Panduan Singkat Budidaya Ternak Domba

  • BUDIDAYA  TERNAK  DOMBA
  • 1. Sejarah Singkat
  • domba
  • Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil dometikasi manusia yang sejarahnya diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis musimon) yang berasal dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Argali (Ovis amon) berasal dari Asia Tenggara, Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia
  • 2. Sentra Peternakan
  • Di Indonesia sentra peternakan domba berada di daerah Aceh dan Sumatra Utara. Di Aceh pada tahun 1993 tercatat sekitar 106 ribu ekor domba, sementara di Sumatera Utara sekitar 95 ribu ekor domba yang diternakan. Lahan yang digunakan untuk berternak di daerah Aceh berdasarkan data Puslit Tanah dan Agroklimat Deptan tahun 1979, seluas 5,5 juta hektar mulai dari kemampuan kelas I sampai VIII, sedangkan di Sumatera Utara luas lahan yang digunakan sekitar 7 juta hektar.
  • 3. Jenis
  • Domba seperti halnya kambing, kerbau dan sapi, tergolong dalam famili Bovidae. Kita mengenal beberapa bangsa domba yang tersebar diseluruh dunia, seperti:
    1. Domba Kampung adalah domba yang berasal dari Indonesia
    2. Domba Priangan berasal dari Indonesia dan banyak terdapat di daerah Jawa Barat
    3. Domba Ekor Gemuk merupakan domba yang berasal dari Indonesia bagian Timur seperti Madura, Sulawesi dan Lombok
    4. Domba Garut adalah domba hasil persilangan segi tiga antara domba kampung, merino dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan
  • Di Indonesia, khususnya di Jawa, ada 2 bangsa domba yang terkenal, yakni domba ekor gemuk yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan domba ekor tipis yang banyak terdapat di Jawa Barat. Dengan demikian seringkali dikatakan bahwa Jenis domba asli di Indonesia adalah domba ekor tipis, Domba ekor gemuk (DEG) dan Domba Garut Jawa Barat.
  • 4. Manfaat
  • Daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun belum memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat lain dari berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil
  • 5. Persyaratan Lokasi
  • Lokasi untuk peternakan domba sebaiknya berada di areal yang cukup luas, udaranya segar dan keadaan sekelilingnya tenang, dekat dengan sumber pakan ternak, memiliki sumber air, jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk (minimal 10 meter), relatif dekat dari pusat pemasaran dan pakan ternak
  • 6. Teknis Budidaya
  • Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.
  • 6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
  • 6.1.1. Perkandangan
    • Kandang harus kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, ukuran sesuai dengan jumlah ternak, bersih, memperoleh sinar matahari pagi, ventilasi kandang harus cukup dan terletak lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya agar tidak kebanjiran. Atap kandang diusahakan dari bahan yang ringan dan memiliki daya serap panas yang relatif kecil, misalnya dari atap rumbia.
    • Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1,5 m2 untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m2, sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m2 / ekor. Tinggi penyekat 1,5 – 2 X tinggi ternak
    • Kandang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, yaitu:
      1. Kandang induk/utama, tempat domba digemukkan. Satu ekor domba membutuhkan luas kandang 1 x 1 m.
      2. Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anaknya selama 3 (tiga) bulan. Seekor induk domba memerlukan luas 1,5 x 1 m & anak domba memerlukan luas 0,75 x 1 m
      3. Kandang pejantan, tempat domba jantan yang akan digunakan sebagai pemacak seluas 2 x 1,5 m/pemancak
    • Di dalam kandang domba sebaiknya terdapat tempat makan, palung makanan dan minuman, gudang makanan, tempat umbaran (tempat domba saat kandang dibersihkan) dan tempat kotoran/kompos.
    • Tipe dan model kandang pada hakikatnya dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe, yaitu:
    • 1). Tipe Kandang Panggung
      • Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah sehingga kotoran dan air kencingnya tidak berceceran. Alas kandang terbuat dari kayu/bambu yang telah diawetkan, Tinggi panggung dari tanah dibuat minimal 50 cm/2 m untuk peternakan besar. Palung makanan harus dibuat rapat, agar bahan makanan yang diberikan tidak tercecer keluar
    • 2). Tipe Kandang Lemprak
      • Kandang tipe ini pada umumnya digunakan untuk usaha ternak domba kereman. Kandang lemprak tidak dilengkapi dengan alas kayu, tetapi ternak beralasan kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Kandang tidak dilengkapi dengan palung makanan, tetapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas. Pemberian pakan sengaja berlebihan, agar dapat hasil kotoran yang banyak. Kotoran akan dibongkar setelah sekitar 1-6 bulan
  • 6.2. Penyiapan Bibit
    • Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik.
    • Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik
    • A. Pemilihan Bibit Calon Induk
      1. Calon Induk: berumur 1,5-2 tahun (lebih dari 12 bulan/ memiliki 2 buah gigi seri tetap) dengan tubuh baik, tidak cacat, bentuk perut normal, putting 2 buah dan BB > 20 Kg, telinga kecil hingga sedang, bulu halus, roman muka baik memiliki nafsu kawin besar, keturunan dari ternak yang beranak kembar dan ekor normal
      2. Calon Pejantan: berumur 1,5-2 tahun (memiliki 2 gigi seri tetap), sehat dan tidak cacat, badan normal dan keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor/lebih, tonjolan tulang pada kaki besar dan mempunyai buah zakar yang sama besar (scrotum simetris dan relative besar) serta kelaminnya dapat bereaksi, mempunyai gerakan yang lincah, roman muka baik dan tingkat pertumbuhan relatif cepat serta konfirmasi tubuh seimbang
    • B. Reproduksi dan Perkawinan
      • Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan reproduksi adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu
        1. Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi yang pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini dicapai pada saat domba berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun yang betina.
        2. Dewasa tubuh, yaitu masa domba jantan dan betina siap untuk dikawinkan. Masa ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan 12 bulan pada jantan. Perkawinan akan berhasil apabila domba betina dalam keadaan birahi
    • C. Proses Kelahiran
      • Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang kelahiran anak domba, kandang harus bersih dan diberi alas yang kering. Bahan untuk alas kandang dapat berupa karung goni/jerami kering. Obat yang perlu dipersiapkan adalah jodium untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar
      • Induk domba yang akan melahirkan dapat diketahui melalui perubahan fisik dan perilakunya sebagai berikut:
        1. Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.
        2. Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.
        3. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembab.
        4. Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.
        5. Sering kencing.
      • Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban pecah, anak domba belum lahir, kelahiran perlu dibantu. Anak domba yang baru lahir dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat bernafas.
      • Biasanya induk domba akan menjilati anaknya hingga kering dan bersih.
  • 6.3. Pemeliharaan
  • 6.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    • Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan kandang dan peralatan dari sarang serangga dan hama. kandang terutama tempat pakan dan tempat minum dicuci dan dikeringkan setiap hari. Perlu dilakukan pembersihan rumput liar di sekitar kandang. Kandang ternak dibersihkan seminggu sekali.
  • 6.3.2. Pengontrolan Penyakit
    • Domba yang terserang penyakit dapat segera diobati dan dipisahkan dari yang sehat. Lakukan pencegahan dengan menyuntikan vaksinasi pada domba-domba yang sehat
  • 6.3.3. Perawatan Ternak
    • Induk bunting diberi makanan yang baik dan teratur, ruang gerak yang lapang dan dipisahkan dari domba lainnya. induk yang baru melahirkan diberi minum dan makanan hijauan yang telah dicampurkan dengan makanan penguat lainnya. Selain itu, induk domba harus dimandikan. Anak domba (Cempe) yang baru dilahirkan, dibersihkan dan diberi makanan yang terseleksi. Cempe yang disapih perlu diperhatikan. pakan yang berkualitas dalam bentuk bubur tidak lebih dari 0,20 kg satu kali sehari.
    • (1) Perawatan ternak dewasa meliputi:
      1. Memandikan ternak.
        • Memandikan ternak secara rutin minimal seminggu sekali. dengan cara disikat dan disabuni. pada pagi hari, kemudian dijemur dibawah sinar matahari pagi.
      2. Mencukur Bulu.
        • Pencukuran bulu domba dengan gunting biasa/cukur ini. dilakukan minimal 6 bulan sekali dan disisakan guntingan bulu setebal kira-kira 0,5 cm. Sebelumnya domba dimandikan sehingga bulu yang dihasilkan dapat dijadikan bahan tekstil. Keempat kaki domba diikat agar tidak lari pada saat dicukur. Pencukuran dimulai dari bagian perut kedepan dan searah dengan punggung domba.
        • Materi : Gunting dan Ternak domba
        •  Metode : Cara Mencukur Bulu domba:
          1. Sebelum dicukur domba dimandikan agar tidak terlalu gembel dan memudahkan pencukuran.
          2. Pencukuran dimulai dari bagian perut, mengarah ke depan sejajar dengan punggung ternak
          3. Pengguntingan bulu jangan sampai mengenai dan melukai kulit.
          4. Sisakan guntingan bulu setinggi 0,5 cm.
          5. Domba yang sudah di cukur tampak bersih.
      3. Merawat dan Memotong Kuku .
        • Pemotongan kuku domba dipotong 4 bulan sekali dengan golok, pahat kayu, pisau rantan, pisau kuku atau gunting
        • Materi : Pisau, Gunting dan Ternak domba
        • Metode  : Cara memotong kuku domba:
          1. Domba direbahkan dengan cara dipegang oleh dua orang agar domba diam saat kuku dipotong,
          2. Sebelum kuku domba dipotong, kaki dicelupkan terlebih dahulu ke air agar kuku tidak terlalu keras (lunak) saat dipotong.
          3. Keluarkan kotoran kuku.
          4. Gunting seluruh kuku yang panjang hingga rata.
          5. Potong tonjolan kuku di bawah tumit.
          6. Buang serpihan diantar kedua jari.
          7. Ratakan jaringan dibawah tumit.
      4. Pemberian Identikasi Pada Domba
        • Identifikasi ternak adalah pemberian tanda pada ternak agar peternak mengetahui dengan mudah ternak-ternak yag dimilikinya, sehingga memudahkan dalam pengontrolan. Setelah ternak diberikan identifikasi ternak dicatat dalam kartu catatan.
        • Pemberian tanda pengenal pada ternak dapat berupa tattoo (pemberian tato pada telinga), Ewe and Ram tag (anting pada domba dewasa), Lamb tag (anting pada domba muda), Ear Notching (penyobekan telinga), dan Horn Branding(penomoran pada tanduk).
        • Alat dan Bahan :
          1. Pembuat tato dan tinta tato
          2. Pemasang lamb tag dan lamb tag
          3. Alkohol
          4. Kapas Steril
          5. Yodium Tingtura
        • Pelaksanaan :
          1. Domba dihandel dengan cara diikatkan, atau dipegangi oleh beberapa orang.
          2. Sebelum diberi tanda, domba terlebih dahulu dibersihkan telinganya dengan alkohol agar bebas dari kotoran dan kuman untuk mencegah terjadinya infeksi setelah penomoran.
  • 6.4. Pemberian Pakan
  • Ternak domba menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat). Pakan tambahan dapat disusun (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin. Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb
  • Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.
  • Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam 4 golongan sbb:
    1. Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, brachiaria, raja, meksiko dan rumput alam.
    2. Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun kacang tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, gliricidia dan siratro
    3. Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon, daun ketela rambat dan daun beringin
    4. Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing, garam dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap dan biji kapas
  • Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 – 15 % berat badan (dasar bahan segar).
  • Pemberian Pakan untuk Induk, Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.
  • Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang disesuaikan dengan tingkatan umur.
  • Adapun proporsi dari campuran tersebut adalah:
    1. Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%
    2. Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas
    3. Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas
    4. Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%
    5. Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5–1 gelas
  • Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah sbb:
    1. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    2. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    3. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    4. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    5. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    6. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    7. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    8. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    9. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    10. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gr/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
    11. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    12. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    13. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    14. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    15. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    16. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    17. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    18. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    19. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    20. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    21. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
  • 6.5. Pemberian Vaksinasi dan Obat
    • Pencegahan penyakit : sebelum dikandangkan, domba harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan
    • Pemberian vaksinasi dapat dilakukan setiap enam bulan sekali vaksinasi dapat dilakukan dengan menyuntikan obat kedalam tubuh domba. Vaksinasi mulai dilakukan pada anak domba (cempe) bila telah berusia 1 bulan, selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Vaksinasi yang biasa diberikan adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), Serum anti anthrax, vaksin AE, dan Vaksin SE (Septichaemia Epizootica).
  • 6.6. Pemeliharaan Kandang
    • Pemeliharaan kandang meliputi pembersihan kotoran domba menimal satu minggu sekali, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah, membersihkan lantai atau alas, penyemprotan dan pengapuran kandang untuk disinfektan
  • 6.7. Hama dan Penyakit
    1. Penyakit Mencret
      1. Penyebab: bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba umur 3 bulan.
      2. Pengobatan: antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut
    2. Penyakit Radang Pusar
      1. Penyebab: alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar tercemar oleh bakteri Streptococcus, Staphyloccus, Escherichia coli dan Actinomyces necrophorus. Usia domba yang terserang biasanya cempe usia 2-7 hari.
      2. Gejala : terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh domba akan kesakitan.
      3. Pengobatan: dengan antibiotika, sulfa dan pusar dikompres dengan larutan rivanol (Desinfektan)
    3. Penyakit Cacar Mulut
      1. Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan
      2. Gejala : cempe yang terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena tenggorokannya terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan kematian.
      3. Pengendalian : dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau penicillin
    4. Penyakit Titani
      1. Penyebab: kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan.
      2. Gejala : domba selalu gelisah, timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan sampai keseluruh badan Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan Genconos calcicus dan Magnesium
    5. Penyakit Radang Limoah
      1. Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya, penularannya cepat dan dapat menular ke manusia
      2. Penyebab: bakteri Bacillus anthracis.
      3. Gejala : suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung dan dubur keluar cairan yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar dan nafsu makan hilang.
      4. Pengendalian : dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G, dengan dosis 6.000-10.000 untuk /kg berat tubuh domba tertular
    6. Penyakit Mulut dan Kuku
      1. Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba, dan yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku.
      2. Penyebab: virus dan menyerang semua usia pada domba
      3. Gejala : mulut melepuh diselaputi lendir.
      4. Pengendalian : membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan menggunakan larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada kuku dilakukan dengan merendam kuku dalam larutan formalin atau Natrium karbonat 4%.
    7. Penyakit Ngorok
      1. Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.
      2. Gejala : nafsu makan domba berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada bagian leher dan dada. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini, domba yang terserang terlihat lidahnya bengkak dan menjulur keluar, mulut menganga, keluar lendir berbuih dan sulit tidur.
      3. Pengendalian : menggunakan antibiotika lewat air minum atau suntikan
    8. Penyakit Perut Kembung
      1. Penyebab: pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang masih diselimuti embun.
      2. Gejala :lambung domba membesar dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi
      3. Pengendalian : memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar
    9. Penyakit Parasit Cacing
      1. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini.
      2. Penyebab:cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata).
      3. Pengendalian: diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220 mg/kg berat tubuh domba.
    10. Penyakit Kudis
      1. Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba.
      2. Penyebab: parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis.
      3. Gejala : tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor.
      4. Pengendalian : dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.
    11. Penyakit Dermatitis
      1. Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit bibit domba.
      2. Penyebab: virus dari sub-group Pox virus dan menyerang semua usia domba.
      3. Gejala : terjadi peradangan kulit di sekitar mulut, kelopak mata, dan alat genital.
      4. Pada induk yang menyusui terlihat radang kelenjar susu.
      5. Pengendalian : menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka
    12. Penyakit Kelenjar Susu
      1. Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui, sehingga air susu yang diisap cempe tercemar.
      2. Penyebab: ambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan.
      3. Gejala : ambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk berkurang.
      4. Pengendalian : pemberian obatobatan antibiotika melalui air minum.
  • Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada domba dapat dilakukan dengan:
    1. Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang
    2. Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin
    3. Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium dan mangannya.
    4. Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan
    5. Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu
    6. Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu
    7. Tatalaksana kandang diatur dengan baik
    8. Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit
  • 7. P A N E N
    • Hasil Utama  Hasil utama dari budidaya domba adalah karkas (daging)
    • Hasil Tambahan. Hasil tambahan dari budidaya domba adalah bulunya (wool) yang dapat di jadikan sebagai bahan tekstil
    • Pembersihan
      • Sebelum dipotong ternak dibersihkan dengan cara mencuci kaki domba dan menyemprotkan air diatas kepala ternak agar karkas yang dihasilkan tidak tercemar oleh bakteri dan kotoran
  • 8. PASCA PANEN
  • 8.1. Stoving
  • Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan domba agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
    1. Ternak domba harus diistirahatkan sebelum pemotongan
    2. Ternak domba harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging
    3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas
    4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin
  • 8.2. Pengulitan
  • Pengulitan pada domba yang telah disembelih dapat dilakukan dengan mengguna-kan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit domba dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit domba dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat
  • 8.3. Pengeluaran Jeroan
  • Setelah domba dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut domba
  • 8.4. Pemotongan Karkas
  • Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan penge-luaran jeroan
  • 9. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
  • domba-1
  • 10. DAFTAR PUSTAKA
    1. Bambang Agus Murtidjo. 1993. Memelihara Domba, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
    2. Bambang Cahyono. 1998. Beternak Domba dan Kambing, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
    3. Bambang Sugeng. 1990. Beternak Domba. Penebar Swadaya, Jakarta
    4. Joko Santoso dkk. 1991. Pengembangan Ternak Potong di Pedesaan (Prosiding), Fakultas Peternakan UNSOED. Purwokerto
    5. Warta pertanian No. 125/Th.X/1993, Peternakan, Jakarta, 1993
  • KONTAK HUBUNGAN
    • Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
    • Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,                         Situs Web: http://www.ristek.go.id/
    • Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tani-Ternak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s