Diktat Kewirausahaan-4

24 07 2012

BAB. VIII. PERENCANAAN BISNIS

8.1. Kaidah Perencanaan Bisnis
Perencanaan Bisnis merupakan instrumen penting yang digunakan untuk memulai sebuah kegiatan wirausaha. Berbagai kaidah dalam penyusunan perencanaan bisnis penting untuk diperhatikan. Hal ini berkaitan dengan meminimalisasi kemungkinan kegagala dan menekan resiko. Karena salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan dan menyebabkan kegagalan wirausaha adalah perencanaan.

Kaidah Prencanaan bisnis memuat berbagai syarat yang harus dimiliki oleh perencanaan bisnis dalam menjamin keberhasilan wirausaha. Sebuah perencanaan bisnis yang baik memenuhi syarat;

  1. Sebagai fungsi alat pemasaran ide dan perencanaan, secara fundamental sebuah perencanaan bisnis merupakan uraian yang bermuara pada harapan adanya dukungan dan sokongan dari investor dan partner potensial, yang juga menjadi sarana perencanaan kegiatan yang baik. Fungsi ini juga menuntut sebuah perencanaan menunjukkan bahwa kegiatan wirausaha menuntut dedikasi dan cita-cita yang tidak terbatas.
  2. Sebagai sebuah satu paket kesatuan, yang memuat narasi mengenai latarbelakang, tujuan wirausaha, berbagai pernyataan finansial yang dijelaskan secara terinci, presentasi mengenai mekanisme kerja wirausaha, berbagai material pendukung yangmemungkinkan wirausaha dapat berjalan dengan baik serta berbagai jawaban penting mengantisipasi pertanyaan pertanyaan potensial tentang kegiatan.
  3. Sebagai sebuah media penjelasan bagi audiens, rencana bisnis adalah sebuah pernyataan yang ditujukan bagi penyandang dana dan para eksekutif. Membuat apa yang penting bagi audens, apa yang mungkin menarik mereka untuk terlibat dan menyokong ide wirausaha serta apa porsi dari rencana yang dipersiapkan untuk audiens
  4. Sebagai sebuah pernyataan tujuan, rencana bisnis harus menyajika secara jelas penjelasa apa yang akan diperoleh dengan melakukan wirausaha, tahapan apa saja yang harus dilampaui untuk mencapai tujuan dan apa yang diperlukan untuk setiap fase,
  5. Fleksibel, yang dinyatakan dengan penyesuaian setiap aspek rencana berdasarkan keguinaannya, sederhana sehingga membuat setiap pernyataan menjadi penting. • Kemampuan menginformasikan, dengan menjelaskan semua detail penting, menyusun struktur yang baik dari perencanaan, menggunakan alat analisa yang baku, menggunakan ilustrasi yang baik dan menunjukka tekad serta keyakinan atas pencapaian tujuan wirausaha

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebagai penentu baik tidaknya perencanaan bisnis adalah sebagai berikut ;  

1.Hakekat Perencanaan
Perancanaan Bisnis – adalah langkah perencanaan formal dalam memulai sebuah kegiatan usaha baru yang dipusatkan pada keseluruhan usaha dan menjelaskan semua elemen yang terlibat dalam pelaksanaan. Perencanaan bisnis juga harus mengarah pada strategi pemasaran dan arah pengembangan masa depan

2. Detail, sebuah perencanaan bisnis harus disampaikan secara detail dan komprehensif / menyeluruh. Menjelaskan mengapa usaha ini akan dapat mengahsilkan keuntungan.
3. For investor, catat bahwa perencanaan iiniditujukan pada incvestor dan pemodal sebagai kebutuhan utama memulai usaha.
4. Market idea, perencanaan merupakan bentuk lain dari memasarkan ide yang diharapkan aka ndapat memberikan keuntungan
5. Management skills, resources, and strategies, perencanaan bisnisn yang baik memuat dengan baik keterampilan, sumberdaya yang dimiliki dan strategi yang disiapkan dalam mengantisipasi setiap kemungkinan kesalahan / kegagalan dan meningkatkan peluang sukses usaha

Beberapa Kunci penting dalam perencanaan bisnis adalah sebagai berikut ;

  1. Orang – harus memiliki motif dan energi yang tinggi, memiliki skill yang relevan
  2. Peluang – memuat keungguilan kompetitif yang dimiliki usaha yangdapat dipertahankann
  3. Kompetisi – mengidentifikasi kelemahan pesaing, respon kompetisi yang akan terjadi dan bagaimana menciptakanm kolaborasi yang sehat degnan kompetitor, bila mungkin.  Konteks- konteks ekonomi, lingkungan dan perundang-undangan haruslah kondusif
  4. Resiko – yang telah dikenali dan mudah diatasi
  5. Menjual perencanan- penting untuk mengenal klepada siapa rencana ini akan ditujukan karena investor memiliki type baik pasive maupun aktif.
  6. Sumber daya nonfinansial – penting bagi perencanaan memuat secara detail sumberdaya non finansial yang akan menyokong keberhasilan wirausaha, yaitu ; networks,  Tim dalam top management,  Dewan penasehat / advisory boards Rekanan kerja / partners

8.2. Komponen dan Kerangka dalam Perencanaan Bisnis
Perencanaan bisnis yang baik memiliki beberapa komponen penting yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi alat dan pedoman pelaksanaan wirausaha yang baik. Untuk itu beberapa pertanyaan penting tentang wira usaha harus dapat dijawab oleh sebuah perencanaan wirausaha.

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan komponen utama yang akan membentuk struktur perencanaan wirausaha, yaitu ;

  1. Apa yang akan dilakukan dalam kegiatan wirausaha
  2. Apa peluang yang ingin diraih
  3. Seberapa besar peluang yang dapat diraih
  4. Bagaimana keuntungan akan diperoleh
  5. Bagaimana Situasi kompetisi yang mungkin terjadi
  6. Apa yang menjadi kunci keberhasilan wirausaha dan bagaimana mengantisipasi kemungkinan kegagalan
  7. Apakah rencana dapat dilaksanakan
  8. Bagaimana penggunaan investasi dan pendayagunaan modal
  9. Kegiatan apa saja yang dilakukan dalam wirausaha untuk mencapai tujuan kegiatan

Dari semua komponen diatas, tanpa mengurangi nilai penting komponen yang lain, terdapat satu komponen penting yang menjadi tulang punggun perencanaan wirausaha, yaitu Analisis Peluang. Analisis peluang merupakan sebuah model analitis rasional yang akan memberikan jawaban atas pertanyaan tentang peluang yang akan diraih, besaran peluang, dan konsekwensi yandibutuhkan untuk mengejar peluang tersebut.

Pada dasarnya karakteristik Perencanaan Bisnis dapat dijelaskan sebagai berikut;

  1. Menunjukkan visi yang jelas
  2. Memahami target dan saran pemasaran
  3. Informasi yang detail mengenai kompetitor dan industri yang akan dimasuki
  4. Menyajikan bukti atas tim wirausaha yang berkompeten
  5. Singkat namuin jelas.
  6. Menandai resiko kritis
  7. Merinci sumberdaya dan penggunaannya
  8. Proyeksi fiansial yang teratur dan rasional
  9. Kesimpulan yang baik untuk menarik pembacanya

Kerangka dasar penyusunan rencana wirausaha umumnya adalah sebagai berikut :

  1. Executive summary / ringkasan Eksekutif, memuat secara ringkas latar belakang, tujuan dan rencana kerja wirausaha
  2. Industry analysis / Analisis Peluang, memuat uraian mengenai keadaan obyektif yang melatar belakangi industri dimana kegiatan wirausaha tersebut akan berkerja. Dalam bagian ini disajikan berbagai data dan analisa obyerktif
  3. Company description / Deskripsi Wirausaha, memuat tentang deskripsi kegiatan yang akan dilakukan oleh wirausaha
  4. Product and services description / Deskripsi Produk dan Jasa, memuat tentang uraian mengenai produk dan jasa yang akan dipasarkan melalaui kegiatan wirausaha
  5. Market description / Deskripsi Pasar, memuat uraian mengenai keadaan permintaan dan penawaran dalam pasar produk barang dan jasa, serta pangsa pasar yang tersedia untuk operasionalisasi wirausaha
  6. Marketing strategy / Strategi Pemasaran, memuat uraian mengenagi bagaimana rencana strategis pemasaran produk barang dan jasa mentikapi keadaan pasarnya.
  7. Operations description / Deskripsi operasi, memuat usaian operasionalisasi sumberdaya untuk melaksanakan kegiatan
  8. Staffing description / Deskripsi personalia, memuat penempatan personalia dalam kegiatan, yang memungkinan usaha akan dapat berjalan dengan baik berdasarkan spesifikasi profesional dan kompetensi personalia
  9. Financial projection / Proyeksi Finansial, merupakan uraian proyeksi penggunaan sumberdaya keuangan untuk pelaksanaan kegiatan
  10. Capital needs / Kebutuhan Dana, memuat perhitungan rencana finansial yang diramu dengan rencana penerimaan, untuk menunjukkan kebutuhan dana untuk memulai usaha
  11. Milestones / Tahapan, memuat tata kala tahapan kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan.

8.3. Analisis Peluang (Opprotunity Analysis)
Analisis peluang, merupakan komponen UTAMA dalam perencanaan bisnis yang memuat deskripsi detail dari produk maupun jasa yang akan menjadi kegiatan utama wirausaha. Penilaian atas peluang dan sudut pandang wirausahawan atas peluang tersebut, merupakan kunci pertama yang harus dipenuhi dalam analisis. Kunci kedua yang diperlukan adalah spesifikasi dan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan perencanaan dalam upaya meraih peluang. Ketiga, adalah sumber kapital yang diharapkan.

Dengan mengasumsikan bahwa peluang merupakan kebutuhan pasar yang belum tereksploitasi secara optimal, maka analisis peluang secar prinsip harus memuat beberapa hal yang berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan berikut :

  1. Apa kebutuhan pasar yang dapat dipenuhi, yang berkaitan dengan ide wirausaha ?.
  2. Apa pandangan personal yang telah dialami entrpreneur, yang berkaitan dengan kebutuhan pasar tersebut ?.
  3. Kondisi sosial apa yang melatar belakangi kebutuhan pasar tersebut ?.
  4. Data apa saja yang mendukung pandangan tentang kebutuhan pasar tersebut ?
  5. Paten dan HAKI apa yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut ?
  6. Kompetisi apa yang dapat muncul sebagai akibat upaya memnuhi kebutuhan pasar tersebut ?
  7. Bagaimana bentuk dan typologi pasar global atas pemenuhan kebutuhan tersebut ?
  8. Bagaimana persaingan global yang dihadapi atas pemenuhan kebutuhan tersebut?.
  9. Dimana Uang dihasilkan dalam kegiatan ini?
  10. Bagaimana penggunaan investasi dan pendayagunaan modal

8.4. Perencanaan dan Sumber Pembiayaan
Di Amerika Serikat, secara umum sepertiga wirausaha dimulai dengan dana kurang dari 10.000 US$. Sepertiga lagi dengan dana 10.000 – 50.000 US$, sedang sepertiga sisanya sebesar lebih dari 50.000 US$. Untuk itu kebanyakan usaha membutuhkan dukungan dari luar usaha untuyk memperoleh dan memenuhi kebutuhan finansialnya. Perencanaan pembiayaan sangat bergantung pada sumber pembiayaan yang diproyeksikan akan dapat memenuhi kebutuhan memulai kegiatan; Sumber pembiayaan wirausaha sangat beragam, terbagi atas berbagai latar belakang dan model pembiayaan yaitu;

  1. Pembiayaan Pinjaman / Debt Pembiyaan pinjaman merupakan bentuk pembiayaan yang mensyaratkan pengembalian pada periode tertentu. Bank memberikan 25% kontribusi dalam pembiayaan wirausaha melalui type pinjaman ini.
  2. Pembiayaan Bagi Hasil / Equity Merupakan bentuk pembiayaan dimana pemilik modal memberikan jumlah tertentu dana untuk pelaksanaan kegiatan wirausaha. Jumlah dana yang di serahkan pada usaha akan di bayarkan alam bentuk kepemilikan usaha / ownership, selanjutnya pemodal akan memperoleh bagian dari keuntungan usaha berdasarkan proporsi kepemilikan. Alternatif pembiayaan bagi hasil antara lain :
  3. Modal Ventura
  4. Penawaran saham publik / rekanan kerja
  5. Investor

Pembiayaan Wirausaha dengan Sumber Pembiayaan Modal Ventura
Modal ventura merupakan bentuk pembiyaan yang tidak terlalu populer di Indonesia. Namun bila mempertimbangkan betuk beberapa model pembiayaan yang umum ada serta kemungkinan untuk memperoleh dana dari sumber pembiyaan yang lazim, modal ventura memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan. Kendala dari pengembangan modal ventura adalah perturan perundangan yang belum mengatur, kesiapan usaha kecil untuk mempertanggungjawabkan model modal ventura, lembaga permodalan ventura yang belum banyak.

Peluang berbagai sumber dana baik berupa perusahaan besar yang berkeinginan menginvestasikan dananya dalam sektor produktif merupakan potensi yang memungkinkan pengembangan modal ventura di masa datang. Langkah penting bagi wirausaha untuk memperoleh dana dari sumber pembiyaan modal ventura harus dilakukan sebagai berikut ;

  1. Menentukan besaran dana yang dibutuhkan, yang berhubungan dengan apa yang akan dan ingin dilakukan wirausaha untuk menunjang pertumbuhan usaha, serta peluang profit yang ditawarkan bagi sumber pembiayaan.
  2. Menetukan apa yang dapat dilakukan pada keadaan sekarang, berkaitan dengan evaluasi obyektif atas wirausaha yang menunjukkan kesenjangan finansial yang harus dipenuhi untuk dapat menjangkau keadaan sebagimana diuraikan pada poin sebelumnya.
  3. Menjabarkan indikator pertumbuhan yang dapat di harapkan dengan pemenuhan kebutuhan sebagai selisih antara yang ingin ilakukan dan yang dapat dilakukan.

Ketiga langkah diatas akan membentuk kebutuhan finansial yang menjadi dasar bagi wirausaha untuk mulai mengajukan penawaran investasi bagi modal ventura. Beberapa hal yang berkaitan dengan kebutuhan; Kebutuhan merupakan sebuah hal yang mudah untuk di uraikan, diestimasi dari kebutuhan berbagai sumber daya faktor produksi dan volume serta nilai faktor produksi.

Tetapi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam kebutuhan yaitu ; Biasanya diperlukan dana yang lebih besar dari dugaan kebutuhan, berkaitan dengan berbagai hal biaya tidak terduga dan keterlambatan penerimaan. Untuk itu perlu dipertimbangkan adanya ”financial reserve” sebagai bentuk jaminan yang askan dapat menutupi hal yang tidak terduga.

Adalah sebuah tindakan yang tidak bijak bila dalam pembiayaan pengusaha berusaha memperoleh dana sebesar yang bisa diperoleh, atau memperoleh dana sebesar besarnya keinginan dan kebutuhan yang diperhitungkan, karena sumber pembiayaan selalu menginginkan pengembalian dana dalam tempo yang lebih singkat. Jadi baik kiranya memperhitungkan berbagai preferensi kapital dalam usaha sebelum menentukan besaran dana yang akan diambil atau dimanfaatkan dari modal ventura.

Preferensi ini mencakup;

  1. Modal sendiri, termasuk berbagai subsidi yang diperoleh,
  2. Pinjaman langsung yang berjalan,
  3. Pinjaman lunak dan
  4. Kecukupan modal dalam kegiatan usaha.

Memandang uraian diatas, maka dapat dikatakan bahwa kecukupan sumber modal merupakan salah satu kunci keberhasilan penting. Walaupun uang bukan merupakan faktor terpenting, tetapi ” It is easier to make money if you have money” namun tidaklah bijak memperoleh pinjaman melebihi kemampuan mengelola jumlah keuangan tersebut. Beberapa referensi menyatakan untuk wirausaha, faktor kecukupan yang paling ideal adalah bahwa jumlah pinjaman adalah sebesar 20-30% dari total modal sendiri. Dengan besaran demikian 70-80% modal sendiri dan 20-30% pinjaman akan menyusun struktur kapital baru wirausaha. Jumlah dan patokan diatas bukan merupakan patokan baku, beberapa kasus di negara eropa terutama Finlandia banyak usaha kecil mempertahanakan komposisi modal sendiri tetap dibawah 60% dari total modal. Hal ini menunjukkan bahwa besaran ideal dan komposisi ideal struktur kapital wirausaha tergantung pada berbagai faktor. Pertumbuhan ekonomi (GDP) merupakan faktor salah satu faktor yang menentukan komposisi struktur kapital. Pertumbuhan ekonomi sangat menentukan potensi pertumbuhan wirausaha, terbatasnya pertumbuhan ekonomi akan membatasi pula pertumbuyhan wirausaha. Potensi pertumbuhan wirausaha yang terbatas akan diikuti konsekwensi struktur pinjaman yang memiliki komposisi makin kecil. Sebaliknya pertumbuhan ekonomi yang besar akan memberikan keleluasan meningkatkan komposisi pinjaman dalam struktur kapital wirausaha. Sayangnya karena belum jelasnya informasi, popularitas sistem modal ventura dalam pelaksanaan wirausaha banyak negara cenderung lemah. Padahal sistem ini memiliki peluang yang baik dengan tingkat fairness yang tinggi dibandingkan babarapa sistem permodalan lain.

Bank masih merupakan sumber pembiayaan utama, walaupun dalam struktur pinjaman kebanyakan wirausaha dimulai dengan memanfaatkan pinjaman komersial. Konsumsi dan bukan pinjaman usaha. Sehingga cenderung lebih kaku dalam penyediaan. Sedikit bank memberikan pembiayaan berdasarkan asset produksi wirausaha dan studi kelayakan finansial usaha. Kebanyakan mendasarkan pembiayaannya pada agunan non produktif yang dimiliki pengusaha. Hal ini menyebabkan pertanggungjawaban pribadi pengusaha lebih besar menjadi dasar pembiyaan. Berbeda dengan sumber perbankan, Modal Ventura mengemukakan penilaian yang berbeda atas wirausaha. Lembaga Modal Ventura akan memandang aspek kecukupan modal, dan struktur modal yang ditanamakan. Hal ini menempatkan posisi lembaga modal ventura sekaligus menjadi salah satu pemilik usaha. Biasanya modal ventura mengharapkan pengembalian investasinya 35-40% per tahun.

Lembaga Modal Ventura kebanyakan tidak menyediakan pembiayaan unutk memulai usaha, dan cenderung memilih usaha yang memiliki pertumbuhan yang tinggi. Selain itu, lembaga modal ventura mengharapkan keuntungan tambahan dengan pengalihan kepemilikan berdasarkan investasi pada lembaga lain. Hal ini dilakukan dengan mekanisme seperti penjualan saham pada perusahaan terbuka. Sebuah contoh wirausaha yang tumbuh dengan pesat di Amerika Serikat, SEXTON & SEALE (1997), merupakan usaha yang bergerak pada bidang pembiayaan. Memberikan pinjaman bergulir dengan jangka waktu 2,5 tahun untuk setiap periode. 51% dari perusahaan yang telah dibiayai dalam waktu 2,5 tahun berubah struktur kapitalnya, dimana SEXTON & SEALE kebanyakan menguasai 50-75% struktur kapital. Hal ini membuat SEXTON & SEALE dapat dikatakan turut memiliki 51% dari wirausaha yang dibiayainya. Dengan performa tersebut SEXTON & SEALE, memperoleh tingkat pengembalian investasi hingga 80% per tahun bagi usaha lama dan hingga 30% untuk usaha baru. Pegawai SEXTON & SEALE sendiri turut memiliki 42% dari asset perusahaan.

Berbeda dengan pembiayaan bank dan modal ventura, pembiayaan perusahaan keluarga sangat berbeda. 90% wirausaha dimulai dengan kepemilikan keluarga. Dan seluruhnya menguasai sekurang-kurangnya 50% dari struktur modal. Biasanya dalam 2 periode pengembalian modal, struktur ini berubah dimana pinjaman bank akan menguasai hingga 52% struktur / kapital, sebaliknya modal keluarga cenderung menyusut hingga 23%.

Bagaimanapun uraian diatas, penting kiranya memperlajari modal ventura, berkaitan dengan potensinya sebagai salah satu sumber pembiayaan. Siapakah lembaga pembiayaan modal ventura yang dikenal ?. Indonesia belum banyak mengenal lembaga semacam ini. Tetapi keadaan dan struktur ekonomi saat ini memungkinkan munculnya perseorangan maupun perusahaan yang berpotensi memeberikan modal ventura.

Beberapa type perusahaan Modal Ventura :

  1. Business Angels, disebut demikian karena sering memainkan peran sebagai penolong saat wirausaha membutuhakan modal. Biasanya merupakan orang-orang yang sebelumnya melakukan wirausaha pula, kadangkala pula merupakan pemain yang lebih lama berkecimpung dalam pasar industri tertentu dan telah lama memperhatikan perkembangan usaha yang akan dibiayai.
  2. Venture capital firms / funds, merupakan usaha yang memang mengkhususkan diri pada pembiayaan, memiliki anggota dalam jumlah tertentu yang dibiayai serta mempunyai segmen khusus dalam pembiayan berdasarkan tahapan perkembangan wirausaha. Misal, segmen memulai usaha, mengembangkan usaha, go publik dan lain lain. Biasa dikelompokkan pula dalam skala usaha pembiayaan kecil, sedang dan besar.

Lembaga Modal Ventura akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengambil keputusan membiayai sebuah usaha, yaitu ;

  1. Pertumbuhan Potensial Usaha Kadang, lembaga modal ventura lebih memfokuskan pada seberapa cepat pertumbuhan usaha dan seberapa cepat usaha dapat tumbuh. Hal ini berkaitan dengan bagaimana manajemen dapat menjamin performa pertumbuhan usaha.
  2. Tim Kerja Wirausaha, Penilaian mengenai komitmen setiap orang yang mengelola usaha dan Seberapa kemampuan / Skill personal yang dimiliki untuk menjamin pengelolaan usaha yang lebih baik
  3. Produk dan Potensi Penjualan Produk Penilaian mengenai jenis produk / jasa yang dihasilkan wirausaha dan siapa yang mengkonsumsi produk / jasa, alasan konsumen mengkonsumsi produk dan jasa tersebut, bagaimana penjualan akan meningkatkan keuntungan usaha, dan bagaimana wirausaha mendistribusikan produk tersebut pada konsumen.
  4. Segmen Pasar
  5. Situasi Finansial Wirausaha, dan
  6. Faktor lain seperti Periode Pinjaman Selanjutnya Lembaga Modal Ventura akan menilai sebuah usaha berdasarkan beberapa indikator, yaitu ; PROFIT / Keuntungan Usaha, namun secara prinsip lembaga modal ventura memiliki formula tersendiri untuk menentukan besarnya minat lembaga untuk membiayai satu usaha. Formula ini serin disebut sebagai “Venture capitalists formula” (VCF). Merupakan sebuah pendugaan yang penting yang berlaku baik bagi usaha terbuka maupun usaha yang belum go public. Sangat kompleks dan bergantung pada berbagai faktor / isu. Faktor terpenting adalah skala usaha dan total penjualan, namun juga tidak melupakan standar NPV.

BAB IX. STUDI KELAYAKAN USAHA

9.1.    Pentingnya Studi Kelayakan Usaha
Berniat membuka usaha sendiri, tapi bingung harus mulai darimana? Memang tak mudah untuk memulai usaha, tapi jika Anda bisa menjawab pertanyaan berikut, berarti Anda siap memulainya (“12 Langkah Memulai Usaha“):

  1. Apakah bidang usaha yang akan digeluti itu cukup potensial? Bagaimana prospeknya?
  2. Seberapa ketat persaingannya? Siapa kira-kira yang akan menjadi pesaing usaha tersebut? Bagaimana cara menghadapinya?
  3. Apa target usaha tersebut? Bagaimana mencapainya?
  4. Dari segi hukum, apa yang perlu disiapkan? Apa saja penghalangnya?
  5. Apa nama usaha (perusahaan) itu?
  6. Berapa dana yang dibutuhkan? Bagaimana memenuhinya?
  7. Dimana usaha tersebut akan dijalankan? Apakah sudah mempersiapkan kantornya?
  8. Sarana atau peralatan apa yang dibutuhkan? Bagaimana mendapatkannya?
  9. Apa tersedia asuransi yang memadai?
  10. Apakah Anda sudah memiliki supplier atau pemasok bahan baku?
  11. Sistem manajemen seperti apa yang akan diterapkan? Siapa yang akan menjalankan operasional usaha sehari-hari? Berapa karyawaan yang dibutuhkan?
  12. Bagaimana sistem pemasaran dan distribusi produk atau jasa yang akan dihasilkan? Bagaimana agar masyarakat mengenal produk atau jasa yang akan dipasarkan?

Bila tidak bisa menjawab semua pertanyaan itu, maka sebaiknya Anda mengkaji ulang niat membuka usaha sendiri, sampai benar-benar siap. (*) Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, maka seorang wirausaha dapat melakukan suatu Studi Kelayakan Usaha.

9.2.  Pengertian Studi Kelayakan Usaha
Usaha yang akan dijalankan diharapkan dapat memberikan penghasilan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Pencapaian tujuan usaha harus memenuhi beberapa kriteria kelayakan usaha. Artinya, jika diihat dari segi bisnis, suatu usaha sebelum dijalankan harus dinilai pantas atau tidak untuk dijalankan. Pantas artinya layak atau akan memberikan keuntungan dan manfaat yang maksimal.

Agar tujuan perusahaan dapat tercapai sesuai keinginan, apapun tujuan perusahaan (baik profit, sosial, maupun gabungan dari keduanya), apabila ingin melakukan investasi, terlebih dahulu hendaknya dilakukan sebuah studi. Tujuannya adalah untuk menilai apakah investasi yang akan ditanamkan layak atau tidak untuk dijalankan (dalam arti sesuai dengan tujuan perusahaan) atau dengan kata lain, jika usaha tersebut dijalankan, akan memberikan manfaat atau tidak.

Untuk itu suatu usaha perlu melakukan suatu studi kelayakan usaha, yaitu suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan, usaha atau bisnis yang akan dijalankan dalam rangka menentukan layak atau tidak suatu usaha tersebut dijalankan.

Dari pengertian tersebut, maka studi kelayakan usaha merupakan kegiatan untuk mempelajarisecara mendalam, artinya meneliti secara sungguh-sungguh data dan informasi yang ada, yang kemudian mengukur, menghitung dan menganalisis hasil penelitian tersebut dengan menggunakan metode-metode tertentu. Dan penelitian yang dilakukan terhadap usaha yang akan dijalankan menggunakan ukuran tertentu, sehingga diperoleh hasil yang maksimal.

Istilah kelayakan mengandung arti, bahwa penelitian yang dilakukan secara mendalam dengan tujuan untuk menentukan apakah usaha yang dijalankan akan memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang akan dikeluarkan. Dengan kata lain, kelayakan dapat berarti bahwa usaha yang dijalankan akan memberikan keuntungan finansial dan nonfinansial sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Lebih lanjut, istilah layak juga berarti bahwa suatu usaha juga dapat memberikan keuntungan tidak hanya bagi perusahaan yang menjalankan, tetapi juga bagi investor, kreditor, pemerintah dan masyarakat luas. Dengan demikian dalam suatu studi kelayakan usaha akan menyangkut tiga aspek, yaitu:

  1. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi usaha itu sendiri (sering disebut sebagai manfaat finansial). Yang berarti apakah usaha tersebut dipandang cukup  menguntungkan apabila dibandingkan dengan risiko usaha tersebut.
  2. Manfaat ekonomis usaha tersebut bagi Negara tempat usaha itu dilaksanakan (sering disebut sebagai manfaat ekonomi nasional). Yang menunjukkan manfaat usaha  tersebut bagi ekonomi makro suatu negara.
  3. Manfaat sosial usaha tersebut bagi masyarakat di sekitar lokasi usaha.

9.3. Tujuan Studi Kelayakan Usaha
Ada lima tujuan, pentingnya melakukan studi kelayakan usaha, yaitu:

1. Menghindari risiko kerugian
Studi kelayakan bertujuan untuk menghindari risiko kerugian keuangan di masa datang yang penuh ketidakpastian. Kondisi ini ada yang dapat diramalkan akan terjadi atau terjadi tanpa dapat diramalkan. Dalam hal ini fungsi studi kelayakan adalah untuk meminimalkan risiko yang tidak diinginkan, baik risiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.

2. Memudahkan perencanaan
Ramalan tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, dapat mempermudah dalam melakukan perencanaan. Perencanaan tersebut, meliputi:

  • Berapa jumlah dana yang diperlukan
  • Kapan usaha akan dijalankan
  • Di mana lokasi usaha akan dibangun
  • Siapa yang akan melaksanakan
  • Bagaimana cara melaksanakannya
  • Berapa besar keuntungan yang akan diperoleh
  • Bagaimana cara mengawasinya jika terjadi penyimpangan
  • Dengan adanya perencanaan yang baik, maka suatu usaha akan mempunyai jadwal pelaksanaan usaha, mulai dari usaha dijalankan sampai pada waktu tertentu.

3. Memudahkan pelaksanaan pekerjaan
Berbagai rencana yang sudah disusun akan memudahkan dalam pelaksanaan usaha.
Rencana yang sudah disusun akan dijadikan acuan dalam mengerjakan setiap tahap usaha, sehingga suatu pekerjaan dapat dilakukan secara sistematis dan dapat tepat sasaran serta sesuai rencana.

4. Memudahkan pengawasan
Pelaksanaan usaha yang sesuai rencana akan memudahkan untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya uasaha. Pengawasan ini perlu dilakukan agar tidak terjadi penyimpangan dari rencana yang telah disusun. Di samping itu, pelaksanaan usaha dapat dilakukan secara sungguh-sungguh, karena ada yang mengawasi.

5. Memudahkan pengendalian
Adanya pengawasan dalam pelaksanaan pekerjaan dapat terdeteksi terjadinya suatu penyimpangan, sehingga dapat dilakukan pengendalian atas penyimpangan tersebut

Tujuan dari pengendalian ini adalah untuk mengendalikan pelaksanaan pekerjaan yang melenceng, sehingga tujuan perusahaan akan tercapai. Pihak-pihak yang berkepentingan Perusahaan yang melakukan studi kelayakan usaha akan mempertanggungjawabkan hasilnya kepada berbagai pihak yang berkepentingan, yaitu:

a. Investor
Jika hasil studi kelayakan yang telah dibuat ternyata layak untuk direalisasikan, pendanaan dapat mulai dicari dengan mencari investor atau pemilik modal yang mau menanamkan modalnya. Bagi investor, hasil studi kelayakan memiliki arti tersendiri, karena investor akan mempelajari laporan tersebut untuk memastikan keuntungan yang akan diperoleh serta jaminan keselamatan atas modal yang akan ditanamkannya.

b. Lembaga keuangan
Jika modal perusahaan berasal dari dana pinjaman bank atau lembaga keuangan lainnya, maka lembaga-lembaga tersebut akan berkepentingan terhadap hasil studi kelayakan. Bank dan lembaga keuangan lainnya tidak mau memberi kredit atau pinjaman, bila suatu usaha tersebut di kemudian hari mempunyai masalah (kredit macet). Oleh karena itu, untuk usaha-usaha tertentu pihak perbankan akan melakukan studi kelayakan terlebih dahulu secara mendalam sebelum pinjaman dikucurkan kepada pihak peminjam.

c. Pemerintah
Bagi pemerintah pentingnya studi kelayakan adalah untuk meyakinkan apakah usaha yang dijalankan akan memberikan manfaat, baik bagi perekonomian secara umum maupun gaji masyarakat luas, seperti penyediaan lapangan pekerjaan. Pemerintah juga berharap usaha yang akan dijalankan tidak merusak lingkungan sekitarnya, baik terhadap manusia dan lingkungan hidup lainnya

d. Masyarakat luas
Bagi masyarakat luas, adanya bisnis akan memberikan manfaat seperti tersedia lapangan kerja, baik bagi pekerja di sekitar likasi proyek maupun bagi masyarakat lainnya. Manfaat lain adalah terbukanya wailayah tersebut dari ketertutupan. Dengan adanya usaha akan memancing munculnya sarana dan prasarana bagi masyarakat.

9.4. Proses dan Tahap Studi Kelayakan Usaha
Langkah-langkahnya:

1. Tahap Penemuan Ide atau Perumusan Gagasan
Dalam tahap ini wirausaha memiliki ide untuk merintis usaha barunya. Ide tersebut kemudian dirumuskan dan diidentifikasi dalam bentuk pemikiran dan kemungkinan-kemungkinan bisnis apa saja yang paling memberikan pluang untuk dilakukan dan menguntungkan dalam jangka waktu yang panjang.

2. Tahap Memformulasikan Tujuan
Dalam tahap ini dalah tahap perumusan visi dan misi

3. Tahap Analisis
Tahap ini merupakan tahap penelitian, yaitu proses sistematis yang dilakukan untuk membuat suatu keputusan apakah bisnis tersebut layak dilaksanakan atau tidak. Adapun aspek-aspek yang diamati dan dicermati adalah: Aspek hokum, Aspek Pasar dan Pemasaran, Aspek Keuangan, Aspek Ekonomi Sosial serta Aspek Lingkungan

4. Tahap Keputusan
Merupakan tahap akhir yang merupakan pembuatan keputusan untuk melaksanakan atau tidak suatu bisnis.

9.5. Aspek-aspek dalam Penilaian
Tahap-tahap dalam pembuatan dan penilaian studi kelayakan hendaknya dilakukan secara benar dan lengkap. Setiap tahapan memiliki berbagai aspek yang harus diteliti, diukur dan dinilai sesuai dengan ketentuan.
Secara umum prioritas aspek-aspek yang perlu dilakukan dalam studi kelayakan adalah:

1. Aspek hukum
Dalam aspek ini yang akan dibahas adalah masalah kelengkapan dan keabsahan dokumen perusahaan, mulai dari bentuk badan usaha sampai ijin-ijin yang dimiliki. Kelengkapan dokumen sangat penting karena hal ini merupakan dasar hukum yang harus dipegang, apabila di kemudian hari timbul masalah. Keabsahan dan kesempurnaan dokumen dapat diperoleh dari pihak-pihak yang menerbitkan atau mengeluarkan dokumen tersebut.
Dokumen yang diperlukan meliputi:

  • Akte Pendirian Perusahaan dari Notaris
  • Bentuk badan usaha, serta keabsahannya dan bentuk badan usaha tertentu, seperti PT dan Yayasan harus disahkan oleh Departemen Kehakiman
  • Tanda Daftar Perusahaan (TDP)
  • Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

Di samping dokumen di atas, perusahaan juga perlu memiliki ijin-ijin tertentu, yaitu

  • Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), diperoleh melalui Departemen Perdagangan
  • Surat Ijin Usaha Industri (SIUI), diperoleh melalui Departemen Perindustrian
  • Ijin domisili, diperoleh melalui kelurahan setempat
  • Ijin mendirikan bangunan (IMB), diperoleh melalui pemerintah daerah setempat
  • Ijin gangguan, diperoleh melalui kelurahan setempat

Selain itu juga dibutuhkan beberapa dokumen penting lainnya, antara lain:
a. Bukti diri (KTP/SIM) b. Sertifikat tanah c. BPKB

2. Aspek Pasar dan Pemasaran
Setiap usaha yang akan dijalankan harus memiliki pasar yang jelas. Dalam aspek pasar dan pemasaran, hal-hal yang perlu dijabarkan adalah;

  • Ada-tidaknya pasar (konsumen)
  • Seberapa besar pasar yang ada
  • Peta kondisi pesaing, terutama untuk produk yang sejenis
  • Perilaku konsumen
  • Strategi yang dijalankan untuk memenangkan persaingan & merebut pasar yang ada.

Untuk mengetahui ada-tidaknya pasar dan seberapa besarnya pasar, serta perilaku konsumen, maka perlu dilakukan riset pasar, dengan cara:

  • Melakukan survey dengan terjun langsung ke pasar untuk melihat kondisi pasar yang ada. Dalam hal ini untuk mengetahui jumlah pembeli dan pesaing.
  • Melakukan wawancara dengan berbagai pihak yang dianggap memegang peranan. Dalam hal ini melakukan wawancara kepada pesaing secara diamdiam.
  • Menyebarkan kuesioner ke berbagai calon konsumen untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan konsumen saat ini. Dalam hal ini untuk mengetahui jumlah konsumen, daya beli dan selera.
  • Menawarkan produk dengan pemasangan iklan, seolah-olah produknya sudah ada. Dalam hal ini untuk melihat respon konsumen, waluapun produknya harus pesan terlebih dahulu.

Perlu diketahui bahwa, di dalam pasar, sebesanrnya dapat dibagi menjadi 2 kelompok pasar, yaitu:

  • Pasar nyata: sekumpulan konsumen yang mempunyai minat, pendapatan dan akses pada suatu produk tertentu
  • Pasar potensial: sekumpulan konsumen yang memiliki minat terhadap suatu produk, tetapi belum didukung oleh akses dan pendapatan. Namun suatu saat, apabila telah memiliki pendapatan dan akses, mereka akan membeli.

Setelah diketahui pasar dan potensinya, maka langkah selanjutnya adalah menyusun strategi pemasaran, yang meliputi:

  1. Strategi produk
  2. Strategi harga
  3. Strategi lokasi dan distribusi
  4. Strategi promosi

3. Aspek Keuangan
Dalam aspek keuangan, hal-hal yang perlu digambarkan adalah jumlah investasi, biaya-biaya dan pendapatan yang akan diperoleh. Besarnya investasi berarti jumlah dana yang dibutuhkan, baik untuk modal investasi pembelian aktiva tetap maupun modal kerja, selain itu juga biaya-biaya yang diperlukan selama umur investasi dan pendapatan.

Untuk dapat melakukan penilaian investasi, maka sebuah perusahaan harus memubuat laporan keuangan. Adapun fungsi laporan keuangan, secara umum adalah:

  1. Memberikan informasi keuangan tentang jumlah aktiva dan jenis-jenis aktiva
  2. Memberikan informasi tentang jumlah kewajiban, jenis-jenis kewajiban dan jumlah modal
  3. Memberikan informasi tentang hasil usaha yang tercermin dari jumlah pendapat yang diperoleh dan sumber-sumber pendapatan
  4. Memberikan informasi tentang jumlah biaya yang dikeluarkan berikt jenis-jenis biaya dalam periode tertentu
  5. Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi di dalam aktiva , kewajiban dan modal di dalam suatu perusahaan
  6. Memberikan informasi tentang kinerja manajemen dalam suatu periode dari hasil-hasil laporan keuangan yang disajikan.

2. Aspek Teknik/Operasi
Dalam aspek teknis atau operasi, hal-hal yang perlu digambarkan adalah:

1) Lokasi usaha
Lokasi merupakan tempat melayani konsumen. Dengan demikian, maka perlu dicari lokasi yang tepat sebagai tempat usaha, karena akan memberikan keuntungan sebagai berikut:

  1. Pelayanan yang diberikan kepada konsumen dapat lebih memuaskan
  2. Kemudahan dalam memperoleh tenaga kerja yang diinginkan, baik jumlah dan kualitasnya
  3. Kemudahan dalam memperoleh bahan baku atau bahan penolong dalam jumlah yang diinginkan secara terus-menerus
  4. Kemudahan untuk memperluas lokasi usaha karena biasanya sudah diperhitungkan untuk usaha perluasan lokasi sewaktu-waktu
  5. Memiliki nilai atau harga ekonomi yang lebih tinggi di masa yang akan datang
  6. Meminimalkan terjadinya konflik, terutama dengan masyarakat dan pemerintah setempat

2) Penentuan layout/tata letak
Penentuan layout perlu dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan faktor keamanan, kenyamanan, keindahan, efisiensi, biaya, fleksibilitas. Dengan pertimbangan di atas, maka akan diperoleh keuntungan sebagai berikut:

  1. Ruang gerak untuk beraktivitas dan pemeliharaan memadai. Artinya suatu ruangan didesain sedemikian rupa, sehingga tidak terkesan sumpek. Kemudian layout juga harus memudahkan untuk melakukan pemeliharaan ruangan atau gedung.
  2. Pemakaian ruangan menjadi efisien. Artinya pemakaian ruangan harus dilakukan secara optimal, jangan sampai ada ruangan yang menganggur atau tidak terpakai karena hal ini akan menimbulkan biaya bagi perusahaan.
  3. Aliran material menjadi lancar. Artinya jika layout dibuat secara benar, maka produksi menjadi tepat waktu dan tepat sasaran.
  4. Layout yang tepat memberikan keindahan, kenyamanan, kesehatan dan keselamatan kerja yang lebih baik, sehingga memberikan motivasi yang tinggi kepada karyawan. Di samping itu, pelanggan pun betah untuk bertransaksi atau berurusan dengan perusahaan.
  5. Teknologi yang digunakan. Teknologi yang digunakan harus sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dan yang akan datang, serta harus disesuaikan dengan luas produksi, supaya tidak terjadi kelebihan kapasitas.
  6. Volume produksi. Volume produksi harus relevan dengan potensi pasar dan prediksi permintaan, sehingga tidak terjadi kelebihan atau kekurangan kapasitas. Volume operasi yang berlebihan akan menimbulkan masalah dalam penyimpanan, sedangkan volume produksi yang kurang akan menyebabkan hilangnya pelanggan.
  7. Bahan baku dan bahan penolong. Bahan baku dan bahan penolong serta sumber daya yang diperlukan harus cukup tersedia. Persediaan tersebut harus sesuai dengan volume produksi.
  8. Tenaga kerja.  Meliputi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dan kualifikasi yang sesuai dengan pekerjaan yang ada agar penyelesaian pekerjaan bisa lebih cepat, tepat dan hemat.

5. Aspek Ekonomi Sosial
Gambaran dalam aspek ekonomi adalah untuk melihat seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan jika proyek tersebut dijalankan. Pengaruh tersebut terutama terhadap ekonomi secara luas serta dampak sosialnya terhadap masyarakat secara keseluruhan. Dampak ekonomi meliputi:

  • Jumlah tenaga kerja yang tertampung, baik yang bekerja di pabrik maupun masyarakat yang di luar pabrik
  • Peningkatan pendapatan masyarakat

Demikian pula, perusahaan perlu mencamtumkan dampak sosial yang ada dalam hasil penelitian. Dampak sosial yang muncul akibat adanya usaha berupa tersedianya sarana dan prasarana, antara lain:

  • Pembangunan jalan
  • Penerangan
  • Sarana telepon
  • Sarana air minum

6. Aspek Dampak Lingkungan
Aspek dampak lingkungan merupakan analisis yang paling dibutuhkan pada saat ini, karena setiap proyek yang dijalankan akan memiliki dampak yang sangat besar terhadap lingkungan di sekitarnya, antara lain:

  1. Dampak terhadap air
  2. Dampak terhadap tanah
  3. Dampak terhadap udara
  4. Dampak terhadap kesehatan manusia
  5. Pada akhirnya pendirian usaha akan berdampak terhadap kehidupan fisik, flora dan fauna yang ada di sekitar usaha secara keseluruhan

9.6. Kriteria Investasi
a.  Keuntungan & Kelemahan Kriteria Npv Dalam Pengurutan Peluang Investasi
Asumsi  pokok yang mendasari penggunaan kriteria NPV adalah bahwa ada kemungkinan untuk menanamkan sejumlah modal dengan selisih investasi (antara dua buah proyek) yang dapat memberikan NPV positif. Dengan kata lain, proyek marjinal calon penampung dana yang terjadi karena tidak dilaksanakannnya salah satu proyek memberikan rate of return yang sama dengan discount rate social atau opportunity cost modal yang dipergunakan dalam menghitung NPV.

Namun jika jumlah investasi yang dimiliki terbatas, maka keterbatasan itu akan mengubah sasaran utama perencana/penilai proyek untuk mencari proyek yang penggunaannya paling menguntungkan daripada mencari proyek yang memberikan NPV paling tinggi.

Meskipun berpegang pada discount rate sosial dan adanya proyek marjinal yang mengembalikan tingkat rendemen, selalu ada kemungkinan adanya proyek baru dengan rate of return yang lebih tinggi. Pelaksanaannya tergantung pada penghematan sumber-sumber sehubungan dengan alokasi dana kepada proyek lain, yang rentabilitasnya belum diketahui secara pasti saat alokasi itu dibuat.

Jadi, disamping NPV yang peka terhadap skala proyek, kita biasanya terus mencari ukuran tentang efisiensinya, yaitu semacam indeks yang mengaitkan keuntungan proyek dengan biaya investasi. Keempat kriteria investasi lainnya (IRR, Net B/C, Gross B/C dan PV’/’K) dikembangkan dalam rangka pencarian tersebut.

Selain itu perlu diperhitungkan kemungkinan adanya kaitanantara skala masing masing alternative investasi dengan discount rate yang sebaiknya digunakan dalam menghitung NPV. Dalam membandingkan suatu alternatif yang merupakan mutually exclusive alternative, diasumsikan hanya satu discount rate yang digunakan untuk menghitung NPV. Di lain pihak, jelas bahwa pengalokasian sejumlah dana untuk salah satu alternatif (dengan biaya yang lebih tinggi) akan meniadakan serangkaian proyek pada batas pelaksanaan yang lebih banyak daripada proyek yang dikorbankan bila proyek tersebut memilih alternatif biaya yang lebih sedikit. Dengan kata lain, identitas proyek marjinal dapat berubah pula. Khususnya discount rate relevan dapat lebih tinggi dalam hal alternative yang lebih tinggi.

Jelasnya, bahwa penggunaan discount rate yang semakin tinggi menurut skala proyek akan lebih memajukan alternatif yang relatif murah. Prosedur ini merupakan pendekatan dalam rangka mencari indeks efisiensi penggunaan modal sambil tetap berpegang pada NPV sebagai kriteria investasi. Selain itu, diubahnya discount rate  sesuai dengan besarnya biaya netto masing-masing alternative kurang praktis dalam usaha evaluasi proyek,apalagi jika adanya unsure ketidakpastian sehubaungan dengan perkiraan tingkat rendemen semua proyek,termasu proyek marjinal.

b. Perbandingan Net B/C dengan NPV sebagai kriteria investasi
Kriteria investasi Net B/C merupakan indeks efisiensi yang perhitungannya mempergunakan data yang sama seperti NPV. Jika a melambangkan present value jumlah sisa (Bt- Ct) yang positif, dan b adalah present value jumlah sisa yang negatif, maka NPV yang merupakan a – b dan Net B/C adalah a/b. Perhitungan present value sehubungan dengan kriteria tersebut menggunakan dicount rate yang sama, sedangkan indeks efisiensi dalam penggunaan modal, Net B/C tidak terpengaruh oleh skala proyek, misalnya proyek yang biaya serta benefitnya dua kali lebih besar daripada proyek lain, menghasilkan NPV dua kali lebih besar juga, sedangkan nilai Net B/C tidak berubah ( jika a – b = c, maka 2a – 2b = 2c, sedangkan a/b = d, maka 2a/2b = a/b yang artinya tetap sama dengan d ).

Kemungkinan terjadinya pertentangan antara kedua kriteria dalam rangka mengurutkan alternatif dalam investasi dapat dijelaskan dengan perbandingan ketiga bentuk proyek Y yang disajikan dalam tabel di bawah ini

Bila dilihat dari cara atau alternatif yang paling menguntungkan pada kondisi rendemen di atas discount rate sosial dalam penggunaan-penggunaan di luar proyek Y, maka alternatif yang harus dipilih supaya menguntungkan ialah ketiga bentuk tersebut didasarkan pada kriteria Net B/C yaitu bentuk c. Sedangkan bila dianggap discount rate sosial betul-betul mencerminkan tingkat rendemen yang dapat diperoleh dengan penggunaan alternatif penghematan sumber dari proyek Y, maka yang harus dipilih alternatif dengan nilai NPV tertinggi tanpa peduli skala biaya yaitu bentuk b.

Persamaan tersebut dipecah sehingga menghasilkan IRR= nilai i yang membuat NPV proyek sama dengan nol. Jadi bisa dikatakan bahwa IRR merupakan suatu dicount rate khusus yaitu discount rate yang membuat NPV sama dengan nol, dalam konteks tersebut tidak ada hubungannya dengan discount rate yang dihitung berdasarkan data di luar proyek sebagai social oppurtunity cost faktor produksi modal yang berlaku dalam masyarakat. Mengingat perhitungan IRR tidak tergantung pada discount rate sosial, maka kriteria IRR dapat dipergunakan sebagai indeks pengurutan dua atau lebih proyek. Di lain sisi, jika IRR digunakan untuk pengambilan keputusan go / no-go, maka nilainya perlu dibandingkan dengan tingkat discount rate sosialnya, dalam hal ini penghitungan IRR tidak menambah keterangan yang disediakan dari penghitungan NPV.

Namun demikian, bila mengacu kembali kepada pembahasan tentang kriteria NPV dan Net B/C, apabila kita menentukan efisiensi dalam penggunaan modal, maka kriteria IRR yang paling luas penerapannya. Misalnya, IRR merupakan kriteria utama yang dipergunakan oleh bank dunia dalam mengevaluasi permintaan pinjaman. Jelas bahwa adanya suatu indeks yang dapat dibandingkan dengan angka-angka seperti tingkat suku bunga, reabilitas investasi swasta serta oppurtunity cost faktor produksi modal sangat menarik dari sudut pandang lembaga kredit.

Ternyata proyek A mempunyai IRR sebesar 50%, sedangkan proyek B hanya mempunyai IRR sebesar 30,38%. Pada tingkat discount rate 13,33%, NPV kedua proyek betul-betul sama (324 juta). Pada semua discount rate yang terletak di bawah tingkat itu, NPV proyek B lebih tinggi daripada NPV proyek A, dan sebaliknya

Dari gambar dapat dilihat bahwa cross over discount rate terjadi apabila salah satu dari kedua proyek mempunyai :

  1. Benefit netto nominal – yaitu NPV pada discount rate sebesar nol – yang lebih besar, yang berarti bahwa titik potong pada sumbu vertikalnya lebih tinggi (misal, nilai 700 relatif terhadap nilai 500 dalam gambar)
  2. Internal Rate of Return (IRR) – yaitu tingkat discount rate yang menjadikan NPV = 0 yang lebih rendah (misalnya, nilai 30,38% dibandingkan dengan 50% dalam gambar)

Tidak sulit dilihat adanya cross over discount rate dalam contoh sederhana ini karena benefit netto nominal yang lebih besar dalam proyek B baru terwujud satu tahun sesudah terwujudnya benefit proyek A. Maka semakin tinggi discount rate yang dipergunakan, semakin menurun secara proporsional present value suatu nilai yang terwujud dalam tahun t, dibandingakan dengan PV nilai dari tahun – tahun yang lebih awal. Jadi, tiap kenaikan discount rate mengurangi angka perbandingan NPV proyek yang benefit netto nominalnya lebih besar tetapi lebih lambat terwujudnya, terhadap NPV proyek laennya.

Benefit netto yang lebih besar dapat mengimbangi penundaan terjadinya benefit, sehingga proyek itu mempunyai IRR yang lebih tinggi. Misalnya, jika benefit proyek B dalam tahun ke 2 adalah sebesar 2,56 milyar (lebih besar daripada 1,7 milyar), maka IRR proyek B akan menjadi sebesar 60% (sebab 1,60² = 2,56, dan karenanya melebihi IRR proyek A yang besarnya 50%.

Secara umum dapat dikatakan, bahwa apabila dua proyek memenuhi syarat 1 dan 2 di atas (urutan nilai benefit nominal netto berlwanan dengan urutan IRR), maka arus benefit netto proyek dengan IRR yang tertinggi (dalam hal ini proyek A) dapat disesuaikan atas dasar social opportunity cost factor produksi modal – yaitu dengan menganggap bahwa sebagian dari benefitnya ditanamkan kembali, atau untuk tahun – tahun tertentu diasumsikan bahwa penyelenggara proyek meminjam dan menanmkan uang sejumlah benefit tersebut pada tingkat rendemen yang sama – demi mencerminkan pola arus benefit proyek lainnya.

Kesimpulannya dapat dikemukakan bahwa kedua criteria IRR dan Net B/C dapat memberikan urutan atau pilihan yang berbeda apabila terdapat cross over discount rate, dimana social opportunity cost yang dipergunakan sebagai discount rate social lebih rendah daripada cross over discount rate tersebut. Sebaliknya, bila tidak terdapat cross over discount rate ataupun discount rate social yang lebih tinggi dari angka tersebut, kriteria IRR dan Net B/C akan memberikan urutan / pilihan yang sama.

Kesimpulan.
Andaikata benar bahwa tidak mungkin mendapatkan rendemen diatas discount rate saicial melalui investasi sumber – sumber yang dihemat berdasarkan dipilihnya alternative yang relative murah diantara berbagai mutually exclusives alternatives, maka maksimalisasi net present value (NPV) merupakan pendekatan optimal dalam pemilihan proyek. Di laen pihak dalam prakteknya, kita selalu sadar akan adanya keterbatasan dana maupun kemungkinan mendapatan rendemen diatas discount rate yang sedan dipergunakan, apabila kita menghemat dana pada suatu proyek demi mengarahkannya pada proyek lain.

Oleh karena itu, sering kali dicari criteria investasi tambahan berupa indeks yang menghubungkan jumlah keuntungan yang diharapkan dari proyek dan skala investasi yang dibutuhkannya. Kriteria Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR) telah dikembangkan dalam rangka pencarian tersebut.

Kriteria Net B/C mempergunakan discount rate social yang sama seperti NPV, dan merupakan susunan kembali data yang masuk dalam perhitungan NPV. Di lain pihak, perhitungan IRR tidak dipengaruhi oleh tingkat discount rate social, walaupun keputusan “go / no go” untuksuatu proyek tidak mungkin dilakukan tanpa perkiraan tingkat discount rate social tersebut.

Apabila pola pembagian benefit dari berbagai alternative proyek berbeda dari waktu ke waktu maka dapat terjadi cross over discount rate, artinya, pada social opportunity cost factor produksi modal atau discount rate social di bawah tingkat tertentu, NPV atau Net B/C dan IRR memberikan pilihan yang berbeda antara berbagai alternative pelaksanaan suatu proyek atau dalam pengurutan berbagai jenis proyek. Keputusan yang menentukan tentang pilihan proyek tidak dapat dilakukan tanpa asumsi, eksplisit maupun implicit, mengenai tingkat social opportunity cost factor produksi modal yang berlaku sebagai discount rate social.

BAB X. PERKOPERASIAN DI INDONESIA

10.1.  Perkoperasian Indonesia sebagai basis ekonomi kerakyatan
Pada Era Orde Baru, Ekonomi kerakyatan tidak banyak dipergunakan oleh masyarakat. Karena apa? Pemerintah pada saat itu telah memelintirkan Ekonomi Kerakyatan sebagai Paham Komunisme yang patut diwaspadai. Dan masyarakat sendiri hanya bisa menurut dengan kebijakan pemerintah pada saat. Tetapi setelah Reformasi bergulir, pada tahun 1998, maka Masyarakat mulai sadar, bahwasannya Pola Ekonomi yang digulirkan oleh Pemerintahan Orde Baru sangat tidak berpihak kepada kepentingan Rakyat, tetapi hanya berpihak kepada Para Pemodal Besar yang memiliki dasar Ekonomi Kapitalis.

Reformasi 1998 menyadarkan negeri ini bahwa pola ekonomi Orde Baru salah karena tidak berbasis untuk kepentingan rakyat dan berpihak pada kepentingan pemilik modal yang berselingkuh dengan pemerintah. Oleh karena itu, lahirlah gerakan ekonomi kerakyatan yang lahir dari sub Ekonomi Pancasila menekankan pada sila ke-4 yang kenyataannya dilanggar.

Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Nasional Indonesia yang berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan menunjukkan pemihakan sungguh – sungguh pada ekonomi rakyat. Pemihakan dan perlindungan ditujukan pada ekonomi rakyat yang sejak zaman penjajahan sampai hari ini langganan terpinggirkan.

Syarat mutlak berjalannya sistem ekonomi yang adil secara sosial adalah memiliki kedaulatan politik, mampu berdiri sendiri di bidang ekonomi, dan memilki kepribadian secara budaya.

Pembangunan Ekonomi yang didasari prinsip keadilan sosial mencakup: peningkatan partisipasi rakyat dengan otonomi daerah yang penuh dan bertanggung jawab, semangat nasionalisme melakukan perlawanan terhadap bentuk ketidak adilan ekonomi, melakukan pembangunan yang disiplin dan mengedepankan multikultur., menghindari terjadinya disintegrasi, penegakan hak asasi manusia (HAM), reformasi pendidikan dan pengajaran ilmu ekonomi dan sosial baik di sekolah – sekolah dan perguruan tinggi. Prinsip keadilan, merupakan nilai yang mesti menemani berjalannya bangsa ini menuju Indonesia yang sejahtera.

Konsep negara yang demokratis harus terus dipertahankan. Strategi pembangunan ekonomi rakyat adalah strategi menjalankan demokrasi ekonomi yang dijalankan oleh anggota masyarakat. Kesejahteraan rakyat paling diprioritaskan dari pada kesejahteraan Individu. Tidak ada lagi alasan terjadinya kemiskinan di negeri ini seharusnya setiap kebijakan dan program pembangunan memberikan manfaat pada masyarakat yang paling miskin dan paling kurang sejahtera. Jadilah pembangunan generasi masa depan bersama menghasilkan garansi sosial bagi masyarakat yang sangat miskin dan tertinggal.

Salah satunya adalah pembangunan Koperasi yang diolah sendiri oleh masyarakat. Merencanakan dan membangun dengan prinsip membangun tanpa menggusur dan mengembangkan industri kecil. Pada tahun 1908, koperasi digunakan sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat yang seiring dengan berdirinya Budi Utomo. Perjalanan panjang dunia perkoperasian di Indonesia sejak tanggal 12 Juli 1947 merupakan tonggak sejarah dalam membangun dunia perekonomian yang berbasiskan ekonomi kerakyatan. Dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat 1 yang berbunyi perekonomian Indonesia disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Koperasi yang kegiatannya berdasarkan prinsip – prinsip koperasi dan sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Pemerintah Indonesia harus memiliki tekad yang kuat dalam mempertahankan dunia perkoperasian sebagai soko guru perekonomian. Karena koperasi mampu memajukan masyarakat ke depannya. Jika pemerintah kalang kabut dalam menghandle efek – efek dari koperasi, maka dunia perekonomian yang berbasiskan pada ekonomi kerakyatan akan segera hancur.

Koperasi memiliki peran yang strategis dalam membangun perekonomian bangsa. Oleh karena itu, sudah selayaknya dunia perkoperasian harus segera diberikan penyegaran. Globalisasi adalah nafsu serakah dari sebuah sistem Ekonomi kapitalisme – liberal yang tidak boleh dibiarkan dan wajib untuk dilawan dengan kekuatan ekonomi kerakyatan. Masa depan rakyat harus terus diperjuangkan. Perubahan nasib harus dengan usaha. Seluruh elemen negeri harus menyatukan diri dalam satu barisan agar terwujudnya rasa sadar secara menyeluruh untuk terwujudnya keadilan sosial dan kedaulatan rakyat yang sesungguhnya di bidang ekonomi dan politik

10.2.  Koperasi, BUMN, DAN BUMS
a. Pengantar
Kerjasama sangat penting sekali terutama bagi semua sektor usaha, seperti yang diungkapkan oleh Jochen Ropke yaitu, “Setiap pelaku ekonomi manapun dapat mengisi fungsi atau kegiatan koperasi, baik bagi dirinya sendiri (alone) maupun (not alone), yaitu suatu kegiatan khusus yang dikerjakan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga bagi pelaku lainnya”.

Di era globalisasi saat ini juga sangat penting menumbuhkan kerjasama antara Koperasi, BUMN, dan BUMS. Ketiga badan usaha tersebut merupakan sektor utama dalam usaha meningkatkan pembangunan di Indonesia. Selain itu kerjasama tersebut juga digunakan untuk memperkuat peranan masing – masing badan usaha agar tetap eksis dalam kancah perekonomian. Koperasi, BUMN, dan BUMS tidak dapat berkembang sendiri tanpa adanya kerjasama antara berbagai pihak. Kerjasama tersebut bisa pada bidang produksi, distribusi maupun permodalan.

Di era globalisasi ini banyak BUMS yang mendapat modal dari koperasi khususnya Koperasi Perkreditan, contohnya, orang yang ingin membuka sebuah toko maka membutukan modal, modal itu dapat dipinjam melalui Koperasi. Selain itu Koperasi dan BUMS tidak dapat beroperasi secara lancar tanpa adanya BUMN walaupun hal tersebut tidak secara langsung berpengaruh terhadap kinerja Koperasi dan BUMS, misalnya saja dalam hal penyedian listrik. Maka dari itu perlu dikembangkan kerjasama antara koperasi, BUMN, dan BUMS demi kemajuan perekonomian dalam menghadapi era globalisasi.

Kerjasama tersebut selain menguntungkan di pihak negara, badan usaha yang melakukan kerjasama juga dapat mendapat keuntungan dari kerjasama tersebut. Dalam kerjasama antara badan usaha tersebut yang sangat penting adalah menyatukan perbedaan – perbedaan yang ada pada badan usaha tersebut dan hal tersebut merupakan hal yang sangat sulit dikarenakan perbedaan bentuk badan usahanya

b. Aspek Perbedaan dalam Badan Usaha
Di antara badan usaha tersebut terdapat perbedaan dalam banyak aspek. Di bawah ini merupakan delapan dimensi perbedaan dalam tiap badan usaha :

Perbedaan – perbedaan di atas harus disatukan demi terjadinya kerjasama yang harmonis dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Perbedaan tersebut juga dapat digunakan sebagai dasar pembuatan surat perjanjian kerjasama sebagai dasar dalam usaha menjalankan usaha bersama. ( Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002 : 107 )

c. Kerjasama Antara Koperasi, BUMN dan BUMS
Koperasi dapat menjalankan kerjasama dengan pihak diluar koperasi. Tentu saja hal ini harus berdasarkan prinsip usaha yang saling menguntungkan. Kerjasama tersebut dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut :

1.  Membentuk wadah baru yang berbadan hukum
Adalah usaha kerjasama kerjasama koperasi bersama BUMN yang berbentuk badan hukum baru yang mempunyai izin usaha. Kerjasama ini banyak dilakukan oleh koperasi – koperasi sekunder misalnya, Koperasi Susu dan Koperasi Pupuk di Gresik, khususnya yaitu, tingkat induk seperti IKPN dan beberapa induk koperasi lain yang dengan mitra usahanya masing-masing membentuk bank dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada anggota-anggotanya khususnya dalam pemberian kredit maupun membantu menunjang kebutuhan hidup para anggotanya.

2.  Tanpa membentuk wadah baru yang berbadan hukum
Biasanya kerjasama ini berbentuk kemitraan usaha. Kemitraan antara koperasi dengan perusahaan-perusahaan besar lebih merupakan tanggung jawab sosial dalam rangka membantu dan membina koperasi. (Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002)Selain itu kerjasama di bidang usaha dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sebagai berikut :

a) Dengan membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.
Kerjasama ini banyak dilakukan oleh koperasi tingkat sekunder seperti yang dilakukan dalam pendirian Bukopin, KAI, KPI, dan lainnya.
b) Dalam bentuk proyek atau kemitraan usaha tanpa membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.
Cara kerjasama seperti itu sudah dilakukan oleh beberapa koperasi tingkat koperasi sekuder. Dalam hal ini biasanya salah satu pihak bertindak sebagai pelaksana sedangkan yang lain bertindak sebagai pengawas. Kerjasama tersebut biasanya dituangkan dalam surat perjanjian kerjasama yang saling mengikat kedua belah pihak dan atas dasar saling menguntungkan (win-win solution). (Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002 : 94-95 )

Pola kerjasama antara pengusaha dan koperasi yang baik sebenarnya harus mengacu kepada pemberian keuntungan kepada kedua belah pihak. Kemitraan strategis seperti itulah yang berpotensi untuk membuat kemitraan yang lebih adil dan stabil.

Selain itu kerjasama tersebut bisa berupa pembagian pangsa pasar demi meningkatkan penguasaan pasar bagi koperasi dan perluasan hasil produksi bagi perusahaan non koperasi, hal ini diwujudkan dengan :

  1. Pemberian akses yang adil bagi koperasi untuk menjadi rekanan pemerintah daerah dalam pemanfaatan APBD.
  2. Pengembangan pemanfaatan fasilitas trading house dan forum pemasaran bersama melalui program kemitraan.
  3. Pemberian kepastian tempat berusaha bagi koperasi.
  4. Pemberian peranan yang lebih luas dalam kegiatan distribusi, grosir dan eceran dalam rangka pemenuhan bahan pokok.
  5. Pengembangan dan penyebaran informasi bisnis dan harga berbagai komoditas.
  6. Pengembangan jaringan pemasaran.
  7. Peningkatan promosi bisnis dan fokus usaha pada komoditas unggulan.

Hal itu merupakan bentuk-bentuk kerjasama antara Koperasi, BUMN, dan BUMS. ( Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto :2002)

d. Keuntungan – Keuntungan dalam Melakukan Kerjasama
Melakukan kerjasama pada dasarnya adalah untuk mencari keuntungan dan untuk memperluas distribusi hasil produksi. Keuntungan-keuntungan tersebut diantaranya :

  1. Meningkatkan kemampuan tawar (Bargaining Power) terhadap pihak ketiga.
  2. Menjamin kontinuitas pemasukan bahan baku.
  3. Biaya dapat ditekan jauh lebih rendah karena dapat berproduksi secara besar-besaran (Economic Of Scale).
  4. 4.    Bila kerjasama dilakukan oleh koperasi tingkat atasnya dan bidang usahanya mengadakan integrasi vertikal maka akan dapat menurunkan biaya transaksi (Transaction Cost).
  5. Bila kerjasama dilakukan secara horizontal maka akan meningkatkan kemampuan bersaing terhadap pihak ketiga. (Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto : 2002 )

Selain itu kerjasama juga dapat memberikan pelatihan kewirausahan kepada koperasi sehingga mampu menghadapi tantangan dalam dunia perekonomian di era globalisasi sehingga tujuan utama koperasi sbagai soko guru perekonomian indonesia akan terwujud.

Kerjasama tersebut akan lebih efektif bila semua pihak yang berkepentingan saling mendukung dan saling mengisi satu sama lain dengan kata lain dalam kerjasama tidak akan berbicara banyak dalam dunia usaha di era globalisasi saat ini.

Beberapa jenis koperasi di Amerika Serikat yang telah melebarkan sayapnya untuk dapat melaksanakan kegiatan – kegiatan kerjasama  dengan negara berkembang antara lain :

  1. NRERA ( National Rular Electric Coopertive Assosiation ) atau perhimpunan koperasi listrik pedesaan nasional membangun koperasi listrik pedesaan di beberapa negara berkembang di Amerika Latin dan Asia.
  2. CLUSA ( Cooperative Leages of United States of America ) atau liga koperasi Amerika Serikat yang telah membantu di bidang manajemen untuk kegiatan-kegiatan pertanian di Amerika Latin, Afrika dan Asia.
  3. FCH ( Federation of Cooperatives Housing ) yang telah memberikan bantuan untuk mendirikan perumahan di seluruh dunia. ( Muhammad Firdaus dan Agus Edhi Susanto :2002)

Nampak bahwa organisasi koperasi di Amerika Serikat ikut serta mengembangkan koperasi di negara berkembang dengan perantara pemerintah dalam hal ini BUMN maupun dengan BUMS.

Koperasi Indonesia juga tidak ikut ketinggalan, banyak koperasi – koperasi di desa – desa mendapat input dari hasil kerja masyarakat sekitar, contohnya adalah, Koperasi susu mendapat input berupa susu segar dari produsen susu di sekitarnya dan nantinya akan diambil perusahaan susu (NESTLE).

e. Hubungan Kerjasama Antara Koperasi, BUMN, dan BUMS
Untuk mengadakan pemisahan tugas dan wewenang antara Koperasi, BUMN, dan BUMS dalam melakukan kerjasama maka harus berpedoman kepada :

  1. Surat perjanjian kerjasama.
  2. Tugas dan wewenang masing-masing badan usaha.
  3. Prinsip kerjasama yang saling menguntungkan.
  4. Peraturan yang dibuat pemerintah.
  5. Asas dan landasan yang telah disepakati.

Hubungan kerjasama tersebut merupakan murni hubungan kerjasama sehingga badan usaha tidak boleh memeriksa badan usaha yang lain di luar hubungan kerja yang telah disepakati dan tanpa persetujuan dari perusahaan yang bersangkutan. Hal ini agar tidak terjadi saling curiga antara badan usaha yang melakukan kerjasama.

f. Kerjasama Antar Koperasi
Dalam bukunya, Arifin Sitio dan Halomoan Tamba mengungkapkan bahwa koperasi – koperasi ada yang mempunyai bidang usaha yang berbeda serta tingkatan yang berbeda. Kerjasama antar koperasi dimaksudkan untuk saling memanfaatkan kelebihan dan menghilangkan kelemahan masing – masing, sehingga hasil akhir dapat dicapai secara optimal. Kerjasama tersebut diharapkan akan saling menunjang pendayagunaan sumberdaya sehingga diperoleh hasil yang lebih optimal.

Kerjasama antar koperasi dapat dilakukan di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Prinsip ini sebenarnya lebih bersifat strategi dalam bisnis. Dalam teori bisnis ada yang dikenal “Synergy Strategy” yang salah satu aplikasinya adalah kerjasama antar dua organisasi atau perusahaan.

g. Kesimpulan
Dalam melakukan kerjasama terdapat  delapan dimensi perbedaan yang harus di satukan demi tercapai kerjasama yang di inginkan, dimensi tersebut adalah :

  1. Pengguna jasa.
  2. Pemilik usaha.
  3. Pemilik hak suara.
  4. Pelaksana voting.
  5. Balas jasa terhadap modal.
  6. Penentuan kebijaksanaan.
  7. Penerima laba.
  8. Yang bertanggung jawab atas kerugian.

Kerjasama tersebut dapat dilakukan dalam bentuk :

  1. Membentuk wadah baru yang berbadan hukum.
  2. Tanpa membentuk wadah baru yang berbadan hukum.
  3. Dengan membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.
  4. Dalam bentuk proyek atau kemitraan usaha tanpa membentuk organisasi baru yang berbadan hukum.

Keuntungan yang diperoleh dengan kerjasama :

  1. Peningkatan kemampuan tawar.
  2. Menjamin kontinuitas pemasokan bahan baku.
  3. Biaya dapat ditekan jauh lebih rendah.
  4. Dapat menurunkan biaya transaksi.
  5. Meningkatkan kemampuan bersaing.

Hubungan Kerjasama berpedoman pada :

  1. Surat perjanjian Kerjasama.
  2. Tugas dan wewenang masing-masing badan usaha.
  3. Prinsip Kerjasama yang saling menguntungkan.
  4. Peraturan yang dibuat pemerintah.
  5. Asas dan landasan yang telah di sepakati.

BAB XI. PENUTUP
Sebagai penutup diktat kuliah ini, perlu ditegaskan bahwa :

  1. Mata kuliah Kewirausahaan merupakan mata kuliah yang memadukan antara Konsep Hard Skill (Kemampuan Akademis) dan Soft Skill (Kemampuan pengembangan diri), sehingga kedua karakter tersebut harus seiring sejalan untuk menuju kesuksesan wirausaha.
  2. Dalam belajar Kewirausahaan, setiap bab selalu berhubungan satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Pembagian dalam bab-bab diperlukan untuk mempertajam suatu analisis.
  3. Kesempatan bertanya dan berdiskusi kepada pengampu pada setiap acara perlu dimanfaatkan mahasiswa dengan sebesar-besarnya sehingga diperoleh manfaat pendalaman dan pengembangan pengetahuan Kewirausahaan.
  4. Praktek Kewirausahaan perlu dilakukan untuk belajar kemandirian usaha.

Akhir kata, semoga Diktat Kewirausahaan ini bisa menjadi pegangan dan bahan kajian bagi mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri dan para peminat dan pemerhati Kewirausahaan khususnya dibidang pertanian dan peternakan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Arifin Sitio, Halomoan Tamba. 2001. Koperasi : Teori dan Praktik. Jakarta : Erlangga
  2. Buchari Alma. (2000). Kewirausahaan. Alfabeta, Bandung.
  3. C.S.T. Kansil, 1984, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, PN Balai Pustaka.
  4. Firdaus, Muhammad,S.P., M.M, Agus Edhi Susanto, S.E. 2002. PERKOPERASIAN: Sejarah, Teori, & Praktek. Jakarta : Ghalia Indonesia.
  5. http://westaction.org/definitions/def_entrepreneurship_1.html yang diakses pada tanggal 13 Januari 2006
  6. H.S.M. Serad, Pola Kemitraan PT. Djarum dengan Petani Tembakau, tanggal 13 September 1997, Makalah yang disampaikan pada Lokakarya Alternatif Kemitraan Usaha Yang Berkesinambungan, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.
  7. John L. Mariotti dalam Muhammad Jafar Hafsah, 1999, Kemitraan Usaha, Pustaka Sinar Harapan Jakarta.
  8. Julius Bobo, 2003, Transformasi Ekonomi Rakyat, PT. Pustaka Cidesindo, Jakarta.
  9. Kasmir, 2007, Kewirausahaan, PT RajaGrafindo Perkasa, Jakarta
  10. Keint L Fletcher, 1987, The Law of Partnership, The Law Book Company Limited, Syidney.
  11. Lihat Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil
  12. Masykur Wiratmo, 1994, Kewirausahaan: Seri diktat kuliah, Gunadarma, Jakarta.
  13. Mas’ud & Mahmud Machfoedz, 2004, UPP AMP YKPN, Yogyakarta.
  14. Muhammad Jafar Hafsah, 1999, Kemitraan Usaha, Pustaka Sinar Harapan , Jakarta.
  15. Munir Fuady, 1997, Pembiayaan Perusahaan Masa Kini (Tinjauan Hukum Bisnis), PT. Citra Aditya Bakti.
  16. Mubyarto, 1997, Ekonomi Rakyat Program IDT dan Demokrasi Ekonomi Indonesia, Aditya Media, Jogyakarta.
  17. Martin Carnoy dan Derek Shearer, 1980, Economic Democracy, Sharpe Inc.
  18. Mar’at. (1997). Sikap Manusia Perubahan serta Pengukurannya. Ghalia Indonesia.
  19. Margono Slamet. (2003). Membentuk Pola Perilaku Manusia Pembangunan. IPB PRESS. Bogor.
  20. Prof. Dr. Jochen Röpke diterjemahkan oleh Hj. Sri Djatnika S. Ariffin, S.E., M.Si. 2000. EKONOMI KOPERASI : Teori dan Manajemen. Jakarta : Salemba Empat.
  21. Ronny Hanitijo Soemitro, 1988, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimerti, Ghalia, Jakarta.
  22. Soeparman Soemahamidjaja. (1997). Membina Sikap Mental Wirausaha. Gunung Jati. Jakarta
  23. Sedarmayanti, Prof.  Dr. MPd, APU (2007) Good Governance dan Good Coorparate Governace, Mandar Maju Bandung
  24. Soesarsono, 2002, Pengantar Kewirausahaan, Buku I, Jurusan Teknologi Industri IPB, Bogor
  25. Soewito, Pengembangan Industri Kecil, Suara Merdeka 12 Desember 1992
  26. Suryana, 2001, Kewirausahaan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
  27. Soetandyo dalam Bambang Sunggono, 2002, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
  28. Triton PB., 2007, Entrepreneurship : Kiat Sukses Menjadi Pengusaha, Tugu Publisher, Yogyakarta.
  29. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud, 1991, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
  30. Utrecht dalam Kansil, 1983, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka,Jakarta.
  31. Winardi, 2003, Entrepreneur & Entrepreneurship, Kencana, Jakarta
  32. Yose Rizal Sidi Marajo. (1981). Sikap dan Mental Wiraswasta. Indah Surabaya
  33. Bahan lain dari Internet.

Tambahan : Tentang Hubungan Kewirausahaan dengan Lingkungan dan adanya Wirausahawan Baru

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





Diktat Kewirausahaan-3

23 07 2012

BAB V.  FUNGSI  DAN  MODEL  PERAN WIRAUSAHA

5.1. Model Peran Wirausaha
Roopke, 1995, mengelompokkan kewirausahaan berdasarkan perannya, yaitu :

1. Kewirausahaan rutin
Wirausaha yang dalam melakukan kegiatan sehari-harinya cenderung menekankan pada pemecahan masalah dan perbaikan standar prestasi tradisional. Menghasilkan barang, pasar, dan teknologi. Dibayar dalam bentuk gaji
2. Kewirausahaan arbitrase
Wirausaha yang selalu mencari peluang melalui kegiatan penemuan (pengetahuan) dan pemanfaatan (pembukaan). Kegiatan ini tidak perlu melibatkan pembuatan barang dan tidak perlu menyerap dana pribadi
3. Wirausaha inovatif
Wirausaha yang menghasilkan ide-ide dan kreasi baru yang berbeda

Pengelompokkan kewirausahaan berdasarkan intensitas pekerjaan dan status (Zimerer, 1996):
1. Part time Entreprenuer
Wirausaha yang melakukan usahanya hanya sebagian waktu saja dan mengerjakannya sebagai hobi
2. Home-base New Ventures
Usaha yang dirintis dari rumah/tempat tinggalnya
3. Family Own Business
Usaha yang dilakukan/dimiliki oleh beberapa anggota keluarga secara turun-temurun
4. Copreneurs
Usaha yang dijalankan oleh dua orang wirausaha yang bekerja sama sebagai pemilik dan menjalankan usahanya bersama-sama

5.2. Fungsi Makro dan Mikro Usaha
a. Fungsi Makro
Wirausaha berperan sebagai penggerak, pengendali, dan pemacu perekonomian suatu bangsa.

Hasil-hasil dari penemuan ilmiah, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kreasi-kreasi baru dalam produk barang dan jasa-jasa yang berskala global, hal ini merupakan proses dinamis wirausaha yang kreatif. Bahkan wirausahalah yang berhasil menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

J.B Say berpendapat bahwa wirausahawan adalah orang yang menggeser sumber-sumber ekonomi dari produktivitas terendah menjadi produktivitas tertinggi, menurutnya wirausahawanlah yang menghasilkan perubahan. Perubahan itu tidak dilakukan dengan mengerjakan sesuatu yang lebih baik tetapi dengan melakukan sesuatu yang berbeda

Secara kualitatif fungsi makro ini diperankan oleh usaha kecil. Berikut adalah peranannya dalam perekonomian nasional:

  1. Usaha kecil memperkokoh perekonomian nasional yang berperan sebagai fungsi pemasok, fungsi produksi, fungsi penyalur, dan pemasar bagi hasil produk-produk industri besar
  2. Usaha kecil dapat meningkatkan efisiensi ekonomi khususnya dalam menyerap sumber daya yang ada
  3. Usaha kecil yang dipandang sebagai sarana pendistribusian pendapatan nasional, alat pemerataan dalam berusaha dan pemerataan dalam pendapatan

b. Fungsi Mikro
Peran wirausaha adalah penanggung resiko dan ketidakpastian, mengkombinasikan sumber-sumber ke dalam cara yang baru dan berbeda untuk menciptakan nilai tambah dan usaha-usaha baru.

Menurut Marzuki Usman (1997), secara umum wirausaha adalah menciptakan nilai barang dan jasa dipasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru yang berbeda untuk dapat bersaing. Nilai tambah tersebut diciptakan melalui:

  • Pengembangan teknologi baru
  • Penemuan pengetahuan baru
  • Perbaikan produk dan jasa yang ada
  • Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menyediakan barang dan jasa dengan jumlah yang lebih banyak dengan menggunakan sumber daya yang lebih sedikit

Selain entreprenuer, istilah lain yang juga dikenal adalah konsep intraprenuer dan benchmarking:

  • Intraprenuer, ialah wirausaha yang menggunakan temuan orang lain pada unit usahanya. Fungsinya adalah imitating technology dan duplicating product
  • Benchmarking adalah meniru dan mengembangkan produk baru melalui perkembangan teknologi

Selama ini orang lebih sering membicarakan dan mengadakan pelatihan seputar Entrepreneur. Pelatihan entrepreneur juga lebih berorientasi personal, mendorong seseorang untuk mulai berani mengambil resiko usaha mandiri, karena memang secara terminologi entrepreneur bermakna demikian :a person who sets up a business or businesses, taking on greater than normal financial risks in order to do so. Ada satu hal yang sebenarnya jauh lebih kuat dan efektif jika dipupuk terus-menerus dalam sebuah organisasi, entah itu organisasi laba maupun nirlaba, yakni Budaya Intrapreneurial.

Hermawan Kartajaya menjelaskan tentang Intrapreneurial Culture ini sebagai berikut : Organisasi yang dibangun harus bisa menciptakan iklim yang memungkinkan tumbuh suburnya internal entrepreneur (intrapreneur). Di dalam organisasi semacam ini, manajemen harus mendorong dan mengembangkan inisiatif individu, intuitive thinking, take risk mentality, dan ide-ide orisinil yang kontroversial. Orang-orang di dalam organisasi harus juga selalu berpikir untuk merealisasikan setiap ide yang muncul mencapai tahap komersialisasi. Jadi perbedaan mendasar Entrepreneur dan Intrapreneur adalah dari sisi “kelompok” (team).

Karena pengertian organisasi sangatlah luas, maka intrapreneur sesungguhnya bisa dikembangkan secara fleksibel di berbagai tingkatan, mulai dari keluarga, RT, hingga perusahaan besar. Walaupun dilakukan ”berkelompok”, bukan berarti intrapreneur lebih mudah daripada ”wirausaha mandiri”. Perpaduan antara kepemimpinan (leadership) dan manajemen akan menentukan keberhasilan organisasi dalam mewujudkan hal ini.

Untuk menuju sebuah organisasi intrapreneur yang mapan, harus ada pula budaya pembelajaran di organisasi yang dikembangkan bersama-sama pemimpin dan pasukannya. Sehingga langkah pertama membangun sebuah organisasi intrapreneur dapat disimpulkan kemudian adalah membentuk terlebih dahulu sebuah “learning organization”.Dalam sebuah learning organization, amanah terbesar di setiap personalnya adalah mengembangkan kemampuan masing-masing di bidang yang telah diberikan dalam bentuk job description di struktur organisasi. Pemilihan orang yang tepat di posisi yang tepat pada saat awal pembentukan organisasi juga diperlukan, tidak asal menempatkan orang sesukanya di posisi-posisi strategis. Tidak hanya orang yang tepat, tapi juga orang yang memiliki semangat pengembangan diri (self development). Jika alur ini dari awal diperhatikan dengan baik, maka budaya intrapreneur akan terbentuk dengan sendirinya di organisasi tersebut.

Wirausaha adalah perintis dan pengembang perusahaan yang berani mengambil resiko dalam menghadapi ketidakpastian dengan cara mengelola sumber daya manusia, material, dan keuangan untuk mencapai tingkat keberhasilan tertentu yang diinginkan. Salah satu kunci keberhasilan adalah memiliki tujuan dan visi untuk mencapainya (Steinhoff dan Burges, 1993).

5.3. Tantangan Kewirausahaan dalam Konteks Global
Negara-negara yang unggul dalam sumber dayanya akan memenangkan persaingan, sebaliknya negara-negara yang tidak memiliki keunggulan bersaing dalam sumber daya akan kalah dalam persaingan. Negara-negara yang memiliki keunggulan bersaing adalah negara-negara yang mampu memberdayakan sumber daya manusianya secara nyata.

Demikian juga pertumbuhan penduduk dunia yang semakin cepat disertai persaingan yang tinggi akan menimbulkan berbagai angkatan kerja yang kompetitif dan akan menimbulkan pengangguran bagi sumber daya manusia yang tidak memiliki keunggulan daya saing yang kuat

BAB VI.  MERINTIS USAHA BARU DAN MODEL PENGEMBANGANNYA
6.1.  Cara memasuki dunia Usaha
Ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha:
1. Merintis usaha baru (starting)

  • Perusahaan milik sendiri (sole proprietorship), bentuk usaha yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh seseorang.
  • Persekutuan (partnership), suatu kerjasama (aosiasi) dua orang atau lebih yang secara bersama-sama menjalankan usaha bersama.
  • Perusahaan berbadan hukum (corporation), perusahaan yang didirikan atas dasar badan hukum dengan modal saham-saham.

2. Dengan membeli perusahaan orang lain (buying)
3. Kerjasama manajemen (franchising)

A.   Merintis Usaha Baru
Wirausaha adalah seseorang yang mengorganisir, mengelola, dan memiliki keberanian menghadapi resiko. Sebagai pengelola dan pemilik usaha (business owner manager) atau pelaksana usaha kecil (small business operator), ia harus memiliki:

  • Kecakapan untuk bekerja
  • Kemampuan mengorganisir
  • Kreatif
  • Lebih menyukai tantangan

Menurut hasil survei Peggy Lambing: Sekitar 43% responden (wirausaha) mendapatkan ide bisnis dari pengalaman yang diperoleh ketika bekerja di beberapa perusahaan atau tempat-tempat profesional lainnya, Sebanyak 15% responden telah mencoba dan mereka merasa mampu mengerjakannya dengan lebih baik dan Sebanyak 11% dari wirausaha yang disurvei memulai usaha untuk memenuhi peluang pasar, sedangkan 46% lagi karena hobi.

Menurut Lambing ada dua pendekatan utama yang digunakan wirausaha untuk mencari peluang dengan mendirikan usaha baru:

  1. Pendekatan ”in-side out” atau ”idea generation” yaitu pendekatan berdasarkan gagasan sebagai kunci yang menentukan keberhasilan usaha.
  2. Pendekatan ”the out-side in” atau “opportunity recognition” yaitu pendekatan yang menekankan pada basis ide merespon kebutuhan pasar sebagai kunci keberhasilan.

Berdasarkan pendekatan ”in-side out”, untuk memulai usaha, seseorang calon wirausaha harus memiliki kompetensi usaha. Menurut Norman Scarborough, kompetensi usaha yang diperlukan meliputi:

a. Kemampuan teknik                         c.  Kemampuan finansial
b. Kemampuan pemasaran               d.  Kemampuan hubungan

Dalam merintis usaha baru, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Bidang dan jenis usaha yang dimasuki.
Beberapa bidang usaha yang bisa dimasuki, diantaranya:

  • Bidang usaha pertanian (pertanian, kehutanan, perikanan, dan perkebunan).
  • Bidang usaha pertambangan (galian pasir, galian tanah, batu, dan bata).
  • Bidang usaha pabrikasi (industri perakitan, sintesis).
  • Bidang usaha konstruksi (konstruksi bangunan, jembatan, pengairan, jalan raya).
  • Bidang usaha perdangan (retailer, grosir, agen, dan ekspor-impor).
  • Bidang jasa keuangan (perbankan, asuransi, dan koperasi).
  • Bidang jasa perseorangan (potong rambut, salon, laundry, dan catering).
  • Bidang usaha jasa-2 umum (pengangkutan, pergudangan, wartel, dan distribusi).
  • Bidang usaha jasa wisata (usaha jasa parawisata, pengusahaan objek dan daya tarik wisata dan usaha sarana wisata).

2. Bentuk usaha dan kepemilikan yang akan dipilih
Ada beberapa kepemilikan usaha yang dapat dipilih, diantaranya perusahaan perseorangan, persekutuan (dua macam anggota sekutu umum dan sekutu terbatas), perseroan, dan firma.

3. Tempat usaha yang akan dipilih
Dalam menentukan tempat usaha ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan, diantaranya:

  • Apakah tempat usaha tersebut mudah dijangkau oleh konsumen atau pelanggan maupun pasar?
  • Apakah tempat usaha dekat dengan sumber tenaga kerja?
  • Apakah dekat ke akses bahan baku dan bahan penolong lainnya seperti alat pengangkut dan jalan raya

4. Organisasi usaha yang akan digunakan.
Kompleksitas organisasi usaha tergantung pada lingkup atau cakupan usaha dan skala usaha. Fungsi kewirausahaan dasarnya adalah kreativitas dan inovasi, sedangkan manajerial dasarnya adalah fungsi-fungsi manajemen. Semakin kecil perusahaan maka semakin besar fungsi kewirausahaan, tetapi semakin kecil fungsi manajerial yang dimilikinya.

5. Lingkungan usaha
Lingkungan usaha dapat menjadi pendorong maupun penghambat jalannya perusahaan. Lingkungan yang dapat mempengaruhi jalannya usaha/perusahaan adalah lingkungan mikro dan lingkungan makro.

Lingkungan mikro adalah lingkungan yang ada kaitan langsung dengan operasional perusahaan, seperti pemasok, karyawan, pemegang saham, majikan, manajer, direksi, distributor, pelanggan/konsumen, dan lainnya.

Lingkungan makro adalah lingkungan diluar perusahaan yang dapat mempengaruhi daya hidup perusahaan secara keseluruhan, meliputi lingkungan ekonomi, lingkungan teknologi, lingkungan sosial, lingkungan sosiopolitik, lingkungan demografi dan gaya hidup.

B. Membeli Perusahaan yang sudah didirikan
Banyak alasan mengapa seseorang memilih membeli perusahaan yang sudah ada daripada mendirikan atau merintis usaha baru, antara lain:

  • Resiko lebih rendah
  • Lebih mudah
  • Memiliki peluang untuk membeli dengan harga yang dapat ditawar

Membeli perusahaan yang sudah ada juga mengandung permasalahan, yaitu:

  1. Masalah eksternal, yaitu lingkungan misalnya banyaknya pesaing dan ukuran peluang pasar
  2. Masalah internal, yaitu masalah-masalah yang ada dalam perusahaan, misalnya image atau reputasi perusahaan.

C. Franchising (Kerjasama Manajemen/Waralaba)
Franchising adalah kerjasama manajemen untuk menjalankan perusahaan cabang/penyalur. Inti dari Franchising adalah memberi hak monopoli untuk menyelenggarakan usaha dari perusahaan induk. Franchisor adalah (perusahaan induk) adalah perusahaan yang memberi lisensi, sedangkan franchise adalah perusahaan pemberi lisensi (penyalur atau dealer).

6.2.  Profil Usaha Kecil Dan Model Pengembangannya
Sampai saat ini batasan usaha kecil masih berbeda-beda tergantung pada fokus permasalahan masing-masing.

1. Menurut UU no.9/1995 Pasal 5 tentang usaha kecil, menyebutkan :

  • Menurut BPS (1988) usaha kecil memiliki tenaga kerja 5 s/d 19 orang yang termasuk pekerja kasar, pekerja pemilik dan pekerja keluarga. Perusahaan yang memiliki tenaga kerja kurang dari 5 orang diklasifikasikan sebagai industri rumah tangga.
  • Menurut Stanley dan Morse industri yang menyerap tenaga kerja 1-9 orang termasuk industri kerajinan rumah tangga, Industri kecil menyerap tenaga kerja 10-49 orang, industri sedang menyerap 50–99 orang dan industri besar menyerap tenaga kerja 100 orang atau lebih

2. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- tidak termasuk tanah dan tempat usaha, atau
3. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp.1.000.000.000,-

Sedangkan menurut Komisi Perkembangan Ekonomi mengemukakan kriteria usaha kecil sebagai berikut :

  1. Manajemen berdiri sendiri, manajer adalah pemilik
  2. Modal disediakan oleh pemilik
  3. Daerah operasi bersifat lokal
  4. Ukuran dalam keseluruhan relatif kecil.

Selain memiliki ciri-ciri diatas usaha kecil memiliki kekuatan dan kelemahan.

a. Kekuatan usaha kecil adalah :

  • memiliki kebebasan untuk bertindak
  • Fleksibel
  • Tidak mudah goncang

b. Kelemahan Usaha Kecil

  • aspek kelemahan struktural adalah kelemahan usaha kecil dalam manajemen, organisasi, teknologi, sumber daya dan pasar.
  • Kelemahan kultural adalah kelemahan dalam budaya perusahaan yang kurang menceminkan perusahaan sebagai Corporate culture. Kelemahan kultural mengakibatkan kelemahan struktural.Kelemahan kultural mengakibatkan kurangnya akses informasi dan lemahnya berbagai persyaratan lain guna memperoleh akses permodalan, pemasaran dan bahan baku.

6.3.  Pengelolaan Usaha dan Strategi Kewirausahaan
Perencanaan Usaha adalah suatu cetak biru tertulis (blue print) yang berisikan tentang misi usaha, usulan usaha, operasional usaha, rincian financial, strategi usaha, peluang pasar yang mungkin diperoleh, dab kemampuan serta keterampilan pengelolaannya. Perencanaan usaha mempunyai dua fungsi penting, yaitu :

  1. Sebagai pedoman untuk mencapai keberhasilan manajemen usaha, dan
  2. Sebagai alat untuk mengajukan kebutuhan permodalan yang bersumber dari luar.

Dalam Perencanaan bisnis umumnya memuat sejumlah topic, yang meliputi : Ringkasan eksekutif, Pernyataan misi, Lingkungan Usaha, Perencanaan pemasaran, Tim Manajemen, Data financial, Aspek-aspek legal, Jaminan Asuransi, Orang-orang penting, Pemasok dan Risiko.

Pada Pengelolaan Usaha, umumnya menyangkut beberapa pengelolaan, yaitu :

A. PENGELOLAAN KEUANGAN
Tiga aspek yang harus diperhatikan dalam pengelolaan keuangan :

  1. Aspek sumber dana
  2. Aspek rencana & penggunaan dana
  3. Aspek pengawasan atau pengendalian keuangan.

Sumber-sumber keuangan perusahaan :

  1. Dana yang berasal dari perusahaan (pembelanjaan internal)
  2. Penggunaan dana perusahaan
  3. Penggunaan cadangan
  4. Penggunaan laba yang tidak dibagi
  5. Dana yang berasal dari luar perusahaan (pembelanjaan eksternal)
  6. Dana dari pemilik atau penyertaan.
  7. Dana yang berasal dari pinjaman, baik jangka panjang atau jangka pendek.
  8. Dana bantuan program pemerintah dari pusat dan daerah.
  9. Dana dari teman atau keluarga yang menanamkan modalnya.
  10. Dana ventura (investasi dana dari perusahaan besar)

Perencanaan Keuangan & Penggunaan dana, hal-hal yang harus diperhatikan :
1. Biaya awal, adalah biaya yang diperlukan ketika perusahaan akan berdiri.
2. Proyeksi atau rancangan keuangan meliputi :

  • Neraca harian
  • Laporan laba rugi
  • Laporan arus kas
  • Analisa pulang pokok

B. TEKNIK & STRATEGI PEMASARAN
Pemasaran yaitu kegiatan meneliti kebutuhan & keinginan konsumen (probe/search), menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen(product), menentukan tingkat harga (price), mempromosikannya agar produk dikenal konsumen (promotion), dan mendistribusikan produk ke tempat konsumen (place). Tujuan pemasaran adalah bagaimana barang & jasa yang dihasilkan disukai, dibutuhkan dan dibeli oleh konsumen.

Perencanaan Pemasaran meliputi beberapa langkah, yaitu ;
1. Menentukan kebutuhan & keinginan pelanggan ( dengan melakukan riset pasar).
2. Memilih pasar sasaran khusus. Ada 3 jenis pasar sasaran khusus :

  • Pasar individual
  • Pasar khusus

Segmentasi pasarMenempatkan strategi pemasaran dalam persaingan.
Ada enam strategi pemenuhan permintaan dari lingkungan (juga masuk dlm strategi dari bauran pemasaran):

  1. Berorientasi pada pelanggan.
  2. Kualitas
  3. Kenyamanan
  4. Inovasi
  5. Kecepatan ( penempatan produk & respon keinginan consumer)
  6. Pelayanan & kepuasan pelanggan

C. PRODUK
Produk memiliki siklus hidup yang terdiri dari tahap pengembangan, pengenalan, pertumbuhan, penjualan, kematangan, kejenuhan dan penurunan.

D. HARGA
Factor-faktor yang harus dipertimbangkan antara lain ;

  1. Biaya barang dan jasa
  2. Permintaan & penawaran pasar
  3. Antisipasi volume pasar
  4. Harga pesaing
  5. Kondisi keuangan
  6. Lokasi usaha
  7. Fluktuasi musiman
  8. Faktor psikologis pelanggan
  9. Bunga kredit dan bentuk kredit
  10. Sensitivitas harga pelanggan (elastisitas permintaan)

E. STRATEGI PEMASARAN (BAGI USAHA BARU)

  1. Penetrasi pasar, dengan memperbesar volume penjualan dan periklanan
  2. Pengembangan pasar, peningkatan penjualan dengan pengenalan produk pada pasar baru.
  3. Pengembangan produk, modifikasi produk yang sudah ada untuk meningkatkan penjualan.
  4. Segmentasi pasar, pemasaran produk berdasarkan segmennya.

F. TEKNIK PENENTUAN HARGA

1. Produk baru, bertujuan untuk :

  1. Menghasilkan produk yang dapat diterima oleh konsumen potensial, tidak peduli berapa banyaknya.
  2. Memelihara pangsa pasar sebagai akibat tumbuhnya persaingan.
  3. Memperoleh laba.

2. Untuk barang konsumsi :

  1. Harga dibawah pasar untuk produk yang sama
  2. Harga di atas harga pasar
  3. Harga sama dengan harga pasar.

3. Untuk barang industri:

  1. Strategi Cost-Plus Pricing. Dengan menambahkan margin laba terhadap biaya-biaya langsung.
  2. Biaya langsung & formulasi harga. Tidak termasuk biaya overhead pabrik
  3. Penentuan Harga jual model pulang pokok. Dengan menghitung besar persentasi tertentu dari total penjualan yang digunakan untuk biaya variable.

4. Untuk jasa
Menentukan harga berdasarkan material yang digunakan untuk menyediakan jasa, tenaga kerja dan untuk memperoleh laba.

G. PROMOSI
Promosi bertujuan :

  1. Menginformasikan barang/jasa yang dihasilkan pada konsumen
  2. Membujuk konsumen agar mau membeli barang/ jasa yang dihasilkan.
  3. Mempengaruhi konsumen agar tertarik terhadap barang/ jasa yang kita hasilkan.

Beberapa jenis promosi ;

  1. Iklan (media cetak & elektronik)
  2. Promosi penjualan (pameran)
  3. Wiraniaga (dengan produk sampel ke konsumen)
  4. Pemasaran langsung (langsung menghubungi konsumen)
  5. Humas ( mempublikasikan barang melalui pamflet dsb)

H.  KIAT PEMASARAN USAHA BARU

  1. Peluang Pasar
  2. Barang dan jasa apa yang paling dibutuhkan konsumen?
  3. Berapa banyak yang mereka butuhkan?
  4. Kualitas mana yang paling tepat?
  5. Berapa banyaknya?
  6. Tempat yang tepat
  7. Banyak barang yang dibutuhkan
  8. Target yang hendak dicapai

I. TEKNIK PENGEMBANGAN USAHA
1. Pengembangan skala ekonomis
Dengan menambah skala produksi, tenaga kerja, teknologi, system distribusi, dan tempat usaha.
2. Perluasan Cakupan Usaha
Dengan menambah jenis usaha baru, produk dan jasa baru yang sekarang diproduksi (diversifikasi), serta teknologi yang berbeda.

6.4. Manajemen Dan Strategi Kewirausahaan
Manajemen kewirausahaan semua kekuatan perusahaan yang menjamin bahwa usahanya betul-betul eksis.
Strategi kewirausahaan Kesesuaian kemampuan internal dan aktivitas perusahaan dengan lingkungan eksternal.
Strategi kewirausahaan, meliputi beberapa keputusan strategis, yaitu :

  1. Perubahan produk barang dan jasa.
  2. Strategi menyangkut penetrasi pasar, ekspansi pasar, diversifikasi produk dan jasa, integrasi regional, atau ekspansi usaha.
  3. Kemampuan untuk memperoleh modal investasi .
  4. Analisa sumber daya manusia.
  5. Analisa pesaing untuk memantapkan strategi bersaing.
  6. Kemampuan menopang keunggulan strategi perusahaan dan modifikasi strategi.
  7. Penentuan harga barang atau jasa, untuk jangka pendek dan jangka panjang.
  8. Interaksi perusahaan dengan masyarakat luas.
  9. Pengaruh pertumbuhan perusahaan yang cepat terhadap aliran kas.

Wirausaha yang berfungsi sebagai manajer perusahaan, harus memiliki kompetensi yaitu :

  1. Berfokus pada pasar bukan pada teknologi.
  2. Meramal pendanaan untuk menghindari tidak terdanainya perusahaan.
  3. Mambangun tim manajemen.
  4. Memberikan peran khusus bagi penemu.

6.5.    Strategi Bersaing dalam Kewirausahaan
A. Pendahuluan
Tidak dapat disangkal lagi bahwa kesinambungan hidup perusahaan sangat bergantung pada ketahanan wirausaha dalam meraih keunggulan dalam bersaing melalui strategi yang dimilikinya. Strategi perusahaan adalah cara-cara perusahaan menciptakan nilai melalui konfigurasi dan koordinasi aktivitas multipemasaran. Teori ekonomi mikro dari mazhab Austria, dikemukakan bahwa perusahaan bisa memperoleh keuntungan apabila memiliki keunggulan yang unik untuk menghindari persaingan sempurna.

Dalam mata kuliah kewirausahaan, mahasiwa dituntut untuk mengerti dan memahami perkembangan stategi kewirausahaan dalam konteks persaingan. Mahasiswa juga dituntut untuk bisa menjelaskan strategi generik dan keunggulan bersaing dalam kewirausahaan dan juga bisa menjelaskan konsep 7’-S” dalam memasuki persaingan. Semua ini dimaksudkan apabila mahasiswa telah mempunyai suatu bidang usaha, mereka mampu mengembangkan dan mempertahankan usaha mereka tersebut.

B. Kompetensi Inti Kewirausahaan
Dalam manajemen perusahaan modern seperti sekarang ini telah terjadi pergeseran strategi, yaitu dari strategi memaksimalkan keuntungan pemegang saham (mencari laba perusahaan) menjadi memaksimalkan keuntungan bagi semua yang berkepentingan dalam perusahaan (stakeholder), yaitu individu atau kelompok yang memiliki kepentingan dalam kegiatan perusahaan, tidak hanya pemegang saham, namun juga karyawan, manajemen, pembeli, masyarakat, pemasok, distributor, dan pemerintah. Akan tetapi, konsep laba tidak bisa dikesampingkan dan merupakan alat yang penting bagi perusahaan untuk menciptakan manfaat bagi para pemilik kepentingan.

Menurut teori strategi dinamis dari Porter (1991), perusahaan dapat mencapai keberhasilan bila tiga kondisi dipenuhi, yaitu:

  1. Pertama, tujuan perusahaan dan kebijakan fungsi-fungsi manajemen (seperti produksi dan pemasaran) harus secara kolektif memperlihatkan posisi terkuat dipasar.
  2. Kedua, tujuan dan kebijakan tersebut ditumbuhkan berdasarkan kekuatan perusahaan serta diperbarui terus (dinamis) sesuai dengan perubahan peluang dan ancaman lingkungan eksternal.
  3. Ketiga, perusahaan harus memiliki dan menggali kompetensi khusus sebagai pendorong untuk menjalankan perusahaan.

Dalam menghadapi persaingan yang semakin kompleks dan krisis eksternal, perusahaan kecil dapat menerapkan teori “strategi berbasis sumber daya” (resources-based strategy). Teori ini dinilai potensial untuk memelihara keberhasilan perusahaan ketika berada dalam situasi eksternal yang bergejolak. Menurut teori ini, perusahaan dapat meraih keuntungan melalui penggunaan sumber daya yang lebih baik, yaitu dengan:

  1. Pola organisasi dan administrasi yang baik.
  2. Perpaduan asset fisik berwujud seperti sumber daya manusia dan alam, serta asset tidak berwujud seperti kebiasaan berfikir kreatif dan keterampilan manajerial.
  3. Budidaya perusahaan.
  4. Proses kerja dan penyesuaian yang cepat atas tuntutan baru.

C. Strategi Bersaing dalam Kewirausahaan
Dalam konsep strategi pemasaran terdapat istilah bauran pemasaran (marketing mix) yang dikenal dengan 4P. Dalam kewirausahaan, 4P tersebut ditambahkan satu P, yaitu probe (penelitian dan pengembangan) sehingga menjadi 5P. Probe selalu ditambahkan diawal sehingga urutan bauran pemasaran menjadi:

  1. Probe (penelitian dan pengembangan)
  2. Product (barang dan jasa)
  3. Price (harga)
  4. Place (tempat)
  5. Promotion (promosi)

Dalam manajemen strategis yang baru, Mintzberg mengemukakan 5P yang sama artinya dengan strategi, yaitu perencanaan (plan), pola (patern), posisi (position), perspektif (perspective), dan permainan atau taktik (plan).

D. Teori StrategiGenerik dan Keunggulan Bersaing
Dalam karyanya yang paling terkenal Competitive Strategy, Michael P. Porter (1997 dan 1998 mengungkapkan beberapa strategi yang dapat digunakan perusahaan untuk dapat bersaing. Beberapa aspek inti dari teori Porter tersebut adalah:

1. Persaingan merupakan inti keberhasilan dan kegagalan.
2. Keunggulan bersaing berkembang dari nilai yang mampu diciptakan oleh perusahaan bagi langganan atau pembeli.
3. Ada dua jenis dasar keunggulan bersaing, yaitu biaya rendah dan diferensiasi.
4. Kedua jenis dasar keunggulan bersaing diatas menghasilkan tiga strategi generic (Porter,1997)

a. Biaya Rendah.
Strategi ini mengandalkan keunggulan biaya yang relative rendah daam menghasilkan barang dan jasa. Keunggulan biaya berasal dari:

  • Pengerjaan berskala ekonomi
  • Teknologi milik sendiri
  • Akses prefensi ke bahan baku

b. Diferensiasi.
Strategi ini berasal dari kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa yang unik dalam industrinya dan dalam semua dimensi umum yang dihargai oleh konsumen. Diferensiasi dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, antara lain:

  • Diferensiasi produk
  • Diferensiasi system penyerahan / penyampaian produk
  • Diferensiasi dalam pendekatan pemasaran
  • Diferensiasi dalam peralatan dan konstruksi
  • Diferensiasi dalam citra produk

c. Focus.
Strategi focus berusaha mencari keunggulan dalam segmen sasarab pasar tertentu meskipun tidak memiliki keunggulan bersaing secara keseluruhan.
Terdapat dua focus, yaitu:

  • Focus biaya, dilakukan dengan mengusahakan keunggulan biaya dalam segmen sasarannya
  • Focus diferensiasi, dilakukan dengan mengusahakan diferensiasi dalam segmen sasarannya, yaitu pembeli dengan pelayanan yang baik dan berbeda dengan yang lain

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa strategi generic pada dasarnya merupakan pendekatan yang berbeda untuk menciptakan keunggulan. Melalui keunggulan bersaing, perusahaan dapat memiliki kinerja diatas rata-rata perusahaan lain. Keunggulan bersaing merupakan kinerja perusahaan yang dapat tampil diatas rata-rata.

E. Strategi The New 7-S’s (D’Aveni)
Konsep “The New 7-S’s” atau 7 kunci keberhasilan perusahaan dalam lingkungan persaingan yang sangat dinamis ini meliputi pokok-pokok dasar sebagai berikut:

  1. Superior stakeholder satisfaction. Strategi yang pertama dari The New 7-S’s ini bertujuan memberikan kepuasan jauh di atas rata-rata kepada orang-orang yang berkepentingan terhadap perusahaan, tidak hanya pemegang saham, namun juga pemasok, karyawan, manajer, konsumen, pemerintah, dan masyarakat sekitarnya.
  2. Soothsaying. Strategi yang kedua ini berfokus kepada sasaran, artinya perusahaan harus mencari posisi yang tepat bagi produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan.
  3. Positioning for speed. Strategi ketiga adalah strategi dalam memosisikan perusahaan secara cepat di pasar.
  4. Positioning for surprise. Strategi keempat adalah membuat posisi yang mencengangkan melalui barang dan jasa baru yang lebih unik dan berbeda serta memberikan nilai tambah baru sehingga konsumen lebih menyukai barang dan jasa yang diciptakan perusahaan.
  5. Shifting the role of the game. Strategi kelima adalah mengubah pola-pola persaingan perusahaan yang dimainkan sehingga pesaing terganggu dengan pola-pola baru yang berbeda.
  6. Signalling strategic intent. Strategi keenam adalah mengutamakan perasaan. Kedekatan dengan karyawan, relasi, dan konsumen merupakan strategi yang ampuh untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
  7. Simultaneous and sequential strategic thrusts. Strategi ketujuh adalah menegmbangkan factor-faktor pendorong atau penggerak strategi secara simultan san berurutan memlalui penciptaan barang dan jasa yang selalu memberi kepuasaan kepada konsumen.

6.6. Kemitraan Usaha
Dalam menghadapi persaingan di abad ke-21, UKM dituntut untuk melakukan restrukturisasi dan reorganisasi dengan tujuan untuk memenuhi permintaan konsumen yang makin spesifik, berubah dengan cepat, produk berkualitas tinggi, dan harga yang murah . Salah satu upaya yang dapat dilakukan UKM adalah melalui hubungan kerjasama dengan Usaha Besar (UB). Kesadaran akan kerjasama ini telah melahirkan konsep supply chain management (SCM) pada tahun 1990-an. Supply chain pada dasarnya merupakan jaringan perusahaan-perusahaan yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk ke tangan pemakai akhir. Pentingnya persahabatan, kesetiaan, dan rasa saling percaya antara industri yang satu dengan lainnya untuk menciptakan ruang pasar tanpa pesaing, yang kemudian memunculkan konsep blue ocean strategy.

Kerjasama antara perusahaan di Indonesia, dalam hal ini antara UKM dan UB, dikenal dengan istilah kemitraan (Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan). Kemitraan tersebut harus disertai pembinaan UB terhadap UKM yang memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Kemitraan merupakan suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Kemitraan merupakan suatu rangkaian proses yang dimulai dengan mengenal calon mitranya, mengetahui posisi keunggulan dan kelemahan usahanya, memulai membangun strategi, melaksanakan, memonitor, dan mengevaluasi sampai target tercapai. Pola kemitraan antara UKM dan UB di Indonesia yang telah dibakukan, menurut UU No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil dan PP No. 44 Tahun 1997 tentang kemitraan, terdiri atas 5 (lima) pola, yaitu :

a. Inti Plasma,
Pola pertama, yaitu inti plasma merupakan hubungan kemitraan antara UKM dan UB sebagai inti membina dan mengembangkan UKM yang menjadi plasmanya dalam menyediakan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi, perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha. Dalam hal ini, UB mempunyai tanggung jawab sosial (corporate social responsibility) untuk membina dan mengembangkan UKM sebagai mitra usaha untuk jangka panjang

b. Subkontrak,
Pola kedua, yaitu subkontrak merupakan hubungan kemitraan UKM dan UB, yang didalamnya UKM memproduksi komponen yang diperlukan oleh UB sebagai bagian dari produksinya. Subkontrak sebagai suatu sistem yang menggambarkan hubungan antara UB dan UKM, di mana UB sebagai perusahaan induk (parent firma) meminta kepada UKM selaku subkontraktor untuk mengerjakan seluruh atau sebagian pekerjaan (komponen) dengan tanggung jawab penuh pada perusahaan induk. Selain itu, dalam pola ini UB memberikan bantuan berupa kesempatan perolehan bahan baku, bimbingan dan kemampuan teknis produksi, penguasaan teknologi, dan pembiayaan.

c. Dagang Umum,
Pola ketiga, yaitu dagang umum merupakan hubungan kemitraan UKM dan UB, yang di dalamnya UB memasarkan hasil produksi UKM atau UKM memasok kebutuhan yang diperlukan oleh UB sebagai mitranya. Dalam pola ini UB memasarkan produk atau menerima pasokan dari UKM untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh UB.

d. Keagenan, dan
Pola keempat, yaitu keagenan merupakan hubungan kemitraan antara UKM dan UB, yang di dalamnya UKM diberi hak khusus untuk memasarkan barang dan jasa UB sebagai mitranya. Pola keagenan merupakan hubungan kemitraan, di mana pihak prinsipal memproduksi atau memiliki sesuatu, sedangkan pihak lain (agen) bertindak sebagai pihak yang menjalankan bisnis tersebut dan menghubungkan produk yang bersangkutan langsung dengan pihak ketiga.

e. Waralaba.
Pola kelima, yaitu waralaba merupakan hubungan kemitraan, yang di dalamnya pemberi waralaba memberikan hak penggunaan lisensi, merek dagang, dan saluran distribusi perusahaannya kepada penerima waralaba dengan disertai bantuan bimbingan manajemen. Dalam pola ini UB yang bertindak sebagai pemberi waralaba menyediakan penjaminan yang diajukan oleh UKM sebagai penerima waralaba kepada pihak ketiga.

Kemitraan dengan UB begitu penting buat pengembangan UKM. Kunci keberhasilan UKM dalam persaingan baik di pasar domestik maupun pasar global adalah membangun kemitraan dengan perusahaan-perusahaan yang besar. Pengembangan UKM memang dianggap sulit dilakukan tanpa melibatkan partisipasi usaha-usaha besar. Dengan kemitraan UKM dapat melakukan ekspor melalui perusahaan besar yang sudah menjadi eksportir, baru setelah merasa kuat dapat melakukan ekspor sendiri. Disamping itu, kemitraan merupakan salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara UKM dan UB. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tumbuh kembangnya UKM di Indonesia tidak terlepas dari fungsinya sebagai mitra dari UB yang terikat dalam suatu pola kemitraan usaha.

Manfaat yang dapat diperoleh bagi UKM dan UB yang melakukan kemitraan diantaranya adalah (1).meningkatkatnya produktivitas, (2).efisiensi, (3).jaminan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, (4).menurunkan resiko kerugian, (5).memberikan social benefit yang cukup tinggi, dan (6).meningkatkan ketahanan ekonomi secara nasional. Kemanfaatan kemitraan dapat ditinjau dari 3 (tiga) sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang ekonomi, kemitraan usaha menuntut efisiensi, produktivitas, peningkatan kualitas produk, menekan biaya produksi, mencegah fluktuasi suplai, menekan biaya penelitian dan pengembangan, dan meningkatkan daya saing. Kedua, dari sudut moral, kemitraan usaha menunjukkan upaya kebersamaan dam kesetaraan. Ketiga, dari sudut pandang soial-politik, kemitraan usaha dapat mencegah kesenjangan sosial, kecemburuan sosial, dan gejolah sosial-politik. Kemanfaatan ini dapat dicapai sepanjang kemitraan yang dilakukan didasarkan pada prinsip saling memperkuat, memerlukan, dan menguntungkan.

Keberhasilan kemitraan usaha sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan di antara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnisnya. Pelaku-pelaku yang terlibat langsung dalam kemitraan harus memiliki dasar-dasar etikan bisnis yang dipahami dan dianut bersama sebagai titik tolak dalam menjalankan kemitraan. Menurut Keraf (1995) etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujud dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai kelompok. Dengan demikian, keberhasilan kemitraan usaha tergantung pada adanya kesamaan nilai, norma, sikap, dan perilaku dari para pelaku yang menjalankan kemitraan tersebut.

Disamping itu, ada banyak prasyarat dalam melakukan kemitraan usaha antara UKM dan UB, diantaranya adalah harus adanya komitmen yang kuat diantara pihak-pihak yang bermitra. Kemitraan usaha memerlukan adanya kesiapan yang akan bermitra, terutama pada pihak UKM yang umumnya tingkat manajemen usaha dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang rendah, agar mampu berperan seabagai mitra yang handal. Pembenahan manajemen, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pemantapan organisasi usaha mutlak harus diserasikan dan diselaraskan, sehingga kemitraan usaha dapat dijalankan memenuhi kaidah-kaidah yang semestinya.

Kegagalan kemitraan pada umumnya disebabkan oleh fondasi dari kemitraan yang kurang kuat dan hanya didasari oleh belas kasihan semata atau atas dasar paksaan pihak lain, bukan atas kebutuhan untuk maju dan berkembang bersama dari pihak-pihak yang bermitra. Kalau kemitraan tidak didasari oleh etika bisnis (nilai, moral, sikap, dan perilaku) yang baik, maka dapat menyebabkan kemitraan tersebut tidak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berjalan tidaknya kemitraan usaha, dalam hal ini antara UKM dan UB, tergantung pada kesetaraan nilai-nilai, moral, sikap, dan perilaku dari para pelaku kemitraan. Atau dengan perkataan lain, keberhasilan kemitraan usaha tergantung pada adanya kesetaran budaya organisasi.

6.7. Kemitraan usaha pertanian
Permasalahan yang dihadapi pengusaha agribisnis skala kecil dan menengah

  1. mutu produk, modal, dan Pemasaran
  2. bargaining position
  3. sebagai price taker

Sedangkan yang perlu dilakukan oleh pengusaha agribisnis skala kecil dan menengah :

  • mencari permodalan (uang/ barang
  • Modal)
  • melakukan kerjasama dengan pihak lain

Kemitraan Agribisnis
Bentuk kerjasama antara usaha kecil dan menengah atau usaha besar disertai dengan pembinaan dan pengembangan oleh usaha menengah/usaha besar dengan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan.

Tujuan Kemitraan

  1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat
  2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan
  3. Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil
  4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan nasional.
  5. Memperluas kesempatan kerja
  6. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional

Dasar Kemitraan

  1. Adanya kebutuhan yang dirasakan oleh pihak yang akan bermitra
  2. Adanya persoalan interen dan eksteren yang dihadapi dalam mengembangkan Agribisnis
  3. Kegiatan yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata yang bersifat mutual benefit bagi pihak-pihak yang bermitra.

Prinsip Kemitraan

  • Saling membutuhkan
  • Saling mendukung dan menguatkan
  • Saling menguntungkan

Proses Pengembangan Kemitraan

  1. Mulai membangun hubungan dgn calon mitra
  2. Mengerti kondisi bisnis pihak yang bermitra
  3. Mengembangkan strategi dan menilai detil bisnis
  4. Mengembangkan program
  5. Memulai pelaksanaan
  6. Memonitor dan mengevaluasi perkembangan

Manfaat Kemitraan Untuk Usaha Kecil

  1. Usaha-usaha agribisnis skala kecil dapat dirancang dalam skala ekonomis, berorientasi pasar, terpadu usaha komersial
  2. Kendala-kendala usaha kecil dapat diatasi
  3. Termanfaatkannya kepedulian dari perusahaan besar swasta/BUMN terhadap pengusaha kecil melalui program Corporate Social Responsibility (CSR)

Pola Kemitraan

  • Pola kemitraan tidak langsung
  • Pola kemitraan langsung

Bentuk Kemitraan

  1. Kemitraan Vertikal : Strategi perusahaan(SP) dengan membagi ke unit di bawahnya dalam mata rantai produksi perdagangan.
  2. Kemitraan Horisontal : Upaya-upaya pihak-pihak yang bermitra dengan membagi beban tertentu yang merendahkan daya saing, untuk menghadapi bersama para pesaing.

Kemitraan Vertikal

  • Pola Inti Plasma : PIR, Pola penghela, dan Pola pengelola.
  • Pola Subkontrak
  • Pola Dagang Umum
  • Pola Waralaba

Kemitraan Horisontal
• Ikatan tindakan meningkatkan nilai tambah
• Ikatan konsultasi / bantuan teknis
• Ikatan competitor

Kemitraan agribsinis dengan bentuk ikatan

  1. Merek dagang bersama
  2. Memasang iklan bersama
  3. Melakukan promosi bersama
  4. Saling dukung produksi
  5. Jual grosir
  6. Kantor pemasaran bersama
  7. Penyaluran bersama
  8. Jaringan servis bersama
  9. Kantor dan angkutan penjualan bersama

Kemitraan produksi dengan bentuk ikatan

  • Sistem logistik bersama
  • Memakai komponen produksi bersama
  • Penggunaan fasilitas transportasi bersama
  • Kontrol kualitas bersama

6.8.  Jejaring Usaha
Jaringan bisnis yang mempunyai cirri adanya hubungan bisnis jangka panjang yang didasarkan pada asas tolong menolong dan adanya saling percaya. Kendala-kendala yang dihadapi dalam membentuk jaringan bisnis

  1. Nilai, semangat, asas yang dapat dipakai sebagai perekat antar pelaku usaha kecil dan menengah sehingga hubungan bisnis jangka panjang tetap berlangsung.
  2. Pemula dalam jaringan bisnis akan bersaing dengan jaringan bisnis yang mapan.
  3. Belum adanya gambaran yang jelas tentang jaringan bisnis bagi pengusaha kecil dan menengah.
  4. Minimnya sumberdaya yang memadai dalam membentuk suatu jaringan.

Pengertian Negosiasi

  • Negosiasi merupakan pertemuan antara dua orang atau kubu yang masing-masing berada di posisi yang sesuai dengan kepentingan masing-masing dan berakhir untuk mendapatkan kepuasan yang diharapkan.
  • Negosiasi merupakan suatu metode untuk mencapai perjanjian dengan unsur kooperatif maupun kompetitif.
  • Intisari dari negosiasi adalah kompromi.

Tiga perkiraan kondisi yang menentukan apakah negosiasi dibutuhkan atau tidak

  • Adanya konflik interest antar pihak-pihak yang berkepentingan.
  • Adanya dualisme kemungkinan pemecahan yang terbaik.
  • Ada peluang kompromis yang dapat dirumuskan kedua belah piak yang berkepentingan.

Kondisi yang membutuhkan Negosiasi

  • Adanya konflik kepentingan
  • Masih adanya berbagai cara pemuasan kepentingan kedua belah pihak
  • Adanya peluang untuk kompromi

Prasyarat melakukan negosiasi

  • Ada isu yang jelas dari pihak-pihak berkepentingan dan yang perlu dinegosiasikan.
  • Ada kemauan untuk mengambil dan memberi.
  • Ada kepercayaan satu sama lain.
  • Setiap pelaku negosiasi mempunyai wewenang yang cukup untuk mengikat.

Prinsip melakukan negosiasi

  1. Pisahkan kehendak pribadi dengan isu pembicaraan.
  2. Fokus pada kepentingan bukan pada kedudukan.
  3. Kembangkan pilihan-pilihan yang menguntungkan kedua belah pihak.
  4. Tetap pada kriteria objektif.

Pendekatan umum negosiasi

  • Perang Tawar-menawar , usaha menggunakan kekuatan dalam memperjuangkan kepentingan yang bertentangan.
  • Pemecahan Masalah Bersama, usaha menggunakan kepercayaan menyelesaikan kepentingan bersama.

Prinsip-prinsip dasar dalam melakukan negosiasi

  1. Datanglah sebagai pemecah masalah bukan menimbulkan masalah
  2. Tujuan harus dicapai dengen efisien dan tepat waktu
  3. Keras dalam menghadapi masalah, tapi lembut dalam menghadapi orang
  4. Majulah dengan semangat percaya pada setiap orang
  5. Carilah perhatian dan keinginan setiap orang
  6. Jangan memberi kata mati
  7. Kembangkan semua alternatif yang dapat dipilih
  8. Cobalah mencapai hasil berdasarkan ketentuan-ketentuan yang tidak memihak
  9. Hasil merupakan prinsip bukan pada memojokkan orang lain

Pada tahap akhir negosiasi disusun draft kontrak terdiri dari

  1. Legalitas yang menandatangani
  2. Definisi-definisi
  3. Lingkup kerjasama
  4. Syarat-syarat
  5. Ketentuan mengikat secara hokum
  6. Tanda tangan kedua belah pihak

Ragam kemungkinan Negosiasi pengusaha kecil dengan pihak lain Negosiasi

  • Pengusaha kecil – Bank
  • Pengusaha kecil – Pemasok
  • Pengusaha kecil-Pembeli/pelanggan
  • Pengusaha kecil-Pemerintah
  • Pengusaha kecil-Karyawan

Sasaran Negosiasi

  • Kredit bunga + angsuran
  • Syarat penyerahan, discount
  • Harga layanan purna jual
  • Keringanan pajak, proteksi, bantuan pembinaan
  • Gaji tunjangan jam kerja

Empat tahap negosiasi

  • Persiapan (preparation)
  • Bersoal jawab (argue)
  • Mengusulkan (propose)
  • Tawar menawar (bargain)

Persiapan

  • Penentuan sasaran : Prioritas
  • Informasi : Permasalahan (issue)
  • Konsesi  dan strategi
  • Kelompok perundingan

Berjawab soal
A. Yang sebaiknya dihindarkan

  • Memotong/mengganggu pembicaraan (interupting)
  • Menyerang pembicaraan orang lain
  • Menyalahkan orang lain
  • Menunjukkan diri pandai atau menggurui
  • Terlalu banyak bicara
  • Berbicara dengan ucapan-ucapan kasar
  • Memaki lawan nego/perundingan

B. Yang sebaiknya dilakukan

  • Dengarkan baik-baik setiap pembicaraan
  • Ajukan pertanyaan-pertanyaan untuk kejelasan
  • Buatlah ringkasan permasalahan dan pembicaraan sewajarnya
  • Ajukan pertanyaan kepada lawan nego/perundingan tentangpermasalahan dan penilaian di pihaknya dan alasannya
  • Tidak/jangan mengikatkan diri dengan usul-usul dan penjelasan yangdiajukan oleh lawan perunding
  • Kajilah kesediaan pengikat diri lawan perundingan cari dan dapatkanpetunjuk-petunjuk perihal prioritas mereka
  • Galilah informasi lebih jauh dan lebih mendalam tentang keinginansasaran dan hal-hal lain dari lawan nego/runding anda

C. Mengusulkan

  • Ajukan suatu usulan atau rencana usulan guna mengatasi argumentasi
  • Usulan yang tidak realistis akan memperpanjang waktu berargumentasi
  • Usulan harus ditujukan kepada kebutuhan dan pemecahan masalah pihakpihak yang akan berunding
  • Usulan dapat digunakan sebagai sarana untuk memancing tanggapan pihak lawan bernego/berunding
  • Rumuskan kondisi anda terlebih dahulu dan usahakan sangat spesifik
  • Ikuti usulan anda dan usahakan “tentative”
  • Konsesi pembuka sebaiknya kecil atau sedikit terlebih dahulu
  • Kondisi pembuka/awal harus cukup luas

D. Tawar – menawar

  • Perhatikan selalu SASARAN ANDA
  • Tentukan apa yang anda inginkan dengan memberikan sesuatu sebagai imbalan yang anda inginkan
  • Buatlah daftar dan tempatkan tawaran dan yang anda tawarkan didepan anda
  • Berikan tanda mana-mana yang memungkinkan bilamana dan hanya jika pihak lawan berunding anda setuju denga persyaratan yang anda ajukan.
  • Perhatikan dan ingatlah selalu hal-hal yang disebutkan di atas dan kaitkan selalu setiap permasalahan dalam setiap perundingan untuk mencapai sasaran yang diinginkan.

E. Penilaian calon negosiator

  • Suaranya
  • Keterampilan non verbal
  • Ketenangan dan kalem
  • Terampil dalam menggunakan alat peraga
  • Berwawasan luas dalam hubungan bisnis
  • Menguasai masalah mengenai isu yang akan dinegosiasikan
  • Penampilan yang baik
  • Pandai mengelaborasi pembicaraan
  • Pandai melihat informasi yang kurang Fleksibel, tidak kaku
  • Pandai mengemukakan pikiran dengan jelas bagi pendengar
  • Dapat menjadi pendengar yang baik
  • Mempunyai tekad yang baik terhadap keinginan
  • Terlatih dalam cara berfikir analitis
  • Mempunyai daya tahan terhadap frustasi tinggi
  • Kalem dan tidak suka membuka rahasia
  • Percaya diri yang tinggi
  • Menyukai pekerjaan negosiasi

BAB VII. ETIKA BISNIS DALAM BERWIRAUSAHA

7.1.    Pengertian Etika Bisnis
Salah satu aspek yang sangat popular dan perlu mendapat perhatian dalam dunia bisnis ini adalah norma dan etika bisnis. Etika bisnis selain dapat menjamin kepercayaan dan loyalitas dari semua unsure yang berpengaruh pada perusahaan juga sangat menentukan maju atau mundurnya perusahaan. Menurut zimmer (1996:20) , etika bisnis adalah suatu kode etik perilak pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan. Etika, pada dasarnya adalah suatu komitmen untuk melakukan apa yang benar dan menghindari apa yang tidak benar. Oleh karena itu, perilaku etika berperan melakukan “apa yang benar” untuk menentang apa yang salah dan buruk. Menurut Ronald J Ebert dan icky M Griffin (200:80), etika bisnis adalah istilah yang sering digunakan untuk menunjukkan perilaku etika dari seorang manajer atau karyawan suatu organisasi.

Etika bisnis sangat penting untuk mempertahankan loalitas pemilik kepentingan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan perusahaan. Mengapa demikian? Karena semua keputusan perusahaan sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pemilik kepentingan. Pemilik kepentingan adalah semua individu atau kelompok yang berkepentingan dan berpengaruh terhadap keputusan perusahaan. Ada dua jenis pemilik kepentingan yang berpengaruh pada perusahaan yaitu pemilik kepentingan internal dan eksternal. Investor, karyawan, manajemen dan pimpinan perusahaan merupakan pemilik perusahaan merupakan pemilik kepentingan internal. Sedangkan pelanggan, asosiasi dagang, kreditor, pemasok, pemerintah, masyarakat umum adalah pemilik kepentingan eksternal.

Menurut pengertiannya, etika dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :

  1. Etika sebagai praktis: nilai-nilai dan norma-norma moral (apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai dan norma moral.
  2. Etika sebagai refleksi: pemikiran moral. Berpikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. (dalam hal ini adalah menyoroti dan menilai baik-buruknya perilaku seseorang)

Sedangkan Pengertian Etika Bisnis dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :

  1. Secara makro: etika bisnis mempelajari aspek-aspek moral dari sistem ekonomi secara keseluruhan.
  2. Secara meso: etika bisnis mempelajari masalah-masalah etis di bidang organisasi
  3. Secara mikro: etika bisnis difokuskan pada hubungan individu dengan ekonomi dan bisnis.

Kesimpulannya Bahwa Etika bisnis adalah studi tentang aspek-aspek moral dari kegiatan ekonomi dan bisnis. (etika dalam berbisnis). Menurut Zimmerer, etika bisnis adalah suatu kode etik perilaku pengusaha berdasarkan nilai-nilai moral dan norma yang dijadikan tuntunan dalam membuat keputusan dan memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi.

7.2.    Pentingnya Etika Bisnis
Etika bisnis sangat penting untuk mempertahankan loyalitas stakeholder dalam membuat keputusan-keputusan perusahaan dan dalam memecahkan persoalan perusahaan. Hal ini disebabkan semua keputusan perusahaan sangat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh stakeholder. Stakeholder adalah semua individu atau kelompok yang berkepentingan dan berpengaruh pada keputusan-keputusan perusahaan.

Siapa saja stakeholder perusahaan:

1. Para pengusaha dan mitra usaha
Para pengusaha, selain berfungsi sebagai pesaing, mereka juga berperan sebagai mitra.
Dalam hal ini para pengusaha merupakan relasi usaha yang dapat bekerja sama dalam menyediakan informasi atau sumber peluang. Loyalitas mitra usaha akan sangat tergantung pada kepuasan yang diterima dari perusahaan

2. Petani dan perusahaan pemasok bahan baku
Petani dan perusahaan berperan sebagai penyedia bahan baku. Pasokan bahan baku yang kurang bermutu dan pasokan yang lambat dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.
Oleh sebab itu, keputusan untuk menentukan kualitas barang dan jasa sangat tergantung pada pemasok bahan baku. Loyalitas petani penghasil bahan baku sangat tergantung pada tingkat kepuasan yang diterima dari perusahaan dalam menentukan keputusan harga jual bahan baku maupun dalam bentuk insentif.

3. Organisasi pekerja yang mewakili pekerja
Organisasi pekerja dapat mempengaruhi keputusan melalui proses tawar-menawar secara kolektif. Perusahaan yang tidak melibatkan karyawan/organisasi pekerja dalam mengambil keputusan sering menimbulkan protes-protes yang menggangu jalannya perusahaan.

4. Pemerintah yang mengatur kelancaran aktivitas usaha
Pemerintah dapat mengatur kelancaran aktivitas usaha melalui serangkaian kebijakaan yang dibuatnya, karena kebijakan yang dibuat pemerintah akan sangat berpengaruh terhadap iklim usaha.

5. Bank penyandang dana perusahaan
Bank selain sebagai jantungnya perekonomian dalam skala makro, juga sebagai lembaga yang dapat menyediakan dana perusahaan.

6. Investor penanam modal
Investor penyandang dana dapat mempengaruhi perusahaan melalui serangkaian persyaratan yang diajukannya. Persyaratan tersebut akan mengikat dan sangat besar pengaruhnya dalam mengambilan keputusan. Loyalitas investor sangat tergantung pada tingkat kepuasan investor atas hasil penanaman modalnya.

7. Masyarakat umum yang dilayani
Masyarakat akan selalu menanggapi dan memberikan informasi tentang bisnis yang kita jalankan. Dalam hal ini masyarakat juga merupakan konsumen yang akan menentukan keputusan-keputusan perusahaan dalam menentukan produk barang dan jasa yang dihasilkan dan juga teknik yang digunakan.

8. Pelanggan yang membeli produk
Barang dan jasa yang akan dihasilkan, teknologi yang digunakan akan sangat dipengaruhi oleh pelanggan dan mempengaruhi keputusan-keputusan bisnis.

Dengan demikian etika bisnis merupakan landasan penting dan harus diperhatikan, terutama dalam menciptakan dan melindungi reputasi perusahaan. Oleh sebab itu, etika bisnis merupakan masalah yang sangat sensitif dan kompleks, karena membangun etika untuk mempertahankan reputasi lebih sukar daripada menghancurkannya.

7.3.  Prinsip-prinsip Etika Perilaku Bisnis
Prinsip-prinsip etika dan perilaku bisnis

  1. Kejujuran, yaitu penuh kepercayaan, bersifat jujur, sungguh-sungguh, terus terang, tidak curang, tidak mencuri, tidak menggelapkan, tidak berbohong
  2. Integritas, yaitu memegang prinsip, melakukan kegiatan dengan hormat, tulus hati, berani dan penug pendirian/keyakinan, tidak bermuka dua, tidak berbuat jahat dan saling percaya.
  3. Memelihara janji, yaitu selalu menaati janji, patut dipercaya, penuh komitmen, jangan mengintepretasikan persetujuan dalam bentuk teknikal atau legalistik dengan dalih ketidakrelaan.
  4. Kesetiaan, yaitu hormat dan loyal kepada keluarga, teman, karyawan dan Negara, jangan menggunakan atau memperlihatkan informasi yang diperoleh dalam kerahasiaan, begitu juga dalam konteks professional, jaga/melindungi kemampuan untuk membuat keputusan professional yang bebas dan teliti, hndari hal yang tidak pantas dan konflik kepentingan
  5. Kewajaran/keadilan, yaituberlaku adil dan berbudi luhur, bersedia untuk mengakui kesalahan, dan perlihatkan komitmen keadilan, persamaan perlakuan individual dan toleran terhadap perbedaan, jangan bertindak melampaui batas atau mengambil keuntungan yang tidak pantas dari kesalahan atau kemalangan orang lain.
  6. Suka membantu orang lain, yaitu saling membantu, berbaik hati, belas kasihan, tolong menolong, kebersamaan, dan menghindari segala sesuatu yang membahayakan orang lain.
  7. Hormat kepada orang lain, yaitu menghormati martabat manusia, menghormati kebebasan dan hak untuk menentukan nasib sendiri bagi semua orang, bersopan santun, jangan merendahkan orang lain, jangan mempermalukan orang lain.
  8. Warga Negara yang bertanggung jawab, yaitu selalu menaati hukum/aturan, penuh kesadaran sosial, menghormati proses demokrasi dalam mengambil keputusan.
  9. Mengejar keunggulan, yaitu mengejar keunggulan dalam segala hal, baik dalam pertemuan personal maupun pertanggungjawaban professional, tekun, dapat dipercaya/diandalkan, rajin penuh komitmen, melakukan semua tugas dengan kemampuan terbaik, mengembangkan dan mempertahankan tingkat kompetensi yang tinggi.
  10. Dapat dipertanggungjawabkan, yaitu memiliki tanggung jawab, menerima tanggung jawab atas keputusan dan konsekuensinya, dan selalu memberi contoh.

7.4.  Cara-cara mempertahankan Etika
Cara mempertahankan standar etika

1. Menciptakan kepercayaan perusahaan
Hal ini akan menetapkan nilai-nilai perusahaan yang mendasari tanggung jawab etika bagi stakeholder
2. Mengembangkan kode etik
Kode etik merupakan suatu catatan tentang standar tingkah laku dan prinsip-prinsip etika yang diharapkan perusahaan dari karyawan
3. Menjalankan kode etik secara adil dan konsisten
4. Melindungi hak perorangan
5. Mengadakan pelatihan etika
6. Melakukan audit etika secara periodic
7. Mempertahankan standar yang tinggi tentang tingkah laku, jangan hanya aturan
8. Menghindari contoh etika yang tercela setiap saat dan diawali dari atasan
9. Menciptakan budaya yang menekankan komunikasi dua arah
10. Komunikasi dua arah sangat penting untuk menginformasikan barang dan jasa yang dihasilkan dan untuk menerima aspirasi untuk perbaikan perusahaan
11. Melibatkan karyawan dalam mempertahankan standar etika
Para karyawan diberi kesempatan untuk memberikan umpan balik tentang bagaimana standar etika yang harus dipertahankan

7.5.  Tanggungjawab Perusahaan
Etika akan sangat berpengaruh pada tingkah laku individual, dalam hal ini tanggung jawab sosial mencoba untuk menjembatani komitmen individu dan kelompok dalam suatu lingkungan sosial.
Tanggung jawab perusahaan, meliputi:

1. Tanggung jawab terhadap lingkungan
Perusahaan harus ramah lingkungan, artinya perusahaan harus memperhatikan, melestarikan dan menjaga lingkungan.

2. Tanggung jawab terhadap karyawan
Semua aktivitas sumber daya manusia diarahkan pada tanggung jawab kepada karyawan, dengan cara:

  • Mendengarkan dan menghormati pendapat karyawan
  • Memberikan umpan balik, baik yang positif maupun negative
  • Menceritakan kepada karyawan tentang kepercayaan
  • Membiarkan karyawan mengetahui keadaan perusahaan yang sebenarnya
  • Memberikan imbalan kepada karyawan dengan baik
  • Memberikan kepercayaan kepada karyawan

3. Tanggung jawab terhadap pelanggan
Tanggung jawab perusahaan kepada pelanggan, meliputi dua kategori, yaitu:

  • Menyediakan barang dan jasa yang berkualitas
  • Memberikan harga produk yang wajar dan adil

Selain itu, perusahaan juga harus melindungi hak-hak pelanggan, yaitu:

  • Hak untuk mendapatkan produk yang aman
  • Hak untuk mendapatkan informasi tentang segala aspek
  • Hak untuk didengar dan Hak untuk memilih apa yang akan dibeli

4. Tanggung jawab terhadap investor
Tanggung jawab berupa menyediakan pengembalian investasi yang menarik dengan memaksimumkan laba dan melaporkan kinerja keuangan seakurat dan setepat mungkin.

5. Tanggung jawab terhadap masyarakat
Tanggung jawab berupa menyediakan dan menciptakan kesehatan dan menyediakan berbagai kontribusi terhadap masyarakat yang berada di sekitar lokasi perusahaan.

7.6. Etos kerja dan soft skill
“ Beberapa Pengertian Etos Kerja ”

  1. Keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok orang atau sebuah institusi.
  2. Etos Kerja merupakan perilaku khas suatu komunitas atau organisasi, mencangkup motivasi yang menggerakkan, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku,sikap-sikap, aspirasiaspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, standar-standar.
  3. Sehimpunan perilaku positif yang lahir sebagai buah keyakinan fundamental dan komitmen total pada sehimpunan paradigma kerja yang integral.

“ Delapan Etos Kerja Menurut Jansen H Sinamo ”

  1. Kerja adalah Rahmat bekerja tulus penuh syukur.
  2. Kerja adalah Amanah bekerja benar penuh tanggung jawab
  3. Kerja adalah Panggilan bekerja tuntas penuh integritas.
  4. Kerja adalah Aktualisasi bekerja keras penuh semangat.
  5. Kerja adalah Ibadah bekerja serius penuh kecintaan.
  6. Kerja adalah Seni bekerja cerdas penuh kreativitas.
  7. Kerja adalah Kehormatan bekerja tekun penuh keunggulan.
  8. Kerja adalah Pelayanan bekerja paripurna penuh kerendahan hati.

Sifat-sifat yang mencerminkan etos kerja yang baik yaitu : Aktif, Ceria, Dinamis. Disiplin. Efektif. Efisien. Energik. Fokus. Gesit. Ikhlas. Interaktif. Jeli. Jujur. Kerja Keras. Kerja Tim. Konsisten. Kreatif. Lapang Dada. Membagi. Menghargai. Menghibur. Optimis. Peka. Rajin. Ramah. Sabar. Semangat. Tanggung Jawab. Tekun. Teliti. Tepat Waktu. Teratur. Terkendali. Toleran. Total. Ulet.

Berbicara Etos kerja, maka tidak akan terlepas dari antara Hard Skill dan Soft Skill. Mengapa ?

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek soft skillnya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill dan sisanya 80% oleh soft skill.

Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur soft skillnya.

Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkannya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi pendidik.

Apa soft skill itu?
Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal.

Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience). Sedangkan interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership,influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)

Pada proses rekrutasi karyawan, kompetensi teknis dan akademis (hard skill) lebih mudah diseleksi. Kompetensi ini dapat langsung dilihat pada daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, indeks prestasi dan ketrampilan yang dikuasai. Sedangkan untuk soft skill biasanya dievaluasi oleh psikolog melalui psikotes dan wawancara mendalam. Interpretasi hasil psikotes, meskipun tidak dijamin 100% benar namun sangat membantu perusahaan dalam menempatkan ‘the right person in the right place’.

Hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Di kalangan para praktisi SDM, pendekatan ala hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill oke, tetapi soft skillnya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirementnya. Saat rekrutasi karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun hard skillnya lebih rendah. Alasannya sederhana : memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi rekrutasi „ Recruit for Attitude, Train for Skill“.

Hal tersebut menunjukkan bahwa : hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh soft skillnya yang baik.Psikolog kawakan, David McClelland bahkan berani berkata bahwa faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan soft skill.

Bagaimana ?
Para ahli manajemen percaya bahwa bila ada dua orang dengan bekal hard skill yang sama, maka yang akan menang dan sukses di masa depan adalah dia yang memiliki soft skill lebih baik. Mereka adalah benar-benar sumber daya manusia unggul, yang tidak hanya semata memiliki hard skill baik tetapi juga didukung oleh soft skill yang tangguh.

Pada posisi bawah, seorang karyawan tidak banyak menghadapai masalah yang berkaitan dengan soft skill. Masalah soft skill biasanya menjadi lebih kompleks ketika seseorang berada di posisi manajerial atau ketika dia harus berinteraksi dengan banyak orang. Semakin tinggi posisi manajerial seseorang di dalam piramida organisasi, maka soft skill menjadi semakin penting baginya. Pada posisi ini dia akan dituntut untuk berinteraksi dan mengelola berbagai orang dengan berbagai karakter kepribadian. Saat itulah kecerdasan emosionalnya diuji.

Umumnya kelemahan dibidang soft skill berupa karakter yang melekat pada diri seseorang. Butuh usaha keras untuk mengubahnya. Namun demikian soft skill bukan sesuatu yang stagnan. Kemampuan ini bisa diasah dan ditingkatkan seiring dengan pengalaman kerja. Ada banyak cara meningkatkan soft skill. Salah satunya melalui learning by doing. Selain itu soft skill juga bisa diasah dan ditingkatkan dengan cara mengikuti pelatihan-pelatihan maupun seminar-seminar manajemen. Meskipun, satu cara ampuh untuk meningkatkan soft skill adalah dengan berinteraksi dan melakukan aktivitas dengan orang lain

Etika bisnis yang sesuai syariah berlandaskan iman kepada Allah dan Rasul-Nya atau menjalankan segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi larangan Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian perilaku dalam bisnis hendaknya sesuai dengan yang dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, mengindari yang dilarang Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi produk yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.  Strategi bisnis yang sesuai syariah adalah berupaya dengan sungguh-sungguh di jalan Allah dengan mengelola sumberdaya secara optimal untuk mencapai tujuan yang terbaik di sisi Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Sedangkan tujuan bisnis yang sesuai syariah adalah mendapat keuntungan yang besar baik di dunia maupun di akhirat. Etika bisnis Nabi Muhammad s.a.w. meliputi perilaku bisnis yang diperbolehkan Allah dan Rasul-Nya, perilaku bisnis yang dilarang Allah, Rasul-Nya dan produk yang dilarang Allah dan Rasul-Nya.

1. Menggunakan Niat Yang Tulus
Niat yang tulus dalam bisnis adalah ibadah kepada Allah. Dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 56 : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Allah juga merupakan Sang Pemberi Rezki. Dalam surat Al Ankabuut ayat 17 : Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezki itu dari sisi Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu kembali.
Dari Umar bin Khaththab r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya amal itu dinilai bila disertai dengan niat. Dan sesungguhnya masing-masing orang mendapatkan balasan dari perbuatannya sesuai dengan niatnya (Bukhari dan Muslim).

2.   Al Qur’an dan Hadist Sebagai Pedoman
Al Qur’an sebagai pedoman untuk manusia, termasuk dalam malakukan bisnis. Dalam surat Al Jaatsiyah ayat 20 : Al Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
Dari ‘Aisyah r.a. katanya : “Rasulullah s.a.w. masuk ke rumahku lalu aku bercerita kepadanya. Kemudian beliau bersabda : “Beli dan merdekakanlah. Sesungguhnya wala’ (kewalian) bagi siapa yang memerdekakan.” Petang hari beliau berdiri, lalu beliau memuji Allah menurut mestinya, kemudian beliau bersabda : “Bagaimanakah pikiran orang banyak, mereka mengadakan syarat-syarat yang tidak ada dalam Kitabullah. Barangsiapa mengadakan syarat yang tidak terdapat dalam Kitabullah, syarat itu batal. Walaupun ia mengadakan seratus syarat, syarat yang dibuat Allah lebih hak (benar) dan lebih kuat.” (Bukhari).

3. Meneladani Akhlak Rasulullah s.a.w.
Allah SWT memberikan pujian tentang budi pekerti kepada Rasulullah s.a.w.. Dalam surat Al Qalam ayat 4 : Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Nabi Muhammad s.a.w. merupakan orang yang berperilaku lemah lembut, pemaaf, memohonkan ampun untuk orang lain, bermusyawarah dan bertawakal kepada Allah, seperti yang disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 159 :  Maka disebabkan dari rahmat Allah-lah kamu (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Sifat-sifat Nabi Muhammad s.a.w. dan sahabat-sahabatnya dalam Taurat dan Injil dimuat dalam surat Al Fath ayat 29 : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Budi pekerti yang luhur merupakan salah satu senjata tidak hanya dalam bisnis, tetapi dalam segala kehidupan.Rasulullah s.a.w. bersabda : Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan budi pekerti (Ahmad, Hakim dan Baihaqi). Demikian pula dari ‘Atha’ bin Yasar r.a, katanya dia bertemu dengan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, lalu katanya : “Ceritakanlah kepadaku tentang sifat Rasulullah saw. Seperti yang tersebut dalam Kitab Taurat”.Jawab Abdullah, “Baiklah ! Demi Allah sesungguhnya Rasulullah saw. Telah disebut di dalam Kitab Taurat dengan sebagian sifat beliau yang tersebut didalam Al Qur’an : “Wahai, Nabi ! Sesungguhnya  Aku mengutus engkau untuk menjadi saksi, memberi kabar gembira, memberi peringatan dan memelihara orang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan pesuruh-Ku. Aku namakan engkau orang yang tawakkal (berserah diri), tidak jahat budi, tidak kesat hati, tidak pula orang yang suka berteriak di pasar-pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi pemaaf dan memberi ampun. Dan Allah belum akan mencabut nyawanya sehingga dia menegakkan agama selurus-lurusnya, yaitu supaya mereka mengucapkan : “Laa illaaha illallaah” sehingga dengan ucapan itu Allah membukakan mata yang buta dan telinga yang tuli serta hati yang tertutup.” (Bukhari).

Demikian pula Rasulullah s.aw. bersabda : ”Kamu semua tidak mungkin dapat mempergauli orang lain dengan hartamu saja, tetapi hendaklah seseorang dari kamu semua mempergauli mereka dengan muka berseri-seri dan budi pekerti yang baik.”(Thabrani dan Baihaqi).

4. Melakukan Jual-Beli Yang Halal
Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Dalam surat Al Baqarah ayat 275 : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Rasulullah s.a.w. menganjurkan jual beli yang halal dan sedapat mungkin menghindari yang syubhat, apalagi yang haram. Pernah suatu ketika Rasulullah s.a.w. di tanya : ”Ya Rasulallah, pekerjaan apakah yang terbaik?” Beliau menjawab :”Pekerjaan yang terbaik ialah usahanya seseorang dengan tangannya sendiri dan semua jual-beli yang dianggap baik (Ahmad dan Baihaqi). Dari Nu’man bin Basyir r.a, katanya Nabi saw. bersabda : “Yang halal sudah nyata, yang haram sudah nyata dan antara keduanya beberapa perkara yang diragukan. Barangsiapa meninggalkan apa yang diragukan tentang dosanya, biasanya orang itu meninggalkan pula apa yang sudah nyata berdosa. Dan siapa yang berani melakukan apa yang masih diragukan tentang dosanya, dikhawatirkan ia jatuh pada perkara yang nyata dosanya. Segala macam ma’siat  adalah larangan Allah. Barangsiapa bermain-main sekitar larangan Allah, dikhawatirkan ia akan jatuh ke dalamnya” (Bukhari dan Muslim).

5. Melaksanakan Keadilan
Allah menganjurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis dan kegiatan lainnya. Dalam surat Ar Rahmaan ayat 9 : Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. Dalam surat Al An’aam ayat 152 : Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Dalam surat Huud ayat 85 : Dan Syuaib berkata : ”Hai kaumku cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil.” Dalam surat Al Israa’ ayat 35 : Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Dalam surat Al A’raaf ayat 29 : Katakanlah :”Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan”.Dan (katakanlah):”Luruskanlah muka (diri) mu di setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah) kamu akan kembali kepada-Nya. Terdapat pula dalam surat Al A’raaf ayat 85 : Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. Demikian pula dalam surat Al Hadiid ayat 25 : Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.

6. Melaksanakan Kejujuran
Allah menganjurkan untuk melaksanakan kejujuran. Dalam surat Al Anfaal ayat 58 : Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. Demikian pula dalam surat Al Baqarah ayat 282 : Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.
Dari  Abu Sa’id Al Khudri r.a.,Rasulullah s.a.w. bersabda : Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya termasuk golongan para nabi, orang yang benar-benar tulus dan para syuhada (Tirmidzi, Darimi dan Daraqutni). Dari Ibnu Umar RA, ia berkata, “Rasulullah s.a.w. pernah ditanya mengenai usaha apakah yang paling baik ?” Beliau menjawab, “Usaha seseorang dengan tangannya sendiri, dan perdagangan yang jujur.” (Thabrani dalam Al Ausath dan para perawinya terpercaya). Dari Anas r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya pedagang yang jujur dan benar akan berada di bawah naungan Arsy Allah pada hari kiamat (Ashbhani).

7. Menepati Janji
Allah menganjurkan untuk menepati janji dalam jual-beli dan ktivitas lainnya. Disebutkan dalam Al Maidah ayat 1 : Hai orang-orang yang beriman penuhilah aqad-aqad itu. Disebutkan juga dalam surat Al Israa’ ayat 34 : Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu diminta pertanggungjawabannya.  Demikian pula dalam surat Al Baqarah ayat 177 : Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Abdullah Ibn Abdul Hamzah mengatakan :“Aku telah membeli sesuatu dari Nabi sebelum ia menerima tugas kenabian dan karena masih ada urusan dengannya, maka aku menjajikan untuk mengantarkan padanya, tetapi aku lupa. Ketika teringat tiga hari kemudian, akupun pergi ke tempat tersebut dan menemukan Nabi masih berada di sana.” Nabi berkata :”Engkau telah membuatku resah, aku berada di sini menunggumu” (Abu Dawud).

8. Menunaikan Hak
Hak yang harus ditunaikan oleh seorang pengusaha kepada Allah adalah zakat atas harta mereka, diikuti shodaqoh dan infak. Dalam surat At Taubah ayat 103 : Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dalam surat Al Baqarah ayat 110 : Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat.  Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. Keperuntukan zakat itu sudah diatur oleh Allah yang disebutkan dalam surat At Taubah ayat 60 : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

9. Menuliskan Muamalah Yang Tidak Tunai
Allah menganjurkan untuk menuliskan apabila bermuamalah (berjual beli, berutang piutang, sewa menyewa dan sebagainya) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. Dalam surat Al Baqarah ayat 282 : Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu. Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamujalankan di antara kamu maka tak tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli dan janganlah penulis dan saksi saling menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

10. Menggunakan Barang Tanggungan
Allah dan Rasul-Nya membolehkan menggunakan barang tanggungan, jika tidak memperoleh penulis. Dalam surat Al Baqarah ayat 283 : Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanahnya (utangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Demikian pula Rasulullah s.a.w. pernah menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi. Dari Anas r.a., bahwasanya dia pergi kepada Nabi saw. membawa roti gandum dan keju yang banyak. Kata Anas, “Nabi saw. telah menggadaikan baju besinya di Madinah kepada orang Yahudi, dan beliau mengambil gandum dari Yahudi itu untuk keluarga beliau.” Kata Qatadah, aku mendengar Anas berkata. “Petang ini keluarga Muhammad s.a.w. tidak punya gandum segantang pun dan tidak pula biji-bijian (makanan). Padahal beliau mempunyai sembilan orang isteri (yang menjadi tanggungan beliau)”(Bukhari).

11. Menggunakan Persetujuan Kedua Belah Pihak
Allah memerintahkan untuk berbisnis dengan suka-sama suka. Dalam surat Al Nisaa’ ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.

Rasulullah s.a.w. menganjur untuk memiliki hak khiyar, yang merupakan hak penjual dan pembeli untuk menentukan pilihan antara tetap meneruskan jual beli atau membatalkannya. Dari Ibnu Umar r.a., dari Rasulullah s.a.w., bahwasanya beliau bersabda : “Apabila dua orang telah melakukan jual beli, maka tiap-tiap orang dari keduanya boleh khiyar selama mereka belum berpisah, dan keduanya masih berkumpul, atau salah satu dari keduanya telah memberi khiyar kepada yang lain, dan keduanya telah melakukan jual beli atas dasar khiyar itu, maka sesungguhnya jual beli itu haruslah dilakukan atas yang demikian. Jika keduanya telah berpisah sesudah melakukan jual beli, sedang yang satu lagi belum meninggalkan (tempat) jual beli. Maka jual beli itu harus berlaku demikian.” (Bukhari dan Muslim). Dari Hakim bin Hizam r.a., katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : “Dua orang yang berjual beli boleh khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah, atau sehingga keduanya berpisah. Jika keduanya berlaku benar, baik dalam tindakan dan ucapan atau keterangan, maka jual beli keduanya diberkati (Allah). Dan jika kedua bersikap menyembunyikan dan dusta, keberkatan jual beli keduanya dihapus (sirna)” (Bukhari dan Muslim).

12. Bertawakal Kepada Allah
Tawakal merupakan tingkatan orang yang dekat dengan Allah. Dalam surat Ath thalaq ayat 3 : Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi keperluannya. Juga disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 159-160 : Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertwakkal kepadaNya. Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.

13. Melipatgandakan Harta
Allah akan melipatgandakan harta, bila harta tersebut dinafkahkan di jalan-Nya. Dalam surat Al Baqarah ayat 245 : Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. Sedangkan dalam surat Al Baqarah ayat 265 : Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. Demikian pula dalam  Al-Baqarah ayat 261 : Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuni-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Dalam surat Al Hadiid ayat 11 : “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan akan memperoleh pahala yang banyak.”. Sedangkan dalamAl Hadiid ayat 18 : “Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah, pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka dan bagi mereka pahala yang banyak.”

Dalam surat Al Lail ayat 17-18 : Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. (yaitu) yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya.

14. Mengingat Allah 
Dengan mengingat Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat akan ditambah oleh Allah karunia dan rezkinya tanpa batas, seperti disebutkan dalam surat An Nuur ayat 37-38 : Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula (oleh) jual beli dari mengingat Allah dan (dari) mendirikan shalat dan (dari) membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan itu) supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas. Demikian pula dengan mengingat Allah akan menjadikan kita lebih baik.Dalam surat Al Jumu’ah ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Demikian itu lebih baik bagimu jika mengetahui.

Sebaliknya dengan lupa mengingat Allah, kita akan termasuk orang yang rugi. Allah berfirman dalam surat Al Munaafiquun ayat 9 : Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.

15. Bersyukur kepada Allah 
Allah akan menambah nikmat kita, bila bersyukur.  Dalam surat Ibrahiim ayat 7 : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan : ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Bersyukur sesungguhnya untuk kebaikan diri kita sendiri : Dalam surat An Naml ayat 40 : Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa ingkar, sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.

Allah memerintahkan untuk makan dari rezki yang baik dan mensyukurinya. Dalam surat Al Baqarah ayat 172 : Hai orang-orang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.

Allah juga memerintahkan untuk meminta rezki, menyembah dan bersyukur kepada-Nya. Dalam surat Al Ankabuut ayat 17 : Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu, maka mintalah rezki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.

16. Saling Menolong Dalam Bisnis
Allah menganjurkan untuk saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertawakallah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Rasulullah s.a.w. mempersaudara kaum Muhajirin dan Anshar untuk saling menolong, termasuk dalam bidang bisnis. Dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a. katanya : “Ketika kami tiba di Madianah, Rasulullah saw, mempersaudarakan saya dengan Sa’ad bin Rabi’. Kata Sa’d bin Rabi’, “Saya orang Anshar yang paling kaya. Aku bagi dua hartaku denganmu. Dan tengoklah mana diantara isteriku yang engkau senangi. Akan saya secarikan dia. Setelah ia halal, engkau boleh mengawininya. Jawab Abdurrahman, “Saya tidak memerlukan demikian. Di manakah pasar di sini ?” Jawab Sa’d, “Pasar Qainuqa’,” Pagi-pagi Abdurrahman pergi ke pasar itu membawa keju dan samin. Dan sesudah itu ia terus menerus pergi ke sana. Tidak lama kemudian, Abdurrahma datang (kepada Nabi saw) dengan kesan pucat (dimukanya). Rasulullah saw. bertanya, “Kawinkah engkau ?”Jawab Abdurrahman, “Benar, ya Rasulullah !” Tanya Nabi, “Dengan siapa?”. Jawabnya : ”Dengan seorang wanita Anshar,!” Sabda Nabi, “Berapa engkau beri maharnya ?” Jawabnya, “Emas seberat atau sebesar biji kurna,” Sabda Nabi saw, “Adakanlah pesta, sekalipun dengan seekor domba” (Bukhari).

17. Bekerja Dengan Baik                                                                                
Allah menganjurkan untuk bekerja mencari karunia Allah dimukabumi ini. Al Qur’an surat At Taubah ayat 105 : Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.  Dalam surat An Naba’ ayat 11 : Dan kami jadikan siang untuk mencari kehidupan. Dalam surat Al A’raaf ayat 10 : Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Demikian pula dalam surat Al Jumu’ah ayat 10 : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Rasulullah s.a.w. menganjurkan untuk bekerja sebaik-baiknya. Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya apabila seseorang di antara kamu semua itu mengambil talinya kemudian mencari kayu bakar dan diletakkan di punggungnya, hal itu lebih baik daripada ia mendatangi seseorang yang telah dikaruniai Allah dari keutamaan-Nya, kemudian meminta kepada kawannya itu, adakalanya diberi adakalanya ditolak (Bukhari dan Muslim). Rasulullah s.a.w. juga bersabda : Sebaik-baik pekerjaan adalah ialah usahanya seseorang pekerja apabila berbuat sebaik-baiknya (Ahmad).

7.1.    Prilaku Bisnis yang dilarang Allah dan  Rasul-Nya.
1.  Riba
Allah mengancam pelaku riba, baik di dunia dan akhirat. Dalam surat Al Baqarah ayat 275 – 276 : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan), dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa. Juga dalam surat Al Baqarah ayat 278-279 :Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.

Dalam surat Ali ‘Imran ayat 130 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Surat An Nisaa’ ayat 161 : Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. Demikian pula dalam surat Ar Ruum ayat 39 : Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).

Rasulullah s.a.w. juga melarang untuk bertransaksi yang melibatkan riba. Dari Jabir r.a., dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melaknat pemakan riba, orang yang mewakilkannya, penulisnya, dua saksinya dan Rasulullah s.a.w. bersabda : Mereka itu sama saja (Muslim). Dari Umar bin Khaththab r.a. ia menceritakan dari Rasulullah saw. Sabdanya : ”Emas dengan emas, riba, melainkan dengan timbang terima. Kurma dengan kurma, riba, melainkan dengan timbang terima, dan sya’ir (anjelai) dengan sya’ir riba, melainkan dengan timbang terima.” (Bukhari). Dari Abu bakar r.a. katanya Rasulullah s.a.w. bersabda : Janganlah menjual emas dengan emas melainkan sama banyak : dan perak dengan perak melainkan sama banyak. Dan boleh kamu jual emas dengan perak dan perak dengan emas berapa kamu kehendaki.” (Bukhari).

Dari Abi Sa’id Al Khudri r.a., katanya Rasulullah saw bersabda : ”Jangan kamu jual emas dengan emas melainkan sama banyak, dan jangan kamu lebihkan yang satu atas yang lain. Jangan kamu jual perak dengan perak melainkan sama banyak, dan jangan kamu lebihkan yang satu atas yang lian. Dan jangan kamu jual beli emas dan perak tanpa timbang terima (Bukhari).

Dari Abu Sa’id Al Khudri, dari Abu Hurairah r.a. katanya : ”Rasulullah saw. memperkerjakan seorang laki-laki di Khaibar. Kemudian orang itu datang kepada beliau membawa kurma yang bagus, Rasulullah saw, bertanya kepadanya, ”Apakah semua kurma Khaibar sebagus ini ?” Jawabnya, ”Tidak ! Demi Allah, ya Rasulallah ! Sesungguhnya kami menukar satu gantang kurma ini dengan dua gantang (kurma lain), atau dua gantang (kurma ini) dengan tiga gantang (kurma lain).” Sabda Rasulullah saw., ”Jangan kamu lakukan lagi seperti itu. Juallah (kurma) campuran dengan (uang) dirham, kemudian belilah (kurma) yang lebih baik dengan dirham (Bukhari).

Demikian pula dari Barra’ bin ’Azib dan Zaid bin Arqam r.a., keduanya ditanya orang tentang pertukaran. Masing-masing mengatakan. ”Orang ini lebih (tahu) dengan baik daripada saya.” Keduanya berkata, ”Rasulullah s.a.w. melarang menjual emas dengan perak secara berutang.” (Bukhari).

Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a., katanya : “Bilal datang kepada Nabi saw, membawa akurma Barni. Nabi saw, bertanya : “Dari mana ini ?” Jawab Bilal, “Aku mempunyai kurma yang kurang bagus. Lalu kujual dua gantang denga segantang untuk dimakan Rasulullah saw.” Sabda Nabi saw, “Wah, Wah ! Itulah riba ! Itulah riba! Janganlah engkau lakukan lagi. Tetapi apabila engkau hendak membeli kurma yang bagus, juallah kurma yang kurang bagus secara jual beli, kemudian belilah kurma Barni.” (Bukhari).

2. Melakukan Penipuan
Allah melarang menggunakan sumpahsebagai alat penipu. Dalam surat An Nahl ayat 92 : Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan lain.

Rasulullah s.a.w. juga melarang melakukan penipuan dalam jual-beli. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : ”Seorang laki-laki bercerita kepada Rasulullah s.a.w. bahwa dia ditipu orang dalam hal jual beli. Maka sabda beliau : ”Apabila engkau berjual beli, maka katakanlah jangan menipu” (Bukhari dan Muslim). Demikian pula diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a.,ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang jual beli dengan cara pelemparan batu kerikil dan cara yang mengandung penipuan (Muslim).

3. Mengambil Secara Batil
Allah melarang mengambil harta secara batil, seperti dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 188 : Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamudapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. Juga disebutkan dalam Al Qur’an surat An Nisaa’ ayat 29 : Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Demikian pula dalam surat An Nisaa’ ayat 161 : Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka siksa  yang pedih. 

Allah memberikan siksa yang pedih bagi yang memakan harta dengan jalan batil dan menghalang-halangi jalan Allah, seperti disebutkan dalam Al Qur’an surat At Taubah ayat 34 : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka beritahukanlah kepada  mereka,(bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.

Rasulullah s.a.w. melarang untuk mengambil harta orang muslim tanpa hak. Dari Ibnu Mas’ud, dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. bersabda : Barangsiapa mengambil harta benda seorang Muslim tanpa hak, maka dia akan menemui Allah dalam keadaan murka kepadanya.” (Ahmad).

4. Berlaku Curang dan Merugikan
Allah melarang berlaku curang dan merugikan orang lain. Firman Allah dalam surat Al Muthaffifiin ayat 1-3 : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain mereka mengurangi.

Allah juga melarang merugikan orang lain dan berbuat kejahatan.Dalam surat Huud ayat 85 : Dan Syuaib berkata : ”Hai kaumku cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

Rasulullah s.a.w. melarang untuk menipu, berbuat curang dan berbuat kejahatan. Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata : Tidaklah perbuatan menipu itu muncul dalam suatu kaum, melainkan Allah akan menimpakan perasaan takut dalam hati mereka dan tidaklah perbuatan zina itu menyebar dalam suatu kaum, melainkan akan banyak kematian di antara mereka. Dan tidaklah suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, melainkan Allah akan memutuskan rezki dari mereka dan tidaklah suatu kaum berhukum dengan benar, melainkan akan menyebar di antara mereka pertumpahan darah. Dan tidaklah suatu kaum mengkhianati perjanjian, melainkan Allah akan kuasakan musuh atas mereka (Malik dan Thabrani).

Dari Ibnu Umar r.a. katanya : “Pada masa Rasulullah s.a.w., saya melihat orang-orang yang memperjual belikan makanan dengan kira-kira (tanpa ditimbang atau digantang), mereka dipukul, karena menjualnya hingga mereka pindahkan ke tempat mereka.”

5. Melakukan Penimbunan           
Penimbunan atas dagangannya dan menantikan mahalnya harga dan pada saat itu menjual dengan harga setinggi-tingginya tidak dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah juga melarang untuk menimbun harta. Dalam surat  Al Humazah 1-3 : “Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela. Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya”.

Demikian pula Rasulullah s.a.w. melarang menimbun barang dagangan pada saat harga akan naik. Diriwayatkan dari Ma’mar bin Abdullah r.a.,ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : Barangsiapa menimbun barang dagangannya (harganya naik), maka ia berdosa (Muslim).

6. Memonopoli
Allah melarang harta itu beredar pada orang kaya saja atau harta itu dimonopoli oleh orang kaya saja. Dalam surat Al Hasyr ayat 7 : “Apa saja harta rampasan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya”.

Rasulullah s.a.w. melarang untuk memonopoli dagangan. Dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah saw, bersabda : “Janganlah kamu mencegat pedagang sebelum sampai di pasar (untuk dimonopoli). Barangsiapa menghadang pedagang lalu membeli barang dagangannya, maka sesampainya di pasar berhak menentukan pilihan antara tetap menjualnya atau membatalkan penjualan” (Muslim). Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w.melarang penghadangan barang-barang perdagangan (untuk dimonopoli) sebelum tiba di pasar, juga melarang orang kota memonopoli perdagangan terhadap orang desa. Kata Thawus : Aku menanyakan kepada Ibnu Abbas, Apa maksud sabda Rasulullah s.a.w., Orang kota terhadap orang desa? Ibnu Abbas menjawab : ”Maksudnya dilarang menjadi tengkulak yang memonopoli” (Bikhari dan Muslim).

7. Berkhianat Terhadap Rekan Bisnis
Allah melarang berkhianat terhadap orang lain. Dalam surat Al Anfaal ayat 27 : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu khawatir mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat  yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Demikian juga dalam surat Al Anfaal ayat 58 : Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.

Rasulullah s.a.w. juga menganjurkan untuk tidak berkhianat, karena Allah akan keluar dari perserikatan tersebut. Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. bersabda : Allah azza wa jalla berfirman : Aku adalah ketiga dari dua orang yang berserikat, selama salah seorang dari keduanya tidak mengkhianati sahabatnya. Apabila ia telah mengkhianatinya, maka Aku keluar dari keduanya (Abu Daud dan Al Hakim).

8. Menggunakan Sumpah Palsu
Allah melarang bersumpah palsu untuk melakukan penipuan. Dalam surat An Nahl ayat 94-95 : Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan bagimu azab yang besar. Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Rasulullah s.a.w. juga melarang menjual barang dengan sumpah palsu. Dari Abu Dzar r.a., Nabi s.a.w. bersabda : ”Tiga golongan manusia, Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat kelak, tidak menyucikan mereka dan mereka mendapat siksa yang pedih.”  Ia berkata :”Rasulullah mengucapkan sebanyak tiga kali”, kemudian aku katakan :”Mereka celaka dan sangat merugiwahai Rasulullah?” Beliau menjawab :”Orang yang memanjangkan kainnya (melebihi mata kaki), orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya (pemberiannya) dan yang menjual barangnya dengan sumpah palsu (Bukhari dan Muslim).     

9. Menyerahkan Bisnis Pada Orang Yang Belum Mampu
Allah melarang untuk berbisnis langsung dengan orang yang lemah akalnya. Dalam surat Al Baqarah ayat 282 : Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur.

Allah juga melarang untuk berbisnis langsung dengan orang yang belum sempurna akalnya. Dalam surat An Nisaa’ ayat 5-6 : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk nikah. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka tealah cerdas (pandai memelihara harta),maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian).

10. Mengobral Sumpah
Allah melarang bersumpah untuk keburukan. Dalam surat Al Baqarah ayat 224-225 : Jangan jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwadan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Rasulullah s.a.w. melarang mengobral sumpah dalam jual beli. Dari Abu Qatadah Al Anshari r.a., bahwasannya dia telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : Hindarilah banyak bersumpah di dalam jual beli, karena demikian itu bisa membuat laku tetapi menghancurkan dagangan (Muslim).  Dari Abu Hurarirah r.a., katanya dia mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Sumpah itu melariskan dagangan, tetapi menghapus keberkahan.” (Bukhari).

11.  Menggunakan Combe
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli dengan menggunakan combe. Combe merupakan kawan dari penjual agar pura-pura melakukan penawaran dengan harga tinggi, sehingga orang lain tertarik untuk menawarnya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., bahwasannya Rasulullah s.a.w. melarang penjualan dengan cara mengadakan penawaran combe (Bukhari dan Muslim).

12. Menyaingi Penjualan dan Penawaran Saudaranya
Rasulullah s.a.w. melarang menjual dengan cara menyaingi penjualan saudaranya dan menawar menyaingi penawaran saudaranya. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya Rasulullah s.a.w., bersabda ”Janganlah kamu menjual penjualan saudaramu” (Bukhari).

Dari Abu Hurairah r.a. katanya : “Rasulullah s.a.w. melarang orang kota menjualkan barang (dagangan) orang desa dan janganlah kamu membohongkan harga barang dan janganlah seseorang menjual menyaingi harga jual saudaranya; janganlah menawar sesuatu yang sedang dalam penawaran saudaranya dan jangan seorang wanita minta supaya diceraikan saudaranya (madunya) untuk menunggangkan isi bejananya”(Bukhari). Riwayat lain dari Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah s.a.w., bersabda “Janganlah kamu menyongsong rombongan orang-orang berkendaraan (kafilah); janganlah kamu menjual dengan harga menyaingi harga jual orang lian, janganlah kamu membohongkan harga barang, janganlah orang kota menjualkan kepunyaan orang desa dan jangan menahan air susu kambing, dan barangsiapa membelinya, ia boleh memilih antara dua sesudah diperahnya, jika ia suka boleh diteruskannya, dan jika tidak, boleh dikembalikannya dan ditambah dengan segantang kurma” (Bukhari).

13.  Spekulasi (Gharar)
Secara bahasa, gharar mempunyai arti hal yang tidak diketahui atau bahaya tertentu. Sedangkan menurut terminologi fiqih, gharar merupakan hal yang tidak diketahui terhadap akibat satu perkara / transaksi atau ketidakjelasan antara baik dan buruknya.

Dalam surat Al  Maaidah ayat 90 : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminumkhamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala,mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Jual beli gharar atau spekulasi antara lain habalul habalah, mulamasah, munabazah, muhaqalah, muzabanah, mukhabarah, mu’awamah,  tsun-ya dan jual beli buah-buahan yang belum nyata hasilnya.

a. Habalul Habalah
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli habalil habalah, yaitu waktu batas pembayarannya menunggu buntingnya anak onta yang masih di dalam kandungan. Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : “Rasulullah s.a.w. melarang jual beli habaul habalah seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. Biasanya seorang laki-laki membeli seekor unta hingga unta itu beranak, kemudian anaknya itu beranak pula” (Bukhari dan Muslim).

b. Mulamasah dan Munabazah
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli kain yang hanya dilempar saja, tidak dilihat secara seksama dan tanpa persetujuan lebih dahulu. Rasulullah s.a.w. juga melarang berjual beli yang hanya menyentuh saja harus dibeli, tanpa melihat secara seksama. Dalam jual beli barangnya harus dilihat secara seksama dan saling suka sama suka serta tidak adanya penipuan.
Dari Abu Sa’id r.a, ia menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. melarang Munabazah. Yakni, melemparkan kainnya kepada yang lain dalam jual beli, maka telah terjadi transaksi antara keduanya sebelum dibalik-balik atau dilihatnya kain secara seksama dan tanpa persetujuan lebih dahulu. Dan beliau melarang Mulamasah, yakni menyentuh kain penjual yang tidak dilihat secara seksama.” (Bukhari dan Muslim).

c. Jual Beli Buah Yang Belum Nyata Hasilnya
Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan yang belum nyata hasilnya. Dari Jabir r.a. katanya : ”Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan, kecuali setelah menjadi (tampak) baik” (Bukhari dan Muslim). Juga dari Jabir bin Abdullah r.a., katanya : ”Nabi saw, melarang menjual buah-buah sebelum masak.Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ”Bagaimanakah buah yang masak ?”Jawab Nabi saw., ”Kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan dapat dimakan seketika” (Bukhari). Demikian pula dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : ”Rasulullah s.a.w.  bersabda : ”Janganlah kamu jual buah-buahan hingga nyata hasilnya, dan jangan kamu jual kurma basah dengan kurma kering” (Bukhari).
Dari Zaid bin Tsabit r.a. katanya ”Biasanya pada masa Rasulullah s.a.w. orang banyak berjual beli buah-buahan, setelah tiba waktu memetik dan bayar membayar, si pembeli mengatakan : buah ini busuk, kena penyakit, layu dan macam-macam kerusakan yang mereka jadikan alasan. Ketika mereka bertengkar sudah demikian rupa, Nabi s.a.w. Bersabda : ”Jika begitu, janganlah Tuan-tuan berjual beli sehingga telah nyata benar buah itu baik.” Selaku orang yang suka bermusyawarah (demokratis), beliau memimpinkan hal itu karena banyaknya terjadi pertikaian antara sesama mereka” (Bukhari).
Dari Anas bin Malik r.a, katanya : ”Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melarang menjual buah-buahan sebelum masak. Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ”Bagaimanakah yang masak itu ?” Sabda Nabi s.a.w., ”Sehingga merah,” Kemudian beliau melanjutkan, ”Bagaimanakah jadinya kamu, apabila Allah telah melarang (menjual) buah-buahan (yang masih muda), dengan jalan mana seseorang kamu (seolah-olah) mengambil harta saudaranya.”

d. Muhaqalah, Muzabanah dan Mukharabah
Rasulullah s.a.w. melarang jual beli muhaqalah, muzabanah dan mukhabarah. Diriwayatkan dari Zaid bin Abu Unaisah, ia berkata :” Kami pernah diberitahu oleh Walid Al Makkiy ketika dia sedang duduk di sisi Atha’ bin Abu Rabbah, dari Jabir bin Abdullah r.a., bahwasannya Rasulullah s.a.w. melarang penjualan hasil panen dengan cara muhaqalah, muzabanah dan mukhabarah, serta melarang penjualan buah kurma kecuali setelah isyqah. Isyqah adalah buah kurma yang telah memerah atau menguning atau sudah bisa dimakan sebagiannya. Muhaqalah adalah menyewakan kebun dengan pembayaran makanan (bahan makanan) dalam takaran yang ditentukan. Muzabanah adalah menyewakan kebun kurma dengan pembayaran beberapa ausuq  kurma kering. Mukhabarah adalah menyewakan kebun atau ladang dengan pembayaran 1/3 atau 1/4 hasil panennya atau seberapa”. Kata Zaid : ”Aku tanyakan kepada Atha’ bin Rabbah, Apakah kau pernah mendengar Jabir bin Abdullah menuturkan hadis ini dari Rasulullah s.a.w.?” Dia menjawab : ”Ya pernah” (Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. katanya : ”Sesungguhnya Rasulullah saw. Melarang Muzabanah dan Mahaqalah. Muzabanah, yakni membeli buah kurma basah dengan kurma kering yang masih di atas pohon.” (Bukhari). Dari Abdullah bin Umar r.a. katanya : ”Bahwasanya Rasulullah s.a.w. melarang muzabanah. Muzabanah, yakni membeli kurma basah dengan kurma kering cara takaran, dan menjual anggur basah dengan anggur kering dengan cara takaran”(Bukhari). Riwayat lain dari Ibnu Umar r.a., katanya : ”Rasulullah s.a.w, melarang jual beli muzabanah. Yakni, menjual buah-buahan dalam kebun. Jikalau dalam kebun itu ada pohon kurma, ia menjualnya dengan kurma kering gantangan; jikalau dalam kebun itu ada anggur, maka dijualnya anggur kering gantangan, atau pun tanam-tanaman (lain), dijualnya dengan gantangan. Beliau melarang kesemuanya itu” (Bukhari).

e. Mu’awamah dan Tsun-ya
Rasulullah s.a.w. melarang untuk jual beli dengan sistem mu’awamah dan tsun-ya. Sistem tersebut pada saat itu bisa merugikan salah satu pihak. Diriwayatkan dari Abu Zubair dan Sa’in bin Mina’, dari Jabir bin Abdullah r.a., ia berkata : Rasulullah s.a.w. melarang jual beli sistem  muhaqalah, muzabanah, mu’awamah dan tsun-ya, namun beliau meperbolehkan sistem’araya. Mu’awamah menyewakan kebun buah selama beberapa tahun untuk dipungut buahnya.  Tsun-ya adalah menyewakan ladang dengan pengecualian yang tidak tegas (Muslim).
Rasulullah s.a.w. juga melarang menyewakan kebun beberapa tahun, karena apabila pohonnya tidak berbuah sama sekali atau hanya berbuah sedikit, maka pihak penyewa rugi. Sebaliknya, jika buahnya melimpah, pihak yang menyewakan menyesal. Diriwayatkan dari Jabir r.a., ia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang penyewaan kebun buah selama beberapa tahun”.Menurut riwayat Ibnu Syaibah : ”Rasulullah s.a.w. melarang penyewaan kebun untuk dipungut buahnya beberapa tahun” (Muslim).

7.9.    Bisnis yang dilarang Allah dan RasulNya.
1.  Minuman Yang Memabukkan dan Perjudian
Allah dan Rasul-Nya melarang perjudian dan khamar (minuman yang memabukkan). Firman Allah dalam Al Baqarah ayat 219 : Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah : ”Pada keduanya itu terdapat dosa besar daripada manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah :”Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada supaya kamu berpikir. Dalam surat Al Maa’idah ayat 90 – 91 : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan.

Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (minum) khamar dan berjudi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).

Rasulullah s.a.w. bersabda : Sesungguhnya Allah SWT. Telah mengharamkan minuman yang memabukkan (khamar). Maka barangsiapa telah sampai kepadanya ayat tersebut dan dia masih minyimpan khamar, janganlah dia meminum dan menjualnya (Muslim).

Demikian puladari Ibnu Abba, dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang khamar dan judi” (Abu Daud). Bahkan Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk memukul orang yang minum minuman keras. Dari ‘Uqbah bin Harits r.a. katanya : “Nu’aiman atau anak Nu’aiman di bawa orang ke hadapan Rasulullah saw, karena ia mabuk meminum minuman keras. Lalu Rasulullah s.a.w.,  memerintahkan kepada semua orang yang ada dalam rumah supaya memukulnya. Kata ‘Uqbah, “Saya termasuk orang yang turut memukulnya. Kami pukul dia dengan terompah dan pelepah kurma.” (Bukhari).

2.Penjualan Darah, Babi, Bangkai dan Berhala.
Allah melarang berjualan darah, bangkai, daging babi dan berhala. Dalam surat Al Baqarah ayat 173 : Sesungguhnya Allah mengharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka  tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam surat Al Maaidah ayat 3 : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih selain atas nama Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binanatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan (diharamkan) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak paha itu) adalah kefasikan.

Demikian pula Rasulullah s.a.w. juga melarang menjual bangkai, babi dan berhala. Diriwayatkan Jabir bin Abdullah r.a., bahwasanya dia pernah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda ketika beliau berada di Mekah pada tahun penaklukan : ”Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan khamar, bangkai, babi dan berhala”. Lalu ditanyakan : Ya Rasulallah! Bagaimana dengan lemak bangkai yang bisa dipakai untuk mengecat kapal, untuk meminyaki kulit dan orang-orang mempergunakan untuk lampu? Rasulullah s.a.w. menjawab : ”Jangan! Itu haram.” Pada saat itu Rasulullah juga bersabda : Semoga Allah mengutuk orang Yahudi. Sesungguhnya ketika Allah ’Azza wa Jalla mengharamkan lemak bangkai kepada orang-orang Yahudi, mereka mengolah lemak tersebut lalu menjualnya, kemudian mereka makan hasil penjualannya” (Bukhari dan Muslim).

3. Harga Anjing, kucing, upah pelacuran dan upah tukang tenung.
Allah dan Rasul-Nya melarang berbisnis pelacuran. Dalam surat An Nuur ayat 33 : Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu.

Dari Abu Mas’ud Al Anshari, katanya : ”Rasulullah s.a.w., melarang tentang harga (jual beli) anjing, membayar upah pelacur dan membayar tukang tenung” (Bukhari dan Muslim). Dari Jabir r.a., dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. mengambil uang hasil penjualan anjing dan kucing, kecuali anjing untuk berburu.” (Nasa’i).

Demikian pula Rasulullah s.a.w. bersabda :  ”Barangsiapa memiliki anjing, maka pahalanya berkurang dua qirath setiap hari, kecuali anjing untuk menjaga kebun dan binatang ternak.”(Bukhari).

4. Penjualan Obat Bius
Rasulullah s.a.w.  melarang penjualan obat bius, yang meliputi kokain, narkotika, ganja, mariyuana dan sebagainya. Dari Ummu Salamah r.a., dia berkata : ”Rasulullah s.a.w. melarang setiap hal yang memabukkan dan mencandukan.” (Abu Daud).





Diktat Kewirausahaan-2

23 07 2012

BAB III. SIKAP DAN KEPRIBADIAN KEWIRAUSAHAAN

Dalam Bab ini akan membahas tentang Sikap dan Kepribadian Kewirausahaan sebagai kelanjutan dari Konsep Dasar Kewirausahaan. Sikap dan Kepribadian Kewirausahaan sebagian besar akan menyoroti perwatakan pribadi seorang wirausahawan yang dapat dipakai sebagai cermin serta dapat dikembangkan dalam jangka waktu tertentu bagi sebuah perusahaan atau organisasi untuk memperoleh profit yang maksimal dengan pemanfaatan sumber daya yang efektif dan Efisien.

Pembahasan dimulai dari Karakteristik Kewirausahaan, Makna Wirausaha sebagai pribadi, Bentuk dan Sikap Mental Wirausaha, Kepribadian Wirausaha, Kiat-kiat membangun Kepribadian Wirausaha serta diakhiri dengan Motif berprestasi dalam Kewirausahaan.

3.1. Karakteristik Kewirausahaan
Kegiatan wirausaha tidak dapat dilepaskan dari unsur individu wirausahawan itu sendiri.Maju mundurnya usaha wirausahawan akan sangat ditentukan oleh inisiatif, gagsan dan inovasi, karya dan kreatifitas serta berfikir positif. Keberhasilan wirausaha dicapai apabila wirausahawan menggunakan gagasan terhadapproduk, proses, dan jasa-jasa inovasi sebagai alat untuk mengendalikan perubahan.Inovasi ala Schumpeter terdiri dari dua sisi pengertian yaitu, technical world andbusiness world. Dari sisi teknis, perubahan teknologi disebut invensi, namun manakala bisnisterlibat didalamnya maka upaya itu disebut inovasi.

Kadjatmiko & Gana (2001) berpandangan bahwa inovasisesungguhnya bersumber pada suatu yang eksis di perusahaan dan diluar perusahaan.Inovasi yang efektiv adalahsederhana, focus, menerima apa yang dikatakan orang, spesifik, jelas, dimulai dari yang kecil dandesign aplikasi yang hati-hati.

Garis besar Karakteristik dari Kewirausahaan pada umumnya meliputi hal-hal sebagai berikut :

a. Berjiwa Wirausaha/Wirausaha/Entrepreneurship
Wirausahawan adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan dan bermotivasi tinggi yang mengambil resiko dalam mengejar tujuannya. Tanda-tanda berikut memberikan sebuah profil dari seorang wirausahawan, yaitu : Percaya pada diri sendiri, berorientasi kepada tindakan, pengambilan resiko, berorientasi ke masa depan, keorisinilan dll.

Jiwa dan sikap kewirausahaan akan selalu dimiliki oleh orang-orang percaya diri (yakin, optimis dan penuh komitmen), berinisiatif (energik dan percaya diri), motif berprestasi (berorientasi hasil dan berwawasan ke depan), jiwa kepemimpinan (berani tampil beda), dimana mereka yangselalu mencari perubahan , berusaha mengikuti dan menyesuaikan pada perubahan itu, sertamemanfaatkannya sebagai peluang serta mampu memilih dan mengambil keputusan alternativeyang paling tinggi produktivitasnya.

Terdapat Sembilan ciri pokok keberhasilan, dan bukan ciri-ciripribadi (personal traits)

  • dorongan prestasi yang tinggi,
  • bekerja keras, tidak tinggal diam,
  • memperhatikan kualitas produknya, baik barang maupun jasa,
  • bertanggung jawab penuh,
  • berorientasi pada imbalan yang wajar,
  • optimis,
  • berorientasi pada hasil karya yang baik (excellence oriented),
  • mampu mengorganisasikan, dan
  • berorientasi pada uang

Dasar ini meliputi watak-watak yang seharusnya dimiliki oleh Wirausahawan untuk dikembangkan. Mungkin tidak keseluruhan sifat-sifat tersebut di atas dapat dimiliki oleh seorang wirausahawan, namun semakin banyak maka semakin besar peluang menjadi wirausahawan yang sukses. Perlu diketahui disini bahwa perwatakan tersebut saling berkaitan atau berhubungan. Misalnya, orang-orang yang yakin akan dirinya mungkin menerima tanggung jawab atas perbuatannya bersedia mengambil resiko dan menjadi pemimpin.

b. Kepemimpinan
Para wirausahawan berdasarkan pekerjaannya pada hakekatnya adalah pemimpin, karena harus mencari peluang-peluang, memulai proyek, mengumpulkan sumber-sumber daya manusia dan financial yang diperlukan untuk melaksanakan proyek, menentukan tujuan untuk mereka sendiri dan orang lain serta bertindak untuk memimpin dan membimbing orang lain untuk mencapai tujuan. Kesimpulannya seorang wirausahawan yang berhasil adalah pemimpin yang berhasil pula.

Kadarsan (2001), menyatakan bahwa kepemimpinan (leadership) adalah proses mengarahkan dan mempengaruhi aktivitas yang berkaitan dengan pekerjaan dari anggta kelompok sehingga memiliki empat aplikasi tentang kepemimpinan. Bedasarkan unsur-unsurnya kepemimpinan terbagi ke dalam lima yaitu, leader, pengikut, organisasi, objective dan lingkungan.

Seorang pemimpin dalam melakukan kepemimpinannya dapat menggunakan bentuk-bentuk kekuasaan yang dirasakan (perceived power), seperti Memaksa (Coercive), Imbalan (Reward), Sah (Legitimate), Ahli (Expert), Dan Referensi (Referent). Begitu pula dalam melakukan kegiatan seorang pemimpin dipengaruhi oleh lingkungan baik internal maupun eksternal perusahaan.

Wirausahawan yang juga merupakan seorang pemimpin perusahaan harus menyadari tujuan perusahaan akan dapat di capai dengan baik jika terbentuk jalinan kerja sama yang baik antara lingkungan internal dan eksternal.

Menurut Marshall (1996), kepemimpinan yang tepat pada saat ini adalah kepemimpinan kolaborasi, dimana seorang pemimpin memiliki fungsi uama sebagai sponsor, sebagai fasilisator, sebagai pelatih, sebagai papan gema, sebagai agen katalis, sebagai dokter, sebagai anggota, serta sebagai manajer administrator. Menurut Reddin (1970), dengan teori tiga dimensi kepemimpinan dilihat dari aktifitasnya, tipe kepemimpinan dibagi menjadi 8 tipe, yaitu Deserter, Bureaucrat, Missionary, Develop, Autocrat, Benevolent, Autocrat Compromise, dan Excecutif.

Batasan Administrasi : Manajemen : Kepemimpinan adalah sebagai berikut :
Administrasi : upaya mengarahkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang diinginkan oleh pihak ketiga dengan menggunakan cara-cara yang ditentukan oleh pihak ketiga tsb.
Manajemen : upaya mengarahkan orang lain dalam rangka mencapai tujuan dengan menggunakan cara-cara tertentu, yang ditetapkan oleh manajer.
Kepemimpinan : upaya memandu, mendorong, dan memfasilitasi orang lain dalam rangka mencapai tujuan dengan menggunakan cara-cara tertentu, yang mana cara dan tujuan tersebut ditentukan atau disepakati oleh orang tersebut.

c. Mengambil Resiko
Wirausahawan menyukai resiko karena mereka ingin berhasil. Mereka mendapat kepuasan besar dalam melakukan tugas-tugas yang sulit dengan menerapkan ketrampilan-ketrampilannya. Pada umumnya orang takut menghadapi resiko karena ia ingin aman.Padahal kita tahu bahwa setiap aktivitas pekerjaan pasti mengandung resiko yang merupakan hakiki daripada seorang wirausahawan. Setiap resiko pasti mengandung potensi kegagalan dan kesuksesan. Keputusan yang diambil seorang wirausahawan dilakukan dengan cara memilih alternative-alternatif.

Faktor yang mempengaruhi setiap alternative antara lain :

  • Daya tarik setiap alternative
  • Sejauh mana bersedia untuk dijalankan.
  • Ratio kemungkinan sukses atau gagal
  • Seberapa jauh dapat meningkatkan kemungkinan sukses dan mengurangi gagal.

Meskipun imbalan dalam berwirausaha menggiurkan, tapi ada juga biaya yang berhubungan dengan kepemilikan bisnis tersebut. Memulai dan mengoperasikan bisnis sendiri membutuhkan kerja keras, menyita banyak waktu dan membutuhkan kekuatan emosi. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi wirausaha, tidak ada jaminan kesuksesan. Wirausaha harus menerima berbagai resiko berhubungan dengan kegagalan bisnis. Tantangan berupa kerja keras, tekanan emosional, dan risiko meminta tingkat komitmen dan pengorbanan jika kita mengharapkan mendapatkan imbalan.

d.  Mengambil Keputusan
Masa depan organisasi atau perusahaan/usaha ditentukan oleh hasil keputusan. Data kuantitatif biasanya tersedia untuk mengambil keputusan rutin, tetapi fakta dan angka kerapkali tidak mempunyai arti bagi keputusan tingkat puncak yang mempengaruhi masa depan organisasi. Dalam setiap Problem solving akan selalu diikuti untuk mengambil keputusan dalam rangka memecahkan masalah tersebut. Namun setiap langkah keputusan itu biasanya akan terangkai munculnya masalah baru. Oleh karena itu pengambilan keputusan adalah bersifat dinamis bukan statis.

Orientasi sikap pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh factor internal individu seorang wirausawan serta factor eksternal dari lingkungan mikro dan makro perusahaan.

e. Perencanaan
Dalam sebuah usaha atau bisnis terdapat dua macam perencanaan, yaitu perencanaan rutin dan perencanaan tidak rutin (incidental) berdasarkan perkembangan situasi dan kondisi. Pada sebuah perencanaan bisnis terdapat dua cara yaitu perencanaan jangka pendek dan perencanaan jangka panjang.

Wirausahawan yang berhasil juga merupakan pemimpin yang berhasil. Dikatakan sebagai pemimpin karena mereka harus mencari peluang-peluang, melalui proyek-proyek, mengumpulkan sumber daya (bahan, teknologi, manusia dan modal) yang diperlukan untuk melaksanakan proyek, menentukan tujuan, baik untuk mereka sendirimaupun untuk orang lain, dan memimpin serta membimbing orang lain untuk mencapai tujuan. Seorang pemimpin yang efektif akan selalu mancari cara-cara yang lebih baik. Pemimpin yang berhasil adalah jika dalam kegiatan percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efesien yang meningkat, dan keberhasilan yang berkesinambungan dari bisnis perusahaannya

f. Menggunakan Waktu yang Efektif
Melalui time schedule maka akan dicapai hasil-hasil yang lebih baik. Ingat Time is Money. Dengan demikian bagi para wirausahawan waktu adalah salah satu harta perusahaan yang penting.

Sikap dan Perilaku sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar wirausahawan tersebut dapat maju/sukses.

Pendapat M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993) mengemukakan delapan karakteristik yang meliputi :

  1. Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
  2. Lebih memilih risiko yang moderat.
  3. Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil
  4. Selalu menghendaki umpan balik yang segera
  5. Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan
  6. Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik .
  7. Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah
  8. Selalu menilai prestasi dengan uang.

Wirausaha selalu komitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil. Ia tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Ia berani mengambil resiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan artinya risiko yang di ambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung oleh komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai ada hasil. Hasil-hasil ini harus nyata/jelas dan objektif dan merupakan umpan balik bagi kelancaran kegiatannya. Dengan semangat optimis yang tingggi karena ada hasil yang diperoleh, maka uang selalu dikelolah secara proaktif dan dipandang sebagai sumber daya.

3.2.    Wirausaha Sebagai Pribadi
Setiap orang/individu adalah unik, tidak ada duanya (mempunyai pengalaman masa lampau yang berbeda, hidup dalam situasi kehidupan yang berlainan, mempunyai ikatan dan tanggungjawab yang berlainan dan mempunyai tujuan hidup yang berlainan).

Pekerjaan, keadaan keluarga, dan keuangan serta faktor–faktor lain akan ikut menentukan sikap terhadap kewirausahaan. Wirausahawan mempunyai berbagai kewajiban dan ikatan terhadap diri sendiri dan orang lain termasuk istri anda, keluarga, atasan atau karyawan. Dalam merencanakan masa depan, bersifatlah realistik dalam menentukan hal–hal mengenai diri anda; yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah. Pengalaman masa lampau seharusnya dapat membantu dalam memahami lebih baik situasi sekarang.

Kebanyakan wirausaha mempunyai tujuan dan pengharapan tertentu. Semakin jelas tujuan, semakin besar kemungkinan mencapai tujuan.

Imbalan Dalam Wirausaha
Tiap orang tertarik kepada kewirausahaan kerena berbagai imbalan yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar : Laba, Kebebasan, dan kepuasan dalam menjalani hidup.

a. Imbalan Laba
Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya mengganti kerugian waktu dan uang yang diinvestasikan tetapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Dengan demikian imbalan berupa laba merupakan motivasi yang kuat bagi wirausaha tertentu. Laba adalah salah satu cara dalam mempertahankan nilai perusahaan. Beberapa wirausaha mungkin mengambil laba bagi dirinya sendiri atau membagikan laba tersebut, tetapi kebanyakan wirausaha puas dengan laba yang pantas.

b. Imbalan Kebebasan
Kebebasan untuk menjalankan perusahaannya merupakan imbalan lain bagi seorang wirausaha. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991 menunjukkan bahwa 38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaan nya di perusahaan lain karena mereka ingin menjadi bos atas perusahaan sendiri. Beberapa wirasuaha menggunakan kebebasannya untuk menyusun kehidupan dan perilaku kerja pribadinya secara fleksibel. Kenyataannya banyak wirausaha tidak mengutamakan fleksibiltas disatu sisi saja. Akan tetapi wirausaha menghargai kebebasan dalam karir kewirausahaan, seperti mengerjakan urusan mereka dengan cara sendiri, memungut laba sendiri dan mengatur jadwal sendiri.

c. Imbalan Berupa Kepuasan Dalam Menjalani Hidup
Wirausaha sering menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Pekerjaan yang mereka lakukan memberikan kenikmatan yang berasal dari kebebasan dan kenikmatan ini merefleksikan pemenuhan kerja pribadi pemilik pada barang dan jasa perusahaan. Banyak perusahaan yang dikelolah oleh wirausaha tumbuh menjadai besar akan tetapi ada juga yang relative tetap berskala kecil.

Anda harus bersedia belajar dari pengalaman dan berubah dari waktu ke waktu.
Anda haruslah selalu sadar akan cara-cara baru untuk meningkatkan produktivitas anda sendiri.
Salah satu kunci utama bagi keberhasilan anda
adalah keterlibatan anda dalam pertumbuhan pribadi secara terus menerus

3.3. Bentuk Sikap Mental Wirausaha
Kebanyakan orang membiarkan keadaan luar mengendalikan sikap mereka, sedangkan para wirausaha menggunakan sikap mereka untuk mengendalikan keadaan. Sikap mental positif memudahkan untuk memfokuskan pada kegiatan dan kejadian atas hasil yang ingin dicapai. Malahan pengalaman negatif mempunyai segi yang positif. Wirausahawan harus bersikap mental secara positif terhadap semua peristiwa dan mencari hikmah dari setiap pengalaman

Para wirausaha memiliki pandangan hidup yang sehat. Mereka merupakan individu yang matang yang telah mengembangkan cara menilai pengalaman secara sehat. Beberapa bentuk sikap mental wirausaha yang ingin maju yaitu :

  1. Bersikap mental positif.
  2. Mempunyai tekad yang kuat
  3. Tekun, bekerja keras dan bertanggung jawab
  4. Selalu melakukan perbaikan diri dengan menggunakan pengetahuan, prestasi masa lampau, dan pandangan ke depan untuk menciptakan tujuan baru
  5. Selalu berusaha meningkatkan kualitas diri dengan melakukan perubahan untuk memotivasi diri mencapai sasaran yang lebih tinggi
  6. Percaya diri akan kemampuan dan kemauan
  7. Meningkatkan konsep diri dan kesan yang diperoleh orang lain dari diri sendiri dengan diawali penampilan menarik

Beberapa saran dan faktor yang berguna bagi wirausaha dalam mengembangkan sikap mental yang positif sebagai berikut :

  1. Pusatkan perhatian anda sedemikian rupa dan gunakanlah pikiran anda secara produktif.
  2. Pilihlah sasaran–sasaran positif dalam pekerjaan
  3. Bergaullah dengan orang–orang yang berpikir dan bertindak secara wirausaha. Cara berpikir, cara–cara dan ciri–ciri dari orang–orang di sekitar mungkin berimbas pada individu
  4. Jauhilah pikiran dan ide–ide yang negatif
  5. Sadarlah bahwa andalah yang mengendalikan pikiran anda, dan gunakanlah pikiran tersebut secara produktif
  6. Haruslah selalu awas terhadap peluang–peluang yang meningkatkan situasi, baik dalam kehidupan pribadi, kehidupan kerja maupun dalam kehidupan masyarakat
  7. Jangan takut meninggalkan suatu ide, jika tidak menghasilkan hasil yang benar. Lebih baik mengubah arah daripada mengejar suatu ide yang tidak akan berhasil secara memuaskan
  8. Lingkungan akan mempengaruhi prestasi. Jika lingkungan tidak memenuhi kebutuhan anda, ubahlah lingkungan itu, atau pindah ke lingkungan lain yang lebih positif dan memungkinkan tercapainya sasaran yang patut diinginkan
  9. Percayalah pada diri dan bakat. Sukses akan datang kepada mereka yang percaya pada kemampuan mereka dan menggunakan kemampuan itu sepenuhnya.
  10. Hilangkan beban mental dengan mengambil tindakan. Pusatkan pikiran pada suatu problem tertentu. Sekali mengambil keputusan, ambillah tindakan untuk memecahkan persoalan itu. Usahakan agar konflik mental diselesaikan secepat mungkin.
  11. Para wirausaha adalah orang yang mengetahui bagaimana menemukan kepuasan dalam pekerjaan dan prestasinya. Tunjukkan sikap mental yang positif terhadap pekerjaan anda, karena sikap inilah yang akan ikut menentukan keberhasilan.
  12. Otak merupakan alat yang berdaya luar biasa. Menyediakan waktu beberapa saat setiap hari untuk merenungkan pikiran yang akan memungkinkan anda terarah pada kegiatan yang berarti.
  13. Kebanyakan orang membatasi pikirannya pada masalah dan kegiatan sehari-hari. Gunakanlah imajinasi untuk meluaskan pikiran anda dan cobalah berpikir yang “besar”. Orang  yang dapat melihat “gambaran besar” merupakan orang yang bersifat wirausaha dan merupakan calon-calon pemimpin bisnis maupun masyarakat.
  14. Rasa humor ikut mengembangkan sikap mental yang sehat. Terlalu serius dapat merugikan pekerjaan dan tidak sehat. Menunjukkan rasa humor berpengaruh pada orang lain dengan jalan menyebarkan optimisme dan suasana yang santai.
  15. Pikiran haruslah terorganisasi dengan baik dan mampu memfokuskan pada berbagai masalah. Haruslah mampu memindahkan perhatian dari satu masalah ke masalah lain dengan upaya yang minim.

Dengan memperhatikan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh wirausaha, kita mungkin mengerti sikap mental mereka. Sikap mental positif memberikan sumbangan yang besar dalam mencapai prestasi yang berhasil.
Cara bertindak wirausaha mencerminkan bagaimana pendapat mereka tentang dirinya dan lingkungannya

Sikap mental yang tepat terhadap pekerjaan sangatlah penting. Para wirausaha yang berhasil menikmati pekerjaan mereka dan berdedikasi total terhadap apa yang mereka lakukan.
Sikap mental positif mereka mengubah pekerjaan mereka menjadi pekerjaan yang menggairahkan, menarik dan
memberikan kepuasan

3.4. Kepribadian Wirausaha
Alex Inkeles dan David H. Smith (1974), adalah salah satu diantara ahli yang mengemukakan tentang kualitas dan sikap orang modern tercermin pada orang yang berpartisipasi dalam produksi modern yang dimanifestasikan dalam bentuk sikap, nilai dan tingkah laku dalam kehidupan sosial. Ciri–cirinya meliputi keterbukaan terhadap pengalaman baru, selalu membaca perubahan sosial, lebih realitis terhadap fakta dan pendapat, berorientasi pada masa kini dan masa yang akan datang bukan pada masa lalu, berencana, percaya diri, memiliki aspirasi, berpendidikan dan keahlian, respect, hati–hati dan memahami produksi.

Ciri–ciri orang modern yang dikemukakan oleh Siagian, 1972, yaitu :

  1. Kesiapan diri dan keterbukaan terhadap inovasi
  2. Kebebasan yang besar dari tokoh–tokoh tradisional
  3. Mempunyai jangkauan dan pandangan yang luas terhadap berbagai masalah.
  4. Berorientasi pada masa sekarang dan masa yang akan datang
  5. Selalu berencana dalam segala kegiatan
  6. Mempunyai keyakinan pada kegunaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  7. Percaya bahwa kehidupan tidak dikuasai oleh nasib dan orang tertentu
  8. Memiliki keyakinan dan menggunakan keadilan sesuai dengan prinsip masing– masing.
  9. Sadar dan menghormati orang lain

Menurut Suryana (2003) yang dikutif dari Harsojo, modernisasi sebagai sikap yang menggambarkan :

  1. Sikap terbuka bagi pembaruan dan perubahan
  2. Kesanggupan membentuk pendapat secara demokratis
  3. Berorientasi pada masa kini dan masa depan
  4. Meyakini kemampuan sendiri
  5. Meyakini kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi
  6. Menganggap bahwa ganjaran itu hasil dari prestasi

Orang yang terbuka terhadap pengalaman–pengalaman baru akan lebih siap untuk merespon segala peluang dan tanggap terhadap tantangan dan perubahan sosial. Misalnya, dalam mengubah standar hidupnya. Orang yang terbuka terhadap ide–ide baru inilah merupakan wirausaha yang inovatif dan kreatif yang ditemukan dalam jiwa kewirausahaan. Pandangan yang luas dinamik dan kesediaan untuk pembaharuan, bisa lebih cepat berkembang dalam lapangan industri tidak lepas dari suatu latar belakang pendidikan dan pengalaman perjalanan yang banyak..

Menurut Kathleen dkk (1986), pola tingkah laku kewirausahaan diatas tergambar pula dalam perilaku dan kemampuan sebagai berikut :

  1. Kepribadian, aspek ini bisa diamati dari segi kreativitas, disiplin diri, kepercayaan diri, keberanian menghadapi resiko, memilki dorongan, dan kemauan kuat.
  2. Hubungan, dapat dilihat dari indikator komunikasi dan hubungan antar personal, kepemimpinan dan manajemen.
  3. Pemasaran, meliputi kemampuan dalam menentukan produk dan harga, periklanan dan promosi.
  4. Keahlian dalam mengatur, diwujudkan dalam bentuk penentuan tujuan, perencanaan, dan penjadwalan serta pengaturan pribadi.
  5. Keuangan, indikatornya adalah sikap terhadap uang dan cara mengatur uang.

Banyak para ahli menyebutkan bahwa kepribadian Wirausaha sama dengan Profil Wirausaha. Wirausaha selalu berkomitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil. Ia tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Karena itu, ia selalu tekun, ulet, pantang menyerah sebelum pekerjaannya berhasil dan tindakannya tidak didasari oleh spekulasi melainkan perhitungan yang matang. Ada beberapa ciri-ciri kewirausahaan yang dikemukakan oleh para ahli antara lain  oleh Vernon A dkk, (1989). Bentuk ciri-ciri seorang wirausaha sebagai berikut :

  1. Keinginan yang kuat untuk berdiri sendiri
  2. Kemauan untuk mengambil resiko
  3. Kemampuan untuk belaja

Mustahil anda menemui seorang wirausaha yang mendapat angka tinggi untuk semua sifat itu ; namun besar kemungkinan bahwa para wirausaha yang anda temui akan mendapat angka tinggi untuk kebanyakan sifat itu, terutama kepercayaan pada diri sendiri, kemampuan mengambil resiko, fleksibilitas, keinginan untuk mencapai sesuatu dan keinginan untuk tidak tergantung pada orang lain.

Daftar ini meliputi watak yang seyogyanya dimiliki dan dikembangkan jika ingin menjadi wirausaha. Mungkin anda tidak membutuhkan seluruh sifat ini, tetapi semakin banyak yang dimiliki, semakin besar kemungkinan anda menjadi wirausaha

P E R U B A H A A N
Bila anda mengubah pemikiran,  Anda mengubah keyakinan
Bila anda mengubah keyakinan, Anda mengubah harapan
Bila anda mengubah harapan, Anda mengubah sikap
Bila anda mengubah sikap, Anda mengubah perilaku
Bila anda mengubah perilaku, Anda mengubah kinerja
Bila anda mengubah kinerja, Anda mengubah hidup
Digubah Dari : DR. Walter Doyle Staples

3.5. Kiat-Kiat mengembangkan Kepribadian Wirausaha
Menurut Sudarmayanti (2007), pengembangan adalah setiap usaha memperbaiki pelaksanaan pekerjaan yang sekarang atau yang akan datang dengan memberikan informasi mempengaruhi sikap atau menambah kecakapan. Dengan kata lain pengembangan adalah setiap kegiatan untuk merubah perilaku yang terdiri dari pengetahuan, kecakapan, dan sikap.

Pengembangan diri merupakan suatu usaha yang perlu dilaksanakan dalam rangka tercapainya peningkatan mutu. Seseorang perlu mengembangkan pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta kepribadiannya sesuai dengan bidang tugas dan kedudukannya, agar siap menghadapi beban kerja yang secara kuantitatif akan selalu perkembangan. Dengan adanya pengembangan tersebut, maka diharapkan seseorang mempunyai kemampuan kerja yang serbaguna, berhasilguna dan dapat bekerja sesuai dengan kebutuhan serta tuntutan organisasi dimana ia bekerja. Pengembangan diri, dalam realisasinya dapat dilakukan baik oleh dirinya sendiri maupun atas prakarsa organisasi, yang salah satunya yaitu dengan cara mengikuti pendidikan dan latihan. Tujuan pengembangan adalah : menambah pengetahuan, menambah keterampilan dan merubah sikap.

Pengembangan merupakan proses perubahan ke arah yang lebih baik, maju atau lebih dewasa secara fisik dan umur. Setiap individu hakekatnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan, baik secara individu maupun kelompok melalui pelatihan. Potensi tersebut merupakan salah satu pembeda antara individu yang satu dengan individu yang lain, dengan ciri antara lain :

  1. Kemampuan dasar : seperti tingkat intelegensia, kemampuan abstraksi, logika dan daya tangkap.
  2. Sikap kerja : ketekunan, ketelitian, tempo kerja dan daya tahan terhadap stres.
  3. Kepribadian : pola menyeluruh semua kemampuan, perbuatan serta kebiasaan seseorang baik jasmaniah, mental, rohani, emosional maupun sosial, yang semuanya ditata dalam cara khas dibawa pengaruh dari luar. Pola ini terwujud dalam bentuk tingkah laku dalam usahanya menjadi manusia yang dikehendaki.

Upaya Meningkatkan Potensi Diri
Untuk menjadi individu selalu berupaya meningkatkan potensi diri, perlu melakukan antara lain :

  1. Mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan.
  2. Mengembankan dan berbagi serta menerima tanggung jawab.
  3. Mengembangkan jaringan informasi dan jaringan efetif.
  4. Membantu pihak lain mendapat keterampilan yang dibutuhkan yang lebih efektif.
  5. Mengembangkan kreativitas personal dan tim
  6. Mencari cara menciptakan perubahan.
  7. Siap menantang cara berpikir yang sudah lama diterima.
  8. Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
  9. Mengerjakan pekerjaan yang dapat menikmati.
  10. Terus belajar.

Hal-hal yang perlu dimiliki seseorang untuk menjadi wirausaha yang sukses adalah :

  1. Mencari Kesempatan dengan memiliki ide dan visi bisnis yang jelas.
  2. Kegigihan
  3. Tanggung Jawab Pada Pekerjaan
  4. Kualitas Kerja
  5. Menanggung Resiko baik waktu dan uang
  6. Penetapan Tujuan
  7. Mencari Informasi
  8. Rencana Yang Sistematis
  9. Pengorganisasian dan operasional usaha yang profesional
  10. Kerjasama dan Persuasi
  11. Bekerja keras sesuai dengan urgensi/kepentingan  usahanya.
  12. Menjalin kemitraan.
  13. Percaya Diri

Untuk mengetahui pribadi wirausaha yang kita miliki, dapat dianalisis dengan menggunakan instrumen Analisis Pribadi Wirausaha.

Motto sebagai Kiat Kepribadian Wirausaha

  • Keberhasilan Dimulai Dari Kebersamaan Dan Kerjasama Serta Didukung Oleh Prakarsa Perseorangan.
  • Keterbukaan Menumbuhkan Kreativitas Dan Inovasi
  • Komitmen Terhadap Mutu Menjiwai Setiap Perilaku.
  • Keunggulan “Excellence” Menjadi Dasar Rasa Percaya Diri Dan Kebanggaan Pada Perusahaan
  • Janganlah Kita Bekerja Demi Uang, Tetapi Uang Harus Bekerja Demi Kita.
  • Hidup Hari Esok Harus Lebih Baik Dari Hari Ini,
  • Memulai Dengan Yang Kecil Berakhir Yang Besar

Kesimpulan
Kewirausahaan adalah suatu kemampuan kreatif dan inovatif dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda yang dijadikan dasar, kiat dalam usaha atau perbaikan hidup. Hakikat dasar kewirausahaan adalah kreativitas dan inovasi. Kreativitas berfikir sesuatu yang baru (thinking new things) sedangkan inovasi adalah berbuat sesuatu yang baru (doing new things).
Objek kewirausahaan meliputi kemampuan merumuskan tujuan dan memotivasi diri, berinisiatif, kemampuan membentuk modal dan mengatur waktu, mental yang kuat dan kemampuan untuk mengambil hikmah dari pengalaman.

Watak, sifat, jiwa, dan nilai kewirausahaan muncul dalam bentuk prilaku kewirausahaan dengan ciri-ciri :
(1). Percaya diri
(2). Berorientasi pada tugas dan hasil
(3). Berani menghadapi resiko
(4). Berjiwa Pemimpin
(5). Keorisinilan
(6). Berorientasi pada masa depan.

Jiwa kewirausahaan tidak hanya dimiliki oleh pengusaha dan berlaku dalam bidang bisnis semata, tetapi juga dimiliki oleh setiap orang yang memiliki jiwa kreatif dan inovatif, baik secara individu maupun kelompok.
Keberhasilan berwirausaha sangat tergantung pada beberapa faktor yaitu Kemauan, Kemampuan, Peluang dan Kesempatan

Harta terbesar untuk mempertahankan kemampuan wirausaha adalah sikap positif. Di samping itu, tekad, pengalaman, ketekunan dan bekerja keras adalah prasyarat pokok  untuk menjadi seorang wirausaha yang berhasil

Contoh Soal :

BAB IV. PROSES KEWIRAUSAHAAN

4.1.    Proses dan Tahapan Kewirausahaan
Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha  adalah :

  1. Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.
  2. Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap “jalan“, tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
  3. Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
  4. Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

Proses berkembangnya kewirausahaan
Kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi,didukung oleh kejadian pemicu (stimulant), diimplementasikan,kemudian akhirnya tumbuh dan berkembang

Menurut Bygrave (1996), proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembang menjadi wirausaha yang besar.

Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembang menjadi kewirausahaan melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi dan keluarga (Suryana, 2001)

Faktor-faktor pemicu Proses Kewirausahaan ditentukan oleh Property right,competency incentives, and environment“.Sedangkan dalam implementasinya perlu memperhatikan aspek-aspek melakukan wirausaha, antara lain :

  1. mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan
  2. pembiayaan : pendanaan – jumlah dan sumber-sumber dana
  3. SDM : tenaga kerja yang dipergunakan
  4. kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha
  5. organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki
  6. kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC)
  7. Pemasaran : lokasi dan tempat usaha

Tahap-tahap pertumbuhan kewirausahaan ditandai dengan Ciri ciri proses pertumbuhan kewirausahaan meliputi :
a. Tahap imitasi dan duplikasi,
Pada tahap awal pertumbuhan seorang wirausahawan cenderung melakukan imitasi yaitu meniru inovasi yang berhasil dari para Innovative entrepreneur kemudian baru dikembangkan dengan cara duplikasi (penggandaan). Dengan demikian tahap ini disebut dengan Immiative entrepreneurship, dimana produk yang dihasilkan baik berupa barang atau jasa cenderung sama tapi dengan merk yang berbeda.
b. Tahap duplikasi dan pengembangan, dan
Pada tahap ini sering disebut dengan Fabian entrepreneurship, sikap yang teramat hati-hati dan skeptical tetapi segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi hal yang nyata. Hal ini dilakukan untuk menghindari kehilangan posisi relative pada industry yang bersangkutan. Namun dalam prakteknya, pada tahap ini diikuti dengan inovasi-inovasi yang relative kecil atau sederhana sesuai permintaan pasar. Dengan demikian pada tahap duplikasi dan pengembangan ini akan menciptakan produk (barang atau jasa) yang sama dengan kualitas serta merk berbeda.
c. Tahap menciptakan sesuatu yang baru dan beda
Pada tahap ini disebut dengan Innovative Entrepreneurship dengan cara beresksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan disertai transpormasi yang atraktif. Produk yang dihasilkan berupa produk baru.

4.2. Faktor Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan Wirausaha
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal. Menurut Sujuti Jahja (2007), faktor internal yang berpengaruh adalah kemauan, kemampuan dan kelemahan. Sedangkan faktor yang berasal dari eksternal diri adalah kesempatan atau peluang.

Kedua faktor tersebut dipengaruhi oleh nilai–nilai kepribadian wirausaha, yaitu nilai keberanian menghadapi resiko, sikap positif dan optimis, keberanian mandiri dan memimpin serta kemauan belajar dari pengalaman.

Beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya yaitu :

  1. Tidak kompeten dalam manejerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat usahanya kurang berhasil.
  2. Kurang berpengalaman. Baik dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengorganisasikan, keterampilan mengelola sumberdaya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi usaha.
  3. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar usaha berhasil dengan baik faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional usaha dan mengakibatkan usaha tidak lancar.
  4. Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan,sekali gagal dalam melakukan perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
  5. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan usaha sukar beroperasi karena kurang efisien.
  6. Kurangnya pengawasan. Pengawasan erat hubungannya dengan efisiensi dan efektifitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan tidak efisien dan tidak efektif.
  7. Sikap kurang sungguh-sungguh dalam melaksanakan wirausaha. Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
  8. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahan. Wirausaha yang kurang siap dalam menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap saat.

Faktor penyebab lain sehingga terjadi kegagalan dalam berwirausaha yaitu :

  1. Pendapatan tidak menentu. Baik dalam tahap awal maupun  tahap pertumbuhan, dalam bisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan. Dalam kewirausahaan, sewaktu- waktu bisa rugi dan untung. Kondisi yag tidak menentu dapat membuat seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha.
  2. Kerugian akibat hilangnya modal investasi. Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah tinggi. Menurut Wirasasmita (1998), tingkat mortalitas/kegagalan usaha kecil di indonesia mencapai 78%. Kegagalan investasi mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan wirausaha. Bagi seorang wirausaha, kegagalan sebaiknya dipandang sebagai pelajaran berharga.
  3. Perlu kerja keras dan waktu yang lama. Wirausaha biasanya bekerja sendiri mulai dari pembelian, pengolahan, penjualan dan pembukuan. Waktu yang lama dan keharusan bekerja keras dalam berwirausaha mengakibatkan orang yang ingin menjadi wirausaha menjadi mundur. Ia kurang terbiasa dalam menghadapi tantangan. Wirausaha yang berhasil pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan ditekuni.
  4. Kualitas kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya mantap. Kualitas yang tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha, misalnya pedagang yang kualitas kehidupannya tidak meningkat, maka akan mundur dari usaha dagangnya dan masuk keusaha lain.

Keberhasilan berwirausaha sangat tergantung pada beberapa faktor yaitu Kemauan, Kemampuan, Peluang dan Kesempatan

Sedangkan factor penyebab keberhasilan dipengaruhi oleh perilaku para wirausahawan. Ada beberapa kategori perilaku, antara lain
1. Innovating Entrepreneurship
Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan, transformasi atraktif
2. Imitative Entrepreneurship
Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur
3. Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan.
4. Drone Entrepreneurship
Drone = malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersebut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain
5. Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente).

Perilaku tersebut memberikan pengaruh yang berbeda-beda, antara lain :  Perilaku Ahli, Perilaku Trampil, Perilaku Biasa, Perilaku Malas

4.3. Ide dan Peluang dalam Kewirausahaan
Fokus utama dalam mengembangkan kewirausahaan ini harusnya ditekankan pada penciptaan nilai tambah untuk meraih keunggulan daya saing (competitive advantage) melalui pengembangan kemampuan khusus (kewirausahaan) sehingga perusahaan kecil tidak lagi mengendalikan strategi kekuatan pasar melalui monopoli dan fasilitas pemerintah.

Seorang wirausahawan dapat menambahkan nilai suatu barang dan jasa melalui inovasi. Keberhasilan wirausahawan dicapai apabila wirausahawan menggunakan produk, proses, dan jasa-jasa inovasi sebagai alat untuk menggali perubahan. Oleh sebab itu, inovasi merupakan instrument penting untuk memberdayakan sumber-sumber yang ada agar menghasilkan suatu yang baru dan menciptakan nilai. Wirausahawan dapat menciptakan nilai dengan cara mengubah semua tantangan menjadi peluang melalui ide-idenya dan pada akhirnya menjadi pengendali usaha (busines driven) dan pengendali pasar ( market driven)

Inti dari proses kewirausahaan adalah mengidentifikasi peluang, karena kekuatan yang mendorong kesuksesan perusahaan start-up terdiri dari tiga macam, yaitu : peluang, tim, dan sumber daya. Proses kewirausahaan diawali bukan dari ketersediaan uang, strategi, network, tim ataupun rencana bisnis, melainkan dari adanya peluang. Peluang yang berpotensi tinggi terkadang memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada ketersediaan sumber daya atau tim pada saat itu.

Kreativitas sering kali muncul dalam bentuk ide-ide untuk menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa baru. Ide dapat digerakkan secara internal melalui perubahan cara-cara/metode yang lebih baik untuk melayani dan memuaskan pelanggan dalam memenuhi kebutuhannya (produk dan jasa baru). Banyak wirausahawan yang berhasil bukan berdasarkan ide sendiri tetapi berdasarkan hasil pengamatan dan penerapan ide-ide lain. Agar ide-ide yang potensial menjadi peluang bisnis riil, maka wirausahawan harus mencari dan mengindentifikasi sumber-sumber potensial peluang bisnis tersebut . kegiatan mengindentifikasi merupakan upaya awal dari wirausahawan untuk dapat masuk ke pasar. Dengan kegiatan indentifikasi ini, wirausahawan akan dapat mengetahui tinggkat persaingan, strategi industri, tujuan pesaing, menilai kekuatan dan kelemahan pesaing , dan mengestimasi pola persaingan.

Untuk dapat menganalisis peluang usaha, wirausahawan harus mengetahui beberapa alat analisis seperti SWOT, Matrik Profil Kompetitif, dan Matrik BCG.

4.4. Keuntungan dan Kerugian Berwirausaha
Sebelum kita membahas keuntungan dan kerugian berwirausaha, maka kita mencoba menelaah tentang apa yang menjadi manfaat dari Kewirausahaan.

Adapun manfaat Kewirausahaan antara lain :

  1. Menambah daya tampung tenaga kerja.
  2. Sebagai generator pembangunan lingkungan, pribadi, distribusi, pemeliharaan lingkungan dan kesejahteraan.
  3. Memberi contoh bagaimana bekerja keras, tekun dan memiliki pribadi yang unggul dan patut diteladani.
  4. Mendidik karyawan menjadi orang yang mandiri, tekun, ulet serta jujur dalam menghadapi pekerjaan.
  5. Mendidik masyarakat hidup efisien dan efektif serta sederhana.

Berbicara keuntungan dan kerugian berwirausaha, pada dasarnya identik dengan membahas keuntungan dan kerugian pada usaha kecil milik sendiri. Adapun Keuntungan Berwirausaha, antara lain :

  1. Otonomi Pengelolaan. Dengan wirausaha, maka terbuka lebar menjadi BOS dalam perusahaan.
  2. Terbuka peluang untuk memperlihatkan potensi wirausaha secara penuh.
  3. Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal.
  4. Terbuka peluang untuk mencapai tujuan usaha yang dikehendaki.
  5. Terbuka peluang untuk membantu masyarakat dalam usaha.
  6. Terbuka lebar control financial, bebas mengelola keuangan dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri.
  7. Tantangan awal dan Perasaan Motif berprestasi.

Sedangkan kerugian dalam berwirausaha antara lain :

1. Pengorbanan Personal.
Pada awalnya wirausaha harus bekerja keras dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit sekali waktu untuk kepentingan lain seperti waktu untuk keluarga, waktu untuk rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan untuk kegiatan bisnis.
2. Beban Tanggung Jawab yang besar.
Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik perencanaan, pengorganisasi an personil dan sumberdaya, keuangan, produksi dan pemasaran serta pengembangan usaha.
3. Kecilnya margin keuntungan dan kemungkinan gagal.
Karena Wirausaha umumnya dimulai dari usaha dan keuangan yang kecil, maka margin keuntungan yang akan diperoleh juga kecil. Demikian pula dengan usaha yang kecil, maka daya saing umumnya menjadi rendah sehingga kemungkinan gagal lebih besar.

4.5.   Serba serbi dunia wirausaha (Tanya Jawab)
Laporan oleh Hayat Mansur tentang Inspirasi dari Entrepreneur Empat (4) Modal Menjadi Entrepreneur (Ternyata Bukan Uang)

Walau banyak kasus korupsi dan persoalan lainnya, ekonomi negara kita bisa tetap berjalan. Ini tentu saja berkat ada penggerak-penggerak di masyarakat yang tidak tergantung pada peraturan dan pemerintah. Mereka yang jarang diketahui orang ini disebut entrepreneur. Ini beberapa dari mereka dan upaya yang telah dilakukan untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita.

Wimar’s World Rabu menghadirkan tiga orang entrepreneur yaitu Bob Sadino (pemilik supermarket Kem Chicks), Hadrijanto Satyanegara (PR Manager Patrakom), dan Fred Hehuwat (salah satu pendiri Yayasan ASHOKA Indonesia). Mereka adalah orang-orang yang tidak putus asa bahkan bersemangat dan memberi contoh kepada kita. Berikut potongan percakapan mereka dengan Wimar Witoelar.

Anda merasa diri entrepreneur sukses? Bagi tips dong. Tulis di bawah.
Definisi Entrepreneur menurut para ahli
Setiap hari dalam kegiatan bisnis kita melakukan usaha/ melakukan kegiatan entrepreneurship untuk mendapatkan keuntungan tentunya. Tapi sebelumnya tentu kita ingin tahu apa sih artinya entrepreneurship kan ?!
Apa sih definisi Entrepreneurship ? Silahkan baca definisinya menurut berbagai ahli.

Kewirausahaan adalah proses menciptakan sesuatu nilai yang berbeda dengan mencurahkan waktu dan upaya yang diperlukan, memikul risiko-risiko finansial, psikis dan sosial yang menyertai, serta menerima penghargaan /imbalan moneter dan kepuasanpribadi.

Menurut Para Ahli :
1. Peter F Drucker
Kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) .
2. Thomas W Zimmerer
Kewirausahaan adalah penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya memanfaatkan peluang-peluang yang dihadapi orang setiap hari.
3. Andrew J Dubrin
Seseorang yang mendirikan dan menjalankan sebuah usaha yang inovatif (Entrepreneurship is a person who founds and operates an innovative business).
4. Robbin & Coulter
Entrepreneurship is the process whereby an individual or a group of individuals uses organized efforts and means to pursue opportunities to create value and grow by fulfilling wants and need through innovation and uniqueness, no matter what resources are currently controlled.





Diktat Kewirausahaan-1

23 07 2012

PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas terselesaikannya Diktat Kuliah Kewiraswastaan atau Kewirausahaan. Diktat kuliah ini disusun berdasarkan konsep dan pustaka yang penulis pandang relevan untuk menjelaskan Pengertian dan Sejarah Kewirausahaan secara umum dan prinsip serta perilaku jiwa wirausaha khususnya pada bidang peternakan yang nantinya merupakan suatu bekal pengembangan ilmu dari sarjana peternakan.
Setelah mengikuti Perkuliahan Mata kuliah kewiraswastaan /kewirausahaan/ entrepreneurship, mahasiswa akan dapat memahami dan mengembangkan pengetahuan serta ketrampilan tentang kewirausahaan, sehingga pada akhirnya akan menjadi seorang entrepreunership yang tangguh, mandiri dan modern.
Deskripsi dari Mata kuliah kewiraswastaan / kewirausahaan / entrepreneurship  diselenggarakan dengan metoda tatap muka  selama satu semester dengan beban 2 sks. Dalam tatap muka dibahas tentang prinsip – prinsip kewirausahaan di bidang Kewirausahaan umum, pertanian dan peternakan.
Penilaian mata kuliah Kewirausahaan / kewiraswastaan / entrepreneurship dilakukan dengan cara  evaluasi dengan melaksanakan kuis sebanyak 2 kali, ujian tengah semester 1 kali, ujian akhir 1 kali dan membuat makalah perencanaan bisnis. Evaluasi akhir merupakan nilai kumulatif dari nilai Kuis (10%), tugas tersruktur (20%), nilai ujian tengah semester (30%), dan nilai ujian akhir semester (40%).
Tentu saja isi diktat ini sangat singkat, oleh karena itu membaca pustaka asli sangat dianjurkan bagi mahasiswa sehingga cakrawala berpikir ekonomi produksi lebih luas dan mendalam. Secara tekhnis, materi kuliah tercakup dalam 10 pokok bahasan yang direncaanakan selesai dalam 14 kali kuliah tatap muka di kelas, 10 kali kuis, 1 kali tugas terstruktur tentang Perencanaan Bisnis Usaha Peternakan, 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester.
Penulis mengharapkan diktat ini dapat dipandang sebagai upaya agar mahasiswa lebih mudah untuk menjadi tahu, mau, dan akhirnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam lingkup ilmu ekonomi produksi bidang peternakan.

BAB I. PENDAHULUAN

1.1.  Pengantar
Sebelum kina mengenal lebih jauh tentang kewirausahaan/ kewiraswastaan / Entrepreneurship, maka sebaiknya kita menelaah dan merenung sejenak tentang Kerja dan kewirausahaan. Ada beberapa renungan mengapa kita harus bekerja dan mengapa kita harus berwirausaha antara lain :

  1. Apakah sesungguhnya bekerja itu ?
  2. Apakah hakekat kerja itu ?
  3. Buat apa kita bekerja ?
  4. Bagaimana kita dapat bekerja lebih baik lagi ?
  5. Haruskah kita bekerja ?
  6. Bukankah kerja itu melelahkan ?
  7. Bukankah pergi bekerja menjadi sebuah keterpaksaan ?
  8. Bagaimana proses kewirausahaan (Entrepreneurship) itu terjadi
  9. Kedua, apakah yang menjadi karakter para Wirausaha (entrepreneur)
  10. Masalah apa yang biasanya dialami para entrepreneur dan bagaimana cara mengatasinya

Jawabnya Saya Perlu Mencari Nafkah, sebanyak apakah nafkah yang mesti dicari dan bagaimana caranya ?
Agar bisa Sukses dalam bekerja atau berwirausaha maka kita minimal harus tahu perilaku kerja secara individual maupun secara organisasi. Kunci sukses secara individual antara lain :

  1. Keinginan besar untuk berhasil
  2. Keyakinan kuat bahwa sukses milikku
  3. Sikap mental posistif
  4. Pengetahuan khusus yang mendalam
  5. Daya imajinasi yang kuat
  6. Perencanaan yang teliti dan matang
  7. Kemampuan membuat keputusan yang jitu
  8. Ketekunan dan ketabahan menghadapi kegagalan
  9. Daya pikir yang tajam
  10. Kemampuan mengubah energi seksual menjadi energi kerja
  11. Emosi positif
  12. Kekuatan doa
  13. Indera ke enam yang berfungsi tajam
  14. Kemampuan mengelola 6 rasa takut utama ( takut miskin, kritik, sakit, dibenci, takut tua, dan takut mati)

Sedangkan Kunci Sukses Berorganisasi, antara lain :

  1. Membangun dan menjalanan strategi bisnis yang jitu
  2. Menampilkan sajian nilai pelanggan yang bermutu tinggi
  3. Mengejar sumber informasi dan pengetahuan
  4. Sistem manajemen yang berpusat pada jaringan dan proses
  5. Menemukan pusat pasar yang paling menguntungkan
  6. Mengelola organisasi dann bukan mengelola angka-angka
  7. Menyeimbangkan kontrol dan pemberdayaan
  8. Mengelola aset intelektual
  9. Meningkatkan produktivitas berdasarkan nilai tambah
  10. Menjalankan proses penyesuaian dan mengadopsinya.

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia. Bloom membagi kemampuan kognitip manusia ke dalam 6 tingkatan, yaitu :

  1. Tingkat Pengetahuan (Knowledge Level)  Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas (quality management), orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk, dsb.
  2. Tingkat Pemahaman (Comprehension Level) Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
  3. Tingkat Aplikasi (Application Level) Di tingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram atau pareto chart.
  4. Tingkat Analisis (Analythical Level) Di tingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisa informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yang rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yang ditimbulkan.
  5. Tingkat Sintesa (Synthesis Level) Satu tingkat di atas analisa, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yang dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
  6. Tingkat Evaluasi (Evaluation Level) Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yang sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dan sebagainya.

Berpikir adalah suatu keadaan yang merupakan bukti eksistensi kehidupan. Sehari-hari kita biasa dengan pola yang kita anggap benar yaitu Rational. Pola tersebut merupakan suatu cara berpikir yang mendasarkan keputusan-keputusannya dengan konsep Cognitive ( pola kesadaran jaga sehari-hari).

Pola kesadaran jaga ini adalah suatu keadaan dimana kita mendasarkan keputusan – keputusan kita pada apa yang ditangkap oleh pancaindera lumrah. Misalnya, kita memutuskan apa yang terlihat sebagaimana yang terlihat secara kasat mata. Apa yang terdengar sebagaimana yang terdengar pada ambang batas pendengaran normal dan seterusnya. Demikianlah pola berpikir kita terbentuk berdasarkan pada segala sesuatu yang ditangkap secara lumrah oleh pencaindera dan kemudian membentuk kesadaran kita.  Kontrol pola di atas terletak pada Otak. Dalam Fakta Otak ternyata Otak terbagi menjadi 3 bagian, yaitu Otak sebelah kanan, tengah dan kiri. Namun dalam pola kognitif, maka 2 bagian yang banyak berperanan dalam kesuksesan bekerja.

Dua Pembagian Otak : BagianOtak Besar Sebelah Kanan (Right Cerebral Hemisphere)

  • Special * Musical * Acoustic (“Berbakat musik* Akustik”)
  • Holistic * Multiple (“Berbagai”)
  • Artistic * Symbolic * Imaginative (” [yang] Artistik* Simbolis* Imajinatif)
  • Simultaneous * Continuous (” Bersama* Berlanjut”)
  • Emotional * Sensuous (” Emosional* Perasa)
  • Intuitive * Creative (Intuitif* Kreatif)
  • Minor * Quiet * Timeless (Pelajaran) pelengkap* Ketenangan* Terus-Menerus)
  • Spiritual * Divergence (Rohani* Penyimpangan)
  • Metaphoric * Free (Secara penumpamaan* Cuma-Cuma)
  • Qualitative * Subjective( Kwalitatif* Hubungan)
  • Receptive * Horizontal (Mau menerima* Horisontal)
  • Synthetic * Gestalt * Concrete (Buatan* Gestalt* Beton)
  • Facial * Recognition (Masase muka* Pengenalan)
  • Comprehension * Impulsive (Pengertian* [yang] Menuruti kata hati)
  • Perception  of Abstract Patterns (Persepsi Pola teladan Abstrak)
  • Recognition of Complex Figures (Pengenalan [dari;ttg] Figur Kompleks)
  • Existensial * Eastern Thought (Existensial* Pemikiran Ketimuran)

Bagian Kiri Otak Besar

  • ” Suara* Lisan* Linier* Logis
  • ” Mathematical* Yang terperinci* Berurutan* Percontohan* Diferensial
  • ” Yang dikendalikan* Dewductive* Intelektual* Sasaran
  • ” Dominan* Vertikal* Duniawi* Yang diarahkan
  • ” Pemusatan* Terpisah* Kwantitatif
  • ” Aktip* Realistis* Analitik* Abstrak
  • ” Pembacaan* Penulisan* Penamaan
  • ” Percontohan* Pemesanan
  • ” Persepsi [dari;ttg] Order;Pesanan Penting
  • ” Urutan Motor kompleks
  • ” Historis* Tegas/Eksplisit* Film koboi/ buku koboi Pemikiran

Berdasarkan pernyataan di atas, maka sesungguhnya manusia memiliki 4 (empat) Dimensi, yaitu:

1.1.  Deskripsi Mata Kuliah Kewirausahaan/Kewiraswastaan/Entrepreneurship
Diktat ini berisikan unit-unit kompetensi yang berkaitan dengan kewirausahaan yang harus dimiliki oleh Sarjana Pertanian dan Peternakan dalam melaksanakan pengembangan keilmuan yang meliputi; Pengertian dan Ruang Lingkup Kewirausahaan, Konsep Dasar Kewirausahaan, Sikap Dan Kepribadian Kewirausahaan,  Proses Kewirausahaan, Fungsi dan Model Peran Wirausaha, Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya, Etika Bisnis dalam Wirausaha, Analisa Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha dan Kewirausahaan di Indonesia.

a. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Membekali peserta dalam memahami tentang lingkup kewirausahaan untuk pengembangan kemandirian usaha khususnya usaha bidang Peternakan.
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah selesai mempelajari modul ini peserta mampu :

  1. Menjelaskan tentang Konsep Dasar Kewirausahaan
  2. Menjelaskan sikap dan kepribadian Kewirausahaan serta kewirausahaan di Indonesia
  3. Menjelaskan dan merumuskan pengembangan Proses Kewirausahaan, Fungsi dan Model Peran Wirausaha, Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya, Etika Bisnis dalam Wirausaha, Analisa Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha.

b. Pokok Bahasan

  1. Konsep Dasar Kewirausahaan,
  2. Sikap Dan Kepribadian Kewirausahaan,
  3. Proses Kewirausahaan,
  4. Fungsi dan Model Peran Wirausaha,
  5. Merintis Usaha Baru dan Model Pengembangannya,
  6. Etika Bisnis dalam Wirausaha,
  7. Analisa Bisnis dan Studi Kelayakan Usaha,
  8. Kewirausahaan di Indonesia.

c. Metode Pembelajaran

  1. Ceramah                                               4.  Simulasi
  2. Curah pendapat                                 5.  Ungkapan pengalaman
  3. Diskusi                                                   6.  Tanya Jawab

d. Sarana Pembelajaran

  1. LCD dan Diktat serta Masalah-masalah di masyarakat yang menyangkut kewirausahaan
  2. Buku Diktat Kewirausahaan.
  3. Web: http: rohmatfapertanian.wordpress.com.Diktat Kewirausahaan.

1.2.  Pendekatan Pemecahan Masalah Kewirausahaan
Masalah utama dalam Kewirausahaan didekati dengan memberikan Satuan Acara Perkuliahan (SAP) untuk satu semester agar mahasiswa mampu berpikir taraf 6 (evaluasi). Dalam SAP, secara rinci disebutkan mengenai Pokok Bahasan, Tinjauan Instruksional Umum (TIU), Tinjauan Instruksional Khusus (TIK), Kegiatan Pengampu dan Mahasiswa, serta peralatan yang digunakan termasuk diktat teori. Kemantapan pengetahuan mahasiswa tentang Kewirausahaan dievaluasi dengan Kuis dan tugas terstruktur tentang perencanaan bisnis dalam bentuk studi kelayakan usaha, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester dengan pedoman “Pedoman Acuan Normal” : PAN.

Keterkaitan setiap pokok bahasan mata kuliah Kewirausahaan untuk landasan pengambilan keputusan dibuat bagan seperti Gambar 1

BAB II. KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN

2.1. Pengertian wirausaha
Wirausaha secara histories sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755. Diluar negeri, istilah kewirausahaan telah dikenal sejak abad XVI, sedangkan di Indonesia baru dikenal pada akhir abad 20. Beberapa istilah wirausaha seperti di Belanda dikenal dengan ondernemer, di Jerman dikenal dengan unternehmer. Pendidikan kewirausahaan mulai dirintis sejak 1950-an dibeberapa Negara seperti di Eropa, Amerika, dan Canada. Bahkan sejak 1970-an banyak universitas yang mengajarkan entrepreneurship atau small business management. Pada tahun 1980-an,hampir 500 sekolah di Amerika Serikat memberikan pendidikan kewirausahaan. Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, maka pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan kewirausahaan di segala lapisan masyarakat menjadi berkembang.

Dalam bidang pemerintahan seperti dikemukakan oleh Osborne dan Gaebler (1992), pemerintahan saat ini dituntut untuk memberi corak kewirausahaan (entrepreunerial government). Dengan memiliki jiwa/corak kewirausahaan, maka birokrasi  akan memiliki motivasi, optimisme, dan berlomba untuk menciptakan cara-cara baru yang lebil efisien, efektif, fleksible sdan adaptif.

Gambar 2. Konsep Dasar Kewirausahaan

Istilah kewirausahaan sudah lama menjadi wacana di Indonesia baik pada tingkat formal di perguruan tinggi dan pemerintahan ataupun pada tingkat non formal pada kehidupan ekonomi di masyarakat. Dilihat dari terminologi, dulu dikenal adanya istilah wiraswasta dan kewiraswastaan. Sekarang tampaknya sudah ada semacam konvensi sehingga istilah tersebut menjadi wirausaha (entrepreneur) dan kewirausahaan (entrepreneurship). Wirausaha berarti “Wira” = Pelopor dan Usaha = berusaha, atau Wiraswasta berarti “Wira” = Pelopor dan Swasta = berusaha di sector non Pemerintah. Arti ini terjemahan dari kata Entrepreneur. Kata entrepreneur berasal dari kata Prancis, entreprendre, yang berarti berusaha. Dalam konteks bisnis, maksudnya adalah memulai sebuah bisnis. Pada Kamus Merriam-Webster menggambarkan definisi entrepreneur sebagai seseorang yang mengorganisir, memanejemen, dan menanggung risiko sebuah bisnis atau usaha.

Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta. Persepsi tentang wirausaha sama dengan wiraswasta sebagai padanan entrepreneur. Perbedaannya adalah pada penekanan pada kemandirian (swasta) pada wiraswasta dan pada usaha (bisnis) pada wirausaha. Istilah wirausaha kini makin banyak digunakan orang terutama karena memang penekanan pada segi bisnisnya. Walaupun demikian mengingat tantangan yang dihadapi oleh generasi muda pada saat ini banyak pada bidang lapangan kerja, maka pendidikan wiraswasta mengarah untuk survival dan kemandirian seharusnya lebih ditonjolkan.

Sedikit perbedaan persepsi wirausaha dan wiraswasta harus dipahami, terutama oleh para pengajar agar arah dan tujuan pendidikan yang diberikan tidak salah. Jika yang diharapkan dari pendidikan yang diberikan adalah sosok atau individu yang lebih bermental baja atau dengan kata lain lebih memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasarn advirsity (AQ) yang berperan untuk hidup (menghadapi tantangan hidup dan kehidupan) maka pendidikan wiraswasta yang lebih tepat. Sebaliknya jika arah dan tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan sosok individu yang lebih lihai dalam bisnis atau uang, atau agar lebih memiliki kecerdasan finansial (FQ) maka yang lebih tepat adalah pendidikan wirausaha.

Oleh Karena kedua aspek itu sama pentingnya, maka pendidikan yang diberikan sekarang lebih cenderung kedua aspek itu dengan menggunakan kata wirausaha. Persepsi wirausaha kini mencakup baik aspek financial maupun personal, sosial, dan profesional (Soedarsono, 2002 : 48)

Konsep entrepreneurship (kewirausahaan) memiliki arti yang luas. Salah satunya, entrepreneur adalah seseorang yang memiliki kecakapan tinggi dalam melakukan perubahan, memiliki karakteristik yang hanya ditemukan sangat sedikit dalam sebuah populasi. Definisi lainnya adalah seseorang yang ingin bekerja untuk dirinya.

Definisi entrepreneurship dari Ekonom Austria Joseph Schumpeter menekankan pada inovasi, seperti: produk baru, metode produksi baru, pasar baru dan bentuk baru dari organisasi. Kemakmuran tercipta ketika inovasi-inovasi tersebut menghasilkan permintaan baru. Dari sudut pandang ini, dapat didefinisikan fungsi entrepreneur sebagai mengkombinasikan berbagai faktor input dengan cara inovatif untuk menghasilkan nilai bagi konsumen dengan harapan nilai tersebut melebihi biaya dari faktor-faktor input, sehingga menghasilkan pemasukan lebih tinggi dan berakibat terciptanya kemakmuran/kekayaan.

Dengan pengertian tersebut di atas, nampaknya tidak semua orang yang berusaha atau berwiraswasta dapat dikategorikan dalam kelompok Wirausaha atau Wiraswasta. Orang yang hanya berusaha untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya tanpa diikuti dengan perubahan untuk maju. Banyak orang menggunakan istilah entrepreneur dan pemilik usaha kecil bersamaan. Meskipun mungkin memiliki banyak kesamaan, ada perbedaan signifikan antara keduanya, dalam hal :

1. Jumlah kekayaan yang tercipta
Usaha entrepreneurship menciptakan kekayaan secara substansial, bukan sekedar arus pendapatan yang menggantikan upah tradisional.
2. Kecepatan mendapatkan kekayaan
Sementara bisnis kecil yang sukses dapat menciptakan keuntungan dalam jangka waktu yang panjang, entrepreneur menciptakan kekayaan dalam waktu lebih singkat, misalnya 5 tahun.
3. Resiko.
Resiko usaha entrepreneur tinggi; dengan insentif keuntungan pasti, banyak entrepreneur akan mengejar ide dan kesempatan yang akan mudah lepas.
4. Inovasi
Entrepreneurship melibatkan inovasi substansial melebihi usaha kecil. Inovasi ini menciptakan keunggulan kompetitif yang menghasilkan kemakmuran. Inovasi bisa dari produk atau jasa itu sendiri, atau dalam proses bisnis yang digunakan untuk menciptakan produk atau jasa.

Dahulu orang beranggapan bahwa kewirausahaan adalah bakat bawaan sejak lahir (entrepreneurship are born nat made) dan hanya diperoleh dari hasil praktek ditingkat lapangan dan tidak dapat dipelajari dan diajari, tetapi sekarang kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu yang dapat dipelajari dan diajarkan.

Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya (Suryana, 2001). Jadi kewirausahaan merupakan disiplin ilmu tersendiri karena berisi Body of knowledge yang utuh dan nyata ada obyek, konsep dan metodenya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses tidak hanya memiliki bakat saja tetapi juga harus memiliki pengetahuan mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Sedangkan dalam konteks bisnis, menurut Zimmerer (1996) dalam Suryana (2001), kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin,proses sistematis penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.

Wirausaha adalah kepribadian unggul yang mencerminkan budi yang luhur dan suatu sifat yang patut diteladani, karena atas dasar kemampuannya sendiri dapat melahirkan suatu sumbangsih dan karya untuk kemajuan kemanusiaan yang berlandaskan kebenaran dan kebaikan (Yuyun Wirasasmita, 1982). Wirausaha menurut Heijrachman Ranupandoyo (1982) adalah seorang inovator atau individu yang mempunyai kemampuan naluriah untuk melihat benda benda materi sedemikian rupa yang kemudian terbukti benar, mempunyai semangat dan kemampuan serta pikiran untuk menaklukan cara berpikir yang tidak berubah dan mempunyai kemampuan untuk bertahan terhadap posisi sosial.

Wirausaha mempunyai peranan untuk mencari kombinasi–kombinasi baru yang merupakan gabungan dari proses inovasi (menemukan pasar baru, pengenalan barang baru, metode produksi baru, sumber penyediaan bahan mentah baru dan organisasi industri baru). Wirausaha menurut Ibnu Soedjono (1993) adalah seorang entrepreneurial action yaitu seseorang yang inisiator, innovator, creator dan organisator yang penting dalam suatu kegiatan usaha, yang dicirikan : (a) selalu mengamankan investasi terhadap resiko, (b) mandiri, (c) berkreasi menciptakan nilai tambah, (d) selalu mencari peluang, (d) berorientasi ke masa depan.

Gambar 3. Perbedaan Kewirausahaan dengan Bukan Wirausaha
Tedapat banyak definisi kewirausahaan yang pada intinya relative sama. Prinsipnya bahwa Seorang dikatakan sebagai wirausahawan apabila memiliki segenap ciri-ciri wirausaha tangguh , dan wirausahawan unggul. Sedangkan dilihat dari jenisnya terbagi kedalam tiga (3) kelompok yaitu Administrative Entrepreuner, Innovative Entrepreuner, dan Catalist.

Beberapa definisi tentang kewirausahaan yang dikemukakan para ahli tersebut diantaranya adalah :
1. Richard Cantillon (1775)
Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian
2. Jean Baptista Say (1816)
Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.
3. Frank Knight (1921)
Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan
4. Joseph Schumpeter (1934)
Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.
5. Penrose (1963)
Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam system ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.
6. Harvey Leibenstein (1968, 1979)
Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.
7. Israel Kirzner (1979)
Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar.
8. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio
Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian.
9. Peter F. Drucker
Kewirausahaan merupakan kemampuan dalam menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda. Pengertian ini mengandung maksud bahwa seorang wirausahan adalah orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, berbeda dari yang lain. Atau mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya.
10. Zimmerer
Kewirausahaan sebagai suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha). Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluangpeluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif.
11. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.
12. Wirausahawan adalah orang–orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan bisnis, mengumpulkan sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan darinya dan mengambil tindakan yang tepat untuk memastikan kesuksesan. Berwirausaha adalah suatu gaya hidup dan prinsip–prinsip tertentu akan mempengaruhi strategi karir pribadi.

Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi.

2.2. Falsafah Wirausaha
Setiap orang harus belajar banyak tentang dirinya sendiri, jika bermaksud untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang paling diinginkan dalam hidup ini. Kekuatan anda datang dari tindakan diri sendiri dan bukan dari tindakan orang lain. Meskipun resiko kegagalan selalu ada, para wirausaha mengambil resiko dengan jalan menerima tanggungjawab atas tindakan mereka sendiri. Kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belajar. Belajar dari pengalaman lampau akan membantu anda menyalurkan kegiatan anda untuk mencapai hasil yang lebih positif dan keberhasilan merupakan buah dari usaha yang tidak mengenal lelah.
Kewirausahaan bukan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir (enterpreneurship are born not made) serta tidak hanya dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan saja.  Seseorang yang memilki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Mereka yang menjadi enterpreneur adalah orang-orang yang mengenal potensi (traits) dan belajar mengembangkan potensi untuk menangkap peluang serta mengorganisir usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh karena itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses, memilki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memilki pengetahuan mengenai segala aspek usaha yang akan ditekuni.

2.3. Hakekat Kewirausahaan
Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak serta jiwa seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif. Dari pandangan para ahli dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup. Kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru, inovatif adalah bertindak melakukan sesuatu yang baru.

Ciri-ciri dan watak kewirausahaan, menurut Meredith, et.a., dalam Suryana, 2001 : 8,  antara lain :

  1. Percaya diri Keyakinan, ketidaktergantungan, individualistis,dan optimism
  2. Berorientasi pada tugas dan hasil. Kebutuhan untuk berprestasi, berorientasi laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai dorongan kuat, energetik dan inisiatif
  3. Pengambilan resiko Kemampuan untuk mengambil resiko yang wajar dan suka tantangan
  4. Kepemimpinan Perilaku sebagai pemimpin, bergaul dengan orang lain, menanggapi saran-saran dan kritik
  5. Keorisinilan Inovatif dan kreatif serta fleksibel
  6. Berorientasi ke masa depan Pandanga ke depan, perspektif

Dalam konteks bisnis, seorang entrepreneur membuka usaha baru (new ventures) yang menyebabkan munculnya produk baru atau ide tentang penyelenggaraan jasa-jasa. Adapun Karakteristik tipikal entrepreneur (Schermerhorn Jr, 1999) :

  1. Lokus pengendalian internal
  2. Tingkat energi tinggi
  3. Kebutuhan tinggi akan prestasi
  4. Toleransi terhadap ambiguitas
  5. Kepercayaan diri
  6. Berorientasi pada action

Unsur-unsur Kewirausahaan meliputi motivasi, visi, komunikasi, optimisme, dorongan semangat dan kemampuan memanfaatkan peluang. Yang dapat dijadikan peluang adalah : pengembangan teknologi baru, penemuan pengetahuan ilmiah baru, perbaikan produk barang dan jasa yang ada serta penemuan cara-cara baru yang menghasilkan barang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih efisien.

Fungsi wirausaha adalah memperkenalkan barang baru, melaksanakan metode produksi baru, membuka bahan dan sumber-sumber baru serta pelaksanaan organisasi baru.Sedangkan Keuntungan kewirausahaan, antara lain :

  1. Otonomi, pengelolaan yang ‘merdeka’ membuatwirausaha menjadi seorang ‘boss’ yang penuhkepuasan
  2. Tantangan Awal & Motif Berprestasi,merupakan pendorong yang baik dan berpeluanguntuk mengembangkan konsep usaha yangmenghasilkan keuntungan
  3. Kontrol Finansial, bebas dalam mengelolakeuangan dan merasa sebagai kekayaan milik sendiriyang dapat diaturnya

Jenis Kewirausahaan (Williamson, 1961) adalah sebagai berikut :
1. Innovating Entrepreneurship
Bereksperimentasi secara agresif, trampil mempraktekkan transformasi-transformasi atraktif
2. Imitative Entrepreneurship
Meniru inovasi yang berhasil dari para Innovating Entrepreneur
3. Fabian Entrepreneurship
Sikap yang teramat berhati-hati dan sikap skeptikal tetapi yang segera melaksanakan peniruan-peniruan menjadi jelas sekali, apabila mereka tidak melakukan hal tersebut, mereka akan kehilangan posisi relatif pada industri yang bersangkutan.
4. Drone Entrepreneurship
Drone = malas. Penolakan untuk memanfaatkan peluang-peluang untuk melaksanakan perubahan-perubahan dalam rumus produksi sekalipun hal tersebut akan mengakibatkan mereka merugi diandingkan dengan produsen lain. Di banyak negara berkembang masih terdapat jenis entrepreneurship yang lain yang disebut sebagai Parasitic Entrepreneurship, dalam konteks ilmu ekonomi disebut sebagai Rent-seekers (pemburu rente). (Winardi, 1977).

2.4. Mitos Kewirausahaan
Sejak dikenalnya istilah kewirausahaan atau entrepreneurship pada abad 18 hingga sekarang, banyak mitos yang bermunculan. Untunglah seiring banyaknya penelitian yang dilakukan, sekarang kita dapat mengetahui bahwa beberapa mitos tersebut adalah salah.

Mitos yang banyak berkembang antara lain :

1. Entrepreneur adalah eksekutor, bukan konseptor
Meskipun benar bahwa entrepreneur selalu berorientasi pada tindakan bukan No Action Talk Only, namun entrepreneur sejati adalah mereka yang secara sistematis merencanakan segala langkahnya, salah satunya dengan penyusunan rencana bisnis yang baik. Konseptor adalah sama pentingnya dengan eksekutor.

2. Entrepreneur adalah dilahirkan, bukan diciptakan
Ide bahwa sifat entrepreneur tidak bisa diajarkan, bahwa sifat entrepreneur hanya bisa didapat dari bawaan DNA, adalah salah. Seperti disiplin ilmu lainnya, entrepreneurship memiliki model, proses, dan studi kasus yang dapat dipelajari oleh siapapun.

3. Entrepreneur sama dengan penemu atau inventor
Ide bahwa seseorang harus selalu menjadi penemu untuk menjadi pengusaha tidak sepenuhnya benar. Meski banyak penemu yang menjadi pengusaha, pada kenyataannya kebanyakan pengusaha adalah mereka yang berinovasi, bukan yang menjadi penemu. Kita ambil contoh Ray Kroc, yaitu sang pendiri Mc Donald. Ia tidak menemukan ide franchise restoran fast food. Namun berkat inovasiya ia mampu membuat Mc Donald dapat menjangkau setiap penjuru dunia.

4. Entrepreneur adalah orang-orang yang “aneh” secara akademis dan sosial.
Mitos yang berkembang adalah entrepreneur biasanya berasal dari kalangan orang-orang yang gagal di dunia akademis, misalnya para mahasiswa yang DO, atau orang-orang yang gagal di dunia pekerjaan, misalnya dipecat. Profesi entrepreneur pada waktu dulu dianggap sebagai pilihan yang posisinya jauh di bawah profesi eksekutif. Namun sekarang, entrepreneur adalah sosok pahlawan masyarakat dan profesinya telah sejajar dengan profesi manapun.

5. Entrepreneur memiliki standar profil yang baku.
Banyak buku dan artikel yang telah memaparkan daftar sifat yang dimiliki para pengusaha sukses. Namun fitrah manusia adalah memiliki kelebihan dan juga kekurangan. Oleh karena itu, adalah hal yang sangat sulit untuk seseorang bisa memiliki semua sifat ideal entrepreneur. Faktor lingkungan, sifat perusahaan, dan pengusaha itu sendiri yang saling berinteraksi menyebabkan berbagai macamnya profil pengusaha.

6.  Uang adalah segalanya.
Benar bahwa perusahaan membutuhkan modal kapital untuk bisa bertahan dan berkembang. Meski begitu, modal bukanlah satu-satunya penyebab kegagalan perusahaan. Masalah keuangan seringkali dari masalah lain, seperti manajemen yang tidak kompeten, tidak memahami cara mengelola keuangan, perencanaan yang tidak matang, dan sebagainya. Banyak pengusaha sukses yang dapat mengatasi masalah kekurangan uang sambil ia mengelola usahanya.

7.  Entrepreneur memerlukan keberuntungan.
Berada di tempat yang benar pada waktu yang tepat adalah keberuntungan. Namun keberuntungan terjadi ketika peluang bertemu dengan perencanaan yang matang. Pengusaha sukses adalah mereka yang siap mengantisipasi situasi di masa depan dan mengubah peluang menjadi bisnis berprofit tinggi. Oleh karena itu, harus kita definisikan kembali apa keberuntungan sebenarnya, yaitu persiapan, motivasi, wawasan, dan sifat inovatif.

8. Rencana dan evaluasi sama dengan petaka.
Mitos ini sudah tidak berlaku lagi di dunia sekarang yang pasarnya sudah sangat kompetitif. Sebaliknya, kunci bagi kesuksesan perusahaan adalah mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan, menyusun jadwal yang jelas, mempersiapkan plan B jika ada masalah, dan penyusunan strategi.

9. Entrepreneur memiliki tingkat kegagalan yang tinggi.
Adalah benar bahwa entrepreneur gagal berkali-kali sebelum mencapai kesuksesan. Mereka mengikuti motto utama : Jika Anda belum berhasil pertama kali, coba dan cobalah lagi. Kegagalan bisa memberikan banyak pelajaran berharga bagi mereka yang mau belajar. Namun statistik menunjukkan bahwa ”tingkat kegagalan tinggi” ini adalah salah kaprah.

10.  Entrepreneur sebagai pengambil risiko ekstrem.
Meskipun tampaknya entrepreneur berspekulasi dalam mengambil peluang bisnis, fakta yang ada adalah mereka sebagai pengambil risiko moderat, atau resiko yang telah diperhitungkan. Pengusaha sukses menyusun rencana dan mempersiapkan segalanya sebaik mungkin untuk bisa mengurangi risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha mereka.

Dengan mengetahui mitos-mitos ini, diharapkan kita sekarang tidak salah mengerti lagi mengenai dunia kewairausahaan dan karenanya semakin termotivasi untuk menjadikan pengusaha sebagai pilihan hidup.





Diktat Ilmu Ekonomi Umum-4

22 07 2012

BAB IX. PASAR

9.1. Struktur Pasar
a. Pasar Persaingan Sempurna
Pasar persaingan sempurna merupakan pasar yang paling ideal dalam sistem perekonomian, karena mengarahkan kepada tingkat efisiensi yang lebih tinggi daripada jenis pasar lainnya. Pasar persaingan sempurna mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Jumlah pembeli dan penjual sangat banyak.
  2. Barang yang diperjualbelikan adalah homogen.
  3. Setiap penjual dan pembeli tidak mampu mempengaruhi harga barang (price taker).
  4. Terdapat informasi yang sempurna mengenai barang yang diperjualbelikan (perfect information).
  5. Pembeli dan penjual bebas untuk masuk dan keluar pasar (no barrier to entry).

Pada pasar persaingan sempurna, perusahaan akan memaksimumkan keuntungan pada saat MC = MR. Syarat tersebut akan menghasilkan jumlah output produksi optimal, yang akan membawa perusahaan pada tingkat keuntungan maksimum. Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi, maka perusahaan tidak akan mendapatkan keuntungan maksimum.

b. Pasar Persaingan Tidak Sempurna
Pasar persaingan tidak sempurna dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis yaitu:

Pasar monopoli, dengan ciri-ciri sebagai berikut ini:

  1. Hanya terdapat satu perusahaan yang memproduksi suatu barang atau jasa.
  2. Tidak terdapat barang pengganti yang mirip.
  3. Perusahaan lain sulit atau tidak dapat masuk ke pasar.
  4. Mempunyai kemampuan dalam menentukan harga pasar.

Pasar monopolistik, dengan ciri utama sebagai berikut:

  1. Jumlah perusahaan tergolong banyak walaupun tidak sebanyak pada pasar persaingan sempurna.
  2. Barang yang diperjualbelikan mempunyai kegunaan sama tetapi berbeda corak (differentiated product).

Pasar oligopoli yaitu pasar dimana produk yang dihasilkan banyak yang bersifat sebagai barang antara, dan merupakan industri di sektor hulu. Misalnya produksi baja, semen, dan bahan baku plastik.

Pasar monopoli sangat bertentangan dengan pasar persaingan sempurna, terutama dalam jumlah perusahaan dan kekuasaan menentukan harga. Sedangkan untuk pasar monopolistik dan oligopoli mempunyai persamaan dalam produk tetapi berbeda corak. Perbedaannya terletak pada jumlah perusahaan. Perusahaan pada pasar monopolistik cukup banyak walaupun tidak sebanyak pasar persaingan sempurna, sedangkan pada pasar oligopoli jumlah perusahaan yang ada sangat sedikit.

9.2. Pengertian Dan Fungsi Pemasaran

Apabila seseorang ditanya tentang apa yang dimaksud pemasaran atau apa yang dimaksud memasarkan barang maka orang pada umumnya memberikan jawaban termasuk jawaban yang diberikan oleh para mahasiswa bahwa memasarkan barang adalah menjual barang atau memasang advertensi terhadap barang tersebut agar laku terjual. Jawaban ini hanya benar untuk sebagian kecil saja, sebab penjualan dan advertensi itu hanyalah merupakan sebagian kecil dari kegiatan pemasaran. Pemasaran memiliki cakupan kegiatan yang lebih luas dari itu.

Pemasaran meliputi perumusan jenis produk yang diinginkan oleh konsumen, perhitungan berapa banyak kebutuhan akan produk itu, bagaimana cara menyalurkan produk tersebut kepada konsumen, seberapa tinggi harga yang seharusnya ditetapkan terhadap produk tersebut yang cocok dengan kondisi konsumennya, bagaimana cara promosi untuk mengkomunikasikan produk tersebut kepada konsumen, serta bagaimana mengatasi kondisi persaingan yang dihadapi oleh perusahaan dan sebagainya. Oleh karena itu perusahaan harus mampu untuk menjalin hubungan yang akrab antara perusahaannya dengan masyarakat yang menjadi konsumen bagi produk-produk yang dihasilkan dan dipasarkannya. Hubungan yang baik antara perusahaan dengan konsumennya akan mendatangkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Masyarakat yang menggunakan barang hasil produksi perusahaan itu akan memperoleh keuntungan dalam bentuk mendapatkan barang sebagai pemenuhan kebutuhannya dengan kualitas yang baik, sedangkan perusahaan memperoleh keuntungan dalam bentuk diperolehnya penghasilan untuk membiayai kegiatan-kegiatan perusahaan tersebut. Kegiatan yang berupa menjalin hubungan baik antara perusahaan dengan masyarakat konsumen ilu merupakan “Proses Pemasaran”. Jadi proses pemasaran merupakan kegiatan yang berupa penentuan jenis produk yang dihasilkan, jumlah yang harus dipasarkan, harga yang ditetapkannya, cara penyalurannya, bentuk promosinya dan sebagainya. Dalam proses pemasaran itu terjadi proses timbal balik di mana perusahaan menyajikan barang-barang dan jasa kepada masyarakat atau konsumen, sedangkan konsumen menyerahkan uang sebagai imbalan atas terpenuhinya kebutuhan mereka secara cepat dan memuaskan.

Perusahaan yang tidak mampu menjalin hubungan timbal balik yang menyenangkan akan membuat konsumen menjadi tidak puas dan apabila hal ini terjadi maka hubungan akan segera terputus dan perusahaan tidak akan dapat memperoleh penghasilan yang sangat diperlukannya bagi kelangsungan hidupnya. Perusahaan semacam ini tentu saja akan cepat jatuh karena akan kekurangan dana yang dibutuhkan bagi kelangsungan hidupnya. Perusahaan macam ini tak ubahnya seperti seorang manusia yang kehabisan darah yang diperlukan oleh tubuhnya. Oleh karena itu maka bagian pemasaran berfungsi untuk menciptakan hubungan timbal balik yang akrab antara perusahaan dengan konsumennya. Hubungan timbal balik ini akan dapat dijalin dengan baik oleh pengusaha apabila pengusaha tersebut pandai dalam mempengaruhi konsumen untuk menyenangi dan selalu menyenangi produk yang dipasarkannya kepada masyarakat atau konsumennya itu. Perlu diketahui pula bahwa masyarakat atau konsumen yang akan dilayani dan dipengaruhi itu adalah sangat beraneka ragam, ada yang kaya dan banyak uangnya ada pula yang tidak terlalu kaya. Ada pula yang tergolong pada kalangan status sosial tinggi dan ada pula yang status sosialnya rendah. Bahkan ada yang cara hidupnya ultra modern tetapi banyak pula yang gaya hidupnya tradisional dan masih banyak Iagi ragam yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu maka pengusaha haruslah pandai-pandai memilih sasaran, pasar beserta cara yang harus dilakukannya dalam rangka upaya untuk mempengaruhi konsumen yang beraneka ragam tersebut. Bagi kalangan masyarakat konsumen tertentu tentu saja diperlukan pendekatan yang berbeda dengan golongan yang lain agar mereka dapat tertarik dan kemudian menyenangi produknya. Oleh karena itu agar berhasil, maka proses pemasaran untuk suatu sasaran pasar tertentu haruslah berbeda dengan cara pemasaran bagi sasaran pasar yang lain.

Sebagai gambaran atas keadaan tersebut dapat diikuti sebuah contoh pengusaha /produsen “raket”. Sernua raket fungsinya sama yaitu pemukul bola/shutlecock. Akan tetapi kalau kita teliti lebih cermat maka daIam masyarakat akan terdapat berbagai jenis keinginan dan kebutuhan terhadap raket tersebut. Ada yang menginginkan raket dengan kualitas yang tinggi, sedang, rendah atau sangat rendah. Ada yang menginginkan raket yang agak berat, ada pula yang menginginkan agak ringan. Ada yang menyenangi raket yang berwarna hitam, ada yang menyenangi warna hijau, biru atau merah tua dan sebagainya. Masing-masing jenis kebutuhan akan raket tersebut memerlukan penentuan disain produk, penetapan harga, perkiraan jumlah kebutuhan, cara penyaluran, cara promosi dan cara menghadapi persaingan yang berbeda pula.

Adapun cara yang dapat dilakukan oleh pengusaha untuk mempengaruhi konsumen atau masyarakat agar tertarik dan menyenangi produknya dapat ditempuh dengan memberikan stimulan atau rangsangan tertentu baik stimulan yang bersifat internal maupun rangsangan yang bersifat eksternal. Stimulan internal adalah berupa kebutuhan konsumen itu sendiri, sedangkan eksternal adalah berupa kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan lewat produknya, harga jualnya, promosinya serta cara penyalurannya. Stimulan internal sering juga disebut sebagai “INNER DRIVEN” atau rangsangan yang berasal dari dalam diri konsumen itu sendiri sedangkan eksternal sering disebut “OUTER DRIVEN” atau rangsangan dari luar diri konsumen. Dengan adanya rangsangan atau stimulus tersebut maka konsumen akan terpengaruh dan apabila berhasil maka konsumen tersebut akan tertarik dan kemudian membeli produk perusahaan itu dan selanjutnya diharapkan akan selalu terjadi pembelian yang berulang-ulang karena konsumen menjadi puas akan produk yang dibelinya itu. Dari uraian tersebut maka ditinjau dari sudut pandangan para pengusaha maka proses pemasaran merupakan proses tentang bagaimana pengusaha dapat mempengaruhi konsumen agar konsumen tersebut menjadi tertarik (tahu), senang, kemudian membeli dan akhirnya puas terhadap produk yang dipasarkan.

Langkah awal yang biasanya dilakukan kisaran dalam rangka upaya untuk menjalankan fungsinya yaitu proses pemasaran adalah melakukan “Analisa Pasar” atau “Analisa Potensi Pasar”. Dalam hal ini kita berusaha untuk dapat memperhitungkan berapa besar potensi pasar yang dapat dilayani ‘oleh perusahaan. Besarnya potensi pasar ini tentu saja akan berkaitan erat dengan banyak sedikitnya kebutuhan masyarakat akan produk yang dihasilkan perusahaan itu. Banyak sedikitnya kebutuhan akan sangat ditentukan oleh banyaknya orang’ atau anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan tersebut. Banyaknya orang yang memiliki kebutuhan akan prod uk tersebut itulah yang merupakan basis perhitungan potensi pasar bagi perusahaan itu. Perlu dipahami di sini tentang adanya pengertian atau definisi pasar yang sering menyesatkan para mahasiswa bahwa pasar adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual. Pengertian ini merupakan pengertian pasar dalam artian umum. Pengertian macam ini tidak dapat digunakan secara operasional bagi pengusaha dalam rangka memasarkan barang dan jasa yang dipasarkannya. Hal ini disebabkan karena pengusaha harus mampu untuk mempengaruhi pasar dan bahkan kemudian haruslah mampu untuk menguasai pasar.

Dengan penguasaan pasar yang baik maka pengusaha akan mampu menjalin hubungan timbal balik yang akrab antara kedua belah pihak. Sedangkan kalau kita artikan pasar itu adalah sebagai tempat bertemunya pembeli dan penjual maka untuk menguasai pasar berarti pengusaha harus menguasai tempat bertemunya, pembeli dan penjual itu, yang mana hal ini tidak mungkin dilakukan oleh pengusaha tersebut. Oleh karena itu maka pasar di mata pandangan pengusaha atau pemasaran adalah berupa “orang atau kumpulan orang yang memiliki keinginan dan kebutuhan serta mempunyai kemampuan untuk membayar guna memenuhi kebutuhannya itu”. Dengan pengertian ini maka pasar pada hakikatnya adalah anggota masyarakat yang memiliki kebutuhan akan produk yang ditawarkan oleh pengusana ltu. Dengan definisi ini pula maka pengusaha dapat melakukan stimuIan tertentu agar pengusaha dapat mempengaruhi pasar dan kemudian dapat menguasainya.

Perhitungan terhadap besamya potensi pasar itu tentu saja akan ditentukan oleh beberapa faktor. Adapun faktor-faktor tersebut adalah berupa jumlah orang yang membutuhkan barang tersebut, tingkat rata-rata penggunaan per-orang serta harga produk yang berlaku. Semakin banyak orang yang membutuhkan tentu Semakin besar potensi pasarnya, semakin banyak tingkat penggunaan per-orang juga akan semakin tinggi potensi pasarnya sedangkan semakin tinggi harga akan mempersempit potensi pasar. Ketiga faktor tersebut dapat kita rumuskan dalam persamaan sebagai berikut :

M = N.U. P
Di mana:
M = Potensi Pasar (Market)
N = Jumlah orang yang membutuhkqn.
U = Tinggi rendahnya tingkat penggunaan per orang.
P = Tingginya harga produk tersebut.

Adapun faktor-faktor tersebut terutama faktor pertama (N) dan kedua (U) akan dapat melebar dan dapat pula menyempit. Beberapa hal yang dapat mempengaruhi pelebaran ataupun penyempitan luas potensi pasar tersebut adalah :
- Struktur Penduduk.
- Daya Beli.
- Pola Konsumsi.

Struktur penduduk adalah merupakan komposisi periduduk yang menunjukkan berapa banyaknya penduduk dari masing-masing golongan penduduk. Misalnya saja pembagian penduduk menurut jenis kelamin sehingga dapat diketahui berapa wanita dan berapa prianya. Pembagian penduduk menurut umur dapat diketahui berapa jumlah penduduk dengan tingkat umur tertentu, sehingga dapat diketahul berapa jumlah orang dewasa, anak-anak, angkatan kerja, orang jompo, pasangan usia subur dan sebagainya. Masing-masing jenis penggolongan penduduk tersebut akan sangat menentukaIi besarna kebutuhan bagi masing-masing golongan, sehingga kita dapat memperkirakan berapa Iuas pasar untuk pakaian sekolah anak-anak SD, SMP ataupun SMA misalnya. Begitu pula kita juga dapat memperkirakan berapa banyak alat-alat kontrasepsi yang dibutuhkan masyarakat karena kita tahu berapa banyak Pasangan Usia Subur atau PUS dan sebagainya.

Daya beli masyarakat akan dapat diKetahui dari besar kecilnya atau tinggi rendahnya tingkat penghasilan masyarakat. Semakin tinggi tingkat penghasilan masyarakat tentulah akan semakin meningkatkan daya beli masyarakat itu. Apabila penghasilan masyarakat meningkat maka claya belinya juga akan meningkat. Begitu pula bagi golongan yang berpenghasilan tinggi akan memiliki daya beli atau kemampuan membeli yang Iebih besar pula. Hal ini tentu akan mempengaruhi (luas dan sempitnya potensi pasar yang ada bagi suatu produk tertentu. Dengan kemampuan membeli yang lebih tinggi akan meningkatkan tingkat penggunaan perorang. Misalnya saja orang yang berpenghasilan tinggi akan memiliki kebutuhan baju yang lebih banyak dari orang yang berpenghasilan rendah. Di samping jumlah baju yang dibelinya akan lebih banyak begitu pula jenis dan kualitas baju yang akan dibelinyapun pasti lebili banyak dan lebih baik.

Pola konsumsi merupakan komposisi pengeluaran yang biasanya dilakukan oleh masyarakat. Hal ini meliputi berapa persen penghasilan masyarakat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan makanan, minuman clan pakaian, berapa persen untuk kebutuhan perumahan, berapa banyak untuk kebutuhan pendidikan, berapa untuk kesehatan dan begitu pula berapa yang untuk keperluan rekreasi misalnya. Pola konsumsi ini akan menentukan jenis-jenis kebutuhan masyarakat dan dengan demikian akan menentukan besar kecilnya potensi pasar bagi suatu produk tertentu.

Perlu disadari bahwa potensi pasar adalah merupakan potensi pasar secara keseluruhan terhadap suatu produk tertentu. Potensi pasar ini akan menjadi perebutan bagi para pengusaha yang terjun dan bergerak serta bersaing dalam bisnis produk itu. Dengan adanya persaingan dari para pengusaha tersebut maka akan mempengaruhi bagian pasar Iangsung dapat dikuasai oleh masing-masing pengusaha. Bagi pengusaha yang lebih pandai dalam mempengaruhi konsumennya dibandingkan dengan pengusaha yang lain tentu saja akan dapat meraih bagian pasar atau “Pangsa Pasar” atau “Market Share” yang lebih banyak katimbang pengusaha lain yang kurang pandai dalam memasarkan produknya.

9.3. Bentuk – Bentuk Persaingan

Dengan adanya perebutan diantara para pengusaha dalam memperebutkan pengaruhnya kepada konsumen maka akan timbulah persaingan. Semakin banyak pengusaha yang terjun dan bersaing dalam suatu produk atau bisnis tertentu akan semakin mempertinggi atau mempertajam tingkat persaingan yang terjadi. Sebaliknya semakin sedikit jumlah pengusaha yang bersaing tentu saja akan memperingan taraf persaingannya. Persaingan yang semakin tajam akan cenderung untuk lebih banyak penggunaan harga sebagai alat persaingan mereka artinya pesaing akan cenderung untuk saling menurunkan harga jual produknya guna merebut hati para konsumennya. Hal ini sering dikenal sebagai “Perang Harga”. Perang harga ini yang pada umumnya tidak disenangi oleh para pengusaha karena dengan semakin menurunnya harga jual tentu saja tingkat margin keuntungannya juga akan semakin kecil. Bahkan apabila sudah terjadi perang harga yang semakin menghebat maka pengusaha banyak yang berani menjual produknya dengan harga jual di bawah harga pokok atau biaya produksinya. Dengan kata lain mereka berani merugi untuk saling memperebutkan pasar itu.

Sehubungan perebutan pasar yang berupa persaingan tersebut kita dapat membedakan beberapa bentuk persaingan yaitu:
- Persaingan Sempuma (Pure Competition).
- Persaingan Monopolistik (Monopolistic Competition).
- Persaingan Oligopoli (Oligopolistie Competition).
- Monopoli (Monopoly)

Bentuk persaingan sempurna merupakan bentuk persaingan di mana terdapat sangat banyak pengusaha yang terjun di pasar untuk melayani suatu produk tertentu dan pada umumnya pengusaha yang terjun di pasar adalah pengusaha-pengusaha keeil. Dengan sangat banyaknya pengusana yang bersaing maka seperti telah diuraikan di atas persaingan harga akan sangat tajam. Bentuk persaingan ini sangat tidak disenangi oleh para pengusaha. Kita juga harus menghindarkan diri dari bentuk persaingan macam ini. Dalam bentuk persaingan ini berarti pengusaha yang terjun di pasar tidak memilik penguasaan pasar. Pengusaha tidak dapat menanamkan pengaruhnya kepada konsumen. Pengaruh satu-satunya hanyalah harga, sehinggi terjadilah perang harga. Keadaan ini merupakan posisi persaingan yang paling buruk yang dialami oleh pengusaha. Pengusaha haruslah berusaha untuk memperbaiki posisi persaingan menjadi bentuk persaingan yang lain yang lebih baik. Posisi persaingan berikutnya adalah yang lebih baik.

Bentuk persaingan Monopolistik merupakan bentuk di mana pengusaha yang terjun dalam kancah persaingan tidak terlalu banyak sehingga daIam haI ini pengusaha dapat menanamkan pengaruhnya kepada konsumen. Pengusaha dapat mempengaruhi konsumen dengan alat-alat pemasarannya (Marketing Mix) yang lain dan tidak hanya semata-mata dengan harga saja. MisaInya saja pengusaha dapat menggunakan alat berupa Merek dagangnya, bungkusnya yang menarik, kualitas atau tingkat kehalusan produknya, promosinya ataupun cara penyaluran dan pelayanannya. Penggunaan alat non harga dalam persaingan disebut “Nonprice Competition”, sedangkan penggunaan harga sebagai alat persaingan disebut “Price Competition”. Dengan demikian dalam bentuk persaingan yang lebih baik ini maka penggunaan harga sebagai alat persaingan menjadi kurang dominan.

Bentuk persaingan yang selanjutnya merupakan posisi persaingan yang lebih tinggi lagi bagi pengusaha yang mampu untuk meraihnya yaitu Persaingan OIigopoli. Dalam persaingan ini hanya ada sedikit saja jumIah pengusaha yang bergerak di pasar dan pada umumnya merupakan perusahaan besar. Dalam kondisi ini penggunaan harga sebagai alat Persaingan sangat minim atau marginal. Persaingan akan berlangsung terutama dengan menggunakan alat-alat non harga seperti kualitas produk, bentuk bungkus merek dagang, promosi serta distribusi yang lebih memuaskan para konsumennya.

Bentuk persaingan yang terakhir adalah bentuk persaingan Monopoli. Dalam hal ini hanya ada satu pengusaha yang merupakan satu-satunya perusahaan yang melayani kebutuhan seluruh masyarakat dan karena hanya ada satu maka tentu saja akan merupakan perusahaan yang sangat besar atau raksasa. Sebagai misal di Indonesia adalah Perusahaan Listrik Negara atau PLN, Perum Telkom, Perumka, Pertamina dan sebagainya. Bentuk persaingan ini bagi usaha swasta tidak diperkenankan di Indonesia.

9.4. Jenis – Jenis Pasar

Seperti telah diuraikan di muka bahwa pengusaha yang akan memasarkan produknya berusaha untuk melayani kebutuhan masyarakat dan harus terjadi hubungan baik antara keduanya. Pengusaha harus memanfaatkan segala sumber daya yang ada baik material, mesin-mesin, tenaga kerja maupun keuangan untuk dapat melayani masyarakat yang menjadi pasar bagi usahanya. Hubungan timbal balik tersebut berupa pengusaha menyajikan produk yang dapat digunakan oleh masyarakat atau konsumen untuk memenuhi kebutuhannya, sedangkan konsumen membayarkan uangnya atas produk yang dibelinya.

Masyarakat yang merupakan pasar bagi pengusaha tersebut dapat kita bedakan menjadi beberapa macam jenis, dimana dalam hal ini pasar dapat dibedakan menjadi 4 macam jenis yaitu:
- Pasar Barang Konsumen (Konsumsi).
- Pasar Barang Industrial (Industri).
- Pasar Pemerintah.
- Pasar Internasional.

9.5. Pengertian Lain Dari Pemasaran

Pemasaran adaIah suatu fungsi perusahaan yang selalu berusaha menjawab tantangan perubahan Iingkungan. Definisi ini tampak sangat berbeda dengan definisi-definisi yang lain, yang dikemukakan dalam Iiteratur pemasaran. DaIam textbook pada umumnya pemasaran didefinisikan sebagai semua kegiatan yang menyangkut perencanaan dan pengendaIian terhadap aliran barang dari produsen ke konsumen. Terdapat pula definisi yang lain yang mendefinisikan pemasaran sebagai semua kegiatan untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan kemudian memperoleh keuntungan dari kepuasan konsumen tersebut.

Definisi yang disebutkan paling awal tersebut dimaksudkan untuk menitikberatkan perhatian pada hubungan antara bagian pemasaran dengan bagian lain dalam perusahaan, khususnya dalam hubungan dalam kaitannya dengan perumusan strategi perusahaan (Corporate Strategy/Corporate Plan). Untuk keperluan tersebut maka kita harus melihat hubungan antara perusahaan dengan Iingkungannya, baik Iingkungan usaha, sosial, perundang-undangan, politik dan sebagainya.

Perusahaan yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dalam lingkungannya akan mengalami kesulitan dan mungkin akan jatuh pailit. Sebaliknya apabila perusahaan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya maka dia akan memperoleh kemajuan usaha dan berkembang.

Usaha untuk selalu dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan adalah Corporate Plan (Corporate Strategy). Oleh karena itu kita harus melihat adanya perubahan-perubahan tersebut dan mengatur kemampuan kita untuk dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan tersebut dan kemudian menyusun rencana untuk menyesuaikannya. Proses penyesuaian diri dengan lingkungannya tersebut haruslah diikuti oleh semua bagian yang ada dalam perusahaan baik bagian produksi, keuangan, personalia maupun administrasi.

Di pihak lain ada yang mendefinisikan pemasaran sebagai suatu kegiatan yang mendapatkan dan menjembatani penyaluran dan peningkatan taraf hidup. Definisi ini terlalu luas, disini termasuk usaha bagaimana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan mengarahkan taraf hidup pada taraf hidup yang lebih baik.

Perbedaan utama antara definisi yang pertama yang terlalu sempit dan yang kedua yang terlampau luas adalah terletak pada titik berat pandangannya. Definisi yang pertama menitikberatkan pada pandangan mikro, sedangkan yang kedua berpandangan makro. Titik berat pandangan mikro adalah pada kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau suatu organisasi, sedangkan perumusan makro bertitik berat pada pengaturan masyarakat

Pertanyaannya adalah jawaban mana yang benar ? Jawabannya adalah bahwa pemasaran mengandung kedua-duanya, sebab pada kenyataannya memang pemasaran meliputi kedua aspek tersebut, baik aspek makro maupun aspek mikro. Hal ini dapat dipahami dengan melihat bahwa suatu perusahaan haruslah membuat barang yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen, dan tidak hanya asal membuat barang. Begitu pula halnya sebuah Bank, Kursus Stir Mobil, Salon Kecantikan, Rumah Sakit dah sebagainya. Mereka harus mengatur produksinya sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumen baik terhadap harganya, penyalurannya, cara promosi serta mengatasi persaingan yang dihadapinya, ini adalah tujuan mikro. Lebih jauh dari itu di masyarakat terdapat berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhi oleh para pengusaha, pimpinan organisasi kemasyarakatan dan bahkan pemerintah. Masyarakat membutuhkan suatu sistem pemasaran yang mengatur kegiatan penyaluran kebutuhan tersebut yang dilakukan oleh para produsen dan perantara agar kegiatan penyaluran kebutuhan tersebut dapat berjalan secara efisien dan efektif. Tinjauan ini menunjukkan aspek sosial kemasyarakatan atau aspek makro.

9.6. Manajemen Pemasaran

Setelah mengetahui tentang perkembangan konsep pemasaran, maka kita dapat mengetahui bahwa perumusan konsep pemasaran memberikan arah pedoman dasar bagi kegiatan seluruh perusahaan. Sekarang kita melihat lebih lanjut tentang bagaimana manajer pemasaran membantu perusahaan dalam mencapai tujuannya, ini adalah tugas dari manajer pemasaran.
Adapun tugas-tugas manajer pemasaran adalah:
1. Perencanaan terhadap kegiatan pemasaran.
2. Menggiatkan pelaksanaan kegiatan pemasaran.
3. Pengendalian kegiatan pemasaran.

9.7. Strategi Perusahaan (Pemasaran Strategis Dan Strategi Pemasaran)

Judul tersebut di atas sengaja diutarakan demikian untuk memancing pemikiran, agar menjelaskan perbedaan isinya dan perbedaan implikasinya di dalam praktek kehidupan baik dalam bidang pemasaran maupun dalam kehidupan sebari-hari, dalam hal ini kita sebenarnya berhubungan kata strategi dengan kata operasional.

Pemasaran Strategis mengacu pada faktor strategis sedangkan strategi pemasaran mengacu pada faktor operasional atau pelaksanaan kegiatan pemasaran seperti penentuan harga, pembungkusan, pemberian merek, penentuan saluran distribusi, pemasangan iklan dan sebagainya. Kegiatan pemasaran itu sering dikenal dengan sebutan Marketing Mix yang juga dikenal dengan singkatan 4P sebagai singkatan dati Product, Price, Place dan Promotion.

Perbedaan antara kata strategi dan operasional dapat dijelaskan dengan baik dengan mengikuti ungkapan kalimat sebagai berikut :
a. Anda telah melakukan tindakan yang benar (You did the right thing).
b. Anda telah melakukan tindakan itu dengan benar (You did the thing right).

Kalimat yang pertama mengandung arti strategis sedangkan kalimat kedua mengandung arti operasional. Hal itu dapat diperjelas lagi dengan mengikuti contoh sebagai berikut misalnya seorang sopir dari sebuah perusahaan yang mencuci mobil majikannya dengan bagus sekali sehingga mobil menjadi bersih, mengkilap, tanpa ada bekas goresan sedikit pun pada cat mobil tersebut. Apabi!a pekerjaan tersebut dilakukan pada saat perusahan sedang sibuk dan banyak pekerjaan yang harus ditangani dan majikannya ternyata kemudian membutuhkan mobil untuk dipakainya, akan tetapi beliau menjadi sangat kecewa karena mobilnya sedang dicuci, maka dalam hal itu sopir tersebut telah melakukan pekerjaan yang tidak strategis meskipun pekerjaan itu telah dilakukannya dengan cara benar.

Keadaan tersebut dapat merupakan pekerjaan yang strafegis apabila sopir tersebut mengerjakannya dengan mempertimbangkan terlebih dahulu keadaan perusahaan. Apabila ternyata perusahaan sedang tidak sibuk maka sopir itu telah melakukan pekerjaan secara strategis karena keadaan yang sepi itu menunjukkan kemungkinan yang kecil bahwa mabil itu akan dibutuhkan. Oleh karena itu maka kita haruslah mempertimbangkan kedua hal tersebut di atas yaitu Pertama, memilih tindakan yang benar (pemasaran Strategis) dan kemudian berusaha melakukan yang telah kita pilih (strategis) tadi dengan cara yang benar (strategi pemasarannya). Tindakan yang akan kita lakukan haruslah kita analisa seningga kita dapat melakukan tindakan yang benar (strategis).

Tindakan yang tidak direncanakan dengan baik akan berakibat tindakan tersebut tidak strategis (benar) atau dengan kata lain salah. Tindakan yang telah dipilih tersebut selanjutnya haruslah pula kita rencanakan lebih lanjut agar tindakan yang strategis itu dapat kita lakukan dengan benar. Perencanaan pada tahap ini disebut perencanaan operasional sedangkan pada tahap sebelumnya disebut “Perencanaan Strategis”.

lsi tulisan ini berusaha untuk mencoba menguraikan apa serta bagaimana proses perencanaan tersebut harus dilakukan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, baik berupa laba, atau bukan laba misalnya Rumah Sakit, Lembaga Pemerintahan, Lembaga Sosial, Lembaga Kebudayaan dan sebagainya. Tulisan ini terutama menguraikan strategi dan perencanaan operasional bagi organisasi yang berorientasi keuntungan finansial (laba), akan tetapi konsep-konsepnya dapat juga diserap dan diterapkan bagi organisasi yang tidak bermotif mencari keuntungan seperti yang telah disebutkan di atas. Untuk keperluan tersebut maka contoh-contoh diusahakan akan bervariasi baik perusahaan yang bermotif mencari keuntungan maupun yang tidak bermotif mencari keuntungan. Suatu Partai Politik misalnya, sebenarnya dapat ditinjau pula sebagai organisasi yang menjual produk/jasa. Jasa yang dijualnya adalah konsep atau program partai dari Partai Politik tersebut. Bagaimana konsep Partai sebagai suatu produk itu dapat diterima oleh masyarakat yang belum memakainya, bagaimana memelihara agar pemakai (penganut) program Partai tersebut dapat memperoleh kepuasan batinnya dan tidak pindah kepada produk lain (Partai lain) dan sebagainya, adalah tidak berbeda prinsipnya dengan konsep-konsep pemasaran yang berusaha memasarkan produk kepada masyarakat, tentu saja dengan motif yang lain yaitu motif memperoleh keuntungan finansial dari transaksi pembelian produk dan kepuasan pemakainya.

Apalagi dengan perkembangan konsep pemasaran yang pada saat ini berlangsung yang tidak lagi berpijak pada konsep menjual barang (konsep penjualan) tetapi berkembang menjadi konsep membuat kepuasan konsumen. Dalam konsep penjualan, keuntungan diperoleh dengan terjadinya transaksi penjualan. Dengan terjadinya transaksi penjualan itu maka perusahaan akan memperoleh keuntungan. Konsep ini telah menyesatkan karena usaha pemasaran hanyalah menciptakan terjadinya transaksi penjualan, tidak melihat apakah pembeli memperoleh kepuasan atau tidak dari barang yang dibelinya tersebut.

Konsep pemasaran yang berorientasi pada pasar berawal dan sekaligus berakhir pada pasar atau konsumen atau pemakai atau pembeli yaitu kepuasan mereka dari adanya transaksi pembelian atau pemilikan barang tersebut. Apabila pemakai tidak puas maka mereka akan bereaksi, mulai dari reaksi yang pasif dan tidak berbahaya bagi perusahaan sampai dengan reaksi yang berbahaya bagi perusahaan. Reaksi pasif misalnya mereka diam saja dan tidak lagi membeli barang tersebut di kemudian hari dan kemudian dia akan pindah atau membeli produk/barang dari perusahaan lain (pesaing). Reaksi aktif misalnya mereka tidak diam melainkan lalu menceritakan ketidakpuasannya tersebut kepada tetangga, teman bermain, teman sekolah, teman sekerja dan bahkan mungkin pada teman naik bis/kereta api dalam perjalanannya ke tempat kerja rnisalnya. Lebih dari itu ada pula reaksi yang bersifat agresif yaitu, mereka menuntut ganti rugi atas ketidakpuasan tersebut di atas. Tugas Manajer (Manajer Pemasaran) adalah membuat rencana baru yang strategis maupun yang operasional agar terjadi keadaan : “kita melakukan tindakan yang benar dan tindakan yang benar tersebut kita lakukan pula, dengan cara yang benar pula”. lnilah yang dimaksudkan dengan pemasaran strategis dan strategi pemasaran. Kita haruslah memilih dan merencanakan kegiatan/tindakan pemasaran itu sehingga tindakan tersebut adalah tindakan yang benar (strategis) dan kemudian kita membuat perencanaan lebih lanjut untuk menjabarkan perencanaan strategis tersebut ke dalam perencanaan operasional sehingga tindakan kita dapat berjalan dengan cara yang benar beserta strategi pemasaran yang benar pula. Usaha itu tidak lain adalah ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dan bukan hanya sekedar menjual barang kepada konsumen.

9.8. Pasar Dan Orientasi Pasar

Pengusaha harus mengenal pasarnya dengan baik agar dapat memenuhi/melayaninya dan menguasainya. Pengusaha yang tidak mengenal pasarnya dapat diumpamakan sebuah kapal di tengah samudera tanpa kompas dan tidak dapat melihat bintang di langit yang sedang tertutup awan mendung. Dia akan berlayar tanpa arah dan akan terbawa kemana angin bertiup sehingga kalau toh dia sampai di tempat yang di tuju itu hanyalah secara kebetulan saja. Dengan mengenal pasar kita akan tahu kemana kita harus menuju sehingga apabila memang arah angin sesuai dengan tujuan maka kita dapat memacu kecepatan, sedangkan bila tidak sesuai maka kita harus mampu merubah jalannya kapal meskipun harus tidak searah dengan arah angin.

Pasar ditinjau dari segi pengusaha adalah sekumpulan orang yang memiliki kebutuhan yang serupa dan bersedia untuk membayar guna memenuhi kebutuhan mereka itu. Pengusaha yang berorientasi pasar selalu meninjau kegiatannya atas dasar kebutuhan pasar yang dihadapinya. Sedangkan pengusaha yang berorientasikan produksi mendasarkan diri pada barang yang dihasilkannya.

9.9. Potensi Pasar / Kesempatan Pasar

Mendapatkan target pasar yang menarik merupakan bagian utama dari Pemasaran Startegis. Pada umumnya kita tidak perlu harus melayani kebutuhan semua orang. Agar berhasil justru kita dapat menitikberatkan pada sebagian dari konsumen yang cukup luas dimana mereka itu bersedia untuk membayar atas pelayanan atau pemenuhan kebutuhan mereka tersebut. Tidak semua orang bersedia membayar untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan mereka. Inilah yang disebut Target Marketing dan hal ini dapat kita lakukan dengan Segmentasi Pasar, kemudian kita pilih segmen pasar tertentu yang kita jadikan sebagai sasaran atau Target. Sasaran pasar yang cukup menarik akan merupakan kesempatan pasar atau Market Opportunity. Kesempatan pasar dari suatu perusahaan merupakan sasaran yang dapat dijangkau oleh faktor-faktor atau samna yang dimiliki oleh perusahaan. Sasaran yang di luar jangkauan sarana produksinya bukanlah merupakan kesempatan pasar baginya.

Pada umumnya kesempatan pasar yang cukup menarik berada di sekitar pasar yang sudah dikuasai oleh perusahaan yang masih berada dalam jangkauan kekuatan dan kelemahan perusahaan itu.

(1) Penguasaan Pasar
Dengan melihat gambar tersebut kita dapat memikirkan cara untuk menemukan kesempatan pasar atau potensi pasar. Keempat bidang dalam gambar tersebut rnerupakan kesempatan yang dapat dilakukan oleh penlsahaan. Bidang yang paling dekat dengan keadaan perusahaan pada saat ini adalah pada bidang Nomor 1. Bidang ini adalah bidang yang kita alami pada saat ini, yaitu kita berada pada posisi pasar yang saat ini kita hadapi (lama) dengan produk yang kita tawarkan pada saat ini (lama) pula. Kesempatan yang terbuka pada bidang ini adalah melakukan penguasaan pasar agar penjualan kita dapat bertambah, biasanya dilaksanakan dengan cara mengadakan kombinasi/bauran pemasaran (Marketing Mix) yang lebih agresif.

Sasaran yang harus dicapai dalam hal ini adalah :
- Manaikkan tingkat penggunaan barahg agar konsumen membeli lebih banyak.
- Menarik langganan dari pesaing kita.
- Menarik orang yang belum memakai barang tersebut

Sebagai contoh cara tersebut adaIah : Harga obral.
- Re dekorasi toko yang lebih menarik.
- Advertensi baru yang lebih menarik.
- Potongan harga.
- Pelayanan yang lebih menarik.

Para pengusaha pada umumnya hanya terpaku pada bidang yang pertama ini saja. Tidak atau jarang yang berusaha untuk melihat kesempatan yang lebih jauh yaitu pada ketiga bidang yang lain. Hal ini dapat dimengerti karena di situlah yang paling dikuasainya, akan tetapi agar lebih berhasil kita harus memikirkan kesempatan lain yang lebih luas dan tentu saja lebih sukar. Akan tetapi pengusaha adalah penanggung risiko. Dalam hal ini perlu dihayati bahwa risiko yang lebih besar biasanya akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar pula.

(2) Pengembangan Pasar
Dalam hal ini kita berusaha untuk menaikkan penjualan dengan menjual produk lama ke pasar yang baru. lni bisa dicapai mungkin hanya dengan memasang advertensi pada media lain yang dapat menjangkau pasar baru tersebut : Mungkin juga harus dengan tambahan saluran distribusi untuk daerah baru, misalnya ayam goreng “AA” membuka cabang baru di Kota lain atau di dekat Kampus, dekat Rumah Sakit, di Pusat Kota dan sebagainya.

(3) Pengembangan Produk
Kita dapat menawarkan produk baru atau modifikasi dari produk lama kepada pasar lama. Dalam hal ini perusahaan harus mengetahui kebutuhan dan keinginan konsumen atau pasar dan harus melihat perubahan apa yang harus dilakukan terhadap produknya. Hal ini bisa meliputi bentuknya, kualitasnya, jenisnya atau tipe baru dari padanya, sehingga dapat memberikan kepuasan yang lebih besar bagi konsumennya. Misalnya Toko “AA” memberikan ruang untuk permainan anak-anak agar lebih menarik para pengunjungnya.

(4) Pengembangan usaha (produk dan pasar)
Kesempatan yang Paling sukar untuk ditempuh adalah menghasilkan produk baru untuk dijual ke pasar yang baru pula. Dalam hal ini baik produk maupun pasar yang dilayani adalah baru maka tentu saja hal ini akan membawa konsekuensi yang jauh lebih sukar karena kita tidak atau belum tahu akan sifat-sifat pasar yang baru tersebut maupun kita juga belum tahu akan kekuatan dan kelemahan dari produk kita yang juga masih baru.

Cara lain yang dapat ditempuh untuk mengetahui adanya potensi pasar adalah :

  1. Mempersempit dimensi pasar dengan cara segmentasi pasar. Dengan melakukan segmentasi pasar maka kita dapat melihat adanya jenis kebutuhan yang lain dari konsumen (segment pasar) yang belum terpenuhi. Kebutuhan yang belum terpenuhi ini merupakan potensi pasar yang terbuka. Contohnya kebutuhan beras bagi golongan konsumen yang memerlukan status sosial.
  2. Memperluas dimensi pasar dengan cara melihat pasar kebutuhan pangkal (Generic Market atau generic need). Dengan melihat generic market maka kita clapat melihat adanya kesempatan pasar.
  3. Melihat adanya Iobang pasar (kebocoran pasar, market leakage). Kebocoran pasar adalah pasar yang seharusnya dapat dilayani akan tetapi pada saat ini belum terlayani.

9.10. Sasaran Pasar

Pasar pada umumnya mencakup medan yang luas, misalnya saja semua orang membutuhkan beras, semua orang membutuhkan pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, alat dapur, alat tulis dan sebagainya. Tinjauan pasar semacam ini masih terlalu luas bagi seorang pengusaha dan menjadi tidak berarti bagi perencanaan pemasarannya. Agar dapat lebih berarti maka pasar haruslah diartikan lebih sempit lagi sehingga dapat dilihat adanya sasaran pasar (target market).

Manajer yang berorientasi pada pasar harus dapat menyebutkan siapa sasaran pasarnya yaitu kelompok orang yang mana, bukan semua orang. Sasaran pasar mengacu pada sekelompok orang tertentu yang memiliki sifat-sifat serupa. Dengan kemiripan sifat-sifat mereka itu maka pengusaha akan dapat mengenal kesamaan kebutuhan, keinginan, sikap, tingkah laku, gaya hidup, kelompok sosial serta kebudayaan mereka. Di dalam masyarakat akan terdapat kelompok-kelompok yang memiliki sifat-sifat yang identik dari kelompoknya itu yang berbeda dengan keIompok yang lain. Tiap kelompok memiliki sifat yang berbeda dengan kelompok yang lain. MisaInya Orang tua dengan Orang muda, Remaja modern dengan remaja tradisional, Kelompok sosial dengan bawah/menengah, pedagang dengan pegawai negeri.

Dengan mengenal persamaan faktor-faktor tersebut di atas pengusaha dapat melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan faktor-faktor yang dimiliki oleh sasaran pasar tersebut, sehingga dapat mendorong mereka untuk membeli produk rnereka saja. Tanpa mengenal faktor-faktor tersebut di atas maka tindakan yang kita lakukan tidak menjamin timbulnya dorongan bagi konsumen untuk membeli produk kita. Faktor-faktor tersebut adalah faktor penentu pembelian.

Faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi :
1. Faktor pribadi (intern).
2. Faktor kelompok.
3. Faktor lingkungan sosial.
4. Faktor lingkungan budaya.

Mengapa seseorang membeli barang tersebut, hal itu karena pengaruh faktor intern (pribadi) serta ekstern (lingkungan), baik lingkungan kecil yaitu teman, keluarga, kelompok, maupun lingkungan yang lebih luas yaitu lingkungan sosial masyarakat serta budaya. Sebagai contoh si Ivan rnembeli beras Rojolele atau Cianjur, sedangkan yang lain membeli jenis IR 26, yang lain Iagi mernbeli beras Jatah. Mengapa si Ivan rnembeli beras Rojolele atau Cianjur? Tindakannya itu dipengaruhi oleh semua faktor tersebut di atas mulai dari faktor pribadi, keluarga, teman kantor, teman bermain olah raganya, kelompok sosial maupun budayanya.

Cobalah pula membayangkan contoh lain dalam pembelian arloji atau pakaian, atau jasa salon kecantikan, misalnya, semua tindakan pembelian terhadap produk tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor penentu pembelian itu.

Faktor-faktor itu, akan menjawab pertanyaan mengapa seseorang membeli arloji merek itu, pakaian itu, salon kecantikan itu dan sebagainya. Dengan mengenal faktor-faktor penentu pembelian tersebut maka kita dapat mengenal bahwa Pasar yang kita hadapi itu adalah berbeda-beda (heterogen). Akan tetapi meskipun berbeda-beda, hal itu dapat kita lihat adanya kesamaan sifat-sifat pribadi serta Iingkungannya. Atau dengan kata lain dapat kita kelompok-kelompokkan ke dalam bagian yang memiliki sifat-sifat yang serupa (homogen). Pengelompokan ini disebut “Segmentasi Pasar”. Dengan pengelompokan tersebut maka kegiatan akan dapat dititik beratkan pada salah satu atau beberapa kelompok (segmen) pasar tertentu yang dapat terjangkau dengan baik oleh sarana produksinya sehirigga perusahaan dapat memenuhi kebutuhan pasarnya secara lebih baik dari pada para pesaing-pesaingnya. Apabila perusahaan tidak rnengelompokkan dan mencari sasaran pada sekelompok segmen tertentu dan dia bergerak pada pasar umum yang sangat heterogen maka hal ini berarti dia memperlakukan konsumen yang berbeda-beda itu dengan cara penyampaian/penyajian dan pelayanan atau marketing mix yang sama. Jadi dalam hal ini perusahaan berpandangan bahwa semua orang (konsumen) adalah sama, jadi perlakuan terhadapnya juga sama. Tindakan semacam ini disebut “Undifferentiated Marketing”.

Pengusaha dapat mengelompokkan konsumen yang berbeda-beda itu dan kemudian memperlakukannya secara berbeda-beda pula sesuai dengan faktor-faktor pribadi, kelompok kecil maupun kelompok sosial dan budayanya yang berbeda-beda tersebut. Cara ini disebut “Differentiated Marketing”. Dalam hal ini pengusaha memberikan perlakuan, penyajian, penyampaian dan pelayanan (marketing mix) yang berbeda terhadap segmen pasar yang berbeda. Cara ini lebih menjamin adanya kemungkinan bahwa perusahaan dapat memperoleh posisi persaingan yang lebih baik (Competitive Advantage). Hal ini disebabkan karena perusahaan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik atau lebih sesuai dengan kebutuhan dan keinginan konsumennya dibandingkan dengan pesaing-pesaingnya.

9.11. Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
Proses pemasaran adalah proses tentang bagaimana pengusaha dapat mempengaruhi konsumen agar para konsumen tersebut menjadi tahu, senang lalu membeli produk yang ditawarkannya dan akhimya konsumen menjadi puas sehingga mereka akan selalu membeli produk perusahaan itu. Bagaimana caranya pengusaha itu agar dapat mempengaruhi konsumennya merupakan hal yang memerlukan perencanaan dan pengawasan yang matang serta perlu dilakukan tindakan-tindakan kongkrit.

Untuk keperluan tersebut pengusaha dapat melakukan tindakan-tindakan yang terdiri dari empat macam yaitu tindakan mengenai :
- Produk (Product).
- Harga (Price).
- Distribusi atau Penempatan Produk (Place).
- Promosi (Promotion).

Keempat macam tindakan tersebut sering disebut sebagai ‘”BAURAN PEMASARAN atau “MARKETING MIX”. Selain dari pada itu karena keempat tindakan tersebut terdiri dari 4 huruf P, maka sering pula dikenal sebagai “4 P” dalam pemasaran yaitu : Product, Price, Place dan Promotion. Bauran Pemasaran atau Marketing Mix tersebut merupakan alat yang dapat dipergunakan oleh pengusaha untuk mempengaruhi konsumennya.
Pengusaha dapat mempengaruhi komsumennya lewat produk yang ditawarkannya kepada konsumen itu. Dalam hal ini dengan membuat produk tersebut sedemikian rupa sehingga produk tersebut dapat menarik perhatian konsumen. Misalnya saja dengan membuat produk dengan warna-warni yang menarik atau bahkan mungkin dengan warna yang mencolok, bungkus yang bagus lagi ekslusif dan sebagainya.

Di samping itu pengusaha dapat pula mencantumkan harga yang rendah serta pemberian discount/potongan harga, mencantumkan harga obral serta harga cuci gudang dan sebagainya. Dengan cara penetapan harga semacam ini akan dapat menarik perhatian serta meodorong konsumen untuk segera melakukan transaksi pembelian agar tidak terlewatkan kesempatan yang terbatas waktunya bagi berlakunya harga obral tersebut.

Cara distribusi yang memenuhi kebutuhan konsumen juga dapat diterapkan agar dapat menarik para konsumen untuk membeli produk yang difawarkannya. Misalnya saja untuk barang kebutuhan sehari-hari distribusinya dibuat sedekat mungkin dengan konsumen agar kebutuhan sehari-harinya yang biasanya memiliki sifat frekuensi pembelian tinggi dengan jumlah kebutuhan yang kecil-kecil itu dapat segera terpenuhi.

Cara lainnya lagi adalah dengan melakukan kegiatan-promosi untuk memperkenalkan produk tersebut sehingga konsumen menjadi kenai dan tahu, ataupun bagi yang sudah kenal dapat menjadi lebih menyenangi produk itu, bahkan bagi yang sudah agak lupa diharapkan agar dapat menjadi ingat kembali akan produk tersebut.

BAB X. EKONOMI MAKRO

10.1. Peranan Pemerintah dalam Kegiatan Ekonomi
Di negara-nagara kapitalis, perekonomian berjalan sesuai dengan sistem mekanisme pasar dalam mencapai tingkat keseimbangan ekonomi. Sistem pasar tersebut pada kenyataannya sering mengalami kegagalan dalam mendistribusikan sumber daya yang terbatas kepada semua pelaku ekonomi. Kegagalan ini akan mengakibatkan terjadinya ketidakseimbangan dalam ekonomi, yang dapat dijelaskan melalui indikator ekonomi makro sebagai berikut:

  1. Pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil
  2. Kenaikan harga atau inflasi
  3. Tingkat pengangguran
  4. Neraca Pembayaran

Untuk menjaga perekonomian agar berjalan secara efisien, maka pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan yaitu:

  1. Kebijakan Fiskal, yaitu merupakan langkah-langkah pemerintah membuat perubahan dalam bidang perpajakan dan pengeluaran pemerintah, dengan maksud untuk mempengaruhi pengeluaran agregat dalam perekonomian.
  2. Kebijakan Moneter, yaitu kebijakan pemerintah – yang dilaksanakan oleh Bank Sentral (Bank Indonesia) – untuk mempengaruhi penawaran uang dalam perekonomian melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Tujuannya adalah untuk mempengaruhi pengeluaran agregat dalam perekonomian.
  3. Kebijakan segi Penawaran, yang bertujuan untuk mempertinggi efisiensi kegiatan perusahaan-perusahaan, sehingga dapat menawarkan barang-barangnya dengan harga lebih murah dengan mutu yang baik.
  4. Kebijakan Pendapatan, yang bertujuan untuk mendistribusikan pendapatan, dengan melakukan subsidi terhadap pihak yang mempunyai pendapatan rendah, dengan cara menarik pajak dari pihak yang mampu.

10.2. Kegiatan Ekonomi Nasional
a. Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode,biasanya selama satu tahun.

Sejarah
Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya(Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah Produk Nasional Bruto (Gross National Product, GNP), yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut harga pasar pada suatu negara.

Konsep
Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional

Produk domestik bruto (Gross Domestic Product)
Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan.
Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.

Produk Nasional Bruto (GNP)
Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.

Produk Nasional Neto (NNP)
Produk Nasional Neto (Net National Product) adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan barang modal (sering pula disebut replacement). Replacement penggantian barang modal/penyusutan bagi peralatan produski yang dipakai dalam proses produksi umumnya bersifat taksiran sehingga mungkin saja kurang tepat dan dapat menimbulkan kesalahan meskipun relatif kecil.

Pendapatan Nasional Neto (NNI)
Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll.

Pendapatan Perseorangan (PI)
Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).

Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)
Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.

Penghitungan Pendapatan Negara
Pendapatan negara dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:

  1. Pendekatan pendapatan, dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan.
  2. Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi).
  3. Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor (XM)

Manfaat
Selain bertujuan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan untuk mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode, perhitungan pendapatan nasional juga memiliki manfaat-manfaat lain, diantaranya untuk mengetahui dan menelaah struktur perekonomian nasional.

Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa. Contohnya, berdasarkan pehitungan pendapatan nasional dapat diketahui bahwa Indonesia termasuk negara pertanian atau agraris, Jepang merupakan negara industri, Singapura termasuk negara yang unggul di sektor jasa, dan sebagainya.

Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdaganan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membanding kan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.

Faktor yang memengaruhi
1.    Permintaan dan penawaran agregat

Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat harga tertentu

Konsumsi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pendapatan nasional
Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan output nasional (pendapatan nasional) dan menambah pengangguran.

2. Konsumsi dan tabungan
Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.

3. Investasi
Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat.

Pendapatan perkapita
Pendapatan perkapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan perkapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut. Pendapatan perkapita juga merefleksikan PDB per kapita.
Pendapatan perkapita sering digunakan sebagai tolak ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara; semakin besar pendapatan perkapitanya, semakin makmur negara tersebut.
Beberapa level pendapatan perkapita nasional
Data Total personal income / pendapatan perkapita total sebuah negara jarang sekali ada, PDB / Gross domestic product lebih sering digunakan. Pendapatan perkapita total suatu negara biasanya lebih rendah dari PDB negara tersebut.

10.3. Keseimbangan Pendapatan Nasional

Perekonomian Dua Sektor
Perekonomian dua sektor merupakan penyederhanaan dalam mempelajari sistem perekonomian secara keseluruhan. Keseimbangan dalam perekonomian dua sektor merupakan keseimbangan dari sisi pendapatan dan sisi pengeluaran yang dilakukan oleh sektor rumah tangga dan sektor swasta, dengan mengabaikan sektor pemerintah dan sektor luar negeri.

Perilaku pengeluaran yang dilakukan oleh sektor rumah tangga bisa dilakukan dengan membuat fungsi konsumsi dan fungsi tabungan, untuk melihat bagaimana perubahan pendapatan terhadap tingkat pengeluaran konsumsi dan tabungan. Kecenderungan bagi sektor rumah tangga untuk melakukan konsumsi disebut dengan Marginal Propensity to Consume (MPC). Sedangkan kecenderungan bagi sektor rumah tangga untuk melakukan tabungan disebut dengan Marginal Propensity to Save (MPS).

Perekonomian Tiga Sektor
Pada perekonomian tiga sektor dimasukkan sektor pemerintah dalam analisis keseimbangan pendapatan nasional. Dengan demikian, maka dalam perekonomian tiga sektor terdiri dari sektor rumah tangga, sektor bisnis/swasta, dan sektor pemerintah. Adanya sektor pemerintah akan muncul pengeluaran pemerintah pada sisi pengeluaran dan pajak pada sisi pendapatan. Pajak yang dikenakan oleh pemerintah akan mengurangi tingkat pendapatan yang siap dikonsumsikan. Pendapatan yang siap dikonsumsi dikurangi dengan pajak, disebut dengan pendapatan disposibel.

Jenis pajak yang dikenakan oleh pemerintah dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu:

  • Pajak regresif
  • Pajak progresif
  • Pajak proporsional
  • Pajak tetap (lump sum tax)

10.4. Uang
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran utang.Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.

Keberadaan uang menyediakan alternatif transaksi yang lebih mudah daripada barter yang lebih kompleks, tidak efisien, dan kurang cocok digunakan dalam sistem ekonomi modern karena membutuhkan orang yang memiliki keinginan yang sama untuk melakukan pertukaran dan juga kesulitan dalam penentuan nilai. Efisiensi yang didapatkan dengan menggunakan uang pada akhirnya akan mendorong perdagangan dan pembagian tenaga kerja yang kemudian akan meningkatkan produktifitas dan kemakmuran.

Pada awalnya di Indonesia, uang “dalam hal ini uang kartal” diterbitkan oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun sejak dikeluarkannya UU No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1, hak pemerintah untuk mencetak uang dicabut. Pemerintah kemudian menetapkan Bank Sentral, Bank Indonesia, sebagai satu-satunya lembaga yang berhak menciptakan uang kartal. Hak untuk menciptakan uang itu disebut dengan hak oktroi.

Sejarah
Uang yang kita kenal sekarang ini telah mengalami proses perkembangan yang panjang. Pada mulanya, masyarakat belum mengenal pertukaran karena setiap orang berusaha memenuhi kebutuhannnya dengan usaha sendiri. Manusia berburu jika ia lapar, membuat pakaian sendiri dari bahan-bahan yang sederhana, mencari buah-buahan untuk konsumsi sendiri; singkatnya, apa yang diperolehnya itulah yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhannya. Perkembangan selanjutnya mengahadapkan manusia pada kenyataan bahwa apa yang diproduksi sendiri ternyata tidak cukup untuk memenuhui seluruh kebutuhannya. Untuk memperoleh barang-barang yang tidak dapat dihasilkan sendiri, mereka mencari orang yang mau menukarkan barang yang dimiliki dengan barang lain yang dibutuhkan olehnya. Akibatnya muncullah sistem’barter’yaitu barang yang ditukar dengan barang.

Namun pada akhirnya, banyak kesulitan-kesulitan yang dirasakan dengan sistem ini. Di antaranya adalah kesulitan untuk menemukan orang yang mempunyai barang yang diinginkan dan juga mau menukarkan barang yang dimilikinya serta kesulitan untuk memperoleh barang yang dapat dipertukarkan satu sama lainnya dengan nilai pertukaran yang seimbang atau hampir sama nilainya. Untuk mengatasinya, mulailah timbul pikiran-pikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat pertukaran itu adalah benda-benda yang diterima oleh umum (generally accepted) benda-benda yang dipilih bernilai tinggi (sukar diperoleh atau memiliki nilai magis dan mistik), atau benda-benda yang merupakan kebutuhan primer sehari-hari; misalnya garam yang oleh orang Romawi digunakan sebagai alat tukar maupun sebagai alat pembayaran upah. Pengaruh orang Romawi tersebut masih terlihat sampai sekarang; orang Inggris menyebut upah sebagai salary yang berasal dari bahasa Latin salarium yang berarti garam.

Barang-barang yang dianggap indah dan bernilai, seperti kerang ini, pernah dijadikan sebagai alat tukar sebelum manusiamenemukan uang logam.

Meskipun alat tukar sudah ada, kesulitan dalam pertukaran tetap ada. Kesulitan-kesulitan itu antara lain karena benda-benda yang dijadikan alat tukar belum mempunyai pecahan sehingga penentuan nilai uang, penyimpanan (storage), dan pengangkutan (transportation) menjadi sulit dilakukan serta timbul pula kesulitan akibat kurangnya daya tahan benda-benda tersebut sehingga mudah hancur atau tidak tahan lama.

Kemudian muncul apa yang dinamakan dengan uang logam. Logam dipilih sebagai alat tukar karena memiliki nilai yang tinggi sehingga digemari umum, tahan lama dan tidak mudah rusak, mudah dipecah tanpa mengurangi nilai, dan mudah dipindah-pindahkan. Logam yang dijadikan alat tukar karena memenuhi syarat-syarat tersebut adalah emas dan perak. Uang logam emas dan perak juga disebut sebagai uang penuh (full bodied money). Artinya, nilai intrinsik (nilai bahan) uang sama dengan nilai nominalnya (nilai yang tercantum pada mata uang tersebut).Pada saat itu, setiap orang berhak menempa uang, melebur, menjual atau memakainya, dan mempunyai hak tidak terbatas dalam menyimpan uang logam.

Sejalan dengan perkembangan perekonomian, timbul kesulitan ketika perkembangan tukar-menukar yang harus dilayani dengan uang logam bertambah sementara jumlah logam mulia (emas dan perak) sangat terbatas. Penggunaan uang logam juga sulit dilakukan untuk transaksi dalam jumlah besar sehingga diciptakanlah uang kertas

Mula-mula uang kertas yang beredar merupakan bukti-bukti pemilikan emas dan perak sebagai alat/perantara untuk melakukan transaksi. Dengan kata lain, uang kertas yang beredar pada saat itu merupakan uang yang dijamin 100% dengan emas atau perak yang disimpan di pandai emas atau perak dan sewaktu-waktu dapat ditukarkan penuh dengan jaminannya. Pada perkembangan selanjutnya, masyarakat tidak lagi menggunakan emas (secara langsung) sebagai alat pertukaran. Sebagai gantinya, mereka menjadikan ‘kertas-bukti’ tersebut sebagai alat tukar.

Fungsi

Secara umum, uang memiliki fungsi sebagai perantara untuk pertukaran barang dengan barang, juga untuk menghindarkan perdagangan dengan cara barter. Secara lebih rinci, fungsi uang dibedalan menjadi dua: fungsi asli dan fungsi turunan.

Fungsi asli uang ada tiga, yaitu sebagai alat tukar, sebagai satuan hitung, dan sebagai penyimpan nilai.

Uang berfungsi sebagai alat tukar atau medium of exchange yang dapat mempermudah pertukaran. Orang yang akan melakukan pertukaran tidak perlu menukarkan dengan barang, tetapi cukup menggunakan uang sebagai alat tukar. Kesulitan-kesulitan pertukaran dengan cara barter dapat diatasi dengan pertukaran uang.

Uang juga berfungsi sebagai satuan hitung (unit of account) karena uang dapat digunakan untuk menunjukan nilai berbagai macam barang/jasa yang diperjualbelikan, menunjukkan besarnya kekayaan, dan menghitung besar kecilnya pinjaman. Uang juga dipakai untuk menentukan harga barang/jasa (alat penunjuk harga). Sebagai alat satuan hitung, uang berperan untuk memperlancar pertukaran.

Selain itu, uang berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (valuta) karena dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Ketika seorang penjual saat ini menerima sejumlah uang sebagai pembayaran atas barang dan jasa yang dijualnya, maka ia dapat menyimpan uang tersebut untuk digunakan membeli barang dan jasa di masa mendatang.

Selain ketiga hal di atas, uang juga memiliki fungsi lain yang disebut sebagai fungsi turunan. Fungsi turunan itu antara lain uang sebagai alat pembayaran, sebagai alat pembayaran utang, sebagai alat penimbun atau pemindah kekayaan (modal), dan alat untuk meningkatkan status sosial.

Syarat-syarat
Suatu benda dapat dijadikan sebagai “uang” jika benda tersebut telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Pertama, benda itu harus diterima secara umum (acceptability). Agar dapat diakui sebagai alat tukar umum suatu benda harus memiliki nilai tinggi atau —setidaknya— dijamin keberadaannya oleh pemerintah yang berkuasa. Bahan yang dijadikan uang juga harus tahan lama (durability), kualitasnya cenderung sama (uniformity), jumlahnya dapat memenuhi kebutuhan masyarakat serta tidak mudah dipalsukan (scarcity).
Uang juga harus mudah dibawa, portable, dan mudah dibagi tanpa mengurangi nilai (divisibility), serta memiliki nilai yang cenderung stabil dari waktu ke waktu (stability of value).

Jenis
Uang rupiah yang beredar dalam masyarakat dapat dibedakan dalam dua jenis, yaitu uang kartal (sering pula disebut sebagai common money) dan uang giral. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib digunakan oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual-beli sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan uang giral adalah uang yang dimiliki masyarakat dalam bentuk simpanan (deposito) yang dapat ditarik sesuai kebutuhan. Uang ini hanya beredar di kalangan tertentu saja, sehingga masyarakat mempunyai hak untuk menolak jika ia tidak mau barang atau jasa yang diberikannya dibayar dengan uang ini. Untuk menarik uang giral, orang menggunakan cek

Menurut bahan pembuatannya
Uang menurut bahan pembuatannya terbagi menjadi dua, yaitu uang logam dan uang kertas. Uang logam adalah uang yang terbuat dari logam; biasanya dari emas atau perak karena kedua logam itu memiliki nilai yang cenderung tinggi dan stabil, bentuknya mudah dikenali, sifatnya yang tidak mudah hancur, tahan lama, dan dapat dibagi menjadi satuan yang lebih kecil tanpa mengurangi nilai.

Uang logam memiliki tiga macam nilai:

  1. Nilai intrinsik, yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilai emas dan perak yang digunakan untuk mata uang.
  2. Nilai nominal, yaitu nilai yang tercantum pada mata uang atau cap harga yang tertera pada mata uang. Misalnya seratus rupiah (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah (Rp. 500,00).
  3. Nilai tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengan suatu barang (daya beli uang). Misalnya uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat ditukarkan dengan semangkuk bakso).

Ketika pertama kali digunakan, uang emas dan uang perak dinilai berdasarkan nilai intrinsiknya, yaitu kadar dan berat logam yang terkandung di dalamnya; semakin besar kandungan emas atau perak di dalamnya, semakin tinggi nilainya. Tapi saat ini, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal adalah nilai yang tercantum atau tertulis di mata uang tersebut.

Sementara itu, yang dimaksud dengan “uang kertas” adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas)

Menurut nilainya
Menurut nilainya, uang dibedakan menjadi uang penuh (full bodied money) dan uang tanda (token money). Nilai uang dikatakan sebagai uang penuh apabila nilai yang tertera di atas uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Dengan kata lain, nilai nominal yang tercantum sama dengan nilai intrinsik yang terkandung dalam uang tersebut. Jika uang itu terbuat dari emas, maka nilai uang itu sama dengan nilai emas yang dikandungnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan uang tanda adalah apabila nilai yang tertera diatas uang lebih tinggi dari nilai bahan yang digunakan untuk membuat uang atau dengan kata lain nilai nominal lebih besar dari nilai intrinsik uang tersebut. Misalnya, untuk membuat uang Rp1.000,00 pemerintah mengeluarkan biaya Rp750,00.

Teori nilai uang
Teori nilai uang membahas masalah-masalah keuangan yang berkaitan dengan nilai uang. Nilai uang menjadi perhatian para ekonom, karena tinggi atau rendahnya nilai uang sangat berpengaruh terhadap kegiatan ekonomi. Hal ini terbukti dengan banyaknya teori uang yang disampaikan oleh beberapa ahli.
Teori uang terdiri atas dua teori, yaitu teori uang statis dan teori uang dinamis

1.  Teori uang statis
Teori Uang Statis atau disebut juga “teori kualitatif statis” bertujuan untuk menjawab pertanyaan: apakah sebenarnya uang? Dan mengapa uang itu ada harganya? Mengapa uang itu sampai beredar? Teori ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai yang diakibatkan oleh perkembangan ekonomi.

Yang termasuk teori uang statis adalah:
a. Teori Metalisme (Intrinsik) oleh KMAPP
Uang bersifat seperti barang, nilainya tidak dibuat-buat, melainkan sama dengan nilai logam yang dijadikan uang itu, contoh: uang emas dan uang perak.
b. Teori Konvensi (Perjanjian) oleh Devanzati dan MontanariTeori ini menyatakan bahwa uang dibentuk atas dasar pemufakatan masyarakat untuk mempermudah pertukaran.
c. Teori Nominalisme
Uang diterima berdasarkan nilai daya belinya.
d. Teori Negara
Asal mula uang karena negara, apabila negara menetapkan apa yang menjadi alat tukar dan alat bayar maka timbullah uang. Jadi uang bernilai karena adanya kepastian dari negara berupa undang-undang pembayaran yang disahkan

2. Teori uang dinamis
Teori ini mempersoalkan sebab terjadinya perubahan dalam nilai uang. Teori dinamis antara lain:
a. Teori Kuantitas dari David RicardoTeori ini menyatakan bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah uang yang beredar. Apabila jumlah uang berubah menjadi dua kali lipat, maka nilai uang akan menurun menjadi setengah dari semula, dan juga sebaliknya.
b. Teori Kuantitas dari Irving FisherTeori yang telah dikemukakan David Ricardo disempurnakan lagi oleh Irving Fisher dengan memasukan unsur kecepatan peredaran uang, barang dan jasa sebagai faktor yang mempengaruhi nilai uang.
c. Teori Persediaan Kas
Teori ini dilihat dari jumlah uang yang tidak dibelikan barang-barang.
d. Teori Ongkos Produksi
Teori ini menyatakan nilai uang dalam peredaran yang berasal dari logam dan uang itu dapat dipandang sebagai barang.

Uang dalam ekonomi
Uang adalah salah satu topik utama dalam pembelajaran ekonomi dan finansial. Monetarisme adalah sebuah teori ekonomi yang kebanyakan membahas tentang permintaan dan penawaran uang. Sebelum tahun 80-an, masalah stabilitas permintaan uang menjadi bahasan utama karya-karya Milton Friedman, Anna Schwartz, David Laidler, dan lainnya.
Kebijakan moneter bertujuan untuk mengatur persediaan uang, inflasi, dan bunga yang kemudian akan mempengaruhi output dan ketenagakerjaan. Inflasi adalah turunnya nilai sebuah mata uang dalam jangka waktu tertentu dan dapat menyebabkan bertambahnya persediaan uang secara berlebihan. Interest rate, biaya yang timbul ketika meminjam uang, adalah salah satu alat penting untuk mengontrol inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Bank sentral seringkali diberi tanggung jawab untuk mengawasi dan mengontrol persediaan uang, interest rate, dan perbankan.
Krisis moneter dapat menyebabkan efek yang besar terhadap perekonomian, terutama jika krisis tersebut menyebabkan kegagalan moneter dan turunnya nilai mata uang secara berlebihan yang menyebabkan orang lebih memilih barter sebagai cara bertransaksi. Ini pernah terjadi di Rusia, sebagai contoh, pada masa keruntuhan Uni Soviet.

Jenis uang yang beredar dimasyarakat dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu uang kartal dan uang giral.

Uang Kartal
Uang kartal terdiri dari uang kertas dan uang logam. Uang kartal adalah alat bayar yang sah dan wajib diterima oleh masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli sehari-hari.
Menurut Undang-undang Bank Sentral No. 13 tahun 1968 pasal 26 ayat 1, Bank Indonesia mempunyai hak tunggal untuk mengeluarkan uang logam dan kertas. Hak tunggal untuk mengeluarkan uang yang dimiliki Bank Indonesia tersebut disebut hak oktroi.

Jenis Uang Kartal Menurut Lembaga Yang Mengeluarkannya
Menurut Undang-Undang Pokok Bank Indonesia No. 11/1953, terdapat dua jenis uang kartal, yaitu uang negara dan uang bank.

Uang negara adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah, terbuat dari kertas yang memiliki ciri-ciri :

  • Dikeluarkan oleh pemerintah
  • Dijamin oleh undang undang
  • Bertuliskan nama negara yang mengeluarkannya
  • Ditanda tangani oleh mentri keuangan

Namun, sejak berlakunya Undang-undang No. 13/1968, uang negara dihentikan peredarannya dan diganti dengan Uang Bank. Uang Bank adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang logam dan uang kertas, Ciri-cirinya sebagai berikut.

  • Dikeluarkan oleh Bank Sentral
  • Dijamin dengan emas atau valuta asing yang disimpan di bank sentral
  • Bertuliskan nama bank sentral negara yang bersangkutan (di Indonesia : Bank Indonesia)
  • Ditandatangani oleh gubernur bank sentral.

Jenis Uang Kartal Menurut Bahan Pembuatnya
1.  Uang logam
Uang logam biasanya terbuat dari emas atau perak karena emas dan perak memenuhi syarat-syarat uang yang efesien. Karena harga emas dan perak yang cenderung tinggi dan stabil, emas dan perak mudah dikenali dan diterima orang. Di samping itu, emas dan perak tidak mudah musnah. Emas dan perak juga mudah dibagi-bagi menjadi unit yang lebih kecil. Di zaman sekarang, uang logam tidak dinilai dari berat emasnya, namun dari nilai nominalnya. Nilai nominal itu merupakan pernyataan bahwa sejumlah emas dengan berat tertentu terkandung di dalamnya.

Uang logam memiliki tiga macam nilai.
Nilai Intrinsik yaitu nilai bahan untuk membuat mata uang, misalnya berapa nilai emas dan perak yang digunakan untuk mata uang. Menurut sejarah, uang emas dan perak pernah dipakai sebagai uang. Ada beberapa alasan mengapa emas dan perak dijadikan sebagai bahan uang antara lain : Tahan lama dan tidak mudah rusak (Rp. 100,00), atau lima ratus rupiah (Rp. 500,00).

Nilai Tukar, nilai tukar adalah kemampuan uang untuk dapat ditukarkan dengan suatu barang (daya beli uang). Misalnya untuk uang Rp. 500,00 hanya dapat ditukarkan dengan sebuah permen, sedangkan Rp. 10.000,00 dapat ditukarkan dengan semangkuk bakso).

2. Uang Kertas
Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).
Uang kertas mempunyai nilai karena nominalnya. Oleh karena itu, uang kertas hanya memiliki dua macam nilai, yaitu nilai nominal dan nilai tukar. Ada 2(dua) macam uang kertas :

  • Uang Kertas Negara (sudah tidak diedarkan lagi), yaitu uang kertas yang dikeluarkan oleh pemerintah dan alat pembayaran yang sah dengan jumlah yang terbatas dan ditandatangani mentri keuangan.
  • Uang Kertas Bank, yaitu uang yang dikeluarkan oleh bank sentral,

Beberapa keuntungan penggunaan alat tukar (uang) dari kertas di antaranya :

  • Penghematan terhadap pemakaian logam mulia
  • Ongkos pembuatan relatif murah dibandingkan dengan ongkos pembuatan uang logam.
  • Peredaran uang kertas bersifat elastis (karena mudah dicetak dan diperbanyak) sehingga mudah diseusaikan dengan kebutuhan akan uang
  • Mempermudah pengiriman dalam jumlah besar

Uang Giral
Uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan adanya sebuah alat tukar yang lebih mudah, praktis dan aman. Di Indonesia, bank yang berhak menciptakan uang giral adalah bank umum selain Bank Indonesia. Menurut UU No. 7 tentang Perbankan tahun 1992, definisi uang giral adalah tagihan yang ada di bank umum, yang dapat digunakan sewaktu-waktu sebagai alat pembayaran. Bentuk uang giral dapat berupa cek, giro, atau telegrafic transfer.
Uang giral bukan merupakan alat pembayaran yang sah. Artinya, masyarakat boleh menolak dibayar dengan uang giral.

Terjadinya uang giral
Uang giral dapat terjadi dengan cara berikut.

  • Penyetoran uang tunai kepada bank dan dicatat dalam rekening koran atas nama penyetor, penyetor menerima buku cek dan buku biro gilyet. Uang tersebut sewaktu-waktu dapat diambil atau penyetor menerima pembayaran utang dari debitur melalui bank. Penerimaan piutang itu oleh bank dibukukan dalam rekening koran orang yang bersangkutan. Cara di atas disebut primary deposit.
  • Karena transaksi surat berharga. Uang giral dapat diciptakan dengan cara menjual surat berharga ke bank, lalu bank membukukan hasil penjualan surat berharga tersebut sebagai deposit dari yang menjual. Cara ini disebut derivative deposit
  • Mendapat kredit dari bank yang dicatat dalam rekening koran dan dapat diambil sewaktu-waktu. Cara ini disebut dengan loan deposit.

Keuntungan menggunakan uang giral
Keuntungan menggunakan uang giral sebagai berikut.

  • Memudahkan pembayaran karena tidak perlu menghitung uang
  • Alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas, nilainya sesuai dengan yang dibutuhkan (yang ditulis oleh pemilik cek/bilyet giro)
  • Lebih aman karena risiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang bisa segera dilapokan ke bank yang mengeluarkan cek/bilyet giro dengan cara pemblokiran

Uang Kuasi
Uang kuasi adalah surat-surat berharga yang dapat dijadikan sebagai alat pembayaran. Biasanya uang kuasi ini terdiri atas deposito berjangka dan tabungan serta rekening valuta asing milik swasta domestik

Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang.[1] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Penyebab Inflasi
Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.

Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.

Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.

Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.

Penggolongan Inflasi
Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.

Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).

Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :

  • Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
  • Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
  • Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
  • Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

Mengukur inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:

  • Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
  • Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
  • Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
  • Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
  • Indeks harga barang-barang modal
  • Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa

Dampak Inflasi
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.
Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.
Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.

Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Peran bank sentral
Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen — salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian — akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.
Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

Deflasi
Dalam ekonomi, deflasi adalah suatu periode dimana harga-harga secara umum jatuh dan nilai uang bertambah.[1] Deflasi adalah kebalikan dari inflasi. Bila inflasi terjadi akibat banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka deflasi terjadi karena kurangnya jumlah uang yang beredar. Salah satu cara menanggulangi deflasi adalah dengan menaikkan tingkat suku bunga

10.5. Ekonomi Internasional
Perekonomian Empat Sektor
Perkembangan perekonomian suatu negara tidak akan lepas dari perkembangan ekonomi internasional. Suatu negara akan selalu tergantung pada perekonomian asing, karena tidak semua barang dan jasa yang dibutuhkan oleh suatu negara dapat disediakan sendiri oleh perekonomian domestik. Suatu negara akan melakukan perdagangan dengan negara lainnya berdasarkan keunggulan absolut (Absolute Advantage) atau keunggulan komparatifnya Comparative Advantage).
Menurut Sadono Sukirno, peranan perdagangan luar negeri dalam meningkatkan perekonomian adalah sebagai berikut:

  • Mempertinggi efisiensi penggunaan faktor produksi.
  • Memperluas pasar produksi dalam negeri.
  • Mempertinggi produktivitas kegiatan ekonomi.

Keuangan Internasional
Interaksi ekonomi antara perekonomian domestik dan luar negeri tidak hanya terjadi dalam bentuk transaksi perdagangan barang dan jasa saja, melainkan juga dalam bentuk masuknya modal/dana dari sektor luar negeri atau keluarnya modal/dana ke luar negeri.
Catatan yang menunjukkan nilai berbagai jenis transaksi yang terjadi antara suatu negara dengan negara lainnya disebut dengan neraca pembayaran (Balance of Payment). Neraca pembayaran terdiri dari transaksi berjalan (Current Account) dan Neraca Modal (Capital Account).
Perekonomian internasional melibatkan berbagai negara dengan berbagai jenis mata uang. Nilai dari berbagai mata uang relatif berbeda bila kita bandingkan daya belinya dari tiap mata uang terhadap suatu barang. Perbedaan daya beli tiap mata uang ini akan memberikan suatu nilai tukar atau kurs dari tiap mata uang dunia. Sistem nilai tukar yang dianut oleh berbagai negara terdiri dari dua jenis, yaitu:

  1. Sistem Nilai Tukar Tetap (Fixed Rate)
  2. Sistem Nilai Tukar Mengambang (Floating Rate)

BAB XI. PENUTUP

Sebagai penutup diktat kuliah ini, perlu ditegaskan bahwa :

  1. Mata kuliah Ilmu Ekonomi Umum (IEU) merupakan mata kuliah pengantar yang hanya menyajikan pengetahuan dasar tentang Ekonomi.
  2. Dalam belajar IEU, setiap bab selalu berhubungan satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Pembagian dalam bab-bab diperlukan untuk mempertajam dan membedakan tujuan dan kegunaan ilmu ekonomi.
  3. Kesempatan bertanya dan berdiskusi kepada pengampu pada setiap acara perlu dimanfaatkan mahasiswa dengan sebesar-besarnya sehingga diperoleh manfaat pendalaman dan pengembangan pengetahuan Pengantar Ilmu Ekonomi.
  4. Pendalaman materi IEU akan dijelaskan pada Mata Kuliah Keahlian Peternakan seperti Ilmu Ekonomi Perusahaan Peternakan serta Perencanaan dan Evaluasi Usaha Peternakan.

Akhir kata, semoga Diktat Ilmu Ekonomi Umum ini bisa menjadi pegangan dan bahan kajian bagi mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri dan para peminat dan pemerhati bidang  ekonomi peternakan

DAFTAR PUSTAKA

  1. Soeharto Prawiro Kusumo, 1990. Ilmu Usaha Tani. BPFE Yogyakarta
  2. R. Anwas Adilaga, 1992. Ilmu Usaha Tani. Unpad Bandung
  3. Soekartawi, 1986. Ilmu Usaha Tani untuk Penelitian Peternak Kecil. K.Press. Jakarta.
  4. Bahan-bahan lain dari internet

GOOD LUCK

 





Diktat Ilmu Ekonomi Umum-3

21 07 2012

BAB VII. PERILAKU KONSUMEN

7.1. Pengertian dan Asumsi-Asumsi

  • Barang (Commodities), yaitu  benda dan jasa yang dikomsumsi untuk memperoleh manfaat atau kegunaan.
  • Utilitas (Utility), yaitu manfaat yang diperoleh karena mengkonsumsi barang. Atau ukuran manfaat suatu barang dibanding dengan alternatif penggunannya, sebagai dasar pengambilan keputusan oleh konsumen.
  • Hukum Pertambahan Manfaat yang Makin Menurun (The Law of   Diminishing  Marginal Utility) , yaitu penambahan konsumsi suatu barang akan memberi tambahan utilitas yang besar, tetapi makin lama pertambahan itu bukan saja makin menurun, bahkan menjadi negatif.
  • Konsistensi Preferensi (Transtivity), yaitu konsep preferensi yang berkaitan dengan kemampuan konsumen dalam menyusun prioritas pilihan agar dapat mengambil keputusan. Minimal ada dua sikap yang berkaitan dengan preferensi konsumen yaitu : (1) Lebih suka (prefer), (2) sama-sama disukai (Indefference).
  • Pengetahuan Sempurna (Perfect Knowladge), yaitu konsumen diasumsikan memiliki informasi atau pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya.

7.2.    Model Perilaku Konsumen
Model perilaku konsumen menggambarkan bagaimana, proses pengambilan konsumen dalam membeli suatu barang atau jasa, termasuk didalamnya faktor apa saja yang dapat mempengaruhinya. Komponen inti dari model ini adalah proses pengambilan keputusan (Consumer decision making), yaitu proses mempersepsikan dan mengevaluasi informasi merek, mempertimbangkan alternatif merek dan mengambil keputusan pada suatu merek tertentu.

Menurut Assael (2000) pengambilan keputusan pembelian oleh konsumen dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu:
(a) Pribadi konsumen (The individual customer)
Dipengaruhi oleh kebutuhan konsurnen, persepsi, karakteristik merek, dan sikap konsumen terhadap alternatif merek yang digambarkan melalui faktor demografi seperti usia, pendapatan, jabatan, dan juga melalui faktor psikografi antara lain gaya hidup, kepribadian, sikap dan keyakinan.
(b) Faktor Lingkungan (Environmental influences)
Dipengaruhi oleh suatu kebudayaan yaitu berupa norma sosial (seperti norma dan nilai‑nilai sosial), face‑to‑face groups (seperti teman. anggota keluarga. dan kelompok referensi)
(c) Marketing strategi
Faktor strategi pemasaran merupakan variabel‑variabel pemasaran yang terkendali yang diramu perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang diinginkannya dalam pasar sasaran. Variabel tersebut meliputi produk, harga, distribusi, dan promosi yang digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Variabel‑variabel tersebut umumnya disebut dengan marketing mix yang dikembangkan setelah pemasar melakukan segmentasi pasar, menetapkan pasar sasaran dan memposisikan produk.

Menurut Handoko (2002) model adalah sebuah penyederhanaan gambaran dari kenyataan. Penyederhanaan ini melalui pengaturan aspek-aspek dari kenyataan dan hanya terdiri dari aspek-aspek dimana pembuat model tertarik. Tujuan utama dari model perilaku konsumen adalah, pertama untuk membantu mengembangkan teori yang mengarahkan penelitian perilaku konsumen, kedua sebagai dasar mempelajari pengetahuan yang terus menerus berkembang mengenai perilaku konsumen, sehingga   dalam mempelajari keputusan konsumen haruslah dilihat dari beberapa aspek yang mempengaruhi, baik tentang sesuatu yang digagas, karakteristik, lingkungan maupun rangsangan marketing yang ditawarkan. Konsumen dalam membuat suatu keputusan dan pengevaluasian pasca pembelian yang menggambarkan umpan balik konsumen, dimana selama melakukan evaluasi konsumen akan belajar dari pengalaman dan mungkin akan mengubah pola dalam memperoleh informasi pengevalusian merek, dan memilih merek.

Pengalaman mengkonsumsi produk akan mempengaruhi secara langsung apakah konsumen akan membeli merek yang sama. Sedangkan umpan balik bagi pemasar adalah dalam bentuk data penjualan dan pangsa pasar. Namun, informasi ini tidak memberitahukan alasan konsumen membeli dan menyediakan informasi atas kekuatan dan kelemahan merek pemasar dalam situasi persaingan. Oleh karena itu, riset pemasaran juga dibutuhkan untuk menentukan reaksi konsumen terhadap suatu merek dan melakukan pembelian ulang. Dan informasi manajemen digunakan untuk merumuskan strategi pemasaran agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan

7.3. Teori Perilaku Konsumen-Pendekatan Teori Nilai Guna (Utility)

Tingkah laku konsumen (Consumer Behavior) dapat dianalisis dengan melakukan kuantifikasi kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi barang. Metode ini disebut dengan pendekatan Kardinal, dimana keseimbangan konsumen dalam memaksimumkan kepuasan atas konsumsi berbagai macam barang, dilihat dari seberapa besar uang yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya.

Konsep nilai guna (utility) bisa menjelaskan kelemahan berupa paradok antara kegunaan suatu barang dengan harganya. Seperti telah dicontohkan tentang durian, dimana sampai titik tertentu Anda tidak mau lagi memakannya, bahkan jika buah durian itu diberikan secara gratis. Hal ini menunjukkan bahwa tambahan kepuasan yang diberikan dari tiap tambahan unit barang yang dikonsumsi semakin berkurang. Inilah yang disebut Law of Diminishing Marginal Utility.

Menurut Sadono Sukirno, syarat yang harus dipenuhi agar konsumen dapat mencapai kepuasan maksimum atas barang yang dikonsumsinya adalah setiap Rupiah yang dikeluarkan untuk membeli unit tambahan dari berbagai jenis barang akan memberikan nilai guna marginal yang sama besarnya.

Dalam menjelaskan bagaimana kurva permintaan mempunyai hubungan yang terbalik dengan harganya, atau terjadinya pergerakan sepanjang kurva permintaan akibat dari perubahan harga, serta mengapa terjadi pergeseran kurva permintaan akibat dari berubahnya faktor selain harga, dapat digunakan pendekatan nilai guna (utility). Efek pendapatan terjadi dari berubahnya harga suatu barang (naik atau turun). Jika harga barang X naik, maka tambahan kepuasan dari mengkonsumsi satu unit barang tersebut menjadi turun per harga barangnya. Hal ini menyebabkan turunnya permintaan akan barang X. Sebaliknya jika harga barang Y turun, maka tambahan kepuasan dari mengkonsumsi satu unit barang tersebut menjadi naik per harganya, sehingga permintaan akan barang Y naik.

Beberapa alasan yang menyebabkan suatu barang harganya menjadi mahal adalah kelangkaan dan biaya produksi. Air jauh lebih mudah didapat dari barang lain, intan misalnya. Sehingga wajar jika intan lebih mahal daripada air karena intan jauh lebih langka. Demikian juga dengan biaya produksi untuk mendapatkan air jauh lebih murah daripada biaya produksi intan.

Surplus konsumen terjadi jika harga yang dibayarkan oleh konsumen terhadap suatu barang lebih tinggi dari harga pasarnya. Surplus konsumen akan terus naik jika konsumen terus membeli produk sampai unit tertentu dan menghentikannya, karena jika diteruskan konsumen tidak akan mendapatkan surplus lagi.

7.4. Teori Perilaku Konsumen-Pendekatan Kurva Kepuasan Sama

Indifferen Curve (IC) menggambarkan kombinasi barang-barang yang akan memberikan kepuasan yang sama besarnya. Asumsi yang digunakan untuk melakukan analisis dengan menggunakan IC adalah:

  1. Seluruh pendapatan dikonsumsikan hanya terhadap dua jenis barang;
  2. Selera konsumen tidak berubah;
  3. Terdapat kebebasan untuk memilih di antara kedua barang tersebut;

IC memiliki tiga sifat dasar, yaitu:

  1. Mempunyai kemiringan yang negatif atau turun dari kiri atas ke kanan bawah;
  2. IC cembung terhadap titik origin (0,0); dan
  3. IC tidak saling berpotongan.

Seorang konsumen akan mencoba untuk mencapai IC tertinggi yang mencerminkan tingkat kepuasan tertinggi pula. Tetapi seorang individu mempunyai keterbatasan dalam sumber dana untuk mencapainya, sehingga kurva IC yang dapat dicapainya pun terbatas. Keterbatasan ini terjadi karena tiap barang dan jasa mempunyai harga dan untuk dapat membayarnya diperlukan pendapatan. Garis kendala anggaran (Budget Line/BL) mencerminkan kendala pendapatan dan harga yang dihadapi oleh seorang konsumen pada tingkat pendapatan dan harga tertentu dari masing-masing barang.

Kurva kepuasan sama (IC) dan garis kendala anggaran (BL) merupakan alat untuk dapat memperlihatkan pemaksimuman kepuasan yang dilakukan oleh konsumen. Jika BL menyinggung IC tertinggi, maka seorang konsumen akan mencapai kepuasan yang maksimum. Keseimbangan konsumen akan berubah jika variabel pendapatan atau harga berubah, dengan asumsi selera konsumen bersifat konstan. Jika terjadi perubahan pendapatan (naik atau turun) dengan asumsi harga barang tetap, maka IC akan bergeser. Tetapi jika harga salah satu barang berubah (naik atau turun) dengan asumsi tingkat pendapatan tetap, maka IC akan berputar. Kedua kejadian tersebut akan menyebabkan bergesernya keseimbangan konsumen dalam mencapai kepuasan maksimum. Terjadinya perubahan harga salah satu barang sementara harga barang lainnya tetap, akan menyebabkan terjadinya perputaran garis kendala anggaran (BL), sehingga keseimbangan konsumen akan berubah. Terjadinya perubahan keseimbangan ini akan memberikan kombinasi dari kedua jenis barang yang berbeda. Perbedaan yang terjadi ini terdiri dari efek substitusi dan efek pendapatan akibat dari perubahan harga.

BAB VIII. PERMINTAAN DAN PENAWARAN

Dalam mempelajari pasar, di mana di dalam pasar terdapat penjual dan pembeli. Penjual dan pembeli yang berinteraksi akan melakukan proses tawar-menawar. Proses tawar-menawar ini menunjukkan adanya permintaan dan penawaran barang. Penjual akan menawarkan barang dagangannya dengan harga yang telah ditentukan dan pembeli akan meminta barang diinginkan dengan harga rendah. Proses tawar-menawar ini akan berlangsung hingga tercapai kesepakatan harga. Pada bab ini, kita akan mempelajari permintaan, penawaran, dan pembentukan harga barang di dalam pasar. Pokok-pokok bahasan tersebut dapat kalian pelajari dalam pembahasan berikut ini.

8.1. Permintaan Barang dan Jasa
a. Pengertian Permintaan
Coba kalian perhatikan contoh pengalaman Desi berikut ini. Desi ingin membuka usaha toko kelontong, untuk itu dia membeli buah Telur di pasar, tetapi sebelumnya dia membuat catatan belanja berikut ini.

Berdasarkan daftar belanjaan Desi di atas menunjukkan bahwa pada saat harga telur sebesar Rp4.500,00, Desi akan membeli telur sebanyak 140 kg. Ketika harga Rp6.000,00, maka Desi hanya akan membeli telur sebanyak 20 kg. Kesediaan Desi untuk membeli telur dalam berbagai jumlah pada tingkat harga tertentu merupakan contoh permintaan. Pada saat Desi menyusun daftar permintaan telur, apakah hanya mempertimbangkan harga saja? Tentunya tidak, bukan? Desi juga harus mempertimbangkan uang yang dimilikinya. Jika uang yang tersedia dapat digunakan untuk memenuhi keinginan Desi untuk membeli telur maka permintaan telur dapat terjadi. Lalu apakah yang dimaksud permintaan? Apabila dalam merumuskan pengertian permintaan hanya memerhatikan faktor harga barang dan jumlah barang yang diminta, serta menganggap faktor-faktor selain harga tidak berubah, maka permintaan adalah keseluruhan jumlah barang atau jasa yang bersedia diminta pada berbagai tingkat harga, waktu, dan tempat tertentu.

b. Faktor-faktor yang Memengaruhi Permintaan
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa selain faktor harga masih ada faktor-faktor lain yang memengaruhi permintaan. Namun, faktor-faktor selain harga pengaruhnya tidak sekuat faktor harga. Berikut ini faktor-faktor yang memengaruhi permintaan.

Harga Barang itu Sendiri
Harga barang akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika harga naik jumlah permintaan barang tersebut akan meningkat, sedangkan jika harga turun maka jumlah permintaan barang akan menurun.

Harga Barang Subtitusi (Pengganti)
Harga barang dan jasa pengganti (substitusi) ikut memengaruhi jumlah barang dan jasa yang diminta. Apabila harga dari barang substitusi lebih murah maka orang akan beralih pada barang substitusi tersebut. Akan tetapi jika harga barang substitusi naik maka orang akan tetap menggunakan barang yang semula. Contohnya kaos adalah pengganti kemeja. Jika di pasar harga kaos lebih murah dibandingkan kemeja, maka permintaan akan kaos lebih banyak bila dibandingkan permintaan terhadap kemeja.

Harga Barang Komplementer (Pelengkap)
Barang pelengkap juga dapat memengaruhi permintaan barang/jasa. Misalnya sepeda motor, barang komplementernya bensin. Apabila harga bensin naik, maka kecenderungan orang untuk membeli sepeda motor akan turun, begitu juga sebaliknya.

Pendapatan
Besar kecilnya pendapatan yang diperoleh seseorang turut menentukan besarnya permintaan akan barang dan jasa. Apabila pendapatan yang diperoleh tinggi maka permintaan akan barang dan jasa juga semakin tinggi. Sebaliknya jika pendapatannya turun, maka kemampuan untuk membeli barang juga akan turun. Akibatnya jumlah barang akan semakin turun. Misalnya pendapatan Ibu Tia dari hasil dagang minggu pertama Rp200.000,00 hanya dapat untuk membeli kopi 20 kg. Tetapi ketika hasil dagang minggu kedua Rp400.000,00, Ibu Tia dapat membeli kopi sebanyak 40 kg.

Selera Konsumen
Selera konsumen terhadap barang dan jasa dapat memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika selera konsumen terhadap barang tertentu meningkat maka permintaan terhadap barang tersebut akan meningkat pula. Misalnya, sekarang ini banyak orang yang mencari hand phone yang dilengkapi fasilitas musik dan game, karena selera konsumen akan barang tersebut tinggi maka permintaan akan hand phone yang dilengkapi musik dan game akan meningkat.

Intensitas Kebutuhan Konsumen
Intensitas kebutuhan konsumen berpengaruh terhadap jumlah barang yang diminta. Kebutuhan terhadap suatu barang atau jasa yang tidak mendesak, akan menyebabkan permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut rendah. Sebaliknya jika kebutuhan terhadap barang atau jasa sangat mendesak maka permintaan masyarakat terhadap barang atau jasa tersebut menjadi meningkat, misalnya dengan meningkatnya curah hujan maka intensitas kebutuhan akan jas hujan semakin meningkat. Konsumen akan bersedia membeli jas hujan hingga Rp25.000,00 walaupun kenyataannya harga jas hujan Rp15.000,00.

Perkiraan Harga di Masa Depan
Apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan naik maka konsumen cenderung menambah jumlah barang yang dibeli karena ada kekhawatiran harga akan semakin mahal. Sebaliknya apabila konsumen memperkirakan bahwa harga akan turun, maka konsumen cenderung mengurangi jumlah barang yang dibeli. Misalnya ada dugaan kenaikan harga bahan bakar minyak mengakibatkan banyak konsumen antri di SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum) untuk mendapatkan bensin atau solar yang lebih banyak.

Jumlah Penduduk
Pertambahan penduduk akan memengaruhi jumlah barang yang diminta. Jika jumlah penduduk dalam suatu wilayah bertambah banyak, maka barang yang diminta akan meningkat.

c. Macam-Macam Permintaan
Permintaan dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, antara lain permintaan berdasarkan daya beli dan jumlah subjek pendukung.

Permintaan Menurut Daya Beli
Berdasarkan daya belinya, permintaan dibagi menjadi tiga macam, yaitu permintaan efektif, permintaan potensial, dan permintaan absolut.

  1. Permintaan efektif adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang atau jasa yang disertai dengan daya beli atau kemampuan membayar. Pada permintaan jenis ini, seorang konsumen memang membutuhkan barang itu dan ia mampu membayarnya.
  2. Permintaan potensial adalah permintaan masyarakat terhadap suatu barang dan jasa yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk membeli, tetapi belum melaksanakan pembelian barang atau jasa tersebut. Contohnya Pak Luki sebenarnya mempunyai uang yang cukup untuk membeli kulkas, namun ia belum mempunyai keinginan untuk membeli kulkas.
  3. Permintaan absolut adalah permintaan konsumen terhadap suatu barang atau jasa yang tidak disertai dengan daya beli. Pada permintaan absolut konsumen tidak mempunyai kemampuan (uang) untuk membeli barang yang diinginkan. Contohnya Hendra ingin membeli sepatu olahraga. Akan tetapi uang yang dimiliki Hendra tidak cukup untuk membeli sepatu olahraga. Oleh karena itu keinginan Hendra untuk membeli sepatu olahraga tidak bisa terpenuhi.

Permintaan Menurut Jumlah Subjek Pendukungnya
Berdasarkan jumlah subjek pendukungnya, permintaan terdiri atas permintaan individu dan permintaan kolektif.

1. Permintaan individu
Permintaan individu adalah permintaan yang dilakukan oleh seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh bentuk permintaan individu seperti pada Tabel 17.1 mengenai daftar permintaan telur Desi.
2. Permintaan kolektif
Permintaan kolektif atau permintaan pasar adalah kumpulan dari permintaan-permintaan perorangan/individu atau permintaan secara keseluruhan para konsumen di pasar. Contohnya, selain Desi, di pasar juga ada beberapa pembeli lainnya yang akan membeli telur. Jika permintaan Desi dan teman-temannya tersebut digabungkan maka terbentuk permintaan pasar. Bentuk permintaan kolektif dapat kalian lihat pada Tabel dibawah ini.

d. Hukum Permintaan
Coba kalian perhatikan lagi pada Tabel diatas mengenai daftar permintaan telur Desi. Apa yang dapat kalian simpulkan dari tabel tersebut? Ketika harga telur Rp4.500,00/kg permintaan Desi sebesar 140 kg. Namun ketika harga telur Rp6.000,00/kg, permintaan turun menjadi 20 kg. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi harga suatu barang, permintaan akan turun. Kondisi tersebut menggambarkan bunyi hukum permintaan. Hukum permintaan adalah hukum yang menjelaskan tentang adanya hubungan yang bersifat negatif antara tingkat harga dengan jumlah barang yang diminta. Apabila harga naik jumlah barang yang diminta sedikit dan apabila harga rendah jumlah barang yang diminta meningkat. Dengan demikian hukum permintaan berbunyi:

Pada hukum permintaan berlaku asumsi ceteris paribus. Artinya hukum permintaan tersebut berlaku jika keadaan atau faktor-faktor selain harga tidak berubah (dianggap tetap).

e. Kurva Permintaan
Hukum permintaan yang telah kalian pelajari di atas dapat digambarkan menggunakan suatu grafik yang disebut kurva permintaan. Perhatikan kembali daftar permintaan yang dilakukan Desi dalam membeli telur pada tabel berikut ini.

Berdasarkan tabel di atas dapat dibuat grafik seperti gambar di samping. Bentuk kurva permintaan di samping memiliki kemiringan (slope) negatif atau bergerak dari kiri atas ke kanan bawah. Artinya apabila harga telur turun, jumlah barang yang diminta bertambah atau sebaliknya (ceteris paribus). Perlu kalian sadari, bahwa ketika menganalisis permintaan, terdapat dua istilah yang berbeda, yaitu permintaan dan jumlah barang yang bersedia diminta.

Apakah perbedaan dari kedua istilah tersebut? Menurut para ahli ekonomi, permintaan adalah keseluruhan dari kurva permintaan atau keseluruhan dari titik yang ada pada kurva (A + B + C + D + E + F + G). Dengan demikian permintaan menggambarkan keadaan keseluruhan daripada hubungan antara harga dan jumlah permintaan. Adapun jumlah barang yang bersedia diminta adalah banyaknya permintaan pada suatu tingkat harga tertentu. Misalnya titik A, menggambarkan bahwa pada harga Rp4.500,00 jumlah yang diminta adalah 140 kg. Dengan demikian, setiap titik yang ada pada kurva menggambarkan jumlah barang yang diminta.

f. Pergeseran Kurva Permintaan
Pergeseran kurva permintaan menunjukkan adanya perubahan permintaan yang ditimbulkan oleh faktor-faktor selain harga. Pergeseran kurva permintaan ditunjukkan dengan bergeraknya kurva ke kanan atau ke kiri. Kembali pada contoh di depan mengenai permintaan Desi terhadap telur. Pada contoh di depan menunjukkan bahwa berubahnya jumlah telur yang diminta Desi akibat dari perubahan harga telur itu sendiri. Bagaimana jika faktor lainnya seperti pendapatan Desi memengaruhi jumlah telur yang diminta? Apabila pendapatan Desi mengalami peningkatan, maka jumlah telur yang diminta pun juga akan meningkat. Namun ketika pendapatan Desi mengalami penurunan maka jumlah telur yang diminta akan turun. Untuk lebih jelasnya perhatikan Tabel di bawah ini dan bentuk kurva berikut ini.

Perhatikan kurva permintaan di atas. Kurva permintaan mengalami pergeseran ke kanan dari D ke D1 dan bergeser ke kiri dari D ke D2. Pergeseran ke kanan dari kurva permintaan menunjukkan pertambahan jumlah permintaan karena adanya peningkatan pendapatan. Sedangkan kurva bergeser ke kiri menunjukkan penurunan jumlah permintaan karena penurunan pendapatan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya perubahan pendapatan dapat mengubah jumlah permintaan akan barang serta dapat menggeser kurva permintaan

8.2. Penawaran Barang dan Jasa
a. Pengertian Penawaran
Kalian tentunya masih ingat mengenai daftar permintaan telur Desi, bukan? Jika kalian sudah lupa, mari kita bersama-sama mengingat kembali mengenai permintaan. Berdasarkan daftar permintaan telur Desi dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi harga, jumlah barang yang diminta semakin sedikit. Hal tersebut apabila dilihat dari sisi pembeli. Bagaimana jika dilihat dari sisi penjual telur? Supaya kalian dapat menjawab pertanyaan tersebut, mari kita pelajari bersama mengenai daftar penjualan telur Pak Heri berikut ini.

Tabel di atas menunjukkan berbagai jumlah telur yang ingin dijual oleh Pak Heri pada berbagai tingkat harga tertentu pada saat tertentu. Pak Heri sebagai penjual tentunya ingin mendapatkan keuntungan yang besar. Oleh karena itu jika Pak Heri menjual telurnya dengan harga Rp4.500,00, jumlah telur yang ingin ditawarkan sebanyak 50 kg. Apabila harganya Rp4.750,00, jumlah telur yang ditawarkan adalah 60 kg. Akan tetapi jika harga telur setiap satu kilogramnya sebesar Rp6.000,00, Pak Heri akan menjual lebih banyak lagi telurnya, yaitu sebanyak 110 kg. Daftar yang menunjukkan penjualan telur Pak Heri itulah merupakan contoh penawaran.

Penawaran adalah keseluruhan jumlah barang yang bersedia ditawarkan pada berbagai tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Jika harga naik, jumlah barang yang ditawarkan bertambah. Begitu juga ketika harga turun, maka jumlah barang yang ditawarkan juga turun atau semakin sedikit.

Seperti halnya pembeli, apakah penjual juga hanya memperhitungkan faktor harga saja dalam menyusun daftar penawaran? Tentu saja tidak. Pada kenyataannya banyak faktor yang memengaruhi penawaran penjual. Namun ketika merumuskan penawaran, cukup dengan menghubungkan harga dan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Faktor-faktor selain harga dianggap tidak berubah (ceteris paribus).

b. Faktor-faktor yang Memengaruhi Penawaran
Penawaran dan produksi mempunyai hubungan yang sangat erat. Hal-hal yang mendorong dan menghambat kegiatan produksi berpengaruh terhadap jumlah penawaran. Berikut ini faktor-faktor yang memengaruhi penawaran.

Harga Barang itu Sendiri
Apabila harga barang yang ditawarkan mengalami kenaikan, maka jumlah barang yang ditawarkan juga akan meningkat. Sebaliknya jika barang yang ditawarkan turun jumlah barang yang ditawarkan penjual juga akan turun. Misalnya jika harga sabun mandi meningkat dari Rp1.500,00 menjadi Rp2.000,00, maka jumlah sabun mandi yang penjual tawarkan akan meningkat pula.

Harga Barang Pengganti
Apabila harga barang pengganti meningkat maka penjual akan meningkatkan jumlah barang yang ditawarkan. Penjual berharap, konsumen akan beralih dari barang pengganti ke barang lain yang ditawarkan, karena harganya lebih rendah. Contohnya harga kopi meningkat menyebabkan harga barang penggantinya yaitu teh lebih rendah, sehingga penjual lebih banyak menjual teh.

Biaya Produksi
Biaya produksi berkaitan dengan biaya yang digunakan dalam proses produksi, seperti biaya untuk membeli bahan baku, biaya untuk gaji pegawai, biaya untuk bahan-bahan penolong, dan sebagainya. Apabila biaya-biaya produksi meningkat, maka harga barang-barang diproduksi akan tinggi. Akibatnya produsen akan menawarkan barang produksinya dalam jumlah yang sedikit. Hal ini disebabkan karena produsen tidak mau rugi. Sebaliknya jika biaya produksi turun, maka produsen akan meningkatkan produksinya. Dengan demikian penawaran juga akan meningkat

Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap besar kecilnya barang yang ditawarkan. Adanya teknologi yang lebih modern akan memudahkan produsen dalam menghasilkan barang dan jasa. Selain itu dengan menggunakan mesin-mesin modern akan menurunkan biaya produksi dan akan memudahkan produsen untuk menjual barang dengan jumlah yang banyak. Misalnya untuk menghasilkan 1 kg gula pasir biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan Manis sebesar Rp 4.000,00. Harga jualnya sebesar Rp7.500,00/kg. Namun dengan menggunakan mesin yang lebih modern, perusahaan Manis mampu menekan biaya produksi menjadi Rp3.000,00. Harga jual untuk setiap 1 kilogramnya tetap yaitu Rp7.500,00/kg. Dengan demikian perusahaan Manis dapat memproduksi gula pasir lebih banyak.

Pajak
Pajak yang merupakan ketetapan pemerintah terhadap suatu produk sangat berpengaruh terhadap tinggi rendahnya harga. Jika suatu barang tersebut menjadi tinggi, akibatnya permintaan akan berkurang, sehingga penawaran juga akan berkurang.

Perkiraan Harga di Masa Depan
Perkiraan harga di masa datang sangat memengaruhi besar kecilnya jumlah penawaran. Jika perusahaan memperkirakan harga barang dan jasa naik, sedangkan penghasilan masyarakat tetap, maka perusahaan akan menurunkan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Misalnya pada saat krisis ekonomi, harga-harga barang dan jasa naik, sementara penghasilan relatif tetap. Akibatnya perusahaan akan mengurangi jumlah produksi barang dan jasa, karena takut tidak laku.

c. Macam-Macam Penawaran
Apabila ditinjau dari jumlah barang yang ditawarkan, penawaran dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penawaran perorangan dan penawaran kolektif.

Penawaran Individu
Penawaran individu adalah jumlah barang yang akan dijual oleh seorang penjual. Contoh penawaran telur oleh Pak Heri.

Penawaran Kolektif
Penawaran kolektif disebut juga penawaran pasar. Penawaran kolektif adalah keseluruhan jumlah suatu barang yang ditawarkan oleh penjual di pasar. Penawaran pasar merupakan penjumlahan dari keseluruhan penawaran perorangan. Contoh penawaran kolektif yang dilakukan oleh Pak Heri dan pedagang buah telur di pasar dapat kalian lihat table di bawah ini.

d. Hukum Penawaran
Coba kalian perhatikan daftar penawaran telur Pak Heri. Pada tabel tersebut akan terlihat bahwa apabila harga Rp4.500,00, jumlah telur yang ditawarkan Pak Heri sebanyak 50 kg. Pada saat harga Rp4.750,00. Pak Heri menawarkan telurnya sebanyak 60 kg. Hingga pada harga Rp6.000,00, jumlah telur yang ditawarkan sebanyak 110 kg. Apa yang dapat kalian simpulkan dari tabel di atas? Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi harga, jumlah barang yang ditawarkan semakin banyak. Sebaliknya semakin rendah harga barang, jumlah barang yang ditawarkan semakin sedikit. Inilah yang disebut hukum penawaran. Hukum penawaran menunjukkan keterkaitan antara jumlah barang yang ditawarkan dengan tingkat harga. Dengan demikian bunyi hukum penawaran berbunyi:

Hukum penawaran akan berlaku apabila faktor-faktor lain yang memengaruhi penawaran tidak berubah (ceteris paribus).

e. Kurva Penawaran
Kurva penawaran adalah suatu kurva yang menunjukkan hubungan antara harga barang dengan jumlah barang yang ditawarkan. Coba kalian perhatikan Tabel di bawah ini mengenai daftar penawaran telur Pak Heri. Kurva penawaran dapat dibuat berdasarkan tabel tersebut

Perhatikan kurva di atas. Kurva bergerak dari kiri bawah ke kanan atas. Dengan demikian kurva penawaran mempunyai slope positif. Artinya jumlah barang yang ditawarkan berbanding lurus dengan harga barang. Semakin tinggi harga, semakin banyak jumlah barang yang ditawarkan.

f. Pergeseran Kurva Penawaran
Sama halnya pada pergeseran kurva permintaan, kurva penawaran juga dapat mengalami pergeseran karena adanya perubahan faktor-faktor yang memengaruhi penawaran selain faktor harga. Bergesernya kurva penawaran ditandai dengan bergeraknya kurva ke kanan atau ke kiri. Kurva penawaran bergeser ke kiri, artinya jumlah penawarannya mengalami kenaikan. Namun, ketika kurva penawaran barang bergeser ke kiri, berarti terjadi penurunan penawaran barang. Misalnya diperkirakan harga telur bulan depan akan naik karena harga pupuk naik. Kenaikan harga telur menyebabkan penurunan penawaran telur. Sehingga ketika diperkirakan harga di masa depan naik, maka penjual akan mengurangi jumlah barang yang dijualnya. Tabel berikut ini yang akan menunjukkan jumlah telur yang ditawarkan Pak Heri sebelum dan sesudah kenaikan harga.

Perhatikan kurva penawaran di atas. Kurva penawaran S bergeser ke kiri menjadi S1. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penawaran akan telur mengalami penurunan. Penurunan kurva penawaran telur tersebut sebagai akibat dari meningkatnya harga pupuk. Jadi dapat disimpulkan bahwa adanya perubahan dari salah satu atau lebih faktor-faktor yang dulu dianggap tetap, akan mengubah jumlah penawaran sekaligus menggeser kurva penawaran.

8.3. Harga Pasar
a. Pengertian Harga Pasar
Kalian telah mempelajari mengenai permintaan dan penawaran. Permintaan selalu berhubungan dengan pembeli, sedangkan penawaran berhubungan dengan penjual. Apabila antara penjual dan pembeli berinteraksi, maka terjadilah kegiatan jual beli. Pada saat terjadi kegiatan jual beli di pasar, antara penjual dan pembeli akan melakukan tawar-menawar untuk mencapai kesepakatan harga. Pembeli selalu menginginkan harga yang murah, agar dengan uang yang dimilikinya dapat memperoleh barang yang banyak. Sebaliknya, penjual menginginkan harga tinggi, dengan harapan ia dapat memperoleh keuntungan yang banyak. Perbedaan itulah yang dapat menimbulkan tawar-menawar harga. Harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak disebut harga pasar. Pada harga tersebut jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta. Dengan demikian harga pasar disebut juga harga keseimbangan (ekuilibrium).

b. Terbentuknya Harga Pasar
Faktor terpenting dalam pembentukan harga adalah kekuatan permintaan dan penawaran. Permintaan dan penawaran akan berada dalam keseimbangan pada harga pasar jika jumlah yang diminta sama dengan jumlah yang ditawarkan. Untuk lebih jelasnya perhatikan Tabel di bawah ini mengenai daftar permintaan dan penawaran buah telur.

Pada tabel di atas, harga keseimbangan terjadi pada harga Rp5.250,00. Pada harga tersebut jumlah barang yang ditawarkan sama dengan jumlah barang yang diminta yaitu sebesar 350 kg. Jumlah telur 350 kg disebut jumlah keseimbangan. Agar kalian lebih jelas memahami harga keseimbangan perhatikan grafik di bawah ini

Pada kurva di atas, titik keseimbangan pasar terjadi pada titik E (ekuilibrium), di mana pada harga Rp5.250,00, jumlah barangbarang yang diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan yaitu sebesar 350 kg. Harga sebesar Rp5.250,00 disebut harga keseimbangan, sedangkan jumlah telur 350 kg disebut sebagai jumlah keseimbangan. Apabila pada tingkat harga Rp6.000,00 penjual menawarkan telurnya sebanyak 500 kg, sedangkan pembeli hanya membutuhkan telur sebanyak 200 kg, apa yang akan terjadi? Tentunya penjual akan terjadi kelebihan penawaran (surplus) sebanyak 300 kg telur (500 kg – 200 kg). Begitu juga pada tingkat harga Rp5.500,00 dan Rp5.750,00, penjual akan mengalami kelebihan jumlah telur yang dijual.

Berbeda halnya pada saat tingkat harga Rp4.500,00, jumlah telur yang ingin dibeli sebanyak 500 kg, namun penjual hanya menjual telurnya sebanyak 200 kg. Dengan demikian permintaan sebanyak 300 kg telur tidak bisa terpenuhi oleh penjual. Apabila di pasar jumlah permintaan lebih banyak dari pada jumlah penawaran maka akan terjadi kelebihan permintaan atau disebut juga shortage. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses terbentuknya harga pasar jika terdapat hal-hal berikut ini.

  1. Antara penjual dan pembeli terjadi tawar-menawar.
  2. Adanya kesepakatan harga ketika jumlah barang yang diminta sama dengan jumlah barang yang ditawarkan.

8.4. Elastisitas (ekonomi)
Dalam ilmu ekonomi, elastisitas adalah perbandingan perubahan proporsional dari sebuah variabel dengan perubahan variable lainnya. Dengan kata lain, elastisitas mengukur seberapa besar besar kepekaan atau reaksi konsumen terhadap perubahan harga.

Penggunaan
Penggunaan paling umum dari konsep elastisitas ini adalah untuk meramalkan apa yang akan barang/jasa dinaikkan. Pengetahuan mengenai seberapa dampak perubahan harga terhadap permintaan sangatlah penting. Bagi produsen, pengetahuan ini digunakan sebagai pedoman seberapa besar ia harus mengubah harga produknya. Hal ini sangat berkaitan dengan seberapa besar penerimaan penjualan yang akan ia peroleh. Sebagai contoh, anggaplah biaya produksi sebuah barang meningkat sehingga seorang produsen terpaksa menaikkan harga jual produknya. Menurut hukum permintaan, tindakan menaikkan harga ini jelas akan menurunkan permintaan. Jika permintaan hanya menurun dalam jumlah yang kecil, kenaikan harga akan menutupi biaya produksi sehingga produsen masih mendapatkan keuntungan. Namun, jika peningkatan harga ini ternyata menurunkan permintaan demikian besar, maka bukan keuntungan yang ia peroleh. Hasil penjualannya mungkin saja tidak dapat menutupi biaya produksinya, sehingga ia menderita kerugian. Jelas di sini bahwa produsen harus mempertimbangkan tingkat elastisitas barang produksinya sebelum membuat suatu keputusan. Ia harus memperkirakan seberapa besar kepekaan konsumen atau seberapa besar konsumen akan bereaksi jika ia mengubah harga sebesar sepuluh persen, dua puluh persen, dan seterusnya.

Elastisitas penawaran
Dalam ilmu ekonomi, elastisitas penawaran didefinisikan sebagai ukuran kepekaan jumlah penawaran suatu barang dengan harga barang itu sendiri. Elastisitas penawaran mengukur persentase perubahan jumlah penawaran yang terjadi akibat persentase perubahan harga. Sebagai contoh, jika harga sebuah barang naik 10%, jumlah penawarannya naik 20%, maka koefesien elastisitas permintaannya adalah 20%/10% = 2. (Case & Fair, 1999: 119).

Jumlah barang yang ditawarkan, dalam jangka pendek, berbeda dengan jumlah barang yang diproduksi, karena sebuah perusahaan biasanya tidak langsung menawarkan semua produknya ke konsumen, melainkan menyimpan sebagian produknya untuk dijual dikemudian hari (atau biasa disebut sebagai stok barang). Meskipun demikian, dalam jangka panjang, jumlah barang yang ditawarkan dianggap sama dengan jumlah barang yang diproduksi.

Elastisitas permintaan
Dalam ilmu ekonomi, elastisitas permintaan atau price elasticity of demand (PED) adalah ukuran kepekaan perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga.

Pengenalan
Elastisitas permintaan mengukur seberapa besar kepekaan perubahan jumlah permintaan barang terhadap perubahan harga. Ketika harga sebuah barang turun, jumlah permintaan terhadap barang tersebut biasanya naik —semakin rendah harganya, semakin banyak benda itu dibeli. Elastisitas permintaan ditunjukan dengan rasio persen perubahan jumlah permintaan dan persen perubahan harga. Ketika elastisitas permintaan suatu barang menunjukkan nilai lebih dari 1, maka permintaan terhadap barang tersebut dikatakan elastis di mana besarnya jumlah barang yang diminta sangat dipengaruhi oleh besar-kecilnya harga. Sementara itu, barang dengan nilai elastisitas kurang dari 1 disebut barang inelastis, yang berarti pengaruh besar-kecilnya harga terhadap jumlah-permintaan tidak terlalu besar. Sebagai contoh, jika harga sepeda motor turun 10% dan jumlah permintaan atas sepeda motor itu naik 20%, maka nilai elastisitas permintaannya adalah 2; dan barang tersebut dikelompokan sebagai barang elastis karena nilai elastisitasnya lebih dari 1. Perhatikan bahwa penurunan harga sebesar 1% menyebabkan peningkatan jumlah permintaan sebesar 2%, dengan demikian dapat dikatakan bahwa jumlah permintaan atas sepeda motor sangat dipengaruhi oleh besarnya harga yang ditawarkan.

Untuk barang-barang normal, penurunan harga akan berakibat pada peningkatan jumlah permintaan. Permintaan terhadap sebuah barang dapat dikatakan inelastis bila jumlah barang yang diminta tidak dipengaruhi oleh perubahan harga. Barang dan jasa yang tidak memiliki subtitusi biasanya tergolong inelastis. Permintaan terhadap antibiotik, misalnya, dikatakan sebagai permintaan inelastis karena tidak ada barang lain yang dapat menggantikannya. Daripada mati terinfeksi bakteri, pasien biasanya lebih memilih untuk membeli obat ini berapapun biayanya. Sementara itu, semakin banyak sebuah barang memiliki barang subtitusi, semakin elastis barang tersebut.. meskipun permintaan inelastis sering diasosiasikan dengan barang “kebutuhan,” banyak juga barang yang bersifat inelastis meskipun konsumen mungkin tidak “membutuhkannya.” Permintaan terhadap garam, misalnya, menjadi permintaan inelastis bukan karena konsumen sangat membutuhkannya, melainkan karena harganya yang sangat murah.

Apakah yang dimaksud dengan penawaran? Dari pembicaraan kita mengenai permintaan, tampaklah bahwa permintaan merupakan kegiatan ekonomi yang dilihat dari sudut konsumen/pembeli.





Diktat Ilmu Ekonomi Umum-2

21 07 2012

BAB V. SISTEM EKONOMI DAN ORGANISASI BISNIS

5.1.    Sistem Ekonomi
Ilmu ekonomi merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari berbagai perilaku pelaku ekonomi terhadap keputusan-keputusan ekonomi yang dibuat. Ilmu ini diperlukan sebagai kerangka berpikir untuk dapat melakukan pilihan terhadap berbagai sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas.

Adapun tiga masalah pokok dalam perekonomian, yaitu

  1. Jenis barang dan jasa apa yang akan diproduksi?
  2. Bagaimana menghasilkan barang dan jasa tersebut?
  3. Untuk siapa barang dan jasa tersebut dihasilkan?

Ekonomi positif adalah pendekatan ekonomi yang mempelajari berbagai pelaku dan proses bekerjanya aktivitas ekonomi, tanpa menggunakan suatu pandangan subjektif untuk mengyatakan bahwa sesuatu itu baik atau jelek dari sudut pandang ekonomi.
Ekonomi positif di bagi menjadi dua, yaitu ekonomi deskriptif dan ekonomi teori.
Sedangkan ekonomi normatif adalah pendekatan ekonomi dalam mempelajari perilaku ekonomi yang terjadi, dengan mencoba memberikan penilaian baik atau buruk berdasarkan pertimbangan subjektif.
Berkaitan dengan sistem ekonomi, ada tiga bentuk sistem ekonomi yang dikenal di dunia ini, yaitu:

  1. Sistem ekonomi pasar (Laissez-Faire Economy), merupakan sistem ekonomi yang berbasis pada kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan berbagai kegiatan ekonomi, seperti konsumsi dan produksi. Perekonomian akan menentukan titik keseimbangan dengan mengandalkan kemampuan pada sistem harga, yaitu tarik menarik antara permintaan dan penawaran. Keseimbangan harga serta jumlah barang dan jasa dalam perekonomian dibimbing oleh sesuatu yang tidak kelihatan (invisible hand).
  2. Sistem ekonomi terpusat (sistem ekonomi sosialis) atau disebut Command Economy, yaitu sistem ekonomi dimana pemerintah membuat semua kebijakan menyangkut produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan kata lain, dalam sistem ekonomi sosial yang murni, pemerintah mengatur semua aspek kegiatan ekonomi.
  3. Sistem ekonomi campuran yaitu gabungan dari sistem ekonomi pasar dan sistem ekonomi terpusat. Dalam sistem ekonomi campuran, kebebasan individu dan perusahaan dalam menentukan kegiatan ekonomi masih diakui, tetapi pemerintah ikut campur dalam perekonomian sebagai stabilisator ekonomi dengan memberlakukan berbagai kebijakan fiskal dan moneter.

5.2.  Organisasi Bisnis

Organisasi bisnis diperlukan dalam peranannya menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan, sehingga kita bisa mendapatkannya dengan mudah, murah dan berkualitas. Hal ini terjadi karena organisasi bisnis melakukan produksi barang dengan lebih teratur dan dalam skala produksi yang besar, sehingga proses produksi menjadi lebih efisien. Selain itu, kemampuan dalam mengembangkan teknologi proses dan penghimpunan dana menjadi lebih mudah dilakukan akibat dari spesialisasi yang terjadi.

Organisasi usaha yang memproduksi barang dan jasa dapat dikategorikan dalam tiga bentuk utama yaitu:
1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)
2. Koperasi
3. Swasta

Pembagian atas tiga bentuk Badan Usaha tersebut bersumber dari Undang – Undang 1945 khususnya pasal 33. Dalam pasal tersebut terutang adanya Konsep Demokrasi Ekonomi bagi perekonomian Negara. Di mana dalam Konsep Demokrasi Ekonomi ini terdapat adanya kebebasan berusaha bagi seluruh warga negaranya dengan batas – batas tertentu. Hal ini berati bahwa segenap warga negara Republik Indonesia diberikan kebebasan dalam menjalankan untuk kegiatan bisnisnya. Hanya saja kebebasan itu tidaklah tak ada batasnya, akan tetapi kebebasan tersebut ada batasanya.

Adapun batas – batas tertentu itu meliputi dua macam jenis usaha, dimana tehadap kedua jenis usaha ini pihak swasta dibatasi gerak usahanya. Ke dua jenis usaha itu adalah :

  • Jenis – jenis usaha yang VITAL yaitu usaha – usaha yang memiliki peranan yang sangat penting bagi perekonomian negara. Misalnya saja : minyak dan gas bumi, baja, hasil pertambangan, dan sebagainya.
  • Jenis – jenis usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak. Misalnya saja : usaha perlistrikan, air minum. Kereta api, pos dan telekomunikasi dan sebagainya. Terhadap kedua jenis usaha tersebut pengusahaannya dibatasi yaitu bahwa usaha – usaha ini hanya boleh dikelola Negara.

a. Badan Usaha Milik Negara ( BUMN )

BUMN adalah suatu bangun usaha yang didirikan oleh Negara dan pemiliknya dipegang oleh Pemerintah atau Negara Republik Indonesia. Dalam hal ini terdapat berbgai macam antara lain yang berupa Perusahaan Jawatan ( PERJAN ), Perusahan Negara (PN), Perusahaan Umum ( PERUM ) dan Persero ( PT. Persero )Bentuk Perum ini merupakan perusahan yang menjadi milik dan dikelola oleh suatu Departemen Pemerintah. Sebagai contoh adalah Perum Perhutani yang bergerak dibidang kehutanan dan perkayaan yang menjadi milik dan dikelola oleh Departemen Kehutanan RI. Selain bentuk Perum masih terdapat bentuk lain yaitu Perusahaan Jawatan yaitu yang pemilikannya dipegang oleh suatu Jawatan tertentu dibawah suatu Departemen. Sebagai misal adalah Perusahaan Jawatan Kereta Api ( PERJANKA atau PJKA ) yang saat ini sudah diganti menjadi bentuk Perumka. Bentuk yang lain lagi adalah yang berupa Perusahaan Negara ( PN ), sebagai contoh adalah Perusahaan Negara Perkebunan atau PNP. Bentuk ini kemudian diganti namanya menjadi Perseroan Terbatas ( PT ). Persero karena pemilikan dari usaha ini oleh negara diwujudkan dalam bentuk Saham atau Sero dari yang bertindak sebagai saham atau perseronya adalah Menteriyang bersangkutan. Sebagai contohnya adalah PT. Persero Perkebunan yang pada umunya dikenal sebagi singkatan PTP (Perseroan Terbatas Perkebunan ) atau PNP XIX misalnya adalah Perusahaan Negara Perkebunan di Surakarta yang bergerak dibidang perkebunan tembakau. Disamping bentuk BUMN yang merupakan perusahan milik Pemda ini dikenal dengan sebutan Perusahaan Daerah atau disingkat PD. Sebagai contoh di Yogyakarta terdapat PD. Purosani yang bergerak dibidang Pariwisata, PD Pertambangan Mangan dibidang pertambangan, pada saat ini sudah digabungkan menjadi satu yaitu PD. ANINDYA ( Aneka Industri dan Jasa ). Di usaha cerutu dan tembakau sigaret atau tembakau shag. Perubahan bentuk hukum dari perusahaan milik negara tersebut telah terjadi pada berbagai jenis badan milik negara. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk memberikan ruang gerak bisnis yang lebih longgar kepada badan usaha yang bersangkutan.Ruang gerak yang lebih longgar berada pada bentuk perum dan yang paling luas adalah bentuk persero.Sedangkan bentuk PN dan Perjan merupakan bentuk yang paling tidak longgar dimana dalam bentuk ini segala kebijakan bisnis dari perusahaan itu berada sepenuhnya ditangan Pemerintah cq Kepala Jawatan yang bersangkutan.

Adapun ciri-ciri bentuk usaha BUMN ini adalah sebagai berikut:

  • Modalnya disetor oleh Pemerintah melalui Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara/Daerah/APBD) yang disalurkan melalui Bank Pemerintah Pusat atau Daerah(BPD)
  • Seluruh modalnya adalah merupakan milik Negara
  • Bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dan menciptakan kemakmuran rakyat.
  • Keberhasilan BUMN ini diukur menggunakan tolok ukur banyaknya jumlah masyarakat yang memperoleh pelayanan dengan harga yang wajar.

Bentuk BUMN Indonesia jika digolongkan berdasarkan pentingnya cabang usaha yang dijalankan,dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu:
1. BUMN untuk cabang usaha yang VITAL .
2. BUMN untuk cabang usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak.

BUMN yang bergerak dalam cabang usaha yang vital ini berusaha untuk mengelola bidang – bidang usaha pengolahan sumber – sumber alam yang terpendam di dalam perut bumi atau dipermukaan bumi serta yang ada di dalam air maupun udara. Sebagai contoh bentuk badan usaha ini adalah : Perum –Perum Pertambangan, Perusahaan Listrik Negara ( PLN ), Perum Jasa Marga yang bergerak di bidang pembangunan prasana jalan, jembatan, lapangan terbang maupun pelabuhan. Perum Pos, Giro dan Telekomunikasi, Perum Peruri ( Percetakan Uang Republik Indonesia ) yang bergerak dalam bidang pencetakan uang yang diedarkan di Indonesia. PT. Persero Pindad ( Perusahaan Industri Angkatan Darat ) yang begerak dalam bidang produksi alat –alat persenjataan untuk keperluan Angkatan Darat dan ABRI.

BUMN yang bergerak dalam cabang usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak adalah badan usaha yang mengelola sumber – sumber daya yang ditunjukan bagi kehidupan dan kesejahteraan rakyat banyak. Apabila cabang usaha tersebut diserahkan kepada swasta maka dikhawatirkan akan tidak ditunjukan untuk kesejahteraan rakyat akan tetapi untuk mengejar keuntungan bisnis semata – mata. Yang termasuk dalam golongan ini adalah : Perum Damri, Perum KA, Perum Pelni, Perum Pegadaian, Perum Balai Pustaka, PT. Persero Aneka Gasw dll

Adapun BUMN yang ada di Indonesia pada saat ini berjumlah 189 buah yang bernaung di bawah beberapa Departemen dan ada pula yang tidak bernaung pada Departemen tertentu. Masing-masing BUMN mengalami perkembangan yang berbeda-beda sehingga mengakibatkan kondisi yang berbeda pula. Ada BUMN yang memiliki kondisi kesehatan yang mengkhawatirkan dan ada pula yang berbeda dalam kondisi yang menggemburakan. Kondisi yang menggembirakan tercermin dalam suatu kondisi yang sering disebut sebagai kondisi kesehatan usaha yang sangat sehat, sedangkan kondisi yang mengkhawatirkan disebut sebagai kondisi kesehatan yang tidak sehat.

Dalam hal penilaian kesehatan usaha BUMN ini terdapat suatu pedoman penilaian yang menggolongkan tingkat kesehatan usahanya kedalam 4 kategori yaitu : Sehat sekali (SS), Sehat (S), Kurang Sehat (KS) Tidak Sehat (TS)

Pedoman penilaian atas kesehatan usaha bagi BUMN ini tertuang dalam suatu Surat Keputusan Mentri Republik Indonesia Nomor : 740/KMK.00/1989 tertanggal 28 Juni 1989 yang merupakanpenjabaran lebih lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 1988 tentang Pedoman Badan Usaha Milik Negara. Penilaian tingkat kesehatan usaha bagi BUMN tersebut secara ringkas dapat dilihat seperti dalam tabel berikut :

Kriteria Penilaian Kesehatan BUMN
Kategori Rentabilitas Likuiditas Solvabilitas Sehat SekaliSehat Kurang sehat Tidak Sehat > 12%8% – 12% 5% – 8%<> 150100 – 15075 – 100<> 200150 – 250100 – 150<100 Bobot 75% 12,5% 12,5% Hasil penelitian atas dasar pedoman penilaian itu beserta cara pengembangan yang direncanakan terhadap masing – masing BUMN sesuai dengan kondisi kesehatan yang dimiliki oeh masing – masing BUMN tersebut.

b. Koperasi

Ditinjau dari arti katanya koperasi dalam bahasa asing cooperation artinya sebagai kerja sama. Sedangkan dalam arti bisnis koperasi merupakan bentuk kerja sama dari para anggaota dengan tujuan agar dapat memenuhi kebutuhan mereka bersama secara lebih ekonomis. Dengan demikian koperasi dapat dibentuk oleh konsumen ataupun oleh para produsen.

Koperasi konsumsi adalah koperasi yang dibentuk oleh para konsumen. Sedangkan Koperasi Produksi adalah koperasi yang dibentuk oleh produsen. Yang lebih dikenal dengan sebutan KUD (Koperasi Unit Desa).

Bentuk koperasi ini secara modern mula – mula tercetus di Inggris pada awal abad 19 dan kemudian berkembang keseluruh daerah Eropa dan kemudian menjalar kebenua yang lain. Di Indonesia sejak tahun 1950-an telah semakain digalakan pengembangan koperasi ini oleh Pemerintah RI. Upaya pengembangan koperasi ini ditugaskan kepada suatu jawatan yang dibentuk pada saat itu Jawatan Koperasi pada bulan Oktober 1950 yang sampai saat ini lalu ditetapkan “ Hari Koperasi ”. Dengan dibentuknya Jawatan Koperasi ini diharapkan perkembangan bentuk Badan Usaha Koperasi ini menjadi semakin berakar di masyarakat.

Seorang tokoh termuka yang menganjurkan bentuk Koperasi ini di Indonesia adalah DR. Mohammad Hatta yang kemudian dianggap sebagai “ Bapak Koperasi Indonesia “. Pemerintahan RI menyadari bahwa faham koperasi ini merupakan penjabaran dari jiwa dan semangat dari pasal 33 ayat 1 UUD 1945. Oleh karena itu maka pemerintah dengan giat membina gerakan koperasi itu antara lain dengan menumbuh kembangkan Koperasi Unit Desa (KUD). KUD adalah merupakan Lembaga Ekonomi Pedesaan yang dibentuk untuk mengatasi masalah – masalah ekonomi yang dihadapi oleh kelompok usaha tani didaerah pedesaan. Yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat dan mendorong peningkatan produksi pertanian rakyat. Perkembangan berikutnya dengan diundangkannya Intruksi Presiden (Inpres) Nomor 2/1987 diperluaslah peranan KUD yaitu menciptakan kestabilan harga pangan serta sebagai mesia memperluas kesempatan kerja dipedesaan.

Dengan demikian maka fungsi KUD adalah : Perkreditan, Penyediaan Sarana Produksi, Barang – barang Kebutuhan Pokok dan Jasa. Pengolahan dan Pemasaran Hasil – hasil Produksi, serta, Kegiatan – kegiatan Perekonomian yang lain.

Tujuan utama yang terkandng dari usaha bersama adalah agar memperoleh kekuatan bersama sehingga akan memperoleh daya saing yang lebih kuat. Hal semacam ini biasanya terjadi pada pengusaha kecil, pertanian kecil dll.

Adapun tujuan yang terkandung dalam bentuk usaha koperasi adalah :
(1) Meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan Anggota.
(2) Meningkatkan kemakmuran yang adil dan merata bagi segenap anggota – anggota.

Dalam melaksanakan tugas – tugasnya koperasi memiliki prinsip dasar kerja yang berbunyi : “Dari Anggota, Untuk Angota dan Oleh Anggota”. Dari prinsip kerja tersebut memanglah terungkap bahwa semata – mata untuk kepentingan bersama para anggota – anggotanya dan tidak menyangkupan kebutuhan pihak lain ataupun pihak lain.

Bentuk koperasi ini dapat digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu :
a. Koperasi Konsumsi
b. Koperasi Kredit
c. Koperasi Produksi
d. Koperasi Jasa
e. Koperasi Serba Usaha

Koperasi Konsumsi adalah koperasi yang bergerak dalam usaha untuk memenuhi kehidupan hidup sehari – hari bagi para anggotanya, misal : beras, sabun, gula, dll. Contoh bentuk ini : Koperasi Pegawai Negri (KPN), Koperasi Mahasiswa (KOPMA)dll.

Koperasi Kredit berusaha untuk mengumpulakn uang simpanan dari para anggota dan kemudian meminjamkannya lagi kepada anggota yang lain yang membutuhkan modal untuk keperluan hidup.

Koperasi Produksi berusaha bersama dalam pengadaan alat – alat perlengkapan produksi, bahan baku, bangunan gudang penyimpanan hasil produksi dari para anggotanya.

Koperasi Jasa bergerak dibidang jasa pelayanan umum yang diperlukan para anggota. Contoh : Kopata(Koperasi Angkutan Kota), Kopedes(Koperasi Angkutan Pedesaan) dll.

Koperasi Serba Usaha adalah berusaha untuk mengelola berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan bagi para anggotanya. Contoh : KUD yang mengusahakan bermacam – macam kebutuhan warga desa yang umumnya petani, mengelola mulai dari kebutuhan masyarakat tani peternakdan nelayan maupun kebutuhan sehari – hari.

c. Swasta

Bentuk badan usaha ini adalah badan usaha yang pemiliknya sepenuhnya berada ditangan individu atau swasta. Yang bertujuan untuk mencari keuntungan sehingga ukuran keberhasilannyajuga dari banyaknyakeuntungan yang diperoleh dari hasil usahanya. Perusahaan ini sebenarnya tidakalah selalu bermotif mencari keuntungan semata tetapi ada juga yang tidak bermotif mencari keuntungan. Contoh : perusahan swasta yang bermotif nir-laba yaitu Rumah Sakit, Sekolahan, Akademik, dll.

Bentuk badan usaha ini dapat dibagi kedalam beberapa macam :
a. Perseorangan
b. Firma/Kongsi Perserikatan
c. Perserikatan Komanditer (CV)
d. Perseroan Terbartas (PT atau NV)
e. Yayasan
A. Perseorangan

Bentuk ini merupakan bentuk yang pertama kali muncul di bidang bisnis yang paling sederhana, dimana dalam hal ini tidak terdapat pembedaan pemilikan antara hal milik pribadi dengan milik perusahaan. Harta benda yang merupakan kekayaan pribadi sekaligus juga merupakan kekayaan perusahaan yang setiap saat harus menanggung utang – utang dari perusahaan itu.

Bentuk badan usaha semacam ini pada umumnya terjadi pada perusahaan – perusahaan kecil, misalnya bengkel kecil, toko pengecer kecil, kerajinan, serta jasa dll.

Keuntungan – keuntungan dari bentuk Perseorangan ini adalah :

  1. Penguasaan sepenuhnya terhadap keuntungan yang diperoleh.
  2. Motivasi usaha yang tinggi.
  3. Penanganan aspek hukum yang minimal.

Kekurangan – kekurangan dari bentuk Perseorangan ini adalah :

  1. Mengandung tanggung jawab keuangan tak terbatas.
  2. Keterbatasan kemampuan keuangan.
  3. Keterbatasan manajerial.
  4. Kontinuitas kerja karyawan terbatas

B. FIRMA

Bentuk ini merupakan perserikatan atau kongsi ataupun persatuan dari beberapa pengusaha swasta menjadi satu kesatuan usaha bersama. Perusahaan ini dimiliki oleh beberapa orang dan pimpin atau dikelola oleh beberapa orang pula.
Tujuan perserikatan ini adalahuntuk menjadikan usahanya menjadi lebih besar dan lebih kuat dalam permodalannya.

Bentuk ini memiliki kelebihan dan kekurangan yang sama dengan bentuk Perseorangan, akan tetapi karena Firma ini adalah gabungan dari beberapa usaha perseorangan maka kontinuitas akan lebih lama, kemampuan permodalannya akan lebih menjadi besar. Akan tetapi tidak jarang dengan bergabungnya dua orang pengusaha itu justru mengakibatkan perselisihan yang kadang – kadang usahanya menjadi tak terkontrol dengan baik karena sering terjadi konflik antar keduanya.

C. Perserikatan Komanditer

Bentuk ini banyak dilakukan untuk mempertahankan kebaikan – kebaikan dari bentuk perseorangan yang memberikan kebebasan dan penguasaan penuh bagi pemiliknya atas keuntungan yang diperoleh oleh perusahan. Disamping itu untuk menghilangkan atau mengurangi kejelekan dalam hal keterbatasan modal yang dimilikinya maka diadakanlah penyertaan modal dari para anggota yang tidak ikut aktif mengelola bisnisnya, yang hanya menyertakaan modalnya saja dalam bisnis itu.

Bentuk ini memiliki dua macam anggota yaitu :

  1. Anggota aktif (Komanditer Aktif) adalah anggota yang aktif menjalankan usaha bisnisnya dan menanggung segala utang – utang perusahaan.
  2. Anggota tidak aktif (Komanditer Diam) adalah anggota yang hanya menyertakan modalnya saja. Maka dari itu kertabatas modal perusahaan dapat dihindarkan, sehingga perusahaan akan dapat mencari dan mendapatkan modal yang lebih besar untuk keperluan bisnisnya. Hal ini merupakan salah satu kebaikan dari bentuk Perserikatan Komanditer, dibandingkan dengan bentuk – bentuk lain yang sudah dibicarakan diatas.

D. Perseroan Terbatas (PT)

Perseroan Terbatas merupakan bentuk yang banyak dipilih, terutama untuk bisnis – bisnis yang besar. Bentuk ini memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk menyertakan modalnya kedalam bisnis tersebut sengan cara membeli saham yang dikeluarkan oleh Perusahaan itu. Dengan membeli saham suatu perusahaan masyarakat akan menjadi ikut serta memiliki perusahaan itu atau dengan kata lain mereka menjadi Pemilik Perusahaan tersebut. Atas pemilikan saham itu maka mereka para pemegng saham itu lalu berhak memperoleh pembagian laba atau Deviden dari perusahaan tersebut. Para pemegang saham itu mempunyai tanggung jawab yang terbatas pada modal yang disertakan itu saja dan tidak ikut menanggunng utang – utang yang dilakukan oleh perusahaan Perseroan Terbatas ini akan menjadi suatu Badan Hukum tersendiri yang berhak melakukan tindakan – tindakan bisnis terlepas dari pemegang saham. Bentuk ini berbeda dengan bentuk yang terdahulu yang memiliki tanggung jawab tak terbatas bagi para pemiliknya, yang artinya para pemilik akan menanggung seluruh utang yang dilakukan oleh perusahaan. Berarti apabila kekayaan perusahaan maka kekayaan pribadi dari para pemiliknya ikut menanggung utang tersebut. Dengan semacam itu tanggung jawab renteng. Lain halnya dengan bentuk PT dimana dalam bentuk ini tanggung jawab pemilik atau pemegang saham adalah terbatas, yaitu sebatas modal yang disetorkannya. Kekayaan pribadi pemilik tidak ikut menanggung utang – utang perusahaan. Oleh karena itu bentuk ini disebut Perseroan Terbatas (Naamlose Venootschaap/NV).

Kelebihan – kelebihan Bentuk ini adalah :

  1. Memiliki masa hidup yang terbatas.
  2. Pemisahan kekayaan dan utang – utang pemilik dengan kekayaan dan utang – utang perusahaan.
  3. Kemampuan memperoleh modal yang sangat luas
  4. Penggunaan manajer yang profesional.

E. YAYASAN

Yayasan adalah bentuk organisasi wasta yang didirikan untuk tujuan sosial kemasyarakatanyang tidak berorientasipada keuntunga. Misalnya Yayasan Panti Asuhan, Yayasan yang mengelola Sekolahan Swasta, Yayasan Penderita Anak Cacat dll

BAB VI. PRODUKSI

6.1. Pengertian Istilah Produksi
Dalam kehidupan sehari-hari, apabila kita mendengar kata produksi, maka yang terbayang di pikiran kita adalah suatu kegiatan besar yang memerlukan peralatan yang serba canggih, serta menggunakan ribuan tenaga kerja untuk mengerjakannya. Sebenarnya dugaan tersebut tidak benar. Sebelum kita membahas kita membahas lebih jauh tentang Produksi, maka sebaiknya kita mengatahui beberapa istilah : Produksi, Produk, Produsen dan Produktivitas dan Ekonomi Produksi.
Produksi dalam artian yang umum didefinisikan sebagai segala kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan atau menambah guna atas suatu benda untuk memenuhi kebutuhan kepuasan manusia. Setiap proses untuk menghasilkan barang dan jasa dinamakan “Proses Produksi”. Produksi dalam artian lebih “operasional” adalah suatu proses dimana satu atau beberapa barang dan jasa yang di sebut “input” diubah menjadi barang dan jasa yang di sebut “output”. Contohnya, seorang ibu yang membuat kue untuk keluarganya dirumah, maka kegiatan tersebut tidak dapat dikatakan proses produksi karena, tujuannya bukan untuk masyarakat banyak.

Salah satu yang dilakukan dalam proses produksi ialah menambah nilai guna suatu barang atau jasa. Dalam kegiatan menambah nilai guna barang atau jasa ini, dikenal lima jenis kegunaan, yaitu :
1. Guna bentuk (Form Utility).
Yang dimaksud dengan guna bentuk yaitu, didalam melakukan proses produksi, kegiatannya ialah merubah bentuk suatu barang sehingga barang tersebut mempunyai nilai ekonomis. Contohnya: keramik.
2. Guna jasa
Guna jasa ialah kegiatan produksi yang memberikan pelayanan jasa. Contohnya: tukang becak, buruh, dll.
3. Guna tempat (Place utility).
Guna tempat adalah kegiata produksi yang memanfaatkan tempat- tempat dimana suatu barang memiliki nilai ekonomis. Contoh: pengangkutan pasir dari tempat yang pasirnya melimpah ketempat dimana orang membutuhkan pasir tersebut.
4. Guna waktu (Time utility).
Guna waktu ialah kegiatan produksi yag memanfaatkan waktu- tertentu. Misalnya: pembelian beras yang dilakukan oleh Bulog pada saat musim panen, dan dijual kembali pada saat masyarakat membutuhkan.
5. Guna milik (Consumer/whom utility).
Guna milik ialah, kegiatan produksi yang memanfaatkan modal yang dimiliki untuk dikelola orang lain dan dari hasil tersebut ia mendapatkan keuntungan.

Produk adalahsuatu hasil atau output dari proses produksi, sedangkan Produsen adalah pelaku-pelaku proses produksi.

Produktivitas adalah suatunilai yang menunjukkan perbandingan output yang dihasilkan dalam suatu proses produksi dalam satuan tertentu. Produktivitas dapat diukur berdasarkan kuantitas (jumlah) maupun kualitas (mutu). Contoh : Produktivitas pemeliharaan burung puyuh bisa diukur dari jumlah telur (butir) atau berat telur (Kg)  maupun dengan Prosentase telur yang layak jual dan tidak layak jual (rusak).

Ekonomi Produksi dapat diartikan sebagai “Peraturan rumah tangga di bidang produksi  oleh karena terbatasnya sumberdaya sedangkan kebutuhan produsen tidak kunjung dipuaskan”. Ekonomi produksi merupakan Kegiatan menambah nilai suatu barang atau jasa disebut dengan kegiatan berproduksi.

Jadi jelas bahwa aktivitas produksi bukan hanya meproduksi suatu barang atau jasa saja tetapi merupakan suatu aktivitas menambah atau meninggikan suatu nilai barang atau jasa. Dengan demikian dalam pengertian ini akan mencakup :

  1. Produksi asal : perusahaan ekstraktif.
  2. Produksi analitis : perusahaan yang menguraikan dari satu jenis bahan menjadi berbagai jenis,
  3. Produksi sintetis : produksi yang menyatukan beberapa bahan menjadi satu bahan.
  4. Produksi yang conditional : produksi yang membentuk bahan asal menjadi bahan baru (form utility).
  5. Usaha lalu lintas : usaha yang memindahkan. Ada 2 maksud yaitu time utility dan place utility.
  6. Perusahaan Industri : produksi yang mengerjakan bahan dari yang sifatnya belum jadi menjadi barang jadi dengan prinsip ekonomi dan prinsip berproduksi.

6.2. Ruang Lingkup Ekonomi Produksi bidang Peternakan
Secara khusus, ruang lingkup ekonomi produksi peternakan mencakup telaah kegiatan ekonomi di bidang produksi peternakan yang dimulai dari adanya kegiatan memasukkan input kemudian diakhiri setelah output dikeluarkan oleh produsen. Di bidang peternakan, output yang utama adalah air susu bagi usaha sapi perah, daging bagi usaha sapi kareman, dan ayam, telur bagi usaha itik dan unggas lainnya. Sedangkan yang termasuk input adalah lahan, bibit ternak, pakan, obat-obatan, peralatan, bahan bakar, tenaga kerja, modal bangunan dan uang. Batasan ruang lingkup tersebut penting dikemukakan mengingat “makna produksi” secara mendasar dapat mencakup semua kegiatan yang memasukkan input untuk mendapat output.

6.3. Konsep dan Hukum Ekonomi Produksi
Konsep adalah lambang-lambang yang dipergunakan untuk menyatakan buah pikiran yang mempunyai arti khusus. Sedangkan hukum adalah peraturan-peraturan tentang sesuatu hal yang telah disepakati kebenarannya. Konsep dan hukum ekonomi di bidang produksi yang sering dijumpai di bab yang lebih lanjut adalah sebagai berikut :

1. Konsep Efisiensi
Ada dua konsep efisiensi dalam penyelenggaraan produksi yaitu efisiensi teknis dan ekonomis. Efisiensi teknis menyatakan perbandingan output fisik dengan input fisik telah mencapai maksimum. Efisiensi ekonomis menyatakan kondisi proses produksi telah mencapai keuntungan yang maksimum berupa nilai uang (bukan berupa hasilproduk fisik).
2. Konsep Biaya Alternatif Terbaik/Opportunity Cost
Opportunity Cost adalah nilai produk yang tidak diproduksikan karena inputnya telah digunakan untuk menghasilkan produk lain. Jika input X telah digunakan untuk produksi Y1 dengan laba Rp 1000,-, sedangkan penggunaan input X untuk produksi alternatifnya Y2 adalah Rp 2000,-, maka Opportunity Cost Y1 adalah Rp 2000,-. (Rp 2000,- adalah laba terbaik dari laba yang mungkin dapat diperoleh).
3. Konsep Keuntungan Maksimum dan Kerugian Minimum
Keuntungan maksimum dan kerugian minimum merupakan perwujudan perilaku produsen yang mengejar kepuasan maksimum dari apa yang dikerjakan. Dengan menggunakan konsep tersebut memudahkan analisis kuantitatif dari perilaku produsen yang bersifat abstrak.
4. Konsep Optimasi
Optimasi adalah keputusan produsen bekerja dengan optimal (optimum = seimbang = baik). Keadaan ini tercapai jika keuntungan maksimum tercapai atau dalam kerugian minimum.
5. Konsep Jangka Waktu Produksi
Ada dua jangka waktu yang menjadi perhatian dalam analisis produksi yaitu jangka pendek (Short Run) dan jangka panjang (Long Run). Short Run adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah output tanpa mengubah kapasitas usaha (perusahaan). Sedangkan Long Run adalah jangka waktu yang cukup lama untuk mengubah output dengan mengubah kapasitas usaha (perusahaan).
6. Konsep Mekanisme Pasar
Mekanisme pasar adalah bekerjanya perekonomian melalui pasar. Dalam mekanisme pasar, tingkat harga ditentukan oleh kebebasan bertindak agen-agen ekonomi yang menghasilkan kekuatan permintaan dan penawaran.
7. Konsep Marjinal/Marginal
Konsep adalah perbandingan antara nilai tambahan produk dengan nilai tambahan satu satuan input. Konsep ini untuk menentukan tingkat optimalisasi.
8. Law of Increasing Return
Hukum ini menyatakan bahwa setiap penambahan input kepada input yang tetap, akan menghasilkan tambahan output yang semakin besar dibanding tambahan inputnya.
9. Law of Diminishing Return
Hukum Law of diminishing return ini menyatakan bahwa setiap penambahan input kepada input yang tetap akan menghasilkan tambahan output yang semakin lama menjadi semakin kecil dibandingkan tambahan inputnya.
10. Law of Decreasing Return
Hukum Law of Decreashing Return ini menyatakan bahwa setiap penambahan input kepada input yang tetap akan menghasilkan penurunan output yang semakin lama menjadi semakin besar dibandingkan tambahan inputnya

11. Economics of Scale dan Diseconomic of Scale
Economics of Scale adalah penghematan kegiatan produksi karena skala usaha menjadi lebih besar. Sedangkan Diseconomic of Scale adalah pemborosan kegiatan produksi karena skala usaha menjadi lebih besar

6.4. Faktor-Faktor Produksi

Telah dijelaskan bahwa produksi melibatkan aktivitas memasukkan barang dan jasa yang dinamakan input untuk memperoleh barang dan jasa lain yang dinamakan output. Input dan output merupakan barang dan jasa yang belum dinilai dengan satuan harga, jadi masih dalam wujud satuan fisik seperti apa adanya. Istilah yang populer dari input adalah sumberdaya. Ada beberapa sumberdaya yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk dan dapat digolongkan menjadi empat golongan besar, yaitu

  1. Sumberdaya alam : Yang termasuk sumber daya alam adalah tanah dan pekarangan yang dimilikinya beserta bangunan maupun tanaman yang tumbuh berdiri di atasnya air, cuaca dan iklim, lengkap dengan kandungan hara yang menentukan tingkat kesuburan tanah tersebut. Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat luas, sangat subur, sangat kaya akan hasil tambang dan memiliki kekayaan laut yang sangat berlimpah.
  2. Sumber daya capital : Yang termasuk sumber daya capital atau sumber daya modal adalah dana atau uang yang dimilikinya, serta penghasilan yang diperolehnya. Termasuk pula sebagai sumber daya capital adalah peralatan atau mesin-mesin yang dimilikinya
  3. Sumberdaya manusia : Yang termasuk dalam sumber daya manusia adalah manusia yang akan merupakan tenaga kerja (kuantitas dan kualitas tenaga kerja) yang akan bekerja untuk merealisasikan tujuan yag ingin dicapainya. Sumber daya manusia yang banyak seperti yang terdapat di Indonesi perlu dikembangkan agar menjadi sumber daya yang efektif dan bukan malah menjadi beban pembangunan dalam meraih tujuan.
  4. Sumberdaya manajemen sebagai hasil kajian terhadap strategi dan teknik keberhasilan usaha.

Sumber yang adanya bersifat mutlak untuk menghasilkan produk dinamakan “Faktor Produksi”. Keadaan jumlah dan kualitas faktor produksi menentukan jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan dalam proses produksi. Dalam keadaan teknologi tertentu, hubungan antara faktor produksi dengan produknya tercermin dalam spesifikasi fungsi produksinya.

Ada juga yang menggolongkan sumberdaya menjadi dua bagian besar, yaitu :

  1. Sumberdaya manusia (human resources) dan
  2.  Sumberdaya bukan manusia (non- human resources).

Sumberdaya tersebut mempunyai karakteristik yaitu :

  1. Terbatas dalam jumlahnya,
  2. Dapat berubah-ubah untuk dipakai dalam berbagai penggunaan alternatif, dan
  3. Dapat dikombinasikan dalam berbagai proporsi untuk menghasilkansuatu produk.

Pengembangan Sumber Daya Manusia

Sumber daya manusia merupakan sumber daya organisasi selain sumber daya alam dan sumber daya modal. Sumber daya manusia dikelola dengan sangat hati – hati mengingat bahwa yang menjadi sasaran atau objek pengelolaannya dalam hal ini adalah manusia. Oleh karena itu dalam mengelola sumber daya manusia berarti bahwa baik yang mengelola maupun yang dikelola adalah sama-sama manusia. Perlu diperhatikan bahwa masing-masing manusia mempunyai cipta, rasa dan karsa sendiri-sendiri.

Sikap dan perilaku kondisi tersebut hanya dapat dipengaruhi oleh lingkungannya. Kondisi alam yang subur misalnya seringkali membuat manusia yang menghuninya menjadi bersifat malas dan kurang rajin. Sebaliknya kondisi alam yang kurang subur membentuk manusia penghuninya menjadi rajin dan bekerja keras.

Disamping kondisi alam dan lingkungan itu, kondisi pergaulan manusia itu sendiri dengan masyarakat disekelilingngnya juga akan membentuk kebiasaan-kebiasaan tertentu dalam alam pergaulan hidup manusia. Kebiasaan yang selalu berulang-ulang akanmenjadi budaya.

Perkembangan teori manajemen dalam bidang sumber daya manusia sangat menonjol seperti yang berkembang di Jepang yang dikemukakan oleh William G. Ouchi (yang kemudian teori ini disebut teori Z) yang mengajaekan bahwa keberhasilan tujuan manajemen sangat dipengaruhi oleh suatu upaya yang dilakukan manajer sebagai pengelola organisasi terhadap sumber daya manusia secara keseluruhan yang ada dan bekerja dioprganisasi yang dipimpinnya.

Dengan mempelajari kaitan faktor produksi dengan produksinya seperti di atas, maka sekilas nampak mudah untuk membedakan mana faktor produksi dan mana yang termasuk produknya. Kesulitan yang dapat timbul adalah “adanya produk yang butuhkan untuk memproduksi produk lain”. Sebagai contoh :

  1. Pakan jadi yang berupa ransum. Apakah ransum ini termasuk faktor produksi/input ataukah produk/output?
  2. Daging sapi. Apakah daging sapi ini termasuk faktor produksi/input ataukah produk/output?
  3. Kecakapan atau skill. Apakah skill ini termasuk faktor produksi/input ataukah produk/output?

Agar dapat lebih jelas dalam membedakan mana faktor produksi dan mana hasil produksinya maka perlu diingat “Tujuan akhir dari seorang produsen itu sendiri”.

Berdasarkan hal tersebut maka contoh diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Ransum ternak bagi produsen makanan ternak merupakan hasil akhir yang dituju sehingga ransum ternak tersebut yang menjadi produknya. Faktor produksinya mungkin saja berupa tenaga kerja dan modal. Bagi produsen susu sapi, ransum jadi tersebut bukan menjadi tujuan akhir. Tujuan akhir produsen adalah produk air susu sapi, dengan demikian ransum diperlukan untuk menghasilkan air susu sapi. Sehingga ransum tersebut merupakan faktor produksi sedangkan air susu sapi sebagai produknya.
  2. Daging sapi bagi produsen “dendeng” merupakan faktor produksi, sedangkan bagi produsen sapi merupakan hasil produksi.
  3. Kecakapan/skill bagi produsen ternak merupakan faktor produksi, tetapi bagi produsen pakar (perguruan tinggi) merupakan hasil produksi.

Beberapa Ahli membagi input produksi atau faktor-faktor produksi ada dua macam, yaitu :
1. Faktor Produksi asli;
2. Faktor Produksi turunan;

Faktor Prosuksi Asli antara lain sebagai berikut :

a. Alam, alam berperan sebagai factor produksi dan berbagai hasil alam dan sumbangannya bagi produski :

  1. Tanah, tanah yang bagus untuk ditanami membawa keuntungan yang besar bagi petani. Bagi pengrajin gerabah, tanah yang liat bisa menjadi bahan baku yang untuk pembuatan gerabah.
  2. Air, Banyak usaha produksi tergantung pada air. Tanpa kesediaan air bersih pabrik pengolahan air minum akan mati. Air laut berguna sebagai bahan pembuatan garam dan banyak lagi kegunaan air yang lain.
  3. Udara. Kegunaan udara ini sangat banyak disamping untuk yang kita hirup juga berguna sebagai memutar kincr angina, selain itu udara mampu mempengaruhi iklim dan menunjang kesuburan tanah.
  4. Sinar Matahari, ini sangat berguna bagi kehidupan selain digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik dan tenaga surya sinar matahari dapat membantu kesuburan tanah, para petani dan pemilik perkebunan sangat membutuhkannya.
  5. Tumbuh-tumbuhan. Mulai dari tumbuhan yang ada di belakang rumah hingga yang ada di kebun mempunyai peranan penting bagi produsen.
  6. Hewan, Bagi petani hewan dapat digunakan sebagai pembajak sawah (sapi, kerbau) atau menarik kendaraan (kuda), dan juga hewan dapat dikonsumsi oleh manusia.
  7. Barang Tambang. Berbagai barang tambang berguna sebagai bahan baku produksi, mulai dari minyak sebagai bahan baker, emas untuk perhiasan dn lain sebagainya.

b. Tenaga Kerja. Tanpa adanya tenaga kerja, sumber daya alam yang tersedia tidak akan dapat dirubah menjadi barang hasil produksi.

  1. Tenaga kerja menurut sifat kerja dapat dibagi atas tenaga kerja rohani dan tenaga kerja jasmani. Tenaga kerja rohani merupakan tenaga kerja yang menekankan kemampuan berfikir. Tenaga kerja jasmani merupakan tenaga kerja yang menekankan kemampuan fisik dalam proses produksi.
  2. Tenaga kerja menurut kualitas dapat dibagi atas :
  • Tenaga kerja tidak terdidik dan terlatih,
  • Terdidik dan terlatih.
  • Terlatih.

Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih tidak dibutuhkan pendidikan khusus untuk melakukan pekerjaan ini. Contoh Pesuruh, Pembantu, Kuli dll.
Tenaga kerja terdidik dan terlatih, mereka memiliki keahlian dan pendidikan sesuai bidangnya. Semakin ahli semakin mahal harganya dan semakin sulit untuk dicari. Contoh : Pengacara, Dokter dll.
Tenaga kerja terlatih, mereka memiliki keterampilan di bidangnya, tidak perlu pendidikan tinggi, contoh ; penjahit, pengemudi dll.

Faktor Produksi Turunan. Antara lain sebaga berikut :

  1. Modal. Meski tersedia bahan baku dan manusia yang dapat mengolahnya, bila tidak ada modal, produksi tidak akan berjalan dengan baik. Jangan bayangkan modal semata-mata berupa uang. Modal lebih luas dari itu karena meliputi semua alat yang dipergunakan sebagai penunjang proses produksi. Modal terdiri dari beberapa macam yang dapat dibedakan wujudnya, sifat, subjek, bentuk, maupun sumbernya.
  2. Keahlian. Yang dimaksud dengan keahlian adalah kemampuan pengusaha sebagai produsen untuk mengolah factor-faktor produksi di atas hingga dapat melakukan tindak produksi yang efektif dan efesien.

6.5.    Fungsi Produksi
Setiap produk dihasilkan melalui suatu proses produksi. Input produksi yang terdiri dari tenaga kerja (L), modal (K), sumber daya (R), teknologi (T), dan lainnya, akan diproses menjadi suatu output (Q) berupa barang atau jasa. Hubungan yang terjadi antara jumlah input produksi yang diperlukan dengan jumlah output yang dihasilkan disebut dengan fungsi produksi (production function).

Fungsi produksi merupakan interaksi antara masukan dengan keluaran. Misalkan kita akan memprosukdi jeans. Jeans itu bisa di produksi dengan berbagai macam cara. Kalai salah satu komposisinya diubah begitu saja, maka hasilnya akan berubah. Secara sistematis fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut :
FQ = L + R + C + T
Dimana :
Q = jumlah barang yang dihasilkan
F = Simbol persamaan
L = Tenaga Kerja
R = Kekayaan alam
C = Modal
T = Teknologi
Fungsi produksi akan memberi gambaran kepada kita tentang jumlah maksimum output yang dapat dihasilkan, atas penggunaan sejumlah tertentu dari input-input produksi. Melalui fungsi produksi kita juga bisa melihat bagaimana komposisi dari berbagai kombinasi input, untuk menghasilkan jumlah tertentu dari output. Isocost dan Isoquant merupakan dua pendekatan yang memungkinkan untuk melakukan analisis optimasi faktor produksi, untuk menghasilkan output maksimum.

Dalam teori produksi ada tiga konsep penting, yaitu Produksi Total (Total Production/TP), yang menggambarkan jumlah keseluruhan produksi yang dihasilkan. Produksi Rata-rata (Average Product/AP) yaitu jumlah produksi dibagi dengan jumlah input produksi, dan Produksi Marginal (Marginal Product/MP) yang merupakan tambahan hasil produksi dari setiap penambahan satu unit input.

Bagian produksi adalah suatu bagian yang ada pada perusahaan yang bertugas untuk mengatur kegiatan-kegiatan yang diperlukan bagi terselenggaranya proses produksi. Dengan mengatur kegiatan itu maka diharapkan proses produksi akan berjalan lancar dan hasil produksi pun akan bermutu tinggi sehingga dapat diterima oleh masyarakat pemakainya. Bagian produksi dalam menjalankan tugasnya tidaklah sendirian akan tetapi bersama-sama dengan bagian-bagian lain seperti bagian pemasaran, bagian keuangan serta bagian akuntansi. Oleh karena itu haruslah diadakan koordinasi kerja agar semua bagian dapat berjalan seiring dan seirama dan dapat dihindarkan benturan – benturan kepentingan antar bagian dalam perusahaan.

Tanpa adanya perencanaan yang matang, pengaturan yang bagus serta pengawasan akan mengakibatkan jeleknya hasil produksi. Di samping hasil produksi yang harus bagus kwalitasnya juga harus di pikirkan pula agar jangan sampai terjadi hasil produksi bagus tapi ongkos yang diperlukan untuk keperluan itu terlalu besar. Biaya produksi yang terlalu tinggi akan berakibat harga pokok produksinya menjadi besar dan hal ini akan mengakibatkan tingginya harga jual produk, sehingga akan tidak terjangkau oleh konsumen. Inilah yang merupakan tugas dari bagian produksi. Tugas-tugas tersebut akan dapat terlaksana dengan baik dengan mengacu pada pedoman kerja tertentu.

Pedoman kerja yang harus menjadi arah kerja bagi bagian produksi dapat dirumuskan dalam empat hal yaitu :
1. Tepat Jumlah
2. Tepat Mutu
3. Tepat Waktu
4. Tepat Ongkos/Harga

Jumlah produk yang dihasilkan haruslah direncanakan dengan baik agar tidak terlalu banyak maupun terlalu sedikit. Bila produksi terlalu banyak tentu saja akan mengakibatkan bertumpuknya hasil produksi di gudang. Hal ini akanmengakibatkan disamping barang tersebut akan mengalami kerusakan dalam penyimpanannya, maka penumpukan tersebut berarti banyak modal yang tertanam dalam barang jadi itu berhenti dan menjadi kurang efektif.

Dengan pedoman pada empat hal tersebut maka bagian produksi akan dapat mencapai sasarannya dengan baik. Keempat hal tersebut dapat dikenal dengan mudah sebagai “empat tepat”.

Adapun tugas tersebut secara garis besarnya dapat kita bagi menjadi beberapa macam yaitu :
1. Perenganaan Produk
2. Perencanaan Luas Produksi
3. Perencanaan Lokasi Pabrik
4. Perencanaan Layout Mesin-mesin Pabrik
5. Perencanaan Bahan Baku
6. Pengaturan Tenaga Kerja
7. Pengawasan Kwalitas

A.   Perencanaan Produk
Proses produksi akan menghasilkan produk. Produk yang dihasilkan dapat berupa barang yaitu benda yang berwujud akan tetapi dapat pula berupa benda yang tak berujud yang sering disebut jasa. Barang atau benda yang berujud misalnya meja kursi, alat tulis, sepeda, sepeda motor, mobil dan sebagainya. Sedangkan produk yang berupa jasa misalnya jasa kecantikan, jasa kesehatan, jasa keuangan, jasa penanggungan risiko, jasa pendidikan dan sebagainya. Baik barang maupun jasa yang dihasilkan oleh suatu perusahaan harus direncanakan dengan baik agar produk yang diciptakan itu nanti dapat bermutu tinggi., ongkos produksi murah, dan cocok dengan selera konsumen pemakainya.

Produk yang dapat memenuhi syarat tersebut di atas akan menjadi andalan pengusaha agar mampu untuk meningkatkan perkembangan usahanya. Produk yang tidak memenuhi syarat itu justru akan menjadi beban perusahaan menjadi semakin tinggi sehingga akan menggangu pertumbuhan usahanya. Oleh karena itu maka pengusaha haruslah memikirkan mengenai Mutu Produk yang akan diproduksinya. Mutu suatu produk akan tergantu dari berbagai aspek terutama desainya. Dengan perencanaan terhadap desain produk yang baik maka dapat kita harapkan bahwa produk kita akan dapat diterima oleh konsumen dan dengan demikian akan dapat menopang perkembangannya. Untuk merencanakan disain atau mutu produk kita perlu mengetahui bahwa produk itu terdiri dari berbagai atribut.

Misalnya produk yang berupa “KARPET” misalnya.  Produk karpet terdiri dari tiga atribut utama yaitu :
- Kehalusan setuhannya
- Ketebalan bulunya
- Keserasian warnanya

Dalam merencanakan produk yang akan kita hasilkan itu maka perlu diperhatikan beberapa hal yaitu :
1. Atribut Produk
2. Posisi Produk
3. Siklus Kehidupan Produk
4. Partofolio Produk

Atribut Produk
Setiap produk akan selalu memiliki atribut-atribut tertentu yang terkandung di dalam produk tersebut. Sepeda motor memiliki atribut keawetan pemakainnya, penampilannya, harga jual kembalinya dan mungkin kepopulerannya. Produsen haruslah memperhatikan atribut-atribut tersebut dan dengan menyesuaikannya dengan atribut itu akan menjamin bahwa produk tersebut akan disenagi konsumen. Oleh karena itu maka perlu diteliti lebih cermat atribut-atribut tersebut.

Dalam hal ini pengusaha haruslah memperhatikan bahwa atribut-atribut tersebut selalu terdiri atas dua aspek yaitu :
a. Aspek Teknis
b. Aspek Nonteknis

Atribut yang beraspek teknis adalah yang berkaitan dengan kemampuan teknis dari produk tersebut misalnya keawetannya sepeda motor, tidak blobornya suatu bolpoint, halusnya karpet, enak didengarnya musik tertentu, nikmatnya rasa masakan, indahnya taman rekreasi dan sebagainnya. Aspek ini yang merupakan aspek kasat mata atau dapat dilihat dengan mata, baik mata kepala, mata telinga, mata lidah maupun mata kulit kita. Aspek ini sering juga disebut sebagai tangible aspect atau aspek yang kasat mata.

Aspek yang nonteknis merupakan aspek yang tidak kasat mata atau intangible aspect. Aspek ini hanya dapat ditemukan dengan mata hati atau rasa atau feeling. Aspek ini merupakan aspek perasaan atau persepsi konsumen apabila dia menggunakan produk tersebut.

Posisi Produk
Posisi produk merupakan pandangan konsumen terhadap posisi dari berbagai produk yang ditawarkan oleh para bisnisman kepadanya. Ada suatu produk tertentu yang berkenan di hati para konsumen dan ada pula produk lain yang tidak atau kurang berkenan dihatinya. Ada Bank yang menyenangkannya dan adapula Bank yang menjengkelkannya karena pelayanan yang sangat lamban dan sangat tidak praktis sehingga menyulitkan nasabahnya padahal dia justru akan menyetorkan uangnya ke Bank tersebut.

Keadaan ini dapat kita analisis dengan menggunakan suatu alat analisi yang disebut “Analisa Posisi Produk” atau “Product Positionning”. Analisis ini menggambarkan atribut utama penentu pemilihan suatu produk dari para konsumen.

Siklus Kehidupan Produk
Setiap produk akan selalu memiliki jangkauan masa hidup yang berbeda-beda. Ada produk yang memiliki masa hidup yang panjang dan ada pula yang memiliki masa hidup yang sangat pendek. Pada umumnya produk-produk yang bersifat mode akan memiliki masa hidup yang pendek. Produk semacam ini akan sangat cepat menjadi tidak disenagi konsumen karena sudak akan digeser oleh mode yang baru.

Siklus kehidupan suatu produk itu dibagi menjadi 4 tahap atau fase.
a. Tahap yang paling awal dimulai dari diperkenalkanya produk tersebut kepada masyarakat luas di pasar. Tahap tersebut lalu disebut sebagai Tahap Perkenalan atau Introduction Phase. Dalam tahap ini karena masih tahap perkenalan maka pertumbuhan hasil penjualan akan sangat lamban. Hal ini terlihat dari garis pertumbuhan penjualannya dalam grafik tersebut yang landai.

b. Tahap yang berikutnya adalah suatu tahap yang merupakan perkembangan berikutnya setelah tahap perkenalan itu berhasil maka produk itu akan mejadi sangat terkenal oleh masyarakat luas dan mereka mulai menyenangi produk tersebut. Karena produk tersebut mulai digemari oleh konsumen maka tentu saja penjualannya akan menjadi berkembang pesat. Hal ini terlihat dari gambar garis siklus menjadi menanjak dengan tajam. Tahap ini merupakan tahap atau Fase

c. Pertumbuhan/Perkembangan atau Growth Phase.
Tahap terakhir adalah tahap dimana produk tersebut setelah mengalami kondisi jenuh itu ternyata semakin lama semakin banyak masyarakat yang justru tidak lagi menyenaginya dan kemudian lalu meninggalkannya serta tidak lagi mau menggunakan produk tersebut. Kondisi ini akan mengakibatkan turunnya volume penjualan dari produk itu. Dengan demikian maka terjadilah Tahap

d. Penurunan atau Decline Phase.
Tahap persiapan penggantian produk baru yang akan menggantikan produk yang sudah mengalami penurunan ini sering disebut Tahap Penciptaan Produk Baru atau New Product Development (NDP).
 
Portofolio Produk
Portofolio produk merupakan keadaan dimana suatu perusahaan memiliki beberapa macam produk yang dihasilkannya dan dipasarkannya kepada masyarakat luas. Dengan demikian maka perusahaan itu memiliki sekumpulan produk yang harus bersama-sama sekaligus untuk dipikirkannya. Oleh karena itulah maka lalu dikenal sebagai pemikiran tentang sekumpulan produk atau Product Portofolio.

Perusahaan yang memiliki sekumpulan produk tersebut pada umumnya akan berada pada posisi yang berbeda pada masing-m,asing produk yang dimiliki. Salah satu produknya mungkin ada yang berada pada posisi Anak Bawang. Posisi ini merupakan produk yang mana perusahaan belum memiliki kemampuan untuk mengekploitasi secara baik serta kesempatan pasar atau opportunitynya masih rendah. Dalam kondisi ini pada umumnya merupakan produk yang belum memperoleh nama dan merupakan pendatang baru. Karena pendatang baru maka lalu dia disebut sebagai Anak Bawang atau dalam bahasa jawa “Pupuk Bawang” dan dalam bahasa asing disebut sebagai Under Dog bahkan sering disingkat Dog.

Posisi lain lagi adalah tanda Tanya. Dalam posisi ini terjadi apabila potensi pasar telah menunjukkan adanya kenaikan yang cukup tinggi, sedangkan perusahaan masih belum meningkatkan kemampuannya. Dalam kondisi macam ini maka akan menimbulkan kegelisahan atau pemikiran bagi pengusaha apakah dia akan berani menambah kemampuannya untuk mengeksploitasi kesempatan pasar yang sudah terlihat meningkat itu apa tidak. Persoalan yang timbul dalam hal ini adalah masalah investasi untuk meningkatkan kemampuan perusahaan untuk mengeksploitasi potensi pasar yang sudah terlihat membaik itu. Karena masalah itu maka kondisi ini lalu dikenal sebagai posisi

Tanda Tanya atau dalam bahasa asing disebut Question Mark.
Posisi berikutnya adalah posisi bintang atau star. Posisi ini merupakan posisi dimana pengusaha tersebut telah berhasil untuk mengembangkan kemampuan sehingga dapat memiliki kemampuan yang tinggi terhadap potensi pasar yang memang sudah tinggi itu.

Posisi yang terakhir yaitu “Sapi Perah” ini sering disebut juga “Cash Cow”. Pada posisi ini karena potensi pasar sudah mengalami kejenuhan dimana pertumbuhan pasarnya sudah tidak sepesat pada posisi bintang, maka para pesaing sudah tidak begitu tertarik lagi menyerangnya. Oleh karena tidak banyak lagi yang menggangunya di pasar maka dalam posisi inilah pengusaha akan menikmati keuntungan yang maksimal.

B.   Perencanaan Luas Produksi
Perencanaan luas produksi merupakan masalah penentuan terhadap berapa banyak jumlah volume produksi yang harus dihasilkannya dalam periode atau tahun tertentu. Masalah ini sering disebut sebagai penentuan target produksi. Berapa target produksi untuk tahun yang akan dating merupakan persoalan yang harus di terapkan oleh manajer produksi. Dengan target itulah maka rencana ataupun program-program produksi seperti pengadaan bahan, tenaga kerja, bahan pembantu, peralatan-peralatan yang diperlukan beserta prosesnya pun akan dapat direncanakan dengan lebih cermat. Untuk keperluan itulah maka luas produksi perlu ditentukan terlebih dahulu. Untuk menentukan luas atau target produksi itu maka tentu saja akan banyak factor yang perlu diperhatikan. Factor-faktor tersebut akan mempengaruhi dan menentukan besar kecilnya target produksi kita.

Adapun factor – factor penentu produksi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Bahan baku yang tersedia
2. Tersedianya tenaga kerja (ahli) yang diperlukan
3. Dana yang diperlukan untuk pembiayaan
4. Besarnya potensi pasar yang terbuka

Suatu model yang dapat kita pergunakan untuk menganalisa ini adalah apa yang sering disebut sebagai analisa “Titik Pulang Pokok” atau “Titik Impas” atau “Break Even Point” yang sering disebut “BEP”. Analisa BEP ini akan menggambarkan kondisi perongkosan produksi serta hasil yang diperoleh dari produksi itu. Dalam hal ini kita harus membedakan perongkosan produksi itu menjadi ongkos tetap dan ongkos variable.

Ongkos tetap adalah ongkos yang tidak berubah besarnya meskipun volume produksi bertambah. Ongkos ini akan tetap saja besarnya meskipun volume produksi diturunkan maupun dinaikkan. Biaya jenis ini adalah biaya yang pada umumnya ditentukan atas dasar waktu atau periode.

Biaya variable adalah biaya yang besarnya selalu mengikuti dan tergantung dari besar kecilnya volume produksi. Setiap volume produksi bertambah maka biaya itu pun akan ikut bertambah pula besarnya. Sebaliknya bila kita mengurangi biaya itupun akan berkurang pula. Yang akan selalu merupakan biaya variable ini adalah biaya bahan baku. Biaya bahan baku tentu saja akan selalu mengikuti jumlah yang diproduksi. Hanya saja dalam hal ini variabilitasnya bisa berbda-beda. Ada biaya variable yang progresif, degresif serta proposional. Progresif berarti kenaikannya cepat, degresif berarti kenaikannya semakin menurun sedangkan proposional berart kenaikannya selalu sama. Biaya variable progresif akan menunjukkan garis melengkung ke atas, degresif akan lengkung ke bawah sedangkan proposional akanmerupakan garis lurus. Dalam hal ini biaya variable kita anggap proposional.
Penjumlahan dari kedua ongkos itu akan menghasilkan biaya total atau “Total Cost”.

Apabila grafik Total Biaya kita gabungkan secara bersama-sama dengan grafik total hasil maka akan terlihat keadaan perongkosan serta hasil segara bersama-sama sekaligus. Dari penggabungan tersebut maka akan dapat diketahui perpotongan antar garis total ongkos dengan total hasil. Dalam titik itu karena hasil yang diperoleh hanya dapat menutup biaya-biayanya maka titik itulah yang disebut sebagai titik impas atau titik pulang pokok atau BEP.

Proses berikutnya dalam penentuan luas produksi adalah kita hubungkan dengan besarnya kapasitas mesin yang tersedia, bahan baku yang tersedia, serta permintaan yang diproyeksi untuk tahun yang diproduksi kita.

Karena BEP adalah titik potong antara Total Hasil dengan Total Biaya maka kita akan dapat mencari titik BEP tersebut dengan membuat persamaan garis dari keduanya yaitu dengan cara :

Dari perhitungan itu maka dapat kita lihat BEP dalam unit atau volume produksi pada BEP adalah sebesar Biaya Tetap dibagi dengan selisih antara harga jual per unitnya dikurangi dengan Biaya Variabel per unitnya. Jadi apabila kita megetahui besarnya biaya tetap, biaya variable per unitnya serta harga jual per unit produknya maka kita akan dapat memperhitungkan besarnya titik impas kita.

C.  Perencanaan Lokasi Pabrik
Persoalan berikutnya yang harus dipikirkan oleh manajer produksi adalah tentang dimana pabrik yang akan memproduksikan barang-barang itu harus didirikan. Persoalan ini merupakan persoalan posisi pabrik. Dalam praktek kita sering menjumpai bahwa pabrik=pabrik banyak didirikan orang diluar perkotaan seperti di daerah pinggiran kota Jakarta, Surabaya atau kota-kota lainnya. Bahkan ada pula yang didirikan jauh dari kota dan bahkan di puncak gunung atau di tengah hutan, seperti halnya perusahaan pertambangan misalnya.

Persoalan lokasi pabrik ini memang sangat ditentukan oleh beberapa factor penentu utama yaitu :
1. Bahan Baku
2. Pasar
3. Lahan untuk Ekspansi
4. Pembangkit Tenaga (Power)
5. Tenaga Kerja
6. Fasilitas Transportasi
7. Dampak Lingkungan

Pada umumnya kondisi lahan di daerah pinggiran kota merupakan daerah yang paling banyak memenuhi syarat dari beberapa factor tersebut di atas. Apabila didirikan di tengah kota maka akan banyak mencemarkan lingkungan pemukiman yang berada di tengah kota tersebut. Sebaliknya apabila terlalu jauh dari kota akan mengakibatkan biaya angkutan barang jadi untuk di bawa ke pasar yaitu di kota menjadi sangat mahal, selain pembangkit tenaga ataupun permodalannya menjadi kesulitan.

D.  Perencanaan Layout Pabrik
Mesin-mesin dan fasilitas pabrik haruslah disusun serta diatur sedemikian rupa sehingga dapat menjamin kelancaran proses produksi. Pemikiran tentang penyusunan fasilitas-fasilitas pabrik seperti mesin-mesin, alat-alat kantor, alat-alat pengangkutan tempat penyimpanan barang jadi maupun bahan baku, tempat makan beserta dapurnya, rest-room bagi tenaga kerja, termasuk juga show-room merupakan persoalan tetang Layout Pabrik. Dalam hal ini tentu saja kita harus melaksanakan pembagian tempat atau “Zonning” bagi tanah atau lyang tersedia. Dengan melakukan Zonning itu dimaksudkan untuk membagi-bagi lahan yang ada ke dalam zone-zone yang akan diperuntukkan bagi masing-masing keperluan di atas.

Beberapa pertimbangan penting yang ada dalam mengatur susunan atau layout pabrik ada beberapa macam yaitu :
1. Kelancaran aliran proses produksi
2. Kebutuhan Administrasi/perkantoran
3. Kebutuhan Penjualan
4. Lalulintas pengangkutan barang serta bahan
5. Penerangan dan ventilasi
6. Bentuk pabrik dan biaya pembangunanya
7. Biaya produks

E. Perencanaan Bahan Baku
Bahan baku harus direncanakan sedemikian rupa sehingga menopang tercapainya tujuan bagian produksi yaitu tepat jumlah., tepat mutu, tepat waktu dan tepat ongkos atau harganya. Pengaturan bahan baku memiliki 2 aspek utama yaitu :
1. Penyediaan
2. Penggunaan

Penyediaan Bahan
Konsekuensi biaya yang terjadi dalam pengadaan bahan itu ada dua macam yaitu :
(1) Biaya Pembelian atau Pemesanan (Ordering Cost)
Biaya pembelian adalah biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dalam melakukan kegiatan pembeliannya atau pemesanan bahan bakunya. Jadi biaya pembelian adalah biaya untuk melakukan kegiatan pembelian. Hal ini perlu diingatkan bahwa sering kali terjadi kekeliruan pengertian bahwa biaya pembelian itu diperhitungkan sebagai biaya atau harga bahan yang kita beli pada saat kita membeli bahan itu. Hal ini tidak benar. Harga bahan yang kita beli bukan merupakan biaya pembelian akan tetapi masuk sebagai biaya bahan, sedangkan biaya pembelian adalah biaya yang harus ditanggung dari kegitan pembeliannya seperti transportasi, komunikasi, penginapan, dan pelaksanaan pembelian tersebut.

(2) Biaya Penyimpanan (Carrying Cost)
Biaya penyimpanan adalah biaya yang harus ditanggung karena kita harus menyimpan bahan yang sudah dibeli dan belum dipergunakan dalam proses produksi.
Kedua biaya tersebut akan ditanggung bersama-sama oleh pengusaha. Oleh karena itu maka secara bersama akan membentuk total biaya persediaan yang merupakan jumlah dari kedua biaya tersebut.
Titik atau jumlah pembelian yang paling ekonomis yang dalam bahasa asing adalah “Economical Order Quantity” dan disingkat EOQ. Jumlah tersebut di pandang paling ekonomis karena total biaya yang ditanggungnya adalah yang tersendah.
Titik terendah dari total biaya persediaan yang menimbulkan titik EOQ tersebut akan tercapai bila biaya penyimpanan sama besarnya atau berpotongan dengan biaya pemasaran.

6.6.  Biaya Produksi
Konsep biaya produksi menggambarkan bagaimana suatu perusahaan akan mencari tingkat output optimal dalam mencapai tingkat keuntungan maksimum. Menurut Sadono Sukirno, definisi dari biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan tersebut.

Biaya produksi dapat dibedakan menjadi: pertama, biaya produksi jangka pendek yang diartikan bahwa sebagian faktor produksi yang digunakan adalah tetap atau tidak dapat ditambah jumlahnya. Kedua, biaya produksi panjang yang mempunyai pengertian bahwa semua biaya dapat berubah, sehingga tidak ada lagi biaya tetap.

Pada jangka pendek, total biaya produksi terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Sedangkan untuk jangka panjang semua biaya merupakan biaya variabel. Pada jangka panjang terjadi perubahan pada semua komponen biaya, sehingga total biaya hanya terdiri dari biaya variabel.

Fungsi Keuangan dalam Biaya Produksi
Fungsi keuangan bertujuan untuk mengatur pencarian sumber – sumber dana yang dibutuhkan bagi perusahaan dan kemudian mengatur penggunaan dari dana yang telah diperolehnya itu. Sumber dana yang dibutuhkan dapat diperoleh dari berbagai sumber, baik sumber dana intern yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri maupun sumber dana ekstern yang berasal dari luar perusahaan itu sendiri. Sumber dana intern itu sendiri adalah merupakan dana yang telah dihasilkan oleh bagian pemasaran sebagai akibat dari transaksi penjualan yang telah dilakukan dalam proses pemasaran. Sedangkan sumber dana ekstern adalah berasal dari masyarakat umum yang dalam hal ini berupa pembelian saham oleh masyarakat kepada saham-saham yang telah dikeluarkan atau diemisi oleh perusahaan tersebut. Perusahaan yang telah mengeluarkan sahamnya dan menjualnya kepada masyarakat umum sering disebut perusahaan yang “Go Public”. Sumber dana ekstern yang lain dapat berupa kredit dari bank atau pun kredit atau utang dari perusahaan lain baik utang dagang yang bersifat jangka pendek maupun utang obligasi serta hipotek yang berjangka waktu panjang. Dalam hal ini kredit jangka panjang ini perusahaan mengeluarkan surat pernyataan utang kepada pihak lain baik dari bank maupun orang atau perusahaan lain atas sejumlah uang tertentu untuk jangka waktu tertentu serta dengan tingkat bunga tertentu pula.

Sumber dana yang berasal dari kredit memerlukan beban financial tertentu yang berupa beban yang besar tetap pada tiap bulan atau tahun yaitu yang berupa beban bunga terhadap kreditnya itu. Dengan ditentukan besarnya bunga terhadap kreditnya maka perusahaan memiliki beban tetap sebesar persentase bunga kredit tersebut dikalikan dengan nilai nominal kreditnya. Lain halnya dengan sumber dana yang berasal dari penjualan saham. Modal saham yang dimiliki oleh perusahaan sebagai hasil emisinya itu akanmembawa konsekwensi financial yang berupa beban pembayaran deviden kepada para pemegang sahamnya itu. Oleh karena iti, pada umumnya sumber dana jangka pendek itu juga dipergunakan untuk membelanjai kebutuhan-kebutuhan yang bersifat jangka pendek pula. Selanjutnya sumber dana jangka panjang seperti utang jangka panjang, modal saham serta sumber dana intern dari laba usaha dapat digunakan untuk membelanjai kebutuhan jangka panjang.

Setelah sumber dana dapat diperoleh, maka tugas selanjutnya dari bagian keuangan adalah untuk mengatur penggunaan bagi dana yang telah diperoleh baik dari sumber intern maupun ekstern tersebut. Dana yang telah diperoleh itu dapat dipergunakan untuk kebutuhan-kebutuhannya.
Penggunaan sumber dana adalah merupakan persoalan sisi debit dari neraca. Sedangkan pencarian sumber dana merupakan persoalan mengenai sisi kredit dari neraca. Sisi debet neraca adalah berupa aktiva sedangkan sisi kredit dari neraca berupa pasiva. Jadi dengan kata lain kita dapat menyebutkan bahwa aktiva adalah merupakan penggunaan dana sedangkan pasiva adalah sumber dana kita.

Kebutuhan Finansial
Kebutuhan financial sebenarnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Kebutuhan Operasional
2. Kebutuhan Sumber Dana

Kebutuhan Operasional
Kebutuhan operasional merupakan kebutuhan terhadap barang – barang modal yang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan operasional sehari – hari. Jdi secara ringkas kebutuhan operasional perusahaan terdiri dari :
a. Kebutuhan Modal Kerja
b. Kebutuhan Modal Tetap
c. Kebutuhan Nama Baik (Goodwill)

Kebutuhan Sumber Dana
Dalam hal ini kita dapat mengambil atau menarik dana dari sumber dana yang berupa utang (modal asing) ataupun modal sendiri. Baik modal asing ataupun modal sendiri tersebut adalah merupakan sumber dana yang akan dipergunakan dalam membelanjai kebutuhan modal kerja tersebut.

Di tinjau dari segi alasannya maka sumber dana dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu :
a. Sumber Dana Ekstern
b. Sumber Dana Intern

Kalau ditinjau dari segi pemiliknya maka dapat dikelompokkan menjadi :
a. Modal Asing
b. Modal Sendiri

Pembagian yang lain adalah atas dasar waktu yang tercakup dalam sumber dana tersebut maka dapat dibagi menjadi :
a. Sumber Dana Jangka Pendek
b. Sumber Dana Jangka Panjang
Sumber dana asing adalah sumber dana yang mana pemilik dari sumber dana tersebut adalahmerupakan pihak luar dari perusahaan itu. Sumber dana macam ini pada kongkritnya adalah berupa hutang kepada pihak luar, baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang.

Sebagai contoh dari modal asing ini dapat disebut sebagai berikut :
- Utang Dagang
- Utang Obligasi
- Utang Hipotek
- Kredit dari Bank
- KMKP (Kredit Modal Kerja Permanen)
- KIK (Kredit Investasi Kecil)
- KI (Kredit Investasi) dan sebagainya

Sumber dana sendiri yaitu sumber dana dimana pemilik dan itu adalah merupakan pemilik perusahaan itu sendiri. Sumber dana ini sering disebut Modal Sendiri atau Owner’s Equty, sebagai contihnya sebagai berikut :
- Modal Saham Biasa (Common Stock)
- Modal Saham Preferen (Preffered Stock)
- Modal Statuta
- Modal Sendiri
- Laba Yang Ditahan (Retained Earning)

Sumber dana ekstern adalah sumber dana yang berasal dari luar perusahaan atau berasal dari masyarakat umum di luar perusahaan. Dalam hal ini maka modal asing maupun modal saham adalah merupakan sumber dana yang berasal dari luar perusahaan karena keduanya adalah berasal berasal dari masyarakat umum di luar perusahaan.

Sumber dana intern adalah sumber dana yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri. Sumber tersebut muncul dari adanya hasil yang diperoleh dari jalannya usaha yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Dari usaha itulah maka perusahaan akan memperoleh hasil serta laba atau profit.

Likuiditas
Likuiditas adalah merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk membayar kewajiban-kewajiban financial yang segera harus dilunasi (yang bersifat jangka pendek).

Kewajiban financial jangka pendek yang harus segera dipenuhinya itu dapat berupa utang yang sudah akan jatuh tempo dalam jangka dekat, upah tenaga kerja, utang bahan yang dibelinya, pembayaran rekening listrik, air minum yang deperlukan dalam proses produksinya dan sebagainya. Kewajiban tersebut dapat ditutup dari alat-alat likuid yang dimiliki perusahaan. Adapun alat likuidnya yang yang paling likuid adalah uang kas.

Current Ratio
Suatu ukuran likuiditas dapat dinyatakan dalam bentuk ratio atau perbandingan antara alat-alat likuid yang dimiliki utang-utangnya baik yang berupa utang pajak, utang dagang serta kewajiban financial yang lain yang segera harus dilunasi. Alat likuid tersebut adalah berupa aktiva lancer (Current Asset) sedangkan kewajiban financial berupa utang jangka pendek (Current Liabilities). Oleh karena itu likuiditas dapat dinyatakan dalam bentuk ratio antara Current Asset dengan Current Liabilitiesnya. Ratio macam ini disebut ratio likuiditas atau “CURRENT RATIO”.

Aktiva lancer adalah merupakan alat likuid, jadi yang termasuk alat likuid adalah :
1. Uang Kas
2. Piutang (Account Recievable)
3. Persediaan Barang Dagangan (Inventory)
4. Surat-surat berharga yang mudah untuk diperjual belikan (Marketable Securities)

Uang kas adalah merupakan alat likuid yang paling likuid, artinya sangat mudah untuk digunakan guna membayar kewajiban financial. Kewajiban financial dapat berupa utang, bunga pinjaman, dividen, upah buruh, rekening listrik, bayar pajak dan sebagainya.

Quick Ratio (Acid Test Ratio)
Dalam hal quick ratio ini kita membandingkan antara alat likuid yang mempunyai tingkat likuiditas tinggi yaitu uang kas dan piutang di satu pihak dengan kewajiban finansialnya. Jadi dalam hal ini kita membandingkan antara kas dan piutang dibandingkan dengan utang-utang jangka pendek.

Cash Ratio
Dalam hal cash ratio ini likuiditas diperhitungkan dengan membandingkan alat-alat likuid yang paling likuid yaitu uang kas dengan utang-utang jangka pendeknya.

Rentabilitas
Rentabilitas adalah merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atau keuntungan dari seluruh modal yang dimiliki. Ratio ini sering juga disebut rentabilitas ekonomis yang disingkat RE.  Disamping rentabilitas ekonomis kita juga mengenal rentabilitas modal sendiri yang sering disingkat RMS. RMS dapat dinyatakan sebagai berikut : Laba yang menjadi bagian dari modal sendiri itu adalah bukan seluruh laba akan tetapi total laba atau laba bruto dikurangi dengan beban bunga dan pajak penghasilan. Laba sesudah dikurangi bunga dan pajak ini sering disebut laba neto atau Earning After Tax yang disingkat EAT. Dalam hal rentabilitas Ekonomis maka laba yang diperhitungkan adalah laba bruto yang merupakan laba sebelum dikurangi bunga dan pajak sehingga sering disebut Earning Before Interest and Tax yang disingkat RBIT. Bagian laba yang dihasilkan oleh modal sendiri tidak termasuk bagian laba yang dihasilkan oleh modal asing. Adapun bagian laba yang dihasilkan oleh modal asing tidak lain adalah berupa bunga atau interest.

Pajak penghasilan adalah merupakan bagia laba yang harus disetor kepada Negara cq Jawatan Pajak sebagai imbalan kepada Negara yang telah memberikan fasilitas bagi perusahaan untuk mencari keuntungan di Negara yang bersangkutan.

Rentabilitas Ekonomis sering juga disebut sebagai Earning Power, sedangkan Earning Power ini dapat ditingkatkan dengan meningkatkan factor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya Earning Power itu. Adapun factor-faktor yang mempengaruhinya adalah sebagai berikut :

a. Profit Margin
Profit Margin adalah bagian laba yang dihasilkan oleh penjualan yang dapat direalisasikan oleh perusahaan dalam periode tertentu. Perhitungan profit margin per unit adalah laba per unit dibandingkan dengan harga jual per unit produk.
b. Asset Turnover atau Tingkat Perputaran Aktiva
Tingkat perputaran aktiva atau asset turnover adalah suatu angka yang menunjukan tingkat kecepatan perputaran dari aktiva tersebut didalam opersi perusahaan. Tingkat perputaran aktiva atau asset turnover (A.TO.)

Usaha Untuk Meningkatkan Rentabilitas Ekonomis
a. Peningkatan Profit Margin
Peningkatan provit margin ini dapat dilaksanakan dengan beberapa cara yaitu :
1. Meningkatkan harga jual
2. Meningkatkan Efisiensi
b.  Peningkatan Asset Turnover
Tingkat perputaran aktiva dapat ditingkatkan dengan berbagai cara yaitu :
1. Meningkatkan volume penjulan
2. Mengurangi aktiva atau kekayaan yang tidak efektif

Likuiditas Versus Rentabilitas
Apabila kita ingin menjaga likuiditas yang tinggi maka kita haruslah meyediakan alat-alat likuid terutama uang kas yang cukup besar, agar setiap saat kita bisa membayar kewajiban financial tersebut. Keadaan itu akan membawa konsekuensi bahwa kekayaan kita akan menjadi menganggur. Sedangkan pengaruh kekayaan ini akan mengakibatkan kurang efektifnya kekayaan tersebut, sehingga tingkat perputaran aktiva (asset turnover)kita akan menjadi rendah. Aseet Turnover yang rendah ini akan dapat mengakibatkan turunya rentabilitas ekonomis. Perusahaan yang mengalami keadaan semacam ini disebut perusahaan yang likuid tetapi tidak rendabel. Sebaliknya apabila kita mementingkan kepentingan rentabilitas maka hal ini berarti bahwa semua kekayaan atau aktiva yang kita miliki haruslah kita putarkan terus dan jangan sampai ada aktiva yang menganggur atau idle.

Solvabilitas
Solvabilitas merupakan perbandingan antara total kekayaan dengan total utang yang dimiliki perusahaan. Jadi hal ini akan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk mengembalikan seluruh hutangnya baik jangka pendek maupun jangka panjang dengan seluruh kekayaan yang ada padanya. Oleh karena itu maka untuk mengukur besar kecilnya solvabilitas dapat diukur dari ratio antar total aktiva dengan total utang

Leverage
Pengertian leverage sebenarnya cukup luas yaitu merupakan usaha untuk menggunakan sesuatu yang akan membawa konsekuensi beban tetap. Terdapat 2 macam leverage yaitu :

(1) Operating Leverage
Operating leverage adalah penggunaan suatu kekayaan atau aktiva tertentu yang akanmengakibatkan beban tetap bagi perusahaan seperti mesin-mesin, gedung dan sebagainya. Dalam hal ini beban tetapnya akan berupa biaya depresiasi.
(2) Financial Leverage
Financial leverage adalah peggunaan sumber dana tertentu yang akan mengakibatkan beban tetap yang berupa biaya bunga. Sumber dana ini dapat berupa utang obligasi, kredit dari bank dan sebagainya.

Leverage Faktor
Factor leverage adalah merupakan angka (prosentase) yang menunjukan perbandingan besarnya kekayaan atau sumber dana yang mengakibatkan beban tetap dengan seluruh kekayaan atau sumber dana yang dipergunakan oleh perusahaan dalam menjalankan usahanya. Pengertian leverage ini pada umumnya selalu dikaitkan denganmasalah financial leverage dan bukan operating leverage.

Kesehatan Financial
Kesehatan perusahaan itu dapat diukur dari beberapa ukuran seperti ratio – ratio likuiditas, solvabilitas, rentabilitas serta aktivitasnya. Berdasarkan atas criteria atau ukuran – ukuran kesehatan finangial yang ditentukan oleh pemerintah bagi badan – badan usaha milik Negara (BUMN) yang ada di Indonesia kita dapat mengetahui sehat tidaknya suatu perusahaan tertentu.

Kredit Modal Kerja
Dalam pembelanjaan modal kerja kita sering mendengar istilah – istilah KMKP yaitu singkatan dari Kredit Modal Kerja Permanen. Modal kerja itu dapat dibedakan menjadi 2 macam yaituModal Kerja Variabel dan Modal Kerja Tetap atau Permanen. Istilak KMKP ini erat hubungannya dengan kedua jenis modal kerja tersebut, khususnyatentang bagaimana cara kita untuk membelanjainya apabila kita akan membelanjainya dengan sumber dana ekstern atau kredit. Sumber dana yang cocok dan yang pada umumnya dipergunakan adalah berupa kredit baik Kredit Jangka Pendek maupun Kredit Jangka Panjang.

Dalam tinjauan atas beban financial terhadap cara pembelanjaan ini kita akan berhubungan dengan beberapa konsep seperti :
(a) Modal Optimum dan Optimum Modal
Modal optimum adalah merupakan jumlah modal (Modal Kerja) yang sebaliknya dibelanjai dengan Kredit Jangka Panjang. Pengertian optimum modal merupakan masalah untuk menentukan atau memperhitungkan seberapa besar jumlah modal optimum yang sebaiknya harus dibenjai dengan Kredit Jangka Panjang tersebut. Bgaimana cara menentukan modal optimum atau bagaimana cara kita memecahkan masalah optimum modal itu, hal ini menyagkut konsep berikutnya yaitu konep “Jangka Waktu Kritis” atau disingkat “Jangka Kritis”.
(b) Jangka Waktu Kritis
Jangka kritis adalah jangka waktu yang menunjukan bahwa jumlah kebutuhan modal kerja yang dibutuhkan selama jangka waktu tertentu (jangka waktu kritis) apabila dipenihi dengan Kredit Jangka Panjang (tahunan) akanmemakan biaya yang sama besarnya dengan apabila kebutuhan tersebut dibelanjai dengan kredit jangka pendek (bulanan).

Untuk memperhitungkan jangka kritisnya maka kita dapat menggunakan pedoman pembelanjaan sebagai berikut :

  1. Jumlah kebutuhan yang memiliki jangka waktu kebutuhan lebih panjang dari pada jangka kritis harus dibelanjai dengan kredit jangka panjang, karena biayanya akan lebih murah.
  2. Jumlah kebutuhan yang berjangka waktu kurang dari jangka kritis harus dibelanjai dengan kredit jangka pendek.
  3. Sedangkan jumlah kebutuhan yang jangka waktu dibutuhkannya adalah sama dengan jangka kritis maka untuk itu dibelanjai dengan kredit jangka panjang ataupun kredit jangka pendek biayanya akan sama.

Kriteria Investasi
Yang dimaksud criteria investasi adalah alat Bantu manajemen perusahaan untuk menilai usulan proyek investasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan investasi. Pada dasarnya criteria investasi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu :

  1. Kriteria investasi yang mendasarkan pada konsep keuntungan / income adalah Average Rate Of Return atau sering juga disebut Accounting Rate of Return.
  2. Kriteria investasi yang mendasar pada konsep Cash Flow, dapat dirinci :

Konsep Cash Flow yang tidak memperhatikan nilai waktu terhadap uang atau factor yang tidak didiskontokan (Undiscounted cash flow) yaitumetode Payback Periode.
Konsep Cash Flow yang memperhatikan nilai waktu terhadap uang atau factor diskonto (discounted cash flow) antara lain adalah :
- Net Present Value (NPV)
- Profitability Index (PI)
- Internal Rate of Return (IRR)

Metode Payback Periode
Payback Periode adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi denganmenggunakan “proceed” atau aliran kas neto (net Cash Flow).
Metode payback periode ini memiliki beberapa kelemahan seperti :

  1. Mengabaikan time of money
  2. Lebih mementingkan pada pengembalian investasi dari pada aspek laba dalam waktu umur investasi sehungga cash flow sesudah umur payback periode tidak diperhatikan

Adapun keunggulan dari metode ini adalah metode ini sangat sederhana sehingga mudah memperhitungkannya.

Metode Net Present Value
Metode ini memperhatikan nilai waktu dari uang, maka proceed atau cash flow maupun investasi harus didiskontokan atas dasar factor diskonto yang berlaku pada saat itu. Dalam hal ini kita mendasarkan diri pada present value of money atau nilai waktu terhadap uang, yaitu suatu pandangan bahwa nilai uang pada saat ini tidak sama dengan nilai uang dikemudian hari. Nilai uang sekarang akan dinilai lebih tinggi dari pada nilai uang dikemudia hari. Sebaliknya nilai uang pada tahun yang akan dating dikemudian hari tentu saja akan dinilai lebih redah dari nilai uang sekarang.

Metode Internal Rate Of Return
Internal rate of return ini dapat diartikan sebagai tingkat bunga yang akan menjadi nilai sekarang dari proceed yag diharap akan diterima (PV of future proceeds) sama dengan jumlah nilai sekarang dari keseluruhan modal (PV of Capital Outlays) atau nilai investasinya.





Diktat Dasman-2

20 07 2012

BAB VI. ORGANISASI

6.1. Pendahuluan
Manusia adalah mahluk sosial, sehingga ada kecenderungan dalam dirinya untuk berintekreksi dan berkerjasama. Sejarah manusia dapat menelusuri melalui perimbangan organisasi sosial. Dalam kehidupannya manusia, adalah anggota suatu organisasi, misalnya organisasi olah raga, keagamaan, dan sebagainya. Masing – masing organisasi berbeda satu sama lain, ada yang diorganisasikan secara formal. Namun organusasi-organisasi tersebut mempunyai satu unsur yang sama, yaitu tujuan yang hendak dicapai. Organisasi-organisasi tersebut juga mempunyai rencana dan cara pencapaian tujuan melalui program-program dan metode-metode, termasuk didalamnya tugas mencari dan mengalokasikan sumber daya yang dimiliki organisasi, dan mempunyai pemimpin yang juga disebut manajer yang bertanggung jawab atas keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan lingkungan organisasi. Manajer diberi tangungg jawab untuk menentukan kegiatan yang memungkinkan setiap individu untuk memberikan sumbangan atau konstribusi yang terbaik untuk mencapai tujuan dan organisasi

Dengan kata lain manajer yang mampu berkerja secara efisien dan efektif. Dengan demikian, seorang manajer dibebani pekerjaan secara kontinu. Dia tidak pernah bebas untuk melupakan pekerjaanya. Tanpa adanya manajer, dapat dipastikan bahwa organisasi tidak akan berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam mencapai tujuan organisasi, para manajer harus menyadari adanya kekuatan-kekuatan yang ada dilingkungan organisasi yang akan mempengaruhi organisasi baik sekarang maupun kemudian hari. Kekuatan – kekuatan tersebut dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung. Yang mempengaruhi secara langsung disebut lingkungan mikro perusahaan. Kekuatan yang berpengaruh langsung (direct action) terhadap organisasi seperti karyawan dan dewan direksi, yang sering disebut pihak yang berkepentingan internal (internal stakeholder). Dan yang berpengaruh secara langsung tetapi dari pihak luar organisasi (external stakeholder) antara lain ; pemasuk (supplier), pelangan (costumer), pemerintah (government), lembaga keuangan (financial institution), serikat buruh (labor action), pesaimg (competitor) dan sebagainya. Sedangkan kekuatan yang berpengaruh tidak langsung terhadap organisasi (indirect action) terdiri dari, kemajuan teknologi, keadaan politik, variabel sosial dan ekonomi yang disebut lingkungan makro perusahaan. Perubahan apapun yang terjadi karena pengaruh internal maupun eksternal dan yang langsung maupun tidak langsung, pihak manajemen dari suatu organisasi menjadi agen perubahan tersebut dalam organisasi.

6.2. Pengertian Organisasi
Organisasi adalah sekelompok orang yang bekerjasama dalam struktur dan kordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu.(Griffin,2002). Sekumpulan orang atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu dan berupaya untuk mewujudkan tujuannya tersebut melalui kerjasama. (Ernie&Kurniawan,2005) Adapun cirri-ciri Organisasi adalah :

a. Ada sekumpulan orang / manusia,
Kumpulan Orang (Man) :

  • Dalam kehidupan ketatalembagaan disebut pegawai atau personel
  • Pegawai dari semua anggota yang menurut fungsi dan tingkatannya terdiri dari unsur pimpinan dan bawahan
  • Pimpinan atau manajer diberikan wewenang untuk mengelola organisasi
  • Untuk mengelola organisasi harus mampu planning, organizing, motivating, controlling dan decision making.

b. Ada interaksi dan kerjasama

  • Kerjasama tersebut adalah suatu kegiatan bersama-sama untuk mencapai tujuan.
  • Kerjasama tersebut antara adminstrator, manajer, dan pekerja secara bersama-sama yang merupakan kekuatan organisasi

c. Ada tujuan yang hendak dicapai

  • Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai
  • Tujuan menggambarkan harapan yang dicapai
  • Tujuan menggambarkan melalui prosedur, pola (network) kebijakan (Policy), anggaran (budgetting), peraturan (regulation)
  • Menurut jangka waktunya :

1. Jangka panjang (25 – 30 Tahun)
2. Jangka menengah (lima tahun)
3. Jangka pemdek ( 1 tahun)

ALASAN BERORGANISASI

  1. Butuh Hidup Berkelompok untuk suatu aturan
  2. Ikatan suatu organisasi
  3. Ingin Bekerjasama dalam mencapai tujuan
  4. Ingin meraih kepentingan tertentu
  5. Ingin menggali dan mengungkapkan potensi dirinya

Beberapa Pendapat Tentang Organisasi

  • Organization is the form of every human association for the attainment of common purpouse (James D. Mooney)
  • Organization is people working to gether, and so it takes on characteristics of human relationships wich are involved in group detivity (John D. Millet)
  • Organization is the structure of aothoritative and habitual personal interrelations in an administrative system (Dwight Waldo).
  • Organization is a system of cooperation activities of two or more persons some things intangible and impersonal, largely a matter of relationships (Chester I Barnard).
  • Organization is the complex  pattern of communication and other relations in a group of human being (Herbert  A Simon)

6.3.   Sumber daya organisasi

  • Sumber Daya Manusia
  • Sumber Daya Informasi
  • Sumber Daya Fisik
  • Sumber Daya Keuangan
  • Sumber Daya Alam

Dalam kerangka pencapaian tujuan :

  1. Memanfaatkan sumber daya organisasi, baik sumber daya manusia, maupun faktor-faktor produksi lainnya. Sumber daya tersebut meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya keuangan, serta informasi (Griffin,2002)
  2. Melakukan proses yang bertahap dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengimplementasian, hingga pengendalian dan pengawasan.
  3. Adanya seni dalam menyelesaikan pekerjaan.

6.4.    Jenis-jenis dan Fungsi Organisasi

  1. Organisasi Profit : Perusahaan Besar  Perusahaan manufaktur, Bank Umum, Perusahaan Asuransi, Perusahaan Ritel, dll , Perusahaan Kecil, Koperasi, Perusahaan Multinasional dll
  2. Organisasi Non Profit/Nirlaba : Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kota, Lembaga Pendidikan Negeri ,Yayasan Sosial,dll

Organisasi Perusahaan (Profit Organization)

  • Organisasi yang tujuannya mendapatkan keuntungan
  • Kegiatan yang dilakukan  yaitu memproduksi barang, dan mendistribusikan barang serta memasarkan
  • Pelayanan yang diberikan berupa barang atau jasa
  • Contoh : Firma, PT, Perusahaan Daerah, Perusahaan Negara, Koperasi, Perum

Fungsi Organisasi Kemasyarakatan

  1. Wadah penyalur kegiatan sesuai kepentingan anggotanya
  2. Wadah pembinaan dan pengembangan anggotanya dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi.
  3. Wadah peran serta dalam mensukseskan pembangunan nasional.
  4. Sebagai sarana penyalur aspirasi anggota dan sebagai sarana komunikasi sosial timbal balikantar anggota atau antar organisasi kemasyarakatan

6.4.  Organisasi sebagai system
Sistem adalah suatu kumpulan bagian yang saling berhubungan dan bergantungan serta diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu keseluruhanya dalam sistem dan diterima masukan (inputs) yang kemudian tiba melalui prosese tranformasi untuk menghasilkan keluaran (ouputs).

6.6.  Jenis-jenis Sistem
Sistem diklasifikasikan sebagai system terbuka dan sistem tertutup. Karakteristik yang paling dominan dari sistem tertutup adalah mengabaikan lingkungan. Karena kegunaan sistem tertutup lebih bersifat idealis dari pada praktis, pandangan sistem tertutup hanya sedikit kegunaannya bagi studi organisasi dan manajemen. Sistem terbuka mengakui adanya saling hubungan (interdisipliner) yang dinamis antara sistem dengan lingkungan.

6.7    Pengertian Manajemen Organisasi
Dalam arti khusus manajemen dipakai bagi pimpinan dan kepemimpinan, yaitu orang-orang yang melakukan kegiatan memimpin dalam suatu organisasi. Manajer adalah orang yang memimpin atau pemimpin. Jadi manajemen adalah suatu rangkaian langkah yang dipandu yang mengembangkan suatu organisasi sebagai suatu sistem yang bersifat sosio-ekonomi-teknis. Manajemen adalah sebuah proses untuk mencapai tujuan -tujuan organisasi yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunakan fungsi-fungsi merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan (disebut juga fungsi-fungsi manajemen).

6.8    Bidang-Bidang Manajemen Fungsional
Kegiatan- kegiatan yang dilaksanakan olaeh masing-masing bidang fungsional manajemen adalah sebagai berikut:

a.  Manajemen Sumber Daya Manusia
Manusia adalah unsur terpenting dalam keberhasilan suatu organisasi. Manajemen sumber daya manusia melakukan dua fungsi utama, yaitu fungsi manajerial dan fungsi operatif.

b.  Manajemen Produksi/operasi
Manejemen Produksi/operasi adalah kegiatan mengatur penciptaan dan penambahan kegunaan (utility) barang atau jasa. Pada manajemen produksi/ koperasi , seorang manajer melakukan kegiatan yang dapat menyebabkan terciptanya atau bertambahnya kegunaan dari suatu barang atau jasa. Dengan demikian manajemen produksi/ koperasi menyangkut masalah-masalah pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kegiatan produksi. Ruang lingkup manajemen produksi/operasi mencakup kegiatan-kegiatan yang menyangkut keputusan-keputusan mengenai rancangan sitem produksi yang meliputi.

  1. Seleksi dan rancangan (design) hasil produksi.
  2. Seleksi peralatan dan proses
  3. Perancanaan produksi dan barang-barang yang akan diproses .
  4. Merancang tugas pekerjaan
  5. Lokasi tempat usaha
  6. Penyusunan peralatan (lay out).

c.  Manajemen Pembelanjaan/Keuangan

  1. Definisi manajemen pembelanjaan/keuangan adalah semua aktifitas perusahan untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan oleh perusahaan beserta usaha untuk mengunakan dana tersebut seefisien mungkin. Fungsi-fungsi utama para manajer keuangan adalah merencanakan untuk (planning for) mendapatkan dan mengunakan dana-dana dengan cara-cara tertentu sehinga segala aktivitas organisasi akan tercapai melalui efisiensi yang paling optimal. Pada dasarnya kita dapat membagi pengambilan keputusan manajemen pembelanjaan/keuangan (financial decisions) dalam tiga kategori yaitu:
  2. Pengambilan keputusan mengenai investasi (investment decisions): Kekayaan (assets) apa yang harus diperoleh perusahaan ?
  3. Pengambilan keputusan mengenai pembelanjaan/keuangan(financial decision):
  4. Bagaimana kekayaan (assets) tersebut harus dibiayai.
  5. Pengambilan keputusan mengenai pembagian dividen (dividend): Bagaimana keuntungan yang diperoleh perusahaan harus dibagikan kepada para pemilik, dan yang ditahan dalam perusahaan.

d.  Manajemen Pemasaran
Pada prinsipnya manajer pemasaran melakukan dua fungsi yang saling berkaitan, yaitu merencanakan dan kemudian menerapkan rencana tersebut. Kedua fungsi tersebut bertujuan untuk menciptakan dan mempertahan pertukaran dan hubungan yang menguntungkan dengan pasar sasaran (target markets). Dengan demikian, kita dapat mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai analisis tentang perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian dan program yang dibuat untuk menciptakan, membangun dan mempertahankan pertukaran dan hubungan-hubungan yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan tujuan mencapai sasaran-sasaran organisasi.

6.9.  Macam-Macam Organisasi
Organisasi dapat dibedakan menjadi organisasi kecil, menegah, besar dan raksasa. Kita mengenal beberapa kriteria yang dapat dijadikan dasar untuk membedakan ukuran organisasi tersebut antara lain adalah: jumlah karyawan yang diperkerjakan
besarnya volume penjualan dalam rupiah jumlah konsumen atau pelanggan yang dilayani
luas pasar yang dijangkau: lokal, nasional, multinasional, dan internasional. besar modal yang dipakai kecanggihan peralatan yang dipakai dan lain sebagainya
Dalam pengelompokanya ada tiga kriteria organisasi yaitu;

  1. Organisasi kecil : toko pengecer, KUD, poliklinik, perusahaan-perusahaan perorangan kecil dan menengah pada umumnya termasuk kelompok ini.
  2. Organisasi menengah : perusahaan yang beroperasi ditingkat kabupaten, perusahaan antar kota, rumah sakit.
  3. Organisasi Besar : perusahaan rokok gudang garam, perusahaan batu baterai ABC, perusahaan pengembangan tingkat nasional. Organisasi raksasa :pertamina, perusahaan alat-alat elektronik, departemen milik pemerintah.

6.10.  Struktur Organisasi
Struktur organisasi adalah pengaturan antar hubungan bagian-bagian dari   komponen dan posisi dalam suatu perusahaan. Struktur Organisasi  5 Unsur yaitu :

  1. Spesialisasi kegiatan
  2. Standarisasi Kegiatan
  3. Koordinasi Kegiatan
  4. Sentralisasi dan Desentralisasi Keputusan
  5. Ukuran satuan kerja

Faktor Utama Strruktur Organisasi, ada 4 yaitu :

  1. Strategi Organisasi
  2. Teknologi yang digunakan
  3. Orang-Orang yang Terlibat
  4. Lingkungan Organisasi

6.11.   Macam Struktur Organisasi
Dalam Struktur Oganisasi menggambarkan 5 aspek utama, yaitu :

  1. Pembagian Kerja
  2. Pimpinan dan Bawahan
  3. Pekerjaan yang dilaksanakan
  4. Pengelompokkan bagian Kerja
  5. Tingkat Manajemen

Adapun macam Struktur Organisasi adalah :
1.  Struktur Organisasi Garis(Line Organization)
Struktur Organisasi Garis(Line Organization) Penciptanya : Henry Fayol dari Perancis

Ciri-Ciri Struktur Organisasi Garis, yaitu :

  • Organisasi Masih Kecil
  • Jumlah Karyawan Sedikit
  • Pemilik Merupakan Pimpinan Tertinggi
  • Hubungan Kerja antara Pimpinan dengan bawahan bersifat langsung
  • Tingkat Spesialisasi tupoksi masih rendah
  • Tujuan yang dicapai masih sederhana
  • Susunan Organisasi sederhana
  • Produksi belum beraneka ragam

Kelebihan & Kekurangan :

2.   Struktur Organisasi Garis dan Staff
Organisasi Garis dan Staff. Penciptanya : Harrington Emerson
Orang-Orang dalam Organisasi dibagi 2 :

  1. Kelompok Garis (Line Personnel), yaitu kelompok orang yang melaksanakan tugas-tugas dalam organisasi, berhak mengeluarkan perintah dan mengambil keputusan terakhir.
  2. Kelompok Staff (Staff Personnel), yaitu kelompok orang ahli dan orang penunjang . Misalnya Assisten Pribadi dan Assisten Ahli.

Kelebihan & Kekurangan :

3.    Struktur Organisasi Fungsional
Organisasi Fungsional. Penciptanya : Frederick W. Taylor

Ciri-Ciri :
1)    Adanya pembagian kerja sesuai dengan keahliannya
2)    Adanya kemungkinan  seseorang bawahan diperintah oleh beberapa atasan
3)    Pimpinan menyerahkan tugas pengambilan keputusan kepada ahlinya sesuai dengan keahlian masing-masing
4)    Sistem manajemen cenderung desentralisasi
Kelebihan & Kekurangan :

4.  Struktur Organisasi Komite
Organisasi Komite. Penciptanya : Chester.I. Bernard
Organisasi Komite dibagi 2 :
a)    Executive Committee (Pimpinan Komite)
b)    Staff Committee (Wewenang Staff)
Ciri-Cirinya :
a)    Semua anggota punya wewenang dan tanggungjawab yang sama
b)    Semua anggota punya hak yang sama dalam berpendapat
c)    Tugas pimpinan dilakukan kelompok  secara kolektif
d)    Pelaksanaan tugas dilakukan dengan gugus tugas

5.  Struktur Organisasi Matriks
Organisasi Matriks. Penciptanya : David Lawrence

Ada 4 tahap :
1)    Piramid Tradisional
2)    Harapan Sementara (Temporary)
3)    Harapan Tetap (Temporary)
4)    Matriks Dewasa
Ciri-Cirinya :
1)    Beberapa karyawan mempunyai dua pimpinan dan perintah bisa berasal dari dua pimpinan tersebut
2)    Bagan organisasinya berbentuk piramid
3)    Terdapat beberapa karyawan yang merupakan anggota bagian tertentu yang menjadi anggota bagian yang lain.
Kelebihan & Kekurangan :

6.12.   Macam-Macam Hubungan Struktur Organisasi

  • Hubungan Hierarki
  • Hubungan Koordinasi
  • Hubungan Penunjang
  • Hubungan Kontrol
  • Hubungan Konsultasi
  • Hubungan Informasi

6.13.  Jenis-Jenis Manajer
Tugas manjemen adalah mengunakan sumber daya yang dimiliki seoptimal mungkin dengan melakukan kegiatan yang efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi dapat dicapai. Menurut tingkatannya dalam organisasi kita mengenal tiga jenis manajer, yaitu:

a. Manajer Puncak (top Managers)
Manajer Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi Tugasnya adalah menetapkan kebijakan operasional dan mengarahkan organisasi dalam berinteraksi dengan lingkungannya baik mikro maupun makro.
b. Manajer Menengah (middle Managers)
Manajer menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya kadang-kadang juga karyawan operasional. Manajer menengah bertanggungjawab untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya mengimplementasikan kebijakan organisasi dan mencari keseimbangan antara tuntutan atasan dengan kemampuan para bawahanya, contoh manajer menegah adalah manajer bagian produksi, kepala seksi, dekan dll.
c. Manajer Garis Pertama (firs Legts)
Manajer lini garis-pertama (first line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain. Tugas utama manajer garis pertama adalah mengawasi kerja dan pekerjaan karyawan, contohnya adalah mandor bangunan, sales supervisor.

Jenis manajer dapat pula dibedakan menurut ruang lingkup kegiatan yaitu:

  1. Manajer Fungsional (Functional Managers) : Manajer yang bertanggung jawab atas satu kegitan saja seperti manajer produksi/operasi, manajer pemasaran, manajer keuangan, atau manajer sumber daya manusia.
  2. Manajer Umum (General Managers)

Manajer umum yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan dalam unitnya seperti keuangan, pemasaran, produksi/operasi dan sumber daya manusia.

Tingkatan dan Keterampilan Manajemen
Robert L. Katz mengidentifiasikan tiga jenis keterampilan utama yang dibutuhkan oleh semua tingkatan manajer yaitu:

  1. Keterampilan teknis (Tecnikal Skill) : Keterampilan teknis adalah kemampuan mengunakan alat-alat, prosedur, dan teknik suatu bidang yang khusus, misalnya keterampilan tentang pembuatan produk, peliharaan mesin, penjualan produk dan sebagainya.
  2. Kemampuan Manusiawi (Human Skill) Kemampuan manusiawi adalah kemamapuan untuk bekerja sama dengan orang lain dan memotifasi orang lain baik sebagai individu maupun kelompok. Keterampilan ini sangat penting bagi manajer agar dapat bekerja sama dengan anggoto-anggota organisasi yang lain maupun memimpin kelompoknya sendiri. Contoh keterampilan ini adalah memimpin rapat, dan sebagainya.
  3. Keterampilan Konseptual (Conceptual Skill) Keterampilan konseptual adalah kemampuan untuk mengkoordinasi dan memedukan berbagai kepentingan dan kegiatan organisasi. Ini mencakup kemampun manajer untuk melihat organisasi sebagai suatu keseluruhan organisasi. Manajer membutuhkan keterampilan konseptual yang cukup mengenali bagaiman bermacam-macam faktor pada suatu keadaan tertentu berkaitan suatu dengan yang lain, sehingga tindakan yang diambilnya ditujukan untuk kepentingan organisasi secara keseluruhan. Contoh keterampilan ini adalah kemampuan memecahkan masalah, membuat keputusan, membuat rencana, dan sebagainya.

6.14.  Peran Manajerial
Berdasarkan penelitian Henry Mintzberg, tentang bagaimana manajer mengunakan waktunya untuk melaksanakan tugas-tugasya, dapat disimpulkan bahwa para manajer pada dasarnya melaksanakan tiga kelompok peran masing-masing terbagi lagi dalam beberapa macam peran sehingga keseluruhannya ada sepuluh macam peran yang saling berkaitan. Peran-peran tersebut adalah :

1.  Peran Antar Pribadi (Interpersonal Roles)
Peran ini menitik beratkan pada hubungan pribadi yang meliputi :

  1. Peran tokoh (figurehead), dilaksanakan dengan melakukan tugas seremonial seperti menerima tamu dan sebagainya.
  2. Peran pemimpin (leader), dilakukan dengan cara mengarahkan dan mengkoordinasikan tugas – tugas dari para bawahannya, hal ini menyangkut tugas staffing (merekrut, melatih, memotivasi, melakukan promosi, dan pemberhentian kerja)
  3. Peran penghubung (liaison) dilakukan dengan cara menjalin perhubungan antar pribadi dengan pihak-pihak, baik yang berada dalam organisasi maupun yang berada diluar organisasi.

2.  Peran informasional (informational roles)
Peran ini mengenai penerimaan dan pengkomunikasian informasi, yang dibutuhhkan untuk pengambilan keputusuan. Peran ini meliputi:

  1. Peran pemantau (monitor), manajer secara terus menerus mencari informasi – informasi yang berguna baik dalam organisasi maupun dari luar organisasi.
  2. Peran penyebar (disseminator), yaitu membagi- bagikan informasi yang diperoleh dari hasil pemantauannya kepada bawahnnya yang dirasakan memerlukan informasi tertentu.
  3. Peran juru bicara (spokesperson), yaitu menyampaikan sebgaian informasi yang dikumpulkannya kepada para individu diluar unitnya atau pihak – pihak diluar organisasi.

3. Peran pengambilan keputusan (decision making roles)
Dalam peran ini manajer mengambil keputusan – keputusan berdasarklan hubungan antar pribadi yang dibangunnya dan informasi – informasi yang dipantau sebelumnya.
Peran ini terdiri dari:

  1. Peran wirausahawan (entrepreneur), manajer melakukan perubahan – perubahan dalam cara mengelola organisainya, sebagai akibat dari perubahan-perubahan atau peluang – peluang yang terjadi dilingkungannya. Perubahan – perubahan tersebut menyangkut produk yang dihasilkan proses – proses baru, strategi – strategi baru, serta cara- cara pemecahan masalah yang baru.
  2. Peran pereda gangguan (disturbance handler), menghadapi dan menangani masalah – masalah yang timbul secara mendadak dan berada diluar kendalinya
    Peran pengalokasi sumber daya (resource allocator), yaitu menentukan bagaimana dan kepada siapa sumber daya yang dimiliki organisasi dan waktu yang dimiliki akan digunakan. Manajer juga menyaring semua keputusan yang dibuat orang lain dalam unitnya sebelum digunakan..
  3. Peran perunding (negotiator), yaitu mengadakan perundingan dengan pihak internal maupun eksternal organisasi,

6.15.  MANAJER – LEADER DI SEKOLAH
Para penyelenggara di sekolah-sekolah  diharapkan untuk bertindak lebih daripada hanya sebagai seorang manajer profesional yang memiliki kemampuan dan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar majemen seperti yang diuraikan di atas. Mereka diharapkan juga bisa berperan sebagai seorang pemimpin.
Apakah itu Kepemimpinan? Ada banyak definisi tentang kepemimpinan, namun satu definisi dari Stephen Covey cukup menarik untuk didalami. “Kepemimpinan adalah mengkomunikasikan potensi dan nilai yang ada dalam diri orang lain, sedemikian jelas sehingga mereka mulai sendiri melihatnya” (The 8th Habit, p. 98) . Di atas definisi singkat itulah makna-makna lain tentang kepemimpinan dibangun.
Sebagai gambaran, tabel di bawah ini memberi perbandingan tentang seorang manajer dan tuntutan terhadap seorang pemimpin.

TUGAS UTAMA PEMIMPIN MANAJEMEN SEKOLAH :
MEMBANGUN BUDAYA TRUST (RASA SALING PERCAYA)
Kenyataan dunia usaha saat ini adalah jelas: berubah atau mati. Keunggulan kompetitif diperoleh tidak dari sejarah kekuatan perusahaan di masa lampau, tetapi dari kemampuannya untuk membangun kekuatan baru dalam menghadapi munculnya tantangan dan peluang baru. Dengan kata lain, keunggulan kompetitif muncul dari kemampuan organisasi untuk menggunakan sumber dayanya yang ada untuk mengganti pola sukses di masa lampau dengan pendekatan-pendekatan inovatif di masa sekarang. Membangun kekuatan baru berarti menuntut perusahaan untuk meninggalkan, paling tidak sebagian, dari pola kerja lamanya.
Rasa percaya di antara anggota organisasi menambah kemungkinan keberhasilan suatu perubahan. Artinya, rasa percaya menambah keberanian bahwa orang akan meninggalkan pola kerja lama demi pendekatan-pendekatan yang baru. Rasa percaya adalah suatu modal bersama (collaborative capital) yang bisa dipergunakan demi mencapai kemajuan.
Kata Trust atau Rasa Percaya dibedakan dari kata “Keyakinan”. Kita percaya pada seseorang karena kita melakukan penilaian atas kemampuan atau karakter dari orang tersebut. Kita percaya pada seseorang karana dia menunjukkan bahwa memang layak untuk dipercaya. Sedangkan “keyakinan” berasal dari pengetahuan tertentu, dibangun atas dasar akal dan fakta.
“Rasa Percaya” dibangun atas dasar iman. Namun “percaya” di sini juga bukan berarti “iman mutlak”. Dalam situasi ekstrim, iman bisa dipandang sebagai suatu keyakinan yang kebal terhadap kontradiksi informasi atau peristiwa. Iman murni adalah melewati batas akal budi. Namun “percaya” biasanya dipandang lebih rapuh dari “iman”. Rasa “percaya” bisa patah atau hilang. Kita bisa menarik rasa “percaya” kita dari seseorang, dan demikian pula orang lain bisa tidak lagi “percaya” kepada kita. Jadi “percaya” lebih dari hanya sekedar “keyakinan” dan sedikit di bawah iman buta. “Percaya” adalah kesadaran bahwa dia yang dipercaya bisa memenuhi harapan positif kita.
Rasa “percaya” tersebut sedemikian kompleks sehingga amat sulit untuk menumbuhkannya lagi sekali itu hilang. Oleh karena itu, rasa percaya harus dipandang sebagai asset penting yang harus dilindungi oleh organisasi dan dikembangkan sama seperti asset penting lainnya.
Merancang dan mengimplementasikan struktur dan proses-proses formal dari organisasi supaya dapat menjaga rasa percaya adalah sebuah tugas yang tidak mudah. Bagian paling sulit adalah untuk membangun kultur atau budaya rasa percaya, yang sering disebut sebagai “perangkat lunak” dari hidup satu organisasi. Tahun 1980-an banyak perusahaan Amerika memusatkan perhatian dan tenaga untuk membangun “perangkat keras” organisasi. Akan tetapi perangkat keras selalu ada batasnya. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan Jepang mengembangkan “perangkat lunak” yakni budaya yang menyatukan produktivitas dengan roh manusia, yang tidak ada batasnya.
Budaya organisasi menunjuk pada aspek-aspek informal dari hidup organisasi yang memiliki penagruh pada kinerja kelompok. T. Ohno, pimpinan Toyota, mengamati bahwa sukses datang bukan dari system formal organisasi,namun dari “roh” yang menopang system tersebut. Bagian-bagian paling kritis dalam usaha mengembangkan budaya rasa percaya tinggi dalam organisasi atau tim adalah:
1. Bagaimana mengembangkan visi bersama yang mencerminkan keunggulan kompetitif:
Rasa percaya akan lebih mudah tumbuh di dalam organisasi yang mengartikulasikan secara jelas tujuan dan keinginan yang mau dicapai bersama. Hal ini menjadi amat penting ketika perbedaan individu muncul, ketika anggota organisasi saling mempertanyakan motif masing-masing, apakah masing-masing bertindak demi kepentingan pribadi atau demi kepentingan keseluruhan organisasi. Adanya visi bersama yang diterima sebagai tujuan bersama membantu individu untuk mengatasi masalah-masalah perbedaan pendapat atau kepentingan tersebut. Visi bersama menjadi semacam daya ikat untuk terus membangun rasa percaya di tengah segala perbedaan.

2. Bagaimana menghidupi nilai dan prinsip-prinsip dasar secara nyata dan terasakan:
Rasa percaya semakin mudah tumbuh ketika orang berbagi prinsip hidup dan norma-norma yang sama. Rasa percaya tumbuh ketika orang bisa memiliki harapan atau ekspektasi tentang konsistensi dan tindakan jujur. Misalnya di perusahaan Pepsi nilai “result and integrity”  atau “hasil dan integritas” amat dirasakan pentingnya. Dua kata itu memiliki tempat tersendiri dalam budaya organisasi mereka. Kata “hasil” menunjuk pada konsistensi untuk memberikan hasil seperti yang dijanjikan. Integritas menyangkut keseluruhan sikap keterbukaan dan kejujuran, sekaligus komitmen pada yang lain. Meski hanya dua kata, namun dua kata ini mampu membangun fondasi amat kokoh dalam budaya Pepsi.

3. Membangun kebiasaan untuk saling mengenal di semua level organisasi:
Amat sulit mempercayai orang yang tidak kita kenal. Rasa percaya dibangun dari kontak langsung antara pimpinan dengan anggota organisasi. Dengan hadirnya teknologi informasi yang membuat orang bisa berkomunikasi tanpa perlu bertatapan muka, semakin penting bagi organisasi untuk mencari cara agar hubungan personal antar anggota organisasi tetap terjaga.
Hewlett-Packard melembagakan sejumlah teknik manajerial yang memastikan ada kontak teratur dan terus menerus antara anggota organisasi di semua level. Hal ini termasuk kebijakan pelayanan “pintu terbuka” atau “open-door policy” dimana perbedaan jabatan disingkirkan dan percakapan bisa berlangsung bebas. Setiap orang boleh mengungkapkan ide, pendapat, masalah atau keprihatinan mereka. Pelayanan ini dibuat untuk membangun rasa saling percaya antar anggota organisasi.

4. Mendorong budaya berani mengambil resiko dan bereksperimen.
Di dalam konteks bisnis dan situasi dunia yang berubah cepat, kemampuan untuk mengambil keputusan secara cepat dan maju ke depan dengan inisiatif-inisiatif adalah kunci dalam mempertahankan rasa percaya. Hal ini didukung oleh budaya organisasi yang memungkinkan bahwa karyawan atau anggota organisasi diberi otonomi secukupnya dalam menjalankan berbagai aspek usaha dengan disertai rasa percaya bahwa mereka yang gagal akan diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan mereka dan menjadi lebih baik dalam pekerjaan dan tanggung jawab selanjutnya. Kemampuan untuk melewati saat-saat sulit, saling mendukung ketika berada dalam kondisi rawan, akan mampu membangun rasa percaya yang luar biasa. Memang tidak berarti kemudian bisa asal-asalan atau nekat-nekatan mengambil resiko, namun “well-intentioned failure” atau kegagalan sebagai buah sebuah usaha serius dan baik dalam jangka panjang akan amat berarti.

5. Membuat symbol-simbol nyata dari Rasa Percaya:
Keterbukaan adalah symbol nyata dari Rasa Percaya. Kesediaan untuk diaudit, secara jujur melaporkan barang atau penghargaan yang diterima dari pelanggan atau supplier untuk disposisi lebih lanjut, dsb memberi gambaran tentang level rasa percaya yang ada dalam budaya organisasi.

BAB VII. MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA

Sumber Daya Manusia (SDM) adalah potensi yang merupakan asset dan berfungsi sebagai modal (non material/non finansial) di dalam organisasi bisnis, yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata (real) secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.

7.1.  Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Mary Parker Follett Manajemen Sumber Daya Manusia  adalah suatu seni untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlukan, atau dengan kata lain tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
Menurut Edwin B.Flippo Manajemen Sumber Daya Manusia adalah perencanaan, pengorganisasian,pengarahan dan pengawasan kegiatan-2 pengadaan, pengembangan, pemberian kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan dan pelepasan sumber daya manusia agar tercapai berbagai tujuan individu, organisasi dan masyarakat
Menurut French Manajemen Personalia adalah penarikan, seleksi, pengembangan, penggunaan dan pemeliharaan sumber daya manusia oleh organisasi

7.2.  Pendekatan-pendekatan masalah personalia/SDM
1.    Pendekatan Mekanis / konsep faktor produksi
Perkembangan industri, dengan   penerapan mesin-mesin dan alat-alat elektronika pada bidang produksi telah membawa kemajuan yang sangat pesat  dalam efisiensi kerja.
Pendekatan mekanis ini biasanya menimbulkan pada masalah personalia antara lain :

  1. pengangguran teknologis : kehilangan pekerjaan karena pengembangan mesin-mesin atau  teknik produksi yang baru.
  2. keamanan : seseorang kehilangan pekerjaannya maka jelas ia akan kehilangan sumber penghasilannya.
  3. Organisasi buruh → untuk melindungi karyawan dari sikap sewenang-wenang pihak manajemen.
  4. Berkurangnya kebanggaan dalam bekerja →manajemen kurang menghargai kecerdasan, “Goodwill” dan  kreativitas para pekerja.

2.    Pendekatan Paternalisme
Yaitu suatu konsep yang menganggap bahwa manajemen sebagai “Ayah” dan bersikap melindungi terhadap para karyawan.
Ciri-cirinya :
Diselenggarakannya suatu program personalia tersebut tidak didasarkan atas pertimbangan manfaat dari program tersebut
Keputusan tentang apa dan bagaimana melaksanakan program tersebut adalah tergantung semata mata pada pihak manajemen.

3.    Pendekatan Sistem Sosial
Organisasi / perusahaan adalah   merupakan suatu sistem yang kompleks yang beroperasi dalam     lingkungan yang kompleks pula yang bisa disebut sebagai “ Sistem yang ada di luar”.

7.3. Tantangan-tantangan yang dihadapi Manajemen SDM
Tantangan-tantangan yang dihadapi Manajemen SDM antara lain :
1.    Tantangan Ekstern / Lingkungan
Kekuatan-kekuatan dari luar yang mempengaruhi kegiatan bisnis /perusahaan yang berpengaruh pula  pada kegiatan Manajemen SDM, baik langsung maupun tidak langsung.
Untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut, manajemen personalia dapat mengambil langkah-langkah sebagai berikut:

  • Memonitor secara terus menerus atau secara efektif dan efisien perkembangan dan perubahan lingkungan bisnis dengan melakukan membaca majalah dan koran, mendengarkan siaran radio, televisi,dll mendapatkan informasi-informasi up to date yang diperlukan.
  • Merespon atau mereaksi secara cepat dalam bentuk fleksibel setiap informasi setelah dianalisis untuk menghasilkan respon yang paling tepat dengan cara mengembangkan, mempertahankan atau menghentikan kegiatan bisnis dan kebijaksanaan SDM yang sedang berlangsung.
  1. Perubahan yang cepat
  2. Keragaman tenaga kerja
  3. Globalisasi : Peorganisasi Global, Pelatihan Internasional, Adaptasi Produk, Budaya Perusahaan dan Persekutuan Global
  4. Kemampuan membiayai tenaga kerja yang bersaing dengan berbagai negara lainnya yang memiliki perusahaan dalam bisnis yang sama
  5. Perusahaan harus terbuka
  6. Peraturan pemerintah
  7. Perkembangan pekerjaan dan peranan keluarga
  8. Kekurangan tenaga kerja yang terampil

2.    Tantangan Intern / Keorganisasian
Untuk menghadapi tantangan internal, langkah-langkah yang diambil :

  1. Meningkatkan kontrol untuk mencegah, dengan berusaha agar setiap persoalan dapat diselesaikan secepatnya sebelum berkembang menjadi persoalan besar.
  2. Bertindak secara proaktif dalam arti aktif melakukan usaha mengambil langkah-langkah penyelesaian, sebelum masalah-masalah lepas dari kendali.
  3. Organisasi / perusahaan memerlukan manajer yang mampu bekerja dalam menghadapi kompetisi secara fleksibel.
  • Posisi organisasi dalam bisnis yang kompetitif
  • Fleksibilitas
  • Pengurangan tenaga kerja
  • Tantangan restrukturisasi
  • Bisnis kecil
  • Budaya Organisasi
  • Teknologi
  • Serikat Pekerja

3.    Tantangan Individual / Profesionalitas

  • Keserasian antara pekerja dengan organisasinya
  • Tanggung jawab etnis dan sosial
  • Produktivitas
  • Pelimpahan kekuasaan / wewenang
  • Penyaluran buah pikiran

4.    Tantangan MSDM lainnya :

  1. Masih banyak top manajer dan para manajer pembantunya yang belum memahami fungsi, tujuan dan  kontribusi MSDM dalam mengembangkan organisasi / perusahaan agar menjadi kompetitif dalam mewujudkan eksistensinya.
  2. Masih banyak top manajer dan para manajer bawahannya, yang tidak menyadari, kurang memahami, dan tidak melaksanakan tanggung jawabnya dalam mengelola SDM di lingkungannya masing-masing.
  3. Dari manajemen SDM ternyata masih sangat langka tenaga kerja yang profesional untuk melaksanakannya secara efektif dan efisien.

 
7.4.  Perencanaan Sumber Daya Manusia
a.    Pengertian Perencanaan SDM
Menurut Arthur W. Sherman dan George W. Bohlander Perencanaan SDM adalah proses mengantisipasi dan membuat ketentuan (persyaratan) untuk mengatur arus gerakan tenaga kerja ke dalam, di dalam dan keluar organisasi dengan tujuan untuk mempergunakan SDM seefektif  mungkin dan agar memilikisejumlah pekerja yang memenuhi persyaratan / kualifikasi dalam mengisi posisi yang kapan dan yang manapun mengalami kekosongan.

Menurut G. Steiner bahwa Perencanaan SDM merupakan perencanaan yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan / sasarannya, melalui strategi pengembangan / kontribusi pekerjanya di masa depan.
 
Menurut Umum (luas) bahwa Perencanaan SDM adalah proses untuk menetapkan strategi, memperoleh, memanfatkan, mengembangkan dan mempertahankan tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan perusahaan sekarang dan pengembangannya di masa mendatang.

b.    Manfaat Perencanaan SDM

  • Meningkatkan Sistem Informasi SDM, yang secara terus menerus diperlukan dalam mendayagunakan SDM secara efektif dan efisien bagi pencapai tujuan bisnis perusahaan.
  • Mempermudah pelaksanaan koordinasi SDM oleh manajer SDM, dalam usaha memperpadukan pengelolaan SDM.
  • Untuk memperkirakan kondisi dan kebutuhan pengelolaan SDM selama 2 atau 3 dan bahkan 10 tahun mendatang (untuk jangka panjang).
  • Untuk mengetahui posisi / jabatan atau pekerjaan yang lowong pada tahun mendatang (untuk jangka pendek).

c.    Karakteristik SDM yang Kompetitif

  • Memiliki kemampuan menjaring, mengolah dan memanfaatkan informasi dalam mencari peluang bisnis yang    menguntungkan.
  • Memiliki kemampuan merespon secara tepat dan cepat
  • Mampu menghindari atau memperkecil resiko dalam melaksanakan keputusan.
  • Mampu mengendalikan cost benefit ratio yang menguntungkan.

d.    Analisis Tenaga Kerja untuk Perencanaan SDM
Langkah-langkah Analisis tenaga kerja :
1. Jumlah tenaga kerja
2. Komposisi tenaga kerja
3. Kualitas

e.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perencanaan SDM

1) Faktor Eksternal : Faktor Ekonomi Nasional dan Global, Faktor Sosial, Politik dan Hukum, Faktor Teknologi  dan Faktor Pesaing
2) Faktor Internal (organisasi)

  • Rencana Strategik dan Rencana Operasional (taktik)
  • Anggaran / cost SDM
  • Peramalan produksi dan penjualan
  • Faktor Bisnis Baru
  • Faktor Desain Organisasi dan Desain Pekerjaan
  • Faktor Keterbukaan dan Keikutsertaan Manajer

3) Faktor Ketenagakerjaan

  • Pensiun, PHK, meninggal dunia dan tenaga kerja yang selalu absen.
  • Promosi, pindah, tenaga kerja yang mendapat pelatihan dan yang mengikuti pendidikan di luar perusahaan / organisasi.

4) Faktor-faktor Lain

  • Pasar tenaga kerja
  • Prestasi kerja
  • Waktu yang tersedia untuk mencapai sasaran / tujuan bisnis jangka pendek.
  • Faktor demografi
  • Faktor supervisi
  • Faktor staf pendukung
  • Faktor lokasi

7.5.   Penarikan SDM (Rekruitmen)
a. Pengertian Penarikan
Proses mendapatkan sejumlah calon tenaga kerja yang kualifaid untuk jabatan / pekerjaan utama (produk lini dan penunjangnya) di lingkungan suatu organisasi / perusahaan.
Proses pencarian dan pemikatan para calon karyawan (pelamar) yang mampu untuk melamar sebagai karyawan.
b. Proses Penarikan SDM (Rekruitmen)

c.  Kendala-kendala Penarikan
1. Kebijaksanaan-kebijaksanaan Organisasional

  • Kebijaksanaan Promosi
  • Kebijaksanaan Kompensasi
  • Kebijaksanaan Status Karyawan
  • Kebijaksanaan Penerimaan Tenaga Lokal

2. Rencana-rencana SDM
3. Kondisi Pasar Tenaga Kerja
4. Kondisi-kondisi Lingkungan Eksternal
5. Persyaratan-persyaratan Jabatan
6. Kebiasaan-kebiasaan Pelaksana Penarikan
 
d.  Saluran-saluran / Metode-metode Penarikan
1. Walk – ins                                                        7.   Leasing
2. Rekomendasi dari Karyawan                  8.   Nepotisme
3. Pengiklanan                                                    9.   Asosiasi-asosiasi profesional
4. Agen-agen penempatan tenaga kerja 10. Operasi-operasi Militer
5. Lembaga-lembaga pendidikan               11. Open House
6. Organisasi-organisasi Karyawan

e.  SELEKSI
1. Pengertian Seleksi

  • Pemilihan seseorang tertentu dari sekelompok karyawan-karyawan potensial untuk melasanakan suatu jabatan tertentu.
  • Serangkaian langkah kegiatan yang digunakan untuk memutuskan apakah pelamar diterima atau tidak

2. Tantangan-tantangan Proses Seleksi

  • Tantangan-tantangan suplai
  • Tantangan-tantangan etnis
  • Tantangan-tantangan organisasional

3. Langkah-langkah / Prosedur dalam Proses Seleksi

a. Penerimaan pendahuluan pelamar          e. Evaluasi medis (tes kesehatan)
b. Tes-tes penerimaan                                        f.  Wawancara oleh penyelia
c. Wawancara seleksi                                         g.  Keputusan penerimaan
d. Pemeriksaan-pemeriksaan referensi

f. Pengenalan dan Orientasi

Pengertian Orientasi
Usaha membantu para pekerja agar mengenali secara baik dan mampu beradap tasi dengan suatu situasi atau dengan lingkungan / iklim bisnis suatu organisasi / perusahaan.

Pelaksanaan Program Orientasi

  • Harus mampu membantu para pekerja baru untuk mengetahui dan memahami standar pekerjaan, harapan organisasi atau perusahaan pada dirinya, norma-norma dan tradisi yang dihormati dan berlaku di perusahaan serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang harus dijalankannya.
  • Harus mampu membantu para pekerja baru untuk memahami dan bersedia melaksanakan prilaku sosial yang mewarnai kehidupan organisasi / perusahaan sehari-hari.
  • Harus mampu membantu para pekerja baru untuk mengetahui dan memahami berbagai aspek teknis pekerjaan / jabatannya, agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya secara efektif, efisien dan produktif.

g. Latihan dan Pengembangan SDM
Pengertian Latihan dan Pengembangan

  • Pelatihan : program-program untuk memperbaiki kemampuan melaksanakan pekerjaan secara individual, kelompok dan / atau berdasarkan jenjang jabatan dalam organisasi / perusahaan.
  • Pelatihan : proses melengkapi para pekerja dengan ketrampilan khusus atau kegiatan membantu para pekerja dalam memperbaiki pelaksanaan pekerja yang tidak efisien.
  • Latihan : memperbaiki penguasaan berbagai ketrampilan dan teknik pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin.
  • Pengembangan      : program untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi.

Teknik-teknik Latihan dan Pengembangan

  • Metode praktis (on – the – job training)
  • Teknik-teknik presentasi informasi dan metode-metode simulasi (off – the – job training)

h. Evaluasi Program Latihan dan Pengembangan

i.    Penilaian Pelaksanaan Kerja / Prestasi Kerja
1) Pengertian Penilaian Prestasi Kerja

  • Proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan.
  • Proses pengamatan (observasi) terhadap pelaksanaan pekerjaan oleh seorang pekerja
  • Pendadaran (deskripsi) secara sistematik (teratur) tentang relevansi antara tugas-tugas yang diberikan dengan pelaksanaannya oleh seorang pekerja.
  • Kegiatan pengukuran sebagai usaha menetapkan keputusan tentang sukses atau gagal dalam melaksanakan pekerjaan oleh seorang pekerja.

2) Kegunaan-kegunaan Penilaian Prestasi Kerja

  • Perbaikan prestasi kerja
  • Penyesuaian-penyesuaian kompensasi
  • Keputusan-keputusan penempatan
  • Kebutuhan-kebutuhan latihan dan pengembangan
  • Perencanaan dan pengembangan karier
  • Penyimpangan-penyimpangan proses stafting
  • Ketidakuratan informasional
  • Kesalahan-kesalahan desain pekerjaan
  • Kesempatan kerja yang adil
  • Tantangan-tantangan eksternal

3) Tujuan umum penilaian prestasi kerja

  • Untuk memperbaiki pelaksanaan pekerjaan para pekerja.
  • Untuk menghimpun dan mempersiapkan informasi bagi pekerja dan para manajer dalam membuat keputusan yang dapat dilaksanakan.
  • Untuk menyusun inventarisasi SDM di lingkungan organisasi / perusahaan.
  • Untuk meningkatkan motivasi kerja.

4) Tujuan khusus

  • Sebagai dasar dalam melakukan promosi, menghentikan pelaksanaan pekerjaan yang keliru, menegakkan disiplin, menetapkan pemberian penghargaan / balas jasa
  • Mengahasilkan informasi yang dapat dipergunakan sebagai kriteria dalam membuat tes yang validitasnya tinggi.
  • Menghasilkan informasi sebagai umpan balik bagi pekerja dalam meningkatkan efisiensi kerjanya dengan memperbaiki kekurangan / kekeliruannya dalam melaksanakan pekerjaan
  • Berisi informasi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan pekerja dalam meningkatkan prestasi kerja.
  • Memberikan informasi tentang spesifikasi jabatan baik menurut pembidangannya maupun berdasarkan penjenjangannya dalam struktur organisasi / perusahaan.

5) Standar Pekerjaan dalam Penilaian Prestasi Kerja

Informasinya :

  1. Informasi tentang TUGAS-TUGAS yang harus dikerjakan oleh seorang pekerja termasuk supervisor.
  2. Informasi tentang BAGAIMANA CARA terbaik dalam melaksanakan tugas-tugas tersebut.
  3. Informasi tentang HASIL MAKSIMAL yang seharusnya dicapai dalam melaksanakan tugas-tugas dengan cara tersebut.

6) Persyaratan Sistem Penilaian Prestasi Kerja yang Efektif
Persyaratan Ilmiah / Legal / Formal :Relevansi, Sensitivitas, Reliabilitas
Persyaratan Operasional :Akseptabel dan Praktis

7) Metode Penilaian Prestasi Kerja

  1. Metode ukuran ringkas
  2. Metode ranking/skala nilai dan membandingkan
  3. Metode daftar cek perilaku
  4. Metode distribusi penyebaran kemampuan
  5. Metode grafik skala nilai
  6. Metode Pencatatan kejadian penting
  7. Manajemen berorientasi pada hasil
  8. Metode penyusunan dan review perencanaan : Interview, Observasi, Review/diskusi, Monitor komputer dan Rekaman video

8) Bias Penilaian

  • Kesan pertama (Halo error)
  • Hasil yang berbeda (Contrast Error Result)
  • Kekeliruan karena kemarahan hati (Generosity Error)
  • Kesan hasil penilaian sebelumnya (Recency Error Result)
  • Prasangka pribadi

7.6.  Pemberian balas jasa dan penghargaan
(1) Pengertian Kompensasi

  • Segala sesuatu yang diterima para karyawan sebagai balas jasa untuk kerja mereka
  • Pemberian kepada karyawan dengan pembayaran finansial sebagai balas jasa untuk pekerjaan yang dilaksanakan dan sebagai motivator untuk pelaksanaan kegiatan di waktu yang akan datang
  • Penghargaan/ganjaran pada para pekerja yang telah memberikan kontribusi dalam mewujudkan tujuannya, melalui kegiatan yang disebut bekerja

(2) Tujuan-tujuan Administrasi Kompensasi

  • Memperoleh personalia yang Qualified
  • Mempertahankan para karyawan yang ada sekarang
  • Menjamin keadilan
  • Mengendalikan biaya-biaya
  • Memenuhi peraturan-peraturan legal

(3) Jenis-jenis Kompensasi

  • Kompensasi langsung : Gaji  dan Upah
  • Kompensasi tidak langsung berupaTHR, Tunjangan hari natal, Jaminan kesehatan Liburan dan Cuti
  • Insentif : Bonus

(4) Tantangan-tantangan yang mempengaruhi kebijaksanaan Kompensasi

  • Suplai dan permintaan tenaga kerja
  • Serikat karyawan
  • Produktivitas
  • Kesediaan untuk membayar
  • Kemampuan untuk membayar
  • Berbagai kebijaksanaan pengupahan dan penggajian
  • Kendala-kendala pemerintah
  • Biaya kehidupan

(5) Proses Penentuan Upah

7.7. Perencanaan dan Pengembangan Karier
a. Pengertian Karier

  • Sebagai salah satu urutan promosi atau pemindahan (transfer) lateral kejabatan-jabatan yang lebih menuntut tanggung jawab atau ke lokasi-lokasi yang lebih baik dalam atau menyilang hirarki hubungan kerja selama kehidupan kerja seseorang
  • Sebagai penunjuk pekerjaan-pekerjaan yang membentuk suatu pola kemajuan yang sistematik dan jelas jalur karier sebagai sejarah pekerjaan seseorang atau serangkaian posisi yang dipegangnya selama kehidupan kerja
  • Seluruh pekerjaan (jabatan) yang ditangani atau dipegang selama kehidupan kerja seseorang.

b. Manfaat Perencanaan Karier

  • Mengembangkan para karyawan yang dapat dipromosikan
  • Menurunkan perputaran
  • Mengungkap potensi karyawan
  • Mendorong pertumbuhan
  • Mengurangi penimbunan
  • Memuaskan kebutuhan karyawan
  • Membantu pelaksanaan rencana-rencana kegiatan yang telah disetujui

c. Mendesain Program Pengembangan Karier

  • Fase Perencanaan
  • Fase Pengarahan : Konseling Karier dan Menyelenggarakan pelayanan informasi
  • Fase Pengembangan : Penyelenggaraan Sistem Mentor, Pelatihan Rotasi jabatan dan Program Beasiswa / Ikatan Dinas

d. Peranan Departemen Personalia dalam Pengembangan Karier

- Dukungan Manajemen : Komitmen oleh manajemen puncak adalah krusial untuk mendapatkan dukungan para manajer lainnya.
- Umpan Balik : Memberitahukan kepada para karyawan secara periodik mengenai prestasi kerja mereka.dan Program penempatan
  Tujuan umpan balik :

  • Untuk menjamin para karyawan yang tidak dipromosikan bahwa mereka masih bernilai dan akan dipertimbangkan untuk promosi-promosi selanjutnya, bila mereka “qualified”.
  • Untuk menjelaskan mengapa mereka tidak terpilih.
  • Untuk menunjukkan apa kegiatan-kegiatan pengembangan karier yang harus diambil.

-  Kelompok-kelompok Kerja Kohesif : Organisasi adalah lingkungan yang memuaskan.

7.8. Pemutusan Hubungan Karyawan
a.  Pengertian PHK
PHK adalah suatu kondisi tidak bekerjanya lagi karyawan tersebut pada perusahaan karena hubungan kerja antara karyawan dan perusahaan terputus, atau tidak diperpanjang lagi.
b.  Dampak PHK
Bagi Perusahaan

  • Terhentinya produksi sementara
  • Harus mencari penggantinya dengan karyawan baru
  • Melepas karyawan yang sudah berpengalaman dan setia
  • Memerlukan biaya yang besar untuk merekrut lagi

Bagi Karyawan

  • Timbulnya situasi yang tidak enak karena harus menganggur
  • Terputusnya hubungan dengan teman-teman sekerja
  • Berkurangnya rasa harga diri
  • Hilangnya penghasilan yang diterima untuk membiayai keluarga
  • Harus bersusah payah mencari pekerjaan baru

c.  Sebab-sebab PHK
1. PHK atas dasar permintaan sendiri
a. Masalah keluarga                                                      e. Perlakuan yang kurang adil
b. Tidak dapat mengembangkan karier                 f. Tingkat kompensasi yang rendah
c. Lingkungan kerja yang kurang nyaman           g. Masalah kesehatan
d. Pekerjaan tidak cocok dengan minat dan bakat

2. PHK karena kebijaksanaan perusahaan

  • Karyawan tidak disiplin
  • Karyawan kurang cakap dan tidak produktif
  • Karyawan melakukan tindakan asusila
  • Penyederhanaan organisasi dalam perusahaan

3.   PHK karena peraturan perundang-undangan

  • Meninggal dunia
  • Telah mencapai batas usia untuk PHK
  • Melanggar peraturan yang berlaku
  • Berakhirnya kontrak dengan perusahaan

d. Macam-macam PHK
(1) PHK yang bersifat sementara

  • Karyawan tidak tetap
  • Perusahaan yang bergerak atau menghasilkan produk secara musiman
  • Karyawan yang dikenakan tahanan sementara

(2) PHK yang bersifat permanen (pemberhentian)
- Pemberhentian dengan hormat

  1. Permintaan sendiri
  2. Telah mencapai usia pensiun
  3. Meninggal dunia
  4. Adanya penyederhanaan organisasi perusahaan
  5. Tidak cakap jasmani atau rohani

- Pemberhentian dengan tidak hormat

  1. Melakukan pelanggaran atau kejahatan
  2. Terlibat dalam perbuatan yang menentang pemerintah
  3. Meninggalkan tugas tanpa izin
  4. Sengaja melanggar ikatan perjanjian kerja

BAB VIII. MANAJEMEN KONFLIK
8.1. Batasan-batasan

  1. Konflik sebagai perjuangan antar kebutuhan, keinginan gagasan kepentingan ataupun orang yang saling bertentangan .
  2. Konflik sebagai interaksi antara individu, kelompok atau organisasi yang membuat tujuan atau arti yang berlawanan dan merasa bahwa orang lain sebagai pengganggu yang potensial terhadap tujuan.
  3. Konflik adalah dua kesepakatan antara dua kelompok atau lebih (Organisasi/Kelompok) terhadap gagasan atau ketentuan yang disampaikan.
  4. Konsep Lama bahwa konflik dipandang sesuatu yang harus dihindari, tetapi manajemen baru bahwa konflik harus di kelola dengan baik.
  5. Manajemen konflik adalah suatu cara atau metoda untuk memecahkan persoalan-persoalan yang tujuannya untuk mencari solusi yang baik.
  6. Konflik timbul karena ketidak sesuaian dalam hal : 1. Sasaran, 2. Nilai, 3. Pikiran, 4. Perasaan, 5. Perilaku

8.2. Jenis-jenis konflik
Adapun jenis-jenis konflik antara lain :
a) Konflik dalam diri sendiri
Seseorang dapat mengalami konflik internal dalam dirinya karena harus memilih tujuan yang saling bertentangan dan harus memilih yang paling baik. Konflik ini juga terjadi karena tuntutan tugas yang melebihi kemampuannya
b) Konflik antar individu
Konflik ini disebabkan adanya perbedaan isu tertentu Tindakan dan tujuan sangat menentukan terhadap keberhasilan
c) Konflik anggota kelompok
Konflik substantif yaitu terjadi karena latar belakang yang berbeda Konflik afektif yaitu terjadi didasarkan atas tanggapan emosional terhadap situasi tertentu.
d) Konflik antar kelompok
Terjadi karena masing-masing kelompok ingin mengejar kepentingan atau tujuan kelompoknya masing-masing Terjadi karena memperebutkan posisi pemimpin antar kelompoknya
e) Konflik antar Organisasi
Terjadi karena memiliki kepentingan tertentu dalam komunitas Terjadi karena ketergantungan
f) Konflik intra organisasi
Konflik terjadi didalam organisasi (internal). Penyebabnya kesenjangan atau kekuasaan Konflik Intra Organisasi ada 4 tipe :
1) Konflik Vertikal                           3) Konflik garis – Staf
2)Konflik Horizontal                      4) Konflik Peran

8.3. Pendorong Konflik
Didalam factor pendorong Konflik ada beberapa sebab, yaitu :
1) Mengadakan kompetisi atau persaingan      4) Restrukturisasi Organisasi
2) Mendatangkan Orang dari Luar                    5) Mengubah jaringan informasi
3) Mengubah prosedur yang sudah mapan      6) Mengubah metode pemilihan pimpinan

8.4. Mengatasi dan Mengurangi Konflik
Langkah-langkah atau cara mengatasi konflik ada tiga macam, yaitu :
1) Dominasi
Cara-Cara Dominasi
a) Penekanan (Forcing)                            c) Penghindaran (Avoidance)
b) Penenangan (Smoothing)                  d) Aturan Mayoritas (Mojority Rules)
2) Kompromi
Cara Kompromi :
a) Pemisahan                                                c) Pemecahan secara random
b) Arbitasi                                                     d) Kembali pada peraturan yang berlaku
e) Kompensasi
3) Pendekatan Integratif
Cara Pendekatan Integratif
a) Konsensus
b) Konfrontasi
c) Penetapan tujuan yang lebih tinggi

Langkah-langkah atau cara mengurangi konflik ada beberapa cara, yaitu :
1) Menambah Sumber daya yang diperebutkan
2) Mengganti tujuan-tujuan yang menjadi sumber konflik
3) Memasukkan orang lain yang dapat menyatukan konflik
4) Koordinasi
5) Dinamika Interpesonal

BAB IX. MANAJEMEN PEMASARAN

9.1. Pegertian Marketing/ Pemasaran
Menurut Robert Grade bahwa Marketing / pemasaran adalah pemenuhan kebutuhan dan keinginan melalui penjualan produk atau jasa. Sedangkan menurut Philip Kotler bahwa Pemasaran adalah suatu proses social yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan mencitakan, menawarkan, dan secara bebas memeruntukkan  produk yang bernilai dengan pihak lain.
Michael Muckian dalam One – Day MBA bidang pemasaran , mengutip pernyataan Sergio Zyman, mengatakan satu-satunya tujuan pemasaran adalah menjual lebih banyak kepada lebih banyak orang, lebih sering, dan dengan harga yang lebih tinggi. Tidak ada alasan lain untuk  melakukannya. Setelah di kaji lebih lanjut pernyataan tersaebut, sebenarnya tetap saja dalam mencapai penjualan yang lebih banyak kepada lebih banyak orang, lebih sering, dan dengan harga yang lebih tinggi, untuk mencapai tujuan tersebut cara dan metode yang di pikirkan.
Pemasaran adalah bagaimana kita dapat menjual suatu barang atau jasa dengan pemuasan kebutuhan konsumen.
Pemasaran = pemuasan kebutuhan
Satu-satunya tujuan pemasaran adalah :menjual lebih banya kepada lebih banyak orang, lebih sering, dan dengan harga yang lebih tinggi. Tidak ada alasan lain untuk melakukannya.

9.2.  Manajemen Pemasaran
Rangkaian Proses Yang Dimulai Dari Planing, Organizing, Actuating,Controling, Evaluating Untuk Melakukan Penjualan Dan Memperoleh Profit Melalui Customer Satisfaction.
Menurut Stanton (1993) dalam iklim ekonomi seperti apapun, pertimbangan-pertimbangan pemasaran tetap merupakan faktor yang sangat menentukan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, karena hidup mati suatu perusahaan sangat tergantung dari pasar. Bila pasar mereka sukses maka sangat besar kemungkinan usaha mereka juga sukses, dan juga sebaliknya, bila produk mereka gagal dipasaran, maka usaha merekapun hampir pasti juga gagal.
Manajemen Pemasaran adalah Merupakan bagian manajemen yang diterapkan secara strategis dalam perencanaan, pengaturan, dan pengawasan dengan motivasi untuk mencapai keuntungan dengan jalan mendistribusikan untuk memenuhi kebutuhan konsumen baik berupa barang atau jasa .

Implementasi dari definisi tersebut :
1) Manajemen yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan dan kontrol
2) Mempunyai kegiatan pertukaran antara pembeli dan penjual
3) Adanya pendistribusian

Definisi Manajemen Pemasaran Mengandung Arti a).Adanya kegiatan Manusia b).Untuk memperlancar dan menyempurnakan pertukaran, c).Jenis barang yang ditukar  dan d). Adanya pembeli dan penjual

a. PENTINGNYA PEMASARAN..?
Hidupmati dan Sukses gagal suatu usaha tergantung dari pasar dan cara memasarkan.

  • Konsep Pemasaran > Profit >Kepuasan Pelangan
  • Konsep Penjualan > Profit > Penjualan Maksimal

Menurut Hermawan Kertajaya bahwa Elemen – Elemen Pemasaran antara lain :

  1. Marketing Mix                         f.   Segmentation
  2. Selling                                     g.  Positioning
  3. Service                                    h.  Targeting
  4. Process                                   i.   Differentiation
  5. Brand

b.  Pemasaran Efektif Dan Efisien
Target dari Pemasaran yang efektif dan Efisien adalah Mengantarkan Barang Dan Jasa Yang Tepat.

  • Kepada orang yang tepat
  • Di tempat yang tepat
  • Pada waktu yang tepat
  • Dengan harga yang tepat
  • Dengan promosi yang tepat
  • Dan komunikasi yang tepat

c. Mana Yang Pas Dengan Usaha Kita ..?
WANT / Keinginan?.

  • Kita ingin membantu masyarakat dengan memberikan bantuan modal yang saling menguntungkan
  • Kita ingin memberi pelayanan yang lebih baik
  • Kita ingin membina hubungan yang berkesinambungan
  • Kita ingin menjaga kelangsungan hidup perusahaan demi masa depan generasi yang akan datang

NEED ?

  • Kita butuh pelanggan potensial
  • Kita butuh kepercayaan
  • Kita butuh kesetiaan
  • Kita butuh tenaga yang handal dengan loyalitas tinggi

d. Beberapa Tahap Pemasaran Ditinjau Perkembangan Ekonomi

  • Tahap Swadaya Ekonomi (The Stage of Economic Self Sufficient)
  • Tahap Kepemilikan Bersama yang Primitif (The Stage of Primitive Communism)
  • Tahap Barter yang Sederhana (The Stage of Simple Barter)
  • Tahap Pasar Lokal (The Stage of Local Markets)
  • Tahap Ekonomi Uang (The Stage of Money Economic)
  • Tahap Kapitalisme Muda (The Stage of Early Capitalism)
  • Tahap Produksi Massa (The Stage of Mass Production)
  • Tahap Masyarakat Makmur

e. Pendekatan Dalam Pemasaran

  1. Pendekatan Barang
  2. Pendekatan Fungsi
  3. Pendekatan Lembaga
  4. Pendekatan Manajemen
  5. Pendekatan Total

f. Fungsi-Fungsi Dalam Pemasaran

  1. Fungsi Pembelian
  2. Fungsi Penjualan
  3. Fungsi Penyimpanan
  4. Fungsi Pengangkutan
  5. Fungsi Standarisasi
  6. Fungsi Informasi Pasar

g. Kegiatan Pemasaran Dinamis

h. Proses Pemasaran

 

 

i. Hierarki Kebutuhan Manusia

j.  Marketing Mix
Adalah suatu istilah yang menggambarkan seluruh unsur pemasaran dan faktor produksi yang dikerahkan untuk mencapai tujuan perusahaan atau suatu kombinasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam pemasaran barang atau jasa.
Variabel Marketing mix yang disampaikan Kotler, Boom dan Bitner yaitu 4P ditambah 3P (Price, Produk, Promotion, Place, People, Physical Evidence, dan Proces)

 

Price/Harga

  • Biaya di tambah presentase tertentu untuk memperoleh keuntungan
  • Price adalah ekspresi nilai (kegunaan produk, kualitas, citra yang terbentk melalui iklan dan promosi, ketersediaan produk, jaringan distribusi dan layanan yang menyertainya)
  • ROBERT GRADE P = Q + S     STRATEGY MR BOB
  • Harga / Price : mempunyai peran bagi masing-masing pihak, yaitu : Pembeli (konsumen) dan penjual (produsen)

Bagi penjual harga merupakan pedoman yang digunakan untuk:

  1. menentukan nilai tukar dan hasil yang diperoleh,
  2. menentukan permintaan
  3. mempengaruhi posisi persaingan
  4. market share
  5. program pemasaran

Bagi pihak pembeli merupakan dasar :

  1. Memperkirakan dalam memperoleh barang
  2. Menentukan pilihan
  3. Persaingan antar konsumen

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penetapan harga :

  1. Keadaan Ekonomi
  2. Permintaan dan Penawaran Barang
  3. Persaingan
  4. Target Penguasaan Pasar (Market Share)
  5. Biaya Produksi
  6. Kendali Pemerintah

Metode Penetapan Harga
1) Metode Cost Pricing
Harga Jual = Biaya + Keuntungan
Atau
Harga Jual = Harga Pokok Penjualan + Keuntungan
Faktor yang paling dominan (naik/turun) dalam penetapan harga metode cost pricing adalah biaya.

2) Metode Keseimbangan (Permintaan dan Penawaran)
Yaitu suatu penetapan harga barang yang dijual berdasarkan atas situasi permintaan dan penawaran barang.
Apabila jumlah barang banyak/tinggi sedangkan penawaran sedikit, maka harga barang akan tinggi/mahal
Apabila jumlah barang sedikit/rendah sedangkan penawaran banyak, maka harga barang akan rendah/murah

Penetapan harga barang yang dijual berdasarkan atas perubahan permintaan dengan kriteria :

  1. Apabila permintaan tinggi/kuat, maka harga jual ditetapkan relatif tinggi/mahal
  2. Apabila permintaan rendah/lemah, maka harga jual ditetapkan relatif rendah/ murah
  3. Apabila kekuatan permintaan berbeda-beda, maka harga jual ditetapkan berbeda-beda (harga jual diskriminan)

Harga jual diskriminan terdiri dari beberapa jenis :

  1. Diskriminasi berdasarkan pembeli
  2. Diskriminasi berdasarkan barang
  3. Diskriminasi berdasarkan tempat atau daerah
  4. Diskriminasi berdasarkan waktu atau periode

3) Metode Kondisi Pasar
Metode Kondisi Persaingan Pasar yaitu suatu metode penetapan harga barang yang dijual berdasarkan situasi tingkat persaingan.
Jadi persaingan rendahnya harga barang yang dijual, tergantung dari tingkatan persaingan yang terjadi
Cara yang dapat dilakukan adalah :

  1. Harga jual ditetapkan sama dengan pesaing
  2. Harga jual ditetapkan dibawah/lebih rendah pesaing
  3. Harga jual ditetapkan di atas pesaing

4) Metode Kombinasi
Metode ini menggabungkan ketiga metode di atas.
Product (What ?, Who ?, When ?danWhere ?)
Promotion  : Mengenalkan, Mengingatkan dan Mempengaruhi)
Place.  Terkait Penentuan Letak Usaha Dan Sasaran Pemasaran.
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tempat :

  • Jarak tempuh (waktu)
  • Sarana dan Prasarana Transportasi
  • Fasilitas yang Tersedia
  • Letak (Strategis)

Dalam teori Pasar terkait dengan Tempat (Place) :

  • Mendekati Konsumen
  • Mendekati Bahan Baku

k. Segmentasi, Targeting and Positioning (STP)

  1. Segmentasi : Mengelompokkan pasar kedalam suatu kelompok yang lebih kecil sesuai dengan daya beli, keinginan, lokasi geografis, perilaku pembelian, dan kebiasaan pembelian yang serupa
  2. Targeting : Menentukan Segmen yang mana yang menjadi tujuan pasar yang paling menguntungkan
  3. Positioning : Memposisikan diri dalam suatu pasar sasaran dengan menyesuaikan pada want dan need pasar.

l. Produk atau dengan kata lain Barang
Jenis Barang yang dijual oleh perusahaan dapat dikelompokkan sbb :

a. Menurut jenis dan tujuan : Barang Konsumsi dan Barang Industri
Barang Konsumsi ® Hasil Pertanian
Barang Industri ®  Non Pertanian

Barang konsumsi hasil pertanian mempunyai Ciri-Ciri :

  1. Diproduksi Musiman
  2. Mudah Rusak
  3. Selalu segar atau primer
  4. Jumlahnya banyak tetapi nilainya sedikit
  5. Spesifik

Spesifikasi Pemasaran Produk Pertanian :

  1. Produk pertanian gampang rusak (Perishable)
  2. Dalam melakukan pembelian dan penjualan dihadapkan pada berbagai tingkat (Grade) barang.
  3. Memerlukan proses pengolahan
  4. Rasio biaya tetap dan biaya variabel secara langsung berpengaruh terhadap respon penawaran produsen.

b. Menurut Sifat Barang

  • Barang Mudah Rusak
  • Barang Tahan Lama

c. Menurut Tingkat Kepentingan

  • Barang Primer (Utama)
  • Barang Sekunder (Kedua)

d. Menurut Hubungan Kejiwaan

  • Barang fungsional
  • Barang Prestise/Status
  • Barang Kelompok Umur
  • Barang Hedonis
  • Barang Anxiety

e. Jenis Kualitas barang

  • Barang Kualitas Sangat Baik
  • Barang Kualitas Baik
  • Barang Kualitas Sedang atau Biasa

9.3.  Penelitian Pasar

  1. Melakukan analisa pasar secara dini guna mengetahui kondisi permintaan dan penawaran
  2. Langkah = Mencari informasi yang berkaitan dengan pasar yang di tuju, kemudian menganalisa, membuat pemetaan dan menentukan tindakan yang di ambil
  3. Tujuan = Agar lebih tepat sasaran (efektif dan efisien)
  4. Sasaran = Keberhasilan (profit)

BAB X. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MANAJEMEN

10.1.  Pengertian Pengawasan

  1. Pengawasan adalah proses dalam menetapkan ukuran kinerja dan pengambilan tindakan yang dapat mendukung pencapaian hasil yang diharapkan sesuai dengan kinerja yang telah ditetapkan tersebut.Controlling is the process of measuring performance and taking action to ensure desired results. (Schermerhorn,2002).

Pengawasan adalah proses untuk memastikan bahwa segala aktifitas yang terlaksana sesuai dengan apa yang telah direncanakan . the process of ensuring that actual activities conform the planned activities. (Stoner, Freeman ,& Gilbert, 1995)

10.2. Konsep Pengendalian Manajemen
Pengendalian:  adalah proses untuk menjamin agar kegiatan mengarah ke tujuan yang diinginkan.
a.  Unsur  Pengendalian:
1.  Detektor atau sensor
2.  Assesor atau penilai
3.  Efektor atau pengubah
4.  Jaringan Komunikasi
Contoh : Sopir Mobil
Mata (sensor)
Otak (assessor)
Kaki (effector)
Jaringan komunikasi dari indera à otak à anggota badan

b. Manajemen adalahOrganisasi terdiri atas sekelompok orang yang bekerjasama untuk mencapai tujuan tertentu. Tujuan organisasi bisnis adalah memperoleh laba yang memuaskan serta Pimpinan organisasi adalah manajemen
Manajemen punya atasan dan bawahan
Manajemen Senior menetapkan strategi untuk mencapai tujuan organisasi
Proses pengendalian manajemen adalah kegiatan yang digunakan  oleh seluruh manajemen untuk menjamin bahwa anggota organisasi bawahan yang disupervisi  akan mengimplementasikan strategi yang ditetapkan

c. Beda Pengendalian management dengan pengendalian tubuh atau sopir

  • Standar tidak tertentu (tetap) tetapi merupakan proses perencanaan
  • Pengendalian management tidak otomatis
  • Pengendalian Manajemen memerlukan koordinasi antar individu
  • Hubungan antara tindakan yang diamati dengan perilaku yang diperlukan mungkin tidak jelas
  • Pengendalian Manajemen banyak yang merupakan swakontrol

10.3. Pengendalian Manajemen
Adalah suatu proses yang digunakan untuk mempengaruhi para anggota organisasi agar menerapkan strategi organisasi.
Pengendalian manajemen merupakan:

  • Aktivitas Pengendalian Manajemen
  • Keselarasan Tujuan
  • Salah satu alat implementasi Strategi, selain struktur organisasi, manajemen SDM, Budaya Menekankan aspek Keuangan dan Nonkeuangan
  • Membantu Mengembangkan Strategi Baru

a.  Batas Pengendalian Manajemen
Tiga aktivitas yang memerlukan perencanaan dan pengendalian:

  • Strategy Formulation
  • Management Control
  • Task Control

b.  Beberapa Istilah Asing mengenai Pengawasan

  • Controlling
  • Evaluating
  • Appraising
  • Correcting

10.4. Proses Pengendalian Manajemen

 

 

a.  Aktivitas Pengendalian Manajemen

  • Perencanaan
  • Koordinasi
  • Komunikasi
  • Evaluasi
  • Pengambilan Keputusan
  • Mempengaruhi orang untuk mengubah perilakunya

Masalah utama dalam PM adalah mendorong agar saat para anggota organisasi mencapai tujuannya sendiri,  dan pada saat yang sama mereka  secara otomatis membantu pencapaian tujuan organisasi (goal congruence)

10.5.  Tujuan dari Fungsi Pengawasan
a. adaptasi lingkungan                              c.  meminimumkan biaya
b. meminimalkan kegagalan                  d.  mengantisipasi kompleksitas dari organisasi

a.  Proses Pengawasan

b. Beberapa Gejala yang memerlukan Pengawasan

  1. Terjadi penurunan pendapatan atau profit, namun tidak begitu jelas faktor penyebabnya
  2. Penurunan kualitas pelayanan (teridentifikasi dari adanya keluhan pelanggan)
  3. Ketidakpuasan pegawai (teridentifikasi dari adanya keluhan pegawai, produktifitas kerja yang menurun, dan lain sebagainya)
  4. Berkurangnya kas perusahaan
  5. Banyaknya pegawai atau pekerja yang menganggur
  6. Tidak terorganisasinya setiap pekerjaan dengan baik
  7. Biaya yang melebihi anggaran
  8. Adanya penghamburan dan inefisiensi

c. Pengawasan berdasarkan proses Kegiatan

d.  Beberapa faktor yang terkait dengan Pengawasan dalam Bidang SDM

  • Penerapan Employee Discipline System
  • Adanya Career Path
  • Pemahaman Manajer atas Motivasi, Kepuasan, serta Gaya Kepemimpinan yang diterapkan

e.  Pengawasan di Bagian Informasi

  • Penggunaan Teknologi Komputer dan Teknologi Informasi
  • Penerapan Sistem Informasi Manajemen

f.  Pengawasan di Bagian Keuangan

  • Analisis Laporan Keuangan (Financial Statement Analysis)
  • Manajemen Kas (Cash Management)
  • Pengelolaan Biaya (Cost Control)

g.  Pengawasan di Bagian Pemasaran

  • Evaluasi atas Pasar Sasaran dan Pasar Potensial
  • Survey atas Perilaku Konsumen dan berbagai Faktor yang terkait dengan Konsumen Evaluasi atas Strategi Pemasaran dan Bauran Pemasaran yang dilakukan

h.  Pengawasan di Bagian Produksi/Operasi

  • Evaluasi atas Plant Location
  • Evaluasi atas Plant Lay-out
  • Evaluasi atas Production Process and Schedule
  • Evaluasi atas Product Distribution

i.   Mempertahankan (Memelihara) Fungsi Pengawasan

  • Sistem pengawasan tradisional (traditional control system)
  • sistem pengawasan yang berdasarkan komitmen (commitment-based control system).

BAB XI. PENUTUP
Sebagai penutup diktat kuliah ini, perlu ditegaskan bahwa :

  1. Mata kuliah Dasar-Dasar Manajemen merupakan mata kuliah Dasar yang menyediakan prinsip-prinsip dasar dalam manajemen khususnya manajemen secara umum.
  2. Dalam belajar Dasar-Dasar Manajemen, setiap bab selalu berhubungan satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Pembagian dalam bab-bab diperlukan untuk mempertajam suatu analisis.
  3. Kesempatan bertanya dan berdiskusi kepada pengampu pada setiap acara perlu dimanfaatkan mahasiswa dengan sebesar-besarnya sehingga diperoleh manfaat pendalaman dan pengembangan pengetahuan Manajemen khususnya untuk Manajemen Pertanian/Peternakan.
  4. Nilai kemampuan akhir keahlian Manajemen Peternakan ditentukan dan diperoleh dimasyarakat. Oleh karena itu, gunakanlah waktu yang baik ini untuk belajar semaksimal mungkin.
  5. Untuk kelengkapan dalam mempelajari Pengembangan Dasar-Dasar Manajemen khususnya Bidang Peternakan, maka akan dibahas dalam Mata Kuliah Keahlian Manajemen Budidaya ternak dan Manajemen Usaha Peternakan.

Akhir kata, semoga Diktat Dasar-Dasar Manajemen ini bisa menjadi pegangan dan bahan kajian bagi mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri dan para peminat dan pemerhati Manajemen bidang pertanian dan peternakan.

Referensi

  1. Amirullah & Rindyah Hanafi, 2002. Pengantar Manajemen. Graha Ilmu, Yogyakarta.
  2. James A.F. Stoner & R. Edward Freeman. Manajemen, edisi Indonesia, jilid 1 dan 2. Intermedia, Jakarta
  3. Stephen P. Robins & Mary Coulter, 1999. Manajemen, edisi Indonesia, jilid 1 dan 2. PT. Prehellindo, Jakarta.
  4. M.A. Mukhyi, 1995. Pengantar Manajemen Umum, Gunadarma, Jakarta.
  5. Fx. Soedjadi, 1997. Analisis Manajemen Modern, Kerangka pikir dan beberapa pokok aplikasi. Gunung Agung, Jakarta.
  6. Sondang P. Siagian MPA, 1996. Fungsi-fungsi Manajemen. Bumi Aksara, Jakarta.
  7. Sukanto Reksohadiprodjo, 1986. Dasar-dasar Manajemen. BPFE, Yogyakarta

tErIMa KasIh





Diktat Dasman-1

16 07 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas terselesaikannya Diktat Kuliah Dasar-Dasar Manajemen. Diktat kuliah ini disusun berdasarkan konsep dan pustaka yang penulis pandang relevan untuk menjelaskan prinsip-prinsip dasar Manajemen yang nantinya merupakan suatu keahlian dari sarjana peternakan untuk diaplikasikan pada Manajemen Usaha Peternakan baik ternak Unggas, Perah, Potong/Kerja serta Aneka Ternak Skala Usaha Modern.
Tentu saja isi diktat ini sangat singkat, oleh karena itu membaca pustaka asli sangat dianjurkan bagi mahasiswa sehingga cakrawala berpikir tentang prinsip manajemen menjadi lebih luas dan mendalam. Secara tekhnis, materi kuliah tercakup dalam 7 pokok bahasan yang direncanakan selesai dalam 15 kali kuliah tatap muka di kelas, 6 kali tugas terstruktur, 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester. Evaluasi akhir merupakan nilai kumulatif dari nilai tugas tersruktur (20%), nilai ujian tengah semester (40%), dan nilai ujian akhir semester (40%).
Penulis mengharapkan diktat ini dapat dipandang sebagai upaya agar mahasiswa lebih mudah untuk menjadi tahu, mau, dan akhirnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam lingkup manajemen bidang peternakan.

DAFTAR ISI
KATA  PENGANTAR
DAFTAR  IS
DAFTAR  GAMBAR
BAB I. PENDAHULUAN
1.1.    Prinsip Dasar Manajemen
1.2.    Sejarah Manajemen
1.3.    Perspektif Sistem dalam Manajemen
1.4.    Berbagai Isu kontemporer perkembangan ilmu manajemen
1.5.    Modern Manajemen Guru (Leader)
1.6.  Evolosi Teori Manajemen
BAB II. PENGERTIAN  MANAJEMEN
2.1.   Pengertian Manajemen
2.2.   Prinsip Dasar Manajemen
2.3.   Unsur-Unsur Manajemen
2.4.   Manajemen sebagai sebuah Profesi
2.5.   Tanggungjawab Manajemen
BAB III. FUNGSI  MANAJEMEN
3.1.   Fungsi Dasar Manajemen
3.2.   Fungsi Manajer dalam Cakupan Fungsi Manajemen
3.3.   Alur Kegiatan,SD Organisasi,Tujuan Perbedaan Pandangan
3.4.   Fungsi Operasional dalam Manajemen
BAB IV. PENDEKATAN DALAM SISTEM MANAJEMEN
4.1.   Proses Manajemen
4.2.   Proses Analisis dan Sintesis
4.3.   Manajemen dan Kepemimpinan
4.4.   Ciri-ciri Manajer Profesional
4.5.   Pendekatan Sistem Manajemen
4.6.   Pendekatan-pendekatan Manajemen
4.7.   Kriteria Keunggulan Manajemen Pendidikan jaman sekarang
4.8.   Kerangka implementasi strategi manajemen yang utuh
BAB V. PERENCANAAN
5.1.   Unsur-Unsur Perencanaan
5.2.   Langkah-Langkah Perencanaan
5.3.   Pendekatan Perencanaan
5.4.   Proses Perencanaan
5.5.   Bentuk Perencanaan
5.6.   Jenis Rencana
5.7.   Proyeksi Masa depan
5.8.   Perencanaan Produksi
5.9.   Perencanaan dan  Pengendalian Produksi
BAB VI. ORGANISASI
6.1.    Pendahuluan
6.2.    Pengertian Organisasi
6.3.    Sumber Daya Organisasi
6.4.    Jenis-Jenis dan Fungsi Organisasi
6.5.    Organisasi sebagai Sistem
6.6.    Jenis-Jenis sistem
6.7.    Pengertian Manajemen Organisasi
6.8.    Bidang-bidang Manajemen Operasional
6.9.    Macam-macam Organisasi
6.10. Struktur Organisasi
6.11. Macam Struktur Organisasi
6.12. Macam-macam Hubungan Struktur Organisasi
6.13. Jenis-jenis manajer
6.14. Peran Manajerial
6.15. Manajer – Leader di Sekolah
BAB VII. MANAJEMEN  SDM
7.1.   Pengertian Manajemen SDM
7.2.   Pendekatan Masalah Personalia/SDM
7.3.   Tantangan yang dihadapi Manajemen SDM
7.4.   Perencanaan SDM
7.5.   Penarikan/Rekruitment SDM
7.6.   Pengertian Balas Jasa dan Penghargaan
7.7.   Perencanaan dan Pengembangan Karier
7.8.   Pemutusan Hubungan Karyawan
BAB VIII. MANAJEMEN KONFLIK
8.1.   Batasan-batasan
8.2.   Jenis-jenis Konflik
8.3.   Pendorong Konflik
BAB IX. MANAJEMEN  PEMASARAN
9.1.   Pengertian Marketing/ Pemasaran
9.2.   Manajemen Pemasaran
9.3.   Penelitian Pasar
BAB X. PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN MANAJEMEN
10.1.  Pengertian Pengawasan
10.2.  Konsep Pengendalian Manajemen
10.3.  Pengendalian Manajemen
10.4.  Proses Pengendalian Manajemen
10.5.  Tujuan dari Fungsi Pengawasan
BAB XI. PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

BAB I. PENDAHULUAN
1.1.Prinsip Dasar Manajemen
Manajemen sering didefinisikan sebagai “pencapaian tujuan melalui orang lain”. Kedengarannya memang terlalu sederhana, akan tetapi memberi kita gambaran tentang beberapa hal mendasar.

  1. Yang pertama berkaitan dengan “pencapaian tujuan”. Manajemen selalu berkaitan dengan sebuah usaha untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan semata-mata sebuah posisi atau jabatan di dalam perusahaan. Banyak orang memiliki jabatan “manajer”, akan tetapi dalam kenyataannya mereka hanya menjalankan kedudukan dan bukan mengarahkan sesuatu ke arah pencapaian tujuan yang tertentu
  2. Pokok yang kedua adalah berkaitan dengan aspek “melalui orang lain”. Sebagai sebuah aktivitas, manajemen selalu menyangkut orang-orang lain, yakni bawahan -bawahan; dan pada usaha untuk mengarahkan atau mengkoordinasi kerja dari orang-orang tersebut. Meskipun setiap manajer memang memiliki tugas-tugas khusus yang hanya bisa dilakukan olehnya, peran seorang manajer lebih didasarkan pada kenyataan bagaimana dia mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas bawahannya. Dalam arti ini, seorang manajer seharusnya lebih mementingkan pencapaian hasil dari para bawahannya daripada prestasinya sendiri. Sebab pencapaian hasil bersama itulah yang menentukan keberhasilan dari organisasi secara keseluruhan

1.2. Sejarah Manajemen
Berbagai macam peninggalan fisik sebagai ciri adanya implementasi ilmu manajemen; seperti Piramida di Mesir, Bangunan Ka’bah di Makkah, Tembok Cina, dan lain sebagainya. Peninggalan fisik tersebut menggambarkan adanya aktifitas yang teratur dan bertahap di masa lalu yang saat ini dinamakan manajemen.

Pada mula Awal Teori Manajemen, banyak dikemukakan oleh para tokoh seperti :
a. Adam Smith (1776)
Merupakan Bapak Ilmu Ekonomi
Teorinya dikemukakan dalam sebuah buku yg berjudul “ The Wealth of Nation” (Kemakmuran Suatu Bangsa)
Prinsip utama dalam teorinya adalah agar masyarakat suatu negara dapat menjadi makmur yaitu dengan melakukan : Spesialisasi  dan Perdagangan internasional
b. Robert Owen (1771 – 1858)
Membuat konsep tentang arti pentingnya Sumber Daya Manusia (SDM) pada pengelolaan produksi yang bertujuan meningkatkan/memberikan kesejahteraan pada karyawan serta dapat meningkatkan produktivitas kerja dan laba perusahaan.
c. Charles Babbage (1792–1871) membuat konsep arti pentingnya Efisiensi dalam kegiatan Produksi, khususnya dalam penggunaan fasilitas dan material produksi serta Spesialisasi tugas (Job discription) bagi karyawan

d. Max Weber & Teory Birokrasi  dengan konsep Ciri Pokok Birokrasi :

  1. Pembagian tugas dan spesialisasi
  2. Hubungan yg bersifat kedinasan (impersonal), bukan bersifat perorangan (hub. Pribadi/ personal)
  3. Adanya hierarki kewenangan, dimana setiap bagian yg lebih rendah selalu berada di bawah kewenangan dan supervisi dari bagian di atasnya
  4. Manajemen selalu didasarkan atas pelaksanaan dg dokumen yg tertulis
  5. Orientasi pembinaan pegawai adalah pengembangan karier
  6. Agar dapat mencapai efisiensi yg maksimal, maka setiap tindakan yg diambil dalam organisasi harus selalu dikaitkan dg besar kecilnya sumbangan thd pencapaian tujuan organisasi

Dalam hal ini Weber membagi organisasi menjadi 3 macam, ditinjau dari segi Birokrasi dan kepemimpinannya:

  1. Organisasi Birokratik
  2. Organisasi Kharismatik
  3. Organisasi Tradisional

Dalam perkembangannya, maka muncul Tiga Kelompok Pemikiran Terdahulu dalam Ilmu Manajemen, yaitu dengan pengelompokkan sebagai berikut :

1. Perspektif Manajemen Klasik, terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu :
a) Kelompok Manajemen Ilmiah atau Saintifik : Perusahaan manufaktur, Bank Umum, Perusahaan Asuransi, Perusahaan Ritel, dll. Adapun para tokoh dan hasil pemikirannya antara lain :

Frederich W Taylor (1856-1915)

  • Time and Motion Studies, Piecework pay system, Empat Prinsip dasar Manajemen Ilmiah
  • Merupakan Bapak.Manajemen Ilmiah (Scientific Management)
  • Melakukan analisa kerja untuk peningkatan kecepatan kerja, efisiensi dan produktivitas pabrik, dengan menggunakan “Time and Motion Study” dengan stop watch
  • Hasil analisanya didapat Standar kerja, standar gerak, dan waktu
  • Prinsip2 Dasar yg dikemukakan Taylor ada 3,yaitu: Time and Emotion Study, Prinsip Upah Satuan (Piece Wage Rate Principle) dan Prinsip pemisahan antara perencanaan dan penampilan (Separation of Planning and Performance Prinsiple)

Frank Gilberth (1868-1924) dan Lilian Gilberth (1878-1972) Efisiensi dalam Produksi, Psikologi Industri, dan Manajemen SDM
Henry  L  Gant  ( 1861-1919 )  menyampaikan  Empat  Gagasan  Peningkatan Manajemen.
Empat (4) Gagasan Gantt dalam Manajemen, yaitu :

  1. Kerjasama yang saling menguntungkan antara tenaga kerja dan pimpinan
  2. Seleksi ilmiah tenaga kerja atau karyawan
  3. Sistem insentif  untuk merangsang produktifitas karyawan dan organisasi
  4. Penggunaan instruksi-instruksi kerja yang terperinci.

Harrington Emerson (1853-1931) menyampaikan 12 Prinsip Efisiensi
Dua Belas (12) Prinsip Efisiensi Emerson, yaitu :

  1. Tujuan-tujuan dirumuskan dengan jelas
  2. Kegiatan yang dilakukan harus masuk akal dan realistis
  3. Adanya staff yang memiliki kualifikasi yang tepat
  4. Adanya kedisiplinan
  5. Diberlakukannya pemberian kompensasi yang adil
  6. Perlu adanya laporan dari setiap kegiatan secara tepat, akurat, dan terpercaya, sehingga diperlukan semacam sistem informasi atau akuntansi.
  7. Adanya kejelasan dalam pemberian perintah, perencanaan dan pembagian kerja.
  8. Adanya penetapan standar dari setiap pekerjaan, baik dari segi kualitas kerja maupun waktu pengerjaan.
  9. Kondisi pekerjaan perlu distandardisasi.
  10. Kegiatan operasional harus juga distandardisasikan.
  11. Instruksi-instruksi praktis tertulis harus dibuat secara standar.
  12. Sebagai kompensasi atas efisiensi, perlu dibuat rencana pemberian insentif.

b). Kelompok Manajemen Administrasi
Henry Fayol (1841-1925) menyampaikan 14 Prinsip Fayol dalam Manajemen

  • Merupakan Bapak. Manajemen Operasional
  • Mengemukakan bahwa kegiatan yg dilaksankan dalam perusahaan industri dpt dibagi dalam beberapa kelompok tugas,sebagai berikut :  1. Technical , 2. Commercial, 3. Financial, 4. Manajerial , 5. Security , 6. Accounting
  • Fayol  memandang  bahwa manajemen merupakan suatu proses yang memiliki beberapa elemen, yaitu:

a.  Perencanaan (Planning)
b.  Pengorganisasian (Organizing)
c.  Pengarahan (Actuating/ Commanding)
d. Pengkoordinasian (Coordinating)
e. Pengawasan (Controling)

Keterangan:
+ : Bungkus, saluran distribusi, pesaing, harga, loyalitas pemakai, dsb.
-  : Pembukuan, neraca, laporan rugi-laba, pajak, presensi, dsb.
*  : Permodalan, investasi, inventarisasi, pelatihan karyawan, penggajian,dsb.
# : Bahan baku, bahan penolong, bahan jadi, pemasok bahan, pergudangan, dsb.

Empat Belas (14) Prinsip Fayol dalam Manajemen, yaitu :

  1. Pembagian kerja (Division of labour) yaitu adanya spesialisasi akan meningkatkan efisiensi pelaksanaan kerja
  2. Wewenang / otoritas (Authority) yaitu adanya hak untuk memberi perintah dan dipatuhi.
  3. Displin (Discipline), harus ada respek dan ketaatan pada peranan-peranan dan tujuan organisasi.
  4. Kesatuan perintah (Unity of Common), bahwa setiap pekerja hanya menerima instruksi tentang kegiatan tertentu dari hanya seorang atasan
  5. Kesatuan arah (Unity of Direction), kegiatan operasional dalam organisasi yang memiliki tujuan yang sama harus diarahkan oleh seorang manajer dengan penggunaan satu rencana.
  6. Mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, dimana  kepentingan perseorangan harus diupayakan agar senantiasa dibawah kepentingan organisasi. Dengan demikian prioritas harus didahulukan untuk kepentingan  bersama daripada kepentingan pribadi
  7. Pemberian upah (Remuneration), kompensasi untuk pekerjaan yang dilaksanakan harus adil baik bagi karyawan maupun pemilik
  8. Pemusatan (Sentralisation), adanya keseimbangan antara pendekatan sentraliasi dengan desentralisasi
  9. Semangat  korps (Esprit de corps), Prinsip ini menekankan bahwa pada dasarnya kesatuan adalah sebuah kekuatan. Pelaksanaan operasional organisasi perlu memiliki kebanggaan, kesetiaan, dan rasa memiliki dari para anggota yang tercermin pada semangat korps/kebersamaan
  10. Inisiatif (Initiative), setiap pekerja harus diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya dan diberi kebebasan untuk merencanakan dan menjalankan tugasnya secara kreatif walaupun memungkinkan terjadi kesalahan.
  11. Kestabilan staf (Stability of staff), perlu adanya kestabilan dalam menjalankan organisasi, tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat.
  12. Kesamaan (Equality), Perlakuan dalam organisasi harus sama dan tanpa ada diskriminasi
  13. Tata tertib (Order), sumber daya organisasi termasuk sumber daya manusianya, harus ada pada waktu dan tempat yang tepat. Penempatan orang-orang harus sesuai dengan pekerjaan yang akan dikerjakan.
  14. Jenjang jabatan (The Hierarchy) disertai dengan Garis wewenang (scalar system) – adanya garis wewenang dan perintah yang jelas.
  • Manajemen dg Orientasi Tugas
  • Manajemen dg Orientasi Hub. Kemanusiaan (Human Relation)
  • Manajemen dg Orientasi Tingkah Laku (Behavioral)

Lyndall Urwick (1891-1983) : Panduan Manajemen (Managerial Guidelines)
Max Weber (1864-1920) : Birokrasi dalam Organisasi

Kesimpulan mengenai Perspektif Manajemen Klasik

a. Kontribusi Manajemen Klasik

  1. Spesialisasi pekerjaan
  2. Studi mengenai masa dan beban kerja
  3. Metode ilmiah dalam manajemen
  4. Dikenalnya fungsi-fungsi manajemen.
  5. Prosedur dan Birokrasi

b. Keterbatasan Manajemen Klasik

  1. Kurang memperhatikan aspek kemanusiaan dari pekerja, seperti motif, tujuan, perilaku, dan lain sebagainya

2. Perspektif Manajemen Perilaku
Hugo Munstberg (1863-1916) Pentingnya pemahaman psikologis khususnya motivasi para pekerja.
a. Studi Howthorne
Studi Howthorne (Elton Mayo)
– Teori Perhatian (Attention Theory) Pekerja akan lebih produktif jika merasa diperhatikan
– Teori Penerimaan Sosial (Social Acceptance Theory) Pekerja akan menunjuk kan produktifitas berdasarkan faktor penerimaan sosial
b. Teori Relasi Manusia

  • Hirarki Kebutuhan dari Abraham Maslow
  • Teori X dan Y dari Douglas Mc Gregor

c. Teori Perilaku Kontemporer

  • Perhatian pada perilaku pekerja yang disebabkan oleh faktor psikologis, sosiologis, antropologis, dan lain sebagainya
  • Melahirkan konsentrasi ilmu Perilaku Organisasi

Teori Manajemen Kontemporer

  1. Perspektif Sistem dalam Manajemen  : Open System, Sub-Sistem, Sinergi dan Entropi
  2. Perspektif Kontingensi dalam Manajemen  : There is no such things as one best and general way on management

3. Perspektif Manajemen Kuantitatif

  1. Kelompok Manajemen Sains : Pengenalan penggunaan model matematis dalam kegiatan bisnis dan industri, seperti penentuan jumlah Teller dalam sebuah Bank (kasus Bank of England), peramalan atas volume penjualan, dan lain sebagainya
  2. Kelompok Manajemen Operasi merupakan :
  • Lanjutan dari kelompok Manajemen Sains
  • Adanya fokus pada pendekatan kuantitatif untuk peningkatan efisiensi
  • Dikenalnya pendekatan Analisa Break Even, Queuing Theory, dll

1.3. Perspektif Sistem dalam Manajemen

Perspektif Sistem dalam Manajemen

  1. Sistem terbuka adalah sistem yang melakukan interaksi dengan lingkungan dimana kebalikannya, sistem tertutup tidak melakukan interaksi dengan lingkungan.
  2. Sub-sistem merupakan elemen-elemen dalam sistem organisasi atau manajemen yang satu sama lainnya saling berkaitan
  3. Sinergi adalah konsep yang menjelaskan bahwa pekerjaan yang dilaksanakan secara bersama-sama akan memberikan hasil yang lebih baik daripada jika hanya dikerjakan oleh seorang saja.
  4. Entropi adalah kondisi dimana organisasi mengalami penurunan produktifitas dan kualitasnya disebabkan ketidakmampuan dalam membaca dan beradaptasi dengan lingkungan.

1.4. Berbagai Isu kontemporer dalam  Perkembangan Ilmu Manajemen

  1. Downsizing
  2. Diversity management
  3. Information Technology
  4. Globalization
  5. Ethics and Social Responsibility
  6. Managing for Quality
  7. Service Economy

1.5. Modern Management Guru (Leader)

  1. John Aldair  : efektif leadership dan centered leadership
  2. Igor Ansoff  : strategic management, Ansoff Matrix
  3. Chris Argyris : learning organization, single loop & double loop learning
  4. Chester Barnard : organizational behavior and executive behavior
  5. Percy Barnevik : Multinational corporate management system
  6. Christopher Bartlett : Entrepreneurial organization
  7. Warren Bennis : Adhocracy on Leadership and management
  8. Robert Blake : Managerial grid
  9. Edward de Bono : lateral thinking, valued monopolies

1.6. Evolusi Teori Manajemen

Manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Stoner). Manajemen merupakan ilmu dan seni. Ada 4 fungsi utama dalam manajemen: Perencanaan (Planning), Pengorganisasian (Organizing), Pengarahan (Actuating/ Directing), dan Pengawasan (Controlling)
Pengertian lain Manajenen adalah Seni dalam menyelesaikan sesuatu melalui orang lain (Follet,1997)
Demikian Juga Manajemen dapat diartikan sebagai Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya (Nickels, McHugh and McHugh ,1997)
Seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan. (Ernie&Kurniawan, 2005).

a. Faktor-faktor dalam Pencapaian Tujuan
Adanya penggunaan sumber daya organisasi, baik sumber daya manusia, maupun faktor-faktor produksi lainnya. Sumber daya tersebut meliputi sumber daya manusia, sumber daya alam, sumber daya keuangan, serta informasi (Griffin,2002) Adanya proses yang bertahap dari mulai perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengimplementasian, hingga pengendalian dan pengawasan. Adanya seni dalam menyelesaikan pekerjaan.

b.Sumber Daya Organisasi

  • Sumber Daya Manusia
  • Sumber Daya Informasi
  • Sumber Daya Fisik
  • Sumber Daya Keuangan
  • Sumber Daya Alam
  • dll

c. Pengertian Efektif dan Efisien (Drucker)
Efektif :  mengerjakan pekerjaan yang benar  atau tepat
Efisien : mengerjakan pekerjaan dengan benar atau tepat

BAB II. PENGERTIAN MANAJEMEN
2.1. Pengertian Manajemen
Berbagai perpustakaan online maupun off line dikunjungi, berbagai literature dalam dan luar negeri dibaca, akhirnya terkumpul sudah 315 pengertian manajemen. Tiga ratus lima belas pengertian manajemen tersebut, dianalisis titik temu kesamaan sekaligus perbedannya berbasis latar belakang pendidikan penulis sendiri adalah bidang manajemen. Sehingga ketemu sudah terdapat Delapan  kelompok arti manajemen, yaitu :

1). Manajemen juga sebagai proses. Proses pencapaian hasil yang diinginkan via penggunaan sumber daya secara efisien.
Menurut pengertian manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.

  • Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi.
  • Selanjutnya,Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
  • Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbinganatau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juiga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalm kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan manajemen.

2).Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science) Menurut pengertian yang ketiga, manajemen adalah seni (Art) atau suatu ilmu pnegetahuan. Mengenaiinipun sesungguhnya belum ada keseragaman pendapat, segolongan mengatakan bahwa manajemen adalah seni dan segolongan yang lain mengatakan bahwa manajemen adalah ilmu. Sesungguhnya kedua pendapat itu sama mengandung kebenarannya.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa saja yang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.

3). Manajemen sebagai alat atau cara. Ini mempunyai arti penggunaan manusia, uang, bahan-bahan, perlengkapan dan metode secara efektif demi mencapaitujuan.
4). Manajemen sebagai kekuatan. Artinya, sebuah kekuatan yang memimpin, memberi panduan, dan mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5). Manajemen sebagai sistem. Sistem perilaku kerjasama manusia yang diarahkan dalam mencapai tujuan lewat aktifitas-aktifitas rasional berkesinambungan.
6). Manajemen sebagai fungsi. Ini berarti, fungsi dari dewan manajer atau sering disebut manajemen untuk menetapkan kebijakan, kebijaksanaan-kebijaksanaan serta bertanggung jawab dalam membentuk struktur organisasi untuk melaksanakan kebijakan yang ditetapkannya.
7). Manajemen sebagai tugas. Tugas daripada perencanaan, pengorganisasian, pemotivasian dan pengawasan mencapai satu atau lebih tujuan.
8). Manajemen sebagai aktifitas. Sebagai aktifitas kata manajemen merujuk pada arti pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui usaha-usaha yang dilakukan orang lain. Sebagai alat, sebagai kekuatan, sebagai sistem, sebagai proses, sebagai fungsi, sebagai tugas, dan sebagai aktifitas adalah tujuh kelompok arti manajemen. Manajemen memunculkan dirinya sebagai aktifitas yang dilakukan sekelompok orang dalam suatu sistem relationship dengan pertolongan sumber daya bersama seluruh fasilitas mencapai tujuan yang hendak diperoleh secara efektif dan efisien. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam suatu badan tertentu disebut manajemen.

Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan

Dari gambar 4 di atas menunjukkan bahwa manajemen adalah Suatu keadaan terdiri dari proses yang ditunjukkan oleh garis (line) mengarah kepada proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian, yang mana keempat proses tersebut saling mempunyai fungsi masing-masing untuk mencapai suatu tujuan organisasi.
Dalam Pengertian lain bahwa “Manajemen merupakan ilmu tentang upaya manusia untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan secara efektif & efisien”

2.2. Prinsip Dasar Manajemen
Manajemen sering didefinisikan sebagai “pencapaian tujuan melalui orang lain”. Kedengarannya memang terlalu sederhana, akan tetapi memberi kita gambaran tentang beberapa hal mendasar.

  1. Yang pertama berkaitan dengan “pencapaian tujuan”. Manajemen selalu berkaitan dengan sebuah usaha untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan semata-mata sebuah posisi atau jabatan di dalam perusahaan. Banyak orang memiliki jabatan “manajer”, akan tetapi dalam kenyataannya mereka hanya menjalankan kedudukan dan bukan mengarahkan sesuatu ke arah pencapaian tujuan yang tertentu.
  2. Pokok yang kedua adalah berkaitan dengan aspek “melalui orang lain”. Sebagai sebuah aktivitas, manajemen selalu menyangkut orang-orang lain, yakni bawahan-bawahan; dan pada usaha untuk mengarahkan atau mengkoordinasi kerja dari orang-orang tersebut. Meskipun setiap manajer memang memiliki tugas-tugas khusus yang hanya bisa dilakukan olehnya, peran seorang manajer lebih didasarkan pada kenyataan bagaimana dia mengkoordinasi dan mengarahkan aktivitas-aktivitas bawahannya. Dalam arti ini, seorang manajer seharusnya lebih mementingkan pencapaian hasil dari para bawahannya daripada prestasinya sendiri. Sebab pencapaian hasil bersama itulah yang menentukan keberhasilan dari organisasi secara keseluruhan.

2.3. Unsur-unsur Manajemen
Unsur – unsur Manajemen Terdiri dari 6 M:

  1. Man (Manusia), misal: Tenaga kerja (karyawan, buruh)
  2. Material (Barang), misal: Bahan baku, bahan pelengkap, spare part
  3. Machine (Mesin)
  4. Money (uang/ modal)
  5. Method (Metode)
  6. Market (pasar)

2.4. Manajemen sebagai sebuah profesi
Sebagai sebuah profesi, manajemen memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:

  1. Merupakan sebuah spesialisasi yang memiliki prinsip-prinsip, ketrampilan dan teknik-teknik analisis tertentu,
  2. Memiliki aturan main dan kode etik tertentu.
  3. Bersifat universal. Manajer-manajer yang sudah terlatih baik bisa dengan mudah dipindahkan dari industri yang satu ke industri yang lain. Meskipun untuk ini ada catatan, yakni: Untuk jenis pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan teknis tertentu yang semula tidak dimiliki oleh seorang manajer, sebuah proses transfer belum bisa dijamin berhasil sebelum ketrampilan teknis tersebut bisa dipelajari lebih dahulu. Misalnya, seorang bekas jendral angkatan darat sudah pensiun dan diserahi posisi sebagai presiden direktur sebuah pabrik. Sebelum dia mengambil posisi tersebut dia berkeliling selama setahun ke fasilitas-fasilitas pabrik itu dan belajar tentang proses-proses teknis bisnis pabrik tersebut. Setelah itu barulah pengalaman dan ketrampilan manajerial yang dimilikinya di angkatan darat bisa lebih efektiv.

2.5. Tanggung jawab manajemen:

  1. Manajemen di dunia usaha, baik for profit maupun sosial, setidak-tidaknya bertanggung jawab pada empat kelompok: para pemegang saham atau Yayasan pendiri, karyawan / pekerja, pelanggan, dan masyarakat umum.
    Kepada para pemegang saham, manajemen bertanggung jawab untuk melindungi modal yang ditanamkan dan mengusahakan hasil yang lebih dari penanaman modal tersebut. Manajemen tidak hanya bertanggung jawab untuk hasil jangka pendek tetapi juga hasil jangka panjang.
    Kepada karyawan atau pekerja manajemen memiliki berbagai jenis tanggung jawab. Manajemen harus berusaha untuk menyediakan pekerjaan yang tetap dengan upah yang memadai; menjaga kondisi dan keselamatan kerja yang baik; dan rasa aman secara ekonomis setelah masa pensiun.
  2. Kepada pelanggan manajemen harus menyediakan produk berkualitas dengan harga yang bersaing dan menyediakan pelayanan perbaikan atau perawatan yang memadai.
  3. Kepada masyarakat umum, manajemen bertanggung jawab untuk selalu menjadi anggota masyarakat yang baik. Ini berarti ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, menjaga lingkungan dari pencemaran, dsb.

BAB III. FUNGSI MANAJEMEN
3.1. Fungsi Dasar Manajemen
Sampai saat ini, masih belum ada consensus baik di antara praktisi maupun di antara teoritis mengenaiapa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen, sering pula disebut unsur-unsur manajemen. Berbagai pendapat mengenai fungsi-fungsi manajemen akan tampak jelas dengan dikemukakannya pendapat beberapa penulis sebagai berikut:

  1. Louis A. Allen : Leading, Planning, Organizing, Controlling.
  2. Prajudi Atmosudirdjo : Planning, Organizing, Directing, atau Actuating and Controlling.
  3. John Robert B., Ph.D : Planning, Organizing, Command -ing, and Controlling.
  4. Henry Fayol : Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
  5. Luther Gullich : Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgeting.

Luther Gullick mengemukakan bahwa tugas manager dalam pelaksanaan manajemen meliputi fungsi-fungsi yang dapat dirumuskan dengan memory deviceI POSDCORB, yaitu planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting dan budgeting

  1. Koontz dan O’Donnel : Organizing, Staffing, Directing, Planning, Controlling.
  2. William H. Newman : Planning,Organizing,Assembling,Resources,Directing,Controlling.
  3. Dr. S.P. Siagian., M.P.A : Planning, Organizing, motivating and Controlling.
  4. William Spriegel : Planning, organizing, Controlling
  5. Lyndak F.Urwick :Forecasting, Planning, Organizing, Commanding, Coordinating, Controlling.
  6. Winardi: Planning, Organizing, Coordinating, Actuating, Leading, Communication, Controlling
  7. The Liang Gie : Planning, Decision making, Directing, Coordinating, Controlling, Improving.
  8. James A.F.Stoner : Planning, Organizing, Leading, and Controlling.
  9. George R. Terry : dalam bukunya yang berjudul “Principles of Management” Planning, Organizing, , Actuating and Controlling.

Menurut Terry keempat fungsi dasar manajemen tersebut sangat fundamental dalam setiap proses manajemen, hingga dia mengemukakan pula semacam alat untuk mengingat-ingat ( Memory Device ), yaitu apa yang disebut oleh Terry dengan istilah POAC.
Dari uraian di atas ternyata bahwa dalam berbagai teori yang nampak beraneka ragam itu terdapat banyak kesamaan yang fundamental, hingga dapat ditarik kesimpulan bahwa berbagai fungsi dasar manajemen yang dikemukakan oleh para pakar tersebut memang merupakan fungsi-fungsi yang terdapat dalam proses manajemen, namun sudut pandang dan pengelompokkannya yang berbeda.
Namun demikian di dalam prakteknya pendapat George R. Terry lebih banyak dijadikan sebagai acuan. Hal ini disebabkan karena disamping lebih sederhana, disebabkan pula karena fungsi-fungsi dasar manajemen yang dikemukakan oleh para pakar yang lain sudah tercakup di dalam keempat fungsi dasar manajemen yang dikemukakan oleh George R. Terry.
Fungsi Coordinating misalnya, menurut Terry fungsi ini juga terdapat dalam proses manajemen, namun sudah tercakup di dalam keempat fungsi dasar yang dikemukakannya. Demikian pula halnya dengan Leading, menurut Terry fungsi tersebut di dalam proses manajemen memang ada, namun sudah tercakup di dalam fungsi Actuating.
Kemudian Forecasting, sebagai tahap pertama dalam proses manajemen. Para ahli lainpun sepakat bahwa kegiatan Forecasting tersebut terdapat dalam proses manajemen, namun sudah tercakup atau merupakan bagian dari fungsi dasar Planning.
Sedangkan Directing menurut Terry fungsi tersebut bagian anak unsur daripada fungsi dasar Actuating. Atau dengan kata lain bahwa di dalam fungsi dasar Actuating sudah tercakup pula fungsi Directing.

Secara umum fungsi-fungsi Utama yang dijalankan manajemen adalah merencanakan, (planning) mengorganisasi (organizing), Aktualisasi (Actuating) dan mengontrol (controlling).

1). Perencanaan (Planning):
Berbagai batasan tentang planning dari yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat rumit. Misalnya yang sederhana saja merumuskan bahwa perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Pembatasan yang terakhir merumuskan perencaan merupakan penetapan jawaban kepada enam pertanyaan berikut :

  1. Tindakan apa yang harus dikerjakan ?
  2. Apakah sebabnya tindakan itu harus dikerjakan ?
  3. Di manakah tindakan itu harus dikerjakan ?
  4. kapankah tindakan itu harus dikerjakan ?
  5. Siapakah yang akan mengerjakan tindakan itu ?
  6. Bagaimanakah caranya melaksanakan tindakan itu ?

Menurut Stoner : Planning adalah proses menetapkan sasaran dan tindakan yang perlu untuk mencapai sasaran tadi.
Perencanaan adalah menentukan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya. Ini berarti menyangkut pengambilan keputusan berhadapan dengan pilihan-pilihan. Seorang manajer harus memahami dan bisa menangkap peluang-peluang yang datang, dan memiliki pula kemampuan untuk menciptakan peluang-peluang. Dia harus mampu membuat analisa atas peluang-peluang tersebut dan mengambil keputusan untuk memilih yang terbaik sesuai dengan kondisi dan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Keputusan-keputusan misalnya harus diambil untuk menentukan rantai produk mana yang akan ditawarkan dengan diskon, harga-harga mana harus dirubah, metode produksi yang digunakan, gaji atau upah yang harus dibayar atau riset dan penelitian yang harus diadakan, dsb.
Ada dua jenis perencanaan: jangka panjang dan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang tentu saja harus bertitik tolak dari tujuan jangka panjang dari perusahaan yang bersangkutan dan langkah-langkah yang harus diambil. Misalnya, untuk mendapatkan posisi di pasar tertentu barangkali perlu memperkenalkan satu produk tertentu tahun ini, dan produk yang lain tahun depan, dan membangun pabrik baru di tahun ketiga, dst. Dalam perencanaan jangka pendek, manajer itu harus menterjemahkan secara tepat langkah-langkah yang perlu diambil untuk mengembangkan dan memperkenalkan produk baru tersebut. Untuk perencaaan jangka lebih pendek lagi, dia harus mulai memesan material tertentu dan mempersiapkan pekerja. Semakin pendek jangka perencanaan, semakin harus spesifik perencanaan tersebut.
Adapun salah satu fungsi manajemen yang tercakup dalam fungsi Planning, yaitu :

  • Forecasting Forecasting adalah meramalkan, memproyeksikan, atau mengadakan taksiran terhadap berbagai  kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rancana yang lebih pasti dapat dilakukan. Misalnya suatu akademi meramalkan jumlah mahasiswa yang akan melamar belajar ke akademi tersebut. Ramalan tersebut dengan menggunakan beberapa indikator, misalnya jumal lulusan SLTA. Suatu perusahaan industri harus mengadakan forescasting tentang penjualan hasil produksi dengan memperhatikan jumlah penduduk pada daerah penjualan, income perkapita anggota masyarakat, kebiasaan membeli dsb.
  • Budgeting  Fungsi planning termasuk budgeting yang dimaksudkan fungsi manajemen dalam menetapkan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi menetapkan peraturan dan pedoman pelaksanaan yang harus dituruti dan menetapkan ikhtiar biaya yang diperlukan dan pemasukan uang yang diharapkan akan diperoleh dari rangkaian tindakan yang akan dilakukan. Oleh karenanya lebih tepat bila perencanaan atau planning dirumuskan sebagai penetapan tujuan, police,prosedure, budget dan pogram dari suatu organisasi.

Kesimpulan Fungsi Perencanaan

  • proses yang menyangkut upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan di masa yang akan datang dan penentuan strategi dan taktik yang tepat  untuk mewujud kan target dan tujuan organisasi.

Kegiatan dalam Fungsi Perencanaan

  • Menetapkan tujuan dan target bisnis
  • Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan dan target bisnis tersebut
  • Menentukan sumber-sumber daya yang diperlukan
  • Menetapkan standar/indikator keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis

2). Mengorganisasi (Organizing)
Fungsi ini berkaitan dengan usaha untuk menetapkan jenis-jenis kegiatan yang dituntut untuk mencapai suatu tujuan tertentu, mengelompokkan kegiatan-kegiatan tersebut berdasarkan jenisnya supaya lebih mudah ditangani oleh bawahan. Fungsi ini mengandai kan bahwa seorang manajer bisa mendelegasikan otoritasnya kepada bawahannya dan bawahannya bisa memahami tanggung jawabnya masing-masing.
Struktur organisasi bisa bermacam-macam dan tidak boleh dilihat sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Struktur organisasi barulah efektiv kalau bisa mempermudah perusahaan mencapai tujuan utamanya, bukan hanya karena terlihat “teratur” dan “manis”.
Organizing (organisasi) adalah dua orang atau lebih yang bekerja sama dalam cara yang terstruktur  untuk mencapai sasaran spesifik atau sejumlah sasaran.

Adapun cakupan Fungsi Organizing antara lain :

Penempatan Orang (Staffing)
Istilah staffing diberikan oleh Luther Gulick,Harold Koonz dan Cyril O’Donnel sedangkan assembling resources dekemukan oleh William Herbar Newman : istilah itu cenderungmengandung pengertian yang sama.
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia
pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga petugas memberikan daya guna maksimal kepada organisasi
Staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak dari merekrut tenaga kerja, pengembangannya sampai dengan usaha agar setiap tenaga memberi daya guna maksimal kepada organisasi
Fungsi ini menyangkut usaha untuk mengembangkan dan menempatkan orang-orang yang tepat di dalam berbagai jenis pekerjaan yang sudah didisain lebih awal dalam organisasi. Lebih jauh lagi fungsi ini meliputi hal-hal seperti pengembangan sumber daya manusia, proses penilaian dan promosi, pelatihan. Salah satu aspek penting dari fungsi ini adalah mengidentifikasi orang-orang di dalam organisasi yang berpotensial untuk dikembangkan sebagai manajer. Good managers develop managers.

Kesimpulan Fungsi Pengorganisasian

  • proses yang menyangkut bagaimana strategi dan taktik yang telah dirumuskan dalam perencanaan didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tepat dan tangguh, sistem dan lingkungan organisasi yang kondusif, dan dapat memastikan bahwa semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna pencapaian tujuan organisasi

Kegiatan dalam Fungsi Pengorganisasian

  • Mengalokasikan sumber daya, merumuskan dan menetapkan tugas, dan menetapkan prosedur yang diperlukan
  • Menetapkan struktur organisasi yang menunjukkan adanya garis kewenangan dan tanggungjawab
  • Kegiatan perekrutan, penyeleksian, pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia/tenaga kerja
  • Kegiatan penempatan sumber daya manusia pada posisi yang paling tepat

4). Aktualisasi (actuating)
Actuating atau aktualisasi / pelaksanaan adalah salah satu fungsi manajemen untuk melaksanakan kegiatan manajemen berdasarkan Planning, Organizing yang telah digariskan serta menggunakan pengendalian atau controlling tertentu. Adapun cakupan Actuating antara lain :

a.Memimpin (Leading)
Pekerjaan leading meliputi lima kegiatan yaitu :

  • Mengambil keputusan
  • Mengadakan komunikasi agar ada saling pengertian antara manajer dan bawahan.
  • Memeberi semangat, inspirasi, dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak.
  • Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya, serta memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka terampil dalam usaha mencapai tujuan yang ditetapkan.

b. Directing (mengarahkan)/Commanding
Directing atau Commanding adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi kepada bawahan dalam melaksanakan tugas masing-masing, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan semula.
Dengan kata lain Directing biasa juga disebut supervisi. Ini menyangkut pembinaan motivasi dan pemberian bimbingan kepada bawahan untuk mencapai tujuan utama. Secara umum bisa dikatakan bahwa pekerja-pekerja akan berprestasi lebih baik pada pekerjaan di mana mereka persis tahu apa yang diharapkan dari mereka. Lebih jauh lagi, para pekerja tersebut akan lebih menghargai pekerjaannya kalau mereka bisa melihat bagaimana kaitan perkerjaan mereka dengan gambar keseluruhan dari organisasi. Mengerjakan sesuatu hanya karena atasan menyuruh demikian biasanya tidak bisa menghasilkan secara maksimal.

c. Motivating
Motivating atau pemotivasian kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang diinginkan oleh atasan.

d. Coordinating
Coordinating atau pengkoordinasian merupakan salah satu fungsi manajemen untuk melakukanberbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubungkan, menyatukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerja sama yang terarahdalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Salah satu aspek penting dari fungsi ini adalah fungsi koordinasi, yang berarti penciptaan suatu harmoni dari individu-individu yang berkerja bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Kemampuan komunikasi menjadi kunci keberhasilan fungsi ini.

Kesimpulan Fungsi Pengarahan dan Implementasi

  • proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi.

Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi

  • Mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan
  • Memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan
  • Menjelaskan kebijakan yang ditetapkan

e. Mengontrol (Controlling)
Controlling atau pengawasan, sering juga disebut pengendalian adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud dengan tujuan yang telah digariskan semula
Fungsi ini dijalankan untuk menjamin bahwa perencaan bisa diwujudkan secara pasti. Ada banyak alat-alat analisa untuk suatu proses kontrol yang efektiv. Proses kontrol pada dasarnya selalu memuat unsur: perencanaan yang diterapkan, analisa atas deviasi atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, dan menentukan langkah-langkah yang perlu untuk mengoreksi.
Fungsi lain dalam cakupan fungsi controlling, antara lain :.
Reporting Adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi.

Kesimpulan Fungsi Pengawasan dan Pengendalian

  • proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan, diorganisasikan dan diimplementasikan dapat berjalan sesuai dengan target yang diharapkan sekalipun berbagai perubahan terjadi dalam lingkungan dunia bisnis yang dihadapi.

Kegiatan dalam Fungsi Pengawasan dan Pengendalian

  • Mengevaluasi keberhasilan dalam pencapaian tujuan dan target bisnis sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan
  • Mengambil langkah klarifikasi dan koreksi atas penyimpangan yang mungkin ditemukan
  • Melakukan berbagai alternatif solusi atas berbagai masalah yang terkait dengan pencapaian tujuan dan target bisnis

3.2. Fungsi Manajer dalam Cakupan Fungsi Manajemen
Fungsi-fungsi lain dari seorang  manajer dalam Actuating
Apa yg telah dibicarakan di atas adalah fungsi-fungsi manajer ke dalam perusahaan, sering disebut internal function of manager. Jadi fungsi-fungsi manajer ke dalam perusahaan dapat di lihat dari dua sudut yaitu:

  1. Dari sudut proses yakni perencanaan, pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan.
  2. Dari sudut subjek atau bidang yaitu keuangan, personalia, pemasaran, pembelian, produk

Dalam bidang pemasaran, para manajer harus mengusahakan agar hasil-hasil  produksinya dapat disalurkan dari saluran-saluran distribusi yang tepat sehingga harga penjualannya dapat dijangkau oleh tenaga pembeli kaum konsumen
Selain fungsi manajer ke dalam perusahaan, ada pula  fungsi-fungsi manajer keluar perusahaan, yang kita sebut external function of a manager. Fungsi manajer ke luar perusahaan ini ada tiga jenis, yaitu sebagai berikut:

  1. mewakili perusahaan di bidang pengadilan
  2. mengambil kegiatan sebagai warga Negara biasa
  3. mengadakan hubungan dengan unsur masyarakat (stakeholder)

Setiap perusahaan tidak berdiri sendiri, ia memerlukan hubungan dengan unsure masyarakat. Baik tidaknya hubungan perusahaan dengan unsure masyarakat memegang peranan penting dalam berhasil tidaknya seorang manajer untuk merealisasikan tujuannya. Untuk menghadapi masyarakat luar, manajer perusahaan harus melaksanakan kegiatan, antara lain sebagai berikut:

  1. mengadakan pengumuman, komunike-komunike, dan artikel-artikel
  2. menyelenggarakan konferensi pers dan pertemuan
  3. menyelenggarakan pameran
  4. mengatur siaran melalui radio/media
  5. mengadakan kontak dengan unsur pemerintah dan masyarakat
  6. membuat analisa dari pendapat umum
  7. menerima kunjungan pihak luar ke dalam perusahaan

3.3. Alur Kegiatan, Sumber daya organisasi, Tujuan dan Perbedaan Pandangan Fungsi Manajemen.
Alur Kegiatan dalam Fungsi-fungsi Manajemen

Sumber Daya Organisasi, Tujuan, dan Fungsi-fungsi Manajemen

Perbedaan pandangan dalam  Fungsi-fungsi Manajemen

3.4. Fungsi Operasional dalam Manajemen
Adapun Fungsi Operasional dalam manajemen, yaitu :

a. Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen Sumber Daya Manusia adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk memperoleh sumber daya manusia yang terbaik bagi bisnis yang kita jalankan dan bagaimana sumber daya manusia yang terbaik tersebut dapat dipelihara dan tetap bekerja bersama kita dengan kualitas pekerjaan yang senantiasa konstan ataupun bertambah
b. Manajemen Pemasaran
Manajemen Pemasaran adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada    intinya berusaha untuk mengidentifikasi apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen, dana bagaimana cara pemenuhannya dapat diwujudkan
c. Manajemen Operasi/Produksi
Manajemen Produksi adalah penerapan manajemen berdasarkan fungsinya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang ditetapkan berdasarkan keinginan konsumen, dengan teknik produksi yang seefisien mungkin, dari mulai pilihan lokasi produksi hingga produk akhir yang dihasilkan dalam proses produksi
d. Manajemen Keuangan
Manajemen Keuangan adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha untuk memastikan bahwa kegiatan bisnis yang dilakukan mampu mencapai tujuannya secara ekonomis yaitu diukur berdasarkan profit. Tugas manajemen keuangan diantaranya merencanakan dari mana pembiayaan bisnis diperoleh, dan dengan cara bagaimana modal yang telah diperoleh dialokasikan secara tepat dalam kegiatan bisnis yang dijalankan
e. Manajemen Informasi
Manajemen Informasi adalah kegiatan manajemen berdasarkan fungsinya yang pada intinya berusaha memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tetap mampu untuk terus bertahan dalam jangka panjang. Untuk memastikan itu manajemen informasi bertugas untuk menyediakan seluruh informasi yang terkait dengan kegiatan perusahaan baik informasi internal maupun eksternal, yang dapat mendorong kegiatan bisnis yang dijalankan tetap mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di masyarakat

BAB IV. PENDEKATAN DALAM PROSES MANAJEMEN
4.1.Proses Manajemen

4.2. Proses Analisis Dan Sintesis
Proses Analisis yaitu proses yang berusaha untuk mengurai/ memisah-misahkan sesuatu yang sedang kita amati

4.3. Manajemen dan Kepemimpinan
Perbedaan Manajemen dan Kepemimpinan 
Tahap-tahap yg diperlukan dalam mengubah sikap/ tingkah laku organisasi:

  1. Tahap permulaan (pengetahuan)
  2. Tahap pencerminan sikap & motivasi
  3. Tahap tingkah laku kelompok
  4. Tahap Perilaku  organisasi

Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)
Pergaulan Manusia dengan masyarakat & alam disekitarnya akan membentuk kebiasaan – kebiasaan tertentu. Kebiasaan yg selalu berulang-ulang akan menjadi “BUDAYA”

Tiga Tingkatan manajemen (Manajemen Level) dalam Organisasi
1) Manajemen Puncak (Top Management)
Manajer Puncak (Top Manager) terdiri dari kelompok yang relative kecil, manager puncak bertanggung jawab atas manajemen keseluruhan dari organisasi.
2) Manajemen Tingkat Menengah (Middle Management)
Manajer menengah (Middle Manager) adalah manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya kadang-kadang juga karyawan operasional
3) Manajemen Tingkat Bawah (Low Management)
Manajer lini garis-pertama (first line) adalah tingkatan manajemen paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional. Dan mereka tidak membawahi manajer yang lain.

Ketrampilan manejemen yang dibutuhkan :

  1. Ketrampilan Konsepsional (conseptual skill)
  2. Ketrampilan Kemanusiaan atau komunikasi (human skill)
  3. Ketrampilan Teknis (Teknik skill)

4.4. Ciri-ciri Manajer Profesional

  1. Manajer profesional adalah manajer yang mampu menciptakan atau membuat kedua belah pihak menjadi senang, bahagia, serta bangga (SBB)
  2. Manajer tidak profesional adalah manajer yang akan menciptakan suasana dikedua belah pihak, baik pihak yang dilayani maupun pihak yang melayani merasakan suasana yg mengecewakan, menyedihkan/ menderita, dan memalukan.

Profesionalisme yang dirasakan oleh konsumen
Profesionalisme yang dirasakan oleh manajer dan karyawan

Profesionalisme yang dirasakan konsumen

  1. Konsumen merasa senang karena memperoleh barang/jasa yang berkualitas dengan harga yang terjangkau
  2. Konsumen merasa bahagia karena dapat menikmati kehidupan yang lebih nyaman, karena menikmati produk yang dibutuhkan dan diharapkan.
  3. Konsumen dibuat bangga dengan produk yang dimilikinya
  4. Kebanggaan konsumen pada umumnya memiliki 2 keunggulan : a) Hi Tech (High Technology) dan b) Hi Touch (High Touch)

4.5. Pendekatan Sistem Manajemen
Definisi Sistem : Suatu agregasi (kumpulan) elemen  yang dinamis, yg berhubungan satu sama lain dan saling tergantung, serta berjalan sesuai dengan hukum2 yg berlaku. Sistem ada 2 yaitu:

  1. Sistem Tertutup (Closed System)
  2. Sistem Terbuka (Opened System), cirinya: adanya prinsip “Cybernetic”, yaitu prinsip umpan-balik (feedback)

Pendekatan Dalam Mempelajari Manajemen
Ada 3 yaitu:

  1. Pendekatan Tradisional
  2. Pendekatan Kuantitatif
  3. Pendekatan Tingkah Laku

Pendekatan terhadap Analisis Manajemen:

  1. Pendekatan Empiris atau kasus
  2. Pendekatan perilaku antarpribadi
  3. Pendekatan perilaku kelompok
  4. Pendekatan sistem sosial kooperatif
  5. Pendekatan sistem sosioteknis
  6. Pendekatan teori keputusan
  7. Pendekatan sistem
  8. Pendekatan matematis atau ilmu manajemen
  9. Pendekatan kontingensi atau situasional
  10. Pendekatan peran manajemen
  11. Pendekatan operasional

4.6. Pendekatan-Pendekatan Manajemen
Pemikiran tentang manajemen telah dipengaruhi oleh banyak disiplin ilmu pengetahuan yang telah mapan, seperti Ilmu Ekonomi, Teknik, Hukum, Administrasi Negara, Psikologi, Sosiologi dan lain-lain.
Pengaruh dari disiplin-disiplin ilmu tersebut menyebabkan berbagai pikiran tentang manajemen berbeda, dan antara yang satu dengan yang lain pun berbeda pula. Peristiwa ini menimbulkan berbagai macam aliran manajemen, teori manajemen, ajaran manajemen maupun berbagai pendekatan dalam Ilmu Manajemen.
Berbagai buku teks telah membahas adanya bermacam-macam pendekatan manajemen dan jika buku-buku teks tersebut kita gabung, maka akan kita jumpai sedikitnya terdapat 12 pendekatan manajemen yang masing-masing mempunyai identitas yang jelas.

(1) Pendekatan yang pertama adalah pendekatan empirikal atau kasus.Di dalam pendekatan ini dipelajari pengalaman-pengalaman, peristiwa-peristiwa atau kasus-kasus daripada manajemen. Atas dasar pengalaman, peristiwa dan kasus dapat dipelajari bagaimana sukses diraih atau bagaimana kegagalan seseorang terjadi.
Kelemahan utama di dalam pendekatan empirikal ini adalah bahwa pengalaman saja belumlah cukup untuk merumuskan pedoman tindakan di masa depan, sebab kondisi yang ada di masa yang akan datang hampir tidak pernah sama dengan kondisi di masa lalu.
Untuk itu agar pendekatan empirikal ini dapat dilakukan secara lebih efektif diperlukan cara berfikir kreatif untuk meramalkan kondisi-kondisi masa depan melalui gejala-gejala yang ada pada masa kini.

(2) Pendekatan yang kedua adalah pendekatan inter-personal. Cara mempelajari manajemen melalui pendekatan inter-personal ini adalah dengan mempelajari hubungan antar-pribadi yang terjadi dalam organisasi.
Dasar pemikiran pendekatan inter-personal ini adalah bahwa usaha untuk mencapai tujuan tidaklah mungkin dilakukan secara sendiri-sendiri atau melalui pribadi-pribadi, melainkan para pribadi ini harus bekerjasama dengan pribadi-pribadi lain. Dalam bentuk kerjasama tersebut terjadilah kontak hubungan pribadi dan dalam hubungan pribadi ini terjadi peristiwa manajemen yang menjadi obyek penelitian.

(3) Pendekatan yang ketiga adalah pendekatan perilaku kelompok. Dengan menggunakan pendekatan ini dapat diperoleh rumusan tentang berbagai faktor yang mempengaruhi tindakan manusia dalam mencapai tujuannya atau yang lebih dikenal sebagai faktor lingkungan manajemen dan organisasi.
Dengan bantuan Ilmu Sosiologi, di dalam pendekatan perilaku kelompok ini dapat dipelajari hubungan antar kelompok. Dalam hubungan antar kelompok dapat ditemukan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang dalam kegiatan manajemen dan organisasi.
Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah sikap, kebiasaan, tekanan, konflik, perbedaan budaya, organisasi informal, kondisi sosial, insentif dan lain sebagainya.

(4) Pendekatan yang keempat adalah pendekatan sistem sosial kerjasama.Pendekatan ini mempelajari manajemen dengan mempelajari hubungan manusia di dalam sistem sosial kerjasama.
Dalam sistem sosial kerjasama ternyata faktor distribusi akan hasil kerjasama sangat mempengaruhi kerjasama itu sendiri. Dengan demikian pendekatan ini memperkenalkan kaidah keadilan bagi suksesnya suatu kerjasama antar manusia dalam kelompok kerjasama antar mereka.

(5) Pendekatan yang ke lima adalah pendekatan sistem sosial teknikal. Akibat kemajuan di bidang teknologi yang dirintis sejak zaman revolusi industri, penggunaan alat-alat kerja dan mesin-mesin yang semakin canggih telah memberikan pengaruh yang besar dalam keseimbangan kerjasama antar manusia.
Oleh sebab itu kaidah keadilan saja tidaklah cukup untuk menjamin kelangsungan kerjasama antar manusia, tetapi sistem keteknikan juga harus dipertimbangkan dan dibuat keseimbangan antara sistem social dengan sistem keteknikan tersebut, guna menjamin kelancaran kerjasama.

(6) Pendekatan yang keenam adalah pendekatan teori keputusan. Pendekatan ini mempunyai pandangan bahwa sukses dan tidaknya usaha mencapai tujuan tergantung pada pemilihan alternatif kegiatan mencapai tujuan itu sendiri.
Hal tersebut dapat dimaklumi karena untuk kegiatan mencapai tujuan memang memiliki banyak alternatif, banyak jalan dan cara. Dengan alat bantu analisis berupa model-model dan matematika ( operation research ), maka pilihan alternatif keputusan akan bertambah baik.

(7) Pendekatan yang ketujuh adalah pendekatan sistem. Pendekatan ini di dalam mempelajari manajemen menggunakan teknik sistem manajemen secara total, kemudian dipelajari sub-sub sistemnya, seperti perencanaan, pengorganisasian, dan sebagainya.
Sumbangan pendekatan sistem ini pada Ilmu Manajemen adalah dapat diketahuinya hubungan yang teratur antara sub-sub sustem manajemen, sehingga berdasarkan pengetahuan ini orang dapat menciptakan mesin-mesin untuk kepentingan manajemen.

(8) Pendekatan yang kedelapan adalah pendekatan operasional. Pendekatan ini mempelajari manajemen dengan mempelajari praktek- praktek para manager. Hasilnya para manager di dalam menjalankan tugasnya ternyata menggabungkan berbagai ilimu pengetahuan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Dengan demikian di dalam pendekatan operasional ini tugas manager adalah memilih berbagai ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mengetahui masalah dalam praktek manajemen.

(9) Pendekatan yang kesembilan adalah pendekatan peran tim manajemen. Pendekatan ini mempelajari manajemen dari sisi “bagaimana” para manager bekerja.
Dari hasil pengamatan para pendukung pendekatan peran tim manajemen ini disimpulkan bahwa para manager tidak pernah bekerja sendirian, melainkan mereka bekerja secara tim.
Kesimpulan pendekatan ini adalah pembedaan peran manager yang dapat dibedakan ke dalam 4 (empat) peran, yaitu :

  1. Sebagai Produser;
  2. Sebagai Administrator;
  3. Sebagai Enterpreneur;
  4. Sebagai integrator

(10) Pendekatan yang kesepuluh adalah pendekatan kontingensi atau situasional. Pendekatan ini didasarkan kepada kelemahan-kelemahan pada pendekatan empirikal atau kasual, yaitu bahwa kasus yang sama tidak pernah terulang lagi karena situasi dan kondisi yang terus berubah
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka para penganut pendekatan kontingensi atau situasional ini menganjurkan agar setiap keputusan manajemen menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat keputusan itu diambil.
Pendapat utama para penganut pendekatan kontingensi atau situasional ini adalah bahwa tidak ada resep terbaik untuk mengatasi masalah tertentu selain menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi yang berbeda.
Pendekatan kontingensi atau situasional ini memaksa para manager untuk terus memantau perubahan situasi dan kondisi yang terjadi. Dengan demikian peran riset dan pengembangan menjadi bagian penting dalam aktivitas manajemen.

(11) Pendekatan yang kesebelas adalah pendekatan matematikal. Para pakar menemukan bahwa setiap hubungan dapat dibuatkan model matematikalnya. Misalnya hubungan pemakaian bahan baku dengan jumlah yang dapat diproduksi dengan bahan baku yang tersedia.
Sebagai contoh, bahan baku yang tersedia ada 2.000 unit. Produk A setiap unit memerlukan bahan baku sebanyak 4 unit dan produk B unitnya memerlukan bahan baku sebanyak 5 unit. Model matematika dari hubungan ini adalah : 4A + 5B = 2.000.
Didasari oleh penemuan tersebut, maka manajemen pun dapat dipelajari dengan model matematika tersebut

(12) Pendekatan yang terakhir atau pendekatan yang keduabelas adalah pendekatan peran manajerial.
Pendekatan ini mempelajari manajemen dari“apa ” yang dilakukan para manajer sehari-hari.

Para penganut pendekatan peran manajerial ini menemukan bahwa apa yang dikerjakan oleh para manager tidak sama seperti digambarkan sebelumnya, yakni melakukan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengawasan, tetapi melakukan pekerjaan-pekerjaan sebagai berikut :

  1. Kepala dalam organisasi;
  2. Pemimpin dalam organisasi;
  3. Wakil organisasi dalam bertindak keluar;
  4. Penerima informasi;
  5. Penterjemah informasi;
  6. Juru bicara/humas organisasi;
  7. Wirausaha;
  8. Penangkal gangguan organisasi;
  9. Pembagi sumber daya dalam organisasi;
  10. Negosiator bagi organisasi.

4.7. Kriteria Keunggulan Manajemen Pendidikan Jaman Sekarang:

  • Kepemimpinan yang visioner
  • Learning-centered Organisation
  • Semangat Belajar Tinggi baik organisasi maupun anggotanya
  • Menghargai dosen/pengajar, staf, dan rekanan
  • Gesit
  • Fokus ke Masa Depan
  • Mengarahkan organisasi pada innovasi
  • Manajemen berbasis data / fakta
  • Punya Tanggung Jawab Sosial
  • Fokus pada hasil yang menciptakan nilai
  • Punya Kerangka strategi yang utuh

4.8. KERANGKA IMPLEMENTASI STRATEGI MANAJEMEN YANG UTUH:

Leadership:
Kemampuan pemimpin untuk merumuskan visi, membangun merumuskan ekspektasi jangka pendek dan jangka panjang, dan menciptakan suasana kondusif untuk inovasi dan keberanian berubah
 
Perencanaan Strategis:
Menyangkut kemampuan organisasi untuk membuat perencanaan formal maupun informal untuk mengantisipasi masa depan. Pengembangan perencanaan strategis bisa menggunakan alat-alat bantu seperti proyeksi, skenario perubahan, prakiraan keuangan, dsb. yang bisa membantu proses pengambilan keputusan untuk bertindak di masa depan dan penggunaan sumber daya yang ada.

Strategi ini bisa dipahami secara luas untuk menyangkut hal-hal seperti: penutupan atau penghapusan jasa atau program tertentu, pengalihan sumber daya, modifikasi kurikulum, penggunaan teknologi, perubahan standard, prioritas penelitian, kerjasama dengan rekanan baru dsb.
(1)  Fokus pada siswa dan pemangku kepentingan:
Kepuasan siswa dan para pemangku kepentingan harus menjadi ukuran dari seluruh jasa dan program yang ditawarkan.
(2) Pengukuran, Analisa dan Penataan Informasi:
Kategori ini menunjukkan kemampuan organisasi untuk memilih, mengumpulkan, menganalisa, mengatur dan memperbaiki aset data dan informasi yang dimiliki.
(3) Fokus pada Tenaga Pengajar, Staf dan Karyawan:
Kategori ini menunjukkan kemampuan organisasi untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif bagi sumber daya manusianya untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tujuan dan sasaran strategis organisasi.
(4)  Manajemen Proses:
Kategori ini melihat proses-proses kunci dalam organisasi yang akan menentukan mutu akhir dari kegiatan organisasi. Dalam hal organisasi pendidikan ini berarti pelaksanaan proses belajar-mengajar. Apakah proses itu sungguh-sungguh mampu menciptakan lingkungan ”learning-centered” yang memberi motivasi siswa untuk belajar.
(5) Hasil Akhir Kinerja:
Kategori ini secara menyeluruh melihat kemampuan organisasi mencapai hasil akhir yang diharapkan. Di dalamnya termasuk: kepuasan para pemangku kepentingan, keuangan, pertumbuhan sumber daya, daya saing di pasar, dsb

BAB V. PERENCANAAN
5.1. Unsur-unsur Perencanaan
Unsur-Unsur Perencanaan:  What, Why,Where, When, Who, & How.  Setiap perencanaan harus didasarkan pada jawaban atas 5 W 1 H.
5.2. Langkah-langkah Perencanaan:

  • Penentuan tujuan yg akan dicapai
  • Pendefinisian unsur-unsur gabungan situasi (SDM, SDA, dan Sumber Daya Modal) secara baik
  • Pendefinisian faktor-faktor yg membantu dan menghambat tujuan. Faktor2 tsb berasal dari faktor internal dan eksternal lingkungan
  • Merumuskan kegiatan yg harus dilaksanakan

5.3. Pendekatan Perencanaan:
Dalam menyusun rencana tahunan manajemen dapat menggunakan salah satu dari tiga (3) pendekatan, sebagai berikut:

  1. Top Down Planning
  2. Bottom Up Planning
  3. Goals Down-Plans Up Planning

5.4. Proses Perencanaan:
Dapat dilakukan dengan 3 macam cara/pendekatan:

  1. Pendekatan Perkembangan yg menguntungkan (Profitable Growth Approach)
  2. Pendekatan SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunites, Treaths)
  3. Pendekatan Portofolio dan Kesenjangan Perencanaan

Pendekatan Perkembangan yg menguntungkan (Profitable Growth Approach)

5.5. Bentuk Perencanaan :

1. Ramalan (Forecasting)
2. Sasaran (Target)
3. Kebijakan (Policy)
4. Program
5. Daftar Waktu (Time Schedule)
6. Prosedure Kerja (Prosedure)
7. Anggaran Keuangan (Budget)

5.6. Jenis Rencana :
a.    Rencana Strategis
Ciri perencanaan strategis antara lain :

  • Meliputi masalah dasar
  • Memberikan pedoman untuk perencanaan yang lebih terperinci dan penentuan keputusan manjerial sehari-hari
  • Meliputi masa yang lebih panjang dibanding dengan perencanaan yang lain
  • Merupakan kegiatan tingkat puncak

Mengapa diperlukan perencanaan strategis

  1. Berubahnya tingkat teknologi
  2. Makin sulitnya tugas manajerial
  3. Makin sulitnya lingkungan luar
  4. Makin panjangnya waktu putusan diambil dengan dampaknya dimasa depan

Langkah Pokok dalam Perencanaan strategis:

  1. Menentukan tujuan
  2. Menentukan situasi saat ini
  3. Identifikasi pendukung dan penghambat
  4. Pengembangan rencana dan perangkat tindakan untuk mencapai tujuan

b. Rencana Operasional (Operational Plan)
Terdapat 2 jenis utama dari rencana operasional :
1. Rencana sekali-pakai
2. Rencana Tetap
Pedoman/ Prinsip penyusunan anggaran operasional:
1. Terpusat
2. Terpadu (Integrated)
3. Berkesinambungan (Continue)
4. Menggunakan Pendekatan Multi Instansional

5.7. Proyeksi Masa Depan (forecasting)
Masa depan dapat diramalkan dengan tiga (3) cara, yaitu:

  1. Dengan dasar pertumbuhan tetap , yaitu dengan menggunakan proyeksi sederhana (Lineair Regression ) dari masa lampau dan masa datang.
  2. Dengan memperhatikan adanya perubahan yang dilaksanakan oleh generasi sekarang dan masa yang akan datang sebagai usaha mereka untuk menjawab tantangan.
  3. Dengan memperhatikan kejadian2 yang mungkin terjadi, seperti : Bencana alam, epidemis, keadaan politik dsb.

Dalam hal ini terdapat 3 macam keadaan, yaitu:

  • Ketidakpastian (Uncertainty)
  • Resiko (Risk)
  • Kepastian (Certainty)

Selain itu juga ada beberapa hal yg harus diperhatikan :

  • Arah pertumbuhan atau Arah perkembangan
  • Pengaruh Musiman (Seasonal effect)
  • Pengaruh konjungtur atau siklis (Cyclical effect)

Perbandingan Perencanaan Strategis dan Operasional (Menurut B.Taylor)

Bidang

Perencanaan Strategis

Perencanaan Operasional

Fokus Kelangsungan hidup, jangka panjang, pengembangan Masalah Operasional
Tujuan Laba sekarang dan Masa depan Laba Sekarang
Kendala Lingkungan sumber daya masa depan Lingkungan sumber daya Sekarang
Manfaat Pengembangan potensi Efisien, Stabilitas
Informasi Kesempatan Masa depan Usaha sekarang
Organisasi Kewirausahaan, Luwes Birokratis, Stabil
Kepemimpinan Perubahan Radikal Konservartif
Pemecahan Berantisipasi, mencari cara baru, resiko lebih besar Bereaksi, berdasar pengalaman masa lalu, Resiko kecil

5.8. Perencanaan Produksi
Perencanaan adalah fungsi manajemen yang paling pokok dan sangat luas meliputi perkiraan dan perhitungan mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan pada waktu yang akan datang mengikuti suatu urutan tertentu. Perencanaan merupakan salah satu sarana manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan karena itu setiap tingkat manajemen dalam organisasi sangat membutuhkan aktivitas perencanaan
Tujuan perencanaan harus tegas, jelas dan mudah dimengerti. Seringkali perencanaan harus mengalami perubahan, oleh karena itu perencanaan harus besifat luwes dan terbuka untuk dapat dirubah bila diperlukan.  Sifat luwes ini mengakibatkan pelaksanaan kegiatannya harus dimonitor dan dikendalikan terus menerus yang disesuaikan dengan kondisi yang ada namun perencanaan harus tetap pada tujuan yang ditetapkan.
Perencanaan juga merupakan fungsi memilih sasaran perusahaan secara kebijaksanaan, program dan pemilihan langkah-langkah apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan dan kapan aktivitasnya dilaksanakan.
Dalam perencanaan produksi kita selalu menginginkan agar diperoleh perencanaan produksi yang baik namun merencanakan proses produksi bukanlah hal yang mudah karena banyaknya faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor internal relative mudah dapat dikuasai oleh PPC manager, namun faktor external tidak demikian. Karena itu perencanaan harus dibuat ketat namun tidak kaku, artinya dapat dirubah bila diperlukan dan kemungkinan perubahan ini juga harus diperhitungkan agar tidak menimbulkan kesulitan. Perencanaan  yang baik hanya akan diperoleh dengan didasarkan kepada informasi yang baik dan pengukuran keberhasilan didasarkan kepada standard  yang ditetapkan.

a. Unsur-unsur Perencanaan Produksi
Perencanaan adalah suatu hasil pemikiran yang rasional dimana di dalamnya terdapat dugaan/perkiraan, perhitungan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Syarat mutlak suatu perencanaan harus mempunyai  tujuan yang jelas dan mudah dimengerti. Perencanaan harus terukur  dan mempunyai standard tertentu.  Perencanaan digolongkan sebagai fakta yang Objective  kebenarannya bahwa pemikiran yang rasional itu tidak atas hayalan belaka tetapi  suatu perhitungan berdasarkan data yang objective.  Walau perecanaan mengandung unsur dugaan/pemikiran namun harus didasarkan pada suatu  standard  yang terukur. Perencanaan adalah sebagai tahap persiapan / tindakan pendahuluan untuk melaksanakan kegiatan dengan memperhatikan penyimpangan yang mungkin terjadi

b. Fungsi  Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi (Production Planning) adalah salah satu dari berbagai macam bentuk perencanaan yaitu suatu kegiatan pendahuluan atas proses produksi yang akan dilaksanakan dalam usaha me capai tujuan yang diinginkan perusahaan.
Perencanaan produksi sangat erat kaitannya dengan pengendalian persediaan sehingga sebagian besar perusahaan manufacture menempatkan fungsi perencanaan dan pengendalian persediaan dalam satu kesatuan.
Ditinjau dari bentuk industri, perencanaan produksi suatu perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya terdapat perbedaan. Banyak hal yang menyebabkan perbedaan tersebut, bahkan pada perusahaan yang sejenis. Tujuan produksi bagi perusahaan adalah barang dengan spesifikasi tertentu memenuhi permintaan pelanggan. Tujuan tersebut dituangkan dalam Order Confirmation yang dibuat oleh bagian penjualan.
Dengan demikian dapat disimpulkan tujuan produksi sepenuhnya  dirumuskan oleh sales department, berdasarkan order yang telah diterima. Karena tujuan produksi dirumuskan berdasarkan order yang telah diterima maka dalam fungsi perencanan produksi pengaruh forecasting pada sistem perencanaan produksi dapat dikatakan tidak signifikan.
Untuk mencapai tujuan, khususnya dalam perencanaan produksi dan pengendalian persediaan peruhaan perlu menyediakan fasilitas komunikasi  dan sistem informasi yang mendukung sistem pengolahan data terdistribusi. Program aplikasi database management system yang terintegrasi dengan sistem lainnya di lingkungan perusahaan sehinngga bagian perencanaan produksi dan pengendalian persediaan memiliki sarana yang cukup handal yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dalam waktu yang relatif singkat. Bagian perencanaan dengan  mudah dapat mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam menyusun perencanaan produksi.
Agar masing-masing fungsi yang terdapat dalam Sistem perencanaan dan bagian terkait dengan sistem perencanaan produksi dapat menjalankan kerja dan tanggungjawabnya sesuai  dengan sistem, maka setiap  personal  disyaratkan mengenal sistem akuntansi komputer dan procedure yang diterapkan.
Dengan demikian efektifitas kerja dapat ditingkatkan. Dalam usaha mencapai tujuan perencanaan produksi terdapat berbagai macam permasalahan sesuai dengan proses yang akan dilaksanakan, kemudian dirumuskan bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan secara efektif dan efisien serta bagaimana cara pengendaliannya.  Keberhasilan dalam membuat perencanaan produksi dan pencapaiannya tidak hanya tergantung pada organisasi  bagian perencanaan itu sendiri, melainkan sangat tergantung pada struktur organisasi secara keseluruhan dan sistem  yang diterapkan. Kegagalan dapat terjadi akibat kesalahan dalam penggunaan sistem informasi tidak efektif, bahkan sering terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan akibat tidak memahami informasi yang ditampilkan  oleh sistem informasi yang tersedia. Manajer bagian prencanaan mutlak harus memahami sistem informasi yang digunakan, karena sistem informasi yang digunakan adalah berbasis komputer maka manajer bagian perencanaan produksi dan pengendalian persediaan serta bagian yang terkait langsung dengan bagian tersebut harus memahami dan mengerti sistem komputer yang digunakan. Jika tidak maka terbuka peluang untuk mengambil keputusan-keputusan yang keliru. Kelancaran proses produksi ditentukan oleh tingkat kematangan penjadwalan produksi. Dalam menyusun perencanaan harus memperhatikan berbagai element dari berbagai bagian sehingga sangat memerlukan sistem yang terintegrasi dan harus didukung dengan fasilitas yang memadai. Perencanaan produksi dituntut harus lebih besifat (sales oriented) namun di sisi lain tanpa mengabaikan efisiensi dan kelancaran proses produksi
Kemampuan sumber daya manusia sangat tergantung pada sistem yang diterapkan.  Tidak jarang orang yang mampu tidak dapat berbuat karena terikat oleh sistem dan fasilitas yang tersedia. Pembagian tugas dan tanggung jawab harus jelas dan dilakukan pengukuran efektifitas kerja. (Standard operational process) dan (Standard Instruction Process) harus dipahami oleh bagian operasional dan juga bagian perencanaan.
Perencanaan produksi sangat tergantung pada kapasitas, jenis perusahaan, sumberdaya  dan jenis produksi yang dikerjakan. Berdasarkan hal tersebut perusahaan yang mengerjakan order yang terputus-pustus berdasarkan permintaan pelanggan yang pemenuhannya pada waktu yang akan datang,  tingkat kesulitan dalam menyusun perencanaan jauh lebih sulit  dibanding perusahaan yang mengerjakan produksi continue. Pengukuran keberhasilan perencanaan tidak tepat untuk dibandingkan dengan perusahaan lain karena perbedaan kelengkapan, kapasitas dan sumberdaya  apalagi dibanding dengan perusahaan lain yang tidak sejenis.
Faktor penting dalam melakukan pengukuran adalah standar produksi meliputi waktu, mutu, jumlah yang dapat dihasilkan berdasarkan penelitian yang dilakukan pada jangka waktu tertentu di perusahaan ini.  Pengukuran perlu dilakukan secara terus-menerus sehingga keputusan yang diambil untuk pengembangan jangka panjang mempunyai dasar yang objectif.

c. Fungsi pengendalian persediaan
Persediaan adalah barang milik perusahaan  dengan maksud untuk dijual (barang jadi) atau barang dalam process produksi atau barang yang menunggu penggunaannya dalam process produksi (bahan baku).  Fungsi dasar pengendalian persediaan baik bahan baku, barang dalam proses  maupun barang jadi banyak sekali. Fungsi tersebut meliputi proses berurutan  mulai dari timbulnya kebutuhan, pembelian, pengolahan, delivery.
Permasalahan utama  persediaan  yang timbul yaitu bagaimana fungsi tersebut  dapat mengatur persediaan sehingga setiap permintaan dapat dilayani akan tetapi  biaya persediaan harus minimum. Bila persediaan cukup banyak, permintaan dapat segera dilayani akan tetapi menyebabkan biaya penyimpanan barang tersebut akan menjadi sangat mahal. Dengan memperhatikan hal tersebut diambil keputusan untuk menentukan nilai persediaan.
Menentukan nilai persediaan sangat tergantung kepada jenis perusahaan, modal kerja dan omzet perusahaan serta lead time untuk mendapatkan barang tersebut. Karena PT. Samudra Montaz sebagai perusahaan converting yang bersifat memenuhi permintaan pelanggan pada periode yang akan datang maka, besarnya kebutuhan akan barang tersebut tidak dapat ditentukan sebelum disepakati sales contract. Sebagian besar bahan baku sudah dialokasikan untuk produk tertentu karena pembelian dilakukan setelah bagian perencanaan menerima GR Order Confirmation yang sudah disetujui oleh pimpinan perusahaan.  Fungsi pengendalian persediaan adalah bagian dari fungsi perencanaan produksi yang bertanggung jawab atas tersedianya material produksi dan material pembantu agar  proses produksi dapat berjalan sesuai rencana yang ditetapkan
Fungsi perencanaan produksi yang bertanggung jawab atas tersedianya material produksi dan material pembantu agar  proses produksi dapat berjalan sesuai rencana yang ditetapkan. Keperluan meminimumkan persediaan berhubungan dengan besarnya biaya yang diperlukan  oleh persediaan yaitu :

d.Biaya pembelian.
Yang dimaksud biaya pembelian dalam hal ini adalah biaya pembelian bahan baku untuk produksi. Pembelian skala besar dapat mengurangi biaya pembelian dengan adanya potongan harga (quantity discount) yang diberikan Supplier dengan konsekwensi biaya transportasi yang ditanggung Supplier relative lebih murah karena pengangkutan barang dilakukan tidak terlalu sering, namun perlu diperhitungkan apakah potongan harga tersebut lebih kecil dari biaya  penyimpanan. Disamping itu jumlah persediaan yang cukup dapat mempercepat delivery sehingga tidak menimbulkan kekecewaan pelanggan. Karena jenis perusahaan memproduksi suatu barang sesuai permintaan pelanggan dimana permintaan tersebut akan dipenuhi pada waktu yang akan datang, cara pembelian tersebut tidak menguntungkan karena penyimpanan barang tersebut membutuhkan  ruang yang luas dan waktu penyimpanan yang relative lama

e. Biaya penyimpanan
Biaya  penyimpanan meliputi biaya penyediaan ruang  yang diperlukan untuk menampung barang tersebut, biaya perawatan atas resiko kerusakan,  serta biaya tenaga kerja yang diperlukan untuk merawat dan mengamankan barang tersebut dari segala macam bentuk gangguan. Selain itu biaya penyimpanan juga berkaitan dengan biaya bunga  dimana semakin besar dana yang dialokasikan pada persediaan akan mengakibatkan  alokasi  akan investasi yang lain akan terhambat  atau  dilakukan dengan suntikan dana dari kreditur dalam hal ini adalah Bank.
Sesuai dengan sifat perusahaan yang memenuhi permintaan  pelanggan pada waktu yang akan datang  maka  persediaan bahan baku dasar, tinta spesial yang tidak diperuntukan untuk order produksi tertentu (bebas) adalah nol.

PERENCANAAN PRODUKSI

  • Setelah permintaan akan datang diketahui, kemudian dibuat rencana produksi untuk jangka waktu tertentu.
  • Jangka waktu tersebut meliputi suatu periode beberapa minggu sampai setahun.
  • RENCANA PRODUKSI mencakup jumlah produk yang diinginkan pada waktu yang tepat dengan biaya minimum & berkualitas.
  • RENCANA PRODUKSI menjadi dasar pembuatan anggaran operasi, keperluan SDM dan jam kerja biasa atau lembur. Kemudian untuk menetapkan peralatan dan tingkat persediaan.

3 (tiga) sumber yg dapat digunakan jika ada permintaan:

  1. Produksi yang ada atau yang sedang dilakukan.
  2. Persediaan yang ada atau yang masih ada di gudang.
  3. Produksi dan persediaan yang masih ada.

Satu faktor yang sering menjadi pertimbangan dalam perencanaan produksi adalah KESTABILAN KEMAMPUAN KERJA.
Jika permintaan adalah secara siklus, seorang pekerja harus memilih salah satu dari variasi ukuran kekuatan kerja atau mengunakan persediaan untuk memenuhi permintaan tsb.

  • Jika menggunakan persediaan & tingkat kekuatan kerja untuk memenuhi permintaan secara siklus, mempunyai keuntungan keuangan yang langsung terdapat penanaman modal yang lebih rendah dalam pabrik dan peralatan.
  • Jika permintaan meningkat, perlu perluasan ukuran dari kekuatan kerja, menambah efisiensi atau mengurangi jumlah jumlah jam per unit atau menambah jam kerja yang ada.
  • Jika permintaan menurun, perlu pengurangan ukuran kekuatan kerja jika efisiensi tetap dipertahankan
  • Jadi Perencanaan Produksi harus disesuaikan dengan permintaan, kebijaksanaan perusahaan & produksi yang ekonomis

Pada saat Rencana Produksi selesai dibuat, ada 2 alasan penyesuaiannya:

  1. Permintaan nyata (sebenarnya) dapat berbeda dari ramalan permintaan yang telah digunakan untuk membuat rencana produksi tersebut.
  2. Produksi nyata yang mungkin tidak sama dengan produksi yang direncanakan.

Metode untuk menyesuaikan rencana produksi:

  1. Metode rata-rata ditimbang.
  2. Metode penyamarataan (leveling)

5.9. Perencanaan dan Pengendalian  Produksi
Perencanaan dan Pengendalian produksi yaitu merencanakan kegiatan-kegiatan produksi, agar apa yang telah direncanakan dapat terlaksana dengan baik.
Perencanaan Produksi adalah aktivitas untuk menetapkan produk yang diproduksi, jumlah yang dibutuhkan, kapan produk tersebut harus selesai dan sumber-sumber yang dibutuhkan.
Pengendalian Produksi adalah aktivitas yang menetapkan kemampuan sumber-sumber yang digunakan dalam memenuhi rencana, kemampuan produksi berjalan sesuai rencana, melakukan perbaikan rencana.

a. Tujuan Utama

  1. Memaksimumkan pelayanan bagi konsumen
  2. Meminimumkan investasi pada persediaan
  3. Perencanaan kapasitas
  4. Pengesahan produksi dan pengendalian produksi
  5. Persediaan dan kapasitas
  6. Penyimpanan dan pergerakan material
  7. Peralatan, routing dan proses planning, dll.

b. Tujuan dan Fungsi Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Tujuan Perencanaan dan Pengendalian Produksi

  1. Mengusahakan agar perusahaan dapat berproduksi secara efisien dan efektif
  2. Mengusahakan agar perusahaan dapat menggunakan modal seoptimal mungkin
  3. Mengusahakan agar perusahaan dapat menguasai pasar yang luas
  4. Untuk dapat memperoleh keuntungan yang cukup bagi perusahaan.

Fungsi Perencanaan dan Pengendalian Produksi

  1. Meramalkan permintaan produk yang dinyatakan dalam jumlah produk sebagai fungsi dari waktu
  2. Memonitor permintaan yang actual, membandingkannya dengan ramalan permintaan sebelumnya dan melakukan revisi atas ramalan tersebut jika terjadi penyimpangan.
  3. Menetapkan ukuran pemesanan barang yang ekonomis atas bahan baku yang akan dibeli.
  4. Menetapkan system persediaan yang ekonomis.
  5. Menetapkan kebutuhan produksi dan tingkat persediaan pada saat tertentu.
  6. Memonitor tingkat persediaan dan melakukan revisi rencana produksi pada saat yang ditentukan.
  7. Membuat jadwal produksi, penugasan serta pembebanan mesin dan tenaga kerja yang terperinci.

c.  Tingkatan Perencanaan dan Pengendalian Produksi

Perencanaan Jangka Panjang
Kegiatan peramalan usaha, perencanaan jumlah produk dan penjualan, perencanaan  produksi, perencanaan kebutuhan bahan dan perencanaan financial.
Perencanaan Jangka Menengah
Perencanaan kebutuhan kapasitas, perencanaan kebutuhan material, jadwal induk produksi dan perencanaan kebutuhan distribusi.
Perencanaan Jangka Pendek
Kegiatan penjadwalan perakitan produk akhir, perencanaan dan pengendalian input-output, pengendalian kegiatan produksi, perencanaan dan pengendalian purchase dan manajemen proyek.

d. Kegiatan Perencanaan dan Pengendalian Produksi

  1. Peramalan kuantitas permintaan
  2. Perencanaan pembelian / pengadaan : jenis, jumlah dan waktu
  3. Perencanaan persediaan : jenis, jumlah dan waktu
  4. Perencanaan kapasitas : tenaga kerja, mesin dan fasilitas.
  5. Penjadwalan produksi dan tenaga kerja
  6. Penjaminan kualitas
  7. Monitoring aktivitas produksi
  8. Pengendalian produksi
  9. Pelaporan dan pendataan.

e. Pengertian system Manufaktur
Manufaktur adalah kumpulan operasi dan aktivitas yang saling berhubungan untuk membuat suatu produk meliputi : perancangan produk, pemilihan material, perencanaan proses, perencanaan produksi, produksi, inspeksi, manajemen dan pemasaran. Produksi adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk membuat produk. Proses Produksi manufaktur adalah aktivitas system manufaktur terkecil yang dilakukan untuk membuat produk, yaitu : proses permesinan maupun proses pembentukan lainnya.
Rekayasa Manufaktur adalah kegiatan perancangan, operasi dan pengendalian proses manufaktur. Sistem manufaktur adalah suatu organisasi yang melaksanakan berbagai kegiatan manufaktur yang saling berhubungan, dengan tujuan menjembatani fungsi produksi, agar dicapai performansi produktivitas total system yang optimal, seperti waktu produksi, ongkos dan utilitas mesin.

f. Klasifikasi system Manufaktur
a. Tipe produksi

  1. Make to stock (MTS)
  2. Asseble to order (ATO)
  3. Make to Order (MTO)
  4. Engineering to Order (ETO)

b. Volume Produksi
Produksi massa
Produksi Massa memiliki cirri-ciri sebagai berikut : Laju serta tingkat produksi pada produksi massa umumnya tinggi, Permintaan terhadap produk yang dihasilkan tinggi, Peralatan umumnya mempunyai fungsi khusus, Keahlian tenaga kerja tidak terlalu tinggi sebagai akibat dari fungsi peralatan yang khsusus
Produksi batch
Produksi Batch memiliki cirri-ciri sebagai berikut :Ukuran lot produksi adalah mediumTujuan : untuk memenuhi kebutuhan konsumen terhadap produk-produk yang diperlukan secara kontinu, Peralatan umumnya mempunyai fungsi umum tetapi dirancang untuk tingkat produksi yang tinggi.
Produksi job shop
Produksi Job Shop dengan cirri-ciri : Tingkat produksi rendah, Peralatan mempunyai fungsi umum, Keahlian yang diperlukan tenaga kerja cukup tinggi., Biasanya membuat berdasar kan pesanan.

c. Aliran Produksi

  1. Fixed site (Project)
  2. Job shop (Jumbled Flow)
  3. Flow Shop

Small Batch Line Flow, mempunyai semua karakter flow shop tetapi tidak semua memproses produk yang sama secara terus menerus. Memproses beberapa produk dengan ukuran batch kecil, dengan kebutuhan set up per batch. Digunakan ketika biaya proses bisa dipertimbangkan, permintaan part rendah dan non-diskrit. Contohnya adalah farmasi
Large batch (Repetitive) Line Flow adalah memproduksi produk diskrit dalam volume besar tetapi tidak kontinu.
Continues Line Flow adalah Merefer pada proses kontinu dari fluida bedak, logam dll. Biasa digunakan pada industry gula, minyak dan logam lainnya.

d.Tata Letak

  1. Fixed position Lay out
  2. Process lay out
  3. Product flow lay out

Kesimpulan

  1. Setiap jenis system produksi memerlukan proses perencanaan dan pengendalian yang berbeda.
  2. Setiap jenis system manufaktur memiliki kelebihan dan kekurangan
  3. Perencanaan dan pengendalian produksi bertujuan agar aktivitas produksi berjalan seefektif dan seefisien mungkin.
  4. Sistem manufaktur memiliki pengertian yang lebih luas daripada system produksi.







Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.