01. Diktat Aneka Ternak-Puyuh

  • 5. IP Aneka Ternak Oktober 2014
  • KATA PENGANTAR
    Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME atas terselesaikannya Diktat  Ilmu Produksi Aneka Ternak. Diktat kuliah ini disusun berdasarkan konsep dan pustaka yang penulis pandang relevan untuk mengenalkan jenis-jenis Aneka Ternak yang sekarang mulai dibudidayakan sebagai komponen usaha Agribisnis Perdesaan, dimana secara umum dan potensi produksi jenis ternak tersebut layak untuk dibudidayakan, yang nantinya merupakan suatu keahlian dan ketrampilan Wirausaha dari Sarjana Peternakan.
    Komoditas ternak dalam Diktat Bagian I. Ilmu Produksi Aneka Ternak terdiri dari : Burung Puyuh, Kelinci, Lebah Madu, Jangkrik, Bekicot dan Cacing Tanah. Sedangkan Komoditas ternak dalam Diktat Bagian II. Ilmu Produksi Aneka Ternakterdiri dari : Walet, Katak, Ulat Hongkong, Merpati (Burung Dara), Tokek, Belut, Rusa dan Parkit serta jenis lain yang mulai dibudidayakan seperti Lintah, Keong dll.
    Oleh karena terbatasnya jumlah Pertemuan dalam suatu perkuliahan Mata Kuliah Ilmu Produksi Aneka Ternak, sedangkan cakupan Materi yang cukup banyak maka Materi Diktat ini sangat singkat, oleh karena itu membaca pustaka asli sangat dianjurkan bagi mahasiswa sehingga cakrawala berpikir dunia peternakan khusunya Dunia Aneka Ternak akan menjadi lebih luas dan mendalam.
    Secara tekhnis, materi kuliah tercakup dalam 6 pokok bahasan Utama yang direncanakan selesai dalam 8 kali kuliah tatap muka di kelas, 5 kali tugas terstruktur, Sedangkan 5 pokok bahasan Penunjang yang direncanakan selesai dalam 7 kali kuliah tatap muka di kelas, 3 kali tugas terstruktur. Total Tatap Muka dikelas sebanyak 14 kali, 1 kali ujian tengah semester, dan 1 kali ujian akhir semester.
    Evaluasi akhir merupakan nilai kumulatif dari Presensi Kehadiran Mahasiswa (20%), Nilai tugas tersruktur (10%), Nilai ujian tengah semester (30%), dan nilai ujian akhir semester (40%).
    Penulis mengharapkan diktat ini dapat dipandang sebagai upaya agar mahasiswa lebih mudah untuk menjadi tahu, mau, dan akhirnya mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam lingkup ilmu produksi bidang peternakan.
  • 1.1. Pendahuluan
    Sebagai salah satu jenis unggas, maka Burung Puyuh memang tidak populer dibandingkan dengan jenis unggas lainnya (Ayam Ras Pedaging/Petelur, itik ). Akan tetapi sebenarnya Burung Puyuh mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan, karena puyuh menghasilkan pangan yang tinggi nilai gizinya dan dapat membantu penyediaan sebagian protein hewani yang dibutuhkan dalam makanan kita sehari-hari. Selain meningkatkan kesejahteraan keluarga, pemeliharaan puyuh juga efektif untuk menambah penghasilan.
    Pertimbangan untuk memelihara puyuh didasarkan pada kebutuhan modal usaha pemeliharaan yang digunakan relatif kecil, dapat dipelihara dalam lingkup rumah tangga, waktu pemeliharaannya pendek (6 minggu mulai bertelur), relatif tahan terhadap serangan penyakit, serta produksi daging dan telurnya tinggi.
  • 1.2.  Sejarah Burung Puyuh (Coturnix coturnix)
    Asal usul Burung Puyuh (Coturnix coturnix) ini belum jelas benar dan diperkirakan dari coturnix liar yang dijinakkan. Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Di Indonesia Burung Puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979.
    Berbagai macam Genus Burung Puyuh yang kita kenal adalah :

    • 1. Genus Coturnix
      1. Puyuh Biasa, Coturnix coturnix
      2. Puyuh Jepang, Coturnix japonica
      3. Puyuh Stubble, Coturnix pectoralis
      4. Puyuh Selandia Baru, Coturnix novaezelandiae – (punah)
      5. Puyuh Hujan, Coturnix coromandelica
      6. Puyuh Harlequin, Coturnix delegorguei
      7. Puyuh Coklat, Coturnix ypsilophora
      8. Puyuh Biru, Coturnix adansonii dan Puyuh Biru Asia, Coturnix chinensis
    • 2.Genus Anurophasis
      1. Puyuh Pegunungan Salju, Anurophasis monorthonyx
    • 3. Genus Perdicula
      1. Puyuh Semak Hutan, Perdicula asiatica
      2. Puyuh Semak Bebatuan, Perdicula argoondah
      3. Puyuh Semak Bermotif, Perdicula erythrorhyncha
      4. Puyuh Semak Manipur, Perdicula manipurensis
    • 4.Genus Ophrysia
      1. Puyuh Himalaya, Ophrysia superciliosakritis/punah
    • Pada umumnya Burung Puyuh yang banyak dikembangkan adalah dari Marga Turnix, Coturnix  dan Arborophilla. Arborophilla dan coturnix seperti ayam (gallus) termasuk family Phasianidae, sedang genus turnix termasuk family Turnicidae
      Puyuh yang termasuk Genus Turnix memiliki ciri jari kaki ketiganya menghadap ke depan sedang yang ke belakang tidak ada.  Contohnya :   (1). Puyuh tegalan (Turnix succicator), yang sering ditemui ditegalan-tegalan, (2). Puyuh kuning (Turnix sylvatica)’ (3). Puyuh hitam (Turnix maculosa). Dari Genus Coturnix yang ada dalam kehidupan liar di Indonesia adalah Puyuh Batu (Coturnix chinensis) dimana dengan ciri-ciri : badan kecil sekitar 15 cm dan masih dapat ditemui di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Sedangkan Genus Arborophilla di Indonesia dikenal dengan Puyuh genggong (Arborophilla javanica), puyuh pohon (Arborophilla hyperythra).
    • AL-SALWA ITU TERNYATA BURUNG PUYUH
      Subhanallah, burung yang daging, telur, bulu bahkan kotorannya bermanfaat bagi kehidupan manusia ini ternyata yang disebutkan SALWA dalam al-Quran. Kitab Suci ini menyebutnya sebanyak tiga kali, di antaranya dalam surah al-A`raf 160:وَأَنزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa . “Kami menurunkan kepadamu mann dan salwa (mann ialah sejenis madu sedangkan salwa ialah sejenis burung puyuh) makanlah (makanan) yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu” (Q.S Al-Baqarah ;57)
    • Selama ini kata al-Salwa diterjemahkan secara fonologis ke dalam bahasa Indonesia dengan menghilangkan partikel takrif al-. Ternyata beberapa orang baru mengetahui bahwa al-Salwa itu ternyata burung puyuh, setelah Pak Slamet Wuryadi R, pemilik Slamet Quali Farm (SQF), di Cikembar, Sukabumi, Jawa Barat mengkonfirmasi benar-tidaknya bahwa burung puyuh tersebut adalah al-Salwa.
    • Burung puyuh ini adalah makanan pilihan Allah SWT yang diturunkan kepada Bani Israil pada zaman Nabi Musa a.s, yang diturunkan bersama mann, embun yang rasanya manis seperti madu. Entah saking lezatnya atau apa, Google Translator menerjemahkan al-mann wa al-salwa dengan “makanan dari sorga”. Subhanallah. Selain telur dan dagingnya, kotorannya berguna sebagai pupuk organik.
  • 1.3.  Klasifikasi Ilmiah
    Klasifikasi ilmiah menunjuk ke bagaimana ahli biologi mengelompokkan dan mengkategorikan spesies dari organisme yang punah maupun yang hidup. Klasifikasi modern berakar pada sistem Carolus Linnaeus, yang mengelompokkan spesies menurut kesamaan sifat fisik yang dimiliki . Pengelompokan ini sudah direvisi sejak Carolus Linnaeus menjaga konsistensi dengan asas sifat umum yang diturunkan dari Charles Darwin.
    Untuk mengenali dan mempelajari makhluk hidup secara keseluruhan tidak mudah sehingga dibuat klasifikasi (pengelompokan) makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup adalah suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu.
    Urutan klasifikasi makhluk hidup dari tingkat tertinggi ke terendah (yang sekarang digunakan) adalah  Domain (Daerah), Kingdom (Kerajaan), Phylum atau Filum (hewan)/ Divisio (tumbuhan), Classis (Kelas), Ordo (Bangsa), Famili (Suku), Genus (Marga), dan Spesies (Jenis).
    Tujuan klasifikasi makhluk hidup adalah untuk mempermudah mengenali, membandingkan, dan mempelajari makhluk hidup. Membandingkan berarti mencari persamaan dan perbedaan sifat atau ciri pada makhluk hidup. Klasifikasi makhluk hidup didasarkan pada persamaan dan perbedaan ciri yang dimiliki makhluk hidup, misalnya bentuk tubuh atau fungsi alat tubuhnya. Makhluk hidup yang memliliki ciri yang sama dikelompokkan dalam satu golongan.
    Contoh klasifikasi makhluk hidup adalah :

    1. Berdasarkan ukuran tubuhnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi pohon, perdu, dan semak.
    2. Berdasarkan lingkungan tempat hidupnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tumbuhan yang hidup di lingkungan kering (xerofit), tumbuhan yang hidup di lingkungan air (hidrofit), dan tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab (higrofit).
    3. Berdasarkan manfaatnya. Contoh: Tumbuhan dikelompokkan menjadi tanaman obat-obatan, tanaman sandang, tanaman hias, tanaman pangan dan sebagainya
    4. Berdasarkan jenis makanannya. Contoh: Hewan dikelompokkan menjadi hewan pemakan daging (karnivora), hewan pemakan tumbuhan (herbivora), dan hewan pemakan hewan serta tumbuhan (omnivora).
  • Secara umum, cara pengelompokan makhluk hidup seperti ini dianggap kurang sesuai. Hal ini disebabkan karena dalam pengelompokan makhluk hidup dengan cara demikian dibuat berdasarkan keinginan orang yang mengelompokkannya.
    Adapun species (jenis) puyuh yang umum dibudidayakan adalah Coturnix coturnix japonica dengan systematic zoology (Klasifikasi Ilmiah) sebagai berikut :
  • 1.4.  Ciri-ciri Burung Puyuh
    Burung puyuh adalah unggas daratan yang kecil namun gemuk dan merupakan salah satu burung kecil dari famili phasianidae dengan panjang rata-rata mencapai 7 inci. Mereka pemakan biji-bijian namun juga pemakan serangga dan mangsa berukuran kecil lainnya. Mereka bersarang di permukaan tanah, dan berkemampuan untuk lari dan terbang rendah (tidak bisa terbang tinggi) kecuali jika terganggu namun dengan jarak tempuh yang pendek. Burung Puyuh mempunyai kemampuan hidup bersosial dengan baik. Pada umumnya Burung Puyuh betina mulai bertelur pada umur 50 hari walau dewasa tubuh baru umur 70 hari.
    Beberapa spesies seperti puyuh jepang adalah migratori dan mampu terbang untuk jarak yang jauh.Puyuh jepang diternakkan terutama karena telurnya.
    Bangsa puyuh bobwhite (colinus virginianus) di Amerika Utara sering disebut sebagai quail, tetapi di amerika selatan disebut dengan nama partridge. Semua puyuh berukuran pendek, gemuk, bulat dengan kaki-kaki yang kuat, dan bulunya tertutup oleh warna cokelat bercak-bercak putih hitam.
    Ciri-ciri umum Burung Puyuh adalah sebagai berikut:

    1. Jenis burung yang tidak bisa terbang, kecuali akan terbang rendah jika dalam keadaan terancam.
    2. Ukuran tubuh relatif kecil.
    3. Berkaki pendek dan dapat diadu.
    4. Produksi telurnya 200-300 butir/ tahun
    5. Berat telurnya sekitar 10 gram
    6. Berat puyuh dewasa sekitar 140 gram
  • 1.5.  Tujuan Pemeliharaan
    Berdasarkan pemanfaatannya, maka ada 3 jenis Burung Puyuh yang dipelihara yaitu Burung Puyuh Petelur, Pedaging dan Hias.
    Beberapa contoh Puyuh yang populer dipelihara oleh masyarakat, yaitu :

    1. Coturnix coturnix japonica
      Puyuh coturnix coturnix japonica merupakan jenis puyuh petelur yang populer karena tergolong produktif. Jumlah telur yang dihasilkan mencapai 250 – 300 butir per tahun.
      Ciri-ciri puyuh jantan adalah bulu-bulu bagian atas kerongkongan dan dada berwarna coklat muda merata. Puyuh muda mulai berkicau/berkokok pada umur 5-6 minggu. Selama puncak musim kawin normal, maka puyuh jantan akan berkicau setiap malam.
      Pada puyuh betina dewasa warnanya mirip dengan puyuh jantan, akan tetapi pada kerongkongan dan dada bagian atas berwarna lebih terang dan dihiasi totol-totol coklat tua. Pada umumnya ukuran badan betina lebih besar daripada puyuh jantan.
    2. Coturnix chinensis
      Di Indonesia, puyuh Coturnix chinensis dinamakan Puyuh pepekoh. Tubuhnya mungil karena panjangnya hanya 15 cm. Puyuh jantan berwarna hitam pada bagian tenggorokannya dan terdapat garis lebar berwarna putih. Perutnya berwarna coklat dan pada bagian sisi dada kiri dan kanan badannya terdapat bulu yang berwarna abu-abu kebiruan. Oleh karena itu jenis puyuh ini dinamakan blue brested quail. Pada bagian punggung berwarna coklat bercampur abu-abu dengan garis putih kehitaman. Di bagian samping kepala dan dada, pinggul serta bawah ekor berwarna biri. Kakinya berwarna kuning, matanya coklat dan paruhnya hitam. Puyuh betina berwarna lebih muda yaitu coklat muda pada bagian muka, dada dan perut dengan garis kehitaman. Pada bagian kerongkongannya berwarna keputih-putihan. Suaranya seperti peluit ”Tir”Tir”Tir”….”Tir.
    3. Arborophila javanica
      Di Indonesia puyuh Arborophila javanica dikenal dengan nama puyuh gonggong jawa. Puyuh ini berukuran sedang, panjangnya sekitar 25 cm.
      Bulunya berwarna kemerah-merahan dan pada bagian kepalanya terdapat tanda berbentuk cincin yang berwarna hitam. Ekornya melengkung ke bawah dan berwarna keabu-abuan. Sayap berwarna kecoklatan dengan totol-totol hitam dan pada perut bagian bawah berwarna coklat kemerahan. Mata dan kakinya berwarna merah, sedangkan paruhnya berwarna hitam. Suaranya seperti kereta api yang terdengar keras dan monoton.
    4. Rollulus roulroul
      Puyuh Rollulus roulroul tergolong puyuh hias. Badannya berbentuk bulat dan panjangnya mencapai 25 cm. Jenis puyuh ini dapat ditemukan di hutan-hutan Kalimantan, Sumatra, Malaysia dan Thailand.
      Puyuh Jantan mempunyai jambul berbentuk mahkota yang berwarna merah, tetapi pada pangkalnya berwarna putih. Itulah sebabnya puyuh ini dinamakan puyuh mahkota. Matanya merah dan dikumis hitam yang mencuat ke atas. Paruhnya pendek berwarna merah dan pada bagian ujungnya berwarna hitam. Bulu badannya berwarna hijau dengan warna kebiru-biruan pada ekor, punggung, dada dan perut. Lehernya berwarna biru tua kehitaman, sedangkan sayapnya berwarna coklat bercampur coklat kehitaman. Kakinya berwarna merah tua.
      Puyuh betina tidak mempunyai mahkota. Seperti pada puyuh jantan, mata puyuh betina berwarna merah dan dilingkari warna merah terang. Bulu badannya dari leher hingga ekor berwarna hijau dengan sayap berwarna kecoklatan. Paruhnya berwarna hitam. Baik jantan maupun betina mempunyai suara seperti siulan menlengking.
    5. Turnix succinator (barred button quail)
      Di Indonesia puyuh Turnix succinator (barred button quail) dikenal dengan nama puyuh tegalan loreng. Ukuran tubuhnya kecil dan panjangnya hanya 16 cm. Jenis puyuh ini banyak ditemukan di rerumputan dan habitat terbuka. Makanan berupa rumput-rumputan, biji-bijian, daun-daunan, serangga dan tempayak.
      Puyuh jantan mempunyai ciri adanya mahkota yang berbercak coklat. Bagian muka dan dagu berbintik putih, sedangkan bagian dada bergaris hitam. Puyuh betina ukuran tubuhnya lebih besar daripada puyuh jantan. Dagu dan kerongkongannya berwarna hitam. Kepalanya berwarna abu-abu berbercak putih dengan mahkota yang berwarna kehitaman. Baik puyuh jantan maupun betina bulu bagian atas tubuhnya berbintik coklat, sedangkan bagian bawahnya berwarna kuning coklat. Paruh dan kakinya berwarna abu-abu. Suara berbunyi ”krrrrr”.
  • 1.6.  Manfaat
    Manfaat Pemeliharaan Burung Puyuh, antara lain :

    1. Menghasilkan telur Konsumsi
    2. Telur puyuh mengandung 13,6% protein (ayam 12,7%),lemak 8,24% (ayam 11,3%).
    3. Menghasilkan daging
    4. Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
    5. Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.
  • 1.7. Sentra Peternakan
    Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
  • 1.8. Periode Pemeliharaan
    Pemeliharaan puyuh Petelur dikelompokan dalam 3 periode pemeliharaan, yaitu :

    1. Periode starter (1 hari – 3 minggu),
    2. Periode grower (3-7 minggu), dan
    3. Periode layer (7 minggu-apkir)
  • Sedangkan untuk puyuh Pedaging / Potong dalam 2 periode yaitu Fase Starter dan Fase Finisher.
  • 1.9. Budidaya Burung Puyuh
    A. Syarat Teknis Budidaya Burung Puyuh
    Sebelum usaha beternak dimulai, seorang peternak wajib memahami 3 (tiga) unsur produksi yaitu: manajemen (pengelolaan usaha peternakan), breeding (pembibitan) dan feeding (makanan ternak/pakan)

    • 1)  Persyaratan lokasi
      § Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
      § Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
      § Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
      § Bukan merupakan daerah sering banjir
      § Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
    • 2)  Penyiapan Sarana dan Peralatan (Perkandangan)
      Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang.
    • 3)  Kandang
      Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Dengan bentuk sangkar ini maka kandang dapat disusun  3-4 tingkat
    • Kandang sistem litter
      Sistem litter mempunyai kelebihan antara lain :

      1. Hemat tenaga dan praktis karena tidak membersihkan setiap hari
      2. Merupakan sumber vitamin B12
      3. Dasar kandang tidak cepat rusak
      4. Kesehatan kaki puyuh terjamin
      5. Kehangatan merata
      6. Dapat menyerap kotoran dan air
      7. Mengurangi kanibalisme karena puyuh selalu mengkais.
    • Namun selain kebaikan, sistem litter juga memiliki kelemahan antara lain :
      1. Litter yang basah menyebabkan sumber penyakit
      2. Penggantian litter setiap penggantian penghuni.
      3. Karena puyuh suka mengkais maka wadah makanan sebaiknya diletakkan diluar kandang agar tidak penuh litter dan apabila terpaksa harus diletakkan dalam kandang, maka tempat pakan harus dirancang tidak mudah tercemar litter.
  • Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:
    (a) Kandang untuk induk pembibitan
    Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 20 cm2
  • (b) Kandang untuk induk petelur
    Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama
  • (c) Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
    Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh
  • (d) Kandang puyuh grower (3-6 minggu) & layer (lebih dari 6 minggu)
    Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram
    Kepadatan kandang juga perlu diperhatikan. Kandang sangat berperan terhadap daya hidup, produksi puyuh dan biaya produksi. Perlengkapan dan peralatan kandang puyuh yang diperlukan berupa wadah pakan, wadah minum dan tempat telur. Kandang starter (1-3 minggu) perlu dilengkapi dengan pemanas (brooder)
  • 4) Peralatan
    Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan
  • Kesimpulan dari Persiapan Sarana dan Peralatan terdiri dari :
    a.Fasilitas-fasilitas pokok yang dibutuhkan antara lain :

    1. Rumah induk
    2. Kandang pembesaran
    3. Kandang teluran
  • b.Fasilitas-fasilitas pendukungnya antara lain :
    1. Tempat minum pembesaran
    2. Nampan untuk pakan pembesaran
    3. Sambungan listrik untuk rumah induk dan kandang pembesaran
    4. Lampu-lampu
    5. Paralon-paralon untuk makan dan minum di kandang teluran
    6. Ember minum, ember pakan, ciduk, dll
    7. Tampungan air jika diperlukan.
  • c.Fasilitas tambahannya, yaitu septik tank untuk pembuangan kotoran.
  • B. Bibit
    1)  Peyiapan Bibit
    Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan. Secara umum cara pemilihan bakalan sama dengan pemilihan bakalan pada ayam atau itik, yaitu dipilih berdasarkan kemampuan induknya. Parameter yang dilihat yaitu kemampuan produksi, kemampuan untuk tumbuh, serta penampilan eksterior. Penampilan eksterior dilihat dari masing-masing individu dengan indikasi sehat, tidak cacat dan lincah.
  • Ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
    1.  Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari karier penyakit. Puyuh ketam adalah jenis puyuh dengan warna bulu pada punggung hitam bintik putih.
    2.  Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran
    3.  Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina jenis ketam yang baik produksi telurnya (Kemampuan bertelurnya cukup tinggi yaitu sekitar 300 butir per tahun) dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik. Awal bertelur puyuh terjadi pada umur 50 hari dengan lama penetasan 16-18 hari.
  • C. Pakan
    Pada keadaan aslinya, makanan burung puyuh adalah biji-bijian, daun-daunan dan serangga. Pada pemeliharaan secara intensif maka makanan harus tersedia lengkap. Makanan puyuh diberikan secara ad libitum dengan kandungan energi metabolis sekitar 2900 kkal/kg dan diperkirakan konsumsi untuk puyuh dewasa 20 gr/ hari.Fase starter (0-3 minggu) kandungan PK 24-28 %, Fase Grower (3-7 minggu) kandungan PK 20 %Fase Layer ( setelah umur 50 hari – 8 bulan) kandungan PK ± 24 %Sebagai potong, (setelah 8 bulan), maka PK ± 20 %.

    • Pemberian Pakan
      Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil mematuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
  • D. Pemeliharaan Kesehatan
    1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin
  • 2. Pengontrolan Penyakit
    Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup
  • 3. Pemberian Vaksinasi dan Obat
    Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh
  • E. Hama dan Penyakit
    1.Radang usus (Quail enteritis)
    Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
    Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berk yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul peradangan pada usus.
    Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
    Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
  • 2.Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
    Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
    Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang; (2) pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya
  • 3.Berak putih (Pullorum)
    Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
    Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
    Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo
  • 4.Berak darah (Coccidiosis)
    Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
    Pengendalian: (1) menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; (2) dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
  • 5.Cacar Unggas (Fowl Pox)
    Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
    Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
    Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfeksi.
  • 6.Quail Bronchitis
    Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
    Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
    Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai
  • 7. Aspergillosis
    Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
    Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
    Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya
  • 8.Cacingan
    Penyebab: sanitasi yang buruk.
    Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
    Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya
  • F. PANEN
    a. Hasil Utama
  • Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
    b. Hasil Tambahan
    Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.
  • G. PASCAPANEN
    a. Pemasaran
    Secara umum, para petani dan peternak di Indonesia cukup mumpuni dalam berproduksi. Yang menjadi kendala kemudian ialah kurang atau tidak adanya pemasaran. Berdasarkan Artikel di Majalah Trubus, Bahwa di Negara Thailand ada kementrian pemasaran hasil-hasil pertanian, sehingga petani sebagai prosuden tidak lagi khawatir kalau sampai tidak bisa memasarkan hasil pertaniannya dengan keuntungan yang sesuai.
    Negara Indonesia sebagai negara agraris yang lebih luas daripada Thailand barangkali dalam Departemen Pertaniannya ada juga bagian yang mengurusi masalah pemasaran hasil-hasil pertanian. Namun sampai saat ini belum ada realitas yang maksimal dari bagian pemasaran tersebut, khususnya yang membela kepentingan para peternak kecil dan menengah.
    Dalam usaha burung puyuh petelur, pada umumnya pemasaran hasil dilakukan dengan jalan Pola Kemitraan antara Peternak sebagai plasma dan Pelaku Pemasaran sebagai inti.
  • b. Kuliner
    Keluarga burung puyuh termasuk jenis burung yang sering dimakan. Burung puyuh sering dimasak ala Prancis. Daging burung puyuh juga biasa ditemukan pada masakan Malta, Portugis, dan India. Burung puyuh umumnya dimakan bersama dengan tulangnya karena mudah dikunyah dan karena ukurannya yang kecil sangat menyulitkan untuk mengeliminasi tulang dari dagingnya.
    Telur burung puyuh juga merupakan makanan yang lezat. Seringkali mereka dimakan mentah bersama sushi dan umum ditemukan pada menu makan siang Jepang. Di Kolombia, telur burung puyuh rebus digunakan untuk pelengkap hot dog dan hamburger. Di Filipina, telur burung puyuh yang direbus dan dicelup dengan saus lalu digoreng dengan banyak minyak adalah jajanan lokal yang populer.
    Telur burung puyuh dipercaya memiliki kolesterol yang tinggi, namun penelitian menunjukkan bahwa kandungan kolesterol yang terdapat pada telur burung puyuh adalah sama dengan telur ayam.
  • Aneka makanan berbahan dasar dari Telur Puyuh, antara lain :
    Cara membuatnya: Goreng telur puyuh rebus dan sisihkan. Tumis bawang merah dan putih di minyak sisa menggoreng telur hingga harum. Masukkan kembali telur dan tambahkan sayurannya. Aduk hingga rata. Masukkan kaldu ayam, dan beri garam dan merica. Masak hingga kuah mendidih dan angkat. (sumber: resepmasakanindonesia)
  • 2. SAMBAL GORENG TEMPE DENGAN TELUR PUYUH.
    Sambal Goreng Tempe dengan Telur Puyuh, enak, lezat dan istemewa. Jadikkan Sambal goreng tempe dengan telur puyuh menjadi menu istemewa menyambut tamu.
  • 3. TELUR PUYUH BOLA DAGING.
    Telur Puyuh Bola Daging, lezat dan istemewa. Telur Puyuh Bola Daging dapat dijadikan menu menyambut tamu spesial
  • 4. SAMBAL GORENG TELUR PUYUH.
  • 5. ACAR TELUR PUYUH
  • 6. ASEM-ASEM TELUR PUYUH.
  • 7. SATE TELUR PUYUH
  • 8.KALIO CUMI TELUR PUYUH (PADANG)
  • H. Kerangka Analisis Usaha Budidaya
    1)  Investasi
    ≈  kandang ukuran 9×0,6×1,9 m (1 jalur + tempat makan dan minum)
    ≈  kandang besar
    2)  Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)
    a. Day Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ)
    b. Obat (Vitamin + Vaksin)
    c. Pakan (selama 60 hari)
    d. Jumlah biaya produksi
    Keadaan puyuh:
    a. Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)
    b. Resiko mati 5%, sisa 1900
    c. Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina
    d. Setelah 2 bulan harga puyuh bibit betina dan jantan
    e. Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan
    3)  Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)
    a. DOQ
    b. Obat (vitamin dan Vaksinasi)
    c. Pakan (sampai dengan umur 3 minggu)
    d. Pakan (s/d minggu ke 4) betina …. ekor dan …. ekor jantan
    e. (25% jantan layak bibit)
    Jumlah biaya produksi
    Keadaan puyuh:
    a. Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, ∑ telur …… butir
    b. Hasil telur
    c. Puyuh betina bibit
    d. Puyuh jantan bibit
    e. Puyuh jantan afkiran
  • 4) Keuntungan dari hasil penjualan
    5) Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)
  • ≈  Biaya untuk umur 4-8 bulan
    6) Pendapatan
    a. Hasil telur (0,5 bulan)
    b. Hasil puyuh afkir
    c. Hasil jantan afkir
    d. Hasil jantan afkir (2 bln)
    7) Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual      
    Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan bila beternak puyuh petelur, baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh bibit.
    Analisa usaha harus dihitung berdasarkan daftar harga-harga yang berlaku.
  • 1.10. DAFTAR PUSTAKA
    1. Bambang Suharno, Nazaruddin, 1994. Ternak Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.
    2. Nugroho, Drh. Mayen, 1981. Beternak burung puyuh. Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Udayana.
    3. Elly Listyowati, Ir. Kinanti Rospitasari. 1992. Puyuh, Tatalaksana Budidaya secara komersil. Penebar Swadaya, Jakarta.
    4. Muhammad Rasyaf, Ir. 1995. Memelihara burung puyuh. Penerbit Kanisius (Anggota KAPPI), Yogyakarta.
    5. Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. 1985. Beternak burung puyuh dan Pemeliharaan secara komersil. Penerbit Aneka Ilmu Semarang
  • 1.11. Umpan Balik
    1. Mengapa Usaha Budidaya Burung Puyuh cenderung untuk tujuan Produksi telur daripada untuk produksi daging. Jelaskan !.
    2. Bagaimanakah cara membedakan Burung Puyuh Jantan dengan Betina !.
    3. Jelaskan kelebihan dan kelemahan lantai kandang sistem Litter.
    4. Mengapa ukuran tinggi kandang pada Burung Puyuh harus mendapat perhatian yang serius. (Ukuran tinggi kandang yang ideal ± 40 cm).
    5. Mengapa Kandungan Protein Kasar (PK) pada pemeliharaan Burung Puyuh fase Grower lebih rendah dibandingkan dengan fase pemeliharaan yang lain. (Fase starter PK 24-28%, Grower PK 20 % dan Layer PK 24 %).
    6. Dalam pemeliharaan burung Puyuh harus memperhatikan aspek Breeding, Feeding dan Manajemen. Jelaskan keterkaitan ketiga hal tersebut khususnya pada Pembibitan Burung Puyuh !.
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Materi Kuliah dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke 01. Diktat Aneka Ternak-Puyuh

  1. anto wijaya berkata:

    kok copy paste saja tanpa menyertakan pustaka??? apakah itu cerminan seorang dosen

    • maaf didpn (di kata pengantar) sya mencantumkan bahwa materi ini khusus sy gunakan utk ngajar. Pada khususnya klu sy ngajar pasti sy cantumkan referensinya. Namun di upload sy sengaja tdk membeikan referensi karena sangat banyak pustakanya dan kadang-kadang bertentangan satu sama lainnya. Blog ini hanya utk sharing bukan utk mjd referesni baku dalam penulisan karya ilmiah. Mhn maaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s