Contoh Kuesioner Strategi Pemasaran Bakso

  • DAFTAR KUISIONER
  • Dengan hormat,
    • Dalam rangka Penelitian untuk menyusun Skripsi kami yang berjudul Strategi Pemasaran Bakso ………………………………….., maka dengan ini mohon Bantuan Bapak/Ibu/Saudara untuk memberikan Jawaban atas pertanyaan dengan jujur dan apa adanya.
    • Seluruh data yang diterima hanya digunakan untuk kepentingan analisis Skripsi dalam rangka penyelesaian Tugas Studi ……………………………… dan perumusan kesimpulan penelitian serta dijamin tidak akan digunakan untuk kepentingan Kantor Pajak dan atau Pungutan/Iuran lainnya.
    • Kami Sampaikan banyak terimakasih atas bantuan dan kesediaannya untuk mengisi Kuisioner ini.
    • Petunjuk :
      1. Jawablah Pertanyaan atau pilih salah satu jawaban pada tempat yang telah disediakan pada masing-masing pertanyaan.
      2. Apabila ada sesuatu yang kurang jelas bisa mengajukan pertanyaan pada kami.
  • I. IDENTITAS RESPONDEN
    1. Nama      : ………………………………………………………………
    2. Umur      : ………………………………………………………………
    3. Alamat
      • Dusun           : ………………………………………………………………
      • RT/RW         : ………………………………………………………………
      • Desa              : ………………………………………………………………
      • No Telepon : ………………………………………………………………
    4. Status      : a. Kepala Rumah Tangga
      •              b. Anggota Rumah Tangga
    5. Pendidikan     :  1. Tidak tamat SD         2. SD              3. SLTP
      •                        4. SLTA                          5. Perguruan Tinggi
    6. Pekerjaan Utama : 1. Petani          2. Peternak     3. Pegawai
      •                              4. Pensiunan   5. Pedagang    6. ………………………………………
    7. Pengalaman sebagai konsumen : …………………Tahun.
    8. Pendapat Anda tentang Bakso …………………………………………………………………………..
  • II. UNTUK KONSUMEN 
    1. Jumlah uang yang dikeluarkan per bulan untuk belanja bakso daging sapi: ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
    2. Jumlah bakso daging sapi yang dibeli dalam satu bulan : ………………………….bendet
    3. Jenis bakso daging sapi yang sering dibeli dalam satu bulan (boleh diisi lebih dari 1 ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
    4. Pembelian pakaian biasanya dilakukan di (boleh diisi lebih dari 1 jawaban): …………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
  • III. UNTUK KONSUMEN PELANGGAN
    • Tabel di bawah ini menunjukan setiap variabel dalam produk Bakso Daging Sapi yang sudah ada saat ini. Pada kolom bagian 1 responden dapat memberikan penilaian atas tingkat kepentingan variabel tersebut bagi konsumen, kemudian pada kolom bagian 2 responden dapat memberikan penilaian atas performansi produk saat ini.
    • kuis-1
  • PEDOMAN WAWANCARA SWOT
  • I. Perusahaan X
  • A. Faktor Internal Perusahaan (Strength & Weakness)
    1. Kultur Organisasi
      • Bagaimana kultur organisasi yang ada di dalam perusahaan ?
    2. Fungsi Manajemen
      • Bagaimana kemampuan perusahaan dalam merencakan strategi peraturan dan tujuan perusahaan?
      • Bagaimana struktur organisasi perusahaan serta deskripsi dan spesifikasi pekerjaan di dalam perusahaan?
      • Apakah pihak manajemen mampu memotivasi para karyawan?
      • Bagaimana kemampuan personalia dalam melakukan setiap tugasnya?
      • Bagaimana kemampuan dalam mengarahkan hasil agar sesuai dengan perencanaan?
    3. Finansial dan akuntansi
      • Bagaimana kemampuan dalam menentukan investasi dalam perusahaan?cth : alokasi modal dalam sebuah proyek
      • Bagaimana kemampuan dalam menentukan keputusan mengenai finansial perusahaan?cth : metode dalam menaikkan modal perusahaan
      • Bagaimana kondisi keuangan perusahaan?
    4. Fungsi Produksi
      • Bagaimana fasilitas produksi yang dimiliki perusahaan saat ini?
      • Apakah kapasitas produksi perusahaan telah mencukupi kebutuhan produksi saat ini?
      • Bagaimanakah kebijakan inventory yang diterapkan oleh perusahaan?
      • Bagaimanakah kemampuan tenaga kerja produksi dalam menghasilkan barang-barang?
      • Bagaimana kualitas barang yang dihasilkan oleh pabrik?
    5. Research and Development
      • Apakah perusahaan memiliki bagian R&D baik secara internal maupun eksternal? apakah hal tersebut menjadi sebuah kelemahan atau kekuatan perusahaan saat ini?
    6. Sistem Informasi Manajemen
      • Bagaimana SIM perusahaan saat ini ?
    7. Value Chain
      • Bagaimana tata cara memperoleh bahan baku di perusahaan?
      • Bagaimana pengembangan fasilitas pabrik saat ini?
      • Bagaimana desain produk saat ini?
      • Apakah terdapat fasilitas pelayanan konsumen di perusahaan saat ini?cth : hotline konsumen,dll
    8. Fungsi Pemasaran
      • Apakah perusahaan memiliki kemampuan untuk menganalisis konsumen (cth : segmentasi, selera konsumen, daya beli, dll)
      • Bagaimanakah kemampuan perusahaan dalam melakukan penjualan produk-produk ?
      • Bagaimanakah kemampuan bagian marketing dalam melakukan riset pemasaran?
      • Bagaimanakah kebijakan perusahaan terhadap harga jual terhadap konsumen?
      • Bagaimana jalur distribusi yang dimiliki perusahaan saat ini?
  • B. Faktor Eksternal Perusahaan (Opportunities & Threat)
    1. Pesaing Industri
      • Bagaimana pengaruh dari banyaknya merek lain di dalam segmen yang sama dari perusahaan lain?
      • Apakah pengaruh dari produk non-merek sebagai pesaing ?
    2. Pendatang Baru
      • Apakah industri Bakso daging sapi mudah dimasuki oleh pendatang baru?
      • Apakah pengaruh kemunculan outlet-outlet yang ada di kota ?
      • Apakah pengaruh dari banyaknya Factory Outlet di kota?
    3. Environment
      • Apakah posisi Desa dan kota sebagai pusat pemasaran?
      • Apakah jumlah penduduk serta kemampuan daya beli masyarakat memiliki pengaruh terhadap produk?
    4. Pemasok
      • Bagaimana kualitas barang bahan baku yang diberikan pemasok ke perusahaan?
      • Bagaimana ketepatan waktu pengiriman bahan baku ke perusahaan?
      • Bagaimana tata cara pembayaran bahan baku dengan pemasok?terutama dalam kekuatan tawar perusahaan
    5. Pembeli
      • Bagaimana kondisi kerjasama perusahaan dengan pihak konsumen langsung maupun tidak langsung ?
      • Bagaimana sistem konsinyasi yang dipakai oleh perusahaan?
      • Bagaimana posisi tawar perusahaan terhadap konsumen tidak langsung?
    6. Produk Pengganti
      • Apakah terdapat produk pengganti bagi bakso daging sapi?
      • Bagaiamana pengaruh perubahan produk (bahan baku dan kemasan serta harga) didalam indutri ini?
      • Bagaimana pengaruh konsumen yang membuat sendiri baksonya terhadap bisnis perusahaan?
  • kuis-2kuis-3kuis-4
  • 2a-55
Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

SOP (Standart Operating Prosedure)

  • Pendahuluan
    1. Bidang Layanan Kerja dalam suatu Organisasi melalui Tujuannya menyebutkan bahwa mengedepankan pelayanan prima kepada stakeholders, baik stakeholders internal maupun eksternal.
    2. Namun, tujuan yang amat luhur ini masih terkendala oleh berbagai faktor antara lain oleh inefisiensi dalam melayani stakeholders serta banyaknya keluhan stakeholders tentang lambatnya pelayanan.
    3. Dalam rangka mencapai pelayanan prima, yang ditandai oleh kepuasan stakeholders, adanya akuntabilitas publik dll maka perlu dilakukan evaluasi sejauh mana prosedur kerja telah dirancang, dilaksanakan dan direvisi serta bagaimana pelaksanaan SOP di lingkungan kerja.
    4. Bidang Kerja Organisasi bertekad untuk menerapkan prinsip-prinsip Tata Pamong yang baik (good governance), sehingga diharapkan akan mendorong terbentuknya manajemen kerja yang lebih efisien, dan terbentuknya profesionalisme.
    5. Untuk mencapai kondisi tersebut, maka perlu adanya evaluasi  SOP yang telah ada dan merevisinya jika diperlukan, dan membuat SOP baru jika memang belum ada.
    6. Kata kunci utama dalam pembuatan SOP adalah disusun berdasarkan kebutuhan stakeholders, baik internal maupun eksternal.
  • Apa itu SOP?
    • Standard Operating Procedure (SOP) merupakan satu set pedoman dalam suatu organisasi yang menjelaskan prosedur kegiatan rutin. SOP sangat dibutuhkan oleh suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien.
    • Sebelum membuat SOP, maka pada :
      1. Tingkat pertama Bidang Kerja  harus membuat kebijakan mutu layanan yang biasanya tertuang dalam visi, misi, dan Renstra Organisasi, yang kemudian dituangkan dalam ”quality manual” atau “Mannual Mutu”.  Quality manual memuat kebijakan kualitas dan memberikan tinjauan umum dari proses-proses inti dalam suatu organisasi.
      2. Kebijakan mutu kemudian dijabarkan ke dalam SOP-SOP (tingkat kedua). SOP adalah prosedur-prosedur standard yang mendefinisikan bagaimana eksukusi berbagai tanggungjawab dari unit terkait yang relevan dengan investigasi mutu layanan.
      3. Agar SOP dapat dilaksanakan, maka perlu dibuat jabaran SOP secara teknis yang tertuang dalam instruksi kerja dalam suatu unit kerja (tingkat ke 3).
      4. Pada tingkat terakhir (tingkat ke 4) dapat dibagi menjadi dua.
        1. Bagian pertama meliputi formulir-formulir yang diperlukan untuk mendukung kegiatan layanan di Bidang Kemahasiswaan UNISKA, serta dokumen-dokumen pendukung terkait.
        2. Bagian kedua meliputi records yang berfungsi sebagai bukti bahwa langkah-langkah inti dari mutu layanan telah terpenuhi. Records berguna untuk analisis data dan peningkatan layanan yang berkesinambungan.
  • Manfaat SOP
    1. Dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan pelaksanaan suatu pekerjaan di Bidang Kerja
    2. Dapat digunakan sebagai sarana  acuan dalam melakukan penilaian terhadap proses layanan di Bidang Kerja
    3. Dapat digunakan sebagai sarana pelatihan bagi staf baru sehingga mengurangi waktu yang terbuang untuk memberikan pengarahan.
    4. Dapat digunakan sebagai sarana mengendalikan dan menggantisipasi apabila terdapat suatu perubahan sistem di Bidang Kerja
    5. Dapat digunakan sebagai sarana Audit Sistem Informasi di Bidang Kerja
  •  Pembuatan SOP
    1. Penilaian kebutuhan SOP
      • Langkah pertama dalam membuat SOP adalah penilaian kebutuhan SOP Bidang Kerja.
        1. Jika di suatu bagian/sub bagian belum ada SOP-nya, maka pertanyaan yang perlu dicarikan jawabnya adalah ”SOP apa yang dibutuhkan oleh suatu bagian/sub bagian/ Bidang Kerja?
        2. Jika sudah ada SOP pertanyaannya adalah ”Apakah SOP yang telah ada mampu memenuhi kebutuhan organisasi Bidang Kerja?
    2. Pengembangan SOP
      • Langkah-langkah pengembangan adalah sebagai berikut:
        1. Pembentukkan tim dan kelengkapannya
        2. Pengumpulan informasi dan identifikasi alternatif.
        3. Analisis dan pemilihan alternatif.
        4. Penulisan SOP.
        5. Pengujian & Review SOP
        6. Pengesahan SOP
  • SOP-1
  • Pengumpulan informasi dan data yang diperlukan untuk membuat SOP dapat dilakukan melalui Brainstorming, Focus Group, Wawancara, Survey, Benchmark dan Telaah Dokumen.
    1. Pada tahap awal ini, maka perlu dipahami apa saja Tupoksi yang ada di Bidang Kerja ?
    2. Perlu diidentifikasi jumlah layanan yang ada di Bidang Kerja
    3. Setiap jenis layanan dapat menjadi SOP tersendiri, atau dapat pula jenis layanan yang sejenis/berkesinambungan dikelompokkan. Kemudian, layanan yang sudah dikelompokkan dibuatkan SOP-nya.
    4. Identifikasi apakah layanan telah sejalan dengan tupoksi?
    5. Identifikasi apakah di Bidang Kerja sudah ada SOP-nya?
    6. Jika sudah ada, maka :
      1. Apakah sudah sesuai dengan  visi-misi dan Tujuan Bidang Kerja yaitu memberikan pelayanan prima?
      2. Apakah layanan di Bidang Kerja sudah sesuai dengan kebutuhan stakeholders?
      3. Apakah layanan yang dilakukan telah efisien dan efektif?
      4. Adakah masalah dalam kegiatan layanan di Bidang Kerja ?
      5. Efektifkah prosedur yang telah ada?
      6. Bandingkan dengan prosedur di tempat lain?
      7. Jika ada masalah, bagaimana prosedur-prosedur itu seharusnya berdasarkan data dan informasi yang ada?
      8. Dan lain-lain!
    7. Setelah kita mengumpulkan informasi dan data yang dibutuhkan serta telah mengidentifikasi apa yang terjadi, apa akar masalahnya, maka :
      • Tahap selanjutnya adalah menganalisis dan memilih alternatif-alternatif prosedur (untuk memecahkan akar masalah dalam layanan) yang berhasil diidentifikasi untuk dibuatkan standardnya.
      • Dalam tahap ini
        1. kita menganalisis kelayakan prosedur: realistik? Implikasinya? Reaksi yang mungkin timbul? Dll!,
        2. Implementasi: dapat diimplementasikan? Perlu training? Perlu sarana/prasarana baru? Perlu jabatan baru? Dll.,
        3. Kesesuaian dengan peraturan perundang-undangan,
        4. kelayakan politis: mencerminkan aspek akuntabilitas? Mempengaruhi citra Bidang Kerja ? Dll. Hasil kegiatan ini dapat dilokakaryakan untuk mendapatkan masukan dari berbagai pihak.
      • Setelah dianalisis maka :
        1. Tahap berikutnya adalah pembuatan SOP.
        2. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan sebelum membuat SOP yaitu tentang apa tipe SOP yang akan dibuat, format SOP yang dipilih.
        3. Seperti yang telah disampaikan sebeumnya bahwa setiap jenis layanan dapat dibuatkan SOP-nya, tetapi dapat pula layanan sejenis dikelompokkan  kemudian dibuat SOP-nya.
        4. Untuk cara yang terakhir, SOP disusun dalam bentuk modul. Jika terdapat 10 layanan, maka dalam satu SOP terdiri dari 10 modul.
        5. Modul dalam SOP terdiri dari nama modul, tujuan, ruang lingkup, referensi, sarana, prosedur kerja, flowchart & lampiran.
        6. Format SOP bervariasi. Tidak ada format baku yang wajib dianutnya.
      • Pada umumnya SOP (adminsitrasi) mempunyai kelengkapan sebagai berikut:
        1. Sistem penomoran: penting untuk pengintegrasian SOP individual ke dalam  seluruh sistem.
        2. Kategori SOP: misal penanganan data (DATA), administrasi (ADM).
        3. Tanggal efektif: tanggal dimana SOP secara resmi digunakan.
        4. Tanggal revisi: tanggal diperlukannya revisi secara periodik jika diperlukan.
        5. Halaman judul: judul, nomor identifikasi SOP, tanggal pembuatan/revisi, tanda tangan dan tanggal penandatanganan oleh pejabat.
        6. Daftar isi
        7. Prosedur terdiri atas:
          • tujuan,
          • dapat diterapkan: mengidentifikasikan kapan prosedur yang telah disusun harus dilaksanakan,
          • ringkasan,
          • definisi: mengidentifikasi beberapa definisi yang digunakan dalam SOP terkait,
          • kualifikasi personel: mengidentifikasi beberapa kualifikasi yang harus dimiliki oleh pengguna,
          • kriteria, checklist atau standard lain yang harus diterapkan: menidentifikasi semua langkah langkah dan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk menunjang prosedur,
          • pencatatan: mencatat format yang digunakan, lokasi tempat file, dsb. Dapat pula dibuatkan latar belakang pembuatan SOP sebelum menulis tujuan.
          • Kontrol kualitas dan jaminan kualitas: menggambarkan beberapa langkah pengawasan dalam proses pengiriman atau penerimaan suatu produk.
          • Referensi
  • Adalah penting bahwa sebelum membuat SOP, maka :
    • Bidang Kerja perlu membuat SOP untuk pembuatan SOP di lingkungan Bidang Kerja. 
    • Hal ini bertujuan agar terdapat keseragaman format dalam pembuatan SOP di Bidang Kerja .
  • Contoh-contoh SOP Bidang Kemahasiswaan
    1. SOP Kegiatan Mahasiswa
    2. SOP Pembinaan ORMAWA
  • Terimakasih dan semoga bermanfaat.
Dipublikasi di Uncategorized | Tag | Meninggalkan komentar

Contoh Kuisioner Analisis Produktivitas Ayam Pedaging Pola Kemitraan

  • DAFTAR KUISIONER
  • Dengan hormat,
  • Dalam rangka Penelitian untuk menyusun Laporan Penelitaian kami yang berjudul : Analisis Produktivitas Usaha Peternakan Ayam Pedaging Pola Kemitraan Perusahaan Pengelola di …………………………………………………………………….., maka dengan ini mohon bantuan Bapak/Ibu/ Saudara/i untuk memberikan jawaban atas pertanyaan dengan jujur dan apa adanya.
  • Seluruh data yang diterima hanya digunakan untuk kepentingan analisis Penelitian dalam rangka penyelesaian …………………………………………………………………………..dan perumusan kesimpulan serta dijamin tidak akan digunakan untuk kepentingan Kantor Pajak dan atau Pungutan Iuran lainnya.
  • Kami sampaikan banyak terimakasih atas bantuan dan kesediaannya untuk mengisi kuisioner ini.
  • Petunjuk :
    1. Jawablah pertanyaan atau pilih salah satu jawaban pada tempat yang telah disediakan pada masing-masing pertanyaan.
    2. Apabila ada sesuatu yang kurang jelas bisa mengajukan pertanyaan pada kami.
  • tesis-6
  • II. PROFIL USAHA
    1. Lama Usaha
    2. Luas Lahan Usaha Peternakan Ayam Pedaging Pola Kemitraan
    3. Jumlah Tenaga Kerja
    4. Skala Usaha
    5. Penyuluhan
    6. Mortalitas
    7. Hasil Panen
    8. Tingkat Pendapatan
  • tesis-7tesis-8tesis-9tesis-10tesis-11tesis-12tesis-13tesis-14
  • Terimakasih dan Semoga Bermanfaat.
Dipublikasi di Tani-Ternak | Meninggalkan komentar

Contoh Perjanjian dan Addendum Program Kemitraan Ayam Pedaging

  • Contoh Surat Perjanjian Kontrak Kerjasama Usaha Peternakan Ayam Pedaging Pola Kemitraan Perusahaan Pengelola
  • PERJANJIAN KEMITRAAN   BUDIDAYA  AYAM  RAS  PEDAGING
  • Pada Hari ini ………………Tanggal…….Bulan……………Tahun….…..  (……-……-………..), yang bertanda tangan di bawah ini :
    1.        Nama               :
      • Pekerjaan        :
      • Alamat             :
      • Nomor KTP    :
      • Dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama diri sendiri, selanjutnya dalam perjanjian ini disebut dengan PIHAK PERTAMA
    2.     Nama               :
      • Alamat            :
      • Dalam hal ini bertindak dalam Kedudukannya selaku Direktur dari Perseroan Terbatas PT. ………………………………… berkedudukan di ………………………
      • Selanjutnya dalam perjanjian ini disebut dengan PIHAK KEDUA
  • Kedua belah pihak bertindak dalam kedudukannya tersebut di atas terlebih dahulu menerangkan :
    1. Bahwa PIHAK PERTAMA adalah Peternak yang bermaksud untuk memelihara/ membudidayakan ayam ras pedaging.
    2. Bahwa PIHAK KEDUA adalah Perusahaan yang mempunyai aktivitas usaha antara lain : dalam hal budidaya ayam ras pedaging menyediakan sarana untuk produksi ayam pedaging, antara lain berupa DOC, pakan ternak, obat-obatan serta peralatan peternakan
    3. Bahwa untuk keperluan tersebut, PIHAK PERTAMA memerlukan bantuan permodalan.
    4. Bahwa PIHAK KEDUA bersedia membantu PIHAK PERTAMA dan menunjuk PIHAK PERTAMA sebagai petani peternakan untuk memelihara ayam ras pedaging.
  • Atas dasar hal-hal tersebut di atas maka kedua belah pihak bermaksud mengadakan Perjanjian Kerja Sama dalam bidang Pemeliharaan Ayam Ras Pedaging yang diatur dengan Ketentuan dan Syarat-syarat sebagai berikut :
  • Pasal 1
  • RUANG LINGKUP PERJANJIAN
  • PIHAK KEDUA menunjuk PIHAK PERTAMA sebagai Petani Peternak untuk memelihara ayam ras pedaging, dengan sarana produksi peternakan berupa Bibit Ayam (DOC), pakan ayam dan obat-obatan yang dijual secara Kredit oleh PIHAK KEDUA, dan merupakan Hutang PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA, yang pembayarannya akan diperhitungkan dengan hasil panen PIHAK PERTAMA. Selama Hutang PIHAK PERTAMA belum dibayar Lunas, maka sarana produksi peternakan tersebut masih tetap menjadi Milik PIHAK KEDUA.
  • Pasal 2
  • LOKASI KERJASAMA
  • Kerjasama ini akan mengambil tempat di Kandang Milik PIHAK PERTAMA yang terletak di Desa ……………………………Kecamatan ………………………Kabupaten………………….. yang setempat dikenal sebagai Tanah Milik ………………………………..sebagaimana tertera dalam………………………………………………………………………………………
  • Pasal 3
  • HAK DAN KEWAJIBAN PIHAK PERTAMA
  • Dalam Perjanjian ini, Hak dan Kewajiban PIHAK PERTAMA adalah :
    1. Atas biaya sendiri membangun/menyediakan kandang ayam berikut perlengkapannya serta tenaga kerja yang diperlukan menurut saran-saran serta petunjuk yang diberikan oleh PIHAK KEDUA berikut dengan perlengkapannya serta tenaga kerja yang diperlukan untuk pemeliharaan ayam ras pedaging tersbut secara atau dalam bentuk dan syarat-syarat yang memadai menurut penilaian PIHAK KEDUA.
    2. Melaksanakan kegiatan operasional budidaya ayam ras pedaging atas saran-saran dan petunjuk dari PIHAK KEDUA atau Kuasa yang ditunjuknya.
    3. Tidak diperkenankan untuk memindah tangankan sarana produksi peternakan yang disediakan oleh PIHAK KEDUA kepada pihak lain.
    4. Tidak diperkenankan untuk menambah ayam ras pedaging maupun mempergunakan sarana produksi peternakan yang lainnya selain yang disediakan oleh PIHAK KEDUA.
    5. Menyerahkan dan menjual seluruh hasil produksi/panen berupa ayam pedaging yang hidup dan sehat kepada PIHAK KEDUA pada waktu yang ditentukan untuk dipasarkan (dijual) dengan berpatokan pada harga pasar pada saat itu (sesuai kesepakatan).
    6. Membayar semua hutang kepada PIHAK KEDUA sebagai akibat pemakaian sarana produksi peternakan yang disediakan oleh PIHAK KEDUA.
    7. Berhak atas keuntungan dari penjualan hasil panen setelah dikurangi semua tanggung jawab kepada PIHAK KEDUA.
    8. Mengikuti semua petunjuk yang diberikan oleh PIHAK KEDUA atau kuasa (petugas) yang ditunjuk oleh PIHAK KEDUA.
    9. Tidak diperkenankan menjual hasil produksinya kepada pihak manapun juga selain kepada PIHAK KEDUA kecuali atas ijin PIHAK KEDUA.
    10. Bila terjadi berjangkitnya wabah atau penyakit ayam, maka dalam jangka waktu 12 (dua belas) jam, PIHAK PERTAMA harus segera melaporkan secara tertulis kepada PIHAK KEDUA, agar PIHAK KEDUA dapat dengan segera mengambil tindakan sedini mungkin untuk mengurangi kerugian / kematian yang lebih besar.
  • Pasal 4
  • HAK DAN KEWAJIBAN PIHAK KEDUA
  • Dalam perjanjian ini, hak dan kewajiban PIHAK KEDUA adalah :
    1. Menyediakan sarana produksi peternakan bagi PIHAK PERTAMA.
    2. Memberikan teknologi, pelayanan serta bimbingan teknis budidaya ayam ras pedaging kepada PIHAK PERTAMA sesuai dengan teknologi yang dimiliki PIHAK KEDUA.
    3. Dengan perantaraan kuasanya (pegawai/tenaga ahlinya), berhak mengadakan pengontrolan dan peninjauan sewaktu-waktu ke tempat lokasi pemeliharaan ayam ras pedaging serta sarana produksi peternakan yang disediakan oleh PIHAK KEDUA.
    4. Membeli hasil panen PIHAK PERTAMA sesuai dengan harga pasar pada saat itu.
    5. Membantu pelaksanaan administrasi kredit atau hutang-hutang PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA.
  • Pasal 5
  • PENYERAHAN SARANA PRODUKSI PETERNAKAN DAN RESIKO
  • Penyerahan Sarana Produksi Peternakan oleh PIHAK KEDUA sebagaimana ketentuan dalam Pasal 4 angka 1 perjanjian ini akan dilakukan oleh PIHAK KEDUAfrancodi tempat PIHAK PERTAMA di Desa ………………………………Kecamatan ……………………………. Kabupaten …………………………………………………
  • Pasal 6
  • Resiko atas penyerahan sarana produksi peternakan beralih kepada PIHAK PERTAMA sejak diserah terimakan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK PERTAMA dengan mengingat ketentuan Pasal 5 perjanjian.
  • Pasal 7
  • JUMLAH PENJUALAN KREDIT DAN CARA PEMBAYARAN
  • Selama berlakunya Perjanjian ini, PIHAK KEDUA bersedia memberikan Kredit kepada PIHAK PERTAMA berupa sarana produksi peternakan sampai dengan jumlah sebanyak-banyaknya Rp. ………………………………(……………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………..……), setiap periode pemeliharaan ayam ras pedaging dengan mengingat ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
    1. Pembelian secara kredit atas sarana produksi peternakan sampai dengan jumlah ayam ……………… ekor/periode pemeliharaan tersebut dapat diambil secara berangsur-angsur atau sesuai dengan kebutuhan riil pembudidayaan.
    2. Atas pembelian secara kredit berupa sarana produksi peternakan tersebut tidak dikenakan bunga oleh PIHAK KEDUA.
    3. Pembayaran kembali atas pembelian sarana produksi peternakan secara kredit harus dilakukan oleh PIHAK PERTAMA dengan cara menjual seluruh hasil panennya berupa ayam ras pedaging yang hidup dan sehat pada waktu yang telah ditentukan oleh PIHAK KEDUA kepada PIHAK KEDUA untuk dipasarkan/dijual dan diperhitungkan dengan hutang-hutang PIHAK PERTAMA berdasarkan harga pasar pada saat itu yang telah disepakati oleh kedua belah pihak pada setiap periode yaitu sebelum atau setelah pengiriman bibit ayam dan sarana produksi lainnya oleh PIHAK KEDUA.
    4. Selisih Harga dari Penjualan Hasil Produksi yang dibeli oleh PIHAK KEDUA dari PIHAK PERTAMA dengan pembelian sarana produksi peternakan secara kredit sepenuhnya menjadi hak dari PIHAK PERTAMA.
  • Pasal 8
  • Apabila terjadi kegagalan Panen, baik yang disebabkan karena berjangkitnya wabah penyakit atau karena sebab apapun, maka kerugian yang timbul karena kegagalan panen serta pembelian sarana produksi peternakan secara kredit oleh PIHAK PERTAMA, menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari PIHAK PERTAMA.
  • Pasal 9
  • MASA BERLAKUNYA PERJANJIAN
  • Perjanjian ini berlaku sejak ditandatanganinya perjanjian ini dan berlaku selama PIHAK PERTAMA masih menjadi Plasma/mitra PIHAK KEDUA dengan memperhatikan ketentuan Pasal 10 dan Pasal 11 Perjanjian ini.
  • Pasal 10
  • Apabila terjadi kerugian 1 (satu) kali periode pemeliharaan, maka PIHAK KEDUA secara sepihak dapat menghentikan pengiriman sarana produksi peternakan dan memutuskan/ menghentikan Perjanjian ini, dan atas Hutang-hutang PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA yang timbul karenanya harus sudah dilunasi oleh PIHAK PERTAMA dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari Kalender terhitung sejak diputuskannya/ dihentikannya Perjanjian ini oleh PIHAK KEDUA.
  • Pasal 11
  • PENGHENTIAN PERJANJIAN
    1. Menyimpang dari ketentuan Pasal 9 dan 10 Perjanjian ini, PIHAK KEDUA sewaktu-waktu berhak untuk menghentikan/memutuskan perjanjian apabila terjadi hal-hal sebagai berikut
    2. PIHAK PERTAMA tidak dengan tepat memenuhi kewajiban-kewajibannya menurut Perjanjian ini.
    3. PIHAK PERTAMA tidak atau lalai memenuhi atau mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan oleh PIHAK KEDUA.
    4. PIHAK PERTAMA menghentikan aktivitas usahanya sebagai petani peternak pemeliharaan ayam ras pedaging dari PIHAK KEDUA.
    5. PIHAK PERTAMA tidak berhak mengurus harta kekayaannya sendiri.
    6. PIHAK PERTAMA melakukan tindakan-tindakan tercela misalnya melakukan Pencurian ayam, atau tindakan-tindakan yang bertentangan dengan Perjanjian ini.
    7. PIHAK PERTAMA menyalahgunakan, memindahtangankan atau menjual sarana produksi peternakan yang diberikan PIHAK KEDUA.
    8. PIHAK PERTAMA terlibat atau melakukan tindak pidana yang mengakibatkan hukuman badan.
    9. Bilamana terjadi perubahan harga pasar (pada Lampiran) yang tidak disepakati oleh Kedua belah pihak.
    10. Tanpa sepengetahuan PIHAK KEDUA, PIHAK PERTAMA terbukti menambahkan ayam atau sarana produksi peternakan lain, selain yang telah disediakan oleh PIHAK KEDUA.
    11. PIHAK PERTAMA meninggal dunia atau cacat tetap atau menderita sakit yang berkepanjangan yang menurut penilaian PIHAK KEDUA yang bersangkutan tidak lagi mampu melaksanakan kewajibannya menurut Perjanjian ini, sedang PIHAK PERTAMA tidak mempunyai ahli waris yang mampu dan bersedia meneruskan pelaksanaan perjanjian ini. Dalam hal PIHAK PERTAMA mempunyai ahli waris yang menurut penilaian PIHAK KEDUA mampu meneruskan pelaksanaan perjanjian, maka ahli waris yang bersangkutan dapat ditunjuk oleh PIHAK KEDUA untuk menggantikan kedudukan PIHAK PERTAMA dalam perjanjian ini.
  • Dalam hal terjadi pemutusan perjanjian ini karena hal-hal tersebut di atas, maka seluruh jumlah hutang PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA berdasarkan Perjanjian ini, berikut perpanjangannya, perubahannya (jika ada) yang berhubungan dengan Perjanjian ini, harus dibayar selambat-lambatnya dalam jangka waktu 30 (Tiga puluh) hari kalender setelah pemutusan perjanjian.
  • Apabila dikemudian hari kedua belah pihak telah sepakat untuk memutuskan/ menghentikan kerjasama berdasarkan perjanjian ini, maka sisa hutang PIHAK PERTAMA harus dilunasi dalam jangka waktu 30 (Tiga puluh) hari kalender.
  • Pasal 12
  • JAMINAN
  • Untuk menjamin lebih jauh bahwa PIHAK PERTAMA dan atau perjanjiannya akan memenuhi semua kewajibannya kepada PIHAK KEDUA berdasarkan perjanjian ini atau perubahannya, tambahannya atau perpanjangannya kemudian maka PIHAK PERTAMA dan atau penjaminnya dengan akta ini pula memberi kuasa kepada PIHAK KEDUA untuk menjual, mengelola dan atau dengan cara apapun mengambil manfaat atas barang jaminan, berupa : …………………………………………….
  • ……………………………………………………………………………………………………………………….
  • ……………………………………………………………………………………………………………………….
  • Kuasa yang diberikan dalam Perjanjian ini maupun perjanjian-perjanjian lain yang menyertai perjanjian ini baik yang sudah ada maupun yang masih akan diadakan, tidak dapat dicabut dan atau berakhir karena sebab-sebab berakhirnya kuasa menurut ketentuan Kiatb Undang-Undang Hukum Perdata yang berlaku di Indonesia.
  • Pasal 13
    1. PIHAK PERTAMA dan atau penjamin selanjutnya berjanji dan menjamin bahwa barang jaminan tersebut belum pernah dan tidak akan dialihkan ke pihak lain, tidak tersangkut dalam suatu perkara, bebas dari segala sitaan, tidak dalam keadaan dijaminkan dalam bentuk apapun juga (termasuk pemberian kuasa seperti yang dinyatakan dalam perjanjian ini) kepada pihak lain selain PIHAK KEDUA.
    2. Surat-surat dan atau dokumen-dokumen yang berhubungan dengan barang jaminan tersebut harus diserahkan kepada dan untuk disimpan oleh PIHAK KEDUA tersebut selama apa yang masih terhutang oleh PIHAK PERTAMA terhadap PIHAK KEDUA berdasarkan perjanjian ini berikut perpanjangannya, tambahan-tambahannya dan atau perubahannya belum dibayar lunas seluruhnya oleh PIHAK PERTAMA.
  • Pasal 14
    1. Sehubungan dengan Pasal 10 dan Pasal 11 di atas, maka apabila dalam jangka waktu 30 (Tiga puluh) hari kalender sejak dihentikannya perjanjian kerjasama ini, PIHAK PERTAMA belum juga melunasi apa yang wajib dibayarnya kepada PIHAK KEDUA, maka PIHAK KEDUA berhak menjual barang jaminan yang diserahkan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA tersebut kepada pihak lain, tanpa sautu ijin atau kuasa apapun lagi dari PIHAK PERTAMA, dengan harga dan syarat-syarat yang akan ditetapkan sesuai dengan keadaan harga pada waktu itu, guna melunasi hutang-hutang PIHAK PERTAMA pada PIHAK KEDUA tersebut.
    2. Selisih dari harga penjualan tersebut apabila setelah dikurangi hutang PIHAK PERTAMA berikut biaya-biaya sehubungan dengan penjualan tersebut ternyata masih ada kelebihan, maka kelebihan tersebut akan dikembalikan kepada PIHAK PERTAMA, tanpa PIHAK PERTAMA diwajibkan untuk membayar apapun juga, sebab apabila ternyata harga barang-barang jaminan tersebut masih belum cukup untuk melunasi hutang-hutang PIHAK PERTAMA, maka kekurangan pembayaran tersebut tetap menjadi kewajiban dari PIHAK PERTAMA untuk melunasinya, seketika dan sekaligus lunas.
  • Pasal 15
  • ADDENDUM
  • Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Perjanjian ini akan diputuskan oleh kedua belah pihak secara musyawarah mufakat.
  • Pasal 16
  • DOMICILIE
  • Untuk akta ini dan segala akibat yang hukumnya, kedua belah pihak sepakat untuk memilih tempat kediaman Hukum yang tetap dan tidak berubah di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri di Kediri.
  • Demikian Perjanjian ini dibuat rangkap 2 (dua) dan bermaterei cukup, setelah dibaca kemudian ditandatangani oleh Kedua belah pihak di ……………………………………..  …………………………………………….. pada Tanggal tersebut di awal akta ini dengan tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
  • PIHAK KEDUA                                                       PIHAK PERTAMA
  • ———————————–                               ———————————–
  • SAKSI-SAKSI
  • ———————————–                               ————————————
  • tesis-15
  • Terimakasih dan semoga bermanfaat
Dipublikasi di Tani-Ternak | Meninggalkan komentar

Panduan Singkat Budidaya Ternak Sapi Potong

  • sp potong
  • 1. Sejarah Singkat
    • Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.
  • 2. Sentra Peternakan
    • Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia. Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.
  • 3. J E N I S
    • Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).
    • Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi  Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.
    • Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.
    • Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.
  • 4. Manfaat
    • Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.
    • Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:
      1. Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.
      2. Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan.
      3. Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.
  • 5. Persyaratan Lokasi
    • Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau lading
  • 6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
  • 6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan
    1. Kandang 
      1. Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan
      2. Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.
      3. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.
      4. Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.
      5. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5×2 m atau 2,5×2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8×2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5×1 m per ekor, dengan tinggi atas ± 2-2,5 m dari tanah.
      6. Temperatur di sekitar kandang 25-40 0C (rata-rata 33 0C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
      7. Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.
    2. Konstruksi dan Letak Kandang
      1. Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang. Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.
      2. Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar. Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan tidak boleh kehabisan setiap saat.
      3. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/lading.
    3. Ukuran Kandang
      1. Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5×1 m.
    4. Perlengkapan Kandang
      1. Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.
      2. Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.
  • 6.2. PEMBIBITAN
    • Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:
      1. Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.
      2. Matanya tampak cerah dan bersih.
      3. Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.
      4. Kukunya tidak terasa panas bila diraba.
      5. Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.
      6. Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.
      7. Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.
      8. Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.
    • Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat.
    • Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:
      1. Tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.
      2. Kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.
      3. Laju pertumbuhannya relatif cepat.
      4. Efisiensi bahannya tinggi.
  • 6.3. PEMELIHARAAN
    • Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan/ransum dan pengelolaan kandang.
    • Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :
      1. Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.
      2. Mempermudah perawatan dan pemantauan.
      3. Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.
    • Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.
  • 6.3.1. Sanitasi dan Tindakan Preventif
    • Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.
  • 6.3.2. Pemberian Pakan
    • Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
    • Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.
    • Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.
    • Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% – 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
    • Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi  menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (leguminosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
    • Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.
    • Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.
  • 6.3.3. Pemeliharaan Kandang
    • Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancer.
    • Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.
  • 6.3.4. HAMA DAN PENYAKIT
  • Penyakit
    1. Penyakit antraks
      1. Penyebab : Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.
      2. Gejala : (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.
      3. Pengendalian : vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.
    2. Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)
      1. Penyebab : virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.
      2. Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.
      3. Pengendalian : vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah
    3. Penyakit ngorok/mendekur /penyakit Septichaema epizootica (SE)
      1. Penyebab : bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.
      2. Gejala : (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.
      3. Pengendalian : vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa
    4. Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)
      1. Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.
      2. Gejala : (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh
  • Pengendalian.
  • Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
    1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.
    2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.
    3. Mengusakan lantai kandang selalu kering.
    4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.
  • 7. PANEN
    • Hasil Utama
      • Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya
    • Hasil Tambahan
      • Selain hasil daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.
  • 8. PASCA PANEN
  • 8.1. Stoving
    • Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:
      1. Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan.
      2. Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.
      3. Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.
      4. Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.
  • 8.2. Pengulitan
    • Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penje-muran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.
  • 8.3. Pengeluaran Jeroan
    • Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.
  • 8.4. Pemotongan Karkas
    • Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong
    • Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan penge-luaran jeroan.
    • Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).
    • Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:
      • Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %
      • Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).
  • 9. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
    • Analisis Usaha Budidaya
    • Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor adalah sebagai berikut:
    • sp potong-1
    • Gambaran Peluang Agribisnis
    • Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.
    • Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :
      1. Konsumen Akhir
        • Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.
        • Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :
          1. Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )
            • Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.
      2. Konsumen asing
        • Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan
      3. Konsumen Industri
        • Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat.
        • Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :
          • KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat.
          • APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili peternak penggemukan.
          • ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia.
  • 10. DAFTAR PUSTAKA
    1. Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.
    2. Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.
    3. Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternakan
    4. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.
    5. Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.
    6. Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.
  • sp potong-2
Dipublikasi di Tani-Ternak | Meninggalkan komentar

Praktek Potong Kuku & Cukur Bulu Ternak Domba

  • I. PENDAHULUAN
  • Latar Belakang
    • Beternak domba merupakan salah satu usaha yang dapat diandalkan untuk meningkatkan kehidupan peternak karena keunggulannya. Akan tetapi, sebelum mempelajari tentang beternak domba hendaknya perlu diketahui terlebih dahulu mengenai sejarah atau asal usul ternak domba, prospek dan keuntungan ternak domba di Indonesia.
    • Beternak domba akan menjadi lebih mudah jika peternak melakukan tata laksananya dengan tepat, baik dalam perawatan, pemeliharaan, maupun pengembangbiakannya. Masalah ini dapat diatasi dengan melakukan teknik-teknik yang lebih spesifik.
    • Perawatan merupakan salah satu bagian dari pemeliharaan yang tidak dapat diabaikan. Beberapa upaya perawatan yang harus dilakukan secara rutin diantaranya memandikan ternak, memotong kuku dan mencukur bulu.
  • Tujuan
    1. Tugas praktikum mata kuliah Ilmu Produksi Ternak Potong : Sub bahasan Ternak Domba.
    2. Mengetahui cara memotong kuku dan mencukur bulu yang baik.
    3. Mengetahui tujuan memotong kuku dan mencukur bulu.
    4. Mengetahui alat yang digunakan untuk memotong kuku dan mencukur bulu.
  • II. MATERI DAN METODE
  • Pemotongan Kuku
    • Materi : Pisau, Gunting dan Ternak domba
    • Metode  : Cara memotong kuku domba:
      1. Domba direbahkan dengan cara dipegang oleh dua orang agar domba diam saat kuku dipotong,
      2. Sebelum kuku domba dipotong, kaki dicelupkan terlebih dahulu ke air agar kuku tidak terlalu keras (lunak) saat dipotong.
      3. Keluarkan kotoran kuku.
      4. Gunting seluruh kuku yang panjang hingga rata.
      5. Potong tonjolan kuku di bawah tumit.
      6. Buang serpihan diantar kedua jari.
      7. Ratakan jaringan dibawah tumit.
  • Mencukur Bulu
    • Materi : Gunting dan Ternak domba
    • Metode : Cara Mencukur Bulu domba:
      1. Sebelum dicukur domba dimandikan agar tidak terlalu gembel dan memudahkan pencukuran.
      2. Pencukuran dimulai dari bagian perut, mengarah ke depan sejajar dengan punggung ternak
      3. Pengguntingan bulu jangan sampai mengenai dan melukai kulit.
      4. Sisakan guntingan bulu setinggi 0,5 cm.
      5. Domba yang sudah di cukur tampak bersih.
  • III. PEMBAHASAN
  • Untuk mendapatkan hasil yang optimal dari usaha ternak domba maka campur tangan peternak sangat memegang peranan yang penting, yaitu dalam pemeliharaan dan perawatan. Perawatan merupakan salah satu bagian dari pemeliharaan yang tidak dapat diabaikan. Beberapa upaya perawatan yang harus dilakukan secara rutin diantaranya memotong kuku dan mencukur bulu.
  • Pemotongan Kuku Domba
    • Kuku domba secara alami tumbuh dan bertambah panjang. Kuku yang tidak pernah dirawat dengan cara dipotong akan menggangu domba. Hal itu disebabkan keempat kaki domba tidak akan mendapatkan titik barat yang sama. Dengan demikian posisi domba yang sedang berdiri atau waktu berjalan sangat terganggu, terlebih bagi pejntan pemacek, sebab akan terasa sakit. Disamping itu, kuku yang panjang dapat menjadi sarang kotoran dan kuman penyakit sehingga dapat terjadi infeksi. Untuk itulah, kuku harus dipotong secara rutin.
  • Mencukur Bulu Domba
    • Bulu domba yang telah panjang, tetapi tidak pernah dirawat akan menjadi kotor dan gembel. Dalam kondisi tersebut, kuman penyakit dan parasit mudah bersarang ditubuh. Sebelum dilakukan pencukuran sebaiknya domba dimandikan terlebih dahulu agar pelaksanaan pencukuran lebih mudah. Pencukuran dilakukan dengan menggunakan gunting dan bulu disisakan sepanjang 0,5 – 1 cm. Domba dicukur pada saat bulu telah panjang, minimum satu tahun sekali. Pencukuran pertama dilakukan pada waktu domba telah berumur lebih dari 7 bulan agar domba tidak stres.
  • IV. KESIMPULAN
  • Dari hasil pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa sangat penting dilakukan pemotongan kuku dan pencukuran bulu karena jika tidak dilakukan akan berakibat fatal bagi ternak yang kita pelihara. Pemotongan kuku perlu dilakukan karena jika kuku tidak pernah dipotong maka kuku akan menjadi tebal, dan kotoran-kotoran yang penuh dengan kuman akan bersarang disana yang menyebabkan kuku bengkak dan terjadi infeksi sehingga domba akan pincang. Domba yang pincang akan malas bergerak bahkan mencari dan menuju tempat pakan juga susah dan menyebabkan bobot badan domba menurun karena tidak makan.
  • Pencukuran bulu perlu dilakukan apalagi pada daerah alat kelamin/alat reproduksinya karena jika bulu-bulu disekitar alat alat kelamin tidak dipotong pada saat domba kawin bulu-bulu yang telah rontok bisa masuk ke dalam alat kelamin betina dan menyebabkn infeksi pada organ kelamin betina. Untuk menghindari supaya tidak terjadi hal yang demikian pemotongan kuku dan pencukuran bulu harus rutin dilakukan.
  • Terimakasih dan semoga bermanfaat.
Dipublikasi di Tani-Ternak | Meninggalkan komentar

Pengurusan Ijin Mendirikan Usaha ?

  • LEGALITAS USAHA
    • Jenis usaha begitu banyak ragamnya, mulai dari kelas kaki lima sampai perusahaan besar yang memiliki banyak cabang serta ribuan karyawan. Berbicara mengenai legalitas atau ijin usaha, begitu banyak ragam kejadian menimpa berbagai jenis usaha serta perusahaan, yang permasalahan utamanya adalah masalah perijinan ataupun legalitas usaha yang didirikan. Manfaat memiliki ijin usaha sudah pernah kita bahas pada artikel terdahulu. Pada pembahasan kali ini saya ingin memgetengahkan secara garis besar permasalahan jenis usaha untuk mendirikan suatu usaha budidaya.
    • Tidak semua usaha kecil diwajibkan memiliki izin. Namun, usaha harus mempunyai izin jika menjadi besar. Izin tersebut dimaksudkan untuk mewujudkan pembinaan, pengarahan, dan pengawasan terhadap kegiatan usaha. Dimaksudkan pula agar tercapai tertib usaha, kepastian usaha, pemerataan kesempatan usaha, keamanan kesehatan, keamanan lingkungan usaha. Legalitas usaha juga terkait dalam mendapatkan bantuan dana seperti mengajukan pinjaman bank ataupun investor lain.
    • Berikut beberapa izin usaha yang harus dipenuhi dalam mendirikan usaha budidaya, yaitu terdiri atas :
      1. Izin prinsip
        • Izin ini merupakan suatu persetujuan yang dikeluarkan pemerintah daerah (pemda) setempat untuk mendirikan usaha.
      2. Izin penggunaan tanah.
        • Izin tersebut dikeluarkan oleh kantor badan pertanahan nasional setempat setelah izin pembebasan tanah dimiliki berupa HGB (hak guna bangunan) atau HM (hak milik).
      3. Izin mendirikan bangunan (IMB).
        • Izin tersebut dikeluarkan Pemda melalui instansi yang berwenang.
      4. Izin gangguan (HO)
        • Izin tersebut dikeluarkan oleh Pemda setempat yang wajib dimiliki perusahaan. Sebelum mengajukan permohonan Izin, wajib memiliki izin dari RT, RW, dan kelurahan setempat serta mendapat persetujuan tidak keberatan dari tetangga terdekat.
      5. Surat izin usaha perdagangan (SIUP).
        • Jenis surat izin ini, dikeluarkan oleh Kementerian Perdagangan melalui instansi perdagangan dan perindustrian setempat jika usahanya untuk perdagangan.
      6. TDP (tanda daftar perusahaan)
        • Dokumen ini merupakan surat keterangan daftar perusahaan yang dikeluarkan oleh instansi yang membidangi perdagangan dan perindustrian setempat. Setiap lima tahun sekali dilakukan daftar ulang kembali.
      7. Akta perusahaan adalah akta yang dikeluarkan oleh instansi yang sesuai dengan badan usaha yang didirikan.
      8. Izin kementerian
        • Izin tersebut dikeluarkan oleh tiap-tiap kementerian yang membawahi bidang usaha melalui instansi daerah setempat, diantaranya Kementerian Kesehatan, Kementerian, Pertanian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Kelautan dan Perikanan.
      9. Persyaratan pengelolaan lingkungan
        • berupa rekomendasi atau pengesahan mengenai seberapa besar pengaruh usaha tersebut terhadap lingkungan dan cara pengelolaannya. Dokumen tersebut dikeluarkan oleh Pemda setempat melalui instansi yang berwenang, sebagai pemenuhan persyaratan izin pendirian bangunan dan/ atau usaha. Bentuk dokumen berupa UKL/UPL atau amdal (analisis mengenai dampak lingkungan).
      10. NPWP (nomor pokok wajib pajak)
        • Adalah dokumen yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan. Sebaiknya pengusaha harus mempunyai NPWP karena untuk jangka panjangnya sangat diperlukan.
  • PERSYARATAN DAN PENGURUSAN IJIN MENDIRIKAN USAHA
    • Tahapan-tahapan dalam mendirikan suatu usaha secara umum adalah sebagai berikut.
      1. Mengajukan permohonan rekomendasi kepada walikota/bupati dengan syarat-syarat di bawah ini.
        • Mengisi formulir surat rekomendasi yang ditujukan untuk walikota/bupati setempat. Dalam formulir surat rekomendasi tersebut, terdapat beberapa data yang harus diisi yaitu sebagai berikut.
          1. Data pemohon meliputi nama, pekerjaan dan alamat calon pemilik usaha.
          2. Data tanah meliputi luas tanah (dalam m2), lokasi (kelurahan dan kecamatan), alamat, jenis tanah (darat/sawah), status tanah (tanah sertifikat/akta jual beli/sewa/kontrak), kondisi fisik (tanah kosong/ada bangunan) serta kondisi tanah tersebut saat ini (sudah/belum dibangun).
        • Kelengkapan-kelengkapan lainnya, meliputi hal-hal di bawah ini.
          1. Foto kopi KTP
          2. Foto kopi tanda lunas PBB
          3. Foto kopi NPWP
          4. Jika berbadan usaha melampirkan Akte Pendirian Perusahaan
          5. Bukti kepemilikan tanah
          6. Gambar situasi
          7. IMB yang sudah ada bangunan/IMB lama
          8. Surat ijin tetangga diatas segel Rp. 6000 diketahui Lurah dan Camat
          9. Surat kuasa apabila dikuasakan diatas materai Rp. 6000
      2. Mengajukan permohonan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dengan cara mengisi formulir surat Izin Mendirikan Bangunan yang ditujukan kepada walikota/bupati dengan Cq. Kepala dinas permukiman, disertai dengan persyaratan dokumen yang diperlukan
      3. Mengajukan Permohonan Izin Gangguan
      4. Mengisi formulir surat pernyataan kesanggupan mematuhi ketentuan teknis
      5. Membuat Tanda Daftar Industri (TDI).
  • Setelah calon pemilik usaha memenuhi syarat-syarat tersebut, maka selanjutnya adalah calon pemilik mengajukan seluruh syarat permohonan pendirian usaha ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat.
  • Terima kasih
  • Untitled-1
Dipublikasi di Tani-Ternak | Meninggalkan komentar