Panduan Singkat Budidaya Ternak Domba

  • BUDIDAYA  TERNAK  DOMBA
  • 1. Sejarah Singkat
  • domba
  • Domba yang kita kenal sekarang merupakan hasil dometikasi manusia yang sejarahnya diturunkan dari 3 jenis domba liar, yaitu Mouflon (Ovis musimon) yang berasal dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Argali (Ovis amon) berasal dari Asia Tenggara, Urial (Ovis vignei) yang berasal dari Asia
  • 2. Sentra Peternakan
  • Di Indonesia sentra peternakan domba berada di daerah Aceh dan Sumatra Utara. Di Aceh pada tahun 1993 tercatat sekitar 106 ribu ekor domba, sementara di Sumatera Utara sekitar 95 ribu ekor domba yang diternakan. Lahan yang digunakan untuk berternak di daerah Aceh berdasarkan data Puslit Tanah dan Agroklimat Deptan tahun 1979, seluas 5,5 juta hektar mulai dari kemampuan kelas I sampai VIII, sedangkan di Sumatera Utara luas lahan yang digunakan sekitar 7 juta hektar.
  • 3. Jenis
  • Domba seperti halnya kambing, kerbau dan sapi, tergolong dalam famili Bovidae. Kita mengenal beberapa bangsa domba yang tersebar diseluruh dunia, seperti:
    1. Domba Kampung adalah domba yang berasal dari Indonesia
    2. Domba Priangan berasal dari Indonesia dan banyak terdapat di daerah Jawa Barat
    3. Domba Ekor Gemuk merupakan domba yang berasal dari Indonesia bagian Timur seperti Madura, Sulawesi dan Lombok
    4. Domba Garut adalah domba hasil persilangan segi tiga antara domba kampung, merino dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan
  • Di Indonesia, khususnya di Jawa, ada 2 bangsa domba yang terkenal, yakni domba ekor gemuk yang banyak terdapat di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur dan domba ekor tipis yang banyak terdapat di Jawa Barat. Dengan demikian seringkali dikatakan bahwa Jenis domba asli di Indonesia adalah domba ekor tipis, Domba ekor gemuk (DEG) dan Domba Garut Jawa Barat.
  • 4. Manfaat
  • Daging domba merupakan sumber protein dan lemak hewani. Walaupun belum memasyarakat, susu domba merupakan minuman yang bergizi. Manfaat lain dari berternak domba adalah bulunya dapat digunakan sebagai industri tekstil
  • 5. Persyaratan Lokasi
  • Lokasi untuk peternakan domba sebaiknya berada di areal yang cukup luas, udaranya segar dan keadaan sekelilingnya tenang, dekat dengan sumber pakan ternak, memiliki sumber air, jauh dari daerah pemukiman dan sumber air penduduk (minimal 10 meter), relatif dekat dari pusat pemasaran dan pakan ternak
  • 6. Teknis Budidaya
  • Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik. Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.
  • 6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
  • 6.1.1. Perkandangan
    • Kandang harus kuat sehingga dapat dipakai dalam waktu yang lama, ukuran sesuai dengan jumlah ternak, bersih, memperoleh sinar matahari pagi, ventilasi kandang harus cukup dan terletak lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya agar tidak kebanjiran. Atap kandang diusahakan dari bahan yang ringan dan memiliki daya serap panas yang relatif kecil, misalnya dari atap rumbia.
    • Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1,5 m2 untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m2, sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m2 / ekor. Tinggi penyekat 1,5 – 2 X tinggi ternak
    • Kandang dibagi menjadi beberapa bagian sesuai fungsinya, yaitu:
      1. Kandang induk/utama, tempat domba digemukkan. Satu ekor domba membutuhkan luas kandang 1 x 1 m.
      2. Kandang induk dan anaknya, tempat induk yang sedang menyusui anaknya selama 3 (tiga) bulan. Seekor induk domba memerlukan luas 1,5 x 1 m & anak domba memerlukan luas 0,75 x 1 m
      3. Kandang pejantan, tempat domba jantan yang akan digunakan sebagai pemacak seluas 2 x 1,5 m/pemancak
    • Di dalam kandang domba sebaiknya terdapat tempat makan, palung makanan dan minuman, gudang makanan, tempat umbaran (tempat domba saat kandang dibersihkan) dan tempat kotoran/kompos.
    • Tipe dan model kandang pada hakikatnya dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe, yaitu:
    • 1). Tipe Kandang Panggung
      • Tipe kandang ini memiliki kolong yang bermanfaat sebagai penampung kotoran. Kolong digali dan dibuat lebih rendah daripada permukaan tanah sehingga kotoran dan air kencingnya tidak berceceran. Alas kandang terbuat dari kayu/bambu yang telah diawetkan, Tinggi panggung dari tanah dibuat minimal 50 cm/2 m untuk peternakan besar. Palung makanan harus dibuat rapat, agar bahan makanan yang diberikan tidak tercecer keluar
    • 2). Tipe Kandang Lemprak
      • Kandang tipe ini pada umumnya digunakan untuk usaha ternak domba kereman. Kandang lemprak tidak dilengkapi dengan alas kayu, tetapi ternak beralasan kotoran dan sisa-sisa hijauan pakan. Kandang tidak dilengkapi dengan palung makanan, tetapi keranjang rumput yang diletakkan diatas alas. Pemberian pakan sengaja berlebihan, agar dapat hasil kotoran yang banyak. Kotoran akan dibongkar setelah sekitar 1-6 bulan
  • 6.2. Penyiapan Bibit
    • Domba yang unggul adalah domba yang sehat dan tidak terserang oleh hama penyakit, berasal dari bangsa domba yang persentase kelahiran dan kesuburan tinggi, serta kecepatan tumbuh dan persentase karkas yang baik.
    • Dengan demikian keberhasilan usaha ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk/pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik
    • A. Pemilihan Bibit Calon Induk
      1. Calon Induk: berumur 1,5-2 tahun (lebih dari 12 bulan/ memiliki 2 buah gigi seri tetap) dengan tubuh baik, tidak cacat, bentuk perut normal, putting 2 buah dan BB > 20 Kg, telinga kecil hingga sedang, bulu halus, roman muka baik memiliki nafsu kawin besar, keturunan dari ternak yang beranak kembar dan ekor normal
      2. Calon Pejantan: berumur 1,5-2 tahun (memiliki 2 gigi seri tetap), sehat dan tidak cacat, badan normal dan keturunan dari induk yang melahirkan anak 2 ekor/lebih, tonjolan tulang pada kaki besar dan mempunyai buah zakar yang sama besar (scrotum simetris dan relative besar) serta kelaminnya dapat bereaksi, mempunyai gerakan yang lincah, roman muka baik dan tingkat pertumbuhan relatif cepat serta konfirmasi tubuh seimbang
    • B. Reproduksi dan Perkawinan
      • Hal yang harus di ketahui oleh para peternak dalam pengelolaan reproduksi adalah pengaturan perkawinan yang terencana dan tepat waktu
        1. Dewasa Kelamin, yaitu saat ternak domba memasuki masa birahi yang pertama kali dan siap melaksanakan proses reproduksi. Fase ini dicapai pada saat domba berumur 6-8 bulan, baik pada yang jantan maupun yang betina.
        2. Dewasa tubuh, yaitu masa domba jantan dan betina siap untuk dikawinkan. Masa ini dicapai pada umur 10-12 bulan pada betina dan 12 bulan pada jantan. Perkawinan akan berhasil apabila domba betina dalam keadaan birahi
    • C. Proses Kelahiran
      • Lama kebuntingan bagi domba adalah 150 hari (5 bulan). Menjelang kelahiran anak domba, kandang harus bersih dan diberi alas yang kering. Bahan untuk alas kandang dapat berupa karung goni/jerami kering. Obat yang perlu dipersiapkan adalah jodium untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar
      • Induk domba yang akan melahirkan dapat diketahui melalui perubahan fisik dan perilakunya sebagai berikut:
        1. Keadaan perut menurun dan pinggul mengendur.
        2. Buah susu membesar dan puting susu terisi penuh.
        3. Alat kelamin membengkak, berwarna kemerah-merahan dan lembab.
        4. Ternak selalu gelisah dan nafsu makan berkurang.
        5. Sering kencing.
      • Proses kelahiran berlangsung 15-30 menit, jika 45 menit setelah ketuban pecah, anak domba belum lahir, kelahiran perlu dibantu. Anak domba yang baru lahir dibersihkan dengan menggunakan lap kering agar dapat bernafas.
      • Biasanya induk domba akan menjilati anaknya hingga kering dan bersih.
  • 6.3. Pemeliharaan
  • 6.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    • Sanitasi lingkungan dapat dilakukan dengan membersihkan kandang dan peralatan dari sarang serangga dan hama. kandang terutama tempat pakan dan tempat minum dicuci dan dikeringkan setiap hari. Perlu dilakukan pembersihan rumput liar di sekitar kandang. Kandang ternak dibersihkan seminggu sekali.
  • 6.3.2. Pengontrolan Penyakit
    • Domba yang terserang penyakit dapat segera diobati dan dipisahkan dari yang sehat. Lakukan pencegahan dengan menyuntikan vaksinasi pada domba-domba yang sehat
  • 6.3.3. Perawatan Ternak
    • Induk bunting diberi makanan yang baik dan teratur, ruang gerak yang lapang dan dipisahkan dari domba lainnya. induk yang baru melahirkan diberi minum dan makanan hijauan yang telah dicampurkan dengan makanan penguat lainnya. Selain itu, induk domba harus dimandikan. Anak domba (Cempe) yang baru dilahirkan, dibersihkan dan diberi makanan yang terseleksi. Cempe yang disapih perlu diperhatikan. pakan yang berkualitas dalam bentuk bubur tidak lebih dari 0,20 kg satu kali sehari.
    • (1) Perawatan ternak dewasa meliputi:
      1. Memandikan ternak.
        • Memandikan ternak secara rutin minimal seminggu sekali. dengan cara disikat dan disabuni. pada pagi hari, kemudian dijemur dibawah sinar matahari pagi.
      2. Mencukur Bulu.
        • Pencukuran bulu domba dengan gunting biasa/cukur ini. dilakukan minimal 6 bulan sekali dan disisakan guntingan bulu setebal kira-kira 0,5 cm. Sebelumnya domba dimandikan sehingga bulu yang dihasilkan dapat dijadikan bahan tekstil. Keempat kaki domba diikat agar tidak lari pada saat dicukur. Pencukuran dimulai dari bagian perut kedepan dan searah dengan punggung domba.
        • Materi : Gunting dan Ternak domba
        •  Metode : Cara Mencukur Bulu domba:
          1. Sebelum dicukur domba dimandikan agar tidak terlalu gembel dan memudahkan pencukuran.
          2. Pencukuran dimulai dari bagian perut, mengarah ke depan sejajar dengan punggung ternak
          3. Pengguntingan bulu jangan sampai mengenai dan melukai kulit.
          4. Sisakan guntingan bulu setinggi 0,5 cm.
          5. Domba yang sudah di cukur tampak bersih.
      3. Merawat dan Memotong Kuku .
        • Pemotongan kuku domba dipotong 4 bulan sekali dengan golok, pahat kayu, pisau rantan, pisau kuku atau gunting
        • Materi : Pisau, Gunting dan Ternak domba
        • Metode  : Cara memotong kuku domba:
          1. Domba direbahkan dengan cara dipegang oleh dua orang agar domba diam saat kuku dipotong,
          2. Sebelum kuku domba dipotong, kaki dicelupkan terlebih dahulu ke air agar kuku tidak terlalu keras (lunak) saat dipotong.
          3. Keluarkan kotoran kuku.
          4. Gunting seluruh kuku yang panjang hingga rata.
          5. Potong tonjolan kuku di bawah tumit.
          6. Buang serpihan diantar kedua jari.
          7. Ratakan jaringan dibawah tumit.
      4. Pemberian Identikasi Pada Domba
        • Identifikasi ternak adalah pemberian tanda pada ternak agar peternak mengetahui dengan mudah ternak-ternak yag dimilikinya, sehingga memudahkan dalam pengontrolan. Setelah ternak diberikan identifikasi ternak dicatat dalam kartu catatan.
        • Pemberian tanda pengenal pada ternak dapat berupa tattoo (pemberian tato pada telinga), Ewe and Ram tag (anting pada domba dewasa), Lamb tag (anting pada domba muda), Ear Notching (penyobekan telinga), dan Horn Branding(penomoran pada tanduk).
        • Alat dan Bahan :
          1. Pembuat tato dan tinta tato
          2. Pemasang lamb tag dan lamb tag
          3. Alkohol
          4. Kapas Steril
          5. Yodium Tingtura
        • Pelaksanaan :
          1. Domba dihandel dengan cara diikatkan, atau dipegangi oleh beberapa orang.
          2. Sebelum diberi tanda, domba terlebih dahulu dibersihkan telinganya dengan alkohol agar bebas dari kotoran dan kuman untuk mencegah terjadinya infeksi setelah penomoran.
  • 6.4. Pemberian Pakan
  • Ternak domba menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat). Pakan tambahan dapat disusun (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin. Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb
  • Zat gizi makanan yang diperlukan oleh ternak domba dan mutlak harus tersedia dalam jumlah yang cukup adalah karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan air.
  • Bahan pakan untuk domba pada umumnya digolongkan dalam 4 golongan sbb:
    1. Golongan Rumput-rumputan, seperti rumput gajah, benggala, brachiaria, raja, meksiko dan rumput alam.
    2. Golongan Kacang-kacangan, seperti daun lamtoro, turi, gamal daun kacang tanah, daun kacang-kacangan, albisia, kaliandra, gliricidia dan siratro
    3. Hasil Limbah Pertanian, seperti daun nangka, daun waru, daun dadap, daun kembang sepatu, daun pisang, daun jagung, daun ketela pohon, daun ketela rambat dan daun beringin
    4. Golongan Makanan Penguat (Konsentrat), seperti dedak, jagung karing, garam dapur, bungkil kelapa, tepung ikan, bungkil kedelai, ampas tahu, ampas kecap dan biji kapas
  • Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 – 15 % berat badan (dasar bahan segar).
  • Pemberian Pakan untuk Induk, Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.
  • Pakan untuk domba berupa campuran dari keempat golongan di atas yang disesuaikan dengan tingkatan umur.
  • Adapun proporsi dari campuran tersebut adalah:
    1. Ternak dewasa: rumput 75%, daun 25%
    2. Induk bunting: rumput 60%, daun 40%, konsentrat 2-3 gelas
    3. Induk menyusui: rumput 50%, daun 50% dan konsentrat2-3 gelas
    4. Anak sebelum disapih: rumput 50%, daun 50%
    5. Anak lepas sapih: rumput 60%, daun 40% dan konsentrat 0,5–1 gelas
  • Sedangkan dosis pemberian ransum untuk pertumbuhan domba adalah sbb:
    1. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=180 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    2. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=340 kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    3. Bobot badan 1,4 kg: rumput/hijauan=410 kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    4. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=110 kg/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    5. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=280kg/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    6. Bobot badan 2,9 kg: rumput/hijauan=440kg/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    7. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=160 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    8. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=320 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    9. Bobot badan 4,3 kg: konsentrat=470 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    10. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=100 gr/hari, pertambahan bobot=50 gram/hari
    11. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    12. Bobot badan 5,8 kg: konsentrat=410 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    13. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=60 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    14. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=180 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    15. Bobot badan 7,2 kg: konsentrat=340 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    16. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=50 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    17. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=110 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    18. Bobot badan 8,7 kg: konsentrat=260 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
    19. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=40 gr/hari, pertambahan bobot=50 gr/hari
    20. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=280 gr/hari, pertambahan bobot=100 gr/hari
    21. Bobot badan 10,1 kg: konsentrat=440 gr/hari, pertambahan bobot=150 gr/hari
  • 6.5. Pemberian Vaksinasi dan Obat
    • Pencegahan penyakit : sebelum dikandangkan, domba harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan
    • Pemberian vaksinasi dapat dilakukan setiap enam bulan sekali vaksinasi dapat dilakukan dengan menyuntikan obat kedalam tubuh domba. Vaksinasi mulai dilakukan pada anak domba (cempe) bila telah berusia 1 bulan, selanjutnya diulangi pada usia 2-3 bulan. Vaksinasi yang biasa diberikan adalah jenis vaksin Spora (Max Sterne), Serum anti anthrax, vaksin AE, dan Vaksin SE (Septichaemia Epizootica).
  • 6.6. Pemeliharaan Kandang
    • Pemeliharaan kandang meliputi pembersihan kotoran domba menimal satu minggu sekali, membuang kotoran ke tempat penampungan limbah, membersihkan lantai atau alas, penyemprotan dan pengapuran kandang untuk disinfektan
  • 6.7. Hama dan Penyakit
    1. Penyakit Mencret
      1. Penyebab: bakteri Escherichia coli yang menyerang anak domba umur 3 bulan.
      2. Pengobatan: antibiotika dan sulfa yang diberikan lewat mulut
    2. Penyakit Radang Pusar
      1. Penyebab: alat pemotongan pusar yang tidak steril atau tali pusar tercemar oleh bakteri Streptococcus, Staphyloccus, Escherichia coli dan Actinomyces necrophorus. Usia domba yang terserang biasanya cempe usia 2-7 hari.
      2. Gejala : terjadi pembengkakan di sekitar pusar dan apabila disentuh domba akan kesakitan.
      3. Pengobatan: dengan antibiotika, sulfa dan pusar dikompres dengan larutan rivanol (Desinfektan)
    3. Penyakit Cacar Mulut
      1. Penyakit ini menyerang domba usia sampai 3 bulan
      2. Gejala : cempe yang terserang tidak dapat mengisap susu induknya karena tenggorokannya terasa sakit sehingga dapat mengakibatkan kematian.
      3. Pengendalian : dengan sulfa seperti Sulfapyridine, Sulfamerozine, atau penicillin
    4. Penyakit Titani
      1. Penyebab: kekurangan Defisiensi Kalsium (Ca) dan Mangan (Mn). Domba yang diserang biasanya berusia 3-4 bulan.
      2. Gejala : domba selalu gelisah, timbul kejang pada beberapa ototnya bahkan sampai keseluruh badan Penyakit ini dapat diobati dengan menyuntikan larutan Genconos calcicus dan Magnesium
    5. Penyakit Radang Limoah
      1. Penyakit ini menyerang domba pada semua usia, sangat berbahaya, penularannya cepat dan dapat menular ke manusia
      2. Penyebab: bakteri Bacillus anthracis.
      3. Gejala : suhu tubuh meninggi, dari lubang hidung dan dubur keluar cairan yang bercampur dengan darah, nadi berjalan cepat, tubuh gemetar dan nafsu makan hilang.
      4. Pengendalian : dengan menyuntikan antibiotika Pracain penncillin G, dengan dosis 6.000-10.000 untuk /kg berat tubuh domba tertular
    6. Penyakit Mulut dan Kuku
      1. Penyakit menular ini dapat menyebabkan kematian pada ternak domba, dan yang diserang adalah pada bagian mulut dan kuku.
      2. Penyebab: virus dan menyerang semua usia pada domba
      3. Gejala : mulut melepuh diselaputi lendir.
      4. Pengendalian : membersihkan bagian yang melepuh pada mulut dengan menggunakan larutan Aluminium Sulfat 5%, sedangkan pada kuku dilakukan dengan merendam kuku dalam larutan formalin atau Natrium karbonat 4%.
    7. Penyakit Ngorok
      1. Penyebab: bakteri Pasteurella multocida.
      2. Gejala : nafsu makan domba berkurang, dapat menimbulkan bengkak pada bagian leher dan dada. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini, domba yang terserang terlihat lidahnya bengkak dan menjulur keluar, mulut menganga, keluar lendir berbuih dan sulit tidur.
      3. Pengendalian : menggunakan antibiotika lewat air minum atau suntikan
    8. Penyakit Perut Kembung
      1. Penyebab: pemberian makanan yang tidak teratur atau makan rumput yang masih diselimuti embun.
      2. Gejala :lambung domba membesar dan dapat menyebabkan kematian. Untuk itu diusahakan pemberian makan yang teratur jadwal dan jumlahnya jangan digembalakan terlalu pagi
      3. Pengendalian : memberikan gula yang diseduh dengan asam, selanjutnya kaki domba bagian depan diangkat keatas sampai gas keluar
    9. Penyakit Parasit Cacing
      1. Semua usia domba dapat terserang penyakit ini.
      2. Penyebab:cacing Fasciola gigantica (Cacing hati), cacing Neoascaris vitulorum (Cacing gelang), cacing Haemonchus contortus (Cacing lambung), cacing Thelazia rhodesii (Cacing mata).
      3. Pengendalian: diberikan Zanil atau Valbazen yang diberikan lewat minuman, dapat juga diberi obat cacing seperti Piperazin dengan dosis 220 mg/kg berat tubuh domba.
    10. Penyakit Kudis
      1. Merupakan penyakit menular yang menyerang kulit domba pada semua usia. Akibat dari penyakit ini produksi domba merosot, kulit menjadi jelek dan mengurangi nilai jual ternak domba.
      2. Penyebab: parasit berupa kutu yang bernama Psoroptes ovis, Psoroptes ciniculi dan Chorioptes bovis.
      3. Gejala : tubuh domba lemah, kurus, nafsu makan menurun dan senang menggaruk tubuhnya. Kudis dapat menyerang muka, telinga, perut punggung, kaki dan pangkal ekor.
      4. Pengendalian : dengan mengoleskan Benzoas bensilikus 10% pada luka, menyemprot domba dengan Coumaphos 0,05-0,1%.
    11. Penyakit Dermatitis
      1. Adalah penyakit kulit menular pada ternak domba, menyerang kulit bibit domba.
      2. Penyebab: virus dari sub-group Pox virus dan menyerang semua usia domba.
      3. Gejala : terjadi peradangan kulit di sekitar mulut, kelopak mata, dan alat genital.
      4. Pada induk yang menyusui terlihat radang kelenjar susu.
      5. Pengendalian : menggunakan salep atau Jodium tinctur pada luka
    12. Penyakit Kelenjar Susu
      1. Penyakit ini sering terjadi pada domba dewasa yang menyusui, sehingga air susu yang diisap cempe tercemar.
      2. Penyebab: ambing domba induk yang menyusui tidak secara ruti dibersihkan.
      3. Gejala : ambing domba bengkak, bila diraba tersa panas, terjadi demam dan suhu tubuh tinggi, nafsu makan kurang, produsi air susu induk berkurang.
      4. Pengendalian : pemberian obatobatan antibiotika melalui air minum.
  • Secara umum pengendalian dan pencegahan penyakit yang terjadi pada domba dapat dilakukan dengan:
    1. Menjaga kebersihan kandang, dan mengganti alas kandang
    2. Mengontrol anak domba (cempe) sesering mungkin
    3. Memberikan nutrisi dan makanan penguat yang mengandung mineral, kalsium dan mangannya.
    4. Memberikan makanan sesuai jadwal dan jumlahnya, Hijauan pakan yang baru dipotong sebaiknya dilayukan lebih dahulu sebelum diberikan
    5. Menghindari pemberian makanan kasar atau hijauan pakan yang terkontaminasi siput dan sebelum dibrikan sebainya dicuci dulu
    6. Sanitasi yang baik, sering memandikan domba dan mencukur bulu
    7. Tatalaksana kandang diatur dengan baik
    8. Melakukan vaksinasi dan pengobatan pada domba yang sakit
  • 7. P A N E N
    • Hasil Utama  Hasil utama dari budidaya domba adalah karkas (daging)
    • Hasil Tambahan. Hasil tambahan dari budidaya domba adalah bulunya (wool) yang dapat di jadikan sebagai bahan tekstil
    • Pembersihan
      • Sebelum dipotong ternak dibersihkan dengan cara mencuci kaki domba dan menyemprotkan air diatas kepala ternak agar karkas yang dihasilkan tidak tercemar oleh bakteri dan kotoran
  • 8. PASCA PANEN
  • 8.1. Stoving
  • Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan domba agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
    1. Ternak domba harus diistirahatkan sebelum pemotongan
    2. Ternak domba harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging
    3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas
    4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin
  • 8.2. Pengulitan
  • Pengulitan pada domba yang telah disembelih dapat dilakukan dengan mengguna-kan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit domba dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit domba dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat
  • 8.3. Pengeluaran Jeroan
  • Setelah domba dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut domba
  • 8.4. Pemotongan Karkas
  • Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan penge-luaran jeroan
  • 9. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
  • domba-1
  • 10. DAFTAR PUSTAKA
    1. Bambang Agus Murtidjo. 1993. Memelihara Domba, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
    2. Bambang Cahyono. 1998. Beternak Domba dan Kambing, Penerbit Kanisius, Yogyakarta
    3. Bambang Sugeng. 1990. Beternak Domba. Penebar Swadaya, Jakarta
    4. Joko Santoso dkk. 1991. Pengembangan Ternak Potong di Pedesaan (Prosiding), Fakultas Peternakan UNSOED. Purwokerto
    5. Warta pertanian No. 125/Th.X/1993, Peternakan, Jakarta, 1993
  • KONTAK HUBUNGAN
    • Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829
    • Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952,                         Situs Web: http://www.ristek.go.id/
    • Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas
Dipublikasi di Tani-Ternak | Meninggalkan komentar

Rukun Kematian

  • tesis-17 bruMengingat perkembangan kehidupan masyarakat khususnya di perkotaan, maka dipandang perlu dibentuk Rukun Kematian. Harapan adanya Rukun Kematian adalah membantu meringankan beban bagi Keluarga Duka sehingga proses Pengurusan Jenazah dan Pemakaman serta Administrasi yang dibutuhkan dapat berjalan dengan lancar. Dasar dari Rukun Kematian adalah “FARDLU KIFAYAH
  • Berikut ini Konsep Organisasi Rukun Kematian beserta AD-ART nya.
  • Diagram Rukem
  • TUPOKSI (TUGAS POKOK & FUNGSI)
  • Ketua
    1. Menjalankan fungsi organisasi Rukun Kematian
    2. Melakukan koordinasi dengan Pelindung dan Pembina Rukun Kematian
    3. Membuat dan menetapkan kebijakan aturan teknis dan keuangan berdarkan AD-ART Rukun Kematian.
    4. Memastikan adanya kelangsungan organisasi Rukun Kematian
    5. Bersama-sama Seksi, Memastikan adanya pemenuhan pelayanan berdasarkan Hak Warga
    6. Bersama-sama Seksi, melakukan sosialisasi keberadaan Rukun Kematian berdasarkan Hak dan kewajiban Warga
    7. Bersama-sama Bendahara membuat Rekening Keuangan Organisasi Rukun Kematian.
    8. Mempertanggungjawabkan keuangan organisasi yang transparan, kredibel dan akuntabel.
  • Sekretaris
    1. Melaksanakan fungsi kesekretariatan
    2. Membuat dan menerima serta mengarsipkan surat keluar-masuk
    3. Membuat lembaran pemberitahuan tentang Rukun Kematian
  • Bendahara
    1. Menjalankan fungsi administrasi bidang Keuangan Organisasi
    2. Menerima dan mengeluarkan uang untuk keperluan pelayanan hak warga (Catatan : Setiap pengeluaran uang harus sepengetahuan Ketua)
    3. Membuat Laporan Keuangan setiap Tahun dan Setiap akhir kepengurusan Rukun Kematian.
  • Seksi HUMAS
    1. Melakukan sosialisasi keberadaan Rukun Kematian
    2. Melakukan sosialisasi pendaftaran, hak dan kewajiban anggota
    3. Menginformasikan tentang hal baru dan pemberitahuan adanya kematian kepada warga sekitar
    4. Melaporkan kejadian kematian kepada Pihak Kelurahan / Seksi Kesos
  • Seksi Penggalangan Dana
    1. Bersama-sama seksi HUMAS melakukan sosialisasi Hak dan Kewajiban Keuangan kepada Warga
    2. Mengkoordinir penarikan iuran kematian setiap bulan bagi warga per RT kemudian disetorkan kepada Koordinator Seksi Penggalangan Dana dan atau kepada Bendahara.
    3. Menggalang/mencari Donatur atau Sumbangan berupa Barang/Uang dari anggota atau pihak lain yang tidak mengikat.
  • Seksi Sarana & Prasarana
    1. Melakukan inventarisasi setiap tahun tentang Sarana & Prasarana yang dimiliki oleh Organisasi Rukun Kematian
    2. Menerima sumbangan barang baik dari anggota maupun dari pihak lain yang tidak mengikat.
    3. Melakukan perbaikan, pembelian, pengadaan dan pembuatan sarana & prasarana yang dibutuhkan bagi kepuasan pelayanan pemakaman jenazah berdasarkan perintah dari Ketua atas usul warga/anggota
    4. Memastikan tentang keberadaan sarana-prasarana yang mampu memberikan kelancaran proses pemakaman jenazah.
    5. Memberikan ijin atau menolak tentang peminjaman sarana-prasarana bagi kelompok warga di luar warga/anggota Rukun Kematian.
    6. Membuat Laporan tahunan terutama tentang Kondisi Sarana & Prasarana yang dimiliki oleh Organisasi Rukun Kematian
    7. Menggalang/mencari Donatur atau Sumbangan berupa Barang dari anggota atau pihak lain yang tidak mengikat.
  • Seksi Pengurusan Jenazah
    1. Melakukan koordinasi dengan pihak keluarga duka tentang : pemberitahuan modin/pendeta, memandikan jenazah, sholat jenazah dan waktu pemakaman.
    2. Melakukan koordinasi dengan pihak keluarga duka tentang : sarana-prasarana proses pemakaman jenazah di rumah duka seperti : Tong air, Bendera, Kain penutup memandikan jenazah, keranda, kain kapan, Terop, Kursi dll
    3. Melakukan koordinasi dengan Seksi Bedah Bumi tentang Lokasi dan Kesiapan Liang Kubur.
    4. Melaksanakan Upacara pemberangkatan pemakaman jenazah
    5. Membantu pihak keluarga dalam mengurus Akta Kematian dan Bantuan Sosial Kematian (Jika diperlukan)
  • Seksi Bedah Bumi
    1. Melakukan pekerjaan penentuan lokasi dan gali kubur serta menguruk kembali setelah proses pemakaman.
    2. Bersama-sama juru kunci menetapkan biaya dan fasilitasnya untuk bedah bumi
  • alternatif dana-1alternatif dana-2
  • Dasi-1
  • PENDAHULUAN
  • Rukun Kematian ……………………. adalah merupakan organisasi Perkumpulan warga RW.06, 07,08 dan 09, dalam hal Pengurusan Jenazah umat  di lingkungan RW.06, 07,08 dan 09 Kelurahan Kaliombo, yang namanya telah tercatat dalam daftar keanggotaan Rukem ………………………..,  yang berkedudukan  dilingkungan RW.06, 07,08 dan 09 Kelurahan Kaliombo Kota Kediri.

ANGGARAN DASAR

  • BAB I
  • Nama, Waktu dan  Tempat Kedudukan
  • Pasal 1
  1. Organisasi ini Bernama “RUKUN KEMATIAN …………………………………….”,selanjutnya dalam  Anggaran  Dasar  ini disebut  RUKEM ………………………………………
  2. Rukem ……………………………………. didirikan pada tahun 2016
  3. Rukem …………………………… berkedudukan diwilayah Rukun Warga 06, 07, 08 dan 09, Kelurahan Kaliombo Kota Kediri.
  • BAB II
  • Landasan, Azas dan Prinsip
  • Pasal 2
  1. Rukem …………………………………. Berlandaskan Pancasila dan UUD 1945
  2. Rukem …………………………………. Berazaskan Kerukunan dan Kebersamaan.
  3. Rukem …………………………………. melaksanakan Prinsip-Prinsip sebagai berikut :
    1. Kerukunan sesama anggota dengan saling bertakziyah bilamana terjadi kematian baik anggota maupun bukan anggota
    2. Kewajiban dan hak dilaksanakan secara individu dan berjamaah.
    3. Pelaksanaan pengurusan dan teknis operasional mengedepankan koordinasi.
    4. Fardu Kifayah, kewajiban warga terhadap warga yang meninggal Dunia.
    5. Fardu Kifayah, kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya yang meninggal Dunia (memandikan, mengkafani, mesholatkan  dan menguburkan)
  • BAB III
  • Fungsi,Tujuan dan Usaha
  • Pasal 3
  1. Rukem …………………………………. berfungsi untuk mengurus  jenazah secara teroganisir dan amanah berpedoman kepada syariat Islam (Al-Qur’an dan As-Sunah) bagi yang meninggal Beragama Islam dan bagi yang beragama selain Islam menyesuaikan agama dan keyakinannya.
  2. Rukem …………………………………. bertujuan membentuk kebersamaan dalam pengurusan jenazah sesama manusia  dalam satu wadah
  3. Untuk mencapai tujuan, maka Rukem ………………………………….  menyelenggarakan usaha sebagai berikut :
    1. Menyelenggarakan pemutakhiran data anggota minimal setahun sekali.
    2. Mengadministrasikan segala sumberdaya terkait dengan Rukem ………………………
    3. Memberikan Pelayanan /Pemakaman jenazah  kepada anggota yang berhak
    4. Menyelenggarakan pelatihan pengurusan jenazah kepada anggota.
    5. Menyelenggarakan Pertemuan dalam rangka mempererat Kerukunan dan Kebersamaan.
    6. Menghimpun dana dari anggota berupa : Uang Pangka dan Iuran wajib anggota yang telah ditetapkan.
    7. Mendata warga diwilayah RW 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo.
  • Pasal 4
  • Kepengurusan
  • Bab IV
  1. Yang dapat dipilih menjadi pengurus Rukem ………………………………….  adalah
  2. Pengurus Rukem ………………………………….  dipilih  melalui Rapat Anggota
  3. Warga Tetap      Rw 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo,  dan  Warga yang   ber-domisili   tetap di   RW. 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo, yang memiliki keahlian khusus (sebagai Pelaksana)
    1. Memiliki kepedulian dan berjiwa sosial
    2. Terdaftar menjadi anggota Rukem ………………………………….
    3. Pengurus  dipilih   untuk   masa   jabatan   3   (tiga) tahun   dan   dapat   dipilih kembali   dalam periode berikutnya kecuali Ketua dapat   dipilih   kembali   dalam satu periode berikutnya.
  4. Apabila  seorang   pengurus   berhenti   sebelum   masa   jabatannya   berakhir,   maka rapat pengurus dapat   mangangkat pejabat sementara dan kemudian harus ditetapkan pengangkatannya dalam  pertemuan/rapat
  5. Pejabat sementara diangkat dari anggota Rukem ………………………………….
  6. Apabila Pengurus Rukem ………………………………….  berakhir, maka pengurus diharuskan menyampaikan Laporan Pertanggung Jawaban  selama masa jabatannya kepada anggota.

Pasal.5

  1. Kedudukan Ketua RT didalam Kepengurusan Rukem ……………………………….., adalah sebagai :
  2. Pengurus Rukem ………………………………….   terdiri dari sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang yaitu : Ketua, Sekretaris dan Bendahara, ditambah seksi-seksi.
    1. Pembina dan Penanggung Jawab/Kordinator anggota di lingkungan
    2. Menginformasikan ke pengurus Rukem ……………………………….., jika ada perubahan data anggota
  • Bab.V
  • Pembina
  • Pasal 6
  1. Pembina Rukem ……………………………….., terdiri dari Ketua RW dan RT dilingkungan kedudukan Rukem ………………………………..,
  2. Bila dipandang perlu maka Rukem ……………………………….., dapat mengangkat Penasehat sekurang-kurangnya 2 (dua) orang yang berpengalaman dalam organisasi Rukem ……………………………….. .
  3. Penasehat Rukem ……………………………….., diputuskan oleh Rapat anggota.
  4. Pembina dan Penasehat Rukem ……………………………….., memberikan arahan, saran dan kegiatan Rukem ………………………………..,  secara berkala.
  • Keanggotaan
  • Pasal  7
  • Keanggotan terdiri dari :
    1. Anggota Tetap : Adalah  warga  yang berdomisili tetap di wilayah RW. 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo yang  memiliki KTP dan atau tercantum  dalam Kartu Keluarga (KK)
    2. Anggota Tidak Tetap terdiri dari :
      1. Orang tua, Anak angkat, Famili / sanak saudara dari keluarga anggota.
      2. Anak yang telah menikah dan tetap berdomisili dilingkungan RW. 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo
      3. Warga yang berdomisili dilingkungan RW. 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo dengan status kontrak/sewa
  • Bab VII
  • Hak dan Kewajiban
  • Pasal 8
  1. Setiap anggota mempunyai hak :
    1. Mendapat 1 (satu) paket pengurusan jenazah sampai dengan pemakaman diwilayah 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo.
    2. Menyatakan pendapat dan memberikan suara dalam rapat Rukem …………………….,  dan atau diwakili oleh Ketua RT setempat dan atau perwakilan yang ditunjuk.
    3. Memilih dan atau dipilih menjadi pengurus Rukem …………………………………
    4. Mengemukakan pendapat dan saran kepada pengurus Rukem ………………………… didalam/luar rapat baik diminta maupun tidak, secara lisan/tertulis.
    5. Mendapat pelayanan yang sama antara sesama anggota.
    6. Meminta keterangan/informasi mengenai perkembangan Rukem ……………………, termasuk perkembangan Keuangan.
  2. Setiap anggota mempunyai kewajiban :
    1. Mematuhi Anggaran Dasar,Anggaran Rumah Tangga Rukem ……………………………..
    2. Membayar uang pangkal dan atau membayar uang iuran wajib setiap bulannya sebesar nominal yang telah ditetapkan.
    3. Melaporkan perubahan data kepada pengurus Rukem ………………………………… melalui ketua RT setempat.
    4. Menghadiri rapat anggota dalam hal ini diwakili oleh pengurus RT setempat dan atau  perwakilan yang ditunjuk.
  • Bab VIII
  • Jangka Waktu Keanggotaan
  • Pasal 9
  1. Status anggota dinyatakan berakhir/gugur  apabila :
    1. Mengundurkan diri baik secara tertulis maupun secara lisan
    2. Pindah tempat tinggal dari lingkungan RW 06, 07, 08 dan 09 Kelurahan Kaliombo, baik secara resmi maupun tidak resmi
    3. Meninggalkan rumah / tempat tinggal  selama 3 (tiga) bulan berturut-turut.
    4. Anak yang telah menikah dan tidak mendaftarkan diri menjadi Anggota
    5. Anggota yang tidak memenuhi kewajiban membayar iuran selama 6 (enam) bulan berturut -turut.
  • Bab IX
  • Ketetapan Pelayanan
  • Pasal 10
  1. Anggota yang mendapatkan pelayanan 1 (satu) paket Pengurusan Jenazah, adalah yang tercatat dalam  “Ketetapan Daftar Anggota “Rukem ……………………………..  yaitu :
    1. Anggota Tetap
    2. Anggota Tidak Tetap
  2. Pelayanan tidak diberikan apabila :
    1. Peserta/Anggota telah berakhir/gugur keanggotaannya sesuai Bab. VIII pasal 9
    2. Ditempat  tinggal   anggota   ada   saudara/family/orang  tua   yang   meninggal dunia namun  tidak tercatat dalam  “Ketetapan Daftar Anggotaan Rukem …………..
    3. Anggota  tidak   tetap   (orang   tua,family   &   warga   pengontrak)   yang meninggal dunia ketika berkunjung ke luar daerah  selama lebih dari 3 (tiga) bulan.
    4. Anggota yang meninggal dan dimakamkan di luar daerah /kampung halaman
    5. Anggota yang melahirkan anak dalam kondisi wafat dalam kandungan.
  • Bab X
  • Rapat Anggota
  • Pasal 11
  1. Rapat Anggota merupakan pemegang kedaulatan tertinggi dalam Rukem
  2. Rapat Anggota diwakili oleh pengurus RT dan RW masing-masing, dalam hal ini bertindak sebagai Koordinator dan atau anggota lainnya yang ditunjuk.
  3. Rapat Anggota dilaksanakan minimal 1 (satu) tahun sekali
  4. Agenda pertemuan/rapat meliputi :
    1. Kebijakan umum dibidang perkumpulan, managemen, dan program Rukem.
    2. Laporan Kinerja Pengurus
    3. Keanggotaan
  5. Pelaksanaan pertemuan/rapat diatur dalam Anggaran Rumah Tangga.
  6. Hasil pertemuan/rapat dinyatakan sah menjadi keputusan, apabila telah mendapat persetujuan sekurang-kurangnya dua  pertiga  (2/3)  dari  perwakilan anggota yang hadir dalam pertemuan / rapat.
  •  Pasal 12
  • Peserta rapat berhak meminta informasi dan pertanggung jawaban pengurus atas pengelolaan Rukem ………………………………….
  • Pasal 13
  • Hari, tanggal dan tempat serta acara pertemuan/rapat harus diberitahukan kepada anggota peserta rapat sekurang-kurangnya 2 (dua) hari sebelum pertemuan/rapat dilaksanakan.
  • Pasal 14
  1. Keputusan hasil rapat diutamakan berdasarkan musyawarah untuk mencapai mufakat
  2. Apabila tidak diperoleh keputusan dengan cara musyawarah mufakat, maka pengambilan keputusan dilakukan melalui pemungutan suara berdasarkan suara terbanyak dari perwakilan anggota  yang hadir.
  3. Dalam hal pemungutan suara, setiap anggota mempunyai hak satu suara.
  • ANGGARAN RUMAH TANGGA

  • Bab I
  • Sumber Dana
  • Pasal 1
  1. Sumber dana diperoleh dari uang pangkal dan Iuran wajib anggota yang sewaktu-waktu nominalnya dapat berubah disesuaikan perkembangannya.
  2. Sumber dana lain juga dapat diperoleh dari sumbangan anggota atau pihak lain yang tidak mengikat.
  3. Besaran nominal biaya sewaktu-waktu dapat disesuaikan dengan perkembangan biaya pengurusan  jenazah
  4. Apabila ada perubahan besaran biaya pengurusan jenazah, maka pengurus Rukem …………………………………. dapat mempertimbangkan dengan ketersediaan kas yang ada.
  5. Perubahan besaran nominal biaya pengurusan jenazah wajib diberitahukan kepada anggota Rukem …………………………………..
  • Bab II
  • Penarikan dan Besaran Iuran
  • Pasal 2
  • Penarikan Iuran
  1. Penarikan Iuran anggota dikoordinir oleh Seksi Penggalangan Dana wakil RT setempat atau petugas yang
  2. Iuran anggota disetorkan oleh pengurus RT kepada Bendahara.
  3. Pembayaran iuran Anggota dibayarkan maksimal 1 minggu setelah pertemuan tingkat RT dilakukan.
  • Pasal 3
  • Besaran Iuran
  1. Besaran Iuran ditetapkan sebesar (Pilih salah satu) ………….. perbulan   per rumah, efektip dimulai pada bulan …………………….. 2016, dan membayar uang pangkal sebesar Rp. …………………………………………bagi Anggota baru
  2. Iuran anggota secara berkala dinaikan setiap ………… tahun sekali yang besarannya ditentukan kemudian pada rapat anggota.
  • Bab III
  • Biaya Pengurusan Jenazah dan Bedah Bumi
  • Pasal 4
  1. Biaya Pengurusan Jenazah dan Bedah Bumi
  2. Besarnya biaya pemakanan 1 (satu) paket pengurusan jenazah dan Bedah Bumi ditetapkan senilai 1.000.000,- (satu juta rupiah), khusus yang beragama Islam diberikan berupa :
    1. 1 (satu) set lengkap kain kafan
    2. 1 (satu) set papan penutup kuburan
    3. Dimandikan dan dikafani oleh petugas yang ditetapkan (sosial)
    4. Disholatkan yang dipimpin oleh Petugas yang ditunjuk
      1. Sedangkan bagi yang beragama selain Islam, maka Biaya tersebut diberikan dalam bentuk uang kepada Keluarga yang berduka.
      2. Apabila ada  keinginan  diluar  yang  ditetapkan  pada  poin   1-A sampai D maka, biaya yang timbul menjadi  tanggungan  pihak keluarga ahli waris
      3. Pembiayaan-pembiayaan  ini tidak diberikan/dikompensasikan dalam bentuk uang, kecuali bagi yang beragama selain Islam atau ada permintaan dari pihak keluarga untuk dimakamkan diluar kota/kampung halaman
      4. Pembiayaan-pembiayaan ini akan ditinjau kembali setiap satu tahun sekali,dan apabila diperlukan sewaktu- waktu dapat berubah sesuai dengan perkembangan
  • Pasal 5
  • Biaya Operasional
  • Untuk menunjang kelancaran administrasi kepengurusan Rukem ………………………….., maka diperlukan biaya operasional, adapun  biaya tersebut  dipergunakan untuk :
    1. Perbaikan peralatan pemandian jenazah
    2. Penggantian alat bantu yang rusak
    3. Foto copy dan lain sebagainya yang berkaitan dengan administrasi
    4. Kosumsi rapat anggota; dll
  • Bab IV
  • Rincian Biaya Pengurusan Jenazah dan Bedah Bumi
  • Pasal 6
  1. Pembiayaan Pemakaman 1 (satu) paket dengan rincian sbb :
    1. 1 (satu) set papan penutup kuburan    = Rp.    150.000,-
    2. 1 (satu) set Kain Kafan pria/wanita     = Rp.  300.000,-
    3. Petugas Bedah Bumi                               = Rp.    550.000,-
    4. Jumlah            = Rp. 1.000.000,-
  2. Harga bahan /material dan lain-lain sewaktu-waktu dapat berubah.
  3. Apabila nilai pembiayaan/pengurusan jenazah dan pemakaman tidak mencukupi karena ada keinginan dari pihak keluarga diluar biaya yang  telah ditetapkan maka, kekurangannya menjadi tanggungan pihak  keluarga yang bersangkutan.
  4. Bahan material yang telah disediakan oleh pengurus antara lain :
    1. Kain Kafan 1 (satu) set untuk Almarmum
    2. Kain Kafan 1 (satu) set untuk Almarhumah
    3. Papan penutup Kuburan 1 (satu) set
  5. Pihak keluarga segera melaporkan kepada pengurus apabila akan menggunakan jasa petugas lain diluar yang telah ditetapkan Rukem ………………………………….,.
  • Bab V
  • Pelaporan
  • Pasal 7
  • Pengurus Rukem ………………………….,.melaporkan keuangan Rukem kepada anggota setiap 6 (enam) bulan sekali pada tahun  berjalan melalui pengurus RT atau RW.
  • Bab VI
  • Kepengurusan
  • Pasal 8
  • Susunan pengurus Rukem ………………………………….,. periode tahun 2016 s/d 2019 adalah  sebagai  berikut
    1. Pelindung                                                  :  Kepala Kelurahan Kaliombo
    2. Pembina                                                   :  Ketua RW, RT dilingkungan RW 6,7,8 dan 9
    3. Ketua                                                               :
    4. Sekretaris                                                        :
    5. Bendahara :
    6. Koordinator Seksi Humas :
    7. Koordinator Seksi Penggalangan Dana :
    8. Koordinator Seksi Sarana dan Prasarana :
    9. Koordinator Seksi Pengurusan Jenazah :
    10. Koordinator Seksi Bedah Bumi :
  • Bab VII
  • Penutup
  • Pasal 9
  1. Hal-hal lain yang belum cukup diatur dalam AD/ART ini, dapat diatur dan ditetapkan oleh Pengurus Rukem ……………………. sepanjang tidak bertentangan dengan AD/ART.
  2. Anggaran Rumah Tangga ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan Anggaran Dasar
  3. Peserta yang hadir dalam musyawarah penyusunan AD/ART ini,
  4. AD/ART ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
  • Ditetapkan di   :   Kaliombo
  • Pada tanggal     :       Maret   2016.
  • Pimpinan Sidang
  • Ketua                                                                                             Sekretaris
  • ……………………………………..                                                       ………………………………………
  • Mengetahui

…………………………………………

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

PANDUAN UMUM PENGENALAN KEHIDUPAN KAMPUS BAGI MAHASISWA BARU 2015

  • Kep 25 PKKMB-01
  • Kep 25 PKKMB-02
  • Kep 25 PKKMB-03
  • Kep 25 PKKMB-04
  • Kep 25 PKKMB-05
  • I. LATAR BELAKANG
  • Peserta didik yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang atau satuan pendidikan yang lebih tinggi akan merasakan berbagai perbedaan yang cukup signifikan bila dibandingkan dengan pembelajaran yang ditempuh sebelumnya, baik aspek akademik maupun aspek sosial budaya. Dalam rangka menyiapkan mental dan memberikan gambaran tentang sistem pembelajaran dan kehidupan di kampus maka diperlukan adanya program orientasi bagi mahasiswa baru untuk mempercepat adaptasi dengan lingkungan yang baru.Masa ini dapat dijadikan titik tolak inisiasi pembinaan idealisme, menanamkan dan membina sikap cinta tanah air, kepedulian terhadap lingkungan dalam rangka menciptakan generasi yang berkarakter jujur, cerdas, peduli, bertanggung jawab dan tangguh.
  • Program orientasi selalu menarik perhatian banyak pihak, khususnya orang tua, LSM termasuk media massa. Adanya kejadian yang tidak diinginkan membuat banyak pihak menyalahkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan/atau perguruan tinggi. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam prakteknya masa pengenalan atau orientasi dilaksanakan dengan konsep yang kurang matang. Seringkali pihak kampus menyerahkan kegiatan secara penuh kepada peserta didik senior tanpa ada proses pembimbingan dan pendampingan yang memadai. Masingmasing perguruan tinggi mengembangkan model pengenalan kampus sesuai dengan interpretasi masing-masing sehingga terjadi penyimpangan antara lain aktivitas perpeloncoan oleh senior,kekerasan fisik dan atau psikis yang dapat berakhir dengan adanya korban jiwa yang tentu saja dapat menimbulkan kecemasan, kekhawatiran atau bahkan ketakutan bagi mahasiswa baru dan bahkan orang tua. Hal seperti ini masih saja terjadi meskipun telah ada berbagai peraturan dan edaran yang mestinya menjadi pedoman seperti Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 1016/E/T/2011 tentang Masa Orientasi Mahasiswa Baru dan terakhir Surat Edaran Nomor 1259/E.E3/DT/2013 tentang Pembinaan Kegiatan Kemahasiswaan.
  • Program pengenalan harus direncanakan secara matang agar dapat dijadikan sebagai momen yang tepat untuk menanamkan pendidikan karakter kepada peserta didik baru. Mahasiswa baru diharapkan mendapat informasi yang tepat mengenai sistem pendidikan di perguruan tinggi baik bidang akademik maupun non-akademik. Program ini dapat dijadikan titik tolak inisiasi pembinaan idealisme, menanamkan dan membina sikap cinta tanah air, kepedulian terhadap lingkungan dalam rangka menciptakan generasi yang berkarakter jujur, cerdas, peduli, bertanggungjawab dan tangguh. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai dukungan sivitas akademika perguruan tinggi untuk mendukung terciptanya budaya akademik yang kondusif bagi penyelenggaraan tridharma perguruan tinggi.
  • Penyusunan panduan yang lebih terperinci dinilai perlu yang sekaligus untuk mengingatkan kembali tentang penyelenggaraan proses belajar mengajar berbasis kompetensi yang memerlukan syarat :
    1. pemahaman tentang learning to know, learning to do, learning to live togeher, dan learning to be dari program studi yang akan ditempuh secara benar dan sedini mungkin,
    2. kemampuan beradaptasi dengan lingkungan belajar secara cepat agar proses pembelajaran berlangsung dalam suasana good quality for teaching and learning, dan
    3. sistem pembelajaran mahasiswa yang tepat untuk percepatan proses pemahaman makna program studi yang dimasuki dan adaptasi dengan lingkungan.
  • Suatu panduan pengenalan kampus bagi mahasiswa baru untuk mempercepat proses adaptasi kehidupanperguruan tinggi sebagai revisi Pengaturan Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru di Perguruan Tinggi yang diterbitkan tahun 2003. Panduan ini disusun dengan tujuan mempercepat proses pembimbingan mahasiswa baru agar dalam beradaptasi dengan kehidupan akademik dan non akademik di perguruan tinggi dengan semangat percepatan adaptasi tanpa kekerasan.
  • II. LANDASAN
    1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
    2. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5336);
    3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 23, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5105) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5157);
    4. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2014 tentang Perubahan Kelima atas Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan Organisasi Kementerian Negara;
    5. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 14 Tahun 2014 tentang Perubahan Kelima atas Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara;
    6. Keputusan Presiden Nomor 84/P Tahun 2009 tentang Kabinet Indonesia Bersatu II sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 54/P Tahun 2014;
    7. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 257) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 69 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 1 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 1134);

III. AZAS PELAKSANAAN

  • Azas pelaksanaan pengenalan mahasiswa baru adalah azas keterbukaan, demokratis dan humanis.
    1. Azas keterbukaan, artinya semua kegiatan penerimaan mahasiswa baru dilakukan secara terbuka, baik dalam hal pembiayaan, materi/substansi kegiatan, berbagai informasi waktu maupun tempat penyelenggaraan kegiatan.
    2. Azas demokratis, berarti semua kegiatan dilakukan dengan berdasarkan kesetaraan semua pihak, dengan menghormati hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru tersebut.
    3. Azas humanis, artinya kegiatan penerimaan mahasiswa baru dilakukan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, dan prinsip persaudaraan dan anti kekerasan.

IV. TUJUAN

  • A. Tujuan Umum
  • Memberikan pembekalankepada mahasiswa baru agar dapat lebih cepat beradaptasi dengan lingkungan kampus, khususnya kegiatan pembelajaran dan kemahasiswaan.
  • B. Tujuan khusus
    1. Mengenalkan arti pentingnya kesadaran berbangsa, bernegara, cinta tanah air, lingkungan dan bermasyarakat.
    2. Mengenalkan tata kelola perguruan tinggi, sistem pembelajaran dan kemahasiswaan (kurikuler, ko dan ekstrakurikuler).
    3. Memberikan gambaran tentang pentingnya pendidikan karakter khususnya nilai integritas, moral, etika, kejujuran, kepedulian, tanggung jawab dan kedisiplinan dalam kehidupan di kampus dan masyarakat.
    4. Mendorong mahasiswa untuk proaktif beradaptasi, membentuk jejaring, menjalin keakraban dan persahabatan antarmahasiswa, mengenal lebih dekat dengan lingkungan kampus.
    5. Memotivasi dan mendorong mahasiswa baru untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
  • C. Hasil yang Diharapkan
    1. Meningkatnya kesadaran bernegara, berbangsa dan cinta tanah air dalam diri mahasiswa baru.
    2. Mahasiswa baru memahami arti pentingnya pendidikan yang akan ditempuhnya dan pendidikan karakter bagi pembangunan bangsa serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
    3. Mahasiswa baru memahami dan mengenali lingkungan barunya, terutama organisasi dan struktur perguruan tinggi, sistem pembelajaran dan kemahasiswaan.
    4. Terciptanya persahabatan antarmahasiswa, pendidik dan tenaga kependidikan.

V. MATERI

  • Materi yang diberikan harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
    1. Pemahaman konsep dan permasalahan kebangsaan.
    2. Menghargai harkat dan martabat manusia, serta hak asasi manusia.
    3. Memanfaatkan peluang dan potensi lokal seperti budaya, sumberdaya, sarana-prasarana, dan objek/sasaran kegiatan.
    4. Menyentuh permasalahan atau potensi permasalahan lokal dan global dan mengembangkan wawasan untuk mereduksi dan mengatasi permasalahan tersebut.
    5. Dapat dilaksanakan oleh sumber daya yang ada di Perguruan Tinggi masing-masing
  • Merujuk pada prinsip-prinsip di atas, maka secara garis besar, materi yang perlu disajikan dalam kegiatan pengenalan kehidupan kampus adalah:
    1. Wawasan Kebangsaan
    2. Pendidikan tinggi di Indonesia
    3. Kegiatan akademik di perguruan tinggi
    4. Pengenalan nilai budaya, tata krama, dan etika keillmuan.
    5. Organisasi dan kegiatan kemahasiswaan.
    6. Layanan mahasiswa.
    7. Persiapan penyesuaian diri di perguruan tinggi.
  • Setiap materi disusun dengan sistematika: tujuan, uraian materi, dan metode yang dibagi menjadi 2 (dua) tingkat, yaitu tingkat perguruan tinggi dan fakultas/sesuai kondisi/bentuk perguruan tinggi.
  • Kegiatan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu kegiatan yang bersifat umum yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi guna menyamakan visi dan misi pendidikan tinggi, dan kegiatan yang bersifat lokal-institusional guna mengembangkan potensi dan kemampuan mahasiswadalam menghadapi tantangan di perguruan tinggi.
  • Selain materi juga diberikan materi pilihan antara lain:
    1. Pendidikan karakter menuju tata kehidupan dan etika kehidupan yang baik (Anti Narkoba, HIV/AIDS, Anti Korupsi dan Anti Plagiarisme).
    2. Prospek peluang kerja lulusan perguruan tinggi.
    3. Motivasi dan atau kiat sukses belajar dan berprestasi.
    4. Pemutaran film tentang kehidupan kampus, prestasi, kegiatan ko dan ekstrakurikuler, dsb.
    5. Kegiatan yang bertemakan green living movement di kampus (cinta kebersihan, cinta lingkungan, kepedulian mahasiswa dan sejenis).
    6. Materi lain sesuai kebutuhan perguruan tinggi, misalnya disesuaikan dengan kebutuhan lokal yang konstruktif dan produktif.

A. Pengenalan Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

  • 1. Tujuan
  • Tujuan materi ini adalah agar mahasiswa mempunyai sikap dan perilaku yang tumbuh dari kemauan diri yang dilandasasi kecintaan, keikhlasan/kerelaan bertindak demi kebaikan Bangsa dan Negara Indonesia.
  • 2. Uraian Materi
  • Materi yang dapat diberikan antara lain:
    1. Pancasila dan UUD 1945;
    2. Bhineka Tunggal Eka;
    3. Negara Kesatuan Republik Indonesia (sistem tata negara,sejarah perjuangan bangsa dan Bahasa Indonesia).
  • 3. Metode Penyampaian
    • Ceramah, diskusi dan simulasi
  • 4. Tingkat Pelaksanaan
    • Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat perguruan tinggi (sesuai kondisi perguruan tinggi masing-masing).

B. Pendidikan Tinggi di Indonesia

  • 1. Tujuan
    • Tujuan materi ini adalah agar mahasiswa mengetahui fungsi dan peran pendidikan tinggi serta memahami perguruan tinggi yang menerima dan posisinya dalam pendidikan tinggi di Indonesia.
  • 2. Uraian Materi
  • Materi yang dapat diberikan antara lain:
    1. bentuk serta jenjang kelembagaan penyelenggara pendidikan tinggi;
    2. peran pendidikan tinggi dan mahasiswa dalam mengatasi problematika bangsa;
    3. peran mahasiswa dalam mengatasi permasalahan lokal dan global
  • 3. Metode Penyampaian
    • Ceramah, diskusi, simulasi dan visualisasi materi.
  • 4. Tingkat Pelaksanaan
    • Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat perguruan tinggi/fakultas/jurusan (sesuai kondisi perguruan tinggi masingmasing).

C. Kegiatan Akademik di Perguruan Tunggi

  • 1. Tujuan
    • Mahasiswa mengetahui dan memahami:
      1. organisasi dan fungsi perguruan tinggi, fakultas dan jurusan;
      2. prospek dunia kerja;
      3. proses pembelajaran di perguruan tinggi; dan
      4. mahasiswa mengetahui fungsi sivitas akademika dan sarana-prasarana.
  • 2. Uraian Materi
  • Materi yang dapat diberikan antara lain:
    1. pengenalan organisnasi dan fungsi perguruan tinggi (termasuk fakultas dan/atau jurusan);
    2. prospek kerja bidang studi di masa depan;
    3. sistem informasi akademik, kalender akademik, sistem kredit semester (SKS), masa studi, proses kartu rencana studi (KRS), fungsi dosen pembimbing akademik, dan tugas-tugas akademik; dan
    4. pengenalan proses pembelajaran.
  • 3. Metode Penyampaian
    • Ceramah, diskusi dan simulasi.
  • 4. Tingkat Pelaksanaan
    • Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat perguruan tinggi/fakultas/jurusan (sesuai kondisi perguruan tinggi masingmasing).

D. Pengenalan Nilai Budaya dan Etika

  • 1. Tujuan
    • Menumbuhkan kesadaran dan pemahaman mahasiswa akan:
      1. kebudayaan, nilai, dan etika;
      2. kebudayaan kampus perguruan tingi dan etika keilmuan;
      3. aturan-aturan yang berlaku di perguruan tinggi yang berkaitan dengan hak dan kewajiban mahasiswa; dan
      4. pengenalan kebebasan akademik dan kebebasan mimbar akademik.
  • 2. Uraian Materi
  • Materi yang dapat diberikan antara lain:
    1. pengetahuan tentang kebudayaan lokal dan global, nilai, dan etika;
    2. kultur perguruan tinggi dan etika keilmuan; dan
    3. aturan-aturan di perguruan tinggi termasuk hak dan kewajiban mahasiswa
  • 3. Metode
  • Ceramah, review, analisis, kliping, pameran ilmiah, permainan, studi kasus, pemutaran film, buku-buku.
  • 4. Tingkat Pelaksanaan
  • Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat perguruan tinggi/fakultas/jurusan (sesuai kondisi perguruan tinggi masingmasing).

E. Organisasi dan Kegiatan Kemahasiswaan

  • 1. Tujuan
  • Mahasiswa mengetahui:
    1. jenis organisasi kemahasiswaan di kampus dan perannya dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi; dan
    2. kegiatan kemahasiswaan di dalam dan di luar kampus.
  • 2. Uraian Materi
    • Materi yang dapat diberikan antara lain:
      1. jenis lembaga, struktur organisasi lembaga kemahasiswaan di tingkat perguruan tinggi/unit pelaksana administratif dan akademik, aktivitas, proses menjadi anggota, kepengurusan dan program kerja; dan
      2. jenis kegiatan kemahasiswaan untuk meningkatkan ketakwaan, mengasah penalaran, bakat/minat dan sosial, misalnya kegiatan seminar, seni, olahraga, dan pengabdian kepada masyarakat.
  • 3. Metode Penyampaian
  • Ceramah, diskusi, pameran, kunjungan, permainan, simulasi, pemutaran film.
  • 4. Tingkat Pelaksanaan
  • Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat perguruan tinggi/fakultas/jurusan (sesuai kondisi perguruan tinggi masingmasing).

F. Layanan Mahasiswa

  • 1. Tujuan
    • Mahasiswa mengetahui fasilitas pelayanan yang dapat diterima mahasiswa dan cara memanfaatannya.
  • 2. Uraian Materi
    • Materi yang dapat diberikan antara lain: pengenalan dan cara pemanaatan fasilitas yang ada di perguruan tinggi seperti perpustakaan, informasi beasiswa, sarana kesehatan, asrama, komputer, internet, koperasi mahasiswa dan sebagainya sesuai dengan fasilitas yang ada di kampus.
  • 3. Metode Penyampaian
    • Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat perguruan tinggi/fakultas/jurusan (sesuai kondisi perguruan tinggi masingmasing).

G. Persiapan Penyesuaian Diri di Perguruan Tinggi

  • 1. Tujuan
    • Mahasiswa memiliki keterampilan dan strategi yag dibutuhkan dalam menjalani pendidikan/pembelajaran di perguruan tinggi
  • 2. Uraian Materi
    • Materi yang dapat diberikan antara lain:
      1. cara belajar efektif dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses pembelajaran;
      2. manajemen waktu;
      3. permasalahan dalam kegiatan belajar; dan
      4. pendidikan kedisiplinan.
  • 3. Metode Penyampaian
  • Latihan, diskusi, ceramah dan permainan.
  • 4. Tingkat Pelaksanaan
  • Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tingkat perguruan tinggi/fakultas/jurusan (sesuai kondisi perguruan tinggi masingmasing).

VI. PELAKSANAAN

  • A. Bentuk, Tempat, dan Waktu
  • 1. Bentuk
    • Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk ceramah, latihan keteranpilan dan diskusi, tugas mandiri, kunjungan langsung, penyelenggaraan pameran, permainan, studi kasus, dan praktik langsung.
  • 2. Tempat
    • Tempat penyelenggaraan adalah di lingkungan kampus perguruan tinggi.
  • 3. Waktu
    • Kegiatan dilaksanakan selama 2 s.d. 4 hari, dimulai pada pagi hari (pukul 07.00) dan berakhir pada sore hari (pukul 17.00).
  • B. Peserta
    • Peserta kegiatan pengenalan kampus ini adalah mahasiswa baru dan yang bersangkutan dapat diberikan sertifikat.
  • C. Organisasi Kepanitiaan
    • Kegiatan ini melibatkan sivitas akademika, dan tenaga kependidikan, serta disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi perguruan tinggi. Panitia berada di bawah koordinasi dan bertanggungjawab kepada pimpinan perguruan tinggi.
  • D. Pendanaan dan Pertanggungjawaban Keuangan
    • Kegiatan ini didanai oleh masing-masing perguruan tinggi. Pertanggungjawaban keuangan berada pada pimpinan perguruan tinggi, dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku sesuai dengan kondisi perguruan tinggi masing-masing

VII. PENGAWASAN, EVALUASI DAN SANKSI

  • A. Pengawasan
    • Tujuan pengawasan agar pelaksanaan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengawasan dilakukan oleh yang ditetapkan panitia yang terdiri atas unsur sivitas akademika, pejabat struktural, karyawan, orang tua dan semua unsur lain yang di anggap perlu.
  • B. Evaluasi
    • Evaluasi dilakukan untuk melihat keberhasilan pencapaian tujuan program sekaligus menganalisis manfaat materi/aktivtas, efektivitas dan efisiensi, termasuk analisis kelemahan dan kendala yang terjadi pada penyelenggaaan kegiaan. Evaluasi dilaksanakan oleh panitia dengan membentuk tim yang terdiri atas unsur sivitas akademika, pejabat struktural, karyawan, orangtua, serta unsur lain yang dianggap perlu. Evaluasi dilaksanakan selama kegiatan berlangsng antara lain dengan cara mengedarkan kuesioner kepada para mahasiswa baru.
  • C. Sanksi
    • Semua bentuk pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan di atas dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.

VIII. PENUTUP

  • Pada dasarnya pelaksanaan panduan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru di perguruan tinggi merupakan salah satu upaya proses percepatan adaptasi dari pembentukan pribadi mahasiswa yang utuh, profesional dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
  • Panduan ini disampaikan kepada seluruh pihak yang terkait untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan pengenalan kehidupan kampus bagi mahasiswa baru, dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing perguruan tinggi.
  • Ditetapkan di Jakarta
  • pada tanggal 30 Juni 2014
  • Plt. DIREKTUR JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI,
  • Ttd
  • DJOKO SANTOSO
Dipublikasi di BKM UNISKA Kediri | Tag | Meninggalkan komentar

21. Diktat Aneka Ternak-Mencit

  • 5. IP Aneka Ternak Oktober 2014
  • BAB XXI. TIKUS PUTIH/MENCIT(Mus musculus)
  • 21.1. Sejarah Singkat
    Pada abad ke-18 di Eropa, Brown tikus (Tikus coklat) liar merajalela di sekitar pemukiman penduduk. Kondisi ini memicu sebuah kegiatan untuk industri penangkapan tikus. Mengapa ditangkap, karena tikus coklat dianggap menyebarkan penyakit.
    Akhirnya Industri Penangkap tikus tidak hanya menghasilkan uang dengan menjebak tikus, tetapi juga dengan berkeliling dan menjual mereka untuk makanan, atau lebih penting, untuk memancing tikus.
    Memancing-Tikus adalah olahraga yang populer dengan cara mengisi gelanggang dengan tikus dan menghitung waktu berapa lama yang dibutuhkan seekor anjing terrier untuk membunuh mereka semua.
    Seiring waktu, Tikus liar yang digunakan dalam memancing tikus pada awalnya , maka akhirnya dilakukan pemuliabiakkan dan menghasilkan albino tikus putih dikenal saat ini dan beberapa varietas.
    Pertama kali salah satu mutan albino ini dibawa ke sebuah laboratorium untuk penelitian pada tahun 1828, dalam percobaan puasa. Selama 30 tahun kemudian tikus digunakan untuk beberapa eksperimen dan akhirnya laboratorium tikus menjadi binatang pertama yang dipelihara untuk alasan-alasan ilmiah murni. Tikus laboratorium yang albino dengan mata merah dan bulu putih merupakan organisme model ikonik untuk penelitian ilmiah di berbagai bidang.
  • 21.2. Manfaat
    Selama bertahun-tahun, tikus telah digunakan dalam banyak penelitian eksperimen, yang telah menambah pemahaman kita tentang genetika, penyakit, pengaruh obat-obatan, dan topik lain dalam kesehatan dan kedokteran.
    Laboratorium tikus juga terbukti berharga dalam studi psikologis belajar dan proses mental lainnya. Pentingnya sejarah spesies ini untuk riset ilmiah tercermin dengan jumlah literatur tentang itu, sekitar 50% lebih dari itu merupakan hasil dari media percobaan pada tikus.
    Dalam perkembangan sekarang ini tikus juga dimanfaatkan untuk pakan reptil serperti ular dan untuk media/sarana percobaan/penelitian (Banyak mahasiswa STIKES atau mahasiswa Kedokteran dan Farmasi yang memanfaatkan tikus putih sebagai objek penelitian, serta Industri Obat) serta digunakan sebagai binatang kesayangan/ kesenangan/ hoby khususnya untuk varians hias.
  • 21.3. Jenis/Varians/Galur
    Tikus peliharaan berbeda dari tikus-tikus liar dalam banyak cara. Mereka lebih tenang dan cenderung tidak menggigit, mereka dapat mentolerir untuk berkumpul dalam jumlah yang lebih besar, mereka berkembang biak lebih awal dan memproduksi lebih banyak keturunan, dan otak mereka, hati, ginjal, kelenjar adrenal, dan hati yang lebih kecil.
    Jenis tikus yang biasa untuk penelitian selain mencit (Mus musculus) adalah tikus putih besar (Rat) dari spesies Rattus norvegicus. Tetapi sekali lagi bukan sembarang Rattus norvegicus yang diminta untuk penelitian. Galur/strain Rattus norvegicus yang biasa diminta untuk penelitian dari galur Wistar dan Sprague Dawley (SD). Tikus laboratorium telah digunakan sebagai model hewan yang penting untuk penelitian di bidang psikologi, kedokteran, dan bidang lainnya.
    Umunnya penelitian mahasiswa di Indonesia menggunakan galur Wistar. Tikus putih ini adalah tikus Rattus norvegicus Albino (putih) yang matanya merah.Warna asli Rattus norvegicus adalah coklat, atau sering juga disebut dengan tikus coklat (Brown Rat).Rattus norvegicus galur Wistar dikembangkan oleh Wistar Institute. Harga Rat yang tidak memiliki surat keterangan galur/sertifikat bisa mencapai Rp. 30.000-40.000/ekor.
    Tikus mencit emas yang sangat unik dan langka. Warna bulunya kuning keemasan dan yang lebih istimewa lagi adalah warna matanya yang merah menyaladan warna bulunya yang mengkilat . Tikus ini adalah lambang kejayaan, kekayaan, dan keberuntungan.
  • Para ilmuwan telah memunculkan banyak strain atau “galur” tikus khusus untuk eksperimen. Sebagian besar berasal dari tikus Wistar albino, yang masih digunakan secara luas. Galur umum lainnya adalah strain Sprague Dawley, Fischer 344, Holtzman albino strain, Long-Evans, dan Lister bertudung hitam tikus. Inbred strain juga tersedia tetapi tidak seperti yang biasanya digunakan sebagai bawaan tikus.
  • Tikus strain umumnya tidak transgenik, atau rekayasa genetika, karena teknik knockout gen dan sel induk embrio yang berhasil dilakukan untuk mencit (Mus musculus) relatif sulit pada tikus. Hal ini telah merugikan banyak peneliti, yang menganggap banyak aspek perilaku dan fisiologi pada tikus lebih relevan dengan manusia dan lebih mudah untuk mengamati daripada pada mencit dan yang ingin melacak pengamatan mereka berdasar gen. Akibatnya, banyak yang telah memaksakan untuk mempelajari pertanyaan ilmiah pada mencit yang mungkin sebenarnya lebih baik diteliti dengan tikus.
  • Pada Oktober 2003, para peneliti berhasil mengkloning dua laboratorium tikus melalui transfer nuklir. Jadi tikus mungkin mulai terlihat lebih banyak digunakan sebagai subjek penelitian genetik. Sebagian besar genome Rattus norvegicus telah diurutkan.
  • Galur/Varians/Strain
  • Sebuah galur atau strain, mengacu pada tikus, adalah sebuah kelompok di mana semua anggota secara genetik identik. Pada tikus, ini dicapai melalui perkawinan sedarah. Dengan memiliki populasi jenis ini, adalah mungkin untuk melakukan percobaan pada peran gen, atau melakukan percobaan yang mengecualikan variasi dalam genetika sebagai faktor. Sebaliknya, outbred strain, digunakan ketika identik genotipe tidak diperlukan atau populasi acak diperlukan, dan lebih didefinisikan sebagai leluhur pembanding strain.
    • (1)Wistar rat
      Adalah tikus Wistar strain outbred tikus albino milik spesies Rattus norvegicus. Jenis galur ini dikembangkan di Institut Wistar pada tahun 1906 untuk digunakan dalam biologi dan penelitian medis, dan adalah terutama galur tikus pertama dikembangkan sebagai model organisme pada saat laboratorium terutama menggunakan Mus musculus (mencit), atau mencit rumah. Lebih dari separuh dari semua strain tikus laboratorium adalah keturunan dari koloni asli yang dikembangkan oleh Henry fisiologi Donaldson, J. Milton administrator ilmiah Greenman, dan peneliti genetik / embriologi Helen Dean King.
      Tikus Wistar saat ini menjadi salah satu yang strain tikus paling populer yang digunakan untuk penelitian laboratorium. Hal ini ditandai oleh kepala lebar, panjang telinga, dan memiliki ekor panjang yang selalu kurang dari panjang tubuhnya. Galur tikus Sprague Dawley dan Long-Evans dikembangkan dari tikus galus Wistar. Tikus Wistar lebih aktif daripada jenis lain seperti tikus Sprague dawley.
    • (2) Tikus Sprague Dawley
      Tikus Sprague Dawley yang merupakan jenis outbred tikus albino serbaguna digunakan secara ekstensif dalam riset medis. Keuntungan utamanya adalah ketenangan dan kemudahan penanganannya. Tikus jenis ini pertama kali diproduksi oleh peternakan Sprague Dawley (kemudian menjadi Perusahaan Animal Sprague Dawley) di Madison, Wisconsin. Fasilitas penangkaran dibeli pertama kali oleh Gibco dan kemudian oleh Harlan (sekarang Harlan Sprague Dawley) pada bulan Januari 1980.
      Rata-rata ukuran berat tubuh tikus Sprague Dawley adalah 10.5. Berat badan dewasa adalah 250-300g bagi betina, dan 450-520g untuk jantan. Hidup yang khas adalah 2,5-3,5 tahun. Tikus ini biasanya memiliki ekor untuk meningkatkan rasio panjang tubuh dibandingkan dengan tikus Wistar.
    • (3)Biobreeding tikus
      Tikus Biobreeding Diabetes Prone (atau Tikus BBDP ) adalah tikus galur inbred yang berkembang secara spontan autoimun Type 1 Diabetes. Seperti NOD tikus, tikus BB digunakan sebagai hewan model untuk tipe 1 diabetes. Galur ini telah banyak me-rekapitulasi-ulang beberapa fitur diabetes tipe 1, dan telah memberikan kontribusi yang besar kepada penelitian patogenesis T1D.
    • (4) Long-Evans tikus
      Long-Evans tikus adalah tikus strain outbred milik spesies Rattus norvegicus. Jenis galur ini dikembangkan oleh Drs. Long dan Evans pada tahun 1915 dengan menyilangkan beberapa Wistar betina dengan abu-abu liar laki-laki. Long Evans tikus putih dengan tudung hitam, atau kadang-kadang putih dengan kerudung cokelat. Mereka dimanfaatkan sebagai model serbaguna organisme, sering dalam perilaku dan penelitian obesitas.
    • (5) Zucker tikus
      Zucker tikus dibiakkan menjadi model untuk penelitian genetik pada obesitas dan hipertensi. Mereka dinamai setelah Lois M. Zucker dan Theodore F. Zucker, peneliti pelopor dalam studi genetika obesitas. Ada dua jenis tikus Zucker: tikus Zucker ramping, dilambangkan sebagai sifat dominan (Fa / Fa) atau (Fa / fa), dan obesitas khas (atau lemak) Zucker tikus, yang notabene adalah sifat resesif (fa / fa) dari reseptor leptin, yang mampu menimbang sampai dengan 1 kg (2.2 lb)-lebih dari dua kali berat badan rata-rata.
      Tikus Zucker obese memiliki level lemak dan kolesterol tingkat tinggi dalam darah mereka, yang tahan terhadap insulin tanpa hyperglycemic, dan berat badan dari mendapatkan berat tubuh dari ukuran dan jumlah sel-sel lemak. Obesitas pada tikus Zucker terutama terkait dengan alam hyperphagic mereka, rasa lapar yang berlebihan, namun asupan makanan tidak sepenuhnya menjelaskan hiperlipidemia atau komposisi tubuh secara keseluruhan.
    • (6) Tikus gundul
      Diperkirakan bahwa ada lebih dari dua puluh lima gen resesif yang menyebabkan hairlessness di laboratorium tikus. Yang lebih umum yang dilambangkan sebagai rnu (Rowett telanjang), fz (fuzzy), dan shn (dicukur).
  • Rowett telanjang, pertama kali diidentifikasi pada tahun 1953 di Skotlandia, tidak memiliki timus.
  • Kurangnya organ ini sangat kompromi sistem kekebalan tubuh mereka, infeksi saluran pernapasan dan meningkatkan mata yang paling dramatis.
    • Fuzzy tikus yang diidentifikasi pada 1976 di sebuah Pennsylvanian laboratorium. Penyebab utama kematian di antara fz / fz tikus pada akhirnya gagal ginjal progresif yang dimulai sekitar usia satu.
    • Lain-tikus dibiakkan dari tikus Sprague Dawley di Connecticut pada tahun 1998. Mereka juga menderita masalah ginjal parah.
    • (7) RCS tikus
      Tikus Royal College of Surgeons (RCS) adalah hewan pertama yang diketahui dengan degenerasi retina Warisan. Meskipun cacat genetik tidak diketahui selama bertahun-tahun, itu pertama kali diidentifikasi pada tahun 2000 untuk menjadi mutasi pada gen Mertk. Hasil mutasi ini cacat epitel pigmen retina fagositosis dari luar photoreceptor segmen.
    • (8) Tikus Getar Kawasaki (Shaking Rat Kawasaki)
      Tikus Getar Kawasaki yang tidak memiliki RELN fungsional gen yang mengkodekan reelin, protein penting untuk korteks tepat laminasi dan perkembangan otak kecil. Fenotipe yang mirip dengan tikus reeler diteliti secara luas. Sekarang ini juga tikus hias jepang sudah banyak yang dikembangkan dan dipasarkan di Indonesia. Pada umumnya tikus hias jepang memiliki varians warna bulu/rambut.
  • (Disadur dan diterjemahkan secara bebas dari berbagai sumber:
    terutama http:// wapedia.mobi  & http://en.wikipedia.org/wiki/Laboratory_rat.)
  • (9) Varian Tikus Hias Jepang
  • 21.4. Pedoman Teknis Budidaya
    Sekarang ini memelihara tikus sudah bukan rahasia lagi. Harga tikus cukup mahal perekornya berkisar Rp 10.000 – 25.000 ada juga yang ratusan ribu tergantung keunikan warnanya. Anakan berwarna abu -abu atau belang hitam belang coklat umur 20 hari oleh pedagang perekor di hargai Rp 6.000 per ekor. Ternyata dari yang tadinya menggelikan sekarang justru menghasilkan uang.
    Satu ekor tikus muda sekali melahirkan bisa 4 ekor anak (cindil) dan betina dewasa sanggup melahirkan sekitar 10 ekor dan dalam tempo 20 hari sudah siap di jual lagi. Ternyata beternak tikus lebih mudah ketimbang berternak kelinci makananya juga sembarang makanan di lahap, karena tikus adalah pemakan semua.
  • Persyaratan Teknis Budidaya Tikus, yaitu :
    1. Kandang harus kering
    2. Gunakan litter (alas) bisa dari sekam atau serbuk gergaji
    3. Gunakan kotak plastik ukuran sekitar 60 cm x 50 cm atau lebih besar dengan tutup yang terbuat dari kawat
    4. Air minum buat seperti botol dot, harus selalu ada (ad libitum)
    5. Biasanya tikus yang baru disatukan untuk dikawinkan butuh masa adaptasi sebelum kawin sekitar satu minggu
    6. Satu jantan efektif bisa mengawini 6-8 ekor betina
    7. Baiknya kawinkan 2 jantan dengan 8 betina dalam satu kandang besar
    8. Tikus bisa bunting-beranak selama 3-5 minggu tergantung pakan, sama tingkat kesuburan.
    9. Ganti litter selama 1 minggu sekali.
    10. Kalau sudah beranak jangan pisahkan dengan induk, jangan dipegang-pegang, pisahkan dengan jantan, biarkan terjadi seleksi alam, pakan tidak boleh kekurangan, minum harus cukup.
    11. Bila anak sudah 4 minggu bisa dipisahkan dari induk dan dipelihara secara berkelompok dengan tikus lain.
    12. Anak sudah cukup dewasa umur 4 minggu tapi masih belum matang untuk bunting dan melahirkan
  • 21.5. Langkah-Langkah Beternak Tikus Putih
    Sebetulnya membudidayakan tikus sangat mudah dan secara sederhana. Adapun langkahnya adalah sebagai berikut :
  1. pertama harus tahu jenis kelaminnya dulu/ bisa membedakan jenis kelamin untuk membedakannya lihat gambar di bawah ini :
  2. Setelah itu harus menyiapkan kandang terlebih dahulu tapi di sarankan jangan terbuat dari kayu karena tikus adalah binatang pengerat. Kita bisa menggunakan bahan dari kawat, besi lubang atau bak plastik lihat di bawah ini adalah terbuat dari bak plastik ditutup kawat kasa ukuran kecil. Untuk tutup berilah kawat untuk pengait lihat gambar di bawah ini jadi gampang untuk buka tutup.
  3. Kemudian sediakan rakrakan yang bisa kita buat dari besi lubang,bambu atau kayu fungsinya untuk menghemat tempat. (Gb A)
  4. Model yang selanjutnya adalah dengan umbaran. buatlah kotak persegi panjang dengan besi lubang dan kawat kasa lihat gambar di bawah ini untuk ukuran bisa di sesuaikan (jangan terlalu tinggi karena fungsinya kurang tingginya kira kira 25 cm sudah cukup) lihat gambar di bawah ini kandang sap tiga. (Gb. B)
  5. Setelah itu berilah rumah rumahan dari paralon , kayu atau apa saja yang fungsinya untuk tempat beranak (Gb. C)
  6. Sebelum memulai berternak usahakan cari bibitan saja jangan langsung indukan karena lebih bisa beradaptasi dengan kandang baru.
  7. Untuk kandang dari bak plastik isilah dengan serbuk gergaji, sekam atau zeolit (tapi mahal harganya) setelah itu masukkan 3 tikus betina dan 1 jantan jangan lupa tambahkan potongan kertas untuk sarang tikus
  8. Untuk Kandang Umbaran isikan serbuk gergaji, sekam dan potongan kertas masukan kira kira 13 ekor betina dan 2 jantan sebagai catatan usahakan cari yang bibitan saja sebab resiko bertengkar sangat kecil.
  9. Bila lancar maka bibitan tadi kira kira 1-1,5 bulan akan mulai bunting. Setelah proses kebuntingan ±  21 hari tikus akan melahirkan untuk pertama kali dengan jumlah anak ± 6 ekor untuk kelahiran awal (pertama), sedangkan kelahiran kedua bisa mencapai 10 ekor per kelahiran.
  10. Setelah umur 20 hari maka sudah bisa di pisahkan dari induknya
  11. Untuk pakan berilah pakan apa saja karena tikus merupakan pemakan segala.
  12. Pakan utamanya sebaiknya berupa campuran Nasi dan dedak dalam kondisi campuran basah.
  13. Untuk pakan hijauan sebaiknya pemberiannya dikombinasikan dengan beberapa jenis hijauan. Jenis hijauan yang biasa diberikan antara lain : wortel, sawi, jagung muda, ketela dan lain lain dalam kondisi segar. Kondisi segar ini sebagai pengganti air minum karena tikus seperti pada semua binatang pengerat lainnya tidak suka minum secara langsung pada air minum.
  14. Frekuensi pemberian pakan sebaiknya minimal 3 kali sehari.
  15. Pemberian pakan dalam jumlah yang lebih banyak sebaiknya pada malam hari karena aktivitas tikus lebih banyak pada malam hari.
  16. Untuk Pemasaran pada umumnya di toko-toko atau pasar-pasar hewan.
  17. Tikus dimanfaatkan untuk hewan percobaan / penelitian, pakan reptil seperti ular.
  18. Pada umumnya harga untuk penelitian lebih mahal dibandingkan untuk pakan reptil, Karena tikus-tikus untuk penelitian biasanya memerlukan persyaratan khusus. Misalnya: keseragaman galur, umur, dan bobot tubuh.
  • 21.6. Analisis Usaha Beternak Tikus Putih
    Untuk mulai usaha penangkaran tikus putih / mencit (Mus mosculus) bisa menggunakan 100 indukan yang terdiri 75 ekor betina dan 25 ekor jantan. Jadi perbandingannya setiap 3 betina dipasangkan dengan 1 ekor jantan. Jika dipelihara dengan intensif dalam waktu tiga bulan mampu menghasilkan anakan sebanyak 8 – 12 ekor per induk. Induk yang berbobot 20-25 gram harus diafkir setiap dua kali beranak.
  • Berikut ini analisa usaha tikus putih setiap 100 (seratus) indukan : (Harga diperhitungkan pada tahun 2009)
    Spesifikasi :
    a. Jumlah indukan 100 ekor
    b. Lama pengusahaan selama 6 bulan ( 2 kali beranak )
    c. Luas ruangan yang dibutuhkan seluas 6 m2
    d. Produksi anakan umur 3 bulan
  • Investasi
    a. Rumah ternak (umur 5 tahun) Rp .3.000.000
    b. Rak besi sepanjang 2 meter (5 tahun) Rp. 2.000.000
    c. Kandang plastik 200 bh @Rp.8.000 Rp. 1.600.000
    d. Perlengkapan kandang 200bh @Rp.2000 Rp. 400.000
    Total Investasi Rp. 7.000.000
  • Biaya Produksi
    a. Indukan 100 ekor @Rp.4000 Rp. 400.000
    b. Penyusutan rumah ternak Rp. 300.000
    c. Penyusutan rak Rp. 160.000
    d. Penyusutan perlengkapan kandang Rp. 100.000
    e. Tenaga Kerja Rp. 1.200.000
    f. Pakan 300kg @ 4.000 Rp. 1.200.000
    g. Obat-obatan Rp. 200.000
    h. Listrik Rp. 200.000
    Total biaya produksi Rp. 3.760.000
  • Pendapatan
    a. 1.500 ekor x Rp 3.500/ekor Rp. 5.250.000
    Keuntungan
    a. Rp. 5.250.000 – Rp. 3.760.000 : Rp. 1.490.000
  • Pertimbangan Usaha
    BEP (Break Even Point)
    BEP untuk harga produksi
    BEP = Rp. 3.760.000 : 1.500 ekor = Rp. 2.507/ekor
    Dengan produksi sebanyak 1.500 ekor titik balik modal tercapai jika harga mencit umur 3 bulan Rp. 2.507/ekor
  • BEP untuk volume produksi
    BEP = Rp. 3.760.000 : Rp. 3.500/ekor = 1.074 ekor
    Dengan harga jual Rp. 3.500/ekor, titik balik modal tercapai jika jumlah anakan yang dihasilkan sebanyak 1.074 ekor
  • B/C (Perbandingan Penerimaan dan Biaya)
    B/C = Rp. 5.250.000 : Rp. 3.760.000 = 1,4
    Setiap penambahan biaya Rp. 1  akan diperoleh penerimaan Rp. 1,4
  • NPV (Net Present Value)
    NPV = Rp. 5.250.000 x 1/(1+0,0083)6 = Rp. 5.000.000
    Dengan asumsi bunga bank 10% per tahun, penerimaan yang diperoleh 6 bulan kemudian senilai Rp. 5.000.000
  • Selamat Mencoba
  • Sebagai penutup diktat kuliah ini, perlu ditegaskan bahwa :
  1. Mata kuliah Dasar Aneka Ternak merupakan mata kuliah Dasar yang hanya menyajikan pengetahuan dasar tentang berbagai jenis ternak.
  2. Dalam belajar Dasar Aneka Ternak, setiap bagian selalu berhubungan satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan yang utuh. Pembagian dalam bagian-bagian diperlukan untuk mempertajam dan membedakan serta keterkaitan antara Bibit, Pakan dan Manajemen Aneka ternak.
  3. Kesempatan bertanya dan berdiskusi kepada pengampu maupun kepada mahasiswa yang lain pada setiap acara perlu dimanfaatkan mahasiswa dengan sebesar-besarnya sehingga diperoleh manfaat pendalaman dan pengembangan pengetahuan Dasar Aneka Ternak yang lebih konkrit.
  4. Pada Diktat Bagian Pertama hanya memuat ternak Puyuh, Kelinci, Lebah, Jangkrik, Bekicot dan Cacing Tanah, sedangkan materi lain seperti Walet, Merpati, Belut, Tokek, Katak, Ulat Hongkong, Ulat Sutera dan lain-lain jenis ternak akan dimuat dalam Dikat Dasar Aneka Ternak Bagian Kedua.
  5. Perkembangan jenis ternak yang dibudidayakan manusia saat ini sangat beraneka ragam seiring dengan perkembangan dan tuntutan kebutuhan manusia. Oleh karena itu menggali potensi dan ilmu perlu senantiasa dilakukan secara terus menerus tanpa henti.
  • Akhir kata, semoga Dasar Aneka Ternak ini bisa menjadi pegangan dan bahan kajian bagi mahasiswa Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Islam Kadiri (UNISKA) Kediri dan para peminat dan pemerhati bidang peternakan.
Dipublikasi di Materi Kuliah | Tag | Meninggalkan komentar

20. Diktat Aneka Ternak-Semut RangRang

  • 5. IP Aneka Ternak Oktober 2014
  • BAB XX. SEMUT RANGRANG
    20.1. Pengantar
    Hampir semua orang pencinta burung berkicau, atau hoby memancing pasti mengenal Semut rangrang penghasil kroto. Semut ini memiliki banyak sebutan diantaranya semut rangrang, semut merah, kranggan, semut kroto dan sebagainya, akan tetapi yang lebih umum dikenal adalah krotonya daripada nama semutnya. Semut Rangrang bukan sembarang semut. Mereka unik dan berbeda dari jenis semut lainnya. Manusia telah menggunakan jasa mereka dalam perkebunan berabad-abad yang lalu. Tercatat, sekitar tahun 300 Masehi di Canton (China), semut ini digunakan untuk mengusir hama pada tanaman jeruk.
    Orang mengambil sarang-sarang semut ini dari hutan, memperjualbelikannya, lalu meletakkannya di pohon-pohon jeruk jenis unggul. Teknik yang sama tetap dilakukan sampai abad ke-12, dan masih diterapkan di selatan China sampai saat ini. Di perkebunan kopi di Lampung, kita dapat menemukan koloni semut ini bersarang di daun-daun kopi. Ternyata, pada tanaman kopi yang ditempati sarang ini lebih baik keadaannya daripada tanaman yang tidak ditempati semut Rangrang. Produksi kopi pun jadi lebih meningkat.
    Para pakar serangga di Ghana telah menggunakan jenis semut Rangrang Afrika (Oecophylla longinoda) untuk mengendalikan hama tanaman cokelat. Kehadiran semut ini ternyata mampu mengurangi dua macam penyakit serius yang disebabkan oleh virus dan jamur, yaitu dengan jalan menyerang dan membunuh kutu daun yang menjadi penyebar penyakit ini. Kutu daun sangat merugikan, karena menghisap cairan tanaman sekaligus memakan jaringannya. Cara pengendalian hama seperti ini kita kenal sebagai “biological control” dan ini merupakan contoh tertua dalam sejarah pertanian.
  • 20.2. Mendulang emas Semut Rangrang (Oecophylla smaragdina)
    Selama ini pasokan kroto ke pasar burung atau toko yang menjual pakan burung hanya menggantungkan dari pengumpul kroto hasil tangkapan alam. Kita tahu alam tidak setiap saat menyediakan kroto apalagi saat musim penghujan. Hal lain yang mendorong kegiatan budidaya adalah usaha ini tidak banyak membutuhkan modal dan juga tingkat teknologi yang tinggi. Semua orang bisa mengusahakan kegiatan budidaya ini baik untuk tujuan komersial atau hanya untuk mencukupi kebutuhan kita sendiri apabila memelihara burung ocehan atau berkicau. Kami yakin, kalau kegiatan ini dikelola dengan manajemen yang baik tidak mustahil akan menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan.
    Kehidupan semut rangrang memang identik dengan kehidupan masyarakat perdesaan. Bagi sebagian orang, kroto dari semut rangrang merupakan sumber penghasilan baru dan dianggap sebagai salah satu cara bagi masyarakat miskin untuk memperoleh penghasilan tambahan. Sebuah penghasilan yang bisa diperoleh secara cuma-cuma dan tanpa mengganggu waktu dan kegiatan bertani mereka. Dengan cara yang praktis dan mudah saja mereka bisa mendapatkan kroto semut rangrang tersebut.
    Kroto adalah telur yang dihasilkan oleh semut rangrang. Kroto merupakan salah satu sumber protein hewani terbaik dan bagus untuk pakan burung terutama burung ocean atau berkicau. Dengan semakin banyaknya pencinta burung ocean maka semakin besar pula pemintaan produk kroto ini.
    Kata emas pada judul di atas mungkin sepadan dengan bentuk warna tubuh dari hewan ini. Semut rangrang memang tergolong semut api (fire ants) dengan genus Oecophylla, Famili Formicidae dan ordo Hymenoptera. Tapi jangan salah, semut ini ternyata memiliki kelebihan tersendiri. Selain sebagai penghasil kroto, bagi para petani semut rangrang cukup berguna sebagai pembasmi dan pengendali hama tanaman. Semut rangrang dapat membunuh hama tanaman yang menyebabkan tanaman para petani itu tidak tumbuh dengan baik.
  • 20.3. Karakteristik Semut Rangrang
    A. Ratu dilindungi
    Mengenal kehidupan serangga semut rangrang yang berjasa ini memang cukup mengesankan. Serangga sosial ini membuat sarang di kanopi hutan-hutan tropis sampai kebun-kebun kopi maupun cokelat. Mereka membentuk koloni yang anggotanya bisa mencapai 500.000 ekor, terdiri atas ratu yang sangat besar, anak-anak, dan para pekerja merangkap prajurit. Semuanya betina, kecuali beberapa semut jantan yang berperan kecil dalam kehidupan koloni. Semut-semut jantan itu segera pergi jika telah dewasa untuk melangsungkan wedding fight yaitu terbang untuk mengawini sang ratu, lalu mereka tidak kembali lagi ke sarangnya.
    Di antara anggota koloni, yang paling giat adalah kelompok pekerja. Mereka rajin mencari makan, membangun sarang, dan gigih melindungi wilayah mereka siang dan malam hari. Sekitar setiap satu menit, salah satu pekerja memuntahkan makanan cair ke dalam mulut ratu. Mereka menyuapi ratu dengan makanan yang telah dilunakkan sehingga memungkinkan sang ratu menghasilkan ratusan telur per hari. Jika ratu telah bertelur, para pekerja akan memindahkan telur-telur itu ke tempat yang terlindung, membersihkannya, dan memberi makan larva-larva halus jika telah menetas.
    Semut Rangrang dikenal pula sebagai senyum penganyam, karena cara mereka membuat sarang seperti orang membuat anyaman. Sarang mereka terbuat dari beberapa helai daun yang dilekukkan dan dikaitkan bersama-sama membentuk ruang-ruang yang rumit dan menyerupai kemah. Dedaunan itu mereka tarik ke suatu arah, lalu dihubungkan dengan benang-benang halus yang diambil dari larva mereka sendiri. Para pekerja bergerak bolak-balik dari satu daun ke daun lainnya membentuk anyaman.
    Makhluk asing yang mencoba menyusup ke daerah sarang, akan mereka halau dengan sengatan asam format yang keluar dari kelenjar racun mereka. Kalau semut jenis lain sengaja membiarkan bahkan memelihara kutu daun hidup dalam wilayah kekuasaan mereka, maka semut Rangrang justru sebaliknya. Mereka berusaha mati-matian menyingkirkan serangga lain yang hidup pada pohon tempat sarang mereka berada. Oleh karena itu, jika kita membedah sarang mereka seringkali kita menemukan bangkai kumbang atau serangga lain yang lebih besar dari semut ini.
    Itulah keistimewaan yang dimiliki semut Rangrang sehingga membuat mereka memegang arti penting dalam pengendalian hama secara alami. Cukup sederhana, namun tidak berisiko terhadap lingkungan seperti halnya jika kita menggunakan insektisida kimia.
  • B.Pesan Kimiawi
    Semut ternyata mempunyai semacam kelenjar yang menghasilkan cairan khusus yang digunakan untuk menandai wilayah mereka. Kelenjar itu disebut kelenjar dubur. Cairan khusus yang dihasilkannya (disebut pheromone) mereka sapukan ke tanah dan hanya para anggota sarang saja yang dapat mengenali baunya. Jadi semut penganyam ini menggunakan pesan kimiawi untuk menuntut rekan satu sarang menuju daerah baru mereka.
    Tentu saja jejak bau itu tidak hanya mereka tinggalkan ketika mencari daerah baru dan ketika mempertahankannya, tetapi juga digunakan saat mereka mencari makan. Jika seekor semut menemukan seonggok makanan, dia akan mengerahkan teman-temannya untuk mengangkuti makanan itu ke sarang. Kelenjar duburnya akan meninggalkan jejak bau di sepanjang jalan antara sarang dan lokasi temuan itu. Ketika berpapasan dengan temannya, semut ini memberi rangsangan dengan memukulkan antenanya seraya memuntahkan sedikit makanan yang ditemukan tadi ke mulut rekannya itu.
  • C.Lokasi atau habitat
    Karkateristik jenis semut rangrang adalah semut yang menyukai udara yang bersih dan sangat anti dengan udara berpolusi. Makanya keberadaan semut rangrang jarang dijumpai di daerah perkotaan karena kita ketahui bersama bagaimana keadaan udara di daerah perkotaan.
    Habitat yang cocok untuk membudidayakan semut ini antara lain daerah perdesaan yang banyak memiliki pepohonan tahunan seperti perkebunan atau perhutani. Semut-semut ini bisa menyerbu hampir semua jenis pohon, tetapi lebih menyukai pohon buah-buahan dan mempunyai ukuran daun yang agak lebar seperti nangka, mahoni atau mangga. Pohon lain yang banyak disukai adalah randu, mente (jambu monyet), jambu air, duwet atau juwet, dan lainnya.
    Alam Indonesia sebenarnya masih sangat potensial untuk dimanfaatkan budidaya semut rangrang. Daerah perdesaan dengan beranekaragam tanamannya, areal perkebunanan, kawasan perhutani adalah lokasi yang sangat potensial untuk budidaya semut rangrang. Tidak perlu membeli perkebunan, cukup dengan menyewa lahan tersebut. Tapi memang ada satu kelemahan yaitu lambat laun orang yang menyewakan lahan tersebut karena mengetahui peluang bisnis budidaya semut rangrang ini atau bahkan akan mengambil alih kegiatan ini. Jika demikian yang ditakutkan maka memiliki pohon sendiri adalah lebih baik untuk usaha jangka panjang.
  • 20.4.Manfaat Membudidayakan Semut Rangrang
    Banyak manfaat yang akan kita peroleh apabila kita memelihara semut rangrang, diantaranya :

    1. Sebagai pengendali hama tanaman tertentu, sehingga anda tidak perlu membeli insektisida untuk membasmi kutu daun. Ada ciri khusus dari sebuah pohon tanaman, bahwa apabila di pohon tanaman terdapat semut rangrang maka diyakini pohon tersebut tidak terdapat ulat/uler.
    2. Digunakan sebagian para pemancing dan nelayan sebagai umpan ikan
    3. Sebagai makanan tambahan untuk meningkatkan ketrampilan burung berkicau
    4. Membantu penyerbukan jenis tanaman tertentu
    5. Dapat membantu menjaga kebun.
    6. Dapat digunakan sebagai Biokoktrol dan Bioindikator.
  • Penggunaan semut Rangrang sebagai biokontrol ternyata sudah dilakukan pula oleh sebagian penduduk Indonesia, meskipun tidak besar-besaran. Misalnya jika pohon jambu atau pohon mangga di pekarangan terserang hama, mereka akan memindahkan semut-semut Rangrang ke pohon tersebut. Sebenarnya bukan itu saja manfaat yang diberikan semut Rangrang kepada manusia. Dengan sifatnya yang sangat peka terhadap perubahan udara, manusia dapat menggunakan semut ini sebagai indikator keadaan udara di suatu lingkungan.
  • 20.5.Pemasaran
    Pemasaran kroto tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Daerah dimana banyak masyarakat yang memelihara burung ocehan atau berkicau, maka daerah tersebut sangat potensial untuk pemasaran kroto.
    Oleh karena sampai saat ini jumlah permintaan produk kroto ini masih tinggi dan keberadaannya belum bisa digantikan oleh produk lain, maka pemasaran kroto bukan menjadi permasalahan yang utama.
    Menjual kroto yang larvanya masih hidup lebih mudah dan dengan harga yang lebih mahal dibandingkan dengan menjual kroto yang larvanya sudah mati atau kroto kering. Burung ocehan atau berkicau menyukai pakan dari larva kroto yang masih hidup. Larva kroto memiliki daya hidup yang pendek yaitu selama ± dua-tiga hari sehingga kroto jenis ini memiliki harga yang lebih mahal.
    Kroto kering ini bisa disimpan selama enam bulan, tetapi harga jualnya hanya setengah harga larva hidup. Jalur pemasaran kroto biasanya dari para pengumpul kroto dikirim ke pedagang/toko pakan burung, kemudain dari pedagang/toko pakan burung  akan dijual lagi ke pengecer kecil. Dengan demikian jika menginginkan keuntungan yang lebih besar kita harus memperpendek jalur pemasaran atau yang lebih bagus lagi apabila kita memproduksi sendiri dan menjual secara langsung ke konsumen akhir yaitu para peternak/pemelihara burung ocehan.
  • Sumber  : www.sentralternak.com

 

Dipublikasi di Materi Kuliah | Tag | Meninggalkan komentar

19. Diktat Aneka Ternak-Lintah

  • 5. IP Aneka Ternak Oktober 2014
  • BAB XIX. LINTAH(Herudo medicinalis)
    19.1.Sejarah Singkat
    Sejak 4000 tahun yang lalu terapi lintah sudah akrab dengan dunia pengobatan. Manfaatnya sudah diakui oleh kedokteran Yunani dan Romawi. Pada abad ke-19 lintah menikmati zaman keemasan. Jutaan lintah dibudidayakan untuk penggunaan medis dalam terapi sedot lintah. Terapi ini kembali digunakan pada awal 1990, dimana dalam sebuah riset media dengan terapi lintah berhasil membuktikan bahwa terapi ini dapat menyembuhkan tumor tanpa kemoterapi dan pembedahan.
    Riset yang dilakukan di Eropa juga membuktikan bahwa terapi lintah yang dilakukan dengan pengobatan medis (obat-obatan) atau herbal dapat meningkatkan efektifitas obat. Hingga saat ini tidak ditemukan adanya efek samping sebagai akibat terapi hirudo medicinalis.
  • 19.2. Karakteristik Lintah
    Lintah adalah hewan dari kelompok filum Annelida, subclass Hirudinea. Terdapat jenis lintah yang dapat hidup didaratan, air tawar dan laut. Seperti halnya kerabatnya Oligochaeta, mereka memiliki clitelum. Seperti cacing tanah, lintah juga merupakan hermaprodit. Jenis kelamin lintah  tidak membedakan lintah jantan atau betina (hermaprodit = berganti-ganti kelamin, kadang jantan kadang betina = berkelamin ganda)
    Jenis Lintah banyak sekali. Pada umumnya orang menyebut Lintah dengan sebutan atas dasar yang  sering dihisap darahnya, misal Lintah Kerbau karena yang sering ditemukan dihisap adalah kerbau. Ada yang menyebut berdasar atas tempat hidupnya misalnya Lintah rawa, lintah sawah, lintah muara, lintah sungai. Ada juga yang menyebut atas dasar warna badannya;: Lintah coklat, Lintah hijau, lintah batik/Lorena, lintah hitam.
    Lintah pada dasarnya binatang yang  makanannya sari darah mahluk hidup (tidak hanya kerbau yang penting berdarah termasuk ikan, belut, manusia juga di hisap) tapi tidak ada yang menyebut Lintah manusia.  Lintah yang menghisap darah dan sekali hisap langsung kenyang kemudian istirahat 3 – 6 bulan, bertelur dan beranak.
    Rawa-rawa yang sudah terkena pestisida atau bahan pupuk sudah tentu lintah tidak kita temukan (kabur), begitu juga rawa-rawa yang terkena air sabun lintah akan pergi (hilang). Oleh karena itu keberadaan Lintah di rawa dapat dijadikan indikasi bahwa rawa tersebut masih (alami / bersih).
    Semua species lintah adalah karnivora. Beberapa merupakan predator, mendapat makanan dari berbagai jenis invertebrata seperti cacing, siput, larva serangga dll.
    Lintah jenis Hirudo meicanalis yang berasal dari Eropa telah sejak lama dimanfaatkan untuk pengeluaran darah (plebotomi) secara medis.
    Pacet dan Lintah merupakan jenis yang berbeda. Lintah (Hirunine medicinalis),Lintah hidup di Air  atau dalam air sedangkan pacet hidup di tempat dengan kelembaban Tinggi di hutan basah (di dedaunan atau di humus dasar hutan basah/pacet tanah). Dari bentuknya Pacet relatif lebih ramping dengan besaran sama dari ujung mulut sampai ke ekor, tapi lintah berbentuk meruncing ke ujung mulut dan ekor, melebar di badannya.
  • 19.3.Manfaat dan Keistimewaan Lintah
    Secara umum Hasil yang didapat dari Budidaya Lintah antara lain :

    1. Jual Lintah hidup langsung baik untuk bibit maupun pembesaran lintah.
    2. Jual Lintah indukan.
    3. Jual Lintah untuk bahan minyak lintah
    4. Jual Lintah Kering
    5. Jual Liur Lintah
    6. Yang sekarang lagi trend yaitu jual Lintah untuk terapi pengobatan.
  • Untuk Lintah istimewanya selain maunya hidup di tempat yang bersih alami, ternyata dia peka terhadap sumber makanannya yaitu darah (darah apa saja), indra penciumannya tajam terhadap bau darah boleh di test dalam jarak tertentu ada darah dia akan menghampiri segera, meskipun tidak ada matanya.
    Keistimewaan yang lain, Dia hermaprodite (berganti-ganti kelamin = mudah diternakkan), Dan yang bermanfaat dan diketahui saat ini Lintah mengeluarkan Zat hirudine yang tidak membuat beku darah. Sifat lintah juga disinggung pertama kali tersirat dalam Al Quran surat Al Alaq (surat Iqro’) SQ: 96: ayat 2. (segumpal darah*) Awal pembentukan manusia menggantung pada rahim ibunya memancangkan akar dan menghisap darah ibunya seperti Lintah.
  • 19.4.Terapi/Pengobatan dengan Lintah
    Terapi alternatif dengan lintah (Hirudo medicinalis) telah digunakan sejak abad ke-18, namun sejak berkembangnya dunia medis kedokteran di abad 19, perlahan terapi lintah mulai dilupakan orang. Kini pengobatan modern mulai melirik terapi pengobatan dengan mempergunakan lintah.
    Lintah telah diakui sebagai penolong manusia. Di kerongkongan tempat isapannya terdapat tiga rahang berbentuk setengah gergaji, dihiasi sampai 100 gigi kecil. Dalam waktu 30 menit, lintah bisa menyedot darah sebanyak 15 ml s/d kuota yang cukup untuk hidupnya selama setengah tahun.
    “Lintah mengeluarkan semacam liur, zat hirudin yang bercampur dengan darah dan membawanya ke seluruh tubuh. Kemudian, sirkulasi darah jadi lancar sehingga tubuh terasa bugar”. Air liur lintah ternyata mengandung zat aktif yang sekurang – kurangnya berisi 15 unsur. Antara lain yaitu zat putih telur hirudin yang bermanfaat untuk mengencerkan darah dan mengandung penisilin, anti radang dan anestesi/bius.
    Dan  zat-zat utama yaitu zat antikoagulan (anti pembekuan darah / anti pengentalan darah) yang menyembuhkan ketika dia mengambil darah mangsanya, selain mengandung juga zat-zat seperti yang terdapat dalam putih telur dan vitamin-vitamin, yang bermanfaat mengencerkan darah yang pada akhirnya dapat membuka saluran-saluran pembuluh yang tersumbat dan menyempit, sehingga bagian badan yang sedikit teraliri darah menjadi normal kembali dan syaraf di sekitarnya akan aktif lagi. Penyakit akibat gangguan darah dan penyakit saluran darah sangat bermacam-macam dari mulai Jantung sampai kulit dan kelamin, kanker. Dan jika darah lancar maka penyembuhan dapat .didapatkan. Lintah juga dimanfaatkan untuk terapi kecantikan, keharmonisan suami istri.
    Logika Ilmiahnya: saluran darah yang tidak tersumbat dengan darah yang tidak beku/mengental maka seluruh sari makanan dan vitamin menyebar merata ke seluruh bagian tubuh dan setiap bagian tubuh akan berfungsi normal.Jika kondisi ini terganggu maka (saluran macet) maka ada bagian tubuh yang tidak teraliri darah dengan sempurna bisa berakibat stroke, bagian tubuh kanan dan kiri tidak simetris dll, terjadi sel-sel liar yang tumbuh karena tidak ada antibodi (dalam darah) yang mengaliri, berakibat penyakit kulit, kanker, tumor dll.
    Metode penyembuhan dengan lintah merupakan cara yang tersisa dari abad pertengahan yang lampau. Pada masa itu pasien yang mengalami masalah pada sendi lutut akan merasa lebih baik setelah menempelkan lintah pada lukanya selama beberapa minggu. Hasil studi yang dilakukan para peneliti di Jerman menunjukkan bahwa lintah diakui bisa mengobati rasa sakit dan juga radang. Bahkan pasien yang menderita Osteatritis pun bisa menggunakan lintah untuk mengobatinya. Penelitian yang dipimpin Dr Gustav Dobos di klinik Essen-Mitte, Jerman melakukan percobaan terhadap 10 pasien dengan rata-rata usia 68 tahun. Kebanyakan pasiennya menderita sakit lutut selama enam tahun terus menerus. Para dokter meletakkan empat ekor lintah di daerah lutut yang sakit dan dibiarkan selama 1 jam 20 menit. Rasa sakit diukur tiga hari sebelum perawatan dilakukan dan 28 hari setelah selesainya perawatan. Pengaruh dari perawatan ini bisa diketahui setelah 24 jam kemudian, tetapi bisa dipastikan hasilnya setelah empat minggu. Dalam laporannya, para pasien mengaku rasa sakit mereka berkurang akibat dari gigitan lintah tersebut. Dan hebatnya, tidak ada efek samping yang ditimbulkannya, misalnya infeksi atau apa pun. Sementara pasien lain yang diberi perawatan secara konvensional (medis) tidak merasakan adanya perbedaan, merasa tidak berkurang rasa sakitnya. Menulis di jurnal Annals of the Rheumatic Diseases, Dobos menyatakan: “Kami nyatakan bahwa hasil dari penelitian ini sangat luar biasa. Perawatan dengan lintah menghilangkan rasa sakit secara signifikan setelah tiga hari dan meningkat empat minggu kemudian”.
    Lintah pun digunakan sebagai salah satu penyembuh serba guna. Hewan ini bisa dimanfaatkan oleh penderita skizofrenia maupun depresi, juga untuk merangsang mata, mengempiskan lidah bengkak, dan meringankan sakit usus buntu serta pendarahan.
    Di berbagai rumah sakit dan tempat praktik dokter di Jerman banyak ditemukan terapi lintah untuk penyembuhan. Bahkan setiap tahun di sana sekitar 250.000 ekor lintah digunakan untuk mengatasi pendarahan. Selain itu lintah juga dimanfaatkan dalam operasi plastik.
    Terapi lintah dapat menstabilkan kadar hormon serotonin / melancarkan peredaran darah dan oksigen pada jaringan saraf halus di kepala. Termasuk menormalkan penyempitan atau pelebaran pembuluh darah di otak. Sudah banyak orang sembuh setelah memanfaatkan sedot lintah (Hirudo medicinalis). Sehingga terapi ini menjadi ‘trend’ serta naik daun.
    Dalam ilmu pengobatan Islam, pengobatan mengeluarkan darah kotor termasuk metode yang sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah saw. Lintah merupakan salah satu media untuk mengeluarkan darah kotor secara alami. Efeknya, akan meringankan tubuh. Sebab, kandungan darah kotor yang menumpuk di bawah permukaan kulit yang menjadi sumber penyakit, akan disedot lintah tersebut. Dengan prinsip pengobatan memperlancar saluran dan pengenceran darah maka saluran-saluran darah yang sekecil-kecilnya akan teraliri darah dan menyembuhkan (menormalkan fungsi bagian tubuh)
    Dalam praktek pengobatan saat ini banyak yang menggunakan lintah rawa saja atau menggunakan Lintah dengan gabungan herbal, bekam, totok syaraf dll. Jumlah yang ditempelkan, tergantung tingkat parah atau tidaknya pasien yang akan diobati. Setelah kenyang mengisap darah kotor, lintah akan jatuh sendiri. Dan hanya dipakai untuk sekali pengobatan, lalu dibuang. Bekas gigitannya, ditutup menggunakan plester obat.
    Bagi pasien penderita diabetes, lintah diletakkan di kaki dan punggung belakang. Untuk penderita migren, darah tinggi, mimisan, lintah diletakkan di bagian punggung belakang. Berkisar satu jam, lintah mulai bekerja melakukan sedotan. Awalnya, lintah gajah ini terlihat berukuran kecil. Tapi, setelah menyedot darah kotor yang ada dalam tubuh pasien, ukurannya akan berubah menjadi sangat besar.
    “Untuk terapi kecantikan, banyak juga ibu rumah tangga dan gadis remaja menggunakan sedot lintah. Terutama untuk menyembuhkan jerawat, flek hitam, kerut wajah. Juga, agar kulit wajah tetap kencang”
    Kami berharap ada peneliti lintah Indonesia yang mendukung secara Ilmiah. (di USA, Eropa sudah banyak dimanfaatkan untuk medis: pembersihan darah beku bekas operasi, pengobatan kanker payudara, eksim, jerawat, bisul, migrand, perawatan kulit dll)
    Kesimpulannya bahwa lintah ternyata sangat istimewa dalam proses pengobatan dan penyembuhan penyakit melalui cara Terapi Sedot Lintah.
  • A.Terapi Sedot Lintah Dapat Mengobati :
    Dalam rangka Terapi sedot Lintah maka yang menjadi dasar pemikiran adalah : “Darah merupakan sumber energi manusia untuk hidup, bilamana darah rusak, maka berkuranglah energi serta daya tahan tubuhnya”
  • Terapi Sedot Lintah antara lain dapat mengobati :
    1. Diabetes mellitus kering / basah.
    2. Kelenjar getah bening.
    3. Tyroid.
    4. Segala jenis Kanker dan Tumor.
    5. Darah tinggi.
    6. Migraine.
    7. Sering pusing.
    8. Kolesterol.
    9. Asam urat.
    10. Rematik.
    11. Pengapuran.
    12. Stroke.
    13. Gangguan seksual.
    14. Sakit pinggang.
    15. Narkoba.
    16. Gatal – gatal.
    17. Alergi makanan.
    18. Cedera otot / Saraf terjepit.
    19. Jantung Koroner.
    20. Penyempitan pembuluh darah.
    21. Penyumbatan darah di otak dan jantung.
    22. Melancarkan / menghilangkan sumbatan dan gumpalan darah yang lama terkoagulasi membentuk plak di saluran arteri.
    23. Mencairkan pembekuan darah di kepala / otak, saraf halus, saraf sensorik, saraf motorik, saraf telinga, dan retina mata.
    24. Terapi ini bisa memperbaiki / menghidupkan pembuluh / jaringan saraf halus yang cedera / rusak / mati akibat penyakit / kecelakaan.
    25. Melancarkan suplai oksigen dan nutrisi dalam darah. Akibat dari tidak lancarnya aliran darah dan oxsigen maka rasa sakit yang sering di rasa yaitu kesemutan, kaku, baal, panas, dingin, sampai mati rasa.
  • B.Diabetes Mellitus
    Setiap tahun lebih dari tiga juta orang di seluruh dunia meninggal sebagai akibat dari komplikasi Diabetes Mellitus atau dengan kata lain terjadi satu kematian setiap tiga detik. Diet serta olahraga yang teratur dapat mengurangi secara drastis kemungkinan seseorang dengan toleransi glukosa terganggu karena diabetes. Terapi efektif bisa dilakukan dengan lintah.
    Untuk mengobati Diabetes Mellitus (kering) lintah-lintah tersebut ditempelkan pada bagian yang ba’al, mati rasa, kesemutan, kaku, sakit disekitar kaki maupun tangan. Gangguan seperti sering buang air kecil pada malam hari, tidak bisa buang air besar setiap hari, perut kembung dan gangguan disfungsi ereksi bisa disembuhkan dengan Terapi sedot lintah dan herbal yang teratur.
    Diabetes Mellitus (basah) seperti : gangrene, radang, bengkak, luka yang tidak bisa sembuh, busuk, sudah mati rasa disekitar lubang luka, saraf / jaringan yang mati akan hidup kembali hanya dengan terapi lintah dan ramuan herbal tanpa perlu diamputasi. Diabetes Mellitus (basah) bisa disembuhkan.
  • C.Kanker / Tumor / Kelenjar Getah Bening / tyroid
    Pada umumnya bila terasa ada benjolan dileher maupun di bagian tubuh lainnya, sebelum terasa sakit atau nyeri biasanya di diamkan saja. Hasil pengobatan pada kanker dini jauh berbeda dengan kanker yang sudah lanjut. Pada kanker dini umumnya pengobatan lebih sederhana, lebih murah dan yang lebih penting lagi adalah hasil pengobatan yang jauh lebih baik.
    Perlu diketahui bahwa kelenjar tyroid / getah bening dan sel kanker berkembang setiap saat, ada yang sangat cepat dan ada yang lambat. Apapun namanya tetaplah sel-sel yang abnormal harus benar-benar diwaspadai. Dengan terapi yang kami lakukan biasanya, benjolannya akan terus mengecil seiring masa pengobatan yang dijalani juga rasa sakit akan berkurang dan hilang. Semua dilakukan tanpa operasi, kemoterapi, hormonterapi ataupun radiasi.
  • D.Saraf Terjepit / Cedera Otot
    Kesemutan adalah gejala yang muncul akibat gangguan pada sistem saraf sensorik. Gangguan itu timbul karena rangsang listrik pada sistem itu tidak tersalur secara penuh. Berikut ini kelompok penyebab kesemutan akibat trauma (saraf terjepit otot, tertimbun cairan tertentu dalam tubuh, atau terjepit benda lain di luar tubuh yang mempengaruhi otot dan saraf). Juga akibat aktivitas anggota tubuh, entah tangan, kaki atau bagian tubuh lain tanpa henti. Dimulai dari rangsangan berupa sentuhan, tekanan, rasa sakit, suhu panas atau dingin, rangsangan ini diterima reseptor saraf pada kulit, lalu dikirim ke saraf tepi, masuk dalam susunan saraf pusat di sumsum tulang belakang. Gangguan saraf tepi yang biasanya mewujud pada gejala kesemutan bisa muncul akibat saraf terjepit otot atau jaringan lain. Di dalam tulang punggung berjajar sumsum tulang yang bisa menekan saraf di sekitarnya atau menekan saraf yang keluar dari setiap tulang punggung. Di setiap tulang punggung terdapat lubang tempat keluar akar saraf yang berasal dari sumsum tulang. Tempat keluar ini bisa dipersempit oleh inti tadi, sehingga saraf tertekan. Inilah yang biasa disebut sebagai saraf terjepit oleh kebanyakan orang.
    Terapi lintah untuk keluhan sakit karena saraf terjepit sangat efektif dan cepat menghilangkan nyeri, kaku, sulit bergerak, panas yang disertai dengan kejang – kejang. Karena dalam air liur lintah (hirudin) banyak terkandung antikogulan (anti pembekuan darah) biasanya dalam kasus saraf terjepit terjadi pembekuan darah dan juga cairan. Dengan terapi lintah dan herbal, pasien terhindar dari kerusakan saraf secara permanent. Seiring masa terapi keluhan sakit karena saraf terjepit akan hilang dan sembuh seperti semula.
  • E.Migraine
    Kata migraine sendiri berasal dari perkataan Yunani yaitu : “hemikrania” yang berarti “separo kepala”. Penyebab migrain bisa bermacam-macam. Mulai dari peredaran darah yang tidak lancar dalam otak karena kelelahan dan kurang beristirahat, pola makan yang buruk, radang tonsil sampai pencernaan yang kurang bagus daya kerjanya. Nyeri pada migrain disebabkan karena pelebaran pembuluh darah di otak. Hal ini antara lain berkaitan dengan kadar hormon serotonin dalam darah. Jika kadarnya tinggi, pembuluh darah akan menyempit, sebaliknya jika kadarnya rendah maka pembuluh darah akan melebar. Gejala yang dialami jika migrain muncul adalah nyeri kepala yang sangat hebat, biasanya di satu sisi namun dapat pula di kedua sisi kepala. Penderita “sakit kepala sebelah” akan membaik setelah menjalani terapi lintah dan herbal. Pasien akan merasakan sakit yang berkurang, kepala terasa enteng, tidur pulas dan bangun tanpa rasa sakit. Penyembuhan penyakit migrain secara alami tanpa obat kimia, sehingga pasien terhindar dari penderitaan berkepanjangan. Tidak masalah berapa tahun penyakit migraine telah diderita.
  • F.Penyakit Jantung
    Terapi lintah yang kami padukan dengan ramuan khusus herbal sangat baik untuk menetralisir racun,  melenturkan / menguatkan saraf dan otot, mengencerkan  darah / membersihkan plak / kolesterol / melancarkan aliran darah / sirkulasi darah dan oksigen juga melancarkan pemyumbatan pembuluh darah. Jantung yang sehat perlu bekalan darah yang encer dan oksigen yang cukup.Umumnya pasien merasa lebih baik dari setiap kali terapi keterapi lainnya.
    Keluhan seperti sesak nafas, sulit bernafas, nyeri / sakit didada, mudah lelah, jantung berdebar – debar, panas disekitar jantung, keringat dingin, tidak bertenaga akan berkurang dan hilang seiring terapi yang dijalani. Metode terapi alternatif ini steril, aman, tanpa efek samping, juga merangsang saraf yang ada disekitar jantung untuk bisa meregenerasi diri sendiri. Berbagai penyakit jantung yang bisa disembuhkan dengan terapi lintah dan herbal yang berkaitan dengan kordiovaskuler antara lain : Hyper koagulasi / Darah kental, Pemyempitan / Pemyumbatan pembuluh darah. Penderita gangguan jantung, Jantung koroner, Jantung bengkak, dan Jantung bocor. Tanpa perlu dioperasi dan tidak tergantung pada obat–obatan kimia.
  • 19.5. Teknis Budidaya Lintah
    Dalam memelihara lintah yang penting adalah kesesuaian dengan kondisi habitat alamnya hanya kita modifikasi dengan kolam dan pengaturan air yang selalu jernih dan suhu air nya yang stabil. Suhu yang dibutuhkan untuk habitat Lintah sekitar 18 – 20 ° C, dan kondisi air harus jernih dan bersih, meskipun membutuhkan lumpur halus yg sudah mengendap/pasir. Untuk penanganan suhu udara umumnya dengan pohon-pohon besar di atas kolam (peteduh).
    Kendala yang dihadapi dalam budidaya lintah antara lain menghapus image bahwa Lintah itu menakutkan, menjijikkan.
  • A.Pembibitan.
    Dalam melakukan pembibitan lintah, pada umumnya dengan cara melakukan pengambilan benih-benih asli di rawa-rawa Indonesia yang masih bersih untuk dijadikan bibit Lintah sehingga di Indonesia ini diketahui ada berapa Jenis Lintah (di dunia dikenal 300 jenis). Namun saat ini untuk mendapatkan benih lintah, bisa dilakukan dengan cara membeli lintah biasa kepada petani lintah, misalkan 50 ekor lintah bisa menghasilkan kira-kira 20.000 bibit ekor lintah.
  • B.Makanan
    Makanan utama lintah antara lain : Ikan lele dewasa, gabus, belut dewasa dll. Dalam rangka Budidaya untuk tujuan pembesaran lintah maka Makanan lintah yang terbaik adalah belut dewasa. 1 kg belut dewasa untuk 20.000 ekor lintah dalam waktu kurang lebih 1 minggu. sampai dengan 1 bulan
  • (Sumber : http://www.oval-film.com/ekelhaltgesund/engl/blutegel/studien.htm)
  • Selamat Mencoba

 

Dipublikasi di Materi Kuliah | Tag | Meninggalkan komentar

18. Diktat Aneka Ternak-Rusa

  • 5. IP Aneka Ternak Oktober 2014
  • BAB XVIII. RUSA (Cervus spp)
    18.1. Pendahuluan
    Rusa merupakan salah satu alternatif sebagai hewan yang mempunyai potensi untuk ditingkatkan statusnya mengingat ketersediaannya yang meluas hampir di setiap pulau di Indonesia dan rendahnya kandungan lemak dalam venison (dagingnya) serta keunggulan lain berupa hasil ikutan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
    Peternakan rusa telah dikenal dan berkembang semenjak lama di luar negeri, terutama di daerah-daerah sub-tropis seperti Australia, New Zealand, Cina, Amerika dan lain-lain. Penelitian yang dilakukan di New Zealand menunjukkan bahwa, peternakan rusa di negara tersebut menjadi penyumbang devisa terbesar dibandingkan dengan peternakan sapi potong, sapi perah dan domba (Subekti, 1995 dan Aliambar 2000).
    Sebenarnya pengembangan rusa di Indonesia sampai saat ini masih menimbul kan perdebatan. Kelompok pertama menganggap rusa termasuk golongan satwa langka yang harus dilindungi, sehingga apabila dilakukan pengembangan secara komersial akan menyebabkan kepunahan. Kelompok kedua, justru menganggap rusa merupakan hewan dengan nilai ekonomi yang tinggi, sehingga perlu dikembangkan secara komersial untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kelompok ini berdalih, pengembangan secara komersial justru dapat menjaga rusa dari kepunahan.
    Untuk memperoleh solusi optimal dalam pengembangan budidaya rusa perlu dipertimbangkan daya dukung dan tetap memperhatikan pengembangan untuk tujuan konservasi. Pengembangan komoditas baru tentu harus disesuaikan faktor-faktor fisiologi, biofisik dan sosial ekonomi yang merupakan sumber keunggulan wilayah (Simatupang et al. 2004).
    Sebelum keluarnya PP No.7/1999 rusa tidak termasuk jenis yang dilindungi, melainkan sebagai satwa bekeru, penangkapannya diatur melalui undang-undang perburuan dan bebas sebagai satwa piaraan. Budidaya rusa juga dimungkinkan dengan adanya aturan dari pemerintah melalui SK Mentan No. 362/Kpts/TN.12/5/1990, sudah mengakomodir investasi di bidang peternakan satwa tersebut.
    Pada umumnya kegiatan budidaya rusa sebagai satwa langka yang tergolong appendix I harus memiliki ijin budidaya dan penangkaran oleh Kantor Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA). “Aturan untuk budidaya dan penangkaran itu diperbolehkan, dengan syarat 15 persen dari ternak yang dibudidayakan harus dilepas kehabitatnya,”.
  • Pelaksanaan Kebijakan Pengembangan Ternak Rusa secara  komersial dilakukan dengan langkah-langkah antara lain :
    (a) perluasan areal;
    (b) sosialisasi pada masyarakat untuk pengembangan rusa dengan tujuan ganda;
    (c) penetapan peraturan pemerintah mengenai budidaya rusa;
    (d) publikasi mengenai tempat wisata, dan sebagainya.
  • Disarankan, infrastruktur hukum sebagai kendala utama harus segera mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah, untuk mengubah opini masyarakat tentang usaha budidaya rusa di Indonesia. Sebagai aset komoditi peternakan yang dapat beredar secara terbuka, diperlukan juga penataan pasar dalam mengembangkan usaha budidaya rusa timor secara komersial.
    Banyak tempat pemeliharaan Ternak Rusa, namun jenis Rusa yang ada di Indonesia, antara lain :

    1. Rusa lokal Timor (Nervus Timorensis),
    2. Rusa sambar (Cerfus unicalor),
    3. Rusa Ujung Kulon dan
    4. Rusa dari Nepal (Axis-axis).
  • Pada umumnya pemeliharaan ternak Rusa dilakukan di lokasi-lokasi wisata, kebun binatang, Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam serta di rumah Dinas serta Istana Negara.
    Selama belum ada usaha-usaha budidaya selama ini pula kelangsungan hidup rusa semata-mata hanya tergantung pada kebaikan alam (on forest potensials). Tidak mustahil akan menjadi fauna yang langka seiring dengan eksploitasi hutan yang tidak terkendali, apalagi pada tahun 2002 sekitar 7000 ekor rusa atau setara 524.5 ton, diburu oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk dikonsumsi dagingnya secara tidak terkendali.
    Untuk mengatasi kondisi tersebut dan memenuhi permintaan masyarakat akan daging rusa yang terus meningkat, maka diperlukan usaha untuk meningkatkan populasi rusa dengan menerapkan metode-metode pembudidayaan yang baru. Pada tahun 90-an Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Peternakan seperti terlihat di Desa Apiapi, Pasir yang sebelumnya hanya beberapa ekor kini jumlahnya lebih dari 100 ekor, hal itu cukup menggembirakan mengingat populasinya terus terancam akibat aksi pemburu serta kian menyusutnya habitat satwa langka ini. Penangkaran rusa bersifat melestarikan jenis rusa dari kepunahan, menyelamatkan plasma nuftah specific rusa sambar sekaligus sebagai awal domestikasi untuk dapat membudidayakan dan dimanfaatkan seperti ternak lainnya.
    Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu di Manna Bengkulu Selatan serta di kota Bengkulu berhasil melakukan penangkaran dengan populasinya mencapai hampir 50 ekor. Rusa yang dibudidayakan merupakan rusa lokal (Nervus Timorensis) dan rusa tutul dari Nepal (Axis-axis).
    Di Jawa Timur ada empat tempat penangkaran rusa timor yaitu yaitu di Taman Wisata Jatilangger di wilayah Blitar, Kebun Binatang Surabaya, Taman Safari II Prigen Pasuruan, dan Taman Wisata Coban Rondo di wilayah Batu Malang.
  • 18.2. Potensi Pengembangan Ternak Rusa.
    Dalam rangka diversifikasi pangan “untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani, semua pihak termasuk pemerintah berusaha menciptakan dan mengembangkan berbagai alternatif. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah budidaya rusa (Cervus spp).
    Jenis Rusa Timor (Cervus timorensis) dan Rusa Sambar (Cervus unicalor) adalah dua spesies rusa yang mungkin dikembangkan ke arah budidaya peternakan. Hal ini didukung oleh populasi dan penyebarannya yang luas serta daya adaptasi dan reproduksinya yang cukup tinggi.
  • Beberapa faktor yang menguntungkan untuk pengembangan (Budidaya) Ternak Rusa, antara lain :
    1. Ternak Rusa memiliki beberapa keunggulan sebagai hewan ternak, antara lain memiliki adaptasi yang tinggi, dan tingkat pengembangbiakan yang baik.
    2. Kegiatan pengembangan (Budidaya) ternak Rusa merupakan salah satu bentuk diversifikasi pangan, dimana peternakan juga sangat menentukan dalam mewujudkan ketahanan pangan tersebut, sehingga ketahanan pangan tidak lagi diartikan sebagai ketersediaan dan kecukupan pangan, tetapi kecukupan protein hewani dan pangan lainnya sesuai dengan Pola Pangan Harapan (PPH).
    3. Kegiatan pengembangan budidaya rusa untuk menghindari kepunahan di masa yang akan datang dapat dilakukan dengan tujuan ganda, yaitu gabungan usaha konservasi (mendukung pelestarian plasma nutfah Indonesia) dan mempunyai nilai komersil (Semiadi, 1998; Saragih,2000).
    4. Pengembangan Rusa khususnya Rusa Timor dalam bentuk usaha komersial di tempat-tempat wisata mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dari hasil penjualan produk secara langsung (Daging, Tanduk/seranggah/rangga muda (velwet), rangga tua (antler), kulit, penjualan hewan hidup)maupun penjualan tiket rekreasi, serta mampu menurunkan biaya untuk membayar tenaga kerja dan biaya untuk perawatan rusa
    5. Pada ternak rusa, yang memiliki nilai jual tidak saja dagingnya tapi juga seluruh bagian yang melekat pada tubuh rusa itu, seperti tanduk/ceranggah, kulit tulang, darah, penis, tulang kaki belakang hingga ekornya yang kesemuanya bernilai ekonomi tinggi.
    6. Produk daging rusa juga sangat enak karena seratnya lembut dan halus, kandungan lemak dan kandungan kolesterol yang lebih rendah daripada daging sapi sehingga harga dagingnya lebih mahal. Harga mahal tidak akan mengurangi minat orang mengkonsumsinya.
  • 18.3. Karakateristik Ternak Rusa.
    Rusa suka hidup berkelompok, mudah beradaptasi dalam segala lingkungan / iklim dan cepat berkembang biak serta efisien dalam penggunaan pakan untuk diubah sebagai daging; lebih efisien daripada ternak sapi.
    Rusa termasuk golongan ruminansia mempunyai ketajaman pendengaran, penciuman, kecepatan melompat dan berlari yang cukup tinggi serta tidak punya kantong empedu. Pada umur dewasa berbadan besar, tungkai panjang, hidung gelap, dan suara melengking nyaring. Umumnya berwarna hitam kecoklatan dan cenderung coklat ke abu-abuan atau kemerahan, warna gelap sepanjang bagian atas. Bobot rusa dewasa (10-12 bulan), betina 40-50 kg dan jantan 50-60 kg, panjang badan berkisar 1,5 m dan tinggi badan 1,4-1,6 m, bobot lahir 3-4 kg dan disapih umur 6 bulan.
    Dewasa kelamin umur 1-1,5 tahun. Perkawinan alami secara umum berkisar antara bulan Juli sampai September. Lama bunting 6-7 bulan dan calving interval 10-12 bulan).
    Pada saat akan melahirkan rusa selalu mencari tempat yang aman seperti semak-semak. Anak akan bersembunyi selama 1-2 minggu kemudian bergabung dengan kelompok. Anak yang lahir dengan mendapat perlakuan yang baik akan menunjukkan sifat yang lebih jinak. Sementara itu, pertumbuhan tanduk hanya pada rusa jantan, tumbuh pada umur 14 bulan. Tanduk pertama hanya berbentuk lurus dan akan bercabang pada tumbuh tanduk berikutnya.
    Tanduk akan lepas pada umur 10-12 bulan setelah tumbuh selanjutnya akan tumbuh kembali. Rusa betina yang sedang bunting tua kadang-kadang bersifat agresif dan bisa membahayakan demikian juga rusa jantan bersifat agresif pada saat tanduk mulai mengeras dan musim kawin.
  • 18.4.Beberapa Penyakit Utama Dalam Usaha Budidaya Rusa (Cervus Spp)
    Teknis budidaya ternak rusa sebenarnya hampir sama dengan Teknis Budidaya ternak Ruminansia Kecil lainnya seperti Kambing dan Domba. Namun dalam prakteknya, oleh karena sifat liar masih mendominasi maka kita harus mengenal karakteristiknya terlebih dahulu sehingga akan diperoleh hasil budidaya yang sesuai dengan tujuan pemeliharaannya.
  • Beberapa Penyakit Utama Dalam Usaha Budidaya Rusa (Cervus Spp) menurut (Semiadi, 1998 ; Saragih, 2000 ; Thohari, 2000) antara lain :
    1. Kasus Capture Myophathy sering terjadi di berbagai tempat penangkaran rusa baik di Indonesia maupun di luar negeri. Hal ini disebabkan karena hewan tersebut mudah mengalami stres, dan penanganan yang dilakukan tidak hati-hati. Sindrom yang kelihatan adalah, kematian mendadak dan tiba-tiba, tanpa diketahui gejalanya IJl terIebih dulu. Kasus ini terjadi setelah penangkapan dan pembiusan untuk memindahkan hewan-hewan tersebut ke lokasi baru dari habitatnya. Untuk mencegah masalah ini perIu penanganan yang baik dan hati-hati, karena sampai sekarang belum ditemukan prosedur yang efektif untuk pengobatan jika telah timbul kasus (Spraker, 1993 ; Aliambar, 2000).
    2. Rusa seperti ruminansia lainnya, bisa terinfeksi berbagai macam penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, ektoparasit dan endoparasit. Penyakit virus yang sering dilaporkan adalah Malignant Catarrhal Fever, Blue Tongue, Epizootic Hemorrhagic Disease dan Chronic Wasting Disease. Kejadian penyakit virus bisa ditularkan dari ternak domestik seperti sapi dan domba, serta pakan tambahan yang tercemar virus tersebut (Reenen, 1982 ; Tapscott, 1998).
    3. Penyakit bakteri yang sering dilaporkan adalah : Penyakit Anthrax, Bruselosis, ParatuberkulosisUon;s Disease, Yersiniosis dan Salmonelosis. Penyakit -penyakit yang disebabkan oleh bakteri tersebut bersifat zoonosis (Reenen, 1982 ;
    4. Menurut Direktorat Bina Kesehatan Hewan, 1993 ; Akoso, 1996 ; Tapscott, 1998). Ektoparasit yang cukup berbahaya bagi rusa maupun hewan lainnya, termasuk manusia adalah Tick Paralysis yang disebabkan oleh gigitan caplak Dermacentor variabilis. Gigitan caplak tersebut bisa menimbulkan kematian mendadak pada induk semang. Infeksi cacing secara umum menyebabkan penurunan kondisi hewan yang bersangkutan (Reenen, 1982; Fowler, 1993).
  • Adanya informasi tentang penyakit yang bisa menginfeksi rusa ini, diharapkan akan membantu para peternak rusa di Indonesia. Sehingga persiapan dan antisipasi bisa dilakukan sedini mungkin untuk menghindari resiko penyakit, dalam upaya mencapai nilai ekonomis yang tinggi pada suatu usaha peternakan.
  • Selamat Mencoba Mengembangkan.

 

Dipublikasi di Materi Kuliah | Tag | Meninggalkan komentar