(3) ANEKA RAGAM PANGAN NON BERAS

  • Keaneka Ragaman Bahan Pangan Non Beras dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan
  • Oleh : Ir.Rohmad, MMA 
  • (Dosen  FP-UNISKA Kediri, Tim Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Kota Kediri)
  • I. PENDAHULUAN
  • 1.1. Tradisi Makan.
    • Dalam masyarakat kita, jawaban atas pertanyaan ”sudah makan atau belum” ternyata menunjukkan pengaruh yang tidak kecil terhadap konsumsi beras per kapita. Pengertian makan di sebagian besar masyarakat masih sangat identik dengan nasi yang terbuat dari beras. Di luar itu akan menyatakan belum makan walaupun sudah makan roti atau bahkan nasi goreng sekalipun. Padahal, dilihat dari nilai gizinya, roti apalagi campur keju dan mentega dengan minum susu, atau nasi goreng dengan dadar telur jauh lebih bergizi dibandingkan dengan sekadar makan nasi putih dengan lauk ikan asin.
    • Ketergantungan pemenuhan konsumsi pangan berupa beras tersebut makin besar karena kita mengabaikan tradisi yang sudah menjadi milik masyarakatnya. Dalam buku-buku lama pelajaran di sekolah, kita bisa mengetahui bahwa makanan pokok masyarakat Madura adalah jagung. Makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua adalah sagu. Sebagai tradisi yang sudah turun-temurun, mereka tentunya akan menyatakan belum makan apabila belum menyantap nasi jagung atau sagu.
    • Akan tetapi, selama Orde Baru, tradisi itu secara tidak disadari telah dihapus. Lewat Revolusi Hijau, pemerintah melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi tanaman pangan, terutama padi sehingga pada tahun 1984 Indonesia mampu mencapai swasembada beras. Keberhasilan ini harus dibayar mahal karena mengakibatkan terjadi penyeragaman dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
    • Tradisi makan masyarakat  NONBERAS yang secara budaya memperlihatkan kebinekaan bangsa kita, secara berangsur-angsur berubah. Kebutuhan bahan makanan pokok masyarakat nonberas tersebut ahirnya beralih dari jagung dan sagu ke beras sehingga terjadi keseragaman bahan makanan pokok. Di mana-mana orang membutuhkan beras sehingga sejalan dengan pertambahan penduduk, kebutuhan akan beras dari tahun ke tahun terus meningkat.
  • 1.2. Meja Makan.
    • Seberapa besar tingkat konsumsi beras tersebut, tiap masyarakat berbeda-beda. Secara sederhana, hal ini bisa diketahui lewat meja makan yang merupakan salah satu indikasi tradisi pola makan masyarakatnya. Baik meja makan yang terdapat di rumah maupun di rumah makan atau restoran.
    • Meja rumah makan padang lebih banyak dipenuhi oleh berbagai masakan sebagai lauk, tetapi porsi nasi yang disediakan hanya sekadarnya. Ini berbeda dengan apa yang terdapat di rumah makan sunda yang menyuguhkan lauk sekadarnya saja. Nasi yang menjadi menu utama ditempatkan di boboko dalam porsi yang lebih besar. Boboko adalah sejenis tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu.
    • Kenyataan ini memperlihatkan bahwa ketergantungan masyarakat Sunda pada beras lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Minang. Bahkan, sedemikian kuatnya ketergantungan pada bahan makanan pokok berupa beras, di beberapa daerah, seperti Cirebon, masyarakatnya yang tidak mampu membeli beras lebih memilih nasi aking daripada umbi-umbian atau sumber karbohidrat lainnya. Padahal, nasi aking merupakan nasi sisa yang berasal dari rumah-rumah makan atau restoran sehingga lebih cocok untuk makanan bebek. Selain nilai gizinya sangat rendah, nasi aking yang sudah berjamur bisa menjadi sumber timbulnya berbagai penyakit.
  • II. MENGAPA NASI (KARBOHIDRAT) TIDAK BOLEH DITINGGALKAN DALAM MAKAN
    • Bagaimanapun juga, karbohidrat merupakan zat gizi makro yang berfungsi memberikan energi bagi kita. Memang, apa yang dikatakan para ahli bahwa karbohidrat menyebabkan gemuk, itu benar adanya. Tetapi, itu terjadi bila Anda mengonsumsi jenis yang tidak disarankan, dan dalam jumlah berlebihan. Jika Anda makan berlebihan, tanpa nasi pun, berat badan Anda tetap akan naik. Maka, kuncinya adalah moderasi. Agar Anda para pecinta nasi berlega hati, menurut Brierley Wright, MS, RD, pakar Komunikasi Nutrisi dari Friedman School of Nutrition Science and Policy di Tufts Universityada enam alasan mengapa Anda harus tetap mengonsumsi karbohidrat.
      1. Karbohidrat membantu mendongkrak mood. Karbo mendukung produksi serotonin, senyawa kimia dalam otak yang menimbulkan perasaan senang. Studi dari Archives of Internal Medicine menunjukkan, orang yang menjalani diet rendah karbo yang berat selama setahun (hanya mengonsumsi sekitar 1/2 cangkir nasi atau selembar roti), cenderung mengalami depresi, kegelisahan, dan mudah marah. Kadarnya jauh melebihi orang yang mengonsumsi diet rendah lemak-tinggi karbohidrat, yang hanya makan produk olahan susu rendah lemak, gandum utuh, buah-buahan, dan kacang-kacangan.
      2. Karbohidrat membantu mencegah berat badan naik. Bahkan, membantu menurunkan berat badan. Bagaimana mungkin? Yang pasti, peneliti dari Brigham Young University di Utah, AS, mendapati bahwa mereka yang meningkatkan asupan seratnya secara umum akan kehilangan berat badan. Hal ini terjadi pada perempuan paruh baya yang dimonitor pola makannya selama dua tahun. Sebaliknya, perempuan yang mengurangi asupan serat dari makanannya justru berat badannya naik.
      3. Karbohidrat baik untuk jantung. Dengan meningkatkan asupan serat yang mudah larut (yang bisa ditemukan dalam makanan tinggi karbohidrat seperti oatmeal dan kacang polong) sebanyak 5-10 gr sehari, Anda akan menurunkan kadar kolesterol jahat hingga 5 persen. Mereka yang mengonsumsi gandum utuh (seperti beras merah) juga cenderung memiliki kadar kolesterol jahat yang lebih rendah, dan kolesterol baik yang lebih tinggi.
      4. Karbohidrat membantu merampingkan lingkar pinggang. 
        • Mengonsumsi gandum utuh membantu mengurangi lemak tubuh dan lemak perut, demikian menurut penelitian baru yang dimuat di Journal of Nutrition. Dalam studi tersebut dikatakan bahwa orang dewasa yang makan sekitar tiga porsi gandum utuh sehari, memiliki lemak tubuh 2,4 persen lebih sedikit, dan lemak perut 3,6 persen lebih sedikit, daripada mereka yang makan kurang dari seperempat porsi.
      5. Karbohidrat membantu menajamkan memori. Perempuan overweight yang menjalani diet rendah karbo selama seminggu (benar-benar tidak mengonsumsi karbohidrat) ternyata mendapatkan nilai yang lebih buruk dalam tes memori (seperti: mengapa tadi saya masuk ke ruangan ini?). Nilai mereka juga berkurang dalam visuospatial memory (tes mengingat lokasi dalam peta) daripada mereka yang mengikuti diet rendah kalori. Inilah merupakan petunjuk American Dietetic Association, yang terungkap dalam sebuah studi dari Tufts University.
      6. Karbohidrat membantu memecah lemak. Sarapan dengan karbohidrat yang sifatnya tidak menaikkan gula darah dengan cepat, seperti oatmeal atau sereal bekatul, 3 jam sebelum latihan, akan membantu Anda membakar lemak lebih banyak, demikian menurut sebuah studi dari Journal of Nutrition. Kedua jenis makanan tersebut, seperti juga kentang dengan kulitnya, roti gandum, pasta dari gandum, atau kacang polong,  tidak menyebabkan gula darah melonjak secepat bila Anda mengonsumsi roti tawar putih atau nasi putih. Sebaliknya, tingkat insulin tidak meningkat cepat, dan karena insulin berperan memberi tanda bahwa tubuh menyimpan lemak, memastikan tingkat insulin yang lebih rendah akan membantu Anda membakar lemak.
  •  III. PILIH NASI BERAS ATAU KENTANG SEBAGAI SUMBER KARBOHIDRAT ?
    • Banyak orang yang memanfaatkan kentang sebagai makanan pokok  dalam program diet mereka ketimbang nasi putih. Sehatkah pilihan tersebut?
    • Kentang memang kaya akan kandungan vitamin A dan B, karbohidrat, serat, sodium, potasium, fosfor, dan zat besi. Kandungan phytonutrient dalam kentang juga merupakan zat gizi yang berfungsi sebagai antioksidan atau penangkal radikal bebas. Selain itu, padatnya karbohidrat tapi dengan nilai kalori yang lebih kecil dalam kentang ketimbang nasi, membuat makanan yang berasal dari tumbuhan menjalar ini menjadi primadona dalam menu program diet kita. Bayangkan saja, satu kentang berukuran sedang mengandung kurang lebih 150 kalori saja. Sedangkan dalam satu piring nasi bisa terkandung sampai 240 kalori.
    • Kalau begitu, berarti benar kentang lebih baik dari nasi? Jangan terlalu terburu-buru menarik kesimpulan, karena dr Diani Adrina, SpGK, dokter ahli gizi dari RS Mitra Kemayoran, menyatakan ternyata kentang memiliki indeks glikemik lebih tinggi daripada nasi. Karena dalam 2 gram kentang rebus terdapat indeks glikemik sebesar 84, sedangkan pada nasi hanya 64. Makanan-makanan dengan indeks glikemik tinggi dapat menyebabkan beberapa gangguan bagi kesehatan kita, seperti meningkatnya kadar gula, menekan kolesterol baik, serta meningkatkan risiko terjadi serangan jantung dan diabetes. Oleh sebab itu, langkah yang tepat untuk menikmati kentang adalah dengan membatasi jumlah asupan kentang yang kita konsumsi. Jika ingin menyantap kentang, hindari kentang yang digoreng dan lebih baik pilihlah kentang yang direbus atau dipanggang bersama dengan kulitnya. Jangan lupa untuk selalu mendampingi kentang dengan brokoli atau sayuran lainnya. Khusus bagi para penderita diabetes atau yang berisiko tinggi terkena diabetes, lebih bijak jika kita bisa menghilangkan kentang dalam daftar menu makanan harian kita. Alternatif aman dari kelas umbi-umbian yang memiliki indeks glikemik lebih rendah adalah ubi, daripada kentang.
  • IV. KETAHANAN PANGAN
    • Pangan merupakan kebutuhan dasar yang merupakan hak setiap manusia dan merupakan salah satu faktor penentu kualitas sumberdaya manusia. Faktor penentu mutu pangan adalah keanekaragaman (diversifikasi) jenis pangan, keseimbangan gizi dan keamanan pangan. Disadari bahwa ketidakseimbangan gizi akibat konsumsi pangan yang kurang beraneka ragam akan berdampak pada timbulnya masalah gizi, baik gizi kurang maupun gizi lebih.
    • Sebelum kita membahas tentang Ketahanan Pangan lebih lanjut, coba kita cermati beberapa pertanyaan berikut ini :
      1. Menurut anda, apakah yang menjadi daya pikat beras ?
      2. Apakah anda yakin bahwa kebiasaan makan nasi bisa diubah ?
      3. One Day No Rice, Program Diversifikasi Pangan Setengah Hati ?
      4. Apakah anda bersikap Malu makan Pangan Lokal ?
      5. Apakah P2KPG (Program Percepatan Komsumsi Pangan dan Gizi) sudah berjalan ?
      6. Perlukah Gerakan Lumbung Kota dan Segelas Beras sehari ?
      7. Apakah anda Tahu bahwa sekolah dikepung makanan Tidak Sehat ?
      8. Perlukah sejak dini anak diajari sopan santun makan termasuk makanan non beras ?
    • Terkait dengan Pangan sebenarnya berbagai kebijakan dan program telah ditempuh pemerintah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan.
    • Beberapa kebijakan pemerintah sebagai berikut:
      1. Inpres No 14 Th 1974 yang kemudian disempurnakan dengan Inpres No 20 Th 1979 tentang “Perbaikan Menu Makanan Rakyat.
      2. GBHN 1988, tentang “peningkatan produksi pangan baik beras maupun bukan beras untuk memantapkan swasembada pangan. Di samping itu juga ditujukan untuk memperbaiki mutu gizi, antara lain melalui penganekaragaman jenis serta peningkatan penyediaan protein nabati dan hewani dengan tetap memperhatikan pola konsumsi pangan masyarakat setempat.”
      3. UU NO. 7 TH 1996, tentang pangan yang mendefinisikan ketahanan pangan sebagai suatu kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau
      4. PP 68/ 2002 tentang Ketahanan Pangan Pasal 9 yang menyatakan tentang “ Penganeka-ragaman pangan dilakukan antara lain dengan “meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi anekaragam pangan dengan prinsip gizi seimbang”.
      5. Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang kebijakan percepatan penganeka-ragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal
    • Beberapa kebijakan di atas ternyata belum memberikan hasil optimal dalam rangka penganekaragaman konsumsi pangan. Sampai saat ini Indonesia masih menghadapi masalah kualitas konsumsi pangan yang ditunjukkan oleh skor pola pangan harapan (PPH) dan rapuhnya ketahanan pangan. Berdasarkan data susenas tahun 2005 skor PPH baru mencapai 78,2 yang mana skor idealnya adalah 100.
    • Sedangkan indikator lemahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga diindikasikan oleh (a). Jumlah penduduk rawan pangan (konsumsinya < 90% dari AKG) yang masih cukup besar yaitu 52,33 juta jiwa pada tahun 2002. Dari jumlah tersebut 15,48 juta jiwa diantaranya merupakan penduduk sangat rawan (konsumsinya <70% AKG); (b). Balita kurang gizi masih cukup besar yaitu 5,02 juta pada tahun 2002 dan 5,12 juta pada tahun 2003 (Dewan Ketahanan Pangan, 2006). Permasalahan dan kondisi tersebut apabila dibiarkan akan berdampak pada penurunan kualitas sumberdaya manusia. Berbagai data menunjukkan bahwa kekurangan gizi pada anak-anak sebagai akibat rendahnya konsumsi pangan akan berdampak terhadap pertumbuhan fisik, mental dan intelektual. Sebagai ilustrasi kekurangan energi protein yang diakibatkan kekurangan makanan bergizi dan infeksi berdampak pada kehilangan 5-10 IQ poin (UNICEFF, 1997). Diperkirakan Indonesia kehilangan 330 juta IQ point akibat kekurangan gizi. Dampak lain dari gizi kurang adalah menurunkan produktivitas, yang diperkirakan antara 20-30% (Depkes RI., 2005). Kondisi di atas juga berdampak pada rendahnya pencapaian indeks pembangunan manusia (human development index = HDI) di Indonesia dibandingkan negara-negara lain di dunia. Hasil penelitian UNDP (2004) menempatkan HDI Indonesia pada urutan ke 111 dari 174 negara yang dinilai. Fakta di atas mengindikasikan bahwa keanekaragaman konsumsi pangan penduduk sebagai upaya meningkatkan status gizi harus terus diupayakan. Oleh karena itu pendekatan pemecahan masalah harus didasarkan pada faktor-faktor yang dapat mempengauhi pola konsumsi makan.
    • Menurut Sidik dan Purnomo (1989), keberhasilan swasembada beras dan meningkatnya pendapatan penduduk di waktu lampau juga telah berdampak pada pergeseran pola pangan pokok ke arah pola pangan pokok beras. Tingginya ketergantungan pada serealia, terutama beras telah menyebabkan ketergantungan sumber energi dan protein dari beras.
    • Forum kerja penganekaragaman (2003) dan Monek (2007) mengatakan hambatan dalam penganekaragaman pangan diantaranya dikarenakan (a) Tingkat pengetahuan masyarakat Indonesia terutama kelas menengah ke bawah relatif rendah, (b) Budaya makan adalah kebiasaan yang sulit untuk diubah, (c) Beras diposisikan sebagai makanan unggulan dan (d) Inovasi dalam bidang aneka pangan relative terlambat.
    • Selain faktor produksi, ketersediaan, dan budaya, pola konsumsi pangan juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, sosial, pendidikan, gaya hidup, pengetahuan, aksessibilitas dan sebagainya. Faktor prestise dari pangan kadang kala menjadi sangat menonjol sebagai faktor penentu daya terima pangan (Martianto dan Ariani, 2004).
  • V. DIVERSIFIKASI BAHAN PANGAN DAN KONSUMSI PANGAN
    • Pada prinsipnya diversifikasi bahan pangan mencakup dua aspek yaitu diversifikasi ketersediaan, diversifikasi produksi dan diversifikasi konsumsi (Suhardjo, 1998). Dilihat dari sisi produksi atau penawaran, diversifikasi pangan berarti menghasilkan komoditas pangan yang lebih beragam dengan sumberdaya tertentu yang digunakan secara optimal. Sedangkan dari sisi permintaan atau konsumen, diversifikasi pangan berarti penganekaragaman pemenuhan kebutuhan terhadap komoditas pertanian (Bunasor, 1989)
    • Mengacu pada pemikiran di atas, diversifikasi pangan dapat dibedakan ke dalam 3 golongan yaitu (a) diversifikasi horisontal, (b) diversifikasi vertikal dan (c) diversifikasi regional.
      1. Diversifikasi horisontal merupakan upaya penganekaragaman produk yang dihasilkan (dari sisi penawaran) dan produk yang dikonsumsi (dari sisi permintaan) pada tingkat individu, rumah tangga maupun perusahaan. Secara prinsip diversifikasi horisontal adalah penganekaragaman antar komoditas.
      2. Diversifikasi vertikal merupakan upaya pengembangan produk pokok menjadi produk baru untuk keperluan pada tingkat konsumsi. Secara prinsip diversifikasi vertikal adalah merupakan upaya pengembangan produk setelah panen di dalamnya termasuk kegiatan pengolahan hasil dan limbah pertanian. Diversifikasi vertikal dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas pangan agar lebih berdaya guna bagi kebutuhan manusia.
      3. Diversifikasi regional yaitu merupakan diversifikasi antara wilayah dan sosial budaya.
    • Uraian di atas mengindikasikan, bahwa diversifikasi pangan seharusnya tidak hanya terbatas pada pangan pokok semata, namun pangan pelengkap lainnya sehingga mutu makanan yang dikonsumsi memberikan nilai gizi yang lebih baik (Sulaeman, 1995).
    • Menurut pandangan ahli gizi, diversifikasi konsumsi pangan merupakan salah satu dari diversifikasi pangan yang pada prinsipnya merupakan landasan bagi terciptanya ketahanan pangan. Pangan yang beragam akan dapat memenuhi kebutuhan gizi manusia, di samping itu diversifikasi konsumsi pangan juga memiliki dimensi lain bagi ketahanan pangan. Bagi produsen, diversifikasi konsumsi pangan akan memberi insentif pada produksi yang lebih beragam, termasuk produk pangan dengan nilai ekonomi tinggi dan pangan berbasis sumberdaya lokal. Sedangkan jika ditinjau dari sisi konsumen, pangan yang dikonsumsi menjadi lebih beragam, bergizi, bermutu dan aman.
    • Di samping itu, dilihat dari kepentingan kemandirian pangan, diversifikasi konsumsi pangan juga dapat mengurangi ketergantungan konsumen pada satu jenis bahan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan dimaksudkan sebagai konsumsi berbagai jenis pangan yang dapat memenuhi kecukupan gizi. Konsumsi pangan dikatakan beragam bila di dalamnya terdapat bahan pangan sumber tenaga, sumber zat pembangun dan sumber zat pengatur secara seimbang.
  • VI. TUJUAN PERCEPATAN DIVERSIFIKASI KONSUMSI PANGAN
    • Mengacu pada rencana induk percepatan diversifikasi konsumsi pangan, secara umum tujuan percepatan diversifikasi konsumsi pangan adalah untuk memfasilitasi dan mendorong lebih cepat terwujudnya pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman melalui upaya peningkatan permintaan aneka pangan yang berjalan seiring dengan peningkatan ketersediaan aneka pangan berbasis sumberdaya lokal.
    • Adapun tujuan khusus percepatan diversifikasi konsumsi pangan adalah untuk mendorong tercapainya:
      1. Peningkatan permintaan masyarakat terhadap aneka pangan baik pangan segar, olahan maupun siap saji. Tujuan ini dicapai melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi seimbang sejak usia dini, pengembangan kegiatan pemberdayaan ekonomi rumah tangga, serta promosi dan gerakan/pemasaran sosial tentang diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumberdaya dan kelembagaan lokal kepada aparat dan seluruh komponen masyarakat.
      2. Peningkatan ketersediaan aneka ragam pangan segar dan olahan berbasis sumberdaya lokal. Tujuan ini dicapai melalui pengembangan bisnis dan industri pengolahan aneka pangan, baik sumber karbohidrat non beras maupun aneka pangan sumber protein, vitamin dan mineral nabati dan hewani berbasis sumberdaya lokal yang aman, terjangkau, dapat diterima secara sosial, ekonomi dan budaya. serta mampu menggerakkan sosial ekonomi petani dan UMKM.
      3. Penguatan dan peningkatan partisipasi pemerintah daerah dan seluruh potensi daerah dalam fasilitasi dan pengembangan progam dan kegiatan diversifikasi konsumsi pangan berbasis sumber daya dan kelembagaan lokal.
  • VII. SASARAN DIVERSIFIKASI PANGAN
    • Di dalam pedoman umum gerakan percepatan diversifikasi konsumsi pangan 2007 – 2015, sasaran percepatan diversifikasi konsumsi pangan yang hendak dicapai adalah pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman yang dicerminkan oleh tercapainya skor Pola Pangan Harapan (PPH) sekurang-kurangnya 85 pada tahun 2011 dan mendekati ideal 100 pada tahun 2015.
    • Sedangkan sasaran tahunan dimulai tahun 2008 sebagai berikut : konsumsi umbi-umbian naik 1 – 2 persen per tahun, Konsumsi sayuran naik 4,5 persen per tahun, Konsumsi buah-buahan naik 5 persen per tahun, konsumsi pangan hewani naik 2 persen per tahun. Seluruh komoditas yang dikonsumsi diprioritaskan produksi yang berbasis sumberdaya lokal. Indikasi yang menunjukkan hal tersebut adalah peningkatan jumlah industri olahan aneka pangan lokal serta peningkatan pasokan pangan olahan lokal non beras, aneka pangan sumber protein hewani dan nabati, sayuran dan buah.
  • VIII. PERKEMBANGAN DIVERSIFIKASI PANGAN
    • Dilihat dari perjalanan program diversifikasi selama ini, belum optimalnya pencapaian diversifikasi konsumsi pangan diduga karena (a) minimnya implementasi di lapangan dalam memasarkan dan mempromosikan pentingnya diversifikasi konsumsi pangan. Hal ini tidak seperti pemasaran sosial tentang KB yang bisa merubah pola pikir masyarakat yaitu keluarga sejahtera cukup dengan dua anak, dan (b) Penerimaan konsumen atas produk yang relatif rendah. Kondisi ini menyangkut tentang citra, nilai sosial ekonomi, dan mutu gizi pangan sumber karbohidrat non beras yang selama ini dianggap inferior.
    • Memperhatikan uraian di atas maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kajian tentang perilaku konsumsi pangan yang dicerminkan oleh perubahan kuantitas dan keanekaragaman konsumsi pangan di masyarakat akibat faktor sosial ekonomi yang berbeda. Keberhasilan dalam kajian tersebut diharapkan dapat memberikan masukan dan mempercepat pengembangan penganekaragaman di berbagai daerah dengan tetap memperhatikan kekhasan di masing-masing daerah, karena biasanya didaerah memiliki sumber keragaman pangan yang cukup tinggi.
    • Beberapa komoditas penting pendukung system ketahanan pangan banyak berkembang di sini, misal untuk tanaman sumber karbohidrat : padi, jagung, ketela pohon, umbi rambat. Untuk tanaman sumber protein adalah: kedele, kacang tanah, kacang hijau. Ternak dan ikan sumber protein hewani yang banyak berkembang diantaranya adalah: ayam ras dan buras, sapi kambing, ikan: gurami, tawes, nila,mujahir, lele.
    • Saat ini masyarakat diharapkan dapat mengurangi ketergantungannya pada bahan pangan beras dan tepung. Apalagi sebagian besar masyarakat masih berganggapan bahwa belum dikatakan makan jika belum makan nasi. Kita punya banyak sekali sumber karbohidrat pendamping beras. (Saya lebih suka menggunakan istilah pendamping, agar memberikan semangat bahwa bahan pangan lokal ini serasi bila dicampur dengan beras. Kata yang berkonotasi negatif seperti non-beras rasanya membuat orang langsung berpikir bahwa beras adalah lebih positif daripada yang non-beras). Misalnya ubi-ubian (umbi-umbian): ubi jalar, singkong, keladi, dan lain-lainnya, lantas sagu, jangung, sukun, labu kuning. Semuanya adalah sumber karbohidrat yang kaya, dan indeks glikemiknya lebih rendah daripada beras. Artinya bahan pangan lokal pendamping beras ini baik untuk mencegah diabetes.
    • Benar bahwa nasi dari beras lebih enak, lebih kaya nutrisi, dan status sosialnya tinggi. namun bahan pangan lokal pendamping beras bisa diperkaya (difortifikasi) dengan nutrisi dan vitamin. Tantangan sosialisasi bahan pangan ini agaknya lebih pada status sosialnya. Kita perlu melakukan upaya besar agar status sosial bahan pangan lokal pendamping beras ini naik setara beras bila ingin kita tidak hanya tergantung pada beras.
    • Kita harus secara terus meneurus mempromosikan bahan pangan lokal pendamping beras. Karena mau tak mau kita harus mulai mengkonsumsinya sebagai pengganti nasi. Mi dan roti, yang selama ini menjadi bahan pangan kedua dan ketiga bangsa Indonesia, saya kira mengandung dua dosa: Tidak nasionalis karena bahan dasarnya impor yang oleh karena itu tidak memihak pada petani sendiri, dan dua adalah dosa carbon foot-print karena terigu diangkut dengan kapal laut menyeberangi lautan yang jauh yang membutuhkan bahan bakar yang mengotori bumi.
    • Mengkonsumi bahan pangan lokal pendamping beras sebagai pangan utama, misalnya dengan mencampurnya dengan nasi seperti orang bali makan nasi sela (nasi campur ubi jalar), akan berdampak positif bagi peningkatan ekonomi rakyat desa, menurunkan ketergantungan pada padi sehingga tak perlu impor, dan bila hal ini tercapai maka akan memberikan kedaulatan pangan pada negeri tercinta kaya-raya yang tidak sadar akan kekayaannya ini. Bayangkanlah apabila seminggu dua kali keluarga-keluarga di Indonesia mencampur nasinya dengan bahan pangan lokal seperti sagu, jagung, pisang, sukun, labu kuning, ubi-ubian. yang mana bahan-bahan tersebut tak perlu diimpor, namun diperoleh secara lokal (agar carbon foot print-nya rendah). Dan anak-anak mulai mengkonsumsi pangan tersebut sebagai nasi. Alangkah sehat kita semua….
    • Tantangan bagi teknologi pangan, selain membuat bahan pangan tersebut lebih mudah diolah dan dikonsumsi misalnya dalam bentuk granula atau dalam bentuk dried cubes sehingga bisa langsung dimasak bersama beras di dalam rice cooker, ada tantangan besar yang menghadang untuk ide indah ini. Yaitu sosialisasi ke seluruh jajaran agar bahan pangan pangan tersebut meningkat nilai/status sosialnya.
  • IX. KEANEKARAGAMAN PANGAN NON BERAS SEBAGAI PERWUJUDAN KETAHANAN PANGAN
    • Tidak Konsisten. Sejak lama disadari bahwa tingkat konsumsi beras yang masih cukup tinggi akan mengakibatkan lemahnya ketahanan pangan nasional. Padahal, beras sebagai bahan makanan pokok memiliki nilai strategis. Beras menjadi ukuran untuk tingkat pendapatan. Kenaikan harga beras yang tidak terkendali akan mengakibatkan gejolak politik, bahkan bisa mengakibatkan jatuhnya rezim. Karena itu, usaha yang dilakukan bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi beras.
    • Kegagalan masa lalu menunjukkan bahwa meningkatkan produksi beras semata tanpa disertai upaya menekan tingkat konsumsinya tidak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kedua hal itu harus dilakukan dengan sejalan. Jika tidak, ketergantungan beras dari luar tetap dibutuhkan manakala produksi di dalam negeri tidak mencukupi.
    • Untuk menekan tingkat konsumsi beras per kapita tidak cukup hanya dengan kampanye ”One Day No Rice” karena hal itu sudah sering dialami penduduk miskin yang tidak mampu membeli beras. Kunci utamanya terletak pada upaya penganekaragaman bahan makanan pokok sesuai dengan tradisi dan budaya masyarakatnya. Gerakan ini sebenarnya bukan barang baru. Ketika meresmikan peletakan batu pertama Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Presiden Soekarno pada tanggal 27 April 1952 mencanangkan jagung sebagai pengganti beras.
    • Selain jagung, Indonesia memiliki cukup banyak tumbuhan dan umbi-umbian yang menjadi sumber karbohidrat dan dapat dijadikan bahan makanan pokok pengganti beras. (Gandum, Buah Sukun, Umbi Kentang, Umbi Labu, Umbi Singkong, Umbi Ketela Rambat, Uwi dan Umbi Talas bisa sebagai pengganti beras. Tepung garut dapat dijadikan pengganti tepung terigu). Didukung iklim dan kondisi tanahnya yang terkenal subur, ganyong, gembili, hanjeli, sorgum, dan masih banyak lagi tanaman lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan. Dengan teknologi pengolahan dan pengemasan yang modern, maka berbagai jenis makanan yang bersumber dari bahan nonberas dan nonterigu itu tidak bisa lagi disebut ”kampungan”.
    • Sayang, ketersediaan potensi itu terabaikan. Selama ini, kita tidak pernah bersungguh-sungguh melakukan upaya penganekaragaman bahan makanan pokok secara konsisten dan terus-menerus sehingga akibatnya tingkat konsumsi beras per kapita tetap tinggi.
  • X. BAGAIMANA SUPAYA KONSISTEN DAN KETAHANAN PANGAN BISA TERWUJUD?
    • Mengingat tingkat keanekaragaman konsumsi pangan dipengaruhi oleh faktor yang bersifat kompleks, maka diperlukan penanganan secara sinergis antara satu faktor dengan faktor yang lain. Dua faktor kunci yang berpengaruh adalah pendidikan dan pendapatan, disertai ketersediaan pangan yang cukup. Oleh karena itu bila pemerintah ingin melakukan percepatan keanekaragaman konsumsi pangan diperlukan juga upaya-upaya perbaikan ekonomi untuk meningkatkan pendapatan dan pendidikan. Upaya perbaikan pendapatan dapat dilakukan dengan menggalakan aktivitas agribisnis untuk meningkatkan kesempatan kerja dan memberikan peluang tambahan penghasilan
    • Perlu adanya insentif dan stimulan dari pemerintah guna menumbuhkan industri pangan lokal di tingkat rumah tangga untuk meningkatkan keterserdiaan pangan di wilayah tersebut.
    • Perlu program Percepatan Diversifikasi Pangan melalui Gerakan Makan Beragam Bergizi Seimbang dan Aman yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat , baik masyarakat berpengahasilan rendah sampai dengan masyakat berpenghasilan sedang hingga tinggi.
  • XI. BAGAIMANA MEWUJUDKAN DIVERSIFIKASI BAHAN PANGAN DI KOTA KEDIRI ?
    • Pemanfaatan bahan pangan bersumber daya lokal perlu lebih digalakkan guna terciptanya peningkatan konsumsi pangan masyarakat yang beragam, bergizi seimbang dan aman dengan berbasis sumber daya pangan lokal. Sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2009 tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal. “Kegiatan ini dalam rangka mewujudkan penganekaragaman konsumsi pangan sebagai dasar pemantapan ketahanan pangan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelestarian sumber daya alam.
    • Salah satu Makanan Khas Kota kediri adalah Nasi Tumpang Pecel. Dalam rangka mendukung upaya ketahanan pangan dan keanekaraman pangan non beras, maka bagaimana kalau Nasi Beras diubah menjadi Nasi Jagung – Jagung Beras – Thiwul – Thiwul Jagung – Thiwul Beras dan Sayurnya dari Labu Siam (Gondes).
  • Lalu minumnya ?
    • Coba kita cari tahu bahwa  Siswa SMA 2 Kediri pernah menemukan Susu dari ketela (susu sari ketela dan Beras ketela). Apakah hal ini perlu ditindaklanjuti sehingga makanan khas Kota Kediri menjadi bertambah dengan menu “Thiwul Pecel + Susu Ketela atau Rasgung Pecel + Susu ketela “ ?.
    • Disini kami tidak menguraikan sama sekali tentang jenis-jenis makanan yang berbahan baku Non Beras, karena ibu-ibu pada umumnya sudah tahu dan hanya tinggal niat serta mulai Action untuk mewujudkannya. Tentunya dalam rangka mewujudkan itu perlu dikaji tentang kelayakan secara bisnis yang menguntungkan dan dukungan pemerintah Kota Kediri untuk membantu tentang Ketersediaan Bahan Pangan Lokal yang Kontinyu, Murah dan berkualitas. Pemerintah kota bersama masyarakat tinggal mendorong melalui : Sosialisasi – Percontohan dan Gerakan Masyarakat.
  • Terimakasih semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s