak ruminansia, perikanan, dan ternak unggas, harus dikembangkan secara teradu sehingga merupakan bagian dari “pertanian organik”. Melalui pengolahan tanah yang baik dapat diketahui kebutuhan hara tanaman serta kondisi lingkungan dan ekologi dapat diperbaiki dan dilindungi tanpa harus tergantung pada pupuk kimia dan pestisida. Dengan demikian konsep “pertanian alami dan organik” dapat diuji dari sudut keamanannya terhadap manusia, hewan, flora dan fauna tanah. Meningkatkan keragaman semua kehidupan tetapi tetap harmonis dengan alam, tanpa harus melakukan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Perkembangan Pertanian Organik

Pertanian organik berkembang secara cepat terutama di negara-negara Eropa, Amerika, dan Asia timur (Jepang, Korea, Taiwan). Di Asia, terutama di daratan China, pertanian organik dilaksanakan sebelum pupuk kimia diperkenalkan secara meluas pada tahun 1960. Sistem ini selama berabad-abad mampu mencukupi kebutuhan pangan penduduk terpadat di dunia yang pada saat ini telah melampaui satu milyar. Petani China dalam mempertahankan dan meningkatkan kesuburan lahan pertanian dengan cara menambahkan endapan lumpur danau atau sungai.

Melalui program revolusi hijau, produksi pangan dunia meningkat secara dramatis, sehingga mampu mengatasi kerawanan pangan terutama di negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latih. Penginkatan produksi pangan tidak terlepas dari penggunaan produk teknologi modern seperti benih unggul, pupuk kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan pertanaman monokultur. Akan tetapi pada kenyataannya program revolusi hijau hanya dapat berhasil di wilayah dengan sumber daya tanah dan air yang baik, serta infrastruktur mendukung.

Teknologi  “revolusi hijau” lebih banyak dilaksanakan di lahan persawahan yang mempunyai infrastruktur mendukung.

Menurut pakar ekologi, teknologi modern (pertanian tergantung bahan kimia) berdasarkan pertimbangan fisik dan ekonomi dianggap berhasil menanggulangi kerawanan pangan, tetapi ternyata harus dibayar mahal dengan makin meningkatnya kerusakan/degradasi yang terjadi di permukaan bumi, seperti desertifikasi, kerusakan hutan, penurunan keragaman hayati, selinitas, penurunan kesuburan tanah, pelonggokan (accumulation) senyawa kimia di dalam tanah maupun perairan, erosi dan kerusakan lainnya. Sampai saat ini masih merupakan dilema berkepanjangan antara usaha meningkatkan produksi pangan dengan menggunakan produk agrokimia dan usaha pelestarian lingkungan yang berusaha mengendalikan/membatasi penggunaan bahan-bahan tersebut. Penggunaan pupuk pabrik dan pestisida yang berlebihan dan tidak terkendali mempunyai dampak yang sama terhadap lingkungan: penggunaannya setiap waktu meningkat, kemangkusannya (efficiency) menurun, dan cenderung berdampak negatif terhadap lingkungan (Sanganatan, 1989).

Pada waktu dunia mengalami krisis energi fosil yang terjadi pada tahun tujuh puluhan, banyak negara industri yang semula sebagai penganjur digunakannya pupuk pabrik maupun racun kimia pemberantas hama, telah berupaya mengembalikan teknologi alternatif. Karena harga energi fosil meningkat dan sumber minyak makin menurun, maka pupuk organik sebagai pupuk alternatif mulai populer kembali setelah cukup lama tidak pernah dimanfaatkan dalam program pemupukan. Krisis ini juga banyak melanda negara sedang berkembang sehingga mengalami kesulitan dalam memproduksi pupuk maupun mengimpor pupuk yang harganya mahal. Sejak saat itu banyak negara mulai mengganti pupuk pabrik dengan pupuk organik sebagai sumber nutrisi tanaman (FAO, 1990).

Pertanian organik akan banyak memberikan keuntungan ditinjau dari gatra peningkatan kesuburan tanah dan peningkatan produksi tanaman maupun ternak, serta dari gatra lingkungan dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem. Di samping itu, dari gatra ekonomi akan lebih menghemat devisa negara untuk mengimpor pupuk, bahan kimia pertanian, serta memberi banyak kesempatan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan petani.

Pada prinsipnya, pertanian organik sejalan dengan pengembangan pertanian dengan masukan teknologi rendah (low-input technologi) dan upaya menuju pembangunan pertanian berkelanjutan. Kita mulai sadar tentang potensi teknologi, kerapuhan lingkungan, dan kemampuan budi daya manusia dalam merusak lingkungan. Suatu hal yang perlu dicatat bahwa ketersediaan sumber daya alam ada batasnya. Menurut Harwood (1990) ada tiga kesepakatan yang harus dilaksanakan dalam pembangunan pertanian berkelanjutan, ialah: (i) produksi pertanian harus ditingkatkan tetapi efisien dalam pemanfaatan sumber daya, (ii) proses biologi harus dikontrol oleh sistem pertanian itu sendiri (bukan tergantung pada masukan yang berasal dari pertanian), dan (iii) daur hara dalam sistem pertanian harus lebih ditingkatkan dan bersifat lebih tertutup.

Prinsip Ekologi Pertanian Organik

Masalah yang sering timbul adalah kesalahan persepsi tentang pertanian organik yang menerapkan masukan teknologi berenergi rendah (LEISA). Ada yang berpendapat sistem pertanian dengan masukan teknologi berenergi rendah adalah bertani secara primitif atau tradisional, seperti yang dikembangkan oleh nenek moyang kita turun-temurun sebelum diperkenalkan pertanian modern. Sebetulnya sistem pertanian ini tetap memanfaatkan teknologi modern, termasuk: benih hibrida berlabel, melaksanakan konservasi tanah dan air, serta pengolahan tanah yang berasaskan konservasi.

Sudah saatnya kita mulai memperhatikan sistem pertanian yang sepadan baik dari lingkungan biofisik maupun lingkungan sosial ekonomi. Meskipun budi daya organik dengan segala aspeknya jelas memberikan keuntungan kepada pembangunan pertanian rakyat dan penjagaan lingkungan, termasuk konservasi sumber daya lahan, namun penerapannya tidak mudah dan banyak menghadapi kendala. Faktor-faktor kebijakan pemerintah dan sosio-politik sangat menentukan arah pengembangan sistem pertanian sebagai unsur pengembangan ekonomi.

Memperhatikan pengalaman studi agroekologi pertanian tradisional diwilayah tropika basah, maka prinsip ekologi dapat digunakan sebagai panduan dalam mengembangkan pertanian organik. Penerapan suatu teknologi tidak dapat digeneralisir begitu saja untuk semua tempat, tetapi harus bersifat spesifik lakasi (site spesific) dengan mempertimbangkan kearifan tradisional (indigenous knowledge) dari masing-masing lokasi.

Prinsip ekologi dalam penerapan pertanian organik dapat dipilahkan sebagai berikut:

  • Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman, terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah.
  • Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, melalui fiksasi nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.
  • Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan erosi.
  • Membatasi terjadinya kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan yang aman.
  • Pemanfaatan sumber genetika (plasma nutfah) yang saling mendukung dan bersifat sinergisme dengan cara mngkombinasikan fungsi keragaman sistem pertanian terpadu.

 Prinsip di atas dapat diterapkan pada beberapa macam teknologi dan strategi pengembangan. Masing-masing prinsip tersebut mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap produktivitas, keamanan, kemalaratan (continuity) dan identitas masing-masing usaha tani, tergantung pada kesempatan dan pembatas faktor lokal (kendala sumber daya) dan dalam banyak hal sangat tergantung pada permintaan pasar.

Pada prinsipnya, aliran hara terjadi secara konstan. Unsur hara yang hilang atau terangkut bersama hasil panen, erosi, pelindian dan volatilisasi harus digantikan. Untuk mempertahankan sistem usaha tani tetap produktif dan sehat, maka jumlah hara yang hilang dari dalam tanah dan tidak melebihi hara yang ditambahkan, atau harus terjadi keseimbangan hara di dalam tanah setiap waktu.

 Pertanian Berwawasan Lingkungan

Pengertian umum yang saat ini digunakan untuk memahami pertanian berkelanjutan adalah prinsip, metode, praktek, dan falsafah yang betujuan agar pertanian layak dan menguntungkan secara ekonomi, secara ekologi dapat dipertanggungjawabkan, secara sosial dapat diterima, berkeadilan, dan secara budaya sesuai dengan kondisi setempat, serta menggunakan pendekatan holistik. Ciri-ciri pertanian berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah:

  1. mampu meningkatkan produksi pertanian dan menjamin keamanan pangan di dalam negeri;
  2. mampu menghasilakan pangan yang terbeli dengan kualitas gizi yang tinggi serta menekan atau meminimalkan kandungan bahan-bahan pencemat kimia maupun bekteri yang membahayakan;
  3. tidak mengurangi dan merusah kesuburan tanah, tidak meningkatkan erosi, dan menekan ketergantungan pada sumber daya alam yang tidak terbarukan;
  4. mampu mendukung dan menopang kehidupan masyarakat pedesaan dengan meningkatkan kesempatan kerja, menyediakan penghidupan yang layakdan mantap bagi para petani;
  5. tidak membahayakan bagi kesehatan masyarakat yang bekerja atau hidup di lingkungan pertanian, dan bagi yang mengkonsumsi hasil-hasil pertanian;
  6. melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di lahan pertanian dan pedesaan serta melestarikan sumber daya alam dan keragaman hayati.

BAB III. MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kampus Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri, sejak Tanggal 10 April – 1 Mei 2010.

Materi Penelitian

Adapun materi penelitian tentang Sistem Pertanian berkelanjutan adalah bahan-bahan Pustaka baik berupa Buku, Internet, Journal Penelitian di Perpustakaan Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri.

Metode Penelitian

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Metode Studi Pustaka, dimana peneliti mengumpulkan bahan bacaan yang terkait dengan pokok permasalahan penelitian, kemudian dilakukan Kajian antar bahan pustaka yang ada. Bentuk kajian diuraikan secara diskriptif.

Analisa Data

Data hasil kajian Pustaka dikelompokkan berdasarkan sub pokok bahasan, kemudian dilakukan kajian secara diskriptif partisipatif yaitu menguraikan pokok masalah dengan kenyataan yang ada di Indonesia saat ini

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Apakah Pertanian Sekarang Sudah Berkelanjutan?

Peduduk dunia makin meningkat, pertanyaan yang timbul apakah keseimba-ngan lingkungan dan kapasitas produksi dari sumber daya lahan yang tersedia dapat dipertahankan tanpa menimbulkan konflik antara manusia dan lingkungan. Dalam tiga dekade terakhir kebutuhan pangan dunia meningkat akibat jumlah penduduk yang teus bertambah, maka dunia perlu memperhatikan bahwa peningkatan produksi pangan yang ada sekarang tidak dapat dipertahankan lagi.

Pada saat ini, hasil panen secara fisik merupakan ukuran keberhasilan kelestarian produksi pertanian, dengan alasan pertumbuhan dan hasi pertanian sangat tergantung pada banyak faktor, termasuk tanah, iklim, hama dan penyakit. Tetapi pengukuran kelestarian semacam ini memerlukan ketersediaan data yang baik dalam kurun waktu yang lama, sehingga kecenderungan hasil yang terukur dalam jangka panjang harus dipisahkan dari data akibat variasi iklim dan pengolahan yang kurang baik. Dengan demikian, akan lebih baik apabila kita mempunyai indikator tanah dan peramalan yang dapat digunakan lebih awal dalam memberikan peringatan kemungkinan terjadinya penurunan hasil, karena banyak faktor yang mempengaruhi perubahan kesuburan tanah yang terjadi secara sangat lambat.

Walaupun tampak lebih sederhana untuk menerapkan indek kelestarian penggunaan lahan yang berlaku secara global, tetapi dalam praktek sangat sulit untuk ditetapkan, bahkan tidak banyak membantu. Hal ini karena sistem pertanian yang berkembang di suatu tempat sangat tergantung pada faktor lokal, misalkan jenis tanah, kesuburan tanah, iklim, ketersediaan air, pengolahan tanah, ketersediaan modal, dan masing-masing tempat mempunyai kombinsi yang berbeda (Sutanto, 1997b).

Berdasarkan hasil penelitian dan perbaikan sistem usaha tani ternyata peningkatan produksi pertanian dan perlindungan terhadap lingkungan dapat dipadukan. Akan tetapi dalam mengembangkan formula yang baik dan sepadan tidak hanya tergantung pada perbaikan teknik pengelolaan tanah saja, tetapi yang lebih penting adalah status sektor pertanian dan petani sebagai pelaku pembangunan dalam tanaman masyarakat maupun pembangunan bangsa. Bagaimana petani yang miskin dan lapar dapat diajak untuk berpartisipasi dalam melestarikan sumber daya alam dan lingkungan, maupun memikirkan generasi mendatang, sedangkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah. Apabila prioritas pertama adalah mencukupi kebutuhan pangan, maka hal ini harus dicerminkan dari penyebaran pemanfaatan sumber daya, pendapatan petani dan prioritas kebijakan pembangunan diberikan pada sektor pertanian. Usaha konservasi sumber daya lahan dan perbaikan tanah-tanah yang terdegradasi selalu mengalami kegagalan, karena perhatiannya lebih dititikberatkan pada terapi perbaikan  gejala yang ada, baik fisik maupun sosial daripada usaha memperbaiki penyebab kemiskinan dan kesenjangan sosial yang terjadi.

Pendekatan Sistem Usaha Tani Berwawasan Lingkungan

Masalah lingkungan dan ekonomi yang dihadapi oleh negara berkembang termasuk Indonesia, memerlukan sistem penggunan lahan yang sepadan berdasarkan pndekatan masukan teknologi rendah, untuk mengatasi pendataran produksi (leveling off) yang seringkali disertai dengan terjadinya kerusakan lingkungan. Dimulai dari kriteria umum ekosistem yang beraneka dan bersifat konsisten, kemudian dilakukan inventarisasi produktivitas suatu lokasi berdasarkan pendekatan ekologi. Pertanian berwawasan lingkungan dalam hal ini didekati berdasarkan prinsip hutantani (agroforestry) atau pertanaman campuran dan tinjauan khusus pada pasokan bahan organik sebagai indikator.

Pendekatan ekosistem pertanian yang selanjutnya dikenal sebagai agrosistem di wilayah tropika dan subtropika dimulai tahun 1970, dengan memperhatikan kembali dua prinsip dasar akibat penerapan sistem teknologi. Pertama, masalah kerusakan lingkungan akibat penerapan sistem pertanian yang tidak sesuai. Kedua, pendekatan ekologi untuk memecahkan masalah pertanian yang spesifik akibat penggunaan masukan modern.

Masalah serius lingkungan yang terjadi di wilayah pedesaan dan sektor pertanian di kawasan tropika adalah kerusakan hutan, meluasnya padang alang-alang, degenerasi lahan dan menurunnya lahan suaitani (arable land), disertifikasi, serta menurunnya keragaman hayati. Masalah lingkungan ini terutama disebabkan makin meningkatnya populasi penduduk serta pengaruh dari luar yang cukup besar, misalkan karena komersialisasi pertanian, diperkenalkannya metode baru produksi pertanian, dan berubahnya kebutuhan dan pola konsumsi masyarakat.

Masalah Pengolahan Usaha Tani

Cukup banyak masalah yang dihadapi petani yang dapat diiventarisasai. Kebanyakan petani mempunyai tanah garapan yang sangat sempit, tidak mempunyai modal yang cukup, tenaga kerja yang terbatas, kebanyakan berada di lokasi dengan infrastruktur yang kurang memadai dan jauh dari pasar. Masukan yang diperlukan untuk meningkatkan produksi usaha tani sebagian besar masih merupakan bahan impor dan biasanya berharga mahal, sedang produk pertanian yang dihasilkan petani mempunyai harga jual yang rendah, sehingga pemanfaatan masukan produksi dianggap tidak ekonomis lagi. Di samping itu, karena kondisi infrastruktur belum mendukung, maka seringkali input produksi tidak ada garansi selalu tersedia pada saat diperlukan maupun jumlah yang tersedia; atau petani tidak memanfaatkan sama sekali karena petani tidak mempunyai modal untuk membeli input tersebut. Kondisi ini yang mendorong penggunaan sumber daya alam yang berlebihan.

Untuk daerah-daerah yang pertaniannya semi permanen atau melaksanakan peladangan berpindah, maka pergiliran/pemberoan yang relatif pendek menyebabkan tanah belum tepulihkan kesuburannya, akibatnya hasil tanaman menjadi turun. Situasi ini terjadi juga pada sistem pertanian insentif yang pergiliran tanaman dan pemberoan tidak dilakukan, sehingga dalam waktu yang relatif singkat tingkat kesuburan tanah menurun. Pada situasi yang demikian penggunaan lahan marginal makin meluas sehingga degradasi lahan meningkat. Kecenderungan ini disertai terjadinya pendataran produksi dan penduduk yang makin meningkat menyebabkan penyediaan pangan tidak pernah tercukupi.

Di Indonesia yang beriklim tropika basah, maka wilayah yang mempunyai kondisi topografi berbukit sampai bergunung banyak menghadapi masalah lingkungan. Ekosistem wilayah ini bersifat kompleks dan rapuh, dan adanya pengaruh manusia yang cukup tinggi menyebabkan keseimbangan ekologi menjadi rusak. Karena kondisi ekosistem bersifat tidak mantap, maka sumber daya alam yang tersedia cepat mengalami kemunduran, dan kerusakan yang terjadi bersifat tidak dapat balik.

Produksi biomassa yang tinggi pada hutan tropika basah, dan terjadinya proses daur-ulang yang bersifat tertutup, mengakibatkan kehilangan hara dapat ditekan. Apabila daur-ulang tertutup terganggu karena pembakaran lahan pada areal yang cukup luas, maka dalam waktu relatif singkat kendala yang dimiliki tanah-tanah di wilayah tropika mulai tampak setelah dilaksanakan ekstensifikasi pertanian. Tanah-tanah yang telah berkembang lanjut seperti tanah ultisol (termasuk Podsolik Merah Kuning) mempunyai kendala kesuburan rendah dan kemampun mengikat hara sangat rendah. Tanah yang tererosi cepat mengalami degradasi dan selanjutnya menjadi tidak produktif, karena yang berkembang adalah alang-alang (tropical savana) atau lebih populer berkembang menjadi lahan tidur.

Tujuan Sistem  Pertanian Berwawasan Lingkungan

Strategi yang diterapkan melalui program “Revolusi Hijau” pada tahun 60-an adalah meningkatkan produksi pangan akibat terjadinya kerawanan pangan dan kelaparan yang melanda negara-negara di kawasan Asia dan Afrika. Strategi yang diterapkan melalui revolusi hijau adalah mengubah kondisi lingkungan untuk mendukung peningkatan produksi, tetapi sama sekali tidak mengindahkan kondisi lingkungan yang ada. Dapat ditambahkan program revolusi hijau hanya berhasil di wilayah yang mempunyai infrastruktur mendukung.

Seperti telah dikemukakan pada awal pembahasan ini, maka diperlukan usaha mengembangkan sistem pertanian yang spesifik lokasi dengan mempertimbangkan kondisi agraekosistem. Melalui sistem pertanian yang spesifik lokasi diharapkan terjadi pengembangan yang sepadan dengan kondisi lingkungan.

Sistem pertanian yang spesifik lokasi bertujuan untuk meningkatkan atau mempertahankan produktivitas tanah sesuai dengan kondisi agroekosistem dan dilandasi pada masukan teknologi rendah, dan sekaligus mempertahankan atau memperbaiki ekosistem. Pendekatan dengan cara memadukan aspek agronomi dan ekologi, menyebabkan ekosistem dapat dipertahankan meskipun ekosistem dapat dipertahankan meskipun dilakukan eksploitasi.

Prinsip Dasar Pertanian Berwawasan Lingkungan

Menurut Kotschi, ada dua kriteria ekologi yang melandasi pertanian berwawasan lingkungan yaitu arah keeratan sistem, dan aras keragaman sistem. Ekosistem yang produktif dan stabil biasanya mempunyai daur-ulang yang bersifat tertutup. Dengan demikian, usaha pertanian atau suatu wilayah pertanian harus berada dalam satu sistem yang tertutup, meskipun dalam sistem tersebut harus mempertimbangkan juga keragaman dan kompleks. Akan tetapi, tujuan yang akan dicapai tidak mengarah pada sistem tertutup maksimum atau aras keragaman maksimum, tetapi mencari pengganti yang dapat mencapai kondisi spesifik optimum pada kota loka (site) tertentu. Seperti dikemukakan oleh Eggar (1983), bahwa produksi pertanian merupakan sebagian daur dari biomassa. Hal ini tidak berarti bahwa sistem pertanian konvensional dan pertanian tradisional tidak dapat dipadukan. Tetapi, prinsip tersebut perlu diperhatikan apabila penggunaan lahan akan dikembangkan.

Hasil Kajian tentang Prinsip Dasar Pertanian Berwawasan Lingkungan dapat dicirikan sebagai berikut :

  • Produktif, dikontrol oleh keragaman sistem
  • Memadukan tanaman pohon – pangan – pakan – ternak – tanaman spesifik yang lain.
  • Bahan tercukupi secara swadaya dan memanfaatkan daur energi
  • Mempertahankan kesuburan tanah melalui prinsip daur-ulang
  • Menerapkan teknologi masukan rendah (LEISA)
  • Produksi tinggi
  • Stabilitas pertanaman tinggi
  • Pengolahan tanah secara mekanik dilakukan pada arang sedang
  • Erosi dikontrol secara biologi
  • Petak usaha tani dipisahkan menggunakan pagar hidup
  • Menggunakan varietas yang tahan terhadap hama dan penyakit
  • Pertanaman campuran Tanaman toleran terhadap gulma

Target ————————————————— Peningkatan Produksi

Unsur Usaha Tani Berwawasan Lingkungan

Tujuan usaha tani berwawasan lingkungan ekologi adalah cara untuk memperoleh produktivitas pada aras yang cukup tinggi dari suatu daerah yang dieksploitasi untuk kegiatan pertanian, dan tujuan ini dicapai sebagai hasil refleksi dari beberap faktor: kualitas tanah, nilai ekonomi air dan potensi biologi-ekologi. Dalam tabel 1.2 ditunjukkan bermacam-macam aspek yang harus dipertimbangkan dalam meningkatkan produktivitas melalui sistem usaha tani berwawasan lingkungan.

Tabel. Elemen Sistem Usaha Tani Berwawasan Lingkungan

Produktivitas

Prinsip metodologi

Kualitas tanahEkologi airPotensi biologi-ekologi -     Terkontrol, keragaman produktif-     Penggiliran usaha tani-     Pengendalian erosi secara biologi
Perincian:

Diperoleh melalui:

Keseimbangan iklim mikro baikKandungan humus tinggiKandungan biomassa awal dan humus tinggi

Kapasitas tukar Kation tinggi

Kejenuhan ion baik

Nisbah ion baik

Nilai pH menguntungkan

Pelindian dibatasi

Penyerapan air oleh tanaman dan pengikatan lengas oleh tanah tinggi

Tidak pernah tergenang

Evapotranspirasi rendah

Nisbah evaporasi/transpirasi rendah

Nisbah transpirasi/asimilasi rendah

Kegiatan edafon tanah tinggi

Terdapat keseimbangan yang baik antara organisme menguntungkan/merugikan

Komplekstisitas tinggi

Keragaman habitat besar

Penutupan bahan organik tanah baik (hidup dan mati)

Perlindungan terhadap erosi makro dan mikro

Komponen hutan dalam lingkunganDitanam lebih banyak jenis pohonDipilih tanaman yang multiguna

Usaha tani pertanian-peternakan terpadu

Tanaman pakan

Rotasi pemupukan

Pengendalian erosi menggunakan rumput pakan dan tanaman pagar

Pembagian petak pertanaman menggunakan pagar dan Penanaman menurut kontur

Pertanaman campuran

Pergiliran tanaman

Pemberoan secara intensif (musiman)

Dikontrol tanaman toleran terhadap gulma

Pemulsaan

Kompos

Diverifikasi tanaman pangan

Adaptasi varietas lokal

Pembatasan pemupukan dari luar usaha tani

Pembatasan penggunaan pestisida

 Di negara yang sudah maju dan sangat memperhatikan masalah lingkungan, adanya residu kimia dalam bahan pangan yang berasal dari pupuk kimia dan pestisida sintetik mendapatkan perhatian yang serius, sedang situasi di Indonesia sangat berbeda sekali. Pandangan kita baru menitikberatkan pada usaha mempertahankan swasembada pangan, meningkatkan produktivitas tanah, dan konservasi sumber daya alam.

Cukup banyak konsep pertanian berkelanjutan yang berkembang, tetapi penerapan konsep ini di wilayah tropika belum pernah diuji pada sistem produksi yang sangat beraneka dan diikuti jumlah penduduk yang makin meningkat. Pada kondisi yang demikian, setiap kasus yang terjadi harus diuji dan tidak dapat digeneralisasi begitu saja. Mulongaov dan Merks (1993) melontarkan kritik penerapan konsep berkelanjutan di wilayah tropika, sehingga diperlukan adanya indikator untuk mengukur pertanian yang berkelanjutan.

Berdasarkan pertimbangan pelaksana pembangunan pertanian di Indonesia pada saat ini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan pertanian alternatif:

  1. keragaman daur-ulang limbah organik dan pemanfaatannya untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah
  2. memadukan sumber daya organik dan anorganik  pada sistem pertanian di lahan basah dan lahan kering
  3. mengembangkan sistem pertanian berwawasan konsevasi di lahan basah dan di lahan kering
  4. memanfaatkan bermacam-macam jenis limbah sebagai sumber nutrisi tanaman
  5. reklamasi dan rehabilitasi lahan dengan menerapkan konsep pertanian organik
  6. perubahan dari tanaman semusim menjadi tanaman keras di lahan kering harus dipadukan dengan pengembangan ternak, pengolahan minimum dan pengelolaan residu pertanaman
  7. mempromasikan pendidikan dan pelatihan bagi penyuluh pertanian untuk memperbaiki citra dan tujuan pertanian organik
  8. memanfaatkan kotoran ternak yang berasal dari unggas, babi, ayam, itik, kambing, dan kelinci sebagai sumber pakan ikan.

Problem dan Prospek Pertanian Organik

Sampai saat ini masih berkembang pemahaman yang keliru tentang pertanian organik: (i) biaya mahal, (ii) memerlukan banyak tenaga kerja, (iii) kembali pada sistem pertanian tradisional, serta (iv) produksi rendah. Beberapa hal yang menjadi kendala: (a) ketersediaan bahan organik terbatas dan takarannya harus banyak, (b) transportasi mahal karena bahan bersifat ruah, (c) menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam memperoleh sisa pertanaman dan limbah organik, (d) tidak adanya bonus harga produk pertanian organik.

Ada dua macam praktek pertanian yang berkembang: (1) Teknologi Revolusi Hijau (khusnya sawah), dan (2) Teknologi Tanah Kering. Teknologi yang pertama cukup berhasil di wilayah dengan infrastruktur mendukung, sedang teknologi yang kedua pengembagannya masih sangat terbatas, dan ada kesan masih terabaikan.

Garis besar sejarah pembangungan pertanian di Indonesia sebelum diperkenalkan teknologi revolusi hijau sampai sekarang dapat dilihat pada gambar 1.3. Meskipun cukup banyak kritik yang dilontarkan dengan teknologi hijau, tetapi melalui IPTEK telah membawa Indonesia dari negara pengimpor beras terbesar menjadi negara swasembada pangan pada tahun 1984.

Peluang Pengembangan Pertanian Organik

Setiap orang kurang lebih mempunyai pendangan yang sama bahwa diperlukan usha meningkatkan produktivitas lahan dan melaksanakan konservasi tanah dalam mengantisipasi kebutuhan pangan dan degradasi lahan yang makin meningkat. Dalam melaksanakan program tersebut, ada beberapa peluang yang perlu diperhatikan, secara rinci dapat dilihat di bawah ini, dan merupakan salah satu komponen pertanian organik.

  1. Peningkatan biomassa – sebagai sumber utama masukan organik hanya mungkin dilaksanakan di daerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi. Tetapi akan banyak menhadapi kendala di daerah yang beriklim relatif kering. Pengembangan jenis tanaman pohon yang cepat tumbuh di sekitar lokasi dapat dimanfaatkan sebagai sumber untuk meningkatkan bahan organik. Akan tetapi, pengumpulan, prosesing dan pemanfaatan biomassa memerlukan pandangan yang sama.
  2. Kompos yang diperkaya – bahan dasar pembuatan kompos dianekaragamkan dengan memanfaatkan bahan yang tersedia setempat. Metode yang telah diuji dan diperbaiki, termasuk teknologi EM dan teknologi lainnya perlu pengujian lebih lanjut dan dimasyarakatkan untuk memperbaiki kualitas kompos.

Perspektif gatra teknis pembangunan pertanian di Indonesia

  1. Pupuk hayati – yang sudah dimasyarakatkan diperbesar produksinya untuk memberikan kesempatan yang lebih luas pada petani memanfaatkan pupuk hayati. Lebih sepadan mengembangkan pupuk hayati berdasarkan potensi mikroorganisme yang ada di Indonesia. Sedang pupuk hayati yang harus diimpor perlu dikembangkan teknologinya di Indonesia, temasuk alih teknologi
  2. Pestisida hayati – cukup banyak bahan dasar tumbuh-tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk perlindungan tanaman yang pada saat ini perhatian dan penggunaannya masih sangat terbatas. Hal ini membuka peluang lebih besar dalam menggali keragaman sumber daya hayati kita untuk dikembangkan menjadi pestisida hayati.
  3. Pengetahuan/Teknologi Tradisional – meskipun cukup banyak teknologi tradisional yang telah berkembang terutama dalam menghasilkan tanaman, perlindungan tanaman tehadap serangan hama dan penyakit, namun masih diperlukan usaha menggali kembali kearifan tradisional dengan tinjauan ilmiah dan mengembangkan teknologi yang akrab dengan lingkungan. Masih cukup banyak wilayah Indonesia yang memerlukan perhatian.

Prospektif Pertanian Organik di Indonesia

Dalam penerapannya pertanian organik banyak menghadapi kendala berupa keruahan (bulkiness) pupuk organik, takarannya harus banyak, dan dapat menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam memperoleh sisa pertanaman dan limbah organik dalam jumlah yang cukup. Misalnya, limbah panen digunakan untuk makanan ternak, jerami padi diminati pabrik kertas, ampas tebu digunakan sendiri oleh pabrik gula sebagai bahan bakar, sampah kota dan pemukiman digunakan untuk menimbun lahan yang rendah atau cekungan untuk memperluas lahan yang dipersiapkan untuk mendirikan bangunan terutama di kota-kota besar.

Pupuk hayati masih berada pada taraf awal pengembangan. Pada waktu ini keberhasilannya masih terbatas, karena produksinya belum dapat memenuhi jumlah kebutuhan. Kita perlu meneladan negara-negara yang lebih maju dan berkembang dalam mencukupi kebutuhan pupuk hayati. Di Indonesia, kebijakan yang berlangsung belum memikirkan ke arah itu, karena masih mementingkan dan mengunggulkan budi daya kimiawi. Bioteknologi yang menjadi dasar pengembangan pupuk hayati baru pada tahap awal pengembangan.

Pertanian organik belum dapat ditetapkan secara murni mengingat cukup banyak kendala yang dihadapi. Pada tahap awal penerapan pertanian organik masih perlu dilengkapi pupuk mineral, terutama pada tanah-tanah yang miskin hara. Pupuk kimia masih sangat diperlukan agar supaya takaran pupuk organik tidak terlalu banyak yang akan menyulitkan daam pengeloalaannya. Sejalan dengan proses pembangunan kesuburan tanah menggunakan pupuk organik dan pupuk hayati, secara berangsur kebutuhan pupuk kimia yang berkadar hara tinggi dapat dikurangi. Perpaduan budi daya organik dan budi daya kimia disebut Sistem Gizi Tanaman Terpadu (Integrated Plant Nutrient System) atau dapat juga disebut sebagai Pengelolaan Gizi/Nutrisi Terpadu (PNT). Sistem ini sudah dimulai dikembangkan oleh FAO di beberapa negara di kawasan Asia dan Pasifik.

Kosep dasar PNT yang dikembangkan oleh FAO (Ange, 1990) adalah mengembangkan penggunaan sumber daya yang tersedia setempat (organik, hayati dan mineral) secara terpadu pada tingkat usaha tani dengan tujuan untuk meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman atau mempertahankan keterlanjutan kesuburan tanah dalam sistem pertanaman tertentu berdasarkan target produksi yang akan dicapai.

Komponen budi daya organik dari PNT bukanlah barang baru, bahkan beberapa unsurnya sudah biasa diterapkan oleh petani di Indonesia. Misalkan penggunaan inokulan, kompos jerami, pupuk kandang dan pupuk hijau, hanya teknologinya yang masih perlu dikembangkan dan diperluas. Dengan PNT jelas memadukan berbagai upaya menyelesaikan berbagai kendala tanah dalam satu kesatuan paket teknologi. Dalam PNT komponen pupuk organik dan pupuk hayati berfungsi jangka menengah dan jangka panjang, bertujuan membangun sistem bekalan hara tanaman dalam tanah yang efektif dan mantap. Komponen pupuk kimia berfungsi jangka pendek, menanggulangi kekahatan hara sambil menunggu pembangunan sistem pasokan (supply) hara tanaman secara berkelanjutan. Kalau PNT berhasil dimapankan, secara berangsur dikembangkan menjadi budi daya organik murni dengan meninggalkan komponen pupuk kimia.

Strategi Pengembangan dan Pemasyarakatan Pertanian Organik

Memperhatikan kondisi pembangunan pertanian yang sedang berjalan di Indonesia, usaha untuk meningkatkan kebutuhan pangan sejalan dengan meningkatnya penduduk dan kebutuhan untuk memperbaiki kesehatan tanah maka pada tahap awal pemasyarakatan pertanian organik memerlukan strategi dengan cara memadukan beberapa komponen pertanian organik ke dalam teknologi konvensional yang sedang berjalan. Rekomendasi pelaksanaan adalah sebagai berikut:

  1. Teknologi pertanian konvensional tetap dilaksanakan terutama di wilayah yang mempunyai sarana dan prasarana pendukung. Sedang konsep pertanian organik ditetapkan di wilayah yang kurang diminati dan tidak tersentuh teknologi konversional, termasuk lahan kering, lahan marginal, pekarangan dan kebun.
  2. Dampak negatif teknologi konvensional terhadap ekosistem dan lingkungan perlu dievaluasi dan kemudian dicari usaha pemecahannya, baik menyangkut penggunaan pestisida, pupuk kimia, maupun bahan kimia pertanian lainnya.
  3. Untuk memasyarakatkan di kalangan petani, maka prinsip pertanian organik perlu dimasukkan kedalam paket teknologi pertanian. Untuk itu diperlukan dukungan kegiatan penelitian dan pengembangan berdasarkan spesifikasi komoditas yang meliputi teknik budi daya dan pengelolaan usaha tani, mulai dari pengelolaan tanah, penanaman, panen sampai perlakuan pascapanen.
  4. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan Pengelolaan Hara/Nutrisi Terpadu (PNT) merupakan langkah awal dalam periode transisi sebelum mengarah pada pengembangan pertanian organik murni, dan diperlukan usaha untuk memasyarakatkan secara lebih luas. Model pemasyarakatan PHT dapat diadopsi untuk memasyarakatkan PNT.
  5. Peluang pemasaran domestik produk organik yang meliputi tanaman sayuran, buah-buahan dan perkebunan perlu diidentifikasi. Di samping itu, pelu dijalin interaksi dan jaringan kerja yang saling menguntungkan antara konsumen dan produsen untuk menjamin pemasaran produk organik secara berkesinambungan.
  6. Praktek produksi pertanian berkelanjutan pada berbagai sistem usaha tani perlu dikembangkan dengan memperhatikan kondisi agroekosistem dan teknologi yang spesifik lokasi.
  7. Diperlukan peningkatan pengetahuan melalui jalur pendidikan dan pelatihan tentang kesehatan tanah dan perlindungan tanaman secara organik, yang selanjutnya dapat dijadikan dapat dijadikan sebagai materi penyuluhan pertanian.
  8. Diperlukan peninjauan kembali kebijakan penggunaan masukan bahan kimia pertanian terutama pestisida dan pupuk kimia yang tidak terkontrol sehingga berdampak negatif terhadap lingkungan. Monitoring dan evaluasi penggunaan pestisida perlu dilakukan secara intensif.
  9. Perhatian dan penyuluhan dengan pendekatan pengeloaan DAS di lahan kering miring termasuk pengembangan peternakan perlu dipertimbangkan. Modal pertanian konservasi yang sudah dikembangkan perlu ditinjau kembali untuk mencari model yang sepadan di lahan marginal.
  10. Perlu adanya ketetapan mekanisme sertifikasi, akreditasi dan labelisasi untuk menjamin kendali mutu (quality control) produk yang menggunakan masukan organik dan yang ditanam secara organik. Standar Dasar Internasional IFOAM dapat digunakan sebagai acuan untuk menyusun peraturan dalam meningkatkan daya saing produk pertanian organik di pasar global.

Pembangunan pertanian pada 3 sampai 4 dekade terakhir telah menghasilkan prestasi yang secara dramatik telah mengubah produksi tanaman, terutama padi setelah digunakannya varietas unggul berproduksi tinggi, pemupukan, pemberantasan hamadan perbaikan praktek pengolahan tanah. Akan tetapi, dengan makin terbatasnya kemungkinan perbaikan produktivitas tanaman mengakibatkan dampak negatif dari teknologi modern yang telah diterapkan. Teknologi pertanian organik cukup menjanjikan dalam memperbaiki terjadinya kekahatan hara, sehingga akan membantu dalam memperbaiki kualitas dan kapasitas tanah dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Sebagai langkah awal yang perlu dipikirkan adalah strategi untuk memadukan gatra positif teknologi pertanian organik dan pertanian konvensional.

Langkah Pengembangan Pertanian Organik

  1. Kenyataan yang ada bahwa penyiapan kelengkapan PNT memerlukan waktu yang cukup panjang, tetapi tidak berarti kita boleh tinggal diam selama ini. Kita perlu mencari terobosan baru. Memang tidak dapat dipungkiri dan sebagai suatu kenyataan bahwa budi daya kimiawi telah membuat kita berhasil menjalankan revolusi hijau yang ditandai swasembada beras pada tahun 1985. Namun biaya sosial-ekonomi, sumber daya tanah dan lingkungan yang harus dibayar, baik yang nyata maupun yang terselubung dalam jangka panjang, perlu kita perhatikan.
  2. Sudah saatnya kita beralih ke sistem budi daya masukan rendah yang menjamin keterlanjutan fungsi sumber daya tanah, aman bagi lingkungan dan memberikan peluang meningkatkan kedudukan sosial ekonomi petani dan dapat diperbaiki maslahat komparatif lapangan kerja pertanian terhadap lapangan kerja industri dan jasa.
  3. Kita perlu menghidupkan kembali tenik-teknik bercocok tanam yang telah dikenal petani secara turun-temurun yang pada dasarnya tidak merupakan komponen pertanian organik. Contoh teknik-teknik yang umum dilaksanakan petani adalah: pendauran-ulang limbah pertanaman, pemanfaatan pupuk hijau, pemanfaatan kombinasi pupuk kandang dan pupuk hijau, kompos.
  4. Penyediaan pupuk hijau dapat diatur melalui pergiliran tanaman dengan tanaman legum seperti kedelai dan/atau kacang tanah. Dengan cara ini di samping memperoleh pupuk hijau juga memperoleh panenan komoditas yang berharga. Jadi dalam pergiliran tanaman diatur sekuran-kurangnya satu pertanaman legum.
  5. Di daerah-daerah yang merupakan sentra peternakan sapi atau ayam, penggunaan pupuk kandang dapat dipadukan dengan program pemupukan yang biasa dilakukan. Kotoran ayam dikenal kaya P dibanding dengan kotoran ternak lainnya.
  6. Bahan pembuat kompos dianekaragamkan, tidak hanya yang tradisional jerami, seperti jerami padi atau limbah pertanian lainnya. Perlu dianjurkan juga yang belum umum dipergunakan seperti limbah jamur merang, sersah tebu, belotong, azola dan sampah kota.
  7. Di daerah yang dekat dengan pusat agroindustri seperti pabrik tebu, pabrik tahu, pabrik alkohol, pabrik bumbu masak, maka limbahnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pupuk organik. Meskipun limbah merupakan persoalan yang cukup rumit kaitannya dengan masalah pencernaan lingkungan, tetapi limbah agroindustri dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
  8. Program kebersihan lingkungan dapat dipadukan dengan program pengomposan yang berasal dari sampah permukiman dan perkotaan. Di banyak negara program pengembangan pertanian organik di dekat perkotaan selalu dihubungkan dengan program kebersihan lingkungan, baik melalui proses pengomposan di daerah permukiman atau tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, setelah dilakukakn sortasi jenis sampah berdasarkan kemudahannya terdekomposisi.
  9. Tanpa menunggu kelengkapan syarat menjalankan PNT, sebelum melangkah lebih jauh pada pengembangan pertanian organik, penggunaan pupuk kimia sudah dapat mulai dirasionalisasikan. Langkah-langkah ini semua memerlukan dukungan pembaharuan konsep dan kebikajakan pembangunan pertanian nasional. Kita sudah mengenal salah satu pembaharuan yang berlangsung dan dimasyarakatkan dalam hal PNT. Kita harus melangkah dan membenahi konsep dan kebijakan budi daya kimiawi menjadi PNT. Pada waktu ini pembaharuan pandangan dan sikap masih akan mendapat tantangan berat kalau menyangkut tanaman pangan. Kemungkinan akan lebih mudah kalau dicobakan pada pertanaman hortikultura yang banyak mendapatkan perhatian dalam pengembangan pertanian yang orientasi pada agribisnis.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Kondisi Pertanian sekarang belum berkelanjutan, karena hasil panen secara fisik merupakan ukuran keberhasilan kelestarian produksi pertanian.
  2. Pendekatan Sistem Usaha Tani berwawasan lingkungan belum optimal dilakukan, pendekatan yang dilakukan masih bersifat agro system belum menyentuh kepada ekosistem pertanian.
  3. Strategi Revolosi Hijau yang digunakan untuk mencapai tujuan system pertanian yang berwawasan lingkungan / berkelanjutan.
  4. Hasil Kajian tentang Prinsip Dasar Pertanian Berwawasan Lingkungan dapat dicirikan sebagai berikut :Produktif, dikontrol oleh keragaman system, Memadukan tanaman pohon – pangan – pakan – ternak – tanaman spesifik yang lain.,Bahan tercukupi secara swadaya dan memanfaatkan daur energy, Mempertahankan kesuburan tanah melalui prinsip daur-ulang, Menerapkan teknologi masukan rendah (LEISA),Produksi tinggi, Stabilitas pertanaman tinggi, Pengolahan tanah secara mekanik dilakukan pada arang sedang, Erosi dikontrol secara biologi, Petak usaha tani dipisahkan menggunakan pagar hidup, Menggunakan varietas yang tahan terhadap hama dan penyakit, Pertanaman campuran Tanaman toleran terhadap gulma

Saran

Disarankan bagi pihak yang peduli dengan system pertanian yang berkelanjutan untuk selalu mengingat ekologi, teknologi dan produksi secara stabil melalui pemeberdayaan alam, ternak dan manusia.

DAFTAR  PUSTAKA

  1. Sanganatan, P.D. and R.L. Sanganatan, 1989. Organic Farming. Backyard Friends series. Cagayen de Oro, Ilo-Ilo. Philippines.
  2. Sutanto, R. 1997. Daur Ulang Unsur Hara pada Praktek Pertanian Organik. Makalah disampaikan Sarasehan Teknis Pertanian Organik dalam menunjang kegiatan Pertanian Berkelanjutan. Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jakarta.




Kegiatan UKS dalam Program Kesehatan

27 06 2012

Proyek kesehatan bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan derajat kesehatan serta kualitas hidup masyarakat yang berpenghasilan rendah. Untuk mencapai tujuan di atas maka perlu adanya keterpaduan antara pembangunan sarana air berish & sanitasi (SAB/S) dengan program kesehatan dan hygiene serta pemberdayaan.

Pencapaian tujuan peningkatan produktivitas dan derajat kesehatan serta taraf hidup terutama bagi masyarakat yang berpenghasilan rendah harus dilakukan pembangunan sarana air berish & sanitasi (SAB/S) secara terpadu dan berkelanjutan. Sedangkan program kesehatan dan hygiene harus diikuti dengan peningkatan pola hidup bersih dan sehat dalam rangka mencegah terjadinya penularan penyakit yang ditularkan melalui air dan lingkungan terutama penyakit diare.

Lima aspek penting yang harus diperhatikan dalam melaksanakan opsi kesehatan yaitu teknism sosial, kelembagaan, finansial dan lingkungan. Opsi kesehatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat antara lain :

  1. Pembuangan tinja pada jamban yang memenuhi syarat.
  2. Cuci tangan setelah buang air besar (BAB), setelah membersihkan kotoran bayi, sebelum makan, sebelum menyuapi bayi dan sebelum menyiapkan makanan.
  3. Menjaga air minum terbebas dari pencemaran, baik di sumber air maupun di rumah.
  4. Pengobatan penderita dalam skala kecil untuk pemberantasan penyakit (pengobatan kecacingan disekolah dan pencegahan serta pemberantasan penyakit lain dalam skala kecil).

Adapun kegiatan yang berkaitan dengan UKS antara lain dilakukan :

  1. Inspeksi sanitasi yaitu melalui pemantauan sarana air bersih dan sanitasi yang ada disekolah, biasanya dilakukan secara periodic pada awal kegiatan, pertengahan serta akhir kegiatan untuk mengetahui perkembangan serta tingkat keberhasilan kegiatan kesehatan sekolah tsb.
  2. Promosi kesehatan yaitu pengadaan sarana seperti spanduk, stiker untuk promosi kesehatan di sekolah dengan menggunakan pesan-pesan yang menarik siswa sehingga siswa mau berperilaku hidup bersih dan sehat.
  3. Penyuluhan kesehatan yaitu penyuluhan tentang pentingnya kesehatan kepada para siswa untuk merubah perilaku menuju perilaku hidup bersih dan sehat.
  4. Sarana cuci tangan yaitu pengadaan sarana cuci tangan di sekolah untuk membiasakan para siswa melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah makan dan setelah bermain.
  5. Pengadaan bak sampah yaitu pengadaan sarana tempat sampah disekolah untuk membiasakan para siswa membuang sampah pada tempat sampah. Terlebih lagi juga dilakukan pemisahan jenis sampah yaitu sampah basah dan sampah kering untuk mempermudah pengelolaannya.
  6. Jum’at bersih yaitu kerja bhakti yang diikuti oleh semua komponen sekolah yaitu Guru, Murid, Petugas kebun/kebersihan sekolah, Pedagang makanan untuk membersihkan lingkungan sekolah yang meliputi halaman sekolah, ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, dapur, WC, Kamar mandi, Ruang UKS dan aula atau mushola.
  7. Kontrol atau cek kesehatan kuku, gigi dan telinga bagi para siswa setiap hari senin serta setiap satu bulan sekali diadakan cek oleh dokter specialis.

Salah satu strategi yang hendak dilakukan adalah perbaikan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dan pelayanan kesehatan adalah melalui opsi kesehatan yang dikemas dalam program UKS berbentuk HSE (Hygiene sanitation Education).

HSE SALAH SATU KOMPONEN DALAM UKS

Opsi kesehatan berpijak pada cara-cara pemutusan rantai penularan penyakit yang bersumber dari tinja/kotoran manusia dan “water-borne”. Untuk menjelaskan ini perlu disimak “Diagram F” yang telah dimodifikasi. Disebut dengan diagram F karena setiap mata rantai dalam bahasa inggris dumulai dengan huruf F yaitu Finger = tangan, Flies = tanah, Fluid = cairan/air dan Food = makanan.

  •  Tinja berhubungan dengan Tangan/Finger, Lalat, Tanah/Files dan Air /Fluid.
  • Tanah berkaitan dengan Kaki
  • Semua Faktor : Tangan, Lalat, Tanah dan Air berpengaruh pada Makanan dan Minuman
  • Semua Faktor bermuara di Mulut
  • Membentuk diagram F

Dari Gambar “Diagram F” tersebut dapat dilihat betapa banyak rantai penularan yang dapat atau perlu diputus untuk mencegah terjadinya penularan penyakit. Untuk pemutusan rantai tersebut dapat dilakukan dengan pembinaan PHBS melalui intervensi pembinaan kegiatan HSE di sekolah (SD atau MI) dengan sasaran para siswa. Intervensi ini dapat dikembangkan dari “KARTU SISWA” yang berisi 7 (tujuh) ajakan sebagai alat monitoring. Kegiatan ini juga akan memberikan manfaat sebagai salah satu upaya menciptakan kerjasama antar Kepala Puskesmas (atau dokter), Sanitarian (Petugas HS), Kepala Sekolah, Guru dan Petugas UKS.

KARTU SISWA

S D / M I               : …………………………

D e s a                  : …………………………

Kecamatan           : …………………………

Nama Siswa         : …………………………

Tempat, Tgl Lahir : …………………………

Nomor Induk        : …………………………

A l a m a t             : …………………………

PERILAKU HIDUP SEHAT

  1. Mandi dengan air bersih 2 kali sehari pagi dan sore serta selalu periksa kuku dan telinga.
  2. Menggosok gigi dengan air bersih setelah makan dan sebelum tidur.
  3. Buang Air Besar (BAB) dan Buang Air Kecil di jamban / kakus.
  4. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan
  5. Cuci tangan setelah BAB dengan memakai sabun.
  6. Memakai alas Kaki (Sandal, Sepatu) bila bermain ditanah yang lembab
  7. Buang Sampah pada Tempat Sampah

Dampak positif dilakukannya HSE di sekolah adalah :

  1. Anak-anak (siswa) tersebut dapat mempengaruhi keluarganya (termasuk orang tuanya) serta teman-temannya untuk lebih menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
  2. Unit Pengelola Sarana Air Bersih dan Sanitasi (Misalnya HIPPAM) dan masyarakat lebih termotivasi memelihara sarana air bersih dan sanitasi yang dibangun.
  3. Wawasan Fasilitator Masyarakat (Kepala Puskesmas, Petugas HS, Bidan Desa, Guru, Petugas UKS, Perangkat Desa/Kades dll) lebih terbuka dalam mendukung peningkatan keberhasilan maupun pengelolaan sarana yang dibangun.

Langkah-langkah dalam HSE untuk anak sekolah dalam Program Kesehatan.

  1. Penyampaian konsep HSE Sekolah kepada TKKab. TK Kec. Sanitarian, Bidan Desa, Kepala Sekolah, Guru UKS serta Unit Pengelola Sarana AB & S.
  2. Pendataan Awal Kondisi perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada siswa (khususnya kelas IV dan V).
  3. Penjelasan Kartu Siswa oleh Kepala Sekolah dengan cara pengisian lembar evaluasi yang dilakukan oleh siswa sendiri dalam bentuk buku siswa.
  4. Penghafalan pesan PHBS dalam kartu siswa oleh para siswa sebelum pelajaran dimulai
  5. Praktek pengenalan dan penggunaan jamban/kakus.
  6. Praktek Menggosok Gigi dan Potong Kuku tangan dan Kaki.
  7. Safari keliling desa serta pengenalan tempat-tempat jamban.
  8. Evaluasi capaian perilaku ber-PHBS.

PENGADAAN AIR BERSIH

  1. Air bersih adalah……………
Jernih, Tidak berbau, Tidak berwarna dan Tidak berasa/ tawar)
  1. Apa yang dimaksud dengan air sehat ?.
(Air sehat adalah air bersih yang sudah dimasak dan tidak mengandung bibit penyakit atau kuman penyakit).
  1. Darimana air bersih dapat diperoleh ?.
(Dari sumur pompa tangan (SPT), dari penampung air hujan (PAH) jika sumber air yang lain tidak ada, dari sumur gali (SGL) dan dari mata air yang dirawat serta disalurkan melalui perpipaan.
  1. Mengapa kebersihan air perlu dijaga ?.
Sebab air yang tidak bersih dapat menularkan berbagai penyakit : Mencret, Muntaber, Sakit Kulit, Cacingan
  1. Bagaimana penularan pe-nyakit melalui air yang tidak bersih ?.
Jika air yang mengandung bibit penyakit digunakan untuk : mencuci makanan, mencuci alat makan (piring, sendok dll), air minum, mandi dan gosok gigi.
  1. Bagaimana cara mempero-leh air minum yang sehat?.
  • § Ambil air dari sumber air yang bersih.
  • § Tangan dan tempat penampung air harus bersih.
  • § Tempat penyimpanan air (gentong) harus tertutup dan sering dibersihkan.
  • § Gayung pengambil air harus bersih.
  • § Masaklah air sampai mendidih sebelum diminum.
  • § Gunakan alat-alat minum yang bersih

INGAT : Air Bersih belum tentu Sehat. Masaklah dulu sebelum diminum

JAMBAN KELUARGA

  1. Apa yang dimaksud dgn jamban/WC
Jamban atau WC adalah bangunan yang digunakan untuk Buang Air Besar (BAB)
  1. Apa syarat-syarat jamban atau WC yang sehat.
Syaratnya : Cukup terang/penerangan cukup, Cukup lubang anginan, tidak menjadi sarang serangga seperti nyamuk, lalat, lipas, kecoa, Selalu dibersihkan agar tidak menimbulkan bau tidak sedap, Lubang jamban sekurang- kurangnya 10 meter dari sumber air.
  1. Mengapa kita harus menggu- nakan jamban bila BAB
Sebab, dengan BAB dijamban, berarti mencegah tersebar-nya penyakit : Muntaber, Disentri/Diare dan tipus, Cacingan, serta gatal-gatal atau penyakit kulit.
  1. Ada berapa jenis jamban yang sehat ?
Jenis jamban antara lain : Jamban leher angsa (jamban jenis ini dibuat didaerah yang cukup air), Jamban Cemplung / cubluk (Jamban jenis ini dibuat untuk daerah yang kurang air)
INGAT : Kotoran manusia / tinja bisa mengandung bibit penyakit. Jadi dengan membuang Tinja dijamban, bibit penyakit mati didalamnya. Biasakan BAB dijamban sejak anak-anak.

SAMPAH

  1. Apa yang dimaksud dengan sampah ?.
Sampah adalah semua benda-benda yang kita buang.
  1. Gangguan atau bahaya apa saja yang ditimbulkan oleh sampah ?.
  • § Sampah dapat menimbulkan : pengotoran udara seperti bau busuk dan asap jika dibakar.
  • § Sampah dapat menyumbat saluran air, parit, got, sehingga dapat menyebabkan banjir, merusak jalan dan bangunan.
  • § Sampah dapat menimbulkan kecelakaan seperti luka terkena paku, beling, pecahan kaca atau dapat menyebabkan kebakaran.
  • § Sampah dapat menjadi sarang lalat, nyamuk, kecoa, tikus yang dapat menyebarkan bibit penyakit.
  1. Penyakit apa saja yang dapat ditimbulkan oleh sampah ?
Penyakit : Mencret, Muntaber, Disentri, Tipus, Gatal-gatal, koreng, kudis, kurap dan demam berdarah.
  1. Bagaimana cara membuang sampah yang benar ?
Sampah harus dibuang ketempat-tempat tertutup atau dimasukkan ke dalam kantung sampah/bak sampah bisa juga dikubur / dipendam dalam tanah.
  1. Keuntungan apa yang di-peroleh jika buang sampah dengan benar ?.
  • § Menghindari timbulnya penyakit.
  • § Menciptakan keindahan dan kenyamanan.
  • § Dapat dimanfaatkan sebagai pupuk
  • § Menjadi lingkungan yang bersih dan sehat.







Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya.